Who’s the Next (Chapter 11)

Who's the Next [3]

Title : Who’s the Next?

Author : Lathifah Sinarwulan a.k.a Summer Cho (@chosm96)

Main Casts : Jung Yunho, all EXO members

Other Casts : Lee Jinki, Moon Geunyoung, Kim Bum a.k.a Kim Sangbum, Yoon Sohee, Kim Yoojung, Yoon Youngah

Genre : family, friendship, siblings, school live, some yaoi, AU

Rating : PG13~

Length : Series

Disclaimer : all casts isn’t mine, but I own the plot and the fanfic so both of them is mine! So, don’t post it in other site without my permission.

Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11

Aaaaa, jeongmal mianhae baru bisa update sekarang ToT sibuk sekolah dan penyakit malesnya kambuh, kkk~

Apalagi sempet kena serangan fujoshi mendadak, jadi lebih milih baca fanfic yaoi daripada ngetik lanjutan ini wkwk

Trimakasih buat yang udah lama nunggu, semoga chap ini tidak mengecewakan kalian semua /bow

Okay happy reading ^^

– Previous

“Perkenalkan. Dia adalah salah satu anggota dari Kelompok Bodyguard Rahasia Bagian Kota Seoul, Huang Zi Tao.”

“B–bodyguard?”

“Apa maksudnya?”

“Jadi, Tao bukan ketua geng?”

“Kelompok Bodyguard Rahasia ini dikelola oleh negara, untuk para sukarelawan yang jago beladiri, mereka akan menerima panggilan kalau para preman-preman berulah dijalanan Kota Seoul. Tao ini adalah salah satunya.” Jelas polisi tersebut dengan wajah bangga.

# # # # #

Chapter 11 – Surprise

“Aku benar-benar tidak menyangka kau menjadi sukarelawan yang hebat seperti itu!” komentar Lay ketika mereka berjalan keluar dari kantor polisi. Ekspresinya menggambarkan ia sangat bangga dengan pekerjaan adiknya itu.

“Bahkan aku tidak tahu kalo Seoul memiliki Kelompok Bodyguard Rahasia itu, hahaha!” seru Baekhyun mengundang tawa yang lainnya kecuali Tao yang merengut. “Apa perlu aku meluruskan gosip itu disiaran besok?”

Tao membulatkan matanya mendengar perkataan Baekhyun dan mengelak, “andwae! Shirreo!”

“Apa yang sedang kalian lakukan disini?” mereka tertegun melihat Lee Jinki sudah ada dihadapan mereka lengkap dengan tas kerjanya. “Apa ada salah satu diantara kalian yang membuat masalah?” tanyanya dengan tatapan menyelidik. Buru-buru keempat pria itu mengelak.

“Anniyo! Kita habis diajak Tao kemari!”

“Kita bukan anak-anak yang biasa membuat masalah, Ahjusshi.”

“Ahjusshi sendiri sedang apa disini?” tanya Suho sembari memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Kedua sudut bibir Lee Jinki terangkat membentuk senyuman.

“Aku harus mengurus beberapa hal. Ah, Xiumin dengan siapa dirumah sakit?”

“Luhan Hyung dan Sehun menemaninya di rumah sakit.” Jawab Lay. Iapun menambahkan, “kita berencana kembali ke rumah sakit.”

“Ya sudah, hati-hati dijalan. Oh iya, besok kalian harus sekolah. Biar aku yang menjaga Xiumin besok.”

“Arraseo, Lee Ahjusshi. Kalau begitu kami permisi dulu.” Keempat anak atasannya itu membungkuk hormat dan berlalu. Jinki memerhatikan mereka sampai keluar dari gerbang kantor kepolisian baru dia berjalan menaiki tangga masuk ke kantor.

“Aku ingin menemui Detektif Park.” Pintanya pada bagian informasi. Setelah mengatakan hal itu ia duduk dikursi tunggu sambil sesekali melirik ke arah jam tangannya.

“Lee Jinki-ssi, annyeong haseyo!” ia mendongak pada seorang pria berjaket kulit yang berdiri dihadapannya. Iapun bangkit dan membungkuk pada pria tersebut. “Ayo kita berbicara sambil minum kopi di kedai sebrang jalan.” Ajak pria tersebut dan Jinki langsung mengiyakan.

Tanpa banyak basa-basi mereka pun berjalan keluar kantor lalu menyebrangi jalan dan kemudian mereka memasuki kedai kopi yang menjadi favorit para anggota kepolisian itu. Setelah mendapatkan pesanan masing-masing, mereka pun duduk disalah satu bangku yang kosong.

“Jadi apa motif Lee Jongsuk menyerang Kris?” tanya Jinki setelah mendudukkan dirinya disofa kecil itu.  Detektif Park, atau Park Yoochun itu menyesap kopinya sejenak.

