Bloody Camp [Act 6]

bloody-camp-fruidsallad-storyline-redo

“Could You Kill Your Best Friend?”

-Dapatkah kau membunuh sahabatmu sendiri ?-

ACT 1 | ACT 2 | ACT 3 | ACT 4 | ACT 5 | ACT 6

Title : Bloody Camp

Author : Fruidsallad

Artworker : LeeYongMi (disini)

Main Cast: Exo Members

Other Cast : Taecyeon (2PM), Yuri (SNSD), Donghae (Super Junior), Sooyoung (SNSD)

Genre: Drama, Friendship, Brothership, Thriller, Suspense

Length : series

Rating : PG-17

Disclaimer: Cerita ini terinspirasi dari Battle Royale dan Hunger Games.

A/N: Haloo… Masih ingat dengan  cerita ini? Atau ada yang kangen sama authornya yang ganteng ? Udah ngilang seminggu lebih nih hehe.Semoga masih tetap menantikan epep ini. Oh ia, buat adegan mengingat masa lalu, kalau bisa sambil dengerin lagu Davichi – A Sad Love Song ya atau EXO- Miracles In December. Soalnya nadanya cocok buat mengingat masa lalu hehe.  Happy reading my lovely reader!

[BLOODY CAMP]

~ Previous Story ~

Pemerintah Korea membuat sebuah kebijakan khusus untuk penghuni sekolah SM High School. Pemerintah Korea ingin mengurangi sampah masyarakat  – para kriminal muda- yang mengganggu dan dilatih di dalam sekolah tersebut hingga pada akhirnya mereka semua dikumpulkan di suatu pulau dan harus membunuh satu sama lain.

Acara ini sudah dikenal dengan nama Battle Royale dan disiarkan di tengah malam. Acara yang tidak mengenal ampun itu dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Dan pada tahun ini, diberikan kebijakan yang berbeda dari sebelumnya. Bahwa mereka harus saling bunuh hingga tiga yang tersisa.

Sebelum dilepaskan ke pulau, mereka dikumpulkan di sebuah tempat seperti pangkalan militer. Di pangkalan militer tersebut, mereka diberikan penjelasan dan pengarahan.

Di luar dugaan, Chen – salah satu siswa SM High School yang menjadi peserta Battle Royale tahun ini- dianggap memberontak dan langsung ditembak oleh Tuan Kepala Sekolah. Chen langsung tersungkur penuh darah. Teman-temannya begitu histeris. Chanyeol dan Baekhyun merasa tidak percaya, karena mereka sudah mengungkap sebuah rahasia bahwa Chen adalah anak dari Lee Sooman – Tuan Kepala Sekolah mereka.  Tidak mungkin rasanya seorang ayah menembak anaknya sendiri.

~~~

[BLOODY CAMP]

Kyungsoo POV

 “Tidak mungkin seorang ayah tega menembak dan membunuh anaknya sendiri.”

Perkataan Baekhyun membekam di otakku sekali lagi.

Tidak mungkin!

Aku tidak percaya bahwa Jongdae atau Chen itu adalah anak Lee Sooman – Kepala Sekolah kami yang bangsat ini!

Bagaimana mungkin seorang ayah tega melakukan hal tersebut pada anaknya ?

Kalau dia tahu mengenai acara Battle Royale terkutuk ini, mengapa dia memasukkan Chen ke sekolah ini?

Dia gila.

Saat ini lelaki paruh baya yang selalu ingin dipanggil “Tuan” itu hanya diam membisu seperti biasa – seakan tidak terjadi apa-apa.

Selain itu, di depan mata kepalaku sendiri, aku melihat  Chen yang ditembak oleh seseorang yang bagaikan iblis itu.  Menembak dengan seenak hatinya. Seakan orang yang ada ditembaknya bukanlah seorang manusia.

Kini tubuh Chen sudah tertidur di lantai.  Lelaki yang dulu sering tertawa, ceria, dan wajahnya tampak selalu bersinar ini kini sudah terbujur kaku bagai tidak ada harganya.

Dan semua itu dikarenakan ayahnya sendiri!

Air mataku kembali mengalir,

Aku tidak tahan dan tidak sanggup melihat semua ini. Teringat saat beberapa waktu yang terdahulu – disaat aku bercengkrama dengan anak itu,

FLASHBACK

Sudah sekitar tiga puluh menit aku menunggu di toko Mam Ah Bum ini. Sesekali aku melirik ke arah cermin yang digantung di dinding. Haha, mungkin akan lucu kalau aku keluar dari sini dengan menggunakan topi koki dan celemek seperti ini hihi.

Menoleh ke arah oven,

Aha!

Sebentar lagi kuenya matang. Hore! Sorak ku dalam hati.

DRING

Terdengar oven telah memberi sinyal pertanda. Sebelum membuka tutup oven, aku menggunakan sarung tangan terlebih dahulu. Setelah ku buka, ku sajikan kue yang baru saja kami buat di atas meja.

Kami ?

Ya, kami.

Aku dan Kim Jongdae alias Chen.

“Sudah matang kuenya ?” seseorang tiba-tiba muncul di belakangku. Aku menatapnya sambil mengangguk. Ia rapi sekali. Dimana celemek dan topi koki yang tadinya ia pakai ? Mengapa sudah berseragam sekolah lagi ?

“Baguslah…” sahutnya.

Lelaki itu mendekatkan hidungnya ke kue agar bisa menghirup aroma kue tersebut.

“Wah… sepertinya enak sekali!”

“Kau dari mana saja, hah? Setengah jam aku menunggu disini !” kesalku.

Chen menoleh ke arahku sambil tersenyum menampilkan giginya yang rata,

“Mianhae, aku tadi mengajak Naeun keliling sekolah ini. Maklum, besok kan upacara kelulusan kita, setelah itu aku tidak bisa bertemu dengannya lagi. Karena itu aku menggunakan waktu tiga puluh menit tadi. Hehehe”

Lelaki ini masih berharap pada Naeun rupanya.

“Tega sekali kau. Memanfaatkan waktu ketika menunggu kue ini matang ? Dengan seenaknya kau pergi dengan Naeun, dan meninggalkan menunggu oven sendiri seperti orang bodoh!  Teman macam apa kau.”

Chen cemberut lalu memelukku,

“Apa-apaan ini, lepaskan!”. Aku menangkis pelukannya.

“Sekali lagi mianhae, Kyungsoo.  Aku tidak menyangka wajahmu akan sejelek ini ketika marah.”

Mataku membulat sempurna,

“Kurang ajar kau!”

“Ya sudahlah.” Chen sepertinya sedang tidak ingin berdebat denganku. Tiba-tiba ia menunjuk salah satu kue dari lima belas kue  kecil yang ada di meja.

“Itu untukku. Dan yang di sampingnya adalah untukmu. Aku sudah memberikannya tanda.”

“Tanda apa?” Aku melirik ke arah kue-kue itu, namun sepertinya tidak ada yang berbeda.Semakin cermat, aku akhirnya  melihat ada kismis di atas dua kue tersebut. Di kue yang lain tidak ada.

“ Kismis itu tandanya.”

“Memangnya apa yang membedakannya dengan yang lain?”

“Aku menambahkan coklatnya lebih banyak di kue yang ada kismisnya hahahahaha.” Chen tertawa lepas. Mendengar pernyataan tersebut, aku merespon dengan memberikan sebuah jitakan di kepalanya,

“Aduh!”

“Kau ini jahil sekali.” Tapi kalau dipikir-pikir dia baik juga, memberikanku kismis dan coklat berlebih.

”Tapi makasih ya. Baiklah, ayo bantu aku memasukkannya ke dalam kulkas. Yang sudah dingin saja ya. Yang masih hangat dibiarkan saja di meja dulu. Nanti aku minta tolong pada Mam Ah Bum untuk memasukkannya ke kulkas. Setelah itu kita harus merapikan meja ini ke keadaan awal.”

Chen hanya mengangguk.

Sambil memasukan kue-kue ini ke dalam kulkas, Chen kembali mulai berbicara,

“Kyungsoo!”

“Em~” Aku menjawabnya namun tidak menoleh ke arahnya sama sekali. Aku hanya sibuk memasukkan kue.

“Kyungsoo!”

“Apa, Chen?”  satu per satu ku masukkan ke dalam kulkas.

“Aku boleh bertanya satu hal ?”

“Wae?”

“Kita ‘kan sudah mau berpisah. Selama dua tahun ini, aku belum tahu apa masa lalumu yang membuatmu dimasukkan ke sekolah ini. Dan kau sama sekali tidak pernah menceritakannya. Boleh aku tahu ?”

“Tidak boleh.”

“Cih, kau pelit sekali!”

Aku tidak merespon perkataannya.

“Sekali lagi aku tanya, boleh tidak aku tahu ?”

“Tidak.”

“Kau ini!”

Tinggal empat kue lagi. Saat aku memegang bagian atas kue tersebut, sepertinya masih hangat. Begitu juga dengan tiga kue yang lainnya.

“Yang tersisa ini jangan diangkat. Masih hangat.”

“Oke tuan!”

Aku memilih untuk membereskan meja dimana kami membuat kue tadi. Tampak begitu berantakan. Mulai dari pisau, margarin, garam, gula, terigu, dan yang lainnya ku kembalikan ke posisi semula. Terdengar suara Chen kembali merusak kesunyian,

“Kyungsoo!”

“Hemm~”

“Kau tidak penasaran masa laluku?”

“Tidak.” Jawabku datar.

“Cih, jahat sekali kau.”

Aku hanya menggelengkan kepala setelah mendengar sahutannya.

“Apa kau disayangi oleh kedua orang tuamu ?”

DEG…

DEG…

DEG…

Akhirnya, pertanyaannya membuatku sedikit tertarik. Aku menoleh ke arahnya, namun tetap sambil membereskan meja. Tampak Chen sedang sibuk membuka tutup rak bagian atas. Ia sepertinya sedang memasukkan beberapa wajan dan bahan membuat kue ke sana.

“Mengapa kau bertanya hal itu ?”

“Aku hanya ingin tahu saja.”

Jawabannya sama sekali tidak menyelesaikan masalah.

“Mereka sangat menyayangiku.”

“oh~” Chen mengelap kompor dengan kain lap, “Memangnya apa yang kau lakukan sehingga mereka sayang padamu ?”

Pertanyaan anak ini aneh. Mereka adalah orang tuaku. Tentu mereka akan menyayangiku.

“Apa-apaan pertanyaanmu itu.”

“Jawab sajalah!”

“Aku hanya menjadi seperti anak yang lainnya. “

“Lalu?”

“Hanya itu saja.” Aku mengerutkan alis sambil melirik ke arahnya sesekali, “ Memangnya orang tuamu tidak menyayangimu ?”

Pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulutku dengan maksud hanya untuk bercanda saja.

DEG…

Tiba-tiba ia berhenti dari kegiatan membersihkan kompor. Lalu ia kembali menatap ke arahku dengan senyum terlihat dipaksakan,

“Ayahku tidak pernah mengakui keberadaanku.”

FLASHBACK END

Tidak!

Jangan bilang Tuan Kepala Sekolah bangsat ini tega sekali tidak mengakui Chen yang begitu polos dan ceria!

Jangan katakan!

Jangan katakan apapun!

Wajahku memerah menahan semua amarah ini. Bibirku bergetar sempurna.

BRAK…

Aku menoleh ke sumber suara. Tampak Kai terjatuh dari kursinya. Ia tersungkur di atas lantai. Dalam keadaan pergelangan tangan yang masih diborgol, sahabat ku yang satu lagi ini terlihat mencoba berontak. Air mata terus mengalir di pipinya tanpa henti dan selalu berteriak begitu histeris.  Tubuhnya kini terlihat seperti cacing kepanasan yang menggeliat kasar di atas tanah.  Ia menendangkan kakinya dengan kasar tanpa arah, sesekali  mengantukkan kepalanya sendiri ke lantai,

“Huaaaa… Arghhhhhh!!!! Chen!!! Jongdae!!! Mengapa kau mati secepat ini! Arghhh!!!”

“Ka…kai…” Kata-kata sulit keluar dari mulutku. Aku tidak percaya melihat Kai yang menjadi seperti ini.

“Arghhhhh!!!!!” teriak Kai lagi.

Kyungsoo POV END

 

