[Chapter 6] Love in Love

Title: [Chapter 6] Love in Love

Author: hyeri

Cast:

  • Kim Jong In (EXO) / Kai
  • Lee Taemin (SHINee) as Kim Taemin
  • Choi Sin Ya (OC/You)
  • Krystal f(x) as Jung Soojung / Krystal
  • Kim Ki Bum (SHINee) as Key / Kim Ki Bum

Genre: Romance, Friendship. (tambahan genre untuk Chapter ini hehe)

Rating: PG-17

Length: Chapter 6/?

Disclaimer: Kesamaan nama tokoh atau apapun yang menyakut fanfic ini bukanlah suatu kesengajaan. Cast bias milik Tuhan, kecuali OC. Plot/alur/cerita hanya milikku seorang. Ini semua adalah rangkaian imajinasi yang ku tuangkan melalui kata per kata dalam tulisan.  DON’T BE PLAGIATOR!

A/N: Cam! Cam! Chapter 6-nya akhirnya dipublish lumayan cepat ._. Makasih untuk kalian yang udah berdoa mudahan cepat publish lol Ok, happy reading dan semoga fanfic ini disukai dan dicintai. So, enjoy this fanfiction and sorry for any typo there. Once again, enjoy!

Prolog | Chapter 1  | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5

***

“Sepertinya masalah kita sama,”

“Apakah ini semua karena cinta?” ucap Kai dengan sangat jelas.

Jauh di dalam lubuk hati lelaki ini, ia ingin mendengar kata ‘Iya’ terucap dari bibir mungil Sin Ya untuk menjawab pertanyaan sederhananya. Jika benar semua karena cinta, berarti perasaannya terhadap Sin Ya terbalas. Maka, mereka sama-sama seri. Inilah cara mencintai dan dincintai yang ideal.

Sin Ya menggigit bibir bawahnya. Apa yang harus ia katakan selanjutnya? Itulah yang memenuhi pikirannya sekarang ini. Di satu sisi ia merasa senang karena kesimpulan bahwa Kai menyukainya juga, namun di sisi lain, ia merasa belum siap dengan kenyataan ini. Ia takut dengan apa yang akan terjadi ke depannya.

“Jika Taemin sudah pulang, tolong beritahu dia aku ingin mengambil buku catatan Kimia-ku. Selamat malam.” jawab Sin Ya seraya membungkukkan badannya dan langsung kembali ke kamarnya, meninggalkan Kai sendirian dengan pikirannya yang bercabang.

Kai menutup pintunya dengan keras dan memukulnya.

“ARGH! Ada apa dengan dirimu sebenarnya, Kai?!”

Sementara itu, di seberang kamarnya, Sin Ya terduduk di balik pintu kamarnya. Kakinya sudah tidak tahan lagi menahan tubuhnya. Terlalu lemas dan bergetar. Dirinya masih tidak percaya dengan apa yang barusan ia lewati. Apakah ini mimpi? Ia merasa melayang entah pergi kemana dan perutnya kini terasa penuh dengan bunga-bunga yang merekah. Sungguh sulit untuk melukiskan perasaannya kini. Tak henti-hentinya senyuman terpahat jelas di bibirnya.

Apakah ini rasanya jatuh cinta?

***

Sementara itu di waktu yang sama, Taemin berjalan menyusuri jalanan kecil yang menjadi tempat tujuan orang-orang yang haus akan hiburan duniawi. Taemin bergidik saat melihat banyaknya wanita berpakaian seksi berjalan bersama laki-laki―yang dipastikan mereka tengah mabuk―dan masuk ke sebuah motel hingga diskotik di sepanjang jalan tersebut.

Bukan maksud Taemin ingin menambah dosanya dengan datang ke sini, namun hanya satu tujuannya datang ke tempat seperti ini. Yaitu mencari keberadaan Key. Sahabat kecilnya yang tak akan pernah ia lupakan.

Dengan seragam sekolah yang masih lengkap ia pakai, terlihat aneh sekali jika pelajar berani ke tempat seperti ini. Beruntung hari ini tidak ada razia polisi, dirinya aman bisa menjadi keberadaan Key di tempat dosa seperti ini.

