[Life/One] Forfeit

(c) missfishyjazz

Oh Sehun || Cho Ayoung

Mystery, Romance, lil-Surrealism || PG-17

Inspired by Curse of The Deserted (2010)

 .

“..and in the evening you will tell me 3 reason why you loved me.”

 .

Forfeit

Hujan terus membasahi Bucheon yang bertanah landai. Perjalanan menuju Seoul terasa begitu berat, banyak yang menepi atau sekedar menghentikan kendaraan barang lima atau sepuluh menit. Menjernihkan pandangan sangat diperlukan bagi mereka yang ingin menghindari kecelakaan fatal.

“Sehun, sebaiknya kita berhenti dulu. Beli lah kopi atau apapun, kau kelihatan lelah.”

“Tidak, Noona.” Sehun tetap memegang kemudinya dengan tenang, matanya menatap jalanan basah yang sulit dimengerti. Rute perjalanan dari Bucheon menuju Seoul lebih sulit daripada Ilsan menuju Seoul.

“Setelah kita sampai di Olympic-daero, kita harus berhenti! Titik.”

Noona..

“Aku tidak mau terjadi sesuatu selama kita menyebrang nanti! Ingat ini hujan! Arus sungai Geumho sangat deras, jatuh ke sana bukan pilihan yang baik!” Sehun memilih diam dan tidak ingin melanjutkan perdebatan yang berkepanjangan dengan Ayoung. Hujan, mood-nya yang semakin buruk, dan Ayoung yang keras kepala. Bukan kompilasi yang bagus.

Ayoung diam di tempatnya. Beberapa menit lalu dia baru menyalakan heater mobil. Memastikan suhu di dalam mobil tidak akan mengganggunya atau Sehun. Sialnya mobil yang mereka pakai adalah mobil Sehun yang kurang terawat, bukan mobilnya yang selalu diservis ke bengkel empat bulan sekali. Jadi heater yang ada kurang berpengaruh dan cenderung rusak termakan umur.

Sial sekali bagi dia dan Sehun. Tadi pagi-pagi buta ketua tim mereka mengatakan sebuah data tentang objek observasi mereka berhasil ditemukan, tapi menggunakan huruf kanji kuno yang hanya bisa dibaca Ayoung dan Sehun. Sehingga mereka harus menempuh perjalanan darat tanpa persiapan dari Bucheon ke Seoul. Dan itu buruk! Musim penghujan sudah datang dan hujan hari ini adalah yang paling buruk di perkiraan cuaca tadi pagi!

“Sehun berhenti! Ini sudah melebihi Olympic-deuro.” Ayoung melihat sebuah gerbang jembatan penyebrangan sungai Geumho di depannya. Astaga berapa lama ia melamun sampai Sehun menipunya?

Noona, sudahlah. Aku baik-baik saja, oke? Kita akan menyebrang dengan selamat.” Sehun berusaha meyakinkan Ayoung yang semakin gelisah di tempat duduknya. Firasatnya sudah tidak enak dari tadi dan Sehun yang sama keras kepalanya dengan dirinya tidak mau mendengarkannya.

“Sehun, hati-hati.”

“Ya, Noona.” Mobil Sehun berjalan dalam kecepatan lambat menyebrangi jembatan sungai Geumho yang sepi. Tidak ada yang berani menempuh perjalanan penyebrangan darat di saat cuaca sangat buruk seperti hari ini.

Srett.. Tekk..

Heater tiba-tiba mengeluarkan udara dengan tekanan tinggi. Membuat lembaran kertas yang dipangku Ayoung bertebaran.

“Astaga..” Ayoung merunduk dan berusaha membereskan kertas-kertas yang bertebaran dan menyusunnya jadi satu. Sehun meliriknya dan berusaha memfokuskan diri pada jalanan, Ayoung tidak terlalu kesulitan.

“Sehun, ada kertas yang jatuh di antara kakimu, bisa kau ambilkan?” Ayoung menunjuk sebuah kertas hipotesis kecil yang terselip diantara dua kaki Sehun.

Sehun yang masih berusaha berkontrasi hanya mengulurkan tangannya, meraba-raba sekitar kakinya berusaha mencari kertas yang dimaksud Ayoung.

“Yang mana, Noona? Di sebelah mana?” Sehun masih merogohkan tangannya mencari kertas yang ternyata juga tersangkut di bagian bawah jok mobil.

“Ke sebelah kiri sedikit, iya di bawah kakimu, ahh.. itu tersangkut jok.” Pantas saja. Sehun tidak mungkin meminta Ayoung menarikkan kertas itu dari antara kedua kakinya karena itu terdengar dan terlihat seperti ide yang.. weirdo?

Mengambil kertas ini bahkan tak sampai satu detik. Tidak masalah. Jadi Sehun memutuskan menunduk dan melihat kertas yang memang benar-benar tersangkut di jok. Ia menariknya dalam sekali gerakan dan menyodorkannya pada Ayoung. Ayoung mendesah lega dan Sehun yang menatap wajahnya terkikik geli.

Heh, siapa yang menyuruhmu terta— SEHUN AWAS!!” Sehun mengalihkan pandangannya. Melihat arah mobilnya yang melenceng dan berusaha menabrak pembatas jalan. Dengan gerakkan spontan ia membanting kemudinya. Tanpa sadar bahwa yang ia lakukan terlalu keras.

Mobil yang mereka tumpangi tidak menabrak pembatas jalan, melainkan pembatas jembatan. Mobil mini-bus itu menabrak pembatas jembatan dengan keras hingga menyebabkannya terbanting keras ke sungai dengan setengah badan mobil yang peyok dan terpelanting keras.

AYOUNG!!”

Forfeit

When I close my eyes, I think of you

I am left alone again and wandering these streets.

Hahh!! Astaga!” Ayoung menegakkan badannya. Suara teriakkan itu sekali lagi menyadarkannya dari mimpi. Mimpi seindah apapun, pasti akan berakhir dengan teriakan yang memanggil namanya itu. Dan itu terus terjadi dalam jangka waktu yang Ayoung sendiri sampai lupa.

“Kau tidak apa-apa Ayoung?” Seorang pria dari balik kemudian menyadarkannya. Ayoung mengusap matanya yang terasa perih dan menganggukkan kepala seadanya.

“Mimpi buruk?” Tanya pria itu lagi.

“Sejak melihatmu lagi hidupku tidak pernah lebih dari mimpi buruk, Oh Sehun.” Sehun tertawa kecil. Kemudian menaikkan sedikit kecepatan mobilnya karena rumah besar yang mereka tuju tingal beberapa kilometer lagi.

“Sampai, Cho Ayoung.” Sehun melepas seat-belt-nya, kemudian melihat ke arah Ayoung yang mencebikkan bibirnya. Sehun menggeleng dan kembali tertawa. Ayoung tidak pernah berubah.

