Fall

Author : misstis a.k.a Bella

Main Cast : Kim Kibum (Key SHINee), Park Hyun Sun

Other Cast : Other member SHINee, Ryu Jihye, Lee Seunghyun (Seungri Big Bang)

Genre : Friendship, romance, little bit psychology

Length : Universe

Rating : PG-15

Suf

Udah lama ga publihs fanfic. Huaaaahh! Karena length-nya univere, jadi ga baca cerita sebelumnya pun ga masalah. Masih ada nyambung-nyambungnya dikit sih. Tapi ga mempengaruhi alur utama kok. Enjoy ;D

Senin, 31 Desember 2012

Bodoh! Seharusnya aku tidak meladeni orang-orang tidak berguna itu. Argh! Aku terlambat!

Aku terus berlari tersusul oleh waktu. Tak ada hujan salju malam ini. Sungguh sebuat keberuntungan. Festival tahun baru kali ini lebih ramai dari yang aku bayangkan. Aku dengar deretan kios tahun ini lebih panjang dari sebelumnya. Aku tidak yakin apa aku ingat kapan terakhir kali datang ke acara semacam ini. Aku tidak begitu suka keramaian. Namun kalau seseorang yang penting memintaku, kenapa aku harus menolak?

Aku berlarian melewati banyak orang yang ramai berlalu lalang silih berganti. Jihye bilang ia berada di dekat toko penjual Chapssaltteok dekat pohon besar. Di mana itu? Aku sudah melewati empat penjual Chapssaltteok namun tak ada pohon.

Hei, itu! Sebuah pohon! Dasar bodoh! Bagaimana bisa aku tak bisa melihat pohon sebesar itu dari tadi? Tch! Pohon itu ada di barisan tengah. Sementara aku ada di barisan sebelahnya. Bagus, aku harus memutar kalau begini. Atau rencana lain, aku menerobos melewati tenda salah satu penjual. Tenda apa yang bisa aku terobos? Tak ada celah. Terpaksa aku harus memutar.

Tapi… apa aku akan membiarkan Jihye menunggu lebih lama lagi?

“Maaf permisi. Aku ingin ke sana,” seruku sambil hendak menerobos melalui stand buchimgae dengan terburu-buru. Hampir saja aku menyandung anak kecil yang sedang memakan buchimgae-nya kalau saja kucing di stand ini tidak mengeong dan menarik pandanganku ke bawah.

“Hei! Kau! Mau apa kau! Tidak sopan! HEI!” hardik si penjaga stand.

“Maaf!” seruku keras sambil berlari menuju pohon besar itu. Benar, pohon itu! Ada penjual Yakisoba dekat sana. Dan itu Jihye!

“Jihye!” panggilku. Jihye yang sedang bermain-main dengan Toki-chan, kucingnya, langsung menatapku sambil tersenyum riang. Ia pun langsung menggendong Toki-chan dan berdiri menyambutku.

“Kibum! Ternyata kau benar-benar datang,” seru Jihye senang.

“Ah, maaf. Aku terlambat. Tadi ada urusan,” seruku sambil sedikit terengah-engah.

“Hihihih… tidak apa-apa. Setidaknya kau datang.”

“Kau sudah lama menungguku?”

“Ah, tidak kok. Heheheh… Eh, Kibum. Pipimu?” Jihye memicingkan matanya menyelidik diriku. Jangan-jangan bekas perkelahian tadi. Ck! Jihye tidak harusnya tahu soal tadi. Aku pun refleks memalingkan wajahku. Tapi justru itu membuat Jihye makin curiga.

“Kibum!” seru Jihye dengan nada ngotot.

“Bukan apa-apa,” seruku datar, tak berani menatapnya. Namun aku bisa merasakan matanya yang bening itu terus menerus manatapku mencari kejujuran dariku.

“Kau habis berkelahi lagi?” tanya Jihye. Menyesalkan diriku karena telah begitu, lagi. Aku pandang matanya, membuatku tak tega. Aku pun menghela napas. Dengan itu saja Jihye sudah paham bahwa dugaannya memang benar.

“Aku kan sudah bilang. Seharusnya…”

“Kapan kembang apinya dimulai?” potongku. Aku tahu pasti dia akan menceramahiku lagi.

“Kibum!”

“Kapan kembang apinya dimulai? Kau tidak ingin melewatkannya kan,” seruku lagi. Malam ini adalah festival. Jadi seharusnya bahasan hari ini menyenangkan.

“Lima menit lagi. Tapi pasti sudah sangat terlambat untuk dapat tempat yang bagus,”seru Jihye. Ah, masih ada waktu! Tidak akan terlambat untuk sampai ke sana.

“Ayo!” seruku sambil meraih tangannya, mengajaknya berlari.

“Kibum. Mau kemana? Pelan-pelan,” seru Jihye yang agak tertatih-tatih karena berlari sambil menggendong Toki-chan. Aku tak menjawab. Jihye masih terlihat bingung dan masih ingin protes soal memar di pipiku. Tapi ia hanya menurutiku. Keluar dari kerumunan menuju suatu tempat sedikit mendaki. Jalan setapak itu mengatarkan kami pada suatu tempat.

Sebuah hotel. Hotel bintang empat. Ke situlah tujuan kita.

“Kita mau apa di sini? Ini kan hotel mahal,” tanya Jihye.

“Sudah ikut saja,” kataku. Kamu pun masuk ke dalam lift saat pintu lift terbuka. Aku langsung menekan tombol lantai 3. Tak berselang lama, kami sudah sampai. Tapi belum sampai ke tempat tujuanku. Kita masih harus menaiki tangga. Aku sudah tidak sabaran, tapi sadar Jihye memang mudah lelah, aku pun menuntunnya pelan-pelan. Namun akhirnya kami pun sampai.

“Waaaaahh!” seru Jihye takjub begitu sampai ke atas. “Tempat ini bagus sekali! Lihat! Lampion dari festival jadi tampak indah dari sini,” seru Jihye kagum.

“Meooong~” Toki-chan ikut senang. Dia memang suka mengikuti mood pemiliknya.

“Kita akan menonton kembang api dari sini,” kataku sambil tersenyum tulus.

“Sungguh?”

DUUARR DUAARR

Bertepatan dengan saat itu kembang api pun melunjur dan meledak di langit. Bunga-bunga api itu terbang tumpang tindih silih berganti. Dan semua itu tampak begitu indah dari atas sini.

“Tepat sekali, ya?” kataku.

“Oh! Kibum! Bagaimana kau bisa mendapatkan tempat sebagus ini untuk kita menonton kembang api? Ini luar biasa,” seru Jihye senang sambil mengamit tanganku. Tidak sia-sia usahaku kemarin untuk bernegosiasi dengan pemilik hotel. Aku tahu persis akan semua tempat strategis akan penuh untuk menonton kembang api. Tapi aku sungguh beruntung bisa berada di sini hanya berdua, dengan Jihye.

“Kau menyukainya?”

“Sangat!”

“Baguslah,” seruku lega. Kami pun terdiam sambil mengagumi  berbagai luncuran kembang api . Dalam iringan pancaran sinar dan suara letupan kembang api, aku teringat sesuatu.

“Jihye…”

“Iya?”

“Seharusnya kau tidak bersamaku lagi…” ucapku lirih. Seketika Jihye tersontak, melepas tanganku. Matanya menatapku lekat-lekat. Sementara kembang api terus terbang beriringan.

***

November, 2013

“Bagaimana Kibum? Menurutmu lebih bagus ini atau ini?” tanya Minho dengan cueknya. Ehm, permisi. Aku baru berjuang untuk bisa tertidur di bangkuku. Lalu Minho datang membuat kegaduhan. Bagaimana bisa ia merusak waktuku yang berharga, hanya untuk menanyakan jam tangan apa yang lebih bagus untuk pacarnya?! Argh!

“Darimana kau dapatkan katalog barang wanita seperti itu? Menggelikan!” ucapku sinis.

“Ah, Kibumie! Jangan begitu,” seru Minho merajuk. Kibumie? Dafuq!

“Pergi kau dari dari sini!” usirku. Kenapa anak ini semakin menjengkelkan saja?

“Ayolah, aku kan hanya ingin bertanya mana jam tangan yang lebih bagus. Yang kuning ini kelihatannya bagus. Tapi setahuku Inae suka warna biru. Cuman yang pink ini juga cocok untuknya. Aku rasa…”

“Tanyakan saja langsung padanya apa susahnya? Apa tidak ada ide yang lebih bagus ketimbang merusak kenyamananku?” handikku.