Hampir 2 jam dirinya berkeliling di sepanjang jalan tersebut. Mengintip setiap cabang jalan kecil, sekiranya Key bisa saja muncul secara tiba-tiba di sana. Toh, mungkin saja.

Selang berapa lama, Taemin melihat sekelompok pemuda tengah berlatih kemampuan menari mereka di sebuah gudang lama seberang jalan. Ia menyakini bahwa di dalam gudang bekas penyimpanan ini terdapat Key di antara pemuda Busan tersebut.

Tanpa ketakutan sedikit pun di lingkungan sekitar ini, ia berlari ke arah lelaki pirang yang tengah duduk sambil memperhatikan pemuda lainnya ini menari. Wajah lelaki pirang itu tampak serius, tulang rahangnya jelas sekali terbentuk dan terkesan tegas, matanya yang sipit dan juga kulit putih pucatnya yang menjadi pelengkap bahwa orang ini adalah Kim Ki Bum alias Key―sahabat kecil Taemin yang dicarinya selama ini.

“Ki Bum-ah!” teriak Taemin dari kejauhan sambil berlari mendekati Key. Terpahat jelas di wajah Key raut kesalnya ketika melihat namja dengan seragam sekolah Bonsang High School ini berlari mendekatinya. Benar, Key tahu tepat siapa lelaki ini. Namun Key masih duduk di tempatnya dan memasang ekspresi datar.

Kedatangan Taemin mengusik pemuda-pemuda―dengan umur yang berbeda―yang tengah menari di dalam gudang tersebut. Mereka berhenti menari dan melihat ke arah Key, ketika nama boss-nya dipanggil oleh seorang namja cantik, tidak tahu diri dan… periang? Sejak kapan Key mempunyai kenalan yang sangat berbeda dengan lingkungannya sekarang?

Taemin akhirnya berhenti tepat di hadapan Key dengan nafas yang memburu. Dia merasa begitu lelah, bahkan tubuh mungilnya terlihat terhuyung kesana-kemari. Ini semua karena ia harus mencari di mana keberadaan Key, dan akhirnya sekarang ia menemukannya. Sungguh, apakah ini rasanya surga untuk Taemin? Salah.

“Ki Bum-ah! Aku telah mencarimu kemana-mana… Bagaimana kabarmu, sobat?” tanya Taemin di tengah nafasnya yang tersengal-sengal.

Key masih diam memperhatikan Taemin. Matanya menyipit memperlihatkan raut kesal sekaligus marah. Taemin hanya bisa diam menunggu jawaban dari sahabat kecilnya ini.

“Dia siapa?” Taemin tersentak ketika salah satu pemuda dancer bernama Eunhyuk ini bertanya kepada Key sambil menunjuk Taemin.

Key mengangkat ujung alis kanannya dan menjawab, “Aku bahkan tidak pernah mengenal orang ini. Terlalu banyak orang yang telah bertemu denganku akhir-akhir ini. Siapa namamu, pria kecil?”

Taemin terhenyak sesaat, sapaan ‘pria kecil’ yang disebutkan Key benar-benar membuatnya flashback ke masa Sekolah Dasar-nya. Hanya Key yang memanggilnya dengan sebutan itu. Tapi mengapa malah Key mengatakan bahwa dia tidak mengenal Taemin? Jelas-jelas ia menyebutkan nama sapaan masa kecil Taemin. Seperti tercium unsur kesengajaan oleh Key.

“Naneun Kim Taemin-imnida (Aku adalah Kim Taemin). Kita dulunya sahabat, kau ingat ‘kan?” jawab Taemin dengan sabar.

Namun kesabaran Taemin tidak dihiraukan oleh Key, “AH! Aku ingat! Kau Taemin, si pria kecil nan cantik dan periang. Kau Taemin, yang mengaku-ngaku sebagai sabahatku padahal aku sendiri tidak pernah menganggapmu sahabat.”

Key berteriak, “ Hey, teman-teman! Inilah Taemin… yang membunuh ibuku.”

