[chapter 1] The Destiny

Ini bukan ff saya (ifaloyshee) melainkan ff dari salah seorang teman, tolong di appreciate ya guys!

IMG_20131223_223122

prolog

The Destiny ( Chapter 1 )

Author             :           Nurreka (@insp_nurreka)

Title                 :           The Destiny (Chapter 1)

Genre              :           Fantasy, Romance, Family, Friendship

Length             :           Chapter

Main Cast        :           -Oh Sehun ( Pure Witch)

-Park Jihyun (OC) (Pure Witch)

Support Cast    :           -Park Jungsoo a.k.a Leeteuk as Jihyun’s father or Mr. Park (Pure Witch)

-Kim Taeyeon as Jihyun’s mother or Mrs. Park (Pure Witch)

-Park Chorong as Jihyun’s sister (Pure Witch)

-Park Chanyeol as Jihyun’s brother (Pure Witch)

                                    -Kim Joon Myun as Jihyun’s cousin (Pure Witch)

                                    -Exo members as Sehun’s friends (Pure & Half Witch)

                                    -A pink members as Jihyn’s friends (Pure & Half Witch)

                                    -Doojoon, Gikwang, Hyunseung BEAST as Vampire

– . . . as Red Black (Half Witch)

-Infinite members, Suzy & Fei Miss A as Jihyun’s friends (Human)

                                    -Others cast

~This fanfic inspired by Harry Potter~

~Don’t bash or be a plagiator/plagiat this fanfic~

~This fanfic just for have fun~

~Happy reading~

            Jihyun menyandarkan kepalanya yang masih terasa sakit di kaca mobil yang sekarang ditumpanginya. Mata hitamnya hanya menatap ke jalanan yang dilaluinya dengan malas. Ia lalu menatap tanda lahirnya.

Setidaknya aku memang benar-benar seorang penyihir.

Jihyun menatap Chorong yang berada di kursi pengemudi. Kakaknya itu tampak berkonsentrasi dengan jalanan yang ada di hadapannya. Jihyun lalu menarik nafasnya, bersiap dengan pertanyaan yang akan dilontarkannya.

Eonni, apa kau tahu hari ini hari apa?”

Jihyun meremas ujung bajunya, merasa cemas dengan jawaban yang akan dilontarkan oleh Chorong.

Chorong melirik Jihyun sekilas lalu kembali fokus pada jalanan yang ada di hadapannya dan kemudian menjawab,

“Tentu saja. Karena satu minggu lagi kami akan masuk sekolah lagi. Ahh, aku benar-benar merindukan mereka. Aku sudah tidak sabar ingin kembali ke sekolah dan melalukan banyak hal. Memangnya, kenapa Jihyunie?”

“Tidak. Tidak ada apa-apa. Aku hanya bertanya saja.”

Jihyun kembali menghela nafasnya yang entah kenapa kini terasa berat. Ia kecewa karena jawaban yang di berikan Chorong tidak seperti dugaannya. Lengkap sudah kesialannya hari ini. Kecelakaan yang dialaminya dan ditambah dengan tidak ada satu orang pun yang mengingat bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya. Sementara itu, tanpa Jihyun ketahui, Chorong menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman.

Bersiaplah Jihyunie, karena kau akan mendapatkan kejutan dari kami.

 

***

 

“Selamat ulang tahun!!!”

Jihyun hanya mampu berdiri mematung saat mendapatkan kejutan yang begitu tiba-tiba dari keluarga dan teman-temannya. Mereka semua terlihat bahagia dan. . . begitu ceria.

“Hei, Miss. English! Kenapa kau diam saja? Ahh, aku tahu. Kau pasti merasa sangat bahagia karena kejutan yang sudah kami siapkan, bukan?”

Demi apapun, itu pasti suara Myungsoo.

Jihyun lalu menoleh, dan benar saja, itu memang Myungsoo. Laki-laki itu sedang bersandar di tembok rumahnya sambil menyeringai.

“Dasar, Mathematic.”

Jihyun menggerutu. Laki-laki itu memang menyebalkan. Dan sekarang Myungsoo kini tertawa, menyadari bahwa tebakannya benar.

