Beautiful Sin (Chapter 6)

image

Author: Trik
Cast: Jung Hyemi (You/OC), Lu Han, etc.
Genre: AU, Romance, Marriagelife, Pregnancy.
Rating: PG-17
Disc. : I don’t own anything beside the story.
Cr Poster: diajengdea23 Makasi de!
Prev. : Chapter 5

Chapter 6: Warm Milk

Author’s POV

Dua minggu setelah kesepakatan tersebut, ada sedikit kemajuan dalam hubungan mereka. Mereka masih kaku tetapi tidak sekaku saat awal-awal pernikahan lagi. Mereka bisa bicara dengan lebih santai kepada satu sama lain dan terkadang mereka tertawa bersama karena lelucon yang mereka dengar.

“Sudah jam tujuh, mandilah. Aku sudah menyiapkan pakaianmu,” ucap Hyemi sambil menyisir rambutnya begitu Luhan terbangun dari tidurnya.
Pagi ini Hyemi berencana untuk mengurus cuti hamilnya di kampus sebelum ke kantor karena Ibu Luhan terus mendesaknya untuk segera mengambil cuti kerja ataupun cuti kuliah. Jelas Hyemi memilih pekerjaan. Pekerjaannya memberi ia pendapatan sehingga ia memiliki pegangannya sendiri. Sebagai wanita ia ingin mandiri, meskipun punya suami, ia harus tetap bekerja.

“Aku berangkat,” pamitnya pada Luhan yang masih terduduk di ranjang mengumpulkan nyawa.
“Hm,” respon Luhan.

Setelah Hyemi keluar dari kamar, Luhan melihat pakaian kerjanya yang sudah disiapkan Hyemi di atas ranjang.

Satu hal lagi yang Luhan suka tentang ‘memiliki istri’, ia tidak perlu menyiapkan apapun saat ia terbangun dari tidurnya karena semua sudah disiapkan oleh istrinya.

***

Hari-hari pertama memang mudah. Luhan bisa menyingkirkan sedikit demi sedikit rasa tidak sukanya terhadap Hyemi. Bisa dikatakan dia tak memiliki rasa kesal maupun benci lagi terhadap Hyemi. Tetapi sesungguhnya ia memang tak pernah menyimpan benci yang mendalam pada Hyemi. Rasa kesal tiap kali melihat Hyemi sebelumnya memang ada, tetapi benci, tidak terlalu. Mungkin benci tersebut ada di saat ia sedang berada di titik paling bawah kesedihannya, di saat Minha mengetahui semuanya dan pernikahan mereka dibatalkan. Namun beberapa hari kemudian rasa benci tersebut berkurang setelah ia berpikir dan ia sadar bahwa memang semua ini bukanlah salah Hyemi sepenuhnya.

Meskipun ia sudah berhasil membuat kondisi hubungannya dengan Hyemi menjadi lebih baik dari sebelumnya, tak bisa dipungkiri jika Minha masih ada dalam hati dan pikirannya. Dirinya bisa saja mengatakan bahwa ia sudah bisa melupakan Minha, namun hatinya tak bisa berbohong.

“Ah, lagi-lagi aku memikirkan dia!” rutuknya.
Luhan menggelengkan kepalanya lalu dalam hati mengingat-ingat proyeknya di kantor untuk mengusir Minha dari pikirannya.

Dua minggu sudah ia seperti ini. Kalau dikatakan tersiksa secara fisik, mungkin tidak. Tetapi secara batin, ya. Ia bisa mengatakan dirinya baik-baik saja, namun kenyataannya adalah dadanya selalu sesak tiap kali ia teringat Minha. Terutama raut wajah dan sorotan mata Minha yang menunjukkan kesedihan yang begitu mendalam saat itu.

Sudah beberapa hari belakangan ini ia berusaha mengontrol diri untuk tidak menemui Minha, namun hasrat untuk bertemu Minha begitu besar hingga ia merasa ia tak akan mampu membendungnya lebih lama lagi.

Ini Minha yang sedang kita bicarakan. Kekasih Luhan selama tiga tahun. Wanita yang benar-benar ia cintai. Minha bukan gadis yang Luhan pacari hanya untuk bermain-main. Luhan serius dengan hubungan mereka. Itulah mengapa Minha tidak akan semudah itu ia hilangkan dari pikirannya.

