[Chamomile/Song Fic] How Came You Don’t Know?

[Chamomile] How Came You Don’t Know?

(c)missfishyjazz

Do Kyungsoo || Bang Minah

Life, Romance, Family, Psychics || Song-Fic || PG-17

Inspired by Kim Jong Kook – How Came You Don’t Know?

 .

How Came You Don't Know

All day, you stay in my head

You are brightly smiling at me

“Selamat pagi Kyungsoo.” Kyungsoo mengerjapkan matanya tiga kali. Matanya menatap silau pada jendela kamarnya yang terbuka lebar. Tirai merahnya sudah tersibak ke kedua sisi dan sinar matahari pagi langsung menyapanya. Lengkap dengan Minah.

“Semalam aku memimpikanmu. Tidak juga sih, aku selalu memikirkanmu.” Minah tersenyum dan hanya menganggukkan kepalanya. Ia menyiapkan nampan berisi makanan dan obat harian untuk Kyungsoo dengan rapi.

 

“Hari ini ada omelet, bacon, scramble egg, dan Sop Selamat Pagi Kyungsoo. Aku juga sudah membuat jus jeruk sesuai keinginanmu jadi kau harus menghabiskannya, arraso?” Kyungsoo tersenyum mengingat nama sop itu. Nama itu dipilih Minah karena sop semacam itu hanya dimasaknya satu kali yaitu di pagi hari dan baru ia tunjukkan pada Kyungsoo yang merupakan pasien tunggalnya.

“Suster Bang Minah yang cantik, suapi aku.” Kyungsoo mengedipkan matanya dan membuat Minah tertahan dengannya untuk beberapa waktu.

Minah mengajak Kyungsoo terus berbicara. Entah itu tentang cuaca hari ini, acara komedi yang semalam mereka bicarakan, rencana piknik pertama Kyungsoo setelah tujuh tahun, dan lainnya. Sampai tak terasa semua piring telah kosong begitu pula dengan gelas jus jeruk yang tinggal irisan lemonnya saja.

“Minah, aku tidak mau minum obat. Aku tidak sakit. Ingat?” Kyungsoo menunjukkan kondisinya yang baik-baik saja. Ia tidak pernah merasa sakit atau apapun itu tapi dia bahkan tidak mampu menghitung berapa banyak obat yang ia konsumsi selama tujuh tahun belakangan.

“Ya, tentu saja aku ingat. Tapi ini bukan obat, ini vitamin sebelum piknik. Kau mau piknik bersamaku minggu depan kan? Jadi kau harus minum ini.” Minah langsung merasa bersalah setelahnya. Ia sekarang sudah lupa berapa kali ia berbohong bersama Kyungsoo selama dua tahun ia merawat pemuda ini, tapi jika ia tidak berbohong Kyungsoo akan kumat dan di luar kendali. Semakin menghambat kesembuhannya sendiri. Minah melihat Kyungsoo yang begitu polos seperti anak-anak, bahkan ia memiringkan kepalanya saat Minah mengatakan obat yang dibawanya adalah vitamin sebelum piknik. Tapi melihat Minah yang tersenyum meyakinkan  Kyungsoo langsung memakan obat itu tanpa ragu dan tersenyum riang.

“Sekarang saatnya mandi! Ayo mandi!”

“Mandikan ya!” Kyungsoo langsung melompat dari ranjangnya dan menggelayut pada Minah. Minah menganggukan kepalanya. Karena kedatangan ibunya beberapa waktu lalu membangkitkan kemarahan Kyungsoo sehingga hal itu membuat pasiennya kambuh. Hal itu memperlambat bahkan memundurkan perkembangan Kyungsoo. Termasuk dalam hal ini. Beberapa bulan lalu Kyungsoo sudah bisa mandi sendiri, berpakaian sendiri, dan melakukan hal-hal normal lainnya sendiri namun sekarang Kyungsoo melupakan kemampuannya untuk mandi dan menggosok giginya. Huftt..

I wonder if you think of me sometimes

I can’t sleep tonight at thoughts of you

“Kyungsoo ayo tidur.” Minah menarik selimut. Memaksa Kyungsoo masuk ke dalamnya dan segera tidur. Jam tidur sudah datang dan Minah harus menyusun laporan hariannya pada dokter yang menangani Kyungsoo. Tapi Kyungsoo masih bersikeras duduk di sisi ranjang dan memainkan ponselnya.

Beberapa jam yang lalu dia dan Minah baru pulang dari piknik yang sudah sangat ditunggunya. Dan sekarang Kyungsoo benar-benar bahagia. Lihat saja dari gelagatnya yang terus melihat setiap foto pemandangan atau selca yang tadi mereka ambil.

“Minah..” Kyungsoo menoleh malu pada Minah, langsung membuat Minah menggeleng kecil dan tersenyum. Kyungsoo dan perasaannya pada Minah. Siapa yang tidak mengerti itu. Alasan itulah yang membuat dokter dan orang tua Kyungsoo terus bersama dan dalam pengawasan Minah. Karena semenjak mereka—Kyungsoo dan Minah—bertemu, Kyungsoo sudah jatuh hati pada bagaimana manisnya Minah. Dan Kyungsoo, yang tidak pernah tahu arti jatuh hati tentu tidak ingin dipisahkan dari Minah yang membuatnya mendapat pengalaman baru. Pengalaman baru yang menurut orang tuanya dulu mustahil didapatkan pemuda seperti Kyungsoo.

“Ada apa?”

“Apa kau sering memikirkanku seperti aku selalu memikirkanmu?” Minah langsung tersedak setelahnya. Memikirkan Kyungsoo? Minah terus memutar pertanyaan itu di otaknya. Ia tentu sering memikirkan Kyungsoo, memikirkan kesehatannya, memikirkan kesembuhannya, memikirkan perkembangannya. Tapi Minah tahu bukan memikirkan seperti itu yang Kyungsoo pikirkan jika menyangkut dirinya.

“Sering.” Jawab Minah akhirnya. Setidaknya aku memang memikirkannya.

“Benarkah?” Kyungsoo bertanya dengan mata berbinar dan penuh antusias. Minah menganggukkan kepala dan kembali menunjuk bagian kasur yang sudah ia siapkan. Kyungsoo meletakkan ponselnya di nakas ranjang dan langsung melompat di bagian itu. Ia menyelimuti dirinya dengan nyaman dan menutup mata.

Namun dalam sekejap langsung membuka, “ahh Minah, selamat malam. Mimpi yang indah. Semoga kau memimpikkan aku.” Kemudian ia langsung tertidur. Kyungsoo yang begitu polos, yang tidak tahu apapun tentang dunia.

Minah mengusap kepala Kyungsoo lembut, ia menyayangi pemuda ini. Itu pasti. Tapi jika itu berbicara tentang hatinya sebagai wanita, ia tidak tahu pasti. Sangat tidak tahu.

Though I love alone

Though I cry with sadness

Though my heart aches

PRANGG!

 

BRUKK! BRUKK!!

 

Seorang wanita setengah baya menangis di dalam pelukan suaminya. Ia tidak sanggup lagi. Ia tidak sanggup lagi mendengar bunyi itu. Mendengar putra satu-satunya yang kini berjuang melawan alter egonya. Melawan penyakit yang mendera dalam dirinya. Sudah berhari-hari putranya yang memang lebih sering berada di kamar kastil megahnya yang berada di tepi Jeju yang tenang tidak bisa diajak berkomunikasi ataupun beranjak dari kamarnya. Ia tidak tahu bagaimana rupa kehancuran kamar itu. Ia bahkan tidak bisa menjamin anaknya tidak terluka. Tidak bisa menjamin dan bahkan tidak yakin.