“Setelah kutanya pada preman-preman itu, mereka bilang Lee Jongsuk membawa mereka untuk balas dendam. Sepertinya dia sangat membenci Kris.”

“Ah, ternyata begitu. Tidak ada hal khusus ternyata.”

“Tapi aku mendapatkan informasi menarik.” Yoochun menegakkan duduknya membuat Jinki menghentikan kegiatan minumnya. “Lee Jongsuk dan temannya Kim Woobin hidup sebagai pengedar narkoba. Dan Kris pernah ditawari barang itu, hanya saja Kris langsung menolaknya.”

Jinki cukup terkejut dengan informasi yang diberikan Yoochun. “Apa kau yakin?”

“Ne. Sekarang aku dengan beberapa polisi sedang merencanakan penggerebekan Lee Jongsuk dan Kim Woobin di apartemen mereka.”

Jinki bangkit lalu merapihkan jasnya. “Aku akan mengurus pengeluaran mereka dari sekolah. Kamsahamnida atas informasinya, Detektif Park.”

Yoochun tersenyum lalu ikut bangkit. “Ne, cheonmaneyo. Aku akan segera meneleponmu jika ada informasi baru. Ah, sampaikan salamku pada Xiumin. Kudengar ia masuk rumah sakit karena kecelakaan.”

“Akan kusampaikan.”

# # # # #

“Mwo? Kekasihmu pulang dari New York?” tanya Baekhyun memastikan kalau indera pendengarannya tidak salah menangkap. Krystal menganggukkan kepalanya semangat.

“Ne. Kang Minhyuk akan masuk ke sekolah ini menjadi siswa baru, katanya dia mau bergabung dengan klub jurnalistik juga.” Baekhyun tersenyum mendengarnya.

“Benarkah? Aku jadi tidak sabar untuk bertemu dengannya.”

“Lusa dia sudah masuk sekolah, Oppa. Akan langsung kubawa kemari.” Krystal bangkit dari duduknya sembari membereskan kertas-kertas dihadapannya. “Ayo Oppa kita pulang, sudah sore.”

“Ne.” Baekhyun ikut berdiri dan mengambil tasnya. Mereka pun keluar dari ruang siaran dan Krystal yang menutup pintu. Baru saja Krystal hendak berbalik pergi, ia kembali tertarik ke belakang. Baekhyun memandanganya dengan heran.

“Ah, waeyo? Aigoo, Oppa jamkkanman.” Krystal mendekati Baekhyun dan memegang jas pria itu. Baekhyun terbelalak.

“A–apa yang kau lakukan, Krystal Jung?” tanya Baekhyun salah tingkah. Krystal hanya menunduk dihadapannya sambil menarik-narik jasnya.

“Jamkkanman, rambutku tersangkut dikancing jasmu.” Rupanya Krystal sedang sibuk melepaskan rambutnya yang tersangkut dikancing jas Baekhyun. Mereka bertahan dalam posisi itu cukup lama. “Aish, kenapa susah sekali.”

Tanpa mereka sadari Park Chanyeol berjalan mendekati mereka sambil menjinjing tasnya. Senyumnya perlahan pudar melihat pose Baekhyun dan Krystal yang seperti itu.

“Mwohaneun geoya?” suara bassnya mengagetkan Baekhyun dan Krystal yang ada didepannya. Karena terlalu kaget, Krystal mendongak dan beberapa helai rambut yang tersangkut, tercabut dari kepalanya.

“Aaaahh!” rintihnya sembari memegangi kepalanya. Baekhyun terkejut.

“Gwaenchana?”

Krystal mendongak ke arahnya dan tersenyum miris. “Gwaenchana! Lihat, rambutnya sudah terlepas, hehe.” Baekhyun menoleh ke arah Chanyeol berada tadi, namun pria jangkung itu sudah tidak ada ditempatnya membuat Baekhyun mengedarkan pandangannya dan menemukan pria itu di pintu keluar.

“Krys, aku harus pergi. Annyeong!” Baekhyun melambai singkat pada Krystal lalu berlari mengejar Chanyeol. “Ya, Park Chanyeol!”

Yang dipanggil hanya terus berjalan menuju tempat parkir setelah menerima kunci dari petugas parkir. Ia membuka kunci mobilnya dan membuka pintu, namun tertahan oleh Baekhyun yang menutupnya lagi.

“Sungguh aku tidak melakukan apa-apa dengan Krystal.” Seru Baekhyun penuh penekanan, namun  Chanyeol hanya menatapnya dengan tatapan datar.

“Lalu?”

Baekhyun terdiam sejenak. Chanyeol benar. Lalu? Kenapa dia harus mengatakan itu pada Chanyeol? Agar Chanyeol tidak salah paham? Lalu kenapa kalau Chanyeol salah paham? Itu tidak berpengaruh pada Baekhyun karena pria itu tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Chanyeol.

