[Chapter 5] Love in Love

Title: [Chapter 5] Love in Love

Author: hyeri

Cast:

  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Lee Taemin as Kim Taemin (SHINee)
  • Choi Sin Ya (OC/You)
  • Krystal f(x) as Jung Soojung / Krystal

Genre: Romance, etc. (Spesifik: Genre yang cocok untuk remaja ._.)

Rating: T (PG15)

Length: Chapter 5/?

Disclaimer: Kesamaan nama tokoh atau apapun yang menyakut fanfic ini bukanlah suatu kesengajaan. Cast bias milik Tuhan, kecuali OC. Plot/alur/cerita hanya milikku seorang. Ini semua adalah rangkaian imajinasi yang ku tuangkan melalui kata per kata dalam tulisan.  DON’T BE PLAGIATOR!

A/N: Cam! Cam! Chapter 5 sudah dirilis akhirnyaaa. ;_; Maaf lama, tapi mudahan next Chapter bisa minggu depan, Amin! Ok, happy reading dan semoga fanfic ini disukai dan dicintai. So, enjoy this fanfiction and sorry for any typo there. Once again, enjoy!

Prolog | Chapter 1  | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4

***

Apakah aku sudah keterlaluan?

Apakah aku melakukan hal yang menyakitkan hatinya?

Apakah aku benar-benar menyukainya?

Pertanyaan-pertanyaan itu sontak muncul di kepala Kai ketika merasakan Sin Ya melewati tubuhnya. Tentu saja, terlalu menyakitkan bagi seorang gadis bernama Sin Ya, ketika melihat Kai bersama dengan gadis lain. Ditambah lagi Kai memberi kesan bahwa dirinya menyukai Krystal. Oh Tuhan, dari lubuk hati Kai yang terdalam, dirinya tidak bermaksud menyakiti sekecil apapun hati Sin Ya.

Apakah Kai tidak peka?

Benar, mungkin dia telah sepenuhnya menjadi makhluk yang dingin sehingga melupakan hati gadis yang ia cintai itu. Tunggu, Kai bahkan tidak mengetahui apakah Sin Ya menyukainya atau malah sebaliknya. Semua itu masih menjadi teka-teki yang belum terpecahkan di kepala Kai. Dan itulah yang membuatnya bingung sekaligus rumit. Apakah tidak ada hal yang lebih rumit dari perasaan manusia? Mereka bahkan tidak bisa ditebak.

Krystal yang sedari tadi terperangkap dalam keadaan rumit Kai, akhirnya berangsur-angsur melepaskan tangannya dari Kai. Genggaman Kai tidak sekuat sebelumnya, lebih tepatnya setelah Sin Ya keluar, tangan lelaki di sampingnya itu lemas seketika. Ada apa ini? Krystal mencoba menebak-nebak apa yang ada di benak Kai saat ini. Kai terlihat terbeku di tempat, seakan baru saja melewati masa-masa sulitnya. Bagaimana bisa seorang lelaki dingin bernama asli Kim Jong In hatinya merasa sakit? Dunia sudah terbalik.

“Kai-ssi?” ucap Krystal pelan sekedar menyadarkan lamunan Kai.

Kai mengerjapkan matanya berulang kali dan pikirannya kini kembali fokus. Ia mengambil nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.

Masih dengan tatapan lurusnya, ia berkata kepada gadis di sampingnya ini, “Ayo masuk.”

***

Sekilas ingatan Kai mengenai Sin Ya beberapa waktu lalu muncul. Bagaimana tatapan mata mereka bertemu. Bagaimana cara Sin Ya menatap mata lelaki tampan itu. Dan bagaimana respon Kai terhadap Sin Ya dengan menggenggam tangan Krystal. Apakah dirinya sangat kejam? Di satu sisi, lelaki ini merasa bersalah dan bodoh pada waktu yang bersamaan. Namun, di satu sisi lainnya, dirinya sengaja melakukan hal itu guna mendapatkan tanggapan dari Sin Ya yang mungkin saja diharapkan Kai. Respon dari seorang wanita yang hatinya hancur ketika melihat lelakinya bersama dengan wanita lain—benar, itulah respon yang diinginkan Kai.

