Temperament n’ Cool Boy – Chap. 8

Temperament-n-cool-boy_3

We are In Trouble

Author : Yanlu and my friend Mokuji 🙂

Genre : Romance, little bit comedy

Main Cast : Kris Wu, Lee Jinki, Samantha Lee (OC)

Other Cast : member of EXO-M, Kang Minhyuk

Length : Chaptered

Rating : PG-16

Come To You | Bad Luck | Going Party? Oh No! Broken Heart | Jinki’s Threat |

First as Fearfulness Date | In Love, In Pain

Sebelumnya author mau ngasih tahu sama semua reader karena cerita ini sudah terlalu mengendap tolong baca kembali part sebelumnya tapi kalo masih inget ya monggoh, oya satu lagi. cerita ini aku lempar ke temenku, hehe…mian aku bener-bener stuck waktu itu jadi sebenarnya part ini dilanjut oleh temenku makanya nama authornya ada dua, untuk part selanjutnya juga gitu. XD. Okey Let’s enjoy! ^^

Sejak malam itu, saat Injung datang secara tiba-tiba dari luar negeri. Hidup Jinki dipenuhi gadis itu. Kemana gadis itu pergi selalu ia yang mengantar. Terlebih saat nyonya Lee, ibunya sendiri yang menyuruhnya,  membuat ia tidak bisa berkutik untuk membantahnya.

“Onew-ya! Gomapta” ujar Injung. Ia memasuki ruang perpustakaan yang berada di lingkungan kampus Jinki dengan langkah riang. Melihat itu Jinki hanya melenguh berat. Sekarang yang lebih parah adalah gadis itu bekerja menjadi penjaga perpus selama berada di Korea.

Saat melewat gedung yang ditempati Samantha, ia melihat gadis itu sedang berlari terburu-buru saat memasuki gerbang. Hampir saja berpapasan dengan laki-laki itu.

Begitu melihat Jinki berada dihadapannya,laki-laki itu malah melengos pergi tanpa melihat ke arahnya. Membuat Samantha menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya. Tidak biasanya Jinkibersikap seperti itu. Ada apa dengan laki-laki itu?

Tapi Samantha tidak terlalu mempedulikan hal itu. Ia hanya melewati Jinki kemudian melanjutkan larinya.Tapi ternyata kejadian itu sampai berhari-hari. mengundang rasa penasaran gadis itu. Jinki selalu berpura-pura tidak mempedulikannya meskipun mereka berpapasan. Laki-laki itu terkesan sedang menghindarinya dan seperti tidak mengenal gadis itu padahal sebelumnya Jinkilah yang selalu mengejutkan, dengan kemunculannya yang tiba-tiba. Entah mengapa Samantha merasa uring-uringan dengan tingkah laki-laki itu. Memenuhi pikirannya sepanjang hari.

Suatu ketika, Samantha memergoki Jinki dengan seorang gadis berjalan dari arah perpustakaan. Mereka berdua tampak sangat akrab dan entah kenapa tiba-tiba ia merasa kesal. Gadis itu mampu membuat Jinki tertawa lepas padahal laki-laki itu selalu bertingkah menyebalkan dan marah-marah didepannya.

Mendapati sikap Jinki yang berubah seperti itu ia merasa aneh dan penasaran. Amarahnya meluap, ia ingin sekali menghampiri laki-laki itu dan berteriak apa yang salah darinya. Ini mungkin gila, tapi ia tidak tahan melihat seringnya mereka berdua pergi bersama dan sejak itu pula Jinki tidak pernah mengusiknya atau menyapanya.

Seharusnya aku senang, kenapa aku jadi kepikiran laki-laki itu ya? Jinki pabo! Kenapa kau malah mengusik pikiranku sekarang. Ish…!

Gadis itu sedang menonton pertandingan basket yang berada di dalam gedung tapi pikirannya tidak pada pertandingan itu. Ia terus melamun tentang itu.

Dugh!

“Akh….aigoo…siapa yang melempar bola basket?! Aish…” gerutunya, ia memegang dahinya yang sedikit benjol. Mengaduh kesakitan sampai seseorang datang ke arahnya. Mengecek dahinya.

Gwenchana??” tanya Kris, panik. Samantha mengangguk lirih. Gadis itu berdiri di pinggir lapangan tanpa melihat tempat yang seharusnya. Sehingga terkena lemparan bola basket yang memang keluar lapangan.

Kejadian itu membuat jalannya pertandingan berhenti karena Kris memaksa untuk mengobatinya. Samantha merasa bersalah dengan teman-teman Kris tapi juga kesal dengan Kris. Padahal ia merasa baik-baik saja tapi malah membuat jalannya pertandingan itu berhenti tiba-tiba karenanya.

