The Journal

Ini bukan ff ditjao, melainkan ff titipan dari salah seorang teman. Harap memberikan apresiasi berupa komentar setelah membaca ya, terima kasih sebelumnya.

 

THE JOURNAL

 

Title: THE JOURNAL

Author: byubyu

Rating: PG-1

Genre: Romance & Angst

Length: Oneshot

Cast :

Kim JongIn (Kai)

Nam SooJin (You)

Minor Cast : You will find it in the story

Desclaimer: I dont own anything beside story,oc and artwork. This story pure my imagination, any similaries to other stories, dramas and etc. Is purely coincidental.

byubyu© 2014. All rights reserved. No plagirism. Strictly FICTIONAL . No copying, without author`s consent.

 

 

Summary

Persahabatan adalah segalanya. Karena kebahagianmu adalah kebahagian dirinya saat cinta datang secara tidak diperkirakan.

Mampukah Soojin mempertahankan persahabatannya?

 

Lets check it out….

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

THE JOURNAL

 

Ini semua berawal dari pertemanan. Tiada istilah melewati batas pertemanan, untuk berjalan maju sebagai isyarat melewati zona maupun berjalan mundur sebagai tanda perpisahan. Tetapi, setiap detik waktu yang aku habiskan bersamanya, membuatku jatuh semakin dalam dilema. Aku terus memungkiri hatiku yang terus berteriak saat di dekatnya, hancur saat melihatnya bersama orang lain dan senang saat ia terus berada di sekitarku.

            Hari itu tiba, di mana ia mulai mengenalkanku pada seseorang. Inilah peranku dimulai, sebagai seorang sahabat. Hari berganti hari, dari musim ke musim. Mereka semakin akrab dan meninggalkanku jauh di belakang. Tidak ada senyuman manis darinya, panggilan sebelum tidur. Seperti perjalananku tanpanya kali ini di mana keadaan sekitar semakin gelap tanpa ada penerangan di sekitar. Begitu juga, hatiku. Aku mulai jatuh terlalu dalam. Aku tidak ingin batasan kami mulai berjalan maju seperti yang sering ia katakan dalam leluconnya. Kenyataan, di mana aku terus memungkiri hal yang aku anggap tidak mungkin terjadi semakin membuatku aku semakin mencintainya. Aku hanya ingin perasaan ini tersimpan rapat dan rapi di hatiku. Aku tidak perduli dengan teman-temanku yang terus berkata untuk belajar mengungkapkan perasaanku padanya. Aku pun tidak pernah berpikir jika saatnya tiba nanti, ia akan membalas cintaku. Aku hanya berharap keadaan kami sekarang dan mungkin hingga nanti sama pada posisinya. Meski hatiku harus hancur, air mataku terus mengalir di malam yang dingin dan kebodohanku membuatnya terus berada di sampingku. Aku rela memberikan kebahagianku padanya, karena dia adalah seseorang yang bisa membuatku bahagia. Di dalam jurnal ini, semua kebodohanku karena mencintaimu terlalu dalam kutuliskan. Aku menyangimu Jongin-ah, karena kita adalah sahabat. Tidak lebih dan kurang. Inilah janjiku padamu, ur bestfriend. – Soojin

 

THE JOURNAL

Jin: November, 12 2011

Ini adalah jurnal pertamaku, aku jin. Usiaku baru menginjak 15 tahun. Aku hanya mencoba hal baru menggunakan ini. Aku pikir menggunakan ini lebih bisa mengekspresikan perasaanku tanpa diketahui orang terdekatku tapi bisa berbagi dengan orang di seluruh dunia. Apa yang harus kutulis? Aku baru saja mengenalnya. Ia adalah seorang dancer jalanan. Mungkin ini terlihat lucu dan pasaran, tetapi aku sangat—ah. Aku benci mengatakan ini, karena ia adalah pria tampan yang tidak sengaja aku temui di taman. Dan bodohnya lagi, aku tidak menanyakan namanya. Mungkin, ini hanya sebuah kebetulan belaka. Tapi, aku sangat berharap bisa melihat wajah tampannya bertabur senyuman menyilaukan miliknya. Dan malam ini, aku jamin aku tidak akan bisa tidur dengan lelap karena terus memikirkan betapa tampannya wajah lelaki itu. – Soojin

Aku menutup laptopku dan meletakkannya di meja belajarku. Aku mencoba menutup mataku dan menuju alam mimpi.