~~~

Salah satu seorang peserta terjatuh dari kusinya. Ia terbaring di lantai namun terus berontak seperti orang gila. Lelaki tersebut selalu berteriak histeris. Air mata seakan tak mau berhenti keluar dari matanya.  Lelaki itu bernama Kai. Mereka memanggilnya Kai. Kai menjadi frustasi seperti ini karena baru saja melihat teman sekamarnya, Chen, ditembak dengan 3 peluru di depan  kedua bola matanya sendiri.

Kai histeris, dan tubuhnya menggigil. Ia merasa gagal.

Gagal melindungi sahabatnya itu.

Ia merasa bersalah,

Bersalah karena tidak mampu menenangkan sahabatnya itu.

Ia merasa tak berguna.

Tak berguna karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk Chen.

Kai hanya menangis dan menangis. Segala jenis nama binatang dan carutan sudah keluar dari mulutnya.

Kai memejamkan mata sebagai upaya  untuk menenangkan dirinya sendiri. Kai kembali teringat saat pertemuan pertamanya dengan Chen yang berawal dari pertengkaran,

FLASHBACK

Dua orang lelaki sedang duduk berhadapan dengan seorang lelaki paruh baya dan mereka hanya dibatasi oleh meja yang terbuat dari kayu mewah.

Lelaki yang di sebelah kanan hanya menatap  lelaki paruh baya yang ada di depannya dengan serius, sedangkan lelaki yang satunya lagi sibuk memperhatikan keadaan ruangan tempat dimana mereka berada seakan sedang mencari sesuatu.

“Apa yang kau cari di ruanganku, Kai?”

Pertanyaan lelaki paruh baya itu menghentikan kedua  bola mata lelaki tersebut dari “petualangannya”.

“Mianhae. Tidak ada apa-apa, Tuan Kepala Sekolah.” Jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.

Lelaki paruh baya yang disapa oleh Kai itu sering dipanggil Tuan Kepala Sekolah.

“Zhang Yixing dan kau Kai. Siapa nama aslimu Kai?”

“Kim Jongin ,  Tuan Kepala Sekolah.”

Tuan Kepala Sekolah hanya menghela napas,

“Aku akan memanggilmu Kai saja.”

Kai menatap ke arah lelaki yang ada disampingnya –Yixing,  lalu kembali menoleh ke arah Tuan Kepala Sekolah sambil mengerutkan dahi.