Kris membawa kompresan untuk mengobati benjolan yang mulai membiru. Sebenarnya benjolan itu lumayan parah karena bola itu cukup keras mengenai kepalanya tapi Samantha berusaha menutupinya karena tidak ingin merusak jalannya pertandingan.

“Hentikan oppa!” Kris tidak menggubris ucapan Samantha, ia terus mengompres dahinya. Mmebuat gadis itu bertambah kesal. Ia menepis tangan Kris yang sedang memegang kompresan di dahinya.

“Kubilang hentikan Kris sunbae!” teriaknya, menekan kata sunbae. Membuat laki-laki itu otomatis menghentikan kegiatannya. Ia menatap Samantha dengan pandangan bertanya dan juga tajam.

Samantha mengatur nafasnya untuk kembali berbicara. “Kenapa kau baik padaku? Kenapa peduli? Wae? Wae?!” lanjutnya, kali ini nadanya terdengar emosi. Ia bahkan berani menatap Kris dengan tajam. Sikap laki-laki itu mulai berlebihan dan ia tidak nyaman dengan semua itu.Secara tidak langsung itu mempermainkan perasaannya. Jika saja sikap Kris tidak membuat jantungnya berdebar. Jika saja perlakuannya tidak begitu manis, ia tidak perlu berharap lebih.

“Aku…hanya khawatir padamu” jawabnya. Samantha menghela nafas panjang kemudian ia berjalan meninggalkan Kris. Membuat laki-laki itu mematung, berpikir keras untuk memahami tingkah gadis itu yang tiba-tiba berubah.

“Oke, aku khawatir padamu karena aku peduli. Aku peduli padamu, Samantha” ujarnya, lebih tegas. Menghentikan langkah Samantha yang mulai menjauh. Gadis itu berdiri dalam diam, mencerna perkataan Kris. Mencerna pengakuan laki-laki itu yang ternyata peduli padanya selama ini.Tapi…kenapa pipiku tidak memanas? Kenapa jantungku berdetak pelan?

Tepat saat itu, Jinki berjalan didepan Samantha dan Kris yang sedang berseteru. Laki-laki itu hanya menatap mereka berdua dengan pandangan malas dan kemudian menatap Kris dengan pandangan tidak suka.

“Yak! Onew-ya! Kenapa aku ditinggal? Hei…lihat! Aku kepanasan lari-lari mengejarmu” tanpa melihat situasi, Injung mengomel pada Jinki. Membuat ketiga pasang mata tertuju ke arahnya. Tatapannya berbeda-beda. Samantha menatap dengan tatapan yang lebih tajam daripada sebelumnya. Kris menatapnya dengan satu alis terangkat. Sedangkan Jinki hanya menatap datar gadis itu.

Grep…

“Oh, Annyeong…” Injung membungkuk setelah berdiri disamping Jinki. Kemudian merangkul lengan laki-laki itu.

Hal itu membuat gejolak amarah Samantha semakin naik. Ia menggelengkan kepalanya lalu menatap Jinki dengan tajam. Berlalu meninggalkan mereka dengan wajah masam dan menimbulkan pertanyaan dalam benak Jinki.

Kenapa dengan gadis itu? Apa dia cemburu padaku? batin Jinki, dengan penuh percaya diri.

^^^

Hal terbodoh yang terjadi sekarang adalah Samantha menangis di dalam toilet. Ia merasa dipermainkan oleh hatinya sendiri. Perlakuan Kris yang sebenarnya tidak salah menjadi sasaran kemarahan gadis itu. Padahal maksud laki-laki itu baik. Mungkin terlalu baik sehingga membuat ia merasa risih dan hal itu menjadi berlebihan.

Samantha mengakui kalau rasa kagum dan menyukainya itu telah berubah menjadi lebih tinggi. Ia mencintai Kris. Ia mengharapkan perasaan yang dirasakan oleh laki-laki itu sama dengannya. Tapi ia takut terjatuh. Merasa tidak mudah untuk mendapatkan hati Kris. Melihat sikap dingin Kris yang masih ada dan itu karena masa lalunya. Ia cukup tahu bahwa gadis yang berada dipelukan Kris yang ia lihat itu adalahcinta lama laki-laki itu. Ia sendiri merasa yakin Kris belum melupakannya dan masih mencintainya.

