Mirror [Chapter 2]

modern-mirrorss

Tittle: Mirror | Scriptwriter: @nadaanblfrds | Cast: Xi Luhan and Shin Yeseung (OC) | Minor cast: You will find it in the story | Genre: AU, School Life, Angst | Rating : PG-17 | Duration: Short Story | Disclaimer: This story is mine
Summary: “Apakah kau tahu bahwa senyumanmu itu adalah senyuman termanis yang pernah kulihat?”

—————-

Berlin, Jerman. 2 Oktober 2014
Pagi hari di kota Berlin dengan musim yang masih sama seperti kemarin, musim gugur. Aku memutuskan berhenti sejenak dari rutinitasku sebagai mahasiswa S2 fakultas hukum di Universitas Humboldt Berlin. Walaupun sudah lebih dari 1 bulan aku melanjutkan pendidikanku di sini, baru kali ini aku memaksakan diriku untuk berwisata mengelilingi kota. Tentu saja aku melakukan ini semua bukan tanpa alasan.
“Aku ingin sekali mengelilingi Jerman suatu saat nanti. Pergi ke semua tempat wisatanya, berfoto di setiap tempat-tempat itu, lalu menyimpannya di buku koleksi foto yang berbeda dari buku koleksi fotoku yang lainnya.”
Dia. Dia yang membawaku ke sini. Dia yang menghipnotisku dengan kalimat-kalimatnya yang sangat terobsesi dengan negara ini. Dia yang menyuruhku untuk sebisa mungkin menginjakkan kaki di sini. Dia yang berjanji akan pergi ke sini bersamaku. Dan dia yang mengingkari itu semua. Tiba-tiba saja hatiku terasa sesak. Luka di hati ini masih terasa perih walaupun hampir terturup rapat. Rindu, tentu saja. 7 tahun yang lalu aku mengenalnya sebagai seseorang yang selalu berada di sisiku. Mengenalnya sebagai cinta pertamaku. Tapi sekarang aku hanya bisa mengenalnya sebagai sebuah kenangan.
Kuhembuskan napas perlahan membuang rasa sesak di hati yang semakin membesar. Sepertinya tidak bagus untukku jika terus mengingat dia terlalu lama. Kembali kupusatkan pikiranku untuk segera keluar dari apartemen, memulai perjalananku sebagai seorang wisatawan.
Langkah pertamaku tertuju ke arah tempat penjualan tiket Sightseeing Bus Hop On Hop Off. Dengan harga tiket 15 euro, bus akan memandu wisatawan berkeliling ke 16 perhentian tujuan wisata kota Berlin. Setelah mendapatkan tiketku dan mencari tempat duduk di dalam bus sesuai dengan nomor kursi yang aku dapat, bus perlahan mulai melaju menuju tujuan-tujuan wisata yang sudah ditentukan. Aku berkeliling kota Berlin sambil mendengarkan cerita masing-masing tempat perhentian dengan menggunakan earphone yang telah disediakan di dalam bus. Setelah sampai di perhentian 13 kulangkahkan kakiku turun dari bus menuju ke tujuan wisata yang berada di sana, Gerbang Brandenburger.
“Memangnya jika nanti kau sudah sampai Jerman, tempat mana yang pertama kali akan kau kunjungi?”
“Gerbang Brandenburger! Waahh, aku benar-benar ingin ke sana. Aku melihat gambarnya di internet. Pemandangannya keren sekali saat malam hari. Jika nanti aku dan oppa pergi ke sana bersama, oppa harus foto denganku lalu akan langsung aku kirim kepada Nayoung sunbae agar dia cemburu.”
“Aku rasa jika hanya berfoto tidak akan membuatnya cemburu. Bagaimana kalau di setiap tempat wisata itu kita berciuman?”
“Ya, oppa! Kenapa di pikiranmu hanya ada pikiran-pikiran kotor seperti itu! Dasar mesum!”