“Aih, masa menanyakannya langsung? Itu tidak akan jadi kejutan lagi namanya. Ini kan untuk ulang tahunnya. Jadi harus istimewa.”

“Ya ya ya… Apa pun itu. Aku tidak mengerti dengan pola pikir kalian yang pacaran. Sana, tanya pada yang lain saja! Atau tanya pada Jonghyun hyeong. Dia baru saja jatuh cinta pada Jina, jadi pasti pola pikirnya sama denganmu.”

“Ssstt… Kibum kau lupa?” bisik Minho sambil melirik ke arah sebuah bangku. Oh ya, aku lupa. Jina sekelas denganku. Song Jina, anak baru aneh di kelasku yang membuat Jonghyun hyeongi jatuh cinta. Aku bisa lihat dia tersipu malu. Tapi aku tak ingin repot-repot ke sana dan merangkai kata untuknya. Sudah biar dia saja yng atasi perasaannya sendiri.

“Hmph!” gumam acuh.

“Cih, baiklah. Oh ya, ada yang titip salam lagi padamu. Dari Jungeun teman sekelasku. Mau kau balas apa?” tanya Minho.

“Tidak ada,” kataku acuh.

“Aish, kau ini selalu begitu. Kau ini tidak bersyukur sekali banyak wanita yang mendekatimu. Lirik mereka sedikit apa susahnya, heh?” seru Minho. Mulai lagi kan. Cukup aku malas meladeninya. Aku lapar. Aku mau ke kantin.

“Kau mau ikut denganku ke kantin atau pergi sebelum aku memukulmu?” seruku sambil keluar dari bangkuku.

“Mengalihkan pembicaraan, huh? Ayo, aku juga lapar,” kata Minho. Bagus, dia berhenti mengoceh. Kadang aku suka berpikir Minho bukanlah tipikal teman yang sesuai denganku. Tapi di akhir dia bisa menghapuskan pemikiran itu dengan sikapnya. Setidaknya dia yang paling bisa diandalkan.

***

Aku tidak benci kimia. Aku suka kimia. Aku tidak membenci pelajaran apapun. Tapi aku benci jika harus ke lab kimia yang berada di lantai 3! Kalau lantai 2 saja aku masih bisa terima. Namun ini lebih. Ada 3 tingkat! Maksudku, berada di tempat tinggi. Ide buruk macam apa hingga manusia mau membahayakan dirinya di tempat yang berbahaya semacam itu? Gila! Sungguh gila.

Lagi-lagi aku harus hadapi tangga menurun ini. Apa ada orang yang akan melihatku? Aku pikir tidak. Aku keluar dari lab paling akhir tadi dan di sini tempatnya agak memojok. Jadi aku pikir aman.

Aku pun menempel dengan tembok, berpegangan dengan erat, lalu menuruni tiap anak tangga satu demi satu. Perlahan, bagus sekali! Kau bisa Kibum, sedikit lagi. Berhasil! Bagus aku selamat.

“Kibum?” Aku tersentak. Hyunsun? Sejak kapan ia…! Sial!

“Apa kau lihat-lihat?” seruku sinis.

“Tidak. Ehm, Kibum aku tidak tahu kau…”

“Apa?” bentakku.

“Tidak ada. Sampai jumpa,” serunya buru-buru pergi. Aku bisa mendengar dia terkikik sedikit. Menjengkelkan sekali! Dia pikir ini lucu? Oh benar, sungguh menggelikan karena ada satu orang lagi yang tahu. Mungkin memang derita semacam itu yang harus aku alami. Tuhan begitu adil rupanya! Hahah! Kalian bisa sebut aku agamais, atau sinisme. Terserah kalian saja lah!

“Yo, Kibum!” Jonghyun hyeong tiba-tiba datang sambil merangkul dan menarik leherku. Argh, kebiasaan!

“Ish, hyeong! Hentikan itu!” seruku kesal. Dia malah tertawa. Bukannya langsung melepaskan tangannya, dia malah menatap ke arah tangga.

“Kau habis dari lab kimia, huh? Kali ini berapa rekor turunmu? Empat puluh lima menit?” gurau Jonghyun hyeong.

“Aish! Diam kau! Kalau bukan karena praktikum, aku juga tak akan ke sana,” dumalku.

“Oh, benar. Kita sering bolos di jam ini kalau hari Selasa,”seru Jonghyun hyeong.

“Kau sendiri? Tumben masih ada di sekolah jam segini? Kau tidak sedang memata-matai gadis baru di kelasku lagi kan?” tanyaku.

“Hahah! Tidak! Orang-orang di Casino sedang tidak senang sekarang. Mereka jadi agak mengganggu,” jelas Jonghyun hyeong.

“Kenapa? Kau kalah taruhan dan berhutang pada mereka?”

“Cih! Kau bercanda? Aku yang menang. Yah, menurutku ini lumayan juga,” seru Jonghyun hyeong sambil mengayun-ayunkan sebuah kunci MOBIL!

Ferarry? Milik Gorila itu?” seruku tak percaya. Aku pernah dengar Jonghyun hyeong menggunakan motornya sebagai bahan taruhan, lalu dia kalah. Tidak lama dia sudah punya motor baru memang. Tapi kalau dia bisa memenangkan mobil si Ketua Gorila itu (Aku tidak ingat namanya tapi percayalah, kalian akan dengan mudah mengenalinya. Mungkin kalian berminat jika kalian berpikir pria berambut lebat di tangan, kaki, bahkan dada itu seksi. Yaks!), berarti seharusnya Jonghyun hyeong menggunakan mobilnya sebagai bahan taruhan!

“Kau benar! Hanya aku membuat motor orang-orang itu jatuh. Mereka pasti tak akan memaafkanku. Padahal aku sudah bersusah payah mencoba berbaik hati pada orang-orang seberang. Oh, tapi paling tidak aku bisa kabur dengan mobil itu. Untung saja Gorila itu tidak meninggalkan bau busuk di mobilnya. Kau harus mencobanya sesekali. Mobil itu hebat!” seru Jonghyun hyeong. Padahal Jonghyun hyeong saja sudah sangat keren. Bahkan lebih keren dari Ferarry itu. Yah, apa maunya sajalah.

“Jadi aku tidak bisa melewati jalan pintas, heuh?”

“Heh! Hanya memutar sedikit apa susahnya sih?”

“Ah, ya ya ya. Terserahlah!”

“Oh, Kibum. Kau sudah dengar soal Ketua Besar?”

“Ketua Besar? Siapa?”

“Aku juga tidak tahu. Aku dengar Ketua Besar itu adalah ketua sesungguhnya dari kelompok itu.”

Satu lagi misteri dalam hidupku. Hebat!

“Oh, Kibum. Kau ingin ke kelas?” tanya Jonghyun tiba-tiba.

“Ya, kenapa?”

“Boleh aku menyamar menjadi siswa baru di kelasmu sekali ini?”

Hah? Cih! Mustahil! Aish! Si bodoh ini semakin jenius saja.

“Lupakan saja!”

***

“Sebenarnya sewaktu SMP aku ikut klub basket. Tapi aku pikir panjat tebing juga tidak buruk,” seru Taemin sambil melepas alat-alat safety di tubuhnya. Ia baru saja latihan. Sekolah ini punya wall climbing untuk latihan, pemberian alumni lama. Selain oleh senior ekskul panjat tebing, hanya saat-saat tertentu atau dengan izin, wall climbing itu bisa digunakan.

“Yaaah, kau mendapati satu-satunya SMA yang tak punya klub basket. Sungguh menjengkelkan,” seru Minho sambil mendribble bola basket miliknya.

“Salahkah kepala sekolah yang terlalu pendendam pada anggota klub basket terdahulu,” timpal Jinki hyeong.

Seperti biasa, pukul 5 sore. Aku, Minho, Taemin, Jonghyun hyeong, dan Jinki hyeong berkumpul di lapangan basket. Hubungan pertemanan yang aneh. Apa yang aku ingat dari awal mula pertemanan kami adalah saat aku mendapati Minho bermain basket sendirian saat aku dan dia baru masuk sekolah menengah atas ini. Aku ingat sekali bagaimana menyedihannya dia. Kasihan sekali. Aku mendekatinya. Mulanya hanya dia, sambil saling menyelidik. Tanpa banyak beramah tamah—itu bukan sifatku—langsung ku rebut bolanya, dan membuat kami bertanding sengit berdua tanpa berbicara. Setelah akhirnya skor seri, kami kelelahan. Barulah kami benar-benar berkenalan. Dari sanalah Minho jadi satu-satunya teman yang bisa aku andalkan, meski kita berbeda kelas.

