Black Swan – Chapter 12


Black Swan

| Genre : Life, Romance |

| Rating : General |

| Cast : Lee Taemin, Byun Baekhyun, Song Dayeon |

Disclaimer : Plot, karakteristik, dan cerita sepenuhnya hasil imajinasi saya, Enny Hutami. Seluruh pemeran punya orangtua masing-masing kecuali Song Dayeon yang keberadaannya entah ada atau tidak.

© Copyright EnnyHutami’s Fanfiction 2013

~œ Swinspirit œ~

Previous : Chapter 11

“Kubilang jangan mendekat!” teriak Hyeju histeris ketika ia melihat Taemin melangkah maju lagi.

Sontak Dayeon dan Taemin tersentak dan membeku ketika Hyeju mencondongkan tubuhnya ke depan. “Hyeju-ya…,” gumam Dayeon hati-hati. “Kau tahu aku tidak membencimu, bukan?”

Alih-alih lebih tenang, Hyeju justru semakin histeris. “Kau tidak mengerti, sunbae. Kalian berdua tidak akan mengerti! Jangan berpura-pura baik padaku! Kalian berdua sama saja seperti yang lainnya!”

“Hyeju, kau salah paham,” sanggah Dayeon sembari melangkah maju dengan teratur. Berbeda dengan Taemin, Hyeju tidak berteriak menghentikan langkah Dayeon. “Aku tidak membencimu, begitu juga Baekhyun. Dia tidak membencimu. Sungguh.”

Hyeju menggelengkan kepala, menolak pernyataan Dayeon. “Aku tidak sepertimu. Ibuku membenciku. Bahkan dia tidak menginginkanku lahir. Dia menyesal melahirkanku.” Air mata kembali menyergap keluar dari pelupuk mata mengingat wajah ibunya yang mengeras memaki dirinya.

“Riae eonni juga membenciku. Dan sekarang ayahku juga…,” Hyeju meneruskan, menutup matanya dan membiarkan air mata membasahi wajahnya. Ia tidak peduli lagi pada apapun saat ini. Ia hanya ingin semua rasa takut karena dibenci dan juga rasa sakit dalam hatinya lenyap.

Satu cara yang ia tahu. Melompat dari atas sini dan semua rasa sakit di hatinya akan menghilang.

Kemudian ia diam dan merasakan angin yang berhembus. Tubuhnya pun melemas dan matanya terpejam.

“TIDAK, PARK HYEJU!” teriak Dayeon histeris dan berlari mendekat pagar pembatas.

Tangannya hendak meraih tubuh Hyeju, namun terlambat. Gadis itu sudah lebih dulu jatuh sebelum ia berhasil mencapai pagar pembatas.

~œ Swinspirit œ~

Baekhyun berlari tepat di belakang Dayeon yang memperlihatkan kemampuan berlarinya yang memang terbilang cepat dengan langkah panjangnya. Sebelum memasuki gedung bertingkat empat tersebut, ia tidak langsung masuk melainkan melihat ke atas—ke bagian atap di mana di sana terlihat Hyeju yang hendak melompat.

Kemudian mata Baekhyun menemukan dua buah matras yang ditelakkan begitu saja di dekat bangunan berlantai dua di dekat bangunan berlantai empat itu. Ia pun langsung mendapat ide dan menghampiri tempat matras tersebut diletakkan lalu menaruhnya di atas tanah setelah ia mengira-ngira posisi.

Jika ini tidak berhasil, ia memang hanya berharap jika gadis gila bernama Hyeju itu tidak benar-benar melompat.

“PARK HYEJU!” suara nyaring Dayeon terdengar dan itu membuat Baekhyun menengadahkan kepalanya. Ia pun mendapati tubuh Hyeju yang terbilang kecil melayang ke bawah, membuat mata sipit Baekhyun melebar. Ia tidak menyangka gadis bernama Hyeju benar-benar senekat ini.

Baekhyun bertanya-tanya dalam hati, sebenarnya apa yang membuatnya berani melompat? Jangan katakan hanya karena hubungannya dan Dayeon. Karena Hyeju menyukainya.

Tidak mungkin jika ia hanya menonton adegan dari bawah sini. Ia butuh berbuat sesuatu untuk menyelamatkan Hyeju agar tulang-tulang gadis itu tidak patah. Namun, ia tidak punya banyak waktu dan reflek ia mencoba menangkap tubuh Hyeju dengan kedua tangannya.

“Akh!” Baekhyun memekik pelan ketika dirasakan pergelangan tangannya mendarat di atas matras tidak dalam posisi yang baik.

