Begins of Revenge [CHAPTER 4]

Ini bukan ff ditjao, melainkan ff titipan dari salah seorang teman. Harap memberikan apresiasi berupa komentar setelah membaca ya, terima kasih sebelumnya.

Previous :

CHAPTER 1 – CHAPTER 2 – CHAPTER 3

Begins of Revenge 2

Tittle : begins of revenge

Genre : romance and sad [the big secret, one night full of a peace, and who are you?]

Type : chapter

Main cast : xi luhan dan park ahrin

Other cast :  park chanyeol, sehun

Author : lee hae min (uniara)

Artwork : park ahrin (amira)

Note : dont copas this ff, jika gaje maafkan….aku tak tahu harus menulis apa

Happy reading 🙂

***

Jam terus berdetak tanpa henti, kini jam yang terpampang di dinding sudah menunjukkan pukul 12 malam. Tapi namja bernama xi luhan sudah berjam-jam tidak pulang, terakhir kali aku melihatnya hanya pada saat ia bergegas pergi secara tergesa-gesa. Entah tujuan utamanya kemana, namun dengan sangat jelas aku sedikit mengkhawatirkannya. Sudah kutanyakan pada chanyeol namun namja dengan yang memiliki senyum sejuta pesona itu hanya berkata –tenang saja ahrin-ssi, luhan hyung sudah biasa pulang larut malam-. Tapi Ini sudah terlalu larut malam, sebenarnya namja itu pergi kemana? Namun pada akhirnya chanyeol mengajakku pergi untuk mencari xi luhan, sepertinya ia  pun mengkhawatirkan sahabat karibnya itu.Chanyeol sudah berkali-kali meneleponnya, namun hasilnya nihil. Sepertinya luhan dengan sengaja menon-aktifkan handphonenya.

Sembari menggenggam kunci mobil miliknya,chanyeol mengajakku menuju mobilnya yang sekarang sedang terparkir di halaman depan rumah. Kemudian aku masuk kedalam mobilnya begitupun dengan chanyeol, setelah semuanya siap. Ia menginjak pedal gas. Kami berdua mengunjungi beberpa tempat yang sering luhan datangi termasuk salah satunya adalah tempat club malam. Aku tidak merasa kaget jika luhan sering megunjungi dunia gemerlap malam, karena sudah terpampang jelas dari wajahnya bahwa dia sudah pasti termasuk orang yang suka berpergian ketempat aneh seperti ini. Entah itu untuk bersenang-senang atau hanya melepaskan penat. 

Kemudian kami kembali meneruskan mencari luhan. Semua tempat sudah kami kunjugi tapi tidak nampak sekali batang hidung namja china itu.

“sebaiknya kita pulang saja, mungkin luhan hyung sudah berada dirumah.”ujar chanyeol sembari terfokus menyetir. Mungkin itu ide yang bagus. Pada akhirnya kami sepakat untuk kembali ke rumah saja. Selama perjalanan aku dan chanyeol tidak saling bercakap-cakap tidak seperti biasanya. Mungkin ini faktor lelah, karena sudah terlalu larut malam.

Saat memasuki gerbang rumah, aku melihat mobil miliknya. Mobil Lamborghini Aventador LP700-4 sudah terparkir di halaman rumahnya yang besar. Benar sekali dugaan chanyeol, ia sudah kembali. Kami bergegas menuju kedalam rumah. Dengan semangat aku membuka knop pintu, namun apa yang terjadi….

aku melihat pemandangan yang sungguh menjijikan. Mataku terbelalak kaget, tidak bukan hanya aku saja melainkan sahabatnya yang jangkung itupun sama kagetnya seperti diriku. Kutepuk-tepuk pipiku berkali-kali, mungkin ini hanya mimpi. Tapi kenyataanya ini benar-benar terjadi.

Xi luhan…. namja itu dengan seorang yeoja sedang berciuman mesra. Yeoja itu berada dipangkuan xi luhan sembari melingkarkan tangannya di leher luhan dengan sengaja. Tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan yeoja itu, salah satu tangan luhan memegangi pipi yeoja tersebut dan sebelah tangannya memeluk pinggangnya. Ia terus melakukan ciuman mesra itu tanpa adanya selang waktu maupun berhenti untuk mengambil pasukan oksigen. Ciumannya sangat dalam sekali.

“mmmm, lanjutkan xi luhan.” Ucap yeoja itu. luhan dengan bringas dan di penuhi napsu terus menciumi yeoja yang sekarang berada di pangkuannya. Bukan hanya menciuminya saja bahkan luhan mengigit dan melumat bibir yeoja itu.  Selain itu terdapat dua botol vodka yang menemani mereka. Sepertinya luhan sudah sangat mabuk, terlihat dari isi botol vodka tersebut hanya tertinggal setengah.

