Really, I Fall In Love [Chapter 2]

Ini bukan ff ditjao, melainkan ff titipan dari salah seorang teman. Harap memberikan apresiasi berupa komentar setelah membaca ya, terima kasih sebelumnya.

Previous :

Chapter 1

Main Cast : Byun Baek Hyun (EXO) & Hwang Ji Eun (OC/You) || Other Cast : Park Kyung Ri (OC) & Park Chanyeol (EXO) || Genre : Comedy Romance, Drama, Marriage Life || Rating : PG 15 || Length : Chaptered

 

 

Arsita wickrama’s storyline

(@pitteopan)

Disclaimer :

Plot Is mine. Do not take an ideas/plagiarize. Do not bash please and be a good reader.

Summary :

Byun Baek Hyun, seorang pria dengan wajah cute namun disisi lain dia juga tampan. Namun takdir tidak memihak padanya karena sebuah hal yang tidak diinginkan yang terkait dengannya, mengharuskannya menikah dengan seorang gadis yang selalu bertengkar dengannya, Hwang Ji Eun.

 

.

Suasana tampak tegang. Baekhyun sendiri masih memikirkan bagaimana menjelaskan semua itu pada wanita paruh baya yang ia sebut ‘Ibu’. Nyonya Byun masih terkejut dengan apa yang ia lihat di apatemen anaknya ini.

“Kalian, jelaskan padaku mengapa kalian bisa ada disini,” ucap Nyonya Byun seraya mengatur nafasnya. Ji Eun sendiri bingung dengan yang baru saja terjadi. Andai saja Ji Eun masih mengingat apa yang terjadi semalam, mungkin Ji Eun dapat menjelaskan ini semua.

“Bu, ini tidak seperti yang Ibu pikirkan—“

“Lusa kalian harus menikah.” Dengan cepat Nyonya Byun memotong kalimat mereka. Ji Eun tersentak seketika. Baekhyun sendiri masih terkejut dengan apa yang baru saja Ibunya katakan. “Ibu, sungguh kami tidak melakukan apapun,” bela Baekhyun. Namun Nyonya Byun tetap saja tidak menggubris apa yang dikatakan Baekhyun.

“Aku tidak ingin sesuatu hal terjadi. Ini juga demi kalian,” jelas Nyonya Byun. Baekhyun hanya bisa terdiam karena tidak tahu apa yang harus ia katakan lagi. “Dan kau, Hwang Ji Eun. Beritahulah orang tuamu, aku akan menjelaskan semuanya jika orang tuamu tidak menyetujuinya.”

“A-apa? menjelaskannya? Jangan!” Ji Eun menggigit bibirnya. Tentu saja, jika saja orang tuanya tahu—Ah Ji Eun tidak ingin memikirkannya lagi. “Kalau begitu baiklah. Kami akan menikah,” ujar Baekhyun. Ji Eun membelakkan matanya seakan tak percaya dengan apa yang di katakan pria di sebelahnya itu.

Oh Tuhan, apa aku harus menikah dengan pria ini? , batin Ji Eun.

***

Pagi itu, Ji Eun sudah bangun. Namun kali ini bukan untuk bekerja ataupun berangkat kuliah, melainkan Ji Eun bersiap-siap untuk pergi ke Jepang. Semua pakaian sudah di bereskan dengan sempurna di dalam koper hitam itu. Ji Eun menghela nafasnya perlahan. Ia kembali melihat jam dinding yang tengah menunjukkan pukul 8:00 AM.

Ia kesana bukanlah untuk berlibur, melainkan untuk menemui orang tuanya. Ji Eun sendiri kesana untuk membicarakan sesuatu perihal pernikahannya dengan Baekhyun. Gadis itu mengerang frustasi—Oh tentu saja, siapa yang ingin menikah dengan seseorang yang baru beberapa hari mengenalinya? Dan jangan lupa satu lagi, yaitu pernikahan tanpa perasaan suka apalagi cinta.

