Black Swan – Chapter 10


Black Swan

| Genre : Life, Romance |

| Rating : General |

| Cast : Lee Taemin, Byun Baekhyun, Song Dayeon |

Disclaimer : Plot, karakteristik, dan cerita sepenuhnya hasil imajinasi saya, Enny Hutami. Seluruh pemeran punya orangtua masing-masing kecuali Song Dayeon yang keberadaannya entah ada atau tidak.

© Copyright EnnyHutami’s Fanfiction 2013

Previous : Chapter 9

~œ Swinspirit œ~

Derangan bel tanda pergantian pelajaran terdengar sampai ke ruang kesehatan di mana Baekhyun dan Dayeon berada. Sangking bosannya Dayeon menunggu di sana, ia akhirnya tertidur sepertinya yang disuruh oleh Baekhyun sebelumnya.

Di dekatnya, Baekhyun yang masih betah memperhatikan wajah tidur Dayeon akhirnya menyerah dan membangunkan gadis itu untuk kembali masuk ke kelas. Ia tidak ingin hanya karena masalah seperti ini, mereka berdua ketinggalan materi. Walaupun Baekhyun terlihat cuek pada apapun, sebenarnya dia sangat mempedulikan nilai dan kemampuannya.

Baekhyun bangkit dari duduknya dan menghampiri tempat tidur yang sedang ditempati Dayeon. Sebelum membangunkan gadis itu, terlebih dahulu Baekhyun menyelipkan beberapa helai rambut Dayeon yang jatuh di wajahnya ke belakang telinga. Dan ia tersenyum melihat wajah damai milik Dayeon yang tengah tertidur—walaupun gadisnya itu tertidur tanpa senyuman.

Kemudian Baekhyun merundukkan kepalanya mendekati kepala Dayeon yang tidur dengan badan miring. Lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga Dayeon. “Kau mau terus tidur?” bisiknya.

Memang pada dasarnya Dayeon tidak benar-benar bisa tidur karena Baekhyun yang terus-terus saja menatap ke arahnya, Dayeon pun langsung membuka kelopak matanya dan langsung mendorong pundak Baekhyun ke belakang agar menjauhinya. Masalahnya, jarak antara keduanya sangatlah dekat.

“Ah wae?” omel Dayeon seolah-olah tidurnya terganggu karena Baekhyun. Namun, Baekhyun tetap percaya bahwa Dayeon memang benar-benar tidur. Kalau begini, bisa dikatakan bahwa Dayeon memang jago menari balet dan juga berakting—tentu saja, menari balet juga membutuhkan akting untuk menampilkannya di depan umum.

“Aku ingin kembali ke kelas.” Kata Baekhyun sambil menegapkan badannya.

Mendengar kalimat Baekhyun, Dayeon segera bangkit dan menatap Baekhyun dengan pandangan memohon untuk tetap menemaninya di sini. Tetapi, sebelum Dayeon sempat bersuara, Baekhyun lebih dulu menyelanya.

“Jangan khawatir. Aku akan selalu melindungimu,” ucapnya. Lalu, “Dari apapun.” Lanjutnya.

Tentu saja Dayeon merasa tersentuh mendengar ucapan Baekhyun yang menurutnya, ia hanya akan mendengarnya sekali ini saja—melihat dari cara bicara Baekhyun yang terlihat enggan mengucapkan perkataannya tadi.

Senyum Dayeon terulas dengan sendirinya. Ia merasa menjadi orang paling aman setelah mendengar kalimat Baekhyun itu. Seperti dirinya memiliki segudang bodyguard yang selevel dengan presiden Amerika.

“Terima kasih, Baekhyun.” Ucap Dayeon masih dengan senyumnya.

Baekhyun sendiri seperti tersihir dengan senyum Dayeon yang membuatnya begitu terpikat. Namun, ia bisa menahan senyumnya sendiri terulas dengan memalingkan wajahnya dan berjalan menuju pintu. Dengan begitu, Dayeon tidak bisa melihat Baekhyun yang kini tengah salah tingkah karena senyum termanis Dayeon yang pernah dilihatnya.

Setibanya mereka berdua di kelas, keadaan kelas yang tadinya sedikit ribut menjadi sepi senyap. Tak ada seorangpun yang berbicara. Yang ada hanya tatapan yang ditujukan pada keduanya—lebih tepatnya pada Dayeon.

Walaupun begitu, Baekhyun tidak memedulikannya. Dia hanya menyuruh Dayeon berjalan lebih dulu dan menyuruh Dayeon untuk duduk di kursinya—tepat di kursi di sebelah kursi Dayeon yang kini mejanya sudah penuh dengan coret-coretan. Beberapa anak menambahkan tulisan di sana.

Dayeon hendak melihat isi tulisan tersebut, namun Baekhyun menutupinya dengan meletakkan buku-bukunya di sana.

Kemudian Dayeon merundukkan kepalanya karena mendengar suara-suara bisikan dari murid-murid di kelas yang membicarakannya. Dan karena belum ada guru yang masuk ke kelas, jadilah dengungan seperti lebah itu tak kunjung berhenti.

“Ada apa dengan Baekhyun?”