“Hey! Yang didalam sana siapa?! Cepat keluar! Antrian toilet panjang!” teriak seseorang di luar. Samantha segera menghapus sisa-sisa air matanya dengan tisu. Membasuh muka sebelum pergi dan memasang mimik ‘terkena sembelit’ dengan konyolnya sembari cengengesan.

Dari pintu toilet tiba-tiba seseorang menarik tangannya hingga ia terjerembab ke tembok samping toilet yang jaraknya lumayan sempit. Mata sipit namun tajam itu bertemu pandang dengan milik Samantha. Ia kenal, itu mata Jinki. Mata sipit yang tajam

Entah seharusnya Jinki mengutarakan pikirannya sekarang namun tertahan begitu matanya bertemu pandang dengan milik Samantha. Ia larut ke dalamnya. Mata itu menyala namun teduh dan Jinki menyukainya.

Sedetik kemudian, Samantha mengalihkan pandangannya lalu segera mendorong dada Jinki karena posisinya yang tidak nyaman. Menyadarkan Jinki yang terlalu larut dalam mata indah milik Samantha.

“Aish…kenapa kau selalu membuat orang jantungan? Untung saja aku tidak terkena itu”

“Ekhm…mian, aku butuh bantuanmu, ini darurat dan kau harus mau”

Wae? Aku tidak mau jika kau menyuruhku melakukan hal-hal aneh”

“Pokoknya datang saja nanti malam ke rumahku dan bawalah makanan” Samantha menyatukan kedua alisnya bingung. Tanpa menjawab kebingungan Samantha, Jinki berlalu meninggalkannya.

“Oh ya, jangan lupa berdandan, ingat itu!”

“Yak! Laki-laki pabo! Aku tidak akan melakukan itu. Aish!! Apa yang dia rencanakan?! Aku tidak peduli” gerutunya.

^^^

Situasi yang terjadi sekarang adalah Jinki berhasil memerintah Samantha, gadis itu baru saja bersiap-siap. Menatap cermin dengan khawatir akan penampilannya sendiri.

“Akh…ada apa dengan rambutku? Kenapa jadi sulit di tata begini! Omona! Sekarang jam tujuh lebih, ottoke?!” ujarnya panik.

Samantha merapikan rambutnya yang rencanannya hendak dibuat ikal bagian bawah menjadi gulung ke atas dengan menyisakan beberapa helai rambut di bagian samping dan belakang. Lalu menyampir tas coklatnya dengan terburu-buru sembari melihat pergelangan tangannya, guna mengecek jam. Entah kenapa ia terburu-buru dengan janji yang dibuat Jinki padahal ia sangat malas untuk datang dan berencana tidak membawa apapun tapi nyatanya sekarang ia sedang gelisah menunggu pesanan cathering sesuai dengan narasi yang dibuat Jinki.

Mungkin gadis itu sedang error atau mabuk sehingga seluruh perintah Jinki ia lakukan. Sembari menunggu pesanan ia membalas pesan masuk dari Jinki. Ia terus menggigiti bibir bawahnya, merasa gelisah.

“Aish…apa yang terjadi padamu?! Kenapa jadi gelisah begini, tenang Samantha, calm down” bisiknya pada diri sendiri. Mengambil nafas sebanyak mungkin lalu menghembuskannya dengan pelan.

“Sialan! Jinki benar-benar membuatku gila!”

Sesampainya depan rumah Jinki, Samantha disambut oleh seorang wanita yang sebaya dengan ibunya. Mungkin sekitar 40-an tahun. Wanita itu tersenyum ramah dan mempersilahkan masuk. Ia juga menerima bingkisan dari Samantha.

“Oh apa kau pengantar jasa makanan? Jinki-ya! Apa kau memesan makanan?”

Jinki yang awalnya sedang serius dengan layar laptopnya kini berjingkat begitu mendengar teriakkan asal ibunya. Ia tahu sepertinya gadis itu bukan pengantar makanan tapi  Samantha.

“Ibu, ini yeojachinguku, kenalkan, Samantha …” ujarnya begitu berada di daun pintu. Ia langsung merangkul bahu Samantha, membuat gadis itu terlonjak kaget dan memelototkan matanya pada Jinki. Namun laki-laki itu tidak mempedulikannya, ia malah melakukan senyuman manis yang palsu pada Samantha untuk memberi tanda bahwa sekarang gadis itu harus berpura-pura dan mengikut intruksinya.

“Oh, manis sekali, mianhae…aku kira kau mengantarkan parcel atau seorang delivery service. Silahkan duduk !”

“Ah, ye. Terima kasih,”

“Sudah lama kalian pacaran ?” Tanya Nyonya Lee. Ia menuangkan sebotol sirup dalam gelas di hadapan Samantha. “Ayo, jangan malu-malu,”

“A, ah, sudah cukup lama …” Jinki menyahut.

