Unknown

U | fhayfransiska | Mystery | G

Wu Yifan, DoKyungsoo, BangMinah

U for Unknown

“Pelan-pelan menghapus jejak tanda tanya di benak Yifan, sekaligus menambatkan kenyataan mengejutkan di saat yang bersamaan.”

_______

            Dulu sekali, ia pernah menjadi bagian dari mereka. Berlari menggiring bola ke sana ke mari dengan mengabaikan peluh, mengoper bola, juga melemparkan benda pejal itu dengan sempurna ke dalam ring dan mencetak three point. Pun mendengar suara decitan sepatu yang anehnya serasa begitu harmonis di telinganya. Teriakan riuh penonton yang gegap gempita dan euforia tak tergantikan.Ia pernah merasakan itu semua.

Wu Yifan menatap nanar pemandangan sepi di hadapannya, tempat di mana turnamen basket barusaja berakhir beberapa jam yang lalu. Digerakkannya kursi roda berderit miliknya tepat ke tengah lapangan indoor itu, lalu berdiam di sana. Pemuda pirang itu mendongak, menatap lekat ring basket seolah benda mati itu tengah menatapnya balik.

Menatapnya balik dengan sorot kasihan.

Gigi-gigi milik Yifan beradu dan bergemeletuk lirih tatkala pikiran itu mengganggunya lagi. Soal penyesalan yang hinggap lagi di otaknya dan mampu membentuk rongga-rongga yang hanya berisikan asumsi-asumsi negatif di dalam hatinya. Tentang bisakah ia bermain basket lagi setelah ini? Atau bisakah ia berjalan lagi? Bisakah ia berlari dan melempar bola ke dalam ring lagi?

Bisakah …

Duk! Duk! Duk!

            Terkejut, kepala Yifanlantas bergulir cepat ke arah di mana suara bola yang membentur lantai itu terdengar. Sesuatu yang ditangkap iris madunya adalah sesosok pemuda berbahu mungil yang tengah berjalan nyaris berlari ke arahnya. Ia membawa sebuah bola basket di tangannya.Yifan melihat pemuda itu tersenyum ramah padanya, namun yangia lakukan hanya menaikkan alis tanda heran. Tersenyum kepada orang asing sama sekali bukan style-nya.

Pemuda itu terlihat tidak merasa terganggu oleh tatapan mengintimidasi yang dilempar Yifan. Pemilik tubuh mungil itu lagi-lagi men-dribble bolanya—dan Yifanbaru menyadari kalau teknik yang digunakannya cukup bagus, berarti ia bukan seorang amatiran, pikirnya.Tapi dilihat dari kakinya yang pendek dan tubuhnya yang sama sekali tidak berotot, Yifan tidak merasa berdosa kalau ia bilang pemuda itu lebih terlihat seperti orang yang sok jago. Jadi, ketika sosok itu mulai mengambil ancang-ancang untuk melemparkan bola basket ke dalam ring dari jarak yang cukup jauh, Yifan cuma bisa mengejek dalam hati.

Lihat saja, mana mungkin bola itu akan

SLAM!

—masuk.

Heh!? 

Yifan nyaris tersedak ludahnya sendiri begitu hal yang tidak ia sangka-sangka—tidak ia harap juga—benar terjadi di hadapannya. Bola itu masuk. Dan three point berhasil pemuda mungil itu dapatkan.

APA?!

Pemuda itu berbalik lalu berjalan ke arah Yifan seraya tersenyum, sementara Yifan tidak menyadari kalau ia tengah memasang wajah kesal sekarang. Ia merasa kalau pemuda pendek itu sombong, sengaja menunjukkan kemampuannya di hadapan orang yang bahkan tidak bisa berjalan sepertinya. Menyebalkan!

Tapi ternyata dugaan Yifanseratus persen salah, karena pemuda itu tidak menghampirinya dan malahan berniat berjalan ke luar dari stadion dengan langkah lebar. Mengabaikannya, seolah Yifan tidak pernah ada di sana. Dan entah apa yang bergelanyut di otak Yifan karena ia dengan tidak segan-segan berteriak tiba-tiba, “Hei, kau!”

Pemuda berambut hitam itu berbalik, benar merasa terpanggil. Matanya membulat lebar—atau memang sudah lebar? “Kau memanggilku?” tanyanya heran karena panggilan itu bernada marah sementara ia merasa tidak melakukan kesalahan apa-apa kepada pemuda yang duduk di atas kursi roda itu, Yifan.

“Ya benar, kau! Buat apa kau kemari? Menyombongkan diri, heh!?”

Dengan kedua alis terangkat, pemuda itu berujar, “Aku? Di sini? Oh,” katanya polos lalu tersenyum, “Aku mau mengambil ini.” Ia mengambil setangkai lily putih yang semula berada di kantung depan hoodie-nya, menunjukkannya pada Yifan. Membuat kedua mata Yifan membulat.