“Ibu! Ibu!! IBU!!” Anaknya, Kyungsoo, memanggil namanya dengan nada ketakutan dan kecemasan di sana. Sang wanita langsung berlari menuju kamar putranya dan mendapati Kyungsoo yang menangis di pojok kamarnya. Benar dugaannya, kamarnya hancur tak berbentuk. Bahkan ranjang yang harusnya pakem tempatnya kini bergeser. Tanpa kasur atau apapun di atasnya karena semua benda itu tersebar di sekitar kamar. Sang Ibu mendekati anaknya, langkahnya harus hati-hati karena ia melalui ribuan kepingan kaca.

“Ya, ada apa?” Kyungsoo langsung masuk ke dalam dekapan ibunya begitu wanita itu mendekat. Badannya gemetar dan tangannya terus menggenggam ponselnya yang untung saja masih utuh.

“Ibu.. Ibu.. Coba lihat gadis ini.. Cantik, kan? Dia Bang Minah, Ibu. Aku sangat mencintainya, aku juga merindukannya. Tapi kenapa dia tidak ada di sini ibu?” Kyungsoo semakin menjadi dengan tangisannya. Ia merindukan dan membutuhkan perawatnya, teman, sekaligus orang yang dicintainya. Tapi Minah sudah genap seminggu meninggalkan kediamannya. Yang ia sendiri tidak tahu alasannya apa.

Si Ibu hanya bisa mengusap air matanya. Bingung mau mengatakan apa. Semua ini bermula dari kejadian seminggu lalu yang benar-benar tidak diantisipasi siapapun.

Selama ini Kyungsoo mengidap penyakit semacam bipolar disorder yang membuatnya berkepribadian ganda. Tapi dalam kasus Kyungsoo, kedua kepribadian ini saling menguasai hingga menjadi alter ego masing-masing. Selama tujuh tahun Kyungsoo lah yang lebih banyak muncul dan lebih banyak berinteraksi dengan keluarganya. Dan orang tua Kyungsoo semakin optimis pada hilangnya Si Alter Ego setelah kehadiran Minah yang menyemarakkan hari Kyungsoo yang semula sangat membosankan.

Tapi semuanya berubah seminggu yang lalu. Tidak ada yang tahu kenapa Si Alter Ego, D.O bisa muncul kembali. Tapi Si Ibu tahu apa yang terjadi hari itu, hari itu seorang teman pria Minah yang secara tak sengaja Minah dan Kyungsoo temui di jalan tampak sangat akrab. Minah adalah pribadi yang ceria, yang terbuka pada siapa saja, jadi pantas jika itu membuatnya memiliki begitu banyak teman. Hal inilah yang tidak bisa diterima Kyungsoo. Ia mengamuk hebat malam itu dan menghancurkan kaca di kamar mandinya, membuat Minah kaget setengah mati. Kyungsoo cemburu. Dan itu buruk. Minah sudah puluhan kali mencoba merayu Kyungsoo agar pemuda itu keluar atau setidaknya mau mendengarkan penjelasannya tapi Kyungsoo tidak menunjukkan reaksi apapun.

Minah hampir menyerah ketika tiba-tiba pintu terbuka. Minah tentu saja lega begitu melihat Kyungsoo keluar dari dalam kamar mandi, namun semuanya sirna ketika melihat siapa yang sebenarnya keluar.

“Selamat malam Bang Minah yang cantik.” Minah bergidik. Ia tidak menyangka D.O lah yang keluar dari sana bukan Kyungsoo. Menghadapi D.O di malam hari seperti ini bukan hal yang baik. Apalagi semua pelayan sudah kembali ke dorm mereka yang berjarak dua ratus meter dari kastil tempatnya berada sekarang. Belum lagi dengan kondisi kamar Kyungsoo yang berada di lantai tiga.

“D.O cepat kembali dan biarkan Kyungsoo sadar, aku harus menjelaskan semuanya pada Kyungsoo.” Namun D.O, Si Alter Ego yang jauh lebih dewasa dari Kyungsoo yang kekanakan menutup pendengarannya. Ia menggapai pinggang gadis yang menjadi pujaan hatinya dalam sekali tarikan. Sudah cukup untuk memilikinya sendiri, Kyungsooaa.

“Bagaimana bisa kau menolak aku yang jauh lebih dewasa hanya untuk anak bodoh seperti Kyungsoo, Bang Minah. Bahkan jika kau minta padaku untuk selalu bersamamu, aku bisa membunuh jiwa Kyungsoo yang tidak ada apa-apanya ini. D.O menunjuk dadanya. Sementara Minah menahan getaran ketakutan yang menggerayangi seluruh tubuhnya. Ia benar-benar tidak berdaya jika berurusan dengan D.O. Pemuda ini adalah refleksi pemuda berumur dua puluh empat tahun yang sebenarnya. Tampan, tangguh, dewasa, tapi bengis. Bagian terakhir itulah yang ditakuti Minah. Dari catatan medis yang pernah Minah baca tentang Alter Ego, Alter Ego bahkan bisa melakukan tindak kriminalitas dan memiliki hal-hal dewasa yang tidak masuk akal bagi pemilik tubuh sebenarnya.  DAN ITU SANGAT BURUK. Ditambah lagi D.O pasti sama cemburunya dengan Kyungsoo.

 

D.O mendekatkan wajahnya ke leher gadis yang begitu sempurna dalam dekapan tangannya itu, ia mencium aroma semerbak dedaunan fresia yang segar di sana. Menggodanya. Kemudian naik hingga melihat dan menyentuh kulit wajah gadisnya yang lembut dan dengan warna langsat yang manis. Ia tidak peduli dengan bagaimana Minah semakin ketakutan dengan keadaannya. Dari yang bisa ia perkirakan dan melihat umur Minah, Minah masih tergolong suster baru yang mungkin baru pertama kali ini berhadapan langsung dengan seorang Alter Ego.

 

“Minah..” D.O mendekatkan wajahnya ke salah satu telinga gadis itu, ia harus menahan nafasnya beberapa detik karena aroma dari rambut gadis itu bahkan semakin menggodanya.

“D.O berhenti melakukan hal seperti ini, Kyungsoo sebentar lagi akan sembuh dan aku—”

“Aku menginginkanmu malam ini.. Di ranjangku.”

 

“BRENGSEK!” Yang Minah ingat ia masih sempat melawan D.O. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia melukai pasiennya. Melanggar etiket pekerjaannya yang harusnya menjaga dan merawat tubuh Kyungsoo. Ia melempar sebuah lampu duduk di atas laci yang membuat D.O mengalihkan perhatiannya, Minah langsung berlari secepat mungkin ke tangga besar. Ia parahnya terjelembab dengan sepatu hak rendah yang belum ia ganti dan ujung karpet lantai yang menggelembung. Badannya nyaris menggelinding dari tangga jika tangan D.O tidak menahannya.

“Kau terlalu cantik untuk mati, Bang Minah.” D.O menyentak tangan Minah kasar membuat gadis itu berdiri dengan kaki sudah seperti jelly yang terus bergetar. Tidak perlu pria kekar dan aura menakutkan seperti di kisah-kisah obsesi, D.O dengan tubuh pria standarnya tapi dilengkapi senyum miring dan tatapan yang siap memakanmu bulat-bulat sudah sangat menakutkan untuk Minah.

Some day, that kind of day will come to me

Days of love will come

If I hope and hope

“Kyungsoo ayo berhenti. Kamu sudah terlalu banyak belajar, sayang.” Ibu Kyungsoo mengusap kepala anaknya. Tapi Kyungsoo tak mengindahkan. Kyungsoo masih menekuni semua buku-buku bisnis yang bisa ia temukan di perpustakaan ayahnya, masih di kastil tempatnya hidup selama ini.

