THE PORTAL [ Part 12 : True Love ]

The Portal new

Title :

The Portal

 

Author : Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast :

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Good Witch

– INFINITE’s Kim Myungsoo / L as the Bad Witch

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy

 

Other Casts :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon as the most mysterious witch in Junghwa

– SNSD’s Kim Taeyeon as L’s Mother & Hyoyeon’s sister (good side : as Kim Haeyeon, Junghwa’s Headmaster)

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince in another Kingdom

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– Girl’s Day’s Bang Minah as Hoya’s partner

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– A Pink’s Park Chorong as Myungsoo’s best friend & Woohyun’s Girlfriend

– INFINITE’s Lee Sungyeol as Myungsoo’s best friend

 

Rating : PG15 – NC17

Type : Chaptered

 

Before Story :

Setelah melalui banyak hal di dunia nyata demi menyusul orang yang mereka cintai, Howon dan L rupanya ingin segera kembali pada tujuan utama mereka. Namun untuk mengakui identitas asli mereka bukanlah hal yang mudah karena masalah demi masalah terus saja bermunculan.

Skandal Hoya di lapangan sepakbola yang telah lalu rupanya tidak dianggap skandal biasa oleh publik, karena popularitasnya yang begitu tinggi, begitu banyak fans yang berusaha menyakiti Minah, yang terpaksa mengaku sebagai gadis yang bersama Hoya demi melindungi Eunji.

Di tengah rasa bersalahnya pada Minah, Hoya justru harus membuat fansnya semakin murka ketika pihak kompetisi dancenya menginginkan ia dan Minah untuk menjalankan kebohongan publik demi sponsor. Ia dan Minah harus tampil sebagai pasangan yang memang benar-benar ‘berpacaran dan saling mencintai’ agar banyak yang tertarik untuk menyaksikan mereka.

Keterpaksaan itu membuat Minah harus meminta izin kepada kekasih aslinya agar tidak terjadi kesalahpahaman. Dengan ditemani Hoya –yang sudah curiga bahwa kekasih Minah adalah D.O-, Minah mencari kekasihnya dan tanpa diduga-duga ia menemukan kekasihnya itu bersama Eunji. Dugaan Hoya benar, D.O telah menduakan Minah. Namun yang membuat lelaki itu marah adalah kelancangan D.O menjadikan Eunji sebagai selingkuhan. Tanpa pikir panjang, Hoya terpaksa menghancurkan citranya sebagai artis lagi dengan memukul D.O di muka umum meski dengan alasan demi Minah.

Di sisi lain, hal tersebut membuat Eunji kembali dipertemukan dengan Hoya. Seakan melupakan insiden mereka yang telah lalu, Hoya justru memberikan nomor ponselnya pada Eunji dan meminta agar Eunji menghubunginya jika gadis itu sudah mengakhiri hubungannya dengan D.O. apakah ini strategi Howon untuk kembali menyadarkan Hyerim bahwa ia masih memegang janji ‘cinta pertama’nya? Lalu apakah Eunji akan mulai menjalin hubungan baik dengan Hoya demi melupakan pengkhianatan D.O dan kegilaan Chorong terhadap dirinya?

Akankah Howon dan Hyerim cepat atau lambat akan dipertemukan kembali?

L, yang sudah menjalankan perannya sebagai Myungsoo dengan brilian hingga membuat Naeun cinta kepadanya sepertinya sudah tak sabar ingin mengungkapkan identitas aslinya. Lagi-lagi dengan dorongan dan provokasi ibunya, Taeyeon, L ingin menggunakan cara terjahatnya untuk membuat Yeoshin kembali tersiksa dan trauma seperti di masa lalu. Tak ingin terlalu terburu-buru, L mulai mengirimkan mimpi kepada istrinya itu. Meski demikian, rasa cinta Naeun yang sudah terlanjur besar membuat gadis itu masih belum juga mencurigai L bahkan tak menyadari bahwa dirinya akan segera hamil akibat perbuatannya dengan seseorang yang ia anggap Myungsoo tersebut.

Di lain sisi, Naeun tak bisa bahagia sepenuhnya karena ia kembali harus menelan pahit ketika tahu rahasia besar kakak angkatnya, Nam Woohyun. Tanpa ia kira, ternyata Woohyun mengidap sakit kanker tulang yang akan segera merenggut nyawanya disaat ia mulai jatuh cinta pada Chorong. Akankah Naeun melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Woohyun sekaligus kisah cinta lelaki itu dengan Chorong agar seniornya itu tak lagi mengharapkan Myungsoo ataupun Eunji? Dan apakah Naeun akan segera menemukan komposisi ramuan permintaan Sungyeol yang sepertinya mustahil ia ciptakan?

Bicara tentang Sungyeol, sang cenayang rupanya mulai tak sabar juga untuk segera menghancurkan L, terlebih saat ia tahu betapa sakitnya Chorong melihat kemesraan penyihir itu dengan Naeun. Sebagai sahabat yang baik, meski harus menerima sakit hati karena Myungsoo yang asli memilih Chorong daripada dirinya, Sungyeol tetap berada di sisi Chorong dan melindungi gadis itu. Namun disaat ia berniat untuk memberitahu realita yang ada kepada Chorong, ia malah harus bertemu dengan Yookyung, mantan kekasihnya yang datang dari Amerika.

Kehadiran Yookyung tak membawa masalah apapun bagi Sungyeol, namun justru membawa masalah serius bagi L ketika tahu gadis itu sepertinya bukanlah gadis biasa, begitu banyak pertanda mencurigakan bahkan teror halusinasi dari gadis itu kepada L. siapakah gerangan Hong Yookyung sebenarnya? Jika ia memang bukanlah turunan cenayang seperti Sungyeol, mengapa ia seakan tahu siapa L sebenarnya?

Dan… apakah benar L telah mengakui identitasnya di depan Eunji?

Apakah part ini akan menjawabnya?

 

Selengkapnya :

Part 1 : I Hate My Life

Part 2 : Big Decision

Part 3a : I Will Find You | 3b : You Will Find Me

Part 4 : Another Me

Part 5 : Over Protective?

Part 6 : Faithfulness

Part 7 : Something New

Part 8 : The Hidden Truths

Part 9  : Unpredictable

Part 10 : The Scandals | +NC Scene (password : stroberi)

Part 11 : Reality

 

Sorry for late update. Happy reading! ^^

***

 

Author POV

 

“ Tolong sup ayamnya dua mangkuk lagi. Terimakasih.”

“ Naeun, kau sudah gila!? Kau sudah makan enam mangkuk dan masih mau pesan dua lagi!?” Eunji terkejut ketika Naeun kembali memesan menu yang sama, padahal ia ingin cepat-cepat pergi dari kantin karena sejak tadi Myungsoo –atau L- terus memandangnya dengan tatapan mengintimidasi, sepertinya penyihir itu tak ingin bersandiwara lagi di depan Eunji, hanya di depan Naeun saja ia kembali manis seperti Kim Myungsoo.

Eunji sendiri sebenarnya masih belum percaya, pikirannya terus berusaha mengingkari keberadaan penyihir jahat itu di dunia nyata. Ia takut, bukan takut dirinya yang celaka, melainkan Naeun. Bagaimana jika dugaannya selama ini benar?

“ Kau takut kehabisan darah ya? Mianhae.. aku ketagihan sekali makan sup ayam hari ini, padahal ini bukan makanan kesukaanku.”bisik Naeun polos.

Eunji gelisah, matanya masih saja terlibat kontak dengan Myungsoo yang duduk disamping Naeun.

“…ya! Eunji-ah, aku minta lagi darahmu. Ayo kita ke toilet lagi.”bisik Naeun mengulang permintaannya, tetap masih berbisik karena tak ingin Myungsoo mendengarnya.

Myungsoo, yang tahu istrinya lagi-lagi ingin mengambil darah Eunji akhirnya berdiri agar mereka tak lagi berbisik-bisik, lagipula sejak tadi ia sudah puas melihat wajah Eunji yang memucat karena dirinya.

“ Aku pergi sebentar, ada urusan.”pamit Myungsoo, membuat Eunji bernafas lega selega-leganya.

“ Mau kemana?”tanya Naeun sedikit kecewa.

“ Nanti aku kembali.”Myungsoo tak menjawab pertanyaannya, lelaki itu segera berjalan keluar dari kantin setelah sekali lagi tersenyum misterius kearah Eunji.

“ Mungkin kepala sekolah memanggilnya.”kata Naeun, yang seperti biasa selalu berpikir positif tentang Myungsoo. Gadis itupun kembali pada Eunji yang akan ia minta lagi darahnya.

“…astaga! Aku terlalu dalam menggoresnya. Maaf, Hyerim..”

“…”

“ Hyerim? Kau tidak kesakitan?”

“ Hah? Eh.. t..tidak..” Eunji tersadar, sedikit terkejut melihat pergelangan tangannya yang kini berlumuran darah akibat Naeun menyiletnya terlalu dalam. Namun ia sama sekali tak merasakan sakitnya, semua sarafnya bekerja untuk memikirkan tatapan misterius Myungsoo serta mencerna bisikan lelaki itu beberapa saat yang lalu.

 

“ Ada apa, putri Jung Hyerim? Mencurigaiku?”

 

Ini gila. Benarkah perkataan itu keluar dari bibir Myungsoo? Atau hanya bayangan Eunji saja? Jika hanya bayangan Eunji saja, mengapa setelah berkata seperti itu Myungsoo jadi terus-terusan menatapnya selama Naeun makan? Sebetulnya Eunji tak mau menuduh sembarangan, tapi Myungsoo terlalu mencurigakan.

“ Aduh, darahnya tidak berhenti keluar.. bagaimana ini?”Naeun panik karena pergelangan tangan Eunji masih saja mengeluarkan darah hingga menetes di lantai.

“ Sudah, penuhi saja botolmu. Tidak apa-apa..”jawab Eunji pasrah, lagipula kelihatannya Naeun masih kelaparan.

“ Nanti kau kekurangan darah..”

“ It’s okay. Aku bisa minum obat nanti.”

Naeun pun kembali melanjutkan kegiatannya mengambil darah Eunji, dan sang pemilik darah sama sekali tak meringis karena masih saja berpikir tentang Myungsoo barusan.

“ Myungsoo sunbae baik sekali kan mau menemaniku makan, dia juga perhatian sekali saat tahu aku sedang tidak enak badan hari ini.”Naeun mulai bercerita.

“ Kau sedang tidak enak badan? Apa yang terjadi?”

“ Ng.. semalam aku mual dan muntah beberapa kali.”

“ HAH? Kau ham… eh, maksudku.. bagaimana bisa?”

Baiklah, Eunji harus menahan dirinya untuk menghindari perselisihan meski rasa curiganya sudah sampai ubun-ubun.

“ Mungkin karena jalan-jalan dengan Woohyun oppa kemarin aku jadi masuk angin..”jawab Naeun enteng, sepertinya gadis itu memang tak akan pernah sudi mencari tahu dirinya hamil atau tidak, mimpi dari L itu sudah cukup membuatnya trauma.

“ Penyihir bisa masuk angin?”Eunji tertawa pahit karena tahu Naeun sedang mengingkari firasatnya.

“ Oh iya, kudengar kau sudah putus dengan D.O sunbae, apa itu benar?”tanya Naeun kemudian, mengalihkan pembicaraan sebelum Eunji bertanya lebih jauh soal mualnya semalam.

Eunji mengangguk, “ Aku baru tahu dia adalah pacar Minah.”

“ Hah? Dunia ini sempit sekali, bukankah Minah adalah gadis yang menutupi kasusmu dengan artis bernama Hoya itu?”

“ Ya. Aku jadi merasa bersalah pada Minah.”

“ Sudahlah.. setidaknya kau bisa mendapatkan pelajaran dari ini semua.”

“ Pelajaran apa?”

“ Pelajaran bahwa karma itu pasti berlaku. Kau mengkhianati Howon, maka kau juga pasti dikhianati oleh orang lain.”

Eunji tersenyum getir. Seandainya saja ia bisa bertukar posisi dengan Naeun, mungkin masalah mereka masing-masing akan segera terungkap dan terselesaikan. Sebab Eunji lebih peka terhadap masalah Naeun, dan Naeun lebih peka terhadap masalah Eunji. Kedua gadis itu justru tak peka dengan masalah mereka sendiri.

“…tapi sekarang aku jadi bingung. Saat masih dengan D.O sunbae saja kau masih digoda oleh Chorong sunbae, apalagi jika kau tidak punya kekasih sama sekali..”

“ Jadi maksudmu aku harus mencari kekasih baru lagi?”

