Who’s the Next? (Chapter 9)

Who's the Next [3]

Title : Who’s the Next?

Author : Lathifah Sinarwulan a.k.a Summer Cho (@chosm96)

Main Casts : Jung Yunho, all EXO members

Other Casts : Lee Jinki, Moon Geunyoung, Kim Bum a.k.a Kim Sangbum, Yoon Sohee, Kim Yoojung, Lee Jongsuk, Kang Haneul

Genre : family, friendship, siblings, school live, some yaoi, AU

Rating : PG13~

Length : Series

Disclaimer : all casts isn’t mine, but I own the plot and the fanfic so both of them is mine! So, don’t post it in other site without my permission.

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9

Terimakasih buat yang udah komen di chapter chapter sebelumnya~~

Dan buat yg minta yang lain dimunculkan, sabar… ngga mungkin aku langsung keluarin semuanya ntar kalian bingung sendiri bacanya, bukankah begitu? :3

– Previous

BRUKK

Jongsuk langsung terjatuh ke tanah dengan sekejap. Pipinya merah dan sudut pipinya mengeluarkan darah. Ia bangkit dan berteriak, “YA! NUGUYA?!”

Seorang pria bermata panda baru saja menendang wajahnya. Pria itu langsung membantu Kris untuk minggir. “Kalian bisanya keroyokan.” Komentar pria yang tak lain adalah Tao. “Mau menghabisiku juga?”

Jongsuk menggeram kesal. “Serang dia!”

# # # # #

Chapter 9 – The Facts

Tao berusaha menangkis pukulan demi pukulan yang ditujukan ke arahnya. Ia bisa dengan gesit menghindarinya. Tentu saja, kemampuan bela dirinya patut diacungi jempol. Kris hanya bersandar pada dinding gang memperhatikan Tao yang terus melawan orang-orang itu.

BUKK

Seseorang berhasil meninju Tao membuat topi yang menutupi kepala dan sebagian wajahnya terbuka. Tao menyerka darah yang ada disudut bibirnya sambil meringis. Beberapa pria sangar itu terkejut melihat wajah Tao.

“Eh, dia kan…”

Mereka terdiam melihat Tao. Tidak ada lagi yang berani menyerang pria panda itu. Malah, para pria-pria sangar itu mundur kebelakang membuat Kris dan Jongsuk kebingungan.

“Ya! Apa yang kalian lakukan? Cepat habisi dia!” seru Jongsuk galak. Namun, para pria-pria sangar itu malah membungkuk ke arah Tao dan berlari pergi. Jongsuk hanya melongo dibuatnya.

Mau tak mau Jongsuk ikut berlari pergi sebelum dirinya dihabisi oleh Tao. Begitu semuanya pergi, Tao bergegas menghampiri Kris dan memapahnya ke mobil. “Hyung, bertahanlah.” Kris hanya mengangguk dan berusaha berjalan dibantu oleh Tao.

# # # # #

Suho dan D.O. kembali lebih awal dari yang lainnya ke rumah. Mereka tertegun melihat Tao yang datang membawa mobil Kris dan memapah Kris ke dalam rumah.

“Apa yang terjadi?” tanya Suho sembari membantu Tao memapah Kris ke ruang tengah.

“Omo! Ahjumma, tolong kotak P3K.” Pinta D.O. begitu melihat keadaan Kris yang babak belur.

Kris dibaringkan disofa dan langsung diobati luka-lukanya oleh D.O. dan pelayan pribadinya. Tao meregangkan tubuhnya yang pegal sebelum menghempaskan tubuhnya ke sebelah Kris. “Apa yang terjadi?” tanya Suho lagi.

“Ada beberapa preman menyerangnya tanpa sebab.” Jawab Tao singkat sembari memejamkan matanya. “Sehun belum ketemu?”

“Kita harus menunggu yang lain.”

Tidak lama kemudian satu persatu dari mereka pun datang. Namun, tidak ada satupun dari mereka yang membawa Sehun. Mereka pun nampak terkejut dengan keadaan Kris. Walau begitu, tidak ada yang berani bertanya karena mereka masih mengkhawatirkan Sehun.

“Ponselnya tidak aktif.” Baekhyun sudah berkali-kali mencoba menghubungi ponsel Sehun namun nihil.

“Sebenarnya dimana anak itu?” gerutu Suho kesal.

“Abeoji masih tidur kan?” tanya Chen. “Aku tidak mau dia syok mengetahui si bungsu tidak ada.”

“Baiklah. Kalian semua tidurlah. Ini sudah dini hari, aku akan menunggu disini siapa tau dia pulang.” Mereka pun mengangguk dan kembali ke kamar masing-masing kecuali Suho, Kris, dan Xiumin. Kris nampak pulas disamping Xiumin dan tidak ada yang berniat memindahkannya ke kamarnya.

