THE PORTAL [ Part 11 : Reality ]

The Portal new

Title :

The Portal

 

Author : Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast :

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Good Witch

– INFINITE’s Kim Myungsoo / L as the Bad Witch

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy

 

Other Casts :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon as the most mysterious witch in Junghwa

– SNSD’s Kim Taeyeon as L’s Mother & Hyoyeon’s sister (good side : as Kim Haeyeon, Junghwa’s Headmaster)

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince in another Kingdom

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– Girl’s Day’s Bang Minah as Hoya’s partner

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– A Pink’s Park Chorong as Myungsoo’s best friend & Woohyun’s Girlfriend

– INFINITE’s Lee Sungyeol as Myungsoo’s best friend

 

Rating : PG15 – NC17

Type : Chaptered

 

Before Story :

Berbagai masalah besar muncul ke permukaan secara bersamaan, membuat kehidupan L, Yeoshin, Howon, dan Hyerim di dunia nyata semakin rumit.

Berawal dari kenekatan Taeyeon mengunjungi anaknya –L- ke dunia nyata dan membunuh sisi baiknya, Kim Haeyeon, L semakin berhati-hati dalam menjalankan perannya sebagai Myungsoo karena Sungyeol mulai melangkah maju untuk mengungkapkan identitasnya.  Bahkan sang cenayang mulai memanfaatkan Naeun, dengan ancaman ingin membongkar identitas, ia meminta Naeun untuk membuatkannya ramuan pembangkit orang mati, yang jelas akan ia gunakan untuk membangunkan Myungsoo yang mayatnya masih tersimpan di ruang bawah tanah asrama putra.

Merasa stress karena belum mampu membuat ramuan itu, Naeun mengantisipasinya dengan cara mengikat janji dengan Myungsoo, meminta agar lelaki itu tak meninggalkannya apapun yang terjadi. Dan janji yang mengikat diantara keduanya pun memperbesar cinta Naeun pada lelaki yang sebenarnya adalah suaminya sendiri itu, Naeun bahkan kini tak percaya lagi pada Eunji yang mulai curiga bahwa Myungsoo adalah L.

Eunji, yang harus menerima kenyataan pahit karena Naeun menjauhinya setidaknya masih bisa bernafas lega karena kasusnya dengan Hoya di-cover oleh Minah. Meski tak tahu apa maksud gadis itu menolongnya, Eunji merasa lega karena bisa terbebas dari wartawan yang bisa jadi akan menyelidiki keberadaannya jika Minah tak menolongnya.

Namun masalah baru kembali datang ketika Eunji tahu bahwa Chorong jatuh cinta padanya. Sebagai gadis normal, ia tentu tak menerima Chorong. Namun tak disangka, penolakannya terhadap Chorong membuat sang senior begitu sakit hati.

Disaat yang bersamaan, ketika Chorong baru saja mengalami penolakan oleh Eunji, L membaca surat balasan Myungsoo atas surat Chorong yang ia temukan di saku mayat sisi baiknya itu. Setelah tahu bahwa ternyata Myungsoo yang asli menerima cinta Chorong, L segera berniat hendak membuang surat tersebut karena ia tak mungkin merealisasikan isi surat itu. Namun sialnya, ketika L ingin membuangnya, ia justru bertemu Chorong hingga gadis itu tak sengaja membaca surat itu sendiri dan mengira bahwa L benar-benar mencintainya.

Tak sampai disana, hal tersebut tanpa sengaja diketahui oleh Naeun hingga menyulut kecemburuan gadis itu. Karena tak ingin Naeun membencinya lagi, L terpaksa mengabaikan Chorong dan mengejar Naeun, mencoba membujuk istrinya itu.

Kesulitan L membujuk Naeun yang sudah terlanjur marah dan cemburu membuat lelaki itu kehilangan akal sehatnya. Dengan segala provokasi dan pengaruh Taeyeon yang berputar-putar di kepalanya, L mengajak Naeun berhubungan seks untuk pertama kalinya dengan alih-alih ingin membuktikan cintanya pada gadis itu, dan dengan tujuan utamanya yang tersembunyi, yakni melampiaskan obsesinya terhadap Son Yeoshin yang telah bertahun-tahun ia pendam sekaligus merealisasikan malam pertama pernikahan mereka. Meski Naeun merasakan kejanggalan selama mereka berhubungan, gadis itu tetap mengikuti permainan L hingga ia merasakan ‘akibatnya’.

Benarkah Naeun memang telah mengandung anak pertamanya dengan L? dan apakah benar L telah mengungkapkan identitasnya pada Naeun secara terang-terangan dan mendadak? Bagaimana pula reaksi Eunji dan Hoya jika mereka tahu bahwa Myungsoo dan Naeun sudah bertindak terlalu jauh?

Dan yang tak kalah penting, bagaimana kelanjutan usaha Sungyeol mengungkapkan kebenaran? Bagaimana kelanjutan hidup Chorong yang kini memiliki rahasia baru lagi dengan Woohyun?

Temukan jawabannya di part ini.

 

Selengkapnya :

Part 1 : I Hate My life

Part 2 : Big Decision

Part 3A : I Will Find You | 3B : You Will Find Me

Part 4 : Another Me

Part 5 : Over Protective?

Part 6 : Faithfulness

Part 7 : Something New

Part 8 : The Hidden Truths

Part 9 : Unpredictable

Part 10 : The Scandals [+NC scene ( password: stroberi )]

 

NB : Late update? Pastinya. Maaf ya readers, selain sibuk UAS lalu galau dengan rapot kemarin, author juga butuh pemikiran keras untuk part ini. tapi pada akhirnya sebelum masuk tahun 2014 author akhirnya bisa menyelesaikan part ini, hehehe.

So, happy reading!

***

Author POV

Monday, 9.00 AM..

 

“ TIDAAAK!!!!”

BRAK!!!!

“ YA! Siswi Son Naeun!!!”

 

Naeun terbangun dari tidurnya ketika mendengar lengkingan guru di kelasnya, setelah itu meringis karena lutut kanannya membentur meja.

“ Hei, kau kenapa!? Kau tidur!!??” sang guru menghampiri mejanya dan nampak geram, “…jangan mentang-mentang kau adalah pacar siswa Kim Myungsoo, kau bisa seenaknya begini ya!”

“ Myungsoo?? Jadi dia memang Myungsoo kan?? Dia Myungsoo kan???”sahut gadis itu panik dalam keadaan masih setengah sadar, membuat guru beserta teman-teman satu kelasnya merasa bingung.

“ Ooh.. jadi kau memimpikan pacarmu?”ucap sang guru dengan emosi tertahan.

“ Bukan! Tapi.. suamiku.”

“ HAHAHAHAHA!!” seisi kelas sontak tertawa mendengarnya, menganggap Naeun sudah berlebihan mengatakan Myungsoo sebagai suaminya.

Namun sang guru tetap pada wajah datarnya, telunjuknya tanpa segan mengarah kepada Naeun.

“ Kalau bukan karena kau adik dari Nam Woohyun, aku tak akan berpikir panjang untuk menghukummu. Jadi jangan buat aku marah.”

Naeun mengangguk saja, sang guru pun balik kanan dan kembali mengajar di depan.

Naeun mengucek matanya, ia benar-benar mengantuk dan kelelahan, seluruh badannya pun masih terasa sakit akibat perbuatannya dengan Myungsoo lusa kemarin malam. Saat hari mingg saja ia sampai tidur seharian. Ia kira tak akan sesakit ini apalagi sudah lewat sehari, namun nyatanya ia merasakannya karena Myungsoo kembali ‘menyiksanya’ saat ia tertidur waktu itu. Beruntung tak ada yang menemukan mereka karena Myungsoo bertanggung jawab membawanya pulang ke kamarnya.

Dan entah, saat ini Naeun harus merasa senang atau tidak setelah mendapatkan pengalaman baru. Pasalnya tak lama setelah hal itu terjadi, mimpi buruk yang bahkan lebih buruk dari apapun kembali datang ke alam bawah sadarnya.

Ia bertemu kembali dengan L dalam situasi yang hampir membuatnya mati. Untuk apa penyihir itu datang ke mimpi Naeun dan mengaku bahwa ia yang telah membuat Naeun hamil? Logis memang, karena Naeun hanya bisa mengandung jika ia melakukannya dengan sesama penyihir.

Tapi.. tidak. Sampai saat ini Naeun masih yakin bahwa Myungsoo dan L adalah orang yang berbeda. Ia yakin ia tak akan hamil apalagi sampai melahirkan karena perbuatannya dengan Myungsoo semalam. Myungsoo hanyalah manusia biasa dan ia tak bisa membuat Naeun hamil, maka itu Naeun rela menyerahkan harga dirinya.

Namun yang masih menjadi tanda tanya besar, mengapa mimpi itu harus datang? Apakah L tahu bahwa Naeun telah selingkuh? Atau memang..

“ Tidak!! Itu hanya mimpi.. tidak ada hubungannya.”Naeun menggeleng dan buru-buru mendustai hati kecilnya yang sebenarnya sudah mulai curiga. Gadis itu berusaha untuk kembali memperhatikan guru sebelum ditegur lagi.

Tapi tak lama ia meringis, mulai merasakan sakit di lutut kanannya yang sempat membentur meja saat ia tersadar dari mimpinya barusan. Perlahan ia menunduk dan mencoba melihat kondisi lututnya yang ia yakini sudah membiru.

“ Eh? Apa ini? Tidak.. tidak mungkin!!” Naeun terkejut bukan main saat melihat lutut putihnya yang membiru namun membentuk sebuah abjad yang paling ia benci.

L

Ini aneh. Apa masih berhubungan dengan mimpinya barusan? Tentu saja. Hal ini membuat Naeun sadar bahwa mimpinya barusan bukanlah mimpi biasa. Apakah L kembali melakukan praktik pengiriman mimpi kepadanya?

Jawabannya, benar. Karena kini Naeun pun menemukan satu puntung rokok di depan kakinya, yang di dalam mimpinya barusan memang sengaja L lemparkan padanya.

“ Mengapa dia mengusik hidupku lagi!?” Naeun memucat, menatap puntung rokok yang kini dipegangnya dan mengelus lebam lututnya yang membentuk nama suaminya itu. Rasa takutnya mulai tumbuh namun ia sama sekali belum bisa berpikiran buruk tentang Myungsoo.

“…aaah! Aku bisa gila!” Naeun membereskan buku-bukunya dan memakai tasnya lalu berdiri kemudian keluar dari kelas tanpa pamit dengan langkah cepat. Ini tindakan kurang ajar pertamanya selama ia hidup menjadi orang baik. Pikirannya sudah terlanjur kacau.

Disaat semua siswa tercengang menyaksikan kepergian Naeun, sang guru meremas spidolnya dengan geram dan lantas berteriak.

“ JANGAN PERNAH MASUK KELASKU LAGI, SISWI SON NAEUN!!!!!”

*

 

“ Ya! Bukankah itu suara guru Shin??”

Salah seorang guru lain yang mengajar di kelas yang tak jauh dari kelas Naeun menghentikan kegiatan mengajarnya sejenak setelah mendengar lengkingan dari kelas lain. Siswa siswinya mengangguk mengiyakan, terkecuali Eunji yang terkejut karena guru yang berteriak itu menyebut nama sahabatnya.

“ Naeun? Ada apa dengan… eh?” Eunji terkejut saat melihat Naeun lewat di depan kelasnya dengan langkah cepat. Mau kemana sahabatnya itu?

“ Itu Naeun kan?” Bomi yang kebetulan duduk semeja dengan Eunji bertanya.

Eunji mengangguk, “ Tumben sekali dia begini..”

“ Bukankah menjadi pacar Myungsoo sunbae seharusnya bisa menjadi lebih baik?”

“ Seharusnya.”Eunji memberi penegasan dalam hatinya, membuatnya semakin curiga terhadap Myungsoo. Gadis itu mendadak kehilangan konsentrasi karena ingin tahu apa yang terjadi pada Naeun.

“…bisa kau bilang ke guru kalau aku sakit dan ingin ke UKS? Aku ingin keluar.”kata Eunji tiba-tiba, tak hanya membuat Bomi terkejut tetapi juga membuat Jiwon yang duduk di depannya memutar bangkunya.

“ Kau mau kemana??”tanya Jiwon cepat.

“ Menyusul Naeun. Aku tidak bisa membiarkannya punya masalah sendiri.”jawab Eunji resah.

“ Biar kutemani!”

“ YA! Untuk apa!? Tega sekali meninggalkan aku sendirian. Padahal aku ingin cerita sesuatu pada kalian.”ucap Bomi sebal.

“ Memangnya mau cerita apa?  Paling kau ingin bercerita tentang Seoul Dance Competition yang kau tonton langsung itu kan? Tidak penting.”jawab Eunji, membuat Jiwon sedikit tertohok dalam hatinya.

“ YA! Bukan hanya itu.. tapi.. aku juga ingin cerita bagaimana aku melempar Minah dengan kaleng soda itu!”

“ HAH!? Jadi kau!!!???” Jiwon terkejut bukan main. Memang, lusa kemarin malam saat  pentas selesai, sekeluar dari studio Minah terkena lemparan kaleng soda dari orang tak dikenal. Memang sih tidak sakit, tapi tentu saja memalukan.

Eunji menganga karena ia baru tahu, rasa bersalahnya pada Minah semakin menjadi saja.

