That Poor Barista

That Poor Barista

Main Cast : Park Chanyeol (EXO-K) &  Jung Yuhyeon/YOU || Other Cast : Other EXO members, Miss A’s Jia, etc. || Genre : Friendship, Romance, Humor || Length : Oneshot (5850 words) || Rating : Teen || Author : Mira~Hyuga/MiraeLee (@cumiraw6)

||

Related fics :

Smile || The Reason || First Snow

…CoffeeLab, Hongdae – Wednesday, 4 pm…

Daripada menunggu CoffeeLab ramai dikunjungi orang hingga wajar untuk merekrut teman-teman dari puteranya, Jongin, tuan Kim justru lebih memilih merekrut mereka lebih dulu untuk menarik perhatian pengunjung. Dalam hal ini, beliau sangat mengakui daya tarik para pemuda itu, termasuk anaknya.

Tapi tentu saja mereka tidak secara instan bisa melayani pelanggan dan menyeduh kopi dengan baik. Tuan Kim bisa menebak dan membayangkan sendiri apa yang akan terjadi pada cafenya jika orang-orang serampangan itu langsung melakukan pekerjaan mereka. Karena itulah tuan Kim sudah mengirim satu orang kepercayaannya yang bisa mengajari dan bahkan mungkin mengatur anak-anak itu untuk menjadi pegawai cafenya, entah itu sebagai pelayan ataupun barista.

Jongin sudah memberitahukan rencana itu pada teman-temannya. Siapa sangka, mereka tak perlu dibujuk dua kali untuk menyetujuinya. Karena itulah sore ini mereka berencana untuk mulai mempelajari semuanya sebelum secara resmi dipekerjakan.

Saat ini menuju penghujung musim dingin, hari masih siang dan cuaca sangat dingin setelah semalaman turun salju. Jalanan, atap bangunan, dahan pohon masih ditutupi salju putih yang sebagian sudah mencair.

Di dalam CoffeeLab hanya ada sepasang muda-mudi yang sedang menikmati kopi sambil mengobrol di meja yang berada di sisi jendela, serta seorang pria yang sedang membaca buku di belakang meja counter. Musik mengalun di seluruh ruangan.

Ting! Ting!

Denting lonceng kecil di atas pintu café, yang menandakan ada orang yang masuk, berhasil menarik perhatian mereka. Seorang wanita bertubuh semampai dan cukup cantik dengan mantel pastel yang membalut  tubuhnya, berjalan masuk dengan santai dan mendapat sambutan pria di belakang counter beserta senyuman menawan yang mampu mempercepat aliran elektron di sekujur tubuh gadis itu secara kontan.

“Selamat datang.” sapa pria itu, lebih ramah dari yang bisa dibayangkan si wanita yang hanya mengangguk kikuk dan kemudian berjalan dengan salah tingkah menuju salah satu tempat duduk yang kosong.

Pria itu mengamatinya beberapa detik lalu berjalan menghampiri tempat tersebut, “Pesan apa, Nona?” tanyanya sambil menyodorkan buku menu dengan kedua tangannya.

Wanita itu tampak lebih salah tingkah ketika menerima buku menunya dan melihat-lihat apa yang bisa dipesannya di tempat tersebut. Dan dia belum sempat memutuskan ketika tiba-tiba saja pintu cafe kembali terbuka seperti baru saja diterjang angin ribut(?), jauh berbeda dengan caranya terbuka ketika gadis itu datang.

Semua yang ada di dalam cafe tertarik untuk mengalihkan perhatian ke sumber suara. Di sana, berdiri Kim Jongin dan teman-temannya serta kehebohan yang seolah selalu mengikuti di belakang mereka setiap saat. Jongin memimpin mereka langsung menuju meja counter, tapi kemudian langkah mereka melambat karena sepertinya Jongin sadar orang yang dia cari tidak ada di sana.

Yang paling tinggi dari mereka semua, Park Chanyeol, menoleh duluan ke arah meja pengunjung yang diisi perempuan yang baru saja masuk dan pria berpenampilan barista yang berdiri di sampingnya. Sedetik kemudian yang lain mengikuti gelagatnya.

“Kim Jongin, kan?” pria barista itu menunjuk Jongin dan bertanya dengan nada yakin. Tuan Kim sudah mengenalkan ciri-ciri puteranya itu adalah pemuda yang pasti punya kulit yang lebih gelap dari teman-temannya, “Tunggu sebentar.” Dan pria itu berpaling lagi pada pengunjung barunya yang langsung menyebutkan ‘latte’ dengan tampang sedikit bingung.

“Kau siapa? Mana Jongdae hyung?” tanya Jongin heran ketika pria itu mulai berjalan ke arahnya setelah memberikan senyum menawannya sekali lagi pada si pengunjung.

“Aku Wu Yifan, panggil saja Kris.” jawabnya, jauh lebih cuek daripada ketika berbincang dengan pengunjungnya beberapa detik lalu, sampai Baekhyun bertukar pandang dengan Chanyeol karena perbedaan mencolok itu.

“Jongdae tidak akan bekerja selama beberapa hari, jadi aku yang menggantikan.” lanjut Kris, lalu mengalihkan tatapannya secara berurut pada Baekhyun, Chanyeol, kemudian Joonmyeon dan Kyungsoo.

“Aku Park Chanyeol.” kata Chanyeol refleks sambil nyengir, mengerti arti tatapan itu.

“Oh, aku Byun Baekhyun!”

“Kim Joonmyeon imnida.

“Do Kyungsoo-iyeyo.

“Senang mengenal kalian.” sahut Kris setelah selesai menyalami mereka satu persatu. Ekspresi ramahnya hilang deh, pokoknya.(?)

Sejenak hening setelah itu.

“Kalau bukan Jongdae hyung, berarti kau yang—”

“Iya, begitulah.” Kata Kris, menyela kalimat Jongin, “Ayahmu sudah memberitahuku apa yang harus kulakukan. Kita mulai sekarang, kalau begitu? Aku kebetulan akan membuat latte sekarang.”

“Sepertinya dia tidak suka basa-basi.” diam-diam Baekhyun membisiki Chanyeol sementara yang lain mulai bergerak untuk mengikuti Kris ke dalam ruangan di belakang counter, yang bisa mereka tebak adalah tempat membuat kopi.

“Tapi kelihatannya dia cuma seperti itu pada laki-laki. Oh, kalau dalam kasus kita, berarti pada ‘muridnya’ yang laki-laki.” balas Chanyeol sama pelannya, mulai melangkah bersama Baekhyun di belakang yang lain.

“Kau benar. Tipe laki-laki flamboyan kalau di depan perempuan.”

“Apa itu flamboyan?

“Tidak tahu.”

