Choice

racket

Tittle: Choice | Scriptwriter: @asitawidya | Cast: You, Kim Jongin, Lu Han | Rating : PG | Duration: Short Story

Kau memimpikan ini semua. Berada di tengah ribuan mata yang menatapmu. Berada di antara garis-garis putih sepanjang 13,40 meter dan lebar 6,10 m. Mengamati datangnya bulu-bulu angsa dari arah yang berlawanan. Sesekali mengusap keringat yang muncul dari dahimu, mencoba menghilangkan ketegangan yang menyeruak di dalam dadamu. Tapi kau tidak sendirian. Di sampingmu atau tepat di sebelah kanan belakang ada seseorang yang siap menjagamu. Membantumu melayangkan raket untuk menangkis kok yang bisa saja tiba-tiba datang memasuki daerahmu.

Laki-laki itu Kim Jongin. Pemain bulu tangkis yang lebih senior darimu, kalian terpaut jarak sekitar dua tahun.
Awal pertemuan kalian tidak berjalan dengan baik, karena partnermu itu tidak menunjukkan sikap welcome sama sekali. Padahal setahu dirimu, permainan ganda campuran benar-benar mengandalkan kerja sama. Pukulan harus dirancang, kemudian mematikan lawan dengan pukulan hasil kerja sama itu.

Kau menyadari dirimu tidak bisa bermain sendiri sejak kau selalu terkalahkan pada final tunggal putri.
Kau menyadari footworkmu kurang baik, namun menurut Kim Hyunsik—pelatihmu, kau memiliki kecepatan dan reflek pukulan serta power yang besar. Sehingga ia mencoba mengubah kelemahanmu dengan mengombinasikan permainanmu dengan seorang laki-laki.

Sejak saat itu, kau beralih pada permainan ganda campuran.

Kau baru masuk ke tim nasional Korea tahun ini. Itupun butuh perjuangan yang cukup sulit, mengingat orang tuamu tidak sepenuhnya mendukungmu dalam bidang ini.

Kau mengela nafas, berharap semuanya akan baik-baik saja.

Kala itu pertandingan kurang dari tiga bulan lagi, kalian tidak memiliki waktu yang banyak. Selama tiga bulan itu, kau mati-matian mendekati Jongin, demi membuat chemistry di antara kalian. Permainan kalian tidak buruk, menurut Hyunsik kau justru lebih baik dibanding harus bermain di tunggal putri. Tapi kau merasa belum mendapatkan kesan hangat dari Kim Jongin. Lelaki itu memang cerdas dalam menyiasati setiap permainan, dia akan berkomunikasi denganmu selama 3 set itu, namun setelah permainan berakhir, dia akan lebih banyak diam.

Namun perlahan, sikap dingin seorang Kim Jongin mulai luntur. Ketika kau terjatuh dan mengalami luka di lututmu, ia menunjukkan sikap yang lebih peduli padamu. Ia menggendongmu ketika kau tidak mampu berdiri. Mengobati kedua lukamu. Kau hanya tercengang menatap sikapnya yang tiba-tiba berubah.

“Dasar ceroboh.” Kalimat pertama yang kau dengar darinya di luar pertandingan. Kau tersenyum, mendengarnya memperolokmu. Dan kau tidak terlalu mempermasalahkannya, karena kau mengakui dirimu memang seperti itu.
Perlahan, kalian saling membuka diri satu sama lain. Meskipun tetap saja kau yang lebih sering mendominasi pembicaraan. Tapi setidaknya Jongin mulai memperhatikan dan menanggapi ceritamu.

Dia mengerti betapa sulitnya kau mendapatkan posisi ini. Dia mengerti perjuanganmu menghadapi kedua orang tuamu, yang terkesan tidak peduli pada prestasimu ini. Dia satu-satunya orang yang mengerti keadaanmu.
Dia akan mengacak-acak rambutmu setelah kau menyampaikan keluh kesahmu padanya, kemudian berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Selesai memporak-porandakan rambutmu, kau akan memasang wajah cemberut, namun hal itu tidak akan bertahan lama karena kau akan melihat senyum dan tawa kecilnya yang membuatmu turut melakukannya.
Senyum dan tawa itu akan menguatkanmu. Membuatmu akan berusaha lebih baik untuk membuktikan kepada orang tuamu dan seseorang di sana, bahwa kau akan berhasil dalam bidang ini.

