Continuous Winter – Chapter 3


Continuous Winter

Copyright © EnnyHutami’s fanfiction 2014

| Lenght : Series | Rating : PG-15 | Genre : Gloomy, Thriller, Romance |

| Cast : Oh Sehun, Park Hyeju, Byun Baekhyun, Jung Jiyoo and others |

| Disclaimer : Ispired by movie with title ‘Girl’ |

Note : Yang suka silakan baca dan berikan tanggapan di kolom komentar serta like-nya. Bagi yang tidak suka dilarang keras untuk membaca dan bashing.

Chapter 2

~œ Swinspirit œ~

Wajah gadis itu yang tesenyum manis tepat di depan wajahnya muncul di benak Sehun. Sebuah senyum kesukaan Sehun, yang ia harap jika senyum itu hanya miliknya. Tetapi, ia tahu bahwa harapannya itu hanya sekedar angan-angan yang tak akan pernah digapainya. Gadis itu menyukai orang lain—tidak, lebih tepatnya hati gadis itu terbagi menjadi dua.

Setengah adalah miliknya, dan setengah lagi milik sahabatnya, Xi Luhan.

Sehun menarik dirinya dari gadis itu, menjauhkan wajahnya dengan wajah gadis itu yang beberapa detik yang lalu sempat tak berjarak.

“Maafkan aku,” ucap Sehun dengan suara pelan nyaris berbisik. Wajahnya tertunduk ke bawah, tak berani menatap wajah gadis itu.

Gadis itu menempatkan kedua tangannya pada pipi Sehun, mengangkatnya agar mata Sehun dapat membalas tatapannya tepat di manik mata. Lalu melepaskan tangannya dari wajah Sehun. “Seharusnya aku yang meminta maaf padamu, Sehun-a. Tidak seharusnya aku—”

Sehun tidak tahu apa yang sedang merasukinya saat ini, namun ia tidak menyukai gadis yang dicintainya itu merasa bahwa dirinya lah yang bersalah. Jadi dengan mengumpulkan keberaniannya, ia membungkam bibir gadis itu dan menciumnya lagi. Kali ini ia memberanikan diri untuk melumat bibir bawah gadis tersebut.

“Aku mencintaimu, Kim Jisoo.” Gumaman Sehun terdengar muram dan putus asa ketika ia mengatakannya setelah melepaskan diri untuk menghentikan apa yang tengah terjadi saat ini. Lalu ia berdiri dan pergi meninggalkan Jisoo sendirian yang mematung di tempatnya.

~œ~œ~œ~

Sehun memperhatikan seorang guru muda yang akan menjadi guru kesustraan Korea baru di sekolahnya. Ia merasa tidak percaya begitu melihat guru yang terlihat masih sangat muda itu. Wajah guru tersebut benar-benar mirip seperti gadis yang dicintainya, Kim Jisoo.

Seorang gadis yang menjadi alasan utamanya menyetujui tawaran ibunya untuk pindah ke kota kecil yang selalu tertutupi salju ini.

“Sebagai guru baru di kelas ini, saya harap kita bisa bekerja sama.” Kata guru bernama Jung Jiyoo dengan senyuman hangatnya yang mengingatkan Sehun kembali pada Jisoo yang entah bagaimana kabarnya saat ini.

“Sebelum masuk ke materi, ada yang ingin kalian tanyakan? Jangan sungkan, jika saya bisa menjawabnya, pasti akan saya jawab.” Tambah Jiyoo masih dengan senyuman hangatnya, mencoba untuk mencairkan suasana kelar agar tidak terlalu tegang. Toh, materi yang diberikannya tidak terlalu sulit dan membutuhkan otak yang jungkir balik untuk mengolah angka dan tulisan.

Seorang murid laki-laki mengangkat sebelah tangannya, membuat semua mata di kelas tersebut mengarah padanya. “Apa kau sudah menikah?” tanyanya, dan sontak membuat orang-orang di kelas—termasuk Jiyoo sendiri—tertawa. Kecuali beberapa orang tentu saja.

