THE PORTAL [ Part 13 : It’s Time To… ]

The Portal new

Title :

The Portal

 

Author : Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast :

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Good Witch

– INFINITE’s Kim Myungsoo / L as the Bad Witch

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy

 

Other Casts :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon as the most mysterious witch in Junghwa

– SNSD’s Kim Taeyeon as L’s Mother & Hyoyeon’s sister (good side : as Kim Haeyeon, Junghwa’s Headmaster)

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince in another Kingdom

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– Girl’s Day’s Bang Minah as Hoya’s partner

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– A Pink’s Park Chorong as Myungsoo’s best friend & Woohyun’s Girlfriend

– INFINITE’s Lee Sungyeol as Myungsoo’s best friend

 

Rating : PG15 – NC17

Type : Chaptered

 

Before Story :

Situasi semakin mendekati hari dimana suatu saat segala sesuatu yang tersembunyi akan segera terungkap.

Setelah memastikan bahwa Naeun lebih mempercayainya, L unjuk identitas di depan Eunji dengan cara tak manusiawi yang membuat Howon murka dan langsung memusuhinya. Status penyihir dan pengawal yang awalnya berbentuk persahabatan kini tak ada lagi karena Eunji yang merupakan segalanya bagi Howon telah menerima perlakuan tak pantas dari L.

Ketakutannya dimusuhi lagi oleh Naeun membuat Eunji memilih diam setelah tahu siapa Myungsoo yang selama ini ia kenal. Terlebih saat ini Naeun sedang hamil, Eunji tak ingin janin yang dikandung sahabatnya itu mati jika Naeun depresi setelah tahu tentang L. Untuk saat ini, Eunji membiarkan dirinya tenggelam dalam berbagai masalah yang berhubungan dengan identitas, terutama keterkejutannya akan kemunculan singkat Yookyung di depan matanya dan menyebut nama aslinya.

Seakan ingin melupakan semua kejadian pahit yang belakangan ini ia alami, Eunji mulai membuka perasaannya terhadap Hoya, lelaki artis yang notabene belum ia ketahui wajahnya karena radiasi, kacamata, dan masker yang membatasi penglihatannya.

Hanya dengan bermodalkan pulsa ponsel Bomi, Eunji rutin bertukar kabar dengan sang artis. Namun hal tersebut tak berlangsung lama setelah ia menduga bahwa Hoya telah bersama Minah, terutama sejak kemunculan mereka sebagai pasangan –yang sesungguhnya hanyalah ‘settingan’ pihak Seoul Dance Competition-.

Tak ingin sakit hati untuk yang kedua kalinya, Eunji mencoba tak peduli pada Hoya. Hal tersebut membuat Hoya tak bisa tinggal diam karena tak ingin melepas kesempatannya mendekati sang putri. Ditengah kesibukannya karena tiga minggu lagi tampil di babak final dengan Minah sebagai kompetitornya, Hoya keluar dan menemui Eunji, menghabiskan waktu singkat berdua di lapangan sepakbola sekaligus tak sengaja mengenang masa lalu mereka meski sampai saat ini mereka belum menyadari satu sama lain.

Tujuan Hoya hanya satu, ia ingin menampakkan diri dengan cara yang tak biasa. Di akhir pertemuannya dengan Eunji, ia memberikan satu tiket final untuk gadis itu, yang artinya ia ingin sang putri menyaksikan pengawalnya tampil di atas panggung, menari dan dielukan banyak orang namun tetap melihat kepadanya.

Namun apakah Hoya tak memikirkan bahwa ia akan lebih banyak bersama Minah? Terlebih jika ia tahu bahwa Minah mulai menaruh perasaan khusus untuknya.

*

Jembatan penghubung dunia nyata dan negeri Junghwa sepertinya sudah terbuka sejak kemunculan Hong Yookyung. Seakan tahu bahwa tak lama lagi L dan (mungkin) Hoya akan segera mengungkapkan identitas asli serta tujuan utama mereka, Yookyung dengan segala kemisteriusannya membuat L dan Taeyeon ribuan kali memutar otak untuk mengetahui siapa gerangan dirinya sebenarnya.

Yookyung berbuat banyak selama ia di Korea. Setelah mengajak ‘tiga sahabat’ makan malam bersamanya, Naeun tak luput dari tujuan misteriusnya. Sebagai anak dari dokter Hong (dokter yang menangani penyakit Woohyun), Yookyung berkenalan dengan Naeun dan memberikan gadis itu dua benda yang membuat Naeun penasaran dan sedikit merasa curiga.

Kecurigaan Naeun sedikit terjawab ketika ia mengamati cairan pemberian Yookyung yang ternyata adalah sebuah ramuan misterius yang tak ada dalam kamus sihirnya. Entah apa yang ingin Naeun lakukan untuk mengetahui efeknya, gadis itu meminta pelayan rumahnya untuk membelikannya dua ekor kelinci.

Namun sayangnya Naeun belum sempat melaksanakan eksperimennya, Yookyung mengajak ‘tiga sahabat’ untuk mengunjungi villanya bersama pasangan masing-masing, yang artinya ia harus ikut karena ia adalah kekasih dari Myungsoo. Dengan membuang rasa curiganya, Naeun ikut berangkat menuju villa milik keluarga Yookyung bersama Myungsoo, Chorong, Sungyeol, Yookyung, dan kakak angkatnya, Nam Woohyun, yang sebenarnya masih sakit namun tak ingin membuat Chorong kesepian.

Kecurigaan terhadap ‘villa Yookyung’ tak begitu kuat dalam diri Naeun, namun justru dalam diri Myungsoo. Karena merasa penasaran, Myungsoo menerima ajakan Yookyung setelah menerima begitu banyak nasihat dan peringatan dari Taeyeon karena sang ibu berfirasat buruk tentang villa tersebut.

Dan firasat Taeyeon terjawab, villa tersebut memang mimpi buruk bagi Myungsoo.

Tentu, karena ‘villa’ tersebut rupanya ada di negeri Junghwa. Tanpa disadari, Myungsoo telah membawa dirinya dan Naeun masuk ke dalam sana.

Apa yang akan terjadi selanjutnya? Akankah mereka kembali?

 

Selengkapnya :

Part 1 : I Hate My Life

Part 2 : Big Decision

Part 3A : I Will Find You | 3B : You Will Find Me

Part 4 : Another Me

Part 5 : Over Protective?

Part 6 : Faithfulness

Part 7 : Something New

Part 8 : The Hidden Truths

Part 9 : Unpredictable

Part 10 : The Scandals

Part 11 : Reality

Part 12 : True Love

 

Sorry for late update. Hope you love this part ! ^^

*

Author POV

 

“ Ini gila! bagaimana kalau sudah begini?”

Berkali-kali L membenturkan kepalanya pada setir mobil, masih tak berani turun meski telah sampai di halaman ‘villa’ Yookyung, bangunan yang tak pernah ia lihat sebelumnya selama ia masih tinggal di negeri Junghwa.

Mengapa lelaki itu tidak turun dan membiarkan dirinya bertahan di dalam mobil bersama Naeun yang masih lelap? Jawabannya tak hanya takut, ia juga tak mungkin tampil di depan Chorong, Woohyun, dan Sungyeol dengan penampilan aslinya sekarang, sama halnya dengan Naeun.

Ya, menginjak kembali negeri Junghwa membuat sepasang penyihir ini kembali pada penampilan asli mereka secara mendadak. Pakaian kasual pink Naeun berubah menjadi jubah hitam lengkap dengan topi penyihir yang biasa digunakan Son Yeoshin, dan kemeja putih serta celana jeans model sobek yang dikenakan L berubah warna menjadi hitam. Bahkan tak hanya itu, dua tato berbentuk akar tanaman di dada dan lehernya pun muncul tanpa bisa dihilangkan meski saat ini sedang tidak ada bulan purnama.

Dengan terpaksa, L membuka kopernya yang ada di jok belakang, mencari pakaian ganti. Namun apa yang ia lihat? Baik kopernya dan koper Naeun, semua pakaian yang ada di dalam sana berubah warna menjadi hitam. Ya, mungkin karena takdir mereka sebagai penyihir yang selalu melekat pada kegelapan. Di dunia nyata mereka bisa menyembunyikannya, tetapi lain halnya jika mereka sudah berada di dunia mereka sendiri.

“…Hong Yookyung, aku tak akan memaafkanmu. Lihat saja, kau mati disini.”

L mendengus kesal dan terpaksa keluar dari mobil karena Chorong terus melambai ke arah mobilnya yang masih terdiam di bawah pohon. Dengan cepat lelaki itu melepas topi penyihir Naeun agar identitas mereka tak begitu nampak, setelah itu mengangkat tubuh gadis yang masih terlelap itu dengan bridal style untuk menutupi tatonya dengan cara mengalungkan tangan Naeun di lehernya dan menyandarkan kepala Naeun di dadanya.

Yah, untung saja L masih bisa berpikir agak cerdas di saat gawat seperti ini.

“ Wah, besar sekali villanya. Aku baru tahu ada tempat seperti ini di Korea.” Chorong berkomentar, Woohyun dan Sungyeol mengiyakan.

“ Setelah meletakkan koper di kamar, kita makan malam bersama. Arasseo?” Yookyung kelihatan begitu bersemangat dan membagikan kunci kamar pada Sungyeol, Woohyun, dan Chorong.

“ Ne. Oh iya mana Myungsoo?”tanya Woohyun, tentu karena adiknya bersama lelaki itu.

“ Itu..”Chorong menunjuk Myungsoo yang berjalan mendekat sembari mengangkat Naeun yang tertidur pulas.

“ Kapan mereka ganti pakaian?”Sungyeol mendadak curiga, dan Yookyung tersenyum mendengarnya.

“ Mungkin mereka habis menghadiri upacara pemakaman.”canda Yookyung sembari tertawa puas karena ia yakin Myungsoo panik saat menyadari perubahan penampilannya.

“ Tidak mungkin. Apa iya mereka ganti pakaian di mobil?”perasaan Chorong tak enak, dan hal itu membuat Woohyun jadi ikut-ikutan curiga pada sepasang kekasih berbaju hitam itu.

“ Maaf terlambat, ada yang kami kerjakan di mobil saat masih di jalan.”Myungsoo datang dan memberi penjelasan seadanya, namun tanpa diduga membuat Woohyun mulai emosi dan berpikiran buruk.

“ Aku tahu apa yang kalian kerjakan. Aku tahu kenapa kalian tertinggal jauh di belakang kami.”ucap Woohyun dengan emosi tertahan.

“ Maksudmu?”

“ Naeun tidur dan wajahnya kelihatan lelah sekarang, dan kalian berganti pakaian. Semua orang pasti bisa menebak apa yang sudah kalian kerjakan.”

Chorong dan Sungyeol langsung saling tatap karena terkejut dengan Woohyun yang tiba-tiba menuduh Myungsoo. Yookyung tersenyum melihat wajah tampan penyihir nomor dua yang sudah berkeringat dingin itu.

Woohyun mendekat dan menatap Myungsoo tajam.

“ Katakan padaku, kalian melakukan itu di mobil?”

Myungsoo terperanjat, tak terima dituduh demikian. Meski ia dan Naeun pernah melakukannya, bukan berarti ia tak bisa menahan dirinya sampai harus melakukannya di mobil, baginya itu adalah hal yang konyol. Namun jika ia mau berkilah, mau tak mau ia harus menjelaskan yang sebenarnya, yang lebih gawat dari sekedar bercinta di dalam mobil.

“ Kau ini bicara apa, Nam Woohyun? Myungsoo yang kukenal adalah lelaki baik-baik, ia tak mungkin melakukan hal seperti itu sebelum menikah. Iya kan?”ucap Yookyung memecah keheningan.

“ Naeun sudah banyak merubahnya.”sela Chorong, yang ingin mendengar jawaban Myungsoo. Sedangkan Sungyeol mencoba menerka dalam kepalanya apa yang sebenarnya terjadi.

“ Untuk apa kalian mengurusi kami? Yang jelas Naeun baik-baik saja, aku jamin itu. Apapun yang kulakukan padanya tidak akan membuatnya celaka. Aku memperlakukan orang yang aku cintai dengan sangat baik dan hati-hati.” Myungsoo menjawabnya dengan ‘gantung’ karena tak berani berbohong dengan mengatakan mereka melakukan hal seperti itu di dalam mobil, ia tak mau Woohyun mengajaknya berkelahi di tempat ini karena kalau begitu Yookyung akan semakin menertawakannya.

“ Aku pegang ucapanmu, Kim Myungsoo. Aku masih percaya kau adalah Myungsoo yang baik hati, kesayangan kepala sekolah. Jika terjadi sesuatu yang buruk pada Naeun, kau akan lebih duluan mati daripada aku.”ancam Woohyun.

Sebagai Kim Myungsoo yang memang harus baik hati, penyihir L terpaksa mengangguk saja dengan wajah penuh kesabaran, membuat Yookyung memuji aktingnya dalam hati.

“ Sudah..sudah.. kita disini untuk bersenang-senang, jangan meributkan sesuatu yang belum tentu terjadi.”Yookyung menengahi dan langsung mengajak mereka masuk. Woohyun dan Sungyeol segera menggiring koper mereka.

“ Aku juga percaya padamu. Kalian tidak mungkin melakukannya.”sebelum masuk, Chorong menepuk bahu Myungsoo sejenak dan tersenyum getir.

Sebelum bernafas lega, Myungsoo kembali tegang karena ada lagi yang menepuk bahunya, Hong Yookyung.