“ Tidak..tidak begitu. Aku tak mau karma terjadi lagi padamu. Kau tidak perlu mengkhianati Howon lagi untuk menghindari Chorong sunbae.”

“ Lalu apa yang bisa kulakukan? Aku sudah lelah menunggu Howon yang tidak mungkin datang ke dunia ini.”

“ Justru kau harus percaya kalau Howon pasti bisa menyusulmu kesini.”

“ Ya, begitu juga dengan L.”

“ Apa katamu?”

“ Tidak, lupakan. Ng.. aku mau ke UKS sebentar, minta obat dan perban.”Eunji buru-buru mengalihkan pembicaraan meski seharusnya ia memberi peringatan pada Naeun untuk curiga, tetapi ia tahu Naeun pasti akan memusuhinya lagi jika ia nekat berbicara buruk tentang Myungsoo.

“ Yah.. Myungsoo pergi, kau pergi. Aku sendirian disini.”

“ Sebentar saja. Makan saja dulu sendiri, siapa tahu Woohyun sunbae datang menemuimu.”

“ Aniya.. dia tidak masuk sekolah hari ini.”

“ Mwo? Kenapa?”

“ Dia sak… ng.. tidak, sudah sana ke UKS!” sekarang malah Naeun yang menyuruh Eunji untuk segera pergi, daripada ia kelepasan bercerita tentang penyakit parah Woohyun.

********

 

“ Krystal? Krystal!?”

Seorang pemuda itu nampak celingukan saat baru saja terbangun dari tidurnya, mencari-cari sosok gadis yang biasanya membangunkannya dengan cara menarik rambutnya.

Kai, pemuda itu. Ia menoleh ke arah pintu seraya mengucek matanya, wajah tampannya mendadak menganga ketika sadar bahwa pintu itu terbuka lebar.

Krystal keluar dari menara? Ajaib. Padahal ia dengar dari Daehyun selama ini Krystal sama sekali tak pernah keluar dari puncak menara. Mengapa tiba-tiba gadis itu mau membuka pintunya?

*

“ Aaaaaaaa!!!!!! Huaaaaaa!!!! Lepaaaaas!!! Aaaaaaa!!!”

“ Ambil tali dan saputangan!!”

“ YA! Cepat ikat kaki dan tangannya lalu tutup mulutnya!”

Krystal semakin berontak ketika para pelayan istana menahan tubuhnya kuat-kuat bahkan memperlakukannya seperti tawanan, baru kali ini para pesuruh itu tak sopan pada tuan putri mereka sendiri, tentu saja karena yang menitahkan mereka untuk melakukannya adalah Raja dan Ratu.

Sepasang pemimpin negeri Junghwa itu kini ada di ambang pintu, menatap pasrah kearah putri bungsu mereka yang mengamuk tak karuan karena akan didandani. Seandainya saja Krystal waras, tentu ia tak perlu seperti ini jika diminta untuk bersolek.

“ Apa kau yakin Baekhyun tidak akan tahu?”

“ Aku yakin.”

Ratu Seohyun masih saja risau dengan ide Raja Yonghwa, kasihan juga dengan anaknya yang kini harus mengamuk seperti orang kesurupan karena akan dimake over.

“ Sekarang dimana pangeran itu?”tanya sang satu.

“ Dia masih tidur, luka-lukanya cukup serius dan dia sangat kelelahan.”

“ Aku masih tidak habis pikir mengapa ia sampai mengalami hal seperti ini. saat dia bangun kita harus menanyainya.”

“ Biar saja Krystal yang melakukannya.”

“ Kau..yakin?”

********

 

“ Ah, ada! syukurlah..”

Eunji sedikit berjinjit  untuk mengambil alkohol dan perban dari dalam lemari P3K yang tertempel di UKS. Darah dari pergelangan tangannya masih mengucur bahkan menodai seragamnya.

“ Yaaa! Mengapa tinggi sekali! Atau aku saja yang pendek?” Eunji nampak mati-matian berusaha menggapai gulungan perban dan botol alkoholnya, namun sebelum ia berniat untuk naik ke atas kursi, satu tangan telah menyambar dua benda incarannya itu.

“…ya! Terimakas….” baru saja Eunji hendak berterimakasih, ucapannya terhenti ketika tahu siapa pemilik tangan itu.

Kim Myungsoo.  Baiklah, meski Eunji sudah sembilan puluh lima persen yakin bahwa lelaki didepannya ini adalah penyihir biadab itu, Eunji masih tak berani menyebut nama aslinya.

“…a..ambil saja itu, aku tidak jadi.. p..permisi.”Eunji memilih untuk menghindar saja ketika sadar tatapan lelaki itu sama sekali tak biasa, lebih mengintimidasi dari sebelumnya saat mereka masih bersama Naeun. Sebenarnya apa maksudnya? Ingin membunuh Eunji pelan-pelan dengan cara seperti ini?

Eunji mulai melangkah menuju pintu keluar UKS dengan kepala menunduk ketakutan, namun baru dua langkah ia menjauh dari Myungsoo, lelaki itu berbalik dan dengan sigap menangkap pergelangan tangannya yang berdarah hingga membuat Eunji hampir menjerit keras karena genggaman erat lelaki itu membuat lukanya semakin perih.

“ Mau kemana, tuan putri?”

Jantung Eunji semakin berdebar tak karuan, ternyata begini rasanya berhadapan dengan L, pantas saja Naeun trauma luar biasa.

L mulai menariknya untuk kembali berhadapan, melepaskan genggamannya bahkan menjilati darah Eunji yang tertinggal di jemarinya, membuat Eunji merinding dan bergidik ngeri.

“ Kapan lagi aku bisa mencicipi darah keturunan Raja Junghwa kalau bukan sekarang? Hahaha..”

Eunji semakin gemetar hebat, masih tak percaya harus dihadapkan oleh situasi seperti ini. Ingin berteriak, ia takut L yang sudah memain-mainkan tongkat sihir didepannya itu akan langsung membunuhnya.

“ B..bagaimana kau bisa kesini?”

“ Hahaha..bagaimana ya? Aku lupa, mungkin karena aku sudah terlalu lama bersandiwara disini bersama orang-orang bodoh seperti kalian.”

Sekarang Eunji jadi menyesal. Perkataan L memang benar, dan ia adalah salah satu dari orang-orang bodoh yang sekian lama percaya bahwa penyihir jahat ini adalah Kim Myungsoo dengan segala kesempurnaannya. Jika sudah begini, Eunji tak bisa berbuat apa-apa lagi karena Naeun sudah terlanjur jatuh cinta pada orang yang ditakutinya.

“ Apa maumu, L? kumohon, pergilah dari hidup kami, terutama Yeoshin. Kembalilah ke Junghwa..~” Eunji mulai menangis, tak bisa membayangkan betapa terkejutnya Naeun jika suatu saat sahabatnya itu tahu siapa Myungsoo sebenarnya.

“ Mana mungkin aku pergi dari kalian. Apalagi Yeoshin, aku suaminya. Jika aku meninggalkannya, siapa yang akan menjadi ayah dari anak yang dikandungnya saat ini, hm?”

Eunji tersentak. Benar. Naeun benar-benar sedang hamil sekarang, hanya saja ia sama sekali belum sadar karena terlalu berpikir positif tentang Myungsoo. Ini gila, L begitu pandai memainkan perannya sebagai Myungsoo hingga Naeun terjerat dan rela menyerahkan harga dirinya. Eunji tak yakin apakah Naeun masih bisa bernafas jika suatu saat menyadari hal ini.

“…kenapa diam, putri Jung Hyerim? Seharusnya kau beri ucapan selamat atas buah pernikahan kami. Hahahaha.”

“ Oh ya? Baiklah, aku akan beri ucapan selamatku pada Yeoshin terlebih dahulu!” ucap Eunji tegas, ia segera melangkah untuk keluar dan mencari Naeun.

“ Hei hei hei hei.. tuan putri, kau nekat ingin memberi tahu Yeoshin? Apa kau tidak tahu bahwa semua orang lebih memilih mati daripada berurusan denganku?” L kembali menarik pergelangan tangan Eunji dengan jauh lebih keras dan kasar dari sebelumnya, bahkan sang penyihir menjatuhkan gadis itu ke lantai dan menginjak pergelangan tangannya yang masih terluka keras-keras, membuat gadis itu semakin merintih kesakitan karena lukanya semakin melebar dan perih luar biasa. L benar-benar tidak manusiawi. Seandainya ia berada di negeri Junghwa, cara tersulitpun akan ditempuh raja Yonghwa untuk membunuh penyihir ini, tentu karena tak seorangpun berani melukai anak raja.

“ Biadab! Seandainya aku adalah Kim Hyoyeon, sejak kau lahir aku langsung membunuhmu!! Kau tidak pantas untuk gadis sebaik Yeoshin!!” umpat Eunji keras dan parau, namun membuat L tertawa puas.

“ Terimakasih, tuan putri.  Terimakasih karena telah mengakui kejahatanku. Dan.. terimakasih juga atas sebelas peti emas keluargamu, aku jadi tahu bagaimana rasanya jadi orang kaya. Hahahahaha!”

Eunji semakin tersentak, kali ini rasanya seperti ingin mati. Setelah sekian lama tak tahu siapa sebenarnya pencuri sebelas peti emas di istananya, akhirnya sang pelaku mengakuinya sendiri. Rasa benci Eunji semakin bergejolak, jika L tak mencuri peti emas istananya dan membuat keluarganya bangkrut, mungkin ia tak akan punya pikiran untuk kabur ke dunia nyata.

“ BRENGSEK!!! Kau harus mati, L! Kau harus mati!!!!!” teriak Eunji histeris lalu menangis sekeras-kerasnya, tak habis pikir mengapa ada makhluk sejahat L di dunia ini, yang tak hanya menyakiti sahabatnya namun juga membuat keluarganya menderita. Seandainya saja ia bisa menjadi Kim Hyoyeon dalam sehari, hal yang akan dilakukannya pertama kali tentu saja membunuh L dengan cara terkeji yang pernah ada, ia tahu hanya Hyoyeon yang bisa menghentikan L, karena hanya penyihir itu yang memiliki kekuatan lebih dari L.

“ Kau ingin aku mati? Baiklah, bunuh aku sekarang. Bunuh aku.. hahaha!” L tertawa remeh dan membiarkan Eunji menangis sekeras-kerasnya.

“…yang ada malah kau yang akan mati jika kau membocorkan identitasku pada Yeoshin, Jung Hyerim. Atau jika kau masih ingin hidup, aku bisa membunuh orang-orang yang kau cintai, termasuk Lee Howon.”

“ Howon?” Eunji terdiam dan kembali berdebar saat mendengar nama itu, gadis itu menggeleng kuat dengan air mata yang terus menitik.

“…jangan..jangan bunuh dia! Jangan bunuh Howon.. kumohon..”

*

 

Seorang ‘gadis’ yang ternyata sejak tadi berdiri di depan jendela UKS semakin kuat mengepalkan tangannya, semakin tak sanggup menyaksikan kekasihnya diperlakukan sedemikian jahat oleh L. Rasa bersalah dan rasa takutnya berlomba-lomba menguasai dirinya yang masih bimbang apakah harus menyaksikan adegan kekerasan itu sampai habis atau datang untuk menolong, ia masih mengumpulkan nyalinya untuk berhadapan dengan L.

Namun saat mendengar namanya disebut oleh Eunji, hatinya kembali berdesir, tak menyangka gadis itu masih ingat bahkan peduli padanya. Melihat Eunji yang nampak memelas dan memohon-mohon pada L agar penyihir biadab itu tak membunuh Howon membuat Jiwon merasa tak punya alasan lagi untuk berdiam diri di depan jendela.

Setelah menarik nafas dalam-dalam, Jiwon alias Howon mulai melangkah mendekati pintu UKS, berharap tidak ikut gemetaran di depan L.

“ K..kalian sedang a… ehm, kalian sedang apa!?” Jiwon berdiri di ambang pintu dan bertanya seakan tak tahu apa-apa, membuat L yang berdiri membelakanginya terkejut dan segera memberdirikan Eunji yang masih ia injak tangannya.

“ Jiwon?” Eunji segera menghapus airmatanya dan menahan diri untuk tidak meringis meski lukanya semakin sakit, satu sisi merasa beruntung karena sengaja ataupun tidak Jiwon sudah menolongnya.

“ Tumben sekali kalian berdua saja, biasanya ada Yeos…eh, Naeun.”kata Jiwon lagi, berusaha menahan emosinya yang sudah hampir meledak karena melihat wajah L yang nampak tak suka dengan kedatangannya.

“ Apa di kelas sudah ada guru?” Eunji mengalihkan pembicaraan.