Tunggu, Cinta? Ah jangankan menyukai atau mencintai pria bernama Byun Baekhyun itu, malah gadis itu begitu membenci pria yang telah membuat hidupnya semakin berantakan.

Ji Eun ingat betul jika Baekhyun akan menjemputnya, namun kemana dia?

Ji Eun mengambil ponselnya, namun belum sempat ia menekan nomor Ji Eun langsung ingat jika ia sama sekali tidak menyimpan nomor pria itu. Gadis itu kembali mengerang frustasi. Ji Eun benar-benar tidak tahu mengapa hidupnya menjadi berantakan semenjak ia bertemu dengan Baekhyun. Yang terpenting Ji Eun hanya ingin menyelesaikan permasalahannya dengan Baekhyun—ya seperti menikah sekitar 2 bulan dan setelah itu mereka bercerai, well kalian pasti mengerti apa yang gadis itu maksud.

Ding Dong

Suara bel rumah berbunyi. Ji Eun segera menghampiri pintu masuk rumahnya. Mata Ji Eun membelak ketika seseorang pria ada di hadapannya.

“Apakah begini caramu memperlakukan seorang tamu? Setidaknya kau mempersilahkan aku masuk,” cibir Baekhyun. Ji Eun mendengus kesal. Tentu saja, bagaimana Baekhyun dengan tidak sopannya masuk tanpa seizing Ji Eun. “Rumah ini memang kecil, tapi setidaknya rapi.”

“Kurasa tidak ada salahnya jika kau menjadi istriku nanti.” Sambung Baekhyun dengan senyuman yang mampu membuat ratusan gadis pingsan seketika. Rona merah terlihat jelas di wajah Ji Eun. Pria itu terkekeh pelan ketika melihat Ji Eun yang masih terdiam dengan wajah memerahnya itu. “Hei gadis bodoh, mengapa kau terdiam disana? Setidaknya berikan aku minuman atau persilahkan aku duduk.”

Ji Eun yang mendengarnya segera tersadar. “Maaf sekali Tuan Byun. Aku sama sekali tidak ingin menjamu seorang tamu sepertimu.” Cibir Ji Eun sambil berlalu meninggalkan Baekhyun di dapur sendirian. Baekhyun yang melihatnya hanya terkekeh pelan dengan reaksi gadis itu.

***

“Ayolah cepat sedikit, dasar lamban.”

Ji Eun yang sedari tadi kesusahan membawa kopernya hanya bisa mendengus kesal. “Kau tidak lihat aku sedang membawa apa? Tsk, sebagai laki-laki setidaknya kau membantuku. Dasar tidak punya perasaan,” balas Ji Eun. Baekhyun memutar bola matanya seraya menghela nafas. Dengan cepat Baekhyun merampas koper milik Ji Eun dan membawanya.

Ji Eun masih terdiam dengan tindakan Baekhyun. Entah ada perasaan mengganjal di hatinya ketika Baekhyun merelakan kedua tangannya membawa koper berat miliknya. “Tck, Nona Hwang. Bisakah kau cepat sedikit? Jangan terus melamun seperti gadis bodoh.” Cibir Baekhyun yang masih menggenggam erat koper itu.

“Tsk, Iya iya!—Kyaa! Jangan tinggalkan aku bodoh!” teriak Ji Eun yang masih tertinggal di belakang Baekhyun.

.

Akhirnya pesawat telah lepas landas. Baekhyun yang sedari tadi bosan dengan suasana akhirnya memutuskan untuk menutup matanya. Ji Eun sendiri masih sibuk dengan pemandangan yang tengah ia lihat. “Baekhyun! Lihat itu!” ujar Ji Eun seraya menggoyangkan bahu Baekhyun.