“ Ini kunci kamarmu dan Naeun. Sebenarnya kalian bisa tidur satu kamar, tapi kalian harus menghormati yang belum menikah.”

Myungsoo terkejut, sebelum ia bertanya apa maksudnya, Yookyung sudah keburu masuk dengan tawa sinis yang didengar olehnya.

 

“ Aku akan segera menghentikan permainanmu, Hong Yookyung.”

*****

 

“ Aku baru tahu mentor kita sekejam ini. kau baik-baik saja kan?”

Hoya menoleh ketika mendengar suara Minah di belakangnya, terlihat gadis itu berdiri dan bersandar di ambang pintu toilet hotel sambil tersenyum geli memperhatikannya.

“ Sejak kapan kau berdiri disitu?”

Minah tertawa kecil dan masuk ke dalam toilet lalu duduk di atas wastafel, setelah itu melanjutkan kegiatannya menyaksikan Hoya yang masih membersihkan lantai toilet wanita tempat mereka berada sekarang.

“ Memangnya kau kemana tadi sore? Mentor Lee marah sekali karena kau pergi tanpa izin.”tanya Minah heran.

Hoya tersenyum, mengingat waktu sore yang baru saja ia habiskan bersama Eunji di lapangan sepakbola, hukuman dari mentor karena telah pergi tanpa izin terasa ringan saja baginya, karena dihukum setidaknya lebih baik daripada tidak bertemu Eunji sama sekali.

“ Ada urusan pribadi.”jawab Hoya singkat dan tetap fokus pada gagang pelnya.

“ Penting?”

“ Lebih dari apapun yang penting di dunia ini.”

“ Hmm..terdengar mencurigakan.”

Hoya tertawa kecil, “ Sudahlah, kau tidak perlu tahu. Tidur sana.”

“ Aku tidak bisa tidur.”

“ Kenapa? Karena baru pertama kalinya tidur di hotel?”

“ Mungkin itu salah satunya. Tapi.. ada alasan lain.”

“ Apa?”

“ Aku tidak bisa berhenti tertawa membayangkan seorang superstar membersihkan toilet wanita. Hahahaha!”

“ YA! Jadi kau datang kesini untuk menghinaku? Rasakan ini!” Hoya langsung mengambil selang dari salah satu toilet dan menyemprot Minah.

“ Yaaa!!! Apa-apaan kau!? Hiiih!” Minah protes dan tak mau kalah, ia berdiri dan ikut mengambil selang dari salah satu toilet kemudian balas menyemprot Hoya.

“ Heh! Cari masalah rupanya.. rasakan ini!!” Hoya menghadapinya dan kembali membalas semprotan Minah.

“ Ayo lawan aku! Hahaha!”

Tak mau kalah, Minah juga membalas Hoya hingga ‘tembak-tembakan’ air tak dapat terelakkan. Dengan semprotan yang cukup kencang dari selang mereka masing-masing, lantai toilet yang tadinya sudah dikeringkan oleh Hoya kini tergenang air lagi. Namun seakan lupa dengan kewajiban dari mentornya untuk membersihkan toilet, Hoya justru menikmati ‘perang’nya dengan Minah hingga keduanya basah kuyup.

*

“ Heii! Ini akan jadi berita besar!!!”

“ Apa?? Apa?”para penjaga ruang CCTV Seoul Hotel malam itu berbondong-bondong menghampiri salah satu dari mereka untuk melihat rekaman CCTV yang terpampang di depannya.

“ Bukankah itu Hoya dan Minah? Sedang apa mereka?”

“ Mereka menghabiskan air tengah malam begini hanya untuk bermain?”

“ Bukan itu masalahnya! Lihat, kukira mereka hanya pasangan di depan kamera saja!”

“ Apa mereka benar berpacaran?”

“ Publik harus tahu!”

“ Dan untuk mengetahuinya, pihak televisi harus membayar mahal.”

***

“ Hei hei hei! Sudah..! gara-gara kau aku jadi berhenti kerja!”Hoya mematikan selangnya dan ingin melanjutkan pekerjaannya.

“ Hahaha! Kau duluan yang memulai!”Minah tertawa dan ikut mengambil pel di belakang pintu, “…ya sudah, aku bantu.”

“ Ne. gantikan aku sebentar, aku mau ganti pakaian. Aku tidak betah pakai kaos basah.”

“ YA! Enak saja, aku saja tidak ganti.”

“ Ya sudah, kita ganti. Nanti kembali lagi kesini.”

“ Shireo, aku malas bolak-balik.”

“ Aigooo.. jadi mengapa kau melarangku?”

“ Aku takut sendirian disini. Kau tidak usah ganti pakaian, lepas saja kaos basahmu itu kalau tidak betah.”

Mata Hoya langsung memicing, “ Sedang mencoba memancingku, heh?”

“ Kalau iya kenapa?”jawab Minah terang-terangan, “…kalau kau tidak berani buka berarti badanmu jelek.”

“ Enak saja, badanku sangat bagus.”

“ Oh ya? Sebagus apa?”

“ Sebagus.. pengawal kerajaan.”

“ Mengapa kau menyamakan dirimu dengan pengawal kerajaan? Kau sering membaca dongeng ya? Hahahaha.”

“  Kalau aku sendiri yang ada dalam dongeng tersebut, apa kau percaya?”

“ Maksudmu?”

Hoya tersenyum misterius.

 

“ Kalahkan aku di babak final kompetisi ini dan aku akan menceritakan dongeng itu padamu.”

*****

 

“ Menurutmu bagaimana villaku, Chorongie?”tanya Yookyung pada Chorong yang sejak tadi diam seribu bahasa dan sibuk mengacak-acak makanan yang ada diatas piringnya.

“ Hmm.. kelihatannya lingkungannya sepi. Apa benar begitu?”jawab Chorong seraya bertanya balik.

“ Sangat sepi, tempat ini seperti kota mati. Makanya aku membeli villa disini untuk mendapatkan ketenangan.”jawab Yookyung santai.

“ Jadi.. tidak ada orang di tempat ini?”

Yookyung mengangguk, “ Selama berada disini, anggap saja tempat ini milik kalian.”

 

“ Kurasa aku akan segera tahu..”

L mengeratkan pegangannya pada balkon villa, masih menunduk mengawasi keempat remaja yang sedang makan bersama di lantai bawah. Mata elangnya terus menatap tajam kearah makanan yang dihidangkan oleh Yookyung sembari membaca mantra-mantra panjang untuk mengetahui ramuan apakah yang sudah disuntikkan pada makanan tersebut.

“ Yookyung membutakan mata mereka agar tidak melihat penduduk negeri ini? perempuan gila. Untung aku tidak ikut makan.”

Penyihir tampan itu berbalik sebelum dilihat oleh yang diawasinya, melanjutkan perjalanannya menyusuri villa besar Yookyung yang ukurannya mungkin setengah dari istana negeri Junghwa. Mengapa ia tak pernah tahu ada bangunan sebesar ini di negerinya?

Apa mungkin.. bangunan ini baru saja dibuat oleh penyihir dalam waktu singkat?

L mencoba menepis dugaannya yang sebenarnya memang sangat masuk akal. Namun ia tak mau berpikir demikian karena ia tahu penyihir yang mampu membuat bangunan besar dalam waktu singkat hanyalah penyihir-penyihir yang memiliki tato tanda kehebatan di tubuhnya.

Dari kelima penyihir negeri Junghwa yang memiliki tato tanda kehebatan, siapa gerangan yang kira-kira membuat tempat sebesar ini?

“ Penyihir nomor lima, ayahku.. mana mungkin dia, dia sudah lama meninggal.”

“…penyihir nomor empat, Taeyeon, ibuku. Dia ada di dunia nyata sekarang, dan ia tak pernah bercerita bahwa ia membangun tempat sebesar ini. mustahil jika ia yang membuatnya.”

“…penyihir nomor tiga, Madame Sunny. Dia tinggal di istana Junghwa yang lebih besar dan mewah. Jadi untuk apa ia membangun tempat ini? tidak. Pasti bukan dia.”

“…aku penyihir nomor dua yang hanya pernah membangun rumah masa depanku dengan Yeoshin saat pertandingan sihir, itupun bisa lenyap jika tak dihuni oleh perempuan.”

“…itu artinya..penyihir nomor satu.. tidak! Tidak mungkin!”

L buru-buru berhenti berpikir dan semakin mempercepat langkahnya, berharap menemukan petunjuk dari benda-benda aneh yang terpajang di sepanjang koridor villa.

DUG..DUG..DUG..

“ Hahaha!”

“ Siapa!?” L menghentikan langkahnya dan berbalik saat mendengar suara langkah kaki yang tengah berlari dan diiringi tawa mengejek yang begitu jelas di belakangnya.

Dug! Dug! Dug!

“ Hahahahahaha.. hahahaha..~”

Sekarang kembali terdengar di belakangnya. Permainan bodoh macam apa ini? L begitu membencinya. Jika ini pekerjaan Yookyung, L akan membunuh gadis itu secepatnya.

“ Jangan main-main denganku. Semua orang lebih memilih mati daripada berurusan denganku!” L mulai menggertak, namun suara tawa itu justru semakin keras.

“ Hahaha! Aku sudah mati, jadi aku bisa bermain denganmu. Penyihir tampan..”

Kini suara itu datang dengan nafas dingin di belakang telinga L, membuat lelaki itu untuk pertama kalinya merasakan sesuatu yang paling ia hindari.

Takut.

*

 

“ Boleh aku membantumu?”

Yookyung tersenyum tipis ketika Sungyeol balik kanan dan tak jadi ke kamar, cenayang itu menghampiri dirinya yang masih sibuk membereskan meja makan.

“ Terimakasih. Kurasa bukan ini maksudmu. Ada yang ingin kau bicarakan?”jawab Yookyung sembari tertawa kecil.

“ Wow, bagaimana kau tahu?”

“ Menjalin hubungan sekian lama denganmu membuatku seperti ini, bisa belajar membaca pikiran seseorang.”

“ Tapi aku tidak pernah transfer kekuatan padamu.”

“ Hahaha. Tidak perlu, aku memilikinya sendiri.”

“ Hah? Maksudmu?”

“ Jadi.. apa yang ingin kau bicarakan?”Yookyung mengalihkan pembicaraan sembari mengajak Sungyeol untuk membantunya mencuci piring dan gelas.

“ Aku bukan orang yang pandai berbasa-basi. Woohyun menitipkan pertanyaan padaku untukmu. Mengapa villamu ini kelihatan menyeramkan? Seperti rumah hantu katanya.”

“ Hahaha.. dia berkata begitu karena iri villa ini dibeli duluan olehku.”Yookyung menanggapinya dengan santai.

“ Haha.. kalau begitu kurasa ini urusan orang kaya saja.”

“ Ya. Kecuali kau juga beranggapan sama seperti Woohyun.”

“ Kalau iya, bagaimana?”

“ Itu berarti villaku ini memang menyeramkan. Lampunya memang kelihatan remang, banyak benda antik, terlalu sepi..”

“ Tahu begini kenapa tidak kau buat lebih terang dan mewah?”

“ Aku punya alasan mengapa aku lebih suka suasana seperti ini.”

“ Apa alasanmu?”

“ Kau ingin tahu?”

Sungyeol mengangguk, “ Karena selama kita bersama dulu, setahuku kau bukan orang yang suka dengan sesuatu yang menyeramkan.”

“ Kalau memang begitu, kenapa tidak curiga padaku? Aku tahu semenjak kita bertemu lagi kau sedikit merasa aneh padaku karena aku banyak berubah.”

“ Aku tidak bisa curiga.”

“ Kenapa?”

“ Mungkin karena aku terlalu merindukanmu.”

“ Kau tidak kelihatan seperti itu.”

“ Aku merindukanmu, hanya saja aku malu mengatakannya.”

Gadis itu tersenyum.

“ Ya. Yookyung juga merindukanmu, Lee Sungyeol.”

*

 

“ BRENGSEK!!! LEPASKAN AKU!! PERGI!!!!”

 

L berlari sekencang-kencangnya tanpa arah, tangannya terus berusaha menyingkirkan ‘sesuatu tak terlihat’ yang menempel di belakangnya. Bisa disebut hantu, karena sesuatu itu adalah jelmaan seseorang yang pernah mati di tangannya.

Kim Namjoo. Entah karena keinginannya sendiri atau diperintah ibu angkatnya, dengan sedemikian mengerikan gadis itu muncul dan mengajak L bermain sebagai ucapan selamat datangnya atas kehadiran penyihir jahat itu di negeri Junghwa. Permainannya sungguh sederhana, namun membuat L hampir mati, gadis itu hanya ingin berada di punggung sang penyihir entah sampai kapan. Meski L telah berlari sekencang-kencangnya, menyingkirkannya, bahkan membanting dirinya, Namjoo tak juga melepaskan dirinya dari punggung penyihir tampan itu.

“ L .. ayo kita bermain…! Kemarin kau sudah membunuhku, sekarang aku yang membunuhmu~”

“ TIDAK!!”

 

BYUR!!!

L menuruni tangga lain dan keluar dari villa melalui pintu belakang kemudian melompat ke dalam sebuah sungai yang ada disana, seketika itu juga Namjoo menghilang ditelan sungai tersebut. Membuat L merasa lega, namun juga basah kuyup.

“ SIAL!!! Tempat apa ini!? mengapa aku harus bertemu denganmu lagi!?”

