N L A F S

 

maaf, judul yg bener N L A F S. Males edit lagi soalnya hehe

 

L N A F S

 

 

Story and ART by @DZ4908

 

 

Do Kyungsoo & Shin Hana (OC or YOU) // TEEN // Drabble (1.811 words) // Romance – Fluffy // P.S : Maaf kalo aku malah nyelipin lagu Indonesia. Anggap aja lagu Korea soalnya biar pas dan insyaAllah nge-feel. PS : Jangan lupa dibaca The Obscurity of Love (PART 1) yaaaaa~ buat baca klik HERE

 

 

 

Backsound : Perahu Kertas – Maudy Ayunda

 

 

 

Another Series ;

 

[Kai Story] [Kris Story] [Sehun Story] [Baekhyun Story] [Chanyeol Story] [Junmyeon Story] [Kyungsoo Story]

 

 

 

*

 

*

 

*

 

 

Love not at first sight

 

 

 

*

 

 

 

K Y U N G S O O point of view

 

 

 

Aku Kyungsoo, lebih tepatnya Do Kyungsoo. Aku salah satu murid yang selalu di andalkan dalam bidang musik. Suaraku bagus, dan itu sudah banyak orang yang mengakui. Soal rupa? Aku cukup tampan untuk menjadi serang member boyband dengan mata beloku ini. Dan percayakah kalian tentang cinta tidak pada pandangan pertama? Biasanya cinta selalu ada pada pandangan pertama, namun berbeda denganku (bukannya mau sok anti-mainstream) aku tak mencintainya dari padangan pertama tetapi sejak melihat gadis itu menyentuhkan jari lentiknya pada senar-senar gitar dan menyeruak-kan suara merdunya yang membuat hatiku bergetar atau mungkin meleleh seketika. Akan aku ceritakan lebih lengkapnya.

 

 

*

*

*

 

 

Saat itu aku masih duduk di bangku kelas 2 sekolah menengah keatas. Aku berada di kelas unggulan dimana memang di kelasku para murid unggul dalam bidang seni. Aku memasuki kelasku, melihat sebagian orang yang tampak baru kulihat karena sebelumnya saat kelas satu kelas hanya layaknya sekolah biasa, dan dari sekian murid orang yang sangat dekat denganku disini hanyalah Jongdae, temanku yang juga memiliki suara begitu merdu dan eum, dia juga cukup tampan. (sungguh! Ini tak bohong!)

 

Selain Jongdae, aku juga melihat Jieun, dia gadis yang cukup ramah dan tentunya suara gadis itu tak perlu di ragukan. Ugh, sepertinya mereka berdua akan menjadi temn terdekatku untuk kali ini, lagipula saat awal kami masuk kemari, kita memang sudah dekat karena satu kelas saat acara penyiksaan senior kepada juniornya dan tentunya kami bersama selama satu tahun yang kalian tahu apa maksudku.

 

Pandanganku terarah pada seorang gadis yang duduk di ujung belakang. Ia memilih sendiri. Jika dilihat ia cukup cantik meskipun tidak secantik gadis the most wanted di sekolah ini yang memasuki jurusan bahasa yaitu Tiffany Hwang dan Jessica Jung. Oh, aku lupa bahwa mereka adalah dua sahabat yang merupakan gadis the most wantedoleh para pria.

 

Aku mengamatinya lagi, senyum meremahkan muncul di bibirku. Aku sedikit ragu bahwa gadis itu bisa bermain musik, lihat saja penampilannya (meskipun tadi aku bilang dia cukup cantik, bukan berarti dia cantik seutuhnya dan memiliki muka musik.) dia lebih cocok memasuki kelas science dan menjadi seorang professor atau bahkan guru. Dia terlihat begitu kutu buku, oh ralat! Bukan terlihat lagi, namun memang nyatanya ia kutu buku. Lihat saja, pagi-pagi sudah membaca buku setebal itu dengan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya.

 

Nerd girl. . .

 

Ugh, aku paling tidak menyukai gadis kutu buku seperti itu. Karena apa? Aku merasa mereka -para kaum anak cupu yang hobi membaca setumpuk buku dan beratusan lembar halaman serta beratus-ratus atau bahkan jutaan kalimat.- tak mampu menikmati hidupnya dengan kesenangan, hidup mereka hanya dihabiskan dengan membaca sebuah buku yang belum tentu akan berguna. (Oke, itu pandanganku! Jadi jangan protes!)