“Selamat ulang tahun yang ke-17 Jihyunie. Ayo tiup lilinya.”

Jihyun mengangguk dan memeluk Taeyeon dan juga Leeteuk sekilas lalu meniup lilin ulang tahunnya yang dibawa oleh Chanyeol. Ia tersenyum senang.

“Selamat ulang tahun.”

Jihyun kembali mengangguk. Kali ini ia memeluk Chorong dan Chanyeol bergantian. Ia lalu menatap teman-temannya yang tersenyum padanya. Suzy, Fei, Sunggyu, Sungyeol, Sungjong, Howon, Woohyun, Dongwoo, dan tentu saja Myungsoo.

Gomawo.”

“Ini hadiah dari kami semua. Ayo buka. Aku sudah tidak sabar.”

“Hei, Lee Sungyeol. Bisakah kau bersabar?”

“Hehe, Mianhae.”

Jihyun hanya tersenyum saat melihat tingkah teman-temannya. Ia lalu memutuskan membuka hadiah yang ditumpuk di sudut ruang keluarga rumahnya.

“Ini.. dari siapa?”

Jihyun mengangkat sebuah hadiah dengan kertas kado berwarna pink dengan motif bunga sakura yang menarik perhatiannya dan detik berikutnya suara Woohyun terdengar.

“Itu dari Myungsoo.”

“Hei!! Kenapa kau tidak bisa diam, Nam Woohyun ?! Jihyun-ah, dengarkan aku. Itu tidak seperti yang kau kira. Kau tahu kan kalau warna kesukaanku hitam, bukan pink. Lagipula itu satu-satunya warna kertas kado yang ada di toko, tidak ada pilihan warna yang lain.”

“Ku kira kau sudah mengubah warna favoritmu.” Sahut Sunggyu.

Mereka lalu tertawa melihat wajah Myungsoo yang memerah. Laki-laki itu menggerutu.

“Buku?” tanya Jihyun. Myungsoo mengangguk cepat lalu menjawab,

“Buku saku, tentu saja. karena kau sangat ceroboh dan pelupa. Jadi, kau bisa mencatat segala hal yang menurutmu itu penting dan kau tidak akan melupakannya lagi, termasuk berbagai rumus karena kau juga sangat lemah di matematika.”

Gadis itu tersenyum simpul mendengar alasan Myungsoo yang memberinya buku saku. Ia lalu kembali melanjutkan kegiatannya, membuka setumpuk hadiah dari teman-teman dan juga dari keluarganya.

“Ahh, aku hampir saja lupa. Kalian. . lihat ini.” Ucap Jihyun saat ia sudah selesai membuka semua hadiahnya. Sunggyu, Sungyeol, Myungsoo, Howon, Dongwoo, Sungjong, Woohyun, Suzy dan Fei menatap Jihyun, merasa penasaran dengan apa yang akan dilakukan gadis itu.

Eomma, bunga yang ada di atas meja untukku saja, ya?”

Taeyeon mengangguk. Ia paham dengan apa yang akan dilakukan Jihyun.

Jihyun lalu berdiri, mengambil bunga mawar putih yang ada di atas meja. Ia lalu membuang tangkainya dan kembali duduk.

“Lihat ini.”

Jihyun menangkupkan jari-jari tangannya, menggenggam kelopak mawar putih itu lalu kemudian membukanya.

“Wow.” Gumam Suzy saat mawar putih yang tadi digenggam Jihyun kini menjadi gumpalan kertas putih dengan ukuran yang sama dengan mawar putih tadi. Sementara temannya yang lain, mereka mentap jihyun dan gumpalan kertas itu bergantian dengan takjub.

“Jihyun-ah, kau. . apa itu artinya kekuatan sihirmu sudah muncul?” tanya Dongwoo yang masih menatapnya takjub. Ia lalu mengambil gumpalan kertas yang ada di tangan jihyun.

“Hei!! Ini benar-benar kertas.” Ucap Sungjong heboh.

Well. . that’s right. Tapi itu tidak seberapa.” Jihyun menatap teman-temannya dengan senyum misteriusnya, membuat Sungyeol dan Sungjong bergidik ngeri melihatnya.