Lalu dengan Jonghyun hyeong. Aku kenal denganya tak lama setelah dekat dengan Minho. Tanpa sengaja aku tertangkap basah berada di kawasan sekolah seberang masih dengan seragam sekolah. Mana aku tahu kalau gangster di sana adalah musuh bebuyutan gangster di sekolahku? Dan mana aku tahu kalau tempat itu adalah daerah kekuasaan mereka? Delapan lawan dua. Sungguh tidak adil. Bahkan sebagian dari mereka membawa stik baseball. Sialnya lagi, aku tidak membawa pisau butterflyku hari itu. MOS sialan! Memang seharusnya aku melanggar aturan MOS hari itu. Pasti akan sangat menarik kalau ada darah mengalir dengan halus.

Aku punya pengalaman berkelahi sebenarnya, namun aku ragu apa Minho pun begitu. Dia kuat dengan fisik, tapi tidak mentalnya. Jadi semua terserah padaku. Rasanya percuma saja bernegosiasi dengan senior-senior bodoh itu. Mereka bodoh karena mudah termakan provokasi. Di sanalah senior Jonghyun hyeong muncul. Dia menghajar delapan orang bodoh itu sendiri. Hampir saja Jonghyun hyeong habis jika saja aku tidak menghajar mereka yang menahan Jonghyun hyeong. Setelah itu aku mengenal Jonghyun hyeong. Kabar baiknya, tak ada lagi senior menyebalkan yang menggangguku sejak itu. Jonghyun hyeong bukan ketua dari geng apa pun. Tapi tak ada yang berani macam-macam padanya di sekolah. Tidak karena kemampuannya. Tidak karena kuasanya. Tidak karena kekayaan orang tuanya.

Lalu Jinki hyeong, aku mengenalnya begitu saja sebagai teman Jonghyun hyeong. Si pemegang piagam olimpiade Fisika, dan otomatis dia tentu jago Matematika. Dia lebih tua dariku, hanya aku tidak pernah menganggapnya begitu. Karena dia tidak terlihat begitu!

Kemudian Taemin. Dia masih baru. Saat MOS kemarin Taemin menjadi bulan-bulanan teman seangkatanku karena… tidak tahu juga. Aku dengar Taemin sering memandangi orang satu persatu dan diam saja. Tidak peduli orang itu sudah memandanginya dengan sinis. Lalu di saat-saat tertentu ia bisa saja mendekati satu orang yang baru ia perhatikan dan Taemin akan membeberkan begitu banyak hal yang ia ketahui dari orang itu. Banyak hal! Jinki hyeong korbannya. Taemin mengetahui nama Jinki hyeong, dan dia bilang ia pernah tidak sengaja melihat Jinki hyeong menggunakan sepeda roda empat saat ia masih berusia SMP. Kami semua tersetak. Pantas ia menjadi bulan-bulanan. Maka kami pun memutuskan untuk melindunginya—setelah kami puas mengerjai Jinki hyeong tentu saja. Jadi ada satu anak indigo di antara kami. Walau Taemin besikukuh dia hanya mengingat dan bukannya membaca pikiran, kami tetap menganggapnya indigo.

Kembali ke saat ini.

“Begitu. Oh, tapi Kim noona  benar-benar hebat dalam mendaki, ya. Dia bahkan lebih hebat dari senior-senior laki-laki lainnya,” seru Taemin.

“Iya, Kim Hyunsun itu. Dia bahkan bisa menandingin kemampuan pacarnya yang ketua di sana. Dia sekelas denganmu kan tahun lalu, Kibum?” tanya Minho.

“Hmph!” Aku mendengus kesal. Teringat dengan kejadian tadi siang membuatku kesal. Kenapa harus Hyunsun?

“Hei, kau ini kenapa, heuh?” tanya Jonghyun hyeong. Semua menatapku. Kenapa mereka berempat ini peka sekali sih dengan perubahan sikapku? Atau ekspresiku saja yang begitu kentara.

“Ah, Kibum pasti sedang kesal karena kepergok tengah bersusah payah turun dari tangga oleh Hyunsun itu,” tebak Jinki hyeong. DOOR!! Tebakan mujur! Bagaimana pula ia menebaknya?

“Tck!” decakku kesal.

“Ahahahah… aku benar! Kau juga berekspresi begitu saat Ibu Sakamoto memergokimu turun dari tangga,” tawa Jinki hyeong dengan puasnya.

“Aish! KAU! Kau ingin mati!” teriakku kesal sambil meninju bahunya. Jinki hyeong merintih sedikit, namun tetap tertawa. Kemudian yang lain pun ikut tertawa. Kemudian seseorang bergumam memecah tawa.

“Kala Maharani melukis kebebasan dalam warna kemolekan di kayangan, Mahajana terkungkung, terembet belenggu rana. Menepis realita jeruji itu hanyalah sebenang madukara…”

Itu gumam-an Taemin.

Diam.

Hening.

Masih hening.

“Ehm… ah! Hmm…?”

“Oh… itu! Tidak…”

“Aku tidak begitu yakin, kalau…”

Yaaaaaa!!! Taemin! Hentikaaaan! Aku bingung!” pekik Jonghyun hyeong sambil memegangi kepalanya. Reaksi yang sering terjadi saat Taemin mulai bergumam aneh.

Taemin memiringkan wajahnya. Naif. Astaga, apakah anak ini tidak bisa berhenti berbicara dengan Bahasa lama? Sebenarnya dia hapal berapa kosakta sih?

“Oh, Kibum-san. Aku ingat sesuatu,” seru Taemin memecah tawa kami. Taemin pun mengambil sesuatu dari tasnya.

“Ada titipan dari fans di kelasku. Surat dari Hyekyo dan Song I. Dan coklat dari Inae,” ucap Taemin.

“Inae?!” seru Minho syok.

“Hwang Inae, bodoh! Bukan Kim Inae pacarmu,” seru Jonghyun hyeong sambil memperlihatkan kartu yang terselip di coklat itu.

“Oh! Heheh…” Minho cuman bisa nyengir.

“Percuma saja, Taemin. Dia tidak akan menerimanya,” timpal Jinki hyeong.

“Buat kalian saja!” kataku cuek, sambil beranjak dari tempat ini.

“Hei, Kibum kau mau kemana?” tanya Jonghyun hyeong.

“Toilet!”

“Mau aku temani? Barangkali kau butuh bantuan,” seru Minho.

The heck!

***

Agaknya aku menangkap apa yang dikatakan Taemin kemarin. Hanya sedikit sih. Mungkin yang dia maksud, Hyunsun saja bisa bersenang-senang dengan ketinggian sementara aku malah menakutinya. Yeah, kurang lebih seperti itu. Siapa juga yang memikirkan ocehan bocah itu? Aku yang memikirkannya, benar! Tanya siapa yang langsung pergi ke perpustakaan hanya untuk meminjam kamus besar Bahasa Korea. Mungkin aku harus membeli satu, berjaga-jaga saja.

Aish! Kenapa juga aku jadi membicarakan ucapan bocah naïf itu? Aku kan sedang mempermasalahkan ketakutanku sendiri. Aku tak takut pada apapun, tidak bercanda! Tapi berat untuk aku mengakui bahwa aku takut pada ketinggian. Atau bahasa ilmiahnya bisa hyperphobia atau acropobhia. Sebenarnya… banyak hal terjadi. Atau terjadi begitu saja.

“Fiuuuhh…” Aku menarik napas dalam. Mencoba meredam ketegangan. Hal yang biasa terjadi jika aku berada di lantai 2. Setidaknya yang seperti ini masih bisa ku atasi. Terjatuh dari lantai 2 ke tanah tak akan membunuhku semudah itu!

BRAK!!!

“Mau kemana kau??!”

“Menyingkir dariku!!!!”

“Kau pikir bisa seperti itu, heh!!!”

“Tinggalkan aku sendiri!”

“Oh!!! YA! Terserah kau saja, NONA!!!”

Suara makian itu langsung terdengar lantang begitu pintu klub panjat tebing terbuka—terbanting—tepatnya. Ini sudah amat larut. Maksudku, sudah jam 8 malam. Di dekat sini ada bimbel dan siswa-siswinya sudah selesai belajar dari satu jam yang lalu. Aku pikir hanya tinggal aku dan beberapa anggota komite disiplin yang masih ada di sini. Yang lain sedang menuju gudang sekolah, membereskan sisa arsip lama yang baru mereka bongkar. Aku malah penasaran ingin melihat-lihat gedung sekolah sendiri di malam hari seperti ini. Ingin mencoba merasakan adrenalin dari hal-hal mistik. Tapi aku rasa tidak ada yang seram di sini.