Jawaban sarkatis Key membuat perasaan Taemin yang berbunga-bunga sebelumnya menjadi laut hitam dengan langit petir di hatinya. Dirinya tidak menyangka Key telah sepenuhnya berubah semenjak terakhir kali mereka bertemu di Rumah Sakit. Apakah ini alasan Minho dan Baekhyun melarang Taemin untuk mencari Key? Karena takut Taemin akan sakit hati?
Sepertinya ada sesuatu hal lainnya.

“Aku? Sebentar. Aku tidak pernah membunuh ibumu, Ki Bum-ssi. Camkan itu!” jelas Taemin.

Key tertawa kecil dan raut wajahnya berubah menjadi kebencian seketika itu.

“Ha, kau tidak pernah berubah, pria kecil.”

“Dan asal kau tahu, kau lah yang membuat hidup ibuku berakhir.” ucap Key seraya berdiri dari tempat duduknya.

Teman-teman dancer-nya kini menjauh dan mengelilingi Key yang tengah menatap tajam Taemin di tengahnya. Scene yang sering terlihat di film action.

“Kau!” kecam Key sambil mendorong tubuh kurus Taemin.

“Jika saja aku tidak menolongmu saat kecelakaan itu terjadi dan membawamu ke Rumah Sakit, yang hanya menghabiskan waktuku… Ibuku akan selamat!” lanjut pria berkulit putih pucat ini.

“Wowow, tunggu sebentar. Aku tidak mengerti. Ibumu akan selamat? Aku yang kecelakaan? Apa maksudmu?” jawab Taemin yang tak kalah marah.

“Apakah perlu aku menjelaskannya dari awal sampai akhir?” tanya Key sambil mendudukkan Taemin di kursi kayu―tempat di mana Key duduk di awal cerita.

“Ceritalah. Aku siap mendengarnya.” jawab Taemin dengan penuh yakin.

***

Ruang kamar bernuansa girly dilengkapi oleh lemari kaca yang penuh dengan boneka-boneka lucu milik si empunya memberikan kesan ceria di dalamnya. Warna pink menjadi pilihan yang sesuai untuk kamar ini dan tak luput juga background gambar dinding berkonsep Menara Eiffel menjadi pelengkap sempurna kamar ini. Di sudut kamar terlihat foto-foto pemilik kamar ini dengan adik lelakinya.

―Jung Soojung with Jung Jae Sung.

Itulah nama yang tertera jelas di bawah bingkai foto tersebut.

Jung Soojung atau biasa dipanggil Krystal―ketika di California―ini adalah gadis cantik dan sempurna keturunan asli Korea yang dibesarkan di California, Amerika Serikat. Tak heran ia fasih berbahasa Inggris ketika di Bonsang School High School―sekolah Sin Ya, Kai dan Taemin yang terletak di Busan―membuat dirinya langsung dijejerkan pada sebutan ‘famous students’ di sekolah itu. Apalagi akhir-akhir ini, ia terus digosipkan berpacaran dengan Kai, seorang lelaki tampan namun dingin yang ia temui di Pantai Haeundae ketika pergi liburan. Lelaki yang berhasil menarik perhatiannya hingga sekarang.

Perasaannya terhadap Kai awalnya hanya sebagai teman yang menarik, namun kini berubah menjadi seorang pria yang mencuri cinta pertamanya. Ia sangat menganggumi Kai sampai-sampai dirinya jatuh ke dalam pesona lelaki bernama asli Kim Jong In ini. Walau ia bukan tipe yang menyukai lelaki dingin, namun Kai telah berhasil mengubah persepsinya tentang pemikiran itu.

Namun kini dirinya merasa dilema akan cinta. Ketika ia menyadari bahwa sesungguhnya lelaki yang ia cintai itu ternyata menyukai gadis lain. Benar, pendapatnya bahwa Sin Ya adalah gadis yang Kai cintai adalah faktanya. Tidak bisa dilupakannya, bagaimana sikap Kai terhadap Sin Ya yang sungguh dingin dan bertingkah seolah-olah tidak peduli. Padahal, sikap seperti ini sungguh memperlihatkan kejanggalan di mata Krystal yang akhirnya membuat Krystal menyimpulkan bahwa Kai benar-benar menyukai Sin Ya namun berusaha untuk menutupinya. Well, gadis ini memang cukup cerdas dan teliti.