“Kyungsoo kamu belum makan dari tadi pagi sayang, ayo kita makan dulu.” Sejak kejadian empat tahun lalu, yang menjadi titik balik Kyungsoo, ibunya memutuskan tinggal di kastil yang sama dengan Kyungsoo. Sementara ayahnya masih harus mengurus perusahaan multinasional mereka di Seoul. Kyungsoo sejak saat itu mengubah paradigma pikirannya dan menjadi giat belajar, bahkan sudah setahun ini ia mulai mengambil alih beberapa perusahaan kecil ayahnya. Tinggal menunggu saat yang tepat sampai ia bisa mengemban tampu kekuasaan ayahnya.

“Ibu bisa turun lebih dulu, aku pasti akan makan. Oke?” Kyungsoo melirik ibunya sekilas dan mengedipkan matanya. Ibunya melihat Kyungsoo langsung terenyuh, figurnya yang sekarang adalah Kyungsoo dewasa yang bertanggung jawab. Ia melatih dan mendidik dirinya sendiri dengan keras, Ia mengubah seluruh pandangan dunia dengan usaha kerasnya empat tahun ini. Dimulai dari lulus dengan nilai terbaik dari jurusan bisnis melalui cyber-learning yang dimiliki Universitas Seoul. Lalu kemampuannya mengelola perusahaan ayahnya dan semangatnya yang tak pernah patah.

“Baiklah, tapi ingat, jangan lupa makan!” Kyungsoo kembali mengangguk dan ibunya mengecup kening putranya perlahan.

Begitu ibunya keluar Kyungsoo langsung menyandarkan tubuhnya yang sudah nyaris mati rasa ke sandara kursi ruang bacanya. Sangat melelahkan. Mata Kyungsoo merambat melihat cermin yang terpasang tak jauh dari posisinya duduk, ia melihat baik-baik ke dalam cermin itu sampai bayangannya berubah. Berubah menjadi sosok Alter Ego yang memporak-porandakan hidupnya hingga seperti ini.

“Hai Kyungsoo.” D.O menatapnya tajam, tapi juga meremehkan.

“Hai juga, keparat.” Kyungsoo berjalan mendekati cermin dan membuat gambaran D.O semakin jelas. Jika menghancurkan cermin bisa menghilangkan D.O selamanya, maka Kyungsoo sudah melakukannya sejak dulu. Tapi sayangnya kemarahannya hanya semakin menguatkan posisi D.O.

“Kau masih belum menemukan gadisku, ya? Sudah kubilang biar aku yang menguasai tubuhmu sehingga aku bisa menemukannya.”

“Diam kau, dia gadisku, bukan gadismu.” Kyungsoo mengeratkan pegangan tangannya, meredam amarahnya. Amarah akan memperburuk segalanya.

Oopss.. Dia memang ‘gadis’mu tapi dia adalah ‘wanita’ku. Bagaimana?” D.O tertawa puas di dalam sana, ia menertawakan Kyungsoo yang tak mampu menampik perasaan bersalah yang selalu menghantuinya setiap mengingat Minah dan kejadian di malam empat tahun lalu. Seandainya Kyungsoo tidak sepolos itu dan tidak seyakin itu bahwa D.O tidak akan muncul, Minah bisa saja masih berada di sini.

“Katakan dimana Minah..” Kyungsoo yang sedari tadi menahan emosinya tiba-tiba menatap D.O nyalang. Membuat pemuda itu semakin mengencangkan tawanya.

“Kau pikir aku tahu?”

“Aku tidak sebodoh itu D.O, aku tahu sekalipun aku tidak tahu, tapi kau tahu. Jangan kira aku tidak tahu kau sudah beberapa kali menguasai diriku ketika malam dan melakukan pencarian dengan anak buahmu untuk mengetahui keberadaan Minah. Aku hanya mencoba bersabar dan berusaha menemukan Minah dengan tanganku sendiri.”

“Lalu kenapa kau tidak menemukannya dengan tanganmu. Oww, aku lupa pengecut sepertimu mana mampu, ya?” D.O menahan tawa yang sudah sampai ke perutnya ketika Kyungsoo masih menahan amarah yang sudah menjalar sampai membuat wajahnya memerah. Dia tidak bisa seperti ini terus, D.O tidak pernah menjadi ‘saudara kembar’ yang baik untuknya.

“D.O, katakan!” Kyungsoo mulai mengarahkan tangannya menghantam pinggiran kaca di hadapannya, membuat D.O berhenti tertawa. Kembarannya itu sudah terlalu terbawa emosinya.

“Hei Kyungsoo, kau tidak perlu repot-repot marah seperti itu untuk mengeluarkanku dari dirimu. Tidak Kyungsoo, sampai kapanpun akan selalu kubuat kau menjadi pecundang. Mengejar seseorang yang kau sembunyikan sendiri.”

“BUKAN AKU YANG MENYEMBUNYIKAN MINAH, TAPI KAU!”

“Aku adalah kau, dan kau adalah aku, ingat?” D.O tertawa sinis, akalnya begitu picik, Kyungsoo tidak pernah menyelesaikan percakapan baik-baik jika melawan D.O.

“BRENGSEK!!!” Kyungsoo memukul kaca itu keras hingga menyisakan retakan besar dan sebagian kaca lain yang jatuh ke lantai. Kyungsoo menutup telinganya, gema tawa D.O masih menghantuinya.

HAHAHAHAHA.. Sekali pecundang akan tetap pecundang, saudara kembar.

 

“DIAM KAU!”

Kau menyuruh dirimu untuk diam, maka berhentilah berteriak, pengecut. Cari gadismu itu sampai dapat. HAHAHAHAHAHA.

 

“Katakan dimana MINAH! KATAKAN PADAKU!”

Apa hakmu, saudara? Minah milikku sejak malam itu. Bukan milikmu. Poor you. HAHAHAHA. Minah tidak bisa bersanding dengan pria lemah sepertimu. Biarkan aku lagi yang menguasai dirimu.

 

“TIDAK! Aku tidak akan pernah membiarkanmu lagi yang keluar dariku jika itu untuk Minah! Dan dia milikku, kau dengar! Dia milikku.” Kyungsoo sudah jatuh terduduk. Ia sudah menangis dan kepalanya terasa sangat berat. Suara-suara D.O begitu mengganggunya.

Cklekk..

“Kyungsoo!” Ibunya dan beberapa pelayan masuk dan melihat Kyungsoo yang sudah terjatuh mengenaskan. Ia tidak bisa menahan air matanya dan nyaris histeris

Mommy-mommy! HAHAHAHA. Apa pria seperti ini yang pantas untuk Minah? Hahh?! Ohh aku bahkan tidak yakin kau pria, kau hanya bocah laki-laki yang terus bersembunyi di bawah ketiak ibunya.

 

“DIAM!! KAU CUKUP MENGATAKAN PADAKU DIMANA MINAH DAN PERGI!!” Ibunya meraih Kyungsoo dalam dekapannya mencegah anaknya mengamuk lebih parah lagi. Tapi Kyungsoo tidak terpengaruh, ia masih berusaha memaksa D.O mengatakan dimana Minah disembunyikan.

Sebutkan satu alasan kenapa aku harus memberi tahumu. Yah walau aku tahu aku tidak punya alasan untuk memberitahumu.

 

“AKU MENCINTAINYA! KAU DENGAR! Aku tidak peduli kau mencintai atau hanya terobsesi padanya yang jelas aku mencintainya!”

Bagaimana jika dia tidak mencintaimu, bagaimana, Do Kyungsoo?

 

“DIA PASTI MENCINTAIKU! Mungkin tidak dulu, tidak sekarang, tapi pasti dia akan mencintaiku seperti aku mencintainya!” Nyonya Do sudah menangis mendapati Kyungsoo yang tidak bisa berhenti histeris dan bercakap-cakap dengan Alter Ego-nya. Tidak ada satupun pelayan yang berani mendekati Kyungsoo yang histeris. Karena Kyungsoo yang histeris mudah sekali mengalami switching dengan D.O. Dan menghadapi D.O adalah mimpi buruk semua orang.

