A Thousand Paper Cranes | Chapter 6

ImageTitle: A Thousand Paper Cranes

Parts: Chapter 1/Prologue | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6

Author: Vanana

Genre: Romance, Drama

Length: Chaptered

Main Casts: Oh Sehun, Ahn Hayeon (OC/You), Kim Jongin

Note: Once again, short chapter! Maafin yah semuanya, chapternya lagi-lagi pendek. Ini memang sudah menjadi kebiasaan huahaha. Udah updatenya lama, pendek pula -__- Ini semua dikarenakan sesuatu. Aku kan emang suka bikin lagu (curhat) dan kemaren-kemaren ini aku galau, mending lanjutin ff dulu atau selesain lagu dulu. Terus aku mikirnya gini “I want to be a composer, a songwriter, a musician. Not a writer.” Nah gara-gara itulah aku menyelesaikan 3 hari terakhir liburan dengan nulis lagu dan males-malesan. And the song is finally done! Tinggal recording mixing blablabla seneng bingit wakakak. Dan akhirnya, baru sore inilah aku menyelesaikan ff ini. Liburan kemaren-kemaren aku males-malesan gak produktif banget hueheuhe. Enzoyyyy.

***

 “Selamat pagi, Hayeon! Bagaimana kabarmu hari ini?”

Seperti biasa, seorang suster masuk ke kamarku dan menyapaku setiap pagi. Ia juga membawakanku sarapan dan obat. Terkadang, ia datang bersama Kahi untuk mengecek bagaimana keadaanku. Dan setiap Kahi memeriksaku, hasilnya selalu sama: “tidak membaik dan tidak memburuk. Jaga kesehatanmu.”

 “Ya, kau tahu sendiri kan. Jika kau menanyakan kabar kesehatanku, jawabannya tentu tidak pernah baik,” aku bilang pada suster itu. Senyumnya yang tadinya lebar, seketika memudar.

 “Kau akan sembuh,” katanya, “leukemia bisa diobati, tapi dalam jangka waktu yang lumayan lama. Dan seperti dirimu, penderita leukemia tidak boleh terlalu banyak keluar rumah.”

Itulah hal yang selama ini membuatku takut. Leukemia bisa disembuhkan, tetapi waktu yang dibutuhkan cukup lama. Bagaimana jika sel leukemiaku sudah terlanjur menyebar sebelum pengobatannya selesai? Lagipula, aku adalah penderita leukemia kronik. Walaupun perjalanan penyakitnya lebih lambat daripada leukemia akut, kemungkinanku untuk sembuh lebih sedikit.

 “Kenapa dari sekian banyak orang di dunia, harus aku yang menjadi salah satu dari penderita penyakit ini?” aku mengeluh pada suster itu, walaupun aku tahu keluhanku tidak akan mengubah apa-apa.

 “Hayeon, rencana Tuhan selalu indah,” kata sang suster, “sekarang, makan dulu sarapanmu. Aku masih punya pekerjaan lain.”

Suster itu meninggalkan kamarku. Sambil menyantap sarapan, aku merenungkan kata-kata yang tadi diucapkannya: rencana Tuhan selalu indah. Aku berpikir, apa yang indah dari menderita kanker? Jika aku tidak disini, aku pasti akan hidup bahagia. Ada orang tuaku, ada teman-temanku, aku bisa pergi kemana saja. Aku tidak harus terjebak dalam sebuah rumah sakit, tanpa teman kecuali suster dan dokter. Tentu saja aku tidak menyalahkan Tuhan dalam hal ini, tetapi aku tidak setuju dengan rencana-Nya untukku.

Tepat ketika airmataku akan jatuh, seseorang membuka pintu kamarku. Aku kaget untuk beberapa saat ketika pintu kamar terbuka, namun aku lebih kaget lagi ketika melihat siapa yang ada dibalik pintu itu.

 “Ibu!” Aku memanggilnya dengan semangat. Kegembiraanku tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Setelah sekian lama tidak bertemu dengannya, sekarang ia disini menjengukku. Baru saja kemarin aku hendak meneleponnya, sekarang dia datang.