Tapi entah mengapa Baekhyun merasa tidak enak pada Chanyeol, dan tidak ingin Chanyeol salah paham dengannya. Tiba-tiba Baekhyun melepaskan tangannya dari pintu dan menjauh.

“Benar. Kau benar. Untuk apa aku memberitahumu, haha.” Baekhyun hendak memutar ke pintu kanan, namun Chanyeol tiba-tiba menariknya dan memepetkannya ke badan mobil. “C–Chanyeol-a, apa yang mau kau lakukan?” tanya Baekhyun salah tingkah.

“Wae? Kau bisa sedekat ini dengan Krystal tapi tidak denganku?” tanya Chanyeol dengan tatapan tajam. Perlahan namun pasti wajahnya mendekat membuat Baekhyun menutup matanya ketakutan.

“C–Chanyeol-a…”

“Kau gugup, eoh? Apa kau gugup juga dengan Krystal tadi?”

“C–Chayeol-a… Nanti ada yang melihat–“ Baekhyun terbelalak. Tanpa sadar ia menahan nafas dan terdiam. Beberapa saat baru ia sadar dan mendorong Chanyeol yang tengah mencicipi bibirnya dengan sekuat tenaga. “Micyeoseo!” umpat Baekhyun lalu berlari pergi meninggalkan tempat parkir. Meninggalkan Chanyeol yang terdiam, sama terkejut. Ia tidak menyangka ia akan berbuat itu pada saudaranya sendiri.

Diam-diam seorang pria keluar dari tempat persembunyiannya sambil tersenyum puas menatap layar ponselnya. “Kenapa hasilnya bisa begitu bagus?” pujinya sambil tersenyum licik.

# # # # #

Baekhyun tersentak ketika ia mendapati Chanyeol berada didepan pintu kamarnya. “Baekhyun-a…”

Baekhyun mendadak salah tingkah melihat Chanyeol. Ia langsung menutup pintu dan pergi dari hadapan Chanyeol menuju ruang tengah. Mereka disuruh berkumpul oleh Lee Jinki untuk membicarakan suatu hal penting.

“Sudah berkumpul semua?” tanya Jinki sambil memandang kesebelas pria dihadapannya. Setelah merasa komplit. Diapun duduk. “Ada kabar yang harus kuberitahukan pada kalian. Sebenarnya ini tidak memaksa kalian, tapi alangkah lebih baiknya jika ada yang mau mengerjakan.”

“Apa itu?” tanya Chen penasaran. Semua pun sama antusiasnya seperti Chen. Jinki tersenyum lalu mengeluarkan tabletnya dan menampilkan sebuah foto seorang gadis pada mereka.

“Nugu?” tanya Suho dengan kening berkerut.

“Yeppeo…” gumam Lay dengan wajah polosnya.

Jinki menghela nafas lalu berkata, “dia adalah anak pertama dari pendiri Yoon Group, Yoon Youngah, 26 tahun. Dia sekarang sedang bersekolah di RS Fashion School tahun terakhir. Abeojinya adalah salah satu teman dekat Jung Sajangnim dulu ketika SMA. Dan, beliau adalah pendiri Yoon Group yang sekarang sedang terbaring koma dirumah sakit selama 1 tahun.”

Kening Luhan berkerut mendengar kalimat terakhir. “Apa, Yoon Sajangnim punya dua anak?” tanyanya tiba-tiba membuat semua mata menoleh padanya. Jinki nampak terkejut.

“Benar. Darimana kau tau, Luhan-a?”

“Anak keduanya bernama Yoon Sohee kan?” tanya Luhan lagi membuat mereka semakin terkejut terlebih lagi Kai. “Yoon Youngah adalah eonni Sohee kan?”

“Ne, kau benar sekali, Luhan-a. Apa yeoja bernama Yoon Sohee itu menceritakannya padamu?” tanya Jinki tidak percaya. Luhan menjawabnya dengan anggukan. “Kau berarti sudah tau apa yang akan kubicarakan sekarang?” Luhan mengangguk lagi. Jinki pun mendesah.

“Apa yang mau Ahjusshi bicarakan?” tanya D.O yang tidak mengerti situasi sekarang ini.

“Yoon Group sedang mengalami masa kritis, istri dari Yoon Sajangnim akan menitipkan perusahaan sampai Sajangnim sadar ke perusahaan kita, dengan sebuah kesepakatan.”

“Kesepakatan?” ulang Baekhyun. Jinki mengangguk.

“Sebenarnya Jung Sajangnim tidak terlalu menyukai ini. Tapi, karena tidak bisa menolak permintaan dari istri Yoon Sajangnim, akhirnya Abeoji kalian mengiyakan kesepakatan ini.”

