How To Steal A Kiss – 4th B. Love Signs

5

Title : How To Steal A Kiss –4th B. Love Signs

Author : ohyeolliepop

Genre : Romance, School-life, (maybe) Comedy

Rating : T

Cast : Park Hyunjo (OC), All of EXO members, Choi Jinri [f(x)], Jung Soojung [f(x)], Park Cheonsa (OC)

Disclaimer : I own nothing but the storyline. Please be a good reader. Do not plagiarize.

 Previous :  1st  | 2nd  | 3rd | 4th A | 4th B

Park Hyunjo merasa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi dalam hidupnya. Belakangan ini, ia sering mengalami hal-hal ganjil yang terasa aneh dan tidak biasa.

Pertama, Jinri –teman baiknya yang manis dan menyenangkan–, mendadak berubah menjadi duplikat Cheonsa namun versi lebih gemar berdandan. Hal ini jelas membuat Hyunjo heran, karena sebelumnya Jinri tidak pernah menyentuh kosmetik sama sekali.

Apa yang menyebabkan Jinri berubah menjadi sedemikian rupa?

Kedua, Soojung membuatnya terjebak dalam sebuah kencan bersama dengan salah satu anggota EXO. Sebenarnya tidak bisa disebut jebakan, karena Soojung justru telah membantunya.

Tapi Hyunjo, kan, belum pernah pergi kencan sebelumnya. Ia takut akan bertindak konyol dan mempermalukan dirinya sendiri di hadapan Kris, the cold guy.

Ketiga, diam-diam dan tanpa disadari, Hyunjo mulai tertarik pada seseorang. Hyunjo belum dapat mendefinisikannya sebagai perasaan suka atau cinta, ia kira masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan seperti itu.

Sayangnya, di sisi lain Hyunjo justru merasa ia telah tertarik pada orang yang tidak tepat dan di waktu yang tidak tepat pula. Ia harus bisa mengubur perasaannya dalam-dalam. Hyunjo tidak mau membiarkan perasaannya tumbuh semakin liar dan menyebabkan dirinya terjebak dalam masalah lagi.

***

“Ah, bagaimana caranya mengambil buku itu? Letaknya tinggi sekali,” gerutu Hyunjo pelan. Tangannya sibuk menggapai-gapai setinggi yang ia bisa. Kedua kakinya pun ikut berjinjit dengan harapan akan membuatnya sedikit lebih tinggi, sehingga memungkinkannya untuk mengambil buku itu.

Dalam hati Hyunjo sibuk merutuki petugas perpustakaan, kenapa mereka harus menaruh buku astronomi di rak setinggi ini? Apa mereka tidak tahu bahwa tidak semua murid di sekolah ini memiliki tinggi 165 sentimeter ke atas? Mereka nampaknya tidak peduli sama sekali pada nasib murid dengan tubuh mungil bagaikan kurcaci seperti Hyunjo. Jika saja bukan Han songsaenim yang menyuruhnya untuk mengambil buku itu, Hyunjo tidak akan mau bersusah payah seperti ini.

Hampir menyerah, gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru perpustakaan –berusaha mencari bantuan–. Saat kegiatan belajar mengajar sedang berlangsung seperti saat ini, suasana perpustakaan sepi sekali. Satu-satunya sosok manusia yang dapat Hyunjo temukan hanyalah Kim songsaenim, penjaga perpustakaan yang terkenal sangat menyebalkan. Wajahnya tidak pernah terlihat bahagia. Keningnya selalu berkerut dan kerutannya akan bertambah dalam jika sedang berbicara dengan orang lain. Hyunjo tidak mau meminta bantuan padanya, kecuali jika Kim songsaenim adalah orang terakhir di muka bumi ini yang bisa ia mintai bantuan.

Hyunjo menggerutu sekali lagi sembari menjejakkan kakinya ke lantai dengan kesal. Ia tidak peduli jika Kim songsaenim memberinya tatapan kejam sebagai bentuk teguran, toh ia tidak menganggu siapa pun. Tidak ada orang di perpustakaan ini.

“Kau pikir dengan cara seperti itu kau dapat membuat bukunya turun menghampirimu?”

Mendengar seseorang bicara padanya, Hyunjo dengan cepat menoleh.

Orang itu.

Tanpa perlu dikomando, jantung Hyunjo berdegup dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Ia juga dapat merasakan dadanya berdesir untuk alasan yang tidak ia mengerti. Selama beberapa detik, tanpa sadar Hyunjo menahan napasnya. Ia tidak bisa memegang kendali atas dirinya sendiri saat ia sedang berhadapan dengan sosok yang satu ini.

Oh Sehun.

Laki-laki dengan tinggi badan semampai itu berdiri di sebelah Hyunjo, kemudian mengulurkan tangannya untuk mengambil buku astronomi yang Hyunjo inginkan. Tanpa perlu menggapai, tanpa perlu berjinjit. Sekarang buku itu sudah berada dalam genggaman Sehun.

“Lain kali, jika kau butuh bantuan, lebih baik minta tolong pada Kim songsaenim. Sampai kapan pun, kau tidak akan bisa mengambil buku di rak setinggi itu sendiri,” kata Sehun datar. Sejurus kemudian ia memberikan buku astronomi itu kepada Hyunjo.

Ragu-ragu, Hyunjo menerima buku itu dengan tangan bergetar. Kendalikan dirimu, bodoh, makinya dalam hati.