Suho masih mencoba menghubungi adik bungsunya itu beberapa kali sampai akhirnya ia terlelap karena terlalu lelah.

# # # # #

Tok Tok Tok

“Jagiya, bisa kau bukakan pintunya?” teriak seorang wanita yang tengah memasak didapur. Pria yang dipanggilnya jagiya itupun keluar dari kamar dan berjalan ke pintu depan.

CKLEK

Ia memandang tamunya dengan heran, begitupun dengan tamunya. Merasa asing satu sama lain. “Mencari siapa?” tanya pria itu pada tamunya.

“Bukankah ini rumah Moon Geunyoung?” tanya tamunya memastikan dan pria itupun mengangguk.

“Ne, benar ini rumah Moon Geunyoung dan aku suaminya. Kau siapa?” tanya pria itu dengan tatapan menyelidik.

“Oh Sehun imnida. Aku adik angkat Geunyoung Noona dulu.”

“Siapa yang datang, Sangbumie–ah, Sehunie?!” wanita yang tengah memasak ini nampak terkejut dengan keberadaan Sehun didepan rumahnya. “Apa yang kau lakukan disini?! Kau datang sendiri?”

“Noona…” wanita dan suaminya itu tertegun melihat mata Sehun yang berkaca-kaca. “Aku kabur dari rumah…”

Moon Geunyoung dan suaminya Kim Sangbum hanya memandang heran ke arah Sehun yang terlihat memakan hidangan yang disajikan Geunyoung dengan lahap. Maklum, ia baru sampai pagi ini dari Seoul menggunakan bis.

“Bagaimana kalau Appa dan saudara-saudaramu mencarimu?” tanya Geunyoung cemas. Sehun nampak tidak peduli.

“Mereka tidak akan peduli. Aku diabaikan disana.” Sehun menyeruput kuah supnya lalu kembali menyendok nasi. “Noona, rasa masakanmu tidak pernah berubah!” puji Sehun sambil tersenyum. Pandangannya tiba-tiba beralih pada pria disamping Geunyoung. “Keundae, kapan kau menikah dengannya? Kenapa tidak mengundang kami?”

“Kami belum menikah, Sehun-a. Baru tinggal bersama.” Geunyoung tersenyum kikuk. “Kami berencana menggelar pernikahan bulan depan.”

“Kalau begitu undang aku ne, Noona.” Geunyoung hanya mengangguk lalu memakan sarapannya.

“Kau berencana tinggal disini sampai kapan, Sehun-ssi?” tanya Sangbum sembari mengigiti sumpitnya. Sehun menoleh sejenak lalu kembali menatap makanannya.

“Selama yang aku bisa.”

“Mwo?!”

# # # # #

“Dimana Sehun?” semuanya diam. Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Yunho. Tentu saja Yunho tidak tahu, kemarin ia sudah tertidur dan tidak ada yang tega membangunkannya. “Kutanya sekali lagi, dimana Sehun?”

Yunho menggerutu kesal lalu menoleh ke arah dapur. “Yoon Ahjumma!” panggilnya. Yoon Ahjumma, pelayan pribadi Sehun pun muncul dengan wajah ketakutan. “Dimana Tuanmu berada?”

“Err, Tuan Muda…itu…” Yunho mendesah melihat tingkah pelayannya. “Tuan Muda…menghilang semalam.”

Yunho tertegun. Ia langsung menoleh pada 11 anak dihadapannya yang makan dengan wajah tertunduk. “Kalian mengetahuinya?”

“K–kami sudah berusaha mencarinya, Abeoji.” Jawab Suho pada akhirnya. “Tapi, kami tidak menemukannya dimanapun.”

“Dan, apa yang terjadi padamu, Wu Yi Fan?” tanya Yunho pada Kris yang keadaannya parah. Plester betebaran diwajahnya. “Kau berkelahi?”

“Anni. Aku dikeroyok.” Jawab Kris singkat lalu menoleh pada Tao sibuk memakan sarapannya. Ia menatap Tao tajam. Seingatnya, semalam para preman itu langsung pergi ketika melihat wajah Tao. Apa mereka mengenal Tao?

“Tuan, ada telepon untuk Tuan.” Seorang pelayan menghampiri Yunho dan menyerahkan gagang telepon padanya. Yunho pun menempelkan gagang telepon ke telinganya.

“Yeoboseyo.”

“Jung Ahjusshi, na ya, Moon Geunyoung.”

“Ah, Geunyoung-ssi. Tumben sekali kau menelepon, ada apa?”

