[Chamomile/SongFic] In Order To Live

[Chamomile] In Order To Live

(c)missfishyjazz

Kim Jaejoong || Im Jin Ah/Nana

Romance, Family || Long-shot / Song-Fic || PG-17

Inspired by NOEL – In Order To Live

In Order To Live 

September 1, 1999

Appa!” Seorang gadis kecil dengan rambut terkuncir kuda berlari ke arah Ayahnya yang masih berdiri terdiam.

“Ya! Jin Ah-ya! Sini!” Ayah gadis itu segera berjongkok dan merentangkan tangannya seolah siap menangkap putrinya yang senang sekali menubruknya. Jin Ah melompat-lompat dan dengan segera masuk dalam pelukan ayahnya. Ia menubrukkan kepalanya di dada ayahnya dan bergerak-gerak mencari bau kesukaannya dari tubuh sang ayah.

“Jadi, apa yang hari ini Bibi Son masak untuk kita?” Jin Ah teringat bekal yang diberikan tetangganya, Bibi Son. Jin Ah mengangkat kantung bekalnya tinggi hingga seperti biasanya menabrak hidung bangir Im Seulong.

Samgyetang!” Jin Ah tersenyum bangga dan membuat Seulong tertawa kecil. Seulong mengangkat tubuh putrinya dan mendudukkan putrinya di bangku samping tempatnya bertugas.

Jin Ah dan dia telah hidup berdua semenjak enam tahun lalu. Istrinya, Kim Yerim meninggal ketika Jin Ah masih berusia dua tahun. Saat itu Yerim meninggal karena penyakit bawaan Yerim sejak kecil, radang paru-paru, semakin parah. Dengan keadaan keuangan seadanya dari hasil pekerjaannya sebagai polisi yang ditempatkan khusus di South Korea Bank, Seulong tidak bisa berbuat banyak. Yerim hanya sempat dibawa ke tempat pengobatan alternatif tanpa sempat menyentuh meja operasi dan meninggal dalam damai di tengah tidurnya tepat di pertengah musim dingin. Sekalipun harus menjalani hidup berdua saja bagi Seulong semuanya tidak masalah. Karena Jin Ah yang sangat penurut dan bantuan dari tetangga yang sangat peduli pada pasangan ayah dan anak itu. Jin Ah sepintar ibunya sehingga ia menerima beasiswa dari sebuah lembaga sosial milik swasta yang memberi anaknya segala fasilitas pendidikan terbaik. Sekalipun Seulong tidak punya banyak waktu bersama Jin Ah tapi ia tidak pernah melewatkan satupun perkembangan Jin Ah ataupun mendengarkan cerita anaknya tentang hari-hari yang gadis kecil itu lewati.

Di pagi hari Seulong berangkat untuk mengantar Jin Ah ke sekolah, setelahnya ia akan bekerja paruh waktu di sebuah rumah orang kaya yang agak jauh dari rumahnya. Ia menjadi sekuriti sampai petang. Sementara Jin Ah akan pulang bersama anak Bibi Son yang satu sekolah dengannya. Di siang hari Seulong tahu Jin Ah lebih banyak belajar dan membaca buku-buku milik Yerim, di sore hari baru lah Jin Ah bermain dengan anak sebayanya seperti Seohyun, Chaerin, Gayoung, Changsub, Seyong, dan Howon. Ketika ia pulang untuk pergantian pekerjaan Jin Ah jarang bisa ia temui, karena ia kemungkinan masih makan di rumah Chaerin atau sudah tidur dengan lelapnya. Dan saat yang paling menyenangkan adalah malam hari, karena Jin Ah pasti akan datang ke tempatnya bertugas yang hanya berjalak enam ratus meter dari rumah mereka. Di saat seperti ini biasanya Jin Ah akan bercerita tentang harinya, mereka akan bercanda bersama sebelum waktu mendekati waktu tidur Jin Ah dan Jin Ah harus pulang.

“Jadi kapan anak Appa yang cantik ini akan tes beasiswa ke Perancis?” Seulong menggesekkan hidungnya di pipi Jin Ah membuat gadis kecilnya tertawa geli.

“Minggu depan. Jin Ah sudah jarang bermain dengan teman-teman karena belajar. Untung saja Chaerin mengajari Jin Ah banyak hal tentang Perancis.” Jin Ah mengingat Chaerin yang menghabiskan waktunya selama empat tahun di Perancis sebelum ayahnya kembali dipekerjakan di Korea.

“Lalu kenapa Chaerin tidak ikut beasiswa itu juga? Bukankah katamu Chaerin dan kamu sama pintarnya?”

“Chaerin tidak ingin mengikuti beasiswa itu ayah, kan ayah tahu sendiri itu beasiswa untuk nantinya dijuruskan ke sekolah hukum dan politik. Chaerin kan mau menjadi komposer musik terkenal ketika besar.”

Ohh.. Begitu. Lalu anak ayah ingin menjadi apa?”

“Pengacara! Jin Ah ingin membela kebenaran seperti ayah!”

“Benarkah? Lalu kenapa tidak menjadi polisi saja? Seperti Bibi Gain kan polisi juga.”

“Tidak mau ah, enak saja nanti rambut panjang Jin Ah harus sependek Bibi Gain.” Seulong tertawa lepas setelahnya. Jin Ah mirip sekali dengan Yerim. Dulu Yerim juga senang menjaga rambut hitam panjangnya yang sangat indah.

“Sudah hampir pukul sembilan, ayo pulang!” Seulong meletakkan Jin Ah yang masih bergelayut padanya di lantai.

“Tidak mau! Jin Ah mau disini! Besok Jin Ah libur kok!”

“Hai, tidak boleh seperti itu, sayang. Kau tetap harus pulang, harus tidur yang cukup.”

“Tapi Jin Ah bisa tidur di sini, Ayah. Ayolah..”

“Jin Ah—”

“Sudahlah hyung, kasian juga Jin Ah selalu di rumah sendirian ketika malam.” Jin Ah berpaling melihat Jinwoon yang berdiri di luar pos penjagaan Seulong. Jinwoon adalah salah satu rekan Seulong selama ini. Jin Ah sudah mengenal Seulong seperti mengenal ayahnya sendiri.

“Baiklah-baiklah, kau boleh besar kepala gadis kecil, ada Paman Peri mu yang membelamu, tapi lain kali kau harus pulang ke rumah. Ingat?”

“Ingat, Ayah!” Jin Ah menganggukkan kepalanya dengan lucu. Pita kecil di rambutnya bergoyang seiring anggukkannya. Membuat Seulong dan Jinwoon sama-sama tertawa kecil.

DORR!

 

“HAH!” Jin Ah menjerit dan menutup telinganya begitu mendengar ledakan mesiu itu.

“Apa yang terjadi?!” Seulong buru-buru mengenakkan topi bertugasnya lagi dan mengeluarkan senapannya dari laci.

“Pembajakkan!” Jinwoon buru-buru mengacungkan senapannya siaga. Ia melihat gerombolan orang dengan pakaian tebal hitam dan berpenutup kepala dan kaca mata hitam yang anehnya datang dari arah gedung yang harus mereka jaga. Salah satu diantara mereka mengacungkan senjata pada beberapa petugas keamanan yang lewat di depan pintu masuk gedung. Sepertinya mereka masuk lewat pintu lain dan berencana keluar lewat pintu utama. Gerombolan Century Action. Sekelompok perampok yang sangat terorganisir yang belakangan ini naik popularitasnya di media karena dengan nyali selangit keluar dari pintu utama seolah menantang seluruh satuan keamanan dari tempat yang dirampok.

“Jin Ah berlindung di balik meja!” Jin Ah yang mendengar suruhan ayahnya segera menelusup ke bawah meja kerja ayahnya. Ia menggigil ketakutan dan matanya bergerak liar berusaha mencari sesuatu yang bisa membuatnya merasa aman, tapi tidak ada. Karena satu-satunya yang membuat dirinya aman adalah ayahnya.

“Ayah.. Ayah..” Jin Ah terus memanggil ayahnya yang kini tengah bersama rekan-rekannya yang lain berusaha mempertahankan keamanan South Korea Bank.

“SATUPUN DARI KALIAN TIDAK AKAN ADA YANG MAMPU MENGHALANGI LANGKAH KAMI!” Teriak salah satu diantara mereka dengan suara besar dan berat. Jin Ah hanya menduga-duga jika itu adalah pemimpin Century Action. Karena dari berita yang ia baca hanya sang ketua yang berani mengeluarkan suaranya.