Kening Sehun berkerut samar karena gadis mungil di hadapannya ini tidak membalas perkataannya sama sekali. Padahal, ia baru saja mengejek gadis itu secara tidak langsung. Biasanya para gadis akan langsung menggembungkan pipi mereka kemudian berkata, “Enak saja! Aku bisa mengambil buku itu sendiri, kok!”. Namun gadis ini berbeda. Alih-alih membalas perkataannya, gadis itu sekarang justru terlihat salah tingkah. Sehun dapat mengetahuinya dengan jelas setelah merasakan tangan gadis itu bergetar saat menerima buku darinya. Gadis yang menarik.

“Sehun sunbaenim selalu datang tiba-tiba.” Entah secara sadar atau tidak, kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Hyunjo. Kalimat yang langsung ia sesali dua detik kemudian. Bodoh. Bodoh. Bodoh. Apa yang kau katakan?!

Sehun yang masik sibuk dengan pemikirannya tentang gadis itu tiba-tiba tersadar begitu menyadari gadis itu bicara padanya. Sayangnya, Sehun tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang gadis itu katakan. Ia hanya mendengar kata ‘Sehun sunbaenim’ saja, selanjutnya ia tidak tahu gadis itu mengatakan apa. “Ha? Apa yang kau katakan?” tanya Sehun, berharap Hyunjo akan mengulangi perkataannya.

Hyunjo menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Tidak ada. Bukan hal yang penting,” selorohnya. Sehun dapat menangkap kegugupan dari nada bicara gadis itu.

“Tidak, tidak. Tadi kau mengatakan sesuatu. Apa?” tanya Sehun penasaran.

“Itu, tadi aku bilang..” Hyunjo meremas roknya dengan panik. Berpikir, Park Hyunjo. Berpikir. Carilah sebuah alasan yang masuk akal. “Oh, ya! Tadi aku bilang.. Rak buku ini bagus sekali,” seloroh Hyunjo sembari meraba rak buku kayu yang ada di hadapannya. “Pasti rak buku ini dibuat dari kayu kualitas terbaik.”

Sudut bibir Sehun terangkat naik. “Rak buku ini?” tanyanya. “Rak buku ini jelek sekali. Aku bahkan tidak yakin besok rak buku ini masih bertahan dan belum rubuh saking jeleknya.”

Hyunjo meringis kecil. Terkadang ia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa diandalkan dalam situasi genting seperti tadi. Bukannya memberikan alasan yang masuk akal, ia justru memberikan alasan yang bahkan tidak akan dipercaya oleh anak kecil sekali pun. Dan yang membuat Hyunjo tidak mengerti, kenapa Sehun menimpali perkataannya? Hal itu membuat mereka terlibat dalam pembicaraan mengenai rak buku yang konyol dan tidak penting.

“Lupakan saja, sunbaenim,” ucap Hyunjo, diiringi tawanya yang terdengar janggal. “Tidak penting.”

Sehun mengendikkan bahunya sekilas. “Kau Park Hyunjo, kan?”

Pertanyaan Sehun mengejutkan Hyunjo. Hampir saja buku astronomi dalam dekapannya meluncur turun jika ia tidak dengan cepat mengendalikan dirinya. Menemukan fakta bahwa Sehun dapat mengenali dirinya membuat Hyunjo melayang-layang. Jika ia sebuah balon, mungkin ia sudah terbang sampai ke langit ke tujuh saat ini.

Sunbaenim mengenalku?” tanya Hyunjo hati-hati. Ia berharap suaranya tidak menunjukkan betapa gembiranya ia saat ini. Bagaimana pun juga ia harus tetap terlihat tenang, seolah fakta itu tidak membuat perubahan apa pun pada dirinya.

“Tentu saja,” sahut Sehun. “Murid tingkat tiga mana yang tidak mengenalmu? Kau kan selalu ada di kelas kami saat pelajaran kalkulus.”

Hyunjo ternganga. Jawaban Sehun benar-benar di luar dugaan dan tidak sesuai harapannya. Ia pikir Sehun akan berkata, “Tentu saja, bagaimana aku bisa tidak mengenali gadis yang telah mencuri hatiku?”. Atau jika itu terlalu berlebihan, paling tidak Sehun bisa memberikan jawaban lain yang tidak menyakitkan hati.

Hyunjo mendengus kecil. “Ya, murid tingkat tiga mana yang tidak mengenalku?” gumamnya pelan, namun lebih terdengar sebagai gerutuan.

Sehun tertawa kecil. Entah mengapa, melihat tingkah laku gadis itu membuatnya merasa nyaman. Sehun bahkan merasa aneh pada dirinya sendiri karena perasaan asing itu. “Kau tidak kembali ke kelas?”

Hyunjo menggigit bibir bawahnya. “Aku masih ingin disini bersama Sehun sunbaenim,” cicitnya pelan.

Demi Tuhan!

Setelah menyadari apa yang baru saja ia katakan, Hyunjo cepat membekap mulutnya dengan tangannya sendiri. Lagi-lagi ia kelepasan bicara di depan Sehun. Hyunjo berharap tubuhnya dapat menyusut sekecil mungkin dan tenggelam di dalam seragam sekolahnya, sehingga Sehun tidak dapat menemukannya. Ia benar-benar malu.

