FF : Oramanieyo… [CHAPTER 9]

aaa

TEASER | TEASER 2 | CHAPTER 1 | CHAPTER 2 |  CHAPTER 3  |  CHAPTER 4 | CHAPTER 5 | CHAPTER 6A | CHAPTER 6B | CHAPTER 7 | CHAPTER 8

Title : Oramanieyo…

Author : Hayamira

Genre : Romance, Friendship, Tragedy

Rating : PG 16

 Length : Chaptered / Series

Main Cast :

Jung Na Mi (OC)

Kim Him Chan ( B.A.P )

Kim Su Ho ( EXO-K )

Yong Jun Hyung ( BEAST )

Goo Ha Ra ( KARA )

Yoon Bora ( SISTAR )

Support Cast    :

Lee Sung Yeol ( INFINITE )

Byun Baek Hyun ( EXO-K )

Krystal Jung ( f(x) )

Nam Woohyun ( INFINITE )

Disclaimer :

Cast belong to GOD and their entertaintment,  Ide cerita murni pemikiran author, tidak ada unsur plagiat.

-oOo-

Narita International Airport

“Nami-san, kau tidak haus?”

Nami menoleh kesampingnya. Ia melihat pria yang berdiri disampingnya lalu mengangguk, “Iya… Aku haus.”

Sang pria tersenyum. “Baiklah, tunggu sebentar disini. Aku akan membeli minuman untuk mu dan untukku,” kata pria itu. Nami mengangguk lagi.

Caffee latte, gula 50%, dingin untukku, aku ingin meminum kopi entah kenapa,” gumam Nami lalu berhenti sejenak. Nami nampak memikirkan sesuatu, lalu menatap pria itu lagi, “Sekalian juga makanan ringan. Aku lapar.”

Pria itu mengangguk mantap.

“Apa ini tidak merepotkanmu, Woohyun-san?”

Don’t mind it,” kata Woohyun lagi dan ia pun berjalan menuju caffe di bandara itu.

Nami, sepeninggalan Woohyun, lalu kembali melanjutkan kegiatannya. Memandangi papan informasi penerbangan yang tepat ada dihadapannya. Dia mengamati dengan seksama.  “Masih ada 1 jam ya,” gumam Nami begitu melihat jadwal penerbangan pesawatnya.

Dan, mata Nami menangkap sesuatu yang aneh dimatanya. Pesawat dari New York telah tiba sekitar 35 menit yang lalu dan telah mendarat. New York… entahlah, Nami selalu menoleh secara otomatis ataupun bergerak refleks ketika mendengar kota itu disebutkan. Efek Himchan?

Benar saja. Saat penumpang dari  New York terlihat, Nami sontak menoleh kearah rombongan itu. Nami memandangi rombongan itu, kemudian tersenyum simpul. Bagaimana bisa dia berpikir kalau Himchan ada di rombongan itu?

Bagaimana mungkin dia masih memikirkan orang yang telah mengucapkan selamat tinggal kepadanya? Nami tertawa miris. Ternyata, ia belum melupakan Himchan. Mungkin tidak akan bisa.

Nami menutup matanya. Ia lelah dengan semua ini.

Sementara itu, setelah memesan minuman untuk dirinya dan Nami, Woohyun pun menunggu. Disampingnya, berdiri seorang yang juga sedang menunggu. Berwajah asia, wajahnya cukup rupawan namun sepertinya dia memiliki banyak masalah sehingga wajahnya terlihat suram.

Barista kafe tersebut kemudian meneriakkan pesanan Woohyun, bersamaan dengan pesanan lelaki yang berdiri disampingnya. Mungkin.

Woohyun pun mengambil 2 gelas kertas didalam kantong kertas. Setelah mengucapkan terima kasih,Woohyun beranjak dari kafe itu. Woohyun kembali melihat pesanannya, dan mengerutkan dahinya.

Ada yang salah. Dia tidak memesan espresso, pikirnya.

Woohyun lalu melihat nama pemesan, dan benar saja, bukan namanya yang tertulis tapi Himchan.

Woohyun pun bergegas kembali ke kafe itu. ia pun bertemu dengan laki-laki disampingnya barusan. Laki-laki itu pun nampak kebingungan dengan pesanan yang ada di tangannya.

“Himchan?”

“Woohyun?”

Woohyun mengangguk. “Aku salah mengambil pesanan. Maaf,”katanya lalu membungkukkan badan. Lelaki bernama Himchan itu juga balas membungkuk, “Aku juga salah. Maafkan aku, Woohyun-san.”

Don’t mind it. Ini, pesanan anda,” kata Woohyun menyodorkan pesananya ke Himchan, dan Himchan pun menyodorkan pesanan Woohyun. Setelah mengecek isi kantong kertas itu benar apa tidak, Woohyun pun  tersenyum kepada Himchan lalu keluar dari kafe tersebut.

Suasana Bandara Narita tidak terlalu ramai. Jam menunjukkan pukul 5 subuh, dan dia harus kembali ke Swiss bersama seorang pasien Sungyeol bernama Jung Nami. Woohyun awalnya menolak, mengingat Sungyeol adalah seorang psikiater, pastilah pasiennya adalah orang yang memiliki gangguan mental atau sejenisnya. Tapi, begitu melihat Nami, Woohyun pun tidak keberatan membantu Sungyeol. Nami terlihat tenang dan dingin. Selama tidak diberi ancaman dan hal-hal yang bisa membuatnya macam-macam, Nami akan baik-baik saja. Itu yang dikatakan Sungyeol padanya.

“Nami-san, ini,” kata Woohyun menyodorkan segelas tinggi caffee latte, disambut dengan senyuman ‘datar’ Nami. “Thanks,” lalu Nami sibuk menyeruput kopinya.

Nami pun kembali sibuk dengan pikirannya. Bagaimana dengan Tokyo? Apa yang akan terjadi jika dirinya meninggalkan Tokyo? Bagaimana dengan JNM? Apa semuanya akan berjalan lancar?

Ah… Nami sebenarnya ingin menolak saat Sungyeol menyuruhnya pergi ke Swiss dan hiatus dari kegiatannya di Tokyo. Hiatus sepenuhnya. Nami jelas khawatir, tipikal hardworker yang mendedikasikan waktunya untuk bekerja, tidak melihat hal-hal yang biasa dilihat atau disentuhnya, meragukan hasil dan lainnya.

Belum lagi dengan adiknya Nana. Nami tidak mau kehilangan kontak dengan Nana. Ia masih ingat cerita Amber tentang kehidupan adiknya yang mengenaskan, juga adiknya yang diam-diam menyimpan semua lukanya sendirian. Nami begitu mengkhawatirkan Nana.

Juga Ibunya. Apa harus dia meninggalkan ibunya sendirian di Hokkaido? Umur ibunya memang tidak terlalu tua, namun tetap saja berbeda ketika Ibunya harus tinggal sendirian. Tanpa ditemani anak-anaknya. Nami berkaca-kaca membayangkannya.

“Nami-san,” seru Woohyun membuyarkan lamunannya. Nami mengerjapkan mata dan menoleh. Woohyun tersenyum simpul, “Kelihatannya, Nami-san sedang banyak pikiran, ya?” tanya Woohyun.

Nami nampak diam beberapa saat sebelum mengangguk pelan atas pertanyaan Woohyun. Nami pun membuka mulutnya lalu berkata, “Aku masih keberatan meninggalkan Tokyo untuk waktu yang lama.”

“Sungyeol yang menyuruh Nami-san, bukan?” tanya Woohyun lalu diikuti anggukan kepala Nami. Nami menyesap kopinya.

Woohyun mengalihkan pandangannya ke kerumunan orang. Mereka berdua pun terdiam cukup lama, sampai Woohyun memecahkan kesunyian yang tercipta diantara mereka.

“Aku tidak tahu kenapa Sungyeol menyuruh Nami-san ke Swiss, dan aku tidak tahu hal-hal apa saja yang Nami-san khawatirkan. Tapi, aku bisa memastikan kalau pilihan Sungyeol ini yang terbaik untuk Nami-san sebagai pasiennya.”

Nami menatap Woohyun, mendengarkan tutur kata lelaki ini dengan seksama. Merasa diperhatikan, Woohyun menoleh, menatap Nami lama. Kemudian, senyum terkembang di wajahnya.

“Percayakan hal ini pada Sungyeol. Dia pasti mengurusnya dengan baik. Semuanya.”

Nami mengerjapkan matanya mendengar kalimat Woohyun. Ada benarnya juga. Selama ini, Sungyeol tidak pernah mengecewakannya. Selalu ada disampingnya saat ia membutuhkannya. Membuatnya yakin dengan kondisi Nana di Seoul, misalnya. Juga saat dirinya terlibat skandal. Sungyeol bergerak cepat menyelesaikannya dan menenangkan dirinya.

Sudah saatnya dia memercayai Sungyeol sepenuhnya. Mungkin, seperti cara Nami memercayai Junhyung.

“Ada benarnya juga,” gumam Nami. Woohyun tersenyum, senang mendengarnya.

“Ah, Nami-san,  ayo masuk ke pesawat. Sepertinya sudah mau berangkat.”

-oOo-

“Lee Sungyeol !!! Lee Sungyeol !!!”

Sungyeol mengalihkan pandangannya ke Junhyung yang berjalan mendekatinya. Matanya menatap tajam Sungyeol, kalau saja tatapan mata manusia bisa membunuh maka Sungyeol pikir dia sudah mati. Junhyung langsung menarik kerah baju Sungyeol begitu bisa dijangkaunya.

“Tenang dulu, Yong Junhyung.” Sungyeol langsung melepaskan tangan Junhyung lalu memperbaiki kerahnya. Kemudian, ia menatap Junhyung sambil tersenyum, “Duduklah. Kita bicarakan ini baik-baik,” lanjut Sungyeol lagi.

“Cih,” desis Junhyung beranjak duduk. Sungyeol tahu apa yang akan dibicarakan oleh Junhyung sampai pria itu terlihat marah besar.

Sungyeol menghembuskan napasnya lalu membuka mulutnya, “Aku melakukan itu tidak tanpa alasan.”

“Apa maksudmu merahasiakan ini dariku?”

“Apanya?”

“Nami.”

Junhyung memicingkan matanya. “Apa kau gila tidak ikut bersamanya pergi ke ‘negeri antah berantah’ yang kau katakan itu?Jadi Nami berangkat sendirian?”

“Ummm………,” Sungyeol bergumam, berpura-pura memikirkan sesuatu. Sungyeol pun memejamkan matanya, sementara Junhyung menunggunya sedikit tidak sabar.

“Aku tidak sedang bercanda.”

Sungyeol masih berpura-pura memikirkan hal yang ditanyakan Junhyung. Dia melakukannya lebih dari lima menit, ambang batas kesabaran Junhyung.

“YA !!! Lee Sung Yeol !!! Michineom!!! Paboya??!!”

Sungyeol justru langsung tertawa mendengar Junhyung yang mengomel dalam bahasa korea. Junhyung semakin tersulut emosinya melihat Sungyeol yang menertawainya.

“YA!!! Hajima !!! Lee Sungyeol HAJIMA !!!!”

Aigo uri Junhyungie…” Sungyeol nampak menyeka matanya yang berair karena tertawa sampai hampir menangis. Sungyeol lalu menatap Junhyung yang masih menatapnya heran.

“Sampai mengomel bahasa korea, Hahaha.”