Terserahmu lah, tua bangka. Batin Kai.

Tuan Kepala Sekolah tampak sedang membolak-balikkan sebuah buku yang ada di tangannya.

“Baiklah Kai, Yixing.  Kalian berdua akan menjadi murid baru di sekolah ini. Latar belakang kalian adalah pencuri di supermarket. Bagaimana mungkin kalian berdua bisa mencuri bersamaan di supermarket yang sama ? Atau jangan-jangan kalian satu komplotan?”

Kai tersenyum merendahkan,

“Haha. Maaf, Tuan. Kami memang sudah lama saling kenal. Sudah sekitar empat tahun. Kami adalah duo penari di jalanan Gangnam. Kebetulan kami sedang tidak ada uang, jadi kami iseng mencoba untuk mencuri di supermarket. Dan sialnya, kami ketahuan. Ya kan, Hyung ?”

Yixing hanya memangguk namun pandangan tidak lepas dari Tuan Kepala Sekolah.

“Bagaimana bisa kalian sudah lama saling mengenal ? Bukankah kalian berasal dari negara yang berbeda ?”

“Empat tahun yang lalu aku datang ke Korea untuk mencari kehidupan baru. Dan saat itu lah aku bertemu Kai.” Ujar Yixing datar.

Tuan Kepala Sekolah hanya terdiam setelah mendengar pernyataan Yixing. Lalu lelaki paruh baya ini kembali melanjutkan pertanyaanya,

“Sudah berapa kali kalian menjadi pencuri ?”

Kai mendongakkan kepalanya,

“Ini baru pertama kali, Tuan. Serius! Kami berani bersumpah!”

“Kalian yakin ?” Tuan Kepala Sekolah menaikkan sebelas alisnya.

Yixing hyung kembali mengangguk diikuti oleh Kai.

Tuan Kepala Sekolah menghela napas, kemudian ia melihat ke arah jendela,

“Apapun itu masalah kalian. Yang terpenting adalah kalian sudah dikirim dari penjara ke sekolah ini. Jadi selama satu setengah tahun ke depan kalian akan dibina di sekolah ini. Seperti sekolah asrama lainnya. ”

Kai membulatkan matanya,

“Ini rehabilitasi ? Tapi kenapa satu setengah tahun saja ? Bukannya sekolah itu wajibnya selama tiga tahun ?”

Kai senang dan bergembira. Ia dan Yixing bisa memiliki tempat tinggal tetap. Bisa tidur dengan nyaman dan tidak di apartemen kumuh peninggalan orang tuanya lagi.

“Itu bukan urusan kalian. Kalian hanya diharuskan mengikuti peraturan yang ada di sekolah ini. Sehingga kalian bisa hidup enak di sekolah ini.”

Kai menoleh ke arah Yixing, Yixing pun juga begitu. Mereka tersenyum penuh kemenangan.

Kasus pencurian yang membawa keberuntungan. Kalau begitu, mengapa tidak dari dulu saja kita mencuri ? Hehe. Batin mereka di dalam hati secara bersamaan.

“Baiklah kalian akan diantar oleh Sooyoung songsaenim ke kamar kalian.”

Tampak Tuan Kepala Sekolah sedang memencet beberapa tombol di teleponnya, lalu meletakkannya di samping telinganya. Ia sedang menghubungi seseorang.

Beberapa menit kemudian seorang wanita cantik berambut diikat datang ke ruangan ini. Ia tersenyum sekilas kepada kami lalu berjalan mendekati Tuan Kepala Sekolah.

“Baiklah, Tuan. Apa yang bisa saya bantu ?”

“Mereka adalah murid baru kita di sekolah ini. Antar mereka berdua ke kamar mereka yang sudah ditentukan di kertas ini. “

Wanita cantik bernama Sooyoung itu mengambil kertas yang dipegang oleh Tuan Kepala Sekolah lalu membalikkan badannya,

“Ayo, anak-anakku. Silahkan ikut aku! Saya permisi, Tuan.” Sooyoung  membungkukkan badannya ke arah Tuan Kepala Sekolah.

~~~

“Namaku adalah Sooyoung. Dan aku adalah salah satu songsaenim di sekolah ini. Kalian bisa memanggilku Sooyoung songsaenim.

Mereka kini berjalan di lorong sebuah gedung yang berada di sudut sekolah ini. Sooyoung berjalan di depan Yixing dan Kai. Saat di dalam lift, Sooyoung melihat ke arah kertas yang didapatnya dari Tuan Kepala Sekolah tadi.

“Kim Jongin dan Zhang Yixing.”

Sooyoung songsaenim menggigit bibir bawahnya,

“Mana orang yang bernama Zhang Yixing ?”

Sooyoung menoleh ke belakang, tampak Yixing mengangkat tangannya. Lalu wanita tersebut menatap lembut ke arah lelaki yang ada di samping Yixing,

“Berarti kau Kim Jongin, ya ?”

“Panggil aku saja Kai saja, songsaenim.”

Sooyoung hanya menganggukan kepalanya saja.

TRING…

Pintu lift pun terbuka, mereka keluar dan belok ke kiri.

Kai melirik ke arah layar yang ada di samping pintu lift.Tampak ada tulisan “Lantai 3” disana.

Yixing melihat ke arah sebelah kanan, tampak pemandangan  taman sekolah begitu membentang luas.

“Ini adalah gedung asrama kalian. Kalian akan tidur di salah satu kamar yang ada di gedung ini.” Sooyoung kembali berbicara,

“Satu kamar terdiri atas dua orang.”

Kai membulatkan matanya,

“Apa kami akan sekamar juga ?”

Sooyoung menoleh ke arah Kai,

“Maaf sekali, Kai. Sepertinya tidak. Di kertas ini sudah tertulis bahwa kalian memiliki teman sekamar yang berbeda satu sama lain.”

Kai jengkel,

“Yah. Tidak bisa diubah kah, songsaenim ? Aku ingin sekamar dengan Yixing hyung. “

“Tidak bisa, Kai. Kau harus mengikuti peraturan yang sudah ditentukan Tuan Kepala Sekolah. Kalau tidak kau akan mendapatkan hukuman.”

“Cih, belum sehari kami menjadi siswa sekolah ini sudah mau diberikan hukuman saja.” Cibir Kai.

Yixing hanya tersenyum melihat tingkah rekannya itu,

“Sudahlah , Kai. Walaupun kita tidak sekamar tapi kita kan masih bisa berkumpul bersama. Jangan manja seperti itu!”

“Siapa yang manja!”

“Kau yang manja!” Yixing menjulurkan lidahnya,

“Hyung. Jangan buat aku kesal, hyung!”

“Dasar manja!”

Wajah Kai mulai memerah padam. Sooyoung tertawa sehabis mendengar perkelahian kecil murid barunya tersebut.

“Ini kamarmu, Yixing.”

Sooyoung menghentikan langkahnya. Tampak di pintu kamar tersebut ada sebuah  papan bertuliskan “Do Kyungsoo”.

“Do Kyungsoo ?” tanya Yixing, “Dia teman sekamarku ?”

“Benar. Nanti aku akan menambahkan satu papan bertuliskan namamu juga untuk dipasang di pintu ini. Lebih baik kau masuk sekarang.”

Yixing hanya menaikkan bahunya sebagai pengganti kata “terserah” yang tidak keluar dari mulutnya. Ia tidak peduli dan ingin segera tidur di kamarnya. Badannya letih sekali.

Sambil menggendong tas ranselnya, Yixing masuk ke dalam kamar tersebut,

Goodbye, Kai.”

Kai hanya memutarkan bola matanya.

Setelah berjalan melewati beberapa kamar, Kai dan Sooyoung songsaenim kembali menghentikan langkahnya.

Kali ini mereka berhenti di depan pintu kamar yang terdapat sebuah papan kecil bertuliskan “Kim Jongdae” disana.

“Kim Jongdae – teman sekamarku ?”

Sooyoung  hanya mengangguk.

“Cih, namanya kuno sekali.”

Mendengar perkataan Kai, Sooyoung songsaenim meresponnya dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Silahkan masuk! Kalau ada apa-apa silahkan hubungi aku!” ujar Sooyoung songsaenim lalu ia berbalik hendak pergi,

“Tunggu aku menghubungimu lewat apa?”

“DI dalam kamar ada sebuah telepon dan di sampingnya ada daftar nomor telepon penting. Kau tinggal menghubungi nomor yang bertuliskan Sooyoung songsaenim. Oke ?”

Kai terdiam sebentar lalu langsung masuk ke dalam kamar tanpa mengucapkan terima kasih kepada Sooyoung.

BLAM

Bunyi pintu ditutup secara keras.