“ Ya. Itu aku. Hebat kan?”ucap Bomi bangga, “…itu baru pemanasan. Lihat saja, nanti aku akan bertindak lebih parah dari itu!”

“ Bomi-ah, itu tidak baik.”Eunji mencoba menasihati, namun Bomi nampak tak peduli.

“ Hoya pasti melihatnya.”pancing Jiwon, karena ia memang benar menyaksikan kejadian itu didepannya kemarin malam. Ingin menolong Minah, ia tak berani karena tak ingin macam-macam lagi.

“ Biar saja, biar dia tahu.”jawab Bomi, “…ah, kukira kalian mendukung aku. Malah menasihati aku begini, ya sudah keluar saja sana!”Bomi kesal dan melanjutkan kegiatannya mengerjakan tugas dari guru.

“ Ayo, kutemani.”Jiwon sudah berdiri saja, Eunji mengangguk dan ia segera meminta izin pada guru. Setelah itu berlari kecil keluar dari kelas mencari Naeun, dengan Jiwon yang mengikutinya dari belakang.

*

 

“ Chorong-ah, kau kenapa?”

Gadis itu menoleh ke belakang setelah membaca isi gumpalan kertas dari Sungyeol. Nampak anak cenayang itu cemas melihatnya. Ia pun membalas suratnya lalu melemparnya kembali setelah memastikan guru tak memperhatikan mereka.

“ Aku baik-baik saja.”

Sungyeol mencibir, ia kembali membalas dan melemparnya.

“ Matamu bengkak. Jangan bilang Woohyun menyakitimu lagi.”

“ Bukan, bukan dia.”

“ Lantas?”

Chorong tak peduli sekarang, ia tak lagi membalas surat Sungyeol dan kembali sibuk membaca bukunya. Ups, bukan.. bukan buku. Rupanya ia meletakkan selembar kertas usang dibalik bukunya, Sungyeol baru saja menyadarinya.

Jadi sejak tadi Chorong membaca selembar kertas itu berulang-ulang? Bodoh sekali guru mereka yang sudah menganggap gadis itu rajin dan serius membaca bukunya bahkan memujinya beberapa saat yang lalu.

Kini bukan lagi segumpal kertas yang sampai pada Chorong, tetapi pengirimnya.

Sungyeol berpindah duduk disampingnya, menyingkirkan kawan semejanya.

“ Berikan padaku.”Sungyeol menarik buku itu, Chorong terkejut dan refleks menarik surat yang terdapat dalam buku tersebut lalu meremasnya dengan panik.

“ Ya!! Sungyeol-ah, andwae!”

“ Apa itu yang membuatmu menangis?”

Chorong tak menjawab, hingga ketika Sungyeol berusaha merebut gumpalan kertas suratnya, ia kembali menghalaunya hingga terjadi rebutan yang cukup seru di dalam kelas. Bahkan siswa-siswi lain yang tadinya serius dengan penjelasan guru mengalihkan perhatiannya pada mereka.

“ Hei hei kalian sedang apa!? Tidak memperhatikan saya!?” guru merekapun akhirnya menegur dengan nada tinggi, biasanya Sungyeol dan Chorong begitu jarang ditegur karena setiap mereka bertengkar atau rebutan sesuatu Myungsoolah yang selalu melerai dan menenangkan mereka. Hanya saja peran Myungsoo sebagai penengah yang baik dalam persahabatan mereka hanya sampai di bangku kelas dua, kelas tiga ini Myungsoo berada di kelas yang sama dengan Woohyun –seandainya saja ia masih hidup-.

Chorong dan Sungyeol menunduk, membiarkan gurunya menahan marah. Hingga tak lama setelah itu guru mereka menutup spidolnya dan mengambil buku-bukunya dengan wajah datar.

“ Mood saya memburuk. Lanjutkan belajar kalian sendiri, minggu depan ulangan.”

Setelah itu beliaupun keluar dengan langkah cepat setelah melempar tatapan sinis kearah Sungyeol dan Chorong.

“ Yah..yah.. guru Kim!!”semua siswa memanggil karena terkejut dengan tindakan guru mereka yang keluar kelas sebelum waktunya.

 “…grr.. gara-gara kalian guru Kim keluar!!” siswa yang lain mulai menatap benci kearah dua sahabat itu, setelah itu mereka semua dengan kompak melempar gumpalan-gumpalan kertas kearah Sungyeol dan Chorong dengan emosi.

“ YA! Hentikan!! Sampah tahu!!” teriak Sungyeol, namun mereka tak peduli dan tetap melempari ia dan Chorong dengan puluhan gumpalan kertas yang mereka buang sia-sia hingga mengotori lantai serta meja dan kursi Chorong.

“ Masih untung tidak kita lempar dengan batu! Huh!” siswa-siswa itupun berhenti melempar dan mereka semua keluar kelas dengan membawa buku mereka, mungkin ingin lanjut belajar di perpustakaan.

“ Duh.. kau sih!!”Chorong langsung menginjak kaki Sungyeol kuat-kuat.

“ YA! Kalau kau berikan kertasmu itu tadi kita tidak akan membuat keributan!”

“ Tidak akan kuberikan.”Chorong hendak menyembunyikan kertasnya, namun ia sadar surat balasan Myungsoo itu tak lagi ada dalam genggamannya sekarang.

“…eh, mana kertasnya? Kau berhasil mengambilnya!!??”Chorong panik setengah mati.

Sungyeol menggeleng, “ Hilang? Yes!!! Akan kutemukan!” Sungyeol buru-buru mencari kertas itu, Chorong pun langsung ikut mencari dan tak akan membiarkan Sungyeol menemukannya duluan.

“ Brengsek! Mana sih!!?” Sungyeol dan Chorong terus-terusan mengumpat karena mereka harus mencari kertas itu diantara gumpalan-gumpalan kertas kosong yang dilempari teman-teman mereka barusan, mereka membuka gumpalan-gumpalan kertas itu satu per satu namun belum mereka temukan surat balasan Myungsoo atas surat Chorong itu.

 

“ Yay!! Aku mendapatkannya!”

Suara siapakah itu?

***

 

“ Woohyun oppa? Aku kira Myungsoo sunbae.. sedang apa bermain sendirian disini? Tidak masuk ke kelas?”

Woohyun berhenti memainkan bola basketnya sejenak ketika tahu Naeun memasuki gedung olahraga dengan wajah kusutnya. Segera ia hampiri adik angkatnya itu.

“ Kelas oppa masih jam pelajaran olahraga, tapi sudah diakhiri gurunya daritadi, jadi oppa sendirian saja. Kau yang sedang apa disini? tidak belajar di kelas?”

Naeun terdiam sejenak, mana mungkin ia cerita pada Woohyun bahwa ia bermimpi bertemu L apalagi kejadian semalam. Bisa-bisa Woohyun mengubur Myungsoo hidup-hidup.

“ Gurunya menyebalkan, jadi aku keluar.”jawab Naeun seadanya, membuat Woohyun tertawa kecil dan mengacak-acak rambut indahnya.

“ Hahaha, rupanya kau sudah mulai mencontoh oppamu yang sesat ini. Aku juga sering keluar kelas kalau kesal dengan gurunya, tapi nilaiku tetap tinggi karena aku membayarnya.”

“ Kalau begitu kau mau kan membayar guruku?”

“ Tentu saja, apa sih yang tidak untukmu?”

Naeun tersenyum. Woohyun begitu hangat hari ini, bukankah seharusnya lelaki itu galau dan badmood karena sewaktu pesta Chorong berdansa dengan Eunji bahkan sampat menembak Eunji? Entahlah. Apalagi jika Woohyun tahu Chorong sempat memeluk Myungsoo juga waktu itu, ia tak mungkin bisa ramah dan hangat seperti ini sekarang.

Aih, lupakan. Naeun sedang tak ingin mengingat-ngingat Chorong karena sunbaenya itu sempat membuatnya sakit hati sebelum Myungsoo mengajaknya berhubungan seks. Tetapi setidaknya karena hal itu Naeun semakin yakin Myungsoo hanya mencintainya, dan ia tak ingin mencecar lagi soal surat yang ia lihat itu, baginya mungkin saja surat itu sudah ada sebelum Myungsoo mengenalnya.

“ Oppa tidak lelah bermain daritadi? Kajja, kita duduk dulu.”Naeun mengajak Woohyun untuk duduk di pinggir lapangan, ingin mengajak Woohyun mengobrol untuk sejenak melupakan mimpi buruknya di kelas barusan.

“ Tidak, sangat tidak lelah. Justru aku sedang senang hari ini.”jawab Woohyun sembari duduk disamping Naeun dan meneguk minumannya.

“ Mwo? Senang? Memangnya ada apa?”

“ Tadi guru olahraga menyuruh aku dengan Myungsoo untuk duel basket, dan aku menang.”

“ Hah? Benarkah?”

“ Yah.. tapi kurasa kau tidak senang mendengarnya.”

“ Ng.. senang kok, tentu saja aku senang.”

“ Tapi pacarmu kalah.”

“ Mungkin dia masih kelelahan karena waktu itu.. ahahaha. Ternyata dia lemah juga.”gumam Naeun, ia yakin betul Myungsoo kalah karena kelelahan. Bagaimana tidak? Kegiatan mereka saat itu baru diselesaikan oleh Myungsoo sekitar jam lima pagi, itupun karena cleaning service yang mulai berkeliling untuk membersihkan setiap ruangan.

“ Kelelahan kenapa? Memangnya dia berdansa sampai pagi denganmu?”tanya Woohyun heran.

“ Eh? Ng.. lupakan.”Naeun gelagapan, ia belum siap mengatakan pada Woohyun tentang perbuatannya. Apalagi Woohyun masih sentimen pada Myungsoo, Naeun tak ingin imej Myungsoo sebagai lelaki baik-baik hancur karena ia mengatakan hal itu. Biar saja ia pendam, lagipula hal itu juga termasuk aib.

“ Kau kelihatan suntuk.”Woohyun tiba-tiba menyingkirkan anak rambut Naeun dan menatap wajah adiknya itu, “…inilah alasannya mengapa aku belum begitu suka kau berpacaran dengan Myungsoo, sekalipun dia lelaki baik-baik, dia memberi pengaruh buruk juga kan bagimu?”

“ Ani.. tidak ada hubungannya dengan Myungsoo. Aku sedang kurang senang saja hari ini..”jawab Naeun seadanya.

“ Apa yang bisa kulakukan untuk membuatmu senang?”

“ Aku tidak ingin merepotkanmu.”

“ Ayolah.. aku ini kakakmu. Bagaimana kalau nanti sore kita jalan-jalan?”

“ Mwo?”Naeun tak menyangka, apa yang terjadi dengan Woohyun? Mengapa berubah sebaik ini?

“ Kau mau kan? Kajja, jangan dengan Myungsoo terus. Luangkan waktu untuk kakakmu ini. Kau tahu sendiri kan saat ke Amerika kemarin kita tidak jalan bersama karena kau sakit.”

“ Baiklah. Tapi.. kau akan mengajak Chorong sunbae kan?”

“ Aniya.. kita berdua saja.”

“ Berdua saja? Ah, syukurlah..” Naeun lega, pasalnya jika Woohyun mengajak Chorong, Naeun tak tahu apa yang akan terjadi. Chorong pasti sedang berada dalam puncak kebenciannya pada Naeun sekarang.

“ Sebenarnya aku mengajakmu pergi pun karena ada yang ingin kubicarakan.” ucap Woohyun sembari berdiri dan kembali bermain dengan bola basketnya.

“ Mau membicarakan apa, oppa?” tanya Naeun penasaran.

“ Nanti saja, terlalu sensitif jika kujelaskan disini. takutnya ada yang mendengar.”

“ Memangnya tentang apa sih?”

“ Tentang..argh..!”

BRUK!

Woohyun tiba-tiba terjatuh saat memasukkan bola basketnya ke dalam ring, setelah itu terbaring dan memegangi kaki serta tangannya sambil menahan sakit.

“ YA! Oppa!!!” Naeun segera berlari dan menolong Woohyun, “…sudah kubilang jangan terlalu lama mainnya!”

“ Sshh.. aku baik-baik saja.”Woohyun mencoba untuk berdiri, namun kakinya begitu lemas hingga ia terjatuh lagi. Naeun semakin khawatir.

“ Kajja, kuantar ke kelas!” Naeun sudah merangkul Woohyun dan sekuat tenaga memberdirikan kakak angkatnya itu.

“ Yaa.. Naeunnie, tidak usah.”

“ Kenapa?”

“ Nanti kau bertemu Myungsoo.”

“ YA! Disaat-saat seperti ini kau masih saja bisa melarangku.”

Woohyun tertawa kecil ketika Naeun mengerucutkan bibirnya, perlahan ia melepas rangkulan Naeun.

“ Sudah jam istirahat, ke kantin sana. Aku tahu tadi pagi kau belum sarapan.”

“ Ayo kesana.”

“ Aku tidak, aku masih ingin main disini.”

“ Aigoo.. sudah jatuh begini masih mau main?”

“ Ya. Aku ingin bermain sepuasnya sebelum aku tidak mampu untuk bermain lagi.”ucap Woohyun pelan, namun Naeun mendengarnya karena suasana gedung olahraga begitu sunyi.

“ Hei, apa maksudmu?”

“ Eh? Ani.. ani.. sana ke kantin, jangan lupa ya nanti sore kita pergi.”

Naeun menurut saja, ia pun pamit dan keluar dari gedung olahraga.

