Mirror

M | fhayfransiska | Angst, Romance | PG-17

Wu Yifan, Luhan, Choi Jinri

M for Mirror

“Tapi di momen seperti sekarang, bisikan jadi selayaknya serentetan tusukan, yang membabi buta dan sukses membuat seorang lelaki berwajah rupawan itu terkesiap.”

_______

 

“Adik ingin beli apa? Kakak belikan deh, nanti.”

Jari-jemari yang saling mengikat itu sedikit kendor tatkala sosok mungil berbaju biru itu menunjuk sebuah toko mainan yang berada di seberang. Kepala bersurai keemasannya menoleh, memamerkan sederet giginya bawahnya yang tidak rata, lalu memasang rayuan polos khas anak kecil di wajahnya.

Sosok gadis berambut kepang dua yang berdiri di sampingnya melengkungkan bibirnya ke atas—tersenyum dari telinga ke telinga, kemudian berjongkok untuk menyejajarkan tingginya dengan si bocah laki-laki. “Tapi Adik harus janji sama Kakak untuk tak menangis lagi seperti kemarin ya?”

Bocah laki-laki berpipi tembam itu mengangguk cepat dan berulang-ulang, terlihat kelewat menggebu-gebu. Toko mainan yang terletak di seberang memang surga anak-anak, tidak heran kalau bocah laki-laki itu langsung mengiyakan sementara entah ia akan menepati janjinya atau tidak di kemudian hari, toh itu semua hanya sekedar basa-basi. Anak macam apa yang sudah paham soal janji di umurnya yang baru menginjak dua tahun, heh?

Gadis itu tertawa melihatnya, mengusap lembut puncak kepala adik laki-lakinya dengan gemas. “Good boy!” Ia lalu bangkit dan kembali mengeratkan genggamannya dengan terlalu bersemangat. Keduanya merajut langkah sedikit cepat-cepat ke seberang sebelum lampu lalu lintas berubah warna lagi.

Sesampainya di seberang, bocah laki-laki itu langsung berlari menghambur ke depan toko. Wajahnya sumringah dan sepasang mata beriris Hazelnya yang indah berkilat-kilat ceria. Bocah itu melompat-lompat di depan toko seraya menolehkan kepalanya ke arah si gadis yang masih berjalan mendekat, tangannya yang mungil terjulur menunjuk pintu toko mainan yang masih tertutup, meminta untuk segera dibukakan. Tas ransel di punggungnya bergerak naik turun, mengikuti tempo lompatan-lompatan kecilnya.

“Iya, iya sabar dulu, dong!” Gadis berkepang dua itu menggerutu sambil tetap tertawa kecil melihat tingkah adik kecilnya yang sudah hilang kesabaran. Dan bagaimana cara bocah itu menggembungkan kedua pipinya pertanda sebal malah semakin membuat si gadis terbahak, tak ayal tangannya yang jahil mencubit pelan kedua belah pipi tembam itu, membuat si empunya berteriak mengaduh dan balas memukul lengan kurus si kakak.

Si gadis baru hendak menyentuh gagang besi di pintu toko—bermaksud mendorongnya—ketika pintu yang terbuat dari kaca tebal itu lebih dulu bergerak. Seseorang membukanya dari dalam sepersekian detik lebih cepat.

Kemudian seorang lelaki berpostur tinggi dan berambut pirang terang muncul dari dalam sana, sebelah tangannya menenteng sebuah kresek belanjaan putih yang tampak penuh, bisa dipastikan berisi berbagai macam mainan yang baru saja dibeli. Ia mengangkat wajahnya yang bergaris rahang kuat, pandangannya bermaksud menyapu hiruk pikuk dan gegap gempitanya kota di sore hari. Namun sayangnya tidak jadi terlaksana dengan baik, sebab di detik yang sama ia hanya bisa terhenyak.