“Baekhyun membelanya habis-habisan. Baru pertama kali aku melihatnya seperti itu.”

“Mungkin Dayeon sudah menggoda Baekhyun.”

“Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan di rumah. Mereka kan tinggal di satu atap.”

Baiklah. Dayeon harus benar-benar mengendalikan emosinya sendiri mendengar bisik-bisik yang jelas sekali ditunjukkan padanya dan juga pada Baekhyun. Ia bukan gadis yang cengeng, jadi untuk hal yang seperti ini, dirinya tidak menangis seperti hal yang terjadi tadi pagi.

Beberapa pasang mata yang menatap Dayeon pun membuat gadis itu semakin merundukkan kepalanya.

Berkebalikan dengan Dayeon, Baekhyun tidak bisa mengendalikkan emosinya yang sudah menguap ke ujung kepalanya. Namun, sebelum Baekhyun menggebrak meja untuk menyuruh orang-orang itu diam, sebuah suara memerintah terdengar.

“Bisakah kalian diam? Kalian menggangguku.” Kata Taemin. Walaupun kalimatnya lebih ditunjukkan pada permintaan, tetapi tidak dengan intonasi dan tatapan mata tajam yang melihat ke sekeliling kelas.

Semua orang di kelas langsung diam dan berpura-pura melakukan sesuatu yang lain untuk tidak terkena omelan Taemin—yang walaupun jarang, tetapi sangat menyeramkan saat Taemin marah.

Di bangkunya, Baekhyun justru mendengus mendengar Taemin yang mendahuluinya untuk mendiamkan orang-orang yang terus saja berbisik-bisik.

~œ~œ~œ~

“Tidak. Aku tidak ingin masuk sekolah.” Dayeon tetap bergeming di dalam selimutnya ketika Baekhyun mencoba untuk membangunkannya.

“Biarkan saja dia, Baekhyun-a.” Ucap ibu Baekhyun yang berdiri di dekat Baekhyun dengan lembut. Dia sudah tahu semua apa yang telah terjadi pada Dayeon, dan menurutnya wajar saja jika Dayeon menolak untuk berangkat ke sekolah hari ini.

Namun, berbeda dengan Baekhyun yang tetap bersikeras menyuruh Dayeon agar tetap berangkat ke sekolah. Menurutnya, jika Dayeon bersikap seperti ini, justru membuat orang-orang semakin senang untuk mengerjainya.

Contohnya seperti sepatu Dayeon yang disembunyikan di tempat sampah (entah disembunyikan atau benar-benar dibuang) saat Dayeon melepas sepatunya untuk masuk ke laboratorium yang lantainya beralaskan karpet.

“Kau tidak tahu seberapa banyak teror yang aku dapatkan?” tanya Dayeon pada Baekhyun sambil memperlihatkan wajahnya—hanya wajahnya saja. “Aku tidak mau!” kemudian ia kembali menutupi tubuhnya dengan selimut.

“Baekhyun-a, ibu rasa—”

“Jangan kekanakan begini, Song Dayeon. Sebentar lagi akan diadakan ujian, dan kau ingin bermalas-malasan di sini?” bukannya kurang ajar karena memotong ucapan ibunya sendiri, namun Baekhyun merasa bahwa ibunya hanya akan membela Dayeon yang tetap tidak ingin masuk sekolah.

“Kalau begitu, beri aku catatanmu saja!” Dayeon tetap mempertahankan posisinya.

Akhirnya Baekhyun menghela nafas berat tanda bahwa ia menyerah. “Baiklah. Lakukan sesukamu.” Katanya, lalu keluar dari kamar Dayeon begitu saja.

Setelah meyakinkan dirinya sendiri bahwa Baekhyun benar-benar keluar, barulah Dayeon menyibakkan selimut yang mengelilingi tubuhnya. Begitu matanya bertemu dengan ibu Baekhyun, Dayeon segera menghela nafas dan merundukkan kepalanya.

“Maaf, bibi.” Ucap Dayeon menyesal.

Ibu Baekhyun melangkah menghampiri Dayeon dan duduk di samping gadis itu, lalu memeluknya layaknya seorang ibu yang memeluk anak gadisnya yang sedang mengalami banyak masalah. “Tidak apa-apa,” katanya sambil mengelus punggung Dayeon lembut. “Semua akan baik-baik saja.”

Mendapat perlakuan seperti itu dari ibu Baekhyun, Dayeon membalas pelukan ibu Baekhyun dan meneteskan air matanya karena tak kuasa menahan rasa sesak yang memenuhi dadanya.

~œ~œ~œ~

Derang bel terdengar ke seluruh penjuru sekolah. Tepat beberapa detik setelah itu, beberapa murid sudah berlari keluar kelas dengan tas di punggung mereka walaupun guru mungkin masih beberapa yang berada di kelas. Itu karena tak sabar untuk menjalani aktivitas lain di luar sekolah.

Berbeda dengan Baekhyun yang masih membereskan barang-barangnya.

“Baekhyun, I want to ask you something.” Kris, guru bahasa inggris yang tadi mengajar di kelas menghampiri Baekhyun yang hendak keluar kelas.