Tubuh Hyeju memang tidak berat sama sekali, namun tekanan dari lantai empat yang membuat Baekhyun kewalahan hingga dirinya ikut terjatuh ke atas matras dengan Hyeju yang berada di dekapannya. Mata gadis itu terpejam.

Dia tidak mati, kan? Pikir Baekhyun.

Kemudian Baekhyun mengangkat Hyeju, seperti saat ia mengangkat Dayeon hari lalu, dan menunggu datangnya Taemin yang bisa menggendong Hyeju. Untuk beberapa menit ke depan, ia bisa menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.

~œ~œ~œ~

Dengan napas tercekat karena panik, Dayeon berlari menuju tembok setinggi pinggangnya yang menjadi batasan. Beberapa detik yang lalu, baru saja ia melihat tubuh Hyeju yang terjatuh ke bawah, dan kini dirinya dan Taemin menghampiri tempat terakhir gadis itu berpijak sebelum akhirnya menjatuhkan diri.

“Kau bodoh!” Dari sebelahnya, Dayeon dapat mendengar Taemin bergumam. Gumaman yang ditujukan untuk Hyeju—atau yang lebih tepatnya merutuk pikiran Hyeju yang memang tidak bisa ditebak.

Namun Dayeon dan Taemin dapat bernapas lega lagi begitu melihat Baekhyun yang menangkap Hyeju di bawah sana. Dalam hati Taemin memuji akal Baekhyun. Kenapa dirinya tidak terpikirkan untuk mencari matras atau kasur, atau apapun itu yang bisa menjadi tempat jatuh Hyeju agar tulangnya tidak patah?

Ketika Taemin menoleh, ia melihat Dayeon tersenyum lega. Dan air mata menyusup keluar dari matanya. Lalu, barulah ia menyadari bahwa gadis itu hanya mengenakan kaus tipis di hari berangin seperti ini.

Kemudian Taemin melepas jaketnya dan memakaikannya pada punggung Dayeon. Gadis itu menoleh dan hendak menolak jika ia tidak menyelanya. “Pakai saja. Aku tidak apa-apa.” Ucapnya. Lalu, “Ayo ke bawah.”

Sesampainya di bawah, Dayeon dan Taemin segera menghampiri Baekhyun dan Baekhyun menyerahkan Hyeju pada Taemin.

“Kurasa dia syok.” Ucap Baekhyun seraya memutar pergelangan tangannya.

“Akan kucarikan taksi.” Kata Dayeon setelah mendengarkan dugaan Baekhyun mengenai keadaan Hyeju yang tidak sadarkan diri. Lalu bergegas pergi tanpa mempedulikan Baekhyun masih berdiri di tempatnya.

“Tanganmu tidak apa-apa?” alih-alih Dayeon yang bertanya seperti yang diharapkan Baekhyun, justru Taemin lah yang bertanya sebelum ia beranjak mengikuti Dayeon.

Baekhyun tidak mengidahkan pertanyaan Taemin dan menatap lelaki itu dengan tatapan benci seperti biasa. “Urusi saja urusanmu sendiri.” Katanya dingin sebelum ia mengangkat kakinya dan melangkah untuk menghampiri Dayeon yang mungkin sudah mendapatkan taksi.

~œ~œ~œ~

“Kau tahu aku datang ke pemakaman Jihyun?”

Kalimat tanya itu adalah kalimat pertama yang Hyeju dengar setelah kesadarannya perlahan kembali, namun karena mendengar suara Taemin yang tidak lagi terasa asing, akhirnya ia memutuskan untuk tetap memejamkan matanya dan mendengar percakapan Taemin entah dengan siapa.

“Ya.” Jawaban singkat itu keluar dari mulut Byun Baekhyun. Hyeju sangat yakin itu karena dia mengenali suara Baekhyun walaupun ia tidak banyak mendengar suara lelaki itu.

Jihyun? Pemakaman? Apa yang mereka bicarakan?

“Untuk apa kau menemuinya?” Terdengar lagi suara Baekhyun yang lebih berat dari suara Taemin yang lembut dengan sedikit menyindir.

Selama beberapa detik, Hyeju tidak mendengar keduanya mengatakan sesuatu. Atau lebih tepatnya, Taemin tidak langsung membalas pertanyaan Baekhyun.

“Merasa bersalah?” Tanya Baekhyun lagi.

Taemin terdiam dan tidak berani menatap Baekhyun yang menatapnya tajam di sofa panjang di ruang rumah sakit berkelas VIP itu. Sementara Dayeon duduk di sebelahnya, matanya terpejam dengan jaket Taemin yang masih tersampir di tubuhnya.

“Ya…,” Hyeju bisa mendengar suara pelan nyaris berbisik yang keluar dari mulut Taemin. Suaranya terdengar penuh dengan penyesalan dan itu membuat Hyeju menduga-duga apa masalah dibalik keduanya.