“ Sebentar lagi guru masuk, sana ke kelas. Aku mau ambil obat dulu disini.”jawab Jiwon, Eunji menurut dan buru-buru hendak berlari keluar dari UKS, namun tak disangka L kembali menarik tangannya dan berbisik ke telinga gadis itu

“ Kalau kau rindu dengan Kim Taeyeon, kau bisa menemuinya di ruangan kepala sekolah. Hahahahaha…”

Wajah Eunji semakin memucat, “ J..jadi.. kepala sekolah juga adalah……”

“ Sudah sana ke kelas.” Myungsoo langsung mendorong Eunji untuk segera keluar, membiarkan gadis itu syok sendiri entah sengaja atau tidak karena jelas-jelas ia tahu Howon sudah berdiri di dekatnya, menahan emosi.

Dan sekarang, sepeninggal Eunji, kedua lelaki itu saling bertatapan.

BUK! BRUK!

Tak ingin berbasa-basi, dengan segala keberanian yang sudah terkumpul Jiwon memukul wajah tampan L keras-keras. Tak sampai disana, Jiwon mendorong L ke dinding lalu menarik kerah baju sang penyihir dengan emosi, entah setan apa yang merasukinya sampai-sampai ia nekat berbuat seperti ini pada orang yang notabene paling berbahaya di negerinya.

L menatapnya, meski ujung bibirnya yang sudah membiru dan berdarah penyihir tampan itu masih bisa tersenyum bahkan tertawa mengejek kearah Jiwon.

“ Pukul aku sepuasmu sebelum kau mati mengenaskan ditanganku, Lee Howon. Silahkan.”ucapnya santai.

BUK!

Tak kalah santai, Jiwon benar-benar memukul L lagi, bahkan lebih keras dari sebelumnya hingga membuat ujung mata elang penyihir tampan itu membiru dan tentu saja mengeluarkan darah. Tak ingin tanggung-tanggung, Jiwon melayangkan pukulannya berulang-ulang.

“ Silahkan bunuh aku setelah ini, asal jangan pernah sakiti Hyerim lagi!”

“ Hahaha. Kau yakin? Tidak sayang dengan karirmu?”jawab L, membuat Jiwon tak habis pikir karena meski sudah babak belur penyihir itu masih bisa menertawainya.

“ Tidak, aku hanya sayang dengan Hyerim.”

“ Kau menyayangi orang yang sudah mengkhianatimu.”

BUK!

Jiwon kembali melayangkan pukulannya yang paling keras.

“ Dia tidak mengkhianatiku!”

“ Jiwon!!? Apa-apaan kau hah!!??”

Jiwon menghentikan aksinya ketika mendengar suara seorang perempuan di ambang pintu UKS, gadis itu nampak terkejut melihat apa yang telah diperbuatnya, terlebih ketika Jiwon sadar kepalanya masih terpasang wig, tidak seharusnya ia memukuli L dalam keadaan pintu UKS terbuka.

Gadis itu, Son Naeun.

***

 

“ Semoga tidak ketahuan..”

Selesai mandi, tanpa membuang waktu Kai memanfaatkan kesempatannya keluar dari menara saat ia tahu pintunya masih terbuka. Para pengawal yang berjaga nampak tak ada, sepertinya mereka semua sedang membantu para pelayan istana mengendalikan Krystal yang masih mengamuk di ruang rias istana.

“ Astaga.. istananya besar sekali, aku jadi bingung harus kemana.”Kai celingukan, mengedarkan pandangannya ke sekitar dan mencoba memilih lorong mana yang sebaiknya ia masuki.

“…Krystal..kau dimana sih?” desis Kai pelan sembari memasuki sebuah lorong yang dipilihnya dan memeriksa tiap-tiap ruangan.

“ Krystal di ruang rias.”

“ Astaga!” Kai terkejut ketika mendengar seseorang menjawab pertanyaannya, ketika ia berbalik, ia mendapati sosok gagah pangeran Daehyun sedang tersenyum geli kearahnya.

“ Sudah kuduga kau akan mencari Krystal, ternyata benar kan.”

“ Aku..aku hanya bingung dia kemana, kan tidak biasanya dia keluar menara, apalagi katamu dia memang tak pernah keluar sama sekali. Jadi jangan bunuh aku ya, aku..aku akan kembali ke menara atau ke penjara sekarang..”Kai menjelaskan panjang lebar karena sudah panik.

“ Hahaha.. tenang. Mana mungkin aku membunuh orang yang sudah mengembalikan senyuman adikku. Terimakasih banyak, Kim Jongin..” Daehyun malah menepuk bahu Kai bahkan membungkukkan badan tegapnya dengan sopan hingga membuat Kai malu sendiri.

“ Aku tidak melakukan apapun, Krystal tersenyum karena dia menginginkannya.” jawab Kai sok bijak, dalam hati merasa bangga karena seorang pangeran saja membungkukkan badan kepadanya.

“ Tapi kalau bukan karenamu, dia tak akan mau tersenyum.”jawab Daehyun, “…hmm.. bisa kita mengobrol sebentar?”

“ Mengobrol? Ooh.. bisa. Dimana? Di ruang makan?”

“ Ooh.. kau lapar rupanya.”

“ Eh.. b..bukan begitu.”Kai mendadak malu, “…duh, salah bicara lagi..”

“ Hahaha, tak apa. Aku mengerti, ayo kita makan.” Daehyun segera melangkah menuju ruang makan diikuti Kai.

Hingga ketika Kai masih menyusuri lorong istana, matanya tertuju pada sebuah kamar berpintu kaca, nampak seorang lelaki terbaring dengan perban yang hampir melilit di sekujur tubuhnya.

*

“ Dia pangeran Baekhyun dari negeri Gwangdam, pria yang mau dijodohkan dengan Hyerim, putri kami yang hilang. Kami tak tahu ternyata sudah puluhan hari dia mengembara menuju kesini untuk melamar Hyerim.”

Kai pura-pura baru paham saat mendengar penjelasan Daehyun, setelah itu lebih fokus pada segunung makanan yang sedang disantapnya daripada kelepasan dan berkata bahwa ia pernah bertemu Baekhyun sebelumnya.

“ Tapi kenapa dia sampai sakit begitu?” Kai yang tadinya ingin diam malah bertanya lagi karena sepertinya ia harus tahu hal itu.

“ Kami juga tidak mengerti, dia datang dalam keadaan setengah sadar. Kalau dia sudah sadar kami baru menyuruh Krystal untuk menanyakannya.”

“ Krystal?”

“ Ya. Karena Hyerim tidak ada, jadi Raja ingin Krystal berpura-pura menjadi Hyerim agar Baekhyun tidak kecewa saat ia sadar nanti. Makanya sekarang Krystal sedang didandani sedemikian rupa agar menyerupai Hyerim.”

EHEK!!

Kai mendadak tersedak mendengarnya, membuat Daehyun terpaksa mengambilkannya minuman untuk kedua kalinya.

“ Hei, kau kenapa?”Daehyun bingung.

Kai menggeleng saja sambil terus meneguk air minumnya sampai habis, airmatanya sampai meleleh, bukan karena duri ikan yang tersangkut di tenggorokannya, tetapi karena sudah bisa menarik kesimpulan bahwa ‘Krystal yang akan dijodohkan dengan Baekhyun’.

“ Sudah baikan?”tanya Daehyun memastikan.

Kai mengangguk cepat, “ Mianhae.. aku terburu-buru makannya, hehe.”

“ Tak apa-apa. Hmm.. selesai makan, kau ganti pakaian ya.”

“ Mwo? Ganti pakaian..apa?”

“ Setelah kupikir-pikir, mengingat kau sudah mengembalikan senyuman Krystal, kau tidak pantas jadi tawanan lagi.”

“ Lalu pantasnya jadi apa?”

“ Pengawal.”

“ HAH!?” Kai terkejut, entah senang atau merasa terhina.

“ Kenapa? Kau akan dapat gaji setiap bulan.”

“ I..iya sih, tapi..”

“ Tapi apa? Ayolah.. kau cocok jadi pengawal, badanmu lumayan bagus. Kau akan menjadi pengawal termuda di istana ini, menggantikan Lee Howon.”

“ Lee Howon? Siapa?”

“ Dia pengawal termuda di istana ini, tapi dia pergi mencari putri Hyerim dan sampai sekarang juga belum kembali, kami sudah yakin dia pasti sudah dibunuh oleh L di tengah jalan. Jadi kami sampai mengadakan upacara kematian untuknya.”

“ Hah? Eh.. tunggu..tunggu dulu. Seperti apa orangnya? Siapa tahu aku pernah bertemu dengannya di dunia nyata.”

“ Dia tampan, badannya kekar, dan.. senyumnya sangat manis.”

“ Itu sih aku banget, eh..”Kai kelepasan lagi, entah mengapa berlama-lama tinggal di istana membuatnya semakin konyol dari hari ke hari.

Daehyun tertawa, “ Ya, kau juga seperti itu, jadi kau harus menggantikannya sebagai pengawal disini.”

Kai menggaruk pelipisnya, ragu. “ Apa tugas pengawal itu berat?”

“ Tergantung bagaimana kau menjalaninya.”

“ Baiklah..” Kai pasrah, mungkin jika ia menjadi pengawal, hidupnya akan jauh lebih baik daripada di dunia nyata.

 

“ Semoga tugasku hanya menjaga Putri Krystal setiap hari.”

***

04.00 PM

 

“ Gila, Jiwon itu perempuan kan? Kenapa dia kasar sekali.. Myungsoo sunbae saja babak belur dibuatnya, sialan.”

Sore itu Naeun tengah mati-matian menyisir rambutnya yang kusut akibat berkelahi dengan Jiwon. Sebenarnya ini salahnya karena ia yang memulai duluan, ia hanya tak terima melihat kekasihnya –Myungsoo- yang dibuat babak belur oleh siswi bertubuh kekar itu, akhirnya ia mengajak Jiwon berkelahi. Ck, kepribadian baik seorang Son Yeoshin sepertinya mulai memudar di dunia nyata, kecintaannya pada Myungsoo membuatnya nekat melakukan apapun untuk melindungi lelaki itu.

Eunji yang tengah sibuk menambah perban di lukanya dan melihat Naeun yang sedang sibuk menyisir itu tak habis pikir, untuk apa Jiwon memukuli … L? apa karena Jiwon tahu Eunji disakiti oleh lelaki itu? Tapi mengapa Jiwon sampai senekat itu? Bukankah ia hanya teman biasa bagi Eunji?

Tapi setidaknya Eunji bisa tersenyum dan menertawai L dalam hatinya karena sengaja tak sengaja Jiwon sudah membalaskan rasa sakitnya tadi siang meski ujung-ujungnya harus berkelahi dengan Naeun yang ngotot membela Myungsoo. Namun tentu saja Eunji masih harus berpikir bagaimana caranya agar Naeun segera tahu siapa Myungsoo sebenarnya, ia sama sekali tak berani mengatakannya secara langsung karena L sudah mengancam akan membunuh Howon jika ia nekat membocorkan ini semua pada Naeun.

“ Kau tidak tanya pada Jiwon kenapa dia sampai memukuli Myungsoo sunbae?” tanya Eunji.

“ Tentu saja aku tanya, tapi dia tidak jawab, Myungsoo sunbae juga tidak jawab.”

“ Mencurigakan.”

“ Maksudmu?”

“ Eh, tidak..tidak.”Eunji bahkan tak berani mengarahkan pembicaraannya agar Naeun tahu kejadian di UKS tadi siang, bebannya begitu berat jika harus menyebut nama L di depan sahabatnya ini. Selain dibayang-bayangi ancaman, Eunji juga yakin Naeun tak akan percaya dan akan memusuhinya.

“ Hmm.. eh, lukamu kenapa melebar begitu?” Naeun heran melihat luka sayatan silet di pergelangan tangan Eunji yang semakin parah saja.

“ Ng.. tadi saat aku mau ke UKS tanganku ditarik D.O sunbae, jadi begini..” jawab Eunji berbohong, mana mungkin ia bilang lukanya semakin parah karena L menariknya bahkan menginjaknya.

“ Astaga.. jadi D.O sunbae masih ngotot mengharapkanmu? Sudahlah, jangan mau.”

“ Jadi kau benar-benar sudah putus dengan D.O? senang sekali mendengarnya.”

Chorong yang baru saja masuk ke kamar dan mendengar pembicaraan tersebut nampak berseri-seri dan duduk di samping tempat tidur Eunji.

“ Astaga, aku lupa kita sekamar dengan orang ini.”bisik Eunji, Naeun tertawa miris karena kelihatan sekali Chorong masih mengharapkan Eunji.