Orang yang menjalin hubungan hanya beberapa minggu saja bisa memerlukan waktu berbulan-bulan untuk melupakan mantannya, apalagi Luhan yang menjalin hubungan dengan Minha selama tiga tahun. Luhan sendiri tak yakin, sebulan atau dua bulan cukup untuknya melupakan Minha dan seluruh perasaannya terhadap Minha.

Luhan menghela nafasnya. ‘Mengapa sulit sekali rasanya melupakan cinta lama…’ batinnya.

Setelah selesai mengenakan setelan yang telah disiapkan Hyemi, Luhan beranjak ke meja kerjanya untuk mengambil tas kerjanya. Tak sengaja ia melihat rangkuman yang dibuat Baekhyun dan Jongdae. Ingatannya melayang ke saat Hyemi menyerahkan rangkuman tersebut padanya.

Tanpa ia sadari, seulas senyum terukir di bibirnya ketika mengingat bagaimana lucunya Hyemi saat itu.

-Flashback-

Malam itu Hyemi baru saja pulang dari kampusnya. Tanpa sepatah kata pun ia masuk ke kamar dan membersihkan dirinya. Luhan yang saat itu masih terjaga hanya diam dan memperhatikan Hyemi yang beberapa kali bolak-balik di hadapannya.

Setelah selesai melakukan rutinitas malamnya, Hyemi naik ke ranjang lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Meskipun sudah lima belas menit ia menutup mata, namun dirinya belum juga terlelap.

Karena geram, Hyemi bangkit dari tidurnya. Luhan yang memang belum tertidur saat itu menatapnya heran. “Kau kenapa?” tanyanya.
“Tidak tahu,” jawab Hyemi.
“Kau tidak sakit kan?” tanyanya lagi, khawatir.
“Tidak. Aku baik-baik saja,” jawab Hyemi membuatnya sedikit lega. Ia pun tak membalas ucapan Hyemi lagi dan kembali fokus pada kegiatannya yang sempat tertunda, mencoba untuk tidur.

Beberapa menit mereka terdiam, hingga akhirnya Hyemi memecah keheningan di antara mereka.
“Apa yang kau ketahui tentang wanita hamil?”
Luhan menolehkan kepalanya, memandang Hyemi heran. Ia memikirkan sejenak jawaban dari pertanyaan Hyemi. Jika ditanya tentang pengetahuannya soal wanita hamil, Luhan tidak berani jamin ia tahu 50 persen bahkan 25 persen. Ia benar-benar buta masalah kehamilan. Yang ia tahu hanyalah wanita hamil memiliki perut yang buncit. Sisanya ia tak terlalu tahu karena saat sekolah dulu ia tidak terlalu memperhatikan pelajaran biologi. Materi apapun yang berkaitan dengan biologi seperti reproduksi dan lainnya, ia sudah melupakannya.
“Eerr sebenarnya aku tidak terlalu tahu. Yang aku tahu wanita hamil itu perutnya akan terus membuncit hingga anaknya lahir,” jawab Luhan seadanya.
“Mengapa kau tiba-tiba menanyakan ini padaku?” tanya Luhan kemudian, penasaran dengan alasan Hyemi.
“Oh, ti-tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tahu saja,” jawab Hyemi gugup.
Luhan mengangguk-anggukkan kepalanya lalu mengalihkan pandangannya dari Hyemi.

Suasana saat itu benar-benar kikuk. Luhan sebenarnya masih penasaran dengan alasan Hyemi, namun ia menahan dirinya untuk bertanya karena jika ia bertanya mungkin keadaan akan makin bertambah kikuk di antara mereka. Ia yakin masih ada sesuatu yang ingin Hyemi katakan padanya, tetapi ia tidak tahu apa yang menahan Hyemi untuk mengatakannya.

