Blue

terumbu-karang-raja-ampat

Tittle: Blue | Scriptwriter: @asitawidya | Cast: Xi Luhan and You | Rating : PG |Duration: Short Story

Hari ini hari minggu. Kau duduk di beranda rumahmu, menatapnya yang enggan mengalihkan pandangan matanya dari tab yang ia pegang. Pandangannya terlihat serius, dahinya berkerut, ia memijat-mijat pelipisnya, membuat kau beranjak dari tempatmu duduk. Kau menghampirinya, terdengar sebuah helaan yang kau yakini adalah pertanda bahwa ada hal buruk yang sedang terjadi.

Kau tidak segera berucap, justru berdiri di belakangnya dan turut melihat apa yang sedang ia lihat —yang membuatnya membuang nafasnya cukup keras. Kau membaca sebuah pesan yang tertera di sana. Beberapa detik kemudian, hatimu mencelos. Tentu saja berita ini membuatnya gusar.

Illegal fishing. 

Lagi-lagi berita itu. Kau masih tidak mengerti kenapa penjagaan laut di sini benar-benar lemah. Ratusan kapal asing memasuki daerah ini, menguras habis ikan-ikan yang tinggal, benar-benar serakah. Dan yang mengesalkannya sekali lagi adalah caranyapun dilakukan dengan sesuatu yang keji. Pukat harimau.  Ah, mungkin kalian sedikit bingung. Pukat harimau adalah semacam jala yang berukuran besar, ditarik dua kapal, sembari berjalan, jala ini menangkap apa saja yang dilewatinya. Tidakkah mereka pikir hal itu juga akan merusak lingkungan ikan-ikan itu tinggal? Mengingat kelestarian dan stok sumber daya ikan tidak dapat terlepas dari kondisi lingkungannya.

Kau ingat, baru beberapa minggu yang lalu dia —lebih tepatnya badan tempat dia bekerja, telah menambah 2 armada Kapal Pengawas, yaitu Shark Man 003 dengan panjang 40 meter dan berbahan baja yang akan dioperasikan di Laut Utara, serta Shark 011 berbahan aluminium dengan panjang 30 meter yang akan mendukung pengawasan konservasi di Sea Park. Tapi tetap saja dia kecolongan.

Kau menatap wajahnya yang sendu. Kau tahu, permasalahan illegal fishing, memang cukup sulit terselesaikan. Mengingat kau tinggal di negara kepulauan yang benar-benar luas. Catat, 2/3 negara yang kau tinggali berupa lautan. Tidak dipungkiri jika Polisi Khusus Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tidak akan sanggup jika harus berdiri melingkari batas zona ekonomi ekslusif di negara ini.

Kau menepuk bahunya pelan. Pandangan matanya beralih ke arahmu.

“Aku akan membuatkanmu teh hangat.” Dia tersenyum, membalas ucapanmu, kemudian beralih lagi ke tabnya. Kau menghela nafas, menyadari bahwa dia tidak akan bisa bersantai dari pekerjaannya.

Kau beranjak ke dapur, mengambil secangkir gelas berisi teh celup, memasukan sedikit gula ke dalamnya, kau selalu ingat bahwa ia bersikeras menghindari gula yang berlebihan, takut diabetes, ucapnya. Kau menambahkan air panas ke sana. Sembari mengaduknya, kau melihat sosoknya dari tempatmu berdiri. Sosok yang kau temui tujuh tahun lalu di depan kelasmu. Dia satu tingkat di atasmu, dan  masih sama seperti dulu, pendiam, sehingga  kadang menurutmu dia terlalu serius. Kau tersenyum menyadari kecintaannya terhadap laut mulai berlebih semenjak dia masuk ke jurusan ilmu dan teknologi kelautan di salah satu universitas terkemuka di negaramu.

Kau kembali menghampirinya, menyuguhkan teh hangat yang baru saja kau buat. Dia kembali tersenyum, tanpa mengucapkan satu kalimat terima kasih padamu. Kau tidak keberatan, karena menurutmu satu senyuman itu lebih dari cukup.