Yang semulanya ia tidak menyadari kebaradaan kami, matanya memincing dan melirik ke arah kami berdua. Ia akhrinya mengakhiri ciumannya dan memberikan senyuman pada kami.

“kalian sudah pulang?” tanyanya. Tidak ada jawaban dariku dan chanyeol karena masih tidak percaya dengan apa yang kami saksikan saat ini. Hanya diam mematung yang bisa kulakukan. Berjuta penyataan menghampiriku, tapi jika disimpulkan semua pertanyaanku yaitu –sebenarnya apa yang terjadi pada namja itu-.

“tidak perlu terlihat bingung seperti itu, lebih baik kalian bergabung denganku saja. “ujarnya yang kemudian kembali melakukan ciuman menjijikan itu. sudah cukup, aku muak melihat pemandangan ini. Aku tahu luhan itu orangnya keras dan nakal, tapi aku yakin tidak mungkin ia sampai melakukan hal hina seperti ini.pasti sesuatu terjadi padanya.

“hyung…”ucap chanyeol yang berniat mendekati mereka. Namun dengan cepat kucegah. Chanyeol sepertinya bingung melihat apa yang kulakukan padanya.

“biar aku saja.”Ku percepat langkahku untuk mendekatinya.

“yya xi luhan, kau sebenarnya kenapa? Apa yang terjadi padamu?”tanyaku, namun tetap tidak ada jawaban sekali. Hanya suara kenikmatan dari mereka yang bisa kudengar.

“YYA XI LUHAN!!” tetap tidak ada jawaban. Dengan geram ku ambil botol minuman vodka miliknya yang berada di meja, ku angkat botol itu dan menguyurkannya di atas kepala xi luhan. Kutumpahkan semua isinya, tidak peduli dia akan marah padaku.  Yeoja yang berada dipanggkuannya menjerit karena pakaiannya pun ikut menjadi basah. Luhan tak bergeming sama sekali, yang hanya ia lakukan mencolek teteas air vodka tersebut kemudian menjilatnya. Kemudian senyumannya merekah, senyum sinisnya.

“DASAR KAU YEOJA BODOH!”teriaknya, membuatku kaget. Bukan hanya kaget tapi takut melihatnya. Matanya memincing tajam, napasnya memburu sepertinya ia benar-benar kesal dengan perbuatanku.

“sebenarnya siapa yang bodoh disini, kau atau aku? Sudah jelas kau adalah namja tebodoh yang penah kutemui. Kau melakukan perbuatan memuakan seperti ini!”

Dengan masih mempertahankan posisinya di sofa ia terus saja memancarkan aura kebencian. “apa pedulimu, kau disini hanya seorang pesuruh. Kau tidak berhak mengatur-ngatur hidupku! Tidak perlu mengatakan hal yang kulakukan ini adalah memuakan. Bilang saja kau juga suka melakukannya, bahkan mungkin kau menjual dirimu seutuhnya hanya untuk mendapatkan uang. Jika seperti itu, kau hibur aku, akan kubayar berapapun jumlah yang kau mau dan akan kunikmati semua lekuk tubuhmu!”

Bagai mendengar petir disiang bolong dan juga dihantam beberapa ribu jarum. Sakit rasanya, sangat sesak saat mendengar ucapannya. Setelah orangtuaku yang ia jelek-jelekkan sekarang harga diriku dan merendahkannya seperti sampah. Aku hanya bisa tertunduk dan mengepalkan kedua tanganku kuat-kuat, aku harus bisa menahan emosiku agar tidak meledak.

“tuan xi, kau pernah berkata padaku.. bahwa orangtuaku tidak pernah mengajari aku dan kakakku bagaimana caranya bersikap sopan santun. Tapi sepertinya ucapanmu salah, menurutku orangtuamu yang justru gagal mendidikmu lihat kelakuanmu seperti hewan, ah bukan hanya hewan tapi sampah!”

“DIAM KAU YEOJA BODOH, KAU TIDAK USAH SOK TAHU TENTANG KELUARGAKU!”

Ia mempelanting yeoja yang tadi dipangkuannya dengan kasar, dan mengubah posisinya menjadi bediri. Menghadap ke arahku. Napasnya memburu sangat cepat, bibirnya menggertak, tangannya ia kepal sekuat tenaga. Terlihat dari urat nadinya yang terlihat.

