[Chamomile/Song Fic] Rainy Days

[Chamomile] Rainy Days

(c)missfishyjazz

Ailee || Suho / Kim Joonmyun

Love, Hurt || Song-Fic || PG-17

Inspired by Ailee – Rainy Days

Rainy Days

When it rains like this

I remember when we broke up

I tried to make you stay but you left me

Kriet.. Kriet..

Ailee menghentikan ayunan yang sudah berderik nyaring. Sepertinya ia dan Jenn harus benar-benar memberi seperangkat aksesoris taman yang baru, ia tidak tahan dengan bunyi karat dari semua benda di taman rumahnya.

Tess.. Tess..

 

Ailee melihat ujung hidungnya yang berair. Ahh, hujan. Hujan turun satu-satu hari ini, satu ke ujung hidungnya, satu ke ujung kepala bersurai cokelatnya, dan satu ke ujung jarinya yang terangkat. Berapa lama aku tidak merasakan hujan, bagaimana jika bermain hujan? Ailee baru akan berlari ketika pintu selasar halaman belakang tempatnya kini berada di buka cepat.

Ailee, come in! The rain will be more heavily!

Ohh come on Jenn, this is maybe the last rain before the autumn comes. We don’t have any schedule for tomorrow, right?” Ailee setengah berteriak kepada Jennifer yang masih bersikukuh berteduh di bawah naungan atap rumah mereka. Jennifer Lawrence, Si Rakus yang tidak bisa melihat kegemaran Ailee bersama hujan. Karena sebenarnya sebagai sahabat ia tahu Ailee tidak akan pernah baik-baik saja setelah hujan itu berhenti.

I’m waiting for you inside. I won’t eat until you came. I’m starving, okay?

Okay, Jenn. Five minutes.” Jenn segera menutup pintu pembatas halaman dan menghembuskan nafasnya berat. Sepertinya dia harus segera menghubungi kekasihnya, mereka harus segera berdiskusi tentang blind-date yang telah mereka jauh-jauh hari untuk Ailee.

Hello, Hoult. Looking for your best candidate stock. I need them. Tomorrow.” Jenn membanting ponselnya ke sofa dan langsung menyandarkan kepalanya yang pusing. Tidak kurang dari lima menit pasti Ailee akan masuk dan membuat semuanya semakin memusingkan.

Sementara itu Ailee menghitung berapa kali hujan menyentuh tubuhnya. Dan langsung terkikik geli setelahnya, tidak mungkin bisa dihitung kan? Dulu kan Joonmyun hanya selalu asal sebut angka setiap Ailee bertanya berapa banyak hujan yang mengenai tubuhnya. Ahh, Joonmyun.

Ailee terdiam setelah beberapa langkah kemudian tersenyum sedih. Tidak. Kali ini Ailee sudah berjanji tidak akan menangis, Ia akan bergabung bersama hujan hanya untuk melepas beban dan  mengingat seluruh memori baik saja. Ia tidak ingin membuat Jenn semakin pusing menghadapinya yang menangis dengan mental yang down.

“Tidak bisakah kita memperjuangkannya?”

“Maaf. Sedari awal aku kan sudah mengatakan padamu bahwa ini hubungan sepihak.”

“Tapi..”

“Maaf, orang tuaku benar-benar tidak bisa menerimamu.”

 

Ibunya bernama Christy Austin dan ayahnya bernama Lee Hae Min. Tapi sepertinya nama orang tuanya saja tidak cukup bagi kedua orang tua Joonmyun. Apalah namanya, bibit bebet bobot. Christy Austin hanya seorang manajer di sebuah perusahan konveksi dan Lee Hae Min hanya seorang wakil kepala di pusat penjualan saham New Jersey. Berbeda sekali dengan Tuan dan Nyonya Kim yang seorang keturunan kaya, mungkin semenjak musibah Air Bah Nuh.

Ailee menggeser pintu di depannya dan membuat Jenn terlonjak dari posisinya yang sedang meratapi sepiring kalkun raksasa dan kentang rebus yang berlapis keju.

“Ailee..”

The rain had just stopped, so I come in. Sorry to make you worry, Jenn.

It’s okay, Darling. Come on let’s eat!

Ehm..” Ailee mengambil posisi berhadapan dengan Jenn dan mengambil piring berisi kentang lapis kejunya ia hanya mengambil beberapa bagian dari kalkun di hadapannya ketika Jenn semakin bar bar dengan lelehan keju di ujung bibirnya. Terima kasih ya Jenn sudah memberiku kekuatan selama ini. Kau memang sahabatku yang terbaik.

Where are you right now?

As if the rain knows my heart, it is crazily falling

And drenching my heart

If only I can erase all of my pain with this rain

Did you’ve arrived in Korea? You are fine, right? There is no one nuts who attacked you, right? Ohh Ailee, please answer me!” Jennifer sudah berteriak nyaris empat oktaf ketika Ailee masih mencari bagasinya yang entah kenapa tidak bisa ia temukan sedari tadi, sementara orang-orang mulai berbisik-bisik ke arahnya.

Keep calm, Jenn. I just already here. Now I’m looking for my luggage. I’ll call you later.

Okay Sweetie, don’t forget!

Ailee langsung menutup teleponnya dan meletakkan ponselnya di tas setelahnya. Ia setengah berteriak ketika menemukan dua koper ungunya ada di depan mata.

“Ohh Ya Tuhan, Ailee! Ternyata kau masih di sini!” Manajer Jung, manajer Ailee yang memang orang Korea memasang tampang nyaris menangis ketika mendapati artisnya masih berada di tempat pengambilan bagasi.

“Maaf, Jung. Aku harus menunggu dua anak-anakku dulu, mereka sepertinya tertinggal di bagian paling terakhir.” Ailee tersenyum sembari menunjuk koper-kopernya. Manajernya langsung mengambil alih salah satu di antaranya dan berjalan mendahului.

Ailee berhasil menyusul langkah manajernya ketika semakin banyak orang yang berjalan mendekatinya, oops, di tempat umum tanpa penyamaran.

“Senang mendengarmu menggunakan bahasa ibu kita lagi.” Manajer Jung mengedipkan sebelah matanya dan membuat Ailee langsung menggandengnya erat dan tertawa riang. Dia juga merindukan menggunakan bahasa Korea dimanapun seperti sekarang ini.