Jiyoo menggelengkan kepalanya, sambil tersenyum menanggapi pertanyaan anak muridnya yang terdengar lucu. “Belum,” jawabnya dengan ramah tanpa tersinggung.

“Bagaimana jika guru menungguku lulus sekolah?” seseorang mengangkat tangan lagi dan membuat sorak-sorakkan di kelas semakin keras.

Tentu saja Jiyoo hanya menanggapinya seperti lelucon yang sering dilihatnya di televisi. Hendak saja ia menjawab, namun seorang murid yang duduk di kursi kedua dari belakang memukul mejanya. “Bisakah kita langsung masuk materi?” ucapnya sakartis sembali menatap Jiyoo tajam. Matanya terlihat berapi-api.

Jelas dia marah, Jiyoo tahu itu.

Jiyoo yang sedikit terlonjak pun menganggukkan kepalanya dan mengganti topik dengan materi yang harus diberikan kepada kelas barunya. Anak lelaki itu—Byun Baekhyun—memang yang membuatnya berat hari masuk ke kelas ini. Namun ia harus bersikap prefesional sebagai seorang guru baru.

Lagipula, sampai saat ini Jiyoo tidak tahu mengapa ia selalu takut pada Baekhyun yang tengah marah. Padahal Jiyoo tengah menghindari dan berusaha membenci laki-laki itu.

~œ~œ~œ~

Lebih dari satu minggu Sehun selalu pulang ketika hari hampir berganti gelap karena disengaja. Seperti hari ini, ia melangkah di tengah tumpukan salju yang tidak terlalu tinggi—sebenarnya ada jalan lain yang tidak mengharuskannya melewati jalan penuh tumpukan salju melainkan jalan kecil yang diapit rumah-rumah warga. Namun rutenya cukup jauh.

Dan juga, ia ingin mengobrol dengan Hyeju yang perlahan mulai membuka dirinya untuk Sehun. Sejauh ini dirinya belum benar-benar bisa mengerti dengan apa yang dipikirkan Hyeju dan juga bagaimana diri gadis itu yang sesungguhnya.

Jika iaingin menyimpulkan bahwa Hyeju ternyata adalah gadis yang cerewet, bisa dikatakan iya dan tidak. Terkadang memang Hyeju banyak bicara, namun terkadang dia hanya berbicara jika diperlukan saja.

Masih terlalu banyak hal yang belum ia ketahui tentang gadis itu, dan itu membuatnya semakin gencar untuk mencari tahu. Gadis itu terlalu misterius bagi dirinya.

“Kau datang lagi?” Ucap Hyeju acuh tak acuh sembari berputar di atas permukaan danau yang membeku dengan sepatu putihnya.

“Mm,” Sehun menyahut sembari menghempaskan dirinya duduk di atas potongan kayu besar yang selalu ia duduki.

Cukup lama keduanya tak berbicara melainkan hanya menggeluti aktivitas yang tengah mereka lakukan dalam diam. Hyeju berputar seperti menari di atas permukaan danau, rambutnya berterbangan ke belakang sehingga wajahnya terlihat dengan jelas. Sedangkan Sehun duduk diam dan terus mengamati Hyeju.

Menurut Sehun, Hyeju terlalu cantik untuk dijauhi dan dikucilkan oleh orang-orang. Dan juga, Hyeju sangatlah pintar dalam hal logika.

Lalu Sehun tertegun ketika melihat Hyeju mengulas senyumnya—memang bukan tersenyum padanya. Namun, untuk pertama kalinya, Sehun melihat gadis—yang katanya—horor itu tersenyum. Matanya tampak berbinar-binar, membuat Sehun bertanya-tanya alasan dibalik senyum bahagiannya itu.

Kemudian Hyeju menghentikan aktivitasnya dan duduk di samping Sehun untuk melepas sepatunya dan menggantikannya dengan sepatu sekolah.

