EXO Daddy Series [9/12] : Clumsy Daddy

Clumsy Daddy

Author : Fai

Cast :

  • Kim Minseok | EXO’s Xiumin
  • Kim Minsoo (as his child)
  • Kim Hayeon (as his wife)

Genre : family

Rating : G

Length : oneshot (3203 words)

Previous :

Disclaimer : this is officially mine, but the casts are not mine

N.B. : HALO! Akhirnya Daddy Series ini bisa lanjut juga setelah sekian lama terbengkalai :’D duh kalo Fai minta maaf karena telat ngepublishnya pasti gabakal dimaapin T__T #sadardiri. Tadinya pengen ngepublish versinya Lay/Chen duluan, tapi Fai emang labil akhirnya versinya Xiumin duluan yang selesai -.- oh ya, mungkin versinya Xiumin ini bakal agak OOC :/

Okeh, happy reading ^^

.

“…I love my son, but I’m so clumsy…”

.

Minseok sangat menyukai anak kecil. Ia menyukai anak kecil karena menurutnya anak kecil itu sangat lucu dan menggemaskan, sama seperti dirinya (coret saja bagian terakhirnya).

Semua ini berawal dari sebuah kalimat yang tidak sengaja dilontarkan oleh Minseok. Waktu itu ia berkata pada Hayeon—istrinya, “Aku ingin punya anak,” dan sekarang keinginannya itu telah terwujud (tolong jangan tanyakan bagaimana prosesnya).

6 tahun yang lalu, Hayeon telah melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat menggemaskan. Kedua pipi gembulnya dan matanya yang sipit sangat mirip dengan Minseok. Sedangkan hidungnya yang mungil dan bibirnya yang tipis sangat mirip dengan Hayeon.

Hayeon adalah seorang Ibu yang sangat telaten dan perhatian. Ia pintar memasak dan hatinya sangat lembut. Itulah yang membuat Minseok menikahinya.

Sedangkan Minseok adalah seorang Ayah yang easy-going, ceroboh dan kikuk. Ia sangat pintar dalam menghabiskan makanan. Tapi, Minseok adalah Ayah yang penyayang. Ia selalu berbagi dengan Minsoo, mereka paling sering memakan bakpao bersama di kamar Minseok (Minsoo tidak tidur bersama orangtuanya).

Minsoo adalah anak yang baik dan manis. Walaupun ia baru berusia 6 tahun, tapi ia sangat pintar. Ia sering mengalah terhadap teman-temannya yang egois, setiap pagi ia selalu membuat susu seorang diri—bahkan ia juga pernah membuatkan dua gelas susu untuk Minseok dan Hayeon (terkadang Minsoo juga dibantu oleh Ibunya).

Dan keluarga Minseok adalah keluarga yang sederhana.

+++

Pada suatu hari, Hayeon bangun pagi-pagi sekali dan ia sudah berpakaian rapi ketika Minseok baru bangun dari tidurnya.

“Ini baru jam 6 pagi, Hayeon-ah, dan kau sudah berpakaian rapi. Kau mau ke mana?” tanya Minseok dengan kedua mata yang masih setengah terpejam.

“Ibuku sedang sakit, aku ingin menjenguknya dan kemungkinan aku akan pulang nanti sore,” jawab Hayeon. Minseok hanya sekedar mendengar saja—karena ia masih mengantuk. “Oh, aku tidak membawa Minsoo bersamaku. Jadi, kau harus menjaganya, ya?”

Minseok mengangguk. “Kalau begitu, hati-hati, Hayeon-ah. Sampaikan salamku pada Ibumu, Hayeon,” ujar Minseok seraya menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya.

“Baiklah.. Aku juga sudah membuatkan sarapan untukmu dan Minsoo. Cepat bangun dan habiskan sarapanmu, Minseok. Jangan lupa jaga Minsoo dengan baik, bersenang-senanglah,” ujar Hayeon lembut lalu keluar dari kamar—meninggalkan Minseok yang masih bersembunyi di dalam selimutnya.