“Di Korea masih hujan?” Ailee melihat melalui jendela mobil mewah yang mengangkutnya menuju hotel tempatnya menginap selama di Korea.

“Ya seperti itulah, di sini hujan lebih sering turun daripada di Angeles.”

Hujan lagi. Hatinya sakit lagi. Aku belum sesiap itu ya? Ailee tersenyum masam dan menempatkan matanya melihat tetesan hujan yang mengalir di kaca mobil. Waktu berjalan begitu cepat sampai ia tidak ingat kapan terakhir kali melihat kedai kedai kecil yang berjajar di pinggir jalan dengan beberapa pasang orang yang masuk ke dalamnya dan saling bergandengan untuk menahan temperatur yang mulai dingin karena musim gugur sudah tiba. Ailee tersenyum lagi, tapi lebih lembut dan bermakna dalam. Dulu aku juga pernah seperti itu, sekalipun Joonmyun tidak benar-benar rela memberikan tangannya untuk menghangatkanku.

 

Ailee mendadak memiliki hobi melihat suasana di luar mobil yang membawanya. Selain kondisi Seoul yang tentunya berubah, ia bisa melihat beberapa penggemarnya yang kadang kala menghampiri mobilnya di traffic jam dan memintanya memberi tanda tangan pada album teranyarnya atau di poster yang menampilkan wajahnya. Korea yang bersahabat masih melekat di hatinya.

Matanya menyusuri isi mobil setelahnya. Manajer Jung masih sibuk menghubungi satu persatu kerabatnya di Korea sekedar memberi kabar bahwa ia yang notabene sudah 2 tahun tidak kembali dari Amerika telah tiba. Ailee melihatnya dan langsung mengangguk bingung, kalau dia, dia harus menghubungi siapa? Suho mana mungkin, keberadaannya saja ia sudah tidak tahu sejak perpisahan mereka 8 tahun lalu. Dan mungkin Suho sudah melupakanku. Tiba-tiba Ailee teringat sebuah nama, ia bergegas mencari nama orang yang di ingatnya itu di buku telepon yang ia jaga baik-baik di salah satu tas bawaannya.

“Halo, Yoon Bora?”

It’s a rainy day where tears fall

It’s a rainy day where memories flow

I hope it rains harder, hope it pours all night, tonight

So that I can erase all of your traces

“Jadi begitulah, sekarang aku mengurus toko buku milik ayah dan Seunggi oppa memilih mengelola pabrik garment yang baru ia rintis. Sebentar lagi juga anak kami akan berusia satu tahun, sebenarnya aku ingin membawa Seulmi kemari tapi tadi pagi ibuku datang dari Jeollanamdo jadi nalurinya sebagai seorang nenek baru membuatnya menahan Seulmi.” Bora menjelaskan dengan begitu semangat keluarga kecilnya yang sudah dua tahun ia jalani, membuat Ailee tersenyum begitu bahagia. Bora dan kehidupan bahagianya. Sejak dulu Bora adalah pribadi keras yang pantang menyerah, ia tekun belajar dan seorang gadis yang menyenangkan. Pantas saja ia mendapatkan Seunggi, mantan ketua senat yang tiga tahun diatasnya serta jadi incaran gadis seantero kampus. Mereka pasti serasi sekali.

“Apakah sekarang kau sudah menikah Ailee?” Bora tiba-tiba saja melempar pertanyaan. Ailee yang sedang mengaduk chamomile tea-nya hanya tersenyum lalu menggeleng. Bora mendengus pelan.

“Jika aku sudah menikah, bahkan sebelum aku menghubungimu kemarin seluruh dunia sudah tahu. Tapi nyatanya aku belum menikah.” Ailee menghitung usianya sekarang, 27 tahun. Dan sama sekali belum tertarik untuk menikah. Sementara Emil adiknya yang hanya terpaut satu tahun dibawahnya akan segera melahirkan anak keduanya beberapa bulan lagi. Jangan tanya kakak laki-lakinya, Joseph, kakaknya bahkan sudah memiliki anak yang akan segera masuk ke sekolah dasar di tahun ajaran baru nanti.

“Apa kau masih belum bisa melupakan Suho?”

“Joonmyun?” Bora mengangguk terpaksa. Seingatnya dulu satu sekolah memanggil pria itu dengan Suho dan memang hanya Ailee yang memanggilnya dengan nama lahirnya, Kim Joonmyun.

“Tidak. Maksudku tentu saja aku masih menyimpan kenangan tentang Joonmyun, bagaimanapun semua kisah cinta selalu ku anggap berarti. Hanya saja aku sudah tidak lagi menjadikannya batu penghalangku untuk cinta yang baru.” Ailee menyesap tehnya dan membiarkan wangi menenangkan bunga chamomile memasuki hidungnya.

“Kabar terakhir yang aku dengar Suho sudah menikah dan memiliki anak. Jadi, semakin positif jika dia tidak akan menjadi tembok pengahalangmu.” Ailee mengangguk bersemangat dan ditanggapi tawa meriah Bora. Ailee tidak lupa kebiasaan tawa Bora yang seperti vitamin, begitu menggembirakan dan menular.

Waktu beranjak malam dan sudah sejak beberapa jam lalu Ailee berdiam diri di balik jendela hotel tempatnya menginap. Bora dari jam 4 sore sudah kembali ke rumahnya karena jam lima anaknya harus dimandikan sekaligus menyiapkan makan malam untuk suami dan ibunya. Ailee seperti melukis sesuatu di jendela kamarnya, tapi tentu tidak terbaca. Toh ia hanya menulis guratan-guratan acak. Padahal dulu aku yang lebih dahulu bermimpi untuk menjalani rutinitas ibu rumah tangga daripada Bora. Gadis itu bahkan masih mengurusi kegiatan pecinta alamnya ketika aku mulai belajar memasak dan mengurus anak-anak sepupuku yang masih kecil. Tapi sepertinya Tuhan lebih menginginkan Ailee bersabar lagi dan menunggu sampai Sang Pangeran Berkuda Putih datang menjemputnya. Sabar, Ailee.