“Sebenarnya aku dilarang  melakukan ini, keundae, aku tidak mau kalian khawatir. Sekarang Sehun sedang berada dirumahku. Ia baru sampai pagi ini dan sekarang ia sedang tidur dikamar bekas anak-anak.”

Yunho menghela nafas lega. “Syukurlah kalau dia baik-baik saja. Anak-anak kebingungan mencarinya semalam.”

“Keundae, apa ada masalah diantara kalian?”

“Aku merasa tidak ada masalah,” Yunho menggantungkan ucapannya dan memandang sejenak ke arah kesebelas anaknya. “tapi sepertinya mereka ada.”

“Hhh, kau begitu cepat selesaikan. Bukannya aku tidak suka dengan keberadaan Sehun disini, keundae, aku hanya sedih melihatnya murung seperti itu. Akan kuminta kalian menjemput jika keadaannya sudah membaik.”

“Gomawo, Geunyoung-a. Aku berhutang padamu. Tolong rawat Sehun dengan baik.”

“Arraseo. Kututup dulu ne, annyeong.”

“Annyeong.” Yunho menyerahkan gagang telepon itu ke pelayan yang membawakannya tadi.

“Kau menemukan Sehun, Appa?” tanya Baekhyun antusias. Kini, mereka semua menatap ayahnya itu.

“Sehun ada dirumah kalian dulu.”

“Di Gwangju?!”

# # # # #

Tao merasa sekelilingnya menjadi lebih berisik daripada biasanya. Ia juga merasa kini semua pasang mata mengarah padanya.

“Aku dengar dia adalah ketua geng.”

“Preman-preman saja langsung takut melihatnya.”

“Pantas saja, mukanya sangar begitu. Menakutkan.”

Tao menghela nafas mendengar kasak-kusuk disekitarnya. Darimana berita-berita asal itu beredar?

Berjarak 2 meter didepan Tao, Lee Jongsuk sedang berjalan ke arah yang berlawanan. Ia tidak menyadari ada Tao dihadapannya.

“Lee Jongsuk…” Tao langsung berjalan menghampiri pria berambut coklat itu. Jongsuk yang tidak sengaja melihatnya langsung berusaha mencari jalan lain. Namun, sial, mereka hanya berada dikoridor yang panjang yang tidak ada jalan kemana-mana kecuali kelas-kelas.

Mereka berhadapan. Jongsuk menatap Tao ketakutan, dan Tao menatap Jongsuk tajam. “Kau yang menyebarkan gosip murahan itu?”

Jongsuk berusaha bersikap tenang, “n –ne! Aku yang menyebarkannya! Wae? Memang benar kan?”

Tiba-tiba Tao menarik kerah Jongsuk membuat Jongsuk semakin ketakutan. “Harusnya kalau itu benar kau tidak berani main-main denganku.” Ucap Tao dengan penekanan. Jongsuk menelan ludahnya.

“Kenapa aku? Kau kan adik kelasku, aku tidak perlu takut denganmu.”

“Kau mau merasakan tendangan yang kemarin, huh?” ancam Tao sebelum melepaskan cengkramannya dari kerah seragam Jongsuk.

Kini seluruh pasang mata menonton mereka. Kasak-kusuk semakin terdengar jelas. Tao menghela nafas lalu berjalan meninggalkan Jongsuk yang berwajah ketakutan.

Dari lantai dua, seorang pria tersenyum setelah menonton kejadian itu. “Ini menarik.” Gumamnya.

# # # # #

Lagi-lagi Xiumin memilih untuk pulang berjalan kaki lagi. Ia melangkahkan kakinya dengan semangat, tidak sabar untuk segera sampai ke tempat penyebrangan.

Kakinya berhenti ketika ia sampai dipinggir tempat penyebrangan, dan gadis yang ditemuinya waktu itu ada disebrang sana. Xiumin tersenyum tipis.

Ketika lampu berubah menjadi hijau, Xiumin pun berjalan. Namun, gadis itu tidak bergerak. Ia tetap diam disebrang sana.

Xiumin menyebrangi jalan dengan kening berkerut. Matanya tidak lepas dari gadis itu. Ketika ia sampai disebrang jalan, ia berhenti disebelah gadis itu. Dengan rasa penasaran ia memandangi gadis itu yang masih diam ditempat dan mengibas-kibaskan tangannya didepan wajah gadis itu. Melihat tidak ada reaksi, berarti gadis ini bernar-benar buta.

Xiumin beralih memandang jalanan sambil memasukkan kedua tangannya ke saku jaket dan berkata, “apa yang kau lakukan disini? Lampunya sudah hijau.”