Hei, keluar topik! Jadi intinya, kenapa masih ada orang lain di sekolah? Dan, tunggu! Itu Hyunsun, kan? Dengan pacarnya? Mereka bertengkar, huh? Pertengkaran mereka dasyat sekali. Aku melihat pacarnya, yang aku tahu bernama Seunghyun, langsung pergi ke lantai bawah tanpa menyadari kehadiranku. Sementara Hyunsun yang tadi histeris, kemudian menutupi wajahnya dan menangis. Tidak sadar aku sedang memperhatikannya juga, huh?

“Hiks hiks hiks…”

TIba-tiba Hyunsun berlari, sambil menutupi wajahnya. Belum menyadari kehadiranku. Tunggu! Dia mau lari kemana?? Ke atap sekolah??!!

“Heeeeeeiiii!!!” teriakku sambil mengejarnya. Dia tak mendengarku. Tangisnya terlalu menjadi. Dia terus berlari ke atas dan aku terus mengikutinya. Mau apa gadis itu?! Dia benar-benar ke atas sekolah malam-malam begini?!!

“Kau!!! Berhenti!!!”

BRAK!!!

Aku menghantam pintu yang membantasi tangga dan atap. Saat langit malam yang cerah itu menyambutku, baru aku sadari bahwa langit tampak lebih dekat dari biasanya. Tunggu, ini… Aku ada di atap! Di atas lantai 3. Lantai 4! Tempat setinggi ini…

“Ish!” decakku frustasi. Kakiku melemas. Aku pusing. Mual. Aku merasa kakiku melemah. Vertigo. Pandanganku sempoyongan. Lantai ini seakan bergoyang-goyang. Bagaimana jika gempa? Bagus, bagaimana caranya untuk turun? Semua terasa dingin. Rasanya aku mau muntah.

“Seunghyun…?” Aku bisa mendengar Hyunsun berseru. Nadanya bergetar, tapi aku menangkap ada rasa harapan di dalamnya. Tidak tahu! Aku tidak ingin melihat ke bawah sana. Aku pun berpegang erat pada mulut pintu dan menjatuhkan diri ke lantai.

“Bukan,” seruku, sedikit kesal. Bodoh! Sekarang aku terjebak di sini. Seharusnya aku biarkan saja Hyunsun sendiri. Bagaimana pula aku tidak sadar bisa menaiki anak tangga sebanyak itu?

Aku bisa melihat siluet tubuh gadis itu karena terpaan sinar bulan. Di berjalan ke dekatku. Dan dia menyalakan lampunya. Menampakan diriku yang tengah terduduk lemas sambil memegangi mulut pintu seperti orang bodoh.

“Kibum?” seru Hyunsun kaget. “Sejak kapan kau di sini? Dan… kau tampak pucat? Kau baik-baik saja?” tanyanya kemudian.

“Tidak! Aku tidak baik! Kau, kenapa masih ada di sekolah jam segini dan berlari ke sini sambil menangis? Kau ingin bunuh diri, heuh?” seruku kesal. Hyunsun malah memiringkan kepalanya.

“Kau sendiri belum pulang,” katanya santai. Padahal baru saja dia menangis histeris tadi. Tapi dia memang tak bisa menyembunyikan matanya yang sembab.

“Komite disiplin sedang rapat malam ini. Jelas aku belum pulang. Bukannya malah berduaan malam-malam dalam ruang klub,” sindirku.

“Huh, memangnya sekolah ini milikmu? Hmm… tunggu dulu. Rasakanya aku baru pertama kali melihatmu berada di sini. Kau sudah berapa kali kemari sebelumnya?” tanya Hyunsun.

“Tidak pernah!” seruku singkat.

“Tidak pernah? Kau pasti bercanda!” seru Hyunsun.

“Aku juga tidak ingin bercanda hanya untuk menghibur gadis yang bertengkar dengan pacarnya,” seruku ketus.

“Kau ini tidak sopan sekali,” seru Hyunsun sambil cemberut. Dia pun menjauhiku sambil melipat tangan. Aku bisa melihat dia perjalan ke beton pembatas yang tingginya kurang lebih hanya satu meter. Tunggu, mau apa gadis itu?

“Heeeeehh! Kau! Kau mau mati?” seruku.

“Aku tidak akan bunuh diri. Aku hanya ingin duduk di sini,” ucapnya.

“Kau gila? Kau bisa terjatuh!” seruku ngeri melihat dia berada di tempat berbahaya semacam itu.

“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa kok,”katanya. Aish, gadis ini keras kepala sekali. Baiklah, kalau itu maunya! Tapi walau aku bilang begitu, tetap saja aku ngeri melihat dia duduk di beton membelakangiku. Ditambah dia sering melakukannya. Dia benar-benar sinting.

“Aku suka tempat tinggi. Kau?” katanya tiba-tiba. Hah? Maksudnya? Kenapa ia terkesan seperti sedang mengejekku? Menjengkelkan!

“Tidak!” seruku singkat.

“Tidak?”

“Tidak!”

“Kenapa?” Kenapa? Perlu aku katakan kenapa? Tidakkah ia lihat betapa berbahayanya tempat tinggi itu? Ish, aku tak ingin menjelaskannya!

“Aku suka tempat tinggi. Setiap sedih, aku kemari. Aku seakan bisa melihat langit semakin dekat, seakan aku semakin dekat dengan Tuhan. Lalu segala penyebab kesedihanku yang ada di bawah menjauh dan mengecil,” ceritanya.  “Kalau di tempat seperti ini, aku juga jadi merasa tinggi,” ucap Hyunsun.

“Yah, aku tahu kau pendek!” seruku sambil tersenyum mengejek. Akhirnya ada kesempatan untuk mengejeknya. Sedari tadi hanya aku yang merasa ditertawakan di sini!

“Iiiihhh… Bukan begitu!” protesnya sambil duduk menghadap ke arahku. Aku tak bisa untuk tidak tertawa, tawa meremehkan. Memang seperti ini cara tawaku. Tapi memangnya seberapa sering aku tertawa? Tidak banyak.

“Maksudku, aku jadi merasa… seakan aku bisa melakukan apa pun. Bahkan impianku bagai berada dalam genggamanku,” seruku mantap. Aku tak membalas perkataannya. Dia masih menatapku.

“Oh ya. Sejak masuk SMA, setiap ada kembang api aku pasti kemari. Kembang api selalu tampak bagus di sini, lho. Kau juga harus menonton kembang api dari sini,” seru Hyunsun. Kembang api? Aku sudah lama tidak menyaksikan yang seperti itu lagi. Dulu pun jarang. s

Aku bisa melihat dia mulai mengayun-ayunkan kakinya. Semakin membuatku takut akan kemungkinan ia terjatuh.

“Hei, berhenti melakukan itu! Kau bisa terjatuh!” seruku.

“Hahahah… tidak apa-apa Kibum. Aku sudah sering melakukannya. Sekalipun aku hampir jatuh, biasanya juga… huaah!”

Bahaya!

Aku berlari. Tidak tahu apa yang terjadi. Sesuatu terjadi. Aku secara tak sadar berlari. Dan, dan… aku berhasil menangkap gadis itu kan? Aku tidak kelepasan untuk bisa memeluk lagi kan? Dia tidak terjatuh! Tidak apa-apa. Semua baik-baik saja.

“Kibuuuuuuum!”

Tidak! Ketinggian ini. Pembunuh! Tidak tidak tidak! Kenapa aku harus melihat ini lagi? Kenapa kenapa kenapa? Kenapa aku harus mengingat jeritan dia lagi? Aku ketakutan. Aku membeku. Mataku tak sanggup untuk berkedip. Aku bisa melihat dasar itu bab beratus-ratus meter jaraknya. Begitu tinggi, dan mematikan. Jantungku berdetak kencang. Jiwaku tak sanggup terjatuh dalam anggan mengerikan ini. Tapi ragaku menolak untuk menyingkir.

“Ki—Kibum?” Sadar tak sadar aku mendengar Hyunsun yang terdengar gugup. Aku tidak mengurbrisnya. Aku seakan melihat bayang-bayang silam itu terjatuh.

