[LIFE/THREE] Porifera

[LIFE] Porifera

(c)missfishyjazz

Kris Wu | Yoon Eunhye

Romance, Marriage Life, lil-Sci-fi | PG-17 | One-Shot

.

Porifera

“Seandainya hati manusia seperti tubuh porifera..”

 

“KRIS! Itu berbahaya!” Eunhye menarik kuat tangan rekan satu tim penelitiannya. Kris baru mengambil satu tabung dengan larutan berwarna gelap. Label berbahaya sudah berada di depannya.

“DIAM!”

“Bagaimana kau bisa menjadi peneliti jika kau justru membahayakan orang yang kau teliti?!”

“ITULAH PENELITI, EUNHYE! Kita mencoba! Kita meneliti!”

“Tapi apa kau pikir itu meneliti, jika kau tahu bahaya methyl propionate dan menggunakannya untuk anak-anak malang itu!”

Kris acuh tak acuh, ia masih terus mencampurkan methyl propionate ke dalam larutan warna warninya. Asap-asap kecil tak jarang mengebul, bahkan tak jarang asapnya menghitam, pertanda karbon dioksidalah yang terjadi dalam pembakarannya.

“Kris, bahkan tanpa bantuan penelitian ini mereka akan mati karena wabah ini, aku mohon jangan pertambah parah penderitaan mereka.” Eunhye berusaha menghalangi tubuh Kris yang hendak berdiri, tangannya ia rentangkan lebar-lebar. Kris melihatnya tanpa belas kasih dan langsung melengos pergi dengan tabrakan pundak yang ia ciptakan.

“Kris..”

 

Eunhye menatap kepergiaan Kris dengan sedih. Bagaimana bisa wadah ini merubahmu seperti ini? Air matanya menetes, satu persatu. Jatuh dengan menyedihkan di garis wajah sang empunya. Matanya kemudian teralih pada tabung-tabung reaksi yang terhubung dan menyalurkan cairan yang kini berganti menjadi kuning pias.

 

###

 

“Apa sebentar lagi aku akan mati?” Eunhye mengusap kepala Chen kecil yang menatapnya sedih. Dua mata bocah kecil itu mengerjap kemudian berkaca-kaca. Eunhye menggelengkan kepalanya lembut, masih mengusap Chen sekalipun dalam balutan sarung tangan putihnya.

“Tidak. Kau akan sembuh. Kami sedang mencari obat untuk wabah ini.”

“Tapi minggu lalu Jinwoo mati, dan minggu lalunya lagi Jackson. Sebelumnya juga kau selalu bilang pada kami bahwa kami tidak akan mati.” Eunhye tidak mampu memberikan senyumnya yang tertutup masker, namun ia tahu, sekalipun tanpa master ia tak sanggup tersenyum. Anak-anak ini terlalu malang. Wabah ini benar-benar merenggut cahaya-cahaya kecil dunia.

“Kalau begitu kau harus bertahan hidup sampai obat itu datang.”

“Tidak. Aku lebih baik mati karena wabah ini daripada minum obat. Minseok, bocah kamar seberang, sekalipun aku hanya melihatnya sebentar, ia meninggal satu jam setelah minum apa yang orang-orang sepertimu katakan sebagai obat. Dia menjadi berbusa, bengkak dan membiru tapi kemudian kurus dan mati seperti tulang dan kulit.”

“Chen..”

“Pasien 05A89, Chen Kim. Anda akan mendapatkan obat hari ini.” Seorang pria dengan jubah dokter putih, masker, penutup kepala dan sarung tangan datang menjeda percakapan mereka. Dan itu jelas membuat Eunhye bingung. Bagaimana bisa tiba-tiba Chen yang terpilih? Ini bukan saatnya Chen menjadi percobaan.

“Dokter.. Dokter..” Chen menggelayut di tangan Eunhye ia berusaha menggoyang-goyangkan dan bertahan dengan pegangan tangannya. Tidak, baru saja ia mengatakan bahwa obat itu menjadi mimpi buruk baginya dan kini ia harus menerima obat itu? Ia lebih baik mati dalam tidur malam yang dingin seperti Jinwoo dan Jackson daripada mati mengerikan seperti Minseok.