Sejak Taemin mengaku bahwa ia dan Baekhyun berteman, Hyeju mulai berpikir apakah itu benar atau tidak karena hubungan keduanya jauh dari kata ‘teman’.

Tanpa sadar, Hyeju meleguh ketika dirasakan kepalanya seperti dirajam seribu jarum. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada tangannya, namun leguhannya itu membuat pembicaraan antara Taemin dan Baekhyun terhenti dan dirinya menjadi fokus perhatian.

Dan ketika Hyeju membuka matanya, wajah yang dilihatnya pertama kali adalah wajah Taemin.

“Hai,” Taemin menyapa dengan senyumnya seperti hari-hari biasa. Seakan kejadian beberapa jam yang lalu tidak pernah terjadi.

Bukankah kau senang jika aku melompat?

Sekilas, Hyeju mengingat kalimat sinisnya yang ditunjukkan pada Taemin. Dan seharusnya… ia sudah mati sekarang—tubuhnya sudah kebas dengan segala rasa. Namun kenapa ia masih bisa merasakan tubuhnya dan rasa sakit di kepalanya?

“Bagaimana perasaanmu?” Taemin bertanya dengan alis bertaut karena Hyeju yang tak kunjung menjawab sapaannya.

Kemudian Hyeju mencoba bangun untuk duduk dan Taemin membantunya dengan hati-hati seakan tubuh Hyeju adalah benda yang mudah pecah.

“Baekhyun sunbae… kau… kenapa masih di sini?” alih-alih menjawab pertanyaan Taemin, Hyeju justru mengalihkan perhatiannya pada Baekhyun yang duduk di sofa panjang yang sama dengan yang diduduki Dayeon yang tengah tertidur dengan posisi duduk.

Melihat wajah Baekhyun, ia teringat jika ada seseorang yang menangkapnya di bawah. Apa itu Baekhyun? Begitu pikirannya.

Baekhyun hanya mengangkat bahunya cuek dan menunjuk Dayeon yang wajahnya sudah tertutup oleh rambut dengan dagunya. “Dia tidak ingin pulang.” Ucapnya.

Bisa Baekhyun dan Taemin lihat perubahan raut wajah Hyeju. Mata gadis itu menyorotkan kesedihan sekaligus kekecewaan. Dan keduanya tahu alasan dibalik sorot mata tersebut.

“Kau harus mengerti.” Kata Baekhyun, suaranya melembut.

Tanpa disangka-sangka, Hyeju merundukkan kepalanya dalam-dalam dengan posisi duduk. Lalu, “Maafkan aku…,” ucapnya. Suaranya terdengar bergetar.

Baekhyun yang tidak tahu harus melakukan atau mengucapkan apa hanya melirik Taemin yang juga tengah meliriknya. Keduanya melempar pandangan heran, namun Taemin bersikap lebih cepat dibanding Baekhyun kali ini. Taemin segera mengangkat tangan kanannya dan mengusap kepala Hyeju.

“Tidak apa-apa, Hyeju-ya. Aku mengerti kondisimu—sedikit.” Ujar Taemin mencoba menenangkan Hyeju dengan sedikit pengoreksian di akhir kalimatnya. Fakta bahwa Taemin tidak mengerti jalan pikiran Hyeju memang benar, namun ia tahu bagaimana rasanya dibenci. Dan berbeda dengannya, Hyeju terlalu terbawa dengan hatinya sehingga ia bisa melakukan hal-hal yang bisa membuatnya celaka.

Baekhyun diam-diam mengamati Taemin dan Hyeju. Menurutnya, mereka berdua cocok jika bersama. Kenapa Hyeju tidak menyukai Taemin saja dibanding dengan dirinya? Toh, Taemin kelihatan lebih manis darinya.

Lalu pandangan Baekhyun beralih pada Dayeon begitu merasa bahwa gadis itu menggerakkan tubuhnya. Dan tak lama, mata gadisnya itu terbuka sepenuhnya setelah beradaptasi dengan cahaya di ruangan.

Begitu pulih kesadarannya, Dayeon langsung bangkit berdiri dan menghampiri Hyeju yang masih merundukkan kepalanya dalam-dalam dengan tangan Taemin yang masih mengusap pelan kepalanya.

Setelah menyerang Hyeju dengan pertanyaan yang menunjukkan kekhawatirannya, Hyeju langsung memeluk Dayeon karena menyadari kebodohannya yang tidak mempercayai semua ucapan Dayeon dan larut dalam amarahnya sendiri.

“Dayeon sunbae, aku benar-benar minta maaf…,” Hyeju mulai terisak di pelukan Dayeon. “Maafkan aku.”