Hari ini tidak hujan, tapi Ailee tiba-tiba teringat Joonmyun. Sepertinya ia tadi agak berbohong dengan mengatakan bahwa ia sudah tidak menjadikan Joonmyun batu sandungan lagi dalam kehidupan percintaannya. Ia bahkan baru beberapa minggu ini—setelah delapan tahun yang panjang—bisa menikmati hujan tanpa diakhiri dengan tangisan kerinduan. Tapi setelah mengingat kenyataan Joonmyun telah berkeluarga, Ailee harus semakin memantapkan tekad untuk menghilangkan bayang-bayang Joonmyun.

“Apa Oppa mau menjadi pacarku?”

“Apa?”

“Aku mohon, aku sangat menyukai Oppa. Jadilah pacarku.”

“Kau salah satu dari fans gilaku ya?”

“Tidak! Tentu saja tidak! Aku benar-benar menyukai Oppa, kumohon terimalah aku!”

“Terserah kau!”

“Jadi Oppa menerimaku?! HAHH!!”

Ailee tertawa sampai perutnya kram ketika mengingat hari itu. Sembilan tahun lalu, seorang gadis menyatakan perasaan pada pria masih dianggap memalukan dan ia melakukannya hanya untuk seorang Kim Joonmyun. Ketua koordinator seni sekaligus wakil ketua osis yang dua tahun lebih tua darinya.

“Aku memang memalukan.” Kemudian ia tertawa lagi. Dan.. menangis. Ailee sembilan tahun lalu, begitu bodoh, polos dan memalukan. Bodoh untuk menganggap Joonmyun mampu mencintainya balik setelah satu tahun hubungan mereka. Polos untuk bisa dijadikan bahan olokkan teman-teman dan santapan penggemar Joonmyun yang ratusan kali menyiksanya secara verbal maupun non-verbal. Memalukan untuk menyatakan cinta terlebih dahulu dan tetap mempertahankan hubungan yang bahkan hanya berisi dirinya di dalamnya.

 

Your words of break-up was unexpected

I didn’t know it would end up like this

Like everyone else, you say goodbye

Without even noticing that it would end

I always thought I would stay by your side

.

“Orang tuaku tidak menyukaimu..”

“A.. Aku bisa melihatnya kemarin. Aku minta maaf.”

“Karena itu mereka memintaku meninggalkanmu.”

“Aa.. Apa? Oppa sedang bercanda kan?”

“Aku tidak bercanda, lagipula aku kan memang tidak terlalu banyak terlibat dalam hubungan ini, hubungan ini kau yang memulai, kau yang mengisi dan setidaknya aku telah terlibat dengan mengakhirinya.”

Oppa, tapi..”

“Aku tidak pernah mencintaimu seperti kau yang mencintaiku, Ailee.”

Hahh..

Ailee terbangun dari mimpinya. Dadanya sesak dan matanya basah. Sepertinya dalam mimpi pun ia masih bisa menangis dengan sangat menyedihkan. Ailee merindukan Joonmyun. Sekalipun hubungan mereka berakhir pahit, tapi ia sangat merindukan pria itu. Ia masih menyimpan semua memori bahkan kenangan kenangan atas setiap momen kecil yang pernah mereka lalui. Menyimpannya sangat rapat di dalam hatinya. Membiarkan memori itu bertahan dalam perkembangan hidupnya. Tangannya langsung terulur memukul kepalanya yang tidak berhenti memikirkan Joonmyun setelah percakapannya tadi siang dengan Bora.

“Tidak boleh Ailee, tidak. Dia sudah punya istri dan anak. Mau taruh dimana reputasimu sebagai diva bermahkota ‘bersih’ jika harus menjadi perusak rumah tangga orang lain.” Ailee merenggut gelas minumnya dan menegak air di dalamnya dalam sekali sekali gerakan. Seperti semua yang baru ia alami begitu menguras energi.

“Ailee..”

“Ailee..”

“Ailee.. Bangun.” Ailee terkesiap dan langsung menegakkan punggungnya. Ahh aku tertidur. Ia tertidur dalam perjalanan menuju lokasi pemotretan untuk salah satu majalah lokal.

“Apa semalam kau tidak tidur?”

“Aku mimpi buruk, jadi sejak pukul dua pagi aku sudah terjaga. So sorry.” Ailee memasang wajah memelas dan mendapat sundulan jari kecil di kepalanya.

“Oke, aku ulang jadwalmu. Demi surga dan dunia jadwalmu selama di Korea begitu menyenangkan. Hari ini kau punya jadwal pemotretan dan interview, nanti malam akan ada press-confrence dengan sejumlah wartawan dan fansmu tentang konsermu akhir bulan nanti. Besok sampai tiga hari kedepan jadwalmu hanya berlatih untuk teater super eksklusif itu. Setelah itu kau memiliki jadwal kosong selama empat hari. Di hari berikutnya ada syuting variety show dan besoknya ada dua talk show. Setelah itu sampai kurang lebih dua setengah minggu kau akan fokus di persiapan konsermu dan pembuatan sebagian dari video musikmu yang terbaru. Ada tambahan mungkin?” Ailee langsung tertawa setelahnya. Ini pertama kalinya Manajer Jung bersemangat dalam membacakan jadwal kerjanya, tidak seperti biasanya yang menggerutu di sana sini.

“Tidak. Dan kurasa ‘ada tambahan mungkin’ bisa menjadi salah satu pertanyaan baru yang bisa terus kau tanyakan, Manajer.” Manajer Jung hanya menekuk bibirnya dan langsung mengibaskan rambut ikalnya ke belakang. Ini benar-benar anugerah memiliki jadwal yang cukup longgar, ia jadi bisa menyelipkan jadwal bertemu keluarganya.

Ailee langsung berkutat dengan iPod-nya setelah itu memilih lagu-lagu yang akan ia nyanyikan di konser nanti dan menghayatinya lebih dalam.

Ohh Ailee ada sebuah jadwal baru. Offering, sih. Apa kau mau menerimanya?” Manajer Jung yang sedang membuka official email milik artisnya hanya menatap datar dan tidak cemberut seperti biasanya. Karena jadwal yang diberikan masih berupa tawaran dan toh tidak akan mengganggu kebebasan sementaranya di Korea.