Woohyun menatap punggung adik angkatnya itu sampai benar-benar menghilang dari hadapannya. Setelah memastikan Naeun benar-benar sudah pergi, lelaki itu kembali menahan sakit.

BRUK!

Ia terjatuh lagi di tengah lapangan, mencoba menahan sakitnya tanpa meminta pertolongan.

***

 

“ Sebenarnya dia kemana sih..” Eunji masih menyusuri koridor sekolah untuk mencari Naeun, sebenarnya ia sendiri sudah berusaha untuk tidak peduli lagi pada penyihir itu, tapi mengingat sudah banyak hal yang mereka lakukan bersama membuat Eunji tak pernah bisa tega memusuhi Naeun.

“ Hubungi saja dia, kau pasti punya nomor teleponnya kan.”saran Jiwon.

Eunji sedikit tertawa malu, “ Tidak. Aku tidak punya ponsel. Kau tahu sendiri kan aku benci radiasi.”

“ Yah..” Jiwon geleng-geleng kepala. Sampai kapan Eunji begini? Sepertinya dari L, Howon, Eunji, dan Naeun, hanya Eunji saja yang belum begitu mengalami kemajuan menyesuaikan diri di dunia nyata. Jadi kapan Eunji akan melihat Hoya di televisi? Sepertinya mustahil.

 

“ Sebenarnya bisa saja kan nanti saja mencari Naeun, kalian kan sekamar, saat pulang saja bicaranya.”lama-lama Jiwon bosan juga.

“ Kalau bisa sebaiknya sekarang. Aku dan Naeun tidak bisa mengobrol bebas di kamar, disana kan ada Chorong sunbae juga.”jawab Eunji.

“ Oh iya. Eh.. Chorong?” Jiwon jadi teringat perkataan Bomi lagi, “…hmm, bagaimana rasanya sekamar dengan Chorong sunbae? Dia baik saja kan?”

“ Hmm..”Eunji agak ragu menjawabnya, bahkan saat ini saja ia bingung harus bersikap seperti apa terhadap Chorong setelah sunbaenya itu mengakui perasaannya. Saat selesai pesta dansa saja Eunji kembali canggung dan membiarkan Chorong menangis semalaman.

Jiwon nampak prihatin. Ia tahu Eunji banyak masalah namun ia tak bisa selalu ada disamping gadis itu karena kesibukannya latihan dan tampil setiap minggu, padahal niat terbesarnya menjadi perempuan palsu adalah agar Eunji menjadikannya sahabat sekaligus teman curhat. Kalau begini, Jiwon merasa telah sia-sia sudah merubah dirinya.

“ Kenapa? Cerita saja.”ucap Jiwon, tentu karena perasaannya mulai tidak enak.

“ Ck, sebenarnya memalukan..”jawab Eunji. Bagaimana tidak? Apa mungkin ia bercerita kalau saat tidur Chorong memeluknya saat tidur dan menciumnya bahkan mengungkapkan perasaannya saat pesta dansa? Eunji takut Jiwon merasa jijik mendengarnya.

“ Tidak apa-apa. Jangan buat aku penasaran.”

“ Baiklah, aku akan cerita. Tapi janji ya jangan beritahu siapa-siapa, termasuk Bomi.”

“ Baik. Baiklah, ceritakan.”

“ Jadi…..”

 “…eh, bukankah itu D.O sunbae?” Eunji terpaksa mengalihkan pembicaraan ketika ia menangkap sesosok lelaki berdiri di gerbang sekolah dan sukses membuat Jiwon kesal.

“ Mana kutahu.”jawab Jiwon dingin, dan semakin kesal ketika Eunji berlari kecil menghampiri sang sunbae yang nampak berdiri bersama sebuah mobil mewah dan berbincang dengan seorang pria dewasa.

Baiklah, sepertinya Jiwon menunggu saja daripada tidak bisa menahan kecemburuannya jika ikut-ikutan kesana.

Drrt..drrt..

Ponsel Jiwon tiba-tiba bergetar, telepon dari Minah.

“ Hoya, kau dimana?” tanpa basa-basi sedikitpun Minah langsung bertanya, dari nada suaranya sepertinya gadis itu sedang tidak senang.

“ Aku…di rumah. Kenapa?”jawab Jiwon asal, mana mungkin ia jawab di sekolah sebab biodatanya sebagai Hoya menunjukkan bahwa usianya bukan lagi usia sekolah.

“ Produser dan coach memanggil kita ke tempat karantina, sekarang.”

“ Hah? Ada apa?”

“ Mana kutahu. Cepat jemput aku, aku tidak bisa kesana sendirian apalagi menjemputmu dulu.”

“ Memangnya kenapa?”

“ Fansmu terus-terusan menerorku. Aku baru saja menemukan surat kaleng berisi silet dan melihat tembok luar rumahku dicoret-coret dengan pilox..”sekarang Minah terdengar sedang bergetar menahan tangis.

“ Astaga..”Jiwon kembali merasa bersalah, tak sepantasnya Minah menerima perlakuan seperti ini. Tapi ia tentu lebih tak rela jika Eunji yang harus mengalaminya.

“ Jemput aku, produser dan coach sudah menghubungi berkali-kali. Katanya ada urusan penting.”

“ Heh, apalagi jika aku menjemputmu, fans akan semakin murka.”

“ Menyamar saja, bodoh.”

“ Tidak bisa, bahaya.”

“ YA! Kau ini jahat sekali. Lalu bagaimana aku keluar?”

“ Kenapa tidak minta jemput pacarmu saja?”

“ Dia masih di sekolah. Padahal ia baru saja beli mobil baru, tapi dia kan tidak bisa keluar asrama sampai hari jumat.”

“ Hah? Jadi pacarmu sekolah di asrama dan…baru saja membeli mobil?”Jiwon menatap sejenak kearah D.O yang nampak berbicara dengan Eunji di gerbang sana dan masih berdiri disamping sebuah mobil yang masih sangat mulus dan mengkilap.

“…tidak..aku tidak boleh menuduh sembarangan. Mana mungkin kekasih Minah adalah.. D.O?”

“ Hei! Jadi bagaimana!?” Minah membuyarkan lamunannya.

“ Ya! Ya! Tunggu aku!”

 

Ck, lagi-lagi Howon harus meninggalkan Hyerim.

***

 

“ Bravo, L !! kau melakukannya dengan baik! Aku bangga padamu!”

Taeyeon tertawa setan bahkan bertepuk tangan dan memeluk anak semata wayangnya yang tampan, L. merasa bangga karena anaknya telah menuruti perkataannya lusa kemarin malam. Ternyata L benar-benar tahu makna dibalik kalimat ‘perlakukan dengan jahat’ yang Taeyeon bisikkan padanya. L memang baru bercerita hari ini karena saat hari minggu ia sama seperti Yeoshin, tertidur seharian karena kelelahan.

“ Sebentar lagi kau akan jadi nenek, Taeyeon-ah. Hahahaha, nenek sihir.”L justru menggoda ibunya itu.

“ YA! Aku sedang memujimu, mengapa kau malah menghinaku?”

“ Yaaa.. aku belum selesai.”

“ Jadi?”

“ Kau akan menjadi nenek tercantik di dunia sihir.”

Taeyeon tertawa dan kembali merangkul anaknya itu, “ Terimakasih. Jadi.. kapan kau akan mengakhiri sandiwara ini?”

“ Aku sudah mengirimkan mimpi pada Yeoshin tadi, karena aku tahu pasti dia tertidur di kelas karena masih kelelahan.”

“ Apa?? Jadi.. maksudmu.. kau sudah memberitahu dia?”

“ Hahaha, tentu saja belum. Namanya saja mimpi, itu hanya pertanda dan peringatan.”

“ Jadi kapan kau akan memberitahunya secara langsung?”

“ Aku sedang memikiran cara terjahat untuk itu.”

“ Rupanya kau masih senang menyakiti Yeoshin.”

“ Itulah caraku menunjukkan rasa cinta padanya.”

“ Ya, ini baru anakku yang jahat.”Taeyeon semakin bangga, “…hei, aku baru sadar. Kau tidak belajar di kelas?”

“ Tidak. Baru selesai jam olahraga. Aku kalah duel dengan Nam Woohyun.”jawab L sedikit kecewa.

“ Pasti anakku ini kelelahan. Ini, minumlah.”Taeyeon menyodorkan segelas darah segar kearah L, L segera meneguknya sampai habis.

“ Enak sekali. Darah siapa ini?”

“ Darah Kim Myungsoo, tadi pagi aku mengurasnya beberapa botol.”

“ HAH!?” L terkejut dan langsung menyemburkan darah yang masih tersisa di mulutnya hingga mengenai blazer hitam dan kemeja putih Taeyeon.

“ YA! Kau kenapa?”

“ Astaga.. aku meminum darah sisi baikku sendiri.”L nampak menyesal. Entah, semenjak ia menghancurkan imej baik Myungsoo yang asli, ia jadi tak tega dengan sisi baiknya itu. Saat Howon menyarankan untuk membuang mayat Myungsoo ke laut saja L tidak setuju.

“ Memangnya kenapa? Aku saja meminum darah Kim Haeyeon. Ck, kau ini..”keluh Taeyeon, hingga sebelum ia sempat membersihkan pakaiannya yang terkena noda darah, pintu ruangan kepala sekolah tempat mereka berada sekarang diketuk.

Tok..tok..

L segera menyembunyikan gelas darahnya dan membasuh mulutnya, sementara Taeyeon berdiri dan membuka pintunya.

“ Selamat siang, kepala sekolah.”

Ternyata salah seorang penjaga sekolah, ia nampak heran melihat bercak-bercak darah di pakaian Taeyeon, namun ia tak berani bertanya.

“ Ya. Ada apa?”

“ Apa ada siswa Kim Myungsoo di ruanganmu?”

“ Ooh.. ada. kenapa?”

“ Nah, sudah saya duga. Barusan saya mencarinya ke kelas tapi tidak ada. ini, ada yang menitipkan undangan untuknya. Sebenarnya bisa juga disampaikan pada siswi Park Chorong atau siswa Lee Sungyeol, tapi kelas mereka terlalu jauh, hehe.”

Taeyeon menerima undangan tersebut dan melihat nama yang asing baginya.

“ Terimakasih.”ucap Taeyeon, setelah penjaga sekolah itu pergi Taeyeon kembali masuk dan duduk disamping L.

“ Ada apa? Sepertinya aku dicari..”kata L.

“ Ya. Ada yang memberimu undangan. Sebenarnya undangan ini untuk Chorong dan Sungyeol juga, tapi penjaga sekolahnya memberikannya padamu.”

“ Hah? Siapa pengirimnya?”

“ Namanya.. Hong Yookyung.”Taeyeon kembali membaca nama sang pengirim yang ditulis bukan dengan hangul melainkan dengan alphabet.

“ Hong Yookyung?”

***

 

“ Untung aku yang menemukan kertasnya. Kalau tidak, aku tidak akan pernah tahu kalau kau pernah hamil dan menggugurkan kandunganmu, Park Chorong!!!”

Dengan suara lantang penuh kekesalan dan kegeraman Sungyeol membanting serta menendang benda-benda dalam gudang yang ada didekatnya, wajahnya sudah merah padam menahan kekesalan. Sementara Chorong duduk bersandar di tembok gudang sembari memeluk lututnya dan menangis lagi, takut karena baru kali ini Sungyeol meledak didepannya.

“…sudah tahu Nam Woohyun itu bukan lelaki baik-baik, playboy kelas kakap. kenapa kau masih mau jadi pacarnya yang kesekian puluh?! Kalau sudah begini aku jadi ikut frustrasi!!”Sungyeol mengomel lagi, ia tak menyangka tekanan batin yang dialami Chorong jauh lebih berat dari dirinya.

“ Tapi aku butuh dia.. aku butuh hartanya untuk bertahan hidup..”jawab Chorong lemah, namun Sungyeol buru-buru memotong.

“ Jadi demi hartanya kau rela menjual dirimu!? Hei, bukankah dulu aku dan Myungsoo sering menawarkan bantuan untukmu?? Niat kami lebih tulus untuk membantumu!”

“ Aku tahu. Tapi aku tak mau menyusahkan kalian, aku tak bisa bergantung pada kalian. Aku tak mau kalian merasa tak nyaman bersahabat denganku. Sedangkan Woohyun.. dia mau memberiku segalanya.. segalanya yang aku mau.. hanya saja dengan syarat seperti itu. Aku tahu kau akan semarah ini jika aku langsung memberitahumu, jadi.. jadi aku..”ucapan Chorong tersendat karena tercekat oleh tangisannya, Sungyeol berlutut didepannya dan memegang bahunya kuat-kuat .

“ Tentu saja aku marah! Mana mungkin aku diam saja setelah tahu sahabatku sudah dilecehkan oleh laki-laki seperti Nam Woohyun!? Seandainya aku tahu dari dulu, mungkin Woohyun sudah tidak ada lagi di muka bumi ini.”

Chorong balik menatap Sungyeol meski airmata masih melumuri pipinya, sedikit mencoba tersenyum.

“ Tak kusangka kau masih sesayang ini padaku. Kukira kau akan membenciku setelah membaca surat itu.”ucap gadis itu pelan.

“ Membencimu? Mana mungkin, aku justru merasa kasihan pad…..”

“ Tapi aku menyukai Myungsoo. Bukankah seharusnya kau marah karena kau juga…menyukainya?”

