The Destiny (prolog)

Ini bukan ff saya (ifaloyshee) melainkan ff dari salah seorang teman, tolong di appreciate ya guys!

IMG_20131223_223122

 

Author             :           Nurreka (@insp_nurreka)

Tittle                :           The Destiny

Genre              :           Fantasy, Romance, Family

Main Cast        :           -Oh Sehun ( Pure Witch)

-Park Jihyun (OC) (Pure Witch)

Support Cast    :           -Park Jungsoo a.k.a Leeteuk as Jihyun’s father or Mr. Park (Pure Witch)

-Kim Taeyeon as Jihyun’s mother or Mrs. Park (Pure Witch)

-Park Chorong as Jihyun’s sister (Pure Witch)

-Park Chanyeol as Jihyun’s brother (Pure Witch)

                                    -Kim Joon Myun as Jihyun’s cousin (Pure Witch)

                                    -Exo members as Sehun’s friends (Pure & Half Witch)

                                    -A pink members as Jihyn’s friends (Pure & Half Witch)

                                    -Doojoon, Gikwang, Hyunseung BEAST as Vampire

                                    – . . . as Red Black (Half Witch)

                                    -Others cast

The Destiny ( PROLOG )

Pernahkah kau berfikir jika dunia sihir itu ada?

Pernahkah kau berfikir makhluk buas bernama Vampir itu benar-benar ada?

Jika jawabanmu tidak, kau salah besar.

Mereka benar-benar ada. Mereka nyata.

Mereka berada di sekeliling kita, para manusia.

Para manusia itu hanya tidak menyadari keberadaan mereka, para vampir dan penyihir yang bertugas untuk menjaga perdamaian dan melindungi mereka dari serangan sihir jahat yang selalu mengintai.

Sihir jahat itu akan menyerang, suatu saat nanti.

Membunh makhluk pribumi yang tak bersalah, yang tak menegtahui apa-apa tentang sihir.

Saat itu, ratapan tangis selalu terdengar. Suara teriakan yang memilukan ada dimana-mana, seolah menjadi kewajiban di setiap tempat yang ada.

Hanya satu orang yang dapat menghentikan segala kekacauan yang terjadi.

Ya, hanya satu orang.

Seseorang yang takdirnya sudah ditakdirkan. Yang memiliki kekuatan yang tidak pernah ada sebelumnya.

***

Seoul, Hospital

Leeteuk memandangi sosok bayi mungil di pangkuannya yang tertidur pulas. Wajah bayi itu begitu damai. Sementara dua orang anaknya yg lain yang masih berumur 5 tahun dan 3 tahun menjinjitkan kaki mereka, berusaha untuk melihat adik mereka yang baru lahir beberapa jam yang lalu.

“Adik baru pasti perempuan.”

“Tidak. Adik baru harus laki-laki.”

Anio. Adik baru harus perempuan. Kami akan bermain boneka. Kau tidak boleh ikut, Chanyeol.”

“Tidak Bisa. Adik baru harus laki-laki. Kami akan bermain sepak bola bersama nanti. Nuna main sendiri saja.”

“Perempuan!”

“Laki-laki !”

Leeteuk hanya menghela nafasnya melihat Chorong dan Chanyeol yang berdebat tentang adik mereka yang harus laki-laki atau perempuan. Ia lalu berjongkok, menyamakan tingginya dengan kedua orang anaknya, membuat Chorong dan Chanyeol terdiam seketika, menunggu ayah mereka untuk berbicara.

“Chorongie, Chanyeolie. Adik kalian perempuan. Namanya Jihyun, Park Jihyun. Kalian mau, kan menjaga adik kalian dengan baik?”

Chorong dan Chanyeol mengangguk pasti, menyanggupi permintaan Leeteuk.

“Pasti, Appa. Kami pasti akan menjaga Jihyunie. Benar, kan Chanyeol?”

Chanyeol menganggukkan kepalanya lagi. Leeteuk hanya mengusap-usap kepala Chorong dan Chanyeol bergantian, merasa gemas dengan tingkah anak-anaknya.