“wae? Apa itu benar? Seharusnya kau malu melakukan hal seperti ini. Ingat adikmu xi luhan, jika ia melihat kakaknya seperti ini, bagaimana tanggapanya? Cih sudah yakin ia akan membencimu.”

“LEBIH BAIK KAU DIAM YEOJA PENJILAT..”

Plakk…..

Tamparan keras kudaratkan dipipinya yang halus itu, aku sudah tidak bisa menahan emosiku yang berada diujung ubun-ubun. Semua orang  kaget melihat insiden tamparan itu, terutama namja yang sekarang berada dihadapanku. Ia tidak bergeming, hanya mengusap pipinya dan memperlihatkan senyumnya, seolah-olah meremehkanku. “sekarang kau sudah mulai berani ya yeoja penjilat.”

“berhenti menyebutku seperti itu.”

“wae? Kau tidak suka? Hahahahahahahaha, kau tahu jika bisa aku ingin lenyap  dari dunia terkutuk ini, tidak ada kebahagian. Hanya penderitaan. Selain itu kau tidak perlu mengajariku, karena kau tidak mengalami apa yang aku alami saat ini…. TIDAK PERNAH ADA YANG MENGERTI PERASAANKU, SEMUA ORANG YANG KUSAYANGI MENGHIANATIKU, MENCAMPAKANKU BEGITU SAJA!!! BRENGSEK SEKALI!! ARGHHHHHHHHH”

Prang….

Pecahan botol vodka berserakan dimana-mana, bukan hanya itu namja dihadapanku memuntahan semua emosinya dengan mengacak-ngacak semua barang-barang yang terdapat dimeja. Kemudian ia memukul sebuah foto, foto keluarganya. kaca yang membalut foto itu retak, darah segar mengalir ditangannya, ia tidak peduli jika tangannya sudah membengkak.

 Baru pertama kali ini aku melihatnya begitu rapuh. Aku hanya diam, begitupun dengan chanyeol.. ia melihat dari kejauhan. Sepertinya chanyeol tahu penyebab luhan menjadi brutal seperti ini, tapi tetap saja ia tidak bisa berbuat lebih untuk sahabatnya itu. luhan terhanyut dalam dunianya yang rapuh, tidak ada setitik kebahagian dijiwanya. Hatinya hanya dipenuhi oleh kebencian dan pembalasan dendam.

Sesekali ia mengacak-ngacak rambutnya dan tertunduk. Darahnya terus mengalir tanpa henti, tapi ia terus saja memukul foto tersebut tanpa henti. Bulir-bulir air mata menetes dan membasahi pipinya

“cukup xi luhan, sudah cukup..”ucapku dengan lirih, aku merasa kasihan padanya.

“LEPASKAN!!”

Aku jatuh tersungkur akibat dorongannya, dengan cepat chanyeol lari kearahku dan menolongku. “gwenchana?” ucapnya dengan sedikit kekhawatiran diwajahnya. aku hanya mengangguk untuk meyakinkannya bahwa aku tidak apa-apa.

Xi luhan namja itu tidak henti-hentinya mengamuk, ia berpikir saat ini jika dunia sedang memusihinya dan mengucilkannya. Sorot matanya terus saja memancarkan kesedihan mendalam. Aku tidak tahu, sebenarnya apa yang terjadi setelah ia meninggalkan kami pergi tadi pagi. Jika saja keadaan sehun menurun lagi, aku yakin sikapnya tidak akan mungkin seperti ini. Pasti ada sesuatu yang lain.

Sesaat ia-xi luhan memukul-mukuli foto keluarganya, namun kemudian matanya beralih pada vas bunga besar yang berada disisinya. Ini pertanda tidak bagus sekali, sudah kuyakini ia akan melemparnya. Tangannya dengan cepat meraih vas bunga berwarna emas itu.

Entah berasal darimana dorongan kuat itu, tiba-tiba saja aku berjalan menuju kearahnya dan memeluknya dari belakang. Sangat erat.

“jebal luhan-ssi, hentikan semua ini aku mohon…”ucapku dengan lirihsembari terus memeluknya. Ia tak bergeming sama sekali, vas yang tadi ia pegang.. ia lepaskan begitu saja. Emosinya sedikit-demi sedikit menurun begitupun dengan napasnya yang memburu. Tapi satu hal, namja yang kini kupeluk terisak. Ia menangis…

Brukk…..

Tiba-tiba saja ia tumbang dan tak sadarkan diri. Ia terjatuh begitupun dengan diriku. Tenaganya habis terkuras. Tangannya beserta hatinya babak belur saat ini. Chanyeol kemudian menolong kami. Wajah luhan yang sekarang berantakan memperlihatkan ekspresi pucat.