Chanyeol menggeplak bagian belakang kepala Baekhyun dengan gemas, tepat ketika mereka melangkah ke ruangan yang dimaksud dan langsung disambut aroma kopi yang kental dan udara yang lebih hangat daripada di luar ruangan. Di saat yang sama juga Jongin yang berjalan tepat di belakang Kris bertanya, “Tapi.. kau siapanya ayahku?”

“Tentu saja aku muridnya. Sejak setengah tahun terakhir. Selama itu juga aku bekerja di cafenya yang di Incheon.” jawab Kris lugas, mengambil sekantong kemasan biji kopi dari keranjang logam di dekat rak tempat menyimpan cangkir-cangkir. Semua kemasan itu terlihat masih baru tanpa kecuali.

“Oh, aku tidak pernah tahu appa bekerja sambil mengajari orang lain.” gumam Jongin, tapi cukup keras untuk bisa didengar kelima orang yang lain.

“Tentu saja. Kelihatan sekali kau tidak begitu tertarik pada dunia kopi dan apapun yang berhubungan dengannya meskipun ayahmu seorang master barista.”

Mereka memerhatikan Kris yang sekarang menuangkan setengah kemasan biji kopi ke dalam sebuah alat yang sepertinya mesin penggiling.

“Ini biji kopi robusta, ya?” celetuk Baekhyun tiba-tiba, dan Kris langsung mengangguk mengiyakan.

“Bagaimana kau tahu?” kata Jongin dan Chanyeol berbarengan, setengah takjub.

“Tertulis di kemasannya.”

Yaaa!” tawa mereka meledak, bahkan Kris terkekeh walaupun sebentar. Dan suasana langsung kembali serius ketika tawa mereda.

“Kita punya pelanggan yang menunggu di luar.” kata Kris dengan nada memeringatkan, kemudian mulai membuat grinder itu menggiling biji-biji kopi di dalamnya sambil menjelaskan, “Kita harus menggilingnya dengan ukuran yang pas. Tidak boleh terlalu besar karena rasanya akan terlalu pahit, dan tidak boleh terlalu halus karena nanti malah akan terlalu asam.”

“Ooooh..”

“Bagaimana kalau sudah terlanjur?” tanya Chanyeol begitu pertanyaan itu muncul di benaknya.

“Kita bisa mengakalinya di sentuhan terakhir. Tapi itu tidak selalu berhasil.” Kris menjawab santai. Dia sudah selesai menggiling biji kopi dan sekarang sedang memasukkan bubuk kopi itu ke sebuah logam kecil berbentuk hampir seperti sekop eskrim, memadatkan dan meratakan permukaan bubuk itu sedemikian rupa dan memastikan kelima pemuda itu memerhatikannya. Chanyeol adalah yang paling antusias dan berkonsentrasi melihat setiap detail cara yang dilakukan Kris, sampai matanya yang sudah cukup besar bertambah besar beberapa milimeter.

“Apa gunanya itu?” tanya Joonmyeon di sebelah Jongin yang sedang menguap terang-terangan.

“Agar takarannya pas.”

“Aah.. harus serba pas, ya.”

“Begitulah, kalau kau memang mau hasil seduhan yang baik. Tapi tentu saja itu tidak lepas dari selera setiap orang.” kata Kris, terdengar sedikit lebih bijak dari saat pertama kali mereka mendengarnya berbicara.

Sekarang saatnya ekstraksi. Kris mengatakan waktu ekstraksi tidak boleh lebih ataupun kurang dari 20 detik. Kalau tidak, rasanya akan terlalu asam atau terlalu pahit, seperti yang sudah dikatakannya beberapa waktu sebelumnya, “Tapi 20 detik itu kalau hasil gilingannya berukuran pas. Kalau sudah terlanjur tergiling terlalu kasar atau terlalu halus, seperti yang ditanyakan Chanyeol tadi, di sinilah saatnya kita mengakalinya agar rasanya tepat di tengah-tengah. Waktu ekstraksi dikurangi kalau hasil gilingan terlalu halus, dan sebaliknya, kalau hasil gilingannya terlalu keras, waktu ekstraksinya dilebihi beberapa detik. Tapi seperti yang kukatakan tadi, ini tidak selalu berhasil, kita harus punya perhitungan yang tepat.”

“Kelihatannya gampang kalau melihat kau yang melakukannya, Hyung.” kata Baekhyun sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Dia sama sekali tidak mengerti apa yang baru dijelaskan Kris, dan kalau melihat matanya yang berair, sepertinya laki-laki itu baru saja menguap diam-diam.

Kris hanya mendengus pelan sambil mengeluarkan cairan kopi yang sudah diekstraksi dan menuangkannya ke dalam sebuah cangkir hingga sepertiganya. Kemudian dia mencampurkan susu dengan perbandingan yang lebih banyak.

Hyung, apa bedanya latte dengan cappuccino?” tanya Chanyeol, yang sebelumnya pernah punya pertanyaan ini sejak lama tapi selalu lupa mencari jawabannya.

“Perbandingan susu dan kopinya, tentu saja. Latte, tiga berbanding satu, kalau cappuccino hanya sekitar dua berbanding tiga.”

“Aah..”

Kris melukis wajah seorang perempuan di atas foam latte-nya yang hampir jadi dengan bubuk coklat, kemudian mengambil sendok kecil, piring kecil untuk tatakan, dan kayu manis yang diletakkan di samping cangkir di atas tatakan. Setelah itu dia menyerahkannya pada Jongin yang lagi-lagi sedang menguap secara kebetulan, “Antarkan ini pada Nona di depan. Siapa tahu kau bisa lebih semangat sedikit.”

“Eh? Kenapa aku? Dia saja!” Jongin menunjuk keempat temannya secara sembarangan, tapi Kris tetap menyorongkan minuman itu padanya.

“Cepat, Kkaman. Kau membuat pelanggan menunggu lama.” ledek Baekhyun, sementara Joonmyeon, Kyungsoo dan Chanyeol terkekeh mendengarnya.

Meski memasang tampang cemberut dan malas-malasan, Jongin akhirnya menurut. Dia mengambil latte dari si pembuatnya dan berjalan keluar dari ruangan, diikuti Baekhyun dan Kyungsoo yang merasa tidak berencana menjadi seorang barista ketika bekerja nanti.

Kris menatap Chanyeol dan Joonmyeon yang masih tinggal di sana, lalu mengangguk-angguk seolah mendengar bisikan yang hanya ditujukan untuknya sendiri. Kris memang melihat dan menilai hanya dua orang inilah yang paling antusias ketika dirinya menerangkan bagaimana membuat jenis kopi hasil seduhan terbaik, “Kalau begitu, kita mulai dengan membuat espresso saja.”

Chanyeol melirik Joonmyeon lalu nyengir pada Kris, “Oke!”

>>><<<

…Myeongji University – Few weeks later, Friday, 2 pm…

“Oi!”