Baekhyun menoleh sejenak pada Eunji sebelum akhirnya mengikuti Kris yang berjalan keluar kelas lebih dulu.

“Aku menunggumu di halte.” Kata Eunji yang tahu apa maksud dari tatapan Baekhyun.

Langkah Kris diarahkan menuju koridor yang sepi di mana area itu hanya terdapat laboratorium saja. Sehingga tidak ada murid yang akan mencuri dengar pembicaraan mereka.

How’s Dayeon?” tanya Kris memulai.

Baekhyun memutar bola matanya karena fakta yang ia tahu bahwa Kris bisa berbahasa Korea, namun tetap menggunakan bahasa inggris. “Buruk. Dia mengurung diri di kamar, dan banyak yang menerornya lewat pesan singkat atau telepon.” Jawabnya panjang lebar.

“Jadi, itu sebabnya aku tidak bisa menghubunginya? Dia mematikan ponselnya.” Baekhyun tidak menanggapi kesimpulan yang baru saja diucapkan Kris. Lalu, Kris melanjutkan. “Aku meminta saranmu,” ucap Kris dan Baekhyun menunggu. “Apa sebaiknya aku memindahkan Dayeon ke Seoul—”

“Tidak!” Baekhyun menolak dengan cepat, membuat Kris menaikkan sebelah alisnya yang tebal. Lalu, “Jika dia pindah, kemungkinan terjadi hal seperti ini cukup besar. Dan, di sekolah barunya, ia tidak mengenal siapa-siapa. Itu lebih buruk.”

Walaupun alasan yang baru saja Baekhyun katakan benar, namun Kris tahu bahwa ada maksud lain mengapa Baekhyun menolak idenya itu mentah-mentah.

Tentu saja karena Baekhyun tidak mau Dayeon pergi jauh darinya.

~œ~œ~œ~

Khusus untuk hari ini, Ibu Baekhyun pulang lebih awal karena ia tidak lagi memiliki jam mengajar di sekolah dan juga karena khawatir dengan Dayeon yang sendirian di rumah.

Ketika bel berbunyi, ibu Baekhyun tengah menyiapkan makan malam beberapa jam lagi. Mungkin biasanya Dayeon membantunya, namun untuk kali ini, ibu Baekhyun tidak ingin menganggu gadis itu dan membiarkannya sendirian di kamar.

Mendengar derang bel tersebut, ibu Baekhyun langsung meletakkan alat memasaknya dan mencuci tangannya sebelum beranjak dari dapur untuk melihat tamunya.

Begitu membuka pintu utama, ibu Baekhyun sedikit terkejut melihat siapa yang berada di depan pintu rumahnya. Seorang kawan lama anaknya, Byun Baekhyun.

“Lee Taemin…,” gumam ibunya terkejut melihat Taemin untuk pertama kalinya sejak anak perempuannya meninggal beberapa tahun silam.

Anyeonghaseyeo, bibi,” sapa Taemin sopan dengan sedikit membungkukan tubuhnya.

“Ah… Baekhyun belum pulang.” Kata ibu Baekhyun bingung—bingung apa yang harus ia katakan karena ia tahu bahwa Baekhyun dan Taemin tidak lagi berhubungan baik, bahkan lebih buruk dari itu.

Taemin mengulas senyum sopannya, lalu menggelengkan kepalanya. “Aku kemari untuk melihat Dayeon.” Katanya.

“Dayeon?” Tanya ibu Baekhyun. “Y-ya, dia ada di kamarnya. Silakan masuk.” Lalu, ibu Baekhyun memberi jalan agar Taemin bisa masuk dan mengantarnya ke lantai atas.

Ibu Baekhyun mengetuk pintu kamar Dayeon seketika ia sampai di depan pintu tersebut. Sementara itu, Taemin sudah duduk di sofa yang berada di dekat pintu menuju beranda. “Dayeon-a, kau kedatangan tamu.” Ucapnya.

“Tunggu sebentar, bi.” Teriak Dayeon dari dalam kamar. Dan beberapa menit setelah itu, Dayeon muncul dari balik pintu dengan pakaian rumahnya. Jumpsuit pendek warna hitam bermotif polkadot putih kecil-kecil.

“Siapa yang datang, bi?” Tanya Dayeon penasaran.

“Taemin.” Jawab ibu Baekhyun sambil melirik ke arah ruangan yang memang khusus disediakan untuk teman-teman Baekhyun—kini juga teman-teman Dayeon. Lalu ia berbalik untuk kembali ke dapur.

Sejujurnya, Dayeon sedikit heran bagaimana ibu Baekhyun tahu nama tamunya itu. Namun jika dipikir-pikir lagi, mungkin saja Taemin menyebutkan namanya tadi. Jadi ia tidak menghiraukan hal kecil itu dan bergegas menghampiri Taemin yang menunggunya.

“Hai,” sapa Taemin ketika melihat kehadiran Dayeon.

“Hai,” balas Dayeon sambil mengulas senyum lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Taemin.

“Bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja?” tanya Taemin yang terdengar khawatir.

