Temperament n’ Cool Boy – Chap. 10 [Final Choice]

Temperament-n-cool-boy_4

Temperament or Cool Boy?

Author : Yanlu and my friend Mokuji 🙂

Genre : Romance, little bit comedy

Main Cast : Kris Wu, Lee Jinki, Samantha Lee (OC)

Other Cast : member of EXO-M, Kang Minhyuk

Length : Chaptered

Rating : PG-16

Come To You | Bad Luck | Going Party? Oh No! Broken Heart | Jinki’s Threat |

First as Fearfulness Date | In Love, In Pain | We are In Trouble  | Planning B

Huuhhhhh… Last Chapter, hiks…. authornim sedih nih, #wae? *Jinki. Ya, author merasa setiap cerita yang terselesaikan bagaikan kehilangan para reader. Perpisahan imajinasi antara penulis dengan readernya. makanya sedih banget #pukpuk.
#He.eh? Authornya lebai ya? Tapi emang gitu kenyataannya, reader yang mbaca ceritaku beda-beda sama reader ceritaku yang satunya, selalu seperti itu hehe, tapi nggak apa, mereka termasuk reader setiaku kok. oke langsung aja ke cerita…

Jinki POV

Arrrggghhh …..

Bukannya aku ingin marah seperti ini, tapi aku sudah tak tahan lagi.

Oh, Dosen Han, seandainya saat itu kau tak menunjukkan kertas ini, aku pasti tak akan sepusing sekarang ini.

Tunggu, apakah aku pantas menyalahkan Dosen Han ?

Bukan, bukan, itu tak ada hubungannya dengan orang berkacamata botol susu sapi itu. Aaah, tidak, tidak, ini juga bukan salah eomma yang menyuruhku membatalkan beasiswa ini.

Entah mengapa aku merasa begitu berat untuk membatalkan pertunangan konyol ini, bahkan lebih berat daripada ketika harus membatalkan beasiswa yang akan menentukan masa depanku? Apa-apaan ini? Mengapa pertunangan itu seolah adalah sesuatu yang nyata dan di luar sandiwara ? Mengapa aku merasa sedikit demi sedikit mulai menginginkan hubungan sandiwara ini menjadi sebuah hubungan yang sebenarnya ?

Itu karena

Aku, menyukai Samantha …..

Sial,

End POV

^ ^ ^

Pagi itu masih sama seperti pagi di hari-hari akhir musim, seseorang berjalan begitu cepat menyusuri lorong yang sedikit padat berisi lalu-lalang manusia.

“Yaa, Samantha-ssi !”

“Oh, ya ?”

Kris.

Laki-laki itu yang kini memenuhi pandangan dalam mata lebar Samantha. Berdiri tepat di hadapannya setelah panggilan yang begitu singkat dan terkesan diburu waktu.

“Ah, Kris. Ada apa ?”

“Ikut aku sebentar, tidak keberatan ?”

“Ng, k, kemana ?”

“Aku bertanya malah kau balik bertanya,” Kris memasang ekspresi wajah kesal. Di mata Samantha, entah mengapa apa yang dilihatnya itu tampak seperti ekspresi pria jalang yang sok imut.

“A, ah, ya, ti, tidak masalah,” Samantha sedikit menahan tawa.

Kris tersenyum.

Ia lalu menggandeng tangan Samantha dan membawanya berjalan, cukup cepat. Samantha tak bisa bertingkah apa-apa, selain keheranan yang memenuhi pikirannya saat itu. Ia pasrah Kris akan membawanya kemana, lama atau tidak. Karena frasa “tidak masalah” yang Samantha keluarkan tadi adalah jawaban yang memiliki arti kias.

“Tidak masalah kau membawaku kemana sekarang, asalkan pukul dua belas nanti kau harus mengijinkanku untuk pergi menemui Dosen Han,” Harusnya kalimat ini yang Samantha ucapkan pada Kris.

^ ^ ^

Gedung olah raga siang itu sangat sepi, hanya beberapa orang yang terlihat lewat, itupun dengan langkah yang cepat karena, yah, mungkin sedikit merasa takut akibat suasana yang terlalu sepi.

“A, apa yang akan kita lakukan disini ?”

Samantha hanya bisa bingung seraya terus mengikuti langkah Kris, yang saat ini membawanya masuk ke dalam gedung olah raga.

Hening.

Tak ada seorangpun.

“Kris ?”

Kris melangkah ke sudut aula persegi itu. Ketika keluar, sudah ada sebuah bola basket di tangan kanannya.