Dengan kata lain, Sin Ya telah mengabulkan keinginan Kai. Sungguh gadis yang polos dan jatuh dalam permainan Kai.

Menyadari hal tersebut, seulas senyum terukir di ujung bibir kiri lelaki bernama Kim Jong In ini. Ia telah menyadari …  bahwa, perasaan Sin Ya sama seperti bagaimana perasaan dirinya kepada gadis itu.

“Apa yang ingin kau cari?” tanya Kai sambil melihat sekelilingnya.

Krystal mengigit jari telunjuk kirinya yang menandakan bahwa gadis ini tengah berpikir.

“Mm, aku akan berkeliling. Aku sendiri bahkan lupa apa yang harus dibeli,”

Tentu saja gadis lugu ini lupa. Bagaimana tidak, pikirannya teralihkan dengan apa yang dilakukan Kai secara spontan sebelumnya. Bahkan sengatan listrik itu masih terasa di sekujur tubuh gadis bernama asli Soo Jung ini.

Sementara Krystal menjelajahi segala keperluan aksesoris, Kai berdiri dengan diamnya di ujung sudut dalam toko. Kedua tangannya dengan nyamannya berada di dalam saku celana sekolahnya. Matanya terlihat tengah menerawang suatu hal yang membuat pikirannya berkecambuk dan bercabang di saat waktu yang sama. Apalagi kalau bukan mengenai gadis cantik dan menarik di matanya, Choi Sin Ya.

Krystal mencoba menerka-nerka apa yang tengah lelaki jakung itu pikirkan. Dan kemudian gadis ini merasakan hal yang pantas dikatakan menyakitkan. Seperti ada tombak yang menusuk ke dalam hatinya terus-menerus. Tenggorokannya terasa tercekat, kakinya lemas seketika ketika tebakannya jika lelaki yang tengah berdiri di ujung sudut ruangan itu menyukai gadis lain … bukan dirinya. Ya, tebakan Krystal mungkin benar. Lelaki berkulit gelap dan penuh pesona di matanya yang baru saja dikenalnya ini menyukai Sin Ya—gadis lain. Gadis ini hanya bisa tersenyum tipis ketika istilah ‘one-side love’ muncul di kehidupannya.

“Kau sudah memutuskan untuk membeli sesuatu?”

Suara berat Kai membuyarkan lamunan Krystal. Seketika itu dirinya menggapai barang apapun yang ada di dekatnya, seolah dirinya tengah menimbang-nimbang untuk membeli suatu barang.

“B-bb-belum,” jawab Krystal terbata-bata.

Kai mengangguk kecil dan melihat ke sekeliling pernak-pernik yang sebenarnya tidak menarik perhatiannya, karena tentu saja dirinya adalah seorang lelaki yang tidak begitu menyukai hal-hal yang menyangkut perempuan.

“Kau menyukai Sin Ya, ‘kan?”

DOR! Skak mat untuk Kim Jong In. Kali ini ia dipertemukan dengan sebuah pertanyaan yang membuat perasaannya semakin rumit.

Apa yang baru saja dia dengar? Menyukai Sin Ya? Benar.

Kai langsung menoleh dan dari matanya saja terlihat betapa gugupnya dirinya sekarang, “Ye (Apa)?”

“Aku bilang, kau menyukai Sin Ya ‘kan? Gadis cantik berambut coklat panjang yang baru saja keluar. Kau menyukainya, kan?” lanjut Krystal dengan nada menyelidik.