“Kau mau aku mengangkat barangmu?” Sehun melihat Ayoung yang kesulitan dengan perkakas kerja mereka dan barangnya sendiri. Tapi Ayoung memilih pura-pura tak mendengarnya dan menyelesaikkan barang bawaannya sekalipun sangat keberatan. Tasnya ia panggul paksa di pundak dan barang bawaannya ia seret. Tidak peduli nanti barang itu akan berbentuk seperti apa.

“Cho Ayoung, semua barang kita bisa hancur berantakan jika kau menggeretnya seperti itu.” Sehun langsung menarik barang-barang yang dianiaya Ayoung tanpa melihat perubahan ekspresi Ayoung yang semakin keruh.
“Aku benci mengatakannya, tapi terima kasih banyak Oh Sehun.” Ayoung memutuskan memimpin langkah. Mereka menuju sebuah rumah tua, di pinggir kota kecil seperti Jinhae-gu. Ayoung tidak habis pikir, Jinhae-gu sudah termasuk wilayah yang terpojok bahkan mayoritas terisi pohon-pohon yang terlalu rimbun dari hari ke hari. Daerah ini cukup jauh dari pusat peradaban pula. Ia harus menempuh perjalanan darat sejauh 310 kilometer dari Seoul hanya untuk menuju tempat ini. Jinhae-gu lebih mirip desa kecil di hiruk pikuk industri provinsi Kyongsang Selatan. Tapi tidak dengan hutan di Jinhae-gu yang luar biasa mistis hingga tidak ada satupun tangan industri yang berani menyentuh. Sekalipun Changwon—ibukota provinsi—hanya perlu ditempuh dengan 13 kilometer dari tempatnya sekarang berada, Ayoung tahu penduduk Changwon lebih memilih naik kereta paling pagi ke Seoul untuk bekerja.

“Ini lebih buruk dari yang kubayangkan.” Sehun mendesah gelisah dan nyaris putus asa. Dia kira diutus berdua saja dengan Ayoung untuk misi pembuktian jejak sumber daya alam berpotensi di Jinhae-gu akan memberi hiburan untuknya, tapi jika rumah yang bisa menjadi satu-satunya tempat tinggal mereka lebih mirip kandang sapi.. Hahh..

“Kukira duduk diam di mobil yang sama denganmu selama lima jam sudah cukup mengerikan, ternyata rumah ini jauh lebih mengerikan.” Ayoung berdecak sarkas dan menjatuhkan barang bawaannya asal. Ia masih mengira rumah layak yang setidaknya hanya kumuh dan ditinggali hewan-hewan.

Tapi bahkan yang ia lihat sekarang jauh lebih buruk daripada Monster House. Rumahnya kumuh, penuh suara hewan dengan bau lapuk yang menyengat, dindingnya kusam cenderung hitam, belum lagi fakta bahwa rumah ini seperti duplikasi rumah hantu di The Conjuring.

Sehun memutuskan melangkah lebih dulu dan membuka pintu yang sudah tidak perlu dibuka. Bunyinya memekakkan telinga. Sehun membukanya lebar dan tidak sampai beberapa detik setelahnya pintu itu berubah lebih mengenaskan dengan daun pintunya yang semakin membengkok. Dua mur bawahnya resmi terlepas.

“Setidaknya kita tidak perlu mengeluarkan sedikit tenaga untuk membuka pintu, iya kan?” Sehun tersenyum jail dan langsung mengambil langkah masuk. Lengkap dengan segudang barang bawaannya. Ayoung mengikuti di belakang. Jangan berharap Ayoung sepenakut itu, dia hanya begitu sebal bagaimana perusahan pemerintah bonafit tempatnya dan Sehun bernaung hanya bisa menyediakan rumah ‘bekas pembantaian’ ini pada mereka.  Aura rumah ini sangat jauh dari kata baik.

“Ayoung..” Ayoung menoleh. Melihat ke halaman yang baru ia tinggalkan. Ia tidak salah dengar tadi, ada suara seorang wanita yang memanggilnya jadi ia menoleh. Tapi sepertinya itu hanya halusinasi karena terlalu lama di dekat Sehun.

“..selamat datang di rumah ini. Selamat bersenang-senang.”

Forfeit

 

“Darimana kita akan memulai melakukan penelitian? Sebuah sumur ku dengar sudah dibangun pemerintah sejak beberapa minggu lalu di dekat sini.” Sehun membuka peralatannya. Sebuah pemindai dan laptop yang dilengkapi pemencar gelombang ultrasonik. Sementara Ayoung sibuk mengeluarkan seluruh peralatan lapangan mereka, sebuah tali pemanjat, skop, pengukur oksigen, PH Meter, dan barang-barang lainnya yang masih terlipat rapi.

“Besok mungkin. Aku tidak yakin kita bisa melakukannya sekarang. Sudah hampir malam dan bukankah lokasi penggalian itu ada di titik pusat hutan?”

“Ya. Baiklah saatnya tidur kalau begitu.” Sehun menyelesaikan identifikasinya melalui pemindai dan mematikan laptopnya. Sehun langsung berbaring. Ia mengambil posisi di samping atas ranselnya berada. Yang artinya..

“Kau tidak sedang bercanda dengan tidak langsung menyuruh kita tidur berdampingan, kan?” Ayoung menunjuk tasnya yang berada tepat di samping Sehun. Sehun tertawa selama beberapa detik sebelum memutuskan untuk bertahan pada posisinya.
“Kau tidak sedang bercanda juga dengan memikirkan aku akan melakukan hal yang macam-macam kan?” Sehun memukul perutnya yang nyaris kram jika terus melihat ekspresi Ayoung yang terus menekuk-nekuk wajahnya. Tidak peduli bagaimana kerutan akan menghiasi wajahnya.

“Ayolah Oh Sehun, pindahkan tempatmu. Aku tidak bisa tidur di sampingmu.” Ayoung menendang salah satu kaki pria itu mengisyarakan agar tubuh tingginya terangkat dan pindah dari lokasi strategis Ayoung untuk tidur.

“Tapi dulu kau bisa dan biasa-biasa saja.” Sehun menjawab dengan santai dan memilih menutup matanya yang terasa begitu lelah setelah perjalanan darat yang begitu melelahkan. Menggoda Ayoung di malam hari bukan hiburan yang buruk. Ayoung semakin mudah terpancing emosinya di malam hari setelah aktifitas yang melelahkan seperti hari ini.

“Tapi itu dulu Sehun! Waktu kita masih berstatus kekasih.” Ayoung mendesah sebal dan tanpa pikir panjang langsung mengambil posisi yang sedikit menjauh dari Sehun untuk tidur tapi masih berada pada area nyamannya. Sehun tidak melarangnya, bahkan cenderung termangu.