“Kapan?” Ailee melepas salah satu earphone-nya berusaha mendengarkan penjelasan selengkapnya dari Manajer Jung.

“Besok malam, setelah latihan teatermu.”

“Mendadak sekali.” Ailee hanya berkomentar sekenanya sebelum mengingat sesuatu, “omong-omong acara apa yang ditawarkan? Talk-show?”

Nope. Sebuah pesta, kurasa kau diundang sebagai tamu eksklusif karena disini juga ada attachment undangan khusus dan ada pesan kecil bahwa undangan resminya akan dikirim nanti sore ke hotel kita. Selain sebagai diva yang harus menunjukkan kebolehan menyanyinya tentu saja.”

“Baiklah, terima saja. Aku juga sedang ingin melatih kemampuan nada tinggiku lagi untuk teater mewah itu, akan sangat mengecewakan jika aku gagal menyentuh tujuh oktaf nantinya. Pesta apa yang akan kita hadiri?”

“Pesta ulang tahun pernikahan Kim Tae Woo dan Kim Ae Ri.” Ailee langsung menghentikan lagu yang masih mendendang di telinganya dan membanting iPod nya ke meja otomatis di depannya.

“Apa tidak ada yang lebih buruk dari pada hari ini?!” Ailee mengacak rambutnya yang untung belum ditata dan membenamkan wajahnya di meja otomatis.

“Kurasa aku sudah mengirimkan persetujuan dan tidak mungkin dibatalkan akan menambah hari burukmu.” Manajer Jung menyesap kopi hangatnya dengan santai tidak menyadari Ailee yang sebentar lagi akan meledak.

“Diam kau Jung Eunji!”

Dan untuk semua orang yang menantikan bagaimana seorang diva dunia dengan bayaran nyaris tiga ratus juta dollar setiap jamnya terjebak dalam masa lalu maka saat inilah waktu yang tepat. Ailee mengutuk hujan yang semakin memperparah mood-nya. Tidak ada yang bagus di hari ini kecuali latihan teaternya yang sukses. Ia bangun terlambat karena lagi-lagi mendapat mimpi buruk, terpaksa mengurangi jatah makanannya karena Eunji yang memang di masa awal kehamilan sedang ngidam makanan milik Ailee.

“Siapa tahu anakku nanti jadi diva juga, kan lumayan, aku dan Hoya oppa tinggal bersantai menikmati rekening yang menggemuk di hari tua.”

 

Dilanjutkan dengan terjebak macet selama nyaris dua jam sebelum menuju teater yang bahkan harusnya bisa ditempuh dalam setengah jam. Untung saja pelatih teater itu mengerti dan salah satu keuntungan menjadi diva hingga bisa mendapat batas toleransi tinggi. Dan terakhir, Eunji harus salah mengambil baju di boutique, sehingga mau tak mau Ailee sekarang terjebak dengan sebuah gaun backless satin berwarna hitam dengan bagian bawah yang mencetak tubuhnya dengan jelas. Ohh, dan jangan lupakan bahwa gaun ini cukup panjang hingga menyapu lantai tapi memiliki belahan kaki yang tinggi mulai dari setengah pahanya. Ia tidak peduli dengan banyaknya swarovski yang menghiasi bagian dadanya hingga terlihat seperti bintang-bintang cantik di langit malam, bahkan lengan panjang chiffon sama sekali tidak membantunya. Dari ia turun sampai sekarang berada nyaris di tengah ballroom tempat pesta diadakan, tidak ada satu matapun yang lepas dari lekuk tubuhnya. Apa gadis-gadis di Korea ini semakin ‘memapan’ ya sampai melihatku begini saja mereka seperti melihat vampire berkulit cokelat.

Welcome to the party, Miss Ailee. Nice to know a diva like you in here.” Seorang pria dengan jas mahal yang nampak licin dan berusia nyaris setengah abad menyambutnya. Ailee hanya tersenyum dan mengangguk sebelum mendapat gelas berisi wine dari tangan pria itu.

“Terima kasih, tenang saja aku masih bisa bahasa Korea jika Anda ingin tahu.” Ailee tersenyum bisnis dan menanggapi setiap hal yang ditanyakan pria itu setelahnya. Agak mengesampingkan siapa sebenarnya pria ini dan mana si empunya pesta. Dari awal sebenarnya ia hanya ingin datang, mengucapkan selamat, menyanyikan dua buah lagu dan pulang. Sehingga mimpi buruk hari ini akan berlangsung dengan cepat.

“Aku tidak melihat Si Empunya pesta dari tadi Tuan Park, dimana sekiranya mereka?”

“Tuan dan Nyonya Kim harus menjamu para tamu di lantai dansa, sebenarnya tadi acara pidato dimajukan karena putra tunggalnya datang lebih cepat.”

Ow, ada apa dengan putra tunggalnya?” Ailee sebenarnya mencium bau pewarisan takhta di sini, mengingat jika dihitung harusnya Joonmyun berusia sekitar 29 tahun sekarang. Apalagi ia sudah menikah. Seharusnya Joonmyun sudah siap menerima takhta kerajaan bisnis keluarga Kim yang terhormat.

“Biasa pewarisan takhta bisnis.” Ailee mengangguk dan membenarkan hipotesisnya.

“Dan Anda, sedari tadi saya lupa menanyakan siapa Anda sebenarnya.” Pria itu hanya tersenyum menggeleng pelan dan tentu membuat Ailee bingung.

“Aku tahu ini sudah hampir delapan tahun, jadi sudah pasti kau melupakanku. Aku Kepala Pelayan Keluarga Kim, Park Ki Woong.” Ailee langsung menutup mulutnya dan nyaris berteriak terkejut.

“Astaga ini kau Ahjussi, astaga! Bagaimana bisa aku melupakanmu?! Maafkan aku, aku tidak mengenali Park ahjussi lagi.” Ailee membungkuk beberapa kali sebagai permintaan maaf setelahnya, membuat rambut wavy cokelat gelapnya yang malam ini dibiarkan terurai bebas terayun-ayun.