~œ~œ~œ~

“Hei,” Taemin menyapa Dayeon yang duduk termenung di salah satu meja di perpustakaan dengan beberapa buku yang tergeletak dalam keadaan terbuka di depannya. Namun gadis itu tidak terlihat tengah berkonsentrasi dengan buku-buku di hadapannya.

“Maaf membuatmu menunggu.” Ucap Taemin lagi setelah ia menempati dirinya di bangku di hadapan Dayeon.

Dayeon yang menyadari kedatangan Taemin pun menarik diri dari lamunannya dan mengangkat kepalanya untuk menatap Taemin. “Tidak apa-apa,” ujarnya. Lalu, “Menjadi ketua kelas cukup berat, ya?”

Mendengarnya, Taemin hanya terkekeh kecil sembari menarik satu buku yang berada tepat di hadapan Dayeon dan melihatnya sejenak. “Ada yang tidak kau mengerti?” Tanyanya.

Dari malam kemarin Dayeon memang meminta Taemin untuk mengajarkannya beberapa materi dari pelajaran yang tidak ia mengerti. Karena hari ujian semakin dekat, dan Dayeon tidak ingin mendapat nilai jelek, jadi ia lebih memilih diajari oleh Taemin yang merupakan murid terpintar di sekolah ini.

“Ada beberapa.” Jawab Dayeon sembari mencondongkan tubuhnya untuk menunjukan soal-soal yang tidak bisa ia jawab. Lalu, “Aku tidak tahu harus diapakan.” Tambahnya dengan bibir dicebikan.

Kemudian Taemin pun mulai menjelaskannya langkah-langkah yang harus diambil Dayeon untuk mengerjakan soal tersebut, namun karena melihat Dayeon yang tidak terlihat nyaman untuk melihat pekerjaannya di kertas kosong, jadi Taemin berdiri dan pindah menjadi duduk di sebelah Dayeon.

“Begini kelihatan lebih jelas, bukan?” tanya Taemin memastikan. Dayeon pun menganggukkan kepalanya dengan sudut-sudut bibirnya yang tertarik ke belakang.

Dan Taemin kembali menjelaskan.

Setelah Taemin menjelaskan satu soal, ia menyuruh Dayeon untuk mengerjakan soal lain yang cara pengerjaannya sama dengan soal tersebut. Begitu seterusnya sehingga jarum jam pendek pada jam dinding yang bertengger di dinding bercatkan putih itu menunjukan angka enam.

“Taemin-a, maafkan aku membuatmu pulang telat.” Ucap Dayeon menyesal ketika ia dan Taemin baru saja keluar dari perpustakaan.

Taemin memamerkan senyumnya seperti biasa. “Tidak apa-apa. Toh ibuku akan mengerti kenapa aku pulang telat.”

“Lalu, bagaimana dengan ayahmu?”

Hening seketika setelah Dayeon melontarkan pertanyaannya. Dan Dayeon menyadari ia salah bicara karena ia merasa perubahan atmosfer yang melingkupi keduanya saat ini. Lalu, “Ah, maaf. Tidak perlu dijawab jika kau tidak ingin. Anggap saja aku tidak bertanya.” Katanya merasa serba salah sembari menggaruk belakang lehernya dan terkekeh canggung.

Dan Dayeon menyadari jika dirinya belum benar-benar mengenal Taemin. Ia hanya merasa dekat dengan Taemin, namun tidak tahu apapun tentangnya. Bisa saja ayahnya sudah meninggal atau mungkin kedua orangtuanya bercerai, bukan? Kedua hal itu biasanya adalah hal yang tidak ingin dibicarakan.

Lagi-lagi Taemin mengulas senyumnya yang terkesan terlalu tenang.

“Ayahku tinggal di Seoul untuk mengurus anak-anaknya.” Namun pada akhirnya Taemin menjawab pertanyaan Dayeon dengan sedikit penekanan pada kata di akhir kalimat. Lalu, “Aku bahkan tidak tahu tidak masih mengingatku atau tidak.”

Dayeon mengangkat tangannya dan menepuk pundak Taemin, mencoba untuk mengatakan padanya bahwa semuanya baik-baik saja padahal ia sendiri tidak tahu menahu tentang masalah Taemin dengan ayahnya.

“Lalu kau berhubungan dengan saudara tirimu itu?”

Taemin menghentikan langkahnya begitu mendengar pertanyaan yang dilontarkan Dayeon dengan polos dan menatap gadis yang tengah mengerutkan keningnya itu. Lalu tawa meledak dari mulutnya, membuat Dayeon menatapnya heran sehingga kerutan di keningnya semakin dalam.