Dayeon menganggukkan kepalanya. “Ya, aku baik-baik saja. Hanya saja…,” dia menggantungkan kalimatnya. Lalu, “Yah, kau tahu sendiri.” Lanjutnya.

Kemudian Taemin merogoh tasnya dan mencari sesuatu di sana. Setelah beberapa detik mencari, ia mengeluarkan sebuah buku berwarna merah polos dari sana dan menyodorkannya pada Dayeon.

“Aku meringkasnya untukmu.” Kata Taemin sambil mengulas senyumnya.

Raut wajah Dayeon berubah dari bingung ke senang. Tentu saja ia senang karena alasan Taemin yang sangat baik hati ini meringkas materi hari ini untuk dirinya. “Terima kasih, Taemin-a,” ucap Dayeon terharu akan kebaikan hati Taemin.

“Dayeon-a, apa besok kau masuk sekolah?” Taemin bertanya.

Dayeon tak langsung menjawab pertanyaan Taemin. Dia hanya menatap ke arah buku Taemin yang diletakkannya di atas meja dengan pandangan seakan berpikir. “Aku tidak tahu,”

“Pelatih ingin melihat tarianmu.” Sela Taemin sebelum Dayeon benar-benar menjawab tidak. “Kau tahu kan, dia sangat ingin melihatmu menari. Jadi, kau akan masuk?”

Kini Dayeon benar-benar bimbang. Apa yang harus dia lakukan? Di satu sisi ia ingin sekali kembali menari—sudah berapa lama dia tidak menari?—dan di satu sisi, ia tidak ingin menunjukkan wajahnya di depan murid-murid di sekolah—kecuali beberapa orang tentu saja.

“Aku…,” Dayeon hendak menjawab pertanyaan Taemin, namun urung akibat ia yang mendengar suara Baekhyun dan Eunji dari bawah sana. “Oh, Eunji kemari.” Gumamnya dan langsung bangkit dari duduknya.

Tak lama, muncullah Baekhyun dan Eunji di belakangnya dari anak tangga.

“Eunji-ya!” pekik Dayeon girang seperti dirinya sudah lama tidak melihat Eunji.

“Kenapa kau kemari?” pertanyaan yang terlontar dari mulut Baekhyun yang terdengar dingin membuat Dayeon dan Eunji terdiam dan menatap Baekhyun heran.

“Aku sudah selesai.” Balas Taemin—seakan dia sadar diri dengan Baekhyun yang secara tak langsung mengusirnya. Lalu, “Dayeon-a, jangan matikan ponselmu. Aku akan menelepon.” Katanya sebelum beranjak pergi menuruni anak tangga.

Setelah punggung Taemin benar-benar hilang dari pandangan, Baekhyun segera menoleh ke arah Dayeon dengan mata disipitkan. “Jangan pernah menyalakan ponselmu. Kau masih mendapat teror, bukan?” katanya—atau lebih tepatnya perintah.

Dayeon mengangguk. “Mm. Araseo.” Balasnya.

“Kau mendapat teror?” terjang Eunji lalu menyodorkan tangannya yang kosong seperti meminta sesuatu. “Biarkan aku melihatnya.”

~œ~œ~œ~

Mobil itu berhenti tepat di depan sebuah pagar tinggi berwarna merah marun yang hampir senada dengan tembok bermotif batu bata. Seorang gadis keluar dari dalam mobil tersebut dengan tas punggungnya dan langsung melihat-lihat ke dalam pagar tinggi tersebut.

“Akan kutelepon kalau aku ingin pulang.” Katanya pada sang supir. Lalu mendekati interkom dan menekan belnya.

Kemudian terdengar suara dari interkom tersebut yang menanyakan siapakah dirinya dan ingin bertemu siapa. Namun sebelum ia menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba bunyi klek tanda bahwa pagar tidak lagi terkunci terdengar. Tahu bahwa ia diizinkan masuk, ia pun membuka pagar itu agar tubuhnya bisa masuk.

“Goo Riae!” teriak seorang gadis yang tengah berlari menuruni anak tangga.

“Dayeon-a!” gadis itu membalas seraya melambaikan tangannya dengan senyum merekah lebar.

Ya, bagaimana bisa kau kemari?” tanya Dayeon ketika dirinya sudah berada di hadapan Riae dengan wajah heran.

Riae tersenyum sok misterius sambil memiringkan kepalanya. “Aku mengunjungi ayahmu kemarin.” Katanya.

“Kau mengunjunginya hanya untuk menanyakan alamatku?” tebak Dayeon dengan alis terangkat sebelah.

“Yep.” Riae mengangguk senang, sama sekali tidak terlihat risih dengan pandangan Dayeon. “Karena ponselmu tidak bisa dihubungi, jadi aku mengunjungi ayahmu. Lalu berniat untuk menginap di tempatmu,”

“Apa?!” pekik Dayeon tanpa sadar. Dan Riae hanya mengangguk tanpa beban. “Kau… jadi, kau bolos sekolah?”

Alih-alih menjawab pertanyaan Dayeon, Riae justru mencebikkan mulutnya. “Apa kau akan terus membiarkanku berdiri di sini terus? Tasku berat, kau tahu?” katanya dengan bibir bertekuk.