Aku berlari kecil menuju halte bis, aku pikir hari ini aku akan terlambat lagi. Pertemuan singkat yang berdampak sekali dalam hidupku. Ah, soojin babo… aku berlari sekuat tenaga untuk mencapai gerbang yang hampir tertutup sempurna. Aku berteriak meminta agar penjaga sekolah itu memilik rasa belas kasihan untuk membiarkan anak malang seperti diriku masuk. Dan sialnya, lelaki tua itu hanya mengelengkan kepalanya dan berjalan menuju posnya. Membiarkanku terkurung di luar pagar seperti para napi di dalam sel.

Dasar lelaki tua tidak punya perasaan, awas saja nanti. Aku menghembusakan nafasku kasar. Aku membalikkan tubuhku, tidak sadar bahwa ada orang lain selain diriku berdiri tepat di belakangku. Lelaki itu, dia. Bagaimana ia bisa berada di sini? Batinku sambil mengamati penampilan lelaki itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Lelaki itu, tersenyum simpul. Lain halnya, diriku yang malah menaikkan alisnya seraya memberikan tatapan dingin. Aku tidak ingin lelaki ini tahu bahwa sebenarnya diriku bagai seseorang yang baru saja ditampar keras oleh pemukul baseball. Aku sangat terkejut sekaligus senang tiada tara.

Lelaki itu mengikutnya ke ruang kelas di mana aku menuntut ilmu. Aku berjalan secepat mungkin agar tidak ada rumor yang menyebar tentangku nantinya. Aku sangat membenci keramaian. Aku membungkukan badannya meminta maaf pada guru pengajarnya, agar diperbolehkan untuk mengikuti pelajaran beliau. Lelaki itu mengikutiku ke dalam kelas membuat seluruh kelas berbisik dan hal itu sangat mengusik diriku. Lelaki itu memperkenalkan dirinya di depan kelas. Ia bernama Kim Jongin, murid pindahan dari Amerika Serikat. Dan tanpa aku sadari, lelaki bernama kim jongin itu sudah menempatkan dirinya di sebelahku. Sontak, hal itu membuat diriku gugup dan tidak nyaman duduk di bangku yang telah kududuki selama tiga tahun lamanya. Namun, sepertinya tiada seseorang pun yang peduli akan hal itu. Dan ini sedikit membuatku lega, aku melirik sekilas lelaki yang duduk di sampingku ini. Aku mempelajari setiap inchi dari bagian wajah sempurna lelaki itu. Aku tersentak kaget saat menyadari mataku tengah bertemu pandang dengan mata hitam legam yang begitu memikat. Aku buru-buru mengalihkan perhatianku ke pelajaran walaupun diriku masih bisa melihat lelaki itu menyeringai kecil sebelum akhirnya memfokuskan pandangannya kembali ke depan.