Minseok masih memeluk gulingnya. Ia masih enggan untuk bangkit dari tempat tidurnya (ia pernah berniat untuk menikahi kasurnya dan menjadikan kasurnya itu sebagai istri keduanya).

Setelah mendengar suara pagar dikunci—yang menandakan bahwa istrinya sudah pergi—Minseok menyibakkan selimutnya. Ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi dan mencuci wajahnya di wastafel.

Ia baru saja akan mandi ketika tangannya tidak sengaja menjatuhkan botol yang berisikan sabun cair sehingga seluruh isinya tumpah ke atas lantai. Dan Minseok tidak jadi mandi.

“Upss.. Aku tidak sengaja,” ujar Minseok santai. Ia segera keluar dari kamar mandi tanpa membersihkannya terlebih dahulu. Ia tidak peduli, mungkin?

Saat ia sudah selesai mengeringkan kakinya, ia baru ingat kalau ia belum menggosok giginya. Akhirnya, ia kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk menggosok giginya.

Ouch!” tiba-tiba Minseok menjerit dan terjatuh di dalam kamar mandi. Baru saja ia masuk ke dalam kamar mandi, ia terpleset karena kakinya tidak sengaja menginjak cairan sabun yang tadi ditumpahkan olehnya (dan tidak dibersihkan). Ia memang sangat ceroboh.

Akhirnya karena merasa kesakitan, Minseok kembali keluar dari kamar mandi dan membatalkan niatnya untuk menggosok gigi—hanya karena kecerobohannya! Gila, hari ini Minseok benar-benar tidak membersihkan dirinya.

Minseok keluar dari kamarnya dengan wajah kusut. Ia berjalan menuju ruang makan dan ternyata Minsoo sudah lebih dulu duduk di depan meja makan. Anak laki-laki itu tengah memakan omelet buatan Ibunya.

“Selamat pagi, bakpao bulat kesayangan Ayah!” sapa Minseok pada anaknya. Hei, hei.. barusan dia menyebut anaknya apa? Bakpao bulat?

“Selamat pagi, Ayah!” sapa Minsoo ceria. Sudah terlihat dengan jelas kalau Minsoo baru saja selesai mandi—rambutnya masih basah kuyup.

“Wah, wah. Sepertinya anak Ayah yang tampan ini belum mengeringkan rambutnya, hm?” tanya Minseok seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Minsoo menyengir lebar—menunjukkan deretan gigi susunya yang rapi. Kedua pipi gembulnya mengeluarkan semburat merah yang membuatnya terlihat seperti bakpao yang masih hangat, dan Minseok menyukainya.

“Ayah mau sarapan dengan Minsoo?” tanya bocah itu. Minseok mengangguk dan duduk di sebelah Minsoo.

Ugh,” keluh Minsoo seraya memencet hidung kecilnya. Minseok mengernyitkan dahinya.

“Ada apa, Minsoo?”

“Ayah belum mandi, ya?”

Minseok menggeleng cepat—berbohong pada Minsoo. “Enak saja! Ayah sudah mandi!”

Minsoo mengendus-endus aroma tubuh Ayahnya dan wajahnya kembali kusut. “Ayah bohong. Buktinya, Ayah masih memakai baju yang semalam Ayah pakai untuk tidur.”

Minseok melihat baju yang saat ini ia kenakan, dan ternyata ia lupa mengganti bajunya. Benar-benar Ayah yang ceroboh.

Minseok terkekeh pelan. “Sabun di kamar mandi Ayah habis, jadi Ayah tidak bisa mandi.”

Minsoo tertawa kecil. “Kalau begitu, setelah kita sarapan, nanti Ayah harus mandi.”

Minseok mengiyakan perintah anaknya barusan—Minseok memang sering menuruti perintah anaknya, karena anaknya itu bahkan lebih mandiri daripada dirinya (tolong jangan contoh sifat Minseok yang seperti ini, tsk, tsk).

Minseok makan dengan cepat karena ia sangat kelaparan, sedangkan Minsoo makan dengan tenang—dan ia sudah selesai makan sedaritadi.