“Kau ingin tetap di sini?” Hyeju bertanya sembari menolehkan kepalanya kepada Sehun, helaian rambutnya lagi-lagi menutupi sebelah matanya dan senyum bahagianya lenyap entah ke mana.

Suara rendah Hyeju membangunkan Sehun, ia pun mengerjapkan matanya sekali dan mengangkat sebelah matanya ketika melihat Hyeju membereskan barang-barangnya, memakai tasnya kembali, dan berdiri.

“Kau ingin pulang?” Tanya Sehun, ikut berdiri.

“Aku ingin membeli bahan makanan dulu sebelum pulang.” Jawab Hyeju singkat sembari bersiap untuk pergi.

“Tunggu. Kutemani kau.” Kata Sehun sembari mengambil langkah besar untuk mengejar langkah Hyeju.

Dan untuk yang pertama kalinya juga, Hyeju tidak menolak. Yah, dia memang tidak mengiyakan, namun juga tidak menyetujui.

Hari ini Sehun merasa ada yang berbeda dari Hyeju. Gadis itu lebih cerah walaupun untuk orang-orang yang hanya melihatnya saja akan tetap menganggapnya menyeramkan.

Sehun terus berlajan di belakang Hyeju ketika berada di toko dan terus memperhatikan Hyeju yang melihat-lihat sayuran di raknya.

“Kau bisa memasak?” Sehun memulai membuka percakapan.

Tanpa menolehkan kepalanya ke arah Sehun, Hyeju pun menjawab, “Ya, sejak kecil aku tidak memiliki ibu, jadi aku harus bisa memasak. Dan walaupun sekarang aku tinggal berdua dengan kakak perempuanku, tetapi, aku selalu memasak untuk diriku sendiri.”

Kemudian keduanya berdiri di depan meja kasir setelah Hyeju selesai. Bisa Sehun lihat ketika sang wanita penjaga kasir sedikit terkejut menjauh dari Hyeju. Dan Sehun menduga jika keberadaan Hyeju memang cukup dikenal di kota kecil ini karena saat ini penampilan Hyeju tidaklah begitu menyeramkan.

Setelah membayar, Hyeju membungkukan badannya sedikit tanda berterima kasih dengan cara yang memang cukup menyeramkan—Sehun mengakui itu begitu melihat gerakan Hyeju yang agak lambat. Sehun ikut membungkukan sedikit badannya pada sang kasir sebelum mengikuti Hyeju keluar toko.

“Kau mau memasak apa?” lagi-lagi Sehun bertanya setelah menyejajarkan langkahnya dengan langkah Hyeju. Ia merasa ketagihan untuk mendengar suara Hyeju yang rendah itu.

“Kimchi Jiggae1], Soondubu Jiggae2], dan Hoddeok3],” jawab Hyeju sembari memeluk kantung belanjanya. “Hyejin eonni sangat suka makan Hoddeok buatan ayah ketika musim dingin.” Celontehnya tanpa sadar. Dan Sehun hanya bisa memandangi dan mendengarkannya. Sehun tidak ingin ia berhenti menceritakan dirinya sendiri (lebih tepatnya menceritakan tentang kakak perempuannya).

“Kau bisa membuat Hoddeok?” Sehun bertanya ketika merasa jika Hyeju tidak akan melanjutkan celontehan tentang dirinya maupun kakak perempuannya yang bernama Hyeju itu melainkan terus berjalan lurus dengan kepala yang sedikit dirundukkan dan langkah yang diseret—ciri khas berjalan Hyeju.

Hyeju menganggukkan kepalanya lalu menoleh pada Sehun. “Ayahku telah mengajarkanku caranya membuat Hoddeok. Tetapi, aku belum pernah mencoba membuatnya lagi setelah ayah meninggal.” Ceritanya tanpa intonasi tertentu sehingga Sehun tidak bisa menebak-nebak apa yang tengah dipikirkan atau dirasakannya ketika mengingat ayahnya yang sudah meninggal.