“Kesepakatan apa?” tanya Kai tidak sabaran. Entah mengapa ia jadi sedikit emosi mendengar nama Yoon Sohee keluar dari pembicaraan mereka.

“Istri Yoon Sajangnim berencana menjodohkan anak pertama mereka, Yoon Youngah dengan salah satu diantara kalian.” Kesebelas anak itu terkejut bukan main. Baru kali ini mereka menghadapi perjodohan. Kenapa ini terdengar konyol?

“Shirreo! Aku mau mencari jodohku sendiri.” Seru Chen penuh penegasan. “Untuk Yoon Group, aku bisa mengurusnya sedikit.”

“Xiumin pasti tidak mau karena dia sedang dilanda masalah yang terlalu banyak sekarang.” Keluh Lay. “Lagipula sudah ada Kim Yoojung.”

“Ini konyol, kenapa semua harus berhubungan dengan yeoja.” Suho menggerutu setelah menutup bukunya keras. Kemudian ia bangkit dan berjalan naik menuju kamarnya.

“Jeosonghamnida, Ahjusshi. Keundae, aku tidak bisa melakukannya.” Ujar Baekhyun dengan sopan. Chanyeol melirik ke arahnya.

“Ada yeoja yang kau sukai, Baekhyun-a?” tanya Kris tiba-tiba membuat Baekhyun kaget dan salah tingkah.

“M–mwoya, anniyo! Aku hanya sedang ada suatu masalah yang rumit, hehe.” Elak Baekhyun membuat saudara-saudaranya hanya mengangguk paham.

“Aku sudah ada yeoja yang aku sukai.” Kata Kai singkat. Luhan diam-diam memperhatikannya. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat lalu bangkit.

“Keurae, aku saja yang melakukannya.”

“Mwo?!”

# # # # #

“Berhentilah berbelanja, Yoon Youngah! Lihatlah tagihan kartu kreditmu sudah sepanjang ini!” Yoon Omonim berteriak kesal melihat anak pertamanya itu pulang dengan setumpuk belanjaan.

“Ini untuk bahan belajarku, Eomma!” seru Youngah tidak mau kalah.

“Tapi tolonglah pikir-pikir kalau belanja, lihat, setelah ini pasti tidak akan terpakai!” keluh Yoon Omonim membuat Youngah menekuk wajahnya. Sohee hanya memperhatikan mereka dari anak tangga teratas.

“Aaah, aku capek.” Youngah berjalan cepat menaiki tangga menuju kamarnya.

“Yoon Youngah! Eomma belum selesai bicara!” panggil Yoon Omonim emosi. Sohee buru-buru menuruni tangga dan menghampiri Eommanya itu.

“Eomma, tenanglah… Aku akan bicara baik-baik dengannya.” Sohee berusaha menenangkan.

“Hhh, Eomma tidak mengerti jalan pikiran anak itu! Kalau bukan karena anak Appamu, Eomma tidak akan menganggapnya.”

“Eomma!” tegur Sohee.

Yoon Youngah dan Yoon Sohee memang satu ayah, namun ibu mereka berbeda. Ibu Youngah meninggal setelah melahirkannya, lalu ayah mereka menikah dengan ibu Sohee sekarang. Itu sebabnya Youngah sulit untuk menurut pada ibunya sekarang itu.

“Hhh, padahal aku mau memberitahunya mengenai perjodohan.”

“Sudah ada calonnya, Eomma?” tanya Sohee penasaran. Eommanya itu mengangguk membuat ia semakin penasaran. “Nugu?”

“Namja yang bernama Xi Luhan, putra kedua Jung Sajangnim.”

DEG

Sohee menjatuhkan ponsel yang digenggamnya sejak tadi membuat Eommanya terkejut. “Sohee-ya! Ada apa? Gwaenchana?” Sohee tersadar lalu segera memungut ponselnya.

“A–anni, Eomma… Gwaenchana.”

“Hhh, ya sudah kau makan sana. Eomma sudah siapkan makan malam dimeja. Eomma pusing mau istirahat dulu.” Eommanya berjalan menuju kamarnya dan diikuti pandangan Sohee.

“Jamkkanman Eomma,” Eommanya menoleh sembari mengerutkan keningnya. Sohee tersenyum tipis.

“Bagaimana kalau Youngah Eonni menolak perjodohan ini?”

“Dia harus mau, Sohee-ya. Dia sudah bilang waktu itu dia mau.”

Sohee menghela nafas. “Arraseo. Kalau begitu aku makan dulu ne, Eomma!” Sohee menampakkan senyum manisnya lalu berlari menuju ruang makan.

# # # # #

Wajah Xiumin berubah cerah ketika mendengar penjelasan dokter spesialis mata yang berdiri disamping ranjangnya. “Jinjjayeo? Secepat ini?” tanyanya tidak percaya. Dokter Kang tersenyum lalu menepuk bahunya.