“Waktu kita masih berstatus kekasih.” Empat tahun lalu mereka bertemu pertama kali di divisi observasi lapangan. Dan beruntungnya lagi mereka berada dalam satu kelompok penanganan sumber daya dalam negeri. Sehingga tak jarang mereka pergi bersama. Itu sebabnya dalam empat bulan perkenalan, mereka langsung bisa menjadi sepasang kekasih. Ayoung dan Sehun punya waktu-waktu yang indah ketika bersama. Ayoung yang lebih tua tiga tahun dari Sehun tidak pernah berusaha menggurui atau sok dewasa, itu yang membuat Sehun terus jatuh hati. Sehun selalu bisa menjadi apapun yang dia mau dalam hubungannya karena Ayoung juga bisa menangani Sehun yang menjadi apapun. Ayoung adalah figur idaman semua pria. Tapi, semuanya tak berlangsung lama sampai tepat dua bulan setelah hari jadi mereka yang pertama, Sehun memutuskan hubungan itu. Ia meninggalkan Ayoung tanpa sebab yang jelas dan bertepatan dengan pemindahan kerjanya ke Jerman.

Tentu saja Ayoung awalnya berpikir ini karena pemindahan kerja Sehun ke Jerman. Jadi ia berusaha menyimpan rasa sakit hatinya sendiri dan tidak ingin terpuruk berlebih. Tapi semua argumentasinya terpatahkan begitu ia mendengar kabar yang datang beberapa minggu setelah kejadian itu. Sehun menjalin hubungan dengan Sulli. Sulli adalah teman satu divisi Sehun dan Ayoung, mereka hanya beda kelompok. Ayoung benar-benar hancur setelahnya. Ia kira selama ini ia dan Sehun sangat mencintai, tapi ternyata tidak seperti itu. Sehun di dalam hubungannya bahkan sudah mencoba mencintai gadis lain.

.

Forfeit

 

“Ayoung..” Ayoung menoleh. Ia tidak menjumpai siapapun. Suara itu sudah keempat kalinya menyapa pendengarannya tapi tak ada siapapun. Ayoung meneruskan langkahnya. Sudah sejak beberapa waktu lalu ia terjebak di sebuah dimensi yang hanya terisi dengan kegelapan. Ia hanya mengandalkan sebatang lilin yang saat ini berada di tangannya.

“Ayoung..” Ayoung menoleh sebal. Siapa yang memanggilnya, sih? Jika ada yang memanggilnya harusnya ada orang juga di tempat ia berada sekarang, tapi orang itu tidak membantunya sama sekali.

“Siapa di sana?” tanya Ayoung akhirnya.

“Ini aku Cho Ayoung..” Suara itu mendekat. Ayoung bisa merasakan keberadaan seseorang di sekitarnya. Tapi tidak dengan langkahnya. Ayoung menajamkan penglihatannya, ia mengarahkan lilin ke arah datangnya sosok itu namun harus langsung terjengit setelahnya.

Yang memanggilnya itu, sangat mirip dengan dirinya. Bedanya rambut sosok itu tergerai panjang ke bawah. Kusut dan kusam. Selain itu kulitnya terlalu pucat. Tubuhnya hanya ditutupi kain merah panjang yang berkibar-kibar karena angin. Angin? Ayoung mengernyit, sedari tadi tidak ada angin.

“Siapa kau?” Wanita di hadapannya sekalipun terus menampakkan wajahnya yang pucat dengan pandangan kosong tidak ingin mengatakan sepatah katapun.

“Hai, tadi kan kau yang memanggilku kenapa kau sekarang diam saja.” Ayoung merasa pertanyaannya benar tapi wanita itu justru tertawa. Suara tawanya tidak semanis wajah atau seindah kulit bersihnya. Tawanya menggelegar, menakutkan dan mencekam. Seperti tawa-tawa di film horor. Tidak sampai lima detik setelahnya Ayoung terpaksa mundur dengan langkah cepat ketika tubuh wanita itu mengeluarkan Api. Api berkobar cepat dan membakar tubuh wanita itu.

Kulit-kulit putihnya memerah, meleleh dan akhirnya mengelupas. Ekspresi datar di wajahnya tidak berubah kesakitan,  justru menjadi sedih. Api itu bahkan sudah menghancurkan sudut-sudut matanya yang tadi memandang dengan tenang. Menghanguskan rambutnya yang tergerai.

“Nona, kau bisa mati jika seperti itu terus. Aku akan carikan air.” Ayoung baru akan berbalik ketika wanita itu berhenti tertawa dan langsung menangis. Suara tangisnya sangat menyayat. Seperti ada kesedihan besar yang ditanggung wanita itu.

“Ini aku Cho Ayoung, aku Cho Ahyoung.” Cho Ahyoung? Mirip sekali dengan namanya. Ayoung menoleh dan melihat wanita itu setengah merunduk. Matanya menatap pijakan kaki Ayoung, Ayoung juga melakukan hal yang sama. Sampai ia menyadari sesuatu.

“Kau.. kau tidak menginjak tanah?” Ayoung menahan getaran di tangannya. Lilinnya ikut gemetar dan lelehannya nyaris melukai tangannya.

“Untuk apa menginjak tanah, Cho Ayoung.” Ahyoung tertawa keras lagi, tapi kemudian kembali menangis. Perubahannya begitu drastis dan menakutkan bagi Ayoung. Seperti mood-nya bisa berubah hanya dengan sepersekian detik.

Ahyoung memainkan jarinya sebelum memutuskan mengulurkan jarinya menyentuh pipi Ayoung.

“Kita sangat mirip ya. Nama kita bahkan hanya terpisah satu huruf. Hihihihi. Wajah kita sangat mirip andaikan aku menyisir rambutku,” Ahyoung mengangkat rambutnya yang entah kenapa masih utuh, namun sekering dan sehitam arang. Ahyoung menggerak-gerakkan jarinya di pipi Ayoung, “kita juga sama-sama lahir pada 26 Mei. Tapi jangan tanya di tahun berapa aku lahir. Mungkin aku lebih tua dari ibumu.” Ayoung mengernyit dan menghitung kira-kira kapan ibunya lahir dan itu sudah sangat lama.

“Kita juga sama-sama mencintai orang yang sama. Kau mencintai Oh Sehun dan aku mencintai Oh Sehoon. Nama mereka bahkan memiliki pengucapan yang sama. Sayangnya kita sama-sama dilukai.” Mencintai Oh Sehun? Ayoung harus berpikir dua kali untuk itu. Saat beberapa hari lalu dipertemukan kembali dengan Sehun saja sudah seperti tsunami Jepang yang melanda dirinya, apalagi mencintainya?

“Tapi tenang saja Ayoung, pada akhirnya aku dan Sehoon kembali menjadi satu. Aku bahkan menikah dengannya.” Ahyoung masih betah memainkan jemarinya di sekitar wajah Ayoung yang nampak cuek dan justru memikirkan Sehun yang sekarang entah dimana keberadaannya.

Ehh, ada tapinya lagi. Kami memang menikah, bahagia dalam cinta, tapi itu semua tidak lama. Orang-orang merebutnya dariku. ORANG-ORANG ITU MENGAMBIL SEHOON UNTUK PERCOBAAN YANG MERENGGUT NYAWANYA!!” Ahyoung menjerit keras kemudian meremas wajah Ayoung dengan spontan. Jari-jarinya mendingin, dengan kuku yang semakin memanjang. Hal itu tentu saja menyakitkan bagi Ayoung. Pipinya ditarik paksa dengan kuku tajam yang menancap dalam.