Namun setelahnya Jin Ah tidak sanggup memikirkan apapun karena suara adu tembakkan lah yang bisa ia dengarkan. Tidak ada suara lain. Jin Ah semakin ketakutan di tempatnya. Suara jeritan-jeritan yang ia kenal pemiliknya terdengar menyakitkan di telinganya. Berondongan peluru yang tidak pernah ia bayangkan berdesing dalam tempo tak tentu. Hingga tiba-tiba semuanya terasa begitu hening.

“Jin Ah.. Jin Ah..” Suara Jinwoon! Jin Ah mengeluarkan tubuhnya sedikit dari persembunyianya. Jinwoon terluka lengannya, tapi ia nampak berusaha menggapai tangan Jin Ah, menyembunyikan tubuh mungil itu dibalik tubuhnya.

“Paman.. Paman kenapa?” Jin Ah menggoyang-goyang tangan Jinwoon yang tidak terluka tapi pamannya hanya diam dan sesekali menahan sakit di lengannya.

DORR!

“AKH!” Jin Ah membulatkan matanya. Air matanya terjatuh spontan. Ia melepaskan tangannya pada tangan Jinwoon dan terhuyung-huyung ke belakang. Jinwoon yang melihatnya tak sanggup melihat ekspresi tiba-tiba yang menguasai wajah kecil Jin Ah.

“AYAH!” Jin Ah melewati Jinwoon yang berusaha menghalanginya. Ia berlari sekuat tenaga keluar dari pos penjagaan ayahnya. Ia melihat beberapa orang dengan pakaian hitam yang masih berada di sana, tapi fokusnya tidak ke sana. Melainkan pada seorang dengan seragam polisi yang sudah tergeletak lemah di tanah. Lengan, dada dan pinggangnya berdarah. Dari hidung dan mulutnya sudah memancarkan darah, sementara tangannya berlumuran darah entah milik siapa.

“AYAH!” Seulong menggerakkan sedikit kepalanya. Sekalipun sayup-sayup ia bisa mendenggar suara Jin Ah memanggilnya.

“Jin Ah..” Lirihannya nyaris tak terdengar, jika saja putri semata wayangnya itu tidak berada di dekatnya tanpa mempedulikan beberapa orang berseragam hitam yang mulai meletakkan sasaran tembakkannya pada gadis kecil itu. Namun sang ketua—yang telah tak berpenutup wajah—, yang berdiri tak jauh dari Seulong melihat gadis kecil yang menangis itu lamat-lamat, entah apa yang membuatnya menatap gadis itu begitu seksama. Tatapannya membuat Jin Ah memalingkan kepalanya dan mereka bertatapan untuk beberapa saat. Keduanya saling merekam wajah satu sama lain dengan baik. Tatapan Sang Ketua tak terbaca, sementara Jin Ah menatap orang itu dengan kemarahan yang hampir meledak. Bagaimana orang yang tak dikenal itu melukai ayahnya?

Tapi mereka tidak meneruskan tatapan itu ketika sang ketua memberi tanda untuk meninggalkan lokasi kejadian secepat mungkin. Dalam hitungan detik orang-orang itu telah musnah dari lokasi tanpa meninggalkan jejak apapun. Meninggalkan Seulong yang berjuang melawan kematian dan Jin Ah yang menatap ayahnya ketakutan.

“Ayah..”

“Jin Ah.. Maafkan ayah, ayah tidak bisa menjagamu dengan baik. Selama hidup dengan ayah pasti kau merasa sedih kan? Kau tidak bisa memiliki hal-hal yang dimiliki teman-teman di kelasmu?” Seulong dengan cepat memutar kejadian ketika ia melihat Jin Ah yang memandang lemah ke arah teman-temannya yang membawa bekal banyak dengan menu yang selalu berbeda sementara Jin Ah hanya membawa roti isi selada dan kentang setiap harinya.

“Tidak! Jin Ah tidak sedih. Jin Ah selalu bahagia bersama ayah. Ayah ayo bangun, ayo pulang. Jin Ah janji tidak akan memaksa ikut ayah bertugas lagi. Ayo pulang ayah.”

“Jin Ah, maafkan ayah. Jika memang manusia memiliki kehidupan kedua, ayah ingin dikehidupan selanjutnya bisa membahagiakanmu. Maafkan ayah karena tidak bisa merayakan ulang tahunmu dua minggu lagi.” Seulong terbatuk, mengeluarkan darah yang semakin pekat dari mulutnya.

“Ayah! Jin Ah bahagia! Ayah pasti bisa merayakan ulang tahun Jin Ah! Ayah jangan berkata seperti itu! Ayah jangan tinggalkan Jin Ah. Siapa yang akan bersama Jin Ah jika ayah pergi? Jika Ayah ingin bertemu ibu, Jin Ah mau ikut! Jin Ah tidak ingin sendirian!”

“Jin Ah..” Seulong mengangkat tangannya pelan, mengusap pipi mungil anaknya yang telah dipenuhi air mata. Maafkan karena ayah tidak bisa memberimu semua kebahagiaan yang seharusnya anak seusiamu miliki. Seulong menarik nafasnya yang tinggal sepotong-potong dengan berat, “Ayah mencintaimu.” Kemudian ia menarik nafas beratnya yang terakhir. Meninggalkan dunia dengan satu tarikan nafas, lengkap dengan Jin Ah yang semakin dalam dengan air matanya.

“AYAH!”

***

September 14, 2014

“Selamat ulang tahun Nana!” Nana tersenyum lamat-lamat setelahnya. Ia menggembungkan pipinya menahan tangis haru. Teman-temannya yang pada kenyataannya telah tersebar ke seluruh penjuru dunia kini berada di rumahnya memberikan kejutan ulang tahun untuknya. Chaerin yang membawa kue menyodorkan bawaannya, Nana berdoa sebentar dan meniup lilin bertuliskan 23. Nana dan teman-temannya memang jarang menggunakan perhitungan usia Korea jika bersama, apalagi mereka lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri.

Woohyun memberinya sebuah tas kertas dengan label fashion dunia yang disambut pelukan hangat Jin Ah, “terima kasih Woohyun.”

Suho dan Ailee memberinya pelukan hangat sebelum memberi kotak besar, “ini dari kami!”

Dan setelah semua orang memberinya kado Nana sampai di depan teman kecilnya Howon yang menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang. Nana membukanya dan melihat kunci mobil dengan logo lima lingkaran yang bertaut.

“Ya! Hoya! Mentang-mentang kau sekarang dealer utama brand mobil ini untuk Korea kau jadi dengan sembarangan memberikannya padaku.”

“Ya! Bukan seperti itu Pucat! Aku membelinya karena ini keluaran baru yang baru dirilis tahun depan, kau kan senang barang-barang yang seperti itu. Dasar Pucat Sok Eksklusif!”

“Ya! Kau!” Nana memukul kepala Howon dengan tangannya sebelum pria itu juga membalas pukulannya. Mereka kemudian tertawa bersama. Tidak, tidak hanya Nana dan Howon, tapi semua orang dalam ruangan itu. Nana dan Howon, dua nama yang jika disatukan hanya memberikan tanda positif pertikaian di dalamnya.

My heart beating like this

Is probably because you passed through it

Nana mengeluarkan dirinya dari dalam kamar mandi dengan bathrobe dan tangan yang menggosokkan handuk di kepalanya. Setelah teman-temannya pergi sejam yang lalu ia memutuskan untuk melepas penat dengan berendam di jacuzzi.

Nana merebahkan tubuhnya dengan nyaman di salah satu sofa merah Persia-nya, setelah beberapa jam berada di kantor dan mengurusi seluruh bisnis keluarga angkatnya yang kini menjadi tanggungjawabnya ia mulai kelelahan. Matanya mulai mengerjap lelah ketika ponselnya berdering. Dengan satu tangan dan mata terpejam ia meraih ponselnya di nakas dan langsung mengangkat sambungan bernada khusus itu.

“Selamat ulang tahun, Sayang.”

Thank you, Dear.” Nana tersenyum kilat dan kembali menikmati suasana tenang kamarnya.

“Maaf karena aku tidak bisa berada di Korea waktu ulang tahunmu.”

“Tidak apa, Dear. Kapan rencananya kamu pulang?”

“Besok lusa, Sayang. Apa kau sudah sangat merindukanku?” Suara di ujung sana terdengar begitu sarat kerinduan, namun ketika ia mempertanyakan perasaan Nana dalam suara itu terselip kejenakaan.

“Siapa bilang? Aku baik-baik saja kok. Aku masih makan tiga kali sehari, belanja bersama Yoojin, dan menikmati masa muda bersama Chaerin dan yang lainnya.” Nana tertawa pelan setelahnya. Ia bisa mendengar laki-laki yang begitu tergila-gila padanya di seberang sana mendengus sebal.