Tik Tok Tik Tok Tik Tok

Saking sepinya, hanya suara dentingan jarum jam di kamar mereka yang terdengar.
“Kau… Apa kau pernah mencari tahu sesuatu tentang kehamilan?” tanya Hyemi, agak ragu pada awalnya.
Jujur Luhan tidak pernah terpikir sampai ke sana. Ia pikir ia tidak perlu mencari tahu selagi bukan dirinya yang hamil. “Tidak. Kurasa orang yang sedang hamil lah yang harus lebih mencari tahu tentang itu,” jawabnya.
“Jadi menurutmu suami tidak perlu tahu tentang kehamilan istrinya?” tanya Hyemi dengan suara yang sedikit kesal karena mendengar jawaban Luhan. Ia sendiri tak tahu mengapa ia kesal. Dan bodohnya ia malah mengeluarkan pertanyaan seperti itu, membuatnya terdengar seolah-olah ingin Luhan tahu bahwa pengetahuan tentang kehamilan seorang wanita juga penting untuk para suami ketahui.
Luhan menaikkan sebelah alisnya setelah mendengar pertanyaan Hyemi barusan, “Kenapa kau malah marah?” bukannya menjawab pertanyaan Hyemi, ia malah balik bertanya.
Hyemi langsung membalik badannya, memunggungi Luhan. “Tidak,” jawab Hyemi singkat. Namun dalam hatinya ia mengakui ia kesal. Hanya saja ia bingung mengapa dirinya bisa sekesal ini.
“Aish… Sebenarnya apa yang ingin kau sampaikan padaku?” tanya Luhan gemas karena sedari tadi Hyemi terkesan mengajaknya berbasa-basi saja.
“Tidak ada.”
Ya!” seru Luhan pelan. Ia penasaran, tetapi Hyemi tetap bersikukuh untuk tidak memberitahunya.
Hyemi yang juga gusar pun bangkit dari posisi berbaringnya lalu mengambil sesuatu di atas meja belajar Luhan yang kini menjadi mejanya.

“Apa ini?” tanya Luhan saat Hyemi menyerahkan sesuatu yang dia ambil barusan.
Hyemi mengedikkan bahunya, “Lihat saja sendiri,” ucapnya.
Luhan membolak-balik lembaran benda yang ternyata adalah kumpulan paper yang dijadikan satu. Keningnya agak berkerut saat sekilas ia membaca beberapa hal tentang kehamilan dan di bagian belakang ada beberapa tips menjadi suami yang.
“Kau ingin aku menjadi suami yang baik untukmu?” tanya Luhan dengan tatapan mata yang masih fokus ke rangkuman tersebut.
“A-a-apa?”
Luhan menatap Hyemi sambil menggoyang-goyangkan rangkuman tersebut di udara, “Ini. Kau memberiku ini karena ingin aku menjadi suami yang baik untukmu?”
“Ha-hah? Aniyaaa!! Bukan begitu!” bantah Hyemi dengan pipi sedikit merona.
Luhan menaikkan sebelah alisnya lagi, “Lalu?”
“Itu dari Baekhyun dan Jongdae bukan dariku, aku tidak akan memaksamu untuk membacanya, kalau kau merasa hal-hal dari dalam rangkuman itu penting, ya silakan baca. Kalau tidak, ya sudah, terserah kau saja rangkuman itu mau kau apakan.”
“Tapi kurasa tidak ada salahnya kau tahu tentang hal-hal tersebut mengingat yang aku kandung ini anakmu…” tambah Hyemi kemudian dengan suara datar sedatar yang ia bisa karena sejujurnya ia malu mengatakannya.
“Oh… Sebenarnya kau tidak perlu malu-malu begini kalau hanya ingin memberikan ini padaku…” ucap Luhan membuat Hyemi mendelik seketika.
“Aku tidak malu!” elak Hyemi padahal sudah jelas sekali dari tingkahnya barusan kalau ia malu.
Luhan ingin tertawa melihat wajah Hyemi yang memerah dengan mata mendelik. Baginya ekspresi Hyemi saat itu sangat lucu sehingga ia ingin mengambil foto wajah memerahnya lalu menggunakan foto itu untuk mengancamnya.
“Tidak malu atau tidak malu?” goda Luhan.
Aneh memang, baru beberapa saat yang lalu Luhan merasa begitu canggung namun sekarang tiba-tiba ia merasa biasa saja dengan Hyemi. Bahkan dengan santainya ia menggoda Hyemi tanpa merasa canggung sedikit pun.

Hyemi mendengus, “Aku hanya agak tidak enak memberi itu padamu tahu! Dengan hubungan kita yang masih lumayan canggung ini aku merasa tidak nyaman untuk memberi atau meminta sesuatu padamu,” akunya.
Luhan menganggukkan kepalanya, mengerti. Ia sendiri pun begitu.