“ Benar kan apa kataku? Semua laki-laki sama saja, makanya aku tak pernah suka dengan mereka.”kata Chorong lagi, Eunji mengangguk saja.

“…hei, tanganmu kenapa??” Chorong mendadak khawatir melihat perban yang melilit di tangan Eunji.

“ Tidak apa-apa, hanya kecelakaan kecil. Sudah diobati kok.”jawab Eunji seadanya.

“ Benar? Ya ampun.. lain kali hati-hati. Dan kalau mau ganti perban, bilang sunbae ya..”

“ Perhatian sekali.”sindir Naeun pelan, “…Nam Woohyun bahkan jauh lebih parah daripada itu.”

“ Aku mendengarmu, Son Naeun.”ucap Chorong.

“ Bagus kalau sunbae dengar. Mau ikut denganku? Aku mau pulang ke rumah, Woohyun oppa masih istirahat disana, kemarin sakitnya kumat.”

“ Hah? Kumat? Eh.. eng..sana pulang sendiri, aku tidak peduli. Lagipula aku lelah baru pulang ekskul.”

“ Keterlaluan.”Naeun mendengus kesal dan berdiri mengambil tasnya.

“ Hei, ada apa sih? Woohyun sunbae kenapa?”Eunji tak mengerti, pasti ini ada hubungannya dengan rahasia Woohyun dan Chorong yang selama ini ingin ia ketahui.

“ Dia hanya kena kanker tulang dan sebentar lagi akan mati.”jawab Chorong santai.

Eunji terkejut setengah mati.

“ Hei, sunbae bilang..hanya?!”

***

Kediaman keluarga Nam, 04.30 PM

 

“ Jadi kau berkelahi dengan siswi Lee Jiwon sampai rambutmu kusut begini? Baiklah.. besok akan kupindahkan kamarnya ke gudang asrama putra seperti Eunji dulu.”

“ Ya! Tidak perlu oppa..” Naeun panik karena reaksi Woohyun begitu cepat saat ia mengadu soal kejadian tadi siang, “…lagipula aku yang salah, aku yang mengajaknya berkelahi duluan.”

“ Hah? Jadi kau yang memulai? Memangnya ada masalah apa?”

“ Aku menemukan Jiwon memukuli Myungsoo sunbae sampai babak belur di UKS, makanya aku marah.”

“ Apa?? Apa aku tidak salah dengar?”

“ Tidak. Aku serius, oppa. Aku tak tahu apa masalahnya, yang jelas itu keterlaluan, makanya aku membalas perlakuan Jiwon.”

“ Aneh.. kalau Myungsoo memang siswa baik-baik seperti labelnya selama ini, mengapa ada orang yang sampai memukulinya?” Woohyun tak habis pikir, namun perhatiannya lebih fokus kepada Naeun.

“…sudahlah, lain kali jangan ulangi lagi. Kalau kau masih mengulangnya, oppa benar-benar tak akan mengizinkanmu berhubungan dengan Myungsoo lagi.”

“ Ya! Andwae oppa. Arasseo, aku tidak akan mengulanginya lagi.”jawab Naeun cepat, setelah itu mengalihkan pembicaraan.

“ Bagaimana keadaanmu sekarang? Sudah baikan?”

“ Seharusnya bisa lebih baik kalau Chorong ikut kesini, tapi dia tidak datang.”

Naeun jadi kasihan kalau sudah begini, “ Ah.. sudahlah. Chorong sunbae baru pulang ekskul tadi, jadi dia kelelahan. Mungkin besok dia baru bisa kesini. Hmm.. apa dokter oppa sudah datang hari ini?”

“  Sebentar lagi datang. Nah.. itu dia dokter Hong.”Woohyun menatap pintu kamar mewahnya yang terbuka karena dokter pribadinya sudah datang, bahkan pria separuh baya itu datang bersama seorang gadis cantik berambut coklat pendek di belakangnya.

“ Selamat sore, tuan muda Nam Woohyun. Bagaimana keadaanmu? Apa obat dariku sudah diminum?” tanya dokter Hong, Woohyun mengangguk dan melihat kearah gadis cantik yang berdiri disamping sang dokter.

“ Hai, Yookyung. Masih ingat denganku?”

“ Tentu saja, kau pacar Chorong kan? Aku turut prihatin dengan penyakitmu, semoga kau bisa sembuh, demi Chorong.”

Naeun mendengarkan pembicaraan kecil mereka, rupanya Woohyun kenal juga dengan Yookyung. Tentu, sebagai kekasih Chorong, Woohyun juga masuk ke dalam lingkaran pertemanan Yookyung.

“ Ya. Terimakasih, Kyung.. oh ya, kenalkan.. ini adik angkatku.”Woohyun mengenalkan Naeun pada Yookyung, kedua gadis itu langsung saling tersenyum dan berjabat tangan.

 “ Kau pasti Son Yeo.. eh, maksudku.. Son Naeun.”Yookyung menebak, membuat Naeun terkejut.

“ Mwo? Bagaimana kau tahu?”

“ Hmm..”gadis itu terlihat berpikir sejenak, “…Myungsoo bercerita tentangmu saat private dinner dua hari yang lalu.”

“ Ooh.. jinjja? Wah, kalau begitu kau pasti mantan kekasih Sungyeol sunbae, kan? Eh..”

“ Hahaha. Kau benar, aku Hong Yookyung. Kebetulan aku anak dari dokter Hong.”

“ Son Naeun. Ng.. eh..” Naeun merasakan ada yang sedikit aneh saat menjabat tangan Yookyung, entah mengapa sekujur tubuhnya mendadak merinding dan seluruh permukaan kulitnya meremang.

Rasanya sama persis saat pertama kali ia berhadapan dengan Kim Hyoyeon.

***

 

“ Kau mau kemana setelah ini?”

“ Aku mau pulang.”

Minah begitu heran dengan sikap Hoya sore ini, seharusnya ia yang lebih kelihatan galau karena putus dengan D.O kemarin, tetapi mengapa hari ini Hoya kelihatan lebih murung darinya?

“ Ada yang menunggumu di rumah?”tanya Minah lagi sembari mendekati Hoya yang masih meneguk minumannya.

Hoya menggeleng saja. Moodnya benar-benar buruk, ia masih tak rela dengan perlakuan L terhadap Hyerim tadi siang, apalagi ia harus berkelahi dengan Naeun yang notabene sama sekali bukan tandingannya, semua itu membuatnya kesal.

“ Aku duluan.”Hoya yang sudah selesai minum segera memasang jaket dan kacamata hitamnya, setelah itu memanggul ranselnya dan keluar dari gedung karantina, Minah buru-buru mengambil tasnya juga dan berlari menyusul lelaki itu.

*

“ Nah! Itu mereka! Sialan, lagi-lagi mereka jalan berdua!”

Bomi, yang kini sedang bersembunyi di balik semak-semak yang tak jauh dari gedung karantina menangkap sosok idolanya sedang berjalan bersama perempuan yang paling ia benci. Dengan emosi tertahan gadis itu meminta alat yang akan digunakannya untuk mencelakai Minah.

“ Eunji, mana ketapelnya!?”

Eunji menghela nafas pasrah dan menyerahkan benda berbentuk huruf Y itu pada Bomi, ia terpaksa mengikuti keinginan saudara angkatnya itu untuk pergi membuntuti Hoya daripada harus mendekam di kamar asrama bersama Chorong, dan tugasnya selain bersembunyi dengan Bomi adalah membawakan peralatan untuk mencelakai Minah.

“ Lihat saja, pasti tepat sasaran!” Bomi mulai menarik karet ketapelnya kearah Minah, “…1..2..yaaa!!”

Bomi tak jadi menembakkan batu ketapelnya ketika merasakan getar di paha kanannya, rupanya ponsel di sakunya bergetar.

“ Ck! Ganggu saja! Siapa sih?” Bomi buru-buru membuka pesan singkat yang masuk ke ponselnya, “…astaga, kenalanmu nih!” ucap Bomi sebal sembari melirik Eunji.

“ Hoya?”ucap Eunji dalam hatinya, ia buru-buru memeriksa dari balik semak, terlihat artis itu memang sedang memegang ponselnya.

“…ng..apa katanya?”tanya Eunji.

‘Kau dimana, Jung Eunji? aku merindukanmu’. Halah.”Bomi membacakan smsnya sembari mencibir.

“ Aku ada di dibalik semak, memperhatikanmu.”ucap Eunji dalam hatinya, sedikit tersipu juga karena sempat-sempatnya Hoya menghubunginya. Meski ia sedikit kesal karena sekarang lelaki itu sedang berjalan bersama Minah.

“ Ah nanti saja ya balasnya, aku urus si Minah dulu!” kata Bomi lagi, ia pun kembali mengambil ketapelnya, “…1..2..3..! yaaah.. meleset!”

Bomi mengacak-acak rambutnya dengan kesal karena batu yang ia tembakkan meleset jauh dari Minah.

*

“…kau kenapa sih? Selama latihan sama sekali tidak semangat, gerakan juga sering salah. Kalau ada masalah ceritalah padaku, karena kita adalah partner, sebaiknya kita saling terbuka.”

Minah benar juga, tapi sekarang Hoya yang bingung harus bercerita apa karena tak mungkin ia menjawab jujur.

“ Aku..aku hanya masih kesal dengan kejadian kemarin, mengapa pacarmu sampai-sampai menduakan gadis sebaik dirimu. Seandainya saja kemarin kita bertemu dengannya di tempat sepi, mungkin aku sudah memukuli pacarmu itu sampai mati.”

Minah terkejut mendengar jawaban Hoya –yang sebenarnya hanya jawaban bohong-. Gadis itu mendadak tersipu malu karena merasa Hoya begitu perhatian dan peduli padanya.

“ Sudahlah.. tidak perlu kesal. Lagipula aku sudah putus dengannya, aku akan membuatnya menyesal telah menduakan aku.”

“ Hmm..ya, baguslah kalau begitu.”

“ Terimakasih atas kepedulianmu, kurasa aku berhutang budi padamu. Bagaimana kalau aku membayarnya hari ini?”

“ Maksudmu?”

“ Aku ingin mengajakmu jalan-jalan.”

“ Oh ya? Kemana?”

“ Kemana saja, yang penting aman. Bagaimana?”

“ Hmm..bagaimana yaa..”

“ Ayolaahh.. kita bersantai sebelum naik pentas, biar tidak stress.”

“ Benar juga. Ya sudah, ayo.”

“ Yes! Terimakasih ya!” Minah girang karena Hoya menerima ajakannya, gadis itu hilang kesadaran dan sedikit berjinjit lalu mengecup pipi Hoya singkat, membuat lelaki itu terkejut.

*

“ Sialan! Pake acara cium-cium segala!!!” Bomi makin emosi. Kali ini tak hanya Bomi, Eunjipun turut merasakan hal yang sama karena merasa telah dipermainkan oleh artis itu.

“ Bilang rindu lah, ini lah, itu lah.. kalau dia sudah dengan Minah untuk apa dia beri nomor ponselnya padaku?” batin Eunji, ia segera menyambar ketapel yang ada di tangan Bomi dan dengan cepat menembakkan batunya kearah Hoya dengan kesal, bukan kearah Minah.

TUK!!

“ Aw!!” Hoya terkejut karena sebuah batu berukuran sedang mengenai pelipis kirinya.

“ Hei, siapa yang melempar batu ini?”Minah ikut terkejut dan segera mengelus pelipis Hoya yang langsung membiru.

“ Tidak tahu..ssshh..sakit sekali..”ringis Hoya sembari celingukan mencari si pelaku, hingga ia menangkap rambut berponi Eunji dari balik semak yang berjarak beberapa meter darinya.

 

“ Ya!! Bodoh!! Kenapa malah Hoya yang kena!?” Bomi protes.

Eunji tertawa sinis.

“ Sorry, aku sengaja.”

***

 

“ Yookyungie, come on. let’s go home.”

Yookyung yang sedang mengobrol dengan Naeun langsung berdiri dari duduknya ketika ayahnya keluar dari kamar mewah Woohyun, “ Sudah selesai, daddy?”

Dokter Hong mengangguk, sejenak berhenti melangkah ketika Naeun ikut berdiri dan menghampirinya.

“ Bagaimana keadaan kakak saya, dokter?”tanya Naeun khawatir.

“ Mohon maaf, dengan berat hati saya harus mengatakan..sakitnya semakin parah, kankernya semakin ganas. Saya tak tahu sampai kapan ia bisa bertahan, yang bisa saya lakukan hanya memberinya obat yang harus diminumnya secara rutin untuk menghilangkan rasa sakit..”