Gadis itu menoleh ke arah suara berasal. “Ah, jinjjayeo? Belnya tidak berbunyi.” Jawabnya. Xiumin tersenyum kecil mendengar suara gadis itu. Begitu manis menurutnya.

“Mungkin belnya rusak.” Sahut Xiumin sembari melirik ke arah lampu penyebrangan.

“Kalau begitu, kamsahamnida.” Gadis itu membungkuk singkat lalu mulai berjalan ke depan.

Xiumin terbelalak. Tunggu, lampu sudah berubah menjadi merah dan ia baru menyadarinya.

TIIIINN

“Bahaya!”

“Aaaaaa!”

Xiumin menarik gadis itu sekuat tenaga sebelum mobil itu sempat menabraknya. Dia berteriak lalu jatuh ke pelukan Xiumin.

Mereka terpaku untuk beberapa detik. Tidak ada yang berani bergerak. Mungkin Xiumin terlalu syok karena gadis itu kini ada didalam dekapannya. Dan, samar-samar ia mendengar isak tangis. Tunggu, gadis itu menangis?

“G–gwaenchana?” Xiumin menatap gadis itu khawatir lalu melepaskan pelukannya perlahan. Ia benar-benar terisak. Ia menegakkan tubuhnya lalu menyerka airmatanya sendiri. Xiumin bertanya-tanya dalam hati apa yang menyebabkan gadis ini menangis.

“G–gwaenchana…” ia menunduk. Xiumin jadi salah tingkah, ia tidak tahu harus bagaimana.

“Baiklah! Aku akan menyebrang bersamamu.” Seru Xiumin berusaha menenangkannya. Ia langsung mendongak.

“Jinjja? Gomawo, err…keundae nuguseyo?”

“Panggil saja aku Xiumin.”

“Kim Yoojung imnida, bangapta, Xiumin-ssi!” serunya dengan senyum yang manis.

Begitu lampu berubah jadi hijau, mereka pun berjalan menyebrangi jalan raya. Dan Xiumin sendiri terus berjalan disampingnya sampai sebrang. “Ngomong-ngomong, kau mau kemana?” tanyanya berbasa-basi.

“Aku mau ke tempat penampungan anjing liar, kau sendiri?”

“Aku mau pulang. Baiklah, kalau begitu, sampai bertemu lagi, Yoojung-ssi.”

Gadis itu tersenyum. “Ne, kamsahamnida, Xiumin-ssi. Semoga kita bertemu lagi.” Pria itu tersenyum lalu kembali menyebrang sebelum lampu berubah menjadi merah.

# # # # #

“Luhan Oppa!”

Xi Luhan menghela nafas begitu melihat siapa yang memanggilnya. Ekspresinya menunjukkan ‘kenapa aku harus berurusan dengannya lagi’.

“Luhan Oppa, jamkkanman!” sang pemilik suara meraih pergelangan tangan Luhan dan menggenggamnya erat. Dengan terpaksa, Luhan berbalik dan memandang gadis yang memanggilnya itu.

“Ada apa lagi?” tanyanya tanpa minat. Gadis itu mendengus melihat ekspresi Luhan.

“Kau menghindariku, huh? Setelah membawaku secara paksa ke sekolah ini?” gerutu gadis itu yang tidak lain adalah Yoon Sohee.

“Bukannya kau yang menginginkannya? Lagipula, tidak hanya aku yang mengenalmu disekolah ini. Kau masih punya Kai dan beberapa teman lamamu.” Jawab Luhan sembari melepaskan tangan Sohee dari lengannya. Namun, gadis itu malah memperkuat genggamannya.

“Oppa marah padaku? Kenapa kau jadi seperti ini? Apa kau sedang menghindariku?” tanya Sohee bertubi-tubi membuat Luhan pusing mendengarnya.

“Apa aku punya alasan untuk marah padamu? Memangnya aku kenapa? Dan, kenapa aku harus menghindarimu?” Luhan balas bertanya dengan ekspresi yang tidak mengenakkan.

“Sepertinya terjadi salah paham disini, Oppa. Aku tidak mengerti!” seru Sohee kesal. Tentu saja ia kesal dengan sikap Luhan yang berubah 180 derajat.

“Salah paham apa? Sekarang, aku hanya temanmu yang membawamu ke sekolah ini untuk lebih dekat lagi dengan Kai. Itu keinginanmu kan? Sudah ya.” Luhan melepaskan genggaman Sohee dari lengannya kemudian berbalik melanjutkan langkahnya yang tertunda.

“Kai bukan alasanku ingin sekolah disini, Oppa…” langkah Luhan kembali terhenti, lalu ia berbalik memandang Sohee yang menunduk. Koridor itu begitu sepi, jadi tidak ada yang mendengar percakapan mereka. “Aku bukan menyukai Kai.”