“Jadi, apa yang akan kembali kau lakukan?” Tanyamu.

Dia tak segera menjawab,  justru menyesap tehnya, sedikit demi sedikit. Kemudian diam dalam pikirannya. Suatu hal yang menurutmu membuatnya terlihat cukup … seksi. Oh c’mon, smart man makes every women’s heart melting. 

“Operasional 30 unit Kapal Pengawas selama 90 hari dan kerjasama operasi pengawasan dengan instansi terkait.” Sungguh. Jawabannya tegas dan terlihat penuh perhitungan. Namun terkadang dia lupa satu hal, yang membuatmu harus selalu mengingatkannya.

“Kau tidak berunding dulu dengan bawahanmu?”

Kembali. Dia tidak segera menjawab pertanyaanmu.

“Itu harus, tapi sepertinya mereka akan langsung setuju.”  Dia mengedipkan sebelah matanya. Kau tidak bisa menahan tawa melihat sosoknya yang pendiam berubah menjadi sosok yang banyak bicara dan percaya diri, seperti sekarang ini. Tidak bisa dipungkiri, dia cerdas dan bijaksana, membuat dirinya pantas dihormati oleh seluruh bawahannya.

“Baiklah, sepertinya teh buatanku telah membuat pikiranmu cerah. Aku harap kau tidak terlalu stress memikirkan masalah ini. Semua ada jalan keluarnya, kau tahu itu.” Kali ini kau berusaha terdengar percaya diri. Dia hanya mengangguk, menanggapi perkataanmu.

“Bagaimana denganmu? Ku harap kau tidak lupa dengan jadwal kampanye #SaveSharks-mu.”

Kali ini, kau yang terdiam. Mencerna kata-katanya barusan.

Kampanye.

#SaveSharks

Astaga. Kau baru ingat bahwa besok kau ada agenda kampanye #SaveSharks di salah satu sekolah di kepulauan timur, dan kau belum packing. Padahal jadwal penerbanganmu adalah  jam enam pagi. Kau segera berlari ke kamar. Menarik beberapa baju dari lemarimu dan melemparkannya ke tempat tidur. Kau ingin berteriak. Bagaimana kau bisa melupakan agendamu ini?

Kau tidak sadar, dia sedang berdiri di pintu kamar, menertawai tindakanmu. Baginya, kau adalah pengingatnya yang baik. Namun kadang kau melupakan dirimu sendiri. Dia menggelengkan kepala. Di matanya, kau terlihat begitu lucu.

“Jangan tertawa! Ini benar-benar tidak lucu.” Kau mendengus melihatnya yang tidak berinisiatif membantumu.

“Baiklah. Baiklah.” Dia mengalah, kemudian membantumu menata baju. Selepas menata seluruh keperluanmu, dia terdiam cukup lama. Kau menatapnya heran, berpikir apa kau baru saja membuat sebuah kesalahan.

“Jangan pergi lama-lama. Okay?

“Astaga. Aku hanya pergi selama tiga hari, Luhan.”

“Dan selama itu aku akan merindukanmu, Blue.”

Kau merasakan jantungmu berdetak lebih cepat ketika ia memanggilmu dengan panggilan sayang. Kau berani bersumpah tidak akan bosan mendengar dia mengucapkan hal itu sampai akhir hayatmu. Blue. Ia jatuh cinta padamu. Pada laut yang berwarna biru.

Advertisements

25 responses to “Blue

  1. Emmm jadi nama ceweknya blue?
    Hahahaha atau namanya Biru dalam bahasa indonesia, berhubung kau menyebutkan negara yg 2/3 nya air? Ah, itu korea kah? Oke, berarti namanya paran? Hmmm entahlah hanya dirimu dan tuhan yg tau errrr ( – -) #bilangajamalasnebak
    Kembali lagi saya masih kesengsem sama girls talk ( ^ ^ ) v
    #keepwritinghwaiting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s