“Tidak usah sok membuat kejutan.” protes Meong Jia yang sudah terpaksa tidak jadi menyuap makan siangnya karena ‘kejutan iseng’ Park Chanyeol yang entah muncul dari arah mana.

Aigo, jangan seperti itu dong.” ledek Chanyeol, kemudian berpaling pada gadis di hadapan Jia sambil nyengir lebar, “Aku mencari-cari kalian. Ternyata kalian di sini.”

Yuhyeon, yang tanpa sadar sudah menahan kunyahannya karena kedatangan Chanyeol yang tiba-tiba, mendengung tidak jelas lalu melanjutkan kembali menggerakkan rahangnya sambil memerhatikan Chanyeol yang mengambil tempat duduk di samping Jia, menghadap ke arah Yuhyeon.

“’Kalian’?” dengus Jia sangsi.

“Iya, kalian. Soalnya kan, kalian selalu bersama. Jadi kalau aku mau mencari Yuhyeon, berarti aku sedang mencarimu juga.” cengir Chanyeol lagi.

Jia tidak menanggapi lagi dan hanya menggeleng sebelum kembali pada makanannya.

“Kenapa kalian baru makan jam segini?” Chanyeol bergantian melihat jam dinding di cafetaria kampus itu dan jam tangannya sendiri, seolah sedang memastikan waktu yang dilihatnya tidak salah.

“Hm, kami baru keluar.” jawab Yuhyeon, karena Jia tidak menjawab. Chanyeol mengangguk-angguk mengerti kemudian menyimpan kedua sikunya di meja dan menopang sisi kepala dengan salah satu tangannya, membuat pandangannya mengarah pada Jia yang sedang berkonsentrasi makan seperti orang yang sudah terlalu lama menahan lapar, sangat berbeda dengan Yuhyeon yang makan dengan tenang dan teratur. Selanjutnya laki-laki itu sudah sibuk mengisengi Jia dengan menyuarakan ‘nyaam, nyaam’ setiap kali Jia menyuap makanannya. Tingkahnya itu membuat kedua gadis ‘flat’ itu hampir tersedak karena merasa geli.

“Sudahlah.” desis Jia setengah jengkel namun geli, setelah makannya akhirnya habis. Gadis itu menyesap habis jus avocado-nya dan menyambar tasnya sambil mendelik tidak serius pada Chanyeol yang terbahak melihat tingkahnya, “Sampai di kelas nanti, Hyeon-ah.” pamit Jia pada Yuhyeon, kemudian melangkah pergi setelah memberikan cubitan keras di lengan Chanyeol. Seolah tak peduli dengan apa yang terjadi pada Chanyeol, Yuhyeon mengiringi kepergian temannya itu dengan lambaian singkat dan gumaman yang kedengarannya seperti ‘sampai nanti juga’.

“Auh, aku yakin jadinya memar. Aish, sudah berapa kali dia mencubitku begini dalam dua minggu?” keluh Chanyeol sambil mengusap-usap tempat dimana cubitan Jia mendarat, “Kejam, ya?” lanjutnya meminta pendapat Yuhyeon.

“Kau membuatnya jengkel terus.” sahut Yuhyeon sambil menggeleng-geleng kecil. Chanyeol otomatis menggembungkan pipi karena kalimat Yuhyeon berbeda dari yang dipikirkannya, dan meski dengan jelas melihat tingkah kekanakan itu, Yuhyeon tidak berkomentar sama sekali, tapi dia bertanya, “Tidak makan?”

“Aku?” tunjuk Chanyeol pada dadanya sendiri, dan kembali tersenyum lebar, “Aku sudah makan tadi, dengan anak-anak. Lagipula, melihatmu makan saja aku sudah kenyang.”

Buru-buru Yuhyeon meraih minuman dan menyesapnya sedikit sebelum benar-benar tersedak karena perkataan Chanyeol yang sekarang malah terbahak melihat tingkahnya. Seperti virus, tawa Chanyeol menular hingga Yuhyeon terkekeh meski samar.

“Tapi satu suapan saja tidak apa-apa, sih.” Chanyeol menunjuk makanan Yuhyeon dan mulutnya sendiri bergantian sambil masih terkekeh, “Aaa.”

Gadis itu mendengus geli. Tapi mau tak mau, setelah memastikan cafetaria tidak terlalu ramai, dia mencucus sepotong sosis dan menyuapkannya dengan ragu dan kaku ke mulut Park Chanyeol, “Jalhanda.” gumamnya datar, seolah baru saja melatih peliharaannya untuk menuruti perintah kapan dia boleh atau tidak boleh makan. Mengerti maksud Yuhyeon, Chanyeol sengaja menaruh dan mengusapkan sebelah tangan Yuhyeon di kepalanya, membuat yeoja itu benar-benar tertawa kecil kali ini.

Selewat hampir dua menit kemudian, Yuhyeon sudah selesai dengan makanannya sementara Chanyeol tampak sibuk dengan ponselnya—mungkin membalas pesan seseorang—sambil menyenandungkan salah satu lagu B2ST. Cafetaria sudah tampak lebih sepi dari beberapa saat yang lalu, membuat Yuhyeon mengecek jam tangannya dan mengangkat alis ketika mendapati kelasnya setelah ini akan dimulai dalam 4 menit lagi.

Dengan gerakan sigap Yuhyeon mengambil tasnya yang disimpan di kursi samping yang kosong dan berdiri tepat ketika Chanyeol mengangkat kepala untuk menatapnya.

“Aku masih ada kelas.” kata Yuhyeon otomatis.

“Oh? Kukira kau sudah tidak ada kelas lagi.” kedua mata Chanyeol mengerjap dan itu terlihat lucu sekali, meski Yuhyeon merasa dia melihat lingkaran hitam di bawah mata laki-laki itu. Chanyeol ikut berdiri hingga sekarang Yuhyeon harus mendongak untuk melihatnya, “Aku tunggu kau sampai selesai, kalau begitu. Hanya satu kelas lagi, kan?”

Aniyo, dua lagi.”

Geurae?” sejenak kedua mata Chanyeol melebar tapi sedikit menyipit lagi ketika dia nyengir lagi, “Ya sudah, mungkin aku bisa keliling kampus dulu sementara menunggumu.”

Tampak agak berpikir, Yuhyeon membersihkan pinggiran bibirnya menggunakan tissue sambil menatap Chanyeol yang mengangkat-angkat alis dengan jenaka, “Tidak usah, kau pulang duluan saja.”

Oh, seketika Chanyeol ingat gadis itu tidak suka membuat orang lain menunggu.

“Baiklah, maksudku aku cuma akan ke ruang musik dan bermain alat musik di sana. Sudah lama aku tidak latihan.” ralatnya segera, tidak lupa sambil tersenyum selebar mungkin, “Kau ada rencana hari ini? Apa kau bisa pergi denganku kalau kebetulan kau keluar tepat ketika aku selesai latihan?”