***

Author pov:

Seorang namja yang entah sejak kapan berbaring dikasurnya yang berukuran king size itu, perlahan membuka kelopak matanya. Rasa penat dan nyeri kini menjalar setiap tubuh, nadi bahkan jiwanya. Perlahan ia memegangi keningnya itu, dan mendapati tangan kanannya yang terluka parah. Bau tidak sedappun tercium ditubuhnya. aroma vodka, pikirnya sejenak.

Matanya melirik pada sebuah jam yang terpajang di meja kecil. Waktu yang ditunjukan jam itu pukul 1 malam. Dan sekarang pikirannya dipenuhi berjuta pertanyaan. Mengapa ia bisa seperti ini, mengapa ia berada disini. Sepertinya ia lupa semua hal yang terjadi pada dirinya. Perlahan ia mencoba bangkit dari tidurnya, namun rasa nyeri yang menjalar disemua tubuhnya meng-enggankan ia untuk bangkit.

Samar-samar ia melihat ke arah pintu yang tak jauh dari kasurnya, knop pintu tersebut bergerak. Sepertinya seseorang akan memasuki kamarnya. Benar sekali tebakannya.

“kau sudah sadar xi luhan.. syukurlah.”ujar seorang yeoja yang sekarang berada dikamar namja yang memiiki nama xi luhan tersebut. Yeoja itu menghampiri luhan, ia membawa kotak p3k. Luhan hanya bisa melihatnya tanpa bereaksi apapun. Karena kini tenaganya sudah habis terkuras, selain itu kondisinya yang bisa dibilang jauh dari kata sehat membuatnya hanya bisa dalam posisi terbaring.

“xi luhan, biarku obati lukamu.”ujar yeoja bernama park ahrin tersebut yang kini sedang duduk di pinggir kasur. Kemudian ia- park ahrin membuka kotak p3k yang ia bawa, dan mencari perban serta beberapa obat luka. Setelah itu ahrin mencoba membangunkan luhan kedalam posisi duduk. Namun luhan menepis tangannya.

 “aku bisa sendiri” ucapnya dengan angkuh, ahrin hanya bisa menghela napas saja dengan apa yang dilakukan luhan. Dengan susah payah, akhirnya xi luhan bisa memposisikan tubuhnya menjadi duduk, meskipun kakinya tetap terlentang.

Ahrin, yeoja itu kini sedang mengobati tangan kanan milik xi luhan. Secara perlahan dan halus ia mengusap tangan xi luhan dengan sebuah kapas yang sudah diberikan cairan alkohol. Rasa perih yang kini menjalar, semakin menjadi-jadi ketika ahrin mengobati luka luhan. Luhan hanya bisa menahan perih yang ia rasakan, ia mengigit bibirnya sendiri agar rasa sakit yang ia rasakan bisa berkurang. Kemudian ahrin memberikan obat merah pada lukanya dan membalut tangannya itu dengan perban.

“sebenarnya aku ini kenapa?”tanyanya pada yeoja yang kini sedang membalutkan perban ditangan kanannya itu. ahrin hanya terdiam dan tidak mempedulikan pertanyaan luhan, ia hanya terus membalutkan perban.

“jawab pertanyaanku ahrin!”ucap luhan dengan sedikit nada membentak. Ahrin bingung harus mulai menjelaskannya dari mana. Karena terlalu banyak insiden yang terjadi. Yang bisa ia lakukan hanya menelan ludah. Jika ia menjelaskannya, ia takut namja yang dihadapannya kembali menjadi rapuh.

“sudah selesai, sebaiknya kau kembali tidur xi luhan.”

“yya yeoja bodoh, jawab pertanyaanku!!”

ahrin terlalu bingung, namun pada akhirnya ia menjelaskan apa yanng terjadi pada luhan secara terpaksa. Sedikit demi sedikit luhan mulai ingat. Didalam pikirannya kini mucul rentetan kejadian yang menimpanya. Dimulai ia sedang berciuman dengan seorang yeoja, kemudian aksinya yang brutal. Namja itu kembali menjadi rapuh, hal inilah yang ditakutkan oleh ahrin.

“luhan-ssi, jika aku boleh bertanya sebenarnya apa yang terjadi padamu?” tak ada jawaban, hanya diam tak bergeming. Hanya raut wajah sedih yang luhan berikan. Ahrin terdiam saja karena tidak tahu apa yang harus diperbuat. Kemudian ahrin perlahan bangkit dari posisi duduknya dan berjalan pergi meninggalkan luhan. Mungkin ia ingin sendiri, gumam ahrin dalam hati.