Wajah Sungyeol berubah muram sekarang, namun ia menjawab dengan tenang.

“ Ya. Tapi untuk apa aku marah? Sekalipun dalam surat ini Myungsoo sudah memilihmu, tapi pada akhirnya tak satupun dari kita mendapatkan dia.”

Kini wajah Chorong yang muram bahkan kembali meneteskan airmata.

“ Ya, aku tahu. Surat ini sudah basi, Myungsoo menulisnya sebelum ia mengenal kekasihnya. Son Naeun.. gadis itu.. dia sudah merenggut kesempatanku untuk memperbaiki hidupku yang sudah hancur. Dia juga sudah merebut Myungsoo darimu, kan? Kita harus membencinya.. harus..” tangisan Chorong semakin menjadi, tentu karena ia masih menganggap Myungsoo yang ada saat ini memanglah Myungsoo yang asli.

Dan inilah yang membuat Sungyeol geram. Sengaja maupun tak sengaja, kemesraan yang ditunjukkan L dan Yeoshin membuat Chorong merasa sangat sakit hati. Kesedihan Chorong yang juga menjadi kesedihannya kini menjadi salah satu alasan lain mengapa Sungyeol begitu ingin menghancurkan L secepatnya, mengusir warga-warga dunia asing yang memasuki kehidupannya agar Chorong tak perlu lagi menangisi Myungsoo yang sebenarnya sudah lama tiada sejak tragedi hiking yang telah lalu.

 “ Aku tahu seperti apa perasaanmu.”Sungyeol memeluk Chorong erat, mencoba menenangkan sahabatnya itu, merasa tak tega dengan segala rasa sakit yang harus diterima Chorong. Sekalipun Sungyeol merasa sakit hati karena Myungsoo yang asli telah memutuskan untuk memilih Chorong daripada dirinya, ia tak bisa membenci Chorong. Ia membiarkan keputusan Myungsoo yang tak jadi terealisasi itu dan tetap bertahan disisi Chorong sebab ia tahu gadis itu membutuhkannya sebagai tempat bersandar karena ia satu-satunya sahabat yang dimiliki oleh gadis itu.

“…jangan menangis, Chorong-ah.. aku rindu sosokmu yang dulu, yang sering tertawa lebar, yang sering mengerjaiku, yang selalu berbicara dengan mata berbinar. Apapun yang terjadi, aku tak ingin persahabatan kita terasa berbeda dari yang dulu apalagi sampai harus hancur.”

Chorong mulai mengukir seulas senyum diwajah cantiknya, “ Aku tak menyangka kau bisa bicara seserius dan sebijak ini, Sungyeol-ah.”

“ Myungsoo yang sudah mengajariku bagaimana menjadi orang bijak.”

“ Myungsoo lagi, dasar gay.”

Sungyeol tertawa diikuti oleh Chorong yang mulai berhenti menangis, ia tak akan membantah disebut demikian oleh Chorong meski sahabatnya itu hanya bergurau.

“ Ya. Aku gay, aku meninggalkan Yookyung demi Myungsoo. Tapi setidaknya aku lebih baik daripada kau, Park Chorong. Aku tidak menangisinya, aku tidak cemburu melihat dia bersama Naeun. Padahal aku benar-benar tak punya siapa-siapa lagi, tak seperti kau yang setidaknya masih punya Woohyun meski brengsek begitu.”

Chorong mulai sadar, “ Benar juga. Mengapa begitu, Yeol? Apa karena kau sudah normal lagi sekarang?”

“ Tidak, bukan karena itu.”

“ Lantas?”

Sungyeol melepas pelukannya, menatap mata bening Chorong yang menyiratkan rasa ingin tahu.

Lelaki itu menghela nafasnya, bergumam sejenak.

“ Kurasa ini saatnya untuk Chorong mengetahuinya.”

Sungyeol berdiri dan menarik tangan halus Chorong untuk keluar dari gudang.

“ Mau kemana, Sungyeol-ah?”

 

“ Akan kutunjukkan kau sebuah ruangan. Ruangan yang menyimpan sesuatu yang sangat berharga bagi kita, Park Chorong..”

**

 

“ Lho? Aku kira kau sudah kenal.”Taeyeon sedikit bingung ketika L mengaku bahwa ia tak kenal dengan pengirim undangan bernama Hong Yookyung itu.

“ Tidak, aku tidak kenal. Tapi…” L mencoba berpikir, hingga ia pun teringat dengan nama Yookyung yang Myungsoo tulis dalam surat balasannya atas surat Chorong yang ia baca kemarin.

 

“….Ya, Sungyeol. Sahabat kita yang satu itu.

Ia melakukan hal yang sama sepertimu, ia juga mengirimiku surat sebelum aku berangkat ke gunung, dan tanpa kuduga.. ia mengatakan bahwa hubungannya dengan Yookyung kandas bukan karena mantannya itu pindah ke Amerika……”

 

“ Ya!!! Yookyung, dia mantan kekasih Sungyeol.”ucap L sembari menjentikkan jarinya.

“ Oh. Berarti gadis bernama Yookyung ini kenal juga dengan Myungsoo dan Chorong.”Taeyeon menarik kesimpulan, “…undangan apa yang dia berikan?”

“ Entah..”L buru-buru membukanya, “…private dinner?”

“ Oh ya? Mana?”

“ Ini..lihat, ada suratnya juga.”

 

Hi! Kim Myungsoo, Park Chorong, and…..my ex, Lee Sungyeol. Do you remember me?^^

I hope you all still remember me. I’m sorry for sending this invitation suddenly, I’ve just came from America yesterday. My father had an important job here so I decided to follow him and absent from school for several days, but it’s doesn’t matter because I miss all of you like crazy, not only Sungyeol, hihihi~ 😀

I don’t want to delay the time to meet all of you, so I invite you to come to my private dinner TONIGHT! The dinner will be held in our favorite café on 8 p.m. I hope you still remember where is it.

Please come on time. I can’t wait to meet all of you. Let spend our time together like one year ago.

 

Your long distance friend,

 

Hong Yookyung

*I’m sorry, I wrote this message in English. Stay in America for one year made me forgot Korean a lot :(*

 

“ Astaga, dia datang dari Amerika. Semoga saja dia bukan cenayang seperti mantannya.”kata L.

“ Kau akan datang ke acara makan malamnya?”tanya Taeyeon.

“ Tentu saja, kalau aku tidak datang pasti dia curiga.”

“ Kalau begitu beritahu Chorong dan Sungyeol sana.”

“ Yah..” L nampak malas, “…nanti sajalah, aku sedang menghindari mereka. Aku sudah bermasalah dengan Sungyeol, ditambah semalam aku mencampakkan Chorong.”

“ Tapi acaranya malam ini, L. kau mau mereka panik bersiap-siap kalau kau menunda waktu memberitahu mereka?”

“ Biar saja.”

“ Ya! Beritahu mereka, sekarang.”

“ Memang kenapa sih?”

“ Entah, perasaanku tak enak. Kau harus temui mereka sekarang.”

Mengingat Taeyeon adalah peramal terjitu di negeri Junghwa, sepertinya firasat Taeyeon kali ini benar meski L tak tahu apa yang sebenarnya dikhawatirkan oleh ibunya itu. Ia pun berdiri dan berlari kecil mencari Sungyeol dan Chorong dengan membawa surat undangan dari Yookyung.

*

 

“ Kenapa jauh sekali, Yeol? Mau apa kita kesini?”

Chorong masih bingung karena Sungyeol mengajaknya ke lantai dasar asrama putra, sekarang lelaki itu nampak sibuk membuka gembok ruang bawah tanah tempat penyimpanan mayatnya yang sudah lama tak dibukanya semenjak ia pergi ke Amerika beberapa hari yang lalu.

“ Damn! kenapa ini!?” Sungyeol bingung karena meski gemboknya telah ia buka, pintunya tak juga bisa dibuka. Tentu saja karena L sudah melindunginya dengan mantra.

“ Yeol, jawab! Ini ruangan apa?”Chorong bertanya untuk yang kesekian kalinya.

“ Bantu aku mendobraknya.” Sungyeol tak menjawab pertanyaan Chorong, ia ingin Chorong melihat jasad Myungsoo dengan mata kepalanya sendiri.

Karena rasa penasaran yang begitu besar, Chorong pun membantu Sungyeol mendobrak pintunya, namun hasilnya nihil. Pintu ruangan tersebut tak dapat dibuka.

“ Sudahlah, Yeol! Bilang saja padaku ini ruangan apa?”Chorong menyerah dan kembali mendesak Sungyeol untuk menjawab rasa penasarannya.

Meski rasanya kurang jika hanya ia ceritakan saja pada Chorong, Sungyeol pun bersedia membuka mulutnya, daripada Chorong tak tahu sama sekali.

“ Jadi, ruangan ini adalah……”

 

“ HEI! Kalian disini rupanya! Untung saja aku iseng mencari ke asrama putra.”

Perkataan Sungyeol terpotong ketika Myungsoo datang dan berlari kecil kearah ia dan Chorong. Cenayang itu menggerutu. Sengaja atau tidak, penyihir bernama L itu sudah menggagalkan rencananya.

Chorong menunduk, masih tak sanggup menatap Myungsoo karena perlakuan lelaki itu semalam kembali terlintas dalam benaknya, sementara Sungyeol sudah menatap sinis sang penyihir yang nampak sok bersikap wajar.

“ Oh..oh..oh.. aku baru sadar kalian berdiri di depan pintu ini.”Myungsoo bicara lagi sembari melirik sadis secara rahasia kearah Sungyeol, dalam hati berbahagia karena datang tepat waktu.

“ Ada apa?”tanya Sungyeol to the point karena sudah terlanjur kesal.

“ Ada undangan private dinner untuk kita bertiga, nanti malam.”Myungsoo pun tak berbasa-basi, ia menyerahkan surat undangan Yookyung pada Sungyeol.

“ Siapa yang mengundang? Dari.. Hong Yookyung!!???” Sungyeol terkejut bukan main. Bahkan saat ia ke Amerika kemarin saja ia tak bertemu dengan mantan kekasihnya itu, justru sekarang Yookyung datang ke Korea.

“ Yookyung!?” Chorong menegakkan kepalanya dan ikut membaca surat undangannya, kesuramannya melihat Myungsoo sedikit terhibur saat menatap wajah Sungyeol yang nampak panik.

“ Aku kira setelah kami putus dia akan memutuskan kontak. Ternyata dia masih ingat dengan kita.”ucap Sungyeol tak menyangka, pasalnya ia dan Yookyung putus tidak dengan secara baik-baik, tetapi melalui pertengkaran hebat. Sungyeol bahkan tak mengantar Yookyung saat mantan kekasihnya itu pindah ke Amerika.

“ Kita kesana kan?”Myungsoo meminta konfirmasi dengan sedikit awkward.

“ Ya. Pakai mobil Chorong. Bisa kan?”Sungyeol setuju –karena ia memang sedikit merindukan Yookyung-.

Chorong mengangguk saja.

“ Baiklah, lalu aku yang akan memintakan izin pada pihak asrama. Dan Myungsoo, kau yang menyetir mobilnya. Kau tahu kan letak café favorit yang dimaksud Yookyung?”ucap Sungyeol sembari tertawa licik dalam hatinya, ternyata ia ingin mengerjai L yang jelas-jelas tak tahu dimana café favorit tempat Myungsoo, Chorong, Sungyeol, dan Yookyung berkumpul biasanya.

“ Brengsek, dia ingin mengerjaiku didepan Chorong agar gadis itu tahu siapa aku yang sebenarnya.  Tidak, tidak akan.”umpat L dalam hatinya.

“ Sudah bel, aku dan Chorong harus ke kelas. Kita berangkat jam setengah delapan. Oke?” Sungyeol menarik Chorong untuk pergi. Meski rencananya memberitahu keberadaan mayat Myungsoo gagal, setidaknya ia bisa mengerjai L malam ini.

Myungsoo mengangguk saja, dan sedikit tersenyum canggung kearah Chorong yang masih menatapnya dengan mata sendu.

“ ini akan menjadi hari pertama kita berkumpul lagi setelah beberapa bulan terakhir kita jarang hang out bersama. Semoga bisa mengurangi sakit hatiku kemarin.”bisik Chorong pelan sebelum ia benar-benar pergi ke kelasnya.

“ Ehm. Ya. Eh, Chorong-ah..”

“ Apa?”

Myungsoo sedikit menggaruk pelipisnya karena canggung, “ Hmm.. maafkan aku soal yang kemarin.”

Chorong hanya tersenyum tipis, sementara Sungyeol tertawa sinis dalam hatinya.

 

“ Penyihir jahat sepertimu bisa minta maaf juga? Wow, ajaib.”

***

 

PRAK! BRUK!

Sebuah skateboard nampak dijatuhkan dari atas pagar belakang Junghwa High School dan nampak seorang lelaki berkacamata hitam dengan pakaian dan aksesori serta masker serba ungu melompat dari pagar tersebut. Tak ingin membuang waktu, lelaki itu segera menaiki skateboardnya menuju rumah seorang gadis yang beberapa saat lalu menghubunginya.

Hoya, lelaki itu. Setelah diajari oleh Minah beberapa kali saat istirahat di karantina akhirnya ia bisa juga berjalan dengan skateboard, makanya ia memutuskan untuk pergi menuju rumah gadis itu dengan papan luncur ini agar cepat sampai.