“Kenapa Chen? Ia memiliki nomor jauh di belakang Minseok!”

“Ketua memilihnya secara acak hari ini.”

“Kris? Apa yang orang itu pikirkan hingga ia seperti melakukan permainan membunuh orang secara acak?”

“Maafkan kami Dokter Yoon, tapi kami tidak berhak ikut campur keputusan ketua. Biarkan kami membawa Chen sekarang.”

“Dokter..” Chen masih menggelayut di lengannya, begitupula Eunhye yang memberikan pertahanan dengan terus menyembunyikan Chen di baliknya. Eunhye tidak ingin semakin banyak lagi korban yang berjatuhan karena percobaan gila Kris. Kris bukannya menyelamatkan mereka yang terkena wabah penyakit baru mematikan ini melainkan mempercepat jarak menuju kematian bahkan dengan cara yang jauh lebih mengerikan.

 

“Yoon Eunhye, berikan dia kepadaku.” Tidak. Eunhye melirik, Kris berdiri tegap disana. Lengkap dengan garis wajah angkuhnya dan ekspresi dingin tak terbaca.

“Dokter aku tidak mau..”

“Kris, dia tidak ingin. Lagipula kau tidak bisa melanggar kesepakatan yang kita buat untuk memanggil anak-anak sesuai urutan nomor mereka.”

“Anak-anak setelah Kim Minseok terlalu lemah untuk diberi injeksi obat, Yoon Eunhye. Aku hanya berusaha mengambil anak dengan kondisi yang paling mendekati stabil untuk diberikan injeksi.” Kris sama sekali tak mengubah notasi bicaranya, ia dingin, lurus dan tak berperasaan.

“KRIS! Apa kau tidak membayangkan bagaimana trauma setiap anak di tempat ini melihat teman-teman mereka satu persatu mati bukan karena wabah ini justru karena orang-orang yang mengatakan bahwa mereka mampu menyembuhkan wabah ini?!”

 

Kris tidak menjawab, ia masih berdiri di tempatnya. Sementara Eunhye mungkin berpikir Kris mengubah sedikit pikirannya hingga ia membalikkan tubuhnya melihat kondisi Chen yang gemetar ketakutan.

“Tenang saja, kau—KRIS!”

“Dokter!” Chen meraung sekuat-kuatnya begitu tangan panjang dan lebar Kris meraihnya dan menyeretnya paksa. Chen direnggut sekuat tenaga dari Eunhye yang lengah. Eunhye langsung melihat ketakutan dan air mata yang mengalir deras dari mata bocah yang belum genap 10 tahun itu.

“KRIS! Hentikan semua ini! Hentikan mengambil nyawa anak-anak itu! KRIS!” Eunhye mengejar Kris yang masih enggan mendengarnya dan terus membawa Chen yang terus meronta. Chen digendong terjuntai hingga hanya perutnya saja yang berada di pundak pria tinggi besar yang sedang dikejar Eunhye itu. Sementara kepalanya terkulai terbalik. Wajahnya merah dan seluruh tubuhnya bergetar ketakutan seakan malaikat pencabut nyawa telah memanggilnya.

 

“KRIS!” Eunhye menghalangi jalan pria itu. Ia merentangkan tangannya lebih lebar dari ketika dua minggu lalu ia melarang Kris dengan ramuannya yang semakin gila di laboratorium.

“Bagaimana jika anakmu yang berada di posisi Chen? Atau bagaimana jika anakku yang berada di posisinya? ATAU ANAK KITA?! Apa kau tega melakukannya jika Donghyuk yang ada di posisi Chen sekarang? Apa kau tega jika Chen adalah Mark?!” Eunhye mendorong Kris kasar, ia berusaha meraih Chen dalam genggamannya sampai Kris menepisnya keras. Pria itu memasang wajah tak peduli. Ia mungkin sempat memikirkan apa yang Eunhye—istrinya—katakan tapi ia tidak ingin mencampurkannya dalam beban pikiran yang sudah terlanjur terlalu banyak.