Sebenarnya Sehun ingin bertanya penyebab kematian ayah Hyeju dan juga mengapa orang-orang bilang bahwa dirinya dikutuk oleh ayahnya sendiri, namun Sehun merasa bahwa itu akan terlalu lancang dan hanya membuat ia menjauhinya lagi.

Jadi, “Bolehkah aku menyicipi Hoddeok buatanmu?” tanya Sehun, sedikit meminta sebenarnya.

Sebelum menjawab, Hyeju lebih dulu menimbang-nimbang. Lalu ia menoleh kembali pada Sehun dan menganggukkan kepalanya. “Baiklah, besok kubawakan untukmu.”

~œ~œ~œ~

“Terima kasih sudah mau menemaniku.” Hyeju berucap dengan ulasan senyum kecil pada Sehun ketika keduanya telah berada di depan pagar rumah milik Hyeju. Untuk hari ini, Hyeju tahu jika dirinya banyak senyum, terlebih lagi saat ia memikirkan catatan kecil dari kakaknya yang terdapat di lemari pendingin.

Aku akan makan malam di rumah. Tolong siapkan makanan ya, Hyeju.

Mengingat bahwa kakak perempuannya itu akan makan malam bersamanya lagi setelah beberapa tahun, Hyeju menjadi sangat senang dan tidak sabar untuk makan malam bersama kakaknya lagi.

Baginya, ini benar-benar keajaiban. Kakaknya yang ia tahu sangat membencinya, kini ingin makan malam di rumah dan menyuruhnya memasakkan untuknya. Ia tidak keberatan, tentu saja.

“Sama-sama,” balas Sehun, namun tidak mengulas senyumnya. Dan Hyeju bisa menyimpulkan bahwa Sehun bukanlah orang yang murah senyum. Laki-laki itu tidak bisa ditulari rasa bahagia darinya (atau mungkin karena yang sedang bahagia terlalu seram untuk menulari virus senang?).

Hyeju hampir akan masuk ke dalam pekarangan rumahnya dan menutup pintu pagar ketika ia teringat sesuatu yang dilupakannya untuk hari ini lantaran terlalu sibuk berbahagia sendiri karena kakaknya. Ia pun membalikkan badannya dan mendapati Sehun masih berdiri di tempatnya dan memandangi punggungnya.

“Oh ya, Sehun,” panggil Hyeju, meneliti bagaimana wajah Sehun yang terlihat agar bingung dengan dirinya yang hendak mengatakan sesuatu. Lalu, “Kenapa kau baik sekali padaku?”

Ya. Pertanyaan seperti itu sesungguhnya telah mangkir lama di benak Hyeju sejak Sehun menolongnya saat jatuh waktu itu padahal jelas Sehun terlihat seakan takut pada darah, dan sikap Sehun yang sangat berbanding terbalik dengan orang-orang lainnya.

Lama sebelum Sehun menjawab pertanyaan Hyeju. Ia harus berpikir dan mencari tahu mengapa Hyeju bertanya mengapa ia begitu baik. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia tidak tahu jawabannya. Serius. Dia sendiri pun tidak tahu mengapa ia bisa seperti ini.

“Aku memang seperti ini.” Jawab Sehun sekenanya sambil mengangkat bahu acuh tak acuh.

“Kau tidak seperti itu dari yang kulihat,” sergah Hyeju, masih tanpa ekpresinya.

“Kau memperhatikanku.”

“Aku memperhatikan semua orang.” Sedikit ada penekanan kata ketika Hyeju mengoreksi tuduhan atau mungkin hanya pernyataan Sehun.

Akhirnya Sehun menyerah dengan menghela nafasnya. “Karena aku tertarik padamu?” ucapnya lagi dengan tidak yakin. Ia bahkan tidak tahu mengapa ia begitu tertarik dengan gadis horor yang sangat populer di kota kecil ini.

Ia tahu ini bukanlah perasaan suka karena ia pernah merasakan perasaan saat ia tengah menyukai—atau mencintai—seseorang. Dan sampai sekarang belum ada yang bisa menggantikan gadis itu walaupun sudah pasti gadis itu membencinya karena kematian Luhan, teman baiknya.