Jongin menyadari lamunanmu di tengah permainan, ya, ini adalah permainan hidup dan matimu di bulutangkis.
Jongin menepuk bahumu,

“Kau baik-baik saja?” Tanyanya khawatir.
Kau menatapnya sekilas, kemudian mengangguk, memberi isyarat padanya bahwa kau memang baik-baik saja. Jongin mengusap puncak kepalamu, lalu tersenyum.

“Kita akan menang.” Bisiknya tepat di telingamu. Kau berani bertaruh, suara Jongin benar-benar seksi. Kau kembali mengangguk sembari meluruskan pandangan matamu. Menatap Li Mei, lawanmu dari China yang bersiap-siap melakukan servis. Kau berusaha untuk berkonsentrasi penuh dan mengabaikan perasaan yang menggelitik di sekitar hatimu. Perkataan Jongin terngiang di benakmu.

Kita akan menang.

——

Kau memeluk Jongin erat, untuk beberapa saat kau mendapati hangat tubuhnya. Kau berterima kasih sekali untuk kemenangan ini. Ya, kalian telah memenangkan pertandingan ini. Berkali-kali kau menepuk kedua pipimu, mencoba menyadarkan diri bahwa hal ini bukanlah mimpi belaka. Jongin tertawa melihat tingkahmu, kemudian membantumu mencubit pipimu.

Sakit.

Dan itu berarti kau sedang tidak bermimpi.
Kau telah membuktikannya.
Kepada Ayah, Ibu, dan seseorang yang enggan kau sebut namanya.
Kau memejamkan mata, mencium aroma Bvlgari bercampur dengan keringat Jongin.
Kau tidak tahu bahwa Jongin sedang tersenyum melihatmu sembari menahan degupan jantungnya yang berpacu –teramat kencang.

——

“Nat.” Kau mendengar seseorang memanggil namamu.
“Hmm?” Kau hanya menanggapi seadanya, sembari terus mendekap Jongin. Euforia kemenangan ini membuatmu sedikit lupa bahwa banyak orang yang tengah menatap kalian. Selama beberapa detik kemudian kau baru sadar bahwa suara itu bukan milik Jongin. Suara itu ..

Kau melepaskan pelukanmu pada Jongin perlahan, kemudian membalikkan badan, matamu mendapati seseorang yang nyaris membuatmu pingsan.

Seseorang itu berdiri membawa se-bucket bunga. Dengan menggunakan kemeja putih dan setelan jas hitam, membuatnya terkesan lebih dewasa. Terakhir kali kau melihatnya ketika kelulusan Sekolah Menengah Atas. Itu pun kalian tidak saling menyapa. Kau hanya memandangnya dari jauh sembari menahan sakit di dalam dada, ketika ia mendapat predikat sebagai juara umum dan memperoleh beasiswa di Jurusan Kedokteran Harvard University.
Kau menyadari bahwa kalian akan berpisah.

“Selamat atas kemenanganmu.” Ia memberimu bunga sekaligus ucapan selamat. Kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan kecuali mengangguk dalam diam dan menerima pemberiannya. Ia tersenyum menatap kekakuanmu. Kau benar-benar tidak yakin dengan apa yang tengah kau lihat. Dia datang. Menghampirimu. Memberimu ucapan selamat.

Seseorang yang enggan kau sebut namanya.
Seseorang yang sempat membuat hatimu serasa tersayat.

“Bisakah aku berbicara denganmu berdua saja?” Ia bertanya padamu, dan seolah memberi kode kepada Jongin yang masih berdiri di sampingmu untuk pergi meninggalkan kalian berdua. Jongin menatapnya tajam, seolah ada rasa benci tertanam di sana, namun kemudian ia beralih menatapmu, lalu kau memberinya tatapan ‘aku baik-baik saja.’ Jongin mengangguk, dan memberi sebuah kecupan di keningmu. Setelah itu ia pergi tanpa memedulikan seseorang di hadapanmu.

Kau sempat melihat kedua lelaki itu saling melempar pandangan tidak suka. Namun kau tidak terlalu yakin akan hal itu.
Kau terlalu kaget dengan sikap Jongin yang tiba-tiba menciummu. Kau berusaha melupakannya, dan meyakinkan diri bahwa hal itu hanyalah salah satu cara ia untuk menenangkanmu.

“Lama tidak berjumpa. Kau masih marah padaku?” Tanya sosok di hadapanmu sembari tertawa kecil. Berusaha menghilangkan ketidaksukaannya atas pemandangan yang baru saja ia lihat.