“Kenapa tertawa?” tanya Dayeon masih dengan wajah bingungnya.

“Kau lucu.”

Dayeon terdiam sebentar. Lalu, “Apa yang lucu?” sebelah alisnya terangkat dan mengingat-ingat apa perkataannya salah atau tidak.

“Gayamu yang mencoba menenangkanku dan… kau bilang saudara tiri? Song Dayeon, ayahku tidak bercerai dengan ibuku ataupun menikah lagi. Astaga, itu sangat lucu!”

Apa Taemin tengah mengolok dirinya? Batin Dayeon, wajahnya berubah dengan mulut mencebik. Dan itu membuat Taemin semakin gemas sehingga mencubit kedua pipi gadis itu tanpa sempat berpikir terlebih dahulu.

Lalu, “Ayo kuantar kau pulang.” Kata Taemin sembari terkekeh dan mengarahkan tubuh Dayeon untuk kembali berjalan.

Walaupun Dayeon merasa sebal dijadikan bahan tawaan, namun ia tetap mengikuti Taemin dan tidak menolak tawaran Taemin untuk mengantarkannya pulang.

Toh, menurutnya Taemin hanya sebatas teman baik. Tidak seperti Taemin yang ingin sekali menjadikan Dayeon lebih dari sekedar teman. Namun itu tidak mungkin karena Baekhyun telah mendahuluinya.

Seandainya ia lebih cepat…

Saat ini pun Taemin hanya bisa mengandai-andai. Namun waktu tidak akan pernah bisa diputar ulang seperti keinginannya saat ini ataupun bertahun-tahun yang lalu.

~œ~œ~œ~

Suara ketukan pintu terdengar di telinga Baekhyun yang tengah mengejarkan soal-soal matematika yang ia miliki. Tanpa menunggu Baekhyun menyahut, pintu pun terbuka dan menampakan sosok ibunya.

“Ada apa, bu?” tanya Baekhyun dengan kacamata yang hampir tidak pernah dipakainya setelah dibeli.

“Kau tahu ke mana Dayeon? Dia belum juga pulang dan sebentar lagi malam.” Tanya ibu Baekhyun. Nada khawatir tertangkap di telinga Baekhyun.

Kemudian Baekhyun melepas kacamatanya dan meraih ponsel yang tergelatak di atas nakas di sebelah tempat tidurnya. Kemudian menyentuh layar di sana.

“Ponselnya tidak aktif. Ibu sudah mencoba meneleponnya tadi.” Ujar ibunya lagi.

“Aku akan mencarinya.” Kata Baekhyun sembari melangkah menuju pintu, mengambil jaket yang tersampir di belakang pintu, lalu keluar dari kamar ketika ibunya menyingkir dari ambang pintu untuk membiarkan ia keluar.

Ketika Baekhyun berada di luar rumah, bisa dilihat butiran kecil berwarna putih jatuh dari langit. Salju pertama tahun ini.

Setelah merapatkan jaketnya, ia pun melangkahkan kakinya dan keluar dari pagar rumah untuk mencari Dayeon di sekolah. Seharusnya jika Dayeon ingin pulang telat, gadis itu memberitahu pada ibunya, seperti yang ia lakukan jika hendak pulang telat karena ada latihan klub tari. Tetapi, belakangan ini Dayeon kelihatan tidak pernah pergi latihan lagi. Apa dia keluar?

Tidak jauh setelah ia berjalan dari rumahnya, masih berada di sekitar komplek, ia mendapati Dayeon dan Taemin yang berjalan bersama sembari tertawa. Dayeon mengulurkan tangannya untuk mengambil butiran salju yang turun, lalu Taemin sesekali mengangkat tangannya dan meletakkannya di atas kepala Dayeon untuk menutupi kepala Dayeon.

Entah dari mana datangnya, tetapi Baekhyun merasa marah dan kesal melihat kedekatan keduanya. Ia merasa seperti dulu, saat Taemin selalu menjadi orang pertama yang dicari adiknya, Jinhyun, namun pada akhirnya keluar seorang diri saat peristiwa itu.

“Oh, Baekhyun-a,” ucap Dayeon ketika ia melihat Baekhyun yang berdiri menghadap ke arahnya dan Taemin. “Kau mau ke mana?” tanyanya melihat Baekhyun yang mengambil langkah berbalik arah dengannya.

“Ibu menyuruhku untuk mencarimu.” Jawab Baekhyun. Ekpresi dan nada suaranya tajam dan dingin. Seperti Baekhyun yang dulu, menurut Dayeon.