Sesuai janjinya, Minseok segera mandi di kamar mandi Minsoo—sesuai janjinya yang akan mandi. Oh, ini sangat memalukan. Seorang Ayah mandi di kamar mandi anaknya, bahkan ia menggunakan sabun untuk anak berumur di bawah 7 tahun!

“Ayah, mau bantu Minsoo tidak?” tanya Minsoo polos.

Minseok mencubit pipi gembul anaknya itu dengan gemas.

“Membantu apa, Minsoo?” tanya Minseok.

“Bantu Minsoo merapikan kamar..,” jawab Minsoo seraya tersenyum lebar.

Minseok terkekeh pelan dan mengangguk.

“Ayo, kita rapikan kamar Minsoo yang berantakan,” ujar Minseok seraya menuntun Minsoo ke dalam kamar kecilnya itu.

“Oh, whoa! Kamarmu sangat berantakan, Kim Minsoo!” pekik Minseok. Minsoo kembali tersenyum lebar.

“Minsoo kehilangan mobil-mobilan Minsoo yang baru.. Jadi, Minsoo terpaksa membongkar kamar Minsoo sendiri..,” ujar anak itu seraya memainkan kakinya.

“Baiklah kalau begitu, ayo, kita bereskan!” ujar Minseok. Minsoo tersenyum lagi dan mengangguk.

Minsoo mulai melipat selimutnya dan merapikan sprei kasurnya. Minseok mengangkat kotak mainan Minsoo dan menaruhnya kembali ke tempatnya.

Minseok terkejut begitu ia melihat tas kerjanya berada di samping tempat tidur milik Minsoo.

“Lho, kenapa tas kerja Ayah ada di kamar Minsoo?” tanya Minseok bingung. Minsoo menggeleng kecil—tidak yakin kenapa tas Ayahnya itu ada di dalam kamarnya.

“Minsoo, tolong kembalikan tas kerja Ayah ke dalam kamar, ya?” pinta Minseok. “Hati-hati, di dalamnya ada barang-barang penting milik Ayah.”

“Iya, Ayah!” seru Minsoo seraya membawa tas tersebut ke dalam kamar Ayahnya.

Minseok memang Ayah yang ceroboh, bahkan ia tidak tahu bahwa tas kerjanya sendiri berada di dalam kamar anaknya.

Tapi Minsoo tetap menyayangi Ayahnya yang ceroboh.

+++

Hari sudah siang, dan Minseok baru saja selesai merapikan kamarnya—dengan bantuan Minsoo.

Hari ini adalah hari Minggu. Tidak ada sekolah, tidak ada kerja, dan tidak ada yang mengganggu. Hari ini adalah hari Minsoo dan Ayah Minseok.

Setelah merapikan rumah, Minseok dan Minsoo pergi keluar untuk membeli bakpao—mereka selalu melakukan hal ini pada setiap hari Sabtu dan Minggu.

Mereka membeli bakpao di tempat mereka biasa membeli bakpao. Dan seperti biasa, mereka membeli sepuluh bakpao rasa coklat dan sepuluh bakpao isi daging. Tapi, kali ini Minseok menambahkan lima bakpao rasa coklat—favoritnya Minsoo.

Setelah itu, mereka berdua kembali pulang ke rumah dengan Minsoo yang digendong di punggung Ayahnya.

Sesampainya di rumah, mereka berdua duduk di atas sofa dan makan bakpao bersama. Ya, mereka memang selalu seperti ini. Berbagi bakpao seraya melakukan apa saja yang mau mereka lakukan.

“Wajahmu sangat mirip dengan bakpao-bakpao yang hangat ini, Minsoo. Bentuk pipi gembulmu sama bulatnya dengan bakpao ini,” ujar Minseok seraya tertawa kecil. Minsoo mengerucutkan bibirnya seraya memakan bakpaonya. “Ayah jadi ingin memakanmu, Minsoo.”

“Tidak boleh!” pekik Minsoo seraya menjauh dari Ayahnya. Minseok terkekeh melihatnya.

“Oh, astaga. Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku,” ujar Minseok—ia baru ingat bahwa ia masih memiliki pekerjaan yang harus ia selesaikan.