Hampir saja tangan Dayeon mendarat di kepala Riae untuk menjitaknya karena pikiran Riae yang kelewat kekanakan. Lalu menyilakan Riae masuk ke dalam rumah.

“Oh iya, Dayeon-a, kau tidak masuk sekolah?” tanya Riae sembari melangkahkan kakinya mengikuti Dayeon memasuki rumah keluarga Byun yang saat itu sedang sepi.

Dayeon tidak langsung menjawab dan mencoba berpikir keras untuk mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin jika Riae tahu apa yang tengah dihadapinya di sekolah. Tidak sekarang.

“Oh, hei, bagaimana dengan lelaki yang kau ceritakan itu?” Dan beruntungnya Dayeon ketika dengan sendirinya Riae menanyakan hal lainnya. Namun, hal itu justru membuat Dayeon mengerutkan keningnya bingung.

“Lelaki siapa?” Dayeon balik bertanya dengan bingung sembari membukakan pintu kamarnya.

Sebelum menjawab pertanyaan Dayeon, Riae mencoba mengingat-ingat. “Lelaki baik hati, dan lelaki galak itu.” Jawabnya dengan memamerkan deretan giginya.

“Oh,” ucap Dayeon begitu ia menyadari apa maksud Riae. Sebelumnya ia memang menceritakan kedua orang berkarakter berbeda tersebut, namun ia lupa jika ia benar-benar telah menceritakannya.

“Itu…,” sebenarnya Dayeon sedikit bimbang apakah ia ingin memberitahu tentang hubungannya dengan Baekhyun atau tidak. Ia… tidak tahu. Bahkan hubungan mereka berdua tak ada yang tahu kecuali mereka berdua tentunya.

Bukannya mereka ingin menyembunyikan hubungan mereka pada yang lainnya, hanya saja, Dayeon sendiri bahkan tidak tahu bagaimana harus mengatakannya.

“Aku ingin melihat dua orang itu.” Ucap Riae tiba-tiba. “Kau punya fotonya?” tanyanya semangat.

“Riae-ya, aku ingin memberitahumu sesuatu.” Kata Dayeon akhirnya. Menyerah pada perbedatan dengan dirinya sendiri. Riae menoleh dan menunggu Dayeon melanjutkan. “Aku… punya pacar.” Akunya.

Akuan Dayeon sontak membuat mata Riae melebar dan dia langsung melompat mendekati Dayeon dengan mata besarnya. “Kau serius? Sungguh? Siapa dia? Apa lelaki baik hati yang kau ceritakan itu?”

Dayeon tidak lagi heran dengan sikap Riae yang selalu seperti ini. Jadi, alih-alih merasa tengganggu, Dayeon justru merebut ponselnya yang ada di genggaman Riae dan duduk di tepi ranjangnya.

“Bukan,” lalu Dayeon menggeleng, membuat Riae mengerutkan keningnya heran. “Bukan si baik hati, tetapi si lelaki super galak itu.”

“Apa?” pekik Riae tak percaya. Wajah kecewanya terlihat. “Bagaimana bisa?”

Kemudian Dayeon mulai menceritakan semua hal yang terjadi antara dirinya dengan Baekhyun, termasuk Baekhyun yang menciumnya di malam itu serta orang yang dicurigai Baekhyun. Namun, ia tidak memberitahu tentang kepemilikan rumah ini yang notabenenya rumah milik orangtuan Baekhyun.

Memang dasar Riae merupakan pendengar serta penanggap yang baik, selama Dayeon bercerita ia selalu menunjukkan ekpresi yang tepat. Sampai akhirnya Riae mendengar nama orang yang dicurigai oleh Baekhyun telah mengunci Dayeon di kamar mandi.

“Park Hye… ju?” gumamnya terkejut seolah ia mengenal nama tersebut. Jelas hal itu membuat kening Dayeon berkerut.

“Kau mengenalnya?” tanya Dayeon penasaran.

Riae mengangguk kecil. Lalu, “Kau punya fotonya?” dia balik bertanya.

Kemudian Dayeon mencari sesuatu dalam ponselnya, dan menunjukkannya pada Riae setelah menemukan apa yang dia cari. “Apa dia?” tanyanya untuk mengklarifikasi.

Pada layar ponsel Dayeon, terpampang sebuah foto self camera dari dirinya dan Hyeju. Foto itu diambil pada acara sekolah beberapa minggu yang lalu. Di sana terlihat Dayeon yang tersenyum lebar menampakkan giginya serta Hyeju yang mengulas senyum manisnya.

“Ya… aku mengenalnya,” ucap Riae kemudian. “Dia sepupuku. Dan, dia memiliki gangguan jiwa… kurasa.”

“Apa maksudmu?” tanya Dayeon pura-pura tak mengerti. Sebenarnya ia mengerti maksud Riae, namun ia belum benar-benar mempercayai perkataan teman baiknya itu.

Sebelum menjawab, Riae lebih dulu menarik kursi pada meja rias Dayeon dan duduk di sana. “Begini, aku tahu dia sepupuku. Tetapi, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya. Seingatku, lima tahun yang lalu aku bertemu dengannya.”