Mawar itu merah, violet itu ungu. Matahari terbit dan bulan akan tenggelam, bulan terbit dan matahari akan menghilang. Di akhir ketujuh semua orang orang berkumpul.

Kyungsoo berhenti menjerit setelahnya. D.O menghilang. Kembarannya itu memang suka muncul dan tenggelam sesuka hatinya. Tapi kali ini D.O menghilang diiringi sebuah teka teki besar.  Dia memberi teka teki yang mengarahkan Kyungsoo pada sosok yang selama ini selalu dicari oleh seorang Do Kyungsoo.

Do you know how it feels

To love someone so much that you hate them?

You don’t know, this foolish me

Red Mapple Florist

Kyungsoo sudah berdiri di depan toko bunga yang ramai dikunjungi pengunjung. Sebentar lagi musim gugur akan berlalu dan mungkin orang-orang ingin memberikan bunga sebagai ucapan musim dingin kepada sanak saudara atau orang yang mereka kasihi.

Kyungsoo merasa bersyukur pada perkembangan dirinya selama empat tahun ini hingga logikanya sanggup mencerna teka teki yang beberapa hari lalu diberikan D.O. Dan di sinilah ia sekarang. Pantai Gyeongpodae. Di kota Gangneung-si, Gangwon-do.

Mawar itu merah, violet itu ungu. Itu adalah petunjuk mengenai sebuah tempat dengan banyak bunga, bisa menjadi taman bunga dan toko bunga.

 

Matahari terbit dan bulan akan tenggelam, bulan bersinar dan matahari akan menghilang. Matahari terbit dan bulan yang bersinar. Tempat dimana kamu bisa melihat sunrise dan moonrise. Muncul beberapa tempat dalam seleksi Kyungsoo, salah satunya adalah tempat ini karena pantai Gyeongpodae adalah salah satu tempat terbaik melihat sunrise dan moonrise tapi ia masih berusaha memecahkan petunjuk terakhir.

 

Di akhir ketujuh semua orang orang berkumpul. Di akhir ketujuh adalah akhir Juli. Hanya di pantai Gyeongpodae semua orang akan berkumpul di akhir bulan Juli karena setiap akhir Juli akan diadakan Summer Beach Art Festival yang sangat terkenal.

“Terima kasih! Selamat berkunjung kembali!” Kyungsoo tersadar dari lamunannya ketika mendengar teriakkan itu. Minah. Gadis itu kini berpotongan panjang dengan sedikit berombak, menunjukkan figur dewasa yang memikat. Tapi pipi tembamnya tidak bisa menutupi bagaimana manisnya gadis itu. Toko itu sudah sepi. Dan ketika Kyungsoo melirik jam tangannya memang waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore, sesuai jam tutup toko tersebut.

“Bang Minah.” Kyungsoo berkata nyaris mencicit. Tapi sepertinya gadis itu tidak dengar. Gadis itu masih sibuk membereskan beberapa pot bunga di dalam tokonya dan membiarkan Kyungsoo yang berdiri di luar pintu.

“Permisi,” Kyungsoo mencoba suara sekali lagi dengan suara yang lebih keras. Kau harus yakin Kyungsoo, setelah pencarianmu yang panjang kau harus mampu menemuinya.

Minah tidak menoleh tapi nampaknya gadis itu mendengar suara Kyungsoo, “maaf Tuan, toko sudah tutup, Anda bisa—” Minah langsung berhenti berucap ketika melihat siapa yang berdiri di depan pintu tokonya.

“Do Kyungsoo?” Minah memegang pot bunga kamomil di tangannya dengan erat. Menyalurkan perasan gugup, gelisah, takut sekaligus bencinya pada pemuda di hadapannya. Ia masih tidak bisa menemui pemuda ini. Bahkan setelah empat tahun yang panjang. Ia tidak bisa menghapus Kyungsoo dari mimpi buruk. Tidak peduli bahwa yang telah merusak masa depannya adalah D.O, Minah tidak bisa memaafkan keduanya. Keduanya berada dalam satu tubuh, tubuh yang menghancurkan kehormatannya malam itu.

“Minah.” Kyungsoo tidak mampu menatap mata Minah yang menyiratkan keengganan.

“Toko sudah tutup, jika kau ingin membeli bunga kau bisa kembali besok.” Minah menegakkan kepalanya, mencegah air mata yang berusaha keluar dari matanya. Pergilah Kyungsoo, aku tidak bisa tersakiti seperti ini terus.

“Minah aku hanya ingin berbicara sebentar denganmu.”

“Aku tidak ada waktu. Aku harus mengurus toko ini.” Kyungsoo melihat Minah yang sudah tidak ingin melihat wajahnya lagi dan berjalan menjauh.

“Minah, tapi kau sendiri yang mengatakan bahwa—”

“AKU TIDAK ADA WAKTU! KEMBALI BESOK ATAU TIDAK PERLU KEMBALI SAMA SEKALI!” Minah meletakkan pot bunganya dengan kasar dan langsung berhadapan mata dengan Kyungsoo. Dia begitu membenci pria ini, di saat hatinya mulai terbuka walaupun untuk Kyungsoo yang kala itu sangat kekanakan, Alter Ego-nya justru menghancurkannya hingga berkeping-keping.

“Minah, aku mohon aku harus menjelaskan semuanya.” Kyungsoo mengulurkan tangannya berusaha menjangkau Minah tapi kepalanya tiba-tiba berdenyut. D.O berusaha memberontak di dalam sana. Sial, dia hanya memanfaatkanku untuk bertemu dengan Minah. Brengsek!

“TIDAK ADA YANG HARUS KAU JELASKAN SEKARANG PERGI!!” Minah tidak berhenti berteriak, seperti tidak akan ada nada damai untuk mereka berdua. Minah terus menyalahkan Kyungsoo dalam hatinya. Kedatangan pria ini hanya merusak ketenangan yang sudah susah-susah ia bangun. Tapi Kyungsoo tak menyerah, ia tetep merengsek maju sekaligus menahan dorongan D.O yang berusaha muncul membuat kepalanya benar-benar pening.

“Min—”

“Ibu..” Seorang gadis kecil dengan pakaian rumahnya turun dari tangga yang ada di bagian dalam toko itu. Dari informasi yang Kyungsoo dapat memang toko ini adalah tempat tinggal Minah.

Minah menggelengkan kepalanya gusar. Kenapa Hyemi harus turun sekarang. Kenapa?! Kyungsoo tidak boleh tahu keberadaan Hyemi. Tidak jika itu akan membahayakan keselamatan Hyemi.

“Ibu, ibu kenapa?” Hyemi berjalan mendekat begitu Minah langsung menubruk tubuh putrinya dan membawa malaikat kecilnya itu dalam dekapannya. Minah membalikkan badannya hingga membelakangi Kyungsoo. Tapi Hyemi yang penasaran malah menunjukkan wajahnya dari balik bahu Minah. Melihat pria dengan mata yang melebar dan menatapnya haru.

“Pergi Kyungsoo, kumohon pergilah sekarang.” Minah sudah hampir menangis. Aku mohon pergilah dan biarkan kita memiliki hidup masing-masing. Kau dengan hidupmu dan aku bersama Hyemi dengan hidup kami.

“Minah, apa dia anakku?” Dorongan D.O untuk keluar semakin hebat. Apalagi setelah melihat anak Minah yang ia yakini sebagai anaknya.

Dia anakku, Pecundang! Cepat biarkan aku keluar dan mengambil putriku!