Memang, selama tinggal di Jepang, Junhyung selalu berkomunikasi ddengan bahasa jepang kepada siapapun. Ayahnya, ibunya, Nami ataupun Sungyeol. Jarang sekali Junhyung berbicara dengan bahasa korea. Junhyung akan berbicara bahasa korea jika sedang marah atau mengomeli karyawannya, supaya karyawan yang notabene adalah orang jepang, tidak tahu apa yang ia katakan.

Setelah Sungyeol berhenti tertawa, ia pun menjawab apa yang Junhyung tanyakan, “Siapa bilang Nami akan pergi sendirian?” tanya Sungyeol menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak ikut bukan berarti Nami akan pergi sendirian. Ada yang menemaninya, dan orang itu bisa dipercaya karena adik Jihyun,” lanjutnya lagi.

“Pacarmu?”

Sungyeol mengangguk. “Tenang. Jaga emosimu dan berhenti mengomel dalam bahasa korea, oke?”

Mendengar kalimat terakhir Sungyeol, Junhyung hanya membuang muka. Walaupun tidak rela, akhirnya mengangguk pasrah. Mengetahui bahwa Nami aman dengan adik Jihyun, pacar Sungyeol, membuatnya menghembuskan napas lega. Tidak perlu takut dan khawatir secara berlebihan lagi, walaupun dirinya masih belum percaya sepenuhnya dengan rencana Sungyeol. Lagipula, Junhyung tahu Jihyun. Gadis yang baik. Tidak perlu khawatir, batin Junhyung.

Lalu, sebuah pertanyaan muncul lagi di benak Junhyung.

Dimana Sungyeol mengirim Nami?

“Apanya?” kata Sungyeol balik bertanya. Junhyung memicingkan mata.  Nampaknya, secara tidak sadar dia mengatakan apa yang dipikirkannya.

“Dimana ‘negeri antah berantah’ itu?”tanyanya lagi lebih jelas.

Sungyeol membuka mulutnya membentuk huruf ‘o’ dan mengangguk pelan. “Swiss. Negara dengan tingkat kesehatan terbaik di dunia.

“Swiss…” Junhyung menerawang sejenak lalu berkata lagi, “Bukankah itu terlalu jauh? Kau bisa memantaunya kalau sejauh itu?”

“Di Swiss ada terapi untuk penderita skizofrenia dengan kualitas terbaik di dunia. Aku hanya memberikan yang terbaik untuk pasienku.”

“Bagaimana kalau aku ingin menjenguk Nami? Jangan bilang orang-orang sana akan memenjarakan Nami,” seru Junhyung. Sungyeol hanya bisa menggeleng pelan melihat Junhyung yang keras kepala dan sulit untuk membuatnya percaya.

“Aku tidak sebodoh itu,” Sungyeol melemparkan pandangannya ke Junhyung, lalu mengalihkannya ke tumpukan kertas diatas mejanya. “Aku sudah menghubungi guruku disana, dan dia bersedia menjadi psikiater Nami juga therapist penyembuhan skizofrenianya,” gumam Sungyeol lagi.

“Oh ya, soal menjenguk, kau boleh saja menjenguknya tapi jangan terlalu sering. Pikirkan juga perusahaanmu, saham

Sungyeol beranjak berdiri, berjalan dan berhenti disamping Junhyung. Ia lalu menepuk pundak Junhyung pelan sambil berkata, “Percayakan semuanya padaku, tenang saja. Kau tinggal urus perusahaanmu.”

Mau tidak mau, suka atau tidak, Junhyung harus percaya.

-oOo-

Seorang laki-laki memperhatikan sesosok wanita yang sedang tertidur diranjang besinya. Mata lelaki tersebut seakan tidak mau dijauhkan dari sosok wanita itu. Lelaki itu mengamatinya dengan seksama. Seandainya saja ia bisa menyentuh wanita itu, ia akan membelai pipinya dan menghapus air matanya yang nampak mengering tersebut.

“Apa perlu aku membangunkannya?” ujar petugas disampingnya. Suho, menggeleng. Dia tidak ingin merusak istirahat Goo Hara siang itu. Suho pun bertanya kepada petugas itu, “Berapa lama wanita itu akan dipenjara?”

“Vonis belum ditentukan. Pihak korban belum menentukannya, dari hakim juga. Ada gossip beredar kalau korban tidak mamu memenjarakan orang itu. Aih, baik sekali. Padahal korban ornag itu nyaris mati,” ujar penjaga itu kepada Suho.

Suho bukannya tidak tahu dengan kejadian ini. Pembunuhan berencana dan pelecehan seksual yang dilakukan Hara memang sudah keterlaluan. Nami, korban Hara, memang nyaris mati kalau dia tidak melarikan diri dan melakukan perlawanan.

Setelah diceritakan secara terperinci tentang kejadian itu, Suho tidak percaya kalau dalam dibalik itu semua adalah Hara. Suho tahu, Hara menyimpan dendam terhadap Nami. Namun Suho tidak pernah memprediksikan maupun memikirkan Hara akan berbuah sejauh ini.

Suho memejamkan matanya. Dia jadi ingat apa yang dirinya lakukan dulu. Mungkin, motifnya sama dengan Hara. Dendam. Padahal, Nami tidak melakukan hal yang menyakiti dirinya. Tidak pernah. Nami hanya selalu diam dan tenang, seperti arus sungai.

Mengingat itu, Suho tersenyum pahit. Sekarang, ia bisa bebas dari sel yang mendekamnya karena pihak Nami meminta kepada hakim untuk meringankan hukuman Suho dari 7 bulan menjadi 2 bulan saja. Sebagai gantinya, Suho harus membayar kerugian kepada pihak Nami, walaupun pihak Nami tidak au menerima uang tersebut dan justru menyumbangkannya ke yayasan kesehatan Jepang.

Nama Suho pun bersih dari skandal apapun. Memang, awalnya sulit untuk kembali ke masyarakat sebagai Penyanyi. Karyanya ditolak mentah-mentah oleh label rekamannya dulu, fansnya kini banyak yang mencaci makinya, tidak ada brand yang mau menjadikan dirinya sebagai ambassador, juga hal lainnya. Karirnya menurun drastis.

Ini pantas diterimanya. Memang pantas.

Kalau diizinkan, Suho ingin bersujud dihadapan Nami. Bersujud untuk berterima kasih, sekaligus untuk meminta maaf.

“Apa anda masih ingin disini? Sudah masuk jam istirahat,” kata penjaga itu.Suho membuka matanya, lalu menghela napas.

Ia menatap Hara lagi. Lalu menoleh kepada penjaga disampingnya, “Tidak.”

Suho berharap agar Hara bisa segera sadar dan mengakui kesalahannya.

-oOo-

Jet Lag

Itulah yang dirasakan Nami saat sampai di Swiss. Kini, dirinya sedang terduduk lemas di kursi ruang tunggu. Menunggu seseorang yang akan menjemputnya. Woohyun punya urusan lain, jadi dia tidak pulang bersama Nami.

Nami menatap sekelilingnya. Orang-orang yang berlalu lalang. Ada segerombol orang Afrika yang mencolok dengan pakaian yang cerah dan kulit hitam legam, ada beberapa orang Asia, dan banyak orang Eropa.

Nami lalu merogoh sakunya. Ia lalu membaca kertas yang ada di sakunya dengan seksama, “Yoon…Bo…Ra…” kemudian, Nami merenungi nama ini.

“Orang Korea, ya?” tanyanya memandangi kertas itu lagi. Dari namanya, ada kemungkinan kalau Yoon Bo Ra adalah orang Korea. Baguslah itu, gumam Nami didalam hati lalu menyandarkan punggunya di kursi.

Nami pun memejamkan matanya perlahan. Perjalanan jarak jauh memang menyebalkan, dia butuh sedikit tidur. Baru saja Nami akan tertidur, seseorang memanggil namanya.

“Jung Nami?”

“Ya?” gumam Nami mengerjapkan matanya dan menegakkan punggungnya. Dihadapannya, ada seorang wanita, berwajah Asia dan sedang tersenyum kepadanya. Nami menatap wanita itu seksama. Dia tidak mengenali wajah itu.

“Siapa?” tanya Nami. Wanita itu tersenyum lebar mendengarnya dan beringsut duduk disamping Nami. Wanita itu melihat secarik kertas ditangan Nami dan mendengus ‘geli’ membacanya. Nami justru mengerutkan dahinya melihat reaksi wanita itu.

Wanita itu menatap Nami dengan senyuman lebar, lalu bertanya dalam bahasa Jepang, “Woohyun tidak menunjukkan orang itu?” sambil menunjuk kertas yang digenggam Nami. Nami memandangi kertas digenggamannya dan wanita itu, lalu menggeleng.

Wanita itu menundukkan kepalanya sebentar lalu mengulurkan tangannya, “Yoon Bora imnida. Aku orang yang Woohyun maksud,” katanya memperkenalkan diri dengan ramah, kali ini dengan bahasa Korea. Nami membungkukkan badannya dan menjabat tangan wanita itu. “Jung Nami,” balas Nami dengan bahasa yang sama.

Setelah melepaskan jabatan tangannya, Bora lalu merogoh tasnya dan mengambil handphonenya. Lalu, dia menekan-nekan layarnya dan menatap layarnya, seperti menunggu sesuatu. Dan, beberapa detik kemudian muncullah wajah Woohyun di layar handpone Bora.

Setelah bercakap dengan Woohyun, Nami pun yakin kalau wanita disampingnya memang Yoon Bora yang Woohyun maksud.

“Ayo kita pulang. Nampaknya, kau jet lag,” ujar Bora langsung menarik tangan Nami dan kopernya menuju tempat parkir.

Perjalanan dari bandara ke rumah Bora cukup lama. Mereka menghabiskan waktu satu jam dua puluh menit untuk sampai. Setibanya mereka, Bora langsung mengantar Nami ke kamarnya.

“Istirahatlah dulu. Kau pasti masih jet lag. Kalau butuh apa-apa, kau bisa ke kamarku. Kamarku didepan kamarmu, kok.”

Nami membungkukkan badannya dan berterimakasih. Sepeninggalan Bora, Nami langsung masuk ke kamarnya. Ia meletakkan kopernya disamping lemari kamar tersebut, lalu membukanya dan mengambil handuk , peralatan mandi dan baju yang akan dipakainya. Setelah itu, Nami mandi di kamar mandi kamar tersebut dan berpakaian lalu tertidur pulas.

Sinar matahari yang menyeruak masuk melalui jendela kamarnya membuat Nami bangun dan bangkit duduk di tempat tidurnya. Nami melihat sekeliling. Jam di dindingnya menunjukkan pukul enam pagi. Ia lalu teringat Junhyung. Dirinya sama sekali belum mengabari Junhyung.

Dengan terburu-buru, Nami meraih tasnya, mengambil handphonenya, mencari nomor Junhyung, menekan tombol ‘panggil’ dan menempelkan poselnya ke telinga. Bukan suara Junhyung yang ia dengar, melainkan suara operator yang mengatakan bahwa tidak ada sinyal sama sekali. Nami langsung memandangi layarnya.

Ah, dia lupa. Dirinya sekarang ada di Swiss, bukan di Jepang atau Korea. Pantas saja tidak bisa menelpon dengan ponselnya, operator ponselnya tidak mencapai pemakaian di Swiss. Nami pun beranjak keluar dari kamarnya, bermaksud untuk meminta tolong kepada Bora untuk meminjamkan telepon maupun ponselnya.