“Hm.” Yuhyeon menggeleng dua kali dan membenarkan tali tasnya di bahu, “Bisa.”

Assa~ ayo aku antar ke kelasmu, kalau begitu.”

Mereka mulai berjalan beriringan meninggalkan cafetaria, dengan jarak sekitar setengah meter di antara satu dan yang lain. Yuhyeon, masih dengan rasa herannya terdengar berkata, “Kau bisa pulang duluan.”

Dan Chanyeol terdengar menjawab, “Aigoo, tidak. Kubilang aku mau latihan bermain gitar dulu.” sambil mendaratkan jitakannya di dahi Yuhyeon.

>>><<<

…Park’s House – This morning, 8 pm…

“Ya ampun, Park Chanyeol! Kamarmu berantakan sekali! Aku sampai tidak tahu harus berpijak kemana.” Park Yura berdiri di ambang pintu kamar adiknya dengan wajah mengernyit memandangi barang-barang Chanyeol yang berserakan begitu saja hingga memenuhi lantai. Pandangannya kemudian beralih pada laki-laki yang masih telentang damai di tempat tidurnya dengan pakaian lengkap.

Sambil memilah-milah tempat yang bisa dipijak kakinya, Yura menyeberangi ruangan menuju Chanyeol dan mulai meneriaki pemuda itu sambil mengguncang-guncang badannya. Setelah perjuangan selama lima menit, Yura sempat memasang senyum kemenangan karena akhirnya Chanyeol membuka matanya sambil bergumam protes, tapi sesaat setelah itu si adik hanya berguling memunggunginya, membuatnya memutuskan untuk menyerah.

Tepat ketika ujung rambut panjang Yura menghilang di balik pintu, Chanyeol terperanjat untuk kedua kalinya karena ponsel yang berdering keras dan tiba-tiba tepat di bawah telinganya.

Masih dengan mata tertutup, Chanyeol mengangkat telepon yang masuk tersebut dan menempelkan speaker ponsel ke telinganya, “Yeoboseyo?” katanya dengan suara serak.

“Ya, Park Chanyeol. Kunci cafe ada padamu, kan? Cepat datang.” suara berat Kris terdengar dari seberang line.

“Ya ampun, hyung. Kau mau membuka cafe jam segini? Aku bahkan baru tidur lima belas menit.” keluh Chanyeol dengan nada berlebihan.

“Kau bercanda? Sampai jam berapa kau di sini?” Kris terdengar biasa saja.

“Aku rasa.. sampai jam dua pagi. Dan begitu sampai di rumah aku harus menyelesaikan tugas-tugasku.”

Chanyeol memang sudah tahu seluk-beluk adegan pelakon di panggung, tapi dia sama sekali buta mengenai dunia peracikan kopi. Meski dia tampak sangat antusias untuk belajar, ternyata membuat secangkir espresso dengan seduhan terbaik saja baru bisa dihasilkannya secara sempurna dalam waktu dua minggu.

Ini adalah minggu ketiga dia bekerja di sana, dan semenjak seminggu yang lalu, setelah berhasil lolos ‘tes Kris’ dengan espressonya, Chanyeol berlajar lagi cara membuat cappuccino. Dan meski Kris sudah menunjukkan dengan detail bagaimana takaran kopi dan susu serta waktu ekstraksinya, tetap saja Chanyeol tidak langsung bisa dalam waktu satu dua hari saja. Cappuccino buatannya—selama ini—sering sekali terlalu pahit. Bahkan Kim Jongin dan Byun Baekhyun tidak mengerti kenapa Chanyeol sulit sekali berhasil dalam hal itu.

Maka dua hari sebelumnya, Jongin dan Baekhyun menantangnya. Dalam waktu tiga hari, Chanyeol harus sudah bisa membuat cappuccino yang enak dan menyajikannya pertama kali untuk Jung Yuhyeon, pacarnya. Dan jika itu memang terjadi—Chanyeol menantang balik mereka—Jongin harus mengantarkan pesanan pengunjung sambil menari dan Baekhyun sambil bernyanyi.

Karena itulah tadi malam Chanyeol menawarkan diri pada Kris untuk tetap tinggal di cafe lewat dari jam tutup untuk melatih dirinya sendiri. Chanyeol tidak yakin berapa banyak biji kopi yang dihabiskannya, tapi dia rela kalau gajinya dipotong karena itu. Berkali-kali dia mencoba, dan akhirnya, setelah rasanya berabad-abad, kalau Chanyeol belum mengigau—karena saat itu tepat jam dua pagi—saat itulah dia merasakan sendiri rasa cappuccino buatan Kris yang pernah dicicipinya. Hanya tinggal menambahkan sedikit gula, dan sempurna. Itulah sebabnya kunci CoffeeLab ada padanya dan Kris harus mengganggu tidurnya yang singkat.

Jadi aku harus bagaimana sekarang?” tanya Kris, jelas terdengar agak sebal, tapi Chanyeol yang memang tidak peka, tidak menyadarinya.

“Ke tempat lain dulu saja, Hyung.” jawab Chanyeol dengan mengantuk,Kau punya rekan di sekitar sana? Menumpang dulu saja… aku butuh satu-dua jam lagi untuk membuka mataku dengan normal.”

Walaupun awalnya tidak setuju dan tetap memaksa, Kris merasa kasihan juga. Jadi pria itu bilang akan berkunjung dulu ke suatu tempat dan menyuruh Chanyeol untuk meneleponnya lagi nanti.

Setelah telepon diputus, Chanyeol langsung melanjutkan tidur tanpa mimpinya. Tapi belum sampai sepuluh menit kemudian, suara ibunya yang membangunkannya untuk sarapan terdengar sangat dekat. Suara itu memang lembut, cukup lembut untuk membuat Chanyeol semakin mengantuk. Tapi tangannya yang langsing sangat mengganggu Chanyeol karena terus memaksanya bangun menjadi duduk. Wanita itu menyuruhnya segera bersiap-siap dan sarapan demi kesehatan, setelah itu keluar dari kamar Chanyeol setelah memperingati puteranya untuk tidak berbaring lagi.

Chanyeol bukan anak yang pembangkang, tapi apa daya, beberapa detik setelah ibunya berjalan keluar, kepalanya lagi-lagi merindukan bantal dan terpaksa harus dibaringkan lagi. Lima menit setelah dia tidak ingat apapun, lagi-lagi ponselnya berdering keras dan dia tak bisa tidak menggeram frustasi ketika Baekhyun memberitahunya bahwa dia harus kuliah pagi hari ini.

>>><<<

Yuhyeon meletakkan tasnya di atas pangkuan setelah mendudukkan diri di dekat jendela bus. Di waktu yang sama, Chanyeol duduk di tempat kosong di sebelahnya, juga sambil memangku ranselnya.