Kai terdiam sejenak. Berulang kali dirinya meneguk saliva-nya sendiri. Hey, mengapa tiba-tiba kerongkongannya terasa kering!? Sorotan mata Kai terlihat tidak fokus pada satu hal, dan hal itu cukup mudah menandakan bahwa dirinya tengah gugup untuk menjawab sebuah pertanyaan simple yang tinggal dijawab dengan ‘Ya’ atau ‘Tidak.’ Sesulit itukah, Tuan Kim?

Krystal sedikit mengeluarkan tawanya guna mencairkan suasana, “Yayaya, coba lihat. Kau terdiam? Baiklah, diammu itu berarti jawaban ‘iya’ yang bisa ku artikan.”

Kai menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan mengambil nafas panjang. Akhirnya dirinya tidak perlu menjawab pertanyaan sulit ini. Come on, apakah ini lebih sulit daripada tes wawancara masuk perguruan?

“Berikan dia sesuatu. Sepertinya akibat ulah ‘dadakan’-mu tadi, dia tidak sempat beli yang ia butuhkan. Kau tidak merasa bersalah?” kata Krystal sambil melirik ke arah Kai.

Kai masih tetap diam dan rasanya ia tidak mempunyai niat untuk menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Krystal mengenai Sin Ya. Namun tidak dipungkiri, Kai mencoba mencari kesempatan untuk sekedar mengedarkan pandangannya melihat-lihat pernak-pernik aksesoris yang mungkin akan ia berikan kepada Sin Ya.

“Oh! Sagwa (Apel)!” ucap Krystal tiba-tiba dengan sedikit nada tinggi. Ia merasakan seperti pernah melihat kalung ini sebelumnya.

Kai menoleh ke sumber suara dan mendapati Krystal tengah terpana oleh sebuah kalung mengkilau dengan liontin buah apel terhias di sana.

Kalung itu …. batin Kai dalam hatinya. Sekilas pikirannya teralih di mana ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Sin Ya tepat sebelum meninggalkan toko ini, seperti sangat menyukai kalung ini.

Haruskah aku memberinya ini? Tapi ….

Kai cepat-cepat menjawab, “Kau ingin membelinya?”

Krystal melihat secara rinci setiap detail kalung cantik tersebut dan memikirkan kembali keinginannya.

“Hm, apakah menurutmu kalung ini cocok untukku?” tanya Krystal sambil mengalungkan benda tersebut di leher jenjangnya.

Kai terdiam sejenak dan berkata dengan sedikit kata kalah, “Belilah. Kalung ini sangat cocok untukmu.”

Wajah Krystal seketika itu bak seperti bunga yang baru merekah untuk pertama kalinya. Dirinya sangat senang saat mendapati kalung indah tersebut jatuh di tangannya. Benar, jatuh di tangannya. Seseorang tidak akan pernah tahu bagaimana isi hati orang lain, ketika orang itu menunjukkan ekspresi wajah yang bertolak belakang dengan isi hatinya.

Seperti itulah yang terjadi sekarang. Kai mungkin tidak mengetahui apa yang ada di benak Krystal. Jika diteliti lagi, sorot mata Krystal seperti menyampaikan rasa maaf yang tulus ke arah lelaki bernama Kim Jong In ini.

Mianhae …’ batin Krystal.

Maaf, karena akulah yang mengenakan kalung ini. Bukan dirinya.

***

Taemin, seorang namja yang terkenal ‘cantik’ di kalangan temannya ini kini akhirnya—setelah sekian lama—dirinya terlihat fokus dalam pelajaran. Matanya sama sekali tidak lepas dari setiap kata dan kalimat yang tertera di buku paket Biologi ini. Keningnya terlihat berkerut dan menampakkan alisnya yang terkesan saling bertarung satu sama lain. Berkali-kali kepalanya menggeleng kecil dan mulutnya berdecak kesal. Apa dia baru saja menjelma menjadi siswa cerdas?

“Argh! Berulangkali aku membacanya, semakin bertambah saja panas di kepalaku ini! Sudahlah, aku muak.” kesal Taemin seraya membanting buku paket Biologi miliknya.