Dia harus menelpon Junhyung secepatnya. Nami membayangkan Junhyung yang uring-uringan tidak jelas karena belum mendengar kabar dari dirinya. Nami mengkhawatirkan ini, karena Nami tahu apa yang terjadi kalau Junhyung sedang uring-uringan.

Nami menatap pintu kamar dihadapannya. Kamar Bora. Nami pun melangkahkan kakinya mendekat, lalu pintu itu terbuka dan muncullah Bora yang nampak baru bangun tidur.

“Selamat pagi, tidurmu nyenyak?” tanya Bora tersenyum terhadap Nami. Nami mengangguk pelan, lalu membuka mulut untuk bertanya ke Bora, “Aku ingin meminja…”

“Tunggu sebentar,” kata Bora memotong kalimat Nami. Bora nampak mengambil sesuatu dari dalam kamarnya. Ponsel.

Bora kemudian berjalan kearah Nami lalu menyodorkan ponselnya, “Dari Sungyeol. Sepertinya dia mencarimu,” katanya menyerahkan ponsel itu ke Nami. Nami menerimanya lalu menempelkan ke telinganya.

“DARIMANA SAJA????”

Nami langsung menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Suara Junhyung melengking membuat telinganya berdengung. Bora, yang juga mendengarnya, hanya bisa mendengus geli lalu berjalan kearah dapur. “Aku kedapur, membuat sarapan,” ujar Bora sebelum meninggalkan Nami. Nami mengangguk dan kembali menempelkan ponselnya ke telinga setelah memastikan Junhyung tidak berteriak lagi.

“Telingaku sakit mendengar teriakanmu.”

“KENAPA TIDAK MENGABARIKU???? KAU MAU MEMBUATKU MATI DISINI KARENA CEMAS, HAH????”

Nami menjauhkan ponsel dari telinganya lagi.

“Junhyung…”

“Ini Sungyeol. Junhyung masih mengomel tidak jelas. Maaf kalau telingamu berdengung.”

“Tidak apa-apa. Aku ingin bicara dengan Junhyung, tapi tanyakan ke Junhyung, jangan berteriak.”

“Jung Nami??”

“Iya.”

“Kau darimana saja? Kenapa tidak mengabariku? Bagaimana bisa kau membiarkanku stress disini, hah?”

Nami tersenyum tipis. “Aku lupa kalau nomorku tidak bisa dipakai sejauh ini. Kemarin, setelah mendarat aku langsung dijemput Bora, kerumahnya, lalu tertidur. Aku baru saja bangun dan ingin mengabarimu padahal.”

Terdengar celetuk Sungyeol, “Junhyung memang berlebihan.”

“YA !!! LEE SUNGYEOL!!!”

Nami tertawa mendengar pertengkaran antara Junhyung dan Sungyeol di ponsel itu.

“Kau sudah makan malam? Eh, disana pagi ya. Ah, aku lupa perbedaan waktunya.”

“Disana memangnya jam berapa?”

“Jam Sembilan malam.”

“Lima belas jam, ya.”

“Jadi, kapan kau mulai terapi?”

“Entahlah. Aku baru sampai masa langsung terapi.”

“Siapa tahu. Lebih cepat lebih baik.”

“Peribahasa itu tidak berlaku selamanya, tahu.”

“Ahhhh, yang jelas kapan kau akan mulai terapi? Kabari aku. Tunggu, ponselmu tidak bisa menelponku, ya? Aduh, bagaimana ini. Aku bisa mati penasaran karena kau. ”

“Aku akan membeli kartu khusus, tenang saja.”

“Awas ya, kabari aku secepatnya. Sesering mungkin. Ah, tidak. Setiap hari, bahkan kalau perlu tiga kali sehari. Ah, kalau perlu 24 jam kau menelponku.”

“Junhyung…”

I miss you so much, honey. How can I live peacefully in here when I don’t know how are you in there, eoh?”

I’m fine, I will be fine. Don’t worry about it, Junhyung.”

I wonder I’m not.”

Then please trust me. Can you? I beg.”

 

Junhyung tidak bersuara. Lalu terdengar helaan napas.

“Baiklah. Aku percaya.”

“Bagus, aku tutup ya. Dah.”

Bye, Honey.”

Nami hanya bisa pasrah memikirkan Sungyeol dan orang-orang yang ada didekat Junhyung, bagaimana apabila Junhyung kumat ‘uring-uringan’ nya.

Seseorang mendekati Nami. “Sudah selesai? Ayo kita sarapan,” ujar Bora, ternyata, lalu mengajak Nami ke dapur.

Nami pun duduk di kursi, memandangi menu yang ada di meja makan itu satu per satu. Nami lalu menatap Bora, “Makanan Korea?”

Bora mengangguk, “Kemarin aku membeli banyak sekali bahan masakan Korea. Tidak ada salahnya sarapan dengan menu kampong halaman. Ah, maaf kalau tidak terlalu enak, aku tidak terlalu handal dibandingkan Woohyun. Seandainya Woohyun ada disini, pasti dia akan membuatkan kita sarapan yang enak. Dia pintar sekali memasak, bahkan mengalahkanku. Lucu, kan?” Bora berceloteh panjang sambil mempersiapkan hal lain, berjalan dari meja makan – wastafel, dan mematikan kompor.

Nami memerhatikan Bora yang nampak sibuk berceloteh dan bergerak kesana kemari. Kesan pertama yang Nami dapatkan dari Bora… Ramah. Ramah, lembut, baik dan… banyak bicara?

“Ah, kau pasti berpikir aku ini cerewet,” ujar Bora sembari menarik kursi dan duduk. Nami terkekeh, “Kau juga bisa membaca pikiran orang?”

“Tentu saja. Aku ini psikiater, sama dengan Sungyeol. Dulu aku satu angkatan bahkan sering sekelas dengan Sungyeol. Ah, jadi rindu dengannya,” kata Bora sambil menuangkan air putih ke gelasnya, kemudian mengambil sebuah gelas dan mengirisnya lalu memberikannya ke Nami.

“Sebelum ditanyakan, ibu dan ayahku tidak tinggal disini. Mereka tinggal di Seoul, tidak mau pindah padahal sudah kuajak pindah. Jadi aku tinggal disini dengan Woohyun, pasti kau tahu. Woohyun itu sepupuku. Kami memutuskan untuk tinggal bersama sejak Woohyun ditugaskan disini. Dia seorang arsitek. Tapi, dia jarang dirumah. Biasalah, tugas dan proyek yang aku sendiri tidak mengerti. Jadi, jangan heran kalau kau jarang bertemu dengannya.”

Bora terdiam lalu melanjutkan, “Disini juga ada pasar khusus yang menjual berbagai bahan-bahan makanan dari Asia. Jepang, Cina, India, Malaysia, Indonesia, Korea, bahkan dari Myanmar dan Turki ada. Jadi, kau tidak perlu khawatir kalau rindu dengan cita rasa kampung halaman. Asal tahu saja, aku dulu awalnya sering begitu. Karena itu aku selalu pergi ke pasar tersebut saat akhir pekan dan Woohyun akan memasak masakan Asia. Kadang-kadang, makanan orang Eropa, walaupun enak, tapi kurang bumbu dan hambar,”  celoteh Bora menjulurkan lidahnya lalu tertawa.

“Ups, maaf. Aku terlalu bersemangat jadi berbicara banyak,” gumam Bora menggaruk kepalanya.

Nami, yang daritadi memerhatikan Bora dan celotehannya, ikut tertawa melihatnya. “Tidak apa-apa, aku suka mendengar celotehan orang.”

“Jinjja?? Ah, tapi aku tidak melihatmu sebagai orang yang banyak bicara. Kata Sungyeol, Jung Nami itu terkesan dingin diluar tapi hangat walau sedikit berbicara.”

Nami tertawa miris mendengar kalimat yang Bora barusan katakan. “Memang benar,” balas Nami singkat.

Bora tersenyum mendengarnya. “Aku belum memperkenalkan diriku, ya? Ah. Aku Yoon Bora, ulang tahunku itu 30 Januari 1990, aku asli Korea tapi bekerja sudah 5 tahun disini sebagai psikiater. Ayahku seorang dokter ahli bedah, ibuku seorang bidan. Makanan kesukaanku itu kari, dari negara apapun aku suka, aku suka membaca dan menari, kadang jogging diakhir pekan kalau tidak sibuk. Dan, Aku adalah Cassiopeia, fans Dong Bang Shin Ki, kau tahu, aku menangis saat kasus JYJ dengn SM.”

Bora memasang raut wajah sedih saat membicarakan DBSK, namun kembali tertawa. “Giliranmu, Nami.”

“Aku?” Nami berpikir lalu berkata, “Namaku Jung Nami, lahir saat bunga sakura mekar, musim semi, punya satu saudara perempuan yang lahir saat musim panas, ayahku sudah meninggal dan ibuku tinggal di Hokkaido bagian timur. Aku bukan orang Korea asli karena Ibuku adalah orang Jepang, dan aku besar di Jepang tapi sekolah di Seoul lalu kembali ke Jepang untuk kuliah.”

“Wah, senang rasanya kau berbicara banyak kepadaku,” kata Bora tertawa. Nami pun menyadarinya, kemudian tersenyum.

Kurasa aku bisa berteman dengan Bora, batin Nami.

“Oh ya, aku yang akan menjadi therapist sekaligus pskiatermu selama kau disini. Aku tidak tahu terapinya memakan waktu berapa lama, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin. Percayalah padaku,” seru Bora mengacungkan jempolnya.

Nami tersenyum melihatnya. Sepertinya, di Swiss, Nami akan melupakan masalahnya. Tidak, Nami akan benar-benar menghapus nama orang itu dari hatinya, mengenyahkan perasaannya dan membuangnya sejauh mungkin sampai Nami tidak ingat jika dia pernah seperti itu.

Annyeong.

-oOo-

Seoul, 4 tahun kemudian

Sungyeol tidak percaya dengan matanya sendiri. Tapi, dilihat dari sisi manapun, tidak ada yang berubah. Matanya memandang di satu titik, satu focus, yaitu sesosok yang sedang berdiri dihadapannya.

Sosok itu tertawa melihat ekspresi Sungyeol yang konyol. Sungyeol semakin tidak percaya dengan kemampuan matanya. Ia pun menggosok matanya berulang-ulang kali, lalu mengerjapkan matanya.

Memang itu dirinya, batin Sungyeol. Walaupun dirinya merasa heran, namun terselip rasa senang melihat sosok dihadapannya yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Sebelum mereka berpisah.

Wae-yo?” Tanya sosok itu.

“Kau berubah,” gumam Sungyeol menatap sosok itu dari atas sampai bawah. Sungyeol kembali menatap wajah sosok itu, wajah yang sedang memandangi Sungyeol geli. “Jangan menertawaiku,” seru Sungyeol disambut tawa sosok itu.

Sosok itu mengangguk sambil tetap tersenyum geli. Sosok itu kembali menatap Sungyeol lekat.

Oraenmanieya. It’s been 4 years,” gumam sosok itu lagi.

Sungyeol tersenyum. “I miss you,” kata Sungyeol.

Tanpa basa-basi, sosok itu langsung memeluk Sungyeol erat.

I miss you more.”