Krystal bangkit dari tempat tidurnya dan meraih tas sekolahnya. Ia mencari-cari suatu benda yang sangat berharga baginya. Tidak lain dan tidak bukan adalah kalung berliontin apel yang baru saja ia beli tadi sore bersama Kai. Kalung yang seharusnya tidak dibelinya. Mengapa? Jelas, dari awal Kai dan dirinya masuk ke dalam toko, terlihat Sin Ya yang seakan terpana oleh kalung indah ini, seperti Sin Ya pada saat itu hendak membelinya namun tidak jadi karena ulah ‘tiba-tiba’ Kai. Teringat jelas di ingatannya, bagaimana wajah panik Kai ketika pertanyaan ‘Kau menyukai Sin Ya ‘kan?’ keluar dari mulut Krystal sendiri―sekedar tebakan yang bertujuan membenarkan pemikirannya. Dan menyuruh Kai untuk membelikan sesuatu untuk Sin Ya. Mungkin terbesit kata ‘bodoh’ di pikiran Krystal pada saat itu. Betapa bodohnya dirinya menyuruh Kai melakukan itu sedangkan dirinya tersesak karena fakta bahwa Kai memang benar-benar menyukai gadis lain, bukan dirinya.

Kalung apel ini… seharusnya menjadi milik Sin Ya, jika saja Krystal tidak membelinya. Jika dia kalah cepat dengan Kai, mungkin lelaki itu akan membelinya dan memberikannya kepada Sin Ya. Memang ada unsur sengaja di balik itu semua, namun Krystal tidak bermaksud jahat dengan membeli kalung yang Sin Ya inginkan dan seakan mengambil haknya. Bukan sama sekali. At least, gadis ini berpikir, ‘Biarkan kalung ini menjadi kenangan manisku bersama Kai’ dan ‘Anggaplah kalung ini diberikan oleh Kai sendiri, Soojung-ah.”

Dirinya sungguh ingin menjadi posisi Sin Ya yang notabene dicintai oleh Kai. Namun sayang, takdir berkata terbalik. Justru dirinya harus merasakan pahitnya cinta bertepuk sebelah tangan.

“Ketemu!” ucap Krystal ketika menemukan kalung spesial ini.

Ditatapnya dengan teliti setiap inci kalung ini, “Seandainya Kai-lah yang membelikan ini untukku….”

Krystal tersenyum pahit menerima kenyataan. Entah bagaimana menggambarkan kesakitan hatinya yang semakin mendalam. Ia sungguh berharap Kai akan mencintainya suatu saat nanti, entah kapan dan entah bagaimana caranya. Tapi sepertinya ini mustahil baginya. Menurut pengamatannya, Kai adalah orang yang sangat setia dengan cintanya. Hm, entah harus bagaimana menjelaskannya, namun Krystal memang seperti mengerti setengah kehidupan Kai. Hey, ini bukan menjadi suatu masalah ‘kan? Jatuh cinta memang terkadang membuat orang yang merasakannya menjadi gila. Krystal salah satunya. Di balik tampang diamnya, tersimpan banyak rahasia.

Apakah Kai akan mencintaiku suatu saat nanti?’ batin Sin Ya sambil meraba permukaan liontin kalung berbentuk apel itu.

Apakah Sin Ya juga menyukai Kai?

Krystal seolah tersadar oleh sesuatu, “Ah, benar! Apakah Sin Ya juga merasakan hal yang sama seperti Kai?”

“Apakah dia menyukai Kai?”

“Apakah mereka berdua nanti akan benar-benar berkencan?”

Timpalan pertanyaan demi pertanyaan keluar dari mulut Krystal.

“Aku harus bertanya tentang hal ini besok kepada Sin Ya, aku harus mendapatkan kepastian.”

“Jika memang Sin Ya menyukai Kai. Aku akan mundur dan merelakannya. Aku berjanji.”

Krystal sepertinya mendapatkan kembali semangatnya setelah sebelumnya dirinya mengaku dilema cinta. Gadis ini memang memiliki sejuta emosi berbeda.

Gadis cantik ini kembali merebahkan dirinya di atas kasur dan mulai berpikir bagaimana harinya besok akan berjalan. Apakah Sin Ya akan menjadi ‘Iya’ atau ‘Tidak’ untuk pertanyaannya nanti.