“Baiklah. Baiklah. Kekasihku yang satu ini memang tidak membutuhkan pria tuanya.” Pria itu mengeluarkan bunyi seolah menghembuskan cerutu dari hidungnya, kebiasaan yang sudah dihafal Nana.

“Pria tua yang tergila-gila pada gadis muda, tapi juga pria tua yang tega meninggalkan gadis mudanya demi pekerjaan! Huhh!” Nana membalikkan keadaan hingga prianya yang kini pasti merasa bersalah.

“Nana, jangan seperti itu, siapa yang memilih meninggalkanmu demi pekerjaan? Kau tahu sendiri aku sangat mencintaimu. Aku terpaksa pergi ke Italia saat ini karena urusan bisnis penting, Sayang. Nantinya kan bisnis ini untuk kita juga.”

“Kita apanya? Bisnis kan lebih penting dari ulang tahunku!” Nana mengerucutkan bibirnya sebal, tidak peduli laki-laki itu tidak bisa melihatnya.

“Masa depan kita sayang. Aku tentunya ingin cepat mempersuntingmu. Maafkan aku. Aku janji setelah aku tiba di Seoul aku akan menuruti semua keinginanmu.”

“Siapa yang mau menikah dengan pria tua penggila kerja sepertimu?! HAH!

“Sayang..”

Pria itu tidak mendengar apapun selama beberapa detik dan nyaris akan merengek lagi ketika Nana, kekasih yang amat dicintainya tertawa di seberang sana.

“Baiklah, baiklah. Maafkan aku juga Kim Jaejoong karena terlalu berlebihan.”

“Kau yang berlebihan justru menyemarakkan hariku, Sayang.”

“Pembual. Sudah cepat kembali ke Korea dan turuti keinginanku. Jangan panggil aku Nana jika keinginanku tidak membuat dompetmu mengering.”

“Apapun untukmu, Princess.”

“Baiklah. Sampai jumpa!”

“Sampai jumpa, love you.

Me too..

Jaejoong menutup sambungan telepon dengan hati berbunga. Di 38 tahun hidupnya ia belum pernah mencintai apapun lebih dari ia mencintai Im Nana. Ia mencintai gadis itu jauh lebih dari hidupnya. Sekalipun mereka bertemu secara sederhana tiga tahun lalu di penggalangan dana tempat Nana dan teman-temannya membentuk organisasi amal. Semua hal sederhana dalam diri gadis itu telah mengikatnya secara paksa. Tidak ada satupun hal yang luput dari mata Jaejoong kala itu. Gerak halus gadis itu, senyuman, kedipan matanya bahkan aroma tubuh yang begitu khas. Beberapa waktu setelahnya ia menyuruh bawahannya mengatur pertemuan tak sengaja dengan Nana di sebuah mall dan memulai kisah mereka di sana. Jaejoong sekali lagi menatap ponselnya menggerakkan layarnya sedikit untuk melihat wallpaper-nya. Foto Nana dan dirinya di sebuah pesta beberapa bulan lalu, walau dengan kesenjangan umur yang cukup jauh mereka tampak seperti pangeran dan putrinya malam itu.

Sementara Nana. Ia memejamkan matanya namun tangannya tak henti memutar ponsel di tangannya. Dalam hati ia tertawa bahagia sekalipun hanya tersenyum yang tersungging di bibirnya.

“Jatuhlah Kim Jaejoong. Jatuhlah semakin dalam ke pesonaku.”

I want you – in order for me to live

Even if the love hurts, I will wait right here

January 26, 2015

“Selamat ulang tahun, Dear.

“Terima kasih, Nyonya Kim.” Jaejoong memeluk hangat istri cantiknya. Ia begitu bangga menyebut gadis itu sebagai istrinya. Baru beberapa jam lalu mereka bersumpah di depan altar, mengucap janji setia sehidup semati. Dan kini mereka bisa melihat ratusan tamu yang memberikan selamat dan doa mereka untuk pernikahan keduanya. Jaejoong mengecup bibir ranum istrinya sebelum melihat rona merah yang menyemburat di wajah itu. Jaejoong merapatkan bibirnya di telinga gadis itu, “apakah sepanjang malam nanti kau akan terus merona seperti itu? Nanti bahkan bukan yang pertama, Sayang.”

“Tapi ini berbeda, Dear.” Nana balas mengecup singkat bibir suaminya sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada tamu-tamu yang nampak menikmati jamuan mereka. Ia melepaskan genggaman tangan Jaejoong dan berjalan pelan ke meja penuh aneka rupa kue kue kecil yang menggugah seleranya. Nana mengambil satu kue dengan lapisan hijau dan hiasan buah jeruk di atasnya. Ia melahapnya dan langsung tersenyum senang.

“Lihat gadis itu. Apa ia tidak sadar bahwa mereka berdua lebih pantas menjadi ayah dan anak daripada sepasang suami istri?” Nana mengunyah kuenya yang lain ketika beberapa orang yang tak perlu ia lihat berada di hadapannya dan membicarakannya dengan volume sedang.

“Tentu saja ia tahu, hanya saja, apa jika kau telah melihat seberapa kayanya Kim Jaejoong sekalipun ia puluhan tahun lebih darimu kau tak akan tergiur menikmatinya juga?”

“Benar juga! Gadis sepertinya pasti hanya mengincar harta Kim Jaejoong. Tapi bagaimana menikmati harta itu jika Kim Jaejoong yang lebih mirip ayahnya itu masih hidup? Mana berani gadis manja dari keluarga kaya itu membunuh Kim Jaejoong yang notabene adalah kepala organisasi gelap?”

Ahh.. Kau ini. Seperti tidak tahu anak muda saja! Tentu dia akan cari pria lain di balik punggung suaminya. Mana bisa—”

“Hartaku masih terlalu banyak jika istriku yang cantik ini ingin menghabiskan. Bahkan jika ia mau menghabiskannya aku yakin istriku akan membutuhkan bantuan lebih dari seluruh tamu di ruangan ini untuk menghabiskannya.” Jaejoong telah berdiri di depan gerombolan orang-orang yang ternyata beragam jenis kelaminnya. Gerombolan itu memandang Jaejoong takut-takut dan langsung memencar ke tempat-tempat yang setidaknya jauh dari radius pria itu.

“Jangan sedih, oke? Ini hari bahagia kita.” Jaejoong mengangkat wajah Nana yang sedari tadi tertunduk sedih. Mata istrinya berkaca-kaca kemudian mengeluarkan setitik air beningnya, membuat emosi Jaejoong dengan cepat tersulut.

“Apa kau ingin mereka membayar air mata ini?” Nana hanya menggeleng dan tanpa aba-aba memeluk suaminya, sesenggukan tangisnya keluar perlahan. Jaejoong hanya sanggup mengusap punggung istrinya dengan sabar tanpa bisa melakukan apapun, jika Nana tidak ingin maka dia benar-benar tidak ingin dan ia tidak bisa berbuat banyak karenanya.

“Aku tidak apa. Hanya saja, kau tahu, aku tidak menyangka menjadi istrimu seberat ini.” Nana memajukan bibirnya sebal dan sedih. Ia mendekap tangannya di dada.

“Maafkan aku, Sayang. Sekalipun bersamaku sulit, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Oke?” Dalam dekapannya Nana hanya mengangguk. Jaejoong tersenyum samar setelahnya, sekalipun dalam hati ia ingin sekali mengirim ribuan maaf pada istrinya. Nana yang masih berada di dalam dekapan Jaejoong hanya tersenyum, senyum miring yang mengerikan.

“Ada harga yang harus kau bayar Kim Jaejoong. Harga untuk enam belas tahun yang telah berlalu dan harga untuk air mataku lebih dari hari ini.”

 

Why tears fell without reason

Why my heart hurt that much

I want to run to you right now and tell you

 

June 22, 2015

Hari mulai petang ketika Jaejoong tiba di rumahnya. Ia baru saja pulang setelah mengurus beberapa hal dengan pengacaranya dan aura bahagia tak berhenti memancar dari seluruh tubuhnya. Nana pasti akan sangat gembira mendengar ini. Jaejoong tidak menemukan istrinya dimanapun sampai salah satu pelayannya mengatakan sejak siang hari Nana berada di tepi kolam renang tanpa melakukan hal-hal penting selain membaca beberapa majalah.

“Sayang!” Jaejoong merentangkan tangannya bahagia dari belakang lounger yang ditempati Nana. Ia memeluk istrinya dan mengecup kepala wanitanya singkat.

“Sayang, baru saja aku mengurus pengalihan semua industriku yang bergerak di bidang periklanan, mode, dan transportasi atas namamu. Dengan begitu sekarang kau tidak akan bosan di rumah lagi, kau bisa melakukan apapun dengan perusahaan-perusahaan itu.” Jaejoong masih asyik menghirup aroma tubuh istrinya dalam-dalam ketika Nana masih tak bergeming. Nana masih menatap lurus-lurus pada majalah yang sedari tadi berada dalam genggamannya.