Laki-laki itu mengusulkan untuk naik bus saja karena terlalu dingin untuk berjalan kaki ke tempat tujuan mereka sekalipun jika melewati jalan pintas yang Chanyeol tahu—karena selalu dilewatinya bersama sahabat-sahabatnya.

Yuhyeon berkata sama sekali tidak keberatan ketika Chanyeol meminta persetujuannya sebelum memutuskan mereka akan naik bus. Bagaimanapun, latar belakang Yuhyeon yang membuat laki-laki itu ragu. Tapi kemudian dia mendengar dari yeoja itu sendiri bahwa ia memang lebih suka naik taksi hanya kalau sedang bepergian sendirian saja. Itu artinya tidak masalah jika Chanyeol mengajaknya naik bus.

Setelah bosan menatap keluar dari kaca jendela yang buram karena cuaca dingin, Yuhyeon menoleh tepat ketika Chanyeol sedang di puncak kuapan lebarnya dengan kantung hitam di bawah matanya yang sekarang terlihat lebih jelas, tapi tak cukup membuat Yuhyeon ingin bertanya apa sebabnya. Dia mengira itu karena Chanyeol punya banyak tugas kuliah yang harus diselesaikannya akhir-akhir ini.

“Kau tahu CoffeeLab?” tanya laki-laki itu kemudian.

Yuhyeon mengingat-ingat sejenak, “Eoh. Cafe baru di seberang Luna Smoothie?”

“Yap. Aku bekerja paruh waktu di sana sekarang.”

“Oh, geurae? Sejak kapan?”

Chanyeol menoleh dan tersenyum lebar melihat Yuhyeon mengangkat tinggi alisnya, pertanda bahwa dia ingin tahu, “Baru..” laki-laki itu menghitung dengan jarinya beberapa detik, “..hampir tiga minggu.” Dan Chanyeol menceritakan dengan jelas bagaimana tuan Kim merekrut mereka melalui Jongin dan juga menceritakan Kris yang mengajarinya menjadi barista.

“Aku sebenarnya ragu kau bisa menjadi barista.”—adalah tanggapan terpanjang sekaligus terjujur yang dikatakan Yuhyeon terhadap cerita Chanyeol, hingga laki-laki itu mencebikkan bibir bawahnya.

Katanya sambil berpura-pura sebal dengan memalingkan wajah, “Makanya lihat dan cicipi kopi buatanku nanti.”

Yuhyeon tertegun sebentar, kemudian bertanya ragu tanpa intonasi yang seharusnya, “Apa sekarang.. kita sedang menuju ke sana?”

“Eoh.” angguk Chanyeol semangat. Happy virus-nya sudah kembali lagi dalam sekejap, “Kopi cocok untuk cuaca dingin seperti ini, kan?”

Selama lima belas menit sisa perjalanan di dalam bus, Chanyeol menceritakan hal-hal lucu yang dialaminya di hari itu dan di hari-hari sebelumnya, yang tak pernah ditanggapi Yuhyeon dengan keantusiasan berlebih, seperti Jung Yuhyeon biasanya. Tapi setidaknya reaksi gadis itu tidak seminim dulu, jadi Chanyeol cukup puas bercengkrama dengannya. Lagipula memang itulah salah satu yang Chanyeol suka dari Yuhyeon.

Setelah turun di halte, mereka berjalan memasuki kawasan anak muda di Seoul itu dengan langkah yang tak beriringan; Chanyeol membiarkan Yuhyeon agak tertinggal di belakangnya tanpa dia sadari.

Sambil berusaha menyesuaikan langkah dengan langkah-langkah lebar kaki Chanyeol, Yuhyeon sibuk dengan pikirannya sendiri. Tapi dia merasa tak bisa mengatakannya pada laki-laki itu sekarang. Hingga akhirnya mereka sampai di tempat yang Chanyeol maksud tepat pada pukul 6 sore.

“Bertepatan dengan jam kerjaku.” kata Chanyeol sambil terkekeh, kemudian membukakan pintu CoffeeLab dan menyilakan Yuhyeon masuk lebih dulu.

Mereka sudah berada di dalam sekarang. Yuhyeon bisa merasakan kehangatan yang menerpa dan aroma kopi menyelinap ke hidungnya. Setengah dari jumlah meja yang ada di sana sudah terisi, dan para pengunjung tampak sedang menikmati musik easy-listening yang sedang diputar dan secangkir kopi di depan masing-masing dari mereka.

Di belakang meja counter, seorang pria berambut coklat terang yang tak pernah Yuhyeon jumpai sebelumnya—karena itulah Yuhyeon menebak dialah orang yang dipanggil Kris—sedang mengobrol dengan Baekhyun, sementara Jongin sedang berdiri di ambang pintu ruangan yang ada di belakang meja counter, tampak sedang mengobrol juga dengan seseorang di dalam sana.

“Oh, Chanyeol-ah, kau datang. Akhirnya kau berkunjung, Yuhyeon-ah!” seru Baekhyun dengan suara yang sama sekali tidak bisa dibilang pelan.

Yuhyeon menganggukkan kepala menyapa Baekhyun, Kris dan Jongin yang kini juga sudah mengalihkan perhatian padanya. Chanyeol juga membalas sapaan Baekhyun dengan singkat lalu mendorong bahu Yuhyeon ke salah satu meja, menarikkan kursi dan mendudukkan gadis itu di atasnya. Dia hanya tersenyum lebar tanpa mengatakan apapun, melepas mantelnya dan menyampirkannya begitu saja di kepala Yuhyeon, setelah itu berlalu begitu saja ke ruangan di belakang meja, melewati Jongin, Baekhyun dan Kris yang sedang menatapnya dengan pandangan yang aneh.

Begitu sadar dia sedang berkali-kali dilihati oleh gadis-gadis yang ada pada jarak dua meja di samping kanan-kirinya, Yuhyeon menurunkan mantel Chanyeol dari kepalanya, menyimpan benda itu di pangkuannya dan pura-pura tidak menyadari apa-apa. Untuk menyembunyikan rasa malu dan gelisah, dia mengeluarkan ponsel dari dalam mantel dan buku dari dalam tas, tapi tidak bisa berkonsentrasi pada tulisan-tulisan membosankan itu karena pengunjung yang datang dan pergi hampir setiap lima menit.

Tiba-tiba Byun Baekhyun menepuk pundak kanan Yuhyeon, memberikan senyum penuh arti sekilas lalu berjalan melewatinya menuju salah satu meja pengunjung. Yuhyeon menoleh ke arah tempat para pelayan cafe dan melihat Jongin dan Kyungsoo sudah tampak bergerak juga.

Beberapa menit berlalu dan Yuhyeon tidak pernah merasakan situasi seperti ini sebelumnya. Entah kenapa, sepertinya meja-meja yang dekat dengan tempatnya duduk memiliki sesuatu yang membuat para pengunjung cafe tidak mendudukinya padahal hampir sudah tidak ada tempat lain yang kosong karena lebih banyak yang datang daripada yang memutuskan untuk mengakhiri acara minum kopinya.