“TIDAK! Dia bukan anakmu, dia anakku!” Minah baru akan menjawab ketika melihat Kyungsoo yang terjatuh dan seperti menahan sakit di kepala dan dadanya. Pria itu berteriak kesakitan setelahnya. D.O akan keluar. Minah berdiri ketakutan di tempatnya. Ia kini menghadap Kyungsoo, tidak mengijinkan putrinya melihat gejolak dalam diri Kyungsoo yang mengerikan.

Dia anakku, Pecundang! Bagaimana bisa dia anakmu jika malam itu aku yang bersama Minah?!

“TAPI INI TUBUHKU! PERGI D.O!!” Kyungsoo tidak berhenti berteriak, pandangannya semakin mengabur dengan rasa sakit yang terus menjalar ke seluruh tubuhnya.

“Kyungsoo..” Minah memanggil dengan suara lirih. Perasaannya entah kenapa ikut tersakiti melihat Kyungsoo yang kesakitan. Kyungsoo menengadahkan wajahnya dan tersenyum dipaksakan seolah semuanya baik baik saja.

“Iya ini.. INI AKU D.O, MINAH SAYANG! BRENGSEK! PERGI!” Ini tahap yang tidak baik. Tubuh Kyungsoo benar-benar berada dalam kondisi imbang dimana Kyungsoo dan D.O saling berusaha menguasai. Minah menurunkan Hyemi dari pelukannya dan menyuruh Hyemi pergi ke kamarnya serta mengunci pintu. Mencegah hal-hal buruk lainnya.

“Kyungsoo..”

“Minah aku tidak bisa! KEMARI SAYANG!! ARGHH..” Kyungsoo benar-benar terjatuh setelahnya. Hidungnya mengeluarkan darah dan badannya mengejang. Tidak, aku tidak akan kalah lagi pada D.O, tidak jika itu berhubungan dengan Minah.

“Kyungsoo..” Minah mendekat ke arah Kyungsoo yang semula dijauhinya. Ia bisa melihat darah segar yang tidak berhenti mengalir, mata merah, tangisan yang keluar dari sela-sela geraman Kyungsoo dan bagaimana tersiksanya pria ini. Minah langsung mendekap tubuh pria itu dengan tangannya. Meredam geraman dan kejang yang tidak berhenti.

“Minah..”

“Ya?” Suara Kyungsoo begitu serak, begitu sakit dan rapuh. Dan itu menyakiti Minah sebagai orang yang masih mencintainya.

“Aku tidak bisa, aku mohon maafkan aku. ARGHH!!” Kyungsoo semakin menekan gejolak di kepalanya yang tidak beraturan. Kepalanya serasa ingin remuk dan pecah membuat dunia semakin berputar cepat di kepalanya.

“Aku memaafkanmu Kyungsoo, tapi sekarang aku mohon usir Alter Egomu, kamu pasti bisa.” Minah mengusap kening Kyungsoo, seperti yang dulu ia lakukan.

“Aku akan melawannya Minah, aku akan melawannya untukmu, ARGHH BRENGSEK!!! PERGII!! DIA MILIKKU! BUKAN PECUNDANG DIA MILIKKU.” Minah tidak tega melihatnya, bagaimana pria ini menahan semua penderitaannya seorang diri.

“Kyungsoo..” Kyungsoo masih bisa mendengar suara Minah yang terus menyebut namanya sampai semuanya terasa begitu menyakitkan dan menghitam.

Why is love only cruel to me?

The only thing I want is you

“Selamat pagi, Paman!” Kyungsoo keluar dari sebuah kamar beberapa menit yang lalu dan menemukan ruangan kecil seperti ruang keluarga dan ruang makan di seberangnya. Di sana Hyemi sudah duduk riang dengan mangkuk cereal-nya dan susu putih segar di sampingnya.  Hyemi memiliki kebiasaan seperti Minah. Begitu pula dengan bentuk mata kacang kenari, warna mata kecoklatan dan pipi yang tembam. Tapi Hyemi tidak bisa menyembunyikan rambut ikal hitam Kyungsoo, bentuk wajah kecil, dan bibirnya yang tebal. Seperti Minah hanya mengambil detil ornamen pada wajah gadis ini dan wajah Kyungsoo lah yang menjadi dasarnya.

“Selamat pagi, putri kecil.” Kyungsoo mengambil duduk di hadapan Hyemi. Ia melihat sepiring roti dengan telur di dalamnya.

“Paman tidur lama sekali.” Hyemi membuka pembicaraan. Ia masih melahap cereal-nya dengan bahagia.

“Benarkah? Apakah benar-benar lama?” Kyungsoo mengernyit heran, selamakah itukah dia tidur?

“Ya, Paman sudah tidur dua hari.” Hyemi mengacungkan dua jarinya, menunjukkan angka dua yang memancing tawa Kyungsoo. Anak ini begitu polos.

Oh ya? Dan apakah Paman menyusahkanmu dan ibumu?”

“Tidak. Hyemi tidak kesusahan. Tapi ibu iya.” Kening Kyungsoo mengerut karenanya, dia menyusahkan Minah? Apa yang terjadi memang selama ia tertidur dalam jangka waktu panjang.

“Kenapa bisa seperti itu?”

“Ibu tidak tidur. Ibu terus mengompres Paman persis seperti ketika Hyemi sakit.”  Kyungsoo terkejut. Jadi selama dua hari ini ia juga demam selain tertidur dalam jangka waktu lama? Astaga. Dan.. Oh! Iya baru sadar ia belum berkenalan secara resmi dengan putrinya.

“Oh iya, nama paman Do Kyungsoo. Dan namamu?” Hyemi tiba-tiba bertepuk tangan riang. Wajahnya penuh kebahagiaan.

“Paman, Hyemi kira hanya Hyemi yang punya marga Do di dunia ini! Ternyata Paman juga! Namaku Do Hyemi.” Hyemi tersenyum manis, tapi langsung kembali mengejutkan Kyungsoo. Jadi anak ini benar putrinya? Do Hyemi adalah anak Do Kyungsoo?

“Oh ya, jika marga kita sama, Paman pasti kerabat atau kenal dengan ayah Hyemi, iya kan?” Hyemi bertanya antusias. Ia tidak bisa membaca perubahaan air muka Kyungsoo yang berubah sendu. Aku tidak hanya mengenalnya Hyemi, ayahmu adalah aku. Aku yang kau panggil ‘Paman’. Tapi Kyungsoo tidak menjawabnya, ia takut salah menjawab dan membuat Hyemi kecewa.

“Hyemi, dimana ibumu? Paman tidak melihatnya dari tadi.” Hyemi yang sepertinya langsung lupa dengan pertanyaannya menunjuk tangga di dekat ruang keluarga.

“Ibu sedang menerima bunga. Kalau pagi ibu harus mengatur bunga.”

“Oh ya, Hyemi, berapa usiamu sekarang?”

“Tiga tahun! Dua bulan yang lalu aku tiga tahun, Paman!” Dia memang anakku. Marganya Do, dan usianya sesuai dengan perkiraanku. Ya Tuhan, betapa bahagianya aku.

“Apa Hyemi tidak tahu dimana ayah Hyemi berada?” Kyungsoo tiba-tiba menyeletuk. Membuka pembicaraan yang mungkin terlalu berat untuk Hyemi. Tapi Hyemi hanya menggelengkan kepalanya, rautnya tidak sedih seperti yang diperkirakan Kyungsoo.

“Ibu bilang, ayah sedang pergi mencari uang untuk Hyemi dan ibu. Ibu juga bilang ayah sangat baik, karena itu ayah terus bekerja untuk Hyemi dan ibu. Kata ibu juga, jika Hyemi jadi anak yang baik terus ayah akan cepat pulang.” Kyungsoo terenyuh mendengarnya. Aku bukan orang yang baik Hyemi, justru semakin baik dirimu, aku tidak mungkin tega menjumpaimu. Kamu terlalu baik untuk bertemu diriku dan D.O.