Jin: November, 13 2011

Apakah ini takdir? Bagaimana ia bisa berada pada kelas yang sama denganku? Dan aku tidak menyangka lelaki itu, berada si dalam kelas yang sama denganku. Aku sangat gugup berada di sampingnya, setiap gerakannya tidak luput dari sudut mataku yang selalu mengamatinya dengan cermat. Bahkan, saat pelajaran berlangsung guru tua dipelajaran sejarah itu terus saja menjelaskan hal yang sangat membosankan dan membuat satu kelas mengantuk. Bagaimana aku menceritakan ini? Ia sangat lucu saat menguap dan mengucek salah satu matanya dan itu membuatku tertawa pelan. Kalian tahu, ia menatapku dengan puppy eyesnya dan oh- ini mengerikan. Seakan dunia berhenti berputar, ia tersenyum pelan dan berkata “Kau sangat cantik saat tertawa lepas seperti itu”. – Soojin

 

THE JOURNAL

TWO YEARS LATER

Hari ulang tahunku yang ke 17 tahun. Menjadi ulang tahun yang tidak terlupakan bagiku. Aku dan teman-temanku merayakannya bersama, dan tidak lupa seseorang yang terus berada di sampingku selama dua tahun ini. Kim Jongin, sahabat tampanku. Sahabat yang aku kagumi sejak pertama kali kami bertemu.

Hari demi hari, kami lalui bersama. Sedih dan senang kami hadapi bersama. Ia selalu berusaha membuatku ingin berteman dengannya. meskipun, ia selalu aku berikan kata-kata kasar, tatapan yang tidak bersahabat, penolakan yang membuatnya malu. Ia akan pergi dari hadapanku, ia akan datang lagi setelah aku mengira dirinya akan sama seperti teman-temanku yang lain. Karena kekayaan yang aku miliki, tapi ia tidak seperti itu. Ia akan kembali lagi padaku dengan senyuman yang lebih lebar dari sebelumnya, tanpa keraguan sedikit pun. Ia meraih tanganku, mengajakku bertemu dunia luar dan mengenalkanku dengan arti persahabatan. Karena persahabatan adalah hal terindah yang tidak akan pernah kau temui di dalam hidupmu jika kau tidak mencobanya. Itulah perkataan yang selalu aku ingat di dalam benakku, persahabatan. Aku dan dia semakin dekat. Aku mulai terbuka dengan kehidupanku, tentang orang tuaku yang selalu pergi untuk berbisnis. Di mana mereka selalu mendahulukan pekerjaan daripada anaknya. Sehingga kakak laki-lakiku memutuskan pergi dari rumah tanpa cinta itu. Kakaku meninggalkanku sendiri, dengan air mata yang mengalir dengan derasnya mengalir di pipiku yang mulai memerah. Aku berteriak memanggil namanya agar ia kembali, tetapi ia hanya menepuk puncak kepalaku. Bersamaan dengan suara debuman keras dari awan, ia melajukan kendaraannya. Ia meninggalkanku di kegelapan malam dan derasnya hujan, aku bersimpuh dan berjanji pada diriku sendiri agar aku tidak pernah menangis lagi. Meskipun orang terdekatku satu persatu mulai meninggalkanku. Aku tidak ingin menangis di hadapan mereka, tidak lagi. Aku mendongakan kepalaku menatap sahabatku yang kini berada di hadapanku. Dia memandangku prihatin, di mana aku hanya bisa menginjak kakinya pelan sambil berpura-pura tertawa agar mengubah suasana canggung yang menyelimuti kami.

Kehidupan sekolah menengah lebih sulit daripada yang aku pikirkan, aku berhenti menulis jurnal. Karena aku tengah berada di tahun terakhirku. Jongin mulai sulit ditemukan, ia akan muncul di sekolah saat pelajaran sudah berlangsung. Ia akan menghilang di saat makan siang. Kami mulai sulit menemui satu sama lain. Aku tahu alasannya, ia akan pergi ke belakang sekolah untuk latihan menari. Ia begitu tertarik dengan dance. Ia pernah bercerita padaku kalau suatu saat nanti ia akan menjadi seorang penari terkenal. Dan di sinilah aku sekarang, di balik pohon besar ini. Aku mengamatinya dari jauh, di mana ia begitu menakjubkan dengan liukan-liukan indah sesuai dengan dengan musik dari Ipod yang ia letakkan di dalam saku celananya. Keringat mulai membanjiri tubuhnya, ia menghentikan gerakan menarinya. Ia mendudukan dirinya di rumput hijau. Seakan mengetahui keberadaanku, ia menoleh ke belakang. Sontak membuatku bersembunyi di balik pohon itu. Aku berlari sekencang mungkin untuk menghindarinya.