Tak beberapa lama, Kris mulai memainkan bola itu.

Dribling.

Shooting.

Ia melakukannya dengan baik. Samantha yang sejak tadi hanya berdiri diam mengamati, akhirnya mulai kembali menyuarakan kebingungannya pasal tingkah aneh Kris.

“Hei,”

Kris tidak menjawab.

“OK, baiklah. Kris, sekarang aku memang sedang tidak terburu-buru, tapi jika kau membawaku untuk melihat sesuatu yang tidak jelas seperti ini, maaf, ini buang-buang waktu,” Ujar Samantha.

Bola basket itu masuk melewati ring untuk kesekian kalinya.

“Samantha,”

“Ya ?”

“Duduklah dulu, sejak tadi kau cuma berdiri,”

“Kris, aku serius,”

“Apa kalimatku barusan seperti bercanda ?”

Samantha mulai merasa jengkel dengan tingkah Kris. Ia melihat jam tangannya, menunjukkan pukul sebelas lebih tiga puluh lima menit.

“Sudah beberapa hari aku tak menyentuh yang seperti ini,” Kris mengambil bola basketnya. “Tak mau coba ?”

“Kris, sekali lagi kukatakan, kalau hanya untuk melihatmu pamer tentang kemampuan basketmu, aku tak punya waktu,” Samantha meninggikan intonasi ucapannya.

“Hei, apa yang salah dari ini … Ini menyenangkan,” Kris tak menggubris Samantha.

Tiba-tiba Kris melemparkan bola basketnya ke arah Samantha. Untung saja, Samantha spontan menangkap bola itu sebelum menghantam tepat ke wajahnya.

Samantha melotot.

“Wah, rupanya kau cukup gesit,” Ujar Kris.

“Hhhh …..” Samantha mendesah. “Memangnya aku ini selemah apa,”

“Hmp,” Kris menahan tawa.

“Kenapa? Ada yang lucu?” Samantha terkesan tidak terima. “Nih,”

Samantha balik melempar bola basket itu ke arah Kris, dan Kris menangkapnya dengan baik.

“Lempar kembali padaku,”

“Ya?”

“Ya? Apa maksudnya dengan ‘ya’ ? Lekaslah,”

Bola basket itu kembali ke tangan Samantha. Kris melemparkannya dengan baik, tidak terlalu kuat.

Saat itu entah mengapa Samantha sangat terpancing dengan ulah Kris. Bola basket itu silih berganti berpindah tangan dengan cekatan. Kris begitu terkejut, rupanya kemampuan Samantha dalam memainkan bola berat itu tak bisa dipandang sebelah mata. Mereka menikmatinya, waktu yang berjalan benar-benar tak disadari, terutama oleh Samantha.

Setelah beberapa menit berlalu, decit sepatu di lantai aula itu sudah tak terdengar lagi.

“Hei,”

Kris mulai berkata setelah megatur nafasnya selama beberapa saat. Dia berbaring di lantai, mengikuti tingkah orang di sebelahnya, Samantha.

“Huufft, ya ?” Rupanya Samantha kelelahan.

“Menyenangkan ya,” Ujar Kris.

“Ah, ya … Benar ….” Balas Samantha.

Eh ?

Samantha menyadari sesuatu. Bukan, bukan karena saat itu waktu sudah menunjukkan jam satu tepat dan itu tandanya Samantha batal menemui Dosen Han. Samantha tampaknya benar-benar lupa soal itu. Tetapi ia tau, kalau sedari tadi dalam kegiatan melelahkan yang ia lakukan itu, ia bersama Kris.

Kris.

Samantha sampai lupa, laki-laki yang kini berbaring di sampingnya itu Kris. Gadis itu hampir tak percaya bahwa ia hanya berdua dengan Kris di tempat ini.

“He, hei, kenapa menatapku seperti itu ?” Kris mengusik lamunan Samantha.

“A, ah, ti, tidak, tidak ada apa-apa,” Elak Samantha. “Ng, Kris, ngomong-ngomong, kenapa kau sengaja mengajakku kemari ?”

“Aku dengar dari teman-temanmu. Katanya kau cukup suka basket, jadi aku hanya ingin tau sejauh mana kemampuanmu. Ternyata, di luar dugaan,”

“Mmm, hanya itu ?”

“Memangnya kau mau mendengar alasan apa lagi ?”

“Ah, tidak,”

Kris lalu tersenyum. Ia membuang pandangannya ke langit-langit.

