Recuerdos

recuerdos

 

Title: Recuerdos || Author: Shafirgirl || Cast(s): BAP’s Jung Daehyun & OC’s Lee Yeonju || Genre(s): AU, Angst, Life, Romance & Marriage-Life. || Rating: Teen || Duration: Vignette || Disclaimer: Plot of the story pure my mind, Please don’t plagiarism.

Song recommendations: Girls Day’s Sojin – I Want to go back

.

.

Bagi Daehyun, hari Rabu adalah hari yang paling indah. Mengapa begitu?

—–——–——–——–—

Alarm jam digital yang terletak di atas mejanya berdering keras. Membuat pemiliknya beringsut dari tidurnya. Kemudian, Daehyun berjalan dengan mata setengah tertutup ke arah tirai jendela, setelahnya pria itu menarik kain tirai secara perlahan.

Ugh,” erangnya tatkala sinar mentari telah menyusup mengambil tempat pada seluruh sudut kamar tidurnya yang secara tidak langsung, memaksanya untuk membuka kedua kelopak matanya.

Ia menggaruk kepalanya kasar sembari berjalan dengan langkah lambat hanya untuk mengambil sebuah handuk. Setelah berhasil menarik paksa handuknya dari jemuran kecil—tanpa ada minat untuk menyingkirkan beberapa kain yang berada di sana—ia melangkah dengan gontai memasuki kamar mandi untuk segera mempersiapkan dirinya sebelum matahari semakin memancarkan teriknya.

Air dingin mengucur dengan keras di antara sela-sela jarinya. Pria itu terdiam sejenak, memandangangi pantulan dirinya pada cermin. Terlihat kedua kantung matanya yang berwarna legam dan bengkak. Daehyun bahkan lupa kapan terakhir kali ia bisa tertidur nyenyak, tanpa adanya pikiran yang membebani kepalanya. Belakangan ini dirinya memang disibukkan dengan urusan kantor yang menyita waktu. Termasuk waktu tidurnya.

***

Jung Daehyun menyisir rambutnya dengan gerakan pelan namun pasti. Setelah dirasa selesai dan rapi, ia segera mengembalikan barang itu ke tempat asalnya. Kemudian melangkahkan kakinya menghampiri sebuah kalender berukuran sedang yang tergantung di sudut kamarnya.

Hari ini Rabu, tanggal 10 Desember, bertepatan dengan hari ulang tahun istrinya.

Pria itu mendesah pelan. Mengingat istrinya sama saja membuka kembali catatan kelabu miliknya. Meski Daehyun tahu, ia tidak baik berlarut-larut dalam kesedihan, begitu kata adiknya.

Tanpa diminta, potongan memori indah telah tergambar jelas dalam benaknya. Pertemuan, perjalanan, perpisahan, ataupun rasa bahagia, kesedihan yang mendalam, dan perasaan lain yang sulit ia jelaskan, kembali muncul ke permukaan. Daehyun tidak bisa berbohong, kini dirinya benar-benar merindukan sosok Yeonju untuk berada disampingnya.

.

.

 “Daehyun? Kau dimana?” Yeonju berjalan perlahan sembari meraba dinding sebagai patokan arah. Kain berwarna merah maroon telah terikat sempurna mengelilingi lingkar kepala gadis itu. Sesekali Yeonju tertawa ragu, mengingat ia tidak bisa melihat dengan jelas akibat kain yang menutup kedua indera penglihatannya.

“Aku di sini!”

Yeonju memutar arah kepalanya, berusaha mengikuti arah suara itu supaya ia dapat menemukan sumbernya. Rumah petaknya tak bisa dibilang besar atau kecil, ukurannya standar sama dengan rumah-rumah lainnya yang berada di kawasan itu. Namun entah apa yang membuat Yeonju sampai kesulitan bukan kepalang untuk mencari sosok Daehyun.

Tanpa sadar, Daehyun mengendap-endap tepat di balik tubuhnya sambil tersenyum jahil. Pemuda itu bermaksud ingin mengejutkan gadisnya. Dengan hitungan mundur, pria itu berteriak keras.

“Aku di sini!”

Dengan satu hentakan, pria itu merengkuh tubuh Yeonju ke dalam pelukannya. Berbagi kehangatan lewat genggaman tangannya, menyalurkan kenyamanan lewat posisinya saat ini. Daehyun memejamkan matanya dalam diam, lalu mencium puncak kepala Yeonju penuh kasih sayang sembari mengeratkan pelukan mereka.

“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu,” ujarnya tanpa ada niatan merubah posisi mereka.

Yeonju memukul dada Daehyun kesal karena ingin melepaskan diri dari pelukannya. Tetapi pria itu melarangnya dengan isyarat semakin memperkuat rengkuhannya. “Tetaplah seperti ini untuk beberapa saat. Jangan bergerak.”

.

.

Daehyun menarik mantel biru lautnya dari gantungan dengan kasar kemudian menggunakannya. Setelah itu, ia beralih meraih ponsel hitamnya yang berada di atas meja dan memasukkan benda itu ke dalam saku mantelnya. Tanpa pikir panjang ia segera meraih gagang pintu, lalu menariknya dengan gusar kemudian menutupnya dengan membanting. Ia bahkan tak peduli dengan tatapan aneh dari  orang-orang yang berlalu lalang melewati pintu kamarnya.