“Jihye…” bisikku pelan. Amat pelan. Sementara tubuhku membeku dalam posisiku. Tubuhku menggigil. Aku ketakutan. Ini terlalu tinggi. Tidak! Berhenti.

“Astaga! Kibum! Kibum! Lepas! Sadarlah!” seru Hyunsun sambil mengguncang tubuhku—yang secara tak sadar terus memeluknya dengan kuat. Gemelut masa silam itu masih saja mengekangku. Sampai tanpa sadar aku didorong secara paksa. Hyunsun mendorongku menjauh. Kemudian ia menuntunku untuk duduk bersandar di dinding dekat pintu. Menjauhi pinggir atap itu.

“Kibum, Kibum!” Hyunsun berusaha menyadarkanku lagi. Kali ini aku baru benar-benar tersadar. Aku bisa melihat Hyunsun begitu cemas akan diriku.

“Kau baik-baik saja?” tanya Hyunsun. Tanpa bertanya pun dia sudah tahu. Aku tidak baik! Tadi juga dia sudah menanyakannya.

“Kau takut pada ketinggian?” tanyanya. Tebakan hebat! Ternyata dia mengerti akan apa yang terjadi padaku. Dia bukan pertanyaan dengan niat menyindir. Ia prihatin. Prihatin padaku. Tentu saja, aku ini menyedihkan.

“Bodoh sekali ya?” kataku sambil tertawa miris. Aku pun tertunduk. Malu pada diriku sendiri. Malu pada Hyunsun. “Bahkan aku tidak tahu bagaimana agar aku bisa turun dari sini,” ucapku. Aku sudah tidak peduli masalah dia akan tahu. Aku benar-benar butuh bantuan.

“Berpeganglah padaku. Kita akan turun bersama-sama,” ucap Hyunsun lembut. Aku menatapnya. Dia tulus. Tak ada pilihan lain. Aku mengangguk saja.

***

Aku tak tahu bagaimana nasib martabatku sebagai pria karena seorang gadis menolongku seperti ini. Aku juga sudah tidak ingin mempermasalahkannya kini. Tadi aku merangkul, berpegang pada Hyunsun begitu kuat. Beberapa kali aku memejamkan mata. Namun Hyunsun sama sekali tak menertawakanku. Dia benar-benar ingin menolongku. Hingga di bawah aku mau tak mau berterima kasih padanya. Malam sudah semakin larut.

“Apa tadi kau mengejarku karena aku membuat keributan?” tanya Hyunsun. Aku pun terdiam. Aku pun tidak yakin apa yang terjadi. Aku mendaki tangga-tangga itu karena Hyunsun menangis? Aku tidak begitu yakin, tapi melihat orang lain menangis seperti itu di tempat tinggil membuat firasatku tidak enak.

“Kau sedang ada masalah dengan Seunghyun?” tanyaku. Tumben juga aku peduli dengan masalah orang lain.

“Iya, hahahah… Hanya masalah biasa antar pasangan. Itu wajar, kan?” kata Hyunsun.

“Kau sungguh mencintainya?” tanyaku heran.

“Hmm… iya!” seru Hyunsun yakin.

“Ooh… bagus,” ucapku datar.

“Kenapa? Apa kau diam-diam menyukaiku?” sindir Hyunsun sambil menyikutku.

“Tidak!” kataku dingin.

“Hihihih. Kalau begitu kenapa bertanya begitu?”

“Hanya heran.” Aku hendak berjalan menuju gerbang sekolah mendahuluinya.

“Hm? Maksudmu?” Hyunsun berusaha menyusulku.

“Seharusnya kau sudah meninggalkan pria brengsek seperti itu kan?”

“Dia tidak selalu begitu. Sebenarnya Seunghyun sangat baik,” bela Hyunsun.

“Hm?” Hyunsun diam sejenak. Kami terus berjalan perlahan menuju gerbang sekolah.

“Dia memang agak keras kepala. Tapi… saat ia melimpahkan banyak perhatian padaku, aku jadi merasa tak mampu untuk membencinya,” ucap Hyunsun sungguh-sungguh. Membuatku semakin heran. Namun aku tak ingin banyak bertanya.

“Dasar anak muda!” gumamku.

“Jadi kau sendiri apa? Manula, begitu?” seru Hyunsun. Namun aku tak ingin meladeninya lagi. Berdebat terlalu banyak tentang hal-hal picisan itu bukan hobiku.

“Siapa Jihye?” Tiba-tiba ia bertanya. DEG! Jantungku berdeguk kuat lagi. Dia mendengar aku menyebut nama itu? Bagus sekali!

Hyunsun tampak makin penasaran menyadari ekspresi dinginku. Namun aku tidak ingin membahasnya. Aku memilih berjalan terlebih dahulu ke gerbang sekolah. Hyunsun pun langsung menyusulku tanpa bertanya lagi.

“Sial, gerbangnya dikunci!” umpatku saat melihat rantai beserta gembok membelenggu pagar itu.

“Sepertinya anggota komite disiplin yang lain tidak tahu kita masih ada di sini,” kata Hyunsun.

“Dasar tidak berguna! Kau bisa memanjat pagar ini?” tanyaku.

“Bisa saja,” ucap Hyunsun.

“Bagus! Ayo, aku duluan supaya aku bisa membantumu,” ucapku.

“Hihihih… aku rasa itu tidak perlu,” ucap Hyunsun. Dia agak membenarkan posisi tas gendongnya sebelum dia mulai memanjat. Mungkin dia benar. Dia bisa melakukannya. Ah, dia kan yang paling ahli memanjat tebing di sini. Dia tidak merepotkan juga ternyata.

“Rumahmu di mana? Biar aku antar kau. Kau tidak boleh pulang sendiri,” kataku setelah kami berhasil memanjat gerbang tinggi itu. Lumayan tinggi untuk membuatku beradrenalin dan menutup mata sesekali.

“Lho? Kau membawa kendaraan? Kamu tidak memarkirnya di sekolah?” tanya Hyunsun.

“Memangnya menurutmu aku ini sudah cukup umur untuk punya SIM?” kataku.

“Oh, hahahah… iya. Kau belum 17 tahun. Benar tidak apa-apa?” tanya Hyunsun.

“Kau ingin aku meningkalkanmu sendirian di sini?”

“Tidak. Aku ikut!”

***

Aku baru keluar dari ruang guru. Guru biologiku menyuruhku membawa buku-buku tugas milik siswa ke mejanya tadi. Tepat sekali saat aku keluar aku lihat Hyunsun lewat. Berjalan bersama Seunghyun yang meletakantangannya di bahu Hyunsun. Hyunsun melihatku dan ia langsung menyapaku dengan ramah. Tapi aku tak banyak meresponnya. Biarkan saja lah. Jadi, dia sudah baikan dengan Seunghyun? Cepat juga. Padahal baru kemarin dia bertengkar hebat. Memang banyak sekali hal sulit aku mengerti. Oh, tapi yang penting Hyunsun tidak menyebarkan cerita soal fobiaku.

“Yo! Kibum!” panggil Jonghyun hyeong. Ia datang dengan Jinki hyeong. Mereka berjalan ke arahku. Melewati Hyunsun dan Seunghyun. Dan tepat saat mereka berpapasan, Jonghyun hyeong seakan memberi gerlikan aneh ke arah Seunghyun. Membuatku mengernyikan dahinya heran.

“Kau ada masalah dengannya?” tanyaku pada Jonghyun hyeong. Jonghyun hyeong pun menatap ke arahku dengan serius—atau pura-pura serius.

“Barusan aku dengar isu dari penjaga sekolah,” kata Jinki hyeong sambil menoleh sebentar ke arah belakangnya.

“Ng?”

***

Tengah malam. Tanpa sepengetahuan orang rumah aku mampir ke minimarket yang buka 24 jam. Sekedar membeli mie instan cup dan secangkir kopi. Mereka sedang tertidur. Sementara di tengah malam aku lapar dan tak ada makanan di kulkas. Apa boleh buat. Hanya minimarket dekat sekolah yang buka tengah malam begini.

Aku pun berjalan dengan enteng menyusuri jalan-jalan malam ini. Melewati beberapa gang gelap dan remang-remang. Lalu tanpa sengaja aku melihat dua orang laki-laki mabuk dan menangkap percakapan mereka.

“Aaaaaahh… iya benar-benar luar biasa,” seru salah seorang laki-laki kurus sambil menegak sebotol minuman beralkohol.

“Hheeehh!! Berikan padaku!” protes laki-laki yang satunya sambil merebut botol alkohol itu dan langsung menegaknya minuman itu dengan rakusnya. Dasar kampungan! Tidak pernah minum alkohol mahal, heh?