~~~

“Siapa kau?” tanya seseorang yang ada di dalam kamar- yang hari ini dimiliki oleh- Kai. Kai menatap ke arah lelaki tersebut.  Lelaki itu sedang berbaring di ranjang.

“Aku adalah teman sekamar mu yang baru!”

Pasti anak itu yang bernama Kim Jongdae. Batin Kai.

Lelaki yang tadinya berbaring itu langsung bangkit dan menatap wajah Kai dengan seksama,

“Kau teman sekamarku yang baru?”

“Ya. Memangnya kenapa ?” tanya Kai keheranan.

Kai langsung meletakkan tas ranselnya di meja belajar yang ada di samping ranjang.

“Hei tas mu jangan diletakkan disitu!”

“Memangnya kenapa ?” Kai kembali mengeluarkan pertanyaan yang sama dari mulutnya.

“Itu meja ku.”

“Memangnya kenapa kalau ini mejamu ?”

“Karena itu mejaku, jadi kau tak boleh meletakkan barangmu disana!”

Kai merasa bahwa ia mendapatkan teman sekamar yang menjengkelkan.

“Terserah kau!”

Kai menoleh ke arah tempat tidur yang bertingkat itu. Teman sekamarnya telah berbaring di ranjang yang ada di bawah. Ia mengambil kesimpulan bahwa ranjang untuknya adalah ranjang yang berada di atas.

Setelah melepaskan sepatunya, Kai langsung naik dan berbaring di ranjang tersebut. Jongdae- teman sekamarnya itu- langsung beranjak dari tempat tidurnya dan langsung berdiri sambil mendongakkan kepalanya ke arah Kai. Namun Kai membelakanginya.

“Hei kau. Kau tidak mau berkenalan denganku dulu ?”

Diam lah kau manusia bodoh. Kai kembali membatin.

“Kau sombong sekali. Baiklah, aku dulu yang berkenalan, namaku Chen. Namamu siapa ?”

Namanya Chen  ? Bukannya di pintu tertulis Kim Jongdae ?

“Oh… Mungkin kau bingung mengapa namaku Chen. Nama asliku memang Kim Jongdae tetapi kau bisa memanggilku Chen. Aku sering dipanggil Chen oleh teman-temanku yang lain.”

Apa peduliku ?

Kai tetap tidak menjawab sepatah kata pun. Jangan kan membalas, ia tidak membalikkan badannya dan tetap menghadap ke tembok.

“Aku sudah hampir satu tahun setengah disini. Hobiku banyak lho. Aku suka membuat kue, menyanyi, melukis, dan bermain sepak bola. Kapan-kapan kita bermain bersama ya.”

Tetap tidak ada jawaban. Tetapi Chen tetap terus berbicara dengan senyum bahagia seakan tidak peduli dengan sifat acuh Kai.

“Jujur saja aku kaget, aku pikir aku tidak akan mempunyai teman sekamar.Akhirnya sekarang aku punya!  Aku senang sekali!”

Chen tahu bahwa lelaki yang sedang berbaring ini hanya berpura-pura tidur,

“Maaf. Mungkin kau tidak suka dengan sikap pertama ku tadi yang terkesan pelit. Aku hanya tidak mau barangku bercampur dengan barang orang lain. Setelah ku pikir-pikir tidak apa-apa kok, karena  barangmu hanya  satu tas ransel itu saja, dan mungkin tidak akan mengganggu barang-barangku lainnya yang ada di atas meja. “

“Kau mau aku antar berkeliling sekolah ? Aku sudah tahu lho seluruh seluk beluk sekolah ini. Mulai dari tempat biasa orang sering berkumpul hingga tempat rahasia. Hihihi.

Tawa Chen mulai mengganggu Kai. Kai mengambil kesimpulan bahwa selain menjengkelkan, teman sekamarnya ini juga cerewet. Melebihi cerewetnya seorang yeoja.

“Kau bisa diam ha! Ribut sekali!” Kai tiba-tiba berteriak sambil menoleh ke arah Chen.

Chen diam membisu. Matanya membulat sempurna.

“Maaf kalau aku membuatmu terganggu.”

Chen lalu berbalik dan hendak pergi keluar kamar,

“Lebih baik aku sekamar dengan Kyungsoo.”

Perkataan itu terdengar oleh Kai,

“Kau pikir aku mau sekamar denganmu. Dasar namja cerewet!”