*

“ Hei! Kau dengar itu? Suara Myungsoo.”Sungyeol terpaksa memotong pembicaraan seriusnya dengan Yookyung.

“ Kau yakin itu suara Myungsoo? Setahuku Myungsoo adalah lelaki berhati malaikat yang tidak pernah mengumpat.” Yookyung mencoba memancing dan pura-pura tak tahu.

“ Jangan samakan dia dengan Kim Myungsoo yang dulu.”

“ Maksudmu?”

“ Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi aku tahu yang sebenarnya.”

“ Kau bisa jujur padaku kalau kau mau.”

“ Percuma, kau tidak akan bisa mencari jalan keluarnya. Jalan keluar untuk menghentikan Myungsoo yang sekarang.”

“ Tapi..”

“ Aku tahu kau tidak mengerti arah pembicaraanku. Jadi, lupakan saja.”potong Sungyeol, membuat Yookyung merasa kasihan karena rupanya sampai saat ini Sungyeol masih saja memendam rahasianya tentang L dan belum juga memberitahu Chorong, Woohyun, atau Naeun. Mungkin karena takut dengan ancaman penyihir jahat itu.

“ Aku mengerti, bahkan lebih mengerti daripada kau. Kalau aku bisa mencari jalan keluarnya, apa yang akan kau lakukan?”

Sungyeol terkejut, dan Yookyung hanya tersenyum misterius setelah itu meninggalkan dapur.

“ Pikirkanlah dan lanjutkan pekerjaanku sebentar, aku mau mencari Myungsoo.”

*

 

“ Kerja bagus, anakku. Sekarang aku bisa melihat penyihir nomor dua menceburkan diri ke sungai tengah malam begini. Lumayan untuk hiburan, hahahahaha..”

L mengepalkan tangannya, berbalik dan mendapati Yookyung berdiri di depannya sembari tertawa puas. Penyihir itu tak terkejut disebut ‘nomor dua’ oleh Yookyung, karena sejak awal ia sudah menduga bahwa Yookyung bukanlah manusia biasa, katakanlah..penyihir.

Dan setelah mendengar bahwa Yookyung memanggil Namjoo sebagai anaknya, L mati-matian menahan rasa takutnya karena kini ia tahu bahwa seseorang yang lebih hebat darinya datang untuk menghancurkannya.

 

“ Kim Hyoyeon..”

“ Rupanya kita masih bermusuhan, kau sama sekali tidak sudi memanggilku dengan sebutan bibi.”

Melihat Hyoyeon yang nampak begitu santai seperti ini adalah hal yang paling L benci, tentu karena ia beranggapan bahwa orang didepannya ini sama sekali tak takut padanya. Memang sudah sepantasnya, karena gadis didepannya ini adalah satu-satunya penyihir yang bisa mengalahkannya.

Tapi mengapa ia bisa menduplikasi dirinya sedemikian mirip dengan Yookyung –mantan kekasih Sungyeol-? Apakah ini adalah salah satu dari sekian kehebatannya yang tak dimiliki oleh L? baiklah, hal ini membuat L semakin iri dan dengki pada bibinya sendiri.

“ Apa kabar, L? oh.. Kim Myungsoo. Kurasa kabarmu baik-baik saja, tapi mendadak buruk setelah sadar bahwa kau menginjak negeri ini lagi. Selamat datang, keponakanku..”

“ Apa maksud dari semua ini? apa maumu?”

Hyoyeon tertawa, “ Jangan pura-pura bodoh, Namjoo sudah memberimu peringatan.”

“ Kau ingin membunuhku?”

“ Tidak serta merta. Penyihir terjahat harus mati dengan cara yang sejahat-jahatnya. Namjoo akan senang karena tak lama lagi aku akan mengantarmu ke alamnya.”

Tidak. Seorang L tidak punya kata takut dalam kamus angkuhnya. Lelaki itu mencoba tertawa sinis, dengan sekujur tubuh yang sudah basah kuyup ia mendekati Hyoyeon dan berbisik dengan penuh kenekatan.

 

“ Anakmu tidak akan senang. Kapanpun kau mau, ayo kita bertarung, Kim Hyoyeon.”

“ Bertarung? Kau berharap untuk menang? Berhentilah bermimpi.”

*****

Monday Morning, 06.00 AM

 

“ Yoon Bomi, Jung Eunji…! Bisa kalian tolong saya?”

Bomi dan Eunji yang baru saja tiba di sekolah dan menggiring koper kecil mereka menuju asrama terpaksa menghentikan langkah mereka di koridor ketika guru Shim, wali kelas mereka memanggil.

“ Ada apa, ssaem?”tanya Bomi dibarengi anggukan Eunji.

“ Saya menerima banyak laporan dan keluhan dari guru-guru lain tentang teman sekelas kalian, Lee Jiwon. Dia sering bolos dan nilainya selalu buruk, bahkan seminggu terakhir ini dia hanya dua kali menampakkan diri di sekolah.”guru Shim membuka pembicaraan dengan mengeluh dulu sembari memperhatikan berkas-berkas Jiwon yang entah ingin dibawanya kemana

“ Memang, ssaem. Dia teman satu kamarku, dan dia memang sering pergi. Setiap kutanya, dia bilang dia pergi ke toko bunga.”jawab Bomi.

“ Dia bekerja disana?”

“ Katanya sih begitu.”

“ Kau tahu dimana toko bunganya?”

Bomi menggeleng, “ Jiwon sangat tertutup, dia jarang bercerita apapun padaku bahkan kadang-kadang kami bertengkar.”

“ Bagaimana denganmu, Eunji? Kau mengenal Jiwon dengan baik?”tanya guru Shim.

“ Tidak juga, ssaem. Hanya saja, dia selalu baik padaku.”

“ Jadi siapa yang bisa kumintai tolong?”

“ Memangnya ingin minta tolong apa, ssaem?”

“ Ini, tolong serahkan surat dari saya dengan berkas-berkas Lee Jiwon pada kepala sekolah, saya ingin memintanya untuk mengurus masalah Jiwon ini secara langsung. Saya harus pergi ke Jepang beberapa hari.”

“ Kubawakan kopermu ke asrama. Kau saja sana!” Bomi langsung mengambil alih koper Eunji kemudian pergi duluan, membuat guru Shin geleng-geleng kepala.

“ Kau saja ya, Eunji? ”guru Shim nampak memelas. Eunji terpaksa menerimanya dengan tangan gemetar. Tentu saja, karena masuk ke ruangan kepala sekolah kini menjadi hal yang menakutkan bagi Eunji, semenjak ia tahu bahwa sang kepala sekolah bukan lagi Kim Haeyeon, melainkan.. Kim Taeyeon.

*

“ Astaga, mengapa dia belum juga menghubungiku!?”

Pagi itu, Kim Taeyeon yang baru saja terbangun dari tidurnya mendadak resah karena tak ada panggilan masuk ataupun pesan singkat dari anaknya yang kemarin sudah berangkat ke villa Yookyung, perasaan wanita muda itu mulai tak enak dan berbagai pikiran buruk mulai menghampiri benaknya terlebih ketika ponsel L tak dapat dihubungi –tentu, karena di negeri Junghwa tidak ada yang namanya sinyal-.

Taeyeon bangkit dari tempat tidurnya dan menyusun beberapa kayu di tempat pembakaran yang ada di kamarnya, mencoba untuk berbicara pada L melalui api seperti yang biasa mereka lakukan dahulu saat masih tinggal di negeri Junghwa. Ya, berkomunikasi lewat api adalah cara pribadi keluarga penyihir Kim untuk berhubungan jarak jauh, meski sedikit sulit karena yang dihubungi harus mencari api yang mengeluarkan suara di sekitarnya.

 

“ L, anakku.. kau dengar aku?? Aku Taeyeon.. dekatilah api dan bicara denganku.”

 

Masih tak terdengar jawaban, mungkin Taeyeon harus lebih mengeraskan suaranya karena mungkin saja L sedang jauh dari api saat ini.

“ L ! Aku Taeyeon.. jawab aku.. apa kau baik-baik saja?? L! jangan buat aku khawatir..!”

 

“ Ada apa dengan L?”

Eunji yang berdiri dan mendengar perkataan Taeyeon di depan pintu bertanya-tanya, bukan maksudnya ingin menguping, ia hanya menyusul Taeyeon ke asrama guru sesuai saran penjaga sekolah karena saat ia mengunjungi ruangannya di sekolah, Taeyeon belum ada disana.

 

“ Halo, kakak. Lama tidak mendengar suaramu. Anakmu sedang bersamaku sekarang. Sudah sepantasnya kau merasa cemas..”­­­

Wajah Taeyeon memucat ketika mendengar suara seorang wanita keluar dari api yang menyala di depannya, sama halnya dengan Eunji. Ia tahu betul suara siapa yang didengarnya.

Suara Hyoyeon. Bagaimana bisa penyihir itu tahu Taeyeon menghubungi L? bukankah seharusnya yang mendengar suara Taeyeon hanyalah L? Oh..ya, peraturan seperti itu tidak berlaku bagi penyihir sehebat Hyoyeon.

“ Hyoyeon?? Kaukah itu?”tanya Taeyeon gemetar, dan sayup-sayup terdengar suara tawa dari apinya.

“ Siapa lagi adikmu kalau bukan aku?”

“ Apa yang kau lakukan dengan L!?”

“ Kau akan tahu setelah aku mengantarkan mayatnya padamu nanti, jadi harap bersabar, Kim Taeyeon.”

“ LEPASKAN ANAKKU! DIMANA DIA SEKARANG!?”Taeyeon langsung berteriak dan menangis karena tak tahan, namun Hyoyeon justru semakin tertawa dan lama kelamaan suaranya menghilang karena tak ingin lagi ditanya oleh Taeyeon.

Eunji tersentak mendengarnya, entah ingin berbahagia karena si penyihir jahat kini terancam oleh Hyoyeon atau ingin turut sedih melihat Taeyeon yang depresi mendadak setelah tahu bahwa Hyoyeon muncul dan ingin membunuh anaknya.

“…LEPASKAN L!!! JANGAN SAKITI DIA!! Kumohon..~ anakku..” Taeyeon berlutut di depan api yang masih menyala dan menangis sejadi-jadinya sembari memukul-mukul apinya hingga tangannya terbakar, Eunji terkejut dan refleks membuka pintunya untuk menyelamatkan Taeyeon meski tindakannya ini terbilang nekat.

“ Tanganmu terbakar!! Menjauhlah!!” Eunji buru-buru menarik tubuh mungil Taeyeon dan memadamkan api yang menyala di tangan penyihir itu dengan memukul-mukulnya dan menyiramnya dengan air minum yang ia bawa di tasnya.

Taeyeon masih menangis dan tak peduli dengan tangannya yang melepuh, mulutnya terus menyebut nama L, membuat Eunji jadi tak tega menertawai L yang kini pasti sedang menderita di tangan Hyoyeon –meski Eunji tak tahu bagaimana bisa L bertemu lagi dengan penyihir itu-.

“ Apa yang harus kulakukan.. dimana mereka? Aku tidak tahu..”tangis Taeyeon, tangannya meraih tongkat sihir yang ada di dalam laci kemudian mengetukkan benda mungil itu beberapa kali di telapak tangannya, mencoba meramal.

“…kenapa tidak bisa!? Seharusnya bisa!! Aku tidak pernah gagal!” Taeyeon semakin depresi dan semakin keras mengetuk tongkatnya hingga tangannya kembali terluka. Eunji hanya bisa menyaksikannya dengan tatapan miris, dari sini ia tahu betapa sayangnya Taeyeon pada L, tentu karena penyihir jahat itu adalah anak semata wayangnya.

“ Kau gagal meramalnya mungkin karena..L sedang tidak ada di dunia ini?”tanya Eunji pelan karena masih ragu, namun Taeyeon mendengarnya. Wanita muda itu mengangkat wajahnya yang sudah berlumuran airmata, menyadari bahwa gadis yang sejak tadi berdiri didekatnya adalah gadis yang paling dihormati di negerinya.

“ Putri Hyerim..~ kau..kau benar.”ucap Taeyeon gemetar, “…kekuatan ramalku tidak mampu menembus dimensi lain. L ada di luar dunia nyata.. kau benar.. apa yang harus kulakukan?”

Airmata Taeyeon menitik lagi dan kali ini Eunji memeluknya. Ingin bertanya bagaimana L bisa menghilang, ia takut Taeyeon semakin depresi. Apa ia harus tanyakan ini semua pada Naeun? Tetapi hari ini ia sama sekali belum bertemu dengan sahabatnya itu, membuatnya berpikir apakah Naeun juga ikut dengan L?

“ Jangan panik dulu, Madame Taeyeon..”Eunji mencoba menenangkan, namun Taeyeon buru-buru menggeleng.

“ Aku mendengar suara Hyoyeon, anakku bersamanya, nyawanya terancam. Bagaimana mungkin aku tidak panik!?”

“ L penyihir yang hebat, bukankah begitu? Ia pasti bisa melakukan perlawanan..” jawab Eunji tenang, meski dalam hati berharap semoga saja perlawanan L gagal dan penyihir itu benar-benar mati di tangan Hyoyeon.

“ Tapi sihirnya belum sesempurna Hyoyeon..itu yang membuatku khawatir..”

“ Belum? Berarti.. dia bisa sesempurna Hyoyeon?”