Karena eksistensi seorang gadis dengan rambut cokelat berkepang dua yang membingkai wajah kecilnya. Yang kini berdiri tepat di hadapannya dengan memasang raut wajah tidak jauh berbeda dengan miliknya sekarang. Rona wajah yang kaku, sepasang mata beriris madu penuh pesona yang balik menatapnya dengan penuh rasa kejut, mulut beserta lidah yang membeku dalam sekejap. Sang waktu bahkan turut berkonspirasi di baliknya, menghentikan mobilitias semua orang, kecuali mereka berdua tentunya.

Rasa tidak percaya dan takjub langsung menggerayangi setiap inci tubuh si lelaki, membuatnya tidak bisa mengendalikan gerak bibirnya untuk menyebutkan sebuah nama yang terasa kelu di lidahnya, “Ji … Jinri?”

Suara yang nyaris bergetar itu menembus gendang telinga si gadis, menerobos sampai ke hatinya dan menimbulkan desir-desir aneh yang perlahan mencuat ke tiap-tiap permukaan. Gadis yang dipanggil Jinri itu masih diam, terlalu sibuk dengan sebuah pertanyaan yang menyesaki sel-sel otaknya. Omong-omong, sudah berapa lama lelaki itu tidak memanggilnya demikian hingga kali ini panggilan itu terasa begini … ia rindukan?

“Kak, ayo masuk ke dalam! Aku ingin milih mainan, nih!”

Dalam sekejap, Jinri baru menyadari keberadaan orang lain selain ia dan lelaki yang berdiri tegap di hadapannya itu. Adiknya mulai menarik-narik ujung kemeja lengan panjangnya, dua mata hazel itu perlahan berair karena menahan tangis, merengek ingin segera masuk ke dalam toko.

Ah, ya ampun, kenapa ia bisa lupa?

Setelah sempat melirik sebentar ke arah si lelaki yang tengah memasang tatapan kaget sekaligus penuh rasa ingin tahu, Jinri langsung memoles senyum di wajahnya dengan paksa. Berupaya semaksimal mungkin agar perkataan bernada getir miliknya tidak tertangkap oleh indera adiknya, “Adik masuk dulu ya, nanti Kakak menyusul. Puas-puasin aja lihat-lihatnya, ya.”

Sosok mungil itu mengangguk ragu, wajahnya menyembulkan secuil kekecewaan yang samar terlihat sebab kakak kesayangannya tidak ikut menemaninya memilih mainan seperti biasanya. Agak aneh menurutnya.

“Memang tidak apa-apa sendirian seperti itu? Anak kecil seperti dia?”

Lelaki itu kembali angkat bicara ketika bocah kecil yang sedari tadi berada di samping Jinri telah berlari masuk ke dalam toko, menghilang dari jangkauan pandangannya.

“Tidak apa. Adikku sudah kenal sama penjaga tokonya kok, kami sering belanja di sini.” Jawaban yang menembus sela-sela bibir Jinri itu tak bernada, dingin nan kaku. Laksana sepasang mata madunya yang terlihat kosong, menatap udara yang menjadi batas antara dirinya dan si lelaki. “Lagipula … ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu. Berdua saja.”

Alis tebal si lelaki terangkat, dan langsung tersentak halus tatkala mendapati si gadis tengah tersenyum padanya. Berubah drastis dari ekspresi dan aura yang terpancar sebelumnya. Sedikit aneh dan menjadi semacam bentuk intimidasi lain bagi si lelaki, entah mengapa. “Di café sebelah, oke?”

Seolah opsi yang tersedia hanya ‘menggangguk’ dan ‘ya’, jadilah si lelaki hanya mengangguk, kaku juga.

Tidak bertemu setelah sekian lama tidak membuat seseorang lantas memiliki banyak stok untuk ditanyakan, malahan perasaan canggung yang menerjang hebat dan berhasil melumpuhkan lah yang lebih tepat. Tidak peduli sudah berapa kali penyanyi café berambut violet cerah itu usai melantunkan bait-bait lagunya, entah sudah berapa lama juga langit-langit hidung Jinri mencium bebauan sedap yang bermuara dari dapur ke tempatnya berada sekarang. Toh ia hanya diam, menunggu sampai si lelaki itu berbicara duluan. Toh, ia juga bukan seorang yang kecanduan dengan prinsip ‘Ladies first’.