“Lalu?” tanya Luhan penasaran. Sohee mengangkat wajahnya lalu memandang Luhan lekat-lekat.

“Aku menyukaimu, Oppa… Aku hanya menganggap Kai adalah sahabatku.” Kedua mata Luhan berbinar. Perasaannya berkecamuk. Antara senang dan sedih. Senang karena perasaannya berbalas. Sedih karena ia mengingat Kai.

“Keundae, nan…” Luhan menoleh ke arah lain. “mian, aku tidak sepertimu. Kembalilah pada Kai.” Kemudian Luhan berbalik dan berjalan lagi. Langkahnya terlihat ragu, ragu meninggalkan Sohee atau tidak.

“Oppa, aku tahu semuanya. Kenapa kau harus berbohong demi Kai…” gumam Sohee dengan mata berkaca-kaca. Ia memandang Luhan hingga menghilang dibelokan.

# # # # #

Oh Sehun turun dari mobil Kim Sangbum lalu mengedarkan pandangannya. Sebuah buket bunga lily putih berada digenggamannya.

“Kau yakin bisa pulang sendiri?” tanya Geunyoung yang duduk di jok depan sebelah kemudi. Sehun menganggukkan kepalanya mantap.

“Aku bukan anak kecil lagi, Noona. Aku pasti kembali ke rumahmu dengan selamat, aku masih hafal rute bisnya.” Sahut Sehun meyakinkan. Geunyoung pun tersenyum dan melambai ke arah Sehun. Mobil itupun pergi meninggalkan Sehun didepan sebuah kompleks pemakaman.

Sehun melangkahkan kakinya masuk ke dalam gerbang kompleks, dan berjalan ke arah kiri. Kemudian ia berhenti tepat didepan sebuah gundukan yang di atasnya terdapat sebuah batu yang berukir sebuah nama.

Moon Sunyoung.

Sehun meletakkan buket bunga lily yang dibawanya ke atas gundukan itu. Ia tersenyum lalu membersihkan batu dengan tangannya. Membersihkan debu-debu yang menempel. “Oraemanida, Omonim.” Katanya sambil tersenyum.

Ia memandang gundukan itu dengan tatapan kosong. Mengingat kenangan-kenangannya bersama orang yang kini berada didalam tanah tersebut. “Sehunie, sudah besar, Omonim. Sehunie baru saja masuk SMA.”

“Semuanya juga bertambah besar. Kami bahkan sudah mencoba bekerja diperusahaan Appa. Tapi, Sehunie tidak menyukainya, Omonim.” Sehun bersimpuh disamping gundukan itu.

“Mereka jadi semakin sibuk dan tidak memikirkanku. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Sehunie jadi tidak punya teman main. Sehunie hanya bisa bermain dengan Appa, tapi tidak bisa setiap hari karena Appa sakit.”

“Makanya Sehunie kemari. Sehunie sudah tidak dibutuhkan disana. Disini, Sehunie bersama Geunyoung Noona dan namjachingunya. Kau tau, Omonim? Mereka terlihat sangat cocok.” Sehun tersenyum sembari mengelus ukiran nama dibatu tersebut.

“Seharian ini aku akan menemani Omonim, jadi tenang saja. Sehunie tidak akan pergi.” Pria itu menaruh kepalanya diatas gundukan tanah itu lalu memejamkan matanya. Menikmati semilir angin yang membelai lembut kepalanya, membuat beberapa helai rambutnya menari-nari mengikuti arah angin.

# # # # #

Kai mengerutkan keningnya begitu melihat gadis yang dikenalnya sedang berjalan dihadapannya dengan kepala tertunduk. Gadis itu hampir saja menabraknya kalau Kai tidak menahannya dengan memegang kedua bahunya.

“Kau bisa menabrak tembok dengan berjalan seperti itu, Noona.” Yoon Sohee mendongak membuat Kai tertegun. Mata gadis itu berkaca-kaca. Nampak sangat menyedihkan. “A–apa yang terjadi?”

“Kai-ya… Aku ditolak…” seru Sohee dengan suara serak. Kai terbelalak.

“Oleh siapa?”

“Kai-ya, apa aku tidak terlihat cantik dimata Luhan? Kenapa ia memandangku dengan tatapan seperti itu. Mengesalkan!” Sohee menggerutu sampai tidak sadar airmatanya mengalir. Kai menghela nafas lalu menarik gadis itu kepelukannya.

“Menangislah…” Kai mengusap kepala gadis itu lembut. Alhasil, gadis itu menangis dipelukannya. Sohee menumpahkan semua kesedihan dan kekesalannya membuat blazer seragam Kai basah.