Taeyeon mengangguk pelan, “ Ia bisa menjadi penyihir sempurna jika ada Yeoshin di sisinya, kekurangannya adalah kelebihan Yeoshin. Betapa aku berharap saat ini Yeoshin juga ada disana, entah ia sudah tahu atau tidak tentang tipuan L selama ini, aku ingin Yeoshin membantu L untuk mengimbangi Hyoyeon..”

Eunji menggeleng kuat dalam hatinya, berharap semoga Naeun tidak sedang bersama L agar Hyoyeon mudah membunuh penyihir itu. Sepertinya setelah ini Eunji akan segera mencari Naeun.

“ Sepertinya aku harus menyusul ke negeri Junghwa. Mereka pasti ada disana, aku yakin.”Taeyeon berdiri dan mengambil jubah hitamnya dari lemari, namun terduduk kembali ketika mengingat sesuatu.

“…brengsek, aku kan tidak tahu cara membuat ramuannya! Aku butuh resepnya.” Taeyeon berpikir dan tiba-tiba menatap Eunji tajam.

“ M..mengapa melihatku seperti itu?”

“ Kau.. kau menyimpan buku Rahasia Dunia Luar kan?”

Eunji memucat, ia memang masih menyimpan buku tulisan Hyoyeon itu, namun tak mungkin ia memberikannya pada Taeyeon karena jika Taeyeon membaca resep ramuan portal yang ada disana dan membuatnya, Taeyeon bisa menyusul L ke negeri Junghwa dan harapan Eunji agar L mati bisa tidak terjadi.

“ Yeoshin yang menyimpannya, bukan aku..”jawab Eunji berbohong.

“ Aku bukan penyihir yang bisa dibohongi, Tuan Putri. Jadi berikan buku itu padaku, sekarang!”

“ Tidak..tidak akan..”

“ Apa kau bilang?”

“ Tidak akan!!”

“ Hei!!!”

Taeyeon berlari mengejar Eunji yang kabur dari kamarnya hingga jauh bahkan sampai keluar dari asrama guru dan memasuki area sekolah, membuat semua mata warga sekolah yang sudah datang tertuju pada mereka. Tentu, tak ada alasan lain selain heran melihat kepala sekolah ‘Kim Haeyeon’ yang biasanya ramah dan anggun mengejar-ngejar seorang siswi sambil berteriak tak karuan.

BRUK!

Karena tak hati-hati, Eunji menabrak guru Shim, wali kelasnya yang menyuruhnya mendatangi kepala sekolah beberapa saat yang lalu. Gadis itu tak bisa lagi berlari karena sudah pasti guru Shim menahannya

“ Ada apa, Jung Eunji? Mengapa kau kejar-kejaran dengan kepala sekolah??”

Eunji menggeleng kuat dan menunduk saat Taeyeon datang menghampiri, sedikit bergeser juga untuk berlindung di belakang guru Shim.

“ Maaf, kepala sekolah. Ada apa sebenarnya? Apa siswi saya melakukan kesalahan sampai kau mengejarnya?”tanya guru Shim pada Taeyeon.

Karena tak mungkin menjawab jujur, Taeyeon menggeleng.

“ Ani.. aku hanya mengajaknya berolahraga sedikit. Hehe.”jawabnya awkward. Namun karena ia adalah kepala sekolah disini, guru Shim tak bisa mempertanyakan jawabannya yang aneh.

“ Ooh begitu. Saya kira ada sesuatu. Masalahnya saya yang menyuruh Eunji untuk mendatangi Anda..”

“ Memangnya kalau boleh tahu ada apa?”

“ Eunji, cepat bilang yang saya suruh tadi.”guru Shim memindahkan posisi Eunji di depannya untuk menjelaskan maksud kedatangannya ke kamar Taeyeon barusan.

“ I..ini, kepala sekolah.”Eunji menyerahkan berkas-berkas Lee Jiwon pada Taeyeon, “…guru Shim meminta kepala sekolah untuk mengurus masalahnya secara langsung.”

“ Lee Jiwon?”Taeyeon terkejut melihatnya, tentu karena ia tahu siapa Jiwon sebenarnya.

“ Ya. Dia salah satu siswi di kelas saya. Ia terlalu sering bolos, nilai-nilainya pun selalu anjlok. Saya tidak mungkin membiarkan siswi seperti ini terus bertahan di sekolah ini tanpa sanksi.”jelas guru Shim, “…dengan penuh rasa hormat, saya meminta kepala sekolah mengurusnya langsung, mau dikeluarkan atau diberi sanksi lain, saya serahkan pada Anda. Saya tidak bisa mengurusnya karena akan berangkat ke Jepang nanti sore.”

“ Baik. Berangkat saja, saya akan urus semuanya.”

“ Terimakasih, kepala sekolah.”guru Shim membungkukkan badannya setelah itu pamit dan meninggalkan Eunji dengan Taeyeon. Sebelum Eunji sempat berlari lagi, Taeyeon sudah meraih pergelangan tangannya hingga membuat Eunji hampir menjerit karena tindakan wanita itu yang sama persis seperti L, meremas luka di pergelangan tangannya.

“ Ooh.. jadi kau ingin memberiku berkas Lee Jiwon? Hahaha, aku tahu rahasia besar tentangnya. Apa kau ingin tahu?”bisik Taeyeon, membuat Eunji mendadak bingung.

“ Rahasia..apa?”

“ Rahasia besarnya, rahasia yang hanya diketahui oleh aku dan L. apa kau tidak penasaran?”

“ Apa kau sedang mencoba memancingku agar aku mau memberikan buku itu padamu dan ditukar dengan rahasia Jiwon itu?”

“ Cerdas sekali, Jung Eunji. Memang itu yang sedang kulakukan sekarang. Karena kurasa.. kau juga perlu tahu rahasia Jiwon itu.”

“ Apa rahasia Jiwon ada hubungannya denganku?”

“ Benar, ada.”

Eunji terkejut dan tak bisa berpikir apapun karena yang ia tahu Jiwon hanyalah teman biasa baginya. Jadi mana mungkin Jiwon memiliki rahasia besar yang berhubungan dengannya?

“ Kau licik, aku tahu kau sedang membohongiku saja. Tidak masuk akal jika Jiwon punya rahasia yang ada hubungannya denganku, dia hanya teman biasa.”

“ Hahaha. Jadi kau tidak percaya? Kalau begitu silahkan cari Jiwon dan suruh ia menghadap ke ruanganku besok. Sebelumnya kau bisa tanya apa rahasianya. Kalau dia kelihatan gugup, apa yang kukatakan adalah benar. Dan kau, kau harus menyerahkan buku itu padaku sebagai tanda maaf atas keraguanmu akan perkataanku.”

“ Tapi…”

“ Itu sudah menjadi perjanjian. Cepat cari Jiwon dan serahkan buku itu padaku, aku tak mungkin bisa lama-lama berdiam disini sementara anakku dalam bahaya sekarang.”

Taeyeon melepas genggamannya dan berjalan kembali ke kamarnya, rupanya ia tak memakai cara paksa seperti yang biasanya L lakukan pada setiap orang, ia lebih memilih Howon sebagai umpannya.

“ Ingat, Jung Eunji. Rahasia Lee Jiwon itu ada hubungannya denganmu. Kau yakin tidak ingin mengetahuinya?”

Perkataan terakhir Taeyeon membuat Eunji gelisah dan pada akhirnya berlari keluar dari gedung sekolah untuk mencari Jiwon meski ia tak tahu harus kemana…

*************

 

“ Jangan sampai Yeoshin sudah bangun, ia tak boleh melihat jendela, ia tak boleh tahu ia sedang berada disini.”

Myungsoo menuruni tangga cepat-cepat pagi itu, menuju kamar istrinya, Naeun. Lingkaran hitam nampak jelas disekeliling mata elangnya, tentu karena semalaman ia tidak tidur sebab takut Yookyung –atau Hyoyeon- menyerangnya secara tiba-tiba, terlebih ia sudah menyatakan ingin bertarung dengan penyihir nomor satu itu.

“…sial, masih kelihatan?”

Myungsoo terpaksa melangkah mundur setelah melintasi sebuah kaca panjang yang terpajang di dinding dan tak sengaja melihat refleksi dirinya disana. karena tak percaya, ia kembali mundur dan menatap dirinya.

“ Brengsek. Kalau begini caranya Yeoshin akan langsung mengenaliku.”

Penyihir tampan itu mendengus, baru sadar bahwa tatonya masih saja belum hilang. Ia pun terpaksa berjalan menuju kamarnya lagi untuk mencari penutupnya dan berharap semoga Naeun masih belum bangun tidur.

“ Chorong-ah! Bisa kupinjam syalmu?”

Beruntung, ia bertemu Chorong di tangga. Gadis itu nampak sudah rapi dan cantik dengan pakaian hangat membalut tubuhnya karena di luar mendung dan berudara dingin. Sepertinya ia akan pergi keluar, entah sendiri, bersama Sungyeol, Yookyung atau mungkin Woohyun.

“ Ini syalmu, Myungsoo. Kau yang memberikannya padaku saat kelas sepuluh.” jawab Chorong dengan tatapan penuh arti dan tersenyum tipis mengingat masa lalu mereka sekaligus memberi penegasan bahwa ia masih punya hati terhadap Myungsoo, meski sebenarnya sia-sia saja.

“ Ooh.. aku baru ingat. Ng.. boleh aku minta lagi?”

“ Kau sedang demam?” Chorong bertanya balik karena heran melihat Myungsoo yang menutupi leher dan dadanya.

“ Y..y..ya.. aku.. aku sedang demam.”Myungsoo mengiyakan saja agar segera mendapat pinjaman syalnya, ia sudah gelisah dan takut Naeun terbangun dari tidurnya.

“ Yah, aku jadi tidak bisa mengajakmu jalan-jalan. Ya sudah, ini.” Chorong melepas syalnya dan memberikannya pada Myungsoo.

“ Terimakasih ya.”

Chorong hanya tersenyum tipis kemudian berlalu meninggalkannya, menghampiri Woohyun yang sedang duduk di teras villa. Sesaat seorang L bisa merasa lega karena makhluk dunia nyata itu sama sekali tak menyadari mereka sedang berada di dunia lain, tapi apakah cepat atau lambat mereka akan tahu? Entahlah, L masih belum bisa memprediksi apa sebenarnya maksud Hyoyeon dibalik semua ini, yang jelas ia harus memerangi rasa takutnya dulu.

L memasang syalnya, kembali ke kamar Naeun dan benar saja, gadis itu baru saja membuka matanya, menggeliat di tempat tidur kemudian bangkit dari tempat tidurnya dan…

Bersiap membuka tirai jendela.

“ YA!” L langsung berubah menjadi Myungsoo yang buru-buru masuk dan memeluk istrinya itu dari belakang hingga gadis itu tak jadi membuka jendelanya dan terkejut akan kedatangannya.

“ Sunbae! Mengagetkan aku saja. ada apa!?” Naeun sedikit kesal, namun tetap saja ia merespon pelukan lelaki itu.

“ Mianhae, hanya ingin bilang selamat pagi.”jawab Myungsoo sembari berusaha tenang meski tak dapat dipungkiri saat ini ia benar-benar tegang. Tentu, Naeun sudah membuka matanya dan berpeluang besar mengetahui tempat mereka berada sekarang.

Naeun tersipu malu dan mencoba memancing, “ Hanya itu?”

“ Aku mencintaimu.”

Gadis itu tertawa kecil, “ Kau tahu apa yang kumaksud. Aku juga mencintaimu, sunbae.”

Myungsoo tersenyum dan mendaratkan ciuman kecil di pelipis gadis itu. Naeun begitu berseri-seri hari ini, Myungsoo jadi tak tega menghilangkan ingatannya tentang negeri Junghwa dengan caranya sendiri.

Ya, Myungsoo berniat untuk menghilangkan memori otak Naeun tentang negeri Junghwa untuk sejenak, setidaknya selama mereka berada di tempat ini agar gadis itu tak langsung tahu. Jika Hyoyeon yang akan membuatnya tahu, Myungsoo akan berusaha untuk mencegahnya sesulit apapun itu.

Dan untuk menghilangkan memori otak, penyihir sejahat L punya cara sendiri, sebagai alternatif selain melibatkan ramuan karena ia tak mampu membuatnya. Namun caranya ini terbilang kejam, dan ia harus tega melakukannya pada Naeun sekarang.

Lelaki itu mengelus dinding kamar, membaca-baca mantra dalam hatinya sementara matanya menatap Naeun dengan penuh basa-basi. Membuat gadis itu merasa sedikit bingung.

“ Ada apa sunb… ah!”

BUK!

Myungsoo benar-benar melakukannya, dengan gerakan cepat menghantamkan kepala Naeun ke dinding yang sudah dibacainya mantra barusan. Membuat gadis itu kesakitan luar biasa. Meski sebelumnya mengira akan merasa kasihan, Myungsoo justru tersenyum melihatnya, mungkin merasa seperti sedang mengulang masa-masa dimana ia sering menyiksa Yeoshin di negeri Junghwa.

Ah, seandainya ia bisa melanjutkannya lagi, seandainya setelah ini ia bisa menampar wajah cantik Yeoshin, menginjak kaki gadis itu kuat-kuat, setelah itu menciumnya dengan paksa, dan menikmati pemberontakan dan tangisan gadis itu. Myungsoo benar-benar merindukan hal tersebut, karena baginya, menyiksa Yeoshin adalah cara mengungkapkan cinta yang sesungguhnya.

“ Apa yang kau lakukan, sunbae!?”