“Ahyoung lepaskan, lepas!” Ayoung berusaha menarik tangan Ahyoung dari wajahnya. Tapi begitu tangannya menyentuh tangan Ahyoung tangannya langsung seperti terbakar. Padahal tadi jari-jarinya terasa begitu dingin. Ayoung melihat dengan mata kepalanya bagaimana api yang semula hampir redup menggelora lagi dan menyapu seluruh permukan Ahyoung. Api itu seperti menyentak dan menjilat seluruh permukaan tubuh Ahyoung tanpa ampun. Bahkan sebagian tulangnya terlihat sekarang. Ahyoung berubah menjadi sosok yang mengerikan dengan tubuh yang hancur.

“AKU TIDAK BISA HIDUP TANPA SEHOON!! AKU LEBIH BAIK MATI SETELAH KEHILANGAN BELAHAN JIWAKU!!” Ahyoung masih menjerit, tanggannya yang tersisa mencekik leher Ayoung. Semula pelan hingga langsung mengetat begitu mendengar jeritan Ayoung. Ahyoung mencengkram dan mencekik Ayoung tanpa mendengar kata apapun yang keluar dari mulut korbannya. Ia memainkan Ayoung selayaknya boneka kusam yang sudah layak dipisah-pisahkan kepala dan kakinya.

“DAN KAU JUGA AYOUNG! Jika kau kehilangan Sehoon, maka Sehun mu juga harus hilang. Hilang dan lenyap seperti debu.” Kemudian Ahyoung tertawa lagi. Tawanya kejam tapi juga penuh kehancuran. Dia seolah tertawa diatas hatinya yang lara.

Penglihatan Ayoung semakin kabur, matanya mulai berair. Nafasnya sudah tinggal satu-satu. Mulut dan dadanya sudah kembang kempis, berusaha mencari persediaan oksigen yang tersisa. Rasa sesak di dadanya dan rasa sakit dengan darah yang terus mengalir dari pipinya membuat Ayoung cepat kehilangan orientasi pandangannya.

“Ahyoung lepas! LEPASKAN AKU!”

Forfeit

“Cepat bawa mereka ke UGD! Prianya sudah meregang nyawa.” Suara itu samar-samar di telinga Ayoung. Matanya hanya terbuka sedikit dan melihat banyak kilasan orang, hidungnya menangkap bau anyir, telinganya mendengar suara perintah orang-orang dengan baju seperti paramedis. Tubuhnya sakit, kepalanya seakan remuk, ia bahkan tidak mampu merasakan tubuhnya.

“Wanitanya hanya luka parah. Dia masih bisa terselamatkan.” Kemudian Ayoung merasakan tempatnya berbaring sekarang bergerak. Bergerak cukup cepat sebelum akhirnya sebuah pintu terbuka. Ruangan yang lebih terang dengan bau rumah sakit yang khas menyambutnya. Orang-orang itu mengangkat tubuhnya, memindahkannya ke ranjang lain dan langsung memberi pertolongan padanya. Dari bajunya yang disobek, alkohol yang menyentuh lukanya, gunting yang membelah kulitnya, dan alat-alat lain yang tidak pernah Ayoung berkirakan akan menyentuh kulitnya.

Kemudian ia teringat sesuatu, “Oh Se.. Hun.. di.. mana..”

.

.

.

.

.

.

Forfeit

Tukk..

Ayoung mengernyit. Seseorang memukul kepalanya dengan pulpen. Ia melihat orang yang tinggi menjulang di hadapannya sebelum kembali mendengus.

“Kau kerasukan hantu penunggu rumah itu ya?” Sehun tertawa keras setelahnya. Ayoung sejak tadi pagi terbangun dengan sekujur tubuh berkeringat terus merenung dan cenderung melamun. Membuat Sehun yang berkeliaran di sekitanrya heran.

“Hantu apa?” Tiba-tiba Ayoung bertanya dengan suara serak, matanya bergerak ingin tahu.

“Hantu penunggu rumah itu. Aku dengar sekitar empat sampai limapuluh tahun lalu ada seorang pasangan muda yang tinggal di sana. Suaminya seorang peneliti dan istrinya adalah seorang penyulam. Mereka baru menikah sekitar satu tahun ketika kelompok peneliti tempat Si Suami bekerja mengkhianati pasangan itu. Si Suami di kirim ke pusat penelitian nuklir dengan radiasi berbahaya dan meninggal beberapa minggu setelahnya. Banyak yang mengatakan bahwa teman-teman penelitinya tidak bisa membiarkan Si Suami yang jenius untuk hidup dan membahayakan posisi mereka sebagai petinggi-petinggi sehingga mengurung Si Suami selama beberapa hari di luar pengembangan nuklir membuat radiasi dengan cepat merusak organ tubuhnya. Sekalipun semua orang mengatakan suaminya meninggal karena kecelakaan kerja tapi Si Istri tahu bahwa suaminya dibunuh. Ia terus mengurung diri di rumahnya, banyak yang bilang ia sangat hancur dan depresi. Hingga suatu hari ia sudah kehilangan kesadaran dan keinginannya bertahan hidup. Ia membakar dirinya sendiri di sebuah ruangan perapian. Kebakaran itu dengan cepat membakar rumah itu juga. Untung saja saat itu terjadi hujan badai sehingga kebakaran tidak terlalu membesar. Sayangnya, mayat wanita itu sampai sekarang tidak diketahui letaknya.” Sehun selesai membereskan peralatannya tepat ketika ceritanya selesai. Lokasi sumur penggalian sudah ada dengan cukup layak jadi dia hanya perlu turun dan meneliti keadaan di dalam.

“Ayoung, kau sudah menyalakan pemindainya?” Sehun melihat sebuah alat pemindai lokasi yang tergantung di pinggangnya. Ayoung yang sadar namanya dipanggil langsung mengumpulkan semua kesadarannya dan mengutak-atik alat pemindai.

“Sudah.” Sehun duduk di pinggiran sumur, ia menggeret talinya ke bawah. Tangannya menggerak-gerakkan ujung tali agar mendarat dan tersangkut di tempat yang sempurna hingga pendaratannya.

“Cho Ayoung.” Sehun sudah bersiap turun dengan talinya ketika ia teringat sesuatu.

“Ya?” Ayoung yang semula memeriksa ketepatan alat pemindai menatap Sehun penuh tanya.

“Setelah misi ini, kuharap.. Hubungan kita membaik.” Sehun tersenyum tulus dan langsung turun tanpa menunggu reaksi Ayoung.

Hubungan kita membaik. Hati Ayoung langsung berdesir mendengarnya. Semoga hubungan kita membaik, Oh Sehun. Ayoung tersenyum lamat-lamat dan menyentuh dadanya yang kembali berdetak. Tuhan seperti telah mengembalikan nafasnya

.