BLAM

Chen juga menutup pintu kamar dengan keras seakan tidak peduli dengan Kai yang sedang marah.

~~~

Kai kembali teringat saat keseharian Chen dan dirinya di kamar,  saat Kai ingin mandi untuk pertama kalinya di kamar mandi asrama mereka, Kai masih tampak kebingungan dalam menggunakan peralatan mandi yang ada disana. Kai merasa aneh karena kamar mandi ini terasa begitu elit. Ia tidak pernah menggunakan kamar mandi sebagus ini.

Kai merasa asing dengan wastafelnya karena tidak memiliki tombol atau alat pemutar agar airnya keluar, Kai terus mencari dimana tombol tersebut. Mana tahu tersembunyi. Pikirnya.

“Kau letakkan saja tanganmu dibawah kerannya, maka air akan keluar dengan sendirinya.” Terdengar sahutan Chen.

Kai tersenyum sinis seakan tidak percaya bahwa Chen bisa tahu apa yang dia lakukan di kamar mandi. Lelaki berkulit hitam tan itu mempraktekkan apa yang diperintahkan oleh Chen, dan benar saja air langsung keluar. Luar biasa.

“Begitu juga dengan showernya, kau berdiri saja di bawahnya. Nanti airnya langsung keluar. Kau tinggal menggelengkan kepalamu saja jika suhunya tidak sesuai keinginanmu. Nanti akan berubah menjadi lebih hangat atau dingin. Di shower tersebut terdapat sensor yang dapat merubah suhu.”

Kai semakin takjub dengan kamar mandi yang ada di sekolah ini.

“Aku senang berada di sekolah ini!”

Lelaki ini kembali mengingat saat Chen membantunya di pelajaran memasak. Waktu itu Kai terlihat begitu kesulitan dalam membuat kue tart. Ia bingung berapa takaran coklat yang harus dimasukkan ke dalam adonan. Maklum, ketika Mam Ah Bum menjelaskan tata cara membuat kue tart, Kai ketiduran. Sekarang dia tidak tertidur lagi karena dibangunkan oleh Yixing, sehingga ia tidak perlu ditegur oleh Mam Ah Bum.

Kai tampak amat kebingungan,

“Bagaimana ini ?”

Kai ragu saat hendak memasukkan coklat bubuknya. Tiba-tiba Chen datang dan berdiri di sebelahnya.

“Hei, kau!”

Kai menoleh ke arah sumber suara, terlihat Chen berdiri dengan senyum lebar.

“Apa yang akan kau lakukan disini, namja cerewet?”

“Cih, aku disini akan membantumu ! Namamu Kai , kan ? Aku sudah bertanya pada temanmu yang bernama Yixing. Karena dia lebih tua dariku, aku harus memanggilnya Yixing hyung. Kebetulan juga dia adalah teman sekamar Kyungsoo. “

Kai tidak merespon perkataan Chen dan hanya melihat beberapa bahan kue yang ada di hadapannya dengan tatapan pasrah.

“Biar ku bantu! Mumpung Mam Ah Bum sedang ke toilet jadi tidak akan ketahuan. Siapa suruh kau tidak memperhatikan wanita itu ketika menjelaskan tadi!”

“Mana ku tahu! Aku tidak tertarik. Memangnya aku wanita suka membuat kue !”   Kai mencibir perkataan Chen.

“Hei! Kau pikir di dunia ini chef atau koki lebih banyak pria atau wanita ? pria, kan? Jangan asal bicara kau!”

Chen meletakkan coklat bubuk ke dalam adonan terigu yang ada di atas meja sambil terus berbicara,

“Bukan wanita saja yang suka membuat kue. Kau mau ketika istrimu nanti tidak ada, kau terus membeli makanan di luar dan tidak bisa membuatnya sendiri ? Sangat menghamburkan uang!”

“Hei kau, apa adonan yang kau masukkan itu takarannya benar ?”

“Sudah. Percaya sajalah padaku! Aku dan Kyungsoo terkenal sebagai koki di sekolah ini. Haha.”

Kai hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Terpaksa, Ia akhirnya menuruti segala perkataan Chen.

Setelah Kai berpikir ulang,  ia tahu bahwa Chen itu baik.

Setelah selesai membuat adonan, Chen memasukkan adonan tersebut ke dalam oven dan menutupnya, lalu memutar tombol ukuran suhu oven dan waktu pemanasannya.

“Oke! Sudah selesai! Bereskan ?” Chen mengedipkan sebelah matanya.

Kai hanya tersenyum sebentar.

“Terima kasih ya.”

Chen memandang Kai dengan tatapan tidak percaya,

“Wah… Tak kusangka kata ‘terima kasih’ keluar dari mulut pria sepertimu.”

“Sialan kau!”

“Ehm….”

Tiba-tiba terdengar suara wanita tua. Kai dan Chen melihat sumber suara wanita tersebut,

Dia adalah Mam Ah Bum!

“Ma…ma..mam.” Chen mengucapkannya dengan terbata-bata. Kai hanya melotot saja.

Mam Ah Bum menatap tajam mereka berdua.

Bukannya dia tadi ke toilet ? Batin Chen.

“Aku tadi tidak jadi ke toilet karena toilet sedang rusak. Saat aku kembali , sepertinya aku melihat ada kerja sama disini.”

Mam Ah Bum mendekati Kai yang hanya terdiam dan Chen yang ketakutan.

“Siapa yang menyuruh kalian kerja sama, hah?”

“It..itu…” Chen tidak bisa menjawab karena dia tidak berani berbohong. Teman-teman mereka yang lainnya hanya terdiam saja.

Kai tiba-tiba angkat bicara,

“Aku yang meminta tolong Chen agar membantuku, Mam Ah Bum. Aku tadi ketiduran saat kau menjelaskan cara membuat kue ini. Chen dengan baik hati mau membantuku yang tidak tahu apa-apa ini.”

Mam Ah Bum mengangkat alisnya,

“Benarkah itu Chen ?”

Chen menjadi kikuk. Ia tahu Kai berbohong. Bahwa sebenarnya dialah yang ingin membantu Kai,  bukan Kai yang ingin dibantu.

“Bu…bukan. Mam~. Tapi sebenarnya aku lah yang ingin membantu Kai. Kai sepertinya lupa cara membuat kue ini. Karena itulah aku mau membantunya.”

“Kau tahu di ruangan ini dilarang kerjasama?”

“Habisnya Mam…” Chen tidak bisa melanjutkan ucapannya. Mam Ah Bum langsung memotong,

“Kalian berdua berdiri di luar kelas. Berdiri sambil menaikkan kaki kalian sebelah. Sampai kue kalian matang, aku baru memperbolehkan kalian kembali masuk.”

Kai dan Chen keluar dari ruangan tersebut, Kyungsoo menatap mereka dengan tatapan iba,

“Chen…”

~~~

Di luar ruangan, terlihat dua orang sedang menaikkan kakinya sebelah. Masing-masing dari mereka sama-sama menaikkan kaki kanan. Pandangan mereka menatap lurus ke arah pintu, bukan menatap satu sama lain.

“Hei, Chen.” Kai mulai bicara,

“Hm…”

“Kau mengikutiku.”

“Apa yang aku ikuti ?”

“Kau menaiki kaki kanan juga!”

Chen memutar bola matanya ke arah kaki Kai.

“Kau yang mengikutiku bodoh!  Ah, sudahlah! Aku tidak peduli dengan itu.”

Kai kembali mengatakan sesuatu,

“Kira-kira bagaimana rasa kue tart itu ya ?”

Chen tersenyum sinis,

“Cih, pasti enak lah! Kan aku yang membuatnya.”

“Percaya diri sekali kau.”

“Awas kau kalau minta lebih dari dua potong!” Chen menoleh ke arah Kai, “Berani taruhan ?”

Kai juga melirik ke arah Chen,

“Oke. Apa taruhan kita ?”

BRAK…

Tiba-tiba pintu terbuka, terlihat seorang lelaki berparas imut bernama Baekhyun menghampiri mereka,

“Chen, Kai! Kalian sudah boleh masuk! Kue kalian sudah matang!”

Baekhyun kembali masuk, diikuti oleh Kai dan Chen. Tampak seluruh kue sudah tertata rapi diatas meja mereka masing-masing.

“Siapa yang mengeluarkan kue ku ?” tanya Kai penasaran.

Yixing hanya mengangkat tangannya sambil tersenyum. Kai pun membalas senyuman hyungnya itu.

“Baiklah silahkan berdiri di depan meja kalian masing-masing. Chen, Kai, kembali ke tempat kalian!” sahut Mam Ah Bum.

Mam Ah Bum mencicipi kue tart buatan para murid satu per satu.

“Kurang manis.”

Terlihat Mam Ah Bum mendekati meja Baekhyun,

“Terlalu manis , Baekhyun. Berapa banyak gula yang kau masukkan ke adonannya ?”

Beberapa orang yang ada di ruangan tersebut tertawa. Baekhyun hanya cemberut kecut.