Tentu saja, Naeun marah sekarang dan meringis bahkan hampir menangis menahan rasa sakit di kepalanya. Myungsoo buru-buru memeluknya dan mengelus kepalanya dengan lembut.

“ Mianhae.. aku tidak sengaja. Aku hanya ingin menyandarkanmu ke dinding agar aku bisa menciummu, itu saja.”jawab Myungsoo beralasan, Naeun langsung meninju perutnya dengan kesal.

“ Karena kau sudah membuatku kesakitan, kau tidak boleh menciumku.”

“ Yah! Mengapa begitu??”

“ Pokoknya tidak boleh.”

“ Kau yakin?”

Wajah Naeun memerah karena Myungsoo menggodanya. Namun gadis itu berusaha untuk gengsi.

“ Aah sudahlah, aku marah padamu! Pergi sana.”Naeun membalikkan badannya dan memegangi kepalanya yang masih sakit.

“ Apa yang bisa kulakukan agar kau tidak marah lagi?”Myungsoo tidak pergi, lelaki itu justru kembali memeluk Naeun dari belakang, menyingkirkan tangan gadis itu dan mengelus serta mencium bagian kepalanya yang sakit, membuat hati Naeun meleleh seketika.

“ Aku ingin sup ayam.”jawab Naeun setelah berpikir beberapa detik, ternyata ia tak serta merta memaafkan Myungsoo.

“ Hanya itu? Baiklah.. masih ada sisa yang kemarin di mobil.”

“ YA! Tidak mau, aku ingin yang baru!”

“ Baiklah, semoga ada di dapur atau ada yang jual di sekitar sini.”

“ Shireooo..”Naeun masih saja merengek.

“ Lalu kau mau yang bagaimana?”

“ Aku ingin sup ayam itu dibuat olehmu, tapi ayamnya harus kau tangkap dulu.”

“ Apa!?” Myungsoo terkejut. Apa begini permintaan perempuan yang sedang mengidam? Menyusahkan saja.

“ Kalau kau tidak mau aku tidak akan memaafkanmu. Hubungan kita cukup sampai disini.”

Gila, bahkan perempuan yang sedang mengidam berani mengeluarkan ancaman yang begitu mengerikan : ‘hubungan kita cukup sampai disini’. Padahal belum tentu ia siap berpisah dengan Myungsoo.

“ Baik..baiklah. aku usahakan.”Myungsoo pasrah.

“ Ya sudah sana cari! Jangan lama-lama. Kalau lama aku akan semakin marah!”

“ Iyaaa iya!” Myungsoo buru-buru keluar dari kamar Naeun sembari mengacak-acak rambut semi-coklatnya. Biarlah harus berkorban sedikit mencari ayam, daripada ia melihat Naeun terkejut jika ia sadar bahwa ia sedang menginjak negeri Junghwa.

Sungyeol, yang rupanya sejak tadi memperhatikan mereka dari balkon dalam langsung memasuki kamar Naeun setelah Myungsoo pergi.

“ Kudengar kau marah-marah dengan Myungsoo tadi. Ada apa?”tanya Sungyeol berbasa-basi. Naeun membalikkan badannya dan sedikit gugup karena takut Sungyeol datang untuk menagih ramuan pembangkit orang mati itu.

“ Ya.. dia mendorong kepalaku ke dinding dengan terlalu keras, makanya aku marah.”jawab Naeun sewajarnya, “…tapi ia sedang menebus kesalahannya.”

“ Dengan mencari ayam?”

Naeun mengangguk, “ Kau mendengarnya?”

“ Ya. Kalau boleh tahu mengapa akhir-akhir ini kau suka sekali makan sup ayam?”

“ Entahlah.. padahal itu bukan makanan favoritku. Tapi perutku terus memintanya.”

Sungyeol menyipitkan matanya dan mendekat pada Naeun.

“ Semalam saat kau tiba disini dalam keadaan tertidur, Woohyun menuduhmu dan Myungsoo melakukan hal itu di mobil. Tapi aku percaya kalian tidak melakukannya.”

“ Hah? Ya ampun. Kami memang tidak melakukannya.”

“ Ya, tapi aku yakin kalian pernah melakukannya.” Naeun diam saja karena ia dan Myungsoo memang sudah sepakat untuk merahasiakannya.

“…apa kau tidak heran mengapa akhir-akhir ini kau selalu meminta sup ayam? Bahkan sekarang kau memberi permintaan aneh pada Myungsoo. Apa kau tidak sadar…gejala apa itu?”

Naeun mengerti arah pembicaraan Sungyeol, namun pendiriannya sebagai gadis yang selalu berpikir positif tentang Myungsoo membuatnya lagi-lagi mengingkari firasatnya. Ia tetap pada pernyataan bahwa ‘penyihir tak mungkin mengandung anak manusia’.

“ Aku..aku tidak menyadari apapun. Tak ada sesuatu yang terjadi padaku.”

Sungyeol geleng-geleng kepala, tak habis pikir.

“ Kau dalam masalah besar, Son Yeoshin.”

“ Maksudmu!?”

Sungyeol malah keluar dari kamar Naeun, meninggalkan gadis itu dalam keadaan bingung.

 “ Selesaikan dulu ramuan yang kuminta, maka kau akan tahu apa masalahmu.”

*****

 

“ Astaga, beritanya cepat sekali menyebar. Padahal baru kemarin ya.”

“ Iya, kurasa pihak SDC langsung meluruskannya sampai-sampai menyuruh mereka melakukan hal ini.”

“ Atau mungkin Hoya dan Minahnya sendiri yang ingin tampil berdua untuk meyakinkan masyarakat bahwa mereka benar-benar berkencan.”

“ Ah, kurasa mereka memang hanya on-screen couple. Untuk menarik sponsor. Kalau tidak mengapa berita tentang Hoya dan gadis lain menyeruak begitu saja?”

“ Bisa saja ini hanya ulah fans. Kalau aku sih merasa mereka memang benar-benar berkencan. Kalau tidak bagaimana bisa mereka tertangkap kamera CCTV sedang bermain air tengah malam?”

 

EHEK!

Eunji yang sudah panas mendengar pembicaraan sekelompok wartawan yang duduk tak jauh dari mejanya itu akhirnya tersedak saat menyeruput teh hangatnya. Apa karena ia sudah sering berhubungan dengan Hoya, ia jadi merasakan hal yang sama seperti Bomi ketika mendengar kabar Hoya dengan Minah? Mungkin. Terlebih saat-saat di lapangan sepakbola itu membuatnya menganggap bahwa Hoya menyukainya. Jika tidak, untuk apa artis itu mengajaknya bermain bola, memberinya tiket, bahkan mencium bibirnya? Eunji hanya bisa berharap ia memang sedang tidak dipermainkan.

“ Nona, ini ramennya.”seorang pelayan mengantarkan ramen pesanan Eunji, sebelum ia pergi, Eunji menahannya.

“ Maaf, tunggu sebentar ahjumma.”

“ Ya? Apa ada tambahan lagi, nona?”

“ Ani. Ng.. boleh aku pinjam koran yang ada ditangan ahjumma?”Eunji menunjuk segulung koran yang dipegang oleh pelayan paruh baya itu.

“ Ooh. Ini?  boleh. Kebetulan beritanya seru.”ahjumma itu langsung meletakkan korannya di atas meja Eunji sambil menunjuk headline koran tersebut.

 

HUBUNGAN ASMARA HOYA-MINAH MULAI DIRAGUKAN OLEH FANS? APAKAH HOYA BERKENCAN DENGAN GADIS LAIN?

Seoul Dance Competition : “Hoya dan Minah memang sepasang kekasih dan mereka akan berkencan secara terbuka”

 

Penampilan spektakuler Hoya dan Minah di pentas Seoul Dance Competition minggu lalu telah menarik banyak perhatian, terlebih ketika mereka diumumkan menjadi grand finalis, menyisihkan sepuluh kompetitor mereka secara langsung. Tak hanya penampilan terbaik yang menyelamatkan mereka dari eliminasi, tetapi juga kisah cinta mereka yang baru-baru ini sudah diungkapkan oleh pihak Seoul Dance Competition.

Namun kepercayaan pemirsa terhadap hubungan mereka mulai luntur karena tulisan salah seorang fans ahjumma di akun media sosialnya tepat hari kemarin, dimana ia mengatakan :

“ Anakku tak jadi bermain bola sore ini bersama teman-temannya karena mereka bertemu dengan artis bernama Hoya yang sedang naik daun di lapangan sepakbola. Awalnya aku tak percaya mendengar ceritanya, tetapi ketika anakku menunjukkan bolanya yang ditandatangani oleh Hoya, aku baru percaya. Maka itu aku memintanya untuk menceritakan pengalamannya bertemu dancer tampan itu.

Tak kuduga, anakku mengatakan bahwa Hoya bermain bola bahkan berciuman dengan seorang gadis berponi, aku terkejut dan menanyai teman-temannya yang lain, merekapun membenarkan hal tersebut. Ketika kutanya apakah gadis itu adalah Bang Minah, mereka menjawab BUKAN. Mereka bahkan mengatakan bahwa gadis berponi itu tak kalah cantik dengan Minah.

Ini membuatku heran, bukankah Hoya telah berpacaran dengan Minah seperti yang diungkapkan berbagai media belakangan ini? aku tak mengerti dan sudah membuat banyak dugaan yang tak bisa kutulis satu per satu disini. yang jelas, aku berharap Hoya mau mengungkapkan siapa kekasihnya yang sesungguhnya. Aku tak suka dengan pembohongan publik.

Meski demikian, aku tetap memberi dukungan penuh untuk Hoya dan Minah di babak final mereka. Aku akan mencoba menikmati penampilan mereka dan melupakan privasi mereka.”

 

Tulisan ini menyebar luas di internet hingga sampai ke telinga pihak Seoul Dance Competition. Tak seperti agensi yang lama berpikir, pihak SDC segera menampik kabar tersebut bahkan mengupload sebuah rekaman CCTV yang mereka tebus dari salah seorang staf keamanan hotel. Dimana CCTV tersebut memperlihatkan Hoya dan Minah yang bermain air bersama tengah malam kemarin, video ini sendiri sudah mendapat 90.042 viewers dalam satu jam.

Bahkan tak hanya itu, untuk semakin meyakinkan pemirsa, pihak SDC pun mengeluarkan berita bahwa Hoya dan Minah akan berkencan secara terbuka hari ini sambil berolahraga bersama di lapangan sepakbola tempat mereka biasa berlatih dan menerima wawancara dari wartawan.

Sesuai pernyataan resmi SDC, kencan Hoya dan Minah akan dimulai sekitar jam tujuh pagi.

 

Wajah Eunji memucat, mencoba untuk tenang dan tidak menangis. Mengapa ia harus merasa sepanas ini? Apa ia benar-benar cemburu? Seharusnya ia merasa lega karena ‘poni’nya tidak terlacak oleh fans Hoya, terutama Bomi. Bagaimana jika Bomi membaca berita ini dan mencari tahu siapa gadis berponi itu? Bisa-bisa Eunji didepak dari keluarga Yoon.

“ Aku tidak peduli. Tidak peduli!” Eunji menjauhkan korannya dan mencoba memakan ramennya meski nafsu makannya mendadak hilang, berusaha untuk fokus saja pada pencariannya terhadap Jiwon karena perkataan Taeyeon tentang rahasia Jiwon yang membuatnya penasaran.

“…aku pergi saja.”Eunji menyerah dan meninggalkan ramennya, meminta untuk dibungkus saja karena tak tahan mendengar para wartawan yang masih saja berkicau tentang Hoya dan Minah di dekatnya. Sepertinya para wartawan tersebut menunggu Hoya dan Minah yang katanya akan melalui warung ramen ini menuju lapangan sepakbola.

 “ Waaah!! Itu Hoya dan Minah!!!!”

Eunji terkejut. Belum sempat ia keluar dari tempat makan tersebut, jalanan sudah ramai karena Hoya dan Minah turun ke jalan. Para wartawan yang bergosip pun segera meninggalkan makanan mereka dan memulai pekerjaan mereka mewawancarai kedua grand finalis Seoul Dance Competition itu.

Selesai membayar, Eunji buru-buru angkat kaki dari tempat makan tersebut sebelum jalanan semakin ramai,  ingin memulai pencariannya terhadap Jiwon dan tak memperdulikan ‘kencan terbuka’ Hoya dan Minah.

 

“ Hyerim?”

Dialah Lee Howon, seseorang yang bisa melihat sosok orang yang dicintainya meski terhalang banyak orang di depannya. Ia menangkap sosok Eunji yang berseragam Junghwa High School keluar dari kedai yang tak jauh darinya sembari memegang satu plastik ramen. Apa yang sedang dikerjakan gadis itu? Mengapa ia tidak sekolah? Pertanyaan-pertanyaan mulai muncul di benak Hoya, yang saat ini seperti merasa tak nyaman tampil secara terbuka di depan umum dengan kaos tanpa lengan dan celana pendek yang membuat semua fans wanitanya menjerit.

“ Kau melihat Eunji?” Minah yang mengenakan pakaian olahraga minim di sampingnya. berbisik saat melihat Hoya mendongak sembari celingukan berkali-kali, Hoya mengangguk.

“ Ah! Apa-apaan kau!?” Hoya berteriak ketika Minah menginjak kakinya, para wartawan langsung memotret kaki mereka berkali-kali karena teriakan Hoya menarik perhatian.

“ Kenapa kau menginjak kaki Hoya???” semua wartawan langsung memberondong Minah dengan pertanyaan yang sama, membuat Hoya dan Minah salah tingkah mendadak.