Hei, mana mungkin seseorang datang ke stadion untuk mengambil setangkai lily putih? Itu tidak wajar!

Yifan mendengus, merasa dibodohi. Rasa kesal kini semakin menyesaki setiap sudut hatinya. Entah, mungkin tidak terima karena merasa dilampaui oleh pemuda yang menurutnya …ehm, tidak pantas menjadi pemain basket. Tubuh pendek, tidak berotot dan terlihat ringkih—kau tahu.Yifan lagi-lagi mengumandangkan ejekan itu di dalam hati.

“Bualanmu tidak lucu!” sergah Yifan yang langsung membuat pemuda itu tersentak kaget, “Siapa namamu?”

“Do… Do Kyungsoo.” Jawab si pemuda dengan patuh kendati otaknya masih sibuk berpikir soal kenapa tiba-tiba pemuda pirang itu menanyakan namanya? Dan … apa salahnya hingga orang asing itu terlihat begini marah padanya?

Yifan tersenyum penuh kemenangan, “Oke, DoKyungsoo. Ingatlah, namaku Wu Yifan, dan  kalau aku sembuh nanti kita akan bertanding satu lawan satu!”

“Heh?!”

________

Nyatanya, Yifan tidak yakin ia bisa benar-benar sembuh.

Ia mendesah lagi dan mengacak rambut pirangnya frustasi. Alisnya berkerut terlampau dalam, hingga wajahnya terlihat seperti orang marah karena sakit perut akibat datang bulan—oke, ini mustahil. Dan untuk kesekian kalinya—setelah waktu bergulir sejak saat itu—kursi roda Yifan membawanya ke tempat ini, stadion kecil yang terletak tidak begitu jauh dari rumahnya. Terhitung sudah keempat kalinya sejak ia pertama kali bertemu dengan DoKyungsoo, pemuda aneh yang harus dengan berat hati Yifan akui …ehm, kalau ia benar-benar pemuda yang jago bermain basket.

Sulit dibayangkan sebenarnya, kalau pemuda itu pintar mengendalikan bola basket di lapangan. Dia kan pendek, tidak berotot, lemah dan … ( HeiYifan, berhenti terus-terusan mengejeknya seperti itu! ) Ah, oke.

“Ah! Yifan, kau datang lagi?” Kyungsoo melempar senyum lebar dengan mata bulat lebarnya yang berkilat senang sementara seorang yang disapa hanya berdehem mengiyakan dengan setengah hati. Mereka berdua selalu bertemu di kala mentari nyaris tenggelam, saat di mana stadion sudah benar-benar sepi dari eksistensi para manusia.

“Kau mau bermain?”

Alis Yifan terangkat dan matanya membulat lebar mendengar pertanyaan retoris itu, “Kau mengejekku?”

Kyungsoo berhenti men-dribble bolanya dan menoleh ke arah Yifan, senyum itu lagi-lagi terkulum di wajahnya yang berseri-seri. “Mungkin,” katanya enteng yang sukses menancapkan belati berkarat tepat di tengah-tengah hati Yifan.Sakit, hei!

Yifan baru hendak mengomel lagi ketika bola basket yang semula berada di tangan Kyungsoo kini berpindah tangan, pemuda itu melemparkan benda bulat itu ke arahnya dengan cepat. “A ..apa?!”

“Lemparkan, Yifan!”

“A … apa?”

“Dan kau baru bisa merasa lega dan berhenti mengomeliku.”

Yifan tersentak.Lalu menjadi salah tingkah akibat ucapan Kyungsoo barusan. Skak mat!Ya Tuhan, semoga Kyungsoo tidak berpikir kalau dirinya bersikap ketus karena iri kepada pemuda itu!( Pada kenyataannya kau memang terlihat begitu, Yifan!)

Berusaha mengabaikan perasaan tidak nyaman dan menghapus cepat-cepat rasa malunya, akhirnya Yifan memutuskan untuk menuruti apa kata Kyungsoo. Ia menggerutu tak jelas sebelum akhirnya sesuatu yang disebut bola basket itu bergetar di tangannya, jelas saja, ia kan sudah lama tidak menyentuh benda yang sebelum ini menjadi belahan jiwanya itu. Lama sekali. Dada Yifan berdesir begitu perasaan yang familiar menyapa hatinya. Ingatan soal dulu, ketika ia masih berdiri tegak di sana, dengan suara teriakan penonton yang membahana, mendukungnya. Ia menerima operan bola dari teman, lalu berlari menembus pertahanan lawan. Dan kakinya yang panjang melompat tanpa secuil pun keraguan, memasukkan bola itu ke ring, lalu berhasil merebut poin kemenangan.Dan teriakan kebahagiaan itu kembali terdengar, bersamaan dengan beberapa tubuh tinggi—rekan-rekan se-tim-nya—yang berlari memeluknya. Semua meneriakkan namanya.

