How To Steal A Kiss – 4th A. The Mission Has Begun

4

Title : How To Steal A Kiss – 4th A. The Mission Has Begun

Author : ohyeolliepop

Genre : Romance, School-life, (maybe) Comedy

Rating : T

Cast : Park Hyunjo (OC), All of EXO members, Choi Jinri [f(x)], Jung Soojung [f(x)], Park Cheonsa (OC)

Disclaimer : I own nothing but the storyline. Please be a good reader. Do not plagiarize.

Previous :  1st  | 2nd  | 3rd | 4th A

Park Hyunjo merasa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi dalam hidupnya. Belakangan ini, ia sering mengalami hal-hal ganjil yang terasa aneh dan tidak biasa.

Pertama, Jinri –teman baiknya yang manis dan menyenangkan–, mendadak berubah menjadi duplikat Cheonsa namun versi lebih gemar berdandan. Hal ini jelas membuat Hyunjo heran, karena sebelumnya Jinri tidak pernah menyentuh kosmetik sama sekali.

Apa yang menyebabkan Jinri berubah menjadi sedemikian rupa?

Kedua, Soojung membuatnya terjebak dalam sebuah kencan bersama dengan salah satu anggota EXO. Sebenarnya tidak bisa disebut jebakan, karena Soojung justru telah membantunya.

Tapi Hyunjo, kan, belum pernah pergi kencan sebelumnya. Ia takut akan bertindak konyol dan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Kris, the cold guy.

Ketiga, diam-diam dan tanpa disadari, Hyunjo mulai tertarik pada seseorang. Hyunjo belum dapat mendefinisikannya sebagai perasaan suka atau cinta, ia kira masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan seperti itu.

Sayangnya, di sisi lain Hyunjo justru merasa ia telah tertarik pada orang yang tidak tepat dan di waktu yang tidak tepat pula. Ia harus bisa mengubur perasaannya dalam-dalam. Hyunjo tidak mau membiarkan perasaannya tumbuh semakin liar dan menyebabkan dirinya terjebak dalam masalah lagi.

***

Hyunjo menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan kasar. Napasnya tersengal tidak beraturan, nampaknya ia benar-benar kelelahan. Luka di kakinya juga tidak berhenti berdenyut sedari tadi dan semakin menambah penderitaannya saja. Hyunjo rasa sebentar lagi ia akan meledak.

Sejurus kemudian Hyunjo mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan dengan gerak cepat ia mencari nomer Jinri, kemudian memencet tombol dial. Tidak sampai dua detik suara mesin operator langsung menyambut Hyunjo dengan celotehannya yang panjang dan membosankan. Hyunjo menggerutu dalam hati, aku menelepon untuk bicara dengan Jinri, bukannya untuk mendengarkan pidato dari mesin ini.

Gadis bermata hazel itu telah menghabiskan sepanjang sorenya untuk mencari Jinri ke seluruh penjuru sekolah. Mulai dari kafetaria, ruang-ruang kelas, lapangan, sampai gudang sekolah yang menyeramkan (dan gudang itu memang gelap, pengap, dan mengerikan. Hyunjo bersumpah tidak akan pernah mengunjungi tempat itu lagi). Sayangnya Jinri tidak ada dimana pun.

Karena tidak dapat menemukan Jinri di sekolah, Hyunjo memutuskan untuk kembali ke dorm berbekal spekulasi bahwa Jinri telah pulang lebih dahulu karena bosan menunggu Hyunjo terlalu lama. Namun ternyata, Jinri juga tidak ada di dorm.

Hyunjo menghela napasnya putus asa. Ia merasa tidak enak hati karena ia benar-benar terlambat datang ke taman sekolah. Sebuah kecelakaan kecil yang membuat lututnya terluka memang telah mengacaukan rencana Hyunjo untuk datang tepat waktu. Apakah Jinri marah? batin Hyunjo. Atau mungkin, Jinri melihatku saat bersama Lay sunbaenim? Tiba-tiba sebuah pemikiran asing hinggap di kepala Hyunjo.

Buru-buru gadis itu menggelengkan kepalanya sendiri. Tidak, tidak mungkin. Saat Lay sunbaenim menolongku pasti Jinri ada di taman sekolah. Hyunjo menganggukkan kepalanya karena kesimpulan yang ia buat sendiri. Ya, tidak mungkin Jinri melihatnya.