 

“Ada hal-hal yang harus kau ingat Eunhye. Pertama, Mark sudah meninggal bahkan karena wabah yang sama yang menjadi alasanmu melindungi bocah ini. Dan kedua, sekalipun Donghyuk yang berada dalam posisi ini.. Aku bahkan tak bisa melihat dia sebagai anak bungsuku. Aku adalah dokter dan Donghyuk adalah pasien.” Selanjutnya Eunhye tidak sanggup mendengar rontaan Chen, ia terus berteriak ketakutan berusaha minta pertolongan Eunhye. Tapi wanita itu tidak sanggup lagi. Ia bahkan tak sanggup meredam rasa sakit yang selama satu tahun ini ditorehkan Kris padanya. Tidak lagi.

 

###

 

1 year ago..

 

Appa!” Donghyuk berlari cepat begitu melihat ayahnya muncul dari pintu utama. Kris menenteng jas dokternya dan langsung merentangkan tangan menerima Donghyuk dalam pelukannya.

Ya, anak ini. Kau sangat manja untuk ukuran anak laki-laki.”

Heol.. Biarkan saja. Sekalipun aku manja yang penting nanti kalau sudah besar aku akan seperti appa! Profesor keren!”

“Benarkah? Mana buktinya?” Kris mengecup pipi putranya ketika Donghyuk bergerak malu. Donghyuk kecil mash berusia lima tahun sulit baginya untuk mengerti hal-hal yang lebih rumit dari sekedar istilah dasar kedokteran.

 

“Dimana hyung mu?” Kris mengitarkan pandangannya mencari anak tertua dan istrinya.

Hyung dan eomma sedang di belakang. Biasa mereka meneliti tanaman herbal yang baru datang.”

Ahh.. Kalau begitu ayo kita ke belakang.” Donghyuk mengangguk riang dan menggandeng erat tangan ayahnya. Ia melompat-lompat dengan gembira sembari terus menarik ayahnya menuju ibu dan kakaknya.

 

“Ibu.. Ayah datang!” Donghyuk melepaskan tangan ayahnya dan berlari menuju Eunhye yang sedang merapikan rambut coklat tembaganya.

“Oh, hai sayang!” Eunhye menepuk-nepuk tangannya, ia tidak langsung berlari ke suaminya. Ia terlebih dulu memastikan Mark telah mengembalikan seluruh peralatan yang baru mereka pakai ke dalam keranjang. Setelahnya ia masih harus membersihkan tubuh Mark dari kotoran yang masih menempel.

 

“Mark, luka apa ini?” Eunhye sedang mengusap pundak putranya ketika ia melihat luka mirip kalajengking yang menjalar dari pangkal leher hingga pundak. Kris yang mendengar hal itu langsung berjalan mendekat, ia melihat hal itu ikut tercengang. Luka itu tampak mengering dan menghitam, terlihat mengerikan.

Iuh itu mengerikan hyung, apa yang terjadi?”

“Ini.. Aku juga tidak tahu. Ini ada setelah kunjungan rutin anak seusiaku ke hutan untuk perayaan hari anak kemarin.”

“Apa kau terkena sesuatu?” Kris memutar-mutar tubuh putranya melihat apa ada gejala aneh lagi yang terjadi. Tidak ada satu hal spesifikpun yang muncul kecuali ia yang baru menyadari Mark yang terlihat lebih pucat dan..

“Eunhye kau memakaikan lensa kontak padak Mark?” Eunhye berubah cemas mendengarnya. Lensa kontak? Mark bahkan tidak memiliki gangguan penglihatan apapun.

“Tidak.”

“Lalu kenapa warna irisnya berubah menjadi abu-abu?” Eunhye melebarkan matanya begitu mendengar apa yang Kris ucapkan. Itu tidak mungkin? Warna mata manusia tak mungkin berubah kecuali ia menjadi tua dan ia tahu benar warna mata Mark adalah warna matanya, cokelat.

“Mark, apa yang kau rasakan? Apa teman-temanmu juga?”