Baekhyun yang hampir terlelap dari tidurnya, harus membuka matanya lagi karena suara berisik dari Ji Eun. Matanya terasa berat. Dengan perlahan jemarinya mengucek matanya. “Tsk, hei bisakah kau tidak menggangguku?” dengus Baekhyun sambil menatap malas Ji Eun.

“Tsk, padahal aku kan hanya ingin memberi tahumu. Dasar pemarah,” umpat Ji Eun dengan wajah malasnya. Mata gadis itu terasa berat. Akhirnya Ji Eun memutuskan untuk tidur.

Sudah 1 jam Baekhyun tertidur. Matanya mengerjap tak pasti ketika mendapati sinar dari kaca pesawat. Baekhyun melirik seseorang yang ada di sampingnya. Terlihat wajah Ji Eun yang sangat lucu ketika tertidur. Seulas senyuman terbentuk sempurnya di bibir pria itu.

Lihatlah dia, ketika bangun ataupun tertidur wajahnya tetap sama. Sama-sama bodoh , batin Baekhyun. Tanpa sadar, jemari Baekhyun mulai berani menyentuh wajah gadis itu. Dimulai dari dahinya, matanya, dahinya, pipinya, dan sekarang bibirnya. Bibir itu mampu menghipnotis Baekhyun. Ya, mata pria itu terlalu focus pada bibir Ji Eun yang berwarna merah muda.

“eungh—“ gumam gadis itu. Lamunan Baekhyun langsung buyar. Wajahnya memerah, entah mungkin karena ia tidak ingin jika Ji Eun tahu akan hal yang baru saja ia lakukan. Dengan perlahan, Ji Eun mengerjapkan matanya, namun baru saja ia membuka matanya terlihat seorang pria yang ada di sampingnya. “Baekhyun?—YAA!”

“Bisakah kau tidak berteriak sekali saja? Suaramu membuat telingaku sakit,” cibir Baekhyun sambil menatap Ji Eun dengan wajah datarnya. “Kau tahu? Ketika aku membuka mataku tadi dan terpapar jelas wajah menyebalkanmu itu, hampir saja membuat jantungku copot ,” balas Ji Eun tak mau kalah.

***

Hari sudah siang, matahari terik begitu menyengat di kulit. Baekhyun yang sedari tadi sangat lelah berjalan hanya mengikuti kemana gadis itu membawanya. Keringat sudah melucur di pelipis pria itu. “Hei gadis bodoh! Sebenarnya kita akan kemana eoh? Dari tadi aku mengikutimu berjalan seperti tidak ada ujungnya,” dengus Baekhyun. Ji Eun memutar bola matanya. “Jika kau lelah, pulanglah sana dan jangan harap aku mau mengantarkanmu.” Balas Ji Eun.

Baekhyun yang masih kelelahan, akhirnya hanya bisa mengikuti Ji Eun. Tentu saja, ia sedang berada di Negara yang asing. Dan bagaimana ia pulang seorang diri? Baekhyun saja tidak bisa bahasa Jepang, pasti akan sulit jika ia harus berkomunikasi dengan masyarakat di Negara itu.

Ji Eun masih berjalan sambil melihat-lihat rumah di sekitarnya. Entah sepertinya gadis itu sedikit lupa dengan alamat rumah orang tuanya. “Ya tuhan, bagaimana aku bisa lupa dengan cirri-ciri rumah orang tuaku?” gumam Ji Eun. Gadis itu masih berusaha mengingat seperti apa dan dimana letak rumah orang tuanya. “Sedari tadi kita berjalan jauh dan tidak ada hasilnya, sebenarnya dimana rumah orang tuamu? Jangan bilang kau lupa dimana letaknya.”

Sialan. Mengapa ia tahu apa yang sedang aku pikirkan?, batin Ji Eun. “Tck, sudah kuduga. Lebih baik tanya orang sekitar sini, siapa tahu mereka tahu dimana alamat itu.” ujar Baekhyun sambil menatap malas ke arah Ji Eun.