Wajah Naeun memucat setelah mendengar penjelasan dokter Hong, separah itukah Woohyun sekarang? Ia tak siap jika dalam waktu dekat harus kehilangan kakak angkatnya itu.

“…banyak-banyaklah berdoa dan buatlah hari-hari kakakmu berarti.”pesan dokter Hong, setelah itu beliau keluar dari rumah mewah keluarga Nam untuk menunggu Yookyung di mobil, sepertinya anaknya itu masih ingin bicara dengan Naeun.

“ Sabar ya..” Yookyung merangkul Naeun yang sudah ingin menangis. Namun bukannya membuat Naeun tenang, justru membuat gadis itu gemetaran. Memang, selama berbincang ringan dengan Yookyung pun Naeun merasakan hal ini, begitu canggung dan merasa segan tanpa sebab.

“ Ya, terimakasih.”jawab Naeun pelan.

“ Hmm..sayang sekali aku harus pulang sekarang, kuharap kita bisa bertemu lagi. Aku masih ingin mengobrol denganmu.”Yookyung melepas rangkulannya lalu membuka tasnya dan mengambil dua benda dari dalam sana, “…oh ya, ini..ada sesuatu yang ingin kuberikan untukmu dan Woohyun.”

“ Apa ini?” Naeun menerima kedua benda tersebut dari tangan Yookyung, sebuah botol berisi cairan berwarna hijau pekat dan sebuah buku yang masih tertutup rapat oleh kain kecil berbentuk pita.

“ Aku tak punya waktu untuk menjelaskannya, ayahku sudah menunggu di mobil. Kalau kau ingin tahu itu apa, kau bisa baca pesan singkat yang sudah kuselipkan disitu.”

“ Eh.. tapi..”

“ Aku pulang. Bye, Naeun. See you later!”

Naeun terpaksa mengangguk. Sepeninggal Yookyung, Naeun segera menarik secarik kertas kecil yang ada di botol cairan hijau tersebut.

“ Untuk Nam Woohyun. Berikan padanya di saat yang tepat.”

Naeun mengeryitkan dahinya, “ Apa maksudnya? Memangnya ini apa? Apa dari dokter Hong? Ah.. mana mungkin dokter memberi obat seperti ini.”

Meski masih bertanya-tanya, Naeun kini beralih ke buku berukuran sedang yang masih ia pegang, menarik secarik kertas di sela-sela pita yang melilit buku tersebut.

“ Bacakan buku ini pada Woohyun sebelum ia tidur. Ketika kau membacanya, kau tidak boleh berhenti. Dan ingat satu hal, jangan lihat akhir ceritanya terlebih dahulu.”

 

“ Memangnya..ini buku apa?”

***

Keesokan harinya…

“ Jadi sekarang kau bermusuhan dengan Howon? Astaga L, kalau kau ingin mengungkapkan identitasmu di depan Hyerim seharusnya kau bilang dulu padaku, ini termasuk keputusan besar!”

Taeyeon mendadak gusar saat ia tahu anaknya sudah bongkar identitas di depan Eunji. Sementara yang dimarahi saat ini berusaha tak peduli dan lebih asyik dengan rokok yang sedang dihisapnya.

“ Hei, aku datang kesini bukan untuk bicara tentang Hyerim. Tenang saja, Taeyeon. Hyerim tak akan mengatakan semuanya pada Yeoshin, aku sudah mengancamnya.”L akhirnya menjawab karena tak tahan mendengar omelan Taeyeon.

“ Tapi wajahmu sampai babak belur dipukuli Howon. Kenapa tidak langsung kau bunuh saja pengawal itu?”

“ Aku hanya akan membunuhnya jika Hyerim berani membocorkan identitasku di depan Yeoshin.”

“ Ooh, jadi kau menjadikan Howon sebagai ancaman?”

“ Ya, begitulah..”

“ Hahaha, kau memang cerdas, anakku. Oke, jadi apa lagi yang mau kau bicarakan padaku?”

L menghela nafas, membuang asap rokoknya dengan sedikit keras pertanda sedang resah.

“ Kemarin malam aku bermimpi bertemu Yookyung. Bahkan saat aku terbangun karena mimpi itu, aku melihat dia mengintipku dari balik tembok. Hal itu terus terjadi sampai aku tak bisa tidur semalaman.”

“ Hah?? Kau serius? L, kurasa kau hanya terlalu berpikiran buruk tentang gadis itu. Dia bukan siapa-siapa.”

“ Tidak. Dia bukan orang biasa.”

“ Mengapa kau begitu yakin?”

“ Karena ketika aku mencoba tertidur lagi saat semalaman terjaga, aku bermimpi bertemu Namjoo.”

“ Namjoo!?”

“ Ya. Aku tahu dia sudah jadi hantu karena kubunuh, tapi aku tak menyangka dia punya kuku yang sangat panjang dan tajam.”jawab L sembari mengulurkan pergelangan tangan kanannya kearah Taeyeon.

“ Astaga!”Taeyeon terkejut bukan main melihat luka cakar yang terdapat pada tangan mulus L, “…kau mendapat luka ini dari..mimpi?”

L mengangguk.

“ Tidak, tidak mungkin Namjoo yang melakukan praktik pengiriman mimpi, dia bukan penyihir.”

“ Jadi maksudmu yang mengirim mimpi ini padaku adalah…”

“ Kim…..”

“ Tidak. Tidak mungkin..!” L mencoba mengingkari hal itu meski ia sendiri sudah mulai menduga.

Hingga di saat yang bersamaan, L melihat kearah jendela dan menangkap sosok seorang gadis berpakaian bebas sedang berjalan menuju gerbang asrama. Gadis itu bukan siswi Junghwa High School.

Gadis itu, Hong Yookyung.

“ Mau apa dia datang ke asrama?”tanya Taeyeon yang juga ikut melihat.

“ Aku harus tahu.”L segera membuang puntung rokoknya dan keluar dari kamar Taeyeon, dengan secepat kilat berlari keluar dari area asrama guru menuju asrama putri karena Yookyung berjalan menuju kesana.

***

 

“ Aku tak mungkin memberi minuman ini pada Woohyun oppa sembarangan, aku harus tahu komposisinya apa..”

Sore itu di dapur kediaman keluarga Nam, Naeun tengah duduk sendirian di depan meja sembari memperhatikan sebotol cairan yang diberikan Yookyung padanya kemarin, hari ini lagi-lagi ia keluar dari asrama karena tak mau membiarkan Woohyun sendirian. Selain itu, ia juga butuh tempat yang aman untuk mengamati cairan misterius pemberian Yookyung yang sampai saat ini belum ia berikan pada Woohyun.

Naeun mengeluarkan tongkat sihirnya, mengarahkan batang kecil itu ke sekeliling botol cairannya sembari memejamkan mata, berkonsentrasi untuk mencoba mengenali komposisi cairannya.

“ Daun pohon cemara.. Sari bunga mawar… air hujan… kapur.. biji anggur.. jantung rusa yang dihancurkan.. APA-APAAN INI!!?” Naeun membuka matanya ketika selesai membaca komposisi cairan didepannya, terkejut bukan main.

“…apa Yookyung juga seorang cenayang seperti mantan kekasihnya? Mengapa ia bisa membuat ramuan yang aku sendiri saja tidak tahu ramuan apa ini..”

*

“ Tuan Muda, ada tamu.”

“ Siapa? Suruh masuk.”

Sang pelayan keluar lagi dari kamar mewah Woohyun dan memanggil seorang lelaki yang rupanya hendak menjenguk Woohyun sore itu.

“ Sungyeol?” Woohyun sedikit terlonjak saat melihat lelaki jangkung berkacamata besar memasuki kamarnya, “…m..mau apa kau..kesini?”

“ Menengokmu, lah. Kau kan sedang sakit.”jawab cenayang itu sembari meletakkan parsel buah yang dibawanya dan duduk di samping tempat tidur Woohyun.

“…kudengar kau akan marah jika rahasia penyakitmu dibocorkan. Tapi yang membocorkan hal ini padaku adalah Chorong, apa kau mau marah padanya?”lanjut Sungyeol, membuat Woohyun tak jadi menginterogasi Sungyeol darimana cenayang itu tahu tentang penyakitnya.

“ Aku hanya tak ingin dianggap lemah dan dikasihani oleh orang lain, jadi aku menyembunyikannya.”

“ Itulah kau, Nam Woohyun. Padahal dengan rasa kasihan kau masih bisa hidup.”

“ Maksudmu?”

“ Ya. Aku kasihan padamu sekarang, coba saja kalau aku tak tahu kau sakit separah ini, aku pasti sudah membunuhmu dari kemarin-kemarin.”

“ Hah? Memangnya ken….”

“ Kau sudah pernah menghamili Chorong kan? Tapi Chorong menggugurkan kandungannya.”

Woohyun tersentak dan mendadak memucat, “ D..darimana..kau..tahu? Aku dan Chorong merahasiakannya dari siapapun..apa Chorong cerita padamu?”

“ Tidak. Aku tahu sendiri.”

“ Oke, Sungyeol..aku bisa jelaskan.. jadi….”

“ Tidak perlu, anggap saja masa lalu. Aku memaafkanmu, aku tak bisa tega padamu setelah tahu kau sakit parah.”potong Sungyeol, membuat Woohyun sedikit merasa lega meski masih ada rasa mengganjal di hatinya.

“ Terimakasih ya. Lalu.. kemana Chorong? Kukira dia ikut denganmu.”

“ Mianhae, aku sudah mengajaknya tadi tapi dia bilang Yookyung akan datang ke asrama, jadi dia tidak bisa kesini.”

“ Ooh… mengapa kau tidak ikut bertemu Yookyung saja hari ini? menjengukku kan bisa besok-besok.”

“ Jujur, aku tak mau sering-sering bertemu Yookyung. Aku masih merasa bersalah karena pernah meninggalkannya.”

“ Kalau dia mengajakmu balikan, apa kau mau menerimanya?”

“ Ya! Kau ini bicara apa? Tidak mungkin..”

*

“ Mohon maaf, nona Son Naeun.. bisa nona buka pintu dapurnya? Saya ingin membuat minuman untuk tamu yang datang..”

Naeun terkejut saat mendengar suara pelayan rumahnya dari luar dapur, sedikit panik juga karena ia sedang mencatat dugaan rumus serta reaksi dari ‘ramuan’ pemberian Yookyung. Sebagai ahli ramuan di negerinya, Naeun harus tahu efek dari cairan tersebut.

“ Siapa tamunya?”

“ Tamunya Lee Sungyeol, nona. Teman tuan muda Nam Woohyun.”

Naeun terkejut untuk yang kedua kalinya. Setiap mendengar nama Sungyeol ia selalu teringat oleh permintaan lelaki itu, ramuan pembangkit orang mati. Baiklah, jika Naeun keluar dan menampakkan diri di depan cenayang itu, pasti ia akan ditagih ramuan itu lagi.

“ Tidak perlu! Biar aku saja yang buat minumannya nanti.”teriak Naeun dari dalam dapur.

“ Maaf, Nona.. biar saya saja..”jawab sang pelayan dengan nada yang amat sungkan.

“ Tidak.. biar aku saja. Ng.. lebih baik kau tolong aku sekarang.”jawab Naeun setelah sejenak memikirkan sesuatu, masih dari dalam dapur.

“ Minta tolong apa, nona?”

“ Carikan aku dua ekor kelinci, besok harus sudah ada! mengerti?”

“ Hah? Kelinci? Maaf, untuk apa Nona?”

“ Pokoknya carikan saja untukku dua ekor!”

*

Tok..tok..

“ Yaa.. sebentar.”Eunji, yang sore itu sedang galau karena Hoya menyahut dengan malas ketika mendengar suara pintu kamar asramanya diketuk. Ia pun bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamarnya hingga sesosok gadis berambut coklat muncul dan tersenyum kearahnya.

“ Annyeong. Maaf, kau siap……”

“ Tuan Putri Jung Hyerim.. Apa kabar?”

Eunji terkejut. Siapa orang asing ini? mengapa tiba-tiba memanggil namanya? Nama asli pula. Eunji benar-benar hampir mati jantungan akhir-akhir ini. setelah L yang berani mengaku di depannya, sekarang gadis ini yang membuatnya syok.

“ Ah.. eh..k..kau siapa? Kenapa kau tahu.. kau..” Eunji mendadak gagap, namun gadis itu hanya tersenyum misterius kearahnya dan tak lagi memperdulikan keterkejutannya ketika tahu Chorong datang, ternyata Chorong baru saja dari koperasi asrama membeli makanan ringan.

“ Wah, kau benar-benar datang bahkan tahu nomor kamarku. Ayo masuk..” Chorong langsung menyambut Yookyung yang berkunjung ke kamarnya. Keduanya pun masuk, dan Eunji sadar mata Yookyung masih saja mengarah kepadanya.