Sehun terhenyak. Tidak seperti tadi, kali ini ia dapat mendengar jelas apa yang Hyunjo katakan. Aku masih ingin disini bersama Sehun sunbaenim, kalimat itu terus berputar ulang dalam kepala Sehun. Ia sepenuhnya yakin bahwa ia tidak salah dengar, hanya saja ia cukup terkejut kenapa gadis itu bisa mengatakannya.

“Apa pun yang barusan sunbaenim dengar, itu tidak benar! Aku sedang mengigau. Tidak, tidak –maksudku, aku sedang mabuk –tunggu dulu, tidak! Maksudku bukan begitu!” cerocos Hyunjo panik. Ia benar-benar berharap bumi dapat menelannya hidup-hidup saat ini.

Bel tanda pertengahan jam berdering. Tidak terlalu keras, namun cukup membuat jantung Hyunjo hampir melompat keluar saking terkejutnya. “Oh, tidak, sudah bel! Aku harus segera kembali ke kelas, jika tidak Han songsaenim akan membunuhku! Aku pergi dulu, sunbaenim.” Hyunjo membungkukkan badannya kilat dan mengambil langkah seribu keluar dari perpustakaan.

Sehun menatap Hyunjo sampai sosok gadis itu menghilang di balik pintu perpustakaan. Tanpa sadar, sebuah senyuman tipis terulas di wajahnya.

***

Tao menoleh ke arah sekitarnya. Setelah memastikan bahwa situasinya aman, ia segera beranjak keluar dari tempat persembunyiannya. Namun belum sempat laki-laki itu menarik napas lega, ia cepat menarik tubuhnya kembali saat melihat sosok Sehun keluar dari perpustakaan.

Laki-laki itu menahan napasnya. Sehun? Tao memicingkan kedua matanya dan terus mengamati gerak gerik Sehun sampai teman baiknya itu menjauh dari perpustakaan. Jika tadi ia melihat Hyunjo keluar dari perpustakaan, kemudian diikuti oleh Sehun, itu berarti dua orang itu baru saja bersama-sama di dalam perpustakaan. Tao dapat menyimpulkan hal itu begitu cepat.

“Hey, apa yang kau lakukan disitu?”

Tao tersentak kaget. Ia menoleh dan mendapati Luhan berdiri tepat di belakangnya, sedang menatapnya aneh. “Kau terlihat seperti seorang mata-mata yang sedang mengintai targetnya,” seloroh Luhan.

Tao menghembuskan napasnya jengah, berharap Luhan tahu bahwa kehadiran laki-laki itu hampir membuatnya mati berdiri di tempat. “Kau seperti hantu yang selalu datang tiba-tiba.”

Luhan terkikik geli melihat Tao yang nampak kesal dan kaget, seakan-akan yang barusan bertanya padanya adalah Sadako –bukannya Luhan, yang sudah dikenalnya bertahun-tahun–. “Tenangkan dirimu,” kata Luhan di sela tawanya. “Sebenarnya apa yang kau lihat?”

“Sehun,” jawab Tao singkat, setelah ia bisa menenangkan dirinya sendiri. Namun setidaknya ia bersyukur karena yang memergokinya adalah Luhan. Bagaimana jika yang memergokinya adalah Baekhyun atau Chanyeol? Mungkin dua orang itu akan mengagetkannya dengan cara yang lebih mengerikan lagi. Tao bisa benar-benar mati berdiri dibuatnya, dan Tao tidak ingin mati muda karena alasan konyol seperti itu.

“Sehun?” Mata Luhan melebar, menunjukkan betapa antusiasnya ia mendengar nama teman baiknya itu disebut. “Ada apa dengan Sehun?”

“Tadi aku tidak sengaja lewat di dekat perpustakaan saat ingin ke toilet,” Tao memulai ceritanya. “Kemudian aku melihat Hyunjo –kau ingat gadis itu, kan?”

Luhan mengangguk cepat, tidak sabar mendengar kelanjutan ceritanya.

“–nah, aku melihat gadis itu keluar dari perpustakaan dengan wajah bersemu merah. Aku hanya ingin tahu lebih banyak tentang gadis itu, mengingat bahwa ia adalah objek taruhan antara Sehun dan Chanyeol. Jadi aku bersembunyi disini dan mengamati gadis itu sampai ia benar-benar pergi. Saat aku baru saja keluar, tahu-tahu Sehun keluar dari perpustakaan. Tidakkah itu berarti Sehun dan Hyunjo tadinya bersama-sama di dalam perpustakaan?” Tao terengah-engah setelah menamatkan ceritanya. Ia bersemangat sekali, seperti anak kecil yang sedang menunggu kartun favoritnya tayang di televisi.

“Bagaimana kau bisa menarik kesimpulan seperti itu?” Luhan kedengarannya ragu akan kesimpulan yang dibuat oleh Tao.

Tao memutar kedua bola matanya. “Jangan terlalu polos, Xi Luhan,” katanya. “Kau tahu sendiri Sehun bertaruh akan mendekati gadis itu. Jadi tidak mungkin mereka keluar dari tempat yang sama jika tidak sedang bersama-sama sebelumnya.”

“Bisa jadi tidak,” potong Luhan. “Mungkin mereka memang sama-sama ada di perpustakaan, namun dengan keperluannya masing-masing.”

Alis Tao terangkat naik, tidak lama kemudian tawanya pecah. “Kau cemburu?” tudingnya frontal.