Mam Ah Bum mencicipi kue buatan Kyungsoo,

“Wah ini enak sekali. Aku sudah yakin kau pasti berhasil membuatnya, Kyungsoo.”

Kyungsoo hanya membungkukkan kepalanya, “Gomawo, Mam Ah Bum.”

Mam Ah Bum berlalu dan mendekati kue tart punya murid yang lainnya. Kini tiba giliran punya Chen.

Chen.. Punyamu enak. Sama seperti yang dibuat Kyungsoo. Apa kalian berbagi resep?”

Chen dan Kyungsoo saling memandang satu sama lain lalu mereka kembali tertawa,

“Tidak Mam Ah Bum. Kami membuatnya sendiri-sendiri, mungkin kami ada kontak batin. Hahaha.” Ujar Chen.

Mam Ah Bum menggelengkan kepalanya lalu mendekat ke arah kue tart Kai.

“Aku ragu dengan punyamu ini, Kai.”

Aku pun ragu dengan punyaku sendiri, Mam Ah Bum. Batin Kai.

“Silahkan dicoba , Mam.”

Mam Ah Bum mencicipi kue tart tersebut, tampak Mam Ah Bum mencoba beberapa kali sambil berpikir,

“Bagaimana rasanya Mam Ah Bum ?” Kai bertanya penasaran. Begitu juga dengan Chen yang menatap penuh harapan,

“Aku bingung.” Sahut Mam Ah Bum

“Mengapa , Mam?” desis Chen dari jauh.

“Kue tart Kai adalah kue yang paling pas. Punya Kyungsoo dan Chen memang enak namun terkesan biasa. Sedangkan kue tart Kai terasa enak dan beda dari biasanya. Aku baru pertama kali mencoba kue tart seperti ini.”

“Benarkah ?” Chen membulatkan matanya.

Kai yang penasaran langsung memotong kue tart yang ada di hadapannya dengan tangannya sendiri secara kasar,  lalu langsung melahapnya.

“Bagaimana Kai ?” tanya Kyungsoo.

Kai menganggukkan kepalanya berulang kali sambil tersenyum,

“Enak sekali , Chen. Tidak salah kau membantuku.” Kai mengangkat jempolnya ke arah Chen.

Semua orang yang ada di ruangan itu langsung mengerubungi kue tart Kai dan berniat mencobanya,

“Baiklah.. Kai kue mu adalah kue yang terenak hari ini. Namun karena kau dibantu oleh Chen, nilaimu berkurang dari sepuluh menjadi delapan poin.”

“Tidak apa-apa, Mam.”

Kai memandang ke arah Chen yang sedari tadi sedang melahap kue tart itu.

Terima kasih , Chen.

~~~

Tidak terasa Kai dan Chen sudah semakin dekat. Tidak ada kata asing lagi diantara mereka. Mereka berdua sudah seperti orang yang sudah lama saling mengenal.

Di pelajaran menembak, Chen yang terlihat masih kaku dalam memegang senjata dibantu oleh Kai. Kai mengajarkan cara memegang senjata yang benar.

“Dari mana kau tahu cara menggunakan senjata?” Chen penasaran.

“Dulu aku suka sekali bermain tembak-tembakkan palsu di pusat game yang ada di mall.”

DOR!!

Tembakan Kai tepat mengenai sasaran,

“Kau hebat , Kai !”

Ketika bermain sepak bola, Kai dan Chen berada di tim yang sama. Saat itu salah satu teman mereka yang lainnya, Chanyeol, menjadi kiper tim lawan.  Chen dan Kai sudah berada di dalam area gawang lawan.

Chanyeol tampak gemetaran karena berusaha menjaga gawangnya dari Chen dan Kai yang sudah berada di hadapannya.

Chen menendang bola ke arah Kai,

“Kai terima ini!”

Kai langsung menerima bola dari Kai dan kembali menendangnya dengan cepat ke arah gawang yang dijaga Chanyeol..

GOL!!!

Kai berhasil memasukkan bola ke gawang lawan.

Kai dan Chen langsung berpelukan diikuti oleh teman se-tim mereka yang lainnya.

Tidak ada rasa canggung lagi.

Tidak ada rasa asing lagi.

Mereka sudah seperti sudah saling sejak dulu.

Mereka sudah seperti sepasang sahabat.

~~~

“Aaarghhh!!! Chen!!!”

Kai masih mengingat semua kenangannya bersama Chen. Kai berteriak histeris ketika mengingat tawa Chen, kebaikan Chen, dan ketulusan Chen.Air matanya terus mengalir, beberapa tentara terlihat mencoba menenangkannya.

Kai terus menggeliat dan memberontak, Ia mengingat saat hari dimana ia begitu penasaran mengapa Chen berada di sekolah itu.

Alasan mengapa Chen menjadi salah satu siswa di sekolah yang para muridnya adalah bekas kriminal muda. Kai ingin sekali bertanya kepada Chen. Namun Kai takut, apabila ia bertanya hal itu akan membuat Chen sedih karena mengingat masa lalu. Ada saat dimana orang tidak ingin masa lalu nya diketahui orang lain.

Di suatu malam, di saat mereka berbaring di ranjang mereka masing-masing, Chen mengeluarkan sebuah pertanyaan untuk Kai yang berada di ranjang atas.

“Kai…”

“Hm…” Kai sepertinya malas menjawabnnya. Karena rasa kantuk sudah sulit dibendungnya.

“Apa kau punya ayah dan ibu ?”

Kai menoleh ke bawah –  ke arah Chen,

“Kau bicara apa sih ? tentunya aku punya.”

“Apa mereka menyayangimu ?”

Kai  membalasnya dengan senyuman,

“Tentu. Walaupun mereka sudah tiada. Tapi aku yakin mereka akan selalu menyayangiku.”

Chen mengangkat alisnya,

“Kedua orang tuamu sudah meninggal ?”

Kai hanya menjawabnya dengan anggukkan.

“Mianhae, Kai-ah. Aku tidak bermaksud-“

“Sudah, tidak apa-apa.” Kai kembali ke posisi berbaring menghadap dinding.

“Mengapa mereka bisa meninggal ?”

Kedua bola mata Kai menghadap ke arah langit-langit dinding mereka,

“Kecelakaan lalu lintas merenggut nyawa mereka berdua.”

“Oh.” Ujar Chen singkat.

Kai sampai saat ini masih ingat salah satu pertanyaan aneh yang dilontarkan Chen padanya,

“Kai, apabila seorang ibu meninggal ketika melahirkan bayinya dari kandungan. Apakah itu salah bayinya ?”

“Kau bicara apa sih!”

“Aku hanya bertanya.”