Apakah aku masih punya kesempatan?’ batinnya dalam hati.

***

Jam sudah menunjukkan jarum panjangnya ke arah 6 dan jarum pendeknya ke arah 8 malam. Langit sudah menggelap dan menyisakan kota Busan yang sunyi dari keramaian siang hari. Apa lagi yang akan dilakukan orang-orang pada jam segini, kalau bukan tidur dan mengerjakan tugas bagi pelajar sekolah? Namun sepertinya tidak bagi Taemin. Lelaki yang dijuluki ‘cantik’ ini masih berada di gudang tempat perkumpulan Key dan kawan-kawannya yang baru.

Key sekarang telah berubah. Berubah menjadi monster ketimbang menjadi manusia yang lebih baik. Tentu di balik ini semua, tersimpan satu alasan mengapa ia berubah. Perubahan ini tentu saja berkaitan dengan Taemin―sahabat kecilnya. Ingatan masa lalunya yang kelam tak segan-segan membuat api dalam dirinya membara secara tiba-tiba. Ditambah lagi dengan kedatangan Taemin yang tidak diundang sekarang. Apa sebenarnya maksud Taemin? Apakah Taemin tidak jera dengan peringatan melarang dirinya bertemu dengan Key oleh teman-temannya? Taemin memang orang yang susah ditebak.

“Apakah perlu aku menjelaskannya dari awal sampai akhir?” tanya Key sambil mendudukkan Taemin di kursi kayu―tempat di mana Key duduk di awal cerita.

“Ceritalah. Aku siap mendengarnya.” jawab Taemin dengan penuh yakin.

Key mundur beberapa langkah dan melepas topi yang sedari tadi ia kenakan.

*Flashback

4 Tahun Lalu

Seorang anak lelaki berkulit putih pucat bernama Kim Ki Bum terlihat tengah santai berjalan di sepanjang jalan menuju rumahnya sambil terus menatap ke arah layar ponselnya. Seragamnya yang masih melekat di tubuhnya menandakan bahwa ia baru saja pulang dari sekolahnya. Usianya telah menginjak umur 12 tahun, dan kini ia menjadi siswa salah satu Sekolah Menengah Pertama di Busan. Matanya yang sipit dan garis rahang tegasnya yang sudah terbentuk, meninggalkan kesan bahwa anak ini sungguh beribawa dan penuh tekad.

Ki Bum-ah, kapan kau pulang?

Ki Bum tersenyum saat membaca pesan singkat dari ibu tersayangnya. Lalu cepat-cepat ia membalas pesan tersebut.

Aku sedang berada di jalan. Ibu, tunggulah aku~

Sungguh percakapan manis yang dilakukan oleh ibu dan anak ini.

Cepatlah pulang nak, ibu merindukanmu….

Kembali Ki Bum merasa bahwa dirinya berada di surga ketika ibunya merindukannya. Tak ada hal yang tidak lebih bahagia bagi Key selain mendengar kata ‘rindu’ dari ibunya. Setelah sepeninggal ayahnya saat ia berumur 5 tahun, di dunia ini hanyalah ibunya dan dirinya yang ada. Benar, dia anak satu-satunya bagi ibu tercintanya.

Dengan terburu-buru, Key melangkahkan kakinya menuju rumahnya yang masih berjarak cukup jauh. Ia tidak ingin mengecewakan ibunya. Anak ini adalah tipe yang sangat mencintai orangtuanya apalagi ibunya.

Namun, di tengah perjalanan, ia melihat sahabatnya yaitu Taemin juga tengah berjalan dengan riangnya untuk kembali pulang ke rumah. Key hendak menyapa Taemin, tapi kejadian tidak terduga datang tiba-tiba

***

Seorang anak lelaki berparas lucu dan imut dengan riangnya berlari-lari kecil di sepanjang jalan perkotaan. Usianya telah menginjak umur 12 tahun, dan kini ia menjadi siswa salah satu Sekolah Menengah Pertama di Busan. Jika diteliti sekali lagi, mungkin anak ini terlihat seperti berusia 5 tahun karena kepolosannya. Sambil mengeratkan tali tasnya, ia terus berlari di sepanjang jalan menuju rumahnya.