“Masalahnya itu. Aku sendiri tidak bisa bahasa Jepang,” Gumam Ji Eun namun terdengar jelas di telinga Baekhyun. Pria itu membelakkan matanya seakan tidak percaya dengan perkataan Ji Eun. “Apa? kau bilang tidak bisa? YAK! Dasar bodoh! Lalu apa yang harus kita lakukan? Apa kita akan menjadi gelandangan disini? Tsk,” dengus Baekhyun kesal.

Ji Eun yang merasa tidak terima dengan apa yang dikatakan Baekhyun, langsung menatap Baekhyun kesal. “Terserah kau saja!”

Baekhyun akhirnya berjalan mendahului Ji Eun. Gadis itu hanya bisa terdiam dan mengekori Baekhyun dari belakang. Ji Eun berjalan sambil menundukkan kepalanya. Entah gadis itu juga merasa tidak enak pada Baekhyun. Karena kecerobohannya, akhirnya mereka jadi tersesat seperti ini.

Bruk

Oh shit. Ji Eun baru saja menabrak seseorang yang lewat di hadapannya tadi. Karena Ji Eun seorang wanita harus merelakan barang bawaannya jatuh ke aspal begitu saja.

“Maafkan aku nyonya, maaf.” Sesal Ji Eun. Wanita paruh baya itu segera membereskan barang bawaannya. Ji Eun tidak tinggal diam, dengan cepat Ji Eun segera membantu wanita yang ada di hadapannya membereskan barang-barang wanita itu.

“I-ibu?”

***

“Bagaimana kau bisa lupa? Tsk, dasar anak muda jaman sekarang.” Ledek Nyonya Hwang. Ji Eun mengerucutkan bibirnya. “Ya tentu saja. Aku sudah lama sekali tidak kesini, jadi maklum saja jika aku lupa.” bela Ji Eun.

Nyonya Hwang pun mengalihkan pandangannya. Sedari tadi ia merasa heran dengan pria yang di bawa Ji Eun. Karena semasa hidupnya, Ji Eun tidak pernah membawa seorang pria ke rumahnya. “Dan siapa pria yang ada di sampingmu itu?” tanya Nyonya Hwang yang masih menatap Baekhyun aneh. Ji Eun menyenggol lengan Baekhyun seakan memberikan isyarat agar Baekhyun mengatakan sesuatu.

“Ah maaf, namaku Byun Baekhyun. Aku adalah kekasih dari Hwang Ji Eun, dan kedatanganku kesini untuk meminta persetujuan kalian untuk pernikahan kami,” ucap Baekhyun tanpa rasa gugup. Ji Eun menatap Baekhyun takjub. Tentu saja, baru kali ini ada pria yang berani mengatakan hal seperti itu pada orang tuanya tanpa rasa gugup.

“Kekasih? Ah kurasa kau adalah pria yang beruntung Byun Baekhyun. Karena selama hidupku aku tidak pernah melihat putriku ini berkencan dengan pria, maka dari itu kami sempat mengira jika Ji Eun tidak akan menikah dengan pria manapun,” ujar Nyonya Hwang sambil terkekeh pelan. “Ibu, hentikan. Ini sangat memalukan.” Gumam Ji Eun seraya memeberi isyarat pada Ibunya.

“Maafkan Ibu Ji Eun-ah, karena percuma Ibu menyimpan rahasia itu. Pasti nantinya akan terbongkar juga,” ledek wanita paruh baya itu. Ji Eun mendelikkan matanya. Namun disisi lain Baekhyun juga ikut tertawa.

Sialan kau Byun Baekhyun.

***

“Kalian pasti sangat lelah, Istirahatlah dulu.” Ujar Nyonya Hwang sambil melemparkan senyumannya. Baekhyun pun mengangguk dengan ramah. Ji Eun yang melihatnya hanya bisa memutar bola matanya.

Di depan orang tuaku bisa-bisanya dia bersikap manis seperti itu, cih.