Tapi apakah sekarang ia bisa?

Lemparan untuk pertama kali sejak kecelakaan itu merenggut semuanya. Dan ia baru bisa merasa lega.

Yifan mendesah lalu menatap ring yang berdiri angkuh beberapa meter di depannya. Hatinya bergerak, bersamaan dengan tangannya. Lalu …

SLAM!

Berhasil!

Prok! Prok! Prok!

Yifan menoleh ke arah pemuda Do yang sejak tadi berada tidak jauh darinya, Kyungsoo tengah tersenyum lebar. Sorot matanya yang bersinar seperti melihat buah hatinya yang baru saja berhasil meraih mimpi. Bangga.

Yifan terpana. Untuk pertama kalinya, sudut-sudut bibirnya tertarik ke samping. Membentuk seulas senyum penuh makna. Dan bukan palsu seperti biasanya.

Kyungsoo berlari ke arahnya seraya mengacungkan ibu jari tangan kurusnya, dapat Yifan lihat setangkai lily putih yang menyembul keluar dari saku depan hoodie biru milik pemuda itu. Ia menepuk pundak Yifan dengan senang. Tidak perlu berkata apa-apa karena Yifan cukup mengetahui hanya dengan menatap binar hebat di mata Kyungsoo. Kyungsoo mendudukkan tubuhnya di samping kursi roda milik Yifan lalu meluruskan kakinya. Menggerak-gerakkannya kadang-kadang.

“Besok … ke sini lagi, ya?”

Apa?

Kyungsoo menoleh ke arah Yifan dengan alis terangkat tidak percaya. Apa Yifan barusaja meminta sesuatu padanya? Ini sedikit terasa aneh mengingat tidak biasanya Yifan berkata dengan halus seperti ini, kemarin-kemarin ia terus mengomel dan berkata ketus pada Kyungsoo seolah sangat terganggu dengan kehadiran pemuda itu. Tapi sekarang?

Yifan dapat mengartikan sorot heran di wajah Kyungsoo dan ia dengan kikuk cepat-cepat menambahkan, “Jangan berpikir yang tidak-tidak. Temani aku bermain. Oke?”

Lalu sebuah senyuman terbentuk sebagai jawaban.

_______

Kadang rasa penasaran yang terlampau hebat bisa membuat seseorang kehilangan kendali diri. Menghalalkan segala cara demi mendapat jawaban atas apa yang selama ini menyesaki langit-langit otaknya.

Yifan juga merasakannya, bagaimana alisnya berkerut dalam ketika Kyungsoo memainkan setangkai bunga lily di tangannya. Tidak jarang pemuda itu tersenyum sendiri seperti orang gila. Orang gila yang sedang jatuh cinta, pikir Yifan.

Mereka baru saja selesai ‘bermain’ basket ketika sebuah pertanyaan terlontar, menghapus keheningan. “Kau tahu, kau seperti orang bodoh yang terobsesi oleh bunga pucat dan jelek itu ?”

Seolah sudah terbiasa oleh kata-kata kasar semacam itu, Kyungsoo hanya meringis. “Kau hanya belum tahu cantiknya mereka, Yifan.”

Yifan berdecak. “Memangnya dari siapa, sih? Yang kau bilang cantik itu bunganya, atau malah orang yang memberikannya?”

Seumur-umur, Yifan tidak pernah memiliki rasa ingin tahu yang begini besar. Sebelumnya,ia hanyalah pemuda yang mempunyai tingkat kecuekan di atas garis normal. Yifan tidak pernah bertanya banyak mengenai masalah-masalah milik teman-temannya dulu—seperti masalah cinta, keluarga, sekolah—bukan karena jahat, ia hanya tidak tertarik.

Tapi, entah mengapa berbeda untuk yang satu ini. Yifan enggan mengakuinya, tapi jujur saja, segala yang melekat pada diri Kyungsoo benar-benar membuatnya penasaran.

Pemuda itu, seperti menyimpan banyak misteri.

Jemari Kyungsoo terlihat memainkan tangkai lily yang pucat, lagi-lagi. “Dua-duanya cantik, dua-duanya aku suka,” katanya kemudian lalu meringis jahil. Yifan memutar bola matanya, baru sadar kalau Kyungsoo juga punya sisi ‘bad boy’ dalam dirinya.

“Bagaimana kalau kita membuat perjanjian?”

“Perjanjian?”

Yifan mengangguk yakin. “Aku akan mencari tahu sendiri siapa pemberi lily putih itu. Kalau aku berhasil, kau harus mau menuruti semua kata-kataku. Bagaimana?”

Dan, ya,senja itu, sebuah perjanjian resmi terbentuk.