Ia membuyarkan lamunanmu, dan kau hanya diam, berusaha pura-pura untuk tidak mendengar pertanyaannya. Padahal sebenarnya kau merindukan tawa itu.
“Kau tahu, Ayah dan Ibumu benar-benar merindukanmu.” Ucapnya kemudian.
Kau terdiam, menyadari pembicaraan apa yang akan kalian mulai.

“Mereka ingin kau pulang.” Bingo.
Perkataan seperti itu benar-benar membuatmu muak.

“Berhentilah berbicara. Jika mereka merindukanku, mereka seharusnya datang menemuiku, menyaksikan pertandinganku.” Kau mulai terpancing emosi.

“Kau tidak mengerti.” Bantahnya.

“Kau yang tidak mengerti!” Kali ini kau membentaknya, merasa tidak terima dengan ucapannya barusan.
“Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu, Nat.” Dia berujar pelan.

“Kalau begitu pergilah. Aku tidak ingin melihatmu.”
Kau mengusirnya secara langsung, padahal ini adalah pertemuan pertamamu dengannya setelah tiga tahun berlalu. Kau berusaha mengenyahkan segala macam perasaan berbunga-bungamu, menggantikannya dengan kebencian yang sudah kau canangkan sejak awal.

Dia menghela nafas, selalu seperti ini. Kalian pasti akan bertengkar jika bertemu barang sedetik. Kau tidak mengerti kenapa hal semacam ini bisa terjadi. Yang kau tahu, semenjak kau mengingkari janjinya untuk masuk ke jurusan kedokteran bersama-sama, dia berubah. Perbincanganmu akan berakhir dengan pertengkaran. Tidak pernah berujung.

“Demi Tuhan, kau mempunyai pilihan Nat. Hidup bahagia bersama kedua orang tuamu, dan meneruskan impian kita atau melawan mereka dan menghancurkan impian yang kita bangun bersama?”

“Apa karena lelaki itu?” Tanyanya curiga. Kau membelalakan mata, ‘lelaki itu’? Maksud dia Jongin?
Kau tidak mengerti, bahkan kau mengenal Jongin tidak lebih dari satu tahun yang lalu. Kenapa lelaki ini menyebut Jongin dalam topik pembicaraan mereka?

“Ah, baiklah.” Dia mengacak-acak rambutnya karena tidak kunjung mendapat jawaban darimu. Hal itu membuatnya terlihat berantakan dan membuatmu harus menahan nafas sekaligus degupan jantungmu.

Tidak. Ini tidak boleh terjadi.

Sebelum lelaki itu beranjak dari hadapanmu, dia mendekatimu dan berbisik di telingamu, “Aku merindukanmu, Nat.”
Kemudian lelaki itu beranjak dari tempatnya berdiri, meninggalkanmu yang tengah merasakan sebuah keperihan di dalam dada, karena kau juga merindukannya.

Lagi dan lagi. Lelaki itu membuatmu menangis.
Kau serasa menahan beban berat di sudut matamu, berusaha kuat untuk tidak membuatnya menetes, membanjiri pipimu.
Kau merasa dia tidak pernah mengerti keadaanmu.
Dia meninggalkanmu, karena kau mengingkari janjinya. Kau tahu, tapi menurutmu dia tidak perlu sebegitu marahnya ketika kau lebih memilih bulutangkis daripada cita-cita awal kalian, yaitu dokter.

Harusnya dia selalu berada di sisimu, menjadi sahabat yang baik untukmu, ketika kedua orang tuamu memarahimu dan tidak peduli lagi padamu. Orang tuamu yang berharap besar padamu untuk meneruskan profesi mereka yang notabenenya adalah dokter di sebuah rumah sakit ternama di Seoul, pun pupus harapan. Melihat kau yang sudah tidak bisa diharapkan.

Harusnya ia ada untukmu. Mendukung jalan yang telah kau pilih, bukannya meninggalkanmu di sini sendiri.
Kau pantas berbalik marah padanya.
Dan bodohnya, sebenci-bencinya kau pada lelaki itu, kau tetap menyimpan sebuah perasaan yang dalam. Yang setiap malam menyeruak kedalam dada.

Hangat peluknya berbeda dari pelukan siapapun.
Kau merindukan pelukannya, cubitannya di pipimu.
Gelak tawanya yang berhembus di telingamu.
Kau membutuhkannya untuk selalu berada di sampingmu.