Jawabannya tak lain dan tak bukan tentu saja hanya untuk mengingatkan Hoya bahwa lelaki itu tak seharusnya peduli terhadap Eunji disaat melakukan pembohongan public seperti ini. namun tak mungkin Minah mengungkapkan yang sejujurnya.

“ Ooh.. aku..aku sudah biasa menginjak kakinya. Ini kami lakukan untuk mengungkapkan cinta satu sama lain.”jawab Minah. Kreatif juga, namun membuat Hoya mendadak mual.

“ Benar begitu, Hoya??”tanya para wartawan, Hoya mengangguk saja.

“…kalau begitu kau bisa balas menginjak kaki Minah!”

Hoya dan Minah saling tatap, dengan pasrah Minah mendekatkan kakinya untuk diinjak balik oleh Hoya. Benar-benar konyol.

“ Aaaa!!!” Minah berteriak karena Hoya menginjaknya terlalu keras, terlebih lelaki itu memakai sepatu bola yang terbilang tajam. Gadis itu langsung mengangkat dan meniup-niup kakinya, membuat wartawan semakin liar memotret mereka.

“ Mianhae, gwenchanayo?”Hoya merasa bersalah, Minah masih saja meringis.

“ Sakit, kalau begini caranya aku tidak bisa main bola!”

“ Bisa.”

“ Yaaa!!!!”

KLIK! KLIK! KLIK!!

Wartawan semakin nafsu saja memotret mereka saat Hoya tiba-tiba mengangkat tubuh Minah, menggendong gadis itu dengan bridal style. Seandainya saja Bomi ada disana, pasti ia orang pertama yang berontak melihatnya.

“ Bisa kita pindah tempat ke lapangan? Minah harus duduk disana. benar kan?” ucap Hoya pada wartawan setelah itu menatap Minah yang tersipu malu.

Gadis itu benar-benar berdebar sekarang, tindakan Hoya membuat harapannya semakin besar.

******

 

“ Sejauh ini baik-baik saja..”

Kai hanya manggut-manggut mendengar perkataan Madame Sunny yang sedang berdiri mengawasi Krystal dan Baekhyun di ambang pintu kamar Baekhyun. Kai sendiri hanya bertugas di depan pintu seperti layaknya pengawal yang lain. Namun tak dapat dipungkiri, sesekali pengawal baru jadi itu curi-curi pandang ke dalam untuk mengetahui apa yang mereka bicarakan.

Lelaki itu tersenyum, mengagumi Krystal yang begitu cantik dengan balutan gaun biru milik Hyerim dan tatanan rambut berponi khas Jung Eunji, membuat Kai teringat kembali akan Eunji, cinta pertamanya yang tak mungkin ia dapatkan.

Krystal benar-benar terlihat seperti putri yang anggun dan dewasa seperti Hyerim, raut depresi dan kebiasaan aneh yang sering ia lakukan sama sekali tak ia tunjukkan di depan Baekhyun. Semua berkat sihir berat Madame Sunny, yang sejak tadi mengendalikan otak Krystal dari pintu sampai-sampai sesekali kehabisan energi. Masalahnya, Madame Sunny berkata bahwa ia harus melawan jiwa Krystal yang sama sekali tak mau bertemu dengan Baekhyun untuk menggantikan Hyerim. Kai yang merasa kasihan hanya bisa berjaga sambil menemani Madame Sunny dan membawakan air minum untuk penyihir itu.

“ Mereka menggunakan bahasa yang terlalu formal. Kalau di dunia kami, orang yang berbicara dengan gaya bahasa seperti itu pasti sudah ditertawakan.”celetuk Kai saat samar-samar mendengar pembicaraan Krystal dan Baekhyun yang masih dalam tahap perkenalan. Dimana Baekhyun memperkenalkan dirinya sebagai pangeran dari negeri Gwangdam, dan Krystal yang memperkenalkan dirinya sebagai Jung Hyerim.

“ Kau mengatakannya karena kau cemburu dengan mereka, kan?”ucap Madame Sunny dengan lirikan curiga.

“ Hah? Cemburu? T..tidak.. aku tidak pantas merasa cemburu. Aku hanya tawanan pengacau pasar yang tiba-tiba menjadi pengawal di istana ini.”

“ Tapi kau menyukai Krystal,kan?”

“ Menyukai..Krystal? ah.. aku sadar diri, aku tidak mungkin jatuh cinta pada seorang putri raja.”

“ Hahaha. Sayang sekali, padahal Krystal menyukaimu.”

“ APA!?”

“ Sst! Diam!” Madame Sunny menginjak kakinya, Kai langsung diam meski gejolak geer dalam hatinya hampir tak tertahankan lagi.

“ Kau sedang tidak bercanda kan? Krystal menyukaiku!? Kau tahu dari mana!??”

“ Kau terlalu bahagia. Seharusnya aku tidak usah bilang.”

“ YAA! Ceritakan padaku!”

“ Aku bingung menceritakannya. Aku mengatakan ia menyukaimu karena saat aku harus menguasai jiwanya untuk tampil di depan Baekhyun, dia terus menolak dan meneriakkan namamu dalam hatinya. Bahkan sampai saat ini, meski ia masih mengobrol dengan Baekhyun, ia memberimu ruang di otaknya untuk dipikirkan.”

Kai terperanjat, ia pun memberanikan diri untuk kembali mengintip.

“ Ya! Jangan mengintip. Seperti maling saja, lebih baik kau masuk dan berjaga di dalam, itu lebih sopan dan terhormat.”

“ Tidak mungkin aku masuk.” Kai menolak meski rasanya ingin menatap Krystal lebih lama. Masalahnya, ia tak ingin dilihat oleh Baekhyun, ia takut pangeran itu marah besar dan menagih kudanya yang hilang.

“ Kelihatannya kau takut pada Baekhyun. Kau sudah kenal dengannya?”

Kai mengangguk pelan.

“ Lalu apa yang membuatmu takut padanya?”

“ Kalau aku menceritakannya, aku pasti dimasukkan lagi ke dalam penjara.”

“ Memangnya apa yang sudah kau perbuat?”

“ Aku….”

“ Hei, Kai! Bagaimana hari pertamamu menjadi pengawal? Pasti membosankan.”

Seseorang datang menghampiri Kai dan Madame Sunny. Pangeran Ilhoon.

“ Menjadi pengawal cukup menyenangkan, pangeran.”jawab Kai sopan sembari membungkukkan badannya.

“ Jangan bohong. Aku tahu pasti membosankan. Supaya tidak bosan, ayo ikut denganku.”

“ Mau kemana, pangeran?”tanya Madame Sunny.

“ Seperti biasa, kegiatan rutin untuk mempertahankan kekayaan kerajaan. Menarik pajak ke pasar.”jawab Ilhoon, “…Kai, ayo kawal aku.”

“ Oh, ya.. semoga rakyat tidak terkejut. Kai, kau boleh ikut dengan Ilhoon.”

Kai menurut, sebelum ia mengikuti langkah Ilhoon, ia kembali mengintip ke dalam kamar Baekhyun. Tak disangka, Krystal ikut melihatnya dan tersenyum padanya.

Senyuman khas orang waras, tentunya.

***

 

“ Jadi syalmu dipakai Myungsoo? Oh, kurasa aku masih punya satu syal di mobil.”

Setelah mendengar aduan Chorong, Woohyun yang seharusnya beristirahat dengan lebih banyak duduk berdiri dan berjalan ke halaman villa, menuju mobil mewahnya untuk mencari syal demi Chorong.

Chorong buru-buru berdiri mengikutinya, takut-takut Woohyun mendadak kumat dan terjatuh.

“ Ah.. kemana ya? Eh.. apa ini? oh iya! Aku lupa!!” Woohyun bingung mencarinya, dan yang ia dapatkan malah sebuah kotak besar berwarna biru di dalam bagasi.

“ Apa itu?”

“ Kelinci. Dua ekor. Kemarin Naeun meminta ini pada pelayan rumah, tadi pagi pelayan rumah memberikannya padaku. Tapi aku lupa menyerahkannya pada Naeun..”

“ Kelinci?” Chorong tak mengerti. Untuk apa Naeun meminta dua ekor kelinci? Apa ia ingin berbagi hewan peliharaan dengan Myungsoo? Ah, entahlah. Chorong tak mau makan hati karena memikirkannya.

“  Biar kuantar ke kamarnya dulu.”

“ Andwae. Biar aku saja, kau istirahat disini.”

“ Tidak usah.. justru aku harus pemanasan dengan berjalan-jalan, hari ini aku ingin main basket.”

“ Kau masih suka bermain basket?”

“ Tentu saja. Aku akan bermain sampai mati.”

*

 

“ Sial, panas!”

L melepas syalnya dan berjalan cepat menuju pasar negeri Junghwa yang tentu saja sudah ia ketahui tempatnya, sepanjang jalan terus mengumpat karena enggan mencari ayam.

“ Hei, bukankah itu L!?”

“ A..astaga.. ini mimpi terburuk sepanjang hidupku.”

“ Kukira penyihir itu sudah tidak muncul lagi di negeri ini..”

“ Dia semakin tampan, tapi.. kelihatannya semakin jahat.”

“ Mengapa ia muncul tiba-tiba?”

“ Apa ia masih menjadi suami Son Yeoshin?”

“ Apa mereka sudah pulang dari dunia nyata?”

Telinga L mendengar satu per satu keterkejutan seisi pasar ketika ia muncul. Bayangkan saja, saat ia baru saja menampakkan diri, semua orang menyingkir dan memberinya jalan seluas-luasnya, setelah itu terpaku di pinggir dengan gemetaran.

Penyihir tampan itu tersenyum sinis, berjalan pelan memasuki pasar dan dengan seenaknya menghancurkan semua dagangan yang ada didepannya dengan tongkat sihirnya. Para pedagang tak ada yang berkutik, pasrah dengan tindakan penyihir terjahat di negeri mereka itu.

 

“ Kenapa mendadak sunyi?”

Ilhoon yang kebetulan ada di ujung pasar bersama Kai agak heran karena merasa suasana dalam pasar yang tadinya ramai mendadak hening. Beberapa pedagang yang ada di ujung pasar pun masih heran karena L belum sampai disana.

“ L !! penyihir L muncul lagi!!!! Dia menghancurkan semuanya!!”

Salah seorang warga berlari dengan panik dan memberi informasi pada orang-orang di ujung pasar yang belum mengetahui kedatangan L. sontak hal tersebut membuat para pedagang buru-buru membereskan dagangan mereka sebelum L datang dan menghancurkannya.

“ L? mana mungkin.. bagaimana dia kesini!? bukankah ia masih menjadi Myungsoo hyung?” Kai terkejut bukan main, sama halnya dengan Ilhoon.

“ Kita kesana.”Ilhoon menaiki kudanya, sementara Kai memilih untuk berlari saja.

“ Astaga, benar itu dia.” Ilhoon menghentikan kudanya di tempat persembunyian setelah ia menemukan L yang berdiri tak jauh darinya sambil mencekik leher seekor ayam, Kai mendadak gemetar karena lagi-lagi bertemu dengan makhluk tak punya hati yang paling ia benci itu.

“ Apa perlu kita temui dia?”tanya Kai.

“ Jangan. Berbahaya.”

 

“ Apa kabar semuanya? Merindukan aku?”

Masih hening, semua masih tak berani menyela. Seisi pasar membiarkan L bertindak sesuka hatinya.

“…kalian kira aku sudah mati karena cintaku pada Yeoshin yang bertepuk sebelah tangan? Kalian salah, kebaikan tak akan pernah mengalahkan kejahatan. Bagaimanapun juga aku sudah menikah dengannya, dan akulah yang menguasainya.”

Seisi pasar menunduk, terutama orang-orang yang sering menebar rumor di negeri Junghwa bahwa L tak muncul lagi karena bunuh diri sebab Yeoshin melarikan diri ke dunia nyata.

“…dan aku hanya datang sebentar untuk mencari ini.”ucap L lagi sembari menunjuk seekor ayam yang dicekiknya, “…istriku, penyihir baik hati bernama Son Yeoshin memintaku untuk memasaknya karena ia sedang mengidam.”

“ APA??”

Seisi pasar kembali terkejut, secara tidak langsung L mengumumkan pada mereka bahwa saat ini Yeoshin sedang hamil.

 

“ Apa kita beritahu orang istana tentang ini?”tanya Kai gemetaran, tak menyangka bahwa di usia yang masih sangat muda Naeun harus mengandung anak L.

“ Ya. Tapi mereka pasti tak akan percaya.”jawab Ilhoon.

“ Mereka percaya kalau ada buktinya.”Kai langsung mengeluarkan ponselnya dan..

KLIK! KLIK!

Kai memotret L secara sembunyi berkali-kali, membuat Ilhoon kebingungan.

 

“ Benda apa itu?”

*

 

“ Suasananya familiar sekali. Padahal baru pertama kalinya aku kesini..”

Naeun muncul di halaman belakang villa sembari menghirup udara pagi yang masih segar, merasa kenal dengan suasananya namun sama sekali tak ingat karena L sudah membenturkan kepalanya beberapa saat yang lalu.

Gadis itu duduk di bangku panjang yang ada disana, meletakkan kotak berisi kelinci pemberian Woohyun di meja.

“ Yah! Kelincinya sudah mati satu.. bagaimana ini? pasti karena tidak makan seharian. Mianhae..”