“Entahlah, aku tidak tahu.”

~~~

Kini…

Kai tahu.

Kai mengerti kenapa Chen berada  di sekolah ini.

Dari perkataan Chanyeol dan Baekhyun yang mengatakan bahwa Chen adalah anak Lee Sooman yang kejam itu, Kai bisa menyimpulkan sesuatu.

“Dasar Lee Sooman gila!! Kau bangsat! Dengan teganya kau memasukkan anakmu sendiri ke sekolah ini! Apa kau tidak punya hati, hah!!!”

Air mata Kai terus mengalir sambil menyelimuti teriakkannya,

“Akhirnya aku mengerti, itu bukan salah Chen! Bukan salah Chen apabila istrimu meninggal ketika melahirkan Chen! Dimana otakmu! Kau memasukkan anakmu hanya karena itu  ?  Kau tidak bisa melawan kehendak Tuhan , Lee Sooman!”

“Aaaarghhhh!”

Teman-temannya yang lain menatap Kai dengan tatapan iba.

“Kai, hentikan!” Kyungsoo berteriak agar Kai berhenti menangis dan berhenti histeris.

“Kim Jongin!” Yixing ikut berteriak.

Seakan tidak peduli dengan teriakan Kyungsoo dan Yixing, Kai tetap berteriak bagaikan serigala di bulan purnama.

Tuan Kepala Sekolah melihat ke arah Kai lalu kembali mengatakan sesuatu,

“Panggil tim medis!”

Beberapa orang berbaju serba putih masuk dan mendekat ke arah Tuan Kepala Sekolah.

“Beri dia suntikkan itu.”

Suntikkan ?

“Suntikkan apa yang akan kau berikan kepada Kai ?” Baekhyun penasaran.

“Jangan bilang kau akan membunuh Kai!” Chanyeol murka.

Tao hanya menggeleng—gelengkan kepalanya melihat semua itu.

“Gege… aku takut gege…” Tao menggigil,

“Tenang, Tao.” Kris menatap Tao lembut. Ia harus menenangkan lelaki yang sudah dianggap adiknya sendiri itu.

Luhan hanya menatap kosong yang ada di depannya, Sehun sesekali melirik ke arah hyungnya itu, namun ia tetap tidak berubah. Hanya terdiam membeku.

Ku mohon , hyung. Jangan begini. Batin Sehun.

“Apa yang akan kau lakukan pada Kai, Tuan Kepala Sekolah ?” sahut Suho.

“Aku akan menenangkannya. Tenang saja! Aku tidak akan membunuhnya!”

Para medis mendekati Kai dan langsung menyuntik lengan Kai dengan suntikan yang ada cairan hijau di dalamnya.

“Aarghhhhhhhhhhh!!! Tiiidaaaaaaaaaakkkkk!”

Kai berteriak semakin histeris, namun tiba-tiba ia langsung terdiam dan menutup matanya.

“Kai?” Kyungsoo membulatkan matanya.

“Untuk sementara biarlah dia tertidur atau pingsan dulu. Cairan hijau di dalam suntikkan itu akan menenangkan pikirannya.”

~~~

Baekhyun POV

Aku melihat Kai yang baru saja disuntik oleh para manusia berbaju putih itu.  Kai pingsan dan terlihat damai. Apa yang terjadi padanya ?

Oh Tuhan…

Ku mohon tolong kami…

Aku tidak menyangka semua akan menjadi seperti ini.

Aku menoleh ke arah Chanyeol.

Air mataku tidak terbendung lagi,

Hanya Chanyeol lah yang bisa ku harapkan saat ini.

Chanyeol yang sudah ku kenal sejak dulu. Mungkin apabila bersamanya, aku bisa bertahan hidup hingga akhir.

Ya Tuhan..

Tolong biarkan aku selalu bersama Chanyeol…

Ia berjanji agar selalu melindungiku…

Aku melihat para tentara mendudukkan kembali Kai yang pingsan di tempat duduknya semula. Beberapa dari mereka mengangkat jasad Chen keluar dari ruangan ini.

Chen…

Kim Jongdae.. Bukan..

Lee Jongdae…

Telah meninggal.

Salah satu teman kami yang selalu ceria telah direngut nyawanya oleh ayahnya sendiri.

Ayah macam apa itu?

Aku melihat ke arah Tuan Kepala Sekolah, tampak dirinya sedang memandangiku dan Chanyeol juga.

“Jadi siapa yang browsing kemarin? Yang mencari tahu masa lalu setiap siswa di sekolah ini ?”

DEG…

DEG…

DEG…

Aku tersentak. Jawaban dari pertanyaan Tuan Kepala Sekolah adalah aku dan Chanyeol.

“Baekhyun…Chanyeol…?”

Apa yang lelaki tua bangka ini akan lakukan padaku ?

Tidaaaakkk…

“Aku. Hanya aku sendiri yang melakukannya. Baekhyun tidak ada hubungannya dengan semua ini. Dia hanya membantuku menghack peringkat, yang browsing hanyalah aku.”

Terdengar suara Chanyeol dengan intonasi yang tegas dan yakin.

Chanyeol ?

Aku kembali menoleh ke arahnya. Terlihat Chanyeol memandangku dengan tersenyum.

“Baekhyun tidak ada hubungannya dengan ini.”

DEG..

Chanyeol, tidak mungkin kan ?

Aku juga tahu mengenai hal itu…

Mengapa kau melindungiku ?

DEG…

“Silahkan. Kau mau melakukan apapun padaku silahkan! Bahkan jika kau mau membunuhku, aku tidak peduli!” Chanyeol berdiri. Tubuhnya ia majukan selangkah dari kursinya. Seolah ingin melindungiku dari dari segala bahaya yang akan mencekamku nanti.

Chanyeol berjanji bahwa dia akan melindungiku selalu.

Apa ini bukti dari janjinya itu ? Dia tidak takut akan kehilangan nyawanya sendiri ?

Tuan Kepala Sekolah mendekat ke arah Chanyeol,

“Kau baik sekali, Park Chanyeol. Kau berani melindungi sahabatmu sendiri. Tanpa ku tanya, aku sudah tahu siapa yang browsing pada saat itu. Kau lah pelakunya dan Baekhyun juga ikut melihatnya. Karena kau berusaha melindungi temanmu….”

Tuan Kepala Sekolah terlihat sedang berpikir. Chanyeol hanya memandang lelaki paruh baya itu dengan tatapan tajam.

Ia menoleh ke arahku sambil menangguk,

“Tidak apa-apa , Baekhyun.”  Desisnya.

“Hei kau, maju kesini!”

Salah satu tentara ditunjuk oleh Tuan Kepala Sekolah ,

“Pukul perut anak ini dua kali. Satu untuk dirinya. Dan satu lagi karena dia berusaha melindungi temannya. Oh ia, jangan lupa, pukulah dengan keras . Agar dia tidak melanggar peraturan sekolah lagi.”

DEG..

DEG..

Perut Chanyeol akan dipukul ?

Tidak!

Di depan mata kepalaku sendiri, terlihat salah satu tentara tersebut memukul perut Chanyeol dengan kepalan tangan yang begitu kuat. Rintihan sahabatku itu menggema di ruangan ini.

BUAGH….

Walau sedikit, darah segar keluar dari mulut Chanyeol. Darah segar yang begitu merah pekat.

BUAGH….

Darah segar kembali keluar.

“Sudah hentikan!”aku berteriak. Aku tidak tega melihat sahabatku ditinju seperti itu.

Mereka pun menghentikan pukulannya dan kembali berdiri di belakang Chanyeol. Darah segar tampak mengalir dari mulut Chanyeol.

“Uhuk…uhuk…”Chanyeol terbatuk.

“Rasakan itu, Park Chanyeol. Siapa yang menyuruhmu berani melanggar peraturan sekolah hah?”

Chanyeol hanya diam membisu.

Aku semakin benci dengan lelaki tua bangka ini.

Beraninya dia memerintahkan para tentara untuk memukul sahabatku itu!

“Baiklah. Bagi nama yang dipanggil Yuri songsaenim silahkan berdiri. Kita akan membagi kalian semua menjadi empat kelompok?”

DEG..

DEG..