“Kamu, gimana kabar? Sudah hampir tiga tahun tidak bertemu.”

Akhirnya sosok itu berujar juga. Jinri mengangkat wajahnya dari segelas lemon segar yang ia pesan, menatap sebongkah manusia yang duduk di hadapannya. Dicermatinya lekuk-lekuk itu dengan lekat, nyaris tanpa berkedip saking seriusnya. Wajah itu banyak berubah dibanding tiga tahun lalu, sorot matanya bersinar cerdas, dia berucap dengan canggung, juga alisnya yang menebal dan rambutnya yang disemir warna pirang terang. Mungkinkah karena pengaruh keadaan alam dan kondisi masyarakat yang berbeda di benua nun jauh di sana, tempat lelaki itu tinggal tiga tahun belakangan ini? Tubuhnya juga semakin tinggi, cocok dengan gelarnya dulu sebagai kapten tim basket di sekolah. Sejauh itulah sosok itu berubah, nampaknya.

Tapi caranya memanggil tetaplah sama. Khas dia.

“Seperti yang kamu lihat. Aku baik.” Lagi-lagi Jinri menyunggingkan senyum tipis di wajahnya, ia membenarkan anak rambutnya yang tersibak karena tertiup angin nakal yang tiba-tiba berhembus lalu bergumam lirih, “Luhan juga baik-baik saja. Tidak kurang satupun.”

Kedua mata Hazel itu membulat. “Lu … Luhan?” tanya si lelaki bercampur heran yang ketara. Siapa Luhan? Otaknya lantas berpikir ulang, mencari-cari nama ‘Luhan’ dalam kamus hidupnya, menyisakan kerutan dalam di dahi mulusnya. Namun hasilnya bak mencari jarum kecil di tumpukan berton-ton jerami. Mustahil ditemukan, sebab si lelaki sendiri merasa tidak pernah mengenal seseorang bernama Luhan. Tapi mengapa gadis itu mengatakannya dengan nada bicara seolah-olah Luhan adalah seseorang yang harusnya ia kenal?

Jinri membalas dengan tatapan remeh, lirikan matanya lagi-lagi sarat intimidasi, seolah si lelaki barusaja menanyakan hal paling bodoh di dunia yang sudah jelas jawabannya.

“Ya, Luhan. Anakmu. Ah, bukan, maksudku … anak kita.”

Suaranya nyaris seperti bisikan. Lemah pula. Hampir semua orang berasumsi bahwa sesuatu yang kuat dapat membuat orang terdiam, tegang lagi ketakutan. Tapi di momen seperti sekarang, bisikan jadi selayaknya serentetan tusukan, yang membabi buta dan sukses membuat seorang lelaki berwajah rupawan itu terkesiap. Hatinya seperti tersengat sesuatu yang meninggalkan bekas berupa rasa ngilu yang menjalar ke seluruh tubuh, mampu melumpuhkan.

A .. Apa katanya? Ia sedang salah dengar ‘kan?  

“Kamu kaget?” Kelumpuhan mendadak orang di hadapannya membuat Jinri ambil suara, “Kaget ya, Yifan sayang?”

Lelaki itu—Yifan namanya—tidak pernah tahu sejak kapan suara Jinri menjadi begini dingin dan menakutkan baginya, auranya menusuk. Tiga tahun berlalu dengan cepat, merubah segala karakteristik Jinri juga sebegitu cepat. Gambaran gadis manis yang ceria dan ramah telah raib seutuhnya, tenggelam terlalu dalam pada diri Jinri. Setidaknya begitulah pemikiran Yifan yang tengah gemetaran kelewat hebat sekarang.

“Aku masih ingat. Semua jelas terekam dengan sangat rapi di otakku. Bagaimana cara kamu mengajakku kencan sepulang sekolah. Juga seragam sekolah yang sudah tidak lagi terlihat baru yang melekat di tubuh kita,” si gadis mengaduk cairan lemon itu dengan ujung sedotannya, lantas melanjutkan, “Kita bergandengan tangan, menyusuri sepanjang jalan selayaknya pasangan bodoh yang mau repot-repot berjalan sementara mobil mahal milikmu bertengger rapi di tempat parkir.”