Hari itu pukul 03.00 siang, di mana semua murid sekolah akhirnya dapat merasakan udara bebas dari sesaknya pelajaran sekolah. Tak terkecuali anak lelaki ini dengan nametag ‘Kim Taemin’ yang terpajang di seragamnya, ia sangat bersemangat ketika harus pulang dari sekolah karena dirinya memang tidak terlalu tertarik dengan pelajaran sekolah. Tak heran lagi jika ia susah masuk 10 besar di kelas. Hari itu, ia tidak bersama dengan saudara kembarnya bernama Jong In. Karena Jong In tidak masuk sekolah saat itu. Mereka berdua memang selalu berada di satu sekolah yang sama, namun kepribadian mereka sangatlah berbeda. Lucu sekali jika kepribadian semua saudara kembar di dunia ini memilki sifat yang sama, berarti akan ada manusia yang memilki duplikat dirinya sendiri.

Lampu lalu lintas mengisyaratkan hijau untuk orang-orang menyeberang. Jalanan pada waktu itu cukup sepi dan hanya beberapa kendaraan yang lewat. Di saat Taemin ingin menyeberang, ia dengan polosnya berjalan pelan dan santai. Well, tidak salah bukan, jalanan pada waktu itu juga cukup sepi. Tak masalah baginya untuk menikmati perjalanannya. Namun, secara tiba-tiba entah muncul dari arah mana, sebuah kendaraan motor melaju kencang ke arah dekat Taemin. Taemin yang refleks dengan kedatangan motor, hanya bisa menghindar beberapa langkah, tapi naas tas ranselnya tersangkut di stang motor tersebut dan alhasil membuat tubuh Taemin terseret sekitar 2 meter jauhnya. Sang pengendara yang menyadari apa yang telah terjadi, akhirnya dengan secepat kilat melepaskan tas Taemin dan melajukan motornya―kabur―meninggalkan Taemin di tengah jalan dengan kakinya yang terluka cukup serius.

Keadaan jalanan yang sepi membuat Taemin harus bertahan lebih lama dengan kesakitannya. Beruntung, Key―sahabatnya―datang ke arah Taemin dan segera menolongnya. Dengan cekatan ia membalut luka kaki sahabatnya itu dengan kain apa adanya dan memanggil taksi yang sempat lewat. Dengan buru-buru Key mengantarkan Taemin ke Rumah Sakit terdekat.

Tapi, kejadian heroik ini menjadi dasar awal kebencian Key terhadap Taemin.

*Flashback End

“Dan kau tahu apa yang terjadi ketika aku pulang ke rumah?” tanya Key setelah menceritakan semua kejadian masa lalu itu.

Taemin menggelengkan kepalanya pelan, jika ia mengingat kejadian 4 tahun lalu, ia sungguh berterima kasih kepada Key karena telah menolongnya. Entah apa nasib Taemin jika ia harus terus-menerus diam di tengah jalan dengan luka kakinya.

“Ibuku meninggal,”

“CCTV di daerah tersebut merekam kejadian itu semua. Ibuku dibunuh dengan sadisnya oleh para pencuri.” lanjut Key dengan wajah datarnya.

Kalimat penutup dari cerita masa lalu ini membuat dahi Taemin mengerut sempurna.

“Aku minta maaf atas kejadian itu. T-tapi, apa salahku?!” Kembali Taemin melontarkan kebingungannya.

“JIKA SAJA AKU TIDAK MENOLONGMU PADA SAAT ITU… AKU PASTI BISA MENOLONG IBUKU KETIKA PARA PENCURI ITU DATANG! ARGHHH!”

BAM!

Pukulan keras mendarat tepat di pipi kiri Taemin. Key tidak tahan lagi dengan hal ini semua, pukulan keras darinya adalah hal yang tepat untuk melampiaskan semua ini.

Darah segar mengalir jelas di sudut bibir Taemin. Tidak mempedulikan lukanya, Taemin berdiri dan menatap lekat-lekat bola mata hitam Key.