_______

Tidak biasanya Yifan datang lebih awal. Sebelum iniia baru tiba di stadion ketika mentari nyaris tenggelam, saat di mana orang-orang yang biasa berlatih atau bertanding sudah bergegas pulang.Tapi hari ini, sesuatu seolah menggerakkannya. Membawanya untuk berada di sana lebih awal.Yifan tidak terlalu percaya dengan firasat, jadiia hanya menganggapnya sebagai upaya untuk mencari suasana baru, yang berbeda dari biasanya. Lagipula, ia juga harus mencari tahu soal sesuatu, kan?

Hari ini masih ada sosok-sosok berbadan tinggi tegap yang terlihat berlalu lalang, entah seraya menenteng sepatu basket mereka atau mengantungkan sehelai handuk di leher. Saling berbagi canda dengan coach atau teman yang lain, kadang juga terlihat serius dan enggan menghiraukan yang lain. Diam-diam Yifan merasa beruntung mengingat bahwa ia adalah orang baru di daerah ini, jadi tidak akan ada seorang pun yang mengenalinya. Andaikataia masih menetap di Seoul, pasti tidak jarang orang akan berbisik di belakangnya. Membicarakan bagaimana seorang kapten basket yang populer sepertinya kini hanya jadi seonggok manusia yang kehilangan fungsinya.Kehilangan semuanya.

Yifan merasa jauh lebih baik setelah pindah ke sini,kota kecil yang hangat. Tempat yang jauh dari Seoul di mana ia bisa menghindar dari semuanya. Di mana ia bisa merasa tenang, tanpa harus merasa cemas kalau sewaktu-waktu akan berjumpa dengan teman-teman lamanya.

Sinar matahari yang membias melewati jendela kaca stadion membuat mata Yifan sedikit menyipit. Dan seketika ia baru menyadari kalau stadion itu kini sudah cukup sepi, hanya nampak beberapa orang yang membereskan peralatan-peralatan milik mereka. Semua terlihat biasa di mata Yifan, soalnya ia sudah sering melihat rangkaian kegiatan semacam ini dahulu sekali.

Tapi ada satu yang tidak.

Ada sesosok gadis berambut hitam panjang, berdiri tidak jauh dari ring dan tengah memunggunginya. Yifan menatap sosok itu dalam diam, terus mengikuti setiap gerak-geriknya. Gadis itu lalu duduk berjongkok dan kepalanya menunduk, tangannya bergerak mengeluarkan sesuatu dari dalam saku mantel hitamnya. Lalu meletakkan benda itu di depannya, di depan ring basket.

Setangkai lily putih.

Yifan menahan napas begitu gadis itu perlahan berdiri, membuatnya dapat melihat dengan jelas benda apa yang baru saja gadis itu tinggalkan di sana. Gadis itu perlahan berjalan menjauh, menimbulkan bunyi-bunyian dari hak tinggi miliknya yang saling beradu dengan lantai. Dan tanpa sadar, Yifan berteriak nyaring tepat setelahnya.

Gadis itu menoleh. Mengangkat alisnya tinggi mendapati seorang yang tidak ia kenal di sana, yang baru saja memanggilnya. Sepasang matanya berkilat ingin tahu sampai kursi roda Yifan perlahan mendekatinya. Lalu mata gadis itu mendelik lebar, seolah sedang melihat hantu. Tangannya terangkat menutupi mulut, takjub.

Ada apa? Apa ada sesuatu di wajah Yifan? Ah, jangan bilang kalau gadis ini adalah salah satu dari fansnya. Dulu kan Yifan cukup terkenal dan sering muncul di majalah remaja.

Mengabaikannya, Yifan lantas bertanya, “Jadi … yang selama ini meletakkan lily putih di sana itu … kamu ya?”

Agak lama berselang, gadis itu mengernyit, merasa heran oleh pertanyaan yang dilontarkan si pemuda pirang. Ia menilik, hingga kemudian menggangguk, mengabaikan perasaan aneh di dadanya karena tiba-tiba ditanyai seperti itu.

“Untuk DoKyungsoo?”

Yifan tidak tahu mengapa gadis itu tampak terkesiap. Kini tampak lebih terkejut daripada sebelumnya, memperlihatkan secercah rasa ragu di wajahnya yang cantik—Yifan baru menyadarinya. “Ba … bagaimana kau bisa tahu?”

Ah, ternyata benar.Yifan tidak melempar senyum, ia hanya menjawab pertanyaan itu dengan entengnya, “Tentu saja. Setiap hari kan aku bertemu dengannya di sini. Dia bilang dia datang kemari untuk mengambil lily putih itu, seperti orang bodoh. Dia juga tidak pernah menceritakan padaku dari siapa lily itu,” Yifan berhenti sejenak lalu melanjutkan, “Lalu aku bertaruh dengannya. Kalau aku bisa menemukan siapa yang sebenarnya rajin meninggalkan lily putih itu di sini, maka ia akan melakukan apa saja yang aku minta. Jadi—”

“Tunggu …”Gadis itu buka suara dan membuat Yifan menghentikan ocehannya. “Kau … bertemu DoKyungsoo, katamu?”