Sekujur tubuh Yifan menegang, buku-buku jarinya tergenggam hebat, menyelipkan getar-getar takut di sela-selanya. Benarlah, lelaki itu jadi ingin tuli mendadak sekarang.

“Mesin waktu berputar, dan ketika aku terjaga di pelukanmu tanpa memakai sehelai benang pun. Aku baru tersadar, bahwa ada hal bodoh yang baru saja terjadi.” Jinri menarik sudut bibirnya, kali ini senyumnya terlihat sedih. “Hal bodoh yang sayangnya begitu menyenangkan dan memabukkan. Tatkala kulit kita saling bersentuhan, aku merasa sempurna, alih-alih aku merasa yakin tidak akan menyesalinya nanti.

“Ya, seandainya kamu tidak pergi.”

Pelipis Yifan berdenyut sakit, lelaki itu memejamkan matanya, menyembunyikan sepasang Hazel indah yang memesona itu. Ia mengangkat sebelah tangannya demi mengusap permukaan wajahnya, punggungnya yang tegak kini melemah dan membuatnya harus menyandarkannya sempurna di sandaran kursi. Semuanya terlalu tiba-tiba dan ia belum siap untuk itu.

“Bak seorang.”

Yifan membuka matanya, dan sosok itu lagi-lagi—untuk kesekian kalinya—melempar senyum padanya, yang sungguh berbeda dari detik-detik yang lalu. Satu dari sekian banyak jenis senyuman yang pernah ia dapat sebelum ini, hanya milik si gadis yang paling ia suka. Seperti itu, sebuah senyum sederhana. Tapi sederhana yang memabukkan.

Kenapa?

“Aku tahu, pasti hinggap perasaan aneh ketika kau melihat adikku ‘kan? Seperti melihat seseorang, seperti melihat … refleksimu di depan cermin, bukan?” Senyum itu masih berlanjut kala Jinri melanjutkan kalimatnya yang menggantung. Diikuti oleh sorot mata penuh tanya yang disodorkan Yifan, sorot mata yang hanya mengiyakan dalam diam.

Ah, benar juga. Pantas saja.

“Bentuk wajah kalian nyaris sama, terutama iris Hazel itu. Luhan memilikinya. Dia mewarisi gen ayahnya yang tampan.” Jinri tertawa, tapi tidak dengan Yifan. Lelaki itu terlalu sibuk dengan problema pahit kini yang melanglang buana di otaknya. Membiarkan si gadis mendominasi percakapan mereka, soalnya ia tidak tahu mesti berkata apa.

“Aku tidak minta apa-apa. Aku tidak akan jadi beban untukmu. Aku tidak akan merenggut kebahagiaanmu.” Jinri melirik cincin perak yang berkilau terkena lampu café dan melingkar indah di jemari kurus Yifan dengan tatapan pedih. “Aku cuma ingin kamu tahu kalau di sini—di Seoul, ada bagian kecil dari dirimu. Ada Luhan.”

Yifan mengutuk dirinya sendiri saat menyadari bola mata madu milik Jinri berair. Tanpa ada sepatah katapun, gadis itu tiba-tiba beranjak, menarik tas tangannya yang tergeletak di kursi lalu melempar senyum pada lelaki di hadapannya. “Aku pergi dulu, ya. Semoga kalau kita ketemu lagi nanti, kamu sedang bersama adiknya Luhan.”

Tidak tahu sudah yang keberapa kalinya, kata-kata sanggup menusuk hati hingga sebegitu dalam. Harusnya orang tidak butuh pisau untuk membunuh orang lain, karena hanya dengan kata-kata saja, seseorang bisa merasa mati. Selayaknya Yifan.

“Kenapa harus jadi kakaknya, kenapa kamu tidak jadi ibunya? Kenapa tidak bilang yang sebenarnya?”