Dayeon tidak langsung menanggapi jawaban Baekhyun dan hanya menatap kekasihnya itu heran. Ia bertanya-tanya mengapa cara bicara Baekhyun berubah ke awal lagi. Dan baru saja ia hendak mengatakan sesuatu, Baekhyun segera membalikkan badannya dan pergi begitu saja.

Di sebelahnya, Taemin hanya menatap Dayeon yang masih berdiri di sampingnya, melihat ekpresinya yang terlihat terkejut dan juga sedih karena sikap Baekhyun barusan.

Kemudian Dayeon mengalihkan pandangannya dan juga merubah ekpresinya. “Terima kasih sudah mengantarku pulang.” Ucapnya dengan senyum lebar seperti tidak ada yang terjadi beberapa detik sebelumnya.

Taemin tidak menjawab, hanya menatap Dayeon dengan ekpresi mencari tahu. Dan ia baru menyadari bahwa Dayeon sangat pintar berakting, melihat bagaimana senyum yang diperlihatkan gadis itu sangat biasa dan natural. Sama sekali tidak terlihat dipaksakan.

“Sampai besok.” Lanjut Dayeon sembari melangkah pergi dengan melambaikan tangannya pada Taemin.

Taemin mengulas senyum dan membalas lambaian Dayeon. Ia masih berdiri di tempatnya hingga punggung Dayeon menghilang di persimpangan.

~œ~œ~œ~

Sudah lebih tiga hari Baekhyun dan Dayeon saling diam, sama sekali tidak berbicara. Awalnya Dayeon mencoba bersikap biasa saja, namun Baekhyun justru mengabaikannya, seakan tidak ada Dayeon di sebelahnya saat di kelas atau di meja makan.

Dayeon sendiri akhirnya lelah dan lebih memilih untuk ikut diam. Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Baekhyun, mengapa sikapnya menjadi lebih buruk dibanding awal mereka bertemu. Bahkan ibu Baekhyun juga heran dengan sikap Baekhyun yang berubah lagi dengan tiba-tiba dan bertanya pada Dayeon apa yang terjadi. Namun Dayeon hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Apa karena ia pulang bersama Taemin? Dayeon berpikir. Tidakkah Baekhyun kelewatan jika dia memang marah padanya karena pulang bersama Taemin?

“Dayeon-a, ada Kris di bawah.” Ibu Baekhyun yang baru saja membuka pintu kamar saat Dayeon tengah mengerjakan soal-soal latihan memberitahu.

“Kris?” kening Dayeon berkerut mendengar nama Kris. Sepupunya itu jarang sekali pergi berkunjung, kecuali ada hal penting yang ingin disampaikannya.

“Ya, dia bilang ingin mengajakmu makan malam di luar.”

“Oh,” gumam Dayeon masih terlihat bingung, mencari alasan yang tepat untuk maksud kedatangan Kris kemari dan mengajaknya makan malam di luar. “Aku ganti pakaian dulu.” Ucapnya sembari melayangkan senyum sopan pada ibu Baekhyun.

Setelah ibu Baekhyun kembali menutup pintu kamarnya, Dayeon segera menutup bukunya dan membereskan peralatannya di atas meja belajar, lalu menghampiri lemarinya untuk mencari pakaian hangat.

Musim dingin telah dating dan cuaca di luar pasti akan sangat dingin walaupun salju belum menutupi jalanan karena setelah kali pertama butiran es itu turun di tahun ini, tidak lagi terlihat tanda-tanda salju akan turun lagi minggu ini. Dan mungkin baru minggu depan jalanan akan dipenuhi tumpukan salju meskipun tipis.

“Hei, Kris,” sapa Dayeon setelah ia mencul di ruang tamu dengan pakaian hangat dan tas tangannya.

You’re ready?” Tanya Kris dengan logat Kanadanya yang kental.

Yes,” jawab Dayeon singkat, lalu keluar dari rumah bersama Kris.

~œ~œ~œ~

What with your expression?” Tanya Kris pada Dayeon ketika keduanya berada di dalam mobil. Dan ya, belakang ini memang ekpresi Dayeon cukup buruk. Terima kasih untuk Byun Baekhyun.

“Kenapa?”

You don’t look good. What’s wrong?” Kris bertanya sembari sesekali melirik Dayeon yang duduk di sebelahnya.

There’s nothing wrong, Kris.” Jawab Dayeon mencoba semeyakinkan mungkin. Lalu, “Ngomong-ngomong, ada apa?” tanyanya.

“Akan kuberitahu nanti. Tidak baik mengobrol saat mengemudi.”

Dayeon memutar bola matanya, membuat Kris terkekeh. Siapa yang memulai mengajaknya mengobrol lebih dulu? Apakah dirinya? Bukan, itu Kris.

Selalu saja Kris berusaha untuk melucu di saat yang tidak tepat dan juga tidak lucu.