Jin: July, 13 2013

Ini adalah tulisan pertamaku selama dua tahun ini. Aku hanya ingin mengungkapkan perasaanku padanya. Aku telah menyimpan perasaan padanya selama dua tahun. Aku harus lulus, tapi di sisi lain aku tidak ingin mempersulit diriku. Aku harus apa? Aku selalu melihatnya dari kejauhan. Aku selalu berada di sampingnya selama beberapa tahun ini. Apa ia telah menyadari perasaanku padanya? Maafkan aku Jongin-ah. Aku telah mencintaimu diam-diam. Aku pikir ini tidak akan terjadi, tapi setelah bertahun-tahun berada di dekatmu. Aku tidak bisa memungkiri perasaanku padamu. Tapi, tenang saja. Aku tidak ingin merusak persahabatan kita. Panggil aku, menyedihkan? Tapi inilah pilihanku, aku akan bahagia apabila ia berbahagia. Meskipun menyakitkan dan menghancurkan hatiku, aku rela. Jika itu bisa terus memperlihatkan senyum indahnya padaku. Karena ia adalah sahabatku. – Soojin

Aku mengetuk-ngetukan jemariku dan menatap kosong segelas cokelat yang masih berasap di depanku. Aku meletakkan siku pada tangan kananku di meja untuk menyanga daguku. Aku terus mengecek jam yang berada di tanganku tidak sabaran. Aku menoleh setiap kali, pintu masuk cafe itu berbunyi. Tapi, tidak ada tanda kemunculannya. Di benakku, aku sangat berharap untuknya datang. Karena, setelah hari ini mungkin waktu mereka bertemu seperti ini tidak akan terjadi. Kesibukan mengahadapi ujian membuatku sedikit stress. Aku belajar tanpa mengenal waktu, karena diriku termasuk salah satu orang yang on time dan selalu memiliki planning masa depan. Atau ini adalah salah satu sifatku yang begitu ambisius untuk mendapatkan sesuatu. Apakah aku juga begitu ambisius pada jongin? Apa aku terlalu egois untuk membuatnya terus berada di sampingku? Tapi jonginkan sahabatku? Pertanyaan demi pertanyaan terus mengelilingi isi kepalaku, membuatku tidak menyadari kehadiran seseorang di hadapanku. Tangan hangatnya menyentuhku, membuatku tersadar. Ia mengengembangkan senyum manisnya. Senyum yang selalu membuatku tenang, aman dan nyaman.

Ia mengantarkanku pulang, kami berdiri saling berhadapan. Ia meraih tanganku dan mengusapnya pelan. Aku hanya tersenyum simpul. Tidak pernah kami berada sedekat ini sebelumya, saling menatap satu sama lain. Seperti saling membaca pikiran satu sama lain, aku memeluknya. Tubuhnya begitu hangat, tangan besarnya membuatku merasa aman di dekatnya. Ia mengecup keningku dan melepaskan pelukan kami. Satu hal yang tidak bisa kulupakan di malam itu, “goodnite, baby boo. Semoga mimpi indah. Sampai ketemu besok”, ujarnya seraya mengacak rambutku pelan. Ia tersenyum kecil sebelum berbalik dan berjalan menjauhiku. Dadaku begemuruh hebat, pipiku seakan memanas dan senyumku tidak pernah bisa kuhilangkan dari bibirku.