Memutuskan untuk tidak ambil pusing, Hyunjo melempar ponselnya ke sembarang arah di atas pembaringannya dan mengerang pelan. Ia merasa stress karena alasan yang tidak ia mengerti. Mungkin karena dare dari Cheonsa, atau mungkin juga karena hukuman menyedihkan dari Lucifer. Hyunjo tidak tahu pasti mana yang paling membuatnya merasa tertekan dan penuh dengan masalah.

Baru saja Hyunjo akan mengerang sekali lagi, ia mendengar suara pintu dormnya terbuka. Hyunjo melongokkan kepalanya untuk melihat siapa yang datang dan menemukan Soojung berdiri di ambang pintu dengan ekspresi seperti habis melihat hantu.

“Hyunjo, suara apa tadi? Aku mendengar ada suara mengerikan dari dalam dorm kita!” pekik Soojung panik. Ia menutup pintu dengan cepat dan menghambur ke arah Hyunjo. “Tadinya aku tidak berani memastikan suara apa itu, tapi akhirnya aku memaksakan diri. Untunglah kau ada di dalam.”

Kening Hyunjo berkerut samar. “Suara mengerikan? Aku tidak mendengar apapun.”

Soojung memberikan Hyunjo tatapan ‘apakah-kau-bercanda’ sebelum mengguncang-guncangkan bahu gadis itu. “Aku mendengar suara itu dengan jelas! Seperti suara erangan.. Hyunjo, jangan-jangan dorm kita ini berhantu!”

Soojung semakin histeris dan tidak terkendali. Ya, di balik wajahnya yang terkesan dingin, Soojung adalah seorang gadis yang sangat penakut. Ia juga paranoid, sering memikirkan hal yang tidak-tidak. Bisa saja pikiran Soojung sendiri yang sebenarnya lebih mengerikan daripada keadaan yang sebenarnya.

“Erangan?” Kedua alis Hyunjo terangkat naik. Mendadak tawanya pecah begitu saja, menggema di ruangan dorm mereka yang relatif sepi. “Demi Tuhan, Jung Soojung! ITU ADALAH SUARA ERANGANKU! Tidak ada hantu atau semacamnya!”

Hyunjo masih tergelak sementara Soojung melongo kebingunan. Gadis itu belum sepenuhnya menangkap penjelasan Hyunjo. Suara erangan.. Mengerikan.. Hyunjo.. Bagaimana mungkin? “Ini gila,” desis Soojung pelan. Hampir tak terdengar, namun telinga Hyunjo masih cukup peka untuk mendengarnya.

“Kau yang gila!” sambar Hyunjo di sela tawanya. Gadis itu menghapus air di pelupuk matanya. Saking hebohnya tertawa, Hyunjo sampai hampir menangis. Luar biasa sekali. “Kau ini benar-benar penakut!”

Soojung menggembungkan pipinya sebagai bentuk protesnya terhadap tuduhan Hyunjo. “Tapi suara eranganmu benar-benar mengerikan, jadi wajar saja jika aku ketakutan.”

Hyunjo memegangi perutnya yang terasa kaku dan hampir kram karena terlalu keras tertawa. Pelan-pelan ia menghentikan tawanya dan menarik napas dalam-dalam. “Jadi, seharusnya aku bersyukur karena setidaknya kau tidak lari terbirit-birit karena mendengar suara eranganku.”

Soojung menjitak kepala Hyunjo pelan sambil mendengus. “Sudahlah, tidak perlu dibahas lagi.” Lalu ia melepas sepatunya dan merangkak naik ke atas tempat tidur Hyunjo. “Kenapa baru kau yang ada di dorm? Mana Jinri dan Cheonsa?”

Hyunjo mengendikkan bahunya sekilas, kemudian mengambil posisi duduk tepat di sebelah Soojung. “Aku tidak tahu. Mungkin Cheonsa ikut kegiatan ekstrakulikuler, tapi kalau Jinri aku tidak tahu menahu.”

“Ngomong-ngomong, bagaimana dengan dare dari Cheonsa? Apakah sudah ada perkembangan?” tanya Soojung iseng. Napas Hyunjo tertahan mendengar pertanyaan Soojung. Dare.