Yifan tidak tahu mengapa, sesaat setelah ia mengangguk mengiyakan, cairan bening mengalir indah menuruni pipi mulus milik si gadis. Ia menatap Yifan tidak percaya, seolah apa yang diceritakan pemuda itu hanyalah delusinya belaka. Lalu perlahan ia terisak, menutup mulutnya rapat. Lututnya terjatuh, ia duduk berjongkok seraya menutupi wajahnya yang menangis. Bahunya bergoncang hebat.

Dan barulah ketika si gadis sudah merasa tenang, ia mulai bercerita. Pelan-pelan menghapus jejak tanda tanya di benak Yifan, sekaligus menambatkan kenyataan mengejutkan di saat yang bersamaan.

Kenyataan bahwa DoKyungsoo sudah meninggal satu tahun yang lalu.

_______

“Sudah mau pergi?”

Kyungsoo mengangguk tanpa mengalihkan pandangan, masih sibuk membuat simpul di sepatu basketnya yang nampak kebesaran. Minah pikir, mungkin sahabatnya yang tinggal satu rumah dengannya itu bahkan menyumpalkan beberapa bahan empuk di ujung sepatu agar tidak copot waktu berlari.

Lalu pemuda itu bangkit, berbalik, memamerkan senyumnya yang manis, yang entah sudah berapa lama selalu menghiasi hari-hari Minah.

“Kau juga. Doakan aku, ya! Semoga saja aku bisa menjadi seperti Wu Yifan, pemain basket idolamu itu!”

Minah hampir-hampir tak percaya mendengarnya, mungkin telinganya salah dengar, mungkin. Tapi kemudian gadis ini memberanikan diri bertanya, “Maksudnya? Jadi … jadi selama ini kau berusaha keras menjadi pemain basket untuk bisa menjadi seperti Wu Yifan? Idolaku?”

Kyungsoo mengangguk malu-malu. Dan ini menjadi fakta baru yang mampu membuat Minah terpana.

Lalu Kyungsoo melambaikan tangan, pamit pergi. Tak lupa seulas senyum mengiringi langkahnya. Sahabat Minah itu akan mengikuti seleksi atlit tim basket, satu impian terbesar yang selama ini selalu Kyungsoo dengungkan tiap kali mereka sedang berdua.

Dan itu semua … untuk Minah?

Selama ini Kyungsoo telah berusaha keras. Tubuh Kyungsoo terbilang sangat kecil untuk ukuran pemain basket, ia tidak punya tungkai kaki yang kuat dan lengan yang berotot. Butuh waktu yang cukup lama baginya untuk menguasai teknik permainan basket. Sebelum ini, setiap kali ia ingin mengikuti seleksi atlit, ia selalu ditolak. Mereka bilang Kyungsoo lebih cocok menjadi penyanyi mengingat suaranya yang merdu, mereka bilang Kyungsootidak akan bisa menjangkau bola dengan kakinya yang pendek. Banyak orang meremehkan pemuda itu. Tapi sayangnya, hal itu tidak bisa menggoyahkan keyakinan Kyungsoo. Sekali ia punya obsesi, ia tidak akan melepaskannya begitu saja.

Dan kesempatan itu akhirnya menyapa Kyungsoo. Para coach mengijinkannya mengikuti seleksi untuk tim utama setelah melihat pemuda itu bermain satu kali sebagai cadangan di sebuah turnamen. Kyungsoo berhasil membuat penonton terpukau dengan gerakannya yang cekatan dalam mencetak poin.

Sebentar lagi, satu langkah lagi dan ia akan berhasil.

Minah menghela napas pelan, ia tersenyum samar. Sahabatnya yang satu itu selalu sukses membuatnya bangga dengan setiap usaha yang ia lakukan. Biarpun ia banyak menghadapi cobaan sebelum ini, Kyungsoo bisa melaluinya dengan senyum lebar dan tangan terbuka. DoKyungsoo adalah orang hebat.

Gadis itu mengangkat wajah, meniti lekat kepada dinding kamarnya yang dipenuhi poster. Wu Yifan, siapa lagi. Pemain basket favoritnya yang kerap muncul di majalah langganannya. Yang kerap ia elu-elukan tiap kali bersama Kyungsoo. Entah karena ketampanannya, atau karena permainannya yang terlampau memukau.

Minah menggigit bibir, sebersit perasaan bersalah muncul di hatinya. Apakah ia terlambat menyadari soal perasaan Kyungsoo padanya? Apa benar Kyungsoo menganggapnya lebih dari sekedar sahabat, atau memang itu hanyalah pemikirannya saja? Benar begitu?

Dok! Dok! Dok! 