“Tapi Hyemi tidak senang sekarang! Masa banyak sekali pria yang dekat dengan ibu. Hyemi kan hanya mau ibu bersama ayah! Tapi pria pria itu terus saja mendekati ibu!” Kyungsoo menganggukkan kepalanya mengerti. Tidak, dia tidak cemburu. Dalam hati kecilnya memang ada perasan itu, tapi rasionalnya bekerja. Empat tahun dengan seorang anak yang harus ditanggung sendiri dan masa lalu yang pahit, tentu wajar bagi Minah untuk mencari pria lain. Pria yang lebih normal darinya.

“Hyemi, ayo masuk ke kamarmu.” Suara Minah tiba-tiba memecahkan keadaan dan membuat Hyemi langsung turun dari tempat duduknya. Gadis kecil itu membersihkan tangannya di wastafel dengan tangga kecil di depannya dan langsung berlari ke kamarnya.

Sementara itu Minah membersihkan piring dan gelas Hyemi. Membiarkan Kyungsoo yang sedang melahap makanannya perlahan mengikuti arah geraknya.

“Terima kasih Minah.” Minah melihat Kyungsoo dan tersenyum kecil, “sama-sama.”

“Bisa kita membicarakan semuanya sekarang?” Kyungsoo selesai dengan kunyahan terakhirnya dan meletakkan peralatan makanannya di dapur. Minah berpikir sejenak sebelum mengambil posisi duduk yang diambil Hyemi tadi.

“Kyungsoo, aku paham mengenai masa lalu. Tentang perasanmu, tentang kecemburuanmu hari itu, dan tentang D.O, aku paham. Kau tidak perlu merasa bersalah lagi.” Minah langsung berujar demikian begitu Kyungsoo menggenggam tangannya dan menatapnya dengan yakin.

Kyungsoo menurunkan kepalanya, Minah sudah mengerti, tapi perasaannya tak berubah tetap dirundung keraguan, “dan kau tak kembali?”

“Aku tidak bisa kembali Kyungsoo.” Minah mengusap tangan Kyungsoo perlahan. Ia tidak bisa memberikan suatu pergerakkan tiba-tiba yang bisa menggangu kestabilan emosi Kyungsoo.

“Kenapa?”

“Coba lihat dirimu yang sekarang. Kau mandiri, pintar, jauh lebih dewasa bahkan mampu menggantikan posisi ayahmu perlahan. Semua itu setelah aku pergi, kan? Sadar atau tidak keberadaanku hanya membuatmu terus bergantung padaku. Padahal yang harus seorang pria lakukan adalah berjalan dengan kakinya sendiri dan menjadi gantungan hidup istri dan anaknya nanti.”

“Tapi aku benar-benar sudah dewasa Minah, kau bisa kembali dan aku bisa menjadi gantungan hidupmu dan Hyemi.” Kyungsoo menatap Minah dengan raut memohon, ia mencintai gadis ini. Dan selayaknya seorang pria yang mencintai gadisnya ia ingin Minah selalu berada di sisinya.

“Tidak menutup kemungkinan kau kembali kan Kyungsoo? Kyungsoo, jika kau merasa mencintaiku, aku juga. Aku juga mencintaimu. Tapi aku tidak bisa kembali.”

“Apa ini karena D.O?” Kyungsoo mengutuk dirinya. Dia mengutuk dirinya yang bisa sampai terkena penyakit menjijikkan dan membuatnya memiliki Alter Ego yang menjadi penghalang kehidupannya.

“Tidak sepenuhnya. Bohong jika kau katakan tidak karena D.O, aku masih takut suatu waktu dia akan kembali. Tapi di satu sisi aku tidak bisa kembali karena aku tidak mampu mencintaimu yang ini dan mencintaimu yang itu. Paham dasarku dalam cinta adalah dimana aku harus bisa mencintai seorang pria seutuhnya dia. Tapi aku bahkan tidak bisa memberikan perasaan apapun selain kebencian pada D.O dan seperti yang kau tahu D.O adalah bagian dari dirimu. Aku membenci D.O artinya aku tidak bisa mencintaimu sepenuhnya. Dan aku takut itu akan menggoyahkan pendirianku kelak. Maafkan aku, Kyungsoo.”

If I take a step closer, you get farther away

Don’t you know how I feel? I love you

“Kau boleh mengunjunginya kapanpun kau mau, lagipula Hyemi kan sudah tahu bahwa kau ayahnya.”

“Aku sudah bilang biarkan aku yang keluar supaya aku yang menangani Minah. Dia pasti sudah berada di sini jika aku yang bertindak.” Kyungsoo duduk di sebuah kursi duduk besar dan membiarkan D.O muncul di cermin yang berada di hadapannya. Tatapan mata Kyungsoo kosong. Hatinya sangat hancur.

“Aku tidak ingin seperti itu, D.O. Aku ingin dia dan Hyemi kembali dan tinggal di sini dengan sukarela,” Kyungsoo tertawa parau, “tapi itu tidak mungkin.”

D.O yang biasanya tertawa puas karena bisa melihat kehancuran Kyungsoo kini hanya menatap kembarannya itu dengan tatapan menilai dan menerawang. Salah satu yang tidak ia sukai dari menjadi Alter Ego adalah ketika jiwa sebenarnya dari suatu tubuh merasakan suatu emosi maka Sang Alter Ego juga merasakan hal yang sama. Dan sekarang, Kyungsoo benar-benar patah hati. Maka begitulah dia.

You’ll look for me some day

You’ll find out some day

That I’m standing behind you

“Selamat ulang tahun Hyemi.” Kyungsoo merunduk dan mencium kening putrinya. Ia datang terlambat setelah penerbangan dari London beberapa jam lalu. Pesta ulang tahun kelima putrinya bahkan sudah berakhir ketika ia datang. Tapi untunglah putrinya tidak mengamuk.

“Terima kasih, Ayah. Lain kali Ayah tidak boleh terlambat datang, oke?” Hyemi mengangsurkan jari kelingkingnya yang mungil ke arah ayahnya, Kyungsoo langsung menautkan jarinya.

Ahh.. Iya, ini untuk putri kecil Ayah yang sangat cantik.” Kyungsoo memberikan sebuah kotak besar. Hyemi langsung menatapnya tanpa berkedip setelahnya.

“Ini benar untuk Hyemi?” Kyungsoo mengangguk semangat dan Hyemi langsung menyambar dalam pelukkannya. Hyemi kecil yang begitu dia sayangi yang juga menyayangi.

“Dan ini juga untuk Hyemi yang baik dan pintar.” Kyungsoo menunjukkan sebuah gelang rantai dari emas putih yang dibelinya sehari sebelum kepulangannya dari London. Di rantai-rantai itu tersusun huruf nama Hyemi.

“Terima kasih Ayah!” Hyemi hampir menangis karena semua hadiah yang Kyungsoo berikan, seperti ulang tahunnya tahun lalu. Kyungsoo sangat mencintai putrinya hingga memberi semua yang bisa ia berikan pada Hyemi.

Hyemi sibuk membuka hadiah dari teman-temannya ketika Kyungsoo menemui Minah di dapur.

“Hai.”

“Hai.” Minah menyodorkan segelas teh hangat pada pria itu dan langsung disesap Kyungsoo nikmat. Menyenangkan sekali dengan teh yang begitu harum setelah penerbangan belasan jam yang melelahkan.

“Bagaimana perkembangan perusahaan keluargamu?”

“Baik. Tapi minggu depan aku masih harus mengunjungi Hongkong dan Kuala Lumpur untuk melihat cabang di sana. Melelahkan.” Minah langsung tertawa kecil melihat perubahan ekspresi Kyungsoo yang tampak sangat lelah.