“Sayang?” Jaejoong menatap ke arah istrinya yang dengan kagum melihat apa yang ada di dalam majalahnya tanpa perlu disebutkan. Jaejoong merubah arah pandangannya dan mendapati gambar yang menyesakkan dadanya di dalam sana. Gambar iklan pakaian ibu hamil. Mungkin bagi pembaca majalah biasa hal itu biasa, namun baginya dan Nana ini tidak biasa.

“Kim Jaejoong..” Nana memanggil namanya dengan mata yang berubah sedih. Jaejoong yang menyadari hal itu menatap sekilas ke mata wanita yang ia cintai itu.

“Kenapa kita bisa membeli semua hal di dunia ini?” Jaejoong terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba Nana. Ia belum bisa menangkap arti pertanyaan itu, sampai Nana menatapnya dengan genangan air mata yang hampir jatuh, yang langsung menyentuh dan merobek hatinya. Ia pernah berjanji mencegah air mata itu jatuh dan berjanji membayar impas siapapun yang membuat air mata istrinya jatuh tapi bagaimana jika dirinya sendiri yang menyebabkan hal itu?

“Kenapa kita bisa membeli semuanya ketika kita tidak bisa membeli seorang anak.” Air mata Nana berjatuhan setelahnya ia seolah tak bisa menahan bom waktu dalam dadanya. Ia seorang perempuan. Perempuan yang sama dengan perempuan lain yang menginginkan kehadiran buah hati dalam rumah tangganya.

“Aku ingin punya anak. Aku ingin.” Jaejoong memutar tubuhnya dan mendekap erat Nana, seolah menjaga Nana dari seluruh bisikan dan ketakutan di dunia. Sejak dua bulan setelah pernikahannya dan mereka melakukan pemeriksaan rutin ke dokter, dokter sudah mengatakan akan sangat sulit bagi mereka untuk memiliki anak. Karena usia Jaejoong yang mulai masuk ke dalam usia pasif. Tidak seproduktif dulu. Dan hal ini selalu memukulnya telak. Bagaimana ia bisa memberikan Nana kebahagiaan yang utuh?

“Peduli apa aku dengan anak Kim Jaejoong? Apalagi anak darimu? Matipun aku tak pernah ingin mengandung anak dari pembunuh sepertimu.”

 

I’m even thankful for my tears – because you gave them to me

Even longing for you makes me happy

In order to live, I love you

 

August 26, 2015

“Semua harta atas nama Kim Jaejoong telah dialihkan atas nama Im Jin Ah.” Nana tersenyum puas mendengarnya suaminya yang malang dan begitu mencintainya itu, ternyata semakin bodoh. Hanya karena sandiwara Nana yang beberapa kali nyaris gila karena tak bisa mendapatkan anak, laki-laki itu membayarnya dengan seluruh harta ini.

“Bagus, sekarang tinggal menunggu waktu yang tepat Joon.”

“Maksudmu peringatan bulan depan?” Lee Joon, asisten langsung Nana menatapnya penuh keyakinan.

“Tentu saja.” Nana tersenyum senang. Ketika semuanya berada di genggaman tangannya Nana hanya perlu menyentil pion permainan Jaejoong dan pria tua itu akan hancur dengan sendirinya.

“Harta yang ia miliki, semuanya tak lepas dari darah yang enam belas tahun lalu tertumpah di depan mataku. Jika ia tidak merampok tempat kerja ayahku malam itu, dia tidak akan memiliki dana dalam jumlah besar untuk menggerakkan Century Action menjadi sebuah organisasi gelap berskala dunia dan memiliki seluruh kerajaan bisnisnya. Dan apa salahnya mengambil harta yang bahkan tak pernah bisa membangkitkan kembali ayahku?” Nana merunduk, ia mengangkat wajahnya dan Joon langsung menangkap senyum getir dan air mata yang menetes perlahan di ceruk wajah atasannya.

“Nana! Sayang!” Suara seorang pria datang dari kejauhan tempat Nana berada. Ia buru-buru menghapus air matanya. Ia mengembalikan berkas-berkas yang baru Joon berikan padanya.

“Sebentar lagi aku akan kembali ke mana seharusnya aku hidup, Joon. Kau hanya perlu menunggu kedatanganku. Beberapa saat lagi.”

“Ya, Jin Ah.” Selanjutnya Joon memberi hormat pada atasannya dengan formal dan berjalan meninggalkan ruangan itu. Di depan pintu ia bisa menemukan Jaejoong. Jaejoong baru saja tiba di depan ruang pribadi istrinya dan memberikan senyum formal pada Joon. Selepas masuknya Jaejoong, Joon terdiam. Jedanya begitu lama sampai ia kembali berjalan, meninggalkan rumah yang sarat intrik dan misteri itu.

Di tempatnya duduk Nana sudah memasang muka jengkel. Mukanya ditekuk dan di alihkan ke arah jendela enggan menghadap Jaejoong yang justru tersenyum geli. Jaejoong meraih pinggang istrinya dan menempelkan wajahnya dalam surai kecoklatan Nana.

“Maafkan aku, aku lupa kalau peringatan kematian orang tuamu kemarin.”

“Kau selalu lupa hal-hal penting.” Nana menggoyangkan tangannya berusaha menyingkirkan tangan suaminya. Setiap saat aku bahkan ingin menyingkirkan tanganmu dari tubuhku, Tua!

“Aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar lupa.” Jaejoong tertunduk dan beralih ke bahu terbuka Nana. Ia, entah kenapa bisa mengecup bahu itu setiap hari sudah seperti energi tambahan untuknya.

Ya ya, lupa. Lupa. Kau selalu lupa semua yang ada pada diriku. Sebenarnya kau mencintaiku tidak sih?!” Jaejoong semakin mengetatkan pelukannya mencegah Nana kabur seperti biasanya. Nana selalu kabur ke tempat-tempat yang tidak ia tahu sampai sekarang ketika dia marah atau bahkan sedih. Dia sendiri juga bingung kenapa bisa-bisanya ia melupakan peringatan kematian Im Hyunsik dan istrinya. Padahal semua hal-hal kecil tentang Nana selalu berada di agendanya.

“Tentu saja aku mencintaimu, istriku yang cantik. Hanya saja kau perlu memaafkanku sekali ini, kau tahukan daya ingatku semakin menurut. Apalagi jika kepalaku ini hanya dipenuhi oleh namamu. Sulit menyelipkan hal-hal lainnya.” Nana membalikkan tubuhnya, bibirnya memang masih mengerucut sebal tapi ia tidak bisa menghindari senyum yang pelan-pelan merekah dari sudut bibirnya. Dengan cepat ia melingkarkan tangannya di leher suaminya dan mencium pipi tirus suaminya cepat.

“Teruslah membual. Dasar!” Nana segera beranjak pergi, diikuti Jaejoong yang tertawa senang di belakangnya. Meluluhkan hati Nana memang semudah kata-kata bagi Jaejoong. Tapi menghancurkan kebencian di hati Nana bahkan tidak senilai dengan apapun dalam diri Jaejoong bagi Nana.

Because I might never see you again

Because you might disappear like thin air

I am afraid

September 1, 2015

12.15

Nana meletakkan piring camilan lain di meja kecil yang sudah ia tata di salah satu sudut balkon utama di lantai kamarnya dan Jaejoong berada.

“Sempurna.” Ia tersenyum pada dirinya sendiri. Matanya melihat semua hal-hal di hadapannya dengan sorot tajam, ia bisa melihat semua makanan itu, semua makanan yang sewaktu kecil hanya menjadi impiannya dan sang ayah. Tapi kini ia bisa menyajikannya hanya dengan membuka kulkas rumah besar ini.

“Apa ayah menginginkan ini juga?” Nana mengangkat salah satu kue berlapis dark-chocolate mahal. Ia menggigitnya sekilas dan air matanya langsung terjatuh dengan mudah, “hari ini aku memakannya. Hari ini aku membuatnya. Seperti hari-hari sebelumnya. Tapi sebanyak apapun aku memakannya, aku memakannya sendiri. Tanpa ayah. Ayah, aku merindukanmu.” Nana menutup mulutnya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain berusaha mengusap air mata yang mengalir dari matanya. Betapa ia merindukan ayahnya selama enam belas tahun ini. Ia memang merindukan ibu yang bahkan wajahnya hanya bisa Nana lihat melalui foto, tapi di malam-malamnya yang dingin yang akan menggambarkan wajah ayahnya dengan jelas. Wajah pria yang begitu mengasihi dan berjanji melindunginya selamanya dengan baik. Tidak, ayahnya tidak berbohong. Dalam hatinya Nana tahu bahwa ayahnya selalu melindunginya, jauh di tempatnya sekarang berada ayahnya pasti melindungi putri semata wayangnya.