Jin: August, 15 2013

Hari ini adalah hari terindah dalam hidupku. Aku tidak menyangka sahabat tampanku bisa begitu romantis dan perhatian. Aku tidak pernah untuk tidak jatuh cinta padanya. Ia selalu membuatku berharap lebih dan memberiku harapan yang entah bagaimana bisa membuat diriku jatuh kembali. Apa ini adalah takdirku? Aku tidak membencinya maaupun menyalahkanya atas perasaan ini. Tapi ini semua salahku dan kebodohanku yang terus ingin mencintainya. Mungkin suatu saat nanti aku akan mengungkapkan perasaan ini padanya. Meski aku tahu cepat atau lambat, hal yang buruk akan terjadi. – Soojin

 

THE JOURNAL

ONE YEAR LATER

Hari kelulusan telah berlalu, aku dan jongin mulai sibuk dengan jadwal universitas kami. Aku mengambil jurusan bisnis manajemen seperti yang aku cita-citakan dulunya. Dan jongin mengambil jurusan arts seperti yang diimpikannya saat kami SMA dulu. Kami semakin sering bertemu dan membahas hal-hal baru di sekitar kami. Kami bercerita kehidupan menjadi seorang mahasiswa dan mahasiswi. Lelucon yang ia berikan tidak pernah luput untuk membuatku tertawa. Dan jangan lupakan perbedaan pendapat di antara kami akan berujung pada perdebatan kecil di mana, jongin yang mecibir akan meminta maaf setelah kami sampai di rumah masing-masing. Jongin dan diriku selalu berangkat sekolah bersama. Ini karena jarak rumah kami yang terbilang dekat. Jongin akan membangunkanku di pagi hari, karena kebiasaan tidurku yang buruk. Ia akan membisikan kata-kata manis di telingku kemudian menyerangku dengan mengelitiki perutku. Aku akan berteriak keras dan terbangun, membuatnya tersenyum licik karena telah berhasil mengalahkanku. Aku akan memberikannya tatapan maut sebelum mengehentakan kakiku kesal untuk berjalan ke kamar mandi dan menutupnya kasar. Aku dapat mendengar tawa renyahnya dan teriakannya yang menungguku di bawah untuk sarapan bersama. Meskipun aku sangat kesal tetapi senyuman kecil dari bibirku meleset keluar setiap kali saat-saat indah bersamanya.

Aku keluar bersama dua teman baikku, mereka juga merupakan teman jongin. Mereka adalah Hyun dan Sehun. Mereka berada dalam satu kelas denganku. Mereka bahkan tahu perasaanku pada Jongin. Mereka terus membujukku untuk mengutarakan perasaanku padanya. Mereka tidak ingin melihatku terus terluka karena Kim Jongin sekarang dikenal sebagai Pangeran Kampus. Mereka selalu ada untukku saat jongin tidak berada di dekatku. Mereka selalu memberikan hal-hal tidak terduga di setiap kesempatan. Sehun adalah lelaki yang begitu keras kepala dan pintar. Lain halnya, Hyun yang begitu manis dan sabar. Mereka sangat cocok bersama. Namun, siapa tahu jika sehun telah memiliki kekasih.

Kami bertiga telah duduk di cafe yang tidak jauh dari universitas kami. Tempat biasa kami menghabiskan waktu bersama selama menjadi murid perguruan tinggi. Di mana salah seorang pelayannya adalah lelaki muda dengan wajah yang cantik dan lesung pipi indah setiap kali ia tersenyum pada kami. Dari sudut mataku, aku dapat melihat rekan lelakiku, sehun tersipu malu. Aku mengeleng lemah dan menyesap cokelat hangatku. Lain halnya dengan teman wanitaku yang bernama hyun, ia terus menganggu sehun dengan mengoda lelaki itu. Tidak lama setelah itu, mereka berdua saling mengacuhkan satu sama lain. Aku hanya bisa tersenyum kecil akan tingkah kekasnakan mereka berdua. Sehun menatapku “Kau tidak lupakan ulang tahun Jongin? Apa yang perlu kita siapkan untuk membuatnya menangis meraung-raung?”, tanyanya sambil menyeringai jahil. Aku hanya tersenyum kecil “Mungkin seperti biasa, pesta di rumahnya?”, jawabku seraya memandang jalanan seoul. Hyun hanya menganguk singkat.