-oOo-

Musim semi di Tokyo terlihat biasa saja hari itu. Hanya ada kesibukan rutin yang terlihat. Orang-orang berlalu lalang memenuhi ruas jalan, di jalan raya nampak mobil-mobil dan kendaraan lain melintas teratur.

Kosong.

Helaan napas yang berat mengiringi langkahnya. Matanya menatap ke depan, menatapnya dengan tatapan kosong. Lalu langkahnya terhenti saat melewati sebuah kafe. Kafe yang sangat dikenalinya. Kafe dengan sejuta kenangan didalamnya.

Himchan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafe tersebut. Matanya menangkap sebuah meja dan sepasang kursi yang ada di sudut kafe itu. Ingatannya pun kembali memutar sepenggal memori. Kemudian muncul memori lain. Memori-memori tersebut saling bersambung membentuk sebuah alur cerita yang Himchan tidak akan melupakan hal itu.

Entah apa yang menggerakkannya, ia pun melangkah masuk ke kafe tersebut, memesan dua gelas minuman dan duduk di meja yang ia lihat tadi.

Begitu Himchan duduk, suasana sekelilingnya berubah. Himchan mengerjapkan matanya.

Dihadapannya, ada sosok yang sedang membaca sebuah buku dengan serius.. rambutnya tergerai. Himchan menggerakkan tangannya, bermaksud untuk menyelipkan rambut sosok itu ke telinganya. Saat Himchan hampir mencapai sosok itu, sosok itu mengangkat kepalanya. Tatapan matanya dan Himchan bertemu.

Himchan menurunkan tangannya. Dia lalu memandangi sosok itu. Sosok itu tersenyum. Lalu kembali menundukan kepalanya dan membaca buku.

Matanya tidak bergerak sedikitpun dari sosok itu. Lalu, tiba-tiba semuanya pun berubah. Semuanya kembali seperti semula. Tidak ada sosok yang duduk dihadapannya.

Himchan menggigit bibirnya pelan kemudian tertawa. Tawa yang pelan. Tawa yang hampa.

Tanpa menyentuh kopinya, Himchan pun meninggalkan kafe tersebut. Ia tidak bisa berlama-lama di kafe tersebut. Himchan lalu melangkahkan kakinya pulang.

Saat tiba di rumahnya, Himchan langsung menghempaskan badannya ke tempat tidurnya. Ia menatap langit-langit kamarnya. Wajah sosok itu tiba-tiba muncul.

Himchan langsung memejamkan matanya.

Himchan langsung bangun dan duduk di kasurnya dan menghembuskan napas keras. Sama saja, sosok itu tidak hilang dari pikirannya.

Himchan pun memejamkan matanya, menarik napas dan menghembuskannya berkali kali. Sama saja. Sosok itu tetap ada tinggal di otaknya.

Dadanya sesak. Himchan menyandarkan kepalanya ke lututnya.

Dorawa…” bisiknya.

-oOo-

“Maaf membuatmu menunggu.”

Junhyung menoleh ketika Bora masuk ke mobilnya. Junhyung hanya menggeleng pelan lalu akan menjalankan mobilnya tapi Bora mencegatnya.

“Oppa…” Bora menatap Junhyung yang terlihat heran dengan sikapnya ini. Diawali dengan senyuman, Bora pun membujuk Junhyung, “Teman lamaku mau ke rumah. Tidak apa-apa kalau dia…”

“Mau ikut disini?” Junhyung menyela ucapan Bora karena sudah tahu maksud Bora apa. Bora mengangguk.

“Dia baik, kok,” kata Bora lagi. “Teman lamaku yang datang dari Paris. Orang Korea juga. Seorang designer, katanya ingin tinggal lebih lama disini. Rindu dengan kampung halaman.”

Junhyung memangut-mangut mendengarnya. Bora pun beranjak keluar dari mobil dan ketika Bora keluar, Junhyung memandangi kekasihnya yang berjalan masuk ke dalam sebuah butik.

Mendengar kata ‘butik’, pikiran Junhyung langsung melayang ke Jung Nami.

“Jung Nami pulanglah. Kau tidak tahu kalau aku sudah nyaris mati disini tanpamu, hah?” gumam Junhyung sambil menatap kontak Nami di ponselnya. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

Musim semi telah tiba. Bunga-bunga mulai bermekaran memenuhi taman-taman kota. Kota tampak cantik dengan warna-warni bunga tersebut. Angin semilir musim semi pun sering berhembus membawa wangi bunga-bunga yang bermekaran. Euforia musim semi.

Musim semi, bulan April. Junhyung menghela napas mengetahui kalau bulan ini adalah bulan April.  Sudah 3 tahun dia tidak merayakan ulang tahun Nami bersama dirinya. Apabila tahun ini Nami belum pulang, maka akan menjadi 4 tahun.

Yang benar saja. 4 tahun tanpa Nami? Junhyung bisa dinobatkan menjadi orang paling sabar sedunia. Kurang sabar apa dirinya selama ini menghadapi semuanya? Tanpa Nami, tidak melihat Nami di sampingnya, atau setidaknya melihat wujud nyatanya selama itu. suara atau foto belum cukup baginya.

Junhyung hanya bisa menghela napas mengingat Jung Nami, teman terdekatnya, orang yang paling Junhyung rindukan saat ini.

“Oppa, ayo.”

Junhyung pun memasang sabuk pengaman dan akan menginjak pedal gas ketika matanya tertuju pada bayangan di cermin yang tergantung di dekatnya. Junhyung mengamati sosok itu dari cermin.

Seorang wanita, berpakaian sederhana namun cukup stylish, memakai kacamata hitam yang cukup besar itu sedang menatap keluar jendela. Rambut hitam bergelombang yang sebahu, badan yang cukup kurus, garis wajahnya yang kuat, kulit yang putih khas orang Asia…

Dia orang Asia, batin Junhyung. Namun Junhyung tersadar bahwa orang tersebut mirip dengan seseorang.

Junhyung langsung menoleh kebelakang dan menatap teman Bora itu. Merasa diperhatikan, teman Bora menoleh kearah Junhyung dan pandangan mereka bertemu. Walaupun dihalangi oleh lensa kacamata yang besar itu, Nampak wanita itu sedang menatap lekat Junhyung. Kemudian, wanita itu tersenyum lebar dan sumringah ke Junhyung.

Junhyung semakin menatap dekat teman Bora. Sial, dia tidak tahu siapa.

“Bora-ya, siapa dia?” tanya Junhyung tanpa melepaskan pandangan dari wanita itu. Bora mengalihkan pandangannya kebelakang kemudian tertawa melihat Junhyung dan wanita itu yang saling berpandangan, diikuti wanita itu juga tertawa pelan.

“Oppa tidak kenal siapa dia?” tanya Bora kembali. Junhyung menggeleng.

Wanita itu kemudian membuka mulutnya dan berkata, “Oraenmanieya.”

Junhyung hampir tidak percaya ketika mendengar suara wanita itu. Badannya seakan mematung saat itu juga sementara matanya menatap lekat wanita itu.

Perlahan, wanita itu membuka kacamatanya. Ketika kacamata itu benar-benar tidak ada di wajah wanita itu, perasaan Junhyung bercampur aduk. Senang, sedih, marah, kesal, semuanya bergumul menjadi perasaan yang tidak dapat digambarkan.

“Oraenmanieya… Junhyung.”

Seakan tidak percaya, Junhyung menoleh dan menatap Bora, ingin memastikan matanya ini memang benar. Bora, yang mengerti arti tatapan Junhyung, mengangguk mengiyakan.

Junhyung kembali menatap wanita itu. Suasana hening tercipta di dalam mobil itu sampai….

“DARIMANA SAJA KAU, JUNG NAMI???????”

-oOo-

“Jadi begitu…”

Baekhyun mengaduk-ngaduk isi gelas minumannya. Semilir angin berhembus menyapa dirinya dan Himchan yang sedang duduk di teras sebuah kafe di Tokyo. Rambut mereka mengikuti gerakan angin yang lembut menerpa. Hawa sejuk menyergap mereka.

Mereka terdiam ketika angin semakin kencang berhembus. Sibuk dengan pikiran masing-masing, berusaha menelaah hal yang telah didengarkan dan kebenaran yang terungkap. Walaupun terdengar tidak mungkin atau tidak masuk akal. Mereka masih terdiam. Baekhyun mengaduk minumannya, mengatupkan bibirnya rapat-rapat sementara Himchan memandangi pemandangan diluar jendela.

Keheningan yang tercipta pun buyar ketika Baekhyun memulai percakapan. “Kau pasti menderita,” gumamnya memandangi sepupunya. Himchan hanya menghela napas.

“Tidak,” jawabnya singkat. Baekhyun mendengus kesal melihat sepupunya yang berusaha berbohong. Baekhyun kembali melanjutkan, “Kalau aku menyuruhmu memilih Nami nuna, mungkin lain lagi ceritanya.”

Himchan tidak mau membenarkannya. Dia justru melempar tatapan kesal ke Baekhyun. Baekhyun tidak menggubrisnya.

“Sudahlah. Aku tahu ini salahku.”

“Tidak usah menyalahkan dirimu seperti itu.”

“Memangnya siapa yang menyuruhmu memilih Alice? Hantu?” balas Baekhyun kesal. Himchan tidak berhasil berkilah, langsung membuang mukanya dan menggeleng pelan.

“Semuanya bukan salahmu. Aku yang salah, kenapa mau mendengarmu,”

Baekhyun memutar bola matanya, kesal. “Kau ini. Sudahlah, tidak usah saling menyalahkan. Adilnya, kita berdua yang salah.”

Himchan tidak berkata apa-apa. Baekhyun pun mengatupkan lagi bibirnya rapat. Mereka pun tenggelam dalam pikirannya lagi.

Baekhyun, setelah mendengar cerita Himchan tentang Nami, merasa sangat bersalah. Dialah yang menyuruh Himchan untuk memilih Alice, walau secara tidak langsung. Sama saja, dia yang bersalah. Baekhyun tidak akan pernah berpikir kalau pilihannya akan membuat Himchan seperti ini. Kehilangan sesuatu dari hidupnya, meredupnya semangat yang biasanya terpancar dari dirinya, seakan hilang begitu saja. Yang paling membuat Baekhyun bersalah lagi, Himchan selalu ingin terlihat baik-baik saja. Berusaha tegar, padahal sangat rapuh. Dan hal ini diketahui Baekhyun setelah 4 tahun sejak Nami menghilang.

“Maafkan aku…” Baekhyun kembali bersuara, “Mungkin, kalau aku tidak menjawab seperti itu dulu, semuanya tidak akan seperti ini,” gumam Baekhyun menunduk.

Himchan menatap sepupunya sesaat lalu mengalihkan pandangannya lagi. “Apa sekarang dia sedang ada di kafe, entah dimana, menyesap segelas caffee latte dingin ya? Ah, mungkin dengan cheesecake kesukaannya. Menikmati sore, menggambar, atau membaca novel-novel kesukaannya….”

“Aku ingin tahu dia sedang apa, apa masih suka makan donburi seperti biasa, atau mungkin mulai mencoba menu lain di restoran jepang…”

Baekhyun miris melihat sepupunya seperti ini. “Himchan…”

Himchan menoleh, kemudian tersenyum tipis. “Aku rindu padanya. Bagaimana ini?”

Baekhyun tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak bisa menjawabnya. Dari wajah Himchan bisa tergambar jelas bagaimana besarnya Himchan merindukan gadis itu. Betapa Himchan merindukan Jung Nami.

