Has Gone

Ini bukan ff ditjao, melainkan ff titipan dari salah seorang teman. Harap memberikan apresiasi berupa komentar setelah membaca ya, terima kasih sebelumnya.

 

teenage_angst__goodbye__pill__by_saccharinesmile

Has Gone

Arsita wickrama (@pitteopan)

Present

Luhan | OC

General

Friendship, Angst

We were together in that space, In time to be walked together.”

.

Suara derap kaki melangkah terdengar menggema di lorong sekolah itu. Mata itu mengedar seperti mencari sesuatu. Langkahnya terhenti ketika sesuatu yang ia cari sudah ditemukan oleh pandangannya. Langkahnya mendekat ke arah seorang gadis yang tengah meringkuk di dalam tangisannya.

“Sudah kubilang tunggu aku di kelas,” lirihnya. Jemarinya mengusap Kristal yang masih mengalir di pipi itu. Isakan itu sedikit mereda ketika jemari itu menangkup wajah gadis itu. Manik mata yang begitu indah terlihat di wajah gadis itu.

Dengan sangat hati-hati, pria itu membantu gadis itu untuk berdiri. Luhan menuntun gadis itu. Jemari Luhan terasa sangat lembut, seperti sedang membawa hal yang berharga untuknya. “Aku sudah bilang jika jangan pernah sekali-sekali mendekati mereka. Kau tahu mereka itu seperti apa ‘kan?”

Gadis itu hanya mengangguk dengan lemah. Pancaran tulus terlihat begitu jelas di mata itu. Luhan menjaga gadis itu seperti menjaga dirinya sendiri. Tidak ada satupun hal yang terlewatkan dari pengawasan Luhan.

Dengan perlahan Luhan membawa gadis itu ke sebuah tempat. Dan sekian kalinya jemari itu menyentuh kulit yang sensitive itu. Luhan menaikkan sedikit rok panjang itu. Luka dengan warna merah gelap itu terlihat begitu jelas. Luhan yang melihatnya hanya menghembuskan nafasnya.

Jemari itu memberi sedikit antiseptic ke luka tersebut. Sedikit jeritan, terdengar menyakitkan di telinga Luhan, namun ini semua demi kebaikan gadis itu juga. “Tahan sedikit. Setidaknya itu akan menyembuhkan lukamu dengan cepat,”

“Jangan pernah menatapku dengan tatapan seperti itu. Kau tahu? Aku begitu membencinya.”

Raut wajah kecewa tergambar jelas. Gadis itu hanya mengangguk dengan lemah seakan mengerti dengan nasihat sahabatnya itu.

Disaat yang sama aku merasakan perasaan khawatir yang begitu mendalam. Dan tentunya aku tidak tahu apa yang membuat perasaan itu muncul.

Luhan

 

***

Sorakan yang begitu ramai terdengar begitu berisik. Disaat bersamaan langkah itu terlihat begitu cepat. Matanya menangkap sesuatu disana. Ya, sesuatu yang begitu menyakitkan.

“k-kau tidak apa?”

Gadis itu hanya terdiam. Tubuhnya bergetar hebat seperti menahan sesuatu dalam dirinya. Luhan menatap cemas gadis itu. Dengan cepat Luhan membawa gadis itu ke ruang yang terlihat sepi.

“Sudah kubilang kau hanya boleh temui aku dan jangan pernah kau beraninya keluar dari kelasmu itu,” lirihnya. Jemari itu membersihkan tepung yang sempat disiram ke tubuh gadis itu. Perasaan Luhan begitu teriris melihat hal itu. Luhan sendiri sudah memperingati orang-orang yang tidak memiliki perasaan itu untuk tidak mengganggu gadis itu tetapi hal itu terjadi lagi.

Jemari Luhan menyisir lembut rambut yang sempat berantakan akibat ulah orang-orang itu. Tubuh gadis itu masih bergetar. Entah seperti ada sesuatu yang membuatnya ketakutan.