Namun kemarin ia telah bertekad untuk memperbaiki hubungan antara dirinya dan Hyemi, jadi ia harus melakukan sesuatu untuk mewujudkannya.

“Mulai sekarang, kalau ada sesuatu yang kau inginkan atau kau tanyakan, katakanlah padaku.”

-Flashback End-

Luhan mengambil tas kerjanya lalu beranjak pergi. Saat akan keluar rumah, ia bertemu dengan ibunya.

“Luhan!”
“Ne, eomma?” tanya Luhan pada ibunya.
“Apa kau sudah membelikan Hyemi susu?” tanya ibunya membuat Luhan bingung.
“Susu?”
“Iya susu. Susu Hyemi sepertinya habis. Pulang kerja nanti mampirlah ke supermarket atau minimarket dan belikan Hyemi susu yang sama seperti yang kau belikan sebelumnya. Langsung beli empat atau lima kotak sekalian,” pesan ibunya.
Luhan menganggukkan kepalanya, “Baiklah. Tapi eomma, mengapa tidak menyuruh Hyemi langsung yang membelinya. Kan dia yang sedang hamil,” ucap Luhan.
“Ya! Kau kan suaminya. Tidak ada salahnya memperhatikan istri sekali-sekali. Kau ini! Lagipula eomma sudah sempat mengingatkannya untuk membeli susu yang baru, tetapi sepertinya ia lupa.”
“Ohh… Oke! Oke! Akan aku belikan nanti,” ujar Luhan.

***

Hyemi baru saja menyelesaikan tugasnya saat Baekhyun datang untuk mengajaknya makan siang.

“Sini biar aku yang membawanya!” ujar Baekhyun sambil merampas tas tangan Hyemi begitu mereka berjalan meninggalkan meja kerja Hyemi.
Hyemi memutar bola matanya, “Baek, kau terlalu berlebihan, kau tahu?” ujarnya meskipun sebenarnya dalam hati ia senang sahabatnya tersebut bersikap protektif terhadapnya karena itu berarti Baekhyun sangat menyayanginya.
“Ya! Kau ini sedang hamil! Aku tidak mau kau membawa barang-barang yang berat!” omel Baekhyun membuat Hyemi mendengus.
“Baek please? Tas itu bahkan sangat ringan.”
“Uh, terserah mau tas ini ringan atau berat, biar aku yang membawanya. Kau perhatikan saja jalanmu, jangan sampai terjatuh!”

Hyemi mengerucutkan bibirnya. Baekhyun dan Jongdae selalu saja memperlakukannya sebagai anak kecil di antara mereka, padahal Hyemi lebih muda hanya beberapa bulan dari mereka. Ia bahkan lebih muda kurang dari satu bulan dengan Jongdae. Meskipun diperlakukan seperti itu, jauh di dalam lubuk hatinya ia senang. Ia merasa seperti benar-benar memiliki dua orang kakak laki-laki yang sangat menyayangi dan menjaganya.

“Kau terlihat lucu dengan tas itu di tanganmu Baek. Lihat! Orang-orang memperhatikanmu,” ujar Hyemi, bermaksud menggoda Baekhyun.
“Tidak peduli. Bukankah aku terlihat manly? Aku seperti seorang kekasih yang membawakan tas kekasihnya haha,” balas Baekhyun. Baekhyun memang tidak pernah gagal membuat Hyemi terpukau dengan jawabannya. Di saat pria pada umumnya malu, ia malah merasa bangga dengan apa yang ia lakukan.

“Ngomong-ngomong soal kekasih, kau tidak pernah cerita tentang kekasihmu pada kami beberapa bulan terakhir ini… Kalian sudah putus?” tanya Baekhyun tiba-tiba, membuat jantung Hyemi serasa berhenti berdetak untuk beberapa saat. Meskipun ia berbagi banyak hal tentang hidupnya pada sahabat-sahabatnya, Hyemi tidak terlalu sering berbagi cerita tentang kekasihnya pada mereka. Baginya, cerita tentang ia dan kekasihnya bukanlah sesuatu yang menarik untuk diceritakan. Di antara mereka berlima hanya dirinya yang memiliki kekasih, jadi terkadang ia merasa canggung dan tak enak jika membawa-bawa kekasihnya dalam obrolan mereka. Selain itu, sebelumnya ia juga tidak terlalu memikirkan kekasihnya. Baginya tahu kekasihnya masih hidup dan masih memegang komitmen mereka untuk tetap bersama saja sudah cukup. Ia tidak terlalu ambil pusing dengan hubungan jarak jauh mereka yang bisa dikatakan masalah bagi pasangan pada umumnya. Ia akui ia memang orang yang tidak terlalu peduli dengan hal-hal berbau cinta sebelumnya, ia menyepelekan cinta, menganggap remeh cinta yang dimiliki kekasihnya dan sekarang ia harus menanggung karmanya.