Minah tersentak sadar dari lamunannya yang melantur ke mana-mana, segera ia berlari menuju pintu depan yang digedor dari luar. Seseorang di luar sana seperti hilang kesabaran, mengetuk pintu kayu rumahnya dengan semena-mena.

“Apakah benar ini kediaman Do Kyungsoo?” Minah hampir saja terpekik begitu melihat seorang polisi berpostur tubuh tinggi berdiri di balik pintu. Sebelum menjawab, ia lebih dulu bertanya-tanya, ada apa gerangan seorang polisi mencari Do Kyungsoo, sahabatnya itu?

Lalu polisi berbadan tegap itu mengutarakan maksudnya datang ke rumah Kyungsoo—dan Minah. Tak lebih dari sekedar memberikan informasi dengan wajah simpati, turut berbela sungkawa. Ia menepuk pelan bahu Minah yang melorot, memintanya untuk berbesar hati.

Kyungsoo meninggal.

Di perjalanan pulang dari tempat seleksi, ia dihadang gerombolan remaja yang kurang lebih seumur dengannya. Mereka mengeroyok Kyungsoo tanpa ampun, tanpa aba-aba dan tanpa membiarkan pemuda mungil itu membela diri. Mungkin Kyungsoo adalah pemuda kuat, tapi kalau harus melawan lima orang berotot sekaligus, ia juga tidak mampu.

Polisi terlambat datang, mereka tiba ketika Kyungsoo sudah tak bernyawa dengan tubuhnya yang tak lagi berbentuk. Namun polisi bisa menangkap pelakunya, gerombolan itu—yang ternyata mengenal Kyungsoo—yang akhirnya mengakui kesalahan mereka. Mengatakan bahwa alasan mereka mengeroyok Kyungsoo adalah karena tidak terima dengan hasil seleksi yang meloloskan pemuda itu. Gerombolan itu juga sama seperti Kyungsoo, mengikuti seleksi atlit, namun mereka gagal. Dan mereka merasa Kyungsoo adalah penyebab kegagalan mereka. Mereka pikir Kyungsoo tidak pantas, badan mereka lebih tinggi dan besar, juga berotot. Merekamerasa tidak adil, bertanya mengapa malah Kyungsoo yang dipilih.

Mereka melampiaskan kekesalan yang memuncak pada Kyungsoo. Awalnya mereka pikir Kyungsoo tidak akan meninggal, tapi ternyata salah. Mereka telah jadi pembunuh.

Minah tidak sanggup mendengar lanjutan ceritanya, yang bisa ia lakukan cuma duduk diam dan merenung. Kehabisan air mata. Meratapi nasib Kyungsoo yang malang. Tidak tahu siapa yang harus disalahkan di saat seperti ini. Gadis bersurai hitam itu mengusap permukaan wajahnya yang sembab, kuyu.

Apa yang bisa ia lakukan sekarang?

_______

Nama gadis cantik itu Minah. Wajah mungilnya tenggelam di balik helaian rambut hitam kecoklatan. Dan gadis itu adalah sahabat baikDoKyungsoo, ia bahkan mengaku tinggal serumah dengan pemuda itu karena keduanya sama-sama tidak memiliki orang tua. Gadis itu juga berkata sesuatu tentang lily putih, bunga yang menjadi favoritnya, yang entah kenapa juga jadi favorit Kyungsoo. Karena itu ia menanggalkannya di sana setiap hari, di stadion itu, untuk mengenang Kyungsoo.

Gadis itu pergi meninggalkan stadion, masih dengan punggung bergetar karena menangis, sekitar setengah jam lalu.

Yifan mendesah, bersandar sempurna pada kursi rodanya. Lelah berpikir. Kendatipun demikian, sebaris kisah pahit yang Minah ceritakan sebelum ini masih mengambang di benaknya, sulit hilang seolah ingin terpaku di sana sepanjang waktu.

Kenapa sesuatu yang sangat ingin dilupakan malah betah melekat dalam ingatan? Terus mengusik pikiran dan enggan bertandang ke tempat lain, memilih untuk tinggal dan memporak-porandakan hidup seseorang.

Yifan tidak ingin mengingat kenyataan itu, ia ingin lupa. Menolak dengan tegas untuk mempercayai bahwa DoKyungsoo bukan lagi seorang manusia. Ia ingin mengubur dalam-dalam fakta pahit itu.

“Kau sudah tahu semuanya, ya?”

Tersentak, Yifan lantas mengarahkan kepalanya ke sumber suara. Mendapati sosok familiar tengah berdiri di sana. Suasana di stadion kecil itu temaram, tapi Yifan masih bisa melihat sosok itu dengan jelas. DoKyungsoo, siapa lagi.

Pemuda mungil itu memenggal jarak di antara mereka, wajahnya keruh, tidak berseri-seri seperti sebelumnya. Ia menatap Yifan sendu.