***

Langit yang cerah tanpa awan, kini cenderung menjadi hitam keabu-abuan. Matahari tak lagi menunjukkan batang hidungnya, deru angin pun mulai terasa lebih kencang pertanda hujan akan segera datang. Hal ini membuat Daehyun berjalan dengan tempo lebih cepat, tak lupa dengan sebuket bunga melati bercampur dandelion yang ia rengkuh dalam pelukannya.

Raut cemasnya kian memudar kala pintu gerbang bewarna hitam kusam telah tertangkap pandangan. Ia tersenyum tipis, kemudian melangkah lebar memasuki kawasan itu.

Hari Rabu, memang bukan hari khusus untuk mengunjungi sebuah tempat pemakaman. Maka dari itu, Daehyun bersyukur pada tahun ini, istrinya berulang tahun di hari Rabu. Sebenarnya, Daehyun memiliki alasan tersendiri kenapa ia sangat menyukai hari Rabu.

Pertama, hari Rabu adalah hari dimana ia kali pertama mengungkapkan perasaan pada Yeonju.

Kedua, hari Rabu adalah hari dimana ia terikat janji suci pernikahan dengan istrinya—tanpa ia sadari sebelumnya.

Ketiga, hari Rabu adalah hari dimana ia bisa bebas pekerjaan—selain hari Minggu—karena jadwal atasannya yang padat mengakibatkan Daehyun bisa pulang cepat untuk beristirahat. Bahkan, terkadang lelaki itu bisa saja dibebaskan dari tugas kantor selama hari Rabu. Daehyun sendiri tidak tahu mengapa atasannya sempat berpikir seperti itu.

Keempat, hari Rabu adalah hari dimana ia berpisah dengan Yeonju, istrinya.

Untuk yang kelima…hmmm, ditambah pada hari ini, tanggal pemakaman Yeonju yang bertepatan dengan tanggal ulang tahun Yeonju sendiri.

Tak sadar karena terlalu larut dalam pikiran ketika tengah berjalan, kini tepat di hadapan Daehyun, sebuah batu nisan berwarna hitam masih berdiri tegak disertai sebuah ukiran aksara yang dapat dibaca dengan jelas.

R.I.P

Lee Yeonju

10 Desember 1984

10 Desember 2012

Pria itu berjongkok, lalu meletakkan buket bunga yang sedari tadi ia rengkuh pada gundukan tanah yang telah ditumbuhi rumput.

“Kau satu tahun lebih muda dariku, tapi mengapa kau pergi mendahuluiku ya?” ucap Daehyun sambil tersenyum miris meratapi batu nisan tersebut. Cairan bening meluncur begitu saja dari pelupuk matanya. Bahunya bergetar hebat, menandakan bahwa kini pria itu menangis.

“Bayang-bayang wajahmu selalu menghantui tidur malamku,” ujarnya dengan nada suara parau dan serak. Ia berdeham kecil lalu melanjutkan, “membuatku semakin sulit untuk melupakanmu.”

Daehyun menunduk dalam. Melampiaskan kesedihannya kepada batu nisan itu. Walau ia tahu, batu nisan tidak dapat berbicara padanya. Tapi biarlah kali ini benda itu menjadi saksi bisu tangisnya.

***

Hari semakin sore, langit pun semakin kelam dan gelap. Sekilas kilatan petir menyambar bebepara kali hingga menimbulkan sebuah bunyi yang menggelegar dan menakutkan. Burung-burung berterbangan riuh, mencari tempat berteduh. Orang-orang tengah sibuk mengeluarkan payung untuk berjaga-jaga, jikala hujan datang tiba-tiba.

Daehyun mengusap wajahnya bersamaan dengan bekas air matanya. Lalu, ia menunduk kembali, mengajukan permohonan pada yang Kuasa. Matanya kini berwarna merah dan kembali bengkak, akibat menangis terlalu lama. Membuat ia mengeluarkan sebuah kacamata hitam dari dalam sakunya lalu mengenakannya.

“Selamat ulang tahun Lee Yeonju. Aku berharap kau akan tenang di sana dan aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.”

Daehyun tersenyum tipis. Lantas berbalik dan berjalan pergi, menjauh dari makam dan berlalu menembus hujan.

.

“…I want to go back to the beginning

When you were the only person in the world

How could we end up like this?

You always find what’s precious after it’s passed

Now I finally realize…”  Girl’s Day’s Sojin – I Want to go back

.

.

.

—Fin

A/N: Thankyou so much kak trik! Karena telah sudi mem-publish ff abal ini. Terakhir, ditunggu review serta komentar dari kalian yaa! 😉

Trik: Sorry ya baru sempet post skrg ^^V btw isi e-mail km kurang ajar ^^ untuk aku baik 🙂 wkwk

Advertisements

3 responses to “Recuerdos

  1. aku malah gasuka hari rabu abis pelajarannya ngebosenin /plak/ ceritanya simple tapi bagus :3 kasian daehyun, pasti berat ya rasanya.. Nice ff, suka sama penulisan kata2nya, dan semuanya(?) Ditunggu ff selanjutnya kkk fighting!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s