Appa, Jihyunie memiliki tanda lahir di tangannya.” Ucap Chorong pelan. Ia lalu menunjuk-nunjuk pergelangan tangan kanan Jihyun. Leeteuk kemudian menatap pergelangan tangan kanan anaknya. Hatinya mencelos saat melihat tanda lahir itu. Ia hanya bisa terdiam.

Chagiya, apa takdir itu jatuh padanya?”

Leeteuk berdiri, lalu menatap Taeyeon, wanita yang beberapa jam yang lalu berjuang melahirkan bayi mungilnya dengan tatapan nanar.

Ne, Chagi. Itu takdirnya.”

Leeteuk kembali memandangi wajah bayi mungilnya yang menggeliat pelan. Laki-laki itu tahu, bayi mungilnya itu suatu saat nanti akan menghadapi hal terburuk dalam hidupnya, dengan segala takdir yang telah ditakdirkan untuknya.

***

            Park Jihyun. Gadis itu memandangi Chorong dan Chanyeol yg sedang asyik mengubah benda-benda yang ada di sekitar mereka menjadi bentuk yg lain dengan tatapan kesal. Ya. Dia kesal karena tidak bisa merubah benda apapun. Padahal sekarang usianya sudah menginjak 15 tahun. Aneh memang. Seharusnya ia sudah bisa merubah benda apapun sejak ia masih bayi, mengingat ia adalah seorang penyihir darah murni, bukan campuran. Tapi sampai saat ini, tidak ada tanda-tanda yang menunjukan bahwa ia adalah seorang penyihir.

Eonni, Oppa. Kenapa aku berbeda? Kenapa aku tidak sama seperti kalian? Kenapa kalian bisa merubah benda apapun sedangkan aku tidak?”

Chorong dan Chanyeol yang tadi asyik merubah benda-benda di sekitar mereka kini terdiam. Keduanya lalu saling menatap dan kemudian menghampiri Jihyun yang terduduk di ruang keluarga rumah mereka.

“Jihyunie, dengarkan Eonni. Kau berbeda. Kau istimewa. Kau memiliki kekuatan yang Eonni ataupun Oppa dan bahkan seluruh penyihir yang ada di dunia ini tidak memilikinya. Hanya saja semua itu belum waktunya. Perhatikan tanda lahirmu.”

Jihyun lalu memperhatikan tanda lahirnya yang terdapat pada pergelangan tangan kananya. Tanda lahirnya cukup aneh. Hanya berupa bintik-bintik kecil yang sewarna dengan warna kulitnya. Hampir tidak terlihat memang, dan bentuknya abstrak.

“Apapun yang terjadi, jangan pernah kau perlihatkan tanda lahirmu itu pada siapapun. Kau mengerti, kan Jihyunie?”

Jihyun mengangguk. Yang pasti ia hanya perlu menyembunyikan tanda lahirnya. Cukup itu saja yang perlu dilakukannya.

***

2 years later. . .

Jihyun menarik nafasnya perlahan dan menghembuskannya dengan perlahan pula. Keringat dingin meluncur bebas dari lehernya membasahi tanda lahirnya. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu menghela nafasnya lega.

Itu pasti hanya halusinasiku saja.

Ya. Itu pasti hanya halusinasinya saja. Tidak mungkin tanda lahirnya mengeluarkan cahaya berwarna biru tua. Itu mustahil.

Ia lalu teringat kenapa ia bisa terbangun tengah malam seperti ini. Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi sekali, melainkan sejak satu minggu yang lalu. Mimpi itu. Mimpi yang sama setiap malamnya. Mimpi yang selalu mengganggu pikirannya selama seminggu terakhir ini. Bangunan tua yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya, beberapa penyihir dengan cahaya yang berwarna putih, suasana sekolah, beberapa orang dengan wajah yang pucat, seorang penyihir dengan cahaya sihir yang berwarna merah pekat seperti darah dan . . . seorang penyihir laki-laki yang  wajahnya tidak terlihat sama sekali. Seolah-olah ada kabut tebal yang menghalani pandangannya untuk melihat wajah laki-laki itu.