Terkadang percakapan antara aku dan dia terngiang begitu saja. Seperti ini, membuatku kembali mengingatnya. Kurasa aku harus membutuhkan ruang kosong lagi di dalam hatiku agar tidak terlalu sesak. Biar sajalah luka yang hampir tertutup ini perlahan kembali terbuka. Jika dipaksakan menutup akan lebih lama lagi untuk sembuh. Tiba-tiba saja angin berhembus dari arah timur. Menghampiriku halus seakan ingin memelukku. Aku tersenyum kecil menatap daun-daun kering yang terbang terbawa angin perlahan pergi menjauh. Memori di otakku berputar ke waktu itu, kembali mengingatkanku dengan perkenalan pertama kita. Perkenalan dua insan yang sangat menyukai musim gugur dan angin.
—————–
Seoul, Korea Selatan. 25 September 2007
“Datanglah ke apartemen ayahku. Aku sendirian di sini. Ayah menyuruhku menjaga apartemen. Dia sedang menemani Chanra latihan ballet. Akhir-akhir ini dia begitu manja, selalu meminta ayah untuk menemaninya ke manapun ia pergi. Padahal umurnya sudah 11 tahun.”
Aku baru saja terbangun dari tidur siangku ketika tiba-tiba saja Minseok meneleponku. Memintaku untuk menemaninya karena dia sendirian di apartemen. Oh sungguh kekanak-kanakan sekali bukan? Mengeluh tentang Chanra begitu manja tetapi dia sendiri tidak sadar bahwa dia lebih manja dari Chanra. Kuingatkan saja, umurnya sudah 17 tahun.
“Memang kenapa jika kau sendirian di sana? Aku yakin sekali tidak akan ada penjahat yang mau menculikmu karena porsi makanmu yang bisa dikatakan sedikit akan membuat mereka berpikir ribuan kali untuk membawamu.”
Masih dengan posisi telepon genggam berada di telingaku, aku berjalan ke arah dapur. Menuangkan air mineral dingin ke dalam gelas lalu meminumnya habis tanpa sisa. Pergantian cuaca yang tak menentu membuat suhu di Apgujeong menjadi panas di siang hari seperti ini padahal sekarang sedang musim dingin. Mungkin yang dimaksud dengan musim dingin zaman sekarang ini yaitu suhu udara malam yang mendadak menjadi sangat dingin membuatmu seperti akan mati kedinginan pada saat dini hari.
“Oh ayolah Lu. Membosankan berada di sini sendirian. Tidak ada yang bisa diajak mengobrol. Apa kau ingin aku menjadi gila berbicara sendiri karena tak ada satupun orang yang bisa aku ajak bicara?”
Sembari mendengarkan celotehan Minseok, tanganku menaruh gelas ke atas meja lalu mengisinya kembali dengan air mineral. Suhu yang sangat panas di siang hari ini membuatku dehidrasi.
“Kenapa kau tidak ke rumah ibumu jika tahu ayahmu pergi bersama Chanra?”
“Dan membiarkan aku mati di tangan Minwoo hyung? Tidak, terima kasih.”
Aku tertawa mendengar perkataan Minseok. Kejadian kemarin teringat kembali di otakku ketika Minseok tanpa sengaja merusak sepeda kakaknya yang baru saja dibeli seminggu yang lalu dengan harga yang lumayan mahal. Minwoo hyung benar-benar sangat marah. Dia sampai menjadikan handphone dan laptop Minseok sebagai jaminan hingga sepedanya selesai diperbaiki.
Setelah mendengar bujuk rayu Minseok dan juga karena dia memohon kepadaku dengan mengiming-iming akan mentraktirku triple scoop es krim favoritku jika aku datang ke apartemen ayahnya, akhirnya aku meng-iya-kannya. Sebenarnya aku sudah merencanakan untuk pergi bermain play station dengannya. Tapi ternyata keberuntungan sedang berpihak kepadaku sekarang ini. Triple scoop es krim di siang yang panas begini memang benar-benar sempurna. Apalagi tanpa perlu aku membelinya dengan uang sakuku alias gratis.
Aku bergegas mencuci wajahku lalu mengeringkannya dengan handuk. Kulangkahkan kakiku keluar rumah menuju ke apartemen ayah Minseok. Hanya dalam waktu 5 menit berjalan kaki jarak antara rumahku dengan apartemen ayah Minseok yang berselisih dua blok. Setelah sampai di ¬lobby apartemen aku berjalan ke arah lift yang terletak di pojok ruangan dan kemudian menaikinya. Tempat ayah Minseok berada di lantai 18 jadi tidak memungkinkan untukku pergi ke sana melewati tangga. Sesampainya di depan pintu apartemen ayah Minseok kupencet bel yang berada di samping pintu. Tak lama kemudian Minseok membuka pintunya dan langsung menarikku ke dalam.