“Ya, kemarin Suga dan Seungyoon mengeluh hal yang sama dan nyaris semua teman sekelasku warna matanya berubah menjadi abu-abu.”

“Kris.. Apa yang terjadi?”

 

Kris terduduk di tanah. Kepalanya berputar dan berubah pening. Beberapa minggu yang lalu ia mendengar ada sebuah bakteri dalam salah satu jenis biota laut baru hasil pengembangan biologis dari beberapa penyakit mematikan yang sedang diteliti oleh ilmuwan Perancis. Ia sempat mendengar bahwa para ilmuwan itu baru saja kecurian dan tabung-tabung berisi bakteri yang hanya mampu menyerang anak itu telah tersebar ke seluruh dunia. Dan tepat dua minggu lalu ia mendengar bahwa Xiamen, Jimei, dan Siming terserang wabah aneh pada anak-anak dengan ciri luka lebar menggelep pada pundak atau punggung, warna mata yang akan berubah menjadi abu-abu, sendi kaki yang akan lebam, peradangan paru-paru dan terakhir antibodi yang dari hari ke hari akan menurun drastis. Kabar terakhir bahkan mengatakan hanya orang dewasa dan anak berlisensi dokter dengan sertifikasi mahal yang bisa menyebrang melalui Pelabuhan Dongju dan Maluan Bay.

 

Ptelonomun xycherimst.” Kris menyebut nama itu dengan mata merah yang penuh keputus asaan. Tidak ada. Tidak ada obat untuk penyakit baru yang bahkan penemunya saja belum selesaikan penelitiannya.

“Kris.. Ini bukan penyakit berbahaya kan?”

“Ilmuwan Perancis bahkan belum menemukan struktur organismenya, Eunhye.” Eunhye terduduk, ia sudah menangis sesenggukkan. Bagaimana hal ini bisa menyerang putra sulungnya yang bahkan baru satu tahun duduk dibangku sekolah dasar? Bagaimana bahaya semacam itu bisa begitu dekat dengan keluarganya yang selalu mencegah penyakit itu. Ia melihat Mark dan Donghyuk yang menatapnya kaget. Tumbuh di keluarga ilmuwan tentu sudah biasa mendengar hal seperti yang baru Kris ucapkan.

“Ayah..”

“Mark..”

 

###

 

“Selamat ulang tahun Mark.” Air mata tak mampu ia dustai begitu melihat nisan kecil dengan batu granit putih besar di depannya. Di depan granit itu ada pigura ukuran standar berisi foto putranya yang tersenyum manis. Mark tersenyum dan menatap kamera dengan bahagia. Foto itu diambil di hari pertama ia masuk ke sekolah dasar. Mark sangat semangat apalagi ketika melihat Donghyuk yang menatapnya masam.

“Semoga kau tenang di sana, Nak.” Eunhye mengusap foto putranya dengan sayang. Tepat dua bulan setelah hari itu Mark menghembuskan nafasnya dengan tenang dalam sebuah malam yang dingin, tepat di genggaman tangannya. Mark berpesan agar ia bisa menjaga Donghyuk supaya tidak seperti dirinya. Mark tersenyum dalam tidur panjangnya. Eunhye masih ingat benar saat itu. Mark padahal sangat ingin Kris juga menggenggam tangannya hingga Tuhan memanggilnya kembali tapi ayahnya sudah terlibat dalam penelitian pencarian penawar dari bakteri yang merenggut nyawa teman-teman Mark sebelumnya.

 

Eunhye perlahan-lahan berjalan menapaki jalan-jalan kecil menuju mobilnya. Ia melihat suasana sekitar pemakaman kecil milik keluarganya yang asri dan tenang. Seandainya ia bisa hidup di lingkungan seperti ini lagi. Bukan di tengah hiruk pikuk kota yang dihantui kecemasan wabah berbahaya.

 

“Selamat siang, Profesor Yoon Eunhye.” Eunhye terkaget begitu melihat orang-orang dengan seragam kepolisian mendatanginya. Ia buru-buru menghapus air mata yang sedari tadi telah mengalir dari matanya.