 

Aku memilih tempat duduk yang tentunya di sebelah Jongdae. Pria itu menyunggingkan senyumnya yang amat freak dan menyapaku dengan sebuah high five ala anak muda pada jaman sekarang. Dan tak lama setelah itu, Park seosangnim datang dan mulai mengajarkan materi yang akan memudahkan kita untuk melakukan praktek pada bidang seni.

 

Aku sesekali melirik gadis itu, gadis itu nampak serius mendengarkan apa yang dijelaskan oleh Park seosangnim. Dan tepat setelah itu, sebuah pertanyaan diajukan kepadanya, gadis itu gelagapan, tak mampu menjawab apa yang ditanyakan oleh Parkseosangnim. Oke, prasangka burukku beralasan bukan? Dia gadis yang tak pandai dalam musik. Lihat saja nanti, pasti dia akan menunjukkan keodohan lain dirinya.

 

Hari berlalu dengan cepat, detik berganti menit, menit berganti jam, dan jam berganti menjadi hari, begitupula siang menjadi malam atau sebaliknya. Kelas dimulai seperti biasa, gadis itu yang baru-baru ini aku ketahui namanya Shin Hana selalu menunjukkan gelagat anehnya, setiap guru yang menyuruhnya untuk menyanyi selalu dia tolak, ia selalu beralasan bahwa sedang radang tenggorokan padahal aku tahu itu hanya akal-akalannya untuk tidak menyanyi dan guru mengathui kemampuan menyanyinya amatlah buruk dan hal lain yang membuatku heran para seosangnimselalu saja mau di bodohi dengan percaya begitu saja pada alasan murahan gadis itu.

 

“Hana-ya. Bisakah kau sekali saja menyanyi? Aku ingin mendengarmu menyanyi.”

 

Begitulah permintaan salah satu temanku pada saat itu yang aku dengar, namun kalian pasti tahu jawabannya, dia kembali menolak, kali ini dengan alasan ia sedang terkena flu. Aku semakin menyakini, semakin yakin bahwa gadis itu benar-benar tak berbakat dan tak salah bukan jika aku semakin tak menyukainya? Sangat masuk akal alasan-nya, jika kalian menanyakan mengapa.

 

 

 

*

*

*

 

 

H A N A point of view

 

 

 

Saat ini adalah saat dimana aku memasuki kelas baruku. Entah ada apa dengan sekolah ini serta orang tuaku, aku di masukkan kedalam kelas seni padahal mereka tahu, aku benar-benar membenci musik sejak saat itu, musik adalah kenangan buruk untukku! Dan aku membenci musik, biarkanlah aku bersikap bodoh disini, dengan begitu aku bisa dikeluarkan dari kelas ini.

 

Mataku fokus pada buku bacaan tebalku sekarang, sesekali melirik sekitar memastikan bagaimana teman-temanku, pandanganku terarah pada seorang pria yang menatapku dengan sinis mungkin? Ugh, menyebalkan! Dia pikir dia siapa? Memandangku dengan sinis serta menilaiku merendahkan hah? Dan tak lama, pelajaran dimulai, Park seosangnim mulai mengajarkan teori musik yang menurutku benar-benar memuakkan. Aku memang memperhatikan, namun pikiranku hilang entah kemana, dulu memang aku mencintai musik, namun sekarang? Tidak. Sejak dia meninggalkanku, meninggalkanku untuk selamanya, dan itu karena aku. Aku yang memaksa-nya untuk mendatangi konser musikku padahal dia tidak bisa dan aku marah, aku merutuki sikap ababil-ku dulu. Dan tiba-tiba, guru itu menunjukku, menanyakan sebuah pertanyaan yang tentu saja kutahu jawabannya. Aku tahu jawabannya, namun aku lebih memilih bungkam, diam seribu bahasa dan berpura-pura bodoh tak mengetahui apa itu.

 

Hari berlalu dengan cepat, setiap guru selalu menyuruhku untuk mencoba menyanyi, namun aku menolaknya dan memilih untuk beralasan. Aku tahu ini semua akal-akalan orang tuaku, orang tuaku menyuruh para guru untuk membujukku agar mau bernyanyi lagi. Kalian pasti bertanya mengapa orang tuaku bisa menyuruh bukan? Orang tuaku salah satu donatur dana terbesar di yayasan ini.