“Kau tunggu disini. Jangan ke mana-mana. Aku benar-benar sudah tidak tahan dengan panggilan alam ini. Dan-oh! Jangan lupa tutup pintunya!”
Minseok langsung berlari ke toilet tanpa memberikan kesempatan untukku berbicara. Dasar aneh. Jika sudah tidak tahan kenapa tidak dikeluarkan dari tadi? Tak mau ambil pusing memikirkan keanehan Minseok, kututup pintu lalu menguncinya.
Apartemen ayah Minseok sudah seperti rumah kedua bagiku. Orang tua Minseok bercerai 4 tahun yang lalu. Ibunya menempati rumah mereka yang lama yang berada di Gangnam sedangkan ayahnya membeli apartemen ini. Mereka memiliki 3 anak. Anak pertama yaitu Minwoo hyung, yang kedua Minseok, dan yang ketiga Chanra. Orang tua Minseok tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk tinggal bersama siapa. Itulah alasan mengapa Minseok tidak selalu berada di Apguejong ataupun di Gangnam. Dan semenjak ayah Minseok membeli apartemen ini yang tidak jauh dari rumahku, aku selalu bermain dengan Minseok di sini. Terkadang setelah pulang sekolah ataupun hari libur, jika Minseok sedang bersama ayahnya tentunya.
Sambil menunggu Minseok meyelesaikan panggilan alamnya itu ku nyalakan televisi yang terletak di ruang tengah. Memasang peralatan play station lalu kemudian menyetel televisi ke mode video. Ketika tengah asyik berkutat dengan peralatan play station ini, tiba-tiba saja bel pintu berbunyi. Kuhentikan sementara kegiatan yang baru saja kulakukan itu lalu kemudian berjalan ke arah pintu. Sebelum membukakan pintu untuk seseorang yang sedang berada di seberang sana, terlebih dahulu aku mengeceknya melalui layar interkom. Untuk menjaga diri siapa tahu dia bukan tamu yang diinginkan. Dan ternyata seseorang itu adalah seorang perempuan. Baru saja aku ingin bertanya siapa perempuan itu melalui interkom, dia lebih cepat berbicara mendahuluiku.
”Minseok oppa, apa kau ada di dalam?”
Ah, kurasa dia teman Minseok. Tanpa perlu bertanya terlebih dahulu kepada Minseok langsung saja kubuka pintunya. Dan sekarang aku bisa melihat tamu ini dengan jelas. Mengenalinya sebagai juniorku di paduan suara. Rambutnya yang terakhir kali aku lihat dibiarkan terurai kini ia ikat dengan gaya kuncir kuda. Tambahan, aku bisa melihat matanya dengan jelas sekarang. Tentu saja karena jarakku dan dia hanya 1 meter. Aku baru tahu dia memiliki mata hazel yang berwarna cokelat. Di tangan kanannya membawa sebuah bingkisan yang aku tidak tahu apa itu. Reaksinya ketika melihatku benar-benar terkejut. Matanya sedikit membulat ketika melihatku yang membuka pintu. Kurasa aku harus berbicara kepadanya bahwa aku tidak suka dengan reaksi seperti itu. Seolah-olah aku ini seperti seorang pencuri yang tertangkap basah.
“Lu..Luhan sunbae, apa yang sedang kau lakukan di sini?”
Melihatnya berbicara kepadaku dengan sedikit canggung benar-benar lucu. Dia benar-benar salah tingkah. Aku tidak tahu alasan dibalik kecanggungannya itu terhadapku. Yang jelas dia sangat menggemaskan.
“Minseok menyuruhku untuk menemaninya di sini.”
Kubalas pertanyaannya tanpa sedikitpun lepas menatapnya. Itu membuatnya bertambah salah tingkah.
“O..oh, di mana Minseok oppa?”