“aku bertemu kembali dengan eommaku.” Ucapnya tiba-tiba, ahrin yang mendengarkan ucapannya itu kemudian berbalik dan menatapnya heran. Dan berjalan kembali mendekati namja itu. “bwo?”

“hmm, eomma yang telah membuang kami semua hanya demi harta.”lirihnya

“ia meneleponku dan menyuruhku untuk menemuinya, cih setelah apa yang ia lakukan pada kami. Ia masih berani menampakan wajahnya..”

“yya xi luhan, kenapa kau memperlakukan eomma-mu seperti itu.” sedikit protes dari ahrin, yang tidak suka dengan perlakuan luhan.

“dia bukan eommaku, ia hanya eomma tiriku..”ucapnya sambil tertunduk.

 Kemudian namja itu menjelaskan semuanya pada ahrin. Ia menjelaskan bahwa sebenarnya ia bukan anak kandung dari keluarga ini, ia hanya seorang anak yang berstatuskan di adopsi oleh keluarga OH, namanya sengaja tidak diubah menjadi –OH LUHAN- oleh keluarganya, entah apa alasannya. Luhan tidak peduli tentang statusnya itu, karena ia begitu disayangi layaknya anak kandung mereka yaitu sehun. Tapi semua itu sirna, setelah eommanya pergi meninggalkan mereka, demi lelaki lain yang jauh lebih kaya. Surat yang dulu pernah dibaca oleh ahrin, adalah surat terakhir yang ditulis eommanya sebelum wanita paruh baya itu benar-benar pergi. Hanya tersisa dia, sehun dan ayahnya. Ayahnya terus berusaha keras agar usahanya maju sehingga dapat merebut kembali wanita yang jelas-jelas telah mengkhianatinya. Perusahannya semakin berkembang, namun tidak dengan tuan oh.. kesehatannya justru semakin memburuk sehingga kematian menjemputnya.

Kebencian  mulai tertanam di dalam diri luhan, sedikit-demi sedikit namun pasti kebencian itu telah menutup hatinya hingga menjadi busuk. Hanya kesedihan, penderitaan, dan pembalasan dendam yang terkumpul dihatinya. Tidak ada setitik kebahagian. Seolah penderitaannya itu belum cukup, sehun adik tirinya yang sangat ia sayangi mengalami koma. Hatinya semakin kotor, bahkan sekarang ia tidak mengenal arti kasih sayang, kebahagiaan .. hanya ke-egosian yang cukup membelenggunya. Ia akan berusaha menjatuhkan bahkan menghancurkan jika ada orang yang menghalangi rencananya. Itulah luhan yang sekarang, berwujud malaikat namun berhati iblis.

Yeoja yang kini berada didekatnya memperlihatkan ekpresi iba. Ia sekarang mengerti mengapa namja yang bernama xi luhan ini selalu bersikap kasar. Karena sikapnya itu bentuk protes dirinya yang tidak pernah menerima keadaannya sedari dulu. Sebuah kesimpulanpun ia dapatkan untuk pertanyaannya yang dahulu pernah ia lontarkan pada luhan, yaitu mengapa luhan dan sehun terlihat berbeda sekali. Jawabannya satu, karena mereka bukan saudara kandung.

“bukan hanya kau yang merasa paling menderita di dunia ini, tapi akupun sama sepertimu.”ujar ahrin, dengan otomatis membuat reaksi luhan keheranan. Luhan yang sedari tadi tertunduk kini wajahnya dengan intens beralih melihat yeoja yang berada disampingnya.

“sebenarnya aku dan kakakku pun tidak memiliki ikatan darah sama sekali, kami berasal dari eomma dan appa yang berbeda. Eommaku menikah dengan seorang duda beranak 1, aku tidak menentang keinginannya untuk menikah lagi, karena kupikir akan ada yang melindungi eommaku. Seharusnya margaku digantikan menjadi choi, namun eomma menentang keras, sehingga aku tetap menggunakan marga park. Eomma bilang itu satu-satunya peninggalan mendiang ayah kandungku. Semula keluarga baruku damai namun semuanya menjadi berantakan setelah kami pindah ke jepang. Appa tiba-tiba saja bersikap kasar dan sering memukuli kami, terutama pada eomma. Mungkin karena appa merasa tidak mampu lagi merawat kami, ia pergi entah kemana tanpa meninggalkan sedikitpun uang untuk kami. Eomma menjadi stres karena lelaki brengsek itu, dan sama seperti ayahmu.. eommakupun….”