Tak bisa berbuat banyak, walaupun sebenarnya lidahnya gatal ingin berkata sesuatu. Samantha hanya bisa melempar senyum terpaksa.

“Jinki-ya, kenapa selama ini kau tidak pernah mengenalkannya pada ibu ?”

“Itu tidak terpikirkan,”

“Termasuk selalu diam ketika ibu bertanya apakah kau sudah punya pacar ? Begitu ?”

“Eomma … Samantha sudah jauh-jauh datang,” Jinki mengusap rambut gadis di sebelahnya itu. Membuat Samantha bergidik kesal. “Jangan bahas itu. Sambutlah dia sedikit,”

“Ya, ya, ya …” Nyonya Lee melihat sesuatu yang dibawa Samantha. “Ng, kau membawa sesuatu ?”

“Ah, ye, ahjumma,” Samantha mengeluarkan apa yang ia bawa. “Hanya kue buatan sendiri,”

“Ooh, terima kasih !”Nyonya Lee mencicipi kue Samantha. “Wah, Jinki-ya, beruntung kau bertemu Samantha ! Benar-benar seperti ibu, masakannnya hebat !”

“J, jinjja ?”

“Jinjja ? Apa maksudmu dengan ‘jinjja’ ?”Nyonya Lee mendengus pada Jinki. “Jangan-jangan selama ini kau tidak pernah menghargai masakannya, iya ?”

“Mwo ??”

Hanya tertawa paksa yang tergambar di wajah Samantha.

Waktu berjalan dan semua terasa begitu lambat bagi Samantha. Sebenarnya canggungnya mulai hilang, namun, ketika Jinki menceritakan hal-hal ngelantur tentang ‘hubungan’ mereka, tangan Samantha gatal. Amat, sangat. Yang ada hanya pembicaraan hangat. Perlahan Samantha mulai merasa nyaman dengan Nyonya Lee. Setidaknya, hanya perkataan dan topik darinya yang Samantha perhatikan. Untuk Jinki, walaupun Samantha masih tersenyum ketika Jinki berbicara, hatinya mendengus.

“Ah, ya,” Nyonya Lee meminum habis segelas sirup yang sejak tadi hanya ia pegang. “Jinki, bagaimana jika kalian …”

“Hmm ?”

“Bertunangan,”

Nde…de???”

Mata dua orang ini (Jinki dan Samantha) terbelalak seketika. Spontanitas konyol yang membuat Nyonya Lee juga terkejut termakan ucapannya sendiri.

Wae ?? Mengapa ekspresi kalian seperti itu ?” Tegur Nyonya Lee.

Jinki dan Samantha beradu pandang.

Aish, Jinki-ya ! Ibumu benar-benar gila, sama sepertimu !” Desah Samantha dalam hati.

Sementara Jinki menelan ludahnya, lidahnya berputar-putar menyiapkan jawaban yang tepat bagi keinginan mengejutkan ibunya itu.

Bertunangan ?? Dengan gadis ini ??” Jinki hanya bisa mengumpat dalam hati.

“Hello … Anak-anak, kenapa kalian hanya diam saja ….. Masih jam segini, berisiklah sedikit,” Goda Nyonya Lee.

Dua orang yang berperasaan kacau itu masih diam.

“Jadi, kalian tidak mau, ya …” Tiba-tiba raut wajah Nyonya Lee berubah. “Padahal dulu ayahmu ingin segera memiliki menantu yang ramah dan pandai memasak … Ibu takut ibu akan seperti ayahmu, tak dapat menyaksikan anak laki-lakinya ini duduk bersama gadis pilihannya di pelaminan nanti …….”

Me, menantu ?? Pelaminan ??? Aigoooo ….. Jinki-ya, kau harus bertanggung jawab !

“Eo, eomma …” Jinki seperti kebakaran jenggot. “M, me, mengapa bicara begitu,”

“Jadi kau ingin segera bertunangan ??” Kini ekspresi Nyonya Lee tampak konyol. Aneh.

“K, ka, kalau itu, ng, kalau itu yang eomma minta,” Jinki menelan ludah, sekilas menatap wajah Samantha. “B, ba, baiklah, untuk harinya, terserah eomma,”

Mwwoooo ???!!

“Benarkah ?? Oooohhh…..” Nyonya Lee memeluk Jinki. Setelah itu ia berlari ke lantai dua. Entah apa yang ia lakukan.