“Kau seperti dia,”

“Eh ? Dia siapa ?”

“Benar. Kau sangat mirip dia. Bukan secara fisik, tapi secara sifat dan, yah, ini, ini yang kumaksud, kau sama-sama suka basket,”

“M, ma, maksudmu … La, La Yin ?”

Kris memalingkan pandangannya menatap Samantha. Ia lalu tersenyum, begitu lebar.

“K, Kris …. ?”

“Mungkin, kau adalah gantinya ……”

“Ya ??”

“Kau, maukah menggantikan posisi La Yin untuk mengisi kekosongan daftar satu-satunya wanita yang kusukai ?”

Saat itu siang hari, dan Samantha kini merasakan apa itu namanya ‘tersambar petir di siang bolong’. Tercengang, terkejut bukan main ia, mendengar kalimat Kris barusan. Ia tak percaya, bisa-bisanya Kris menyukainya.

Tapi ada sebagian perasaan sakit menghampiri. Bukan perkara Kris menganggapnya mirip La Yin, bukan…bukan itu. Tapi…ada sesuatu yang membuatnya tiba-tiba terlintas nama Jinki saat itu juga.

“A, a~”

Cklak~

“Oh, jadi begini ……”

“Ji, Jinki ???” sontak Samantha terkejut bukan main. Orang yang sedang berada dalam pikirannya  benar-benar muncul.

Tanpa diduga, Jinki masuk ke dalam gedung olahraga itu. Membuyarkan suasana sepi dengan sapaan sindirannya. Samantha dan Kris yang terkejut segera bangun dan menghampiri Jinki di ujung pintu.

“Kenapa kau kemari ?” Tanya Samantha.

“Harusnya aku yang tanya. Sedang apa kalian di tempat sepi dan tertutup di tengah hari begini ?” Balas Jinki, ketus. Matanya menatap tajam wajah Kris. “Oh, kau lagi,”

“Ada perlu apa ….” Ujar Kris.

“Bukan urusanmu,” Jinki kesal. Ia lalu kembali menatap Samantha. “Jadi hanya untuk ini? Aku membatalkan beasiswa itu hanya untuk ini? Benar-benar sulit dipercaya,”

“Hei, apa maksudmu??” Kini Kris mulai naik darah.

“Sudah, tak usah repot-repot menggertakku seperti itu. Silahkan, silahkan lanjutkan saja proses merayumu, semoga sukses,”

Setelah mengucapkan sindiran itu , Jinki pergi keluar ruangan.

“Tu, tunggu dulu !!” Samantha berteriak. Secara spontan ia keluar mengejar Jinki.

Di luar, Samantha berhasil mengejar Jinki. Ia menghentikannya.

“Jinki-ya!”

“Mwo?? Apa lagi??”

“Apa maksud perkataanmu tadi ??”

“Lupakan itu,”

“Hah?? Kau menjawab sesantai itu?? Menyuruhku melupakannya?? Jinki! Bukan hak mu berkata seperti itu pada Kris !”

“Bukan hak ku ? Lalu, apa hak seorang laki-laki yang melihat calon tunangannya bersama laki-laki lain ? Tidak ada ?? Hanya dibolehkan untuk diam saja ??”

“Aku bukan calon tunanganmu! Kenapa kau menganggap seolah ini bukan sandiwara?? Setiap hari kuperhatikan kau semakin pasrah dan menuruti semua kemauan ibumu! Apakah sangat susah bagimu untuk membatalkan pertunangan itu ?? Kalau kau keberatan, aku yang akan membatalkannya sendiri !”

“Jangan !”

“Apa ?! Kenapa ?! Kau mau menghentikanku lagi ?? Hanya buang-buang waktu jika menunggumu yang mengatur semuanya ! Aku tak iba lagi pada ibumu ! Itu bukan urusanku !”

“Ja, jangan, kumohon ….”

“Kenapa ?! Kenapa tampaknya kau sangat menginginka~”

Grbb~

“Itu karena aku menyukaimu ….”

“MWO ????”

Dalam pelukan Jinki, Samantha terbelalak tak percaya. Belum ada selang satu jam setelah Kris menyatakan perasaannya, kini Jinki pun melakukan hal yang sama. Hal yang sama, pada Samantha.

^ ^ ^

“A, apa itu benar ?”

“Ya, Jinki belum membicarakan padaku soal itu. Ngomong-ngomong, ada masalah apa ?”