Luhan tidak terima dan menjitak kepala Tao yang masih terpingkal-pingkal. “Kelihatannya ada sesuatu yang salah dalam otakmu!”

Tao mengaduh kesakitan, namun tawanya masih belum reda juga. Susah payah ia berkata, “Aku bercanda, aku bercanda.”

“Tidak perlu dibahas lagi,” kata Luhan ketus. “Berarti sekarang Sehun sudah mulai menjalankan taruhannya..”

“Benar,” sahut Tao, yang akhirnya bisa menghentikan tawanya. “Ini menarik. Kita harus mengabari teman-teman yang lain?”

“Kenapa yang lainnya perlu tahu tentang hal ini?” tanya Luhan tidak mengerti.

Tao mengusap wajahnya. “Semuanya kan sedang mencari tahu apa hubungan Sehun dengan Hyunjo sampai-sampai ia tidak bisa menolak taruhan konyol itu. Hal tadi tentu jadi informasi penting, karena ternyata Sehun benar-benar tidak mundur.”

Luhan mengangguk paham.

“Ayo, kita cari yang lain,” ajak Tao. Ia berjalan dengan langkah lebar, seakan tidak mau membuang waktu lebih banyak lagi.

***

“Kau mendapatkan surat izinnya?” tanya Hyunjo tidak percaya.

Saat ini ia dan Soojung sedang menghabiskan waktu istirahat mereka di kafetaria, sembari membahas kembali rencana kencannya dengan Kris.

Soojung mengibas-ngibaskan surat izin itu layaknya kipas dengan bangga. “Tentu saja. Kau meragukan kemampuanku untuk merayu guru-guru kolot itu?” guraunya.

Hyunjo tertawa. Guru-guru bagian pengurus perizinan terkenal kaku dan sangat terikat dengan aturan, sehingga sulit sekali untuk mendapatkan surat izin keluar area sekolah. Kelemahan mereka baru akan kelihatan jika sudah berhadapan dengan murid yang pandai bicara seperti Soojung. Buktinya, sekarang surat itu sudah didapatkan oleh Soojung dalam waktu tidak lebih dari sepuluh menit.

“Kau harus mengajariku bagaimana caranya membujuk guru-guru itu agar mau memberikan izin,” kata Hyunjo.

Soojung meneguk air mineralnya sampai tinggal tersisa setengah botol, kemudian bernyanyi, “Di dalam mimpimu! Ini adalah rahasia besar dari Jung Soojung yang tidak akan pernah ku beberkan pada orang lain.”

Hyunjo menjulurkan lidahnya. Tidak masalah jika Soojung memilih untuk menyimpan rahasia suksesnya, yang penting sekarang surat itu sudah berhasil ia dapatkan. “Jadi, nanti sore aku akan benar-benar kencan dengan Kris sunbaenim?”

Soojung mengangguk semangat. “Kau harus berhasil mendekatinya! Jika nanti kencanmu sukses, dia akan sering menghubungimu, memintamu jadi pacarnya, lalu kau akan mendapatkan ciuman itu dan taraaa.. Dare dari Cheonsa berhasil kau selesaikan!”

Hyunjo menopang dagunya, matanya menerawang ke arah langit-langit kafetaria. “Tidak sesederhana itu, Soojung,” keluhnya. “Aku bahkan tidak yakin kencanku nanti bisa berjalan dengan mulus. Kau tahu, kan, aku belum pernah pergi kencan sebelumnya. Aku takut akan bertindak memalukan dan mengacaukan kencan kami.”

Belum sempat Soojung mengatakan apa pun, Hyunjo kembali bicara. “Dan satu lagi, apakah kau yakin ini bisa disebut kencan? Aku tidak tahu apa yang kau dan Kris sunbaenim bicarakan lewat pesan, siapa tahu nanti hanya jalan-jalan biasa. Bukannya kencan.”

Soojung mendesah pelan. “Hyunjo-ku sayang, jika ada seorang laki-laki dan seorang perempuan pergi bersama-sama, hal itu bisa disebut kencan.”

“Dulu sebelum tinggal di dorm, aku sering jalan-jalan berdua dengan oppaku. Itu tidak bisa disebut kencan, kan? Mana mungkin aku kencan dengan oppaku sendiri?” bantah Hyunjo. “Memangnya apa yang kau bicarakan dengan Kris sunbaenim? Kenapa kau tidak mau memberitahuku?”

Soojung benar-benar dibuat mati kutu oleh Hyunjo. Lidahnya terasa kelu sehingga ia tidak sanggup mengatakan apa pun untuk membalas Hyunjo.

“Kenapa jadi diam begitu?” Hyunjo menatap Soojung lurus-lurus, seolah sedang berkata sudah, beritahu saja apa yang kau bicarakan dengannya.

Soojung menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal. Ia hanya tidak tahu bagaimana caranya mengatasi kecanggungan ini. “Itu.. Aku..” Soojung menggantungkan kalimatnya dan Hyunjo menunggu dengan tidak sabar. Wajahnya dibuat setegang mungkin agar Soojung mengerti bahwa ia benar-benar serius saat ini.