Ahrin hanya bisa menelan ludah, seolah-olah kata-kata yang seharusnya ia ucapkan itu seperti kata-kata tabu untuk dirinya. Lidahnya kelu untuk meneruskan ceritanya, hanya tatapan mata kosong yang sedari tadi ia perlihatkan. Sedangkan bagi xi luhan, ia tidak perlu mendengarkan kata-kata terakhir itu, ia sudah memahaminya. Luhan hanya bisa tertegun saat mendengarkan cerita park ahrin. Ia masih merasa tidak percaya jika yeoja yang selama ini selalu ia kasari ternyata memiliki masa lalu yang kelam.. sama seperti dirinya.

Tidak ia dan ahrin berbeda, ahrin menerima semua penderitannya tanpa pernah mengeluh maupun menyerah. Ia bersama kakaknya terus berusaha agar mereka bisa bertahan hidup meskipun dunia sekalipun mengucili mereka. Berbeda dengan luhan, namja china ini ia sebenarnya seseorang yang pengecut, ia terus saja berusaha lari dari kenyataan yang ada, justru ia malah menantang dunia. Sehingga hidupnya terus dipenuhi penderitaan.

“aish.. kenapa aku bercerita seperti ini, sudahlah.. sebaiknya kau tidur luhan-ssi, agar cepat sembuh.” Ucapnya, yang kemudian berdiri dan pergi meninggalkan xi luhan. Namun tiba-tiba saja luhan menarik lengan gadis itu. ia menahannya untuk pergi. Ahrin berbalik dengan ekprsi kaget. Keningnya ia kerutkan menandakan sebenarnya ia terhera-heran atas sikap luhan.

“jebal… temani aku malam ini saja. Aku tidak bisa tidur.”pintanya pada yeoja berparas cantik itu.

“bw..bwo?”

“ne.. aku bisa tidur di sofa jika kau mau dan kau tidur di ranjang ini.”ujarnya yang perlahan mencoba bangkit dari kasurnya itu. Namun, ahrin menghentikannya, karena ahrin tahu pasti kondisi luhan saat ini belum membaik. Dengan cepat ahrin menuju sofa yang berada tak jauh dari kasur yang sekarang luhan tempati. Kemudian ia membaringkan tubuhnya. Dan sedikit berbalik kearah luhan dan memberikannya senyuman kemudian berbalik lagi, sehingga posisinya saat ini menghadap kearah langit-langit kamar. Ia tidak mengerti mengapa ia bersedia untuk menemaninya tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Dan kini pikirannya terus berkutat tentang hal itu.

Luhanpun mulai merebahkan kembali tubuhnya kedalam kehangatan kasur. Suasana menjadi hening.. sejenak keduanya sama-sama tidak bisa tidur. Mereka berdua sibuk bergulat dengan pikirannya dan perasaan mereka masing-masing. Mungkin sudah keberapa kalinya mereka berputar-putar dengan posisinya.

“kau belum tidur?”tanya luhan yang memecah keheningan malam. Ahrin kemudian merubah posisi tidurnya sehingga berbalik mengahadp luhan. Dalam keadaan terbaring ahrin hanya bisa mengangguk.

“kau tidak bisa tidur, luhan-ssi?” tanya gadis itu

“ne, aku tidak bisa tidur.”

Mendengar jawaban luhan, maka ahrin pun bangkit berdiri, dan mendorong sofa itu mendekati kasur. Meskipun berat tapi ahrin tetap melakukannya, entah apa yang ia akan lakukan. Merasa posisi sofanya itu cocok dan sangat dekat dengan posisi kasur. Ahrin pun kembali membaringkan tubuhnya.

“luhan-ssi… kemarikan lenganmu.”

Luhan hanya bisa terheran-heran, namun ia tetap mengulurkan lengan kanannya, meskipun lengannya itu sedang terluka. Aliran kehangatan menyergap telapak tangan luhan. Lengan ahrin mengenggam tangannya. Luhan terkejut atas apa yang ahrin lakukan sehingga ia cepat menarik lengannya.

“apa yang akan kau lakukan?”tanyanya dengan nada sedikit sinis

“tadi kau bilang tidak bisa tidur? Aku akan membantumu agar cepat tidur. Dulu jika aku tidak bisa tidur eomma sering melakukan hal ini padaku sehingga aku tertidur pulas. Setelah eomma tidak ada, oppaku yang sering melakukannya.” Ucap gadis itu, yang kemudian menggemgam kembali lengan luhan. Kali ini luhan tidak menarik tangannya seperti tadi, namun menuruti apa yang dikatakan ahrin.