“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?”

“Kami dari badan satuan keamanan kepolisian Korea Selatan dan badan keamanan PBB. Kami hendak melakukan penyelidikan terhadap penelitian yang dilakukan Profesor Wu Kris terhadap anak-anak yang mengidap wabah dari bakteri Ptelonomun xycherimst.”

“Memang ada apa?” Eunhye mulai mengendus hal-hal yang tidak cukup baik di sekitarnya.

“Kami menerima laporan dari seorang anak yang kabur dari pusat rehabilitasi yang dibuat oleh Profesor Wu Kris. Ia mengatakan bahwa satu persatu temannya di sana meninggal tidak hanya karena wabah ini tapi juga justru karena apa yang para ilmuwan disana katakan sebagai obat.”

Eunhye tercengang di tempatnya. Ia sudah menduga. Ia sudah menduga bahwa pada akhirnya ulah amoral suaminya akan tercium publik. Sebagai kepala divisi penanganan mental bagi anak-anak ia tahu ada beberapa anak yang menghilang seperti Hanbin, Jinhwan, dan Jin. Tapi ia selalu berusaha menutupinya dengan langsung menghapus data mereka pada database yang juga menjadi kekuasaannya.

 

“Apakah saya boleh tahu siapa dan bagaimana keadaan anak itu?” Beberapa polisi itu saling menatap sebelum Eunhye tersenyum meyakinkan.

“Sebenarnya tidak hanya satu anak yang melapor pada kami, ada lima anak. Kim Hanbin, Kim Jinhwan, Kim Seokjin, Lalice Manoban dan Lee Hayi. Sekarang keadaan mereka sudah aman, kondisi mereka semakin stabil setelah kami mengirim mereka ke Perancis.”

“Jadi ilmuwan Perancis telah berhasil menemukan penawarnya?”

“Ya. Sekalipun dari yang kami ketahui cara pengobatan mereka cukup keras tapi sudah ada sekitar 40 dari 200 anak yang masuk ke sana telah keluar dengan sertifikasi sehat kembali.”

“Benarkah?” Kedua mata Eunhye berkaca-kaca. Akhirnya bantuan dan pertolongan itu datang. Akhirnya semua rasa putus asanya akan segera mencapai akhirnya.

 

“Jadi apakah anda bisa memberi keterangan terhadap Profesor Kris Wu?”

 

###

 

Kris masih sibuk dengan campurannya yang lain hari ini. Ia tidak mempedulikan jam yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Kacamata penahan radiasinya sudah berembun sejak pukul tujuh tadi, tapi dia nampak tak peduli.

“Kris..”

“Aku masih sibuk jika kau menyuruhku untuk tidur sekarang.”

Eunhye meletakkan nampan berisi kopi hitam pekat yang mengepul panas di atas meja kecil dekat meja percobaan suaminya. Bibirnya membentuk senyum pahit ketika melihat gelas berisi teh hangat yang pagi tadi di letakkan di sana masih utuh.

“Aku tahu kau masih bekerja tapi setidaknya kau harus memasukkan sesuatu ke tubuhmu.”

“Aku sedang tidak membutuhkannya sekarang.”

Eunhye bisa melihat pundak bidang suaminya yang tetap tenang sekalipun tangannya sedang membentuk senjata biologis untuk anak-anak malang di luar sana.

“Kris, apa kau tidak mendapat perkembangan dari luar tentang apakah Perancis mungkin sudah menemukan penawar wabah ini?”

“Tidak.”

“Benarkah?”

“Ya.”

 

Dalam hatinya Eunhye meratapi kebohongan suaminya. Ia menatap suaminya dengan pilu. Semenjak kematian Mark, Kris semakin terobsesi dengan penelitian ini. Ia semakin melupakan keberadaannya dan Donghyuk, anak lelakinya yang lain. Kris begitu terpukul ketika ia mampu meneliti begitu banyak bakteri dengan mudah namun anaknya justru meninggal karena bakteri yang tidak sempat ia teliti.