DEG…

Menjadi empat kelompok ?

Aku menoleh ke seluruh teman-temanku, tampak mereka semua kebingungan.

“Apa maksud anda, Tuan?” tanya Suho.

“Kalian akan ku bagi menjadi empat kelompok berdasarkan urutan peringkat kalian saat masih di sekolah.”

Tuan Kepala Sekolah mempersilahkan Yuri songsaenim untuk berdiri di depannya.

“Terima kasih , Tuan Kepala Sekolah.”

Yuri songsaenim mengambil sebuah kertas kecil yang ada di sakunya lalu kembali memulai pembiacaraanya,

“Peringkat pertama, Suho.”

Mau tidak mau, Suho hyung pun berdiri dari kursinya.

“Peringkat kedua, Kyungsoo.”

Kyungsoo pun juga berdiri, walaupun matanya masih memandang dengan tatapan pasrah.

“Peringkat ketiga-“

Tiba-tiba Tuan Kepala Sekolah membisikkan sesuatu di telinga Yuri songsaenim, wanita tersebut kemudian mengangguk, lalu si lelaki paruh baya kembali mundur beberapa langkah.

“Karena si peringkat ketiga yaitu Kai sedang dalam kondisi begitu terguncang, maka si peringkat ketiga kita batalkan. Kita lanjut ke peringkat keempat, Luhan.”

Luhan hyung dengan pandangan mata kosongnya akhirnya bangkit dari kursi. Sehun yang berada di sampingnya,  kembali berdesis,

“Hyung, kau tidak apa-apa , kan ?”

“Kau tidak usah peduli  begitu berlebihan denganku, Sehun.” Ujar Luhan hyung tajam dengan tatapan masih lurus ke depan,

Sehun  membulatkan matanya setelah mendengar Luhan hyung berkata seperti itu.

Ada apa dengan Luhan hyung ? batinku.

“Peringkat kelima, Xiumin.”

Xiumin hyung juga berdiri. Kali ini pandangan matanya begitu intens melihat Yuri songsaenim.

“Baiklah kalian berempat silahkan menuju ruangan  302 yang berada di sebelah ruangan ini. Disana kalian akan diberikan pengarahan.”

DEG..

Mengapa mereka berempat dipanggil?

Mengapa hanya mereka yang diberikan pengarahan ?

Aku kembali menoleh ke arah Chanyeol, terlihat Chanyeol sedang memandang ke arah mereka berempat dengan begitu serius.

Apa Chanyeol tersadar akan sesuatu ?

Suho hyung, Kyungsoo, Luhan hyung, dan Xiumin hyung berjalan keluar dari ruangan.

“Jangan ada yang berbuat macam-macam atau memberontak kalau tidak ada yang mau bernasib sama seperti Chen.” Sahut Donghae songsaenim .

DEG..

Mereka berempat hendak berlalu dari ruangan ini, disusul oleh Yuri songsaenim.

“Maaf…”

Tiba-tiba Chanyeol melambaikan tangannya dan berdiri.

 “Ada apa ?”  tanya Yuri songsaenim sinis

“Aku ingin ke toilet.” Ujarnya.

Tuan Kepala Sekolah yang mendengar perkataan Chanyeol akhirnya menyutujui lelaki jangkung tersebut untuk pergi dengan ditemani beberapa tentara.

“Chanyeol, kau ikut bersama mereka dan berjalanlah di belakang mereka. Lalu berpisahlah ketika sampai di depan toilet,” kata lelaki paruh baya itu sambil menunjuk ke arah Yuri songsaenim dengan empat murid yang berdiri di depan pintu. Chanyeol hanya membalasnya dengan anggukan.

Aku melihat  Chanyeol dengan penuh rasa penasaran, anak itu melirik ke arahku dan tersenyum.

Apa yang dia rencanakan ?

Empat orang yang terpilih itu keluar lebih dahulu dari ruangan, diikuti oleh Yuri songsaenim lalu Chanyeol dan beberapa tentara.

BLAM

Pintu kembali tertutup.

Tersisa enam orang murid di dalam ruangan ini, termasuk aku sendiri.

Suasana begitu senyap dan sepi. Atau lebih tepatnya – mencekam.

“Untuk kalian yang tersisa ,” Donghae songsaenim tersenyum sinis,

“Berharaplah dewi fortuna berada dipihak  kalian.”

 ~~~

Salah satu tikus ada yang memiliki ide brilian. Akankah ide tersebut berhasil ?

Berhasil untuk semua tikus yang lainnya atau untuk dirinya sendiri ?

“Could You Kill Your Best Friend?”

~~~

Halo… kembali lagi? hehehe. Gimana chapter ini ? Cukup menegangkan ? atau cukup panjangnya ? hehehe #ditabok

Sekali lagi dimohon komen, kritik, saran, dan likenya.  Berharap bagi chingu chingu yang sehabis baca dapat memberikan komentar. Komentar sangat berarti untuk aku karena sebagai penyemangat untuk melanjutkan cerita ini hehehe :D. Aku sangat menghargai mereka yang mau memberikana komentar :D. Buat yang kritik, aku mohon kritik yang membangun yaa, biar epep ini semakin baik untuk kedepannya. Kira-kira ada yang bisa mengomentari dimana kekurangan epep ini, biar bisa aku perbaiki lagi untuk next chapternya hehe.

Jadi, kalau misalnya ceritanya tidak ingin lanjut, keep “silent” saja terus ya silent reader :D.

Oh ia poster baru lho! Keren banget kan ? Makasih ya buat Lee Yong Mi udah buatin poster sekece ini 😀

Buat nuna Bapkyr makasih ya udah mau beta reader di epep ini. Semoga ga bosen bosen dipalakin mulu buat minta komentarnya tentang epep ini 😀

Cie yang lagi liburan sambil baca epep hehe.

Ayo ada yang penasaran ga sama cerita selanjutnya gimana ? Apa yang dilakukan Chanyeol dan bagaimana pembagian kelompoknya ? Siapakah yang dapat bertahan hingga akhir ?^^^

Kalau mau komentar lewat twitter boleh juga , silahkan. monggo :D. @dalmahamas

Salam author ganteng, Fruidsallad.

130 responses to “Bloody Camp [Act 6]

  1. Pingback: Bloody Camp [Act 7] | FFindo·

  2. yang bagian flashbacj jongdae-kyungsoo itu mirip bagian yang pas di battle royal yoshitoki sama nanahara yang dilapangan basket itu omg asdfghjkl.btw thor cepetan ya act 8 nya XDXD

  3. hua~~~ chenchen kasihannnnn!!! sooman kejem amat!!! istrimu mati bukan karna chen,,, wahhh otakku sama kayak kai, waktu flashback aku jg nyimpulin gitu
    tikus? brilian? chanyeol? apa yang direncanakannya?
    luhan, ada apa denganmu? dia gak bakal berubah kan thor?
    huaa penasaran!!!!! lebih baik chanyeol langsung di tembak dr pada di siksa gitu
    bisa luka lahir batin, yahh batinnya udah luka
    dasar sooman licik, gregetan

  4. Pingback: Bloody Camp [Teaser Next Act 8] | FFindo·

  5. aku manggilnya kakak atau oppa nih? oke, aku panggil oppa aja~~
    wuahhhh~~~ sumpah ini epep kece badai!!
    kalo boleh tau, oppa dapet ilham bikin epep kaya gitu darimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s