“Sayang?” Jaejoong muncul dengan celana kerja dan kemeja kerja yang mulai lusuh. Ia datang di saat Nana telah berhasil menghapus jejak air mata dari matanya.

“Ya? Suamiku yang tampan ini ternyata sudah datang. Ayo duduk. Aku tidak bisa membuat makan siang yang istimewa jadi aku hanya membuat makanan kecil seperti ini.” Nana menunjuk meja penuh makanan ringan di belakangnya, Jaejoong tersenyum melihat usaha keras istrinya yang nyaris tak pernah memasak. Menjadi anak milyuner seperti Im Hyunsik tentu membuat Nana lebih banyak menghabiskan waktu untuk meraih apa yang ia inginkan daripada berkutat di dapur. Jaejoong memahami hal itu.

Tapi kau tidak pernah benar-benar paham Kim Jaejoong.

Nana tersenyum dengan satu sudut bibirnya yang terangkat, tanpa sempat tertangkap mata Jaejoong.

“Aku pulang cepat sebenarnya hari ini. Aku malas berlama-lama di kantor dan meninggalkan istriku yang cantik sendirian di rumah yang besar ini.”

“Akhirnya kau sadar juga? Selama ini aku juga sudah sendirian setiap kau berangkat kerja dan hanya memonitor perusahaan yang kau serahkan melalui internet.”

“Ya, ya. Baiklah, kalau begitu hari ini kita akan habiskan seharian berdua, bagaimana?” Nana tersenyum senang. Jaejoong yang terlalu mencintainya memang terlalu mudah ia gapai hatinya, suaminya justru mendekatkan maut padanya. Mendekatkan apa yang memang istrinya inginkan.

“Oke! Jadi sekarang cepat makan masakanku dan komentari. Ingat, setiap makanan harus kau coba! Jika tidak… Aku tidak mau kau peluk-peluk lagi.” Nana melipat tangannya di depan dada dengan lagak sombong namun harus terpekik geli ketika tangan-tangan Jaejoong mulai menggelitikki pinggangnya, “baiklah Ratuku, jadi darimana aku harus mencobanya?”

 

Although our love is passing by

You are the person I long for the most in the world

At some point, I am calling out your name

 

September 1, 2015

20.00

Hari sudah gelap ketika Jaejoong masuk ke kamarnya. Ia baru saja membereskan peralatan piknik kecilnya dengan Nana di taman belakang. Istrinya sudah dari satu jam yang lalu kembali ke kamar. Ia bilang akan menyiapkan sebuah kejutan yang tidak akan pernah Jaejoong lupakan. Hal itu membuat Jaejoong benar-benar gelisah, ia tidak sabar mendapati apa kejutan yang akan ia terima dari istri cantiknya.

Drrt.. Drrt..

Ponsel di saku celananya berbunyi, ia melihat nama salah satu bawahan kepercayaannya di sana. Ia mundur beberapa langkah sebelum mengangkat panggilan itu. Bunyi yang langsung ia dengar adalah sederet informasi, bukan sapaan formal yang memang sudah ia tinggalkan cukup lama. Sederet informasi yang bak busur panah menusuk langsung ke pusat jantungnya.

“Semuanya benar?”

Ya, Tuan. Kami sudah melakukan verifikasi beberapa kali.

“Baiklah. Terima kasih. Lakukan seperti yang kuperintahkan, hapus semua data yang kau dapatkan… berikut sumbernya.”

Baik, Tuan.”

Jaejoong merasakan dadanya yang berdenyut ngilu. Apa ini? Tidak ada satupun hal masuk akal dalam pikirannya. Tidak satupun. Bagaimana seorang perempuan sanggup bertahan selama ini dalam dendamnya. Bagaimana perempuan serapuh dia sanggup memainkan perannya seorang diri, tanpa satupun tangan yang memegangnya. Dan bagaimana.. ia yang penuh kewaspadaan jatuh dalam pembalasan dendam itu? Bagaimana ia sanggup mengungkap semua hal ini jika ia bahkan tidak punya ruang lagi di hatinya untuk mengingat dendam itu. Ia jatuh, jatuh terlalu dalam ke pembalasan yang menjerat hatinya selamanya. Pembalasan yang bahkan hanya meninggalkan cinta palsu dalam hatinya, tanpa celah pembalasan balik yang cukup.

“Aku terlalu mencintaimu. Aku tidak bisa. Aku.. Sekalipun hanya kepalsuan yang ada, aku tidak bisa membencimu. Kenapa? Kenapa aku justru lebih memilih mati bersamamu daripada terus hidup tanpamu. Kenapa seperti ini?” Jaejoong merasakan air mata yang nyaris dalam hidupnya tak pernah jatuh kini menggenang dan turun dengan mengerikan. Tanpa henti dan begitu menyakitkan.

Tangannya yang bergetar berusaha meraih gagang pintu kamarnya. Dengan sangat perlahan dan tubuh yang ditegakkan paksa ia membuka kamarnya. Ia masuk dan melangkah pelan, melangkah dalam entah kenapa gelap kamarnya. Ia tidak bisa menemukan benda apapun dalam pandangannya selain sumber cahaya yang ia yakini berada di atas meja dekat tempat tidurnya. Ia menajamkan penglihatannya ketika yang ia dapati adalah seorang perempuan di hadapan cahaya itu. Perempuan dengan hanbok hitam mengkilap dengan hiasan sulur-sulur putih di bahunya. Perempuan berambut segelap malam yang dikuncir rendah. Di lengannya terbelit kain hitam dengan dua garis putih, tanda bahwa ia adalah keluarga utama dari seseorang yang meninggal. Apa yang Jaejoong lihat persis seperti perempuan yang sedang berkabung.

“Nana?” Sekalipun dnegan penampilan seperti itu Jaejoong bisa mengetahui itu istrinya, Nana. Istri yang bahkan sejam lalu masih ia ingat lambut coklat tembaganya.

“Kau sudah datang, suamiku?” Nana tidak berbalik, ia masih memunggungi Jaejoong. Namun kemudian ia menolehkan sedikit kepalanya menunjukkan matanya yang berkaca-kaca. Hal kecil yang langsung membuat Jaejoong melupakan sakitnya sendiri tentang fakta yang baru ia ketahui.

“Kau menangis?” Jaejoong berjalan perlahan-lahan mendekati Nana yang kembali menatap lilin besar di hadapannya. Nana tidak melakukan apa-apa, ia hanya seperti memeluk sesuatu dengan erat di dadanya.

“Ya, aku menangis. Seperti setiap malam yang aku lalui. Seperti enam belas tahun yang panjang yang selalu aku lalui dengan tangisan.” Jaejoong merasa terpukul telak setelahnya. Istrinya menangis? Menangis bahkan dalam perlindungan dan pelukannya?

“Nana.. Apa yang terjadi?”

Nana tidak menjawab, ia hanya mendecak dan kemudian tertawa parau.

“Bukankah kau sudah tahu? Bukankah anak buahmu telah memberi tahumu, Dear?” Nana membalikkan tubuhnya, menatap Jaejoong yang berdiri menjulang.

“Mak— Aku tidak mengerti maksudmu, Sayang. Apa yang anak buahku katakan? Bukankah sedari tadi hanya ada kita berdua?” Jaejoong tersenyum dipaksakan tanpa mempedulikan hatinya yang berdentum cepat. Apa Nana akan meninggalkanku setelah ini? Bukankah aku sudah memberikan semuanya untuknya? Apa Nana akan meninggalkanku sendiri?

“Bahwa aku adalah anak Im Seulong. Aku adalah Im Jin Ah, anak Im Seulong dan Kim Yerim. Bukan Im Jin Ah anak Im Hyunsik. Bukankah kau baru saja mengetahuinya?”

“Nana, sekalipun aku mengetahuinya, aku janji itu tidak merubah apapun. Aku bisa melupakan segalanya, bukankah kau tahu aku sangat mencintaimu? Bahkan melebihi hidupku. Aku bisa melupakan bahwa—”

“TAPI AKU TIDAK PERNAH MELUPAKANNYA!! Aku tidak pernah melupakan ayahku yang meninggal dalam genggaman tanganku, aku tidak bisa melupakan darah ayahku yang membasahi bajuku saat itu, aku tidak bisa! Mungkin aku bisa melupakan dua puluh dua tahunku yang gelap tanpa ibuku. Tapi, aku tidak pernah bisa melupakan enam belas tahun pahit yang harus kulalui tanpa ayah kandungku! Aku tidak punya siapapun selain ayah kandungku ketika kau merebutnya dariku!” Nana merasakan dadanya sesak. Setiap menyebut ‘ayah’ ia tidak sanggup menahan air matanya. Bahkan ketika Im Hyunsik, majikkan ayahnya menawarkannya hidup yang jauh lebih layak menjadi anak angkatnya dan menghapuskan masa lalu Nana, nyatanya semuanya masih membekas dalamm diri Nana. Semuanya terasa nyata setiap saat. Berapa kalipun Nana berusah berdamai dengan masa lalu wajah kesakitan dan seluruh kenangan dengan ayahnya masuk dan menggagalkannya.