Kai memeluk gadis itu semakin erat. Ia tidak habis pikir dengan Luhan. Kenapa saudaranya itu menolak Sohee? Bukankah Kai sudah merelakan Sohee padanya?

“Kai-ya, aku sangat menyedihkan…” ujar Sohee disela tangisnya. “Luhan begitu membenciku…”

“Lalu Noona akan menyerah begitu saja?” tanya Kai membuat hatinya ngilu sendiri. Senjata makan tuan.

“Molla… Eotteokhae…” Sohee menangis keras membuat beberapa orang yang lewat memperhatikan mereka. Kai jadi salah tingkah. Ia tersenyum pada orang-orang itu berusaha mengusir salah paham mereka.

“Kalau aku beri saran, apa Noona mau menerimanya?” Sohee berhenti menangis lalu mendongak menatap Kai. Tangan Kai tergerak untuk menghapus airmata yang membasahi wajah Sohee dengan ibu jarinya. “Lupakan dia, apa Noona bersedia?”

# # # # #

“Jadi Kris Hyung menyetujuinya, dan Suho Hyung tidak tapi ia memberi alternatif lain?” Chen mengangguk paham. “Kalau begitu ikuti apa kata Suho Hyung.” Semuanya terdiam mendengar keputusan Chen. “Wae? Keberatan? Kalau begitu kalian jalankan dulu sesuai rencana kalian, tapi kalian juga mencari daerah lain untuk antisipasi rencana kalian tidak berhasil. Sebut saja rencana Suho Hyung adalah rencana B.”

Chen memandang kesekelilingnya. Tidak ada yang menjawabnya. “Kenapa aku tidak mendengar jawaban satupun?”

“Kami akan mencoba menjalankannya, Tuan Muda.” Jawab sang ketua tim pelaksana. Chen tersenyum lalu bangkit. Kemudian ia meninggalkan ruang rapat diikuti oleh Lee Jinki.

“Kuharap mereka menemukan titik terangnya.” Gumam Jinki sembari memeriksa berkas-berkas ditangannya. “Tidak ada rapat lagi, jadi kau bebas melakukan apa yang kau mau hari ini, Chen-a.”

“Gomawo, Ahjusshi. Aku senang bisa menjalankan rapat itu dengan baik.” Chen menghentikan langkahnya lalu membungkuk 90 derajat pada Lee Jinki. Jinki hanya tersenyum.

“Kau memang hebat. Kalian bertiga memang benar-benar hebat.” Puji Lee Jinki membuat senyum Chen semakin lebar.

“Kalau begitu aku pergi dulu, Ahjusshi. Annyeong.”

“Ne.”

Chen berbalik arah lalu berjalan menuju lift. Ia menghentikan langkahnya ketika melihat tim pelaksana yang baru keluar dari ruang rapat. Mereka berjalan tepat dihadapan Chen ke arah yang sama. Chen diam-diam berjalan dibelakang mereka.

“Bukannya memberi solusi, ia malah menyuruh kita dua kali kerja.” Gerutu sang ketua tim yang tertangkap oleh indera pendengaran Chen.

“Hhh, kenapa harus ada 3 Sajangnim? Menyusahkan saja.”

“Kita hanya harus mengikuti perkataan Wu Sajangnim dan menjalankan rencana kita. Kenapa kita harus mendengarkan pendapat duo Kim itu.”

“Aish, memangnya mencari tempat baru itu mudah apa? Benar-benar menyusahkan. Melakukan dua rencana itu bersamaan? Memangnya kita punya banyak waktu?”

“Kalau kalian tidak mau melakukannya ya sudah.” Para tim pelaksana itu terkejut melihat Chen yang sudah ada disamping mereka. Chen menghentikan langkahnya lalu menoleh pada mereka. “Kalau kalian tidak mau melakukannya ya jangan lakukan. Aku hanya memberi solusi yang memang berat, tapi kalian akan merasa lega nantinya.”

Chen maju dan memencet tombol lift yang berada tepat disebelah sang ketua tim membuat mereka semua mundur. Pintu lift terbuka lalu Chen melangkah masuk. “Kalian tidak masuk?” tanyanya pada mereka.

Chen tersenyum puas melihat tim pelaksana itu masuk dengan wajah tertunduk.

# # # # #

“Hhh, baguslah, Chen bisa diandalkan. Kamsahamnida atas informasinya, Ahjusshi.” Suho memutuskan telepon lalu memasukkan ponselnya ke saku celana.

“Ya, Kim Joonmyun.” Suho berbalik. Ia berdecak begitu melihat sang pemilik suara. Sang pemilik suara itu pun datang menghampiri Suho. “Masalah apa lagi yang saudaramu buat? Gosipnya sudah beredar.”