Emm. . . ini sedikit aneh. Kenapa hanya penyihir itu yang wajahnya tidak terlihat sedangkan yang lainnya terlihat dengan jelas.

Jihyun akhirnya memilih untuk kembali melanjutkan tidurnya, mengabaikan rasa penasaran yang masih mengusik pikirannya.

***

Jihyun terus mengomel di sepanjang trotoar yg menuju ke arah rumahnya tentang kenapa tidak ada satupun orang yang mengingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 17. Ya. Tidak ada satupun yang mengingatnya. Semua orang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Sejak pagi, Eonni, Oppa, Eomma dan Appanya bahkan tidak ada di rumah. Teman-teman sekelasnya juga bahkan tidak mengingat hari yang begitu spesial baginya, mereka disibukkan dengan ulangan mendadak yang diadakan oleh Kim Songsaenim. Ck, benar-benar hari yang buruk.

Bahkan Joonmyun Oppa tidak mengingatnya.

Jihyun lalu menendang kerikil kecil yang dilihatnya sebagai bentuk pelampiasan kekesalannya. Langkahnya lalu terhenti saat ia menyadari  dari arah yang berlawanan ia melihat sebuah mobil yang melaju kencang, tidak menyadari ada seekor kucing yang hendak menyeberangi jalan raya. Jihyun lalu mendorong kucing itu. Kucing itu selamat. Tapi tidak dengan dirinya. Tubuhnya terhempas ke aspal jalan raya setelah sebelumnya terdengar bunyi klakson mobil yang begitu memekakkan telinga. Kini seluruh tubuhnya terasa sangat sakit dan perih. Ia juga bisa mencium bau amis darah yang begitu menyengat. Matanya lalu membelalak saat melihat tanda lahirnya yang mengeluarkan cahaya berwarna biru tua bersamaan dengan rasa sakit seperti tersengat listrik berkekuatan rendah yang terasa dilengannya. Rasa sakit itu lalu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan setelah itu ia seperti mendengar suara orang-orang yang seperti dengungan lebah lalu setelahnya semuanya menjadi gelap.

Author             :           Nurreka (@insp_nurreka)

Tittle                :           The Destiny

Genre              :           Fantasy, Romance, Family

Main Cast        :           -Oh Sehun ( Pure Witch)

-Park Jihyun (OC) (Pure Witch)

Support Cast    :           -Park Jungsoo a.k.a Leeteuk as Jihyun’s father or Mr. Park (Pure Witch)

-Kim Taeyeon as Jihyun’s mother or Mrs. Park (Pure Witch)

-Park Chorong as Jihyun’s sister (Pure Witch)

-Park Chanyeol as Jihyun’s brother (Pure Witch)

-Kim Joon Myun as Jihyun’s cousin (Pure Witch)

-Exo members as Sehun’s friends (Pure & Half Witch)

-A pink members as Jihyn’s friends (Pure & Half Witch)

-Doojoon, Gikwang, Hyunseung BEAST as Vampire

– . . . as Red Black (Half Witch)

-Others cast

The Destiny ( PROLOG )

Pernahkah kau berfikir jika dunia sihir itu ada?

Pernahkah kau berfikir makhluk buas bernama Vampir itu benar-benar ada?

Jika jawabanmu tidak, kau salah besar.

Mereka benar-benar ada. Mereka nyata.

Mereka berada di sekeliling kita, para manusia.

Para manusia itu hanya tidak menyadari keberadaan mereka, para vampir dan penyihir yang bertugas untuk menjaga perdamaian dan melindungi mereka dari serangan sihir jahat yang selalu mengintai.

Sihir jahat itu akan menyerang, suatu saat nanti.

Membunh makhluk pribumi yang tak bersalah, yang tak menegtahui apa-apa tentang sihir.

Saat itu, ratapan tangis selalu terdengar. Suara teriakan yang memilukan ada dimana-mana, seolah menjadi kewajiban di setiap tempat yang ada.

Hanya satu orang yang dapat menghentikan segala kekacauan yang terjadi.

Ya, hanya satu orang.