“Tunggu sebentar di sini, Minsoo. Ayah harus mengambil pekerjaan Ayah dulu dan menyelesaikannya di sini,” ujar Minseok seraya menggigit bakpaonya. Minsoo hanya mengangguk dan menunggu Ayahnya kembali lagi.

Minseok masuk ke dalam kamarnya dan mengambil tas kerjanya. Ia membuka resleting tasnya dan mencari-cari lembaran kerjanya.

“Lho? Ke mana lembaran kerjaku?” tanya Minseok pada dirinya sendiri seraya mengacak-acak isi tas kerjanya. Tapi, lembaran kerja yang dimaksudnya tidak ada di dalam tasnya tersebut.

“Kapan terakhir kali aku menyentuhnya, ya?” Minseok kembali bertanya pada dirinya sendiri. Ia mengingat-ingat kapan terakhir kali ia menyentuh lembaran kerja tersebut dan ia sangat yakin bahwa ia telah memasukkan lembaran kerja tersebut ke dalam tas kerjanya.

Minseok mulai frustasi. Pikiran jernihnya itu kini telah keruh karena ia telah dapat membayangkan apa yang terjadi jika lembaran kerjanya itu tidak ada.

Jika lembaran kerjanya itu hilang, maka ia tidak bisa melanjutkan proyek barunya. Ia bisa turun pangkat jika lembaran kerjanya itu hilang. Dan dengan lembaran kerjanya itulah ia bisa mendapatkan jabatan yang lebih tinggi.

Minseok semakin frustasi, dan ia baru ingat bahwa Minsoo yang terakhir kali menyentuh tas kerjanya.

“Oh, iya! Tadi Minsoo yang terakhir kali memegang tas kerjaku,” Minseok keluar dari kamarnya dan menghampiri Minsoo yang masih memakan bakpao dengan wajahnya yang polos.

“Minsoo, di mana lembaran kerja Ayah?” tanya Minseok—kepalanya hampir pecah karena pusing memikirkan bagaimana nasib pekerjaannya nanti.

“Minsoo tidak tahu, Yah,” jawab Minsoo.

“Minsoo, katakan pada Ayah di mana lembaran kerja Ayah,” ulang Minseok—menahan rasa kesal dan amarahnya. Minsoo masih menjawab dengan jawaban yang sama seperti jawaban pertamanya. “Minsoo tidak tahu..”

“Minsoo, jangan main-main! Katakan pada Ayah di mana lembaran kerja Ayah!” kali ini Minseok membentak—saking frustasinya. Ia benar-benar telah kehilangan akal sehatnya, dan ia tidak peduli bahwa ia baru saja membentak Minsoo—anak laki-laki yang amat disayanginya!

Minsoo terkejut. Ini pertama kalinya ia dibentak oleh Ayahnya sendiri.

“Ayah tidak pernah membentak Minsoo..,” gumam Minsoo—hampir menangis. Kedua mata Minseok masih memancarkan ekspresi marah—karena ia sudah bisa membayangkan bagaimana bosnya nanti akan marah kepadanya dan ia akan turun pangkat jika lembar kerja yang berisikan proyek baru itu hilang.

Terlebih, Minseok teringat bahwa tadi pagi tas kerjanya berada di dalam kamar Minsoo dan Minseok sempat melihat Minsoo memegang beberapa lembar kertas lalu membuangnya ke dalam tong sampah. Hal itu semakin membuat Minseok mengira bahwa Minsoo telah membuang lembar kerjanya ke dalam tong sampah.

“Kim Minsoo, cepat kembalikan lembaran kerja Ayah!”

Minsoo semakin terkejut. Sekujur tubuhnya terasa disambar petir. Bakpao yang berada di genggaman tangannya kini jatuh ke lantai dan menggelinding di samping kakinya.

Bocah itu menangis. Ia berlari menjauhi Ayahnya dan masuk ke dalam kamarnya—ia mengunci pintu kamarnya tersebut. Minsoo mengurung diri di kamarnya.