“A, ah, jangan dipikirkan. Terima kasih kalau begitu, maaf mengganggu waktu anda,”

“Ya, ya, sama-sama,”

Baru saja Samantha menemui Dosen Han. Informasi yang ia dapat sekarang adalah, Jinki ternyata belum mengirimkan pengajuan pembatalan beasiswa itu.

Hah, hah, hah …. Dasar, dia menipuku ……

Berjalan pelan keluar dari ruang dosen. Di dalam pikiran Samantha kini berputar-putar kalimat-kalimat mencengangkan yang keluar dari mulut Jinki dan Kris kemarin. Ia sangat senang (walau tak percaya) dengan apa yang dilakukan Kris terhadapnya, di sisi lain ia dibingungkan pula dengan kenyataan bahwa Lee Jinki, senior menyebalkan (di matanya, mungkin dulu) itu, juga menaruh perasaan padanya.

Menilik sikapnya (Jinki) di gedung olah raga kemarin itu, Samantha tau itu adalah gambaran seseorang yang sedang cemburu.

Beberapa kali Samantha berpapasan dengan teman-temannya, dan ketika mereka mengajak Samantha untuk bergabung, ia selalu menolak. Benar-benar ingin sendiri rupanya, setidaknya, untuk menenangkan kekacauan pikirannya.

Kembali ke apartemennya, Samantha untuk yang kesekian kalinya menceritakan semua yang dialaminya itu pada sahabatnya, Minhyuk.

“Apa yang harus kulakukan ….” Keluh Samantha.

“Hmmm …..” Wajah Minhyuk menunjukkan ekspresi berpikir. “Lebih rumit dari masalah yang kemarin,”

“Nah, kan ….”

Tiba-tiba, ponsel Samantha berdering. Ada pesan singkat yang masuk.

Hei, sejak pagi aku mencarimu … Kau dimana sekarang ? Eomma ingin bertemu denganmu di dpicque. Aku tak bisa mengantarmu, mungkin aku akan menyusul kesana. Kau bisa datang kan ?

“Mwo ?? Setelah kemarin membuat wajahku memerah, sekarang dengan santainya ia mengirimiku pesan singkat seperti ini ?? Aigooo, bagaimana ini …. Ibunya ingin bertemu denganku sekarang ….”

Minhyuk masih diam.

“Ng ?”

Masih diam.

“Minhyuk-ah kenapa kau diam saja …. Katakanlah sesuatu …..”

“Sebentar, bolehkah aku ikut ?” Kini Minhyuk bicara.

“Hah ? Buat apa ??”

^ ^ ^

Samantha POV

D’picque ….

Sudah sepuluh menit berlalu sejak aku tiba disini, aku hanya diam dengan sesekali memandang orang yang duduk di hadapanku sekarang. Jujur, aku berusaha untuk menikmati backsound yang mewarnai suasana kafe ini.

Sepuluh menit yang hening itu berakhir sekarang.

“Jadi,” Wanita itu menatapku dan menopang dagunya. “Kapan ibumu datang dari, ng, mana itu ?”

“Vancouver,”

“Ah, ya, dari Vancouver. Kapan datang ?”

“A, anu, mu, mungkin~”

“Lho, Samantha ?”

Di tengah pembicaraanku dengan Nyonya Lee, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tak asing bagiku. Minhyuk. Dia ada disini. Sedang apa ?

“A, ah, Minhyuk-ah ?”

“Sedang apa? Aku mencarimu di kampus setengah hari penuh dan setelah kutanya teman-temanmu ternyata kau ada disini,”

“Ng, a, anu, mmm, aku,”

“Tunggu,” Nyonya Lee kini angkat bicara. “Samantha, dia siapa ?”

“Mmm, ma, maaf, a, ah~”

“Oh, annyeong haseyo. Saya Kang Minhyuk, pacar Samantha,”

“MWO ???”

Nyonya Lee kaget bukan kepalang. Begitupun aku, yang sejak tadi hanya terjebak dengan kalimat yang terbata-bata.

“Sam?? Apa maksud semua ini ???” Nyonya Lee bangun dari kursinya dengan tatapan membelalak.

“A, anu, ma, maaf, ini bi~”

Tak sampai lima detik, Nyonya Lee pergi begitu saja meninggalkan Samantha, dengan wajah bingung dan sangat kesal.

Dan kembali di luar dugaan, ketika Nyonya Lee membuka pintu, bersamaan dengan datangnya Jinki.

“Ah, eomma? Mau kemana? Sudah selesai bertemu dengan Samantha ?” Tanya Jinki.