Pertanyaan Yifan menghentikan niatan Jinri yang baru berniat merajut langkah menjauh, ia berbalik lagi dan mendapati si lelaki enggan menatapnya. Ia mendengus lirih, “Karena itu lebih mudah buat aku.”

“Bagaimana kalau dia tanya soal orang tuanya?” Kali ini Yifan mengangkat wajah dan menatap Jinri tepat di mata, sedikit intens.

“Kedua orangtuanya lama sudah meninggal.” balas Jinri dengan entengnya seraya menyunggingkan senyum terbaiknya. Yifan melebarkan matanya heran. “Karena aku sudah lama mati, Yifan.” Tambah Jinri yang sukses menyembulkan percikan kaget di muka Yifan, lagi.

“Jadi, aku tidak berbohong pada Luhan.”

“Kakak baru menangis yah?”

Jinri tersentak dari lamunan lalu menoleh cepat kepada bocah yang berjalan di sampingnya, alis si bocah terpaut ingin tahu. Di tangannya, ia menggenggam seperangkat mobil-mobilan yang masih berbau barang baru.

“Ah, tidak. Cuma kelilipan, kok.”

“Terus laki-laki tadi siapa, Kak?” tanya Luhan—nama si bocah—lagi, seketika mengalihkan pembicaraan. Berhasil membuat langkah Jinri berhenti. Butuh waktu agak lama baginya untuk membentuk kendali diri hingga akhirnya tersenyum palsu sekali lagi, “Cuma teman SMA kakak, kok. Kamu kenapa sih kepingin tahu saja!” Jinri menjawil gemas pipi tembam milik adiknya, sedikit berharap rasa sakit yang nantinya ditimbulkan akan membuat Luhan mengaduh kesakitan dan berhenti bertanya.

Tapi sepertinya sia-sia.

“Kok aku seperti pernah lihat laki-laki itu ya, Kak? Tapi di mana?” Luhan bergumam dengan polosnya, tidak memahami kondisi Jinri yang tengah bersusah payah menahan telaga di matanya agar tidak jatuh. Tanpa aba-aba, Jinri duduk berjongkok dan memeluk tubuh mungil milik Luhan. Mendekapnya begitu erat seolah tidak ingin melepasnya lagi. Titik di sudut matanya perlahan turun, enggan lagi tertahan di pelupuk mata.

“Kamu memang pernah ketemu dia kok. Di dalam cermin, iya kan?”

____FIN____

RCL, dear :D

Numpang promosi yaaa

Baca FF-ku yang INI yaaa

U | fhayfransiska | Mystery, Friendship | G

Wu Yifan, Do Kyungsoo, Bang Minah

U for Unknown

Summary : Semenjak lumpuh, Yifan tidak bisa lagi bermain basket. ia hanya duduk di atas kursi roda dan menatap nanar ke arah ring basket. ia putus asa. sampai akhirnya, seorang pemuda mungil bernama Kyungsoo hadir di depannya, ia memiliki segala yang tidak bisa Yifan miliki. Basket.

Tapi Kyungsoo juga punya rahasia yang membuat Yifan penasaran. tentang lily putih, dan gadis berambut cokelat. dua hal yang membuat Yifan menyadari di mana posisinya sekarang.

Mau baca? BACA DI SINI YAAAA

25 responses to “Mirror

  1. Parah parah parah ceritanya pendek tapi jleb banget ke hati xD terharu haduh~hiks/nangis bareng wufan/ keknya kalau ada sequel sekitar 2 atau 3 bisa kayanya yah soalnya banyak cerita yg gantung dari masalalu wufan sama jinri, kemana wufan pergi, proses mendidik Luhan, dan setelah pertemuan wufan dgn jinri di cafe keknya seru deh sequelnya cukup 3 tapi 1 kudu panjang hahaha xD /maksa/ udah ngelantur aku ._.

  2. Sdh crtanyaa!! knp Yifan msti ninggalin Jinri?! TT_TT

    Tp sukaaaa sama Luhan!! Psti dia lucuuu bgt deh jd bocahh!! >_<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s