Ji Eun menatap tajam Baekhyun. Entah melihat Baekhyun seperti itu membuatnya merasa aneh—maksudnya Baekhyun yang ramah seperti ini sangatlah cocok untuk wajah yang menurutnya cute itu. Baekhyun yang merasa sedari tadi di perhatikan langsung menoleh ke arah Ji Eun yang masih terdiam menatap tajam dirinya.

“Apa?”

Suara yang menurut gadis itu sangatlah menyebalkan, membuat Ji Eun langsung tersadar dari tatapannya. Gadis itu terlihat salah tingkah akibat Baekhyun menangkap basah dirinya yang tengah menatap pria itu. Ia menghela nafasnya pelan seakan tengah mengatur perasaannya. “Bukan urusanmu.” Jawab Ji Eun dingin lalu berjalan meninggalkan Baekhyun sendirian di depan kamarnya.

“Gadis aneh,” gumamnya pelan. Semenjak kali pertama ia bertemu dengan gadis itu, Hari-harinya terasa begitu berubah. Dari ratusan gadis, hanya Ji Eun yang membuatnya gila. Menurutnya, selama ia berdekatan dengan Ji Eun, maka ia juga harus lebih bersabar.

Disisi lain seorang gadis yang masih mengatur detak jantungnya hanya bisa terdiam di balik pintu kamar itu. Entah belakangan ini Ji Eun merasa ada hal yang aneh dalam dirinya ketika ia berdekatan dengan pria itu—semacam jantung berdegup kencang sehingga sangat sulit untuk mengontrol itu semua.

Lalu apa? Apa semua ini karena sebuah perasaan? Lalu perasaan apa?

Apa mungkin….jatuh cinta? Oh tidak, ini adalah sebuah bencana baginya dan bagi pria itu juga. Maka dari itu, Ji Eun selalu meyakinkan dirinya untuk selalu beranggap bahwa ia hanya menyukai dan mengagumi sunbae-nya, yaitu Park Chanyeol.

***

Ketika melewati malam hari, mungkin sudah biasa. Namun untuk Byun Baekhyun, melewati malam hari di Negara asing untuknya sangatlah berbeda. Apalagi jika melewati malam dengan keluarga dari gadis yang selalu bertengkar dengannya, Hwang Ji Eun.

Baekhyun tidak pernah menyangka jika hidupnya akan berujung seperti ini. Dan karena kejadian itu membuatnya harus terbangun dari mimpi indahnya.

Byun Baekhyun akan menikah dengan Hwang Ji Eun.

Oh tidak, ini sangatlah buruk. Baginya ini adalah mimpi terburuk. Sangat buruk. Menikah dengan gadis yang sama sekali tidak ia cintai, itu sangatlah menyakitkan.

Baekhyun hanya bisa tersenyum miris. Matanya tak henti-hentinya untuk menatap keindahan bintang di langit. Jemarinya meraba kantong celananya. Ponsel berwarna putih dengan design yang sangat menarik. Baekhyun menyalakan ponselnya, namun ketika ponsel itu menyala sebuah wallpaper terpampang jelas di layar ponsel itu. Seorang gadis cantik dengan boneka di genggamannya membuat gadis itu terlihat sangat manis.

Baekhyun tersenyum kecil. Setiap ia sedih, hanya foto itulah yang menghiburnya. Semua orang mengenal Byun Baekhyun dengan sifatnya yang tidak berperasaan dan pervert. Namun disisi lain, Baekhyun hanyalah pria lemah hanya karena seorang gadis.

Tok Tok

Suara ketukan pintu terdengar, membuat Baekhyun harus tersadar dari lamunannya.

“Masuklah,”

Seorang gadis dengan pakaian yang terbilang ‘cukup terbuka’ tengah bediri di dekat pintu. Matanya menelusuri seluruh sudut kamar itu. Matanya kini tertuju pada sesosok pria yang tengah bersender pada jendela.