Setibanya di halaman depan rumah Minah, Hoya segera turun dan menjinjing skateboardnya, menatap nanar rumah sederhana Minah yang penuh sampah dan coretan tak karuan pada dindingnya, kaca jendelanya bahkan pecah sana sini. Melihat lingkungannya yang saat ini sedang sepi, sepertinya para antifans gila yang berbuat jahat ini tengah bersembunyi di titik-titik tertentu.

Dengan penuh kehati-hatian, Hoya membuka pintu rumahnya.

“ Bang Min……”

“ Kau datang!” seorang gadis muncul dari dalam dan langsung memeluknya erat kemudian menangis, seluruh tubuhnya gemetaran karena ketakutan.

“ Hei.. kau..kau kenapa?”

“ Masih tanya lagi!! Kau tidak lihat hah!?”gadis itu protes dengan suara paraunya.

“ Maksudku.. apa mereka melukaimu?”

“ Hampir. Untung kau datang tepat waktu. Tadinya mereka ingin memaksa masuk kesini.”

“ Astaga. Mengapa sampai seperti ini..” Hoya tak menyangka, prihatin melihat Minah yang sudah pucat dan lemas, “…ayo pergi sekarang.”

Minah mengangguk, ia dan Hoya segera pergi melalui pintu belakang.

*

 

“ Aku kira semua finalis dipanggil.. jadi hanya kita berdua?”Hoya dan Minah nampak heran karena gedung karantina sangat sepi, hanya ada produser dan sang coach yang menunggu dan tentu saja mereka yang baru datang.

“ Ya, hanya kalian berdua. Duduk.”Miss Im, produser mereka dan Mr. Lee, coach mereka mengajak untuk duduk di lantai gedung.

“ Pasti soal skandal itu..”bisik Minah, Hoya mengangguk saja, pasrah karena memang ini salahnya.

“ Oke. Jadi.. begini, kalian tahu kan kalau sabtu kemarin adalah penampilan kalian setelah skandal itu keluar?”Mr. Lee memulai pembicaraan.

Hoya dan Minah mengangguk, “ Lalu?”

“ Kalian tahu apa yang terjadi? Jumlah penonton meningkat tajam dan berdasarkan survey yang kami lakukan secara singkat, penonton ingin menyaksikan kalian berdua. Meski jumlah antifans juga tak kalah banyak, tapi tak sedikit penonton bahkan sponsor yang tertarik dengan skandal kalian.”lanjut Miss Im.

“ Kurasa aku tahu kemana arah pembicaraan mereka.”bisik Minah.

“ Kemana?”bisik Hoya.

“ Masa’ kau tidak paham?”

Hoya menggeleng. Minah memutar bola matanya, membiarkan lelaki itu bingung dan tahu sendiri.

“ Jadi sebenarnya ada apa?”Hoya ingin segera tahu.

“ Begini, kalian tahu kan kalau ini adalah kompetisi musim pertama dan masih membutuhkan banyak dukungan. Jadi kita akan memanfaatkan skandal kalian untuk menarik penonton dan sponsor lebih banyak lagi.”jelas Mr.Lee.

“ Apa yang harus kami lakukan?”tanya Minah, yang mulai berfirasat tak enak.

“ Buatlah orang tertarik untuk menyaksikan kalian.”jawab Miss Im to the point.

“ Selama ini kita sudah melakukannya, bahkan semua finalis melakukannya.” jawab Hoya polos.

“ Kasusnya lain lagi, Hoya. Ini berhubungan dengan skandalmu dengan Minah yang bisa menarik banyak dukungan dari sponsor. Kami tak ingin tahu kalian berpacaran atau tidak, atau kalian yang memang benar-benar melakukan hal itu di lapangan sepakbola seminggu yang lalu, tapi kami ingin kalian tampil di hadapan publik sebagai…..”Mr. Lee menggantungkan perkataannya.

“…pasangan yang menjadi ikon Seoul Dance Competition.”lanjut Miss Im.

“ HAH!!?” Hoya dan Minah terkejut.

“ Ini demi sponsor, demi sponsor!”

*

 

3 jam kemudian…

“ Tuh kan, aku sudah berfirasat. Kita akan terjebak dalam pembodohan publik yang sering dilakukan stasiun televisi.”

Minah membanting botol minumnya setelah menghabiskan airnya, setelah itu mengusap peluhnya. Kelelahan karena setelah kompromi –dan kalah- dengan Miss Im dan Mr.Lee, ia dan Hoya disuruh untuk mempersiapkan sebuah special stage untuk pentas mereka minggu depan, sebagai cara untuk memperkenalkan identitas palsu mereka sebagai pasangan yang saling jatuh cinta dari Seoul Dance Competition. Mereka berlatih berjam-jam tak hanya untuk penampilan duet mereka, namun juga untuk penampilan solo yang wajib mereka tampilkan setiap minggu.

“ Ini salahku.”ucap Hoya yang juga nampak berpeluh dan bersandar di kaca ruang latihan.

“ Iya! Memang salahmu!”tembak Minah ketus.

Keinginan Miss Im dan Mr. Lee memang masalah besar bagi Minah, pasalnya ia sendiri sudah punya pacar dan tak mungkin tampil berpasangan dengan Hoya di muka publik. Apa kata kekasihnya nanti? Bisa-bisa hubungan mereka hancur.

“ Jadi sekarang bagaimana!?”

Minah berdiri dan menarik tangan Hoya, “ Kita pergi. Temani aku.”

“ Kemana??”

“ Ke asrama sekolah pacarku, aku harus minta izin dengannya untuk menjalankan pembohongan publik ini. Aku tak mau hubungan kami hancur gara-gara KAU!”

Melihat Minah yang nampak masih murka, Hoya pun pasrah. Ia dan Minah segera memasang pakaian super tertutup lagi dan pergi dari gedung karantina.

***

 

“ Apa? Jadi kau juga akan pergi jam setengah delapan?” dalam kamarnya, sembari merias diri di depan kaca dan mempersiapkan tas serta sneakersnya, Naeun menjepit ponselnya dengan telinga dan bahu kanannya karena sedang berbicara dengan Myungsoo di telepon.

“ Ya. Ada undangan private dinner.”terdengar suara khas Myungsoo.

“ Private dinner? Makan malam? Dengan siapa?” Naeun nampak siap-siap untuk cemburu.

“ Denganku. Mau apa kau?” Chorong yang baru saja selesai mandi dan sejak tadi sedang mencoba-coba pakaian di depan kaca lemarinya menjawab.

“ Dengan Chorong sunbae!?” Naeun bertanya dengan emosi tertahan, Myungsoo tertawa kecil di seberang sana.

“ Yaa.. dengan Sungyeol juga kok. Yang mengundangnya mantan Sungyeol dari Amerika. Aku ingin mengajakmu tapi katanya kau akan pergi dengan Woohyun sore ini, iya kan?”

“ Ooh.. aku kira pergi berdua saja. Mianhae..” Naeun tersenyum malu, membuat Chorong kembali memutar bola matanya dengan kesal.

“…ya, Woohyun oppa mengajakku jalan-jalan sore ini. Aku telat bangun tidur siang jadi terburu-buru begini.”lanjut Naeun.

“ Nah, justru kau yang pergi berdua saja dengan Woohyun.”Myungsoo membalas, Naeun tertawa kecil.

“ Tapi Woohyun kan kakak angkatku.”

“ Yaa.. aku tahu. Aku tidak akan cemburu, aku tahu kau hanya mencintaiku.”

“ Dan aku tahu sunbae juga hanya mencintaiku.”

Chorong semakin panas mendengarnya. Ia mulai membuka tutup lemari dengan kasar hingga menimbulkan suara yang lebih berisik dari pembicaraan Myungsoo dan Naeun di telepon.

“ Aku tidak enak dengan Chorong sunbae. Nanti aku hubungi sunbae lagi.”Naeun akhirnya menyerah.

“ Baiklah. Bersenang-senang saja dengan kakakmu. Dan.. jangan pernah ceritakan apa yang pernah kita lakukan. Arra?”

“ Arasseo, sunbae.”

“ Kapan kita melakukannya lagi?”

“ YA! Sunbae..”Naeun tertawa karena malu, “…kapanpun kau mau.”

“ Benarkah?”

BRUK!

Chorong semakin kasar membanting pintu lemari karena Naeun tak juga menutup teleponnya.

Sebelum Chorong curiga, Naeun segera menurunkan teleponnya sejenak dan pamit pada seniornya itu.

“ Aku pergi dulu, sunbae.”

Tanpa meminta tanggapan yang tak mungkin juga keluar dari mulut Chorong, Naeun segera berlari kecil keluar dari kamar sambil menutup teleponnya dengan Myungsoo.

“ Aku akan menghubungimu lagi nanti. Aku mencintaimu, sunbae.”

 

“ Aku mencintaimu.. halah!” Chorong nampak geram karena masih mendengar suara Naeun dari luar.

“ Sunbae.. Naeun mau kemana??” Eunji yang baru saja keluar dari kamar mandi nampak bingung karena melihat kepergian Naeun.

Chorong terdiam, kaku menatap Eunji yang keluar hanya dengan dililit handuk. Gadis itu menatap Eunji dari atas ke bawah berulang-ulang hingga perlahan gadis itu berjalan mendekati Eunji yang masih berdiri tak jauh didepannya.

“ Kau.. menarik sekali..”ucap Chorong dengan tatapan mata yang nampak begitu mengarah ke seluruh tubuh ideal Eunji, perlahan mengusap lembut kedua pipi gadis itu dan mulai turun ke leher dan bahu telanjangnya.

Bulu kuduk Eunji meremang, perlahan ia mundur namun Chorong terus mengikutinya. Gadis itu mulai keringat dingin ketika Chorong yang juga masih memakai handuk mulai berniat untuk melepas lilitannya.

“ Mari kita bandingkan, tubuh siapa yang lebih bagus. Tubuhku atau tubuhmu.” bisik Chorong, namun Eunji tahu itu hanya modus belaka.

“ Tubuhku tidak bagus seperti tubuhmu. Jadi..tidak perlu, sunbae.”jawab Eunji gugup.

“ Tidak.. kalau tidak bagus, bagaimana mungkin aku menyukainya?” Chorong nampak senang memperhatikan lekuk tubuh Eunji, perlahan ia memeluk Eunji dan tangannya telah membuka lilitan handuknya yang berada di belakang sehingga dengan leluasa ia mulai mengelus punggung sang putri.

Eunji menahan nafasnya, gugup dan ketakutan sembari mempertahankan handuk yang masih menutup bagian depan tubuhnya. Ini jauh lebih mengerikan dibanding saat ia mencoba dilecehkan oleh Hoya. Ingin berontak, ia takut handuknya terlepas dan membuat Chorong semakin liar nantinya.

“ Kenapa kau menolakku, Jung Eunji? Kita sama-sama cantik, kita serasi..” bisik Chorong, jelas bahwa ketidaknormalannya kumat kembali akibat kekesalannya mendengar pembicaraan Myungsoo dan Naeun di telepon tadi.

“ Hentikan, sunbae..”Eunji serasa ingin menangis, berdoa semoga ada yang bisa menghentikan tindakan Chorong.

“ Tidak, sebelum kau mengatakan kalau kau juga mencintaiku..”

“ Tapi itu tidak mung…..”

“ Cepat katakan.”

Eunji menggeleng dan airmatanya mulai menitik satu demi satu.

“ Baiklah, kalau begitu jangan salahkan aku jika sekarang aku akan…..”

“ Tidaaakk…”

GDOR! GDOR!

“ Jung Eunji!!!”

Chorong terkejut ketika mendengar suara pintu diketuk agak keras dari luar, si pengetuk yang bersuara lelaki itu memanggil nama Eunji.

“ D.O sunbae!”

Eunji buru-buru melilitkan kembali handuknya lalu mengambil pakaiannya secara asal dari dalam lemari dan memasangnya di kamar mandi ketika Chorong lengah. Ia merasa lega karena D.O datang tiba-tiba.

“ HEH! Mau apa kau kesini!?” bentak Chorong dari dalam.

“ Mencari Eunji. Dia ada tidak!?”jawab D.O dari luar.

“ Tid…..”

“ AKU ADA, SUNBAE!!” teriak Eunji, membuat Chorong geram.

“ Bersiap-siaplah! Kita pergi sekarang!”teriak D.O.

“ Heh, mau kemana!?” tanya Chorong cepat.

“ Pacarmu Nam Woohyun pergi dengan Naeun. Kau tidak khawatir dengannya? Aku saja khawatir.” ucap D.O, kali ini dengan suara yang sedikit diperkecil volumenya.

“ Khawatir apa? Cemburu? Tidak akan!”

“ Bukan itu, Park Chorong! Tapi……”

“ Oh..oke oke, aku tahu. Dan.. aku tidak peduli.”tanggap Chorong, membuat D.O geleng-geleng kepala.

 

“ Apa yang dibicarakan Chorong dan D.O sunbae tentang Woohyun itu masih ada hubungannya dengan rahasia Woohyun dan Chorong sunbae yang selama ini membuatku penasaran?”pikir Eunji yang masih berada di dalam kamar mandi, rasa ingin tahunya begitu besar tapi ia tak tahu harus mencari tahu kemana.

“…ah, semoga saja hari ini aku dapat petunjuk. Aku harus pergi dengan D.O sunbae walaupun aku tidak tahu mau kemana.”Eunji segera memasang pakaiannya dan…

Keluar secepat kilat dari kamarnya dan mengajak D.O berlari.