Hyeju mendengus mendengarnya. “Awalnya orang-orang juga tertarik padaku. Tetapi, pada akhirnya mereka kabur karena takut,” ucapnya, merasa bosan karena tentu saja ia tahu mengapa Sehun tertarik padanya. Ia berbeda dan aneh, tidak ada gadis yang sepertinya. Lalu, “Mungkin kau juga akan seperti itu.”

~œ~œ~œ~

Sejak sekitar dua jam yang lalu Hyeju berkutat di dapur untuk membuat makanan kakaknya, Park Hyejin. Ia memang akan membuat tiga jenis makanan malam itu, namun ketiganya adalah makanan kesukaan Hyejin di cuaca dingin seperti ini.

Untuk yang pertama kalinya, ia memasak untuk Hyejin.

Kemudian Hyejin datang tepat pada saat Hyeju selesai menyiapkan makanan di meja kecil serba guna di ruang tengah. Ia terlihat lelah dengan kantung mata yang menghitam. Hyeju tahu jika ia berkerja keras untuk menghidupi dirinya sendiri dan juga Hyeju. Buktinya, walaupun ia tidak pernah berbicara dengannya, tetapi Hyeju tetap mendapat uang saku darinya serta uang untuk keperluan lainnya seperti sekolah.

Hyejin tidak langsung duduk untuk menyantap makan malamnya melainkan masuk ke kamarnya untuk mandi, melepas penat tentang semua kejadian yang terjadi hari ini.

Umur Hyejin dengan umur Hyeju terpaut sembilan tahun jauhnya, jadi itu membuat kedua memang tidak dekat jikapun Hyejin tidak membenci Hyeju. Dan fisik mereka cukup terlihat jauh sehingga keduanya tidak terlihat seperti saudara kandung. Hyejin yang lebih mirip ke ayahnya mempunyai postur tubuh tinggi kurus serta rambut bergelombang. Matanya besar dengan dagu lancip dan hidungnya bisa dikatakan cukup mancung.

Sedangkan Hyeju lebih mirip ke ibunya. Ia hanya memiliki tinggi rata-rata dengan rambut hitam lurus, mata yang tidak sebesar dan dagu yang tidak selancip milik Hyejin, serta hidung mancungnya yang mungil.

Tak lama setelah itu, Hyejin keluar dari kamarnya dengan pakaian hangat yang santai dan duduk di hadapan Hyeju yang sudah mewanti-wanti keadaan seperti ini akan terjadi. Dan doanya pun terkabul. Kini Hyejin duduk di hadapannya untuk makan malam bersama.

“Aku membuat makanan spesial untukmu,” kata Hyeju dengan senyum yang tidak bisa hilang sejak tadi. Ia terlalu senang.

Hyejin tidak menjawab perkataan Hyeju dan hanya menyantap makanan yang dibuat oleh Hyeju. Namun Hyeju tidak kelihatan kecewa ataupun tersinggung karena Hyejin tidak berterima kasih padanya karena telah menyiapkan makan malam. Dan keduanya pun menyantap makanan di atas meja tanpa mengatakan sepatah katapun.

Mungkin, Hyejin lah yang membuat Hyeju yang sebenarnya anak ceria dan senang bericara itu menjadi seperti ini. Ia merasa bahwa itu benar, namun ia menyukuri hal itu karena itu bisa membuat adiknya tetap aman.

Sebelum Hyejin bangkit untuk menaruh piring-piring kotor dan mencucinya, lebih dulu ia membuka suara untuk memberitahu adiknya itu sesuatu.

“Kau,” katanya memulai. “Di luar rumah, tolong jangan panggil aku eonni atau pura-pura tidak mengenalku. Aku akan tinggal di Busan mulai lusa.”

Kalimat yang dilontarkan Hyejin benar-benar menohok Hyeju dan membuat rasa gembira setelah makan malam bersama kakaknya itu pudar seketika. Hyeju menatap Hyejin dengan sorot mata bingung, sedih dan juga kecewa namun tidak membantah dan tetap diam.