“Mengapa kau diam?” tanya Baekhyun namun sepertinya Hyemi tak mendengarnya karena Hyemi terlalu larut dengan pikirannya sendiri.

Setelah dua minggu ia tak terlalu memikirkan kekasihnya, sekarang Baekhyun tiba-tiba membahas kekasihnya, membuat ia merasa sedikit terbebani dengan perasaan bersalah yang kini kembali muncul dan menyelimuti dirinya. Padahal baru beberapa hari yang lalu kakak iparnya memberinya nasihat agar jangan sampai stress selama mengandung.

“Ya! Hyemi! Jung Hyemi! Aish… Lu Hyemi!”

Hyemi agak terkesiap mendengar Baekhyun memanggilnya dengan marga suaminya. Lu Hyemi terdengar asing di telinganya. Tetapi di satu sisi ia merasa ada perasaan aneh yang muncul saat mendengar Baekhyun memanggilnya Lu Hyemi. Senang.

Aneh memang. Bagaimana bisa satu suku kata yang menjadi marga barunya semenjak menikah membuatnya merasa senang?

Setelah dipikir-pikir, mungkin marga barunya membuatnya tersadar bahwa menjadi seorang Lu Hyemi memberi dampak yang cukup besar bagi hidupnya. Keluarga yang sedari dulu hanya menjadi angan-angan, kini berbalik menjadi realita yang tak pernah ia bayangkan akan ia dapatkan. Ibu, ayah, dua orang kakak, seorang adik, dan dua keponakan langsung ia miliki. Ayah mertua yang awalnya terlihat cukup galak ternyata merupakan sosok ayah yang hangat. Ayah Luhan benar-benar tipe mertua yang menyayangi menantu-menantunya seperti anak kandungnya sendiri, dalam kasus ini putri karena beliau dan istrinya tak memiliki seorang putri kandung pun. Ibu Luhan yang memang penyayang sejak awal, makin memanjakan Hyemi semenjak Hyemi tinggal seatap dengannya. Kris yang mungkin terlihat agak dingin ternyata juga merupakan orang yang hangat. Ia sering memberi nasihat dan saran-saran tentang hidup berumah tangga pada Hyemi dan Luhan. Hara tidak perlu ditanya lagi, ia benar-benar sosok kakak perempuan yang hampir semua anak perempuan inginkan. Si kembar Naomi dan Lisa yang kini mengganti hari-hari sepi Hyemi karena setiap kali ia berada di rumah, ada Naomi dan Lisa yang membuat keributan di rumah dan membuat rumah terasa hidup. Yang terakhir adalah Sehun. Meskipun di awal pertemuan Sehun bersikap agak dingin dan terlihat ragu untuk menerima Hyemi sebagai kakak iparnya, ternyata Sehun merupakan seorang adik laki-laki yang manja. Hyemi tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya tiap kali ia mengingat sekarang dirinya memiliki keluarga dan ia hidup dengan keluarganya.

Meskipun sebelumnya sahabat-sahabatnya sudah menjadi sosok keluarga untuknya, namun tak bisa dipungkiri keberadaan sosok ayah dan ibu yang sebenarnya akan membuat hidupnya terasa lebih lengkap. Dan ia mendapatkan hal tersebut dari orang tua Luhan.