“Nona Jung Soojung, kau mengingatkanku pada satu hal!” jerit Hyunjo. Soojung tersentak kaget karena reaksi Hyunjo yang di luar dugaan. Hyunjo menyambar ponselnya, kemudian mengacung-acungkan benda kecil itu di udara. Dengan keyakinan hati dan suara mantap, Hyunjo berteriak, “AKU MENDAPATKAN NOMER KRIS SUNBAENIM!”

Soojung mengira setelah itu Hyunjo akan melakukan dance Gangnam Style sebagai bentuk selebrasinya, namun perkiraannya meleset. Hyunjo justru mendadak terpekur dan menatap ponselnya dengan sayu. “Lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya?”

Ingin rasanya Soojung membuang Hyunjo ke laut hidup-hidup. Ia benar-benar dibuat gemas oleh tingkah laku Hyunjo yang kekanakan dan tidak bisa ditebak. Soojung menepuk pundak Hyunjo, “Kau harus berani mendekati Kris sunbaenim!”

Hyunjo memandang Soojung, masih dengan sayu. “Bagaimana caranya?”

Soojung menahan dirinya sebisa mungkin untuk tidak mencekik Hyunjo. Bagaimana pun gadis polos dan menggemaskan namun bodoh itu adalah teman baiknya. “Kau kan sudah mendapatkan nomer Kris sunbaenim, jadi selanjutnya kau hanya perlu mengiriminya pesan atau meneleponnya lalu mengajaknya jalan. Selesai.”

Bibir Hyunjo membulat, membentuk huruf O. “Begitu?” tanyanya. “Oke, nanti malam aku akan mengiriminya pesan.”

Soojung mendesah lega. Untungnya Hyunjo langsung paham akan penjelasannya. “Oh ya, Hyunjo, darimana kau mendapatkan nomer Kris sunbaenim?”

Hyunjo tersenyum bangga. “Dari Kris sunbaenim sendiri! Aku memintanya secara langsung, hebat bukan?”

Saat ini Soojung benar-benar melongo. Manusia seperti Hyunjo tidak ada duanya di dunia ini!

***

Chanyeol meniup uap kecil yang mengepul di atas gelas kertasnya. Kopi seduhnya masih panas dan belum siap untuk dikonsumsi. “Kemarin aku melihatmu bersama Hyunjo,” selorohnya tiba-tiba.

Lay, lawan bicara Chanyeol sekaligus satu-satunya orang yang sedang bersama dengan laki-laki itu di kafetaria, mendadak terbatuk. Nampaknya ia tidak siap dengan topik yang tiba-tiba diangkat oleh Chanyeol.

“Kau.. Bicara denganku?” tanya Lay ragu, sekaligus memastikan.

Chanyeol memutar kedua bola matanya jengah kemudian mendengus pelan. “Tidak. Aku bicara dengan kopiku,” tukasnya sengit. “Hey, kopiku yang panas, kemarin aku melihatmu bersama seorang hoobae bernama Hyunjo. Apakah itu benar?” tanya Chanyeol sambil menggoyang-goyangkan gelas kertasnya.

“Kau terlihat bodoh,” komentar Lay singkat diiringi tawanya yang terdengar janggal. Tidak lepas seperti biasanya saat ia menertawakan tindakan konyol Chanyeol. Mungkin rasa gugupnya telah mematikan beberapa sel dalam otaknya, atau justru telah merusak kotak tertawanya.

Chanyeol tertawa singkat sebelum akhirnya berkata, “Oke, sudah cukup main-mainnya. Sekarang aku serius. Kau kemarin bersama Hyunjo, kan?”

Lay mengalihkan tatapannya ke penjuru lain di kafetaria, mencoba menghindar dari tatapan Chanyeol yang terkesan menyudutkan. Ia dapat merasakan jantungnya bergedup beberapa kali lebih cepat. Sebenarnya tidak ada masalah jika yang Chanyeol lihat adalah dirinya bersama gadis lain. Namun situasi kali ini berbeda. Chanyeol melihatnya bersama Hyunjo, gadis yang menjadi alasan kenapa Sehun bersikap aneh belakangan ini. Hal itu secara otomatis membuat Hyunjo menjadi gadis yang tidak biasa dan Lay yakin, hampir seluruh anggota EXO sekarang sedang sibuk mencari tahu tentang gadis itu.