***

 

“ Hei, jangan dimakan terus. Nanti habis, filmnya belum mulai.”

Naeun tertawa kecil ketika Woohyun mengingatkannya untuk tidak terus-terusan memakan popcorn. Mereka memang sedang berada di dalam gedung bioskop. Untuk pertama kalinya Naeun akhirnya diajak oleh Woohyun untuk merasakan bagaimana rasanya menonton dengan layar yang sangat lebar, dan film yang dipilih Naeun adalah film komedi agar ia bisa melupakan mimpi buruknya tadi siang.

“ Itu sudah mulai!” Naeun tetap mengunyah popcornnya karena film yang akan mereka tonton sebentar lagi dimulai.

“ Yaa.. tidak usah tegang begitu.”goda Woohyun.

“ Bagaimana tidak tegang? Lampunya mati semua..”

“ Hahaha.. kau polos sekali. Memang begini yang namanya bioskop, kalau filmnya sudah habis baru nyala lagi.”

“ Pantas aja, aku tahu di rumah kita di lantai tiga juga ada bioskop, tapi aku tidak berani nonton sendirian. Gelap sekali, sama seperti ini.”

“ Hahaha, lagipula rasanya memang lebih nyaman kalau nonton bersama-sama seperti ini. Aku justru bosan dengan bioskop di rumah.”

“ Ya. Lebih nyaman menonton bersama-sama, jadi aku tidak perlu takut.”

Mereka mulai menyaksikan filmnya, namun karena Naeun tak tahu peraturan dalam bioskop yang melarang penonton untuk berbicara, ia mengajak Woohyun mengobrol.

“ Oppa, apa kau sering menonton dengan Chorong sunbae?”

Woohyun menoleh kearah Naeun, nampak tertarik ketika adik angkatnya itu mulai mengangkat nama Chorong ke dalam topik pembicaraan mereka.

“ Terlalu sering. Itu terlalu biasa. Aku juga sering ke karaoke bersamanya, berbelanja, ke klub malam, bahkan ke luar negeri.”

“ Benarkah? Bukankah itu sangat boros?”

“ Apapun sudah kurelakan untuknya. Jika aku hitung mungkin aku sendiri akan pingsan melihatnya.”

“ Memangnya seberapa banyak?”

“ Tak hanya biaya hura-hura, uang dalam jumlah fantastis pun sudah aku keluarkan untuk membelikan Chorong rumah di salah satu kawasan elit di Daegu, sebuah mobil mewah, pakaian, tas, sepatu, barang-barang elektronik bermerek lainnya. Aku bersyukur masih menjadi anak konglomerat meski sudah menghamburkan uang sebanyak itu. Appa dan umma tidak pernah bertanya untuk apa uang yang aku minta setiap aku ingin dikirimkan uang.”

Naeun tercengang, “ Lalu apa yang Chorong sunbae berikan untukmu sebagai balasannya?”

Woohyun tertawa pahit, “ Kalau aku beritahu kau pasti langsung benci punya kakak seperti aku.”

“ Sepertinya aku tahu yang kau maksud.”

“ Jadi kau akan membenciku?”

Naeun diam, ia tahu kemana arah pembicaraan Woohyun. Ia bisa membayangkan sudah sejauh apa hubungan Woohyun dengan Chorong, maka itu tak heran ia terkejut saat tahu Chorong menyukai Myungsoo. Jadi selama ini ia anggap apa seorang Nam Woohyun? Entahlah.

“…itu penyesalan terbesar dalam hidupku. Pada awalnya aku orang yang cukup pelit. Meski aku playboy, aku tidak pernah membelanjakan wanita-wanita lain dengan uang yang terlalu besar.”ucap Woohyun.

“…tapi Park Chorong, dia datang dengan segala kesempurnaan fisiknya yang membuatku terjerat nafsu. Karena kami satu sekolah, kami saling mengenal dan menyadari bahwa kami saling membutuhkan satu sama lain.”

“ Maksudmu?”Naeun sedikit tak mengerti.

“ Dia membutuhkan hartaku untuk hidupnya yang tidak terlalu beruntung, dan aku membutuhkan dirinya untuk menemani kesepianku di rumah mewah kita yang selalu kosong karena appa dan umma tidak pernah pulang dan memberiku perhatian. Aku tidak tega menyebutnya wanita panggilan, tapi memang begitu kenyataanny. Ia selalu datang dan melayaniku setelah kujanjikan berbagai macam hal yang bersifat material padanya. ”

Hubungan yang begitu kelam, begitulah Naeun menyebutnya saat Woohyun baru saja bercerita sepenggal. Setelah itu kembali tak habis pikir mengapa Myungsoo mau berteman dengan perempuan seperti Chorong. Myungsoo terlalu mulia.

“ Jadi apa kalian saling mencintai?”

“ Pertanyaan konyol..”lagi-lagi Woohyun tertawa pahit, “…tentu saja tidak. Aku hanya mencintai tubuhnya saja, dan dia hanya mencintai hartaku saja. Lagipula dia seorang lesbian, makanya ia tak pernah merasa berat jika aku menyentuhnya dimanapun aku mau, ia tidak punya nafsu dengan laki-laki.”

“ Itu artinya sampai sekarang hubunganmu dengan Chorong selalu seperti ini? tidak ada perkembangan? Kau yakin kau sama sekali tidak jatuh cinta padanya? Chorong sunbae itu cantik sekali, meski dia sensitif, dia orang  yang sangat baik. Bagaimana jika kau sudah bosan dengan ‘service’nya? Kau akan meninggalkannya? Bukankah itu kejam?”

Woohyun tak mampu membantah semua pertanyaan Naeun, ia tahu sebagai perempuan Naeun tentu berada di pihak Chorong.

“ Kau salah, Naeunnie. Sudah berkembang, tapi bukan ke arah yang kuharapkan. Cinta yang ada di antara kami hanya tumbuh secara sepihak, dan yang mencintai sebenarnya sudah tak sepantasnya lagi untuk jatuh cinta.”jawab Woohyun, kali ini dengan wajah yang mulai pucat dan suram.

“ Apa maksudmu?”Naeun tak mengerti, dan entah mengapa perasaannya mendadak tak enak.

“ Aku.. aku sadar bahwa aku mencintai Chorong. Semua itu berawal disaat aku menyesal dan merasa kasihan saat ia harus menggugurkan kandungannya. Aku ingin bertanggung jawab, tapi ia sudah terlanjur membenciku.”

“ Lalu apa yang kau maksud dengan…….”

“ Tak sepantasnya jatuh cinta? Ya, aku bilang sudah tak sepantasnya aku jatuh cinta. Karena sebentar lagi…”

“ Sebentar lagi..apa?”

“ Aku mati.”

“ APA!?”

“ Sstt..! ini bioskop!” Woohyun buru-buru menutup mulut Naeun yang kini gemetaran menahan tangis.

“ Kau mengejutkanku, oppa! Mana mungkin kau mati!”bisik Naeun dengan airmata yang kini mulai berjatuhan.

“ Aku tidak main-main, Naeun. Sekarang kau bisa lihat betapa menyesalnya aku menyia-nyiakan Chorong selama ini, tidak mencoba mencintainya sepenuh hati sejak dulu. Ketika ia sudah terlanjur membenciku, aku justru jatuh cinta padanya. Dan aku tidak punya kesempatan untuk meyakinkannya karena sebentar lagi aku..mati.”

“ Mengapa kau bilang kau akan mati!? Memangnya kau kenapa?”Naeun semakin hendak menangis, sekarang ia jadi tahu mengapa Woohyun tumben sekali ingin mengajaknya berjalan-jalan.

Woohyun menghela nafas sejenak lalu mengeluarkan selembar kertas dari saku kemejanya.

“ Ini vonis dokter empat hari yang lalu saat D.O mengantarku ke rumah sakit karena aku pingsan di kamar saat tengah malam. Tak ada yang tahu karena aku merahasiakannya. Seharusnya aku dirawat inap, tapi aku ingin pulang agar tidak ada yang tahu aku sakit, aku tidak mau dilihat lemah oleh orang-orang.”

Naeun menerima kertas tersebut dan membacanya dengan nafas menderu karena syok.

“ Kanker tulang?!”

Woohyun mengangguk saja, membiarkan Naeun semakin menangis dan memeluknya serta membuat seisi bioskop bingung karena mereka mengira film komedi bisa membuat seorang gadis menangis.

***

 

“ Sebenarnya kita mau kemana?”tanya Eunji heran ketika D.O membukakan pintu mobil barunya untuk mempersilakan Eunji masuk.

“ Kau tahu kan Woohyun pergi dengan Naeun? Aku ingin membuntuti mereka, sekalian mengajakmu jalan-jalan. Hitung-hitung sebagai tanda permintamaafan karena kemarin-kemarin sudah menghilang darimu dan tidak memberimu kabar.”jawab D.O, setelah itu ia masuk dan menyalakan mesin mobilnya.

“ Hah? Untuk apa membuntuti mereka? Mereka adik-kakak, apa salahnya pergi berdua?”

“ Bukan itu masalahnya, Eunji..”

“ Lalu?”

“ Ini rahasiaku dengan Woohyun. Kau ikut sajalah.”

“ Yahh. Jebal, ceritakan!”

“ Baiklah, jadiii.. hmm.. ….no.”

Eunji mendengus kesal karena D.O mengerjainya, ia pun mengalihkan pembicaraan.

“ Sunbae, ngomong-ngomong..berapa harga mobil barumu ini?”

“ Tidak tahu.”

“ HAH!? Masa tidak tahu!? Aneh.. kau merampok ya!?”

“ Yee.. sembarangan. Mobil ini bukan aku yang beli, Woohyun yang membelikannya untukku.”

“ A..apa??? Woohyun???”

D.O mengangguk karena memang begitu adanya. Sebagai orang yang pertama kali tahu tentang penyakit Woohyun sebelum Chorong, Woohyun memang memintanya untuk tidak menyebarkan hal ini pada siapapun, dan ‘tutup mulut’ yang diberikan Woohyun untuk D.O adalah mobil mewah ini. fungsi lainnya pun sebagai kenang-kenangan terakhir dari Woohyun jika lelaki itu suatu saat memang harus meninggal karena penyakitnya.

“ Wah, dia kaya sekali..”Eunji berdecak, entah kagum dan mencibir, karena hubungannya dengan Woohyun sama sekali tidak baik.

“ Duh.. mereka kemana sih?” D.O panik karena mendadak lupa dengan tujuannya, ia berniat membuntuti Woohyun karena khawatir dengan kondisi sahabatnya itu, Woohyun sudah sering tak kuat menopang tubuhnya sendiri, ia takut Woohyun kumat dan membuat Naeun panik nantinya.

Tapi sialnya ia kehilangan jejak karena terlalu terlambat.

Drrt..drrt..

Ponsel D.O bergetar, telepon masuk dari seseorang. Mata besarnya semakin membesar setelah tahu siapa yang menghubunginya. Tak ingin Eunji curiga, ia mematikan teleponnya.

“ Kok gak diangkat?”tanya Eunji heran.

“ Ah.. nomor tak dikenal.”

***

 

“ YAH! Kenapa dimatikan!?”Minah heran dan mencoba menghubungi kekasihnya lagi, namun kali ini tidak bisa karena tidak aktif.

“ Katanya mau masuk ke asramanya, ya sudah masuk saja. Aku tunggu disini.”kata Hoya malas karena sudah lelah, apalagi malamnya ia dan Minah harus ke karantina lagi untuk melanjutkan latihan.

“ Tadinya aku kira gampang. Tapi aku tidak berani juga, apalagi aku mantan siswa bermasalah di sekolahnya, hehe.”Minah mehe-mehe.

“ Jadi bagaimana?”

“ Makan dulu yuk, aku lapar.”

“ Huh.. ya sudah, ayo. Kita cari tempat yang tertutup.”

Hoya dan Minah pun berjalan menyebrangi jalan untuk mencari tempat makan. Namun…

“ Minah! Awas!!!!”

TIIIIT!!!

CKIT!

“ Aaaaaaaa!!! Hampir saja aku mati! Grr!!! Mobil keren tapi mau nabrak orang!! Huuuu~!” Minah lega selega-leganya –bahkan masih bisa-bisanya mengomel- karena mobil yang muncul dari arah kanannya tak sampai menabrak tubuh mungilnya, sementara Hoya yang sudah sampai di seberang jalan duluan kembali ke tengah jalan untuk menolong Minah yang masih terduduk di aspal.

“ Sunbae, kalau bawa mobil hati-hati dong!” Eunji kasihan melihat gadis yang hampir ditabrak oleh D.O.

“ Dia saja yang tidak lihat-lihat!”kata D.O, “…sudahlah tunggu dia minggir.”

“ Andwae! Ayo turun! Tanggung jawab, minta maaf!”

Karena Eunji sudah turun duluan, D.O terpaksa ikut turun.

“ Kau tidak apa-apa kan?”Hoya buru-buru memeriksa badan Minah  yang siapa tahu terluka.

“ Aku baik-baik saj… eh.. Eunji?!!” Minah terkejut karena Eunji berdiri menghampirinya.

“ Lho, Min….”

“ MINAH!?” D.O lebih terkejut karena gadis yang hampir ditabraknya adalah orang yang ia kenal –dan sepertinya memiliki hubungan khusus dengannya-.

“ Kau kenal dengan Minah?”Eunji bertanya pada D.O sekarang.