Seseorang tiba-tiba memanggil Ailee begitu Park Ki Woong hendak melanjutkan perkataannya. Ailee memberi salam perpisahan dan mengikuti orang itu yang sepertinya event organizer acara ini. Sementara Park Ki Woong mengamatinya sampai Ailee hilang di balik kerumunan orang-orang di bagian lantai dansa. Dia tidak berubah. Sebagaimana pun terkenalnya Ailee dia bahkan sampai meminta maaf dengan mata sangat bersalah ketika tidak menyadari dirinya yang hanya seorang kepala pelayan. Pantas saja dalam delapan tahun ini namanya sudah menduduki dan menguasai nyaris seluruh belahan dunia. Dia berbakat, cantik, pintar, mandiri, dan rendah hati. Paket komplit yang sudah disia-siakan keluarga ini.

“Tuan dan Nyonya Kim sudah menunggu di sana. Mereka ingin menemui Anda terlebih dahulu sebelum performance anda dua puluh menit lagi.” Wanita yang tadi mengantarnya menunjuk sepasang suami istri yang sedang bercengkrama berdua dan melihat situasi pesta. Wanita itu langsung meninggalkannya begitu ia mengangguk mengerti.

Ini bukan saatnya menjadi Ailee yang minder dan mudah diintimidasi seperti dahulu, busungkan dadamu dan walk like a princess. Ailee membenarkan letak cincin berlian bermata ruby biru gelapnya yang terlihat begitu mahal, maklum saja itu adalah pemberian seorang Pangeran Arab yang sampai detik ini tergila-gila padanya, ia juga membenarkan anting berlian yang memang seperangkat dengan cincinnya. Selanjutnya ia menegakkan dadanya dan perlahan berjalan seperti seorang putri ke arah pasangan yang kini menatapnya.

“Selamat malam, Tuan dan Nyonya Kim.” Ailee menundukkan kepalanya sedikit memberi hormat dan langsung mengulurkan tangannya, menunjukkan cincin mahalnya sekaligus menganjurkan jabat tangan formalitas.

“Senang bisa bertemu Tuan dan Nyonya Kim, suatu kehormatan mendapatkan undangan dari kalian.”

“Begitu pula kami, senang sekali rasanya seorang diva sepertimu bisa hadir di pesta kami.” Nyonya Kim nampak tersenyum sangat terpaksa begitu melihat kilauan yang langsung menarik matanya dari jemari gadis dihadapannya. Lambang kesetaraan posisinya sekarang. Seorang Nyonya dari keluarga yang kaya turun temurun dan seorang diva yang namanya dielu-elukan seluruh dunia.

It’s a rainy day where tears fall

It’s a rainy day where memories flow

I hope it rains harder, hope it pours all night, tonight

So that I can erase all of your traces

“Suara yang begitu mengagumkan.” Ailee yang berdiri di balkon gedung mewah tempatnya berada dan menatap hujan yang turun membalikkan setengah badannya melihat seseorang yang menyapanya dengan suara khas. Dan kenapa harus bertemu dengan pria ini sekarang, ketika hujan. Itu Kim Joonmyun, lengkap dengan tuksedo mahal, wajah tampan yang menarik seluruh dewi di kahyangan untuk jatuh ke dunia, dan aroma pepohanan pinus yang tidak berubah.

“Terima kasih untuk pujiannya, suatu kehormatan mendapat pujian dari Sang Pewaris.” Ailee hanya bisa mengeluarkan senyum bisnisnya, tidak senyum lain-lain. Terlalu berbahaya. Joonmyun tertawa sekenanya dan mengambil posisi berdiri di samping Ailee. High heels hitamnya membantu Ailee untuk memiliki tinggi yang sejajar dengan Joonmyun malam ini.

“Kau masih suka melihat hujan?” Gadis itu masih memandang lurus, enggan menatap Joonmyun yang sebenarnya sudah menerawang kedalaman matanya sejak tadi.

“Seperti itulah. Di Angeles hujan jarang turun dan sepertinya Korea adalah lumbung hujan.”

Suasana kembali hening. Baik Joonmyun maupun Ailee sama sekali tidak ada yang tertarik membuka percakapan. Ailee masih melihat hujan dan sebenarnya benaknya terus mengulang semua peristiwa bersama pria di sampingnya. Sementara Joonmyun bingung harus memulai bagaimana membuat hubungan yang baik dengan orang yang ia tinggalkan dengan tidak baik-baik dulu.

“Kau pernah merindukan Korea?” Joonmyun memutar gelas wine di tangannya dan melirik Ailee sekilas. Yang dilirik hanya tersenyum kemudian memutar tubuhnya menghadap Joonmyun.

“Tentu. Aku delapan tahun meninggalkan Korea, ada saat-saat tertentu aku akan home-sick. Tapi mengingat aku hanya di Korea selama empat tahun dan tidak memiliki kenangan yang terlalu baik di sini aku tidak terlalu mempermasalahkan kerinduan itu. Aku lebih banyak merindukan keluargaku di New Jersey.” Perasaan bersalah itu menyerang dan menggerayangi dirinya. Tapi Joonmyun lebih memilih ikut memutar tubuhnya hingga kini ia berhadap-hadapan dengan Ailee. Ailee tidak berubah. Tidak seperti gadis berdarah Korea lain yang lebih memilih operasi plastik, Ailee nampak bahagia dengan tubuh dan wajah yang sudah Joonmyun ketahui sejak lama. Ailee tidak langsing seperti model-model terkenal, ia memiliki tubuh berisi yang pas dengan posturnya yang tegap dan berkharisma. Wajahnya juga tidak terlalu cantik, cenderung biasa tapi khas dan memang cocok sebagai wajah Go International. Mungkin yang berubah adalah sikap defensif yang menebal dan kepercayaan dirinya yang meningkat. Pengalaman dengannya dulu mungkin telah membentuk pribadi Ailee yang sekarang, dan itu membuatnya merasa bersalah. Lagi.

“Aku dengar Kau sudah memiliki anak, dimana dia atau mereka sekarang?” Ailee tiba-tiba mengingat perkataan Bora. Joonmyun memiliki wajah awet muda yang pasti menyebabkan orang-orang tidak mengetahui bahwa sebenarnya pria ini memiliki anak. Yah, seandainya Bora tidak memberi tahu dan seandainya pikirannya tidak beres bahkan ia mengira Joonmyun adalah makhluk immortal.