Chanyeol mengetuk-ngetukkan jemarinya di atas meja kafetaria dengan tidak sabar. “Kau hanya perlu menjawab ‘iya’ atau ‘tidak’, semudah itu. Kau tidak perlu takut akan remidial atau semacamnya, ini hanya pertanyaan biasa. Bukan soal ulangan dari Lucifer.”

Lay tertawa hambar. Lagi-lagi lelucon Chanyeol berlalu begitu saja, tidak menggelitiknya sama sekali. Oke, Lay. Berpikir. Lay mengultimatum dirinya sendiri untuk memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan pada Chanyeol. Bukan apa-apa, hanya saja Lay takut Chanyeol menjadi salah sangka dan menuduhnya sedang mendekati gadis itu. Bukankah Chanyeol suka mengambil kesimpulan sendiri? Dan hampir semua kesimpulan yang dibuatnya sangat mengada-ada.

“Oke, oke,” kata Lay pada akhirnya. Ia melihat Chanyeol sekilas sebelum memusatkan pandangannya pada gelas kertas yang ditaruh Chanyeol di atas meja kafetaria. “Aku memang bersama Hyunjo, tapi kami tidak melakukan apapun –tidak, maksudku, kami tidak terlibat pembicaraan apapun. Hanya kebetulan saja. Dia jatuh, kemudian aku menolongnya. Selesai.”

Lay terdiam, begitu pula dengan Chanyeol. Selama beberapa detik Lay mengutuk dirinya sendiri karena ia terdengar sangat gugup saat menceritakan semuanya. Hal itu semakin memperbesar peluang bagi Chanyeol untuk mengambil keputusan yang bukan-bukan tentang dirinya dan Hyunjo.

Chanyeol meraih gelas kertasnya, kemudian meneguk kopinya sedikit demi sedikit. Kening dan hidungnya berkerut, menandakan laki-laki itu sedang berpikir. “Jadi.. Hanya membantu?” tanya Chanyeol, setengah menggumam. “Jika kau memang hanya ingin membantu Hyunjo, seharusnya kau tidak perlu menatap gadis itu dengan cara yang berbeda.”

“Apa maksudmu?” tanya Lay tidak mengerti.

Chanyeol terkekeh samar. Dalam sekali tegukan, ia menghabiskan kopinya, kemudian melipat gelas kertasnya menjadi gumpalan kecil. “Aku dapat melihat perbedaan saat kau menatap Hyunjo.”

Lay semakin tidak paham. Ia masih belum bisa menerka kemana arah pembicaraan Chanyeol. “Tidak ada perbedaan apapun,” sanggah Lay membela dirinya sendiri.

“Aku yang melihatmu, jadi aku yang tahu. Bukan kau,” gerutu Chanyeol. “Kau menatap hoobae itu dengan cara yang berbeda. Bisa kubilang, istimewa.”

Lay melipat kedua tangannya di dada, mencoba merenungkan perkataan Chanyeol. Ia akui, ia merasakan desiran aneh saat berada di dekat gadis ceroboh itu, namun soal pandangan.. Lay tidak tahu. “Tapi aku memang hanya berniat untuk membantunya, itu saja. Aku tidak memiliki tujuan lain.”

Chanyeol mengendikkan bahunya. “Bagaimana jika kau berbohong? Aku kan tidak tahu.”

Lay memberengut kesal. Ia sudah tidak tahan menjadi pihak yang tersudutkan seperti ini. “Aku tidak mau membicarakannya lagi. Aku kembali ke kelas.” Kemudian Lay bangkit dari duduknya dan meninggalkan Chanyeol sendirian.

Tanpa disengaja, tingkah lakunya itu justru membuat Chanyeol semakin yakin bahwa Lay memang menyukai Park Hyunjo.

***

Hyunjo memandangi ponselnya lamat-lamat. Ia masih berdiskusi dengan hati kecilnya sendiri, haruskah ia mengirim pesan pada Kris sunbaenim seperti yang Soojung sarankan?

“Jinri?!”

Samar-samar Hyunjo mendengar teriakan Cheonsa yang khas; berlebihan dan sangat keras. Gadis itu kemudian melompat turun dari tempat tidurnya dan berlari ke depan untuk menemui Jinri. Biar bagaimanapun ia harus meminta maaf pada gadis itu.