“ Sialan. Ternyata memang benar D.O kekasih Minah. Dia sudah mempermainkan Hyerim..” Hoya ikut terkejut bahkan merasa geram. Dengan tetap mempertahankan masker yang menutupi wajahnya, ia berdiri dan menghadapi D.O, membuat Eunji sedikit trauma saat melihatnya dan beranggapan Hoya memang artis dengan tampang yang cocok menjadi pembuat masalah.

“ Katakan, apa benar kau pacar Minah?”tanya Hoya dingin pada D.O namun sempat-sempatnya melirik dan mengerlingkan matanya kearah Eunji, membuat gadis itu justru merasa semakin benci.

“ Kau sendiri siapa?!”D.O mengalihkan pembicaraan karena sudah dirundung panik.

“ Kau tidak tahu siapa aku? Astaga.. kau orang Korea apa bukan? Semua orang Korea mengenalku sekarang, makanya aku keluar dengan masker.”

“ Jangan berpura-pura, D.O. Jawab sekarang!” sekarang Minah yang mendesak D.O. Eunji nampak khawatir dan bersiap untuk menangis.

“ Tunggu dulu, Minah. D.O sunbae ini pacarku, mana mungkin dia kenal dan berpacaran dengan…mu?”ucap Eunji memberanikan diri.

“ Jadi kalian berpacaran!!??” tanya Minah dengan nada yang sangat tinggi, membuat Eunji tersentak dan tentu saja membuat D.O semakin keringat dingin.

“ Memang iya. Lalu kenapa, Minah?”jawab Eunji polos.

“ D.O juga kekasihku, Eunji!! Kekasihku yang pernah kuceritakan padamu!!”

BUK!!!!

Tanpa memikirkan imejnya sebagai seorang public figure, Hoya memukul D.O hingga lelaki itu tersungkur. Emosi karena sudah jelas bahwa D.O benar-benar telah mempermainkan Eunji.

“ Aku hanya tak suka kau mengkhianati gadis sebaik Minah.”ucap Hoya berbohong karena tak mungkin ia mengakui yang sebenarnya.

Minah terkejut, menangis karena sakit hati sekaligus terharu karena Hoya telah membelanya. Ia memeluk Hoya erat, menangis sejadi-jadinya di dada lelaki itu.

Eunji terdiam, tak berniat menolong D.O yang kini terduduk di aspal menahan sakitnya pukulan yang baru saja ia terima. Gadis itu justru menatap lurus dengan kaku kearah Hoya yang nampak menenangkan Minah yang menangis dalam pelukannya.

Entah, perasaan gila macam apa yang tiba-tiba muncul dalam hati terdalam Eunji.

Ia merasa cemburu.

Bagaimana bisa? Mengapa ia harus cemburu pada artis kurangajar yang pernah berusaha memperkosanya? Mengapa hatinya begitu sakit melihat Hoya yang bahkan belum pernah ia lihat wajahnya sedang menenangkan Minah seperti itu?

Namun kecemburuannya tak berlangsung lama setelah ia sadar bahwa sudah banyak mobil yang membunyikan klakson menyuruh mereka minggir. Ia baru sadar bahwa mereka masih berada di tengah jalan.

Hoya, Minah, Eunji, dan D.O segera menyingkir ke pinggir jalan, hingga setelah itu tanpa membuang waktu Minah menghadapi D.O, menatap lelaki itu sejenak.

“ Bang Minah, aku bisa jelas…..”

PLAK!!

Sebelum D.O menyelesaikan kata-katanya, Minah sudah menamparnya terlebih dulu.

“ Seharusnya sejak dulu aku sadar kau tidak mungkin mau dengan gadis yang tak punya masa depan seperti aku.”ucap Minah dengan airmata yang masih menetes, ia pun berbalik dan segera pergi.

“ Sekarang urusanmu dengan dia.”Hoya menepuk keras bahu D.O sembari melirik Eunji yang sudah bergetar menahan tangis, setelah itu ia mengeluarkan secarik kertas dari saku jaketnya dan menulis sesuatu kemudian menghampiri Eunji.

“ Hai cantik, masih ingat denganku? Kalau kau sudah putus dengan pacarmu, beritahu aku.”bisik Hoya sembari meletakkan kertasnya di tangan Eunji lalu pergi menyusul Minah.

Eunji terdiam, sepeninggal Hoya ia segera membaca isi kertas tersebut.

Nomor telepon yang disertai bonus tanda tangan sang artis dan sebuah pesan singkat di kertas bagian belakang.

 

“ Belajarlah menggunakan ponsel walau kau benci radiasi :)”

***

 

Naeun masih berusaha fokus dengan film didepannya karena Woohyun memintanya agar tidak membuat keributan di dalam bioskop. Sepertinya Woohyun berusaha untuk tenang meski sudah memberitahu adiknya perihal penyakitnya yang masih sangat ia rahasiakan karena ia tak ingin dilihat lemah oleh orang lain.

Pikiran Naeun sudah melayang kemana-mana, berbagai pikiran buruk menghantuinya. Ia tak ingin kehilangan Woohyun, sejahat apapun kakak angkatnya itu di mata orang lain.

“ Apa aku buatkan saja ramuan untuk menyembuhkan kanker itu?”pikir Naeun, “…tapi aku tidak tahu komposisinya. Penyakit seperti ini tidak pernah ada di dunia sihir, jadi ramuan penawarnya pun tidak ada..”

“…belum lagi ramuan pembangkit orang mati yang diminta Sungyeol. Aarggh! Aku bisa gila!” Naeun mengacak-acak rambutnya, sepertinya mulai sekarang mau tidak mau ia harus mulai memikirkan berbagai formula ramuan baru.

Film berakhir, lampu bioskop kembali dinyalakan dan Naeun segera membereskan makanan dan minumannya yang sedikit berantakan.

“ Oppa, aku jadi khawatir dengan kondisimu. Kita pulang saja ya?”ucap Naeun.

“…”

“ Oppa, menurutlah. Jangan membuatku sedih karena mengkhawatirkanmu.”

“…”

“ Woohyun.. Woohyun oppa!!??” Naeun terkejut ketika ia menoleh ke arah Woohyun, lelaki itu sudah tak sadarkan diri dengan wajah pucat bersandar di bangku penontonnya, pantas saja ia tak menjawab pertanyaan Naeun.

“…oppa!! Jangan mengerjaiku!! Bangun!” Naeun mulai panik, namun nampaknya Woohyun memang benar-benar lemah dan pingsan sekarang, seluruh tubuh lelaki itu dingin bagaikan es.

Naeun segera mencari-cari ponselnya, menghubungi nomor telepon rumah mereka dan berharap satu dari sekian puluh orang pelayan di rumahnya mengangkat teleponnya.

 

“ Annyeong. Ini aku, nona Son Naeun. Segera jemput kami ke Seoul Mall dan panggil dokter pribadi tuan muda Nam Woohyun, sekarang!!!”

***

10.00 p.m

 

“ Ini sudah dua jam dan kita hanya berkeliling menghabiskan bensinku saja.”

Myungsoo menggaruk pelipisnya dengan salah tingkah ketika akhirnya Chorong buka suara, sementara Sungyeol mulai tertawa licik karena rencananya mengerjai sang penyihir berhasil –meski harus bosan setengah mati berkeliling kota tanpa tujuan selama dua jam-.

“  Yookyung sudah mati bosan di café. Hahaha.”timpal Sungyeol, membuat Myungsoo semakin murka dalam hatinya.

“ Sebenarnya kau tahu tidak café favorit yang dimaksud Yookyung?”tanya Chorong.

Myungsoo masih salah tingkah. Tentu saja, seorang L mana tahu tempat yang dimaksud Yookyung, hanya saja karena gengsi sepanjang jalan ia tak bertanya pada Chorong maupun Sungyeol dan menebak-nebak serta mencari-cari sendiri café yang dimaksud Yookyung. Lagipula suasana di dalam mobil begitu sunyi, persahabatan mereka terasa begitu aneh semenjak banyak masalah yang terjadi diantara mereka bertiga. Terlebih salah satu diantara mereka memanglah bukan bagian dari mereka.

“ Yah, mungkin sepanjang jalan kau memikirkan Son Naeun.”sindir Chorong, ia pun menyuruh Myungsoo berhenti mengemudi.

“…minggir, biar aku yang bawa mobilnya. Yookyung sudah menunggu lama.”

Myungsoo terpaksa menurut dan menukar tempat duduknya dengan Chorong, setelah itu berbagi tatapan membunuh dengan Sungyeol yang duduk di jok belakang.

 

“ Kau akan menyesal seumur hidup karena pernah mengerjaiku, anak cenayang.”

“ Aku tak takut padamu, penyihir.”

***

 

“ Chorong-ah! Myungsoo-ssi, dan.. Sungyeol.. I thought you’re not come tonight!” Yookyung menyambut ketiga sahabat yang akhirnya memasuki café outdoor tempat ia mengadakan acara makan malam. Gadis cantik bermata sipit dan berambut coklat itu memeluk Chorong erat.

“ Yookyungie, how are you?”tanya Chorong.

“ I’m fine, how about you? You’re looks more skinny, don’t say you have serious problem.”

“ Hahaha, no. I think the one who’s had a problem is Sungyeol, he miss you so much.”Chorong sedikit bercanda untuk menutupi segala bebannya.

Yookyung tertawa kecil dan segera menjabat tangan Sungyeol yang sudah dingin dan gemetaran. Rupanya seperti ini reaksi sang cenayang psikopat yang sedang bertemu mantan kekasihnya.

“ How are you? Still like to play with cards and candles?” tanya Yookyung sedikit bercanda, Sungyeol tertawa kecil.

“ I’m fine..”jawab Sungyeol singkat dengan awkward dan salah tingkah, pasalnya terakhir kali ia berbicara dengan Yookyung adalah saat hari pertengkaran mereka. Ia hanya heran mengapa Yookyung seakan melupakan adu argumen mereka dulu dan kini bersikap manis didepannya.

“ Yookyung-ah, are you really can’t speak Korean again? Yeah.. I think you must know that Sungyeol isn’t good in English, so he just can say ‘I’m fine..’” sela Chorong, membuat Sungyeol merasa malu.

Yookyung tertawa, “ Mianhae, masih bisa. Tapi..sudah terbiasa dengan English, hehe.”

“ It’s okay. Hmm.. kau sendirian?”

“ Yeah. Actually my father is here too, tapi beliau terpaksa pergi karena pasiennya mendadak membutuhkannya.”

“ Ooh.. ayahmu sedang menjadi dokter pribadi disini?”

“ Exactly. Beliau sedang menangani seorang penderita bone cancer..”

“ HAH? Oh..begitu..”Chorong segera menutupi keterkejutannya sebelum Myungsoo dan Sungyeol curiga, “…eh, ehm.. sepertinya kau melupakan seseorang.” Chorong menunjuk Myungsoo yang masih berdiri di samping Sungyeol.

“ Oh my God, sorry. Kim Myung..soo..” kini Yookyung menatap Myungsoo, dan sang penyihir buru-buru berusaha untuk bersikap wajar.

“ Hi, Yookyung.  Long time no see.”

Gadis itu tersenyum licik dalam hatinya saat mendengar sapaan Myungsoo.

 

“ Long time no see you too, L . Hahaha..”

******

 

“ Kalau bukan karena pemuda dekil itu bisa membuat Krystal tertawa dan tersenyum seperti itu, aku tidak akan mengizinkannya ikut mendekam di dalam puncak menara.”

Raja Yonghwa menatap kedua remaja yang berada di balik pintu kaca puncak menara, mereka sedang menari bersama dan sesekali tertawa lepas. Meski sedikit tidak rela, rasanya lebih baik daripada melihat anak perempuannya menjerit-jerit dan mengamuk sendirian di dalam sana.

“ Apakah keadaan akan begini terus? Madame Sunny bilang dia tidak bisa ke dunia nyata untuk menyusul Hyerim, Howon, L, dan Yeoshin.”ucap ratu Seohyun yang duduk di kursi roda tepat di samping suaminya itu.

“ Entah, aku tidak percaya saat Madame Sunny bilang bahwa ia menghilangkan ramuan portalnya. Kurasa dia memang tak mau ke dunia nyata.”

“ Apa kita harus memaksanya?”

“ Kurasa percuma.  Kita juga harus memikirkan keselamatan Madame Sunny, mungkin dia tidak mau ke dunia nyata karena takut dibunuh oleh L.”

“ Lalu bagaimana? Aku sudah sangat merindukan Hyerim. Tapi aku bisa merasa sedikit lega karena masalah Krystal sekarang sudah sedikit teratasi dengan kehadiran pemuda itu.”

“ Krystal kelihatan sangat bahagia karena pemuda itu punya benda yang bisa menyala.”

“ Namanya ponsel, kalau tidak salah.”

Ya, Krystal memang tak lagi separah dulu. Keisengan Kai menghiburnya dengan mp3 ponselnya dan menari di depan Krystal justru membuat gadis itu ketagihan dan melupakan kembang api yang setiap hari dibakarnya. Hingga akhirnya Kai terpaksa pindah pindah penjara, menemani Krystal di puncak menara meski terkadang harus tersiksa jika Krystal kumat.

Dan inilah yang dilakukan Raja dan Ratu setiap malamnya, mengawasi mereka dari jauh karena takut terjadi sesuatu pada putri mereka, mengingat Kai adalah orang asing apalagi pernah membuat masalah di pasar negeri Junghwa. Ketakutan mereka hanya satu, mereka tak ingin Kai dan Krystal sampai saling jatuh cinta.