Jin: January, 12 2014

Hari ulang tahun? Apa yang harus kusiapkan untuknya? Aku tidak tahu apa yang ia inginkan. Aku berharap yang terbaik untuknya. Aku sudah tidak sabar untuk melihat wajahnya saat menerima hadiah ulang tahun dariku. Seperti tahun lalu, dan aku yakin sesuatu yang baik akan datang padaku ^^. – Soojin

Aku berjalan menuju kelasku dengan dua buku di dalam dekapnku. Aku berjalan melewati lorong-lorong kampus. Langkahku melambat saat kutemukan diriku berada dalam area seni. Mataku bergerak liar menelusuri setiap ruangan demi ruangan, hingga akhirnya kutemukan kelas milik jongin. Aku berjingkit untuk melihat apa yang dilakukan para mahasisiwa dan mahasisiwi di dalam ruangan itu. Aku dapat melihat mata indah jongin bersinar, ia terlihat begitu bahagia. Ia juga tersenyum lebar, senyum yang selalu ia berikan padaku. Hatiku seakan teriris, duniaku seakan runtuh dan aku temukan mataku mulai memanas. Kim jongin tengah tertawa lepas dengan wanita lain. Wanita selain dirinya dan itu membuatku hancur. Tetapi, apa yang bisa aku lakukan. Aku hanyalah sahabatnya. Dering bel yang nyaring membuatku tersadar dari pikiranku. Aku berlari kecil untuk mencapai kelasku.

Jongin memintaku menemuinya di cafe biasa kami bertemu, aku hanya membalas pesan singkatnya dengan kata “ya, aku akan pergi ke sana”. Aku membereskan peralatan dan buku-bukuku kemudian bergegas menuju cafe tersebut. Aku membuka pintu cafe itu dengan tergesa, mataku bergerak menulusuri setiap sudut ruangan di cafe itu. Mataku menangkap, Jongin yang kin tengah melambai dengan senyum yang kurindukan. Aku menghembuskan nafas lega dan berjalan ke meja tersebut.

Ia menceritakan hari-harinya sebagai mahasiswa seni. Aku telah bersiap apa yang akan ia katakan setelah ini dan benar saja, ia menceritakan wanita yang bersamanya itu. Ia bercerita bagaimana cantiknya wanita itu, tidak hanya itu ia sangat popular di kalangan senior karena keramahannya. Ia juga pintar dalam merubah choreograpy. Jongin sangat terkesan akan wanita itu. Aku dapat melihat matanya memancarkan kekaguman dan bibirnya tidak berhenti mengembangkan senyum saat bercerita tentang kebiasaan wanita itu. Ia meminta pendapatku tentang ini, ia ingin menjadikan wanita itu sebagai kekasihnya. Bagai ditusuk ratusan pedang, aku hanya tersenyum dan memberikan dukunganku padanya. Ini adalah pertama kalinya jongin menyukai wanita. Harus kuakui mungkin karena aku terus menempel padanya seperti parasit, yang membuatnya dijauhi para wanita. Seperti apa yang dikatakan salah seorang teman kelasku di SMA. Inilah saatnya aku akan mempergunakan diriku sebagai sahabat yang selama ia butuhkan. Bukan seperti parasit yang terus meminta perlindungan darinya. Meskipun hatiku hancur aku akan selalu trsenyum demi kebahagiannya. Karena kami adalah sahabat.