“Aku tidak tahu mengapa aku peduli padamu—ah tidak mungkin lebih tepatnya setiap melihatmu aku selalu ingin melindungimu. Tetapi apa? disaat yang bersamaan aku merasakan perasaan yang begitu sesak sehingga membuatku selalu mengkhawatirkanmu.”

Nafasnya terengah-engah. Seperti menahan sesuatu disana, namun itu semua gagal. Kristal bening jatuh dengan sempurna di pipi itu.

“Tolong, jangan membuatku selalu cemas.”

Di kemudian hari, aku merasakan hal yang sama. Khawatir dan cemas setiap memikirkannya. Ketika melihat wajah ketakutannya, disaat itu juga aku merasakan pancaran aneh di wajah itu. Sekali lagi aku ingin jika kau tetap disisiku dan jangan pernah lagi mencoba untuk pergi.

Luhan

***

Musim gugur telah tiba. Ribuan orang telah merencanakan sesuatu untuk pergi berlibur, namun tidak untuk gadis itu. Ia hanya terdiam di dalam tempat yang begitu ia benci. Suara pintu terbuka terdengar begitu pelan namun terdengar jelas di telinganya.

“Apakah kau mau melihat pemandangan indah hari ini?”

Anggukan kecil tertangkap jelas di pandangan pria itu. Seulas senyuman terbentuk begitu sempurna sehingga mampu membuat seseorang kehilangan pikirannya. Dengan cepat jemari itu menangkap lengan gadis itu dan menuntunnya ke suatu tempat.

Langkah demi langkah mereka lewati namun berbeda dengan orang-orang itu. Mereka menatap Luhan dan gadis itu dengan tatapan aneh. Bisikan yang pelan terdengar menyakitkan di perasaan Luhan. Jika saja mereka tahu, mungkin mereka akan mengerti dengan apa yang Luhan lakukan.

Pemandangan yang begitu indah terpampang jelas di pandangan mereka. Luhan tahu itu semua indah, tetapi tidak lebih indah dari perasaannya ketika melihat gadis yang begitu ia sayangi tersenyum.

“Aku tidak peduli dengan semua yang orang-orang itu katakan. Jika pada takdirnya kita akan bersama, maka akan selama-lamanya kita akan terus bersama.”

Setiap kata yang di ucapkan Luhan begitu manis, namun itu bukan sebuah rayuan ataupun bualan semata. Melainkan sebuah ketulusan yang terdapat pada setiap kata. Luhan bukanlah seorang pria yang bisa mengucapkan hal seperti pria di luar sana. Tetapi Luhan hanya bisa berkata jujur dengan segenap perasaan yang ada.

Setiap detiknya mereka habiskan waktu bersama-sama. Tidak ada yang terlewatkan satupun itu. Mereka terlihat seperti surat dan prangko yang selalu menempel bersama-sama. Banyak orang yang tidak mengetahui seperti apa yang Luhan rasakan. Sudah ratusan orang yang selalu menatap aneh ke arah mereka ketika mereka menghabiskan waktu bersama-sama tetap disaat itu juga mereka tidak peduli. Dunia seakan milik mereka. Dan hanya milik mereka.

Secara fisik gadis itu tidak memiliki kekurangan apapun. Namun sikap dan tingkah laku gadis itu yang membuat banyak orang selalu menatap aneh ke arah gadis itu. Ia bukan seorang yang memiliki keterbelakangan mental. Bukan. Ia juga bukan seorang yang tidak waras. Bukan. Tetapi perasaan yang terkadang berubah-ubah sehingga membuatnya terlihat begitu aneh dan menakutkan.

Tetapi semua itu tidak berarti untuk Luhan. Pria itu tidak peduli dengan segala pendapat orang-orang itu tentang mereka. Luhan juga hanyalah pria biasa yang mempunyai perasaan dan kepedulian terhadap sesuatu. Tetapi berbeda untuk gadis itu. Luhan selalu memperlakukan gadis itu seperti seorang tuan putri yang begitu dihormati, namun bukan itulah alasannya.