“Nana.. Akh..” Jaejoong mundur, ia nyaris tersungkur jatuh jika ia tidak tepat jatuh ke tempat tidurnya. Dadanya baru saja mengalami kontraksi keras. Seperti di remas dengan cepat dan menyakitkan.

“Hartamu, bahkan seluruh hal yang bisa aku miliki di dunia ini tidak bisa mengembalikan ayahku. Ayah yang begitu aku sayangi, ayah yang begitu aku cintai. Tidak ada satupun dari hal itu yang bisa mengembalikan ayahku!”

“Nana, aku benar-benar minta maaf. Aku berjanji akan melakukan apapun, apapun asalkan kau memaafkanku Nana. Dan yang terpenting kau akan tetap berada di sampingku, iya kan?” Jaejoong kembali tersenyum dipaksakan. Ia tidak mengerti hatinya yang mulai terlalu mengusai jalan pikirannya hingga masih menginginkan duri dalam daging seperti Nana tinggal di sisinya.

Namun, Nana hanya berdiri. Ia berdiri, memperlihatkan apa yang ia peluk sedari tadi. Sebuah seragam polisi. Dengan darah yang masih membercak. Di depan seragam itu ada sebuah foto berukuran sedang, foto seorang pria yang duduk manis bersama putrinya dalam figur hitam putih. Jaejoong nyaris membelalakkan matanya. Im Seulong dan putrinya. Putri yang enam belas tahun lalu pernah Jaejoong lihat secara langsung. Putri yang Jaejoong tahu menjadi alasan hiudp Seulong.

“Kau..”

“Aku orang yang enam belas tahun lalu pernah melihatmu, orang yang enam belas tahun lalu juga kau lihat wajahnya. Tapi nyatanya hanya aku yang masih mengingat wajah bajingan yang usianya bahkan baru 23 tahun ketika membunuh ayahku.” Nana meletakkan seragam polisi dan foto itu tepat di hadapan lilin yang menyala. Sekali lihat hatinya langsung tergores satu luka baru. Ia hanya punya dua benda itu sebagai kenangannya dengan sang ayah, tidak ada benda lain dengan kesulitan ekonominya.

Akhh..” Jaejoong merasakan remasan di dadanya semakin kuat. Ia memundurkan tubuhnnya perlahan-lahan menepi di sandaran kepala ranjangnya. Kepalanya mengikuti dadanya, seperti ada remasan dan tarikan kuat di saat yang bersamaan. Keduanya menyakiti Jaejoong. Walau tak sesakit hatinya melihat air mata wanita yang ia cintai dengan seluruh hidupnya.

“Kenapa kau membunuh ayahku Kim Jaejoong? Kenapa kau membunuh pria yang bahkan rela berkhianat dari kepolisian hanya untuk menghidupi orang sepertimu?” Nana berucap dengan begitu pelan. Namun langsung masuk ke dalam sanubari suaminya.

“Kau tahu.. Kau tahu jika..”

“Aku tahu.. Aku tahu sejak awal aku memulai semuanya. Aku tahu jika ayahku adalah pemimpin kalian. Pemimpin yang malam itu berteriak kepada rekan-rekannya sendiri, tapi juga pemimpin yang kau bunuh untuk mendapatkan sendiri bagian paling besar dari penjarahan terakhir kalian kala itu.

September 1, 1999

 

“Jin Ah berlindung di balik meja!” Jin Ah yang mendengar suruhan ayahnya segera menelusup ke bawah meja kerja ayahnya. Ia menggigil ketakutan dan matanya bergerak liar berusaha mencari sesuatu yang bisa membuatnya merasa aman, tapi tidak ada. Karena satu-satunya yang membuat dirinya aman adalah ayahnya.

“Ayah.. Ayah..” Jin Ah terus memanggil ayahnya yang kini tengah bersama rekan-rekannya yang lain berusaha mempertahankan keamanan South Korea Bank.

Di luar Seulong datang bersama Jinwoon, mereka berdua bersama beberapa puluh satuan kemanan lainnya berdiri membuat pagar betis di hadapan para penjarah yang baru saja mengganggu struktur penjagaan mereka.

Namun tanpa disangka-sangka, Seulong dan Jinwoon berbalik. Mereka yang semula mengacungkan senapan mereka ke arah para penjarah mengalihkannya pada rekan kerja mereka.

“Seulong..” Salah seorang dari mereka mendesis ngeri. Ternyata pemimpin satuan barisan yang selama ini mereka ketahui adalah ketua dari tim perampok yang diincar kepolisian saat ini.

“SATUPUN DARI KALIAN TIDAK AKAN ADA YANG MAMPU MENGHALANGI LANGKAH KAMI!” Seulong berteriak dengan keras. Ia memberi kode ke anak buahnya untuk melakukan penyerangan. Orang-orang dengan pakaian gelap itu segera mengeluakran revolver dan senjata-senjata hasil perdagangan gelap lainnya.

Bunyi tembakan terdengar dimana-mana, Seulong sudah melumpuhkan beberapa orang ketika Jinwoon tiba-tiba berteriak. Lengannya terluka dan terlihat parah. Tanpa mengurangi kesiagaan Seulong bergegas mendekati Jinwoon.

“Jinwoon..”

“Jaejoong, dia pengkhianat.” Seulong melebarkan matanya. Bagaimana bisa orang yang begitu ia percayai itu mengkhianatinya?

“Jinwoon, apa maksudmu?”

“Dia yang menembakku, aku berusaha melindungimu, Hyung.” Seulong meliarkan matanya, ia melihat anak buahnya dalam kondisi yang terus menyerang tanpa mengerti terjadi pengkhianatan dalam kelompok mereka. Namun dari kejauhan ia bisa melihat Jaejoong. Sekalipun pemuda itu tengah bertarung melawan dua orang polisi ia bisa melihat mata yang tidak bisa lepas menatap Seulong penuh kedengkian.

“Kembalilah, jaga putriku. Aku yang akan menghadapi Jaejoong. Aku atau dia, salah satu dari kami harus mati sebelum anggota yang lain menjadi korbannya.”

“Tapi, Hyung..

“Kembalilah. Jaga Jin Ah. Aku titipkan dia padamu. Aku meletakkan kepercayaanku padamu, Jinwoon-aa.”

“Jin Ah.. Jin Ah..” Suara Jinwoon! Jin Ah mengeluarkan tubuhnya sedikit dari persembunyianya. Jinwoon terluka lengannya, tapi ia nampak berusaha menggapai tangan Jin Ah, menyembunyikan tubuh mungil itu dibalik tubuhnya.

“Paman.. Paman kenapa?” Jin Ah menggoyang-goyang tangan Jinwoon yang tidak terluka tapi pamannya hanya diam dan sesekali menahan sakit di lengannya.

Di satu sisi seluruh anggota perampokan sedang menangani musuh-musuh terakhir mereka. Sementara Seulong dan Jaejoong berhadap-hadapan.

“Aku tidak menyangka kau membayar semua hal yang aku korbankan untukmu dengan pengkhianatan, Jaejoong.”

“Aku terlalu lelah berada di bawah bayanganmu, Hyung. Terlalu lelah. Aku lelah menjadi di nomor duakan bahkan dengan kemampuankku yang melebihimu.”

“Jaejoong! Tidak ada siapapun yang menomor duakanmu, jika kau merasa bagian yang aku terima paling besar kau hanya perlu mengatakannya! Lagipula aku hanya menggunakan seluruh uang jarahan kita untuk biaya masa depan anakku. Aku tidak memiliki masalah apapun jika kau menginginkan lebih dari yang seharusnya kau terima.”

“Lebih dari yang harus kuterima? Dari yang harus kuterima?! Kau pikir apa yang pantas aku terima?! Aku cukup hidup menderita selama kehidupan jalananku yang keras dan harus menahan lebih banyak penderitaan setelah menjadi nomor dua, Hyung! Kau dengan banyak orang di sekelilingmu, dengan mendiang istrimu yang mencintaimu, dengan putri yang selalu berada di sisimu, tidak akan pernah merasakan hal itu!”