“Mungkin ini karma, kehidupanku yang sebelumnya pasti melakukan sesuatu yang buruk,” sambung Himchan.

“Kau tidak berusaha mencarinya?”

“Aku bahkan tidak tahu harus bertanya ke siapa.”

“Kalau diberikan kesempatan…” Baekhyun menatap Himchan, “Untuk bertemu dengan Nami nuna, apa yang akan kau lakukan?”

Himchan terdiam sesaat, lalu meraih gelasnya dan meminum minumannya. Lalu terdiam lagi, Nampak memikirkan jawaban pertanyaan Baekhyun. Kemudian dia membuka mulutnya untuk menjawab.

“Memintanya agar selalu disampingku karena aku membutuhkannya. Benar-benar membutuhkannya. Aku…”

Himchan menatap Baekhyun lekat, “Membutuhkannya.”

Baekhyun tahu hal itu.

-oOo-

Junhyung sedang mengemudikan mobilnya menyusuri jalanan Gangnam yang lancar ini. Namun pikirannya sebenarnya tidak tenang. Berkali-kali dia melirik Nami yang duduk tenang disampingnya.

Nami tidak melakukan apa-apa. Namun, kelakuan Nami akhir-akhir ini aneh, tidak seperti yang Junhyung kenal. Dan… menunjukkan ciri-ciri sesuatu.

“Tadi beli apa?” Junhyung bertanya ke Nami yang sedang mendengarkan music dari iPodnya. Nami melepaskan headsetnya, “Kain untuk baju, kok,” jawabnya singkat.

Junhyung kembali bertanya, “Baju apa?”

“Ibu hamil,” jawab Nami lagi. Junhyung mengerjapkan matanya. Apa dia salah dengar? Baju untuk… Ibu hamil? Jangan bilang kalau…

“Tapi, kenapa lama sekali?”

Nami melirik Junhyung, “Aku sudah bilang, kan, kalau aku pergi ke toko buah segar dulu membeli buah. Kebetulan aku ingin makan buah yang segar.”

“Buah apa?” tanya Junhyung, terdengar mendesak. Namun Nami menganggapnya enteng.

“Mangga… Pisang… Alpukat…Pepaya…Semangka… Ah, juga sayur-sayuran, telur dan susu. Makanya aku agak lama. Maaf, ya,” kata Nami sambil terkekeh melihat Junhyung yang heran dengan belanjaan Nami yang banyak seperti itu.

Namun, bukan itu yang membuat Junhyung heran. Bukan tentang waktu yang Nami habiskan untuk berbelanja, tetapi benda-benda yang dia belilah yang membuat Junhyung heran. Untuk apa Nami membeli mangga, pisang, bahkan papaya…

Kenapa Nami sekarang terlihat seperti orang yang… Ngidam?

Masalahnya, kemarin dia mendesak Junhyung untuk menemaninya membeli seporsi ayam panggang madu. Padahal, Junhyung tahu sekali, Nami tidak terlalu suka makan ayam panggang. Belum lagi, Nami sering  pergi ke kamar mandi pada pagi hari. Tadi malam, Junhyung melihat Nami menikmati sebuah mangga sendirian. Nami bukanlah penikmat buah tropis dan Nampak begitu menyukai mangga yang asam itu.

Apa jangan-jangan Nami sedang hamil? Kenapa dia melakukan hal yang tak wajar begitu? Ya. Pasti Nami sedang hamil…Astaga. Kalau benar Nami hamil, siapa yang menghamilinya? Apa Woohyun? Atau lelaki lain yang dia temui di Swiss?

Junhyung mulai tidak tenang. Berkali-kali dia melirik perut Nami dan memandanginya. Masih rata, tidak menunjukkan tanda-tanda hamil atau membuncit.

Pikiran Junhyung masih membelit pada hal “Kehamilan Nami” sampai di rumah Nana, tempat Nami tinggal di Seoul. Sambil membantu mengangkat barang-barang Nami, Junhyung mencoba memerhatikan gerak-gerik Nami.

Kenapa ini semua semakin mencurigakan? Batinnya.

Ketika semuanya telah masuk di kulkas dan kain-kain yang dibeli Nami telah ada di kamar Nami, Nami pun berjalan kedapur mengambil air putih karena dia kehausan. Junhyung mengikutinya dari belakang, terus memerhatikan gerak-gerik Nami.

Saat Nami minum, Junhyung yang tidak tahan lagi, mendekati Nami dan memandanginya dari atas sampai bawah. Mengamati ciri-ciri ibu hamil seperti yang Junhyung ketahui.

“Kenapa?” Nami memicingkan matanya melihat Junhyung yang memandanginya aneh seperti itu. Junhyung menatap wajah Nami, lalu merengkuhnya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Nami.

Nami mengerutkan dahinya. Apa yang dipikirkan Junhyung? Sekarang, Junhyung justru mengamati wajahnya, memerhatikannya. Nami menepis tangan Junhyung, “Kau ini kenapa?”

Junhyung melangkahkan kakinya mundur namun tetap memandang Nami dengan tatapan aneh yang mengusik Nami. Nami  menghentakkan kakinya berlalu dari Junhyung menuju kulkas untuk mengambil air dingin.

Junhyung kembali mengikuti Nami. Saat Nami berbalik, Junhyung dibelakangnya dan kembali memerhatikan Nami.

“Nami…” akhirnya Junhyung bersuara, “Siapa?”

Nami mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Junhyung. “Siapa? Siapa apanya?” tanya Nami meletakkan gelas di sampingnya dan mengambil sebuah mangga. Junhyung makin terbelak melihat mangga ditangan Nami.

“Jujurlah, Nami !!! Siapa? Siapa yang melakukannya??” tanya Junhyung dengan nada panik. Nami meletakkan mangga itu di meja makan, lalu meraih gelasnya.

“Kau ini bicara apa sih?”

“Kenapa kau tidak mau jujur padaku? Apa itu Woohyun? Atau siapa??”

Nami menggelengkan kepalanya, tidak mengerti dengan apa yang Junhyung bicarakan. Nami berjalan menuju kamarnya ketika Junhyung menarik tangannya supaya tidak pergi. Nami pun kembali ke dapur. Alih-alih tidak mau membahas hal aneh itu, Nami kembali meraih gelasnya dan mengisinya sampai full. Tiba-tiba, Junhyung langsung meraba perutnya.

“Rata…” gumam Junhyung. Nami memicingkan matanya melihat Junhyung yang bersikap aneh hari ini.

“Kau baik-baik saja, Junhyung?”

“Tidak,” sergah Junhyung cepat. “Tidak sampai kau memberitahu siapa ayahnya.”

Nami mengerutkan dahinya, “Ayah apa? Siapa apa? Kau ini… Berbicara yang jelas sedikit, arrasseo?”

“Katakan siapa ayahnya!!!” Junhyung mulai mengguncang tubuh Nami, namun Nami berkilah sambil mengatakan kalau dia ingin minum dulu.

“Kenapa kau tidak memberitahuku? Sudah berapa bulan? Siapa ayahnya? Woohyun? Benar ayahnya Woohyun?”

Nami tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Ia pun menegak minumnya, sementara Junhyung pun berdiri dihadapannya dan bertanya,

“Kau hamil kan? Sudah berapa…”

Seketika pula Nami memuncratkan minuman yang sedang diminumnya ke wajah Junhyung dan terbatuk-batuk, tersedak mendengar pertanyaan Junhyung.

Junhyung, yang tidak memperdulikan bajunya, langsung menepuk-nepuk punggung Nami. Nami, yang masih terbatuk-batuk, memandangi Junhyung yang sibuk menepuk punggungnya.

“Kau…Uhuk…”

“Diam diam diam diam,” kata Junhyung terus menepuk pundak Nami dan membawanya duduk di kursi meja makan. Setelah merasa agak baikan, Nami pun berkata, “Bagaimana mungkin aku hamil…”

Junhyung mengangkat alisnya. Sambil terus menepuk, Junhyung membalas Nami, “Bagaimana? Kita ini baru bertemu 3 hari yang lalu. Kau memintaku menemanimu beli ayam panggang madu, lalu sekarang membeli buah tropis yang aku tahu pasti kau sangat jarang memakannya, lalu dengan kain-kain itu kau ingin membuat baju ibu hamil…” Junhyung menghentikan kegiatannya dan menatap kesal. “Jadi siapa yang hamil? Siapa lagi?”

Nami membalas tatapan Junhyung sambil bergumam, “Aku tidak hamil, Yong Junhyung.”

“Lalu siapa? Hah. Siapa? Katakan siapa???” Junhyung berseru cukup keras. Nami menghela napas, heran dengan pemikiran Junhyung.

“Bukan aku yang…”

“Aku pulang.”

Suara Nana mengalihkan perhatian mereka berdua. Ketika melihat Junhyung, Nana membungkuk sedikit, Junhyung pun membalas membungkuk.

“Oneechan, sudah makan?” tanya Nana berjalan mendekati mereka berdua ke dapur. Nami menggeleng pelan, lalu menatap Junhyung. “Perhatikan perutnya,” bisik Nami.

Tanpa disuruh, sebenarnya Junhyung sudah memerhatikan Nana sejak membungkuk kepadanya. Perut Nana terlihat agak membuncit, walaupun Nana memakai terusan, perutnya terlihat membesar dari biasanya.

Seakan mengerti tatapan mata Junhyung terhadapnya, Nami kembali menyahut, “sudah kubilang bukan aku yang hamil. Tidak percaya, sih.” Nami tertawa pelan.

Junhyung hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya sambil menatap Nami dan menggerakkan bibirnya mengatakan ‘mianhae’ lalu tersenyum malu. Nami mendengus geli melihatnya.

“Sudah, ganti bajumu yang basah itu. Aigo, pakai saja kausku di dalam kamar,” ujar Nami mendorong Junhyung ke kamarnya, tapi Nana mencegatnya. “Pakai saja baju Kris di lemari. Baju Oneechan mana cukup dibadan Junhyung-san?”

“Aku punya sweater couple di koperku, pas dengan badannya kok,” kata Nami lagi mendorong Junhyung. Junhyung tidak masuk ke dalam kamar tetapi justru mengamati Nana dan menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.

Nana membalas tatapan Junhyung tersebut dengan balik menatapnya dengan penuh tanya.

“Kau…” Junhyung menatap perut Nana lagi, “Hamil? Maksudku, Nana-san, kau hamil?”

“Iya, 3 bulan,” kata Nana mengangguk pelan. Junhyung hampir melontarkan pertanyaan ‘dengan siapa’ kemudian dia teringat, adik Nami sudah menikah.

Nana kembali memandangi Nami dan Junhyung bergantian lalu memicingkan matanya ke Nami. “jangan bilang kalian… bertengkar karena Junhyung-san mengira Oneechan hamil. Benar?”

“Tidak bertengkar, aku hanya menumpahkan minuman di bajunya,” kata Nami santai.

Nana tersenyum mendengarnya. “Astaga, Oneechan tega sekali,” kata Nana menggelengkan kepalanya berlalu ke kamar.

Junhyung melihat jam tangannya, ia baru ingat kalau dirinya punya janji dengan Bora. Junhyung langsung bergegas dan menarik Nami kedalam kamar. “Sweatermu mana?”