“ Gila. Siapa dia? Bagaimana bisa dia tahu siapa aku sebenarnya?” Eunji masih heran. Karena takut, gadis itupun mengambil jaket dan syalnya yang tergantung di belakang pintu, memutuskan untuk pergi keluar selama Yookyung berada di kamarnya meski ia sendiri takut jika harus keluar asrama sendirian, tentu karena teror dan ancaman L mulai membayanginya.

“ Eunji, kau mau kemana?”tanya Chorong saat melihat Eunji memasang jaket dan syalnya.

“ Ingin cari udara segar.”jawab Eunji seadanya dengan kepala menunduk karena tahu Yookyung masih saja menatapnya dengan senyum misterius.

“ Hati-hati di luar. Jangan terlalu lama, nanti aku merindukanmu.”kata Chorong lagi, membuat Yookyung geleng-geleng kepala.

Eunji mengangguk saja dan langsung keluar dari kamarnya.

“ Sekarang aku harus kemana? Bomi sudah ke studio dari tadi siang..”keluh Eunji, ia tak bisa mengajak Bomi pergi karena sejak siang saudara angkatnya itu sudah berangkat menuju studio pentas Seoul Dance Competition untuk menonton secara live. Aneh memang, sudah berkali-kali sakit hati karena Hoya dengan Minah, Bomi masih saja setia dengan artis idolanya itu, Eunji saja yang baru sekali sakit hati karena melihat kebersamaan mereka tak mau lagi menjawab pesan Hoya. Ingin mengajak Jiwon? Mustahil, setiap malam minggu gadis berbadan kekar itu selalu menghilang dari asrama.

Drrt..drrt..

Eunji merasakan getar di pinggang sebelah kanannya, rupanya ponsel Bomi yang ia kantongi mendapat pesan baru. Memang, Bomi menitipkan ponselnya pada Eunji sebelum berangkat menonton live untuk menghindari pencopetan disana, lagipula ‘kenalan’ Eunji terus-terusan mengirim sms untuk Eunji dan mengganggu Bomi, hal itu membuat Bomi malas memegang ponselnya lagi.

Eunji tak peduli, ia tetap berjalan dan berniat untuk pergi keluar asrama karena malam ini malam minggu, malam ini ia berniat untuk bermalam di rumahnya saja, rumah keluarga Yoon. Selain takut tidur berdua saja dengan Chorong, Eunji juga menghindari pertemuan dengan L sebisa mungkin.

**

 

“ Namanya Jung Eunji, dia incaran baruku.”ucap Chorong santai sebelum Yookyung bertanya duluan.

“ Oh My… Kukira kau sudah berubah semenjak kenal dengan Myungsoo.”

“ Kalau dia memacariku sejak dulu, ceritanya pasti tak akan seperti ini. ah sudahlah, jadi..apa yang ingin kau bicarakan sampai-sampai harus datang ke asrama ini?”

“ Hmm.. seharusnya ada Myungsoo dan Sungyeol juga disini.”

“ Sungyeol sedang menjenguk Woohyun, dia juga masih malu bertemu denganmu. Kalau Myungsoo… aku tak tahu dia dimana.”

“ Tenang saja, aku tahu Myungsoo dimana.”

“ Hah? Bagaimana bisa kau tahu? Memangnya dia ada dimana?”

“ Dia ada di depan pintu kamar.”

 

“ Sialan, bagaimana dia tahu?!” L terkejut karena Yookyung ternyata tahu bahwa kini ia sedang menguping di depan pintu kamar Chorong. Daripada Chorong mencarinya dan mulai berpikir yang tidak-tidak, L segera membuka pintu kamarnya lalu masuk, dan tentunya bersikap wajar selayaknya Kim Myungsoo.

“ Permisi, aku masuk ya.”

“ Tuh kan.”Yookyung tersenyum melihat kemunculan Myungsoo, “…hai, apa kabar?”

“ Baik.”jawab Myungsoo singkat karena ia bisa membaca raut mengejek di wajah Yookyung.

“ Well, aku tak menyangka Myungsoo bisa masuk ke asrama putri, kukira dia akan sangat patuh pada peraturan.”

“ Semenjak kenal dengan Naeun, Myungsoo sering melanggar peraturan.”sela Chorong sinis, Yookyung tertawa kecil karena tahu Chorong masih saja cemburu pada Naeun.

“ Eh.. tanganmu kenapa? Siapa yang mencakarmu?”Yookyung tiba-tiba menarik tangan kanan Myungsoo yang terdapat luka cakar, seulas senyum puas nampak di wajah cantiknya secara sembunyi-sembunyi.

“ Dia khawatir atau sedang menertawaiku?”batin Myungsoo sinis, “…ng..tidak apa-apa, hanya tergores saja.”jawab Myungsoo santai.

“…oh ya, ada apa kau kesini? ada yang ingin dibicarakan?”sambung Myungsoo dibarengi anggukan Chorong.

“ Okay.. so,  aku datang kesini ingin mengajak kalian dan Sungyeol untuk pergi ke villa milik keluargaku besok. Aku ingin kita menghabiskan waktu bersama sebelum aku kembali ke Amerika.”jelas Yookyung tanpa basa-basi.

Lain dengan Chorong yang langsung antusias mendengarnya, Myungsoo malah semakin curiga dengan Yookyung, namun lelaki itu tak bisa berbuat apa-apa jika sudah diajak seperti ini.

“ Hmm.. sounds good. Kita pergi berempat? Villa di daerah mana? Dan..berapa malam disana?”tanya Chorong bersemangat.

“ Villanya cukup jauh dari sini, nanti kutunjukkan jalannya. Tiga hari saja disana. Dan.. aku ingin kita pergi dengan membawa pasangan masing-masing.”

Myungsoo dan Chorong langsung saling tatap.

***

 

“ Seharusnya kau denganku saja, jadi kita hanya pergi berempat.”

“ Kita punya pasangan masing-masing, Park Chorong.  Kenapa tidak mengajak mereka?”

Chorong menyerah dan membuang mukanya ke arah jendela mobil, membiarkan Myungsoo membawa mobilnya menuju rumah keluarga Nam untuk menemui Naeun dan Woohyun dan mengajak mereka pergi ke villa Yookyung besok pagi.

“ Hah, Sungyeol saja dengan Yookyung, padahal mereka sudah putus.”ucap Chorong lagi, masih berharap ingin bersama Myungsoo saja.

“ Tapi setidaknya mereka pernah menjalin hubungan.”

“ Lalu apa bedanya dengan kita? Kau pernah menerima cintaku, hanya saja Son Naeun menghancurkan semuanya.”

“ Cukup, Park Chorong. Ayo turun, kita sudah sampai.”

Chorong menghela nafasnya, dengan malas-malasan ia turun dari mobil dan mengikuti Myungsoo memasuki halaman rumah mewah keluarga Nam.

*****

 

“ Wah, Eunji..  kami kira kau di asrama saja malam ini, rupanya kau pulang..” Tuan Doojoon dan Nyonya Gayoon menyambut Eunji yang baru saja pulang ke rumah malam itu.

“ Ne.. maaf baru datang sekarang, tadi sore Eunji ke alun-alun dulu beli makanan..”jawab Eunji sembari menyerahkan beberapa kantong makanan untuk keluarganya.

“ Ya ampun.. padahal tidak perlu repot-repot, terimakasih ya sayang..”kata Nyonya Gayoon, Eunji mengangguk.

“ Jam berapa kau keluar dari asrama dan pergi ke alun-alun?”tanya Tuan Doojoon.

“ Dari jam empat sore, seharusnya jam enam sudah bisa sampai rumah.. tapi alun-alun sangat ramai, soalnya dekat dengan Studio Seoul TV.”jelas Eunji.

“ Ya, banyak orang yang ingin menonton SDC secara live, termasuk Bomi. Ckckck, anak kami itu memang susah diberitahu. Sudah kami bilang jangan lagi pedulikan artis itu, ternyata masih saja..”

Eunji tertawa kecil, “ Oh ya, Bomi menitipkan ponselnya pada Eunji. Ini, eomma taruh saja di kamar Bomi.”

“ Ooh.. tidak perlu, justru tadi siang Bomi bilang di telepon pada kami, untuk sementara ponselnya itu kau pakai dulu.”jawab nyonya Gayoon.

“ Hah? Tapi.. Eunji kan tidak….”

“ Ya, kami tahu. Jadi kami belikan ini untukmu.”potong Tuan Doojoon sembari menyerahkan sebuah kacamata kearah Eunji, “…ini kacamata anti radiasi.”

“ Wah.. terimakasih..”Eunji menerimanya dan langsung mencobanya, setelah itu ia masuk ke kamarnya.

 

“ Ah, benar.. tidak begitu silau.”dengan masih memakai kacamatanya, Eunji mencoba membuka ponsel Bomi, “…tapi..ini bagaimana caranya ya?”

Eunji menekan-nekan tombol ponselnya hingga tak sengaja membuka pesan yang baru saja masuk saat ia masih di asrama tadi. Sms dari Hoya.

“ Malam ini aku perform, doakan aku.”

Eunji menghela nafas lega, beruntung karena ia yang membuka pesan ini. Jika Bomi yang membukanya, tentu ia akan langsung tahu siapa ‘kenalan’ Eunji ini.

“ Balas tidak ya? Ah, balas deh. Kasihan juga, setelah jadi korban ketapel smsnya tidak pernah kubalas lagi.”Eunji pun mencoba menekan-nekan tombol ponsel Bomi menggunakan feelingnya untuk membalas pesan Hoya.

 

“ Astaga.. bukankah itu Hoya dengan Minah?? Mereka tampil berdua?? Wah, ternyata mereka punya panggung khusus malam ini.”

Eunji menghentikan kegiatannya membalas pesan Hoya ketika mendengar suara kedua orangtua angkatnya yang sedang menonton TV dari luar kamar.

“ Gila.. penampilannya erotis sekali.”

“ Iya. Kurasa mereka memang benar berpacaran. Kalau tidak, mengapa mereka berani melakukan gerakan sampai seperti ini?”

“ Astaga.. appa khawatir Bomi pingsan di studio karena menyaksikan ini.”

“ Eomma juga khawatir..”

Eunji mendadak keringat dingin. Karena tak pernah mengerti dengan yang namanya profesionalitas, Eunji benar-benar menduga bahwa Hoya sepertinya memang sudah menjalin hubungan dengan Minah sampai-sampai berani tampil berdua malam ini.

“ Nonton tidak yah? Ah.. tidak, aku takut sakit hati untuk yang kedua kalinya karena Minah..”Eunji tak jadi membuka knop pintu kamarnya.

“…ini juga tidak usah! Tidak usah kubalas!! Aku tak akan mau berhubungan denganmu lagi, artis sialan!” Eunji melempar ponsel yang ia pegang ke tempat tidur, setelah itu duduk di belakang pintu kamarnya dan…menangis.

**************

 

“ Entah, perasaanku sama sekali tidak enak. Kurasa Yookyung punya maksud sendiri mengajak kalian pergi. Jadi saranku, kau harus sangat berhati-hati. Paham?”

“ Paham, aku akan segera mengabarimu kalau ada sesuatu yang mencurigakan. Kau masih ingat cara menggunakan ponsel kan?”

“ Tentu saja aku ingat.”

Setelah memberi doktrin pada L, pagi itu Taeyeon pun melepas anaknya untuk pergi ke villa Yookyung bersama Sungyeol,Chorong, Woohyun, Naeun, dan Yookyung sendiri tentunya.

“ Kalian berkumpul dimana?”tanya Taeyeon.

“ Disana.”L menunjuk gerbang sekolah, terlihat sudah ada Yookyung, Chorong, dan Sungyeol disana.

“ Ya sudah, sana. Ingat pesanku, hati-hati.”

L mengangguk, setelah berpamitan dengan ibunya ia segera berlari kecil menuju Yookyung, Chorong, dan Sungyeol yang masih menunggu kedatangan Woohyun dan Naeun.

 

“ Woohyun dan Naeun mana?”tanya Myungsoo setibanya ia di gerbang sekolah.

“ Woohyun bilang dia tidak jadi ikut kalau hari ini dokter Hong datang mengontrolnya.”jawab Chorong sembari memegang ponselnya, rupanya ia sedang berkirim pesan dengan Woohyun.

“ Apa ayahmu akan mengontrol Woohyun hari ini?”tanya Sungyeol pada Yookyung.

Yookyung menggeleng pelan, “ Aku tidak tahu.”

“ Yah, bagaimana sih..”