Dayeon tidak menyela dan tetap menunggu lanjutan Riae.

“Dia gila—kau tahu dalam artian apa. Ibunya memiliki gangguan jiwa sebelum akhirnya meninggal.”

“Atas dasar apa kau menganggapnya gila? Jika ibunya memiliki gangguan jiwa, tidak ada hubungannya dengan—”

“Pacarmu mencurigai dia, bukan? Berarti pacarmu sudah tahu. Dan, saat terakhir aku bersamanya, dia mendorongku ke dalam danau. Kau tahu apa penyebabnya?” Riae menatap Dayeon dengan pandangan berapi-api, mengingat masa lalunya itu. Dan Dayeon menggelengkan kepalanya. “Hanya karena dia tidak ayahnya—pamanku, adik dari ibuku sendiri—memanjakanku juga! Dia sakit jiwa!”

Mendengar cerita Riae, Dayeon hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali. Tak percaya pada cerita yang baru saja dikatakan Riae. “Tapi, dia anak baik…,” Dayeon mencoba berpikiran positif.

Riae mengangkat bahunya acuh tak acuh. Lalu, “Kita tidak tahu apa yang ada dipikiran anak itu, Dayeon-a.”

~œ~œ~œ~

Derang bel sudah terdengar di penjuru sekolah sekitar satu jam yang lalu. Namun, karena tugas yang diberikan pada kelasnya, Park Hyeju harus mau pulang telat untuk mengerjakan tugasnya di perpustakaan sendirian.

Di saat teman-teman yang lainnya telah selesai atau menyerah dan memilih untuk mengerjakan di rumah, Hyeju justru tetap berpaku pada buku-buku di depannya.

Beberapa menit setelahnya, Hyeju meregangkan tubuhnya yang mulai terasa pegal dan kaku. Ketika ia menoleh ke kanan dan kiri, hanya tinggal tiga murid yang tersisa di perpustakaan. Termasuk dirinya.

Setelah membereskan barang-barangnya, Hyeju segera keluar dari perpustakaan dan melangkahkan kakinya ke arah gerbang sekolah untuk segera pulang.

Namun, kakinya terhenti begitu merasakan bahwa ada seseorang yang tengah membawa meja ke lantai atas. Begitu ia menoleh, ia langsung mengenali punggung tersebut.

Byun Baekhyun.

Niatnya untuk segera pulang urung karena rasa penasarannya dengan apa yang tengah Baekhyun lakukan.

Dengan hati-hati, ia mengikuti Baekhyun yang tengah membawa meja dari belakang dan sembunyi-sembunyi. Kemudian ia menghentikan langkahnya ketika ia melihat Baekhyun yang masuk ke kelasnya bersama meja yang dibawanya itu.

Keningnya berkerut makin dalam dan ia berlari kecil, berusaha tak menimbulkan suara, untuk mengintip Baekhyun.

Di dalam kelas tersebut, hanya ada Baekhyun seorang yang tengah meletakkan meja yang dibawanya tadi di sebuah tempat—tempat milik Dayeon. Ia tahu persis di mana tempat Dayeon dan Baekhyun duduk.

Seketika, hatinya terasa kesal dan terbakar. Panas. Ia merasakan panas dalam dirinya. Tangannya pun mengepal melihat apa yang baru saja dilakukan Baekhyun untuk Dayeon.

~œ~œ~œ~

“Kau yakin ini akan berhasil?” bisik Dayeon setelah ia menarik pergelangan tangan Riae yang berjalan penuh percaya diri dengan mengenakan seragam sekolah milik Dayeon. “Bagaimana jika ada yang melihatku? Aku kan tidak masuk sekolah.”

“Katamu, kau ingin kuajari gerakan baru,” ucapan Riae membuat Dayeon dilanda kebimbangan.

Di satu sisi ia ingin mempelajari gerakan tari yang baru, namun ia takut ada yang mengenalinya. Tetapi…

“Baiklah,” ucap Dayeon pada akhirnya. Ia menyerah.

Lalu keduanya masuk ke dalam gerbang sekolah yang tak ada satpam yang menjaga.

“Dayeon-a, kenapa kau tidak ikut balet lagi di sini?” tanya Riae karena penasaran dengan alasan Dayeon untuk hiatus dari balet. Padahal, Riae sangat tahu bahwa Dayeon memiliki segudang talenta dalam menari, khususnya balet.

“Aku tidak ingin merepotkan paman dan bibi.” Jawabnya dengan volume suara pelan.

“Kenapa? Kau kan ingin ikut klub balet internasional yang ada di Prancis. Mereka pasti memaklumi—”

“Kalau ayahku bebas, aku akan kembali lagi, Riae-ya. Jangan khawatir.” Potong Dayeon sembari mengulas senyumnya untuk meyakinkan Riae.

Jarum jam di jam tangan milik Dayeon sudah menunjuk pada angka empat yang berarti jam belajar mengajar sudah berakhir. Jadi, Dayeon dan Riae bisa masuk ke sekolah dan berjalan-jalan di koridornya dengan tenang—walaupun Dayeon harus menyembunyikan wajahnya ketika beberapa teman sekelasnya lewat.