“Emm, Sunggyu-ya, coba kau pikirkan sesuatu. Apapun itu.”

Sunggyu lalu mengerenyitkan dahinya, memikirkan suatu hal. Tak berapa lama, namja itu berkata,

“ Sudah.”

Jihyun menyeringai, lalu menjawab,

“Kau memikirkan tentang tugas matematika yang diberikan oleh Lee Songsaenim yang tidak bisa kau kerjakan dan kau lalu berpikir bahwa kau akan meminta Myungsoo untuk mengajarimu.”

Sunggyu terpana. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya  saat mendengar apa yang dikatakan jihyun persis dengan seperti apa yang dipikirkannya tadi.

“Itu benar.” Ucap Sunggyu pelan setelah beberapa saat ia masih terpana.

“Whoaa, Jihyun-ah, itu hebat. Kau bisa membaca pikiran?” tanya Howon tiba-tiba. Jihyun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum menatap Howon.

“Wow!! That’s awesome.” Ucap Fei pelan.

“Jika kau ingin aku mengajarimu, kau harus memberiku imbalan.” Ucap Myungsoo. Ia menyeringai menatap Sunggyu.

Ya, Kim Myungsoo!! Dasar pelit.”

“Biar saja.”

“Hei, tunggu dulu.”

Semua yang ada di ruangan itu kini menatap Dongwoo, menunggu Dongwoo melanjutkan ucapannya. Ia menatap Jihyun sekilas, lalu menyeringai. Jihyun yang menyadari bahwa akan ada hal buruk yang terjadi –itu menurutnya-, langsung kelabakan.

“Apa-apaan kau, Dong- “

“Seharusnya Jihyun yang memberi kita imbalan.” Dongwoo masih menyeringai, ia kini menatap jihyun dan teman-temannya yang lain bergantian.

“Maksudmu apa, Dongwoo-ya?” tanya Fei heran.

Dongwoo masih mempertahankan seringainya, ia lalu menjawab,

“Karena Jihyun hari ini berulang tahun ditambah lagi dengan kekuatannya yang sudah muncul,” Dongwoo menatap Jihyun sekilas lalu kembali menatap teman-temannya yang juga menatapnya tak sabar dan melanjutkan “kita harus dapat imbalan karena kita sudah mempersiapkan kejutan untuknya.”

Selama beberapa detik, mereka saling terdiam. Berusaha mencerna ucapan Dongwoo. Tapi tak lama, mereka semua berteriak heboh.

“Astaga!! Kenapa aku tidak memikirkannya.”

“Jihyun-ah, kau harus mentraktir kami semua.”

“Jihyun-ah, ayo traktir kami.”

“Itu benar Jihyun-ah. Kami harus dapat imbalan.”

“Traktir.”

“Traktir.”

“Traktir.”

“Traktir.”

“Makan gratis.”

“Makan gratis.”

Jihyun  akhirnya hanya bisa pasrah. Ia lalu menjawab,

“Oke, oke. Aku akan mentraktir kalian. .” Jihyun menarik nafasnya lalu melanjutkan “sepuasnya.”

Mereka lalu berteriak heboh, Dongwoo mengusap-usap kepala jihyun terlalu keras yang menyebabkan rambut gadis itu menjadi berantakan.

Ya! Singkirkan tanganmu!”

Suzy dan Fei kini memeluk jihyun erat, membuatnya tidak bisa bernafas. Beberapa dari mereka ada yang menggumamkan kata ‘yes’, sedangkan yang lainnya ber high five.

“Apakah aku terlambat?”

Mereka semua yang ada di situ menatap seorang namja yang sedang menempelkan tangannya di dinding. Sedangkan tangannya yang lain membawa sebuah hadiah dengan kertas kado berwarna kuning.

“Kau terlambat, Hyung.” Ucap Chanyeol yang kepalanya menyembul di balik tembok rumahnya. Ia lalu kembali ke dapur.

“Joonmyun Oppa!”

