Clockwork Asphyxiation — 00:00

Image

Original Author: Chr0meHearts on Asianfanfics

Translator: anonyx (@anownyx)

Cast: Chen and Ara (OC)

Prologue;

Stealing and plagiarizing is prohibited.

ImagePanjang, jemari yang kurus itu terkepal ketika sesosok bertudung berjalan mondar-mandir; cairan kemerahan yang hangat melumuri telapak tangan yang dingin. Bau aspal basah dan darah tercium oleh sosok tersebut dan geraman kecil terdengar. Menarik tudungnya lebih jauh untuk menutupi wajahnya, bibir sosok tersebut tertarik membentuk sebuah seringaian dan menampakkan satu pasang gigi tajam yang kotor.

Isak tangis dan permohonan yang sia-sia terbawa oleh angin ke jalanan kosong, hujan deras menutupi suara-suara lain yang terlintas lebih dari berpuluh meter jauhnya. Sang sosok bertudung berbalik kearah suara tersebut, tawa dinginnya terdengar oleh si korban.

“Tidak akan ada bantuan yang datang,” katanya dengan suara pelan, sangat berbahaya, namun sangatlah halus. “Dan saya yakin kau tidak menyadarinya.”

“Ku-kumohon,” si korban tersedak diantara isak tangisnya; pandangannya mengabur dari campuran darah dan puing-puing bangunan yang menusuk kelopak mata dan wajahnya. “Kau sang Timekeeper,” tambahnya berbisik. “Kau ti-tidak akan… aku tidak berharga!”

Dengan menggenggam erat luka diperutnya yang dalam, si korban mencoba menjauhi sang Timekeeper yang berdiri tak lebih dari setengah meter jauhnya. Mendengar suara badan yang diseret diatas aspal kasar, sang Timekeeper mengikuti gerak-gerik korbannya, mendekati si korban dengan satu langkah.

Ia berjongkok disamping korbannya, sang Timekeeper menggenggam erat pundak si korban; sebuah senyum muncul di wajahnya yang tampak manusiawi dan telah dirasuki. Dalam satu gerakan cepat, tudung yang menutupi wajah sang Timekeeper tersibak, menampakkan wajah seorang pria di akhir tigapuluhan dengan sepasang mata hitam pekat dan rambut sehitam arang.

“Tapi kau memiliki sesuatu yang berharga untukku.” gumamnya, nafasnya sangat dingin.

Si korban memaksa dirinya untuk menatap wajah penyerangnya, dan dalam sekejap ia menyesalinya. Ia melihat bagaimana bibir sang Timekeeper membentuk seringaian yang kejam dan tak kenal ampun, giginya yang kekuningan dan tajam berkilat-kilat dibawah lampu jalanan. Tapi mungkin, yang membuat si korban tak berdaya dengan ketakutan adalah matanya; iris mata berwarna kuning yang mengejutkan, dan warna hitam pekat untuk sklera1nya.

Mata sang Timekeeper menyipit dengan geli saat ia merasa wajah korbannya berubah menjadi takut dan kesakitan, kuku tajam menembus daging pundaknya ketika sang Timekeeper mengencangkan genggamannya di pundak si korban yang kesakitan.

“Dan sesuatu itu,” katanya dengan pelan, merasakan kukunya menggores tulang selangka si korban, mengiris daging ketika kuku itu melewatinya, “adalah hidupmu.”

Ia seret kuku tajamnya di leher si korban, sang Timekeeper mengernyit saat korbannya terdiam. Kecewa dengan sedikitnya perjuangan yang si korban lakukan, sang Timekeeper makin tidak puas dengan ingatan yang ia dapatkan.

Ingatan yang memberikannya kekuatan bukanlah ingatan biasa—bukan ingatan yang tersimpan dalam pikiran. Sang Timekeeper lebih memilih ingatan yang tersimpan didalam hati; yang disayangi sang pemiliknya—ingatan itu memberikannya kebijaksanaan, pemahaman dan kekuatan, jauh lebih baik dari ingatan yang tersimpan dalam pikiran. Tapi mungkin yang lebih bernilai adalah penglihatan yang ia dapatkan; wajah-wajah yang ingatan itu tunjukkan padanya. Sesaat ia melahap habis memori berharga yang tersimpan dalam hati, ia bisa melihat wajah seseorang yang sangat pemiliknya sayangi. Memancing mereka. Memakannya. Dan yang terpenting—melihat.