“John dan Laura sedang di bawah bersama kakek dan neneknya.” Pertanyaan tentang seorang istri baru akan keluar dari bibirnya ketika raut Joonmyun selama beberapa detik berubah keruh sebelum kembali tersenyum.

“Ada yang salah?”

“Tidak, aku.. Tidak masalah. Bukan apa-apa.” Joonmyun menghabiskan sisa wine-nya sebelum mengangsurkan lengannya pada Ailee.

“Dansa denganku?” Ailee harus melihat Joonmyun dan lengan laki-laki itu berkali-kali sebelum mengangguk mengiyakan. Ailee mengapit tangan Joonmyun seperti pasangan dansa lainnya. Musik dansa cukup terdengar keras hingga lantai dua gedung acara, sehingga bukan masalah bagi Ailee dan Joonmyun untuk berdansa di balkon. Lagipula sepertinya balkon ini sangat tertutup sehingga tidak mungkin ada wartawan yang bisa mengambil foto mereka.

“Aku minta maaf.” Ailee mendongak dan melihat mata Joonmyun yang menatapnya bersalah. Ohh apakah ini permintaan maaf delapan tahun yang lalu?

“Dan aku memaafkanmu, jika tidak, mana mungkin aku bisa berada di sini dan berdansa denganmu?” Ailee terkikik sebelum kembali berkonsentrasi pada pergerakkan kakinya. Joonmyun mengangguk menyetujui namun hatinya masih terasa berat. Ia tidak bisa hanya mengatakan maaf pada Ailee tapi juga harus mengatakan semua hal yang delapan tahun ini menjadi rahasia dalam hidupnya. Rahasia kotak pandora yang membunuhnya dari dalam. Dan Ailee, yang terdidik selama delapan tahun membaca gerak tubuh seseorang memilih mengeratkan pegangannya pada lengan dan pundak Joonmyun.

“Kadang, akan ada rahasia yang lebih baik menjadi rahasia selamanya. Kau hanya perlu menyimpannya di dalam sebuah peti, menguncinya dan menenggelamkannya ke laut.” Joonmyun tersentak begitu Ailee menghentikan langkahnya, menghentikan tarian mereka. Ailee tiba-tiba menghapus jarak di antara mereka dan mengecup bibirnya. Dalam dan sarat makna. Joonmyun bahkan baru tersadar sepersekian detik kemudian dan menatap Ailee lengkap dengan senyum miring.

“Amerika mengajarimu menjadi lebih agresif, Nona.” Ailee tertawa singkat kemudian berlalu meninggalkan Joonmyun. Langkahnya benar-benar seperti seorang putri tapi juga seperti seorang predator, anggun dan penuh kehati-hatian.

“Selamat malam Kim Joonmyun, senang bisa berjumpa denganmu kembali.” Ailee hanya membalikkan sedikit wajahnya dan mengerling sebelum benar-benar berjalan menjauhi Joonmyun. Malam ini harus berakhir di sini. Seperti keinginannya yang ingin cepat mengakhiri hari. Joonmyun masih ada dan menjadi penyebab utama mimpi buruknya hari ini, dan berurusan dengan Joonmyun lebih jauh daripada kecupan tadi tentu akan berbahaya.
Dan..

Bahaya tidak pernah meninggalkannya. Joonmyun menarik pinggangnya dan merapatkan tubuhnya. Menunjukkan bukti gairahnya.

“Kau, membuat malam ini akan berakhir dengan lebih panjang, Nona.”

The longing becomes my tears and spreads

It rides the thick raindrops and floats down

Let it rain harder, let it rain more

Let it rain harder, let it rain more

Take all the pain and scars of our goodbye

Ailee dan Joonmyun saling menatap. Setelah Joonmyun melingkupi wanita dihadapannya itu dengan selimut tebal di kamarnya mereka tidak pernah melepaskan tatapan mereka.

“Kau tahu telah membuat semuanya menjadi lebih aneh dan berbahaya, Joonmyun.” Ailee merasakan tangan Joonmyun yang meraih pinggangnya secara otoriter. Seolah mencegah ada tangan lain yang menyentuh bagian itu. Di kepala wanita itu sekarang telah berputar kejadian beberapa jam belakangan yang membuat kepalanya semakin penat. Di mulai dari lantai dua gedung acara, sampai di mansion pribadi pria ini dan sekarang berdua di bawah selimut yang sama setelah sekian lama saling menyentuh dan memuja. Puncak segalanya adalah ketika Joonmyun meneriakkan namanya dan ribuan kata-kata cinta begitu sampai pada ujung kepuasannya.

“Ada peti yang harus diambil lagi dari dalam lautan untuk ditunjukkan pada dunia sebelum benar-benar lenyap di dalam samudera, Ailee.” Joonmyun dengan jemarinya yang lain menyentuh perlahan-lahan setiap sisi wajah wanita di hadapannya. Mengagumi dan mencintainya seperti ia mencintai wanita dihadapannya selama delapan tahun perpisahan yang menyakitkan baginya. Bagi Ailee juga.

“Semua akan terasa lebih menyakitkan setelah ini Joonmyun.”

“Kalau begitu jangan membuat semuanya menjadi menyakitkan. Kembalilah padaku dan tidak akan ada yang tersakiti.” Joonmyun menyentuh pipi wanitanya dan memberi keyakinan di setiap sentuhan. Setelah ia berada di puncak kekuasaannya, orang tuanya tidak lagi berhak mengatur apapun yang ia inginkan. Sudah cukup empat tahun yang ia jalani bersama wanita pilihan orang tuanya, tanpa cinta.

“Bagaimana dengan istrimu?” Ailee tiba-tiba teringat sesuatu. Ia langsung merasa jijik pada dirinya yang baru saja tidur dengan suami wanita lain, itu seperti melanggar perjanjian tak tertulis wanita di seluruh dunia.