“Jinri?” Hyunjo mengerjap tidak percaya. Gadis yang berdiri di hadapannya sama sekali tidak terlihat seperti Choi Jinri yang telah bertahun-tahun dikenalnya. Jinri yang manis dan menggemaskan mendadak digantikan oleh sesosok gadis dengan penampilan yang sangat modis. Rambut cokelat gelapnya di cat dengan warna serupa, namun jauh lebih muda. Bulu matanya terlihat lentik, Hyunjo yakin gadis itu memakai eye liner dengan ketebalan maksimum. Bibir Jinri yang biasanya tidak diberi apapun, saat ini terpoles oleh lip gloss dengan warna merah muda yang mengilat. Demi Tuhan, ini benar Choi Jinri, kan? Bukan personel girlband yang harusnya tampil di acara telivisi namun justru tersesat di sekolah mereka?

Masih separuh ternganga, Hyunjo kembali bertanya, “Kau.. Jinri?”

Jinri tersenyum simpul dan membalas dengan yakin, “Tentu saja. Kau terkejut?”

Secara tidak sadar Hyunjo mengangguk.

“Ada apa sih, kenapa berisik sekali?” Soojung yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung bergabung dengan Hyunjo, Jinri, dan Cheonsa. Tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, handuk di tangan Soojung meluncur turun.

Soojung meneliti penampilan Jinri dari ujung kepala sampai ujung kaki, kemudian mengalihkan pandangannya kepada Hyunjo. “Dia Jinri?”

Hyunjo mengangguk ragu. “Aku hampir tidak mengenalinya.”

“Aku juga,” balas Soojung. “Jinri, apa yang kau lakukan pada rambutmu? Dan, bulu matamu, yang benar saja! Sejak kapan kau menggunakan eye liner?”

Jinri mendesah pelan. Bukannya menjawab pertanyaan Soojung, ia justru langsung masuk ke dalam dorm tanpa mengatakan apapun. “Bukannya itu bagus?” seloroh Cheonsa. “Ia terlihat lebih cantik.”

“Tapi ia tidak terlihat seperti Jinri,” komentar Soojung. “Ia terlihat asing, seperti bukan dirinya.”

Cheonsa mengibaskan tangannya di udara dengan tidak peduli, “Sudahlah, itu bukan urusan kita.”

“Itu jelas urusan kita!” seru Hyunjo tidak terima. “Apapun yang terjadi pada Jinri, jelas sudah menjadi urusan kita karena kita adalah teman baiknya.”

Soojung mengangguk, menandakan dirinya sangat setuju dengan apa yang dikatakan Hyunjo. Apalagi yang saat ini terjadi pada Jinri adalah hal yang tidak biasa, maka mereka sebagai teman baiknya harus cepat bertindak dan mencari tahu.

“Cheonsa benar.” Entah darimana datangnya, tahu-tahu Jinri sudah ada di dekat mereka. Gadis itu melipat kedua tangannya di dada. Tatapannya lurus dan tegas. “Ini bukan urusan kalian. Aku sudah cukup dewasa untuk melakukan apapun yang kuinginkan, seperti berdandan seperti ini.”

Hyunjo dan Soojung merasa tertohok, seakan sebongkah batu besar baru saja menghantam perut mereka. Sementara itu Cheonsa tersenyum penuh kemenangan. “Kubilang juga apa. Kalian berdua, berhentilah mengurusi urusan orang lain,” tuding Cheonsa.

Kemudian gadis itu berlalu begitu saja bersama Jinri keluar dari dorm, meninggalkan Hyunjo dan Soojung dalam kebisuan yang janggal. Kedua gadis itu masih tidak percaya pada apa yang terjadi. Semuanya begitu cepat dan terkesan mustahil. Namun sayangnya, ini adalah kenyataan. Jinri telah berubah.

“Jinri berubah secepat itu..,” ucap Hyunjo pelan. Ia memandang Soojung dengan tatapan yang tidak bisa dibaca, namun Soojung dapat menangkap sirat kekecewaan dari sorot mata teman baiknya tersebut.

“Kita harus mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi pada Jinri,” kata Soojung. “Kita tidak bisa membiarkan Jinri yang manis dan menyenangkan berubah menjadi duplikat Cheonsa versi lebih menor.”