Nami menggeleng sambil berjalan ke kopernya. Dia membuka kopernya, mengambil sweater berwarna hitam lalu memberikannya ke Junhyung. Junhyung langsung melepaskan kemejanya yang basah dan memakai sweater dari Nami. Setelah merasa penampilannya lebih baik, Junhyung memungut bajunya dan langsung berlari keluar rumah, setelah amit ke Nami terlebih dahulu.

Ia pun berjalan ke kamarnya ketika Nana memanggilnya. “Oneechan,” seru Nana dari dalam kamarnya. Nami pun tidak ke kamarnya, namun ke kamar Nana. Begitu masuk, Nami melihat Nana duduk ditepi tempat tidurnya memegang sebuah surat.

Nami mendekati Nana dan duduk disampingnya. Dengan tatapan penuh tanda tanya, Nami memandangi surat ditangan Nana itu. Wajah adiknya juga terlihat serius.

“Oneechan,” kata Nana menggenggam tangan Nami dan menatapnya lama sebelum memulai bicara. “Maafkan aku tidak menyampaikannya dari dulu.”

“Apa?” Nami mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan maksud pembicaraan Nana. Nana menghela napasnya pelan, kemudian tersenyum. “Ada seseorang yang menitipkan ini padamu. Dia memberikannya setahun yang lalu.”

Nana bangkit berdiri, “Aku menyiapkan makan malam dulu. Oneechan bisa membacanya sekarang,” kata Nana sambil berlalu ke dapur.

Sepeninggalan Nana, Nami memandangi surat itu kemudian merenung. Sebaiknya dia membacanya setelah makan malam, pikirnya lalu kembali ke kamarnya dan menyimpan surat itu di atas tempat tidur kamarnya.

Nami pun bergegas ke dapur untuk membantu Nana.

-oOo-

“Kau tahu, aku tercengang saat Nami pulang. Saat itu, dia terlihat sangat berbeda dengan Nami yang biasa kutemui.”

Sungyeol menggenggam cangkir kertas berisi kopi panas dan membawanya masuk ke ruangannya. Serta merta dengan tasnya, Sungyeol memasuki ruangan itu lalu duduk dan menyesap kopinya.

Ia kembali membetulkan letak earphonenya. “Bagaimana kabarmu disana?”

“Baik-baik saja, tentu saja. Jangan bilang kau mengkhawatirkanku? Ah, Jihyun pasti cemburu jika mendengar ini.” Suara Bora terdengar di seberang.

Sungyeol mendengus geli. “Tidak akan. Untuk apa dia cemburu kepadamu? Kau kan temanku/ Teman cukup dekat.”

“Baiklah baiklah, aku tahu. Oh ya, kau dekat sekali dengan Nami kan?”

“Iya, tapi tidak sedekat dengan Junhyung. Kenapa memangnya?”

“Kau tahu, sepertinya Nami sedang menyukai seseorang. Bukan, Nami memang menyukai seseorang. Tapi dia tidak mau menceritakannya.”

Sungyeol menghentikan aktifitasnya.

“Maksudmu?”

“Sewaktu terapi, aku pernah bertanya apa dia sedang menyukai seseorang atau tidak. Nami hanya mengatakan iya, tapi dia bilang dia tidak mau membahasnya lagi lebih jauh.”

“Lalu apa masalahnya?”

“Orang yang disukainya itu jelas-jelas adalah orang yang membuatnya menuruti kemauanmu untuk ke Swiss. Kau tidak bisa membaca pikirannya?”

“Melupakan orang yang disukainya, ya?”

Bora mengangguk, walau tidak terlihat oleh Sungyeol. “Kau tahu siapa?”

“Himchan.” Sungyeol menyebutkan nama itu. “Kim Himchan.”

“Himchan? Ah…”

“jadi Nami sudah melupakan Himchan?”

“Aku tidak tahu,” terdengar suara helaan napas. “Sepertinya belum. Nami pandai menyembunyikan perasaannya dengan rapi, tapi tetap saja terlihat dari tingkah lakunya kalau dia merindukan Himchan itu. aku takut nanti Nami justru menjadi pribadi yang pendendam…”

“Apa yang harus kulakukan?”

“Tidak ada. Kau sudah bekerja keras untuk penyembuhannya. Masalah itu biar aku yang urus.”

“Baiklah baiklah. Take care about her.”

“Kau peduli sekali dengan Nami, ngomong-ngomong.”

“Tentu saja, dia kan temanku. Cukup dekat malah.”

“Ya ya ya ya. Kau dan Junhyung memang serasi.”

“Tidak ada hubungannya dengan Nami.”

“Ada. Nami kan sangat dekat dengan Junhyung. Kau pasti tahu hal ini, dear.” Sungyeol tertawa.

“Sudahlah. Aku tutup, ya. Datanglah ke Seoul, Jihyun mencarimu.”

“Bawel. Iya iya.”

Sambungan telepon pun terputus. Sungyeol melepaskan earphone dari telinganya, kemudian menyandarkan punggungnya di kursi. Memikirkan kalimat Bora yang barusan membuatnya sedikit gelisah.

aku takut nanti Nami justru menjadi pribadi yang pendendam

 

Sungyeol harus melakukan sesuatu.

-oOo-

Surat itu menarik perhatian Nami sesaat sebelum Nami akan tertidur. Dengan ragu, dia meraih surat itu dan merobek amplopnya. Siapa yang mengirimkan surat untuknya? Pikir Nami sambil membuka surat tersebut.

Surat berwarna biru pastel pun mulai dibaca Nami.

“Dear Jung Nami

 

 

Hai, ini Himchan.

 

Nami tersentak membaca nama itu. Surat dari Kim Himchan. Perasaannya mendadak kacau. Senang, sedih, dan panic disaat bersamaan.

Apa dia harus membacanya? Tapi… Bagaimana dengan perasaannya nanti? Nami sudah mati-matian melupakan Himchan, dengan susah payah mengubur perasaannya dalam-dalam, serta tidak pernah mendengar namanya belakangan ini. Tapi sekarang dia justru membaca surat dari Himchan !

Nami menggenggam surat itu erat. Tidak apa-apa, pikirnya. Tidak ada salahnya kalau dia membaca surat ini. Dengan segenap tenaganya, Nami un kembali membaca surat itu.

“Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu.

 

Kau dimana, apa kau baik-baik saja, apa yang selama ini kau lakukan, apa kau tidak sakit, bagaimana kabarmu, dan lainnya.

 

Ada satu pertanyaan yang selalu terbayang-bayang. Kau dimana sekarang?

 

Aku tidak tahu harus bertanya ke siapa. Junhyung tidak bisa dihubungi, Sungyeol yang tiba-tiba menghilang begitu saja, staff mu yang tidak tahu sama sekali tentangmu. Semua orang tidak tahu kau ada dimana. Seluruh Jepang mencarimu. Banyak rumor aneh yang menceritakan tentang dimana dirimu sekarang.

 

Kau dimana?

 

Aku tidak tahu dimana. Karena itu, aku memutuskan untuk menulis surat untukmu, walaupun aku tidak yakin kau akan membacanya atau tidak. Surat ini akan kuberikan kepada Nana, suatu saat nanti, saat kalian bertemu, aku berharap Nana memberikannya.

 

Mungkin, surat ini mewakili seluruh perasaan dan kata hati yang aku pendam selama ini tentangmu. Jung Nami.

 

Nami merasa oksigen disekelilingnya mulai menipis. Napasnya sesak membaca surat ini.

Aku pertama kali bertemu denganmu di kereta dalam perjalanan ke Hokkaido menemui pamanku. Sosokmu yang tenang, auramu yang dingin, itulah hal pertama yang aku ingat dari dirimu.

Lalu saat Suho mengganggumu. Tuhan mungkin sudah menuliskan takdir kalau aku akan menyelamatkanmu dari gangguan Suho saat itu. Dan, saat kau mulai berlaku tidak lazim. Aku pun mulai memerhatikanmu.

 

Aku langsung mempelajari sikap dan tingkah lakumu. Dan, kesimpulan yang kutarik memang benar. Kau penderita skizofrenia.

 

Saat kata skizofrenia melekat di otakku, aku semakin memerhatikanmu. Perlahan, muncul sesuatu yang tak wajar. Rasa ingin melindungimu dari sesuatu yang berbahaya, atau apapun itu. Aku bahkan tidak berpikir untuk menjauhimu, penderita skizofrenia.

 

Pelan namun pasti. Aku mulai menghabiskan waktuku bersamamu. Melakukan apapun denganmu. Menggenggam tanganmu, tersenyum kepadamu. Awalnya, harus kuakui memang hanya sebagai teman biasa. Namun, seiring waktu yang berjalan, aku pun tidak melihatmu sebagai teman biasa lagi. Tapi, sebagai orang yang penting di hidup ini.

 

Aku sadar akan hal ini. Sepenuhnya sadar. Namun, aku membiarkan diriku menjadikanmu orang terpenting didalam hidupku. Mau diapakan lagi, kau telah menjadikan dirimu seperti itu.

 

Semakin sering aku menghabiskan waktuku denganmu, semakin banyak gejala aneh yang muncul di diriku. Jantungku berdegup lebih kencang saat aku melihatmu. Rasa nyaman yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhku saat kau menggenggam tanganku, suasana damai yang kau ciptakan saat aku dank au bersama, padahal kau tidak melakukan apa-apa. Hanya duduk, atau diam.

 

Dan aku terkesiap dengan semua ini. Love is all around. Aku pun mengakuinya.

 

Namun semuanya langsung berubah saat Alice datang. Ternyata perasaanku terhadap Alice belum sepenuhnya hilang. Saat itu, aku sendiri tidak tahu perasaanku bagaimana. Aku mengharapkan Alice kembali ke sisiku. Dia lah alasan kenapa aku memutuskan pindah ke Tokyo. Dan kau tahu tentang ini.

 

Aku tidak bisa memilih Alice begitu saja karena aku menyukaimu. Ya, menyukai. Ada perasaan yang lain, perasaan yang berbeda untukmu. Disinilah aku mulai menyakitimu. Saat aku tidak bisa menetapkan hatiku sendiri. Saat aku memilih Alice, aku tahu, sangat jelas, bahwa aku sudah menyakitimu dengan teramat dalam.

 

Saat mengucapkan selamat tinggal tiga tahun yang lalu, saat aku berjalan meninggalkanmu di kafe itu, saat aku memilih untuk meninggalkanmu, saat itu pula hidup yang selama ini wajar menjadi kacau balau. Tidak ada yang salah dengan hidup ini. Matahari terbit dari timur, tenggelam di barat. Presiden Amerika Serikat masih Barack Obama. 

 

Aku hidup di New York, kembali bersama Alice. Seluruh kehidupanku kembali. Namun, sama saja. Aku merasakan sesuatu yang ganjal. Sesuatu yang hilang dari hidup ini. Aku berusaha mencarinya, tapi sesuatu itu tidak ada di New York. Aku berlari kesana kemari, terduduk diam di kursi, berdiri mematung, memejamkan mata namun hasilnya sama saja. Aku tidak bisa menemukan apa yang salah dari hidup ini.

 

Ketika aku mendengar kata Tokyo, aku pun tahu apa yang salah. Ada sesuatu yang hilang.

 

Aku pun meninggalkan New York dan kembali ke Tokyo. Karena aku sadar, sesuatu itu adalah dirimu.