Jin: January, 13 2013

Kali ini aku tidak akan bertindak setengah-setengah lagi. Aku tidak ingin menjadi parasit baginya lagi. Mungkin ini adalah takdirku, seperti apa yang aku tulis saat berumur 15 tahun bahwa aku hanya akan terus menjadi bayangannya. Tidak pernah dianggap untuk selamanya. Ah, tidak. Aku harus melupakan kesedihanku untuk hari ini. Tepat jam dua belas ini, sahabat tampanku akan berulang tahun. Aku tidak ingin bersedih. Sebaiknya aku bersiap. – Soojin

Aku meraih ponselku, dari ujung telpon dapat kudengarkan suara operator yang mengema. Kepalaku terasa sakit sekali, seisi ruangan dalam kamarku seakan berputar dengan hebatnya. Aku mencoba meraih obat di laci meja. Aku harus bertahan demi sahabatku. Aku mulai berusaha bangkit tetapi dadaku teras sesak dan mataku mulai berkunang-kunang. Aku meraih ponselku untuk menghubungi seseorang, kalimat terakhir yang bisa kukatakan adalah “tolong, bantu aku sekali ini saja.”

Aku membuka mataku perlahan. Aku dapat mencium aroma kloroform yang menyeruak memenuhi rongga hidungku, tidak salah lagi. Aku sedang berada di ruamh sakit. Aku melirik dan mendapati Sehun menatapku dengan penuh kebencian, karena aku tahu merahasiakan sesuatu dari mereka berdua sama saja dengan melempar bola ke atas, karena nantinya ia akan kembali ke tangan sang pemukul. Disisi lain aku dapat melihat mata hyun yang bengkak karena menangis. “Mengapa kau merahasiakan ini semua dari kami Nam Soojin? Apa kami tiada artinya bagimu? Jawab”, teriaknya di sertai dengan linangan air mata yang menghiasi mata biru indahnya. Aku tidak pernah melihat Hyun marah dan kali ini aku dapat melihat sisi lain dari hyun. Sehun yang tepat di belakangnya mulai menenangkannya. Aku merasa tenggorokanku tercekat hanya kalimat, “maaf”, yang dapat kuucapkan saat itu.

Aku di diagnosa kanker otak dengan dokter, aku baru saja mengetahuinya saat terakhir kali aku selalu batuk darah dan sering merasa pusing. Dokter itu mengatakan padaku bahwa waktuku tidak banyak lagi, karena aku baru saja mengeceknya setelah kanker itu mulai menganas. Dan, sisa waktu terakhriku kemungkinan besar adalah besok, karena dapat kurasakan rambutku mulai rontok dan tubuhku semakin lemah seminggu ini. Aku selalu memakai topi untuk menutupinya dari teman terdekatku yang tidak menyadari perubahanku. Bahkan jongin mengira aku hanya mengunakannya karena trend saat ini. Aku hanya tersenyum menanggapinya. Aku menceritakan pada mereka secara detail. Hyun memelukku erat dan terus mengumamkan bodoh. Pandangan sehun melembut dan berganti dengan tatapan prihatin. Mebuatku tertawa lemah, “jangan berikan tatapan prihatinmu itu. Kau terlihat menyedihkan”.  Aku melirik jam dinding di rumah sakit itu, aku meminta pertolongan dari mereka berdua. Mereka mengelengkan kepalanya lemah. Sebelum akhirnya mengangukan kepala mereka seraya menahan tangis.

Aku berlari menuju rumah Jongin, jam di tanganku menunjukkan jam sebelas lewat tiga puluh menit. Aku memiliki waktu tiga puluh menit untuk sampai di sana. Aku mengetuk pintu rumahnya gusar, kemudian memutar knob pintu rumahnya yang tidak terkunci. Aku tersenyum lemah seraya mengeleng-gelengkan kepalaku. Aku memasuki ruang tamu dan mendapati jongin tengah duduk di sofa dengan televisi yang menyala. Seperti kegiatan yang kami lakukan saat SMA, movie night together. Tetapi, perasaan burukku untuk datang di malam ini ternyata benar. Aku melihat jongin bersama wanita yang kulihat di ruang kelasnya tengah beradu pandang dan wajah mereka semakin mendekat. Hadiah di tanganku jatuh, seperti halnya air mataku yang tidak dapat tertahan lagi. Aku berlari meninggalkan rumah jongin dengan berlinangan air mata. Aku menangis tersedu-sedu. Aku telah mengingkari janjiku lagi. Aku tidak bisa menahannya lagi karena ini begitu menyakitkan.