“Huueeee… Ayah membentak Minsoo… Huueeee…”

Terdengar suara tangisan Minsoo dari dalam kamarnya, dan hal itu membuat Minseok kembali tersadar. Ia menyadari kesalahannya yang telah membentak Minsoo dengan begitu kencang.

“Astaga, apa yang telah aku perbuat? Aku membentak Minsoo, anakku sendiri.. Dan sekarang ia menangis di dalam kamarnya karena aku sendiri..”

Minseok menyesal. Ia mengeluarkan beberapa sumpah serapah untuk dirinya sendiri karena telah membentak Minsoo. Ia menatap bakpao yang tadi dimakan oleh Minsoo dan kini berada tepat di samping kakinya.

Aku Ayah yang jahat, aku Ayah yang jahat.

Minseok kembali mendengar suara tangisan Minsoo yang kini mengiris-iris hati kecilnya. Laki-laki bertubuh pendek itu berjalan menuju kamar anak laki-lakinya dan mengetuk kamarnya dengan perasaan bersalah yang menyelimuti tubuhnya.

“M—Minsoo.. Maafkan Ayah, ya? Ayah tidak bermaksud untuk membentakmu..,” bisik Minseok lemah.

“Tidak! Ayah jahat! Ayah membenci Minsoo!” teriak bocah itu dari dalam kamarnya.

Minseok terkejut mendengarnya. Baru kali ini ia mendengar Minsoo mengucapkan kalimat seperti itu. Padahal selama ini ia selalu mendengar Minsoo berkata ‘Minsoo sayang Ayah, Ayah sayang Minsoo’.

“Ayah sayang Minsoo, Ayah tidak membenci Minsoo.. Ayah minta maaf.. Ayah minta maaf karena tadi Ayah telah membentak Minsoo seperti itu..”

“Ayah jahat! Ayah tidak sayang lagi sama Minsoo!”

Minseok ingin menangis juga begitu mendengar kalimat tersebut. Seketika, ia merubah mind set-nya.

Ia lebih baik kehilangan pekerjaannya daripada kehilangan anaknya sendiri.

Minsoo adalah anaknya, Minsoo adalah bakpaonya, Minsoo adalah permatanya, Minsoo adalah buah hatinya, Minsoo adalah jiwanya, Minsoo adalah segala-galanya bagi Minseok.

Dan kini Minseok telah kehilangan itu semua.

“Minsoo, Ayah mohon buka pintunya. Maafkan Ayah. Ayah sangat menyesal. Kau boleh menghukum Ayah, sungguh.”

Minsoo tidak menjawab, tapi Minseok masih bisa mendengar dengan jelas suara tangisan anak laki-lakinya itu.

“Ayolah, Minsoo. Ayah akan membelikan bakpao sebanyak yang kau mau, dan semua bakpao itu hanya untuk Minsoo. Ayah juga akan mengajak Minsoo ke Lotte World dan Ayah akan menggendong Minsoo di punggung Ayah.”

Masih tidak ada jawaban.

“Minsoo? Ayah mohon, jangan marah pada Ayah, ya? Ayah tidak mau kehilangan Minsoo..”

Minsoo masih tidak menjawab.

Akhirnya Minseok merasa lelah. Batinnya juga terasa lelah. Ia memutuskan untuk menjauhi kamar Minsoo dan menyerah untuk sementara. Ia pikir kalau anak itu nantinya pasti akan keluar dari kamar dengan sendirinya.

Minseok duduk di sofa dan menyandarkan kepalanya di lengan sofa. Ia memejamkan kedua matanya seraya memijat kepalanya yang terasa pusing.

Ia menatap bakpao yang masih tersisa di atas meja dengan tatapan nanarnya. Ia bahkan tidak menghabiskan bakpaonya.

“Pertama, aku kehilangan jabatanku. Dan sekarang aku kehilangan anakku..,” Minseok menggumam lemah.

Kaki Minseok tidak sengaja masuk ke dalam kolong sofa dan ia merasa kakinya menyentuh sesuatu yang sangat ia kenal.

Minseok membuka kedua matanya dan melongokkan kepalanya ke bawah kolong sofa.