“kita sama-sama mencoba tidur dengan cara seperti ini…”

PictureQ

Ada kedamaian yang dirasakan dalam hati namja china itu.. ya xi luhan. Kedamaian yang sangat aneh. Yang sempat membuat luhan bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Mengapa dalam genggamman tangan ahrin dia bisa merasakan ketenangan, dan juga bisa merasakan kedamaian. Kedamaian itu membuatnya perlahan-lahan terlelap dan memasuki dunia mimpinya. Begitupun dengan ahrin.

Malam itu mereka tertidur sangat lelap dengan kedua tangan yang saling mengenggam satu sama lain. Tapi mereka berdua tidak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. Sorot matanya memperlhatkan sorotan iri.

Author pov end

***

Hari ini sudah hari ke-2 setelah kejadian itu terjadi. Semenjak hari itu, sedikit demi sedikit keadaan jiwa luhan mulai membaik. Selain itu sifatnya terhadapku ada sedikit perubahan, semula ia selalu bersikap kasar sekarang ia sedikit lembut kepadaku, meskipun terkadang ia bersikap keras. Tapi aku memakluminya.

Seperti  biasa aku membersihkan beberapa sudut rumah yang terlihat kotor. Ini sudah menjadi tugas utamaku dirumah ini. Dan seperti biasanya juga chanyeol setia menolongku. Tapi sikapnya agak terlihat aneh, ia begitu perhatian. Jika aku sedikit lelah atau apapun, ia pasti terlihat sangat khawatir. Tapi tidak apa-apa justru itu membuatku senang.

“ahrin, persediaan bahan makanan menipis, kau cepat pergi belanja.”perintah luhan. Aku yang sedari tadi mengelap beberapa debu terhenti akibat ucapannya. Dengan segera ia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya dan meletakannya di atas meja.

“perlu kuantar?”tawar chanyeol dengan sukan padaku. “ani, aku bisasendiri tenang saja”tolakku dengan lembut. Tapi chanyeol tetap memaksa, ia beralasan bahwa hari akan segera gelap. Ia takut terjadi apa-apa pada diriku.

“sudahlah park chanyeol, dia sudah besar. Kenapa kau begitu mencemaskannya?” pada akhirnya chanyeol menyerah juga setelah luhan membelaku. Walapun sebenarnya itu tidak bisa dikatan pembelaan. Bergegas aku memasuki kamarku dan mengganti pakaianku, setelah cukup rapih aku keluar kamar dan mengambil uang serta beberapa daftar belanjaan yang harus kubeli.

***

Kurang lebih setengah jam aku mengelilingi supermarket, untuk menemukan belanjaan yang kucari. Setelah selesai, aku mengecek barang belanjaanku untuk memastikan semuanya telah berada di trolley. Kupastikan semuanya memang sudah ada, dengan yakin aku menuju kasir dan membayar semua belanjaanku dengan lembaran uang yang sebelumnya telah diberi oleh luhan.

Tujuanku selanjutnya adalah kembali pulang. Sembari membawa beberapa kantung belanjaan kuberanikan diri, menuju halte bus. Jalanan terlihat sepi, sedangkan halte bus nampaknya masih terlihat jauh. Selain itu hari kini sudah malam. Bisa diperkirakan ini baru pukul 7.

Tiba-tiba saja segerombolan pria menghampiriku, perawakannya seperti preman. Aku terus berjalan dengan mempercepat langkahku. Tapi tetap saja aku merasakan segerombolan pria itu mengikutiku dari belakang. Kupercepat kembali langkahku menjadi 2 kali lipat, dan mencoba memotong jalan. Tapi apa yang terjadi jalan yang kulalui itu ternyata buntu.

“wah..wah.. sepertinya yeoja kecil ini tersesat.”ucap salah satu pria yang sontak mengagetkanku. Saat itu ketakutanku menjadi-jadi. Aku tidak bisa berbuat apa-apa aku sudah terkepung.

Sementara itu luhan dan chanyeol yang sedang berada dirumah, mereka sedang menonton tv bersama-sama. Sesekali namja bernama chanyeol itu melihat kearah jam dan pintu. Raut wajahnya terlihat khawatir.

“apa tidak terlalu lama?” tanya chanyeol pada namja yang berada disebelahnya, luhan hanya mengangkat satu alisnya saja.

“maksudku, apa tidak terjadi sesuatu pada ahrin, seharusnya dia sudah pulang sedari tadi.”jelasnya yang harap-harap cemas. Sepertinya luhan hanya menganggapinya dengan sikap cueknya seolaholah ia akan mengatakan –siapa yang peduli-.

“kalau begitu aku harus menjemputnya.” Ucap chanyeol yang kemudian bangkit dari duduknya.