DORR!

Jaejoong dengan gelap mata menembakkan peluru terakhir di senapan laras panjangnya tepat ke jantung Seulong yang tengah lengah. Ia bisa melihat Seulong yang berusaha memberikan penjelasan tepat sebelum peluru itu menembus jantungnya.

“AKH!” Seulong berteriak tepat ketika tubuhnya jatuh tersungkur.

“AYAH!”

Jaejoong melihat Jin Ah yang berlari sekuat tenaga ke ayahnya yang sudah berlumuran darah. Ia bisa melihat Seulong menggerakkan sedikit kepalanya. Mengetahui bahwa putrinya mendekat.

“Jin Ah..”

Jin Ah menoleh tepat ke arahnya, Jin Ah kecil yang sudah menangis dengan wajah ketakutan melihat dengan kemarahan dan kebencian sementara ia, Jaejoong yang sadar bahwa dirinya menjadi pusat kebencian itu menatap gadis kecil itu dengan tatapan menilai. Maafkan aku gadis kecil, kau harus menjalani hari-harimu sendirian. Tapi jika  gadis secantik dirimu bisa bertahan sampai kau dewasa nanti, aku berjanji akan menyerahkan kembali apa yang seharusnya menjadi milik ayahmu. Maafkan aku.

Love is meeting again someday even though we’re far apart

Because if I don’t have you, I think I will die – in order to live

September 1, 2015

20.12

“Aku hidup sendirian Jaejoong. Bahkan setelahnya sekalipun keluarga Im yang baik mengadopsiku dan aku pergi ke Perancis dengan beasiswaku aku sendirian. Jinwoon, satu-satunya tempat aku bertahan bahkan dengan keji kau bunuh hanya beberapa tahun setelah kematian ayahku.”

“Nana, aku minta maaf. Aku benar-benar membutuhkan semua uang itu saat itu. Aku tidak bisa melihat ayahmu yang bahkan tak sebanding kemampuannya denganku menjadi pemimpin kami.” Jaejoong terus menahan sakit di dadanya ketika Nana berbaring di sampingnya. Jaejoong yang hanya tertidur pasrah di tempatnya melihat istrinya yang kini seperti bayang-bayang gelap di atas kepalanya, melihatnya dengan tatapan tak terdefinisi.

“Tiga menit sebelum kematian Jaejoong.” Jari-jari lentik itu bermain di permukaan wajah Jaejoong. Ia merasakan tekstur wajah suaminya yang memang telah berumur sekalipun terlihat segar.

“Nana.. Nana.. Jangan bilang kau akan pergi meninggalkanku.. Akh..” Jaejoong berusaha meraih tangan istrinya, namun Nana dengan kejam menepisnya, menunjukkan senyum tanpa kompromi yang menakutkan.

“Tidak. Aku tidak akan meninggalkanmu. Bukankah alasan selama ini kau hidup telah berubah menjadi aku sejak tiga tahun lalu. Jika aku ingin meninggalkanmu aku sudah melakukannya tepat ketika aku mendapatkan semua hartamu. Bukankah harta itu sedikit banyak berasal dari hasil penjarahan di South Korea Bank enam belas tahun lalu?”

“Lalu apa yang akan kau lakukan.. Aku mohon jangan meninggalkanku. Aku mohon.” Jaejoong menatap Nana dengan mengiba. Ia mendadak di serang ketakutan. Bagaimana jika ia menanggung rasa sakit ini sendiri? Bagaimana jika ia kembali sendirian lagi di dunia yang telah membekukan hatinya selama ini?

“Aku akan membuatmu merasakan rasa bersalah yang akan kau bawa sampai mati. Rasa bersalah karena meninggalkanku. Hanya menghitung menit Jaejoong. Menghitung menit sampai tangan neraka bersiap meraihmu. Dan setelahnya, kau tahu apa? Dari tempatmu nanti kau akan melihat aku menangis, menangis kehilangan suamiku yang pergi dengan tenang karena serangan jantung dalam tidur pulasnya. Sekalipun kau tahu bukan jika tangisan itu hanya pelengkap agar kau semakin tahu apa rasanya begitu jauh dari orang yang kau sayangi. Tangisan itu tapi juga tidak akan bertahan lama. Paling lama hanya sampai semua orang yang pasti enggan melayatmu pergi. Setelah itu kau bisa melihatku begitu bahagia, begitu bahagia atas kepergianmu.”

“Nana.. Nana.. Akh.. Aku mohon aku tidak bisa sekalipun jauh darimu.”

“Tapi aku bisa. Aku bisa, Kim Jaejoong. Karena selama ini aku pun bisa tetap bertahan sekalipun jauh dari ayahku.”

Akhh.. Akhh.. Akh!!” Sakit ini, rasa sakit yang masih tidak bisa mengalahkan bayang-bayang Nana yang mulai meremang dari matanya.

“Nana kau semakin mengabur. Aku mohon kembalilah. Aku.. Aku tidak bisa hidup tanpamu.”

“Bukankah memang sebentar lagi kau tidak akan hidup? Kau akan membayar dosamu di neraka.” Nana dengan gerakan perlahan mengusap kepala suaminya. Seolah ada cinta begitu besar dalam hatinya untuk suami yang telah terbaring meregang nyawa.

“Nana..”

“Ya?” Nana pura-pura simpatik, ia mendekatkan telinganya ke arah bibir Jaejoong yang hanya bisa bergetar ketakutan. Ketakutan tak bisa melihat dirinya lagi. Ketakutan yang tanpa Jaejoong ketahui telah Nana tumbuhkan dengan subur bersama seluruh perasaan cinta tak berdasar.

“Aku mencintaimu..”

Deg! Perasan itu dengan cepat menyergap hatinya. Perasaan itu menyentuh hati kecilnya yang tak mampu berdusta. “Ayah mencintaimu.” Kalimat itu terasa begitu mirip, begitu sama. Begitu sama untuknya, karena semuanya ditujukan untuk dirinya. Begitu sama untuknya, karena kedua kalimat itu berarti ia telah kehilangan.. Telah kehilangan bagian hidup yang ia cintai. Termasuk Kim Jaejoong. Bagian hidup yang hati kecilnya cintai.

“Aku juga Kim Jaejoong. Aku juga mencintaimu..” Nana mengecup bibir suaminya. Kemudian ia mengusap tangannya di wajah Jaejoong. Membiarkan mata suaminya yang meninggal dengan dosis tinggi arsenik itu tertutup dalam damai.

I want you – in order for me to live

Even if the love hurts, I will wait right here

September 1, 2018

Nana meninggalkan kantornya. Ia melirik sekilas plat namanya, plat nama yang menunjukkan statusnya sebagai pengacara. Pengacara yang namanya kian tersohor dari hari kehari. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, begitu membuka pintu mobil tadi ia bisa melihat tiga buket bunga yang sudah Joon siapkan di sana. Ia tiba di sebuah area tanah kosong yang begitu luas. Tanah kosong yang dulunya bekas rumah tempat masa kecilnya dihabiskan. Di sana ia melihat tiga gundukan besar, tiga gundukan yang terawat rapi. Ia berjalan ke gundukan di paling kiri, gundukan yang beberapa tahun lalu ia pindahkan dari daerah kecil di Jeonju ke tempat ini.

“Selamat siang, ibu. Maaf sudah lama tidak mengunjungimu.” Nana meletakkan sebuket bunga di samping nisan ibunya. Nama Kim Yerim tertera di sana, berikut replika satu-satunya foto yang miliki.

“Tadi malam aku bermimpi melihatmu, melihatmu sekali lagi berkumpul bersama ayah. Ibu apakah kalian sudah berbahagia bersama di sana? Apa ibu dan ayah sudah puas melepas kerinduan selama enam tahun berpisah? Sekarang sudah dua puluh lima tahun sejak kepergianmu dan aku masih sangat mencintaimu.” Nana mengusap air mata yang jatuh di balik kacamata hitamnya. Ia berdiri, mengusap dan mengecup nisan ibunya sebentar. Ia menguatkan pijakan kakinya begitu beralih ke makam paling besar yang berada di tengah tiga gundukan itu.

“Hai, ayah.” Nana meletakkan bunganya di sana. Ia juga merapikan letak buah-buahan serta minuman yang disediakan khusus di depan makam sebagai tanda penghormatan. Beberapa jam lalu Joon pasti sudah menata tempat ini untuknya.

“Hari ini peringatan sembilan belas tahun kematianmu. Sudah lama ya?” Nana mengusap nisan ayahnya dengan penuh kasih, air matanya yang tadi hanya setitik-titik kini berderai. Ia tidak sanggup jika ini berhubungan dengan ayahnya.