Jihyun berdiri dan bergegas menghampiri Joonmyun. Ia memeluk Joonmyun sekilas lalu menampakkan senyumnya. Joonmyun lalu memberikan hadiah yang dibawanya dan jihyun menerimanya dengan senang hati. Joonmyun lalu mengacak-ngacak rambut jihyun pelan. Jihyun kemudian kembali menghampiri teman-temannya, membuka hadiah yang baru saja diberikan oleh Joonmyun. Sedangkan Jonnmyun, ia memilih untuk duduk di samping Taeyeon.

Oppa, gomawo.” Ucap jihyun. Ia mengacung-acungkan hadiah novel yang diberikan Jonnmyun. Joonmyun hanya tersenyum dan mengangguk.

“Ayo kita ke kedai Bibi Song.” Ucap jihyun.

“Ayo.”

“Dengan senang hati.”

Eomma, aku pergi ke kedai Bibi Song.”

Taeyeon menganggukkan kepalanya.

“Hati-hati, Jihyunie.”

“Ne Eomma.

Mereka lalu berangkat ke kedai Bibi Song yang ada di seberang rumah Jihyun sambil bercengkrama satu sama lain.

“Jihyun-ah, apa ini artinya kau akan pindah sekolah?” tanya Woohyun tiba-tiba saat mereka sudah duduk di kedai Bibi Song dan menikmati makanan yang mereka pesan.

Jihyun menganggukkan kepalanya.

Ne. Aku akan pindah ke sekolah khusus sihir minggu depan.”

“Itu artinya waktu kita bersamamu di sekolah hanya tersisa 1 minggu lagi?” tanya  Suzy.

Ani. Hari terakhirku di sekolah bersama kalian hanya sampai besok. Tapi kalian masih bisa menemuiku selama 1 minggu ini.”

Mereka terdiam dan beberapa detik kemudian suara Jihyun kembali terdengar.

“Hei, jangan sedih. Myungsoo-ya kita bisa berkirim surat dan kalian bisa menanyakan kabarku padanya, begitupula sebaliknya.”

Jihyun menatap Myungsoo yang juga menatapnya. Namja keturunan penyihir –tapi bukan penyihir- itu menganggukkan kepalanya. Ia memang bisa berkirim surat dengan para penyihir sekalipun ia bukan seorang penyihir karena ibunya yang merupakan seorang penyihir campuran dan ayahnya yang seorang manusia.

Setelah itu, obrolan hangat kembali mengalir diantara mereka. Mereka kini harus memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin karena waktu untuk mereka bisa berkumpul bersama sangat terbatas. Saat ini yang mereka inginkan adalah membuat kenangan sebanyak mungkin agar saat Jihyun harus pergi nanti mereka tidak menyesal dan Jihyun bisa terus mengingat kenangan yang telah mereka buat.

 

***

 

Jihyun menatap bangunan tua yang ada di hadapannya dengan takjub saat tembok bangunan itu tiba-tiba berubah digantikan dengan sebuah pintu besar berwarna merah bata.

“Ayo masuk.”

Jihyun menatap Taeyeon dan Leeteuk sekilas lalu menyambut tangan Chorong,memasuki pintu itu bersama-sama. Selama beberapa detik, Jihyun merasa seperti berjalan dalam kegelapan lalu setelahnya, matanya membulat, menatap takjub dengan hal-hal yang baru pertama kali dilihatnya. Rombongan penyihir dengan cahaya berwarna putih yang terlihat dimana-mana dan beberapa penyihir yang membawa setumpuk buku tebal lalu menghilang di balik tikungan dan. . jangan lupakan kereta api super besar berwarna coklat dengan cerobong asapnya yang juga sangat besar. Ia lalu menoleh ke belakang dan mendapati Taeyeon, Leeteuk, Chanyeol dan Joonmyun. Sedangkan pintu yang tadi membawanya ke tempat ini kini menghilang digantikan dengan dinding berwarna merah bata.

Chorong berbalik dan memeluk Taeyeon juga Leeteuk bergantian dengan erat, Jihyun mengikutinya.

Eomma, kami berangkat.” Ucap Chorong pelan saat ia sudah melepaskan pelukannya.

“Jaga diri kalian baik-baik, adeul.” Sahut Taeyeon.

Ne, Eomma.”

“Jangan membuat masalah dan jadilah anak yang baik.” Sambung Leeteuk.

Chorong, Chanyeol, Joonmyun, dan Jihyun mengangguk pelan.