 

Lagi, pria itu yang bernama Kyungsoo selalu menatapku sengit. Menatapku tidak suka dengan mata besarnya. Sebenarnya apa salahku? Mengapa pria itu selalu menatapku sengit heh? Apakah aku punya salah dengannya? Kurasa tidak, aku saja tidak pernah mengenalnya sebelumnya.

 

Aku kembali membaca buku-ku, jujur, sekarang aku sedang tertarik didalam bidang ke-dokteran, namun orang tuaku menyuruhku untuk mencintai musik (lagi). Memang, dulu aku mencintai atau malah sangat mencintai musik, namun sejak saat itu tidak. Dan lagi, aku mengubah penampilanku, menjadi gadis cupu. Kucir dua kepang dan kacamata besar yang bertengger.

 

Mataku berjalan-berjalan, dan melihat Kyungsoo tengah mengamatiku lagi. Aku yang bosan segera bangkit dari dudukku dan berjalan mendekatinya. Aku melepas kacamataku dan menatap pria itu sengit. “Kau punya masalah denganku tuan? Kurasa sejak awal kita masuk kau begitu membenciku.” aku berucap dengan frontal dan dia berdiri dari duduknya,

 

“Ya! Aku begitu memiliki masalah denganmu gadis cupu!” aku bagai tertampar dengan ucapannya, maksud dia apa? Kurasa aku tak memiliki kesalahan apapun. Aku memicingkan mataku, mendongak dan mencoba mendekatkan wajahku dengannya.

 

“Kurasa aku tak pernah berbuat salah padamu pria pendek!” ucapku dan jujur, dia memang pendek, dia pria terpendek dikelasku dan aku juga hampir menyamai tingginya.

 

“APA KAU BILANG?”

 

“KAU PENDEK!”

 

“DASAR GADIS ANAK ORANG KAYA! SEENAKNYA SAJA!” teriaknya dan kembali membuatku naik pitam lalu menjatuhkan tanganku di pipi mulusnya. “Itu karena kau berani mengataiku!”

 

“Aku akan berhenti mengataimu dan membencimu jika kau tak berkelakuan bossy. Kau tak pernah menyanyi, kau tak pernah tampil, namun kau selalu mendapat nilai bagus. Kau tak pantas disini,”

 

“Kau selalu menggunakan alasan konyol bukan untuk tidak bernyanyi? Kau tak pantas dikelas ini. Kau tak bisa menyanyi. Pecundang!” lanjutnya dan membuat dadaku bergemuruh marah.

 

“Aku bisa menyanyi, aku selalu ikut ulangan susulan bodoh! Aku bisa dan bungkam mulutmu!” dustaku padanya.

 

“BUKTIKAN JIKA KAU PANTAS DAN TAK MENGGUNAKAN KEKUASAAN ORANG TUAMU! DAN SEKARANG JUGA!”

 

Aku terkulai lemas, menyanyi, aku harus menyanyi? Aku tak mau dia terus menghinaku, namun aku juga tak mau jika aku harus kembali menyanyi dan apalagi itu, sekarang? Sungguh, aku tak siap. Aku merasa lemas, aku lemas.

 

“BAIK! AKAN KUBUKTIKAN BAHWA AKU BISA MENYANYI!” itulah kata yang keluar dari mulutku.

 

Dia tersenyum senang, licik lebih tepatnya. Oke, jika itu yang dia mau, aku akan bernyanyi, menyanyikan lagu yang mempunyai banyak kenangan untukku. Dan jangan salahkan aku jika setelah ini aku akan menjadi the most wanted girl menggantikan duo sahabat itu.

 

 

*

 

*

 

*

 

 

Sekarang semuanya sudah siap. Banyak murid yang menuju auditorium untuk melihatku. Mereka semua terperangah, aku yang dikenal gadis cupu berubah menjadi bidadari dalam sekejap. Ya, aku melepas semua kostum kecupuanku dan menggantikannya dengan diriku yang sebenarnya.