“ Oh ya Myungsoo, apa itu ibumu?”tanya Yookyung pada Myungsoo sembari menatap ke arah Taeyeon yang masih mengawasi mereka dari balik pohon.

“ Bukan.. dia kepala sekolah, tadi aku menemuinya untuk meminta izin.”jawab Myungsoo berbohong.

“ Ooh, aku kira ibumu. Kalian terlihat seperti ibu dan anak.”

“ Bicara apa orang ini..”Myungsoo semakin curiga saja, namun sebelum ia berkilah matanya kini tertuju pada lamborghini yang berhenti di depan mereka.

“ Mianhae terlambat, kami baru tahu Dokter Hong tidak bisa mengontrol Woohyun oppa besok dan seterusnya, Dokter Hong pulang ke Amerika secara mendadak.”baru saja turun dari mobilnya, Naeun langsung memberi penjelasan tanpa basa-basi karena tak enak telah membuat sunbaenimnya menunggu lama.

“ Yaa, yaa.. santai saja sayang, kau bahkan belum mengucapkan selamat pagi.” jawab Myungsoo sambil tertawa kecil dan mengacak-acak rambut indah Naeun.

“ Oh ya, selamat pagi sunbae..” Naeun ikut tertawa dan memeluk Myungsoo manja, mungkin merasa kangen karena tak bertemu kemarin.

“…hmm..untuk kalian juga, selamat pagi..”lanjut Naeun dengan kikuk, dan hanya Chorong yang menjawab ucapannya dengan malas.

“ Kenapa ayahmu pulang ke Amerika mendadak?”tanya Sungyeol pada Yookyung.

“ Ng.. aku sendiri baru tahu, mungkin nanti beliau akan menghubungiku.”jawab Yookyung seadanya, “ Hmm.. baik..kalau begitu bisa kita berangkat sekarang?”tanya Yookyung sembari memainkan kunci mobilnya.

“ Bisa. Ayo.”kata Chorong, dan dengan canggung ia memasuki mobil Woohyun, sementara Sungyeol memasuki mobil Yookyung dan Myungsoo serta Naeun memasuki mobil Chorong yang mereka pinjam.

Ketiga pasang remaja itupun mulai menjalankan mobil mereka masing-masing, menuju ‘villa milik keluarga Yookyung’ …

***

“ Selamat untuk Hoya dan Minah!!! Kalian berdua akan langsung masuk ke babak final!!!! Dan untuk finalis yang harus tersisih pada malam ini, harap untuk tidak kecewa karena jalan kalian masih panjang..~”

“ Mengejutkan, hasil voting yang masuk pada malam hari ini hanya tertuju pada Hoya dan Minah, jumlah vote yang mereka dapatkan terus berkejar-kejaran setelah duet panas mereka malam hari ini. Satu votepun tidak masuk untuk finalis yang lain. Ini adalah kejadian bersejarah di Seoul Dance Competition..!!!”

 

“ Aaaahh!!” Hoya masih terbayang-bayang oleh teriakan MC kemarin malam saat ia dan Minah mendadak dimasukkan ke babak final, ia tak menyangka penampilannya dengan gadis itu menyedot perhatian banyak orang. Benar yang dikatakan Mr.Lee dan Miss Im, menjual kisah asmara palsu dan penampilan mesra bisa menarik dukungan terutama dari sponsor.

Namun hal ini justru membuat Hoya semakin galau, tentu karena ia yakin Bomi menceritakan apa yang ditontonnya semalam kepada Eunji. Ia tahu sekarang Eunji benar-benar marah padanya karena merasa telah dipermainkan, tuan putrinya itu tak lagi membalas pesannya.

“ Hei, masih syok gara-gara semalam? Atau mengantuk?”

Hoya hanya tersenyum tipis ketika Minah datang menghampirinya dan ikut duduk di atap gedung stasiun televisi pagi itu bahkan memberinya satu paket sarapan pagi. Setelah mengikuti technical meeting pertama, Hoya pergi untuk menenangkan diri sebentar.

“ Sedikit mengantuk sih, setelah acara kita sama sekali tidak tidur..”keluh Hoya. Ia dan Minah memang langsung menjalani rapat yang begitu panjang dengan pihak televisi dan tentu saja koordinator kompetisi mereka untuk babak final yang sudah ditentukan akan terselenggara tiga minggu lagi.

“ Aku juga mengantuk, tapi kita baru diizinkan istirahat nanti siang..”

“ Oh iya, aku masih tak menyangka, vote yang masuk tadi malam benar-benar hanya untuk kita berdua? Tidak untuk peserta yang lain?”tanya Hoya membuka pembicaraan.

Minah mengangguk dan menyerahkan selembar kertas kearahnya, “ Ini catatan persentasenya, aku minta pada kru kemarin malam.”

Hoya geleng-geleng kepala melihatnya, vote untuk peserta lain benar-benar berada di posisi nol persen, sementara vote yang ia dan Minah terima benar-benar fantastis dan hanya selisih beberapa koma.

“ Aku tak menyangka orang-orang menyukai penampilan kita.”

“ Aku minta maaf.”

“ Minta maaf..? untuk apa?”

“ Karena aku menyentuhmu sembarangan.”

“ Hahaha…!” Minah tertawa bahkan hampir tersedak burger yang sedang ia makan. Memang, karena paksaan dari Mr.Lee dan Miss Im, Hoya dan Minah terpaksa bertingkah terlalu seduktif di atas panggung semalam, membuat atmosfir studio mendadak panas dan membuat para fans Hoya berkeringat menahan marah. Bagaimana tidak? Duet biasa yang mereka rencanakan malah penuh dengan gerakan improvisasi yang melibatkan skinship yang luar biasa banyaknya, bahkan beberapa anak dibawah usia 17 tahun yang menonton live terpaksa diajak pulang oleh orangtua mereka. Meski demikian, hal itu menunjukkan bahwa Hoya dan Minah memang partner yang kompak meski penampilan dan pemberitaan tentang mereka adalah settingan.

“…santai saja, tidak apa-apa kok.”lanjut Minah, “…dua hari yang lalu juga aku mencium pipimu tapi aku tidak minta maaf kan, hehehe.”

“ Tapi aku yakin meski banyak yang mendukung, banyak juga yang akan membencimu.”

“ Aku tahu, itu sudah menjadi konsekuensiku. Aku hanya bisa berdoa semoga aku tidak sampai mati di tangan fansmu.”

“ Tidak akan, aku akan melindungimu.”

“ Yang benar?”

Hoya mengangguk. Sebagai lelaki yang bertanggung jawab, ia merasa hal itu merupakan kewajibannya. Meski hal ini sebenarnya sedikit memberatkan dirinya. Bagaimana jika Eunji semakin membencinya? Ah, hubungannya dengan sang putri akan semakin terancam.

“ Terimakasih ya.. kalau begini ceritanya, aku rela dikalahkan olehmu di babak final.”kata Minah, masih dengan tawa kecilnya yang begitu mirip dengan Eunji, yang menjadi alasan mengapa Hoya terkadang begitu peduli pada gadis ini.

“ Kau yang harus menang, Bang Minah. Kau harus membuat mantan kekasihmu menyesal telah memutuskanmu.”

“ Kau benar. Tapi D.O akan lebih menyesal jika ia melihatku mendapatkan lelaki yang lebih baik darinya.”jawab Minah sembari melirik Hoya sejenak seakan memberi kode.

“ Kau pasti mendapatkannya.”

 

“ Ya, aku pasti mendapatkan lelaki yang lebih baik dari D.O. Aku pasti bisa mendapatkanmu, Hoya..”

*****

 

“ Yah, terpaksa bolos lagi. Lama-lama aku dikeluarkan juga dari sekolah..”

Hoya kembali mengeluh saat membuka pintu kamar hotelnya siang itu, ia akan tinggal di peristirahatan bintang lima ini sampai babak final karena setiap harinya harus latihan bersama Minah.

Lelaki itu membanting dirinya ke atas tempat tidur lalu meraih ponselnya, berharap ada pesan balasan dari Eunji, namun nihil, pesan yang masuk ke ponselnya hanya pesan-pesan tak penting dari fansnya yang menyuruhnya menjauhi Minah.

Hoya pun mencoba menghubungi nomornya, berharap semoga bukan Bomi yang mengangkatnya. Namun baru satu kali bunyi tanda tersambung memasuki rongga telinganya, telepon diputuskan.

“ Hyerim.. apa kau benar-benar marah padaku? Ah, aku harus bagaimana!?’ Hoya gusar, ia jadi tak bisa istirahat kalau begini.

Karena tak tahan, Hoya mengirimkan pesan lagi ke nomor tersebut lima puluh kali dengan isi pesan yang sama agar Eunji membacanya. Kemudian lelaki itu bangkit dari tempat tidurnya, menyambar handuknya dan pergi mandi. Sepertinya ia bersiap-siap untuk pergi.

***

 

“ Apa-apaan sih!? Daritadi bergetar terus! Eunjiii~ kenalanmu ini mengganggu sekali!!! Apa dia tidak tahu aku sedang galau karena Hoya, huhuhu..”

Bomi berteriak dengan parau karena kesal acara galaunya diganggu oleh pesan yang terus-terusan masuk ke ponselnya, sejak tadi ia memanggil Eunji namun saudara angkatnya itu tetap enggan mengambil ponselnya.

“…Eunjiiii, kumohon.. bawa ponselku keluar dan buka pesannya! Kau kan sudah pakai kacamata anti radiasi!”teriak Bomi lagi, kali ini terdengar memaksa.

Eunji yang sejak tadi pura-pura sibuk dengan tugas sekolahnya terpaksa berdiri dan mengambil ponselnya yang masih saja bergetar hebat karena banyaknya pesan yang masuk.

“ Gila! Sampai lima puluh pesan. Dasar orang gila.”Eunji terkejut melihat pesan yang masuk ke ponsel Bomi. Karena tak tahan juga mengabaikannya, Eunji terpaksa membuka pesan tersebut.

 

“ Hei gadis, aku tahu kenapa kau tidak membalas pesanku lagi. Kau sedang cemburu kan?

Kalau tidak, silakan abaikan pesan ini.

Kalau memang cemburu, temui aku di lapangan sepakbola tempat kita pertama bertemu. Buang rasa traumamu, aku takkan menyakitimu.”

***

 

Siang menjelang sore, sembari merapikan rompi dan rok selututnya, Eunji berjalan kaki dari rumahnya menuju lapangan sepakbola tempat Tuan Doojoon biasa melatih sesuai pesan Hoya. Ia sendiri tak tahu mengapa ia tergerak untuk menemui artis itu meski ia masih saja mengingkari perasaannya bahwa ia merasa cemburu. Masalahnya, untuk apa ia cemburu pada lelaki yang ia sendiri belum tahu wajahnya seperti apa?

“ Kemana artis itu? Jangan-jangan ia ingin mempermainkanku lagi..”Eunji mulai memasuki area lapangan yang terbilang sangat sepi karena hari ini tak ada jadwal latihan bagi siapapun di tempat ini.

BUK!!

“ Aw!!”Eunji terkejut ketika sebuah bola mengenai bahu kanannya. Ketika ia menoleh, seorang lelaki berjaket ungu serta berkacamata dan bermasker hitam berlari menghampirinya.

“ Dengan penuh kehormatan, mohon maaf Tuan Putri..”

“ Apa-apaan orang ini!? sok-sokan jadi pengawal.”batin Eunji sinis ketika lelaki itu berlutut di depannya, “…hei!! Kau sengaja ya!?”

Lelaki itu berdiri dan mengangguk, “ Ya, agar kau tahu aku sudah datang duluan dan tidak mempermainkanmu.”

“ O..oh.”

“ Kau datang rupanya. Itu artinya kau cemburu, kan?”

“ Hih.. tidak! aku hanya merasa dipermainkan.”

“ Sama saja.”

“ Sudahlah! Lalu kau mau apa mengajakku bertemu!?”

“ Hahaha..” Hoya tertawa, mencoba santai karena Eunji begitu galak, “…tenang..tenang dulu. Pertama-tama, aku ingin memujimu. Aku suka penampilanmu sore ini, benar-benar seperti seorang putri.”

Eunji memutar bola matanya dengan kesal, meski ada sedikit rasa senang karena Hoya mengingatkannya pada identitas aslinya sebagai seorang putri raja.

“ Dari kata-katamu itu aku sudah bisa menyimpulkan kalau kau adalah seorang playboy. Dasar artis.”balas Eunji sinis.

“ Yang playboy itu mantan pacarmu. Kalau aku, aku adalah tipe orang yang setia.”

“ Ooh.. yaa.. yaa.. aku baru ingat, kau begitu setia pada Minah.”

“ Hahaha.. cemburu lagi?”