“Tapi mulai saat ini sepertinya kita harus menjaga adik kita dengan kekuatan supernya ini dari gangguan orang lain.” Jihyun membulatkan matanya saat mendengar ucapan Chanyeol. Sedangkan Chanyeol, ia menyeringai menatap Jihyun.

“Tentu saja. Karena akan ada banyak orang layaknya seorang fans yang akan selalu mengejar-ngejarnya.” Sahut Joonmyun.

“Dan aku yakin Jihyunie akan kebingungan saat ia menemukan seorang namja yang pikirannya tidak bisa dibaca.” sambung Chorong. Mereka semua lalu tertawa melihat wajah Jihyun yang memerah karena kesal.

“Jihyunie, dengarkan Appa.” Leeteuk memengangi kedua bahu Jihyun dan menatap matanya.

“Kau ingat apa yang Joonmyun katakan satu minggu yang lalu?”

“Aku memiliki insting yang paling bagus, aku bisa membaca pikiran kecuali pikiran keluargaku dan seseorang yang ditakdirkan untukku, bisa melihat dalam kegelapan, dan aku memiliki satu kekuatan lagi yang aku tidak tahu itu apa dan hanya akan muncul sekali dalam hidupku saat dalam keadaan yang mengharuskan kekuatan itu muncul.”

Leeteuk mengangguk.

“Kau harus bisa menjaga dirimu baik-baik Jihyunie. Ingat apa yang Appa katakan tadi malam?”

“Aku harus menyembunyikan tanda lahirku. Tapi Appa, aku tidak mengerti maksud ucapan Eomma tentang kecuali untuk beberapa orang.”

“Kau akan mengerti nantinya.”

Jihyun melirik sekilas ke arah Chorong yang melambaikan tangannya, menyuruh Jihyun untuk segera menyusulnya lalu kembali memeluk Taeyeon dan Leeteuk bergantian.

Jihyun lalu menghampiri Chorong, Chanyeol dan Joonmyun yang berdiri menunggunya. Mereka kemudian memasuki kereta dan mencari gerbong yang masih kosong.

Jihyun mengambil sebuah foto dari dalam tasnya dan menatapnya. Foto dirinya dan teman-temannya yang diberikan oleh Fei 2 hari yang lalu.

Aku tidak akan pernah melupakan kalian semua.

Jihyun lalu memasukkan foto itu ke dalam buku saku hadiah pemberian Myungsoo yang diambilnya dari saku blazernya.

Chorong, Chanyeol, Joonmyun dan Jihyun melambaikan tangan mereka ke arah Taeyeon dan Leeteuk melalui kaca jendela transparan yang ada saat kereta mulai berangkat. Taeyeon dan Leeteuk membalas lambaian tangan mereka. Hingga akhirnya mereka tidak dapat lagi melihat Taeyeon dan Leeteuk saat kereta mulai melaju dengan cepat.

“Nah Jihyunie, kau bisa bertanya hal apapun yang berkaitan dengan sihir. Kami akan menjawabnya dan menjelaskannya untukmu.”

Jihyun tersenyum senang. Dan mereka lalu mulai bertanya jawab dan mengobrol tentang banyak hal dengan ditemani makanan ringan yang mereka bawa dari rumah. Perjalanan yang jauh tidak mereka rasakan karena mereka sangat menanti perjalanan ini.

 

***

 

Hai !!! akhirnya chapter 1 sudah bisa di pubblish. Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung ff ini, terima kasih juga buat komennya. Komen kalian lucu-lucu, J, dan saya terharu banget *peluk myungsoo*. Maaf baru bisa di post sekarang karena saya saat ini sedang sibuk. Masalah pertemuan lah, ini lah, itu lah, pokoknya macem-macem deh. Super sibuk, hehe. Terima kasih juga buat Kak Ifa yang sudah bersedia saya repotin. Dan yang terakhir, RCL dari kalian selalu ditunggu. Apalagi dengan berbagai macam kritik dan komen yang membangun akan saya terima dengan senang hati. Gomawo readers J.

15 responses to “[chapter 1] The Destiny

  1. Pingback: [chapter 2] The Destiny | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s