“Jika waktu itu kau tidak menolongku, aku mungkin akan mati kehabisan darah karena tidak ada satu orangpun yang peduli padaku. Jika waktu itu kau pulang lebih cepat ke rumah dan bertemu dengan ibumu, kau juga akan mati bersama ibumu karena kalian akan dibunuh bersamaan oleh pencuri sialan itu. Nyawa tetaplah nyawa. Ada yang datang dan pergi. Ada yang bertahan dan pergi,” jelas Taemin.

“Tuhan pada saat itu berencana membiarkan aku dan kau yang bertahan, sedangkan ibumu yang pergi. Tidak bisakah, kau mengerti takdir?” tambah namja cantik ini.

“Aku datang ke sini hanya ingin bertemu denganmu. Karena aku merindukan sahabatku. Apakah aku salah?” Melanjutkan ucapannya.

Key masih terdiam dan mengepalkan telapak tangannya tak tahan namun setelah itu ia tertawa kecil, “Hey, jika seperti ini, kau sama saja dengan Kai yang sok bijak. Dan satu hal lagi, kau salah besar, pria kecil. Aku membencimu dengan teramat sangat.”

Taemin menghembuskan nafasnya, “Lalu apa yang harus ku lakukan agar kau―sahabatku―tidak membenciku lagi?”

Key menunjukkan seringainya yang khas, “Bergabunglah bersama kami. Bukankah kau seorang penari yang hebat, pria kecil?”

***

Taemin masuk ke dalam rumahnya dengan luka di bibir yang kentara jelas. Bisa ditebak, Ga In―ibu dari Taemin dan Kai―menyadari bahwa anaknya terluka, langsung cepat-cepat mengobatinya dengan memberikan plester di sudut bibir Taemin. Berulang kali ibunya menanyakan perihal keadaannya dan mengapa bisa seperti ini, Taemin hanya menanggapinya dengan diam.

Langkah kaki Taemin memasuki kamarnya sangat tidak yakin. Pikirannya kini penuh dengan tawaran Key untuk dirinya agar bergabung bersama kelompok dance milik Key. Dia memang pandai dalam hal menari, bahkan teman-temannya mengakui kehebatannya. Namun, satu hal yang membuat dirinya ragu-ragu dalam menerima tawaran ini adalah fakta bahwa kelompok dance Key bekerja di klub malam. Bagaimana anak di bawah umur sepertinya bisa terbebas dari ancaman polisi ketika bergabung bersama mereka? Ingatlah, bahwa Taemin adalah anak yang baik dan tidak ingin hidupnya dikotori oleh hal-hal seperti itu. Tapi tawaran inilah yang akan membuat Key tidak membencinya lagi. Taemin sangat berhutang budi terhadap Key. Sulit menerima bahwa sahabatnya itu kini membencinya.

“ARGH!” teriak Taemin kesal sambil membuka pintu kamarnya.

Terlihat Kai yang sedang membaca komik seperti biasanya. Sigh, makhluk ini tidak pagi, siang ataupun malam, rutinitasnya adalah membaca komik atau makan apel merah segar. Kai menghentikan rutinitasnya dan berpaling ke arah Taemin yang terlihat kacau. Baru kali ini, ia melihat Taemin seperti ini. Baiklah, harus diakui, Taemin terlihat lebih ‘laki’ jika dalam keadaan kacau seperti. Itulah apa yang sempat terbesit di pikiran Kai saat ini.

“Sin Ya mencarimu. Dia ingin mengambil buku catatan Kimia-nya. Apakah kau perlu bantuanku untuk mengembalikannya?” tawar Kai saat melihat keadaan Taemin yang tidak memungkinkan ini.

Mata Taemin cerah seketika saat nama Sin Ya disebut-sebut dan mengelak dengan cepat, “Tidak! Biar aku saja yang mengembalikannya.”

Separah apapun keadaan Taemin, tetaplah Sin Ya menjadi obat penenang untuknya, ck. Dasar remaja.

Kai berdiri dan mendekati Taemin. Ia mencondongkan badannya ke arah Taemin dan memperhatikan luka di sudut bibir Taemin.

“Apa kau berkelahi, saudara kembarku?” tanya Kai sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana―gaya orang cool biasanya.