Ada beberapa kertas di bawahnya. Minseok mengambil kertas tersebut dan.. hati Minseok mencelos.

Itu lembaran kerjanya.

Lembaran kerja yang sedaritadi dicarinya ternyata ada di bawah kolong sofa.

Ia baru ingat bahwa semalam ia sedang melanjutkan pekerjaannya dan ia lupa memasukkan kembali lembaran kerja itu ke dalam tasnya. Dan terakhir kali, Minseok masuk ke dalam kamar Minsoo seraya membawa tas kerjanya, dan tanpa sengaja ia meninggalkan tas kerjanya tersebut di dalam kamar Minsoo.

Dan Minseok telah menuduh Minsoo membuang lembaran kerjanya tersebut.

Minseok sangat ceroboh. Ia bahkan terlalu ceroboh (sekali lagi, jangan tiru sifat Minseok yang seperti ini).

Sekarang, ia malu pada dirinya sendiri dan ia benar-benar merasa bersalah pada anaknya.

“Aku benar-benar ceroboh..”

Minseok melangkah dengan kedua kaki yang berat dan ia menyimpan lembaran kerjanya itu di dalam tasnya. Ia mengetuk-ngetuk kepalanya dengan kencang agar kali ini ia ingat bahwa lembaran kerjanya itu ada pada dirinya.

BLAM

Tiba-tiba seluruh lampu di rumahnya padam. Minseok terkejut setengah mati. Mati lampu?

“AYAAAHHH!!!” Minsoo menjerit kencang.

“Astaga, Minsoo!” pekik Minseok terhadap dirinya sendiri. Minseok takut gelap, begitupula dengan Minsoo. Keduanya sama-sama takut gelap.

“AYAH! IBU! MINSOO TAKUT!” Minsoo kembali berteriak.

Minseok harus mengalahkan rasa takutnya. Ia harus menghampiri Minsoo dan mendekap bocah itu di dalam pelukannya.

“Tunggu di dalam kamarmu, Minsoo! Ayah akan menghampirimu!” seru Minseok seraya mengambil lampu senternya.

Minseok menyalakan lampu senter di genggamannya dan keluar dari kamarnya—menuju kamar Minsoo dengan kedua kaki yang gemetaran.

Tak lama kemudian, Minseok sampai di depan pintu kamar Minsoo dan ia mengetuk pintu kamarnya.

“Minsoo, buka pintunya. Ini Ayah,” ujar Minseok.

Beberapa detik kemudian, pintu kamar itu terbuka dan Minsoo keluar dari kamarnya. Ia segera memeluk kaki Ayahnya itu. Tubuh Minsoo gemetaran, Minseok juga dapat merasakan bahwa anak laki-laki itu sedang menangis.

“Hei, hei, jangan menangis. Ayah sudah memelukmu, oke?” bujuk Minseok.

“Minsoo takut, Yah. Ini sangat gelap,” ujar Minsoo gemetaran. Suasana di dalam rumahnya memang sangat gelap, terlebih hari juga sudah mulai gelap (dan Hayeon masih belum pulang juga).

“Ayo, kita jalan perlahan dan duduk di sofa,” bujuk Minseok. Tapi, Minsoo tidak bergerak dari posisinya. Akhirnya, Minseok menggendong tubuh mungil Minsoo dan membawanya untuk duduk di sofa—lebih tepatnya duduk di atas pangkuan Minseok.

“Minsoo takut,” ujar anak laki-laki itu seraya memejamkan kedua matanya dan memeluk leher Minseok dengan erat. Minseok membalas pelukan anaknya dengan erat. Lebih erat seolah mereka akan berpisah (dan Minseok juga Minsoo tidak pernah berharap hal itu akan terjadi untuk selama-lamanya).

“Jangan takut, Kim Minsoo. Ayah sudah memelukmu dan Ayah tidak akan melepasnya,” bisik Minseok seraya menghapus air mata di pipi Minsoo.

“Minsoo sayang Ayah,” bisik anak itu. Hati Minseok tergetar mendengarnya. Kalimat tersebut baru saja menghangatkan juga memperbaiki hati Minseok.