Soojung menunduk. Tidak ada gunanya menyembunyikan hal ini selamanya dari Hyunjo. Teman baiknya itu harus tahu apa alasan Kris, the cold guy, mau pergi kencan dengan hoobae seperti Hyunjo. “Aku bilang pada Kris sunbaenim, jika ia mau pergi kencan denganku –dalam hal ini berarti kau–, aku tidak akan menunjuknya untuk maju ke depan kelas saat pelajaran kalkulus. Aku terpaksa mengatakan itu karena aku teringat ceritamu kalau Lucifer sering memintamu untuk menunjuk murid yang akan maju dan rasanya itu satu-satunya cara agar Kris sunbaenim mau kencan denganmu.” Soojung menunduk semakin dalam. “Aku tahu kau pasti marah padaku. Maafkan aku.”

Hyunjo menahan napasnya selama beberapa detik. Otaknya sibuk mencerna penjelasan Soojung dan berpikir reaksi apa yang harus ia berikan. Namun, naluri Hyunjo bekerja lebih cepat daripada otaknya, sehingga ia langsung berteriak histeris. “KAU TIDAK WARAS!” Gadis itu memukul meja kafetaria sekuat tenaga dan hampir membuat botol air mineral Soojung yang tidak bersalah jatuh.

Tidak mengacuhkan puluhan pasang mata yang menatapnya, Hyunjo meneruskan, “KAU MENJATUHKAN HARGA DIRIKU!”

Soojung memejamkan kedua matanya erat-erat, sembari berdoa agar amarah Hyunjo cepat reda. Teman baiknya itu memang polos, namun ia tidak kalah mengerikannya dengan Lucifer jika sudah mengamuk.

“Kau benar-benar menjatuhkan harga diriku..” Suara Hyunjo terdengar beberapa oktaf lebih rendah dari sebelumnya, namun Soojung yakin Hyunjo masih sangat marah. Sekarang Hyunjo menelungkupkan wajahnya di atas meja kafetaria dan tangannya memukuli kepalanya sendiri. Jika orang yang tidak tahu apa permasalahannya melihat Hyunjo seperti itu, mereka mungkin akan berpikir Hyunjo sudah kehilangan akal sehatnya.

“Hyunjo-ya..,” panggil Soojung takut-takut. “Maafkan aku..”

Tiba-tiba Hyunjo mengangkat wajahnya dan menatap Soojung dengan ekspresi paling menakutkan yang pernah gadis itu lihat. “Memangnya Kris sunbaenim menolak kencan denganku jika tidak diiming-imingi hal seperti itu?” tanyanya nelangsa.

“Aku.. Eh, aku tidak tahu,” cicit Soojung. “Aku langsung mengajaknya kencan dengan iming-iming seperti itu.. Tadinya kupikir Kris sunbaenim pasti tidak mau pergi kencan dengan hoobae jika tidak ada timbal baliknya..”

Hyunjo menggembungkan pipinya, kalau perlu sampai pipinya meledak. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang Jung Soojung yang ia percaya sebagai the love expert bertindak seperti itu? Sekarang tamat sudah riwayatnya di mata Kris. Pasti Kris menganggapnya sebagai hoobae tidak tahu diri dan kecentilan yang terobsesi dengan dirinya sehingga rela melakukan apapun hanya untuk pergi kencan dengannya.

“Hyunjo-ya.. Jangan marah terus..,” rajuk Soojung. Ia menunjukkan aegyo-nya yang biasanya ampuh untuk meluluhkan hati Hyunjo, namun kali ini situasinya berbeda. Hyunjo masih kelihatan marah.

“Kalau kau tidak marah lagi, aku akan membelikanmu es krim,” bujuk Soojung, masih belum mau menyerah. Hyunjo tidak bergeming. “Double scoop!” Soojung menaikkan penawarannya.

Alis Hyunjo terangkat naik. “Triple scoop,” cetusnya.

Soojung melotot. “Kau ingin menghabiskan uang sakuku selama tiga hari?”

Hyunjo mengendikkan bahunya tidak peduli. “Atau aku tidak akan mau bicara denganmu sampai kita lulus nanti.”

Soojung mengerang putus asa. “Oke, oke, triple scoop,” ujarnya pasrah. “Tapi janji, kau tidak akan marah lagi.”

Hyunjo mengangguk. “Dan satu lagi, kau harus membantuku memilih baju untuk kupakai nanti.” Hyunjo bahkan tidak mengatakan ‘oke?’ atau ‘setuju?’ yang tandanya itu adalah perintah bagi Soojung.

Gadis berambut lurus itu mengangguk lemah. “Asal kau tidak marah lagi,” ucapnya sembari mengulurkan kelingking kanannya.

Hyunjo menautkan kelingkingnya dengan kelingking Soojung. “Hore, triple scoop!”

***

“Mereka kelihatan heboh sekali,” desis Jinri. “Kira-kira apa yang mereka bicarakan?”

Dari sudut kafetaria yang lain, diam-diam Jinri dan Cheonsa mengamati Hyunjo dan Soojung layaknya penguntit. Hal ini sebenarnya terasa aneh bagi Jinri karena seharusnya mereka berempat duduk di bangku yang sama, membicarakan hal yang sama, dan berbagi tawa bersama seperti biasanya –bukannya terpisah seperti saat ini.

“Mungkin mereka membicarakan.. Lay sunbaenim?” pancing Cheonsa. Matanya berkilat licik dan sayangnya Jinri tidak dapat melihat hal itu. Hati Jinri kembali memanas mendengar perkataan Cheonsa. Kemarin, ia hampir pingsan saat Cheonsa bilang ia melihat Hyunjo dan Lay sedang berdua di sekolah. Lebih menyakitkan lagi, Cheonsa bilang Lay merangkul Hyunjo dan gadis itu tidak menolak.