Forfeit

 

“Oh Sehun.” Sehun masih mengukur kadar asam dari lubang galian terakhir yang ia lihat ketika ilusi sebuah tangan menyentuh pundaknya dan menyebut namanya. Dari suaranya Sehun hanya menebak bahwa itu Ayoung. Tapi keningnya langsung mengernyit, Ayoung tidak mungkin meninggalkan pemindai, bahkan jika ada kondisi darurat pun gadis itu pasti cukup pintar untuk tahu bahwa lebih baik menghubungi melalui walky-talky.

Sehun tidak ambil pikir lagi dan melanjutkan tugas, tangannya menekan beberapa alat yang ada di samping PH Meter, melihat kalkulasi angka di sana dan mencatatnya lalu melalui sistem transmisi mengirimkannya pada Ayoung.

Takk..

“Ow!” Sebuah jarum besi panjang mendarat di punggungnya. Sehun merabanya dan mendapati jarum berkarat itu telah melukai punggungnya.

“Jarum berkarat, bukan ide yang baik.” Sehun harus segera keluar dari lubang ini, ia harus sesegara mungkin pergi ke Changwon untuk memberi suntik preventif tetanus padanya.

Takk..

“Ow!” Sehun berjengit sekali lagi. Sebuah jarum kali ini mendarat di pundaknya. Kali ini lebih sakit karena otot di sekujur tubuh Sehun masih mengejang karena tusukan jarum yang pertama. Sehun masih bergelut dengan sakitnya ketika sebuah pemikiran tiba di kepalanya. Siapa yang melempariku dengan jarum?

Sehun menoleh, memutar badannya ke arah belakang sumber dua tusukkan di tubuhnya. Sehun langsung jatuh terduduk begitu melihat sosok yang berdiri menghadapnya dengan tatapan tajam. Seorang wanita, dengan rambut sehitam arang yang kusut dan mengembang. Sekujur tubuhnya melepuh bahkan pergelangan kakinya sudah menampakkan tulangnya. Bibir wanita itu sudah menggelap dan rusak karena bakaran, hidungnya nyaris hilang, dan bola matanya seperti yang terselamatkan sendiri bulat besar dan menatapnya dengan aura membunuh.

“Ayoung?” Sehun menelan ludahnya begitu kata itu keluar dari mulutnya. Ia merutukki dirinya yang terlalu cepat menganalisa tubuh dihadapannya mirip dengan Ayoung.

Hihihi. Aku mirip dengan mantan kekasihmu kan.” Wanita itu menunjuk ke arah atas, tempat Ayoung berada, permukaan tanah.

“Siapa kau?” Sehun berusaha berdiri namun tubuhnya tetap menempel pada bebatuan dibelakangnya.

“Aku Cho Ahyoung. Orang yang tadi kau ceritakan pada kekasihmu, Oh Sehun.” Sehun sekali lagi menelan ludahnya pahit. Tidak ada orang lain yang sedari tadi ia ceritakan pada Ayoung kecuali pasangan suami istri yang meninggal mengenaskan dan Sang Istri yang menjadi momok tersendiri bagi rumah yang sebelumnya ia tinggali.

“Kau wanita itu?”

Hihihihi. Iya.” Wanita itu kembali tertawa. Tapi tawanya kali ini berbeda. Suara tawanya seolah melempar sembilu tak kasat mata yang melintasi udara dan menyentak telinga Sehun.

“AAA!!” Sehun merasakan sebuah sentilan yang mirip sayatan kuat di telinganya. Ketika ia meraba telinganya darah segar sudah mengalir dari sana.

“Aku sangat mirip dengan Ayoung. Sayangnya kami punya satu perbedaan dan aku tidak suka itu.” Ahyoung memainkan jari-jarinya di depan wajah, memunculkan segumpal api dan kumpulan jarum-jarum yang lebih banyak. Satu jarum itu dilemparkan tepat di bawah mata Sehun membuat Sehun memecah konsentrasinya pada telinga dan matanya. Keduanya terasa sakit. Jarum kecil itu seperti memiliki racun yang mematikan syaraf-syarafnya perlahan dengan meninggalkan rasa sakit yang teramat sebelumnya. Telinganya mulai berdenging, suara-suara kecil terdengar memekkan telinganya.

“AKKHH!!” Beberapa jarum mengarah ke perutnya. Tidak hanya sampai di sana, jarum itu seperti menari dengan sendirinya di atas perutnya. Menyayat dan menggores. Jarum itu berkarat! Kesadaran itu membuat Sehun berusaha sekuat tenaga melepas jarum yang setiap disentuhnya justru semakin dalam tancapannya. Syaraf-syarafnya mulai mengejang dan melumpuh dengan cepat, terus begitu sampai akhirnya kakinya terasa lemas menahan sakit.

“Kau tahu perbedaan kami?” Ahyoung melempar satu lagi jarum tepat di sendi pergelangan kaki Sehun membuat Sehun rubuh seutuhnya. Jarum yang ada di pergelangan kakinya seolah mengikatnya dengan tanah hingga membuatnya tak mampu menggerakkannya. Tubuhnya seperti sebuah ruangan yang saklar lampunya dimatikan satu persatu. “AKKHH!!” Rasa sakit itu menjadi ketika jarum yang berada di bawah matanya bereaksi. Jarum itu bergerak menancap dalam dan menggores pipi hingga rahangnya sebelum terjatuh dengan bebas dan melayang kembali pada Ahyoung.

“AKHH!! AKHHH!!!” Telinganya terus berdenging dan mengeluarkan darah, ditambah jarum di perutnya belum mau terlepas dan terus menyentuh bagian-bagian vital dalam tubuhnya. Kulit Sehun yang pada dasarnya seputih salju semakin memucat ketika rasa sakit itu menggerogoti tubuhnya. Dimulai dari kakinya yang semakin kebas dan rasa tebakar tidak normal yang meradang hingga paha dan panggulnya.

“Perbedaan kami cuma satu, aku sudah kehilangan orang yang aku cintai, dan dia belum.” Ahyoung mengatakannya dengan penuh kebencian. Ia melemparkan semua jarum di tangannya tepat ke titik-titik penting di tubuh Sehun.

“AAGGGHHHHHH!!!”

Forfeit

 

Ayoung masih sibuk mengubah semua data kalkulasi ke dalam grafik dan tabel ketika angin tiba-tiba berhembus kencang. Menerbangkan beberapa peralatan kecil yang ada di meja bidak yang ia gunakan. Ayoung mendengus sebal dan terpaksa memungut semua benda-benda kecil itu. Ketika benda terakhir diambil, Ayoung tentu akan berbalik kembali ke arah mejanya lagi, tapi sesuatu menghalanginya. Sesuatu yang terbang dan langsung menutupi penglihatannya. Barulah ketika angin berhenti bertiup benda itu melayang jatuh ke tanah dan tak lagi menutupi pandangannya.