Ia bersyukur orang tua Luhan tidak menyuruhnya tinggal bersama Luhan di rumah yang terpisah dari mereka karena ia bisa jamin 100% hidupnya akan tetap sesepi sebelumnya dan bahkan ada tambahan ke-awkward-an di antara dirinya dan Luhan. Untuk sekarang, yang diinginkan orang tua Luhan hanya ingin menikmati usia lanjut mereka dengan anak-anak, menantu, dan cucu-cucu yang berada di dekat mereka. Mungkin beberapa tahun lagi mereka baru akan membiarkan anak-anaknya untuk tinggal di rumah mereka masing-masing. Bagi orang tua Luhan, kebersamaan dalam keluarga adalah hal yang penting. Tidak masalah jika anak mereka masih ingin tinggal dengan mereka meskipun sudah menikah, bahkan mereka sangat senang jika anak mereka masih mau menemani mereka. Namun tidak masalah juga jika anak mereka ingin mencoba mandiri setelah menikah.

Kebersamaan. Salah satu hal yang Hyemi suka dan Hyemi kagumi dari keluarga Luhan. Ia berharap kebersamaan tersebut akan terus bertahan bahkan jika nanti kedua orang tua Luhan telah tiada.

Dalam hati ia berdoa, jika nanti ia berkeluarga, dengan Luhan maupun dengan pria lain, keluarganya memiliki ikatan keluarga yang erat seperti yang keluarga Luhan miliki.

“Aish anak ini! Apa yang dia pikirkan sampai-sampai ia tak mendengarku?!” oceh Baekhyun, kesal karena Hyemi tak meresponnya.

“Aku ingin makan ramyun,” ujar Hyemi tiba-tiba membuat Baekhyun menatapnya tak percaya. Setelah cukup lama terlarut dalam pikirannya, akhirnya ia mengucapkan sesuatu. Namun sesuatu yang ia ucapkan malah tak sesuai dengan ekspektasi Baekhyun.
“Mwoya?! Ya! Kau belum menjawab pertanyaanku!” protes Baekhyun.
Hyemi menghela nafas berat, ia masih belum ingin membicarakan masalah kekasihnya saat ini. Mungkin nanti saat mereka makan, atau mungkin lain kali saat ia ingin menceritakannya. “Baek, aku ingin ramyun. Sekarang juga. Kita bicarakan masalah ini lain kali oke? Please?” mohonnya pada Baekhyun.
Melihat wajah Hyemi yang terlihat terbebani membuat Baekhyun mau tidak mau menuruti keinginan Hyemi untuk tidak membahasnya meskipun dalam hati ia penasaran sekali dengan apa yang terjadi di antara Hyemi dan kekasihnya.
“Haish… Baiklah,” ucapnya mengalah.

***

Sesuai perintah ibunya tadi pagi, Luhan mampir ke sebuah supermarket yang ia lewati saat pulang kerja. Setelah memarkir mobilnya, ia langsung masuk dan menuju rak susu. Matanya menelusuri satu persatu kotak susu yang tersusun di rak, mencari susu yang sama seperti yang ia beli saat itu. “Ah itu dia!” gumamnya begitu matanya menemukan susu yang ia cari.
Tanpa pikir dua kali, ia mengambil 5 kotak sekaligus. Bersyukur sekali ia orang kaya, jadi tak perlu memikirkan harga susu tersebut, ia tinggal mengambil sebanyak yang ia mau lalu membayarnya di kasir.

Beberapa langkah sebelum ia tiba di kasir, ponselnya berdering.
“Halo?” sapanya.
“Hai… Kau sudah pulang?” dari suaranya Luhan tahu itu Hyemi.
Ia menganggukkan kepalanya tanpa sadar, “Ya, aku baru saja pulang. Ada apa?” tanyanya.
“Ah itu aku err… Bisa kau mampir ke supermarket sebentar? Aku ingin makan apel fuji…” jawab Hyemi agak malu-malu. Ini pertama kalinya Hyemi meminta Luhan membelikannya sesuatu saat ngidam. Biasanya Baekhyun dan Jongdae atau Jongin yang memenuhi keinginannya karena biasanya ia ingin sesuatu saat ia bersama salah satu dari mereka. Tetapi kali ini ia sedang berada di rumah karena ia sudah tidak masuk kuliah lagi sejak tes akhir semester terakhirnya minggu lalu. Sekarang ia hanya perlu menunggu hasil semesternya lalu mengurus kembali cuti hamilnya yang telah ia ajukan ke bagian administrasi di kampusnya tadi pagi.
“Oke, akan aku belikan,” ucap Luhan.
“Terimakasih,” balas Hyemi.
Sambungan telepon pun terputus. Luhan membalik badannya lalu berjalan ke sektor buah-buahan untuk membeli apel fuji yang hyemi, atau anak mereka lebih tepatnya, inginkan.