Hyunjo tidak menolak, poin itu membuat Jinri terpukul. Padahal ia sudah pernah memberi tahu Hyunjo ia adalah penggemar nomer satu Lay, seharusnya Hyunjo paham kalau ia tidak boleh mendekati laki-laki berkulit putih tersebut.

“Kau tidak boleh kalah dari Hyunjo,” tegas Cheonsa. “Kau harus bisa mendekati Lay sunbaenim dan membuktikan pada gadis itu bahwa kau jauh lebih cantik dan menarik darinya.” Saat ini Cheonsa benar-benar terdengar seperti ibu tiri Cinderella, namun Jinri yang sudah terlanjur dijerat emosi tidak dapat menyadarinya.

“Ya, aku tidak boleh kalah,” ucap Jinri pelan. “Aku sudah melangkah sejauh ini. Aku tidak boleh kalah.”

Jinri sudah mengambil langkah cukup jauh. Ia telah merubah total penampilannya –atas paksaan dari Cheonsa, tentunya– dan menaruh surat cinta di loker Lay. Ia tidak punya pilihan lain selain tetap maju untuk mendekati Lay dan membuktikan pada Hyunjo bahwa gadis itu telah salah mendekati seseorang yang seharusnya menjadi miliknya.

“Tapi..” Jinri menerawang. Biar bagaimana pun, Jinri tetaplah Jinri. Hati kecilnya mengatakan apa yang ia lakukan adalah salah. Tidak seharusnya ia bersikap seperti ini. Tidak seharusnya ia menuduh Hyunjo tanpa mengetahui kejadian yang sebenarnya.

“Tidak ada tapi-tapian, Choi Jinri.” Cheonsa bertindak cepat sebelum jiwa malaikat gadis itu bangkit dan mengacaukan semua rencananya. “Kau tidak ingin melihat Hyunjo pacaran dan mendapatkan ciuman dari Lay sunbaenim, kan?”

Jinri menggeleng pelan. Cheonsa tersenyum puas. “Jadi, kau tidak boleh kalah darinya.”

Susah payah Jinri menelan ludahnya, tenggorokannya terasa perih dan sakit. “Ya..,” bisiknya pelan. “Aku tidak boleh kalah.”

***

Xiumin menggigiti ujung pensilnya seperti seekor tupai. Meski pun kelihatannya aneh, itu adalah tanda bahwa laki-laki itu sedang berpikir keras. “Mana mungkin Sehun mau mendekati hoobae tidak populer dan terhukum seperti Hyunjo?”

Berita tentang Sehun bersama Hyunjo di perpustakaan sudah menyebar di antara anggota EXO –tentu saja karena Tao dan Luhan. Sekarang semuanya sedang mencoba menganalisa kenapa Sehun dengan mudahnya menerima taruhan itu.

“Jika yang didekati itu gadis secantik Seo Yeaji, sih, aku tidak heran,” celetuk Kai, menyebut nama gadis yang sedang ditaksirnya saat ini. “Tapi ini yang harus didekati adalah Hyunjo. Oh, ayolah, sebelum gadis itu mendapat hukuman dari Lucifer, aku tidak pernah melihatnya sama sekali. Benar-benar tidak populer.”

Chen mengangguk setuju. “Tidak kusangka Sehun mau melaksanakan taruhan itu.”

“Padahal hadiahnya hanya album-album tidak penting,” timpal Kris.

“Album-album itu edisi terbatas, jadi penting sekali!” Chanyeol tidak terima atas tuduhan Kris. Album-album itu didapatkannya dengan susah payah dan harganya juga tidak murah, karenanya Chanyeol harus merogoh kocek lebih dalam untuk bisa memilikinya.

“Bagiku itu tidak penting,” balas Kris acuh tak acuh.

“Menurutku itu penting!” seru Chanyeol tidak mau kalah.

Kyungsoo menepuk jidatnya melihat tingkah laku Kris dan Chanyeol yang seperti anjing dan kucing, nyaris tidak pernah luput dari pertengkaran sekecil apa pun. Biar begitu, Kyungsoo mengerti sebenarnya Kris dan Chanyeol saling mendukung satu sama lain –hanya saja, terkadang sikap kekanakan Chanyeol tidak bisa ditoleransi oleh Kris dan sikap cuek Kris lebih sering tidak dapat diterima oleh Chanyeol.

“Bocah, berhentilah bertengkar,” gerutu Tao.

“Kau memanggilku bocah?” Kris terlihat kesal. “Kau itu yang bocah ingusan. Ke kamar mandi saja minta ditemani. Cih, apa itu.”

“Aku minta ditemani ke kamar mandi bukan karena takut! Aku hanya ingin menghemat waktu mandi kita dan juga menghemat air di dorm. Itu justru menunjukkan betapa dewasanya Huang Zi Tao,” kelakar Tao.

“Ah, itu kan hanya alasanmu saja,” cibir Baekhyun ikut-ikutan. “Dasar panda penakut.”

“Setidaknya aku bukan pengguna kosmetik sepertimu,” seloroh Tao kesal. “Apa itu, kemana-mana harus memakai eye liner.”