Belum sempat aku membalas pertanyaannya lagi, suara khas milik sudah Minseok lebih dulu menyaut dari arah belakangku.
“Oh, Yeseung. Ada apa?”
Minseok berjalan mendekat ke arah kami. Sebelum melihat ke arah Yeseung dia terlebih dahulu menatapku dengan cengirannya yang menyebalkan itu. Menyebalkan. Kubalas dengan tatapan sinis.
“Kau sudah selesai dengan urusan bisnismu itu?”
Cengirannya semakin melebar. Aku tidak tahu apakah Minseok memiliki gangguan mental atau tidak. Setiap kali aku melihatnya di saat situasi seperti kemarin atau barusan dia selalu saja memamerkan cengirannya itu. Dan setiap kali aku membalasnya dengan kata-kata sengit ataupun sinis, cengirannya akan semakin melebar. Terkadang aku takut sendiri jika membayangkan Minseok benar-benar terkena penyakit gangguan mental. Tapi bagaimanapun juga Minseok adalah sahabat karibku. Walaupun dia idiot. Catat!
Tanpa membalas sindiranku, Minseok mengalihkan pandangannya ke arah Yeseung yang sedari tadi hanya diam melihat kami berdua. Sadar Minseok melihatnya, Yeseung lalu menjawab pertanyaan yang tadi sempat teralihkan dengan tingkahku dan Minseok.
“Oh ini…bibi tadi membuat hoddeok dan menyuruhku untuk mengantarkannya kepadamu.”
Yeseung menyerahkan bingkisan yang sedari tadi ia bawa-yang ternyata berisi hoddeok-kepada Minseok. Dan tentu saja Minseok menerimanya dengan wajah sumringah. Segala sesuatu yang gratis, apalagi berbentuk makanan, Minseok akan senang hati menerimanya. Baginya tidak ada yang lebih nikmat dibandingkan dengan sepiring nasi gratis. Itu aneh. Menurutku tidak ada yang lebih nikmat dibandingkan sekotak pizza berukuran besar gratis.
“Mainlah dulu di sini. Kau tahukan ayahku dan Chanra sedang tidak berada di rumah.”
Setelah menerima hoddeok dan berterima kasih, Minseok menyuruh Yeseung untuk mampir. Mendengar dia berbicara seperti itu kepada Yeseung sepertinya mereka sudah lumayan akrab. Yeseung tidak langsung menjawab ajakan Minseok. Dia terlihat sedikit menatapku lalu kembali menatap Minseok. Bukan Minseok jika ia langsung peka dengan bahasa mata yang ditunjukkan Yeseung. Butuh waktu yang lama bagi Minseok menyadari sesuatu hal seperti ini. Dan inilah gunanya aku menjadi sahabatnya. Sedikit berdeham berpura-pura seakan tenggorokanku gatal. Gotcha! Dia baru menyadarinya.
“Ah, bukankah kalian berdua sudah saling kenal? Tadi saja aku mendengar kalian berbicara satu sama lain.”
Minseok menatapku lalu kembali menatap Yeseung. Kurasa jawaban itu bukan yang diinginkan olehnya. Dilihat dari caranya mengusap tengkuknya, dia masih saja terlihat ragu.
“Tentu saja aku sudah mengenal Luhan sunbae-nim. Hanya saja…”
“Ah, kau tidak perlu takut. Luhan sudah jinak, dia tidak akan menggi-Auch!”
Minseok tidak boleh menyalahkanku atas pukulan yang baru saja aku berikan kepadanya. Itu hanya gerak refleks. Dia harus menyalahkan dirinya sendiri.
“Ya! Memang kau pikir aku ini apa, huh?!”
“Tentu saja rusa kecil! Xiaolu! Little de-Auch! Ya! Berhentilah memukulku!”
“Diam kau, marmut!”
Mengenal Minseok selama 12 tahun tidak akan membuatku menoleransi perkataannya yang menyebalkan seperti barusan itu. Sifat kami terkadang sangat kekanak-kanakan. Tidak bisa dipungkiri lagi. Kami bisa mempeributkan sesuatu hal-hal kecil. Misalnya saja ketika Minseok meminta tanpa ijin bekal siangku atau ketika aku menghilangkan penanya. Tapi coba saja seseorang menyakiti Minseok, aku tak segan-segan lagi untuk ‘membunuh’-nya.