Setelah berminggu-minggu tak bertemu, Luhan tak menyangka akan bertemu orang yang tidak pernah ia bayangkan akan ia temui saat itu. Setelah tragedi pemukulan terhadapnya di kantornya sendiri, ini adalah kali pertama ia bertemu Chanyeol, kakak Minha, lagi.

Kaget, jelas. Takut, ya ada sedikit. Tetapi yang paling besar adalah rasa ingin tahunya tentang Minha. Ia ingin tahu bagaimana keadaan Minha dan apa yang Minha lakukan beberapa hari terakhir ini.

Suasana terasa mencekam. Tak ada satu pun di antara mereka yang bergerak maupun bicara. Luhan masih membeku di tempatnya, sementara Chanyeol berdiri dengan apel di tangannya sambil menatap Luhan dengan tatapan yang tak bisa Luhan mengerti. Sekilas terlihat seperti tatapan kosong, namun Luhan tahu ada sesuatu dibalik tatapan yang Chanyeol berikan padanya.

“Tak kusangka kita akan bertemu di sini,” ujar Chanyeol datar dengan suara khasnya yang berat, membuat bulu roma Luhan serasa berdiri. Ada amarah, kesedihan, dan kekecewaan yang dapat Luhan tangkap dari suara Chanyeol.
Luhan terdiam. Lidahnya kelu, tak tahu harus bagaimana membalas perkataan Chanyeol.

Melihat Luhan yang hanya mematung tak meresponnya, Chanyeol menghela nafas kasar. “Tidakkah kau ingin menanyakan tentang adikku?” tanyanya dengan nada sedikit lebih tinggi dari sebelumnya.

Ditanya seperti itu membuat Luhan nyaris saja kehilangan kontrol dirinya. Ia ingin sekali bertanya tentang Minha namun ia merasa ciut di hadapan Chanyeol. Keberaniannya seolah menghilang, tergantikan oleh rasa tak enak. Ia merasa tidak sepantasnya ia masih menanyakan Minha setelah apa yang ia lakukan pada Minha. Ia menyakiti Minha. Sangat menyakitinya meskipun ia tak melakukannya dengan sengaja.

Sekali lagi Chanyeol menghela nafas kasar. Ia tak tahu harus berkata apa lagi pada Luhan. Yang ada di dalam kepalanya sekarang hanyalah adik perempuan kesayangannya. Minha sudah cukup menderita selama tiga minggu ini dan ia tak ingin melihat adiknya seperti itu lagi. Namun ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan untuk mengurangi sakit yang Minha rasakan.

‘Mungkin mempertemukan mereka bisa mengubah sedikit hal…’ pikirnya. Ia tak tahu apakah mempertemukan Luhan dengan Minha merupakan ide yang baik atau buruk, namun ia berharap itu bukanlah ide yang buruk.

“Minha sakit.”
Luhan tertegun mendengar pernyataan Chanyeol. Inilah hal yang paling tidak ingin ia ketahui dan ia dengar. Mengetahui Minha sakit dan ia tak berada di sisi Minha membuatnya merasa bodoh dan tak berguna.
“Sudah sejak tiga hari yang lalu ia masuk rumah sakit. Dokter mengatakan kondisinya cukup buruk karena makan yang tak teratur dan stress yang berlebih,” tambah Chanyeol lagi dengan menghilangkan bagian diagnosa dokter yang mengatakan bahwa adiknya mengkonsumsi obat tidur tidak sesuai dosis yang seharusnya.
Jantung Luhan berdebar kencang, tangan kanannya mengepal dan tangan kirinya mencengkram erat gagang keranjang belanja yang ia pegang. Mendengar kondisi Minha yang buruk dan mengetahui Minha sedang terbaring di ranjang rumah sakit saat ini membuat pertahanan Luhan mulai meruntuh. Beberapa informasi lagi dari Chanyeol, ia yakin dirinya akan langsung berlari ke rumah sakit di mana Minha sedang dirawat sekarang.
“Dia masih belum bisa melepas dan melupakanmu Luhan. Dia bahkan memanggil-manggil namamu dalam tidurnya dan terkadang dengan air mata mengalir dari sudut matanya.” Chanyeol sadar dengan apa yang telah ia katakan. Ia juga tahu orang tuanya mungkin tak akan senang mengetahui apa yang telah ia perbuat setelah ini. “Dia membutuhkanmu…” tambahnya dan itu cukup menghancurkan pertahanan Luhan atas kontrol dirinya.