Sang Timekeeper tidak memiliki penglihatan, atau mata sungguhan, sebetulnya. Ketika ia berwujud manusia, rupa wajahnya (dan warna mata—sesuatu yang membuatnya tertarik) hanya untuk kamuflase semata. Sebaliknya, penglihatan yang ia makan membantunya untuk lebih mengenali dirinya dengan lingkungan sekitarnya—orang-orang, tempat, semuanya.

Sang Timekeeper memakan ingatan untuk memastikan keabadiannya bertahan, dan untuk menambah kekuatan, tapi dengan segala ingatan yang ia makan, ia juga bisa melihat. Di daerah asing, ia akan mendapati kesulitan, ia mengandalkan indera pendengarannya dan bebauan untuk merasakan apapun yang ada di sekitarnya—memprediksi gerakan mereka.

Tapi ia jarang mengunjungi tempat asing. Bahkan, ia jarang mengumpulkan ingatannya sendiri, tidak, ada orang lain untuk itu. Sang Timekeeper tidak meninggalkan sarangnya selama seabad penuh. Tapi ia mulai tidak sabar—gelisah. Hanya inilah caranya untuk menghibur dirinya sendiri.

Bangkit dengan kasar, sang Timekeeper mengusap mulutnya dengan lengan jaket berwarna merah tuanya—penampilan yang sangat ia sukai untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya.

“Kau benar,” katanya dengan pelan, menikam rusuk si korban dengan kakinya dan memperhatikan dengan tidak tertarik ketika kepala si korban terkulai akibat gerakan dadakan tersebut. “Kau memang tidak berharga.” 

 —————

1. Kamu tau bagian berwarna putih yang ada dimata? Nah, itu namanya sklera. Disini warna skleranya hitam pekat.

Image

Saya gak minta yang neko-neko, cukup komentar kalian saja hihi

P.S Nyx masih membuka lowongan untuk beta-reader a.k.a editor. Yang berminat mention @anownyx yaa~ 😀

58 responses to “Clockwork Asphyxiation — 00:00

  1. hmm.. kependekan thor, jadi agak kurang wow deh.. hehehehe
    oh ya, timekeepernya siapa sih thor?? penasaran nih :/
    soalnya pas di prolognya chen bukan timekeepernya kan.. atau aku salah baca? hehehe pokoknya keren deh thor translatenya.
    lanjut!! :))

  2. waaah ni pasti disamain ma formatnya asianff ya? pendek banget 😦
    tp… aq suka bahasanya, meskipun agak lama mahaminya, maklum keseringan pake bahasa vicky-isasi 😉

  3. Hallo, aku mau kasih saran boleh, ya?
    Sejujurnya, terjemahan ini ga aku pahami. Cuma kaya deretan kalimat aja yang maknanya aku pribadi ga nangkep ke mana.
    Saranku, cobalah kamu menerjamahkannya sambil menggunakan metode ‘Domestication’. Maksudnya, terjemahan tidak literally, plek aja kamu terjemahkan kata perkata sesuai urutan dari bahasa aslinya. Tapi, kamu sesuaikan dengan bahasa Indonesia, tujuannya agar mudah dipahami sama pembaca.
    Contohnya :
    Peribahasa “Don’t cry over the split milk.”
    kamu tentunya ga akan menerjemahkan kalimat di atas sebagai “Jangan menangisi susu yang telah tumpah” kan?
    Tapi kamu akan menerjemahkannya menjadi “Jangan menyesali apa yang telah terjadi.” atau “Nasi telah menjadi bubur.” karena kalimat “Jangan menyesali apa yang telah terjadi.” atau “Nasi telah menjadi bubur.” lazim digunakan di bahasa Indonesia dibandingkan “Jangan menangisi susu yang telah tumpah”. juga bakalan lebih dimengerti juga sama pembaca.

    Di awal kalimat ada kata ‘Panjang’, ketika baca kalimat lanjutannya, aku pikir mungkin aslinya itu ‘Long’. Kalo bener, terjemahan bisa jadi ‘lama’.
    Selain itu, kamu jangan takut untuk mengubah kalimat aktif menjadi pasif saat diterjemahkan atau sebaliknya. Kalo itu bisa membuat terjemahanmu lebih dimengerti, ya ga masalah.

    Saranku itu aja sih, semoga ga keberatan, ya. Menurutku ff yang kamu pilih ini ceritanya menarik, tapi kalo terjemahannya sulit dipahami ya sayang juga.
    Sekian~ ^^

  4. Wow ini keren…
    Terjemahannya gak terlalu ribet sih, walaupun bahasanya masih agak berat gitu..
    Dan ada sdikit yg berbelit.. Selebihnya bagus… Aku gak mengalami kesulitan buat memahami cerita ini..
    Next chapternya ditunggu.. Smoga gak lama ya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s