“Ayah lebih sayang sama Minsoo,” ujar Minseok. “Maafkan Ayah, ya? Ayah sudah membentak Minsoo, dan Ayah sudah salah sangka pada Minsoo. Ayah memang ceroboh, sangat ceroboh. Minsoo boleh menghukum Ayah, kok.”

“Minsoo juga minta maaf, Yah..,” bisik Minsoo lagi. “Tapi Minsoo tetap akan menghukum Ayah.”

“Apa hukumannya, Minsoo?”

“Ayah tidak boleh membentak Minsoo lagi dan Ayah tidak boleh memarahi Minsoo, karena Minsoo benci Ayah yang seperti itu. Ayah harus selalu menyayangi Minsoo.”

Minseok tersenyum mendengarnya.

“Ayah janji, Minsoo. Ayah janji,” ujar Minseok seraya mengeratkan pelukannya pada anak laki-lakinya itu. “Walau bagaimanapun juga, Minsoo tetap bakpao kesayangan Ayah.”

(Oh, yeah, Minseok tetap menganggap Minsoo sebagai bakpao kesayangannya).

Beberapa detik kemudian, seluruh lampu di rumah mereka menyala secara tiba-tiba.

“Akhirnya..,” gumam Minseok lega. Beberapa menit kemudian, pintu rumah terbuka. Minseok mulai panik. Siapa itu? Apakah dia pencuri? Astaga, aku lupa mengunci pintu rumah! Aku benar-benar ceroboh! Selamat tinggal, Hayeon, inilah akhir dari hidupku..

“Minseok? Minsoo?”

“Ibu!”

Oh, ternyata itu Hayeon (dan Minseok mengira bahwa istrinya itu adalah seorang pencuri, ia benar-benar Ayah yang ceroboh).

Minsoo turun dari pangkuan Ayahnya dan berlari menghampiri Ibunya yang baru saja mengunci pintu rumahnya. Ia memeluk kedua kaki Ibunya itu dengan erat.

“Lho, lho.. Jagoan Ibu habis menangis, ya? Kenapa? Ada apa, Minsoo sayang?” tanya Hayeon bingung.

“Ceritanya panjang, Bu,” jawab Minsoo.

Minseok menghampiri mereka berdua dan mengacak-acak rambut Minsoo.

“Lupa mengunci pintu lagi, hm?” tanya Hayeon seraya menaikkan alis sebelah kanannya. Minseok tertawa cengengesan.

Sekali lagi, Minseok memang ceroboh.

Sepertinya, Minseok membutuhkan otak yang baru agar ia tidak ceroboh dan lupa—lagi. Ia juga sangat membutuhkan buku catatan kecil untuk mencatat apa saja yang harus ia ingat.

“Bagaimana kabar Ibumu, Hayeon?” tanya Minseok.

“Ibuku baik-baik saja, ia sudah sembuh,” jawab Hayeon.

“Syukurlah kalau Nenek tidak apa-apa,” ujar Minsoo lega. Hayeon tersenyum dan mencium puncak kepala Minsoo.

“Ah, aku sangat lelah. Aku mau tidur,” ujar Hayeon lalu masuk ke dalam kamarnya.

Baru saja Minseok akan menyusul Hayeon, Minsoo menarik tangan Ayahnya sehingga langkah Ayahnya itu terhenti.

“Ada apa, Minsoo?”

Umm.. Malam ini Minsoo ingin tidur dengan Ayah dan Ibu, ya? Boleh, ya?” tanya Minsoo takut-takut.

Minseok tersenyum seraya mencubit pipi tembam milik Minsoo dengan gemas.

“Tentu saja boleh, Minsoo,” jawab Minseok lalu menggendong tubuh mungil Minsoo.

“Ayah tahu tidak?” tanya Minsoo.

“Apa, tuh?” Minseok balik bertanya.

“Minsoo sayang Ayah!” seru Minsoo seraya memeluk leher Ayahnya itu. Minseok tersenyum lembut. “Minsoo sayang sama Ayah walaupun Ayah ceroboh.”