“Aku kira aku tidak akan sanggup bertahan selama ini, tapi ternyata aku bisa. Aku bisa hidup selama ini tanpa ayah. Ayah apa kau bisa melihatku sekarang dari sana? Aku sudah menjadi pengacara seperti yang aku impikan dulu dan jika kau ingin tahu, Chaerin juga menjadi komposer terkenal sekarang. Kami sudah berhasil dengan jalan kami masing-masing. Jangan khawatirkan aku dan Howon lagi. Kami sudah tidak pernah bertengkar lagi, apalagi sejak ia menikah dengan Eunji tahun lalu. Maaf karena tidak bisa memindahkan makam Paman Jinwoon kemari, aku yakin selain bersama ibu, ayah pasti ingin bercengkrama dengan Paman Jinwoon. Tapi Paman Jinwoon kan juga memiliki keluarga, jadi aku tidak bisa memaksa kelurganya.” Nana menangis keras setelahnya, sebanyak apapun ia bercerita kepada ayahnya ia tidak bisa melupakan bagaimana setiap malam yang ia lalui sampai sembilan belas tahun lalu. Ia selalu menceritakan hal kecil pada ayahnya sebelum pulang ke rumah. Dan sekarang, ia hanya bisa berkata pada nisan yang berdiri dingin.

“Ayah.. Aku mencintaimu. Sama seperti aku mencintai ibu. Aku mencintai kalian berdua. Aku selalu berdoa, berharap yang terbaik untuk kalian. Selalu.” Nana berdiri, ia mengecup nisan ayahnya, menumpahkan air matanya di atas sana sebelum berjalan ke nisan terakhir. Gundukan yang usianya tidak setua milik ayah ibunya.

“Hai.. Kim Jaejoong.” Nana merasakan hatinya yang ingin meledak begitu mengucap nama mendiang suaminya sekali lagi. Mengucap nama yang eksistensinya ia renggut paksa tepat tiga tahun lalu.

“Aku datang lagi kemari. Aku tidak tahu kenapa aku bisa meletakkanmu di sini, sejajar dengan kedua orangtuaku. Tapi aku.. Aku hanya berharap kau bisa memperbaiki hubunganmu dengan ayah, sekalipun di alam sana. Aku harap kalian bisa berdamai.” Buket terakhir sudah ia letakkan tepat di depan foto Kim Jaejoong yang tersenyum hangat. Seandainya senyum itu bisa menghapus semua kejahatan Jaejoong di masa lalu, sampai sekarang Nana pasti akan tersenyum bahagia sendiri. Tersenyum bahagia dengan orang seperti Jaejoong yang begitu dalam mencintainya.

“Aku mencintaimu, Kim Jaejoong. Hati kecilku yang berkhianat itu mencintaimu.” Nana menahan bibirnya yang bergetar dengan satu tangannya. Datang ke depan makam orang yang pernah hadir dalam hidupmu, mewarnai semua yang ada pada dirimu, memberitahumu semua perasaan yang ada di bumi tentu memberi efek lebih dalam dirimu. Begitupula Nana.

“Aku minta maaf. Bukan karena membunuhmu, aku tidak akan meminta pengampunan karenanya, karena aku tahu suatu saat aku akan menerima ganjaran sendiri karenanya. Satu hal yang ingin kumohon maaf darimu adalah aku minta maaf karena tidak bisa berdamai dengan masa laluku. Karena seandainya aku bisa berdamai dengan masa laluku, kau akan tetap di sini bukan? Aku tidak akan membunuhmu dan kehidupan kita akan sebahagia dongeng-dongeng di buku cerita.” Nana mengusap sekali lagi air matanya yang jatuh berlebihan. Seperti hatinya juga yang telah hancur berlebihan. Semua bayangan kenangan tentang Jaejoong menyerbu masuk. Menyerbu dan memberondongnya dengan cepat.

Nana merogoh sesuatu dari dalam tasnya, sebuah kertas ukuran standar yang dilipat-lipat. Ia membuka kertas itu kemudian mengambil beberapa batu kecil. Ia meletakkan kertas itu di depan nisan mendiang suaminya. Sejajar dengan tempat bunganya berada, di atas lantai marmer kecil. Di setiap sisinya kertas itu ditahan dengan batu.

“Kemarin dia menggambarmu lagi. Katanya ini hadiah lagi untukmu, kami berharap kau menyukai.” Nana mengusap kertas itu dan makam Jaejoong perlahan, ia mencium pusara itu dalam diam dan bercucuran air mata, “sampai jumpa Kim Jaejoong. Semoga kita bisa bertemu dengan lebih baik di kehidupan selanjutnya.”

Dengan ujung runcing sepatu tumit tingginya yang menjejak tanah Nana meninggalkan area itu, ia yang hari ini menggunakan blouse garis-garis motif zebra tipis dan rok panjang putih yang melambai merasakan angin kencang yang sama seperti setiap akan meninggalkan tempat ini. Kim Jaejoong, bahkan ketika kau sudah matipun, apa kau tetap tak ingin berpisah denganku?

Drrt.. Drrt..

 

Nana mengambil ponselnya dan buru-buru mengangkatnya, tanpa melirik dua kali tentunya.

Mom!”

Yes, Honey? What’s wrong?

“Bibi Nam mengatakan bahwa Mom melarangku ikut lagi ke tempat DadMommyyou’re so stingy! I want to meet Daddy too!

Nana menggigit bibirnya rapat-rapat bersama dengan angin kencang yang belum rela melepaskan diri, masih terus menerbangkan rambut-rambutnya yang terjuntai. Nana menutupi ponselnya menoleh ke arah makam terakhir yang ia sambangi. Senyum parau terlukis dari satu ujung bibirnya ke ujung yang lainnya.

“Apa kau dengar? Ini Kim Woobin. Anak kita. Anak yang tidak pernah aku sadari keberadaannya, anak yang sekarang menjadi satu-satunya cintaku. Seperti aku yang menjadi satu-satunya cintamu.”

As of right now, I can’t say anything

The miracle of you- it all seems like a fantasy

The last image of you seems to be locked only in my memories

I wonder if you are watching me from somewhere

 

Even if I regret, it’s too late- I can’t see you anymore

The tears of the shadows of my memories are watching over that place

 

I can’t say those words, I really can’t- as much as you were by my side

I’m sorry but I can’t- everything comes shaking back to me now

By waiting a little more, by wandering through my dreams

I’m afraid I will close my eyes inside of you

JYJ – In Heaven

.THE END.

 Couple_7 new blur

Couple_7 new

Fuhh.. Fuhh.. Akhirnya rangkaian FF terakhir saya sebelum hiatus panjang jadi juga hihihii. Untuk LIFE dan 2 Chamomile terakhir selanjutnya saya belum tau kapan akan keluar, sebelum hiatus atau setelah hiatus. Karena mendadak semua jadwal yang nana susun bubar semua karena ada agenda tambahan.

Sangat berharap pengertian kalian :”) maklum saya baru masuk SMA dan baru kena rasanya jadi orang super sibuk itu  gimana TT.TT apalagi sekolah saya swasta, sekalinya liburan muridnya nggak dibarin nafas pasti ada aja PR-nya, sehari kalau ulangan dan praktek belum sama-sama dua nggak puas fuhh /kibas rambut/

Terima kasih ya untuk semua dukungannya!! Kritik dan saran saja yang sekarang bisa saya harapkan 😀

Next : Iu – I – 7 votes

 Couple_9Blur

Advertisements

35 responses to “[Chamomile/SongFic] In Order To Live

  1. FFnya keren >,<
    baru nemu FF yang castnya Nana-Jaejoong, kece dah ^^)b
    keep writing author-nim '^')9

  2. holla… gag nyangka ternyata si cewek tetep cinta sama JJ, kirain endingnya ngenes gitu idup si om-om cakep ini…

    fiction kamu keren loooe, dan saya gag nyangka bwanget kalau dikau 97 line, kalau dari cara ente menulis bener-bener nipu 100%. anak jaman sekarang emang bethes-bethes. cucok deh pokoknya

  3. halo.. pertama mau ngucapin makasih banyak udah bikin ff dgn main cast Kim Jaejoong 🙂 ga nyangka aja ada anak seumuran kmu bikin ff pake cast Kim Jaejoong, biasanya mag exo, bap atau infinite gitu 😀 kedua, ini ff bagus ceritanya, ga mudah ditebak endingnya.. gaya bahasanya juga enak bt dibaca… punya ff laen dgn main cast Kim Jaejoong kah?

    • Hahaha karena mungkin saya ngga ngebias in mereka, sekali kalinya pake exo mungkin karena mereka masuk ke karakter yg saya butuhin hehehehe
      Lagi on progress hehehe makasih ya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s