Ibuku tersenyum melihatku. Ia segera mendatangi tempat tidurku dan memelukku dengan erat. Sudah lama sekali sejak aku merasakan hangatnya pelukan seorang ibu.

Perasaan gembiraku menipis ketika aku menyadari bahwa ada yang kurang. Ayahku tidak ikut datang bersama Ibu. Padahal biasanya mereka selalu kesini bersama.

 “Dimana Ayah?” kutanyakan pada Ibuku, berharap bahwa ia tidak akan menjawab bahwa Ayahku sedang sibuk dengan urusan pekerjaan.

 “Di rumah, dia sedang membereskan barang-barangnya. Nanti sore ia akan keluar kota untuk beberapa hari,” jawabnya, “awalnya dia ingin ikut bersamaku, tetapi sepertinya ia tidak memiliki banyak waktu untuk beres-beres.”

 “Mengapa sudah lama sekali kalian tidak mendatangiku?” dengan perasaan senang berbalut sedikit kesedihan, aku bertanya lagi pada wanita yang telah melahirkanku itu.

Ibuku terdiam untuk sesaat, tetapi pada akhirnya ia tetap menjawab pertanyaanku, “kami sibuk, Hayeon. Dan kau tahu kan, ini semua untukmu.”

Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran orangtuaku. Aku tidak pernah meminta untuk tinggal di rumah sakit—mereka yang memaksaku tinggal disini. Pilihan mereka hanya mempersulit keadaan. Tidak ingin berdebat dengan ibuku, aku diam saja dan tidak membalas perkataannya, walaupun sebenarnya banyak sekali yang ingin aku keluhkan padanya.

Baru saja kami berbicara sebentar, ibuku bilang bahwa ia harus segera pulang. Aku merasa kecewa, tentunya. Tetapi setidaknya ia sudah meluangkan waktunya untukku. Dia datang disaat yang tepat, ketika aku hampir menangis. Seorang Ibu memang tahu kapan anaknya membutuhkannya. Ya, walaupun kemarin-kemarin ia tidak ada bersamaku.

Ketika ibuku sudah pulang, aku kembali melanjutkan sarapanku. Dengan perasaan terpaksa, aku menyantap makanan sehat yang sudah disiapkan untukku. Aku memang tidak suka makanan ini, tapi aku lebih tidak suka jika aku kelaparan.

Beberapa butir obat terlihat dihadapanku. Itu adalah obat yang sudah biasa kuminum setiap pagi. Rasanya tidak enak, tetapi aku tetap saja meminumnya. Namun hari ini sepertinya aku sedang tidak ingin minum obat. Sebenarnya, hari-hari lainnya pun aku tidak ingin minum obat. Tetapi hari ini, aku tidak meminumnya bukan karena aku tidak menyukainya, melainkan karena akumalas meminumnya.

Kusimpan obat-obat itu dalam sebuah plastik kecil dan kutaruh diatas meja. Aku akan meminumnya besok. Jadi, menurutku besok suster tidak perlu membawakan obat baru untukku. Lagipula, tidak meminum obat sekali saja tidak akan terlalu berpengaruh, kan?

Aku berbaring untuk sesaat, dan tiba-tiba aku teringat akan burung-burung kertas itu. Segera kuambil kotak yang berisi burung kertas yang terletak di sudut ruangan. Aku bawa kotak itu ke tempat tidurku, lalu kuhitung isinya satu per satu. 235. Aku baru menyelesaikan 235 burung kertas dari 1000.

Sejujurnya aku sempat merasa bosan dengan melipat burung kertas ini. Tetapi, mengapa kebahagiaan orang lain yang bahkan tidak mengenalku bisa terasa lebih penting dibandingkan kebahagiaanku sendiri?

Terkadang, kita memang bisa jatuh cinta kepada seseorang secara berlebihan. Terlalu berlebihan, sehingga kau lupa bahwa kau juga memiliki perasaan. Seakan-akan nyawamu ada di tangan mereka, sehingga kau akan melakukan apapun untuk tetap hidup. Kau sanggup mati untuk mereka. Tetapi, jika mereka juga mencintaimu, kau tidak akan kehilangan apapun.