Suho mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Apa maksudmu, Kang Haneul?” tanyanya.

“Gosip beredar Tao adalah ketua geng. Kemarin, ketika Kris babak belur karena serangan preman-preman yang dibawa Lee Jongsuk, Tao datang menolong dan preman-preman itu langsung ketakutan ketika mengenali wajah Tao.”

Kang Haneul meliriknya dengan senyum sinis. “Sepertinya kau tidak mengetahui hal yang satu itu ya?”

Suho tidak menghiraukan pertanyaan Kang Haneul lalu pergi mencari Tao. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru gedung sekolah. Disaat seperti ini, dimana ia bisa menemukan Tao?

“Suho-ya!” Lay berlari menghampiri saudaranya yang nampak kebingungan itu. “Sedang apa kau disini?”

“Apa kau melihat Tao?” tanya Suho langsung. Lay mengerutkan keningnya lalu menggeleng.

“Ia susah dicari kalau sedang berada disekolah. Memangnya ada masalah apa?” tanya Lay.

Suho menoleh padanya lalu menjawab, “kau sudah dengar gosip yang beredar? Yang mengatakan Tao adalah ketua geng.”

“Ah, iya aku mendengarnya. Kau mempercayainya?”

“Tentu saja tidak! Aku ingin dengar dari mulut Tao sendiri, untuk itu aku mencarinya.”

Lay tersenyum lalu menepuk bahu Suho menenangkan. “Kita bisa menanyakannya dirumah. Disini kondisinya sangat tidak enak. Ayo kita makan.” Kemudian Lay berjalan mendahului Suho menuju kantin sekolah.

# # # # #

Kai membukakan pintu Pet Shop itu dan mempersilahkan Sohee masuk. Mereka mengedarkan pandangan mereka ke seisi Pet Shop tersebut. Berbagai binatang peliharaan dan keperluan mereka ada disana.

“Hmm, biasanya orang mencari binatang peliharaan untuk diajak bermain agar ia tidak kesepian. Binatang apa yang bisa diajak bermain ya?” tanya Kai sembari melipat tangannya.

“Bagaimana kalau hamster atau kucing? Tidak repot mengurusnya.” Saran Sohee namun dijawab gelengan oleh Kai.

“Harabeoji alergi bulu kucing, masa kita harus menyembunyikan kucing itu ketika harabeoji datang?”

“Hmm, kalau anjing?” Sohee menunjuk sebuah kandang anjing berjenis Pomenarian Husky. Anjing yang menyerupai serigala itu. “Aaah, lihatlah betapa menggemaskannya mereka!” Sohee berjalan menuju kandang anjing Pomsky itu dan mengetuk-ngetuk kacanya. “Sehun akan menyukai ini.”

“Pilihkan satu untuknya, Noona.” Kai tersenyum melihat Sohee yang sangat bersemangat. “Apa kau mau juga?”

“Kalau kau mau membelikan anjing untukku, aku pilih anjing Pom Pom!” Sohee menunjuk ke kandang lain yang berisi anjing dengan bulu yang lebat membuat anjing itu berbentuk bulat menyerupai pom-pom.

“Untuk sementara, ayo kita belikan untuk Sehun.” Sohee mengerucutkan bibirnya mendengar jawaban Kai. Kai tertawa lalu mengeluarkan dompetnya.

Mereka pun keluar dengan kandang kecil ditangan Kai. Sebuah anak anjing Pomsky siap dibawa ke rumahnya dan diperkenalkan pada anggota keluarganya. Mata Kai tertuju pada kedai es krim yang terletak tidak jauh dari Pet Shop.

“Noona mau es krim?” tawar Kai langsung dijawab anggukan semangat Sohee. Mereka pun berjalan ke kedai es krim.

Setelah mendapatkan es krim pesanan mereka, mereka pun duduk disalah satu meja kosong yang ada diluar kedai. “Hmm, sepertinya enak!” Sohee memandang es krimnya tidak sabaran.

Mereka memakan es krim masing-masing dalam diam. Sohee terlalu sibuk menikmati dan Kai terlalu sibuk memerhatikan Sohee. Sohee mengedarkan pandangannya dan terhenti ke satu arah. “Oh, ada orang buta disana.” Kai mengikuti arah pandang Sohee dan ikut tertegun.

“Lho, itu kan Xiumin Hyung? Kenapa dia bersama orang buta itu?”

# # # # #

“Kita bertemu lagi, Yoojung-ssi!” Gadis buta itu bereaksi ketika Xiumin berseru padanya.

“Xiumin-ssi!”