 

Sejak Mark meninggal Kris tidak pernah lagi kembali ke rumah, ia tinggal di laboratoriumnya mendirikan rumah bagi para anak-anak yang terinfeksi dan merawat mereka. Awalnya Eunhye mengira hal itu baik-baik saja, sampai ia memutuskan untuk bergabung dan tercengang dengan kematian beberapa anak yang tidak wajar dan tidak sesuai dengan data yang ia dapat. Mereka mati membengkak tapi kemudian menjadi kurus kering hingga tersisa hanya kulit dan tulang. Sementara dari data yang ia dapat harusnya mereka mati dengan tenang atau paling parah sebelumnya mereka hanya akan kejang ringan. Kris telah mengubah tujuan penelitian ini menjadi ajang pengambilan nyawa yang jauh lebih parah.

 

“Kris..”

“Apalagi?”

“Aku harap kau pulang. Donghyuk.. Dia merindukanmu.”

 

Can you come back home

Don’t leave me at the end of the cold world but come back to my side

2NE1 – Come Back Home

 

###

 

“EUNHYE! YOON EUNHYE!” Eunhye memalingkan kepalanya. Ia melihat Kris yang berjalan dengan langkah kalap dan wajah memerah ke arahnya.

“Tolong periksa sekali lagi tekanan darahnya.” Eunhye menyerahkan Youngjae pada Soyou sebelum ia merapikan pakaiannya dan berjalan perlahan ke arah Kris yang seakan ingin memakannya hidup-hidup.

 

“Ada apa?”

“ADA APA? Kau masih bilang ada apa?!” Kris mengguncang bahu istrinya kuat. Matanya melebar dan menatap tajam kedua mata redup Eunhye yang sama sekali tak bereaksi. Eunhye justru menepis tangan Kris di bahunya dan mengibas-ngibaskannya seolah bahunya baru tersentuh kotoran.

“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Aku tidak pernah mengerti.” Selanjutnya yang bisa Kris lihat adalah dua mata istrinya yang berkaca-kaca. Eunhye nampak seperti kristal es yang bila terjatuh bisa dengan mudah terpecah menjadi kepingan kepingan kecil.

“DONGHYUK! Kau bilang padaku untuk pulang kan? Aku sudah pulang! Dan kau tahu apa yang kau temui? RUMAH KITA BAHKAN SUDAH KAU JUAL! KEMANA DONGHYUK?!”

“Oh, jadi setelah dua bulan aku memohon kau untuk pulang baru hari ini kau pulang? Kau yang kemana saja Kris?!”

“YA! Aku baru pulang! Dan ketika aku pulang rumahku telah dijual dan anakku yang tersisa tidak kuketahui keberadaannya!” Kris membalikkan meja di dekatnya penuh emosi. Tidak peduli dengan botol-botol berisi nutrisi untuk anak-anak yang berada di atasnya semburat ke lantai.

“Kau masih mengingat Donghyuk? Kau masih bisa mengatakannya sebagai anakmu yang tersisa? Dia, Donghyuk bahkan selalu bertanya apakah kau sebenarnya benar-benar mencintainya atau tidak setiap malam! Ia selalu bertanya kenapa kau berubah semenjak Mark meninggal, dia selalu pergi diam-diam setiap minggu malam ke gereja hanya untuk berdoa pada Tuhan agar Tuhan mengembalikan kakaknya! Agar ketika kakaknya kembali sekalipun memang ayahnya lebih mencintai kakaknya setidaknya ia masih bisa melihat ayahnya!” Eunhye mendorong dada Kris keras, membiarkan suaminya tersungkur jatuh. Ia bisa melihat Kris yang langsung terdiam mendengar penjelasannya, mendengar kepedihan yang selama ini Donghyuk rasakan sendiri tanpa mampu membaginya dengan siapapun ketika yang ia sebut tempat berbagi seperti tak mengingatnya lagi.

“Lalu kau bawa kemana Donghyuk?”

“Perancis.”