Baekhyun yang sedari tadi berkutat dengan asyiknya pada layar ponsel miliknya, kini tak tahan dengan tingkah Taemin yang tidak pernah sekalipun ‘mencoba mengerti’ pelajaran sekolah.

“Yak! Cobalah sedikit saja untuk mengerti tentang pelajaran, dasar.” ucap Baekhyun menoleh ke arah Taemin.

Diikuti pula oleh cacian dari sohibnya, Minho.

“Yak, Taemin. Kau mau mencetak rekor nilai rendah di rapot lagi?”

Taemin berdecak kesal dan mengacak rambutnya. Sepertinya dirinya tengah frustasi sekarang. Pelajaran Biologi memang membuatnya menyerah begitu saja, walaupun notebene dirinya berada di kelas Pengetahuan Alam, namun tetap saja pelajaran inilah yang tidak segan-segan membuat nilai di rapotnya terlihat rendah. Dan dengan mudahnya hal ini menjadi landasan orangtuanya menjitak kepala Taemin di setiap saat pembagian rapot. Sungguh, sangat berbeda dengan Kai, saudara kembarnya sendiri.

“Ku dengar, Key berulah lagi.”

Pikiran Taemin bercabang ketika seseorang bernama ‘Key’ itu disebutkan.

Bagaimana kabarnya?

Di mana dia sekarang?

Apakah dia masih seperti dulu? Atau telah berubah?

Kenapa dia berulah lagi?

Berbagai pertanyaan secara langsung muncul di kepala Taemin. Rasa penasaran yang tak berujung masih saja lekat di pikiran namja imut ini.

“Kau tahu dia di mana sekarang?” sontak Taemin bertanya.

“Entahlah … aku hanya mendengar, bahwa kelompok dance-nya kini berani tampil di klub malam,” jawab Minho dengan tenang. Namun tidak setenang Taemin.

Hey! Apakah dia sudah gila? Masuk ke klub malam? Umurnya saja belum cukup! Aku bahkan tidak bisa!” gertak Baekhyun tak terima.

Taemin terdiam sejenak. Suasana hatinya kini susah untuk dijelaskan. Rasanya ingin sekai ia berlari dan dengan cepat bertemu lelaki bernama Key itu. Dirinya sudah tidak tahan lagi. Ada rasa rindu teramat dalam ditujukan untuk Key. Benar, sudah lama dirinya tidak bertemu dengannya. Ia ingin sekali mengucapkan ‘terima kasih’ secara langsung padanya.

“Apakah kalian benar-benar tidak tahu di mana dia sekarang?” Kembali Taemin memastikan.

“Hm, coba saja kau ke daerah klub malam. Ku dengar, tempat mereka biasa berkumpul di sekitar situ. Hey, kau ingin menemuinya?” tanya Baekhyun.

Semua mata di dalam ruangan itu langsung tertuju ke arah Taemin, menandakan pertanyaan ‘Kenapa?’

Minho yang sedari tadi berkutat pada komputernya, akhirnya membuka mulutnya, “Kau bercanda?”

“Yak, Kim Taemin yang cantik. Terakhir kali kita bertemu dengannya, apa kau tidak ingat apa yang ia katakan padamu?” sambung Baekhyun, melanjutkan omongan Minho.

Kedua alis Taemin mengkerut dan memicingkan matanya ke arah dua sahabatnya ini.

“Dia tidak ingin melihat wajahmu lagi. Kau ingat?” lanjut Baekhyun seraya bangkit dari duduknya karena tak tahan.

“Dia memang tidak ingin melihatku lagi. Tapi akulah yang ingin menemuinya. Apakah aku salah?” ucap Taemin dengan penuh keyakinan, seakan tidak menghiraukan perkataan Baekhyun dan Minho.

“Kau ini… polos atau bodoh, Taemin? Mengapa aku berteman dengan dirimu?” balas Minho sambil menggelengkan kepalanya.