Hyunjo mengangguk. “Hyunjo, lantas bagaimana? Kau sudah mengirim pesan untuk Kris sunbaenim?”

Hyunjo menepuk jidatnya. “Astaga, aku lupa!” keluhnya. “Lagipula aku tidak tahu kalimat apa yang harus aku gunakan. Maukah kau membantuku?”

“Tentu saja,” jawab Soojung, memaksakan seulas senyuman.

***

“Apa aku perlu berbasa-basi lebih dulu? Misalnya, ‘Annyeong haseyo, Kris sunbaenim. Ini Park Hyunjo dari tingkat dua. Apakah kau masih mengingatku?’. Bagaimana?” tanya Hyunjo antusias.

Di depannya, duduk Soojung yang sedang berpikir keras. Dahi gadis itu berkerut. “Rasanya laki-laki seperti Kris sunbaenim bukan tipe orang yang suka berbasa-basi.” Soojung mengemukakan pendapatnya sembari meraih bantal terdekat untuk dipeluknya. “Ia kelihatan cool, jadi kau harus mencoba cara yang lebih berani untuk mendekatinya.”

Hyunjo terlihat bingung. “Apa hubungannya cool dengan cara pendekatan yang lebih berani?”

Soojung meringis, menampakkan deretan giginya yang putih bersih. “Aku tidak tahu, tapi menurutku seperti itu.”

Hyunjo menghembuskan napasnya kasar. “Bagaimana ini? Aku jadi semakin bingung.”

“Kemarikan ponselmu,” pinta Soojung. “Biar aku yang bereskan.”

Hyunjo berjengit, matanya membulat terkejut. “Kau yang akan mengirimi pesan untuk Kris sunbaenim?”

Ne,” sahut Soojung. “Kau percayakan saja semuanya padaku. Aku jamin, rencanamu untuk mendekati Kris sunbaenim akan berhasil.”

Hyunjo menimang-nimang ponselnya selama beberapa saat, masih belum sepenuhnya yakin pada Soojung. Namun mengingat reputasi gadis itu yang berhasil mendekati Taemin sunbaenim, akhirnya Hyunjo memutuskan untuk menyerahkan semuanya pada Soojung. Ia mengulurkan ponselnya dan Soojung menerima benda mungil itu dengan senang hati.

Let me handle it,” desis Soojung sembari tersenyum. Mungkin hanya perasaan Hyunjo saja, namun senyum Soojung barusan terlihat misterius.

Tak lama kemudian, Soojung sibuk menekan tuts-tuts di ponsel Hyunjo dengan semangat. Hyunjo tidak berani bertanya apa yang Soojung katakan pada Kris karena ia takut akan mendengar jawaban yang tidak ia harapkan. Akhirnya Hyunjo memilih untuk ‘mengasingkan’ dirinya di tempat tidur Soojung dan membiarkan gadis itu sibuk dengan ponselnya di tempat tidurnya.

Beberapa kali Hyunjo dapat mendengar Soojung memekik tertahan. Rasa penasaran sudah menyesaki Hyunjo sampai ke ubun-ubun, namun gadis itu berusaha untuk pura-pura tidak peduli. Lagipula jika semuanya sudah selesai Soojung akan memberitahunya semuanya.

Kurang lebih dua puluh menit kemudian, Soojung menghampiri Hyunjo. Sebuah senyum terulas lebar di wajahnya yang tirus. Mata Soojung berbinar-binar, seakan ia baru saja memenangkan sebuah penghargaan. Ia mengembalikan ponsel Hyunjo dan tanpa mengatakan apapun gadis itu mengacungkan kedua ibu jarinya. “Besok, sepulang sekolah, di kafe dekat sekolah. Soal surat izin untuk keluar area sekolah, biar aku yang urus. Jangan sampai terlambat!”

Hyunjo mengernyit tidak paham. Ia memeriksa kotak masuk dan pesan terkirim di ponselnya namun ia tidak dapat menemukan apapun. “Soojung, kau menghapus semua percakapannya?!”

“Maafkan aku, Hyunjo, tapi aku tidak berkata yang macam-macam. Kau tidak perlu khawatir. Dan jangan lupa acara besok. Semoga berhasil!” Soojung mengacak rambut Hyunjo sekilas sebelum ia berlari keluar dari dorm. “Malam ini aku menginap di kamar Yeaji!”