“Apa yang kau lakukan di sana?”

Gadis itu, Hwang Ji Eun langsung tersadar dari lamunannya. Ia hanya bisa memalingkan wajahnya seakan tidak ingin dikira telah menatap pria yang menurutnya menyebalkan itu. “Turunlah ke bawah. Ibuku sudah menyiapkan makan malam,” jawab Ji Eun seraya melangkahkan kakinya mendekat pada Baekhyun.

Baekhyun yang merasa janggal langsung menatap Ji Eun dari atas sampai bawah—dan benar saja gadis itu tengah berpakaian yang cukup terbuka mala mini. Baekhyun menggelengkan kepalanya seakan tengah menghilangkan pikiran anehnya itu.

Ji Eun hanya menatap Baekhyun was-was karena melihat tatapan Baekhyun yang tajam membuatnya semakin takut dan berhati-hati. Tanpa di sadari wajah Baekhyun sekarang berada tak jauh dari wajah Ji Eun. Gadis itu meneguk air lirunya sendiri. Semakin Baekhyun mendekat, semakin cepat juga kecepatan detak jantung gadis itu.

Ruangan terasa begitu panas—mungkin karena karena keadaan mereka yang sekarang benar-benar dekat. Ji Eun merasakan hembusan nafas Baekhyun yang panas itu, dan tentu saja membuat degup jantungnya semakin kencang. Ji Eun menutup matanya seakan berharap tidak akan tejadi apa-apa.

“Kau pikir dengan pakaianmu yang cukup terbuka ini membuatku menyukaimu, huh? Jangan berpikiran yang macam-macam Hwang Ji Eun,”

Bohong. Pria itu berbohong. Bohong jika Baekhyun tidak tergoda dengan pakaian yang tengah di kenakan Ji Eun. Pria itu malah merasa sekujur tubuhnya terasa panas karena jarak tubuh mereka yang lumayan dekat. Baekhyun sendiri sudah mati-matian menahan semuanya, karena ia tidak mau menyentuh gadis itu. Entah mengapa tetapi Ji Eun berhasil membuat Baekhyun tidak tega untuk menyentuh sedikit dari tubuh gadis itu.

“Turunlah ke bawah, Ibumu pasti telah menunggu.” Lanjutnya. Ji Eun sendiri masih terdiam di sana karena kejadian yang baru saja tejadi. Jemarinya memegang dadanya—benar saja, detak jantungnya tengah berpacu dengan cepat.

Sialan kau Byun Baekhyun

***

Makan malam itu terasa sangat sunyi. Tidak ada yang ingin memulai pembicaraan. Nyonya Hwang berdeham kecil. Matanya menatap ke dua orang yang masih focus dengan makanan mereka. “Kalian, sejak kapan menjalin hubungan? Dan mengapa Ji Eun tidak memberi tahuku?”

Ji Eun yang mendengar itu langsung tersedak. Dengan cepat ia meneguk air di gelas itu. Gadis itu berusaha memberikan isyarat pada Baekhyun agar menjawab pertanyaan Ibunya itu. Baekhyun yang melihat itu hanya bisa terdiam dan berusaha mengacuhkan itu semua. Ji Eun mendengus kesal karena Baekhyun telah mengacuhkan isyarat yang ia berikan tadi.

“Ji Eun?”

Suara itu berhasil membuat Ji Eun mencelos seketika. Keringat dingin meluncur di pelipisnya. Tangannya terasa gemetar, seakan tidak tahu harus menjawab apa.

“Kami..”

58 responses to “Really, I Fall In Love [Chapter 2]

  1. baekhyun suka sama taeyeon ya? waaaah aku sukaaaa lanjjuut pokoknya baekhyun jangan jahat sama ji eun yaa-_- wkwk apakah chanyeol nantinya juga menyukai jieun? hahah cepetan lanjut thooor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s