Ayoung nyaris kehabisan nafasnya begitu melihat benda yang kini teronggok pasrah sebelum diterbangkan angin lagi dan menghilang. Kain merah.

Ayoung melempar semua benda yang ia bawa ke mejanya, ia bergegas menuju sumur tempat Sehun tadi turun. Ia turun tanpa peduli keselamatannya yang turun tanpa pengaman.

“DAN KAU JUGA AYOUNG! Jika kau kehilangan Sehoon, maka Sehun mu juga harus hilang. Hilang dan lenyap seperti debu.”

Firasat itu melandanya, melandanya seperti visi yang sangat cepat merasuki pemikirannya. Sehun. Oh Sehun. Nama itu berputar terus di otaknya. Matanya memburam karena air mata spontan yang memberontak keluar. Ia ketakutan. Dimana Oh Sehun?! Ayoung melihat jejak-jejak kaki yang mengarah pada sebuah ujung yang mengarah kepada undakan ke atas.

“OH SEHUN!” Matanya seakan ingin menggelinding dari tempatnya begitu melihat pria itu. Oh Sehun dalam posisi jatuh terbaring dengan telinga yang terus mengeluarkan darah dan baju bagian perutnya yang terkoyak lengkap dengan darah.

Ayoung berlari menghampiri pria itu. Sebagian wajah Sehun hampir tertutupi oleh darah yang bermula dari bagian bawah mata kirinya. Ayoung menepuk pipi Sehun yang tidak terluka berusaha menyadarkan pria itu. Tidak, Sehun tidak boleh pergi darinya.

“Oh Sehun.. Bangun.. Oh Sehun ayo kumohon bangunlah.” Ayoung sudah menangis. Matanya mengalirkan satu persatu air mata yang begitu menyakitkan

Sehun mengerjapkan matanya. Matanya perlahan-lahan menangkap sosok Ayoung yang menangis dan menyangga kepalanya. Ayoung tampak begitu cemas. Seperti dulu ketika ia terlibat kecelakaan motor kecil yang membuat tangannya harus diperban. Sehun langsung tersenyum kecil. Ia merindukan Ayoung.

“Ayoung..” Sehun ingin menggerakkan tangannya untuk menghapus air mata Ayoung tapi tubuhnya sudah mati rasa. Ia tidak bisa merasakan apapun kecuali sakit di hatinya yang bertambah melihat Ayoung yang menangis untuknya, lagi.

“Sehun! Astaga aku kira kau kenapa-kenapa?!” Ayoung mengencangkan pelukannya dan cepat-cepat menghapus air matanya. Takut mencemaskan Sehun.

“Aku tidak apa-apa. Aku hanya sedikit terluka.” Sehun kembali tersenyum dan menggerakkan sedikit kepalanya seolah semuanya baik-baik saja. Ayoung tersenyum pahit. Ini bukan luka yang sedikit, Oh Sehun.

Ketika Ayoung masih menggunakan matanya untuk meneliti luka-luka yang tak berhenti mengeluarkan darah dari tubuh Sehun, Sehun menatap wajah Ayoung bersungguh-sungguh. Entah kenapa, sekalipun dengan rasa sakit yang tidak berhenti mendera tubuhnya ia masih bisa merasakan perasaan bahagia di hatinya. Dadanya terasa hangat. Jantungnya kembali berdetak dengan irama yang menyenangkan seperti ketika dulu masih berada di sisi Ayoung.

“Ayoung..”

“Ya?” Ayoung menoleh cepat, takut-takut Sehun merasakan sesuatu yang mendadak dan membutuhkan bantuannya.

“Aku mencintaimu. Selalu.” Sehun tersenyum meyakinkan, matanya menatap tepat di manik mata Ayoung. Seolah menegaskan hatinya dan meminta Ayoung menjawab pertanyaannya.

“Aku juga. Selalu.” Ayoung mengusap air matanya yang sudah merengsek turun lagi, ia kemudian menepuk-nepuk tangannya menghilangkan kotoran di sana, “ayo, kita harus pergi ke Changwon. Kita harus membawamu ke rumah sakit terdekat.” Ayoung sudah bergerak mengangkat tubuh Sehun ketika Sehun tidak memberi reaksi apapun.

“Sehun ayo, aku tahu kau tidak bisa bergerak, tapi setidaknya rileks kan badanmu sehingga aku bisa mengangkatmu. Lihat itu ada undakan ke atas kurasa itu bisa membawa kita ke permukaan lagi dan—”

“Aku tidak mau pergi, aku ingin disini.” Sehun menjeda perkataan Ayoung. Ayoung menatapnya tak percaya.

“Apa kau tidak mau menerima pertolongan? Apa kau mati di sini? APA KAU MENINGGALKANKU LAGI?!” Air matanya langsung tak berhenti mengalir. Ayoung menyentak tubuh Sehun kasar sekalipun tak sampai jatuh dari pangkuannya. Dadanya narik turun menahan emosi yang meliputi dirinya. Ia marah tapi juga sedih. Bukankah Sehun yang mengatakan bahwa ia mencintai Ayoung? Tapi kenapa Sehun justru yang ingin meninggalkan Ayoung lagi?

“Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku mencintaimu, ingat?” Sehun terbatuk. Dadanya semakin sesak. Setelah menahan sakit di sekujur tubuhnya dan tiga tusukkan jarum yang sekarang entah musnah kemana di dadanya tidak ada lagi bagian tubuhnya yang baik-baik saja.

“Kau janji?”

“Tentu saja. Aku akan bersamamu, selamanya.” Sehun menggerakkan kepalanya berusaha meyakinkan sekali lagi dan jari-jarinya menggenggam erat jemari Ayoung yang berada di sana.

Ayoung menahan perasaannya yang semakin menyiksa. Sehun pada nyatanya akan meninggalkanku lagi. Ayoung bukan orang picisan yang berharap Sehun akan tetap selamat, Ayoung cukup waras untuk tahu Sehun hanya mau menghabiskan waktu bersamanya, bukan dalam perjalanan ke rumah sakit yang panjang.

“Aku tidak pernah berhenti mencintaimu Ayoung. Tidak sama sekali. Tiga tahun lalu, aku terpaksa memutuskan hubungan kita karena aku tidak bisa melihatmu dengan bakatmu hanya terus berada di divisi kita karena aku berada di sana. Aku tidak bisa ada di sisimu terus jika keberadaanku justru merugikanmu. Dan jika kau ingin tahu, Sulli bahkan bersumpah membenciku seumur hidup karena menjadikannya tameng hidup agar kau melupakanku. Aku minta maaf Ayoung. Aku benar-benar minta maaf.” Sejumput air mata mengalir dan menggenangi pipinya. Sehun merasa bersalah telah menyimpan semua muslihat ini selama bertahun-tahun di atas semua luka Ayoung yang tidak pernah sembuh.

“Aku tidak pernah mempermasalahkannya Oh Sehun, aku tidak masalah dimanapun aku akan tetap berada jika itu bersamamu. Aku tidak pernah merasa dirugikan.” Ayoung mengusap air matanya dengan punggung tangan sebelum kembali membelai wajah Sehun penuh kasih. Ia sangat mencintai Sehun, bahkan setelah semua luka itu. Dia sangat mencintai Sehun.