“Eeeehhh…” seru si kurus yang sudah amat mabuk. “Kenapa dia menyuruh kita berjaga-jaga di sini, heeeuuh? Merusak kesenanganku saja,” katanya.

Dia?

“Aaah… aku tidak tahu. Ketua Besar membawa pacarnya dan menyuruh kita berjaga-jaga di sini.”

Ketua Besar? Tunggu! Barusan…

“Masih ingat soal Ketua Besar?” tanya Jonghyun hyeong.

“Ng? Ketua misterius dari musuh bebuyutan gangster daerah sini? Ada apa memang?” tanyaku.

“Baru-baru ini aku dengar ketua mereka bukan siswa atau alumni dari sekolah itu,” seru Jonghyun hyeong.

“Hah? Maksudmu?”

“Dia itu sebenarnya orang dalam,” kata Jinki hyeong.

“Orang dalam?” Aku masih tak mengerti.

“Yang dia maksud adalah, orang itu justru bersekolah di sini,” kata Jonghyun hyeong.

“Haah?!” seruku kaget.

“Aku sudah menelusuri data base sekolah. Kalau perkiraanku benar, seharusnya orang itu tinggal di lingkungan kelompok itu,” kata Jinki hyeong.

“Dan dia, satu-satunya orang yang kita dapatkan,” kata Jonghyun hyeong serius.

“Lee Seunghyun,” kata Jinki hyeong.

“Kau pasti bercanda,” seruku. “Maksudku, dia ini masih ‘anak-anak’.”

“Mulanya aku berpikir begitu,” seru Jonghyun hyeong. “Tapi…” Jonghyun hyeong menggantungkan perkataannya.

“Belakangan jumlah korban yang mereka timbulkan lebih banyak.Seakan mereka begitu tahu apa yang sedang terjadi di sekolah,” kata Jinki hyeong.

“Dan kemarin. Aku ingat pernah melihat bocah itu bersama kelompok mereka,” seru Jonghyun hyeong.

“Kelas 2 itu ketua?” Aku masih tak percaya.

“Kita pun masih harus memastikannya.”

“Walau dia kelas 2, bukan tidak mungkin dia menjadi ketua.”

Aku teringat akan kata-kata Jonghyun hyeong dan Jinki hyeong kemarin. Tentang Ketua Besar. Pacarnya Hyunsun?

“Pacarnya? Pacarnya yang mana lagi?” seru si kurus.

Yang mana lagi? Maksudnya? Apa si brengsek itu memiliki pacar yang lain? Cih, laki-laki menjijikan!

“Itu, kau tahu.” Laki-laki itu menegak alkoholnya lagi. “Yang ia dapat dari sekolahnya.”

“Oh, si cantik Ira-chan itu? Apa memang yang dia lakukan dengan gadis itu?”

Ira-chan? Maksudnya Hyunsun? Apa yang terjadi?

“Aaah… dia hanya bilang ingin bersenang-senang di markas kecil dan menyuruhku memastikan tak akan ada yang berada di sekitar sana,” kata laki-laki satunya.

“Gyahahaha! Kau ini naïf sekali. Aku tahu, aku tahu! Ketua Besar pasti sedang bersenang-senang dengan Ira-chan,” tebak si kurus.

Bersenang-senang? Tunggu dulu! Firasatku mulai tidak enak.

“Wahahahahah! Benar juga! Dia kan mendapatkan perawan baru,” tawa laki-laki satu lagi.

DAFUQ! Jangan-jangan si brengsek itu hendak…?!! HYUNSUN!!

“Heh! Kalian berdua!” seruku sinis sambil menghampiri mereka. Mereka pun menoleh ke arahku dengan tatapan sumringah.

“Ng? Mau apa kau?” seru si kurus.

“Kalian mau dengan cara baik-baik atau dengan cara cepat?” seruku dingin.

“Haaaaaaaah?? Kau anak kecil mau apa? Kau tidak tahu siapa kami?” seru laki-laki satunya dengan arogan.

“Katakan padaku—Di mana… Hyunsun?”

***

Aku mendaki tangga-tangga itu secepat yang aku bisa. Tidak berguna! Di mana si bajingan itu berada? Mereka bilang di lantai 2. Tapi yang mana?

“Seunghyun… Hentikan… Hmph!” Aku mendengar suara itu sayut-sayut. Itu suara Hyunsun! Dari ruang ini. Tidak salah lagi! Itu benar-benar Hyunsun di dalamnya.

PLAK!!!

Terdengar suara tamparan. Diiringi suara tangis Hyunsun. Kurang ajar! Berani-beraninya ia menampar wanita. Bajingan itu!

BRUK!!!

Aku berusaha mendobrak pintu. Tak berhasil. Aku tidak menyerah. Berkali-kali aku coba mendobrak, dan…

BRAK!!!!

Pintu terbuka! Tapi…

BUK!

“ARGH!” rintihku. Sesuatu menghantam punggungku. Sebuah balok kayu besar. Itu sungguh-sungguh Seunghyun, yang mengayukannya padaku. Membuatku terkhuyuk beberapa saat.

“Kibum!” jerit seseorang. Itu… Hyunsun! Astaga! Aku tak berani melihatnya. Aku bisa melihat seragam sekolahnya tergeletak di lantai. Roknya pun sedang aku injak. Sekilas aku melihat hanya dua kain yang melekat di tubuhnya. Si brengsek itu…!!

“Beraninya kau!” erang si bajingan itu sambil mengayukan balok kayu besar itu lagi. Dia ingin memukulku? Lambat sekali.

BUK BAK DZIG

Aku menghajarnya sedemikian rupa. Aku menendang tangannya, membuatnya menjatuhkan balok kayu itu. Lalu aku pun meninju perut dan wajahnya bertubi-tubi. Sedangkan dia hanya sempat meninjuku sekali, diiringi suara tangis Hyunsun. Baru kali ini aku merasa sehebat ini dalam berkelahi. Atau bocah ini saja yang lemah? Atau aku terlalu kesal melihat wajah busuk dan mesum si brengsek ini? Sebagai penutup, aku menendangnya kuat hingga menghantam tembok.

Buru-buru aku punguti baju Hyunsun. Aku pun melepaskan jaketku. Dengan setengah terpejam aku berikan seragamnya dan langsung memasangkan jaketku padanya.

“Cepat pakai!” suruhku sambil memalingkan pandanganku.

“Kibum? Bagaimana kau bisa…?”

“Tidak ada waktu! Kita harus pergi dari sini!” seruku. Aku langsung meraih tangannya saat yakin seragamnya telah terpakai dan jaketku yang terlalu besar untuknya sudah terpasang. Aku memblokade pintu ruang itu terlebih dahulu. Baru setelah itu kami buru-buru menuju ke bawah.

Aku pun mengajaknya berlari. Kita harus segera menjauhi tempat ini. Sebelum gangster di sekitar sini mengepung kita.

“Kibum!” jerit Hyunsun panik. Segerombolan anggota gangster sudah berada di depan mencegat kami. Kemudian aku sadar bahwa aku sudah berlari mendekati kandang macan. Casino yang waktu itu!

“Wah wah wah, Kibum. Lihat siapa yang datang,” seru seorang anggota gangster seberang yang aku ingat bernama Kawada.

“Kau masih berada di sini malam-malam, huh?” seru si Gorila sambil mengacungkan stik baseball miliknya. Melihat ia mengenakan kaos dengan bagian dada terbuka. Melihat buru lebat di dada dan tangannya membuatku jijik. Tch! Ini yang kemarin Jonghyun hyeong bicarakan!

“Jonghyun hyeong sedang tidak bersamaku. Lebih baik kalian menyingkir sebelum aku bertindak!” kataku, berusaha mengertak.

“Cih! Berlagak berani sekali. Kita sedang tidak membahas si Jonghyun hyeong itu,” komentar Jiwoo. Beberapa orang mulai muncul keluar dari casino. Aku rasa ini bukan situasi yang bagus.

“Ketua Besar bilang pacarnya di culik,” seru si Gorila sambil tersenyum sinis. Kemudian orang-orang di belakang itu tampak bersiap-siap seakan akan melakukan pembantaian. Pembantaian padaku dan seorang gadis?

“Kibum, lari!” bisik Hyunsun ketakutan sambil mencengkram lenganku.