“Krystal sudah meninggal, sejak empat tahun lalu. Setelah melahirkan Laura.” Ailee menutup mulutnya dan terkejut. Pertama, ia tidak tahu jika wanita yang memang fans berat Joonmyun itu telah menjadi istri mantan kekasihnya. Kedua, ia tidak menyangka Krystal pergi secepat itu. Artinya mereka baru empat tahun menikah, dan baru empat tahun Krystal bahagia. Tidak sebanding dengan perjuangan nyaris seumur hidup Krystal untuk mendapatkan Joonmyun.

Ohh Tuhan aku ingin kembali bersamanya. Tapi tidak, tetap tidak bisa. Ia dan Joonmyun, sadar tidak sadar, tidak mungkin bersama. Mungkin Ailee masih mencintainya dan Joonmyun juga. Tapi mereka tidak bisa bersama. Ada sesuatu dalam dirinya yang begitu terluka dan dengan menerima Joonmyun kembali itu tidak akan memperbaiki luka itu justru seperti menyiram garam di atasnya.

“Tapi kita tetap tidak bisa Joonmyun.”

“Kenapa lagi?!” Joonmyun melepaskan kedua tangannya dan mengerang frustasi. Kenapa semuanya begitu terasa sulit. Kenapa?!

“Kamu meninggalkanku dengan luka. Aku tahu luka itu sudah mengering sekarang. Tapi ada bagian dari setiap luka yang manusia punya yang akan selalu membekas. Dan luka yang kau buat terlalu membekas bahkan terlalu dalam.” Ailee tidak mengerti bagaimana hatinya selalu seperti ini. Ia tidak mau membuka pada pria lain tapi juga terlalu rapuh untuk menerima pria yang sudah pernah ada di dalamnya. Semua terasa begitu pahit dan menyakitkan setiap kali itu berhubungan dengan pria dan cinta. Ailee ingin seperti Jenn yang memiliki seseorang yang ia cintai, seorang pria yang bisa menjadi apa saja bagimu ketika kamu membutuhkannya, dan tidak menyimpan sakit hati sepertinya.

Apa yang paling berat dari mengampuni masa lalu? Tentu saja mengampuni. Dan apa yang paling sulit dari membuang masa lalu? Tentu saja membuangnya.

Sekeras apapun godaannya, untuk orang sepertimu, jangan pernah kembali ke masa lalu. Karena kamu adalah jenis orang yang justru akan memperparah sakit yang kau miliki ketika bersama dengan masa lalumu. Kau tidak bisa merelakan masa lalumu, sekaligus tidak bisa menerimanya kembali. Hentikan keegoisanmu dan belajarlah setiap hari untuk membuka hatimu.

Ucapan kakak iparnya dan ayahnya benar. Ia tidak bisa menyimpan semua masa lalunya. Terkubur bersama seluruh memori dan air matanya di setiap hujan datang. Ia tidak boleh egois. Setidaknya jika ia tidak bisa menerima Joonmyun, ia bisa merelakan pria itu. Ia tidak boleh berurusan lebih jauh dengan pria itu. Tidak. Butuh waktu lama jika Joonmyun masih menginginkannya dan Ailee tidak tahu seberapa lama waktu itu.

“Ailee, kadang aku sering bermimpi konyol, bagaimana jika doraemon itu ada di dunia, atau setidaknya ia meninggalkan pintu kemana saja-nya di dunia.” Joonmyun memutar tubuhnya menatap ke langit-langit kamarnya yang terasa begitu hampa. Penolakkan Ailee menyakitinya sekaligus mengoloknya di depan wajah. Ia dulu terlalu mudah dikendalikan ambisi kedua orang tuanya untuk menjaga martabat keluarga dan perusahaannya, hingga dengan mudahnya meninggalkan Ailee yang mulai ia cintai.

“Lalu jika kau memilikinya, kemana kau akan pergi?”

“Ke masa depan.” Ailee menoleh bingung. Yang sempat melintas di pikirannya adalah saat ketika mereka masih bersama, saat ia dan Joonmyun belum pertemu atau yang paling ekstrim adalah ketika Joonmyun belum dilahirkan. Terlalu picisan memang, tapi setahunya Joonmyun masih termasuk pria romantis dan tidak menutup kemungkinan hal itu akan melintas di otaknya.

“Karena jika aku bisa ke masa depan, aku bisa melihat apakah aku masih bisa bersamamu atau tidak. Jika tidak, aku akan menggunakan pintu kemana saja untuk menculikmu, dan memerangkapmu bersamaku selamanya, terserah dimana saja. Asalkan bersamamu dan tanpa campur tangan orang lain. Picisan ya?” Joonmyun mengusap air matanya yang berhasil mendobrak keluar. Tidak ada jalan kembali sepertinya.

“Penyesalan selalu datang di akhir.” Joonmyun sekali lagi mengusap air matanya. Benarkah tidak ada jalan apapun untuk kembali? Ini menusuk dadanya. Perubahan atmosfer di sekelilingnya begitu melukai hatinya. Jalan sekecil apapun sepertinya tidak tersisa baginya untuk memulai hari bersama Ailee. Tidak sama sekali. Itu memukul jantungnya dan merenggut hatinya yang bahkan belum pernah kembali utuh.

“Senang pernah memilikimu di hidupku Ailee.” Joonmyun mengecup kening Ailee terakhir kalinya sebelum keduanya berakhir dalam tangis.

Lonely Rainy days

Joonmyun menyibak tirai ruang kerjanya. Sudah tiga tahun berlalu sejak malam itu. Dan semuanya masih terkenang di otaknya dengan baik. Hari ini bahkan ia melewatkan ulang tahun putrinya. Putrinya secara eksklusif mengundang Ailee, Sang Superstar—dengan bayaran sudah melewati empat ratus juta dollar setiap jamnya—ke acara ulang tahunnya untuk menyanyikan beberapa buah lagu. Sejak kedatangan Ailee tiga tahun lalu putrinya benar-benar jatuh cinta pada Ailee. Begitu pula John, kadang ia tanpa sadar melantunkan lagu Ailee apalagi yang bernada indah dengan beberapa falseto. Joonmyun begitu mencintai Ailee, dan sepertinya setiap bagian dirinya bahkan yang ada dalam diri John dan Laura sama halnya.