“Aku berpikir untuk menghentikan perasanku padamu, Ayoung. Tapi aku tidak bisa. Perasan itu sudah terlanjur mengakar kuat dan menguasai hatiku. Setiap aku berusaha mengajukan satu alasan pada diriku untuk berhenti mencintaimu diriku menentang dengan memberi ribuan alasan untuk tetap mencintaimu.”

“Benarkah?” Ayoung mengusap air mata Sehun kali ini. Laki-laki ini terus menangis sepanjang ceritanya. Dari air matanya ia bisa merasakan bagaimaan sesak dan sedihnya Sehun.

“Ya. Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Setiap hari aku selalu menunggu kabarmu dari teman-temanku. Menunggu perkembanganmu, berharap hidupku akan tetap sama walau hanya melalui kabarku. Tapi nyatanya hidupku sudah berubah semenjak aku meninggalkanmu. Aku hanya mau keberadaanmu yang sesungguhnya di sampingku setiap hari, bukan kabar-kabarmu saja. Aku merasa akan segera mati jika tidak segera melihatmu, sampai kau tahu? Aku bahkan nyaris melompat ke jalan raya begitu ada panggilan dari Korea Selatan untuk kembali dan menjalankan misi bersamamu.” Sehun tertawa. Tawanya masam dan cenderung menyedihkan. Ia menertawakan betapa hancurnya hidupnya tanpa Ayoung dan betap konyolnya dia ketika mendengar akan mendapat misi yang sama dengan Ayoung.

“Kenapa kau tidak bilang dari awal jika kau ingin menemuiku Sehun? Kenapa? Kau bisa berada di sisiku selamanya jika kau mau.” Ayoung merasa dinding kokoh yang dibangunnya untuk antisipasi jika ia bertemu Sehun suatu hari nanti hancur. Air mata dan senyum Sehun telah mengetuk pintu hatinya yang tergembok rapat.  Membiarkan Sehun kembali masuk. Membiarkan Sehun menguasai pikiran dan hatinya seperti dulu.

Sehun merasa tenggorokkannya seperti diremas. Nafasnya seperti dipotong dan disekat sebelum bisa keluar dengan baik.

“Benarkah? Benarkah selamanya aku bisa tinggal di sisimu?” Sehun menatap Ayoung dengan pandangan menerawang. Pandangannya semakin memburuk. Pening yang semakin menguasai kepalanya dan air mata yang tidak mau berhenti keluar dari matanya.

“Tentu saja. Kau harus tinggal di sisiku mulai sekarang.” Sehun merasa kepalanya yang semula berat terasa begitu ringan. Tinggal bersama Ayoung selamanya. Semuanya terasa begitu nyata dalam imaji Sehun. Ia hendak berucap lagi ketika pita suaranya semakin sakit, suaranya seperti tenggelam dan tidak bisa diajak berkompromi. Sehun menjadi frustasi setelahnya, ia tidak bisa berhenti mengungkapkan hatinya di saat seperti ini. Ia berusaha mengeluarkan kata-kata sederhana tapi hanya erangan kecil yang lolos dari bibirnya.

“Kau harus tinggal bersamaku mulai sekarang sampai selamanya untuk menebus tiga tahunku yang begitu buruk!” Ayoung tersenyum pada dirinya sendiri. Bukankah setelah ini semuanya akan lebih buruk baginya?

“Di pagi hari kau harus memelukku, memelukku dengan erat seolah kita akan berpisah jika kau melepaskan pelukannya. Di siang hari, kau harus membuat lawakan yang membuatku terus tertawa dan tidak merasa bosan dengan setumpuk pekerjaan. Dan di malam hari, kau harus memasak makanan untuk kita dan mengatakan tiga alasanmu mencintaiku. Berbeda setiap harinya.”  Ayoung bisa merasakan dingin mulai menguasai tubuh Sehun, jemari yang menaut jemarinya semakin dingin dan lemah. Itu membuat Ayoung semakin sesak. Sehun, aku mohon jangan pergi. Tubuh Sehun beberapa kali merosot dalam pelukannya.

Sementara Sehun sudah mulai dikuasai keabu-abuan dan kedinginan. Sekujur tubuhnya seolah nyaris membeku, dingin. Dingin yang menyergap dari kakinya hingga sekarang nyaris menyentuh dadanya. Ia hanya bisa melihat siluet Ayoung dari matanya yang semakin mengabur. Ayoung yang menangis dan mengusap air matanya dengan paksa. Ayoung yang mengajaknya terus berbicara tapi tidak mampu ia tangkap dengan baik sekarang.

Ahh.. Tidak. Kau tidak perlu memberi tiga alasan, itu terlalu banyak, beri aku satu alasan saja setiap harinya. Supaya kau tidak bisa pergi lagi karena harus menghabiskan semua alasanmu padaku hingga ajal menjemput kita suatu saat nanti.” Sehun semakin mendingin, pegangan jemari mereka semakin melemah. Satu tangan Ayoung yang berada di atas dada Sehun bahkan merasakan debaran di dalam sana semakin lambat dan jarang. Bisa dihitung dengan jari jumlahnya.

“Benarkan Sehun? Kau jadi tidak akan meninggalkanku lagi.” Ayoung tersenyum pahit. Hatinya sakit. Ini tidak adil bagaimana perasaan cinta bahkan tidak mampu menebus hancurnya hatinya. Ia bahkan tak bisa mencicipi satu hari bersama Sehun, tidak seperti Ahyoung yang bisa merasakan satu tahun bersama Sehoon.

Sehun sepenuhnya sadar ketika kegelapan itu menjemputnya. Ia merasakan sepasang tangan yang menutup matanya, menghentikan detak jantungnya dan memutus nafasnya yang terakhir. Rohnya terangkat bersamaan dengan air mata Ayoung yang jatuh tepat di ujung matanya. Ia bisa merasakan dan melihat Ayoung terakhir kalinya yang begitu hancur.

Ayoung, maaf. Maafkan aku. Maafkan aku.

Jemari itu meluncur dari genggamannya. Ayoung merasa saat itu vonis mati sudah dijatuhkan. Ia menggigit bibirnya kuat mencegah jeritan yang lebih menyakitkan meluncur dari bibirnya.

“Sehun..” Ia menggoyang sedikit tubuh yang terbaring tenang dalam pelukannya. Dadanya tak lagi naik turun, nafasnya tak lagi terdengar, tubuh itu sepenuhnya dingin. Tapi terlihat begitu damai dalam pelukan Ayoung.

“Sehun kau berjanji untuk tidak meninggalkanku..” Ayoung merasa tolol. Ia tidak lagi bisa membangunkan Sehun. Ia tidak akan bisa. Seharusnya dari tadi ia tidak percaya janji Sehun dan membawa pria tidak tahu diri ini ke rumah sakit.