Seseorang yang takdirnya sudah ditakdirkan. Yang memiliki kekuatan yang tidak pernah ada sebelumnya.

***

Seoul, Hospital

Leeteuk memandangi sosok bayi mungil di pangkuannya yang tertidur pulas. Wajah bayi itu begitu damai. Sementara dua orang anaknya yg lain yang masih berumur 5 tahun dan 3 tahun menjinjitkan kaki mereka, berusaha untuk melihat adik mereka yang baru lahir beberapa jam yang lalu.

“Adik baru pasti perempuan.”

“Tidak. Adik baru harus laki-laki.”

Anio. Adik baru harus perempuan. Kami akan bermain boneka. Kau tidak boleh ikut, Chanyeol.”

“Tidak Bisa. Adik baru harus laki-laki. Kami akan bermain sepak bola bersama nanti. Nuna main sendiri saja.”

“Perempuan!”

“Laki-laki !”

Leeteuk hanya menghela nafasnya melihat Chorong dan Chanyeol yang berdebat tentang adik mereka yang harus laki-laki atau perempuan. Ia lalu berjongkok, menyamakan tingginya dengan kedua orang anaknya, membuat Chorong dan Chanyeol terdiam seketika, menunggu ayah mereka untuk berbicara.

“Chorongie, Chanyeolie. Adik kalian perempuan. Namanya Jihyun, Park Jihyun. Kalian mau, kan menjaga adik kalian dengan baik?”

Chorong dan Chanyeol mengangguk pasti, menyanggupi permintaan Leeteuk.

“Pasti, Appa. Kami pasti akan menjaga Jihyunie. Benar, kan Chanyeol?”

Chanyeol menganggukkan kepalanya lagi. Leeteuk hanya mengusap-usap kepala Chorong dan Chanyeol bergantian, merasa gemas dengan tingkah anak-anaknya.

Appa, Jihyunie memiliki tanda lahir di tangannya.” Ucap Chorong pelan. Ia lalu menunjuk-nunjuk pergelangan tangan kanan Jihyun. Leeteuk kemudian menatap pergelangan tangan kanan anaknya. Hatinya mencelos saat melihat tanda lahir itu. Ia hanya bisa terdiam.

Chagiya, apa takdir itu jatuh padanya?”

Leeteuk berdiri, lalu menatap Taeyeon, wanita yang beberapa jam yang lalu berjuang melahirkan bayi mungilnya dengan tatapan nanar.

Ne, Chagi. Itu takdirnya.”

Leeteuk kembali memandangi wajah bayi mungilnya yang menggeliat pelan. Laki-laki itu tahu, bayi mungilnya itu suatu saat nanti akan menghadapi hal terburuk dalam hidupnya, dengan segala takdir yang telah ditakdirkan untuknya.

***

            Park Jihyun. Gadis itu memandangi Chorong dan Chanyeol yg sedang asyik mengubah benda-benda yang ada di sekitar mereka menjadi bentuk yg lain dengan tatapan kesal. Ya. Dia kesal karena tidak bisa merubah benda apapun. Padahal sekarang usianya sudah menginjak 15 tahun. Aneh memang. Seharusnya ia sudah bisa merubah benda apapun sejak ia masih bayi, mengingat ia adalah seorang penyihir darah murni, bukan campuran. Tapi sampai saat ini, tidak ada tanda-tanda yang menunjukan bahwa ia adalah seorang penyihir.

Eonni, Oppa. Kenapa aku berbeda? Kenapa aku tidak sama seperti kalian? Kenapa kalian bisa merubah benda apapun sedangkan aku tidak?”

Chorong dan Chanyeol yang tadi asyik merubah benda-benda di sekitar mereka kini terdiam. Keduanya lalu saling menatap dan kemudian menghampiri Jihyun yang terduduk di ruang keluarga rumah mereka.

“Jihyunie, dengarkan Eonni. Kau berbeda. Kau istimewa. Kau memiliki kekuatan yang Eonni ataupun Oppa dan bahkan seluruh penyihir yang ada di dunia ini tidak memilikinya. Hanya saja semua itu belum waktunya. Perhatikan tanda lahirmu.”