Kau mengusap air matamu kasar, kemudian berlari mengejar sosoknya, berharap ia masih tidak jauh dari gelanggang olahraga tempatmu berada. Kau menjatuhkan tubuhmu ke tanah, menatap diri beserta mobilnya yang bergerak menjauh dari pandanganmu.

Tiba-tiba kau ingat perkataanmu, ketika kau terjatuh saat berlari mengejarnya. Ia menghampirimu, mengobati luka di lututmu.

“Kalau kau besar nanti kau ingin menjadi apa, Lu?” Tanyamu. Dia berpikir sejenak, kemudian tersenyum sembari menuangkan antiseptik.
“Aku akan menjadi dokter, agar bisa mengobatimu jika kau terluka.” Jawabnya ringan.
Kau terhenyak mendengar perkataannya, tidak lama kemudian kau turut tersenyum.
“Kalau begitu aku juga akan menjadi dokter, agar aku bisa terus bersama-sama dengamu, Lu Han.”
Ia tertawa kecil mendengar ucapanmu. Tawanya benar-benar menggeletik telingamu. Sikapnya yang manis membuatmu yakin, bahwa kau dan dia akan selalu bersama.

Kau tidak pernah menyangka ketika kau akan berpindah haluan, menjadi pemain bulutangkis, mengabaikan mimpi-mimpimu bersama Lu Han menjadi seorang dokter. Bahkan kau telah mencurahkan hidupmu ke dunia olahraga ini. Menggenggam erat-erat raketmu, berlarian menangkis kok dari arah yang berlawanan, mengarahkan arah dan jatuhnya kok sedekat mungkin dengan garis serang pemain lawan.

Kau pernah berharap bahwa ia akan memaafkanmu dan mendukungmu, menonton setiap pertandinganmu, memberimu pelukan yang hangat ketika kau berhasil memenangkan tiga atau dua set pertandingan. Atau akan memberi pelukan menenangkan ketika kau tidak mampu mengungguli skor lawan.

Namun kau sadar semua itu hanyalah harapan yang lebih pantas disebut khayalan.
Karena dia telah pergi.
Kau sendiri yang telah membuatnya pergi.

Pergi dan mungkin tidak akan pernah kembali.

——–

Seseorang menepukmu bahumu dari belakang. Menatapmu yang terlihat sedikit berantakan. Tiba-tiba saja kau mendekapnya, tanpa aba-aba. Membuat lelaki itu sedikit kaget dan bingung bagaimana harus bersikap. Namun tidak berselang lama ia mengerti.

“Kau baik-baik saja?” Tanyanya hati-hati, mengira kau masih marah karena telah menciummu di hadapan Lu Han.

“Aku tidak pernah merasa sebaik ini.”

Kau menggenggam jemari Jongin. Meyakinkan hatimu bahwa duniamu ada di sini, bersama Jongin beserta raket dan bulu-bulu angsa yang siap kau tangkis.

Kau telah memilih.

—FIN—

Hei hei aku ngga tau apa yang udah aku tulis di atas xD maafin aku ya.. gaje begini. Hkhk.. Aku ga bisa bayangin Jongin main bulutangkis dan Lu Han jadi anak kedokteran. Oh My God.
Buat yang nunggu Heart Beat dan X for Kiss and O for Hug, dimohon kesabarannya. Untuk sementara ini aku sepertinya akan lebih nulis cerita-cerita pendek, karena waktu dan pikiran menuntutku demikian. Hehe .. Mohon maklum ya.
Terima kasih ..

Advertisements

23 responses to “Choice

  1. Ingatkan aku kalo ini ga berseri dengan girl’s talk ya
    Soalnya drtd aku msh kesengsem sm cerita girl’s talk wakakakakakaka
    Oke.
    Ini beda. #tarikkesimpulansendiri
    Ah
    Tapi aku lebih demen girl’s talk wahahahahahahahaha
    Seneng sih Jongin atlet bultang, tp emg beneran dia bs ya? #digebukjong
    Soalnya bultang itu satu2nya or yg aku kusukain hmmm
    Oh ya member baru ya kalo mau bikin ff lagi jgn seputar2 jong dan lu, siapa kek, hmm chan mungkin? Plis jgn baek , terlalu byk yg mengisahkan dirinya rrrrr
    (‾▿‾“)
    #keepwritinghwaiting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s