Makan malam hanya menjadi kamuflase saja. Dan mungkin setelah ini keduanya akan menjadi orang asing yang tidak saling mengenal, serta akan membuat Hyeju makin kesepian tinggal di rumah sendirian.

~œ~œ~œ~

Sehun merasa jika Hyeju berubah kembali seperti sebelumnya hari ini. Gadis itu memang menepati janjinya untuk membuatkan Hoddeok untuknya, namun gadis itu kembali dingin dan tidak banyak omong. Padahal kini mereka tengah berada di kantin, duduk di meja yang sama bersama Baekhyun yang terus berbicara tentang rumor-rumor yang ditujukan kepada Hyeju.

“Mereka semua gila jika percaya pada rumor bahwa kau dikutuk ayahmu sendiri. Bagaimana mungkin seorang ayah—”

“Baekhyun,” Hyeju menyela sembari mengangkat kepalanya dari makanannya untuk menatap Baekhyun yang langsung terdiam ketika Hyeju menyela celotehannya yang terkadang melebihi perempuan. “Wanita itu Guru Jung, bukan?” tanyanya tanpa memperjelas pertanyaannya.

Baekhyun menatap Hyeju dan Sehun yang penasaran agak panik. Lalu, “Tentang itu… tolong jangan beritahu siapapun.” Pintanya, sedikit memohon.

Sehun mengerutkan hidungnya heran. Guru bermarga Jung memang tidak sedikit di sekolah ini, namun hanya satu guru bermarga Jung yang mengajar di kelasnya. Jung Jiyoo. Dan, sesungguhnya pun Sehun sudah merasa curiga pada Baekhyun sejak guru tersebut pertama masuk di kelas.

Jadi…, “Ada apa dengan kau dan Guru Jung?” Sehun memang bukan tipe orang yang suka menyampuri urusan orang lain, namun karena Baekhyun sudah dianggap temannya dan peduli sekali padanya, ia pun bertanya.

“Tidak ada apa-apa.” Balas Baekhyun, memasang poker face-nya.

Lalu Sehun menoleh pada Hyeju dan melempar pertanyaan bertanya, namun gadis itu tidak meresponnya dan hanya kembali merunduk dan menyantap makanannya kembali.

Hari ini, walaupun Hyeju kembali seperti biasanya, namun ia tidak menghindar ketika Sehun dan Baekhyun duduk di hadapannya. Sehun tidak tahu mengapa, namun ia tidak mau ambil pusing dan menduga jika Hyeju hanya tidak mau makan bersama orang asing yang tidak di kenalnya.

Tentang temanmu… aku turut berduka cita.

Kemudian Sehun teringat sesuatu dan ia menatap Hyeju yang tetap menyantap makanannya. Ia jelas merasa aneh dengan Hyeju. Bagaimana gadis itu bisa tahu tentang temannya, Xi Luhan, dan bagaimana gadis itu tahu rahasia Baekhyun tentang guru baru di sekolah, Jung Jiyoo? Pertanyaan itu hanya berputar-putar di kepalanya tanpa mendapat jawabannya.

~œ~œ~œ~

Belakangan ini gadis bernama Jikyung tidak lagi menganggu Sehun, dan ia sangat lega akan itu. Sudah satu minggu lebih ia bersekolah di sini dan itu membuat orang-orang tak lagi memandangnya ketika ia lewat—meskipun ada beberapa gadis yang melirik ke arahnya ketika ia lewat di hadapannya.

Hari ini tidak biasanya Hyeju tidak masuk sekolah. Ia tidak tahu alasan dibalik absennya Hyeju, sehingga ia menduga-duga jika gadis itu sakit. Untuk membenarkan dugaannya, ia pun berencana untuk mengunjungi rumah Hyeju.