 

Rambutku ku-urai, kacamata besar itu kulepas, hanya seragam serta sepatu yang masih setia dibadanku. Aku berada di panggung yang ada di auditorium, duduk di sebuah bangku dengan gitar di tanganku serta microphone berdiri yang akan membantuku menyalurkan suaraku ini ke pria tengik itu. Lampu di auditorium mulai padam, hanya ada satu lampu dan itu menerangiku, membuat kesan lembut begitu terasa. Aku memejamkan mataku, berdoa supaya aku kuat dan mampu memainkan ini lagi. Aku harap aku bisa. Terakhir kalinya Tuhan.

 

Aku membuka mataku, mulai memetik senar gitar itu dengan terampil, sesekali tubuhku gemetar tak mampu memainkan semua ini. Petikan gitar itu terdengar begitu indah, menyelesaikan intro dan aku mulai bernyanyi, menyuarakan suara indahku dan mengontrol segala tubuhku agar tak terkulai lemas.

 

Aku memejamkan mataku lagi, merasakan semuanya dengan hatiku, memetik senar-senar gitar itu agar selalu menciptakan alunan nada indah dan aku juga menyanyi, sepenuh hatiku serta mengugat semua kenangan itu.

 

Aku mencintaimu, Lee Jonghyun. Lagu ini untukmu, namamu akan selau dihatiku, terukir dengan indah dan terkubur di dalam sana beserta dengan memori kita.

 

Dan terakhir yang kudengar dan kuiingat adalah, sebuah tepuk tangan meriah dari mereka dan Do Kyungsoo berjalan, menghampiriku di atas panggung, menjulurkan tangannya untuk memberikan selamat sepertinya, dan ternyata iya.

 

“Selamat, kau menang. Suaramu begitu indah.”

 

Aku hanya tersenyum, dan membalas uluran tangannya, kami berjabat tangsn cukup lama, sampai tarikan tangannya menarik tubuhku untuk masuk kedalam pelukannya. Aku membulatkan mataku, terkejut atas apa yang dia lakukan.

 

“Kau percaya pada sebuah cinta yang berawal dari kelembutan? Suaramu dan keaggunanmu berhasil meluluhkan hatiku,” bisiknya dan membuatku tercekat, mengapa dari sekian manusia di muka bumi ini harus dia? Lee Jonghyun, aku merasakan diri Jonghyun ada di Kyungsoo. Tidak! Tidak boleh! Dia hanya terbuai, terbuai oleh permainanku.

 

“Maaf, aku tidak bisa.”

 

 

* * *

 

 

K Y U N G S O O point of view

 

 

 

Dan begitulah, aku menyukainya- oh tidak mungkin mencintainya sejak saat jari-jari indahnya memetik senar gitar itu dan pita suaranya mengeluarkan suara indahnya. Dan sekarang, aku mencoba mengejarnya, menjadikannya gadisku yang akan selalu kusayangi.

 

 

F I N A L

 

 

Hay, jangan pukulin saya ya. Ini aku tau gajelas abis. POV-nya juga mendadak absurd wkwk.

 

Sebenernya ini terinspirasi sama kejadian seorang kakak kelas yang saya tau dia itu nggak banget (bukan tampangnya ya, tapi kelakuannya yang hobi rame. Aku tau karena dia satu ruang ujian sama aku hehe) tiba-tiba berpartisipasi di acara sekolah dan dia main gitar, oke bukan sembarangan main tapi dia itu aku akuin jago, terus dia nyanyi salah satunya lagu perahu kertas punya Maudy Ayunda. Asli, keren dan romantis bangettssss wkwkwk :p

 

Oke cukup ya, ditunggu komentarnya. Maaf kalo masih bertypo. Ada yg nunggu My Sedicing Girl? Kalo ada lagi aku kerjain dan semoga cepet kelar. Dan udah fix 2 chapter lagi kelar hehe.  Next drabble mau main cast siapa?

48 responses to “N L A F S

  1. Pingback: WRONG DESIRE | FFindo·

  2. Pingback: My Sweet Honey | FFindo·

  3. Keren loh ceritanya tp sayangnya lagi2 aku berasa di gantung sama author T T coba kl di terusin pasti makin keren…

  4. aduh, endingnya bikin mati kepo nih ><
    makanya bang, jadi orang jangan asal benci aja sama orang, kalo udah cinta kaya gini gimana? XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s