“Kau perlu beristirahat Tuan Presiden Direktur. Apa gunanya menggaji puluhan anak buah jika tidak ada yang bisa mewakilimu?” Minah meletakkan beberapa kue kering di nampan dan langsung di ambil satu oleh Kyungsoo yang sedari tadi sudah tergiur.

“Ya, tapi aku lebih percaya pada kemampuanku.” Kyungsoo dan Minah saling pandang sebelum tertawa bersama. Mereka memindahkan kue-kue yang sudah mulai dingin ke dalam stoples-stoples bening yang sudah dijajar Minah dan meletakkannya di ruang tengah.

“Bagaimana Ken?” Kyungsoo mengunyah satu kue lagi sebelum Minah tiba-tiba menjitak kepalanya.

“Dia sudah pria ke empat tahun dalam dua tahun ini, dan lagi-lagi gagal Kyungsoo. Kau benar-benar menyebalkan!”

“Aku kan sudah bilang, Ken itu sama seperti Himchan, Seungho, dan Jonghyun yang tidak baik.” Kyungsoo tiba-tiba menunjukkan jari telunjuknya dan menggoyang-goyangkannya tanda tidak setuju.

“Tidak ada siapapun yang baik di matamu kecuali dirimu sendiri, Do Kyungsoo. Jika kau ingin melihatku mendapat suami, langkah pertama yang harus kau lakukan adalah pergi dari rumahku. Rumahku semakin sempit sejak ada kau dua tahun ini.”

“Kyungsoo..” Kyungsoo yang masih menatap kosong dirinya di cermin tercenung begitu D.O memanggilnya dengan nada bersahabat. Maksudnya tidak lagi dengan nada tajam atau sebutan ‘Pecundang’nya.

“Kenapa?”

“Jika Minah tidak mau kembali, kenapa tidak kau saja yang tinggal?” D.O tersenyum penuh arti sebelum mengepul hilang dari cermin dan meninggalkan bayangan Kyungsoo seorang diri. Jika aku tidak bisa membuat Minah kembali, apakah D.O ingin aku yang tetap tinggal di sisi Minah?

 

Kyungsoo yang tersentak dan mendapat pencerahan langsung berjalan cepat. Ia langsung berlari ke walking closet-nya dan mengambil koper serta mengemasi barang yang ia rasa perlu ia bawa. Setelahnya ia melajukan mobilnya cepat, memilih kapal paling cepat menuju Busan dan menempuh perjalanan darat tercepat dan teraman menuju Gangneung-ssi.

 

Ting.. Tongg..

Kyungsoo menekan bel di depan toko Minah cepat. Nafasnya memburu dan dadanya berdebar tak karuan.

“Selamat da— Oh Kyungsoo ada yang ketinggalan?”

“Ada!” Kyungsoo menjawab cepat dan langsung tersenyum memikat.

“Oh benarkah? Apa?”

“Hatiku. Hatiku tertinggal di sini dan tidak mau kembali.”

 

Minah menepuk keningnya bingung dan pasrah ketika Kyungsoo menerobos masuk ke arah rumahnya.

“AYAH!!”

If only I can love

Even if I lose everything

It’s alright – don’t you know?

“Minah..” Minah masih asik memakan popcorn di mangkuk besarnya, ia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di pundak Kyungsoo dan melihat film dengan antusias.

“Minah..” Kyungsoo yang memainkan rambut Minah dengan tangannya tiba-tiba menggelitiki telinga wanita di sampingnya membuat Minah langsung menepis tangannya.

“Ada yang ingin berbicara padamu.” Minah menegakkan badannya dan mendapati Kyungsoo yang maish menunduk. Minah merengut dan bingung dengan Kyungsoo, tidak ada bunyi telepon sama sekali dan kini Kyungsoo seolah bersikap tidak tahu.

“Siapa?”

“Aku.” Suara Kyungsoo berubah dalam dan berat. Minah mengerjapkan matannya beberapa kali sebelum yakin itu bukan Kyungsoo. Tapi Minah lebih memilih masa bodoh dan melanjutkan menonton film dan memakan popcorn-nya, lengkap dengan bersandar di ‘tubuh’ Kyungsoo.

“Hai Minah.”

“Hai D.O.” D.O langsung tertawa setelahnya. Minah tidak pernah mengubah nada sarkasnya ketika berbicara dengan dirinya. D.O menggantikan Kyungsoo mengusap kepala dan memainkan rambut Minah.

“Aku sudah berusaha menghilang dari tubuh Kyungsoo, tapi aku tidak pernah berhasil karena kau tahu.. kami memang sepertinya dilahirkan untuk terus bersama.”

“Ya, lalu?”

“Dan jujur saja itu membuatku dilema, karena dengan adanya aku, kau dan Kyungsoo… kalian—”

“Kami akan menikah bulan depan.”

Ohh.. Tapi— APA?! MENIKAH?!!!” D.O langsung mendorong tubuh Minah ke depan membuat Minah harus menahan posisinya beberapa detik jika tidak ingin dengan ironisnya jatuh menggelinding.

Hey bung, dia calon istriku, jangan berbuat seperti itu!

“Hey Do Kyungsoo brengsek, kau tidak memberitahuku kau akan menikah? Kau itu kembaran macam apa, hah?!”

Kukira kau tahu dan kau juga tidak bertanya apapun tadi.

“Tapi kan—”

“D.O bisa kau keluarkan suara Kyungsoo sebentar?” D.O yang bingung hanya menuruti kata-kata Minah, membuat Kyungsoo bisa menguasai indera-inderanya setara dengan D.O.

“Ya, sayang?”

“Bisakah kau tidak mengundang D.O nanti? Ehh.. Kau kunci dia di labirin cermin atau apapun, yang penting manusia ini tidak boleh ada. Dia sudah berani-berani mendorongku hingga aku nyaris jatuh, Sayang.”

“Ohh Oke..” Kyungsoo mengedipkan sebelah matanya, namun D.O tiba-tiba menggelengkan kepalanya tidak terima.

“Hey, Bang Minah! Bagaimana bisa seperti itu?! Kau calon istri Do Kyungsoo kan, berarti kau juga calon istriku! Artinya aku juga harus datang di pesta pernikahan itu!”

“Aku akan menikah dengan Do Kyungsoo, D.O. Bukan dengan D.O. Tamu yang tidak diundang tidak boleh masuk ke area pesta.” Kyungsoo langsung tertawa setelahnya, tapi karena D.O yang sedang sebal, D.O langsung menghentikan tawa Kyungsoo dan mengembalikan jiwa Kyungsoo dalam posisi di bawah kendalinya.

Hahh! Dasar pasangan menyebalkan! Kalau begitu ceritakan padaku bagaimana kau bisa bersama Si Pecundang ini.” D.O menunjuk dadanya sendiri dan membuat Minah terkekeh geli.

“Si Pecundang itu calon suamiku, bung. Dan jika kau adalah Kyungsoo dan Kyungsoo adalah kau maka kau juga pecundang. Lagipula siapa berani mengatai calon suamiku dengan kata ‘pecundang’ akan berhadapan dengan kaktus paling tajamku di pantatnya.” D.O sudah berapi-api sekarang. Gadis ini.. Belum ada seorang pun yang berani melawan seorang D.O ketika dia sudah muncul dan menguasai Do Kyungsoo. Hanya gadis ini yang berani melawannya bahkan mengancamnya. Padahal dia ingat bahwa dulu gadis ini sangat ketakutan dengan kehadirannya. Tapi ia hanya bertahan dengan kemarahan tak logisnya itu selama beberapa detik sebelum tersenyum mengerti. Pantas saja kau menyukai gadis ini, bung! Gadis ini begitu istimewa.