“ Tidak!” Eunji buru-buru menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah, “…ck, jadi sebenarnya kau mau apa sih!!?”

“ Aku ingin mengajakmu bermain sepakbola.”

“ Hah???”

“ Hei, aku serius. Setelah ini aku tidak bisa main lagi karena harus latihan. Kau mau kan? Ayolah.. kita pakai setengah lapangan saja..”

Eunji benar-benar bingung dengan maksud lelaki didepannya ini, namun ia berusaha untuk berpikir positif.

“ Baiklah, tapi ada syaratnya.”jawab Eunji

“ Apa syaratnya?”

“ Kalau aku menang, kau harus memperlihatkan wajahmu yang ‘katanya’ tampan itu padaku.”

Hoya memucat. Gila, ia benar-benar harus menang karena ia tak sanggup jika harus unjuk identitas didepan kekasihnya sekarang.

“ B..baiklah. kalau begitu aku bisa mengajukan syarat juga. Kalau aku yang menang, kau harus melakukan apapun yang kuperintahkan.”

Eunji agak kaget, ia takut artis ini menyuruhnya macam-macam. Namun bukan Jung Hyerim namanya kalau tak menyukai tantangan.

“ Oke, aku tidak takut. Ayo mulai!”

 

Hoya dan Eunji memulai permainan sepakbola mereka, Eunji begitu menyesal karena ia memakai rok, ia jadi tak bisa bergerak bebas sehingga dengan mudahnya Hoya berkali-kali memasukkan bola ke dalam gawang yang mereka biarkan kosong tanpa penjaga karena hanya main berdua.

Karena masih berambisi, Eunji berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan Hoya yang ternyata begitu lihai dalam bermain. Saat ini gadis itu menguasai bola, dan Hoya mulai mengejarnya ketika ia berlari menuju gawang.

“ Berikan padaku!”Hoya muncul di belakangnya dengan kaki yang berusaha merebut bola yang masih dikuasainya.

“ Tidak akan!!” Eunji berusaha mempertahankan bolanya hingga terjadi rebutan bola yang cukup seru di antara mereka.

Hingga ketika tak sengaja kacamata hitam Hoya terlepas, keduanya berhenti rebutan. Hoya panik karena Eunji menginjak kacamatanya, sementara Eunji sendiri terpaku menatap mata Hoya yang begitu mengingatkannya pada Howon.

“ M..mengapa matamu persis seperti…..”

“ Hei, posisi kakimu masih salah. Kalau begitu tidak akan gol.”Hoya mengalihkan pembicaraan agar Eunji tak semakin mengingat siapa dirinya, dan perkataannya itu semakin mengingatkan Eunji pada Howon yang mengajarinya bermain sepakbola saat mereka pertama kali bertemu.

“ J..jadi..aku..harus..bagaimana?”Eunji merubah-rubah posisi kakinya dengan salah tingkah.

“ Nah..nah begitu. Cepat tendang bolanya..”Hoya malah menyuruh Eunji memasukkan bolanya ke gawang setelah posisi kaki gadis itu benar, mungkin kasihan pada Eunji yang sejak tadi tidak mencetak gol.

“ Baiklah.. satu..dua..ti..”

BUK!!

“ Aaaaaaaa!!” kaki Eunji terpeleset ketika menendang bolanya, dengan refleks ia menarik masker Hoya hingga lelaki itu ikut terjatuh dan…

Chu~

Menciumnya.

 

“ Aaaa!! Mereka berciuman!!!”

Astaga. Bahkan suara anak-anak yang tiba-tiba muncul entah darimana begitu persis seperti saat Howon tak sengaja mencium Hyerim saat berlatih sepakbola dulu. Ini gila, mengapa Eunji seakan-akan tengah mengulang masa lalunya bersama pengawal tampan itu?

“ Maaf! Maaf..” Hoya buru-buru melepas ciumannya dan memasang masker serta kacamata hitamnya sebelum Eunji melihat wajahnya, setelah itu ia membantu Eunji berdiri.

“ Aduh.. mereka melihat kita..”Eunji memucat melihat beberapa anak kecil yang tiba-tiba datang untuk bermain di lapangan dan melihat mereka berciuman barusan.

“ Pergi.. pergi dari sini..besok saja mainnya.. sana..sana..” Hoya mencoba mengusir anak-anak itu.

“ Kyaaa!!! Ini kan Hoya!!!!!! Huaaaaaaaaa ini Hoyaaaaa!!!!”seru anak-anak itu heboh karena bertemu artis.

“ Ssstt.. jangan keras-keras. Sudah yaa.. pergi sana..”

“ Minta tanda tangan dulu!!!!”

“ Eh..i..iya deh..” Hoya menurut, ia segera menuliskan tandatangannya di bola anak-anak tersebut, setelah itu barulah mereka mau pergi.

“ Huh..syukurlah.”Eunji menghela nafas lega, “…mainnya sudah nih?”

“ Sudahlah, aku yang menang. Hahaha.”jawab Hoya, “…kau masih ingat apa perjanjiannya?”

“ Yaaa.. silahkan perintah sesuka hatimu.”

Hoya tertawa kecil, ia pun mengajak Eunji duduk di pinggir lapangan.

“ Perintahku tidak sulit. Pertama, jangan pulang mendahuluiku.”

“ Baiklah.”

“ Perintah kedua, tutup matamu.”

“ Hei, kau mau apa?”

“ Perintah ketiga, jangan banyak tanya dan turuti perintah kedua.”

“ Huh..” dengan terpaksa Eunji menutup matanya. Setelah itu Hoya melepas maskernya, mendekati wajah Eunji hingga gadis itu bisa merasakan nafasnya.

“ Aku masih belum puas dengan ciuman yang tadi karena anak-anak mengganggu kita, jadi…”

“ Heh, jadi kau mau……”

“ Perintah keempat, jangan bicara.”

Eunji terpaksa diam, hingga tak lama setelah itu ia merasakan bibir Hoya menyentuh bibirnya, memberinya lumatan-lumatan lembut yang begitu persis dengan cara Howon menyentuhnya. Eunji ingin meledak karena takut artis ini mempermainkannya lagi, namun kenikmatan yang seakan mengingatkannya pada masa lalu membuatnya urung menghentikan Hoya.

“ Perintah terakhir, pegang ini dan berjanjilah untuk datang.”

Hoya melepas ciumannya dan meletakkan selembar kertas kecil di tangan gadis itu.

“ Apa aku sudah boleh membuka mata?”

“ Kau baru boleh membuka matamu setelah aku pergi.”

“ Kapan kau akan pergi?”

“ Sekarang. Aku harus kembali ke hotel. Sampai bertemu.” Hoya memeluk Eunji yang masih terpejam, setelah itu mengecup kening gadis itu singkat.

“…senang menghabiskan waktu denganmu. Bye..”

 

Eunji segera membuka matanya setelah Hoya pergi meninggalkannya. Masih terkejut dengan tindakan lelaki itu barusan, ia melihat kertas kecil yang diberikan Hoya padanya.

Tiket live final Seoul Dance Competition.

***

 

“ Sunbae.. aku bisa menggantikanmu kalau kau lelah. Aku bisa mengemudi kok.”

Myungsoo segera menggeleng dan tetap fokus ke jalan, “ Kau istirahat saja.”

Naeun menghela nafas dan masih gelisah, sebenarnya sampai saat ini ia masih mual, tetapi ia tak tega dengan Myungsoo yang sudah beberapa kali menghentikan mobilnya karena ia terus-terusan muntah di pinggir jalan. Ia sendiri tak tahu kenapa, bahkan tadi ia sempat memaksa Myungsoo untuk mencari tempat makan yang menjual sup ayam untuk membeli beberapa porsi. Seandainya Naeun bisa sedikit berpikir negatif tentang dirinya, ia pasti sudah bisa menyadari bahwa saat ini ia sudah mulai mengandung janin anak penyihir.

“ Kenapa sampai malam begini belum sampai juga ke villanya ya?”tanya Naeun, “…apa mobil Woohyun oppa dan Yookyung unnie masih kelihatan?”

“ Kita sudah ketinggalan agak jauh, tapi aku akan hubungi Chorong setiap bertemu belokan.”jawab Myungsoo.

“ Ini salahku karena kita keseringan berhenti di jalan. Mianhae, sunbae..”

“ Tidak apa-apa sayang, jangan minta maaf terus. Sudah, kau tidur saja..”

Naeun menurut, ia pun mulai memejamkan matanya, berharap rasa mualnya hilang jika dibawa tidur. Sementara Myungsoo mulai memperlambat laju mobilnya ketika ia menemui pertigaan. Ia kembali menghubungi Chorong.

“ Aku bertemu pertigaan keempat, aku harus belok kemana?”

“ Lurus saja, Yookyung bilang tak ada jalan berbelok lagi menuju villanya. Setelah masuk ke lorong yang gelap, sebentar lagi akan sampai ke villa. Ini, kami hampir sampai. Cepat susul kami.”

“ Baiklah.”

Myungsoo mematikan teleponnya dan menatap lurus, rupanya ia harus memasuki sebuah lorong yang begitu gelap.

Lelaki itu kembali memperlaju mobilnya, memasuki lorong gelap tersebut sembari melihat kiri kanan dan merasa heran karena mobilnya terasa melayang. Apa karena ia membawa mobilnya terlalu cepat? Entahlah.

Hingga beberapa menit kemudian, lelaki itu melihat sesuatu yang terang di depannya, pertanda sebentar lagi akan keluar dari lorong tersebut. Karena Naeun sudah tertidur pulas, Myungsoo menambah kecepatan mobilnya agar segera keluar dari lorong tersebut.

 

“ A..apa ini!??? TIDAK MUNGKIN!!”

Myungsoo terkejut bukan main ketika ia keluar dari lorong tersebut. Berkali-kali lelaki itu melihat ke kiri dan kanannya, mencoba memastikan tempat itu bukanlah tempat yang dikenalnya.

Tetapi pepohonannya..

Jalanannya..

Rerumputan liar yang tumbuh di pinggir jalannya..

Dan bangunan indah yang menyembul dari kejauhan dan puncak menaranya berdekatan dengan rembulan..

Myungsoo tak dapat mengingkarinya. Ia benar-benar mengenal tempat itu dan ia tak habis pikir mengapa ia bisa masuk kesana.

Tempat itu…

Negeri Junghwa.

 

TO BE CONTINUED

 

Yeay! Finally~ part ini terselesaikan 😀

Bagaimana, readers? Sudah mulai menemukan jalan keluar atau justru semakin bingung dengan fanfic ini? kekeke~ author meminta maaf atas kompleksitas yang ada dalam cerita ini, semoga masih bisa dipahami dan diikuti dengan baik 🙂

Dan.. author juga ingin menyampaikan, bahwa update untuk part berikutnya mungkin akan lama lagi karena author harus fokus dengan segala kesibukan kelas XII yang menunggu di depan mata. Berhubung sebentar lagi author Try Out, mohon doanya ya 🙂

Okay, LIKE AND COMMENT amat amat sangat diharapkan, jangan menjadi silent readers. Komentar kalian sangat mempengaruhi tulisan author 🙂

Sampai jumpa di part berikutnya!

 

Next >> Part 13 : It’s Time To…

Advertisements

161 responses to “THE PORTAL [ Part 12 : True Love ]

  1. Ehh.. Si L sama naeun udah pulang ke negeri junghwa.. Si howon sama eunji jadinya gimana?? Terus si kkamjong sama krystal bakalan jatuh cinta gak?? (Semoga)

  2. Pingback: THE PORTAL 2 [ Part 1 : Nice to Meet... You? ] | FFindo·

  3. Pingback: THE PORTAL 2 [ Part 2A : 15 Days ] | FFindo·

  4. Wuaaa itu hoya ngasih tiket buat eunji biar dia tau mukanya, terus hoya bakal ngasih tau identitasnya?!
    Itu mereka ke negeri junghwa?!
    Apa hyoyeon masuk ke tubuh yookyung terus balas dendan ke L? Duh hyoyeon jangan dibuat jahat thor kalo ada.
    Wuaa next next ya thor><

  5. Pingback: THE PORTAL 2 [ Part 2A : 15 Days ] | citrapertiwtiw·

  6. makin kesini makin gemes aja ama krys ma kai.. luuccuuuu….
    eunjiiii ahh moga2 dia sadar klo hoya itu howon
    wahh myung ama eun balik ke junghwa..
    next next fighting

  7. Pingback: THE PORTAL 2 [ Part 2B : Before The Day 15 ] | FFindo·

  8. Pingback: THE PORTAL 2 [ Part 2B : Before The Day 15 ] | citrapertiwtiw·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s