“Ayah juga sayang Minsoo, bakpao kecil Ayah,” sahut Minseok lalu membawa Minsoo ke kamarnya.

(Bahkan, sampai akhirpun Minseok masih menganggap anaknya itu sebagai bakpao kecil).

.::FIN::.

TA-DAAHH! Akhirnya selesai juga (OwO)/

Ugh, gimana? >.< Fai harap kalian masih setia sama ff ini walaupun updatenya seabad sekali *halah*, karena pada seri yang terakhir nanti akan ada hadiah spesial buat readers setianya EXO DADDY SERIES yang selalu ninggalin komen +r eview dari serinya Luhan masih bocah cimit-cimit sampe seri yang terakhir :’D

Gatau deh mau ngomong apalagi hahaha, Fai harap kalian masih mau ninggalin komen yaah :’) dan makasih banyaakkk banget buat kalian yang masih setia untuk nungguin ff ini! :’’’’’))))

Oiya, ngomong-ngomong, di sini ada ga yang dari Jakarta Timur ikut SMGA di tanggal 23? Kalo ada, pleaseeee mention ke twitternya Fai (@ezrnv) atau tinggalin username twitter/pin BB kalian/no.hp kalian/id line kalian di sini yaap, Fai lagi nyari temen buat berangkat ke sana ;_;

Sekali lagi, makasiiiihhh buat semuanya! *gatau kenapa jadi ngomong makasih terus* oiya maaf ya Fai belom bisa bales komen kalian secara satu persatu karena masih belom ada waktu + wifi makin lemot + lagi masa-masa TO dan ujian praktek ;_; tapi Fai tetep baca komen kalian semua kok.. Fai cuma mau ucapin MAKASIHHHH BANYAK sama kalian semua yang selalu support Fai 😀

P.S. : maafin typo-nya, ya. Typo-nya ngga bersalah, yang bersalah keyboard-nya.

Advertisements

88 responses to “EXO Daddy Series [9/12] : Clumsy Daddy

  1. finally!!! di update juga thor ;a;
    aku nunggu ff daddy series ini sampe lumutan lho/alay
    aku suka banget sama karakternya minseok di sini>< ceroboh banget minseok haha.
    oh ya, btw fighting buat ujian praktek dan to nya ya thor~~

  2. Jujur aja ya pertama kali aku gasukaa kalo ff tentang member jadi ayah gini kesannya mereka tua gituu tapi aku penasaran dan aku baca satu dan ternyataa bagus bangeeeet dan jadii makin penasaran nih sama lanjutannyaa pokoknya daebaak deh thor !! Aku penasaran banget niih sama episode berikutnyaaa hehe lanjutkan thor !! 🙂

    • waaahh makasih banyak loh hehe jadi terharu :”D
      maaf yah bagiannya Tao, Lay sama Chen belom bisa diupdate huhu T.T tp insya Allah secepatnya bakal diposting :”D
      makasih sekali lagi ><

  3. cetar thor ff nya>< aku emang masih setia waiting ff ini hikseu, tapi baru baca seri xiumin hari ini–v next daddy series nya si Lay aku penasaran kan yang diceritanya luhan, dia udah jadi kakek kakek yakan? btw semangat ya thor buat serangkaian ujiannya :))

  4. Rasanya aneh aja Minseok Oppa ceroboh X_X hihihihi, padahal di EXO dia yg paling teliti:D tapi FF-nya daebak thor, keep writing:) Hwaittiingg

  5. Aku juga sering tuh ceroboh kaya minseok, kalo ada benda aku satu aja yg hilang trus yg terakhir minjem pasti aku marah” in gajelas padahal dia gatau apa” trus pas aku udah pasrah sama itu benda ehh dia muncul kampret banget tuh kalo udah kaya gitu mana udah marahin orang berasa bersalah :v *curhat , untung minsoo sabar ya punya daddy kaya minseok wkwk :v

  6. FF favorit akuuuu~

    Btw thor aku cari EXO Daddy Series [10/12], [11/12] sama [12/12], kok gaada ya thor? Apa emang belom diupdate? Please update ya thoor, aku suka banget sama ffnyaaa~ Keep writing!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s