“APA?!” Kris menatap Eunhye dengan nyalang. Ia tidak mengerti angin apa yang bisa membuat istrinya tiba-tiba memikirkan negara asal semua masalah ini menjadi tempat berlindung bagi putranya.

“Donghyuk nyaris berada di tempat ini jika aku tidak membawanya ke Perancis. Ilmuwan di sana mengatakan bahwa Donghyuk sudah terkena gejala Ptelonomun xycherimst dan sekarang dia sedang berada dalam masa inkubasi untuk menghentikan perkembangan bakteri itu dalam tubuhnya.”

“Maksudmu? Mereka sudah menemukan penawar bakteri itu?”

“Ya! MEREKA SUDAH TAHU BAHKAN KETIKA KITA MULAI MEMBUNUH SATU PERSATU NYAWA TAK BERSALAH DI SINI!” Kris merundukkan kepalanya, ia menjambak rambutnya kuat sebelum meraung keras.

“TIDAK! TIDAK MUNGKIN! Aku.. Aku bahkan tak sanggup menemukan petunjuk apapun untuk memecah patogen yang dibawa oleh bakteri jalang itu dan mereka sudah..”

“Kris, kau harus menerima kenyataan, mereka bahkan sudah menemukannya beberapa minggu sebelum Mark meninggal. Hanya saja saat itu mereka hanya menyembuhkan orang dengan kalangan terbatas karena hasil jadi obat yang masih minim. Dan sekarang mereka sudah mengembangkan obat itu dalam jumlah besar untuk disebarkan ke-limabelas negara yang terkena wabah ini.”

“ITU MUSTAHIL!” Kris berlari, ia berlari sampai tak sadar berapa banyak orang yang yang ia tabrak. Berapa banyak anak yang kaget karena teriakan dan geramannya. Ia tidak tahu dan tak peduli lagi. Ia terlalu dibutakan kenyataan bahwa seandainya ia mau lebih menerima kenyataan Mark mungkin masih bisa tertolong dan ada di dekatnya sekarang. Mark yang begitu ia banggakan. Mark yang penurut dan selalu giat belajar.

 

Kris berhenti di depan meja kerjanya. Ia bisa melihat tumpukan buku-buku anatomi manusia di atas mejanya. Ia semakin geram melihat buku-buku itu, ia dengan cepat memporak-porandakan tumpukan itu dan menggeram keras. Matanya basah oleh air mata yang tak sanggup terbendung lagi. Rasa bersalah sudah menegak sampai tenggorokannya.

 

“Kris..”

“Aku.. Ini tidak mungkin. Malam sebelum aku pergi ke laboratorium aku menjanjikan kesembuhan pada Mark namun aku tak bisa menemukan apapun selain kegagalan sampai kematian menjemputnya. Dan sekarang..”

“Kris, seandainya kau mau menerima kenyataan lebih awal.” Eunhye mengusap punggung suaminya lembut, sekalipun ia juga tak sanggup menahan air matanya setidaknya membiarkan orang lain menangis di sekitarnya juga bukan ide yang bagus.

 

“Eunhye..” Kris berbalik, ia hendak memeluk Eunhye ketika istrinya mundur dan menjauh dari jangkauannya. Eunhye mengatupkan bibirnya rapat dan tersenyum sedih.

“Eunhye.. Kau tidak berniat..”

“Surat cerai yang kau inginkan ada di atas mejamu.”

“Eunhye.. Kau tahu saat itu..”

“Aku menganggapnya serius. Sekalipun malam itu kau dalam titik terburukmu karena peringatan satu tahun kematian Mark dan semakin banyaknya anak yang meninggal hingga kau mengatakan perceraian padaku yang kala itu mengganggumu. Aku menganggap semuanya serius. Semuanya. Termasuk perceraian itu.”

“Eunhye, kau mengerti bahwa aku mencintaimu kan? Jika Mark telah meninggalkan kita dan sekarang kau akan meninggalkanku bersama Donghyuk, aku akan benar-benar sendirian.”

“Kau yang memilih seperti itu Kris, dan bukankah kau selama ini menjalani hidupmu sendiri? Tanpa melibatkanku dan Donghyuk lagi di dalamnya. Jika aku sekarang benar-benar meninggalkanmu pun kukira itu tidak masalah dan tidak akan ada bedanya untukmu.”