Tidak lama setelah itu, mobil yang dikendarai oleh Kris berhenti tepat di depan sebuah restoran western. Sudah bisa Dayeon duga jika Kris merindukan masakan negara tempat kelahirannya, jadi ia memintanya kemari untuk menemaninya, dan juga membicarakan sesuatu.

“Jadi, Dayeon,” ucap Kris setelah pelayan restoran meninggalkan mereka berdua dengan makanan dan minuman di meja.

Dayeon mengangkat kepalanya. “Mm?” sahutnya dengan pandangan menunggu.

“Ayahmu akan bebas.”

Mata Dayeon langsung melebar begitu mendengar perkataan Kris. Untung saja belum ada makanan yang masuk ke tenggorokkannya sehingga ia tidak tersedak sangking terkejutnya dengan berita yang disampaikan oleh Kris.

Melihat ekpresi Dayeon, Kris pun tersenyum lalu menyendok makanannya. “Akhirnya ayahku bisa memberikan bukti yang kuat jika ayahmu tidak bersalah. Prosesnya akan berlangsung di hari akhir ujianmu. Sekitar satu minggu lagi.” Ia menjelaskan.

“Kau serius?” pekik Dayeon setelah sadar dari keterkejutannya. Dan ketika Kris menjawabnya dengan anggukkan kepala, senyum lebarnya muncul dengan mata yang berkaca-kaca sangking senangnya ia mendengar kabar jika ayahnya akan bebas.

Air muka Kris berubah ketika ia teringat sesuatu, namun Dayeon tidak menyadarinya dan meneruskan makannya dengan senyum lebar yang masih bisa terlihat di wajahnya.

Byun Baekhyun. Kris tahu hubungan antara Baekhyun dan Dayeon, dan tentu saja setelah ayah Dayeon bebas, Dayeon akan kembali ke Seoul—atau mungkin mereka akan pindah ke Kanada bersamanya karena perusahaan ayah Dayeon yang gulung tikar.

Melihat betapa senangnya Dayeon saat ini membuat Kris tidak tega untuk memberitahu dua kemungkinan itu. Biar saja Dayeon tahu sendiri karena cepat atau lambat dia akan berpikir seperti itu.

~œ~œ~œ~

“Bagaimana dengan Baekhyun?” Taemin bertanya ketika dirinya dan Dayeon tengah berada di perpustakaan saat jam istirahat.

Dayeon yang tengah sibuk menyalin di notenya langsung menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu kembali melanjutkan. “Memangnya ada apa?” tanyanya tanpa menolehkan kepala dari buku di hadapannya. Berpura-pura jika tidak ada yang terjadi.

Taemin tidak menjawab ataupun berniat menjelaskan pada Dayeon tentang pertanyaannya. Dayeon tahu apa maksudnya, ia tahu benar akan itu. Ia hanya menatap gadis itu, menunggu Dayeon untuk menocba berkata jujur padanya.

Jika dirinya tidak bisa memiliki Dayeon, setidaknya ia bisa menjadi orang yang membuat gadis itu nyaman, baik membagi cerita bahagianya maupun dukanya.

Menyadari jika Taemin menatapnya terus-menerus, Dayeon mengangkat kepalanya. Dan benar saja jika Taemin terus saja menatapnya, menunggunya menjawab pertanyaan.

Kemudian Dayeon menghela napasnya dan meletakkan alat tulis yang sejak tadi digenggamnya di atas buku. “Kenapa kau ingin tahu?” tanyanya sambil memiringkan kepalanya heran.

Sebenarnya Taemin tahu jika dirinya tidak berhak mengetahui apa yang terjadi tentang hubungan Dayeon dan Baekhyun. Namun ia tahu jika dirinya terlibat di dalamnya, dan ia tidak ingin membuat Baekhyun semakin membencinya karena hal ini.

Lalu, “Karena Baekhyun temanku.” Ia mengucapkannya, membuat Dayeon melongo sesaat.

Dayeon terkejut—sangat terkejut. Dirinya tahu bagaimana hubungan Baekhyun dan Taemin yang jauh dari kata ‘teman’, tetapi sekarang apa? Apa yang barusan Taemin katakan? “Teman?” ulangnya dengan wajah tak percaya.

Alih-alih menjawab, Taemin hanya menunjukan senyuman kecilnya yang terlihat sedih, membuat Dayeon bertanya-tanya apa yang terjadi.

~œ~œ~œ~

Hingga hari terakhir ujian, Baekhyun masih juga diam pada Dayeon. Begitu juga sebaliknya karena Dayeon tidak tahu harus berbuat apa karena jika ia berbicara, Baekhyun tidak akan menanggapinya.