Sepertinya Chanyeol dan kawan-kawannya sudah berhasil meningkatkan pendapatan cafe ini, Yuhyeon berpikir.

Memang benar. Sejak mereka terlihat aktif melayani pelanggan, dengan sendirinya yang tertarik untuk berkunjung terus bertambah, membuat cafe tetangga—yang sudah berdiri belasan tahun—kalah sepi. Meski tidak tahu sedetail itu, sedikit-sedikit Yuhyeon bisa mengira-ngira sendiri dari apa yang sedang terjadi di depan matanya sekarang.

Jongin, Kyungsoo dan Baekhyun mulai bolak-balik mengantarkan pesanan kepada pelanggan yang terus berdatangan. Bisikan-bisikan dan cekikik senang terdengar dari beberapa titik cafe. Sementara itu, Park Chanyeol belum terlihat lagi sejak memasuki ruangan di belakang meja counter tadi, membuat Yuhyeon gelisah sekaligus bingung dan berkali-kali melihat ke arah ruangan tersebut. Sebanyak itu pula Jongin dan Baekhyun bergantian mengatakan sesuatu yang terdengar seperti ‘Sabar, ya.’ atau ‘Tunggu sebentar lagi.’—sambil melewatinya.

Ah, iya. Kalau para pelayan bolak-balik mengantarkan pesanan, mungkin Park Chanyeol juga sedang sibuk membuat kopi di sana, pikir Yuhyeon lagi, baru menyadari hal tersebut ketika dia menoleh ke arah ruangan itu untuk yang terakhir kali.

“Boleh kutemani?”

Jantung Yuhyeon hampir mencelos karena dari sisi lainnya, tahu-tahu saja pria yang dikiranya Kris tadi muncul, kemudian menarik kursi di sisi kiri Yuhyeon dan duduk di sana, “Siapa tahu kau butuh teman bicara. Kau melirik dapur sudah belasan kali.”

“Oh..” Yuhyeon tidak menghitung berapa kali dia memeriksa apakah Chanyeol sudah selesai atau belum. Dia juga tidak tahu kalau Kris memang memperhatikannya sejak tadi.

“Aku Wu Yifan. Panggil saja Kris.” ujar Kris tanpa diminta, “Posisiku di cafe ini.. err.. entahlah, tapi aku lebih banyak diam di belakang meja sejak Joonmyeon sudah terbiasa membuat kopi.” Senyum kecil terlukis di sudut bibirnya ketika dia berbicara, “Kau pasti.. Jung Yuhyeon?”

Tanpa bergerak seincipun—dia selalu kaku jika berada di depan orang baru—Yuhyeon mengangkat alisnya sedikit dan menyahut hanya dengan gumaman. Dia heran kenapa Kris bahkan tahu siapa namanya. Apa Chanyeol bercerita pada pria ini?

Selama beberapa detik, Kris menatap Yuhyeon dengan pandangan menilai dan sedikit demi sedikit mencondongkan tubuh ke arahnya, kemudian meluruskan punggungnya lagi dan berkata, “Kau memang cantik. Pantas saja Chanyeol begitu bekerja keras.”

Ne?” Yuhyeon bergumam tak mengerti.

“Dia begitu bekerja keras sampai pulang jam 2 pagi tadi malam.”

Meski belum sepenuhnya mengerti gadis itu agak terperangah—dan hanya dirinya sendiri yang tahu, karena Kris tidak bisa melihat ekspresi apapun yang melintasi wajah Yuhyeon.

Park Chanyeol bekerja keras untuk apa?

Kris mengetuk-ngetukkan jari tangannya ke atas meja, menunjuk dapur dengan dagunya sambil bicara lagi karena Yuhyeon tidak menanggapi, “Kau tahu? Ternyata dia agak.. ya, agak bodoh soal membuat kopi. Aku tidak mengira ini sebelumnya.”

Dengan informasi tambahan itu, Yuhyeon merasa sudah bisa menyimpulkan apa yang dimaksud Kris dengan ‘Chanyeol yang bekerja keras’, dan dia meringis diam-diam.

“Kau yakin masih mau berkencan dengannya?” kekeh Kris bercanda, mengira Yuhyeon sedang badmood karena pemuda itu belum melihatnya tersenyum sekalipun. Tapi Yuhyeon hanya menggaruk pipinya sambil meringis salah tingkah dan tidak mengatakan apapun.

Kris kembali memperhatikan gadis itu dengan tatapan menilai, tapi segera beralih ketika melihat beberapa orang pengunjung sedang berdiri di depan meja counter yang kosong, hendak membayar minuman mereka. Pria itu meminta izin untuk meninggalkan Yuhyeon sebentar dan segera menyeberangi ruangan melayani pelanggan-pelanggan tersebut.

Dari dapur, terdengar celotehan ribut laki-laki yang salah satu di antaranya sangat familiar di telinga Yuhyeon. Sesaat kemudian, tubuh jangkung Chanyeol muncul dari balik dapur sambil berseru lagi pada teman-temannya di belakang, “Suho hyung tidak menyentuhnya sedikit pun, aku jamin!”

Yuhyeon segera memalingkan wajah setelah Chanyeol tersenyum lebar padanya, terlihat sangat puas. Sekarang Yuhyeon berkali-kali lebih bimbang dari sebelumnya. Tanpa sadar dia menenggelamkan wajah di mantel Chanyeol, dan baru mengangkatnya lagi ketika merasa puncak kepalanya dijitak.

Jjan! Maaf membuatmu menunggu lama.” secangkir cappuccino tersodor di depan hidungnya, membuat Yuhyeon refleks memundurkan wajah dan mendongak melihat Chanyeol yang berdiri di seberang meja, sedang tersenyum—lagi, “Cappuccino spesial ala Park Chanyeol! Ayo coba!” kata pemuda itu lagi sembari meletakkan cangkir berwarna cokelat tersebut di depan Yuhyeon dan duduk bersedekap, menunggu.

Melihat cengiran puas yang menampakkan gigi-gigi Park Chanyeol yang putih bersih, Yuhyeon semakin tidak tega mengatakan yang sebenarnya, apalagi jika Chanyeol memang sudah bekerja keras hingga kantung matanya menghitam seperti itu. Tapi Yuhyeon juga tidak berani berpura-pura menikmati minuman racikan kopi itu, karena sejak dulu dia memang tidak sama sekali menyukai kopi dan semua olahannya.

Beberapa detik melihat Yuhyeon yang hanya terdiam, akhirnya senyum Chanyeol memudar dan kedua alisnya terangkat tinggi. Yuhyeon baru saja akan memberanikan diri untuk terus terang sebelum tiba-tiba saja Chanyeol menarik kembali cangkir cappuccino itu, “Kelihatannya memang panas sekali.”—lalu meniupi permukaannya dengan antusias, dan mengembalikannya lagi setelah merasa cukup.