“ Raja! Ratu! Ada yang datang..!”

Tiba-tiba beberapa orang pengawal menghampiri Raja dan Ratu yang masih serius berdiskusi dan memperhatikan Kai dengan Krystal. Pria-pria berseragam itu nampak panik dan sedikit ketakutan.

“ Siapa yang datang?”

“ Kalau dilihat dari pakaiannya, sepertinya.. seorang pangeran.”

“ Hah?” Raja dan Ratu langsung saling tatap, tanpa membuang waktu lagi raja segera mendorong kursi roda istrinya dan mereka berjalan cepat menuju pintu utama istana.

 

“ Astaga!” ratu Seohyun langsung menunjukkan keterkejutannya, sama halnya dengna raja Yonghwa.

“ Segera ambil tandu dan bawa dia ke ruang pengobatan. Cepat!” titah Raja, beberapa pengawal segera berlari menaati perintah, sementara ratu Seohyun turun dan kursi rodanya, dengan tergopoh-gopoh beringsut mendekati pemuda yang kini terkapar di pintu masuk istana dengan pakaian sobek-sobek dan luka-luka parah di sekujur tubuhnya.

 

Pemuda itu, pangeran Baekhyun dari negeri Gwangdam. Ia telah sampai ke istana negeri Junghwa tanpa kudanya..

********

 

Tuesday, 10.00 A.M

 

“ Sepanjang makan malam dia terus menatapku dengan..aneh. aku sudah mencoba untuk akrab agar dia tidak curiga. Tapi.. tatapannya itu benar-benar membuatku terintimidasi. Padahal dia bukan cenayang seperti Sungyeol.”

Taeyeon ikut kebingungan saat mendengar cerita L tentang makan malam yang dihadiri anaknya itu semalam. Gadis bernama Hong Yookyung yang merupakan mantan kekasih Sungyeol itu rupanya tidak sebiasa yang L pikirkan.

“ Maksudmu… dia kelihatan seperti meragukan bahwa kau adalah Myungsoo?” tanya Taeyeon tak habis pikir.

“ Mungkin..”jawab L, “…masalahnya, aku baru satu kali itu bertemu dengannya, mengapa dia langsung mencurigaiku seperti itu? Dan yang aneh lagi, dia memilihkanku menu makanan daging ayam yang masih ada darahnya.”

“ Hah?? Benarkah!?”

L mengangguk, “ It seems like she knows about…my true self.”

 “ No! jangan berpikiran negatif!” Taeyeon mendadak takut, “…mungkin itu hanya kebetulan.”

“ Tapi aku berfirasat buruk, sekarang gadis itu seperti..lebih berbahaya dari Sungyeol. Kurasa Sungyeol saja tidak menyadari mantannya itu mencurigaiku.”

“ Kita harus menyelidikinya. Jika gadis itu memang benar berbahaya, kita harus segera ambil jalan cepat.”

“ Maksudmu?”

“ Kau harus segera membuka identitas aslimu, aku juga. Terutama pada Yeoshin yang akan segera mengandung anakmu.”

“ Kami baru melakukannya dua hari yang lalu, dia tak mungkin hamil sekarang.”

“ Hei, kalian ini penyihir, jangan samakan diri kalian dengan manusia biasa. Seorang penyihir bisa hamil dalam waktu yang sangat cepat. Aku saja mengandungmu sehari setelah melakukannya dengan ayahmu.”

“ Hah!? Benarkah?!”

 

“ Myungsoo sunbae!”

Naeun tiba-tiba memasuki ruangan kepala sekolah, membuat Taeyeon dan L sedikit terlonjak kaget dan buru-buru berusaha bersikap wajar.

“ Mianhae, kepala sekolah. Aku sangat merindukan Myungsoo sunbae, jadi aku mencarinya kesini.”kata Naeun polos sembari duduk di samping Myungsoo dan memeluk lelaki itu erat.

Taeyeon dan anaknya saling bertatapan, heran. Mengapa Naeun berubah sangat manja hari ini?

“ Hahaha.. dasar anak muda..”Taeyeon tertawa kecil, membuat Myungsoo sedikit malu dan salah tingkah, tetapi tentu saja lelaki itu senang karena hari ini ia baru bisa bertemu dengan Naeun setelah ‘malam pertama’ mereka.

“ Ada apa, sayang?”tanya Myungsoo sembari menyingkirkan rambut Naeun yang kini nampak nyaman berada di atas dada bidangnya.

Naeun menghela nafasnya, merasakan nyaman berada dalam pelukan Myungsoo. Semalaman ia stress karena memikirkan Woohyun yang kini terpaksa beristirahat di rumah mewah mereka karena penyakitnya kembali kumat, Woohyun memintanya untuk merahasiakan penyakit parahnya dari siapapun namun sepertinya Naeun tak tahan memendamnya sendirian, itulah yang membuat Naeun begitu depresi sekarang, terlebih saat ia menyadari beberapa gejala aneh mulai terjadi pada dirinya.

“ Semalam aku tidak bisa tidur..”adu Naeun, “…aku muntah berkali-kali, perutku juga terasa mual.”

Myungsoo terkejut, sementara Taeyeon tersenyum lebar. Namun jelas, jika dilihat dari wajah Naeun, gadis itu belum terlihat khawatir dan mengira bahwa ia hanya terkena sakit biasa, gadis itu belum berpikir bahwa ia akan segera hamil mengingat ia hanya menganggap Myungsoo adalah manusia biasa yang tak bisa membuatnya mengandung anak.

“ Lalu sekarang bagaimana? Masih mual?”tanya Myungsoo.

Naeun menggeleng, “ Sekarang sih tidak. Tapi.. aku ingin sekali makan sup ayam. Temani aku, sunbae..”

Myungsoo menatap Taeyeon, ibunya itu mengangguk mengizinkan.

“ Ayo.”Myungsoo mengajak Naeun berdiri lalu menggandeng gadis itu keluar dari ruangan kepala sekolah.

“ Kita cari Eunji dulu ya. Sudah beberapa hari ini aku bertengkar dengannya. Rasanya tidak enak juga..”ajak Naeun.

Myungsoo mengangguk, ia pun melangkah bersama Naeun menuju kelas Eunji.

Hingga ketika lelaki itu tak sengaja menoleh ke arah koridor lain, ia menangkap sosok Yookyung tengah mengintipnya dari balik tiang, namun gadis itu segera menghilang setelah sempat tertawa mengejek kearah sang penyihir.

 

“ Tidak. Tidak mungkin.. aku pasti salah lihat.”

***

 

“ Ini nomor siapa memangnya? Kalau nomor orang asing aku tidak mau ah!” kata Bomi sembari mendorong kembali kertas berisi nomor telepon yang diberikan Eunji padanya.

“ Grr..kau tidak tahu saja itu nomor telepon artis idolamu.”ucap Eunji dalam hati.

“…sudah sms saja, bilang padanya ‘ini aku, gadis yang kemarin’. Begitu.”kata Eunji singkat, ia memang memutuskan untuk iseng-iseng menghubungi Hoya meski masih dendam kesumat dengan artis kurang ajar itu. Karena setidaknya itu lebih baik daripada menghiraukan D.O yang sejak tadi memburunya ke berbagai tempat di sekolah untuk memberi penjelasan. Eunji benar-benar sudah tak ingin berhubungan dengan sunbaenya itu, ia sudah sangat kecewa.

“ Kau saja yang sms nih! Udah minjem nyuruh aku yang ngetik pula, dasar.” Bomi menyodorkan ponselnya.

“ Tolonglah, Yoon Bomi. Aku masih tidak suka radiasi.”mohon Eunji memelas, sementara Jiwon yang duduk tepat di bangku depan mereka sudah tak sabaran ingin sms-an dengan Eunji.

“ Ya sudah ya sudah.”Bomi pun menurut, “…sudah tuh!”

“ Bagaimana? Sudah dibalas?”

“ Sudah! Cepat sekali!” ucap Bomi saat melihat ponselnya bergetar beberapa detik setelah ia mengirim pesan itu.

“ Apa katanya?”

‘Ya, akhirnya kau menghubungiku. Bagaimana? Kau sudah putus dengan pacarmu?’ yaaaa!!! Jung Eunji!! Kau berkenalan dengan namja!? Kau sudah putus dengan D.O sunbae!?”Bomi heboh setelah membaca sms balasannya, membuat Eunji malu karena orang-orang di kelas kini memperhatikannya.

“ Ssstt.. iya iya! Cepat balas lagi!”

“ Jawab dulu pertanyaanku..! siapa nama namja ini?? apa dia tampan!?”

“ Namanya Hoya, puas!?” jawab Eunji dalam hati, karena jika ia jawab langsung Bomi tentu saja bisa murka.

“…nanti sajalah, cepat ketik smsnya! Bilang padanya ‘sudah, sudah putus.’ Begitu.”kata Eunji.

Jiwon tertawa kecil mendengar kerusuhan yang ditimbulkan kedua gadis yang duduk di belakangnya, meski rasanya repot juga jika Bomi harus menjadi perantara mereka hanya karena Eunji tak bisa menggunakan ponsel.

 

“ Eunji!”

Kegiatan sms Eunji dan Bomi sedikit tertunda ketika mereka melihat Naeun dengan ditemani Myungsoo masuk ke dalam kelas mereka.

“ N..Naeun?”Eunji langsung berdiri, agak bingung sedikit terkejut, tentu karena ia tahu ia dan Naeun masih belum berdamai.

“ Mianhaeyo.. kau rupanya tahan ya mendiamkan aku beberapa hari ini? aku saja tidak tahan..” Naeun mendekat dan langsung memeluk Eunji, membuat hati Eunji luruh seketika dan tentu saja langsung memaafkan Naeun.

“ Tentu saja aku tidak tahan. Tapi aku tidak menyangka kau sampai mendatangiku kesini.”kata Eunji sembari membalas pelukan Naeun, “…ada masalah lagi?”kali ini gadis itu sedikit berbisik.

“ Ada. sangat ada.”jawab Naeun ikut berbisik, “…makanya aku sangat membutuhkanmu.”

“ Baiklah, apa yang bisa kulakukan?”

“ Santai saja dulu. Sekarang temani aku ke kantin yuk, aku sedang ingin sekali makan sup ayam. Aku tak mau dengan Myungsoo sunbae saja, aku ingin ditemanimu juga.”kata Naeun dengan sedikit aegyo agar Eunji tahu maksud gadis itu –ya, membutuhkan darahnya sebagai campuran makanan-.

“ Baiklah, kajja.”

“ Sedang ingin sekali makan sup ayam? Hmm.. seperti orang mengidam saja. Itu sih kata ibuku tentang ciri-ciri orang hamil, ibuku kan seorang bidan.”celetuk Bomi, membuat semua tersentak, terutama Myungsoo dan Naeun yang mendadak memucat.

“ Naeun hamil!?” bisik Jiwon sembari sedikit menarik Myungsoo agar mendekat padanya.

“ Nanti..nanti aku jelaskan.”jawab Myungsoo gugup, karena ia yakin Jiwon pasti akan sangat terkejut jika tahu tindakannya yang sudah terlampau jauh.

“ Bomiii.. kau ini bicara apa sih!?” Eunji jadi tak enak, ia segera menarik Naeun yang mendadak memucat, “…kajja, kita ke kantin.”

“ Kau hamil kan, Naeun!!?? Bagaimana rasanya bercinta dengan lelaki setampan Myungsoo?? Aiiih.. aku iri padamu!!” teriak Bomi saat Naeun sudah keluar bersama Eunji dan Myungsoo.

“ Hei! Jaga bicaramu!”tegur Jiwon, Bomi malah tertawa.

 

“ Sudah.. jangan didengarkan. Bomi memang blak-blakan orangnya..”ucap Eunji yang tahu Naeun mendengar teriakan Bomi barusan. Naeun mengangguk saja.

Namun siapa yang tahu bahwa perkataan Bomi barusan sudah cukup membuat Eunji curiga? Kini gadis itu menatap Myungsoo tajam. Namun tak disangka Myungsoo membalas tatapannya dengan sinis dan berbisik kepadanya.

 

“ Ada apa, putri Jung Hyerim? Mencurigaiku?”

“ L ?”

 

To be Continued

 

Cukupppp.. ini panjang sekali dan sepertinya membuat readers ‘kaget’ karena beberapa masalah baru yang muncul. Apakah bisa disebut sebagai kejutan? Hehehe.

Terimakasih sudah meluangkan waktu membaca ff amatir ini, terimakasih juga atas doa serta dukungan kalian selama author UAS kemarin. Atas doa kalian author menerima hasil yang sangat baik di semester ini 🙂

Oke, hope you like this part ! jangan lupa untuk meninggalkan like dan komentar. Jangan jadi silent readers yaa.. komentar kalian juga penentu cepat tidaknya author update, hehehe 😀

Sampai jumpa di part berikutnya!

 

Next >> Part 12 : True Love

Advertisements

210 responses to “THE PORTAL [ Part 11 : Reality ]

  1. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 6 : Destiny] | citrapertiwtiw·

  2. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 7 : Dream] | FFindo·

  3. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 7 : Dream] | citrapertiwtiw·

  4. Pingback: THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]] | FFindo·

  5. Pingback: THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]] | citrapertiwtiw·

  6. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s