“Wae (Kenapa)?!” Taemin segera merapikan bukunya, kemudian bergegas pergi meninggalkan para sahabatnya yang mulai kehabisan akal untuk menjelaskan apa yang terjadi.

Kini Baekhyun-lah yang mengambil alih pembicaraan, “Sudahlah, biarkan dia pergi. Dasar anak bodoh.”

Tanpa mengucapkan salam, Taemin dengan sekejap mata keluar dari kamar Minho hingga meninggalkan dentuman keras pintu yang tertutup.

Minho dan Baekhyun hanya bisa menggelengkan kepala mereka, tak tahan dengan keras kepala Taemin. Keduanya hanya ingin menjelaskan kepada Taemin bahwa Key—sahabat SMP mereka dulu—telah berubah. Berubah menjadi anak brandalan yang tak tahu aturan. Sebagai sahabat yang mengerti betul tipe Taemin, mereka sama sekali tidak menginginkan Taemin jatuh ke dalam perangkap Key dan membuat anak polos ini menjadi brandalan sama halnya dengan Key.

Yang tertinggal kini hanyalah mereka berdua yang saling sibuk dengan pikirannya masing-masing. Minho kini beralih ke arah komputernya lagi dan melanjutkan game yang sempat terhenti karena Taemin.

“Ada satu hal lagi yang dirinya tidak ketahui tentang manusia keji itu,” ucap Minho di sela kesibukannya bermain game.

“Yap, dia tidak tahu kalau Key adalah pemakai narkoba. Semoga Taemin bukan salah satu korbannya nanti.”

***

Sudah hampir 1 jam gadis cantik ini duduk dengan pikiran kosong di depan teras rumah keluarga Kim. Seragam sekolahnya masih lengkap melekat di tubuhnya. Entah apalagi yang harus ia pikirkan. Ketika dirinya ingin memikirkan suatu hal lain, wajah Kai—perlu ditekankan, lelaki ini selalu muncul di kepala Sin Ya—segera muncul entah dari mana. Mungkin di dalam otak Sin Ya, terdapat laci yang berisi hal-hal mengenai Kim Jong In ini layaknya di acara kartun Spongebob.

Sambil menompang dagunya, gadis ini terus-menerus menghela nafasnya berat. Ujung bibirnya menurun dan tentu saja matanya terlihat sayu. Kebohongan besar jika dirinya tidak punya masalah kali ini. Namun seketika itu matanya terbuka lebar dan jantungnya berdetak keras hingga terasa memenuhi rongga dadanya. Apakah dia masih hidup?

Alasannya hanya satu. Sepasang sepatu yang ia sangat-sangat kenali, muncul di hadapan matanya. Tak sanggup untuk dirinya sekedar melihat wajah si pemilik sepasang sepatu ini.

Mengapa ia tidak langsung masuk sajaaaa!’ batin Sin Ya sambil meruntuki dirinya sendiri.

Tiba-tiba ‘orang yang ia kenal’ ini mengulurkan tangannya dan memberi tanda untuk menggapai tangannya. Sin Ya dapat melihat tangan orang ini bergetar. Sin Ya masih diam dan enggan menanggapi uluran tangan orang itu. Matanya hanya bisa sebatas melihat ubin-ubin lantai rumahnya.

“Kau ingin masuk atau di luar seperti orang gila?” Manly-voice orang ini mampu membuat Sin Ya berdiri tanpa bantuan uluran tangan orang itu. Terkesan ‘membuang pertolongan’.

Dengan segenap hati dan jiwa yang terkumpul bersamanya keberanian, Sin Ya menatap mata lelaki di hadapannya kini, namun tidak berlangsung lama karena takut akan membuat dirinya meleleh di tempat.

“Aku akan masuk sendiri.” sergah Sin Ya dengan membuang muka.

Kai masih tetap diam dan memperhatikan Sin Ya. Sungguh, tidak ada hal yang lebih baik daripada sekarang.