Untuk hari ini, seharusnya klub tari memakai ruangan untuk berlatih, tetapi Taemin memberitahu bahwa tak ada latihan untuk hari ini.

Ya, Dayeon memang memberitahu Taemin tentang dirinya dan Riae yang akan memakai ruang tari sebentar. Dan, Taemin mengizinkannya serta memberitahu bahwa ruang tari kosong hari ini.

Seperti yang dikatakan Taemin, ruang tari tidak digunakan hari ini. Itu berarti, mereka bebas menggunakan ruang tari.

“Di mana ruang gantinya?” tanya Riae begitu keduanya sudah masuk ke dalam ruangan luas yang kosong itu.

Dayeon berdiri dan kembali melangkah ke arah pintu. “Kau ganti duluan di sini, aku jaga pintu.” Katanya sambil mengulum senyum.

Sontak mata Riae melebar. “Di sini?” pekiknya tak menyangka.

“Yeah,” ucap Dayeon, lalu keluar dari ruangan tersebut untuk berjaga-jaga agar tak ada orang yang kemari.

Beberapa detik setelah itu, dari ujung koridor terlihatlah Taemin yang tengah berjalan menghampirinya. Dari jarak yang cukup jauh ini, Dayeon dapat melihat senyum Taemin.

“Hai,” sapa Dayeon sembari melambaikan tangannya.

“Kenapa masih di luar? Tidak membawa kunci?” tanya Taemin heran.

Dayeon menggelengkan kepalanya sembari berusaha agar Taemin tidak menerobos masuk. “Tidak lupa. Hanya saja, temanku sedang mengganti pakaiannya.” Katanya.

“Ah…,” gumam Taemin mengerti.

Lalu, tak lama setelah itu Riae membuka pintu dan keluar menyembulkan sedikit kepalanya keluar untuk memberitahu Dayeon bahwa dirinya sudah selesai. “Dayeon-a, giliranmu.” Ucapnya, kemudian ekor matanya beralih pada Taemin yang berdiri di depan Dayeon. “Ah, kau pasti Taemin, bukan?”

Taemin memamerkan senyumnya ketika ia mengangguk menjawab pertanyaan Riae. Lalu Riae pun kembali masuk ke dala untuk mengambil mantelnya dan keluar dari ruang tari untuk membiarkan Dayeon mengganti pakaiannya di dalam.

Dan, dia juga ingin berbicara pada Taemin.

“Kau bermain bersama Dayeon dan juga Hyeju, bukan?” tanya Riae langsung.

Taemin yang masih terlihat heran pun menganggukkan kepalanya. “Kau mengenal Hyeju?” tanyanya balik.

Sambil menggigit bibir bawahnya sendiri, Riae menganggukkan kepala. “Ya, dia sepupuku.” Jawabnya. Lalu, “Apa saja yang sudah dilakukan anak itu? Sungguh, kuingatkan padamu untuk berhati-hati dengannya. Dia sakit jiwa.”

~œ~œ~œ~

Suara musik berirama pelan mengalir dengan tenang—terkadang cepat—mengalun di seluruh penjuru ruang tari. Riae telah selesai mengajarkan beberapa gerakan pada Dayeon, dan dengan mudahnya Dayeon mengikuti gerakan-gerakan yang dicontohkan oleh Riae.

Taemin duduk di lantai kayu itu seorang diri. Matanya terus menatap ke arah Dayeon yang bergerak mengikuti irama musik dengan indah.

Sekali lagi, Taemin merasa dirinya telah jatuh pada pesona Dayeon.

Namun ia teringat perkataan Riae beberapa jam yang lalu tentang hubungan Dayeon dan Baekhyun. Ia memberitahu bahwa Hyeju menyukai Baekhyun, lalu Riae mengatakan bahwa pantas jika Hyeju berbuat jahat pada Dayeon karena Dayeon merupakan kekasih Baekhyun.

Dayeon dan Baekhyun… kenapa dadanya terasa sesak mendengar berita tersebut?

Kemudian Taemin menarik dirinya dari perasaan yang tengah dirasakannya dan memfokuskan dirinya pada Dayeon yang tengah menari di depannya.

Dayeon berjinjit. Kedua tangannya terbuka lebar kemudian sebelah tangannya di angkat ke atas dan ia mulai berputar. Lalu dilihatnya Dayeon mulai melompat dengan kedua kaki tertutup lalu berputar di udara. Setelah Dayeon menapakkan kakinya di atas lantai, tepukan tangan dan sorakan gembira terdengar dari Riae. Taemin pun ikut bertepuk tangan.

Mungkin Taemin dan Riae tidak melihatnya, tetapi raut wajah Dayeon sedikit terlihat kesakitan ketika kakinya mendarat. Tepat pada pergelangan kakinya. Namun tak mau kedua temannya itu khawatir, Dayeon menyembunyikan rasa sakitnya dengan senyum lebarnya.