“Ahahaha, ternyata kau ingat denganku. Betapa senangnya!” seru Xiumin bersemangat. Pandangannya tiba-tiba beralih pada sebuah makhluk dibawahnya. “Keundae, anjing siapa ini?”

Yoojung tersenyum. “Ini anjingku, kenalkan dia Jungah.” Xiumin berjongkok dan mengelus kepala anjing tersebut.

“Ahh, yeoja rupanya. Annyeong, Jungah, Xiumin imnida. Kuharap kita bisa berteman.”

“Jungah adalah pemandu jalanku.” Kata Yoojung tiba-tiba. Xiumin mendongak ke arahnya. “Aku lebih memercayai Jungah daripada tongkatku sendiri. Sejak aku mengalami kebutaan, ia selalu menuntun jalanku. Hanya dia yang dapat mengerti aku.”

“Tapi aku tidak melihatnya kemarin-kemarin.”

“Dia baru sembuh dari sakit. Waktu itu aku ke tempat menampungan anjing liar untuk menjenguknya. Disana juga ada dokter hewan, jadi ia dirawat dengan teratur hingga sembuh seperti sekarang.” Yoojung tersenyum senang membuat Xiumin ikut tersenyum lalu bangkit.

“Hmm, begitu rupanya. Baiklah, kutitipkan nona ini padamu, Jungah.” Seru Xiumin sembari memandang anjing yang sedang mengibas-kibaskan ekornya itu.

“Menitipkan apanya, hahaha!”

“Apa tidak bisa melihat seperti itu melelahkan?” tanya Xiumin tiba-tiba membuat Yoojung terdiam.

“Tentu saja sangat melelahkan, tapi tenang saja, penderitaan ini akan segera berakhir.”

“Maksudmu?”

“Aku baru saja mendapat donor kornea mata yang cocok denganku. Ahh, menyenangkan sekali, akhirnya aku bisa kembali melihat dunia!” seru Yoojung bersemangat.

“Jika kau sudah bisa melihat, bolehkah aku menemuimu?” tanya Xiumin. Yoojung tersentuh mendengarnya.

“Tentu saja, Xiumin-ssi… Aku akan datang kemari untuk menemuimu.”

Xiumin tersenyum lalu mengacak-acak rambut Yoojung. “Aku akan disini menunggumu.”

Tiba-tiba bel lampu penyebrangan berbunyi. “Ah, sepertinya aku harus menyebrang.”

“Biar kutemani.” Xiumin menggenggam tangan Yoojung yang menggenggam tali Jungah lalu mereka berjalan menyebrang dipimpin oleh Jungah. “Sampai!” Xiumin pun melepas genggamannya membuat Yoojung merasa ada yang hilang.

“Gomawo, Xiumin-ssi. Sampai bertemu lagi.”

“Ne, sampai bertemu lagi. Jungah, aku titip nona ini ya, hati-hati dijalan!” Xiumin pun menepuk bahu Yoojung dan berjalan mundur dan berbalik untuk menyebrang kembali.

TIIIIINNN

“AWAS!”

BRAAKKKK

Yoojung tertegun mendengar suara aneh itu. Namun, apa daya ia tidak bisa melihat apa-apa.

“Hey, pemuda itu tertabrak!”

“Oh tidak darahnya banyak sekali.”

“Xiumin Hyung!”

Samar-samar ia mendengar suara seorang pria.

“Xiumin-ssi? Xiumin-ssi… Xiumin-ssi eodiseoyo? Xiumin-ssi!” Yoojung melepaskan pegangannya pada tali Jungah dan berusaha meraba ke sekitarnya mencari pegangan.

“Xiumin-ssi! Eodiseoyeo?!” serunya panik. Beberapa orang memerhatikannya, namun tidak ada yang memedulikan. Karena mereka terlalu sibuk dengan korban yang tertabrak. Tanpa sadar, airmatanya mengalir.

“Andwae! Xiumin-ssi!”

# To Be Continued #

Xiumin-ssi, Xiumin-ssi, andwaeee!!! /apaini

Aaarrghhhh semoga chapter ini tidak mengecewakan kalian ya ya ya /?

Komen berisinya jangan lupa wkwkwk

Buat kalian yang merasa kebingungan sama casts, bagaimana kalo aku buat profil pemainnya? Jawabannya ditunggu jawabannya kawaan~

71 responses to “Who’s the Next? (Chapter 9)

  1. nah loh.. itu gimana ceritanya luhan kai sama sohee?? luhan ngrelain sohee sama kai, kai juga ngerelain sohee untuk luhan.. tapi soheenya suka sma luhan.. jadi binggung
    ya ampun xiumin ke tabrak mobil??
    next yah thor..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s