Aku menghela napas kasar, membuka laptopku dan mengklik journal pribadiku.

  Jin: 14, January 2014

Tepat jam dua belas, aku datang ke rumahnya. Tetapi aku belum bisa mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Hari ini juga aku mengingkari janjiku untuk tidak menangis lagi. Di dalam jurnal ini, semua kebodohanku karena mencintaimu terlalu dalam kutuliskan. Aku menyangimu Jongin-ah, karena kita adalah sahabat. Tidak lebih dan kurang. Inilah janjiku padamu, ur bestfriend. Mungkin kau akan membaca setelah aku pergi atau mungkin kau tidak akan pernah membacanya. Aku tidak pernah melupakan pertemuan kita sampai kita menjadi seperti ini.

Sebuah pertemuan singkat, di sekitar taman tidak jauh dari komplek perumahanku. Biasa kutulis, disetiap jurnal pribadiku yang selalu menggambarkan sosoknya. Sosok lelaki yang kukagumi sekaligus kucintai, ia adalah seorang penari perfesional. Setiap gerakannya, adalah cerminan hidupnya. Dia tidak memiliki kekuatan untuk bertahan, namun semangatnya tidak pernah berkurang. Ia menyadari bahwa menari adalah hidupnya, begitulah kisahnya padaku. Ini adalah hari terberat dalam hidupku, aku menemukan seseorang yang sangat misterius dan membuatku jatuh hanya pada pandangan pertama. Aku menceritakan kehidupanku pada seseorang yang baru saja kukenal. Ia begitu menawan dan sungguh dapat dipercaya, kata-kata manisanya. Hidupku teramat sempurna saat itu. Dan kali ini aku akan mengakhiri pertemuan singkat kami. Aku akan mengingkari janji kami, sebelum hari ini pun aku sudah melanggar janji kami. Mungkin ini adalah jalan terbaik yang takdir pilihkan untukku. Selamat ulang tahun Jongin-ah. Aku sangat mencintaimu. Aku berharap kebaikanmu padaku mendapat balsan yang berlipat. Jangan pernah menangis, ara? Sahabat tampanku, Kim Jongin. Selamat tinggal. – Nam Soojin

Aku mulai merasakan dadaku sesak, hembusan nafasku mulai tidak teratur. Aku hanya tersenyum lemah karena ini adalah hari bahagiaku karena hari ini adalah hari ulang tahun sahabat tampanku, sahabat yang aku cintai. Kim Jongin. Aku menutup mataku dan aku tahu aku tidak akan lagi melihat dunia, karena aku sudah dijemput oleh dua orang yang mengiringku menuju cahaya. Selamat tinggal, Jongin-ah.

 

THE END

a/n: happy birthday to Kim Jongin. Wish you all the best. Ayo yang kai stans and exo stans also, semarakan hari ultah kai dengan baca fanfic gaje ini. Lol jokes

terima kasih buat kak dita yang sangat berperan penting dalam pembulikasian fanfic ini.

Maaf apabila ada typo yang bertebaran, jujur saya mengarapnya hanya satu hari dan sangat menguras otak saya. Semoga bisa dinikmati dan bisa mendalami cerita ini /what

Sudah segitu aja koar-koarnya. Dont be silent readers dan hargailah karya saya dengan meninggalkan comments atau dengan klik like. Itu sangat berarti dalam semangat saya dalam menulis. Thankyou 🙂

76 responses to “The Journal

  1. daebak..
    sequel sequel sequel.
    pengen tau dr sudut pandangnya kai..
    keep writing.. hwaiting thor ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s