“Kita akan segera mengurus operasinya, kau tidak perlu khawatir.” Dokter Kang pun permisi dari ruangan Xiumin. Xiumin menghela nafas lega dan terus tersenyum. Tidak menyangka dia akan kembali normal secepat ini.

Setelah Dokter Kang meninggalkan ruang inap Xiumin, Geunyoung masuk ke ruangannya. “Annyeong, Xiumin-a!” sapanya sembari berjalan menghampiri Xiumin.

“Noona! Kemana yang lain? Aku kesepian.” Keluh Xiumin seraya menyandarkan tubuhnya ke tumpukkan bantal dibelakangnya.

“Kau kan tau ini masih jam sekolah. Ini Noona bawakan buah dan bunga, kau harus cepat melihat untuk melihat bunga yang indah ini.” Geunyoung bangkit dan mengganti buket bunga di vas dengan buket bunga yang dibawanya.

“Noona, Kang Uisa tadi bilang aku sudah mendapatkan donor kornea yang cocok.” Geunyoung terpaku sejenak. Terlalu kaget.

“Secepat ini? Woaah, kau beruntung sekali, Kim Minseok! Tuhan sangat menyayangimu.”

“Aaah, aku jadi tidak sabar ingin memberitahukan hal ini pada semuanya.”

Geunyoung mengganti air di vas lalu meletakkan vas tersebut dimeja disamping ranjang. Ia kembali mendudukkan tubuhnya dan mengambil keranjang buah yang tadi dibawanya. “Mereka akan segera datang setelah pelajaran selesai. Kau mau buah apa? Disini ada apel, anggur, pisang, jeruk, dan kiwi.”

“Aku mau apel. Tunggu, aku tidak mendengar suara Sangbum Hyung, dia kemana Noona?”

“Dia kembali ke Gwangju, dia kan harus bekerja untuk uang pernikahan kami, hehehe!” Geunyoung terkekeh pelan sembari mengupas sebuah apel merah ditangannya.

Tiba-tiba Xiumin teringat pada seseorang. Kim Yoojung. Kemana gadis itu? Sudah dua hari gadis itu tidak mengunjunginya. Seingatnya hari ini adalah hari operasi Yoojung. Ia tersenyum mengingat gadis itu akan bisa melihat sama seperti dirinya. Ia semakin tidak sabar.

Sedangkan diruangan yang berbeda, Kim Yoojung nampak duduk diam diranjangnya dengan pakaiannya. Pakaian pasiennya sudah diletakkan diatas ranjang dengan terlipat rapih. Ia diam menunggu wanita paruh baya yang berstatus sebagai ibunya itu membereskan barang-barangnya disana.

Yoojung menghela nafas beberapa kali. Ibunya yang sudah menyelesaikan acara berkemas pun berjalan menghampiri Yoojung.

“Yoojungie, ayo pulang.” Ajak beliau sambil tersenyum. Gadis itu hanya mengangguk dan menurunkan tubuhnya dari ranjang. Ibunya memberikan sebuah tongkat yang biasa digunakan gadis itu. “Jungah sudah menunggu didepan rumah sakit. Kajja.”

Didepan pintu ruangan, Dokter Kang sudah menunggu. Ia membungkuk hormat pada ibu Yoojung lalu tersenyum. “Yoojung-a, akan kucarikan gantinya secepat mungkin.”

“Kamsahamnida, Uisa. Tolong jangan bicara apa-apa pada Xiumin nanti. Dan, pastikan operasinya berjalan lancar.” Ujar Yoojung sambil tersenyum tulus.

# # # # #

Baekhyun berusaha menjauhi Chanyeol sejak pagi. Ia memilih memaksa Kris agar mau ditumpangi olehnya daripada masuk ke mobil Chanyeol dengan mudah. Dan, ia terus-terusan menggandeng Chen dalam perjalanannya menuju area kelas 3 daripada harus bersama Chanyeol. Dia benar-benar terlihat menjauhi pria jangkung itu.

“Kalian bertengkar?” tanya Kris yang berjalan disamping Chanyeol. Chanyeol yang sedang berjalan menuju pintu keluar sambil memandangi Baekhyun hanya mengangguk pelan. “Apapun masalah kalian itu, cepat selesaikan. Aku tidak mau ada orang lain didalam mobilku.” Kata Kris dengan wajah datar lalu berjalan mendahului Chanyeol.

Chanyeol menghela nafas. Ia membuka pintu mobilnya tanpa melihat ke arah Baekhyun lagi. Pria itu mungkin sudah berada didalam mobil Suho bersama Chen dan D.O.

“Park Chanyeol.” Pria jangkung itu berbalik dan mendapati Kang Haneul tersenyum ramah kepadanya.