Keadaan di sekitar rumah Hyeju sepi, dan Sehun bisa menebak jika memang di sekitar sini selalu sepi ketika mendengar cerita-cerita singkat Hyeju. Kemudian kakinya menapak di depan pagar kayu yang tidak lebih tinggi darinya.

Sekali dan dua kali ketukan tak juga menunjukkan reaksi adanya orang di dalam sana. Akhirnya Sehun memberanikan dirinya untuk mencoba membuka pintu pagar kayu tersebut, namun ternyata terkunci dari dalam.

Otaknya berpikir, apa Hyeju tidak ada di dalam sehingga tidak mendengar ketukannya? Namun jelas sekali jika pintu pagar kayu tersebut tidak dikunci dari luar melainkan dari dalam. Jadi, tidak mungkin tidak ada orang di dalam.

Lalu Sehun pun kembali mengetuk pintu pagar di depannya sekali lagi, kali ini dengan lebih keras agar siapapun orang di dalam bisa mendengarnya.

Angin bertiup pelan, membuat Sehun merasa ada sesuatu yang tidak beres walaupun ia tidak tahu itu apa.

Pada akhirnya Sehun memilih untuk mengintip ke dalam dengan menjinjitkan kakinya sehingga ia dapat melihat keadaan pekarangan rumah Hyeju yang tertutup oleh salju putih yang terlihat cukup dalam. Dan seketika matanya melebar saat melihat seorang gadis yang mengenakan pakaian terusan putih, jaket berwarna senada, serta syal merah yang melilit di lehernya berdiri di tengah pekarangan rumah.

Mata mereka bertemu dan Sehun dapat melihat sorot mata tajam dan dingin yang diperlihatkan gadis itu. Ia mengenal tatapan tersebut, ia sangat mengenalnya.

Tatapan dan sorot mata tersebut sama persis dengan gadis yang ia lihat saat pertama kali ia datang kemari. Park Hyeju.

Kemudian mata Sehun turun ke arah tangan Hyeju dan ia tertegun begitu melihat sepatu yang biasa dikenakan gadis itu untuk berseluncur di atas danau beku itu dipenuhi darah segar yang menetes ke atas salju.

~œ To be continue œ~

1] Kimchi Jiggae : Sup kimchi

2] Soondubu Jiggae : Sup tahu pedas

3] Hoddeok : Pancake Korea

A/N: Haiiiii~ sebenernya rencana buat publish CW itu setelah aku TO2 atau ujian praktek, tapi karena besok mapel yang di TO-in itu fisika sama sejarah yang amit-amit bgt dua pelajaran itu, akhirnya aku frustasi duluan baca soal2 tahun lalu dan milih buat buka laptop. Karena CW chapter 3 dan 4 udah kelar dibuat, ya jadi aku putusin buat publish sekarang. Aku emang bilang kalo aku hiatus, tapi aku bilang gitu supaya kalo aku ngilang kalian emang mikir aku hiatus dan aku udah pernah bilang sebelumnya~ Jadi gaada komplain kenapa aku gak publish-publish yaa^^ kalo chapter berikutnya udah selesai, pastiiiii aku langsung publish kok. Kalo belum ya… tunggu aja. Soalnya aku gak mungkin beberapa bulan ini nganggurin ff, tanganku terlalu gatel buat dianggurin keke.

Nah, cerita awal CW sangat jauuuuuuuuh melenceng dari yg sekarang. Padahal aku gak kepingin buat yg genre gini soalnya otakku gak nyampe, eh gataunya malah ngejerumus(?). Intinya, aku Cuma mau kasih bocoran kalo CW ini kayaknya bakal ada actionnya deh… kayaknya sih… tapi, kita liat aja deh nanti wkwk ppyong~~!

78 responses to “Continuous Winter – Chapter 3

  1. Hyeju knp?apa dy ngelukain dirinya sndr?trus knp hyejin gk mw ngmg sm hyeju?knp dy jg ninggalin hyeju sndr dan nyuruh hyeju pura2 gk kenal ma dy?
    Mkin jama mkin seru aja!keren!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s