 

Kris jatuh terduduk di tempatnya berada. Air mata mengucur lebih jelas dari dua mata tajamnya yang kian menggelap. Kesedihan yang melingkupinya seperti semakin pekat dan menakutkan ditambah dengan raungannya.

 

“Seandainya hati manusia seperti porifera.. Porifera yang sekalipun kau potong dengan seberapapun kejamnya akan kembali tumbuh. Andaikan hati manusia seperti itu mungkin aku dan Donghyuk masih akan ada di sekelilingmu Kris.” Eunhye mengusap airmatanya pedih. Sepuluh tahun pernikahannya, lima tahun masa mereka merajut kasih sebagai kekasih dan pertemanan mereka selama belasan tahun.. Semua akan berakhir, berakhir dengan cara yang begitu menyakitkan.

 

“Jangan pergi Eunhye, kumohon jangan pergi.”

“Maafkan aku Kris..”

 

Kris baru akan berdiri ketika pintu ruangan kerjanya dibuka secara paksa. Orang-orang dengan pakaian gelap dan ada yang berpakaian kepolisian mendatanginya.

“Profesor Wu Kris, anda ditangkap atas tuduhan penyalahgunaan legalitas sebagai ilmuwan, kejahatan kemanusiaan, percobaan pembunuhan, pembunuhan dan eksploitasi anak.” Kris yang masih tidak sanggup mengerti apapun dari yang sedang terjadi di sekitarnya pasrah ketika orang-orang di sekitarnyamenariknya paksa, memborgol dan hal terakhir yang disadarinya hanya Eunhye yang menangis menatapnya.

 

“Eunhye..”

“Kris..” Eunhye mengangkat tangannya, seolah enggan melepaskan kepergian suaminya, namun begitu melihat tanda hormat para polisi sebelum pergi ia tahu perpisahan telah menjadi garis akhir hubungannya dengan Kris dan perpisahan itu adalah hari ini. Dan perpisahan itu akan semenyakitkan ini.

 

“EUNHYE!”

 

But you only need the light when it’s burning low

Only miss the sun when it starts to snow

Only know you love her when you let her go

 

Only know you’ve been high when you’re feeling low

Only hate the road when you’re missin’ home

Only know you love her when you let her go

 

Staring at the ceiling in the dark

Same old empty feeling in your heart

‘Cause love comes slow and it goes so fast

 

Well you see her when you fall asleep

But never to touch and never to keep

‘Cause you loved her too much

And you dived too deep

Passenger – Let Her Go

 

.THE END.

 

Hai carolinelovely ^^ ini hasil jadi dari konsep dan cast yang kamu minta ya :D Maaf kalau nggak sesuai yang kamu ekspektasikan atau nggak nangkep feelingnya soalnya aku dapetnya ide ini doang waktu aku lagi buat .-.

 

Next question : Siapa nama anak Ki Seung Nyang & Ta Hwan?

Penjawab yang berhasil dan sudah saya konfirmasi akan berhak menentukan tema untuk LIFE ke-empat. Ingat ya tema bukan genre.

Advertisements

48 responses to “[LIFE/THREE] Porifera

  1. the best fanfiction that I ever read. menyatukan science, kisah cinta, keluarga, dengan cast korean idol yg bagus sekali. two tumbs!!! 🙂

  2. aku lagi nyari ff bgus dan ketemu yg satu ini. keren kak, walaupun nggak terlalu suka sifatnya kris disini. okeyy itu kontras bgt sm makhluk ini aslinya gmn.
    awalnya smpet kaget dn seneng jg ketemu ff yg castnya eunhye sm kris gakebayang sblumnya.
    pantes Kris jd berubah, Mark penurut, giat belajar, ohgod, siapa bokap yg gabangga pnya anak ky gitu. okehh, ditunggu ya kak ff keren selanjutnya. okey informasi aja sih, aku termasuk yg pilih2 buat baca ff.heheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s