Luhan sendiri tidak pernah tahu alasan apa yang membuatnya seperti itu. Mungkin pada takdirnya gadis itu memiliki seorang malaikat yang selalu menjaganya dan melindunginya, dan Luhan yang memiliki kewajiban untuk melindungi gadis itu.

Dan itu adalah alasan mengapa aku ada disini

Luhan

***

Pagi itu semuanya terasa sepi. Tidak ada wajah lucu yang membuatnya tertawa. Dan juga tidak ada hal bersama gadis itu yang membuat seulas senyuman selalu terbentuk sempurna di sana.

Luhan sudah memakai jas dan kemeja putih yang terlihat rapi. Dengan seikat bunga mawar putih yang begitu indah. Luhan sama sekali tidak berniat untuk berkencan atau melamar seorang gadis. Bukan itu.

Tetapi untuk menemui seorang gadis yang membuatnya harus selalu khawatir tiap memikirkannya. Sebuah pemakaman yang masih terlihat baru itu di hiasi dengan bunga mawar yang sempat di genggam oleh Luhan. Mata pria itu berkaca-kaca seperti menahan sesuatu disana.

Foto seorang gadis dengan senyuman di wajahnya, terlihat sangat cantik. Wajah yang tenang itu membuat perasaan Luhan semakin sakit. Pria itu terisak dalam tangisannya. Entah seperti ada setengah bagian yang hilang dalam hidupnya. Sesuatu yang berharga dan sangat berharga.

Luhan sendiri selalu menyalahkan dirinya yang terlambat untuk menyelamatkan gadis itu dalam tabrakan maut itu. Andai saja Luhan tidak berdiri di tengah jalan dan tidak membiarkan gadis itu untuk menyelamatkannya, mungkin semua akan baik-baik saja. tetapi semua itu sudah terlambat. Penyesalan akan muncul di akhir kisah seorang manusia dan sangat sulit untuk mengembalikan semua itu ke waktu semula.

Sebuah perasaan manusia akan selalu berubah-ubah. Namun tidak untuk perasaan kasih sayang dan ketulusan seorang manusia. Seseorang akan tetap tulus dalam hal apapun jika memang hal itulah yang membuatnya menjadi tulus. Dan seseorang akan tetap menyayangi orang-orang yang selalu membuatnya nyaman dalam keadaan apapun.

.

.

.

Aku tidak tahu mengapa aku bisa memiliki perasaan tulus yang begitu mendalam dengan seseorang. Tetapi ketika aku menepis perasaan itu, disaat itu juga aku merasakan sebuah hal yang begitu menyakitkan. Seperti ada sebagian yang hilang dari hidupku. Kehilanganmu untuk selamanya. Dan ini semua telah pergi. Kau dan kenangan kita.  Luhan

pitteopan’s note : holaaa! Akhirnya persembahan yang kedua untuk kambek saya kali ini selesai hehe *maksudlo?-_-* /slapped/ ini sekedar bonus dari saya karena udah agak lama ga nitip ff sama kak dita hwhw okesip untuk yang ini maaf kependekan karena Cuma berkisar 1000+ words, dikit kan?-_- finally, terima kasih buat yang udah baca karena tanpa kalian mungkin saya ga akan punya semangat buat bikin karya karya yang lebih bagus lagi *eaaa sekian dari curcol gaje saya, love!<3333

Thanks for dita unni! Yang selama ini udah ngirim ff aku kesini hehe, maaf udah ngerepotin juga;_; mwah!<3

Advertisements

15 responses to “Has Gone

  1. Sad ending;;; sebenernya aku agak gak ngerti itu ceweknya kenapa ._. dan kebanyakan kata ‘itu’
    Tapi aku suka ffnya >u< ditunggu ff lainnya, fighting! ^^

  2. Aku gak ngerti thor:|
    Mungkin kalau ada sedikit penjelasan di awal cerita,semuanya bakal jelas. Atau mungkin author mau bikin prequel? Overall,ff ini bagus kok. Kalau author mau bikin prequel,ditunggu yah:) fighting!^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s