 

Saat tiba di Tokyo, orang pertama yang ingin kutemui adalah dirimu. Aku langsung mencari dirimu ke kantormu, namun para staff mengatakan kalau kau pergi. Saat aku Tanya kemana, mereka tidak tahu. Aku bertanya ke Junhyung, Sungyeol, semua orang yang kukenal dekat denganmu aku tanya. Namun, mereka tidak tahu kau dimana.  Aku pun sadar, inilah karma untukku. Meninggalkanmu.

 

Saat kau sedang kesusahan, aku tidak ada disampingmu dan menjagamu. Padahal aku sudah berjanji untuk hal itu. Aku telah mengingkari janjiku sendiri. Rasa bersalahku terhadapmu semakin membesar.

Kemana aku saat kau butuhkan?

 

Pertanyaan itu selalu membayangiku. Saat kau membutuhkanku, aku tidak ada.

 

Maafkan aku… Maaf Maaf maaf Maaf Maaf….

 

Aku tidak tahu lagi harus berbuat apa selain mengucapkan kata Maaf… aku bahkan tidak tahu apakah aku pantas mendapatkan maaf darimu. Aku telah menyakitimu sejauh ini.

 

Tiga tahun telah berlalu. kau pun belum menunjukkan dirimu ke masyarakat. Semua orang mencarimu, semua orang membicarakanmu. Aku? Aku tidak bisa menuliskan apa yang aku lakukan selama tiga tahun itu. Yang jelas, hidupku penuh dengan kehampaan. Setiap hari aku merasakan kekosongan yang amat mendalam. Tidak ada gairah dalam hidup ini.  Aku bagaikan robot.

 

Mata Nami memanas. Tangannya basah, hatinya terasa sangat sesak dan sakit.

 

Aku tidak tahu, apakah aku masih pantas mengucapkan ini. Tapi, izinkan aku menuliskannya.

 

Maafkan aku karena menyakitimu.

 

Maafkan aku karena meninggalkanmu.

 

Maafkan aku karena membuatmu menangis.

 

Maafkan aku karena membuatmu sedih dan murung.

 

Maafkan aku karena aku tidak menepati janjiku kepadamu.

 

Maafkan aku yang tidak bisa menjadi orang yang baik bagimu.

 

Maafkan aku tidak bisa menyediakan pundakku untukmu.

 

Maafkan aku yang tidak bisa menraktirmu makan kare kesukaanmu

.

Maafkan aku yang membuatmu menderita.

 

Aku tidak tahu maaf apa lagi, terlalu banyak hal yang kulakukan kepadamu dan itu sudah menyakitimu.

Maaf… maaf… maaf…

 

Kumohon, kembalilah. Setidaknya, perlihatkan wajahmu. Biar aku bisa memastikan kalau kau baik-baik saja. Aku sangat mengkhawatirkanmu

 

Soal perasaanku, tidak berubah sama sekali dari tiga tahun yang lalu. Masih tetap sama. Baiklah, aku akan jujur padamu. Aku belum mengungkapkannya, bukan?

 

Aku menyukaimu, Jung Nami.

 

Aku menyayangimu sebagai seorang wanita.

 

Aku melihatmu sebagai seorang wanita.

 

Aku merindukanmu…

 

 

 

Kim Him Chan”

 

 

Nami tidak bisa berkata apa-apa sekarang. Seluruh syarafnya seakan berhenti mengirimkan sinyal ke otaknya untuk bereaksi. Otaknya melambat, jantungnya berdebar, tanganya lemas, seluruh tubuhnya lemas. Waktu seakan berhenti saat itu juga.

Pikirannya pun melayang ke sosok Kim Himchan. Kenapa? Kenapa Himchan harus menuliskan perasaannya seterang ini disebuah surat? Kenapa tidak dari dulu Himchan mengatakannya…

“Kenapa… Kenapa…”

Nami tidak bisa menahan air matanya yang jatuh begitu saja. Hatinya perih. Dia tidak bisa memikirkan apa-apa sekarang. Otaknya penuh dengan Himchan. Perasaannya yang sudah susah payah dikuburnya, muncul begitu saja saat ini.

“Oneechan,” sapa Nana memasuki kamar Nami. Begitu melihat Nami yang menangis, Nana langsung tahu apa yang terjadi. Dan itu terlihat jelas saat Nana melihat Nami menggenggam surat dari Himchan itu.

Nana berjalan mendekati Nami, duduk disampingnya dan memeluknya erat. Dia tahu, kakaknya ini masih menyukai Himchan. Walaupun Nami berusaha tidak membahas nama Himchan lagi di hidupnya, nyatanya kakaknya tidak mungkin menangis karena membaca surat ini kalau dia tidak menyukai Himchan lagi.

Himchan memberikan surat itu ke Nana saat dirinya berkunjung ke Hokkaido setahun yang lalu. Nana kaget saat ada seorang lelaki yang mendatangi rumahnya dan mencari dirinya, sementara dirinya tidak mengenal orang itu.

Saat itu, Himchan mengatakan bahwa dia adalah sepupu Baekhyun. Dan Himchan pun hanya menitipkan surat untuk Nami kemudian menghilang. Nana tidak pernah mendengar kabarnya lagi. Tapi, terlihat jelas kalau Himchan merindukan Nami. Nana bahkan masih ingat apa yang dikatakan Himchan sebelum Himchan pergi.

“Kumohon, berikan surat ini ke Nami. Hanya kau satu-satunya orang yang bisa. Mungkin Nami tidak akan membacanya, tidak apa-apa. Katakan padanya, aku mencarinya.”

 

“Oneechan masih menyukai Himchan, bukan?”

Pertanyaan itu membuat Nami mengangkat kepalanya. Dia menatap mata adiknya itu. Nami tidak bisa menjawabnya. Justru air mata yang terus keluar dari matanya. Oke, dia memang sudah sembuh dari skizofrenia tapi sekarang kenapa dia menjadi cengeng seperti ini?

Nami menghapus air matanya cepat. “Ah, aku terlalu cengeng sekarang.”

“Oneechan masih menyukai Himchan, kan?” Nana kembali melontarkan pertanyaan itu.

Nami menggigit bibirnya. “Tidak…” bisiknya pelan menundukkan kepalanya.

“Jangan bohong. Kenapa Oneechan menangis kalau begitu?”

“Kenapa dia baru mengatakannya sekarang? Aku merasa bersalah dengan Alice… Aku terkesan merebut tuna…”

“Alice dan Himchan sudah berpisah sejak 4 tahun yang lalu.”

Nami tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Dia menatap Nana. “Apa?”

Nana menganggukkan kepalanya. “Alice dan Himchan berpisah sejak 4 tahun yang lalu. Baekhyun memberitahukan ini kepadaku,” gumam Nana.

Nana meraih tangan Nami. “Oneechan sudah terlalu lama menghilang dari publik Jepang. Kembalilah, mereka merindukanmu.”

“Apa ini keputusan yang tepat? Bagaimana denganmu yang sedang hamil sendirian?”

“Ini keputusan yang paling benar, Oneechan. Kembalilah ke Jepang dan selesaikan perasaanmu dengan Himchan. Hanya kau yang bisa.”

“Soal aku hamil sendirian, tenang saja, ada Amber dan Onew. Lagipula, katanya Kris akan datang ke Seoul untuk syuting. Pasti dia mengunjungi wanita yang sedang hamil anaknya,” sahut Nana tersenyum lebar. Nami mendengus geli mendengar kalimatnya.

“Sejak kapan kau menjadi greasy woman ?”

“Entahlah, mungkin efek hamil dan anak ini saaaaangat merindukan ayahnya,” kata Nana sambil mengelus perutnya. Ia lalu menatap Nami sambil tersenyum, “Oneechan aku ingin makan melon. Kupaskan…”

Nami langsung beranjak berdiri dan berjalan keluar kamar diikuti Nana yang berjalan dibelakangnya terkekeh pelan.

“sepertinya aku memang harus kembali ke Jepang. Melayani ibu hamil yang sedang ngidam kadang merepotkan,”katanya mengupas melon lalu memotongnya dan memberikannya ke Nana. Nana menyambutnya dengan gembira dan langsung memakannya.

“Oneechan, coba ini. manis,” sodor Nana sepotong melon ke wajah Nami. Nami menggeleng pelan.

“Makan saja. Ibu hamil lebih membutuhkannya.” Nana mengangguk lalu kembali menyantap melonnya.

Nami tersenyum bahagia melihat adiknya kembali menikmati melon dengan gembira. Nami pun memikirkan kembali kata-kata Nana.

 

“Kembalilah ke Jepang dan selesaikan perasaanmu dengan Himchan. Hanya kau yang bisa.”

Benar, hanya dirinya yang bisa menyelesaikan perasaannya sendiri. Tidak dengan Junhyung, Sungyeol ataupun Bora. Hanya dirinya dan Himchan.

-oOo-

Osaka, seminggu kemudian.

Dunia memang sempit. Itulah yang dipikirkan Himchan saat ini. sekarang dia sedang berada di sebuah kafe yang terletak di Osaka. Karena iseng, Himchan mengunjungi kafe ini dan kaget saat mengetahui pemiliknya adalah Woohyun, orang yang ditemuinya di bandara 4 tahun yang lalu saat pesanan mereka tertukar.

Karena pernah menghadiri sebuah acara di Swiss, Himchan pun mengenal Woohyun lebih jauh dan sekarang Woohyun mengundangnya ke acara pembukaan kafe miliknya.

Setelah menyapa Woohyun dan memesan minumannya, Himchan pun bergegas mencari tempat duduk di luar kafe. Pemandangan kafe tersebut sangat apik. Dikelilingi oleh pohon sakura yang berbunga, semilir angin yang berhembus membawa harum bunga sakura memenuhi kafe tersebut. Kelopak bunga yang berguguran semakin memperindah suasana kafe itu. Woohyun pintar memilih lokasi, gumam Himchan.

Ia pun kemudian tenggelam dalam pikirannya sambil menyesap kopinya. Menikmati pemandangan indah di hadapannya.

Kemudian matanya menangkap sosok anak lelaki yang sibuk dengan gitarnya. Himchan lalu beranjak berdiri dan menghampiri anak lelaki itu.

“Hai,” sapa Himchan duduk disampingnya. Anak lelaki, yang tampak berusia 16-17 tahun itu memandangi Himchan kemudian menganggukkan kepalanya.

“Oniisankau bisa memainkan gitar?” tanya anak lelaki itu memandangi Himchan. Himchan tersenyum mendengarnya.

“Tentu saja. Kenapa memangnya?”

“Oniisan tolong nyanyikan satu lagu romantis untuk seseorang. Aku tidak bisa memainkannya dengan benar,” keluh anak lelaki itu masih sibuk dengan gitarnya. Himchan langsung mengambil gitar itu dari tangannya. Anak lelaki itu menatap Himchan dengan penuh harap.

“Kau mau menyatakan cinta, ya?” tebak Himchan. Anak lelaki itu mengangguk pelan, membuat Himchan tertawa. “Baiklah. Aku akan menyanyikan sebuah lagu untuk orang itu. Tapi, lagu berbahasa Korea. Tidak apa-apa?”

Hontou ni? Tidak apa-apa, dia justru pecinta k-pop.” Pandangan anak lelaki itupun teralihkan ketika seseorang memanggil namanya. Saat melihat sosok yang memanggilnya, anak lelaki itu langsung menyikut Himchan.

“Dia datang. Oniisan siap?”

Himchan mengangguk saja. Saat gadis sebaya anak lelaki itupun datang, Himchan langsung memetik gitar dan menyanyikan lagu untuk gadis itu.