“Oke, daripada kau terus menentangku sampai rasanya aku ingin menyeretmu ke tempat tidur sekarang, kau harus segera menjelaskan kronologis ceritamu dengan Kyungsoo!”

“Aku sudah tidur satu ranjang dengannya hampir satu tahun dan kau baru mengancam akan membawaku ke ranjang saat ini, D.O! Kau sungguh lucu!” D.O kembali mendelik sebal dan tak berkutik karenanya.

“Dan jangan bilang jika Kyungsoo tidak melakukan apapun bersamamu?”

“Kami tidur satu ranjang dan sudah seharusnya ketika seseorang di ranjang ia hanya akan tidur.” Minah tersenyum menggoda ke arah D.O membuat pria ini semakin jengkel.

“Dasar Do Kyungsoo bodoh, jika aku tahu setiap malam kalian sudah tidur bersama, aku akan mendobrak keluar dan menambah daftar kegiatan lain di atas ranjang selain tidur!” D.O mendapat lemparan bantal dari Minah setelahnya. Pria ini sangat mesum, berbeda dengan Do Kyungsoo yang ia kenal yang sangat sopan.

“Oke, daripada berdebat terus karena otak byontae-mu mari kita bicarakan tentang kisahku. Kyungsoo menghalangiku dengan pria manapun setelah dua tahun sejak pertemuan kami. Beberapa bulan setelah aku berpisah dengan Ken, pria terakhir yang aku kencani, Kyungsoo tiba-tiba melamarku di depan Hyemi. Bisa kau bayangkan? Mana mungkin aku mengecewakan dua orang sekaligus jika aku menolak Kyungsoo. Karena itu aku mengiyakan. Jadi karena peristiwa lamaran itu berlangsung sekitar tiga bulan yang lalu maka hitunganku tentu tepat jika pernikahanku akan terjadi bulan depan.” Minah selesai dengan ceritanya dan dari ujung matanya ia bisa melihat Hyemi yang keluar di dari kamarnya. Minah memberi isyarat kedipan mata yang membuat anaknya langsung tahu bahwa yang ada di depan Minah sekarang bukan ‘ayahnya’ yang seperti ‘biasa’.

D.O langsung menganggukkan kepalanya mengerti, “jadi si pecundang ini ceritanya sudah bahagia walau hanya dia yang mencintaimu?”

“Tentu tidak.” Minah menggeleng cepat, “awalnya tentu saja aku tahu bahwa sebenarnya dia tidak masalah walaupun hanya dia yang mencintai aku tapi lambat laun aku sadar. Bahwa kadang prinsip dasarku tentang cinta bisa salah. Karena dengan mencintai sebagian saja kau kadang bisa mencintai seluruh hal dalam diri orang yang kau cintia. Dan aku pikir ‘menyukaimu’ bukan hal yang buruk D.O.” D.O langsung tersenyum miring setelahnya. Akhirnya kembarannya yang artinya sekaligus dia akan mendapat kebahagiaan. Kebahagiaan yang memang hanya bisa dimiliki jika Minah lah yang memberi kebahagiaan itu.

“Jadi ceritanya kau sudah ‘menyukaiku’ ya?” D.O mengedipkan matanya bermaksud menggoda. Tapi Minah langsung meliriknya juga dengan pandangan menggoda, ditambah dengan gerakan kecil Minah yang menggigit bibirnya. Membuat D.O semakin tergoda dan lengah.

“Tentu saja, dan tidak hanya aku yang menyukaimu D.O..” Minah langsung tertawa hingga terduduk di sofa begitu melihat Hyemi dengan senjatanya sudah berdiri di belakang D.O yang belum sadar apa yang terjadi. D.O terlalu lengah.

“Maksud— DO HYEMI BERHENTI MENGGELITIKKI KU!! AKU JUGA AYAHMU!! JAUHKAN JUGA BUNGA ANGGREK ITU DARI DEPANKU KARENA AKU BISA.. Hatching! Hatching..

Oh I will carry you over fire and water for your love

And I will hold you closer

Hope your heart is strong enough

When the night is coming down on you

We will find a way through the dark

 

I wish that I could take you to the star

I’d never let you fall and break your heart

And if you wanna cry or fall apart

I’ll be there to hold you

 

You tell me that you heard it’s all in vain

But I can see your heart can love again

And I remember you laughing

So let’s just laugh again

—One Direction – Through The Dark

.THE END.

 Couple_1Blur

Couple_1

Fuilaa!! Saya kembali dengan ending bahagia lainnya! Siapa yang bahagia di sini D.O nggak dapet eksekusi mati kaya Kris? Angkat tangan coba *tik tok tik tok*

Oke, kali ini bukan dengerin Be Ambitious sampe kepikiran happy end. Kan buat ff ini sebenernya nana bingung mau ending gimana sampe akhirnya youtube-ing beberapa jam. Dan udah sepakat cuma bakal liat music video nya luar punya, jadi bukan Korea karena sebernya Korea jarang banget ada yang pas sama tema ini. Sampai akhirnya ketemu music video nya Selena Gomez – Slow Down. Awalnya emang udah denger lagu ini lama dan kok inspired banget buat endingnya dipake deh.

Bagian ini nih yang sebenernya langsup nangkep dan kecetus ending-nya :

I just wanna feel your body right next to mine

All night long

Baby, slow down the song

And when it’s coming closer to the end hit “Rewind”

All night long

So, nggak kerasa ini udah pasangan ke-8 dan 3 cerita lagi Chamomile bakalan habis /sedih mama/ Setelah Chamomile selesai rencananya nana bakalan fokus ke LIFE dan take long hiatus sampai saat yang belum nana tentukan ya.-. maklum masih bingung mau ipa atau ips :”) dan mau ngejar nilai buat studi banding nih doakan ya :”)

Untuk cerita selanjutnya akan sedikit lama karena terjadi perubahan mendadak dari segi pasangan dan lagu utama. Jadi akan lebih penasaran harusnya hak hak hak. Apalagi pasangan yang jadi pasangan darurat ini sebenarnya rada crack dan jarang ada yang tau hihik ~~~~ ohh dan lagunya.. lagu ini udah rada tua, 3 tahunan 😆

Oke, komen, like, dan teman-temannya saya tunggu 😀

Next : Nidoerrotilev – G – 9 votes

Couple_7 new blur

Advertisements

50 responses to “[Chamomile/Song Fic] How Came You Don’t Know?

  1. wach.., thor! ceritanya aku suka banget apalagi ama cast-nya 🙂
    emang dari dulu berharap ada ff yg cast nya si 2 Main Vocal ini-nich. hehe
    utk ceritanya keren abis dach. awalnya msih bingung gitu, tpi setelah baca+kepo abis, jdi dech ngerti 🙂 q juga mau Terima Kasih buat author :)) hehe

  2. aku pernah nulis FF dengan karakter utama ngalamin bipolar disorder,tapi alter ego gini baru nemu !!! Wuaaaah…kereeeen 🙂 betapa menyeramkannya D.O & polosnya Kyungsoo. Untung happy ending,nice ff ^^

  3. Daebak thot!! Ditunggu ff MinSoo yg lainx (gue bingung Minah sm D.O itu nama shierx gmn??) Like (y) Jjang thor 🙂

  4. Lagi-lagi aku speechless:’) KEREN BANGET BIPOLAR DISODER. AKU BARU TAU ADA ALTER EGO GITU. AKU TAUNYA CUMA KEPRIBADIAN GANDA._.
    Aku suka scene terakhir!<3 damai bgt!<3
    Ohiya, sebenernya dr dulu aku bingung. Author selalu bilang, 'terinspirasi dari…' atau 'aku langsung nangkep…' kaya yang ini. Dari lirik beberapa bait buat nentuin endingnya? Itu diliat dr mana ya? Aku mau coba juga;_;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s