Aku kembali menatap Yeseung. Dia tertawa kecil melihat tingkah kekanak-kanakan yang baru saja aku dan Minseok perlihatkan. Semakin lama tawanya perlahan menghilang dan digantikan dengan sebuah senyuman. Demi kaos kaki Yixing! Tiba-tiba saja jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya. Ini pertama kalinya aku melihat Yeseung tersenyum. Bukannya aku ingin melebih-lebihkan.
Apakah kau tahu bahwa senyumanmu itu adalah senyuman termanis yang pernah kulihat?
Bahkan ketika Lee Nayoung yang menurut murid laki-laki di sekolah adalah murid tercantik di sana menyapaku dan memberikan senyuman yang menurutku senyuman terbaiknya, tak pernah jantungku ini tidak terkontrol seperti saat aku melihat Yeseung tersenyum. Lesung pipi yang terbentuk di pipinya ketika tersenyum membuatnya bertambah manis. Kurasa hatiku ini mulai menyukai seseorang. Pikiranku kembali normal ketika mendengar Yeseung memutuskan untuk mampir sebentar. Kualihkan pandanganku dari wajahnya. Sepertinya aku tidak boleh terus-terusan melihatnya tersenyum jika ingin jantungku selalu normal. Jadi, ternyata seperti ini ya rasanya jatuh cinta.
——————
Tidak ada yang lebih membahagiakan ketika seseorang yang mulai kau sukai mempunyai kesamaan seperti dirimu. Itulah yang terjadi padaku sekarang. Ketika hatiku memutuskan menyukai seorang Shin Yeseung dan seperti mendapatkan jackpot ketika mengetahui bahwa kami memiliki persamaan dalam menyukai atau tidak menyukai sesuatu.
Kami lebih menyukai ddeokbokki dibandingkan hoddeok.
Kami lebih suka makanan pedas daripada manis.
Kami menyukai musik bergenre klasik.
Kami tidak menyukai buah alpukat.
Dan masih banyak hal lagi persamaan dalam menyukai atau tidak menyukai sesuatu antara aku dan dia.
Aku mengetahuinya ketika kami mengobrol panjang tetang diriku ataupun dirinya saat Yeseung mampir sejenak di apartemen ayah Minseok. Mungkin karena dia baru saja pindah dari China dan aku yang memiliki darah Chinesse membuat kami bisa cepat akrab. Tapi satu hal yang membuatku benar-benar tidak berhenti tersenyum ketika mengingatnya.
Kami sama-sama menyukai musim gugur, dan angin.
——————–
Seoul, Korea Selatan. 2 Oktober 2007
“Luhan oppa!”
Suara Yeseung terdengar di telinga membuatku menoleh ke arah belakang tepat di mana dia tengah berlari kecil ke arah tempatku berdiri sembari tersenyum kepadaku. Kubalikkan badanku menghadapnya, membalas senyumannya, lalu menyapanya.
“Kau tidak lupa mengecek jadwal hari ini?”
Aku memulai obrolan ketikaYeseung sudah berhasil mendekatkan langkah kakinya ke arahku dan kami mulai berjalan menuju sekolah bersama. Sekarang sudah menjadi kebiasaan semenjak aku dan dia mulai akrab karena situasi seminggu yang lalu di apartemen ayah Minseok untuk pergi ke sekolah bersama. Minesok juga ikut bergabung jika dia sedang berada di Apgujeong. Tapi untuk hari ini dia sedang berada di Gangnam, di rumah ibunya. Jadi sekarang hanya ada aku dan Yeseung.
Yeseung menganggukkan kepalanya berkata bahwa ia tidak lagi lupa mengecek jadwal pelajaran. Sebenarnya aku juga tidak ingin jika dia terkena hukuman lagi oleh Cho songsaenim karena lupa membawa buka materi dan buku tugas pelajaran matematika. Seperti kemarin ketika aku dengan sengaja melintasi ruang kelasnya dan melihatnya berdiri di pojok depan ruangan dengan tangan terangkat ke atas. Tidak salah kan jika aku mengkhawatirkan orang yang aku sukai? Dan untuk selanjutnya obrolan mengalir begitu saja. Yeseung lebih mendominasi obrolan kami. Semenjak mengenalnya aku baru tahu jika ternyata dia lebih cerewet dibandingkan Minseok. Tapi aku tetap menyukainya.