“Kenapa kau masih di sini?” tanya Kai seraya melipat lengannya di depan dada.

Kena kau!

Sin Ya gelagapan dengan apa yang harus ia lakukan sekarang demi mempertahankan harga dirinya. Sudah tak terbendung lagi dirinya menahan malu.

“Hm? Nona Choi?” cibir Kai.

Sin Ya segera berbalik dan masuk ke dalam rumah. Di belakangnya Kai tidak tahan untuk tertawa.

“Kau memang gadis lucu, Choi Sin Ya.”

***

Pikiran Sin Ya tengah kacau sekarang. Ia langsung melemparkan tasnya ke sembarang tempat sambil melepas rompi seragam sekolahnya. Nafasnya terengah-engah. Sulit untuk menjelaskan perasaannya sekarang. Bagaimana tidak, dia harusnya marah karena perlakuan Kai dengan Krystal. Namun, dirinya tidak bisa. Semakin ia membenci Jong In, semakin parah juga perasaan sukanya terhadap lelaki itu.

“Ada apa denganku sebenarnya! Yak, Sin Ya, michyeoss-eo (Kau gila)?” kata gadis yang terlihat kacau ini.

Sin Ya memejamkan kedua matanya sambil secara lepas membiarkan tubuhnya jatuh ke kasur empuk miliknya. Dengan masih terpejam, ia mengosongkan pikirannya seolah tengah menghipnotis dirinya sendiri. Hal ini sering ia lakukan jika, muatan masalah di kepalanya sudah melebihi kapasitas seharusnya.

“Tidak… tidak…. Andwae (Jangan)! Kai! Enyahlah kau dari pikiranku!” oceh Sin Ya di tengah ritualnya.

Sudah diduga, satu masalah yang muncul adalah wajah Kai selalu muncul di saat-saat seperti ini. Apakah hanya Kai yang ada di kepala gadis ini, huh? Who knows?

Hari sudah malam. Matahari pun kini berada ke tempatnya untuk tidur. Begitu pula Sin Ya, yang tertidur sejak ‘ritual’-nya berlangsung. Sepertinya, dirinya terlalu lelah untuk mengosongkan pikirannya.

“Hoaaam,” Sin Ya pun terbangun dari tidur lelapnya sambil menutup mulutnya yang menguap panjang.

Pikirannya kini jauh lebih tenang dan jernih dari sebelumnya. Sin Ya perlahan berdiri dan melihat pantulan tubuhnya di kaca. Dahinya mengerut dan matanya kini telah terbangun 100% tatkala ia baru menyadari dirinya masih memakai pakaian seragam lengkap dan rambutnya kacak-kacakan.

“JAM BERAPA SEKARANG?!” teriak Sin Ya tiba-tiba sambil berlari mengambil ponselnya.

“JAM DELAPAN MALAM?! AKU BELUM MENGERJAKAN TUGAS KIMIA! MATILAH KAU SIN YAAA!”

Tanpa basa-basi lagi, Sin Ya sontak meraih tasnya yang sedari tadi tergeletak di sudut ruangan dan mengambil buku Kimianya. Tapi tunggu dulu…

“DI MANA BUKU CATATANKU!” Kembali paniknya muncul. Namun akhirnya ia teringat akan sesuatu.

“Benar! Taemin! Ia meminjam bukuku! TAE-MIN-AH!” Sin Ya bergegas keluar kamar dan mengedor pintu kamar Taemin yang tepat di seberang kamarnya.

Klek!

Pintu kamar pun terbuka dengan perlahan dan menampakkan manusia yang membukanya. Dengan wajah tenang dan dingin—as always—Kai menatap lurus ke arah Sin Ya yang berpenampilan kacau di hadapannya kini.

Sontak Sin Ya tertegun dan diam terbeku. Benar, satu hal yang ia lupakan bahwa kamar Taemin adalah kamar Kai juga. Seorang lelaki yang dengan selalu muncul di pikirannya.