“Kau berkata seakan-akan kau tidak pernah memakai kosmetik saja! Aku pernah melihatmu memakai two way cake agar terlihat lebih putih.” Entah kenapa, Kai jadi ikut menyerang Tao.

“Kau juga melakukan perawatan agar terlihat lebih putih!” sungut Tao.

“Itu tidak benar!” Kai memberengut menahan malu.

“SUDAH CUKUP!” sentak Luhan. “Kenapa kalian bertengkar seperti anak kecil?!”

“Mereka memang masih kecil, hanya aku orang dewasa disini,” celetuk Xiumin. Luhan menghujaninya dengan tatapan tajam, membuat Xiumin mengoreksi ucapannya. “Oke, tidak hanya aku. Kau juga.”

“Dan aku juga,” sahut Lay yang sedari tadi belum buka suara.

Kyungsoo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan teman-temannya. “Jadi soal Sehun bagaimana?” tanya Kyungsoo, mengembalikan topik pembicaraan mereka.

“Bagaimana jika kita mencari tahu tentang Hyunjo ke teman-teman dekatnya saja?” usul Suho.

“Apa mereka mau membeberkan rahasia teman dekat mereka sendiri?” Chen ragu.

“Siapa yang bisa menolak pesona EXO?” Suho menyunggingkan senyumnya dan berpose seakan-akan ia sedang melakukan sebuah pemotretan.

“Siapa yang bisa menolak pesona uang-uang Suho?” timpal Chanyeol, yang membuat Suho langsung mendaratkan sebuah jitakan di kepalanya.

Luhan rasa ide Suho ada benarnya juga. Mencari informasi tentang keterkaitan Hyunjo dan Sehun pasti bisa lebih mudah jika mereka memiliki sumber yang tepat. Teman-teman dekat Hyunjo. “Junmyeon ada benarnya juga,” kata Luhan –terbiasa memanggil nama asli Suho jika sedang memuji laki-laki itu–. “Tapi siapa yang akan melakukannya?”

Suho menatap Lay. Chanyeol menatap Lay. Baekhyun menatap Lay. Kai menatap Lay. Chen menatap Lay. Xiumin menatap Lay. Tao menatap Lay. Kris menatap Lay. Kyungsoo menatap Lay. Lay menatap teman-temannya dengan wajah kebingungan.

“Aku? Kenapa harus aku?” tanyanya panik.

“Karena kau memiliki wajah terpolos di antara kita semua,” jawab Baekhyun sekenanya.

“Ya, mereka akan langsung percaya padamu dan mau menceritakan semuanya,” imbuh Kai.

Chanyeol mengacungkan ibu jarinya. “Kau memang orang yang tepat dalam hal ini!”

“Dan bukankah kau memiliki penggemar murid tingkat dua?” celetuk Tao, mengungkit surat cinta yang diterima Lay hari ini. “Dari Choi Jinri. Murid tingkat dua. Ia bahkan menyebutkan kelasnya dengan jelas.”

“Benar juga!” sambar Kyungsoo. “Jika aku tidak salah, kelas Jinri adalah kelas yang sama dengan Hyunjo. Berarti mereka berteman.”

Luhan bertepuk tangan dengan semangat. “Sungguh kebetulan yang luar biasa!”

“Jadi, Lay, tugasmu adalah mencari informasi selengkapnya tentang Hyunjo ke Choi Jinri,” tegas Xiumin.

Semua orang bertepuk tangan, seakan merayakan penderitaan yang baru saja didapatkan Lay. “Kalian jahat,” desah Lay putus asa.

Diam-diam Kris tersenyum kecil. Ia tidak akan membiarkan Lay mencari informasi tentang Hyunjo sendirian.

***

Hyunjo meremas bagian bawah sweater kelabunya, berusaha menetralkan rasa gugup yang menyerangnya sejak beberapa menit yang lalu. Saat ini Hyunjo sedang menunggu Kris di kafe dekat sekolah, sesuai kesepakatan yang telah dibuat oleh Kris dan Soojung.

Di hadapannya ada secangkir teh rasa apel yang masih mengepulkan uap panasnya. Hyunjo tidak berniat untuk menyentuh minumannya sedikit pun. Yang ia pikirkan saat ini adalah bagaimana pendapat Kris tentang dirinya? Apakah Kris akan berpikir yang bukan-bukan karena iming-iming dari Soojung? Ah, hampir saja Hyunjo mengacak rambutnya frustasi jika saja ia tidak ingat bahwa ia harus menjaga penampilannya sebaik mungkin.

“Menunggu lama?”

Hyunjo mendongak. Selama beberapa detik, pandangannya bertemu dengan sepasang bola mata berwarna cokelat tua yang benar-benar indah. Selama beberapa saat itu pula rasa gugup Hyunjo menguap begitu saja, digantikan oleh perasaan ingin berteriak sekencang mungkin layaknya seorang fangirl.

“Kris sunbaenim?” tanyanya memastikan, meskipun ia sudah tahu dengan jelas bahwa orang itu memang Kris. Bukan Sehun, Chanyeol, Lay, atau anggota EXO lainnya.

Kris tidak menyahut. Ia menarik bangku di depan Hyunjo dan duduk disana dengan santainya, tidak menyadari bahwa gadis di hadapannya ini sudah hampir pingsan dibuatnya. “Kau sudah pesan,” komentar Kris singkat melihat secangkir teh milik Hyunjo.