Kami sampai di sekolah 5 menit sebelum bel berbunyi. Berpisah di lantai pertama karena kelas Yeseung berada di sana sedangkan kelasku berada di lantai tiga. Setelah Yeseung masuk ke dalam kelasnya kulangkahkan kakiku menuju ruang kelasku sendiri. Sesekali aku menyapa beberapa murid yang aku kenal. Setelah sampai di kelas aku mengedarkan pandanganku mencari Minseok. Ternyata dia belum datang. Biasanya jika dia berangkat dari rumah ibunya dia lebih dulu sampai dari aku. Tiba-tiba saja Baekhyun yang satu kelas denganku memanggilku dari arah bangkunya. Kulangkahkan kakiku mendekatinya.
“ Ya Xi Luhan, apa Shin Yeseung sekarang sudah menjadi kekasihmu? Aku tadi..ah tidak tidak, bahkan sudah beberapa kali melihatmu dan dia berangkat sekolah bersama.”
Baekhyun bertanya dengan antusias seakan-akan dia adalah seorang wartawan yang akan menjadikan berita tentangku sebagai topik utama jika aku membenarkan perkataannya. Kutatap Baekhyun datar. Berpura-pura menjadikan perkataan Baekhyun tidaklah penting. Padahal bagiku itu sangat penting. Tentu saja karena di dalam kalimatnya terdapat nama seseorang yang sedang aku sukai.
“Apa untungnya aku memberitahumu tentang itu?”
Tanpa menoleh lagi ke arah Baekhyun kuberjalan menuju bangku tempatku yang berada di pojok kanan dekat jendela baris ketiga dari depan.
“Ya! Ya! Xi Luhan! Bagaimana bisa kau..haish, benar-benar…!”
Aku sedikit tersenyum mendengarkan protes yang ditujukan Baekhyun kepadaku. Baru saja aku duduk di bangku bel sekolah berbunyi. 2 menit kemudian Park songsaenim datang dan memulai pelajaran fisika untuk pelajaran pertama ini.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.35 yang berarti bel sudah berbunyi 35 menit yang lalu ketika Minseok baru saja datang dan meminta ijin Park songsaenim untuk mengikuti pelajaran beliau. Tentu saja Park songsaenim mengijinkannya lalu menyuruhnya untuk cepat duduk di bangkunya. Tetapi sepertinya Minseok tidak mungkin lepas dari hukuman Kim songsaenim, sang ‘algojo sekolah’. Aku menolehkan kepalaku ke arah belakang tempat Minseok duduk di bangkunya.
“Ada apa?”
Tak langsung menjawab pertanyaanku, Minseok lebih dulu mengeluarkan buku fisika dari dalam tasnya. Lalu kemudian dia menaruh tasnya di samping meja dan membuka buku sesuai dengan materi yang sedang diterangkan Park songsaenim. Setelah selesai, Minseok menatapku lalu menghela napas.
“Minwoo hyung..dia benar-benar membunuhku.”
Minseok berbicara lalu mengerucutkan bibirnya. Aku tertawa kecil mendengar nama Minwoo hyung disebutkan Minseok. Jika sudah seperti itu tandanya Minseok benar-benar sedang berurusan lagi dengan kakaknya tersebut.
——————–
Alunan denting piano terdengar di sudut-sudut ruang musik. Seorang murid perempuan tengah serius memainkan lagu ‘Alla Turca’, salah satu lagu yang dipopulerkan Mozart. Dan seorang lagi murid laki-laki dengan setia menunggu perempuan itu menyelesaikan lagunya. Murid perempuan itu adalah Shin Yeseung, dan murid laki-laki itu tentu saja aku sendiri. Aku memerhatikannya tanpa sedikitpun merasa bosan. Bukan memerhatikan jemari tangannya yang sedang menekan tuts-tuts piano dengan lincah melainkan wajahnya yang tampak serius menyelesaikan satu buah lagu. Dia bahkan seperti tidak peduli jika aku sedang memandanginya. Aku dan Yeseung sedang menunggu Minseok menyelesaikan hukuman yang diberikan Kim songsaenim. Sudah 1 jam kami menunggu di ruang musik. Waktu untuk menunggu itu Yeseung gunakan berlatih piano untuk lomba yang akan ia ikuti beberapa minggu kedepan. Aku baru tahu jika dia sangat mahir bermain piano. Setelah lagu selesai Yeseung mainkan aku berpura-pura tepuk tangan seolah menikmati permainannya, padahal sedari tadi yang aku lakukan hanya memandangi wajahnya.