Tenangkan dirimu Sin Ya. Mari keluarkan dirimu yang seperti biasanya.’ batin Sin Ya.

“A-aku ingin bertemu Taemin.” ucap Sin Ya singkat.

Kai terdiam sejenak dan memiringkan kepalanya sambil melihat Sin Ya.

“Kenapa… kau terlihat seperti orang gila?” tanya Kai dengan lembut. Ok, sebentar. LEMBUT? Sejak kapan makhluk ini bersikap lembut di hadapan Sin Ya?! Tapi tetap saja, mau selembut apapun dirinya, pertanyaannya tetap menggunakan kata-kata yang membuat sakit hati.

Sin Ya tidak menggubris pertanyaannya, “Taemin di mana?”

Kai melihat ke belakangnya dan menjawab, “Dia belum pulang sejak tadi.”

Sin Ya mengangguk paham dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal—sudah menjadi kebiasaan orang canggung. Kini tidak ada omongan untuk sekedar basa-basi menghilangkan kesunyian di antara mereka. Semuanya hening dan sibuk dalam pikirannya masing-masing.

“Sin Ya….” panggil Kai dengan pelan dan lembut.

Oh Tuhan, seandainya Kai tahu bahwa jantung Sin Ya kini meronta-ronta karena suara lembut Kai yang jarang ia dengar, di tambah lelaki itu memanggil namanya!

“Kau… tidak apa-apa?” Entah Kai dirasuki oleh setan jenis apa. Tiba-tiba rasa simpatinya muncul untuk Sin Ya.

Sebuah catatan sejarah kehidupan Kai ditambah lagi untuk topik: ‘Tiba-tiba berhati lembut.’

Sin Ya merasa canggung dan akhirnya membalas ucapan Kai, “Kau tahu? Kau sangat aneh, Tuan Kim Jong In. Kau terkadang bersikap dingin terhadapku dan secara tiba-tiba berubah menjadi malaikat berhati lembut. Apa masalahmu sebenarnya?”

Kai tersenyum tipis, “Kau juga tahu? Kau sangat aneh, Nona Choi Sin Ya. Kau terkadang terlihat ceria di hadapan semua orang, namun secara tiba-tiba berubah menjadi kikuk ketika hanya kita berdua. Apa masalahmu sebenarnya?”

Sin Ya terdiam dan mencoba memikirkannya.

Kai mendekat dan mempersingkat jarak antara mereka sambil menundukkan kepalanya guna melihat setiap detik perubahan ekspresi Sin Ya.

“Sepertinya masalah kita sama….”

“Apakah ini semua karena cinta?”

-To be continued.

Cuap-cuap Author: Huaaaaa! Akhirnya publish juga ini Chapter ;w; Terima kasih untuk yang udah baca fanfic Love in Love dengan tulus dan sabar /nangis di ketek Kai/ Dengan segenap hati, jiwa dan raga, author nulis ini. Mikir, kira-kira kalian pada nungguin gak ya? Ceritanya makin abstrak gak ya? ._. Tapi mohon maaf, kalau ada yang merasa Chapter ini ceritanya lebih dikit. Rencana awal ada sepotong (?) Chapter 6 yang diselipin di Chapter 5 ini, cuman gak jadi wkwk. Di sini, Kai udah mulai maju tak gentar pokoknya buat Sin Ya. Tapi malah Sin Ya yang bingung. Oh ya, ada tambahan cast yaitu Key. Yang penasaran sama kelanjutan cerita Taemin-Key dan Kai-Sin Ya, jangan bosan-bosan nunggu mood author buat nulis kelanjutannya yaaa ^^ LOL

Silahkan RCL ^o^)/ Saya menerima kritik dan saran apapun~
Sampai jumpa di Part selanjutnya!

45 responses to “[Chapter 5] Love in Love

  1. Pingback: [Chapter 6] Love in Love | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s