Dan jika kembali pada diriku, sekarang aku benar-benar ketakutan tidak ada cara untuk keluar

“mau apa kalian?”bentakku. mereka semua hanya tertawa melihat reaksiku yang ketakutan.

 “galak sekali kau nona, disini kami hanya akan bersenang-senang denganmu.”goda salah satu pria yang memakai rompi jeans dan celananya bisa dikatakan tidak layak pakai. Karena terlalu banyak robekan.

Tiba-tiba saja mereka semakin mendekatiku, dan pria yang memakai rompi jeans itu merampas belanjaanku dan menghempaskannya sehingga barang yang berada didalamnya berceceran dimana-mana. Bukan hanya itu, ia mengemgam kedua tanganku dengan kuat dan mendorong dan menghimpit tubuhku ketembok. Aku benar-benar terpojok saat itu, keringat dingin keluar dari tubuh, sekuat tenaga aku berteriak meminta pertolongan.

“percuma saja kau berteriak, di tempat sepi seperti ini tidak mungkin ada yang mendengar.”

Pria itu semakin kejam, dan BREKKKK… ia merobek kaus yang kupakai secara paksa. Sehingga pakaian dalamku terlihat meskipun tidak sepenuhnya terlihat. Air mata kini mulai mengalir sehingga membasahi pipiku. Dengan berani dan sekuat tenaga aku menendang pria itu sehingga ia mengerang kesakitan. Teman-temannya coba membantunya.

Mendapat kesempatan, aku mencoba kabur. Aku berlari sekuat yang kubisa sembari menutupi tubuhku dengan sisa pakaianku yang tersisa. Tapi apa yang kulakukan sepertinya percuma saja, pria itu mengejarku dan menarik rambutku dengan kasar. Aku jatuh tersungkur. Luka-luka kecil kini sudah bersarang di beberapa bagian tubuhku.

“kau jangan coba-coba lari dariku… lihat saja apa yang akan kulakukan padamu.”ancamnya yang benar benar memojokanku. Buliran air mata kini semakin deras mengalir. Bibirku bergetar, jantungku memacu cepat. Mataku terpejam, di dalam pikiranku sekilas tergambar bayangan xi luhan. Kenapa namja itu yang terpikir olehku.

“bersiap-siaplah….” godanya yang benar-benar akan melakukannya karena tubuhnya sudah berada diatasku. “ANIYAAAAAAAAAA”

Bugh…..

Terdengar suara pukulan keras, sepertinya seseorang telah memukul namja yang tadi akan berbuat jahat padaku. Kuberanikan diri membuka mataku yang sedari tadi kupejamkan. Aku melihat namja yang telah dipukul itu jatuh tersungkur tak berdaya. Dan sekarang aku melihat seseorang yang telah menolongku. Mataku terbelalak mendapati orang yang membantuku.

“gwenchana?”tanyanya sedikit khawatir. masih dengan keadaan terkejut aku menjawabnya dengan kata iya. Sebuah senyuman merekah di bibirnya. Senyum yang sangat mempesona sekali.

Tbc part 5

_________________________________________________________

Halooo, maaf numpang iklan sebentar, dan maaf untuk author uniara karena saya gak minta izin dulu buat numpang lewat di postingan ini lol orz. Begini, ditjao cuma pengen bantu salah seorang teman yang kebetulan lagi butuh orang untuk grup cover dance-nya. Grup dia meng-cover f(x) dan sekarang lagi butuh orang untuk mengisi posisi Amber. Bagi yang berminat, boleh langsung kontak yang bersangkutan di @vnyynsc (jangan tanya lewat komentar di postingan ini), namanya Vanya dan anaknya ramah, kok. Jadi jangan ragu untuk bertanya bagi yang memang berminat ^^ Oh ya, diutamakan yang berdomisili di Tangerang/Jakarta Selatan. Oke, sekian iklan dari ditjao, diharapkan partisipasinya untuk mereka yang memang mau dan berminat untuk bergabung, hehe ditunggu! ❤

83 responses to “Begins of Revenge [CHAPTER 4]

  1. Pingback: Begins of Revenge [Chapter 13] | FFindo·

  2. Trntya luhan n ahrin sama2 bkn saudara kandung sehun n top , pntea aja marg mrk beda
    Luhan udh mulai lembut am ahrin, org yg mngintip mrk chanyeol ya

  3. Wahhhhh luhan ahrin dh mlI akrab bgtzzz, itu pst yg ngeliat luhan sm ahrin pegangan tangan adl chanyeoll, itu syp yg nolongin ahrin chanyeol atau luhankah??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s