Shit!” umpatku. Aku langsung menarik tangan Hyunsun. Lari. Itu rencananya. Atau lebih tepatnya aku tak punya ide lain. Gangster itu mengejar kami. Dengan bertenaga adrenalin, kami mampu lari lebih cepat dari mereka. Aku harus membawa Hyunsun pergi dari daerah ini. Bagus, seharusnya aku bawa motor tadi.

“Kibum, ke sini!” Hyunsun mengajakku masuk ke dalam sebuah apartemen tua. Aku ikuti ide itu. Kami pun masuk mencari tempat persembunyian. Kamu pun memilih menaiki tangga ke lantai 2 secepatnya. Begitu sampai, kita langsung terduduk di tangga dan terengah-engah karena sendari tadi berlari.

BRUUUKK

Hyunsun tiba-tiba jatuh terduduk. Lalu menangis sejadi-jadinya.

“Aaaaaakkk!! Hiks, hiks, hiks…” Dia histeris.

“Hyunsun. Apa yang dia lakukan padamu?” seruku sambil mencengkram kedua bahunya. Namun Hyunsun tidak menjawabku. Dia terus menangis. Membuatku tidak tahan. Sebenarnya apa yang telah bajingan itu perbuat padanya. “Katakan padaku? Apa yang si brengsek itu lakukan padamu,” paksaku sambil mengguncang tubuhnya.

Ia tak kunjung menjawab. Ia tetap menangis. Aku menurunkan emosiku. Tenanglah. Aku tak bisa memaksanya bicara sekarang. Maka aku lepaskan dia. Membiarkan dia menangis terlebih dulu. Aku perhatikan dirinya keseluruhan. Kemudian aku sadar sendari tadi ia tak menggunakan alas kaki. Jadi… dia berlari sekencang itu bertelanjang kaki di atas aspal? Dasar kau dungu, Kibum! Seharusnya kau sadar itu dari awal!

“Hiks hiks hiks… Aku tidak ingin pacaran lagi…” Tiba-tiba ia bergumam. Aku langsung menatapnya prihatin. Aku sudah agak menduga Seunghyun itu laki-laki brengsek. Tapi aku tidak mengira dia akan bertingkah kurang ajar seperti ini. Pada Hyunsun. Padahal biasanya aku melihat sosok Hyunsun yang ceria dan ramah. Namun kali ini lain. Ia tampak begitu menyedihkan dan terluka. Hanya karena si Ketua Besar itu!

TAP TAP TAP TAP

Terdengar suara langkah kaki. Bukan satu atau dua. Tapi banyak. Sial! Mereka menemukan kita!

“Hyunsun! Kita harus sembunyi!” seruku sambil menarik tangannya lagi. Aku hendak mencari tempat persembunyian. Tapi aku tidak bisa menemukan tempat yang bisa menyembunyikan kita. Sementara orang-orang itu terdengar makin gaduh.

“Kibum! Kita harus ke atas!” seru Hyunsun tegas.

“Ke atas?” seruku ragu.

“Tidak ada waktu. Ayo!” perintah Hyunsun sambil menarik tanganku. Aku tak terima. Tapi mendengar keributan di bawah membuatku tak bergeming. Aku membiarkan tanganku di tarik Hyunsun. Aku merasa kepalaku mulai pusing. Perutku mulai terasa mual. Jantungku pun berdetak sangat kencang. Dan semua itu semakin menjadi berbanding lurus dengan seberapa jauh aku berada dari permukaan tanah.

TAP TAP TAP TAP TAP TAP TAP

Suara berisik itu makin terdengar keras. Sontak membuat kamu makin panik. Aku menyapu pandangan dan menemukan sebuah pintu yang tak terkunci.

“Ke sini!” seruku. Aku langsung membuka pintu itu tanpa pikir panjang. Dan…

Tidak! Aku melihat ke bawah! Berapa lantai ini? Tiga lantai? Tidak! Ini empat lantai! Ini tangga belakang. Berpijak hanya pada deretan besi yang di las menerupai tangga. Sial! Aku seharusnya tahu kemana pintu tadi akan membawaku.

“Kibum! Kibum! Tak usah lihat ke bawah. Tidak apa-apa!” Bahkan teriakan Hyunsun terabai olehku. Aku tak kuasa untuk berkedip. Aku mencengkram pegangan besi sekuat mungkin dan terus mematung. Jantungku terpompa dengan kuat.  Kejadian itu! Aku ingat saat itu. Ketinggian seperti ini, telah membunuh. Dan… saat itu, hal itu terjadi karenaku. Karenaku… Jihye pergi…

“Awas!! Kibuuum!!!”

Bahaya!

***

Rabu, 31 Desember 2013

Memasuki pertengahan libur musim dingin.  Sepanjang awal libur musim dingin, aku tak bertemu Hyunsun lagi. Bahkan sejak kejadian itu pun Hyunsun tak tampak. Saat ujian pun, aku dengar ia melakukan ujian di rumah.

Saat malam itu, yang terjadi adalah… segerombolan gangster itu mendapatkan kami. Lalu salah seorang hendak menghajarku. Namun teriakan Hyunsun seketika menyadarkanku. Aku seketika lupa akan ketakutanku. Aku menghajar mereka semua. Semua! Setiap ada yang hendak meraih Hyunsun, aku tak sedikit pun membiarkan itu terjadi. Semua ku kalahkan. Polisi yang ternyata datang oleh panggilan salah satu penghuni apartemen memecah perkelahian. Aku dan Hyunsun di bawa untuk melakukan pemeriksaan. Hyunsun tak henti-hentinya menangis setelah itu. Lalu sejak esoknya aku tak bertemu Hyunsun lagi.

Seunghyun sedang dipengadilan. Orang tua Hyunsun menuntut Seunghyun atas tidakan kekerasan dan pelecehan terhadap Hyunsun. Jujur itu sungguh membuatku lega. Laki-laki brengsek tak pantas mengganggu gadis baik. Tidak ada laki-laki yang boleh menyakiti seorang gadis pun! Aku melindungi Hyunsun waktu itu juga karena dorongan naluri, melindungi perempuan. Terlebih ia temanku juga.

Beberapa kali aku bertanya pada Taemin dan temannya, tapi nihil. Jinki hyeong pun tidak mendapatkan apa pun dari kesiswaan. Hyunsun, ada apa denganmu? Dia bahkan sampai berkata tak ingin pacaran lagi. Aku jarang peduli pada seseorang, tapi aku peduli padamu. Karena sebenarnya, hanya Hyunsun yang tidak menertawakan ketakutanku pada ketinggian, sekalipun ketinggian adalah kesukaannya.

Malam itu. Aku berjalan tak menentu sambil menyesap segelas coklat panas dari minimarket. Aku berjalan tak tentu sampai aku merasa mulai banyak orang berjalan menuju suatu tempat. Tempat yang tampak berpendar dengan banyak pedagang di sana.

“Hm? Festival?” gumamku. Aku semakin diyakinkan dengan banyak orang yang begitu riang membicarakannya. Ah, benar. Itu festival. Festival tahun baru. Tak terasa satu tahun lagi akan berlalu..

“Dengar-dengar tahun ini kembang apinya lebih spektakuler ya?” Tanpa sengaja aku mendengar percakapan sepasang gadis.

“Wah, serius! Aku pikir hanya kembang api biasa. Ah, kenapa baru memberitahuku? Kalau begini kan kita sudah terlambat untuk mendapatkan tempat yang bagus.”

Kembang api…?

“Setiap ada kembang api aku pasti kemari. Kembang api selalu tampak bagus di sini, lho. Kau juga harus menonton kembang api dari sini.”

Aku tidak tahu apa yang menggerakan kakiku. Tapi apa yang terpikir dalam benapku sekarang adalah… aku harus menemui Hyunsun.

***

Memakai pakaian bagus, sendiri ia berada di atap sekolah. Semilir angin musim dingin datang dan membelai helai-helai rambutnya. Aku tidak menyangka, dia benar-benar kemari.  Seorang diri malam-malam dingin seperti ini. Hanya keberuntungan yang membuat malah ini tak turun salju. Sama seperti tahun lalu.

Aku tak mengatakan sepatah kata pun. Aku pun berjalan lalu berdiri di sampingnya ikut menunggu kembang api. Hyunsun tampak kaget melihat aku bisa berada di sini, di atap sekolah yang tinggi.

“Kibum… bagaimana kau bisa…?” seru Hyunsun kaget. Aku tak menatapnya. Aku hanya tersenyum. Tepat pada saat itu kembang api pun melujur ke langit. Hyunsun tak berkata padaku lagi. Kami hanya diam berdiri memandangi luncuran kembang api yang meledak dengan indah di langit. Sayut-sayut terdengar suara teriakan “Selamat Tahun Baru” dari jauh. Tahun 2014 telah memayungi.