“Mwo?” tanya Chanyeol tanpa minat. Ia melempar tasnya ke dalam mobil lalu menutup pintunya lagi. Kang Haneul berjalan menghampirinya sembari memegang ponselnya.

“Sebenarnya aku tidak memiliki masalah denganmu, tapi aku menemukan sebuah hal yang luar biasa kemarin. Kau mau melihatnya?” Kang Haneul membuka ponselnya dan nampak menekan jarinya dilayar ponsel.

Chanyeol terbelalak begitu Haneul menunjukkan sebuah foto dilayar ponselnya. Foto Chanyeol yang sedang menghimpit Baekhyun ke badan mobil dan bibirnya yang menempel pada bibir pria mungil itu.

“B –bagaimana bisa…”

“Keren kan? Aku pas sekali memotretnya. Kalian benar-benar berani melakukan hal itu ditempat umum.” Chanyeol mengepalkan tangannya geram.

“Apa maumu?”

“Anni. Aku tidak mau apa-apa. Hanya saja, jika foto ini aku perlihatkan pada Abeoji, maka Abeoji akan menghancurkan reputasi keluargamu sehingga SM Group akan mengalami masa kritis. Bisakah begitu?”

“Ini tidak ada sangkut pautnya dengan perusahaan, Haneul-ssi. Jadi tolong hapus saja foto itu.” Chanyeol berusaha menahan emosinya.

“Baekhyun akan sangat malu jika foto ini tersebar. Tenang saja, Chanyeolie, aku akan menyimpan ini baik-baik. Annyeong!” Haneul melambai lalu pergi meninggalkan Chanyeol yang terpaku ditempatnya. Ia mengacak-acak rambutnya kesal lalu masuk ke dalam mobilnya dan memacu kendaraannya itu ke jalanan Seoul.

Sesampainya dirumah ia mendapati mobil Kris, Luhan, dan Suho sudah terparkir rapih disamping mobilnya, berarti mereka sudah pulang.

Ia membuka pintu rumah dengan kasar dan langsung naik ke lantai dua tanpa menghiraukan tatapan aneh saudara-saudara dan pelayan-pelayannya. Bukannya berjalan menuju kamarnya, ia malah berbelok menuju kamar Baekhyun yang berada disebelah kamarnya.

Tanpa mengetuk atau apapun ia langsung membuka pintu kamar Baekhyun dan masuk. Sang pemilik kamar yang tengah merebahkan dirinya dikasur tersentak kaget dan bangkit.

“Apa yang kau lakukan disini–“ kedua mata Baekhyun terbelalak sempurna. Lagi-lagi Chanyeol melakukan hal yang tidak terduga.

Ia memeluk Baekhyun erat sampai Baekhyun terlentang dikasurnya. Chanyeol memeluk Baekhyun dengan posisi menindihnya. Membuat siapapun yang melihatnya akan salah paham.

“C–Chanyeol-a…” Baekhyun tertegun begitu merasakan tubuh yang memeluknya itu bergetar. Chanyeol menangis.

“Jangan seperti ini, Baekie-ya, jebal, jangan menjauhiku.” Baekhyun tertegun. Baru kali ini Chanyeol merengek padanya, dengan suara yang nge-bass seperti itu. Tanpa maksud apapun, Baekhyun mengelus kepala Chanyeol, menenangkan pria itu. “Eotteokhae? Kau jadi dalam bahaya karena aku…”

“Apa maksudmu?”

“Ada orang yang memiliki foto kita kemarin…” Baekhyun mendorong Chanyeol bangkit begitu juga dengan dirinya.

“M–mwo? Nugu?” tanya Baekhyun ketakutan.

“Kang Haneul. Dia memilikinya.” Jawab Chanyeol dengan kepala tertunduk. Seketika Baekhyun lemas. “T–tenang saja! Aku akan memastikan dia tidak akan menyebarkannya. Jika memang dia melakukannya, aku akan menjagamu.”

Baekhyun terpaku mendengar omongan Chanyeol, terdengar penuh tekad dan tulus. Baekhyun hanya tersenyum pada pria jangkung itu dan berkata, “carilah seorang yeoja, Chanyeolie.”

# # # # #

“Wah, jinjjayeo? Chukkae Hyung!” seru Kai memberi selamat setelah Xiumin memberitahu kesebelas saudaranya mengenai donor kornea yang baru saja didapatkannya.

“Kapan operasinya berlangsung?” tanya Suho sambil tersenyum tipis. Ia sangat bahagia mendengar kabar itu.

“Besok. Kang Uisa akan segera mengurusnya. Kalian tidak perlu khawatir dan sekolahlah dengan benar ne. Aku akan menyusul kalian, hahaha!” canda Xiumin mengundang tawa saudara-saudaranya.