“Aku tahu banyak soal Wu Yifan, dia idola Minah. Yang selalu gadis itu bicarakan sepanjang waktu.Awalnya aku membencinya, sangat. Karena ia merebut perhatian gadis yang sudah lama kusukai, karena ia membuatku merasa kecil dan bodoh. Aku iri pada Wu Yifan,” DoKyungsoo menghela napas pelan dan melanjutkan, “Aku iri padamu.”

Yifan tidak pernah tahu caranya merespons dengan baik. Ia hanya sibuk menerka, apakah seorang bernama Kyungsoo ini berniat membalas dendam padanya atau apa, entahlah.

“Aku sempat sampai pada sebuah pemikiran untuk memukul Wu Yifan suatu hari nanti saat kami bertemu.”

Tuh kan benar, umpat Yifan dalam hati.

Namun, seulas senyum—sedikit pahit—terbingkai di wajah DoKyungsoo, “Tapi tidak. Kini aku sangat berterima kasih padamu. Karena Wu Yifan, aku punya obsesi. Karena Wu Yifan, aku setidaknya bisa membuat Minah bangga untuk terakhir kalinya. Aku berhasil lulus menjadi atlet sekalipun aku sama sekali tidak punya kesempatan untuk itu. Bahkan mungkin, diam-diam aku sudah jadi fansmu.”

Yifanmembulatkan matanya lebar, tidak menyangka kalau hal itulah yang ia dapat. Ia bingung, apakah harus senang atau malah sedih. Mereka hanya saling bertukar pandangan selama beberapa waktu. Mencari arti lewat gestur diam milik masing-masing.

“Kau … kau kan sudah tidak ada. Maksudku—ya, lalu … kenapa aku bisa melihatmu?”

Kening Kyungsoo berkerut mendengar pertanyaan yang menembus telinganya, ia menganalisis ekspresi wajah Yifan agak lama sebelum akhirnya mendesah ringan. Sebab tidak menemukan secuil sorot canda di sana.

“Kau tidak menyadarinya, atau memang menolak untuk menyadarinya?”

Yifan hanya diam. Belum paham.

“Kita meninggal di hari yang sama, Wu Yifan. Tolong jangan lupakan itu.”

Apa?

Keheningan menelusup di sela-sela. Menanggalkan kerutan yang lebih dalam di dahi Yifan. Ia mengangkat tangan, meraba permukaan wajahnya. Pemuda itu menatap penuh selidik ke setiap inci tubuhnya, telapak tangannya yang besar, kakinya yang dibalut sneakers putih, pakaiannya hanyalah kaus dan jaket denim yang nyaman dipakai.

Ia terlambat menyadari satu hal.

Kalau semuanya persis seperti yang terakhir kali ia pakai saat kecelakaan tahun lalu.

Ah, pantas saja.

            Pantas saja saat itu Minah menatapnya nyaris ketakutan, berita soal kematiannya pasti sudah menyebar di mana-mana, pantas saja orang-orang di stadion tidak pernah menyapanya sekalipun setiap hari ia datang ke sana. Pantas saja ..

Ya ampun, betapa bodohnya!

Pemuda Wu itu menutup rapat kedua matanya, menghembuskan napasnya keras-keras. Kemudian ia mengangguk, membenarkan ucapan Kyungsoo dengan berat hati.

Ia lantas mengingat lagi, hari yang panas dan melelahkan. Yifan tengah menyeberang jalan dengan terburu-buru, ingin segera sampai di café seberang, membeli es krim rasa kesukaannya. Membayangkannya saja sudah bisa membuatnya tak sabar dan merengek sendiri, seperti anak balita. Ia mengabaikan jalanan, tidak melihat kalau lampu hijau untuk pejalan kaki sudah berubah warna.

Harusnya ia menyadarinya lebih cepat dan itu semua tidak akan terjadi. Sebuah truk besar menabrak tubuhnya kelewat keras, membuat tubuh tingginya terpental jauh.

Dan kemudian semuanya gelap.

Di saat yang sama, di tempat yang berbeda. DoKyungsoo juga bernasib sama.

Kalau begitu, selama ini seharusnya tidak ada yang perlu ia cemaskan, bukan? Soal dirinya yang tidak bisa bermain basket lagi, soal ketakutannya bertemu teman-teman lama, soal masa depannya. Semestinya ia tidak perlu khawatir. Kursi roda yang ia pakai juga tidak seharusnya ada bersamanya. Ia tidak lagi memiliki raga, ia tidak memerlukan benda itu lagi. Yifan bisa berjalan bebas sesukanya, bermain basket sepuasnya.

Seharusnya sih, begitu.

Ya Tuhan, kenapa ia baru menyadarinya setelah sekian lama? Kenyataan bahwa ia juga sudah tiada. Sama seperti Kyungsoo.