“Jihye juga suka kembang api,” gumamku di tengah pertunjukan kembang api itu. Hyunsun seketika menoleh ke arahku. Dia pasti masih ingat dengan nama itu.

“Dulu—tepat satu tahun yang lalu—sebelum ia meninggal, aku membuatnya menangis,” ucapku sambil tersenyum pahit. Membuat Hyunsun terkesiap mendengarnya.

“Apa yang terjadi?” tanya Hyunsun penasaran. Ku tarik napas. Aku mendongang menatap langit—menerawang, siap berucap.

“Terakhir aku bertemu dengannya, saat festival tahun baru. Aku mengajaknya menonton kembang api dari atap hotel. Aku masih ingat bagaimana senangnya dia saat aku aja ke sana…” Bernapas sejenak. Aku harus tetap kendalikan ritme napasku agar tak tercekak. Emosiku harus stabil. Tuntutan harga diri.

“Lalu di tengah kegembiraannya, aku malah mengatakan kekhawatiran yang menggangguku. Aku katakan padanya tak seharusnya ia bersamaku. Hanya karena aku tak ingin sesuatu yang buruk menimpanya! Banyak berandal yang mengincarku karena aku telah ‘menyusahkan’ mereka,” ucapku. Hyunsun mendengarkanku dengan seksama.

“Lalu… dia menangis. Tidak terima. Baru ia tersenyum bahagia, aku sudah membuatnya menangis seperti itu. Itu sungguh penyesalan terburuk yang pernah aku lakukan. Kemudian…” Ucapanku tergantung. Namun Hyunsun makin penasaran dibuatnya.

“Apa?” tanya Hyunsun.

“Sekelompok gangster menyergap kami. Semua terjadi begitu saja hingga Jihye… ia terdorong, tergelincir, dan dari ketinggian itu, ia…”

Aku tak kuasa melanjutkan perkataanku. Aku begitu sakit saat mengingat semua itu. Hyunsun pun mendekatiku. Aku tersentak saat merasakan Hyunsun tiba-tiba menepuk pundakku. Memberi rasa simpati. Membuatku sedikit tersanjung atas perhatiannya.

“Aku sangat menyesal soal Jihye, Kibum. Aku tahu kau pasti masih lebih sedih dari aku,” ucap Hyunsun bersimpati. Aku pun tersenyum kecil.

“Jihye pergi. Toki-chan, kucing Jihye yang berada dalam gendongannya selamat. Sekarang aku mengerti kenapa Jihye terkadang ingin menjadi kucing. Mereka punya sembilan nyawa,” kataku berusaha sedikit bercanda, walau sulit. Terkadang sulit untuk menerima realita saat kau tak menyukainya.

“Lalu bagaimana dengan pertarunganmu?” tanya Hyunsun.

“Aku sempat berhasil kabur, hendak menuju lantai dasar. Berharap aku bisa selamatkan Jihye. Namun saat kejadian itu, aku terjatuh dari tangga hingga tak sadarkan diri. Begitu sadar, aku sudah dapati kakiku patah dan tubuhku habis dihajar mereka.”

“Karena itu kau begitu takut pada ketinggian?” kata Hyunsun. Aku mengangguk saja. Sekarang ia paham kenapa aku menakuti ketinggian. Sebuah kelainan terjadi bukan tanpa alasan. Seperti kenapa aku menakuti ketinggian, yang sangat Hyunsun sukai.

Setelahnya kamu kembali terdiam memandangi luncuran bunga-bunga dari api di langit. Selama empat puluh lima menit kami hanya begitu sampai pertunjukan kembang api berakhir. Pemandangan yang serupa… dengan saat aku menontonnya bersama Jihye…

“Kibum,” Hyunsun yang bicara duluan.

“Ng?”

“Aku belum sempat mengatakannya. Tapi… terima kasih,” ucap Hyunsun sambil membungkuk padaku begitu dalam. Hampir membentuk sudut sembilan puluh derajat. Membuatku terkesima.Tak ada yang pernah melakukan itu padaku selama ini. Ucapan terima kasih yang sangat tulus.

“Tak masalah, untuk teman baikku,” ucapku sambil tersenyum—hal yang jarang ku lakukan. Hyunsun pun bangkit dan menatapku dengan wajah yang cerah. Cerah seperti sebelumnya. Ah, dia sudah pulih.

“Kibum, wajahmu pucat,” komentar Hyunsun tiba-tiba sambil tetap menyelidik wajahku.

“Aku rasa aku butuh bantuan untuk turun tangga. Kalau kau tidak keberatan,” kataku apa adanya. Perempuan itu memang perasa dan peka sekali ya. Aku kira dia tidak akan sadar kalau sendari tadi aku merasa pusing karena ketinggian ini. Ternyata.

“Hihihih… Kalau begitu berpeganganlah padaku,” Hyunsun terkekeh sambil menyerahkan tangannya. Maka itu yang aku lakukan, meraih tangannya. Karena aku sudah merasa mulai pusing dan mual oleh ketinggian ini. Ketakutanku belum hilang benar.

Aku mencintaimu Jihye… semoga kau menikmati kembang apinya…

***

Aku habis dari lab kimia lagi. Aku harus berjuang lagi menuruni tangga-tangga ini. Sialan! Menyusahkanku saja!

Tiba-tiba Hyunsun datang, melihatku. Dia tak mengatakan apa pun padaku, membuatku heran akan perubahan sikapnya. Aku tidak mengerti dengan apa yang ada dalam pikirannya sekarang. Kemudian tiba aku mendengar ia berseru.

“Hei! Yui! Kyaaa… aku kangen padamu!” begitu teriaknya sambil berlari menjauhiku. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan. Tapi sampai ke bawah aku pun mengerti apa yang terjadi.

“Maaf ya tak menyapamu tadi. Barusan Yui hendak ke atas,” seru Hyunsun sambil tersenyum ceria. Aku tersenyum. Dia bermaksud melindungiku, ternyata. Tidak aku sangka. Dan yang terbaik, akhirnya wajah cerah itu telah kembali. Ini barulah Hyunsun yang aku tahu.

Kini sekolah terasa bebas baginya. Tanpa ada si brengsek Seunghyun. Dia terus berceloteh riang padaku, sampai aku tak sadar selama jam istirahat itu kami terus bersama. Waktu jam istirahat berakhirnya, aku mengantarnya ke kelasnya. Baru aku ke kelas, sebelum dua orang gadis mencegatku. Entah siapa aku lupa namanya.

“Kibum! Apa benar kau pacaran dengan Hyunsun?” tanya gadis itu tiba-tiba.

“Iya!!” susul temannya dengan suara yang cempreng. Heh?

“Pacar? Tidak!” bantahku. Aku perhatikan sekelilingku, ternyata sendari tadi sudah banyak anak perempuan yang memperhatianku. Sedang apa sih mereka ini? Buang-buang waktu saja.

“Kalau bukan pacar, lalu apa?” tanya gadis tadi sambil manyun-manyun. Aku tersenyum sambil terkekeh pelan. Hmph, apa yang harus aku katakan pada gadis-gadis ini?

“Dia sahabatku,” kataku mantap. Aku langsung berjalan melewati mereka dan berlalu. Tidak mempedulikan kegaduhan di sekitarku. Mengabaikan segala desas-desus yang berkeliling di sekitarku.

“Kalian sudah dengar. Dia hanya sahabatku. Paham? Taemin, Minho, Jinki, Jonghyun. Kalian boleh keluar dari persembunyian!” teriakku lagi. Hmph! Memangnya mereka kira aku tidak sadar apa sedang diikuti orang mata-mata gadungan macam mereka? Tadi aku biarkan saja mereka bertingkah bodoh. Toh, tak ada yang perlu di sembunyikan.

“Yaaaaa… Kibum? Sejak kapan kau menyadarinya?” teriak Minho kesal. Aku tak mengubrisnya. Aku hanya berjalan sambil memikirkan perkataan gadis-gadis tadi.

Pacar? Hahah… yang benar saja! Hyunsun juga sudah tak ingin punya pacar. Lagipula… aku tak ingin membahayakan siapa pun karena berada di sekitarku. Aku tidak ingin Hyunsun celaka. Aku benarkan? Hyunsun?

Dan tanpa sepengetahuanku, ia tersenyum padaku…

One response to “Fall

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s