Seperti sekarang ini, dirinya dan Baekhyun tengah berjalan keluar halaman sekolah. Baekhyun berjalan dua langkah di depannya. Karena ini banyak murid yang melihat keduanya lalu berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya, menggosipi dirinya dan Baekhyun, tentu saja.

Tetapi ia ingin sekali menyelesaikan tentang kesalahpahaman ini. Ya, sebenarnya ia tahu mengapa Baekhyun bersikap diam padanya—tentu saja dia tahu. Namun ia tidak mengerti mengapa Baekhyun bisa semarah itu. Apa hanya dekat dengan Taemin bisa membuatnya sebegitu marah? Dan walaupun begitu, ia tidak menjauhi Taemin hanya karena alasan itu. Taemin adalah teman baiknya selain Hyeju dan Riae.

“Baekhyun-a,” panggil Dayeon dengan volum suara yang tidak terlalu keras ataupun pelan. Karena Baekhyun tetap bergeming, ia pun memanggil kembali. “Byun Baekhyun.”

Karena Baekhyun tetap bergeming dan mengabaikan panggilannya, Dayeon menghela napasnya gemas. Kris bilang jika ayahnya akan bebas sekitar minggu ini atau minggu depan, jika Baekhyun tahu tentang ini, kira-kira bagaimana ekpresinya? Tentu saja ia tidak berpikir jika dirinya akan terus tinggal di rumah keluarga Byun terus menerus bukan?

“Sampai kapan kau akan diam seperti ini?” tanya Dayeon, mulai kesal karena sikap diam Baekhyun yang menurutnya sangat kekanakan. Lalu, “Taemin sahabatku sekarang. Seperti kau dan Eunji.”

Barulah Baekhyun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Dayeon. Sebelum menatap tepat pada mata Dayeon, ia melirik sekelilingnya terlebih dahulu. Lalu, “Kita bicara di rumah.” Ucapnya, membuat Dayeon mendengus.

Dipikirannya terlintas sebuah pertanyaan, apa Baekhyun malu? Dan pertanyaan tersebut membuat wajah Dayeon berubah masam seketika. Terlebih lagi saat Baekhyun kembali melanjutkan langkahnya.

Baru saja Dayeon hendak melanjutkan langkahnya kembali dan mengikuti Baekhyun, ia merasa jika ada yang menahan pergelangan tangannya. Ia pun menoleh dan mendapati seseorang berdiri sambil menatapnya dengan pandangan yang ia tidak mengerti.

“Lee Taemin…,” gumamnya tanpa sadar, membuat Baekhyun yang masih bisa mendengarnya menghentikan langkah dan membalikkan badannya.

Dalam beberapa detik ke depan, tidak ada yang mengatakan sepatah katapun. Mereka saling diam dalam atmosfer yang tidak menyenangkan. Baekhyun dan Taemin yang saling bertatapan, dengan Baekhyun yang menatap tajam Taemin, dan Dayeon yang menatap heran ke arah Taemin.

Kemudian pandangan Taemin dialihkan pada Dayeon yang tidak bergerak dan tidak mencoba melepaskan pergelangan tangannya yang dipegang oleh Taemin. Tentu saja pemandangan itu membuat Baekhyun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kebenciannya pada Taemin justru semakin bertambah melihatnya.

Lalu tanpa diduga-duga, Taemin membuka bibirnya, dan, “Aku menyukaimu, Song Dayeon.” Pernyataannya membuat mata Dayeon melebar dan hampir keluar dari rongganya, serta membuat Baekhyun melayangkan tinjunya tepat di wajah Taemin.

~œ To be continue œ~

a/n: Aku benar2 kehilangan cerita inti dari the real Black Swan! Astagfirullah… makin lama ceritanya makin melenceng dari jalur dan… aku ingung sendiri. Jadi maafkan aku kalo emang lama buat lanjut per chapternya, apalagi udah H-36 UN HUUUUUUUUUUUUW. Hari senin ini aku udah ujian sekolah, tapi karena BS rampung sebelum hari minggu, jadi aku akan publish~~ jangan ada yang tanya CW ya, CW pun juga ceritanya melenceng jauh dari cerita awal. Dan buat BS, mungkin endingnya ini ada di chapter 15 atau 16, dan juga, tiap chapternya aku gak buat 20 hal lagi karena kebanyakan malah bikin lama selesai-in juga-_- jadi, terus tungguin dan aku butuh support kalian bangettttzzzzzz hehe. So, PPYONG!!!!!~~~

69 responses to “Black Swan – Chapter 12

  1. wah..baekhyun cemburu..hehe..tp taemin berani jg ngakuin perasaanny pas lg ada baekhyun..makin seru,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s