“Yak, Jinki! Apa maksudmu ?!” Kini Samantha tak kuasa menahan kepanikan dan kejengkelannya. “Bodohnya kau memberi jawaban seperti itu ! Kita ?? Bertunangan ?? Bagaimana ceritanya ???”

“Tenang, tenang !!” Jinki semakin panik. “Kau marah seperti ini seenaknya saja, kau tak tahu bagaimana sifat ibuku kan ??”

“Seenaknya saja katamu ?! Justru kau itu yang~”

“Tenanglah dulu ! Semua bisa diatur nanti, tenanglah !”

“Aiissshhh, dasar !!”

“Lagipula siapa juga yang sudi bertunangan denganmu …” Jinki mendengus kesal.

“Hei !! Jaga mulutmu ya !!” Samantha kini berdiri. Amarahnya sudah di puncak ubun-ubun. “Aku, SAMANTHA-LEE, sampai kapapun aku tak perlu dan tak akan dan tak mungkin dan tak pernah sudi untuk menjadi tunanganmu !!”

“Terserah,” Jinki mengeluarkan ekspresi malas (lebih tepatnya menyerah), berpaling memunggungi Samantha di sebelahnya dan menopang dagunya.

“Yaa !! Lee Jinki !!!” Samantha kembali duduk. “Hei !!”

Jinki tetap diam.

“Hei !!”

Jinki malah memejamkan matanya, nampaknya kesal.

“Aiissshh …. !” Samantha mendengus.

Tiba-tiba Nyonya Lee turun. Di belakangnya ada seorang gadis yang mengekor. Rupanya Injung. Nyonya Lee lalu menggandeng tangannya dan mendudukannya di samping Jinki.

“Injung-ah, kenalkan, dia Samantha, bakal tunangan Jinki !” Ujar Nyonya Lee.

“Oh ?”

“O, oh ?”

“A, ada apa ?” Nyonya Lee heran.

“A, ah bukan apa-apa,” Injung buru-buru menyanggah. “Annyeong ! Kau gadis yang di lapangan waktu itu ? Wah, tak kusangka kau wanita yang mampu meluluhkan hati Onew yang keras seperti jidatnya itu !”

“Hei, hei, hei, apa katamu ??” Jinki menggerutu.

“Haha, hanya bercanda …”

Sementara Samantha masih bersusah payah mengeluarkan senyum palsu dan mengungkapkan kebahagiaan semu, itu yang tersulit dalam menit-menitnya sekarang.

“Samantha, kenalkan, ini Injung, saudara Jinki …” Ujar Nyonya Lee.

“Ah, y, ye, bangapseumnida,”

“Eomma, jika eomma ingin aku bertunangan dengannya segera, lalu bagaimana soal beasiswa dari Dosen Han ? Bukankah pemenuhan administrasinya tinggal dua minggu lagi ?”

“Jinki-ya, apa tiga tahun di London dulu masih tidak terasa cukup bagimu ? Berilah kesempatan untuk yang lainnya juga,”

“Maksud eomma ??”

“Ya, batalkan saja beasiswa itu. Bilang terima kasih pada Dosen Han, dan minta maaf padanya karena kau menolak beasiswa itu karena suatu alasan,”

“Di… dibatalkan ??”

“Benar. Arasseo ?”

“Ba, baiklah, baiklah kalau begitu ……” jawabnya dengan hati yang sedikit keberatan.

Mwo ?

Samantha tak percaya dengan jawaban Jinki yang semakin lama kian ketara nada kepasrahannya. Ia tak dapat berbuat banyak. Kini Samantha tahu, Lee Jinki adalah seorang yang sangat patuh dan benar-benar menakuti ibunya. Ia paham bagaimana perasaan seorang Jinki, yang mengidam-idamkan beasiswa itu sejak lama, tapi hanya karena sekali sebuah perintah keluar dari mulut ibunya, semua itu kini hilang dari daftar cita-citanya.

Tunggu, kenapa aku harus iba padanya ? Aish, bodoh, ini kan salahnya juga. Siapa suruh dia bersandiwara konyol seperti ini, huh ….” Gerutu Samantha dalam hati.

**tbc**

Bagaimana? Apakah yang akan mereka berdua lakukan terhadap pertunangan itu? Tunggu nextnya, tapi nggak bakal lama kok, soalnya dua part lagi selesai 🙂

Subscribe please

26 responses to “Temperament n’ Cool Boy – Chap. 8

  1. Pingback: Temperament n’ Cool Boy – Chap. 9 | FFindo·

  2. Pingback: Temperament n’ Cool Boy – Chap. 10 [Final Choice] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s