Jika sudah tiga tahun, maka sudah puluhan atau ratusan kali ia merasakan kesendirian di setiap hujan turun seperti hari ini. Sejak kenaikannya menjadi penguasa kerajaan bisnis keluarga Kim, ayah dan ibunya tidak lagi ikut campur pada teritorial pribadinya. Mereka sedang menikmati liburan masa tua mereka di Hawaii dan berencana untuk menetap di pulau pribadi mereka setelahnya. Meninggalkan anak mereka yang tidak pernah bangkit dari keterpurukkan. Joonmyun kesepian. Sangat kesepian. Keberadaan John dan Laura tidak cukup. Sekalipun ia tidak mencintai ibu mereka, tapi Joonmyun sangat mencintai John dan Laura. Begitupun kedua anaknya. Tapi cinta dari mereka saja tidak pernah membuat Joonmyun puas. Ada sesuatu dalam hati kecilnya yang menuntut lebih dan itu tidak mungkin. Karena hatinya menuntut Ailee, wanita yang sudah pergi meninggalkannya.

Selama delapan tahun ia melalui malam-malamnya yang hampa. Dan semakin hampa serta menyakitkan setiap ia melihat hujan yang menyimpan jutaan memori tentang Ailee yang begitu menyukainya. Ditambah malam itu, tiga tahun ini selalu menjadi malapetaka baginya. Ia sudah jarang sekali tertidur lelap, sekalinya ia tertidur pasti mimpi tentang perpisahannya dengan Ailee yang kedua kali, tiga tahun lalu, masuk di benaknya. Pada akhirnya ia akan terbangun, dan menahan tangis dan sesak yang terus meningkat di dadanya sampai fajar menjelang.

Tokk.. Tokk..

“Masuk.” Joonmyun melihat ke arah pintu. Ia menemukan putrinya dengan gaun warna biru cantik dengan mahkota kecil di kepalanya. Putrinya luar biasa cantik dan mempesona. Matanya berwarna gelap seperti rambutnya, bibirnya tidak berhenti membentuk senyum ceria.

Dad, ayo keluar, aku mau potong kue.” Laura menarik kaki Joonmyun membuat pria itu terpaksa mengangkat tubuh putrinya yang memang selalu bermanja ria padanya.

Daddy, tidak bisa sayang. Maaf ya. Nanti malam kita pergi berdua, tapi kali ini Daddy tidak –” Tiba-tiba saja Laura mencium bibir ayahnya erat, kemudian matanya mengedip beberapa kali dan terakhir memasang wajah memelas. Seperti malam itu, juga seperti ketika Ailee memintaku menjadi pacarnya. Joonmyun langsung tertawa setelahnya.

Hey, princess, siapa yang mengajarimu?” Joonmyun mengusapkan hidungnya di pipi putri cantiknya membuat Laura terkikik beberapa kali.

“Itu..” Laura menunjuk pintu ruang kerja Joonmyun yang setengah terbuka. Tapi tidak ada siapa-siapa. Ia menatap Laura sekali lagi, tapi putri kecilnya itu hanya tersenyum malu-malu dan masih menunjuk ke arah pintu seolah ibu perinya akan segera datang.

“Ayo masuk saja, Aunt. Dad pasti senang juga bertemu denganmu. Dad juga fansmu, kok.” Joonmyun bisa mendengar suara John yang membuat keributan di balik pintu sebelum akhirnya John itu muncul sambil menarik-narik tangan seseorang. Joonmyun berjalan ke arah pintu dan perlahan-lahan melihat seorang wanita dengan rambut wavy hitam yang berada di ambang pintu.

“Ailee..” Joonmyun merasa seluruh hidupnya tercekat di tenggorokan begitu melihat wanita yang tidak pernah hilang dari mimpinya. Kebahagiaan memenuhi seluruh neuron tubuhnya. Wanita itu tersenyum ramah padanya dan masih mengapit tangan John.

“Hai Joonmyun, long time no see.

Yeah, it’s easy to throw you under the bus

Or call you crazy, while filling my cup

I say these things to hurt you

But I only hurt myself

Oh, I can only take responsibility for me

 

It takes two, two sides to every story

Not just you

I can’t keep ignoring

I admit half of it, I’m not that innocent, oh yeah

 

It takes two, two sides to every story

Not just me

You can’t keep ignoring

But let me be first baby to say “I’m sorry”, “I’m sorry”

 

I face my demons, yeah, I paid my dues

I had to grow up, I wish you could too

I wanted to save you, but I can only save myself

—Katy Perry – It Takes Two

.THE END.

 

Couple_6Blur

Couple_6

Usyalalala usyalalala~~~ Bagaimana ending-nya? Netral kan. Kalian bisa membayangkan sad atau happy sesuai imajinasi kalian 😉 hohohoho. Ceritanya agak weird yah.-. karena Cuma ide ini yang muncul waktu denger Rainy Days.

Ke depannya ceritanya bakal lebih berat dan lebih hurt. Mungkin nggak ada yang happy ending. Jadi bisa aja endingnya kaya gini atau endingnya sad luar biasa dengan menewaskan seluruh cast nya /dilempar lemari/ Cuma nanti emang ada satu lagu yang temanya manis yang ketebulan ada diantara lagu-lagu berat. Hehehehehe.

Last, comment, like, kritik, saran dan lain sebagainya sangat diterima ya!

Next : Wohacemoyundtowokn – A – 12 votes

Advertisements

30 responses to “[Chamomile/Song Fic] Rainy Days

  1. Aaww! Keren. Aku suka konfliknya, berat tapi mengalir
    Sempet nyesek sih, tapi mulai berkurang seiring berjalannya cerita
    Dan aku suka banget sama endingnya~
    Nice ff..

  2. Sekalinya baru buka ffindo, iseng2 nyari songfic nemu ff ini dan ceritanya luar biasa…hahaha
    Sebenernya agak bosen sama ff yang alur ceritanya bisa ketebak (akhirnya mereka menikah dan bahagia selamanya) kirain ff ini juga gtu, ternyata ngga…hahahaha, jadi seneng deh…
    Ditunggu songfic2 lainnya… Aku suka cara penulisan kamu, rapi banget…hehe
    Keep writing! 🙂

  3. Pingback: Recommended FF Suho and Lay | DILAYS·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s