Hyunjo memekik frustasi. Apa yang dilakukan oleh Soojung?! “AAAAAAA!!!”

Baekhyun menggigiti ujung pensilnya. Rasa bosan telah menggerogotinya dan ia sudah tidak tahan lagi. Padahal pelajaran kalkulus baru lima belas menit dimulai, namun Baekhyun rasa ia sudah melewatkan lima belas tahun hidupnya untuk pelajaran ini.

Lucifer telah memenuhi seperempat papan tulisan dengan coretan penuh angka dan simbol yang tidak dapat Baekhyun pahami. Coretan yang disebut rumus itu bagi Baekhyun tidak lebih baik dari coretan adik sepupunya yang bahkan belum genap berusia sepuluh tahun.

Untuk mengusir rasa bosannya, Baekhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Ia ingin tahu apakah teman-temannya juga sama bosannya dengan dirinya. Dilihatnya Xiumin sedang memainkan rubik di bawah loker mejanya, Suho sibuk menghitung jumlah uang yang ada di dompetnya, Kyungsoo mencatat rumus-rumus yang diberikan oleh Lucifer (ah, anak itu), Kai berusaha menggoda Seo Yeaji, dan Tao bahkan sudah terlelap di atas mejanya. Nasib Tao akan berakhir mengerikan apabila Lucifer tahu bahwa ia sedang tidur.

Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dari sudut matanya ia menangkap Hyunjo sedang memainkan rambutnya –mengusir rasa bosan–. Baekhyun mengamati gadis itu. Ia memang tidak mengenal siapa Hyunjo, tapi ia pikir ia perlu mengenal Hyunjo. Ia harus tahu apa hubungannya gadis itu dengan Sehun. Tentu saja Baekhyun belum lupa pada tingkah aneh Sehun tempo hari. Alasan dibalik sikapnya yang tidak biasa itu cukup mengejutkan. Hanya karena taruhan untuk mendekati seorang hoobae yang tidak populer macam Hyunjo.

Apa Sehun menyukai gadis itu? Baekhyun rasa tidak. Ia tahu persis seperti apa tipikal perempuan yang dapat menarik hati teman baiknya itu. Haruslah cantik, tinggi, dan biasanya juga populer. Sementara Hyunjo tidak berhasil lolos dari satu pun kategori itu. Hyunjo terlalu biasa-biasa saja untuk seorang Oh Sehun.

Gadis itu menarik? Baekhyun terkekeh samar. Dilihat dari sisi manapun, gadis itu tidak memiliki daya tarik sama sekali. Setidaknya, bagi Baekhyun seperti itu. Gadis itu terlihat polos dan kekanakan, jauh sekali dari kata ‘menarik’.

Lalu apa? Apa yang membuat Sehun bersikap aneh dan tidak mau membatalkan taruhan konyol itu? Aku akan secepatnya mencari tahu, tekad Baekhyun dalam hati.

-to be continued-

Annyeong^^

I’m sorry because it takes too long for me to finished this chapter. I’m kinda tired and busy (I’m on the 3rd grade, btw).

Aku mutusin buat bagi chapter 4 ini jadi 2 bagian. Bukan karena kepanjangan, tapi aku cuma pengen lihat reaksi kalian aja; apa kalian penasaran gimana caranya Hyunjo deketin Kris? Apa kalian penasaran kenapa Jinri berubah? Apa ini, apa itu, dan masih banyak apa-apa lainnya *apa ini nggak jelas banget*

Jadi, kalo kalian emang masih penasaran sama kelanjutan ff ini, please leave your comment below. Aku bikin ff ini juga curi-curi waktu liburan dan belajar banget soalnya :’) apapun komentar kalian, aku hargai dan aku jadiin masukan. Thank you! ❤

Regards,

ohyeolliepop

258 responses to “How To Steal A Kiss – 4th A. The Mission Has Begun

  1. wahh aku penasaran soojung ngirim sms apa ke kris. kayanya udah berpengalaman dan sukses banget, hahahaa

  2. Wahhhhh itu soojung ngirim pesan aph ke kris?.
    pnasaran bgtzzz…jinri knp tiba2 jdi berubah dewsa gt aph jgn2 dy dideketin sm slah 1 anggota exo atau diajak kencan??
    aaaaa pnasaran mw bca ke chapter selanjutnya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s