Naeun mengeluarkan kelincinya yang ternyata sudah mati seekor. Padahal ia ingin memberi kelinci tersebut cairan pemberian Yookyung yang kebetulan ia bawa setengahnya.

“ Yang satu sakit..” Naeun menyentuh kelinci yang masih hidup dan dengan sihirnya ia tahu bahwa kelinci tersebut ternyata sakit, gadis itu kebingungan mencari makanan.

“…ah, sudahlah.. hanya untuk percobaan cairan ini.”Naeun terpaksa tega dan mengeluarkan botol cairan pemberian Yookyung dari saku roknya, “…aku harus tahu ini ramuan apa dan mengapa aku harus memberikannya pada Woohyun oppa..”

Pelan-pelan, Naeun memasukkan sedikit ramuan tersebut ke mulut si kelinci. Hingga tak disangka-sangka, kelinci tersebut langsung melompat dengan lincah kesana-kemari. Ketika Naeun mencoba memeriksanya sekali lagi, kelinci itu ternyata tak sakit lagi.

“ Aigoo! Apa ini cairan penyembuh?” Naeun terkejut, “…bagaimana Yookyung membuatnya?!”

“…ah, yang penting ini kusimpan untuk Woohyun oppa. Dia pasti masih bisa hidup dengan ini!”Naeun tersenyum bahagia, setelah itu mencoba mengangkat kelinci yang sudah sembuh itu untuk dibawanya masuk ke villa.

“…aw!” Naeun terkejut dan langsung melepaskan kelinci tersebut ketika merasa tangannya digigit oleh si kelinci. Darah segar menetes di meja hingga ada yang masuk ke dalam botol ramuan yang memang belum ditutup oleh Naeun, darahnya dengan cepat terlarut dan bercampur dengan ramuan tersebut.

“ YA! Ramuannya bisa rusak karena darahku!” Naeun panik bercampur kesal, “…ah, untung masih ada setengahnya di rumah. Aku buang saja yang ini.”

Merasa ramuannya sudah rusak karena darahnya, Naeun pun membalikkan botolnya dan menumpahkan ramuan tersebut hingga tanpa sengaja mengenai tubuh dan memasuki mulut salah satu kelincinya yang sudah mati.

“ Nah, harus kukubur dimana kelinci mati ini?”Naeun mengangkat kelinci malang itu dan celingukan mencari tempat yang tepat, namun sebelum menemukan tempatnya, gadis itu merasakan sesuatu yang bergerak di tangannya.

Kelinci itu hidup kembali!

“ A..astaga? bagaimana bisa kau hidup karena meminum ramuan yang terkena darahku tadi!?” Naeun terkejut, jauh lebih terkejut dibanding penemuannya yang barusan. Kelinci mati itu benar-benar hidup lagi, Naeun sampai menangis melihatnya karena ia teringat akan sesuatu.

 

“ Lee Sungyeol sunbae. Aku sudah menemukan ramuan yang kau minta!”

*****

 

“ Siapa mereka?”

“ Tidak tahu. Aih.. penampilan mereka aneh sekali..”

“ Benar. Tapi mereka sangat cantik dan tampan. Apa mereka berasal dari negeri lain?”

 

Woohyun dan Chorong tetap berjalan lurus dan tidak mendengar suara orang-orang yang membicarakan mereka. Tentu, karena efek dari makanan pemberian Yookyung semalam masih bekerja pada mereka, mereka tak mampu melihat ataupun mendengar suara semua penduduk negeri Junghwa.

“ Aku tidak menyangka Yookyung membeli villa di tempat senyaman ini. tak ada seorangpun di tempat ini, benar-benar damai rasanya..”gumam Chorong sembari matanya menikmati pemandangan indah negeri Junghwa.

Woohyun yang berjalan di sampingnya tersenyum, senang melihat Chorong kembali tersenyum seperti dulu, seperti saat gadis itu belum mengenalnya.

“ Aku senang bisa ke tempat ini. tapi ada satu hal yang kukhawatirkan..” ucap Woohyun pelan, membuat Chorong menoleh dan mengangkat alisnya tanda ingin tahu.

“…kau tahu aku bisa lemah sewaktu-waktu. Seharusnya aku berpikir lagi untuk ikut dengan kalian. Aku takut merepotkan.”

Dengan canggung, Chorong menyentuh bahunya dan memberi ketenangan.

“ Mianhae, kau terpaksa ikut kesini karena tak mau aku sendirian tanpa pasangan. Jadi.. apapun yang terjadi padamu,  aku yang akan bertanggung jawab.”

“ Aku lebih tak mau merepotkanmu.”

“ Ini hanya bentuk tanggung jawab.”

Woohyun tersenyum, “ Terimakasih.”

Setelah itu ia merangkul Chorong, dan perlahan jarinya membelokkan kepala gadis itu ke arah sebuah bangunan besar yang berada jauh namun nampak di depan mereka. Apa lagi kalau bukan istana negeri Junghwa.

“ Kau melihatnya?”

Chorong mengangguk, “ Apa itu juga villa?”

“ Mungkin. Tapi lebih terlihat seperti istana.”

“ Ya. Bagus sekali..”

“ Jika aku membelikanmu istana itu, apa kau mau mencintaiku dengan tulus?”

“ Sialan.”

“ Ya! Mengapa kau mengumpat? Aku sedang tidak ingin berkelahi denganmu.”

“ Kau yang memulai, Nam Woohyun. Kau kira cintaku seharga dengan istana itu?”

“ Jadi apa yang bisa aku berikan untuk menebus cintamu?”

“ Cinta. Karena cinta hanya bisa ditebus dengan cinta juga.”

“ Berarti seharusnya sejak dulu kau sudah mencintaiku.”

“ Maksudmu?”

“ Jangan pura-pura bodoh.”

Woohyun pun berjalan meninggalkan gadis itu sembari memantul-mantulkan bola basketnya ke tanah, Chorong berlari menyusulnya.

“ Hari masih terlalu pagi untuk membahas soal cinta.”ucap Chorong pelan, Woohyun tertawa kecil dan mengangguk saja, ia juga tak ingin memaksa Chorong untuk memberi kepastian terhadap hubungan mereka yang semakin renggang terlebih setelah Chorong tahu dirinya tak akan hidup lebih lama.

“ Dimana kita harus berhenti?”tanya Woohyun, “…sejak tadi aku berharap ada lapangan basket di sekitar sini.”

“ Ada. itu!” Chorong menunjuk sebuah lapangan yang terlihat kosong, lapangan sekolah sihir negeri Junghwa.

“ Wah, ayo kesana!” Woohyun langsung bersemangat dan menarik tangan Chorong.

Seluruh siswa sekolah sihir negeri Junghwa kebingungan melihat sepasang remaja yang tiba-tiba datang dan menggunakan lapangan basket mereka tanpa permisi. Sekali lagi, tentu karena Woohyun dan Chorong merasa hanya ada mereka berdua disana.

Para siswa sekolah sihir tersebut akhirnya menyingkir dari lapangan dan menyaksikan Woohyun dengan Chorong, tak ada yang berani menghampiri karena merasa aneh dengan penampilan modern sepasang kekasih itu.

“ Pilih satu, duel atau diajari?”tawar Woohyun, Chorong berpikir.

“ Ajari aku, setelah itu kita duel.”

“ Ide bagus. Kemarilah.”

Chorong mendekat, melihat cara Woohyun memegang dan membawa bola, mengulang cara Woohyun mengamankan bola, sampai bersentuhan dengan kekasihnya itu untuk diajari cara memasukkan bola ke dalam ring. Semua anak-anak penyihir yang masih menonton mereka nampak begitu kagum bercampur iri melihat keduanya.

“ Ini sudah kelima kalinya dan kau masih saja gagal.”

“ Hanya belum beruntung, bolanya selalu meleset.”

“ Coba sekali lagi, kalau berhasil aku akan memberimu hadiah.”

“ Hadiah apa?”

Woohyun hanya tersenyum misterius, setelah itu berdiri di belakang Chorong yang berada di depan ring sendirian.

Karena sejak tadi mengikuti permainan Woohyun dan Chorong, puluhan anak-anak penyihir yang menonton di pinggir lapangan jadi ikut penasaran dengan hadiah Woohyun, mereka bahkan mencoba menyihir agar bola yang dilempar Chorong bisa masuk ke dalam ring.

“ 1..2..3.. lempar!” Woohyun memberi aba-aba, dan Chorong melompat memasukkan bolanya.

“ Yaaayy!! Masuk!!” Chorong melompat dengan girang dan berbalik, hingga ia langsung merasakan tubuh rapuh Woohyun memeluknya. Sensasi yang sudah begitu lama tak ia rasakan semenjak hubungan mereka renggang.

“…apa ini hadiahnya?”

“ Ya. Apa rasanya masih sama seperti dulu?”

“ Tidak akan pernah berubah.”

Woohyun melepas pelukannya dan mengecup kening Chorong sekilas.

“ Sekarang, ayo kita berduel. Aku sudah mempersiapkan hadiah yang lain jika kau menang.”

Chorong mengangguk semangat, diikuti dengan anak-anak sekolah sihir yang semakin seru menyaksikan mereka dan tentu saja mendukung Chorong agar mereka tahu hadiah apa yang sudah dipersiapkan oleh Nam Woohyun…

******

 

“ Ya ampun Bomiii.. benar-benar tidak penting. Tidak ada gunanya!”

“ Coba kau ada di posisiku! Pasti kau juga merasakan apa yang aku rasakan!”

“ Aku bahkan ada di posisi yang lebih sakit darimu.” batin Eunji, gadis itu mondar-mandir di depan Bomi yang terduduk di aspal.

“…kalau sudah begini bagaimana? Sosokmu tadi pasti tertangkap kamera dan polisi akan segera memburumu.”

“ Jangan menakuti aku!” Bomi serasa ingin menangis, namun kelihatannya ia tidak menyesal dengan apa yang ia lakukan beberapa saat yang lalu, dimana ia kabur dari sekolah hanya untuk menyamar menjadi seorang fans yang muncul di tengah acara wawancara Hoya dan Minah di lapangan sepakbola dan memberi minuman kaleng pada Minah, minuman yang sudah ia campur dengan benzene. Karena para wartawan menyuruh mereka bertukar minuman, alhasil Hoya yang meminum racun itu hingga harus dibawa ke rumah sakit.

“…padahal..padahal awalnya aku tidak berniat melakukan hal itu, tapi saat melihat Hoya menggendong Minah. Aku..aku tidak tahan..” Bomi menangis, namun Eunji tak bisa lagi merasa kasihan.

“ Kau terlalu gila, Yoon Bomi. Bagaimana kalau Doojoon appa dan Gayoon eomma tahu? Mereka sudah lama melarangmu mengidolakan Hoya!”

“ Jangan bilang appa dan eomma!”

“ Kalau begitu kalau ada yang menangkapmu kau harus pasrah. Lihat saja, pasti polisi akan melakukan pencarian ke sekolah kita karena kau pakai seragam!”

Bomi semakin gelisah dan hanya bisa menangis di pinggir jalan, sementara itu Eunji memakai kembali kacamata anti-radiasinya karena ada pesan masuk ke ponsel Bomi yang masih dipegangnya.

Sms dari Hoya?

 

“ Apa kau yang sudah meracuniku, Jung Eunji?”

 

Eunji tersentak, mengapa Hoya tiba-tiba menuduhnya?

******

 

“ Hai, nomor dua. Masih sibuk dengan ayam?”

Myungsoo menghentikan aksi kejinya membunuh ayam di dapur ketika ia mendengar suara Yookyung dari ambang pintu.

“ Kukira kau pergi kencan dengan Sungyeol.”

“ Aku bisa berkencan dengan tenang jika kau sudah mati.”

Sungyeol menghentikan langkahnya di tangga, niatnya untuk mengunjungi kamar Naeun sepertinya musnah karena ia tertarik mendengar pembicaraan Yookyung dan Myungsoo yang tepat berada di ruangan yang ada dibawahnya sekarang.

“ Yookyung ingin L mati? Apa-apaan dia? Apa dia sudah tahu apa yang kuketahui?”

Sungyeol tak habis pikir dan tak mampu menebak.

“ Sepertinya kau bersemangat sekali ingin membunuhku.”L tertawa remeh.

“ Ya. Sayangnya kau sibuk mengurus keinginan istrimu, jadi aku tidak bisa membunuhmu secara langsung.”jawab Yookyung.

“ Jadi apa yang akan kau lakukan?”

“ Aku akan membuatmu mengalah saja.”

“ Tidak bisa.”

“ Tentu saja aku bisa.” Yookyung membuang sebuah benda yang mengeluarkan gas beracun di lantai dapur, setelah itu melepas kunci dan menutup pintunya, mengunci dapur dari luar lalu melapisinya dengan mantra yang mungkin akan sulit dipecahkan oleh L.

“ HEI! BRENGSEK!! BUKA PINTUNYA!” L berteriak panik sembari menggedor-gedor pintunya.

“ Aku akan membukanya setelah kau sudah jadi mayat disana.”

“ TIDAK AKAN!”

Sungyeol terkejut karena Yookyung benar-benar mengunci L dari luar bahkan berniat membunuh penyihir itu. Karena penasaran, Sungyeol mengikuti Yookyung yang kini pergi entah kemana.

*

 

“ Sekarang tak ada lagi yang menghalangiku untuk mengatakan semuanya pada Naeun.”