“Satu teguk saja, hm?” kata pemuda itu dengan wajah memelas yang membuat darah mengalir dengan cepat di wajah Yuhyeon.

Menelan ludah, perlahan Yuhyeon memajukan tangannya menyentuh cangkir tersebut, merasakan hangat menjalar di telapak tangannya, dan untuk ke sekian kali mengangkat pandangan ke arah Chanyeol. Akhirnya, mencoba tak memikirkan hal buruk tentang kopi yang selama ini disimpan di dalam kepalanya, gadis itu membiarkan satu sesapan cairan itu mengalir melalui kerongkongannya dan menyisakan rasa manis-pahit yang hangat di lidah.

“Bagaimana?” Chanyeol sudah menunggu komentarnya dengan waswas, dan tanpa berpikir Yuhyeon hanya mengangguk di tengah usahanya untuk tidak terlihat ingin muntah atau menggigit jari telunjuk, kebiasaan yang selalu refleks dilakukannya kalau berbohong.

“Enak?”

“Hm.”

“Kau suka?”

“Hm.”

BRAK!

Betapa terkejutnya Yuhyeon karena tiba-tiba saja Chanyeol menggebrak meja dengan sebelah tangannya, bertepuk tangan di atas kepala sambil terbahak dengan ribut, kemudian berseru pada seseorang di belakang Yuhyeon, “Ayo beraksi, anak-anak!”

Lagu I Like You The Best milik BEAST terdengar di seluruh cafe, dan tiba-tiba saja orang-orang tampak lebih antusias. Kemudian terdengar suara Baekhyun yang bernyanyi dan tampak Jongin menari dengan gerakan luwes dan lompatan-lompatan halus sambil membawa nampan di sebelah tangannya. Mereka berdua membuat para pengunjung—termasuk Yuhyeon dan Chanyeol sendiri—ber-oh-oh kagum.

“Kalian selalu melakukan ini?” tanya Yuhyeon datar, dengan mata berbinar kagum melihat Baekhyun yang berjalan dari satu meja ke meja lain sambil bernyanyi dengan suara lantang yang mengagumkan.

“Oh, tidak.” kekeh Chanyeol, menjawab pertanyaan Yuhyeon dengan pandangan tetap tertuju pada Jongin, “Aku taruhan dengan mereka. Kalau aku bisa membuatkan cappuccino yang enak untukmu, mereka harus melakukan ini.”

“Aah..” angguk Yuhyeon mengerti, sedikit banyak jadi merasa bersalah juga pada Jongin dan Baekhyun karena dia tidak benar-benar menilai cappuccino itu enak. Sebenarnya, di lidahnya, kopi dalam bentuk apapun tetap tidak enak.

Gadis itu melirik Chanyeol dengan menyesal. Barista yang malang.

“Benar kalau kau memang ragu aku bisa jadi barista. Tapi sekarang kau tidak bisa meragukanku lagi, Yu.” cengir Chanyeol, menggedikkan kepalanya untuk menyingkirkan rambut yang menghalangi matanya.

“Arasso.” Yuhyeon tersenyum samar. Bagaimanapun dia ikut senang melihat laki-laki itu senang dan menjadi happy virus yang satu level lebih tinggi dari biasanya.

Lagu akhirnya berhenti. Jongin dan Baekhyun tampak memberikan bungkukan hormat dan cepat-cepat menarik diri dengan malu diiringi tepukan tangan para pengunjung dan Yuhyeon yang kagum. Melihat itu, Chanyeol tertawa puas dan menunjukkan jempol pada kedua sahabatnya.

“Baiklah, aku akan bicara pada Kris hyung agar bisa keluar sebentar. Kau tidak keberatan kan, kalau menunggu lagi lima menit?” tanya Chanyeol, bangkit berdiri dari tempatnya.

“Hm.”

“Good girl.” tangan lebar itu mendarat di puncak kepala Yuhyeon sebelum menunjuk cangkir di hadapannya dan berpesan, “Habiskan cappuccinonya, ya!”—lalu menjauh.

>>><<<

“Yifan-ssi bukan orang Korea, ya?” tanya Yuhyeon dengan nada kaku, ketika mereka sudah berada di luar cafe dan sedang berjalan di antara orang-orang lain menuju jalan besar dimana Yuhyeon bisa menemukan taksi. Seperti biasa, ketika mereka berjalan bersama, selalu ada jarak yang tak kurang dari setengah meter di antara mereka. Kalaupun jalan yang akan mereka lewati terlalu sempit karena orang-orang yang berjalan di sekitar sana juga cukup padat, Chanyeol akan berjalan di belakang dan kembali ke samping Yuhyeon jika ruang berjalan mereka sudah cukup luas lagi.

“Eoh, dia punya darah China dan Kanada. Ibunya orang Kanada asli, dia memberitahu kami begitu.” jawab Chanyeol, “Kau pasti tahu karena logatnya aneh, ya?”

“Hm, wajahnya juga tidak terlalu Korea, namanya juga.”

Geurae. Tapi dia itu misterius sekali. Terkadang sangat manis tapi bisa juga jadi sangat tegas. Seperti punya kepribadian ganda, err..”

“Hm.”

“Katanya kau sangat bekerja keras.”

“Eh?”

“Yifan-ssi yang bilang. Itu..” Yuhyeon menunjuk kantung matanya sendiri dan kantung mata Chanyeol bergantian, tapi tidak melanjutkan kalimatnya karena dia yakin Chanyeol mengerti maksudnya.

“Oh iya, tentu saja. Soalnya aku kan, ditantang.” sahut Chanyeol, bergidik dan menaikkan kerah mantelnya karena udara yang terasa jauh lebih dingin, “Tapi, percaya atau tidak, awalnya aku memang termotivasi oleh tantangan itu, tapi kemudian tidak lagi. Aku lebih terdorong karena ingat kau yang akan dapat cappuccino pertamaku. Hahaha.”

Wajahnya masih sempat memanas di tengah rasa bersalahnya yang semakin besar. Yuhyeon merasa keterlaluan, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa. Dia takut merusak kesenangan Chanyeol jika terus terang sekarang.

Mereka sampai di penanda kawasan Hongdae dan menunggu di pinggir jalan. Selewat beberapa menit yang dingin, akhirnya taksi yang mereka tunggu-tunggu tampak dari kejauhan dan sampai di dekat mereka. Chanyeol segera menghentikannya dan membukakan pintu untuk Yuhyeon, “Sana, sudah dingin sekali di luar.” katanya, sambil bergidik untuk yang kelimakalinya.