“Tinggalkan wanita itu … Batalkan acara minggu depan ……” Setelah itu, Nyonya Lee berlalu begitu saja. Aku bisa melihatnya dari tempatku berdiri, ia segera masuk ke dalam taxi.

Jinki hanya bisa diam dengan ekspresi bingung luar biasa.

“Sa, Samantha, apa yang terjadi barusan ?? Kau mengakui sandiwara kemarin??”

“Ji, Jinki, mi, mianhae ….”

“Samantha ??”

“A, ng, a, aku, aku tidak membocorkan semuanya, sungguh. Aku, aku, aku hanya …..”

Aku senang melihat Minhyuk yang berhasil membujuk Jinki untuk tetap tenang. Kini, ia duduk di hadapanku.

Ya, benar. Minhyuk lah yang mengatur semua ini. Ia memintaku untuk berpura-pura jadi pacarnya dan mengakuinya di hadapan Nyonya Lee, dengan tujuan Nyonya Lee akan membatalkan pertunangan itu, sekaligus tak merestui ‘hubungan’ Jinki denganku. Dengan ini, tanpa mengakui apa yang sebenarnya terjadi, pertunangan itu batal. Karena aku tau, jika aku membocorkan semuanya pada Nyonya Lee, pasti sakit hatinya akan jauh lebih parah. Karena ia mengetahui anaknya sendiri menipu, menipu padanya. Secara tidak langsung, aku juga menyelamatkan Jinki. Tak masalah Nyonya Lee menganggapku sebagai gadis penipu atau apa, yang penting pertunangan itu batal, aku sudah sangat senang.

Tapi… sebersit perasaan tidak rela merundungku. Ungkapan rasa senangku rasa-rasanya palsu. Berat memutuskan hal itu. Antara memilih pertunangan dengan cita-cita Jinki. Sekarang hanya Jinki yang aku pikirkan. Entahlah, aku merasa seperti gadis yang mengobrak abrik hidup Jinki yang pada awalnya baik-baik saja sebelum aku datang ke Korea.

Soal perasaanku ke Kris, sejak awal aku memang menyukai laki-laki itu, mengagumi hingga kusadari obsesi Kris pada La Yin masih ada. Ia tidak benar-benar melihatku sebagai Samantha. Aku hanyalah replika La Yin dalam imajinasi Kris. Mungkin sebaiknya aku berhenti mengagumi dan perasaan itu nyata adanya. Tergantikan rasa sukaku pada Jinki yang terus tumbuh entah sejak kapan.

Kini, dalam percakapan ini, empat mata dengannya awalnya membuatku gugup. Aku mengutarakan semuanya. Termasuk tujuanku datang ke Korea ini adalah untuk apa. Aku jujur padanya, bahwa Kris adalah laki-laki yang kusukai, bahkan jauh sebelum aku mengenalnya (Jinki). Untuk yang kedua kalinya aku meminta maaf padanya soal insiden di pesawat itu, insiden yang merupakan awal dari semua momok permasalahan yang terjadi. Bersamaan dengan itu, secara berat hati, aku, menolak perasaan Jinki dalam artian palsu. Aku sangat menerima perasaan Jinki. Sangat ingin menjawab ‘iya’. Aku juga menyukainya. Menyukai segala tingkah menyebalkannya, omongan pedasnya dan satu lagi sifat temperamentnya.

Ketika aku mengucapkan penolakan itu, dari raut wajahnya aku paham, ada kekecewaan besar di hatinya. Ia yang selama ini selalu jahil dan terkesan kejam kepadaku, rupanya perlahan-lahan memperhatikanku. Tapi, ah…lupakan. Hal itu membuat rasa sakitku bertambah berkali lipat. Gurat kekecewaanya menyayatku, seakan aku seorang pembunuh. Tepatnya, pembunuh hati.

Lebih dari itu. Aku sangat tidak tega ketika melihatnya bimbang dengan beasiswa Dosen Han. Aku tak ingin ia membuang masa depannya hanya demi hal konyol ini. Walaupun kenyataannya saat itu dia berbohong kepadaku kalau dia telah membatalkan beasiswa itu, tapi aku yakin, jika ini dibiarkan, pasti Jinki akan membatalkan beasiswa itu juga. Aku tak ingin itu terjadi.

“Jinki-ya, mianhae ….” Aku menggenggam tangannya. Untuk saat ini, adalah percakapan dengan nada bicara paling halus antara aku dan Jinki. Aku mencoba menahan diri untuk tidak menangis dihadapannya. Ku dongakkan kepala dengan mantap. Menatap pada kedua mata Jinki meski tidak lurus.