Jihyun lalu memperhatikan tanda lahirnya yang terdapat pada pergelangan tangan kananya. Tanda lahirnya cukup aneh. Hanya berupa bintik-bintik kecil yang sewarna dengan warna kulitnya. Hampir tidak terlihat memang, dan bentuknya abstrak.

“Apapun yang terjadi, jangan pernah kau perlihatkan tanda lahirmu itu pada siapapun. Kau mengerti, kan Jihyunie?”

Jihyun mengangguk. Yang pasti ia hanya perlu menyembunyikan tanda lahirnya. Cukup itu saja yang perlu dilakukannya.

***

2 years later. . .

Jihyun menarik nafasnya perlahan dan menghembuskannya dengan perlahan pula. Keringat dingin meluncur bebas dari lehernya membasahi tanda lahirnya. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu menghela nafasnya lega.

Itu pasti hanya halusinasiku saja.

Ya. Itu pasti hanya halusinasinya saja. Tidak mungkin tanda lahirnya mengeluarkan cahaya berwarna biru tua. Itu mustahil.

Ia lalu teringat kenapa ia bisa terbangun tengah malam seperti ini. Kejadian seperti ini tidak hanya terjadi sekali, melainkan sejak satu minggu yang lalu. Mimpi itu. Mimpi yang sama setiap malamnya. Mimpi yang selalu mengganggu pikirannya selama seminggu terakhir ini. Bangunan tua yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya, beberapa penyihir dengan cahaya yang berwarna putih, suasana sekolah, beberapa orang dengan wajah yang pucat, seorang penyihir dengan cahaya sihir yang berwarna merah pekat seperti darah dan . . . seorang penyihir laki-laki yang  wajahnya tidak terlihat sama sekali. Seolah-olah ada kabut tebal yang menghalani pandangannya untuk melihat wajah laki-laki itu.

Emm. . . ini sedikit aneh. Kenapa hanya penyihir itu yang wajahnya tidak terlihat sedangkan yang lainnya terlihat dengan jelas.

Jihyun akhirnya memilih untuk kembali melanjutkan tidurnya, mengabaikan rasa penasaran yang masih mengusik pikirannya.

***

Jihyun terus mengomel di sepanjang trotoar yg menuju ke arah rumahnya tentang kenapa tidak ada satupun orang yang mengingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 17. Ya. Tidak ada satupun yang mengingatnya. Semua orang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Sejak pagi, Eonni, Oppa, Eomma dan Appanya bahkan tidak ada di rumah. Teman-teman sekelasnya juga bahkan tidak mengingat hari yang begitu spesial baginya, mereka disibukkan dengan ulangan mendadak yang diadakan oleh Kim Songsaenim. Ck, benar-benar hari yang buruk.

Bahkan Joonmyun Oppa tidak mengingatnya.

Jihyun lalu menendang kerikil kecil yang dilihatnya sebagai bentuk pelampiasan kekesalannya. Langkahnya lalu terhenti saat ia menyadari  dari arah yang berlawanan ia melihat sebuah mobil yang melaju kencang, tidak menyadari ada seekor kucing yang hendak menyeberangi jalan raya. Jihyun lalu mendorong kucing itu. Kucing itu selamat. Tapi tidak dengan dirinya. Tubuhnya terhempas ke aspal jalan raya setelah sebelumnya terdengar bunyi klakson mobil yang begitu memekakkan telinga. Kini seluruh tubuhnya terasa sangat sakit dan perih. Ia juga bisa mencium bau amis darah yang begitu menyengat. Matanya lalu membelalak saat melihat tanda lahirnya yang mengeluarkan cahaya berwarna biru tua bersamaan dengan rasa sakit seperti tersengat listrik berkekuatan rendah yang terasa dilengannya. Rasa sakit itu lalu mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Dan setelah itu ia seperti mendengar suara orang-orang yang seperti dengungan lebah lalu setelahnya semuanya menjadi gelap.

25 responses to “The Destiny (prolog)

  1. Pingback: [chapter 1] The Destiny | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s