Gomawo.” ujar Yuhyeon, menepuk-nepuk lengan Chanyeol dengan pelan sambil tersenyum kecil, “Terima kasih juga untuk cappuccino dan kerja kerasmu.”

Yes, Maam.” ledek Chanyeol, memberikan tanda hormat sebelum menepuk puncak kepala Yuhyeon dan sekali lagi menyuruhnya segera masuk, “Maaf tidak bisa mengantarmu. Kris hyung sedang di mode tegas sekali sekarang.”

Yuhyeon terkekeh singkat dan melambai kecil, lalu masuk ke dalam taksi dan Chanyeol segera menutup pintunya. Mereka saling melambai sekali lagi sampai akhirnya Chanyeol menyuruh sopir taksi untuk segera melaju.

Gadis itu terus memandang Chanyeol yang semakin mengecil seiring jarak mereka yang semakin jauh. Dia tersenyum kecil dan akhirnya mengalihkan pandangan ke depan.

That poor barista, batinnya.

Terima kasih, Park Chanyeol.

>>><<<

Aigo, apa pengunjung-pengunjung itu benar-benar hanya bermaksud melihat para pekerja di sini?” suara Joonmyeon terdengar dengan jelas tepat ketika Chanyeol sudah kembali berada di dapur dan sedang melepas mantelnya sambil menyenandungkan sebuah lagu. Laki-laki berkulit hampir pucat itu mengangkat salah satu cangkir kotor yang masih berisi hampir penuh cappuccino.

“Itu punya Yuhyeon-ssi.” jawab Kyungsoo yang berhenti meneguk minumnya sejenak. Telinga Chanyeol yang peka terhadap nama itu, membuat pemiliknya tertarik dengan cepat dan langsung menggabungkan diri dengan obrolan.

“Kukira Yuhyeon menghabiskan miliknya.”

Kyungsoo menoleh pada Chanyeol dan berkata dengan polos, “Tadi dia memanggilku dan menukar cangkirnya dengan cangkir punya orang lain yang sudah kosong, kok.”

Krik.

Krik.

“APA?! SIAPA YANG MENUKAR CANGKIRNYA? SIAPA?” Baekhyun berteriak dengan heboh dan menghampiri ketiganya diikuti Jongin yang sepertinya mendengar teriakan Baekhyun dari luar.

Joonmyeon menatap Chanyeol yang mengerjap cepat, bahkan tidak terpengaruh dengan bagaimana rusuhnya Baekhyun dan Jongin yang mengorek ulang informasi dari Kyungsoo.

“Oh, jadi dia benar-benar hanya minum satu teguk?” kata pemuda bermarga Park itu, kaku. Matanya membulat tidak percaya.

“Kalau aku tidak salah dengar, katanya dia tidak suka kopi. Tapi entahlah, dia bicara pelan sekali tadi.” Kyungsoo menjawab di tengah kerepotannya menghadapi Baekhyun dan Jongin.

“Kalau begitu, taruhannya belum sah dimenangkan olehmu.” kata Jongin sambil menunjuk Chanyeol dan Baekhyun segera mengangguk setuju. Mendengar itu, diam-diam tanpa diketahui yang lain, Joonmyeon menyesap cappuccino buatan Chanyeol tadi dan menyecap lidahnya beberapa saat, sementara Chanyeol masih berpikir.

Yuhyeon tidak menyukai kopi, tapi kenapa gadis itu tidak mengatakannya tadi? Kalau dia memang hanya meminum seteguk cappuccino itu, bisa saja itu berarti Yuhyeon benar-benar tidak suka kopi. Tapi dia tetap melakukannya di hadapan Chanyeol.

Pantas saja sebelumnya Yuhyeon terlihat sangat ragu-ragu. Ketika aku mengira cappuccino-nya terlalu panas, mungkin sebenarnya waktu itu dia sedang berpikir akan berterus terang atau memilih memaksakan diri.

Merasa bodoh sekaligus bersalah, Chanyeol menggaruk kepalanya yang tidak gatal, segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan mengetik pesan singkat untuk Yuhyeon.

Sementara itu, empat laki-laki lain sedang berkerumun di titik lain, bergantian meminum cappuccino buatan Chanyeol dan sepakat kalau minuman itu memang sudah sempurna, walau Jongin dan Baekhyun mengakuinya dengan kecewa karena mereka berharap taruhannya dimulai lagi.

Sesaat kemudian..

“Ngomong-ngomong, itu cangkir bekas Yuhyeon, kan?” celetuk Baekhyun penuh rahasia.

“Eoh, memangnya kenapa?” tanya Joonmyeon kalem.

“Itu berarti kita…”

Jongin mengeluarkan suara seperti tercekat sambil menunjuk Baekhyun, Joonmyeon dan Kyungsoo bergantian sementara tangannya yang lain memegangi bibirnya, “Ciuman tidak langsung!”

“Woh!”

“Kau benar!”

“KATAKAN ITU SEKALI LAGI ATAU KUBUNUH KALIAN!!” raung Chanyeol cemburu.

>>><<<

“Jung Yuhyeon, harusnya kau bilang kalau tidak suka kopi, tidak perlu memaksakan diri, ckck.

Tapi apa kau tahu seberapa besar aku berterima kasih karena kau mau menjaga perasaanku? Sebesar keinginanku untuk melindungimu. ^.^ hohoho”

a/n :

Halo, readers FFI! Lama gak posting ff, hehe.. Gak yakin masih ada yg inget sama cerita ini ;A; *salah sendiri updatenya kelamaan* *sungkemin semuanya satu2*

kalo gak salah (?) ini juga postingan terakhir aku sebelum hiatus lamaaaaa… buat menghadapi UAS, UN dan seterusnya ;___; sekalian minta doanya ya, ceman-ceman. buat yang bakalan menghadapi UN dan SNMPTN kayak aku, semoga dilancarkan dan diberikan yang terbaik sama Yang Maha Adil, ya. buat yang SMP dan SD juga, ayo berhasil sama-sama! ({})

*krik*

finally, ditunggu review-nya berkaitan sama cerita Yu-Yeol kali ini ^^/ hehehe…

25 responses to “That Poor Barista

  1. So sweet..
    Yuhyeon tetep minum kopinya walau g suka..
    Nah,yeolie ngamuk gegara pd blg ciuman tak langsung..
    Wkwkwkwk
    Yuhyeon ama yeolie msh canggung ya?
    Meski mreka ud pacaran..

    • wkwkwk ngamuk xD *ngakak sambil pukul2 chanyeol*
      bukannya masih canggung, cuma ya mungkin ga suka skinship aja mereka xD *sotoy detected* makasih ya udah baca ^^ maaf telat banget balesnya

  2. aigoo ya~
    manis sekali park chanyeol ini *pukpuk Yeollie*
    bacanya sambil senyam senyum gaje masa.. 😀
    ah, indahnya masa2 muda.. *sok tua!!*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s