Hari itu mereka menghabiskan waktu sore sampai malam mereka di kamar inap Xiumin. Semuanya berwajah bahagia kecuali Luhan, Chanyeol, dan Baekhyun. Sebenarnya Luhan dan Baekhyun berusaha menyembunyikan wajah suram mereka dengan ikut tertawa. Namun tidak dengan Chanyeol. Ia memilih duduk diam memperhatikan Baekhyun yang tertawa dengan terpaksa.

“Ya, Chanyeol-a, wae irae? Kau aneh sekali hari ini.” Tegur Chen yang menyadari Chanyeol diam sejak tadi. Semua pasang mata pun menoleh padanya. Betapa gusarnya ia ketika melihat Baekhyun hanya meliriknya sekilas lalu sibuk memotong apel untuk cemilan.

“Anniyo. Aku pulang saja.” Chanyeol bangkit lalu berjalan menuju tempat Baekhyun duduk. Ia melirik Baekhyun yang sedang menundukkan kepalanya sejenak lalu berjalan menuju pintu ruangan.

Xiumin yang tidak mengerti keadaan langsung bertanya. “Ada apa dengan Chanyeol?”

Lay mengangkat bahu. “Molla. Seharian dia seperti itu. Sedang PMS kali.”

“Hahahaha!” lagi-lagi semua tertawa terbahak-bahak kecuali Baekhyun yang terus menundukkan kepalanya.

Ketika Chanyeol hendak keluar dari rumah sakit, ia tidak sengaja menubruk seorang gadis yang sibuk dengan ponselnya.

BRUKK

Gadis itupun terjatuh dan ponselnya juga terjatuh dengan tidak selamat. “Aaah, appo…”

“Ya, gwaenchana?” Chanyeol berlutut dan menatap gadis itu. Gadis itu hanya mengangguk-angguk tidak jelas dan tersentak ketika melihat keadaan layar ponselnya yang retak.

“Aaah, ponselku!” ia langsung mengambilnya dan memeriksa layar ponselnya tersebut. Wajahnya seperti ingin menangis membuat Chanyeol iba.

“Jeosonghamnida, apa retaknya parah? Biar kuganti yang baru.” Gadis itu langsung mendongak.

“Jinjja? Kau mau membelikanku yang baru?” tanya gadis itu bersemangat, Chanyeol mengerutkan keningnya bingung.

“N–ne. Kalau kau mau kita bisa membelinya sekarang.” Mendengar ajakan Chanyeol gadis itu langsung bangkit dan memasukkan ponselnya ke tas tangannya.

“Kajja!” Chanyeol hanya bisa melongo melihat tingkah gadis itu. Apa dia tidak salah melihat?

Chanyeol mempersilahkan gadis itu masuk ke mobilnya lalu memacunya ke sebuah mall terdekat. Gadis itu tiba-tiba menoleh padanya.

“Oh iya kita belum berkenalan. Namamu siapa?” tanyanya.

“Park Chanyeol.”

“Yoon Youngah.” Serunya sambil mengulurkan tangan. Chanyeol pun menjabat tangan gadis itu. Tunggu, rasanya ia pernah melihat gadis ini sebelumnya. Tapi, dimana ya?

Ketika mereka sampai di mall, Youngah berjalan duluan menuju sebuah toko ponsel yang mereknya sama dengan ponselnya yang jatuh tadi. Chanyeol yang berjalan dibelakangnya terus memerhatikan gerak-gerik dan penampilan gadis itu.

Gayanya begitu up to date dan excited pada barang-barang yang dilihatnya dan rata-rata yang dilihatnya adalah barang-barang mahal. Gerakannya begitu lincah membuat Chanyeol kebingungan.

“Ah, ini ponselku, Chanyeol-ssi.” Gadis bernama Youngah itu menunjuk sebuah ponsel yang bertipe sama dengan miliknya.

“Kami ambil yang ini.” Serunya pada sang pramuniaga yang berjaga. Setelah menunggu beberapa menit mereka pun keluar dengan sebuah kantong kertas ditangan Yoon Youngah.

“Chanyeol-ssi, jeongmal kamsahamnida!” seru gadis itu sambil tersenyum manis. Chanyeol hanya membalasnya tipis. Matanya tiba-tiba tertuju pada restoran cepat saji yang tidak jauh dari toko ponsel.

“Cheomaneyo, ini juga salahku. Ah, bagaimana kalau kita makan dulu? Aku lapar.” Tawar Chanyeol sembari menunjuk restoran cepat saji itu. Youngah menolehkan kepalanya lalu menganggukkan kepala dengan semangat.

“Kajja!” Chanyeol hanya terkekeh melihat tingkah Youngah yang terlalu bersemangat akan sesuatu. Terlalu excited. Namun, Chanyeol cukup menyukainya.