“Sehun kau berjanji setelah misi ini kita akan memiliki hubungan yang lebih baik..” Ayoung masih menggoyang tubuh Sehun, dengan lebih keras. Menempatkan harapan terakhir di situ.

“Sehun..”

Aku mencintaimu. Selalu.

“SEHUN!!”

.

.

.

.

.

.

Forfeit

 

“Seperti itulah kira-kira isi novel saya.” Ayoung mengakhiri penjelasannya mengenai garis besar novel yang latarnya diambil di daerah kecil seperti Jinhae-gu.

“Sungguh suatu kehormatan untuk mendengar kisah itu dari Cho Ayoung sendiri, selaku pengarangnya. Baiklah, sekarang sesi tanya jawab saya buka. Yang ingin bertanya bisa melakukannya. Sepuluh penanya pertama akan mendapat novel dengan tanda tangan langsung dari Cho Ayoung.” Nyaris ratusan orang yang duduk dihadapan Ayoung dan seorang moderator yang menemaninya hari itu berebut meacungkan jari. Sampai akhirnya Ayoung menunjuk salah seorang secara acak.

“Apakah.. Cerita itu adalah kisah nyata?” Ayoung tersenyum mendengarnya dan langsung mengambil lagi mic yang ia letakkan.

“Ya. Pengalaman nyata, seorang dalam hidup saya, Oh Sehun.”

.

Forfeit

.

Beberapa suster yang berada di sekitar meja informasi berkumpul. Sekedar membicarakan sesuatu atau bertukar pikiran.

“Kau masih ingat gadis yang sering ke sini, yang setiap hari mengunjungi kekasihnya itu?”

“Tentu.”

“Ia masih tidak bisa menerima kematian kekasihnya. Sayang ya, padahal karirnya sebagai penulis sangat cemerlang.”

“Ya, dokter kan sudah ratusan kali mengatakan bahwa sebenarnya kekasihnya itu sudah mati. Alat-alat dan uang yang selalu gadis itu berikan saja yang membuat pria itu terlihat hidup.”

Hhmm.. Kasihan sekali. Gadis itu sepertinya cinta mati pada prianya. Kecelakaan Sungai Geumho waktu itu telah mengambil rasionalnya.”

Gadis yang merasa digunjingkan, Ayoung, tidak ambil pikir. Ia terus melangkah. Sampai ia melihat sebuah ruangan khusus dengan perlengkapan medis lengkap yang mengelilingi tubuh seorang pemuda di dalamnya.

“Selamat siang, Oh Sehun.” Ayoung meletakkan tubuhnya di samping tubuh pemuda itu. Elektrokardiograf bergerak kecil cenderung datar. Sementara masker oksigen yang ada cenderung hanya memberi oksigen tanpa menangkap karbondioksida dari sana.

“Maaf terlambat, hari ini aku mengadakan acara dengan beberapa penggemar novelku, novel kita.” Ayoung tertawa kecil setelahnya dan bergerak mengecup ujung bibir Sehun yang segaris datar.

“Jadi coba katakan, apa alasanmu mencintaiku hari ini?” Ayoung mengarahkan telinganya ke arah bibir Sehun yang masih enggan membuka. Tapi Ayoung hanya terdiam kemudian tertawa, “benarkah? Aku semakin mencintaimu, Oh Sehun.” Ayoung kembali mengecup sisi bibir Sehun.

“Oke sekarang mari kita lihat surat dari penggemarmu.” Ayoung tersenyum dan meletakkan beberapa surat beraneka macam bentuk di atas ranjang tempat Sehun berbaring. Ia membuka salah satunya dan kembali tersenyum.

“Halo Ayoung unnie, aku begitu tersentuh dengan novelmu. Novelmu begitu mengagumkan. Aku selalu berdoa untukmu dan Sehun. Semoga kalian bisa diterima di sisi Tuhan dalam damai.”

Ayoung menutup surat itu. Kemudian tertawa dan…

.

.

.

.

.

.

.

.

Buss… Menghilang..

.THE END.

 

Tik… Tik.. Ada yang nggak ngerti? Kecelakaan mobil, observasi di rumah berhantu, acara perbincangan novel dan terakhir semoga kalian bisa diterima di sisi Tuhan dalam damai.

Alurnya kaya maju mundur maju mundur maju maju terus mundur lagi.

Kalau kalian benar-benar pusing, artinya genre yang saya ambil cukup saya kerjakan dengan baik dong? Ini bener-bener tertolong banget sama film random yang saya lihat di youtube, Curse of The Deserted. Itu film awalnya kaya Final Destination. Membunuh sekelompok peneliti yang lepas dari sebuah rumah yang dihantui kisah mencekam yang sebenarnya romantis. Sampai akhirnya endingnya bener-bener bikin.. EHHH!! KOK BISA?!! Jadi kepikran dari sana deh. Hihihihihi

Nah sekedar bocoran sebelum kalian makin pening. Sebenarnya disini cuma ada dua bagian nyata. Yaitu kecelakaan mobil yang diawal dan Ayoung yang sadar waktu di UGD. Jadi Ayoung dan Sehun sama-sama meninggal di kecelakaan itu. Bedanya Sehun langsung meninggal dan Ayoung masih sempet dikasih pertolongan dan hidup untuk beberapa waktu makanya si suster bilang kalau Ayoung itu kehilangan rasional karena kecelakaan Sungai Geumho. Tapi akhirnya Ayoung mati, mati patah hati. Sementara bagian lain… adalah khayalan Ayoung. Dia nggak mau ditinggal orang yang dia sayang segitu mudahnya makanya otaknya membuat simulasi kejadian-kejadian yang nggak pernah ada untuk setidaknya memberi kronologis yang masuk akal untuk kepergian Sehun.

LIFE / Next Project After CHAMOMILE

Karena ini masih awal sekolah dan saya berpikir untuk mulai hiatus long-time selama semester dua jadi saya puas puasin dulu nih bikin FF. Setelah Chamomile yang tinggal beberapa cerita lagi selesai saya punya project baru — LIFE. LIFE itu apa? Life itu adalah enam rangkaian FF (termasuk ini) yang memiliki dasar cerita tentang makna kehidupan. Seperti di cerita ini saya ingin menyampaikan definisi lain dari cinta untuk orang-orang yang terbiasa dengan fluffy romance.

Nah di lima FF selanjutnya temanya berhak ditentukan oleh readers. Nah tapi nggak semua orang bisa menentukan. Readers yang berhak menentukan tema kehidupan selanjutnya adalah readers yang berhasil menjawab pertanyaan di setiap akhir FF. Dan.. Mostly pertanyaannya akan saya ambil dari Running Man.

Kenapa Running Man? Karena mencari jawaban dari Running Man enggak segampang buka google, kalian harus perhatikan betul detail-detail kecilnya 😉

Pertanyaan kali ini : Siapa member pertama yang keluar di ep. 43?

See you later ^^

Advertisements

80 responses to “[Life/One] Forfeit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s