Sungyeol baru sadar bahwa ternyata Yookyung ingin mengunjungi Naeun yang sedang beristirahat dengan tenang di kamarnya dan tak tahu apa yang telah terjadi pada Myungsoo.

“ Naeun.. bisa kau buka pintunya?”Yookyung mengetuk pintu kamar Naeun.

“ Sebentar, Yookyungie!” sahut Naeun dari dalam, ternyata ia sedang sibuk menangkap kedua kelincinya yang kini sehat dan lincah mengacak-acak kamarnya, ia harus menyembunyikannya dari Yookyung karena ia takut Yookyung marah jika ia membawa hewan ke dalam villa.

“ Cepat buka!”Yookyung nampak tak sabar, mungkin takut L bisa keluar dari dapur. Sungyeol masih tetap bersembunyi karena ia takut jika harus muncul.

KLEK..

Pintu terbuka, namun betapa terkejutnya Yookyung karena yang membuka pintu tersebut ternyata L. penyihir itu tertawa sinis kearahnya dan memainkan tongkatnya tanda siap bertarung dengannya.

Yookyung mengedipkan matanya. Ternyata hanya ilusi. Rupanya L mencoba melawannya dari jarak jauh dan membuatnya pusing karena kini begitu banyak bayangan L di depannya. Sungyeol, yang notabene adalah seorang cenayang tak bisa melihatnya, mungkin karena L sudah menggunakan sihir tingkat tinggi dari dapur sana.

Yookyung mengangkat tongkatnya, membunuh satu per satu bayangan tersebut dengan cepat hingga menghilang semuanya.

“ Terimakasih sudah menyelamatkan aku, Kim Hyoyeon. Hahahaha!”

Yookyung terkejut melihat L keluar dari dapur dengan santai.

“ Ternyata aku berbakat menipu penyihir nomor satu. Bayanganku mewakili setiap suku kata mantra pembebasan, dan kau memusnahkan bayangannya sesuai urutan.”

“ Sial!” Yookyung langsung menghilang saat itu juga, disusul dengan L yang ikut menghilang dan hanya meninggalkan asap di depan pintu dapur.

 

“ Apa benar yang kulihat ini? sebenarnya kau siapa, Hong Yookyung?”

Sungyeol semakin kebingungan. Ingin memberitahu Naeun, ia takut keadaan semakin gawat. Akhirnya ia memilih untuk berlari sendiri, mencari dimana Yookyung dan L bertarung sekarang.

***

 

“ Yeah!! Aku sudah mengunggulimu enam poin! Aku menang! Aku menang! Kau kalah, president school!”

Chorong melompat kegirangan karena tak menyangka bisa menang duel dengan Woohyun, semua anak-anak sekolah sihir yang menontonnya memberikan tepuk tangan meski mereka tak melihat apalagi mendengarnya.

Woohyun masih membalikkan badannya, berusaha berdiri tegak dan merasa kuat meski tulang-tulangnya kembali terasa nyeri luar biasa. Ia tak ingin merusak kesenangan Chorong sekarang.

“ Woohyun? Apa kau baik-baik sa….”

“ I’m okay.”Woohyun berbalik sebelum Chorong mengkhawatirkannya, lelaki itu memegang Chorong kuat-kuat untuk menopang tubuhnya yang nyaris ambruk.

“ Benar kau tidak apa-apa?”

Woohyun mengangguk pelan, “ Sesuai janjiku, aku akan memberimu hadiah jika kau menang.”

“ Benar. Baru saja aku mau menagihnya. Hadiah apa itu?”

Woohyun tersenyum, menahan rasa sakitnya dan mengambil sebuah cincin yang berkilau dari saku celananya lalu segera meraih tangan Chorong dan memasang cincin itu di jari manisnya.

“ Biasanya kau menyebutkan harga benda yang kau berikan padaku saat memasangkannya.”canda Chorong, Woohyun tertawa kecil.

“ Kukira kau merasa tak nyaman jika aku seperti itu.”

“ Aku sudah terbiasa mendengarnya. jadi sekarang katakan, benda apa ini dan..berapa harganya?”

“ Tidak perlu. Ini hanya barang murah.”

“ Murah bagimu sama dengan kekayaan tujuh turunan bagiku.”

Woohyun tertawa kecil, ia lantas mengarahkan tangan Chorong menuju hatinya yang berdebar, Chorong tersenyum dan kembali bertanya.

“ Benda apa ini? dan..berapa harganya?”

“ Ini hanya tempatnya, bendanya tak terlihat, tetapi tak terhitung harganya.”

“ Jika bendanya tak terlihat bagaimana kau memberikannya padaku?”

“ Mungkin seperti ini?”

“ YAAA!!” anak-anak sekolah sihir spontan menutup mata mereka, sama halnya dengan Chorong yang tak kuat membuka matanya selama bibir Woohyun masih menempel pada bibirnya. Meski rasanya ciuman itu semakin dalam dan berat karena tubuh Woohyun yang melemah.

Aku terlambat mencintaimu, Park Chorong..”

BRUK..

Ciuman mereka terlepas dan kini tubuh dingin Woohyun tersandar lemas di bahu Chorong. Kini lelaki itu yang memejamkan matanya, bahkan tak membukanya lagi.

 

“ Nam Woohyun..~”

Airmata Chorong mengalir tak terkendali, tangannya memeluk tubuh Woohyun yang sudah tak berdaya dan tangisnya mulai pecah, membuat semua anak-anak yang sejak tadi bersukacita menyaksikan kemesraannya turut menangis dan mengganti suasana mereka dengan duka cita.

 

“ Aku tahu kau masih bisa bernafas untukku. Jangan tinggalkan aku sendirian…”

****

 

“ Tongkatmu tak berguna lagi di tempat ini, nomor dua.”

Yookyung tersenyum licik ketika ia berhasil membawa L masuk ke salah satu ruangan besar di villanya. Ruangan yang paling L benci.

Gudang ramuan.

Sudah dipastikan Yookyung akan melawan L dengan berbagai ramuan yang ada di tempat ini. Sementara L tak bisa menggunakan satu ramuanpun karena ia tak pernah tahu mantra khusus ramuan.

Sungyeol masih mengikuti mereka dan kini bersembunyi di belakang salah satu rak kosong. Penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“ Riwayatku tidak boleh tamat disini.”L mencoba melawan rasa takutnya dengan mendekati rak-rak ramuan yang aman. Betapa ia membutuhkan Yeoshin sekarang, tapi jika Yeoshin ada disini, sepertinya gadis itu juga tak akan menolongnya.

PRANG!

“ Huuuff..” L mulai banjir keringat dingin ketika Yookyung baru saja menjatuhkan sebotol ramuan dari atas dengan tongkatnya, untung saja ia berhasil menghindar.

“ Kalau hanya itu yang bisa kau lakukan, permainan kita tak akan selesai.”

PRANG! PRANG!

Sekarang dua botol ramuan sekaligus dari arah kanan dan kirinya, namun L berhasil menghilang dan berpindah tempat. Ia memasuki lorong rak ramuan yang sudah mengandung mantra. Mata elangnya segera mencari ramuan yang berbahaya untuk ia lemparkan pada Yookyung.

“ Sial! Ini ramuan obat semua.” umpat L, dengan berhati-hati ia berpindah tempat ke rak yang lain, dan tanpa ia sadari Sungyeol mengikuti pergerakannya. Alasan Sungyeol mengikuti L secara sembunyi-sembunyi adalah : ia ingin melihat L mati dari dekat.

“ Sekarang kau berada di tempat yang paling berbahaya. Bersiaplah, L.”

Yookyung muncul di depannya dan menunjuk tulisan yang ada di raknya. Ramuan-ramuan pembunuh yang sudah mengandung mantra.

“ Tidak..” L memucat, ia tak bisa menghilang, berpindah tempat, atau bahkan berlari karena Yookyung sudah menyihir kakinya menjadi beku. Sungyeol nampak tak sabar karena Yookyung tidak langsung memiringkan rak berisi ramuan-ramuan pembunuh itu untuk menumpahkan semuanya kepada L.

Karena Sungyeol menginginkan L untuk mati secepatnya, lelaki itu mengambil tempat di belakang rak tersebut dan tanpa basa-basi langsung mendorongnya agar semua ramuan berbahaya itu tumpah mengenai L, namun…

“ Tolong aku!”

“ Tidak!! Kim Namjoo!”

Yookyung terkejut karena sosok L berubah menjadi Namjoo, berlari mengeluarkan anaknya itu dari wilayah ramuan berbahaya tersebut. Namun apa yang terjadi? Setelah Yookyung menyentuhnya, sosok Namjoo berubah kembali menjadi L yang kini terbebas dari rak ramuan pembunuh itu.

“ Kau lupa aku ahli ilusi? Hanya saja aku jarang memamerkannya pada siapapun, kecuali kau. Hahaha!” L tertawa puas, namun tawanya terhenti ketika melihat ramuan-ramuan pembunuh itu mulai bertumpahan dan mengenai Yookyung.

“…padahal aku belum memiringkan raknya.”

“ Astaga! Yookyung!!??” Sungyeol akhirnya muncul karena baru sadar ia mendorong raknya disaat L sudah menukar posisinya dengan Yookyung. Ia panik melihat gadis yang ia kenal sebagai Yookyung itu kini berubah menjadi seorang wanita muda, yang tak lain dan tak bukan adalah Hyoyeon. Penyihir itu kehilangan energi karena terlalu banyak terkena ramuan pembunuh buatannya sendiri.

“ Jadi kau, Lee Sungyeol!!!?? HAHAHAHA!! TERIMAKASIH!!!” L berteriak dan tertawa licik bahkan sampai membakar rak-rak lain dengan sihirnya tanda berbahagia luar biasa karena ia menang tak diduga.

“ Tidak.. aku tidak sengaja. Kau! Kau yang harus mati!!”Sungyeol depresi mendadak dan langsung berdiri mengejar L, namun penyihir tampan itu langsung berlari setelah mencuri berbotol-botol ramuan portal di salah satu rak.

 

“ WOOOOHOOOO!!! SEKARANG AKULAH PENYIHIR NOMOR SATU DI NEGERI INI!!!! HAHAHAHAHAHA!!!”

*

 

“ Darimana saja, sunbae? Kenapa baru datang?”

Naeun menyambut Myungsoo yang baru saja masuk kekamarnya dengan semangkuk sup ayam yang dimintanya tadi pagi.

“ Aku sibuk di dapur.”jawab Myungsoo seadanya sembari mengaduk-aduk sup ayam yang sudah ia beri racun tersebut.

“ Sepertinya kau bekerja keras demi keinginanku. Mianhae merepotkanmu..”

“ Tidak apa-apa. Ini, buka mulutmu.”dengan tidak sabaran Myungsoo mengarahkan sendok berisi sup ayamnya ke mulut kecil Naeun.

Hingga dalam hitungan detik, tak butuh lama bagi seorang Son Yeoshin memejamkan matanya…

******************

“ Dimana..aku?”

Naeun mengerjap-ngerjapkan matanya, sebuah lampu gantung yang redup menjadi benda yang pertama kali dilihatnya. Gadis cantik itu terkejut ketika menyentuh tangan dua orang yang begitu dingin seperti es di kanan dan kirinya.

“ Kepala sekolah?”Naeun heran mendapati sosok kepala sekolah Kim Haeyeon berbaring dengan mata terpejam disampingnya dengan wajah pucat dan tubuh yang dingin.

“ Myungsoo sunbae?!” gadis itu semakin terkejut karena mendapati sosok Myungsoo yang juga berbaring tak berdaya di sebelah kanannya dengan wajah pucat dan tubuh dingin. Bagaimana ceritanya ia bisa terbaring dengan diapit oleh dua…mayat?

“…kepala sekolah?” Naeun mencoba membangunkannya, namun hasilnya nihil.

Kini ia beringsut kearah Myungsoo, lelaki tampan itu amat pucat. Naeun jadi khawatir melihatnya.

“ Kim Myungsoo sunbae! Kim Myungsoo sunbae..~”Naeun mengguncang-guncang tubuh lelaki itu dengan panik.

 

“ Jika dia Kim Myungsoo, lalu aku siapa?”

 

Naeun terperanjat ketika mendengar suara seseorang di ruangan tempat ia berada sekarang. Perlahan ia berdiri dan mengarahkan lampu gantungnya ke depan, hingga ia mendapati sosok seorang lelaki tampan yang selama ini menjadi mimpi buruknya.

 

“ L ?”

 

TO BE CONTINUED

Aaaaaaaa!!! >< *apa sih-_-*

Maaf ya readers, ini part panjang banget. Mana author pake acara nangis pas nulis adegan Woohyun-Chorong TT

Semoga part ini memuaskan yaa ^^ author tidak bisa menjanjikan update cepat untuk part 14 karena author sudah kelas XII dan akan menghadapi UN. Tapi bukan berarti ff ini gak dilanjutin. Cepat atau lambat ff ini kan segera selesai.

So, LIKE and COMMENT sangat sangat diharapkan.. jangan tinggalkan ff ini dulu sebelum meninggalkan komentar. Hargai author yang sudah menyempatkan diri menulis ditengah kesibukan sebagai artis ini(?) *ngga-_-*

RCL juseyo!! Sampai bertemu di next part !

 

Next >> Part 14 [PRE-FINAL] : The Real Story

 

 

Advertisements

192 responses to “THE PORTAL [ Part 13 : It’s Time To… ]

  1. Pingback: THE PORTAL 2 [[PART 8 : Sacrifices [PRE-FINAL]] | citrapertiwtiw·

  2. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s