“……”

“A, aku tak ingin kau membatalkan beasiswa itu. Jangan gadaikan masa depanmu, aku tau kau sangat menginginkannya,”

“Tau darimana …”

“Dari wajahmu, ketika ibumu memintamu membatalkannya, kau seperti benar-benar kehilangan semangat hidup,”

“Rupanya kau memperhatikanku juga,”

“A, ah, bukan begitu maksudnya~”

“Haha ….” Kali ini ekspresi Jinki tampak lega. “Yah, kalau memang ada dia, apa boleh buat. Haha, bodohnya. Aku bodoh ya …”

“Jinki, jangan bicara seperti itu. Aku yakin, banyak gadis baik di Eropa,”

“Dan seksi tentunya,”

Mendengar celetukan Minhyuk itu, kami semua sontak tertawa.

Yah, aku senang, dan lega. Memang seharusnya seperti ini, sesuai dengan apa yang aku inginkan. Jinki rupanya bisa merelakan semua ini dengan mudah. Benar. Dia pemuda tampan, pintar, ah, mengapa aku jadi terlalu jujur begini ?

Tentang perasaanku terhadapnya, sengaja ku simpan. Biarlah Jinki tidak tahu. Karena kalau ia tahu mungkin saja ia justru benar-benar membatalkan beasiswa itu.

Haha, setidaknya, aku yakin jika kami ditakdirkan untuk bertemu. Pasti aku tidak akan lagi ragu tentang perasaanku padanya. Aku akan berkata ya tanpa menunggu-nunggu. Namun, bisa saja laki-laki jenius ini akan menemukan pengganti yang lebih hebat. Dan, dalam harapanku yang sebenarnya, ketika ia bertemu wanita hebat itu, tak ada kejadian seperti ini yang menimpanya.

Jinki-ya, semoga sukses ………

End POV

^ ^ ^

Esok, adalah hari pertunangan itu.

Sebenarnya, begitu ….

Tapi semuanya batal. Dan, itulah harapan Samantha. Ya, ia sudah bisa bebas dari segala sandiwara. Meski ia sedikit berharap ada keajaiban yang membuatnya bisa memilih menuju kebahagiaan. Tapi, keputusannya sudah bulat. Ia tidak akan menyakiti siapapun.

Baru tadi pagi ia bertemu dengan Jinki yang sedang mengantarkan berkas terakhir kepada Dosen Han. Hari ini adalah hari keberangkatannya ke Paris. Sengaja ia memajukan sendiri hari keberangkatannya. Bertemu Samantha, mungkin untuk yang terakhir kalinya (setidaknya tidak demikian jika suatu saat nanti mereka bertemu kembali), ia meluapkan rasa senangnya. Dipeluknya Samantha, erat. Samanthapun tak merasa keberatan. Ia memohon maaf pada Jinki karena ia tak bisa ikut mengantarkannya ke bandara.

Mungkin untuk sekian lama, suara jahil Jinki, tak akan terdengar lagi di telinga Samantha. Ia akan merindukannya…

Kini gadis itu berjalan santai, di lorong kampus yang hampir membuanya bosan karena keadaannya yang stagnan sejak ia menjadi mahasiswa di kampus itu.

Tapi, keadaan membosankan itu tidak ada untuk hari ini.

Ia harus tersenyum untuk teman-temannya, Kris, dan hidupnya sendiri.

THE END

1….2…3…kaburrr… ahahah, kayaknya author siap-siap di timpuk nih, gimana endingnya? kekeke, itu maksa banget ya?

Tapi Thanks banget buat readernim yang terus mengikuti cerita ini sampai akhir, yang tidak bisa author sebutkan satu-persatu karena saya pelupa ._.v lalu buat temenku yang jadi karakter tokoh Samantha, gimana dear? Jangan gebuk aku ya, hehe.

Wanna Sequel? 50 COMMENT TARGET, I will fullfill your wish 😀

33 responses to “Temperament n’ Cool Boy – Chap. 10 [Final Choice]

  1. Hai Thor.. aku jadi reader baru nih baca cerita ini .. maaf, knpa ceritanya gantung ya ?? atau Kris itu sudah jadi pacarnya samantha endingnya ?? DAEBAk .. buat Thor ..

  2. SEQUEL SEQUEL SEQUEL!!! *brb nyuruh anak anak lain baca ff ini dan komen/?* KURANG 18 LAGI AAAAAA TANGGUNG;A;

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s