Dan baru kali ini Baekhyun benar-benar tidak terlitas dalam benaknya.

# # # # #

Lay tersenyum menatap buket bunga yang ada ditangannya. Kakinya melangkah memasuki gedung rumah sakit dengan semangat. Pagi tadi Xiumin baru saja menjalani operasi dan Lay berencana menjenguknya sebelum saudara-saudaranya yang lain.

“Eoh, Kim Yoojung?” ia menghentikan langkahnya begitu melihat sesosok gadis yang berdiri didepan meja informasi sambil menggenggam tongkatnya. Ia mengerutkan keningnya heran. Seingatnya Xiumin mengatakan kalau operasi Yoojung sudah berjalan dua hari yang lalu. Lalu, kenapa gadis itu masih berjalan menggunakan tongkat?

Karena rasa penasaran yang luar biasa, iapun menggerakkan kakinya menghampiri gadis itu yang sedang menanyai suster yang berjaga di meja informasi. “Yoojung-ssi!” ia menepuk bahu gadis itu pelan membuat gadis itu menggeleng.

“Ah, nuguseyo?” tanyanya sambil menatap kosong ke arah Lay.

“Annyeong, Lay imnida. Aku salah satu Dongsaeng Xiumin Hyung.” Jelas Lay memperkenalkan diri. Gadis itu tersentak begitu mendengar nama Xiumin. Buru-buru ia mengucapkan terima kasih pada sang suster dan membungkuk sekilas ke arah Lay kemudian ia berjalan pergi dengan tergesa-gesa. “Ya, jamkkanman!”

Lay berjalan mengejar gadis itu yang jalannya semakin cepat. “Jamkkanman, kenapa kau pergi? Kim Yoojung-ssi!” serunya memanggil-manggil Yoojung yang tidak menoleh sama sekali. Lay menghela nafas lalu berlari menangkap lengan Yoojung.

“Lepaskan aku!” seru Yoojung berusaha melepaskan lengannya dari genggaman Lay.

“Kau ini kenapa? Kenapa pergi? Aku bukan penjahat!” seru Lay berusaha membela diri. Ia tersentak melihat bulir-bulir airmata mengalir dari kedua mata buta tersebut. “Y –Yoojung-ssi, wae geurae?” tanya Lay panik. “Apa aku kasar padamu? Mianhae…”

Setelah berusaha menenangkan Yoojung, Lay pun mengajak Yoojung pergi ke cafe yang tidak jauh dari rumah sakit. Secangkir Vanilla Latte yang mengepul sedikit menenangkan Yoojung. Iapun tersenyum tipis dan membungkukkan kepalanya sejenak.

“Kamsahamnida, Lay-ssi…”

Lay tersenyum simpul. “Gwaenchana, Yoojung-ssi. Aku malah senang bisa bertemu dan mengobrol denganmu seperti ini.” Ujar Lay ramah. “Keundae, sebelum itu ada yang ingin kutanyakan.”

DEG

Kim Yoojung terpaku untuk sesaat. Namun, ia menyingkirkan wajah tegangnya dengan senyum yang ramah. “Kau pasti ingin menanyakan kenapa aku masih buta kan?” tebak Yoojung tepat sasaran. Lay terlihat salah tingkah.

“Ah, bukannya aku ikut campur, tapi kemarin aku dengar dari Xiumin kau sudah menjalani operasi dua hari yang lalu. Apa, emm, operasinya gagal?” tanya Lay hati-hati. Yoojung tersenyum miris.

“Apa kau berjanji akan merahasiakannya jika aku menceritakannya?” tanya Yoojung dengan suara lirih. Lay mengusap tengkuknya bingung.

“Emm, mungkin aku bisa menjaganya. Apa yang terjadi?”

“Donor kornea untukku, kuberikan pada Xiumin…”

“Mwo?!”

# To Be Continued #

Haha, segini dulu ya~ Mian kalo selanjutnya bakal lama lagi, dimaklum akan menghadapi UN wkwkwk

Jangan lupa komen ‘berisi’ nya kkk ^^ walaupun ga bakal sempet aku bales satu2, tapi aku bakal sempet baca semua komen kalian 🙂

Advertisements

35 responses to “Who’s the Next (Chapter 11)

  1. masalahnya makin rumit aja.banyak banget konfliknya.salut buat kak author.
    yang bisa nyeritain berbagai konfliknya yang banyak itu.lanjut kak.semangat

  2. hua.. aku sedih loh bacanya thor.. apa chanyeol bakal suka sama cewek itu? itu kan yang bakal di tunangin sama luhan kan??
    u,u apa lagi” luhan bakal ngalah?

  3. keren dah sama konfliknya, jd nambah rumit sama semakin seru, kak keren dah ceritanya. cepetan rilis dong part selanjutnya hehe penasaran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s