“Kenapa selama ini kau harus berpura-pura duduk di atas kursi roda Wu Yifan? Kenapa harus memasang wajah galau tiap kali berada di sini, kita bertemu dan selalu berakhir dengan omelan beruntunmu terhadapku? Padahal kau bisa berdiri kan? Hei, jangan tiba-tiba tertawa dan lekaslah berdiri!”

Mendengar omelan beruntun itu, Wu Yifan membalasnya dengan tudingan, tidak mau kalah. “Hei, aku sendiri baru menyadarinya, Kyungsoo. Lagipula kau juga salah, seharusnya kau menyadarkanku lebih awal! Kau membodohiku kalau seperti ini namanya!”

Kyungsoo balas terkekeh, sepertinya pemuda yang satu ini sempat punya niat untuk mengerjai Yifan. Ckckck.

Yifan bangkit dari kursi rodanya dengan hati-hati, takut seandainya ia tidak benar-benar bisa berdiri—lumpuh. Tapi dugaannya salah, ia mampu bangkit bahkan tanpa bantuan siapa-siapa, tidak seperti biasanya. Waoww, ini menakjubkan, pikirnya.

“Aku sendiri heran kenapa aku harus membuka mata pertama kali dan duduk di atas kursi roda itu. Membuatku langsung berasumsi bahwa aku sungguhan lumpuh akibat kecelakaan itu. Itu aneh.” Ia merenggangkan tubuhnya sejenak. Pemuda jangkung itu bisa berdiri tegak, berpijak di tanah tanpa goyah. Yifan melompat-lompat, senang melihat kakinya yang berfungsi lagi.

“Mungkin Tuhan memang telah berencana mempertemukan kita.”

“Huh?”

“Tidakkah kau pikir ini aneh? Kau tinggal di Seoul, bukan di sini yang menjadi kota kelahiranku. Tapi kenapa rohmu malah hadir di sini, padahal kau tahu kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Kau duduk di atas kursi roda, mungkin itu salah satu cara Tuhan untuk membuat kita bertemu, saling bertegur sapa. Dan memperjelas semuanya.” Kyungsoo mengulum senyum.

Yifan terpekur sejenak sebelum akhirnya menggangguk, tersenyum lega.

So, from now, we can be friend, right?

Mendengar itu, Kyungsoo tidak bisa menyembunyikan binar terhebat yang pernah ia miliki selama ini.

_______

            “Jadi, Minah bisa melihat roh?”

“Aku rasa begitu. Buktinya dia bisa melihat kau, kan?”

Yifan tiba-tiba berhenti melangkah, membuat Kyungsoo terpaksa melakukan hal yang sama. Keningnya berkerut dalam, pertanda tak langsung setuju. “Tapi kenapa dia tidak bisa melihatmu?”

Kyungsoo tampak berpikir sejenak, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Mungkin karena dia tidak ingin. Dan begitupun aku.”

“Hah? Tidak adakah alasan yang lebih masuk akal?”

Si pemuda mungil mengangguk, kedua bahunya terangkat sedikit. “Kalau Minah melihatku lagi, ia tidak akan maju Yifan. Minahakan menangis lagi, dan aku tidak akan tega melihatnya. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri kalau sampai dia menangis hanya karena aku.”

Yifantertawa.

“Kau adalah orang yang baik.”

I am,” kata Kyungsoo percaya diri.

__FIN__

Promote FIC :

100 Doors | fhayfransiska | Fluff | T

Zhang Yixing, Kim Minseok, OC

“Demi gadisnya, Yixing rela walau harus mengetuk 100 pintu”

READ HERE

28 responses to “Unknown

  1. feel nya dapett kaakk.. gak nyangka endingnya gini, kalau yg kyungsoo iya tapi kalau kris?? daebaak

  2. HEOL INI KECE EONNI❤
    ADUH KRIS ADUH KAMU KELEWAT OON APA GIMANA HAHA LUPA KALO UDAH JADI MAKHLUK INVISIBLE wkwkwk ((maaf caps jebol))
    udahlah semua ffmu nggak ada yang ngecewain saranghae❤

  3. daebak.. feelnya dapet. nggak nyangka ternyata dua”nya sudah meninggal. bahkan aku juga mengira minah meninggal juga padahal enggak hehe

  4. Gak nyangka banget kali mereka berdua sama sama gak ada.
    Ffnya keren bangt kak author.
    sempet syok berkali kali waktu tahu kenyataan kyungsoo menjnggal dan ternyata yifan juga.
    wowi.pokoknya galau bangt.

  5. Omigot.. Ga nyangka kalo dua”nya udah meninggal.
    Lucu sii kris masa’ ga nyadar -_-
    kalo udh meninggal fiuhh
    tp saya suka banget.. Keren..!

  6. Akhhhh demi apapun ceritanya bagus
    Sedih’a dapet kriss appanya dio keren hahaha
    Qw suka cople dio-minah juga….
    Keren-keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s