Aku belum menemui Sehun hari ini. Mungkin keadaannya tidak akan berubah, sama seperti kemarin. Dia akan tetap tertidur disana, dan ketika aku masuk ke kamarnya, aku akan melihatnya terbaring dan aku akan mengaguminya. Lalu, kuajak dia bicara seakan-akan dia adalah orang yang sudah lama mengenalku. Dan ketika itu, yang akan kudengar hanyalah kesunyian.

Itu semua bukan berarti aku bosan menemuinya. Hanya saja, sekarang aku sedang ingin diam di kamarku, tidak melakukan apa-apa. Sebenarnya, bermalas-malasan memang pekerjaanku setiap hari sejak aku berada disini. Tetapi entah mengapa, hari ini rasanya beda. Aku tidak merasa bosan seperti hari-hari lainnya. Aku tidak mencari hal yang menyenangkan untuk dilakukan.

Tiba-tiba saja, ketika aku sedang berbaring, aku merasa pusing. Sepertinya, aku memang harus beristirahat. Aku memutuskan untuk tidur sejenak, dan ketika aku bangun, aku akan mengunjungi Sehun. Aku akan menceritakan tentang kedatangan Ibuku tadi pagi.

Aku terbangun karena keributan dari kamar Sehun. Aku sangat ingin melihat apa yang terjadi, tetapi kepalaku benar-benar pusing dan badanku terasa sangat lemas. Ini semua pasti karena tadi pagi aku tidak minum obat. Ku kira, aku akan merasa baikan setelah tidur sebentar. Tetapi tidak, semuanya menjadi lebih buruk.

Hebatnya, rasa penasaranku melebihi rasa sakitku ini. Aku memaksakan diri untuk berdiri dan pergi ke kamar Sehun. Setiap langkah yang kujalani berasa sangat berat, aku bisa terjatuh kapan saja. Tetapi aku berusaha untuk tetap berjalan dan melihat apa yang terjadi.

Ketika aku sudah berada di luar kamarku, kudapati pintu kamar Sehun terkunci. Tetapi aku tetap bisa mendengar keributan dari dalam. Bunyi alat-alat khas rumah sakit, dan suara dokter-dokter yang terburu-buru. Aku sudah biasa mendengar hal-hal semacam ini di TV, dan rasanya sangat menakutkan berada di dalam sana.

Meskipun aku merasa sangat pusing, aku berusaha untuk tetap berdiri di depan pintu kamar Sehun dan menunggu seseorang keluar dari dalam kamarnya. Air mataku mengalir ketika mendengar suara-suara yang tidak jelas dari dalam sana. Apa yang terjadi pada Sehun?

Rasa pusing yang kurasakan pada kepalaku seketika bertambah. Aku terjatuh didepan pintu. Pengelihatanku menjadi buram. Tepat ketika seseorang membuka pintu kamar Sehun dari dalam, aku merasa tidak bisa menahan tubuhku lagi. Semuanya menjadi gelap seketika. 

84 responses to “A Thousand Paper Cranes | Chapter 6

  1. Menyentuh bgt story’a thorr, ngena bgt. Hayeon so sweet bgt yaa, blm kenal tp mw jenguk sehun tiap hari, ngajak ngobrol sehun (meski gk diwaro krn sehun koma), bantuin bikin burung kertas’a. Lanjutin ya thorrrr, ditunggu bgt part selanjut’a

  2. author vananaaaaaa~ 😥 lanjutin jeballl… walaupun menurut aku adegan sedihnya belum apa-apa (dan mungkin belum ada bagi sebagian besar orang) aku udah nangis-nangis baca ini T_T terharu banget sama Hayeon, bener-bener cewek yang perfect deh!! (ga bisa menjelaskan dengan kata-kata)

  3. Wah makin penasaran di lanjutin dong thor jgn lama” dan kalo bisa di panjangin dong?
    Btw apa yg terjadi sama Sehun??

    Hwaiting!! Utk chapt selanjutnya!

  4. Pingback: A Thousand Paper Cranes | Chapter 7 | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s