-oOo-

Nami pura-pura terlihat kesal ketika melihat Woohyun datang membawa caffee latte untuknya. “Lama sekali,” protesnya ketika Woohyun duduk didepannya. Woohyun hanya menunjukkan cengirannya.

“Aku melayanimu secara langsung. Seharusnya kau bangga,”  kata Woohyun. Nami menggeleng lalu meraih kopinya dan menyesapnya pelan. Mereka pun asyik mengobrol cukup lama.

Setelah selesai mengobrol dengan Woohyun, Nami pun keluar dari kafe itu dengan membawa cangkir kertas berisi caffee latte keduanya hari ini. ia berdiri didepan kafe itu menatap pemandangan disekelilingnya. Kafe itu memang terletak di pusat kota, tapi hebatnya Woohyun memilih lokasi yang sangat indah. Bagaimana tidak, kafe tersebut ada di sudut sebuah jalan, disekeliling kafe itu ditumbuhi pohon-pohon sakura yang sedang berbunga. Kelopak merah jambu khas bunga sakura memenuhi kursi-kursi kafe yang ada diluar. Wanginya juga menyebar.

Indah sekali, batin Nami. Nami pun mencari di sekelilingnya tempat duduk dan dia menemukan sebuah kursi panjang disamping kafe Woohyun. Nami pun menyebrangi jalan dan beranjak duduk dan membaca sebuah buku.

Matanya menangkap kerumunan yang ada tak jauh di hadapannya. Nami memandangi kerumunan itu. terlihat banyak gadis belia yang mengelilingi kursi tersebut. Nami tersenyum melihatnya lalu perhatiannya kembali ke buku digenggamannya.

Sayup-sayup Nami bisa mendengar seseorang, seorang pria, menyanyi dalam bahasa korea. Nami mengerutkan dahinya, berusaha mempertajam pendengarannya.

Spring spring spring, spring has come

With that scent of when we first met

The tree next to the bench that you sat is still there

I thought I would forget about it as time went by but

Even as I said that, I knew It wouldn’t happen

 

My dear,I knew right away when I first saw you

My dear, be with me before this spring ends

 

Once again, spring spring has come

After the winter of heartbreak without you has passed

I sit on this benc and reminisce like cherry blossoms blooming

There are times when feelings grow dull

But now I finnaly realize that even those times are part of love

 

My dear,I knew right away when I first saw you

My dear, be with me before this spring ends

 

Lets stop holding back, lets not hestitate any longer

I’ll push back the painful day and tell yo now

 

My dear,I knew right away when I first saw you

My dear, be with me before this spring ends

 

Nami tercengang mendengar suara orang itu. lembut dan bagus. Setelah pria itu menyanyi, teriakan riuh mulai muncul. Nami tidak bisa mendengar apa yang terjadi, tapi Nami tetap memerhatikan kerumunan itu. setelah beberapa saat, kerumunan itupun hilang. Nami pun kembali tersenyum geli.

Entah apa yang membuatnya mengangkat kembali kepalanya yang sedang asik membaca buku. Nami menatap tempat bekas kerumunan yang ada dihadapannya itu. ada seseorang yang duduk, dan seorang anak perempuan dan laki-laki yang berdiri menghalangi pria itu.

Nami tetap memandangi sosok itu. saat dua anak itu pergi, sekelopak bunga  melayang kearah Nami. Nami mengadahkan tangannya menangkap kelopak bunga itu. Kelopak yang cantik, batinnya.

Nami pun mengembalikan perhatiannya ke seberang.

Matanya tidak berkedip memandangi sosok pria yang duduk. Pria itu sedang memperbaiki rambutnya. Saat pria itu ingin beranjak berdiri, pandangannya bertemu dengan tatapan Nami.

Nami mematung melihat pria itu. Pria itu nampak mematung juga. Mereka bertatapan cukup lama.

Nami mengerjapkan matanya untuk memastikan sosok yang dihadapannya bukan mimpi. setelah mengerjapkan matanya tiga kali, Nami tahu sosok dihadapannya adalah nyata.

Pandangan Nami tidak lepas dari pria itu. Pria itu bangkit dari duduknya, berjalan kearahnya. Tiba-tiba, Nami merasa susah bernapas.

Pria itu pun telah berdiri beberapa langkah dihadapannya. Nami pun bangkit dari tempat duduknya, berdiri menghadap pria itu. Nami pun membungkuk sedikit kearahnya.

Oraenmanieya, Kim Himchan.”

-oOo-

Seluruh badannya tidak dapat bergerak saat wanita dihadapan Himchan itu mengucapkan sesuatu.

Oraenmanieya, Kim Himchan.”

Himchan masih ingat suara itu. Himchan masih mengingat sosok wanita itu. Himchan masih mengingat segalanya tentang wanita itu. Sosok yang Himchan rindukan.

Himchan pun dengan kaku membalas membungkuk ke Nami. “Oraenmanieya, Jung Nami.”

Nami tersenyum mendengarnya. Himchan merasa kakinya lemas saat melihat senyuman Nami. Ia bahkan tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk memulai percakapan, otaknya tidak bisa bekerja untuk saat ini sepertinya.

“Sudah 4 tahun,” ujar Nami memulai percakapan. “Bagaimana kabarmu?”tanya Nami lagi. Himchan tidak tahu harus menjawab apa.

“Baik.” Hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.

“Syukurlah,” gumam Nami tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya. Himchan berusaha meraih kesadarannya kembali, menghela napas.

“Darimana saja?” tanya Himchan akhirnya –setelah menemukan kata katanya –kepada Nami. Nami hanya tersenyum membalasnya kemudian beranjak duduk. Nami pun mengajak Himchan duduk disampingnya.

Keduanya terdiam, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Sampai akhirnya Himchan mulai membuka suara. “Bagaimana kabarmu?”

“Baik,” jawab Nami.

Kemudian Nami menatap Himchan. “Aku sudah membaca suratmu.”

“Oh ya?”

Nami mengangguk. Himchan menatap Nami lama. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Rasa rindu yang terlalu mendalam membuatnya kehabisan akal saat ini. dia hanya bisa menatap Nami dalam-dalam.

Ketika Himchan mulai bisa mengontrol perasaannya, dia hanya tersenyum menatap Nami. “Kau sudah tahu perasaanku kalau begitu,” gumamnya.

“Aku tahu,” ujar Nami pelan menundukkan kepalanya.

“Maafkan aku. Mungkin itu yang paling tepat untuk saat ini. aku sudah membuatmu…”

Bogopha,” bisik Nami pelan membuat Himchan menghentikan kata-katanya dan menatap Nami.

“Apa?”

Bogopha,”ujarnya lagi dengan suara yang lebih jelas. Nami lalu menatap Himchan. Matanya nampak berkaca-kaca.

Pabo-ya… Tidak ada yang perlu dimaafkan disini… Tidak ada yang perlu aku maafkan…. Suratmu sudah menjelaskan segalanya…”

Nami mengalihkan pandangannya. Matanya semakin berat.

“Seharusnya aku yang meminta maaf karena menghilang  secara tiba-tiba dan cukup lama…Maaf, mungkin terdengar konyol untukmu tapi aku juga merindukanmu…”

Himchan tidak dapat berkata-kata.

“Jangan memotong pembicaraanku,” sergah Nami lagi, tanpa menatap Himchan. Matanya menatap kursi dihadapannya kosong. “Kalaupun memang kau mau aku memaafkanmu, aku sudah memaafkanmu. Dan sekarang, aku memenuhi janjiku untuk menampakkan diriku dihadapanku walau aku tidak merencanakannya sekarang.”

Anyway, aku tidak tahu kalau suaramu sebagus itu saat menyanyi. Lagu yang bagus.”

Himchan tidak bisa mengungkapkan sepatah katapun setelah Nami menyelesaikan kalimatnya. Perasaannya bercampur aduk sekarang.

“Lagu itu untukmu,” kata Himchan. Nami mengerjapkan matanya nampak tidak percaya.

“Aku…”

Nami menatapnya. Himchan menghela napas pelan.

Can I ask you something?”

Nami mengangguk.

“How if… I ask you to stay?”

“I’ll stay.”

“How if… I ask you to be with me?”

Nami lama menjawabnya. “I’ll be with you then.”

“How if… I ask you to be my spring?”

Sounds great.”

Himchan merasakan bebannya selama ini telah hilang. “Would you be my spring?”

Nami berusaha menarik napas yang kini susah dilakukannya. Dia pun menganggukkan kepalanya. “I would.”

 

Himchan tidak dapat berkata apa-apa lagi sekarang. Ia tersenyum sangat lebar mendengar jawaban Nami barusan.

Saranghae,” kata Himchan lagi.

“Aku tahu aku tahu aku tahu.”

Nami tidak bisa berhenti tersenyum. Keduanya pun kembali menikmati pemandangan dihadapan mereka didalam diam. Sesekali, Himchan memandangi Nami dan tersenyum melihatnya.

-oOo-

“Halo? Himchan?… Ini aku, Sungyeol…Kau sekarang dimana? Osaka…Apa kau sibuk? Aku ingin bertemu…Kapan kau pulang ke Tokyo? Apa…memangnya kau dengan siapa sekarang? …Jung Nami? … Benarkah? … Baiklah, kalau begitu tidak jadi…tidak ada, bukan hal yang penting… oh ya, ayo kita adakan pesta untuk menyambut Nami… Baiklah, sampai jumpa…”

“Kalian dengar sendiri, Himchan bersama Nami di Osaka sekarang,” kata Sungyeol. Bora dan Junhyung mengangguk mendengarnya.

“Kecurigaanku tidak terbukti,” gumam Bora lalu tersenyum. Junhyung menatap Bora. “Curiga apa memangnya?”

“Kalau Nami dendam dengan Himchan. Tidak terbukti, bukan?”

Sungyeol mengangguk setuju. “Tapi lihat, kekasihmu tidak terlihat senang dengan hal ini.”

“Siapa bilang?” Junhyung mendengus kesal. “Aku hanya takut Nami nanti kenapa-kenapa,” sambungnya lagi.

See? Jelly Junhyung is funny.”

“Oppa is being jelly because there is another person who take his beloved Nami,” ucap Bora tertawa diikuti Sungyeol.

Junhyung hanya memandangi kedua orang dihadapannya ini dengan tatapan berhenti-menertawakanku.

The End

-oOo-

Karena saya sibuk, saya tidak bisa posting bulan desember. Maaf T_T bukan karena menunda, tapi kesibukan membuat saya tidak bisa memposting. Once again, so sorry T_T

Sebenarnya, memang akan diposting awal januar tapi karena ada faktor error yang membuat setengah dari cerita terhapus, saya pun mengulangnya T__Tv alhamdulillah, akhirnya part terakhir dengan panjang 36lembar pun rampung

thank you so much for waiting this fanfic untill the end. i cant say anythin. just thank you so much. thank you thank you. goodbye, see ya at next stories !!

beloved, hayamira.

12 responses to “FF : Oramanieyo… [CHAPTER 9]

  1. Kyaaaaaa gak ada kissing scenenya kah 😦
    tapi daebak kok endingnya, akhirnya Junhyung dapat pacar juga hahay

  2. The End? Bikin sequel dong thor 😀 Ini fanfict keren banget sumpah!! Ada beberapa bagian yang bikin tahan nafas waktu bacanya, daebak deh pokoknya thor!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s