“Xie xie.”
Yeseung lalu berdiri dan membungkukkan badan kepadaku sambil berterima kasih seolah dia adalah seorang pianis yang baru selesai dengan konsernya dan aku adalah penontonnya. Tersenyum kepadaku lalu kemudian kami tertawa bersama. Menertawakan tingkah kami sendiri.
“Sejak kapan kau bermain piano? Kau bermain dengan sangat lancar tadi.”
Aku bertanya kepadanya ketika ia sudah mengambil tempat duduk di sebelahku. Tidak langsung menjawab, Yeseung tampak berpikir dahulu.
“Mmm…8 tahun? 9 tahun?…sepertinya dari umurku 9 tahun.”
Aku hanya mengangguk-anggukan kepalaku. Tiba-tiba saja aku teringat akan sesuatu. Kuambil tasku yang sedari tadi aku taruh di samping tempatku duduk. Membukanya lalu mengeluarkan dua buah kertas dari dalam tas. Yeseung hanya memerhatikanku dengan bingung. Tidak mengerti mengapa aku melambai-lambaikan kertas yang baru saja aku ambil dari dalam tas ke arahnya.
“Kemarin ibuku memberiku dua buah tiket masuk ke Namsan Tower..”
Yeseung masih menatapku bingung menunggu aku melanjutkan kalimatku. Aku menjadi gugup ketika Yeseung menatapku. Oh, seharusnya dia tidak perlu menatapku terlalu intens jika tidak ingin melihat aku mati saking gugupnya.
“iya, lalu?”
“…i..itu…mm..aduh bagaimana menagatakannya ya?”
Aku bertanya kepada diriku sendiri. Merasa bodoh karena tiba-tiba saja aku seperti kehabisan kata-kata. Sebenarnya aku sudah merencanakan ini sejak kemarin ketika ibu memberiku tiket masuk ini. Hanya saja aku perlu keberanian mengatakannya kepada Yeseung. Kutarik napas perlahan lalu mengeluarkannya secara perlahan juga. Menoleh ke arahnya lalu menatap tepat di manik matanya.
“Ayo kita berkencan!”
—————————————————To be Continued—————————————————-

Note: happy can finish this chapter as soon as I can. Kritik dan saran ditunggu;)))

Advertisements

15 responses to “Mirror [Chapter 2]

  1. Demi kaos kaki Yixing! Wkwkwk suka banget thor sama ff ini, Luhan tih sayang banget sama Yeseung pengen deh jadi Yeseung wkwkwk bener-bener deh si bikin penasaran pas Luhan udah d Berlin tuh si Yeseung tuh di mana .-. Di tunggu chap selanjutnya thor^^

  2. Yeesung emang kemana?? :/
    Kok kesannya kaya dia udah meninggal 😦
    Lanjut chingu ^^
    Banyakin scene mereka ber2 yah 😉
    Fighting 🙂

  3. Ujungnya sad ending ÿa̲̅ªª (⌣́_⌣̀) kasian luhan
    Tp tetep…. Kaos kaki yixing (っˆ ヮˆ)っ ┣┫ɑɑ.. ┣┫ɑɑ.. ┣┫ɑɑ.. ┣┫ɑɑ..
    Di tunggu next ÿa̲̅ªª chingu

  4. salam kenal thor aku reader baru. Maaf sebelumnya baru ngsh comment di chap 2 hehe. FF-nya bagus thor, apalagi pk alurnya yg maju-mundur. Kalau bisa di chapter selanjutnya bisa dipanjangin lg yaa.. keep writing!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s