“Tapi aku belum meminumnya sama sekali,” respon Hyunjo cepat. “Kris sunbaenim bisa meminumnya jika sunbaenim mau.”

Kris mengernyit dan Hyunjo dapat mengartikannya ke dalam tiga kemungkinan; kemungkinan pertama, Kris tidak suka teh. Kemungkinan kedua, Kris jijik setengah mati karena Hyunjo menyuruhnya untuk minum minuman yang sebelumnya miliknya. Kemungkinan ketiga, Kris berpikir bahwa Hyunjo telah mencampuri minuman itu dengan racun dan sejenisnya.

“Ini tidak beracun,” kata Hyunjo buru-buru, sebelum Kris salah paham. Namun hal itu justru membuat Hyunjo semakin terdengar meragukan.

“Tidak usah, terima kasih. Aku pesan sendiri saja,” tolak Kris halus. Kemudian ia membuka-buka buku menu dan mencari sajian apa yang paling memenuhi seleranya.

Hyunjo menarik napasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya lambat. Tetap tenang, Hyunjo. Semuanya akan baik-baik saja.

Setelah memberikan pesanannya kepada pelayan yang kebetulan lewat, Kris memusatkan pandangannya kepada Hyunjo. “Jadi, ada apa?” tanya Kris.

Hyunjo melongo. “Apanya yang ada apa?”

Kris terkekeh samar. “Kau mengajakku bertemu, ada apa? Apa kau ingin mencari informasi tentang Sehun dariku? Kalau iya, sebenarnya kau salah orang. Seharusnya kau bertanya pada Luhan karena ia lah yang paling dekat dengan Sehun. Atau, kenapa kau tidak mengajak Sehun kesini? Kalian bisa saling mengenal satu sama lain. Atau jangan-jangan, kalian sudah saling mengenal?” Kris terus berbicara tanpa henti, tidak menyadari perubahan air muka Hyunjo yang memucat. Kenapa Kris membahas Sehun?!

“Kris?”

Belum selesai Kris bicara, sebuah suara memotong perkataannya. Kris dan Hyunjo sama-sama menoleh untuk melihat siapa yang bicara.

Rahang Kris mengeras.

Hyunjo terlihat bingung.

Sementara orang itu terlihat berbinar bahagia. “Kris, apa kabar? Lama tidak bertemu.”

Tanpa aba-aba, Kris menggamit lengan Hyunjo dan menarik gadis itu keluar dari kafe. Kris tidak menghiraukan panggilan orang itu yang terus menyebut namanya, sementara Hyunjo mendadak panik. Ia tidak tahu kemana Kris akan membawanya, siapa orang itu, dan apa yang sebenarnya terjadi.

Namun satu hal yang Hyunjo sadari..

Genggaman tangan Kris terasa begitu hangat dan menenangkan.

-to be continued-

Annyeong^^

Ini chapter 4th B, lanjutan dari chapter 4th A kemarin~

Aku baca feedback dari kalian di chapter sebelumnya dan rasanya bener-bener campur aduk. Kenapa ada yang bilang makasih? Seharusnya aku yang bilang makasih karena kalian masih mau baca ff aku yang abal-abal ini :’)

Buat yang bilang ffnya kelamaan dan udah hampir lupa sama jalan ceritanya, I’m sorry. I’ve tried my best for it.

Thank you for reading. Readers saranghaja!

Regards,

ohyeolliepop

281 responses to “How To Steal A Kiss – 4th B. Love Signs

  1. Kan kemaren ada dibilang kalo hyunjo kayak pernah liat sehun dimana gitu, apa sehun juga ngerasa gitu. tp sehun nya udah ingat duluan gitu. chonsa kok gitu sih apa dia dari dulu emang gak suka ya sama hyunjo. penasaran banget sama lanjutannya. hwaiting yaa ^^

  2. hyunjo.. stop!
    lu sukanya ama siapa sih…
    ko maruk bgt…
    gua iri jadinya 😦

    lay nyari info tentang hyunjo ke jinri???
    oow… jinri makin salah paham aja dong nantinya…

    tapi ko si ceonsa ngomporin si jinri si? ko jahat si dia???

  3. waahh peluang salah pahamnya jinri makin besar nii. tapi cheonsa knapa ya, knapa dia kaya manas2in jinri gitu??

  4. Owalah jdi yg liat lay sm hyunjoo itu jinri atas hasutan cheonsa yaa, cheonsa kau kejam bgztzz sih manas2in jinri gt, aaaaaaa sehun baik bgtz sih mau ambilin buku hyunjoo gt demi taruhannya berhasil yaa…
    yaaahhhhh ini mah yg ada jinri bakal salam paham tingkat tinggi bgtz sm hyunjoo, lay knpmkau hrs kau sih yg cri informasi, knp ngga chanyeol atau baekhyun saja…
    Utk soojung kau emang bnr2 hebat bgtz dah dlam menemukan taktik biar kris bsa ketemuan sm hyunjoo…
    itu syp yg ditsmuin kris sm hyunjoo saat mrk dikafe??

  5. Menang banyak ya Hyunjo. Btw itu cheonsa kok karakter nya menyebalkan ya-_- Jinri jangan dengar kata Cheonsa. Papi Suho emang mempesona jika bersama uangnya 😀 btw itu yg manggil Kris siapa? Dan selamat Hyunjo menang banyak digenggam tangannya sama Kris 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s