~œ~œ~œ~

Baekhyun menghela nafasnya berat ketika dirinya hampir sampai di rumah pada jarum jam pada jam tangan yang melekat di tangan kanannya menunjukkan angka delapan. Mungkin ini adalah pertama kalinya Baekhyun pulang ke rumah pada hari gelap seperti ini. Dan sejujurnya ia tidak mengerti kenapa dirinya tiba-tiba terdaftar sebagai panitia kemah yang akan diadakan bulan depan, beberapa hari setelah ujian selesai.

Mengikuti rapat hanya membuatnya bosan dan mengantuk. Jadi, ia ingin segera sampai ke rumah lalu bertemu dengan Dayeon. Belakangan ini, Dayeon lah yang mengusir rasa bosan dalam hidupnya. Kemudian ia masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh ibunya yang tengah duduk berdua dengan ayahnya di ruang keluarga sembari menonton televisi.

“Oh, kau baru pulang?” ucap ibunya sembari menoleh ke arah Baekhyun yang baru saja datang.

Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya dan melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju kamarnya. Ia hanya ingin membaringkan tubuhnya di atas ranjang kesayangannya dan terlelap tidur.

Dayeon… mungkin dia bisa bertemu Dayeon keesokkan harinya.

“Oh, kau pasti Baekhyun, bukan?”

Baekhyun menghentikan langkahnya dan menatap seorang gadis asing yang baru saja keluar dari kamar mandi. Keningnya berkerut heran karena ada orang yang tidak kenal di dalam rumah, bahkan baru saja keluar dari kamar mandi di lantai atas.

“Aku Goo Riae, teman baik Dayeon.” Kemudian gadis itu memperkenalkan dirinya dengan mengulas senyum hangatnya.

“Di mana Dayeon?” alih-alih menanggapi pertanyaan Riae, Baekhyun justru menanyakan keberadaan Dayeon. Dan itu membuat raut wajah Riae berubah, serta ia dapat merasakan apa yang membuat Dayeon kesal setengah mati pada lelaki ini.

Namun Riae tidak mempermasalahkan hal itu—setiap orang kan berbeda-beda. Dan, ia teringat tentang Dayeon yang tengah keluar rumah. “Bukankah dia pergi menemuimu?” tanya Riae heran.

Kerutan pada kening Baekhyun bertambah karena pertanyaan Riae yang membuatnya tidak mengerti. “Dia bilang kau menyuruhnya datang ke suatu tempat.” Riae melanjutkan.

“Aku tidak pernah menyuruh dia menemuiku.” Balas Baekhyun sama bingungnya dengan Riae.

Kemudian Baekhyun bisa merasakan ponselnya bergetar dalam saku blazernya. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Dia tidak bisa berenang, ya?

Sungguh. Baekhyun tidak mengerti maksud dari pesan masuk tersebut. Siapa yang dimaksud dengan ‘dia’ di pesan tersebut. Kemudian ia mengingat sesuatu.

Park Hyeju.

“Apa Dayeon tidak bisa berenang?” tanya Baekhyun, matanya sedikit melebar karena panik.

Riae mengerjapkan matanya, lalu menganggaku. “Ya, dia sama sekali tidak bisa berenang. Karena saat kecil dia sudah—hei, ada apa?” ia memotong kalimatnya sendiri dan mengganti menjadi pertanyaan begitu melihat Baekhyun yang tiba-tiba berubah panik dan tengah berusaha menelepon seseorang.

“Tidak dijawab.” Ucap Baekhyun lebih kepada dirinya sendiri frustasi.

Riae yang tidak mengerti hanya menatap Baekhyun heran. “Hei, ada apa—”

“Kau bisa melacak keberadaan Dayeon lewat ponselnya?” tanya Baekhyun memotong pertanyaan Riae.

Dengan heran, Riae mengangguk lalu masuk ke dalam kamar Dayeon untuk mengambil ponselnya dan melacak keberadaan Dayeon sekarang. Walaupun ia tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini, namun ia rasa ada hal yang berbahaya bagi Dayeon itu sendiri—melihat bagaimana paniknya Baekhyun. Jadilah ia mengikuti apa yang diperintah Baekhyun.

Setelah meletakkan tas sekolahnya, Baekhyun masuk ke dalam kamar Dayeon untuk menunggu Riae. Dan setelah itu, apa yang dicari Riae ketemu. “Gelanggang,” kata Riae setelah memperbesar layar ponselnya. “Gelanggang olahraga.”

Baekhyun merutuk dalam hatinya dan mengumpat frustasi. Walaupun ia tidak tahu siapa yang mengiriminya pesan singkat, tetapi ia sudah bisa menebak bahwa dia adalah Hyeju si psiko.

Lalu Baekhyun pun berlari keluar rumah menuju gelanggang olah raga yang jaraknya tidak terlalu jauh dari perumahan tanpa memedulikan pertanyaan kedua orangtuanya yang keheranan melihat perilaku anak laki-lakinya itu.

Kini Baekhyun benar-benar tidak memperdulikan apa-apa kecuali Dayeon. Ia bahkan tak memedulikan tubuhnya yang berteriak minta diistirahatkan karena seharian penuh belum istirahat.

“Song Dayeon, kau benar-benar bodoh!” rutuknya sembari berlari masih dengan seragam sekolahnya.

~œ To be continue œ~

62 responses to “Black Swan – Chapter 10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s