“T-t-tidak! Aku tidak akan pernah berkelahi. Aku tidak sama sepertimu!” jawab Taemin.

Kai berdecak kecil, “Aku juga tidak pernah berkelahi! Hanya memukul!”

Kai melanjutkan, “Lagipula, sebenarnya ada apa denganmu? Dalam keadaanmu ini, sebutan orang-orang ‘Taemin Si Periang’ akan hilang ditelan bumi,” Sebenarnya, terlihat sekali kepedulian Kai malam ini. Entah, setan apalagi yang merasuki tubuh Kai sampai-sampai, sikap tidak pedulinya berubah seperti ini.

Taemin berjalan dan berakhir duduk di ranjangnya, “Aku tadi bertemu dengan Key.”

Kai sontak berbalik dan mendekat Taemin. Matanya kini membulat sempurna dan rahangnya mengeras. “Apa kau baru saja menyebut nama Key?” tanya Kai dengan sungguh-sungguh.

Taemin menatap lantai kamarnya sambil menjawab, “Aku akhirnya bisa bertemu dengannya setelah 4 tah─”

“Kau bodoh atau pura-pura bodoh!? Jangan bertemu dengannya lagi!” Ucapan Taemin terpotong karena teriakan Kai tiba-tiba.

Taemin tidak mengerti dengan semua ini. “Sebenarnya ada apa? Mengapa semua orang menghalangiku untuk bertemu dengannya? Aku tahu masalahnya mengapa dia membenciku! Aku tahu! Jadi, tolong jangan ikut campur urusanku lagi! Selamat malam!”

Taemin berjalan mengambil baju tidurnya dan segera ke kamar mandi untuk berganti pakaian, meninggalkan Kai yang terbeku di tempat. Kai tidak percaya Taemin benar-benar bertemu dengan Key. Dia tidak bisa membiarkan Taemin bertemu dengan Key lagi. Ini sangat berbahaya.

Dasar Taemin bodoh!

Dasar Key bajingan!

Pikiran Kai penuh sesak sekarang. Ia tidak ingin Taemin berhubungan kembali dengan Key. Karena satu hal yang tidak Taemin ketahui, Kai juga pernah bertemu dengan Key. Dan pertemuan mereka yang tanpa sengaja membuat Kai harus melindungi Taemin.

-To be continued.

Cuap-Cuap Author: Huwaaa! Terima kasih pakai banyak pokoknya untuk para readers yang masih menunggu kelanjutan fanfiction ini /nangis di pojokan/ Saya cuman bisa memberikan yang terbaik untuk Chapter-Chapter selanjutnya ^^ Alhamdulillah, mood saya akhir2 ini lagi baguuuuus banget, jadi Chapter kali ini bisa selesai lumayan cepat (?) ._. *walau cuman seminggu*
Chapter ini, sengaja lebih memfokuskan ke masa lalu Key-Taemin yang mungkin di antara kalian penasaran sebenarnya kenapa dan kenapa bla bla. Saya janji next Chapter bakal ada beberapa moment pairing~ Dan oh iya! Chapter ini sebenarnya pas gak sih pake rating PG-17? -__- Kok rasanya gak ya? PG-17 ini ditujukan untuk kata-katanya aja sih sama mungkin scene-nya lol Yang penasaran sama kelanjutan cerita mereka, bagaimana jawaban Taemin atas tawaran Key, apakah Krystal bakal ngelepas cinta pertamanya begitu saja, dan kisah cinta rumit Kai, Taemin, Sin Ya? Tolong ditunggu yaaa! Dan author minta doanya supaya mood author buat nulis ff ini up up up terus hehe.

Silahkan RCL ^o^)/ Saya menerima kritik dan saran apapun~
Sampai jumpa di Part selanjutnya!

43 responses to “[Chapter 6] Love in Love

  1. Nggak bisa nebak akhirnya gimana 😀
    Aku suka FF yang nggak ketebak chapter Fin nya…
    Apakah Kai-Shin Ya bersatu ? Atau Kai merelakan Shin Ya untuk Taemin ?
    Kuharap yang pertama :v
    Dan, penasaran sama konflik Taemin-Key..
    Ditunggu next Chapter thor ^O^ Semoga moodnya naik derastis 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s