“Di mana… Minha?”
Luhan memejamkan matanya. Akhirnya ia mengatakannya setelah cukup lama ia menahan diri untuk tak menanyakan keberadaan Minha. Ia merasa cukup dengan semua sesak yang telah ia rasakan. Ia ingin melepas semuanya. Dan satu-satunya cara untuk menghilangkan sesak di dadanya hanyalah dengan melihat Minha.

Dengan ragu Chanyeol memberitahu Luhan nama rumah sakit dan kamar tempat Minha dirawat. Tepat setelah itu, Luhan menjatuhkan keranjang belanjanya dan meninggalkan Chanyeol yang masih berdiri di tempatnya, menatap punggung Luhan yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya.

Chanyeol tahu betul apa yang ia perbuat. Ia telah membuat perjuangan adiknya semakin sia-sia. Ia membuat adiknya akan semakin sulit untuk melepas Luhan. Namun Chanyeol harus melakukan hal tersebut, mengetahui Luhan yang masih mencintai adiknya, berharap apa yang ia lakukan dapat membuat Minha bisa melepas sedikit sakit yang telah ia pendam selama berhari-hari.

‘Setidaknya mereka perlu bicara untuk menyelesaikan masalah mereka…’ batinnya.

***

Mendengar suara pintu kamar yang terbuka membuat Minha sadar dari lamunannya.
Oppa mengapa lama seka-” perkataannya menggantung di udara begitu melihat yang datang bukanlah kakaknya, tetapi Luhan.

“Minha…” panggil Luhan dengan suara lemah. Nafasnya memburu dan peluh mengalir dari pelipisnya akibat berlari. Terlalu banyak hal yang ingin ia katakan, saking banyaknya hingga membuat ia bingung harus memulainya dari mana.

Sekeras apapun ia mencoba, Minha masih menjadi bagian penting dalam hidupnya. Dan melihat Minha dalam kondisi seperti sekarang ini membuatnya sedih dan marah. Ia sedih melihat wanita yang ia cintai terbaring lemah di ranjang rumah sakit dan ia marah pada dirinya sendiri karena dirinyalah penyebabnya.

Luhan masih mencoba menstabilkan nafasnya. Matanya terus menatap lantai ruang rawat Minha, tak berani menatap Minha. Karena ia yakin jika ia menatap wajah Minha, ia hanya akan merasa makin sakit dan makin bersalah.

Minha sendiri masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Setelah dua minggu, akhirnya ia melihat Luhan lagi. Perasaan di dalam hatinya bercampur aduk. Yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah terdiam dengan air mata yang telah mengalir di pipinya.

Luhan mengangkat wajahnya saat ia mendengar isak tangis dari Minha. Ingin sekali ia langsung berlari ke arah Minha dan memeluknya erat. Namun ia menahan dirinya karena ia tak mau menyakiti Minha lebih dalam lagi dengan sikapnya.

“Minha…” panggilnya lagi sembari berjalan mendekati Minha.
Minha tak menyahuti panggilan Luhan. Yang ia lakukan hanya melihat Luhan yang melangkah mendekatinya. Bibirnya bergetar, sesekali ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan isak tangisnya sendiri.
“Hey… Bagaimana kabarmu? Sudah baikan?” tanya Luhan retorik. Dalam hati ia ingin menangis melihat kondisi Minha. Dia jauh lebih kurus jika dibandingkan dengan saat terakhir kali mereka bertemu. Wajahnya juga sayu dan pucat. Bibirnya yang merah kini terlihat kering dan juga pucat. Ingin sekali rasanya Luhan memukul dirinya sendiri melihat kondisi Minha seperti ini.

Minha tidak menjawab pertanyaan Luhan. Ia hanya diam dan masih menatap Luhan yang kini berdiri di samping ranjangnya.

Luhan menghela nafasnya sembari memejamkan matanya sejenak. Mendapat respon diam dari Minha jauh lebih menyiksa dari pada dibentak ataupun dipukul. “Minha-ya, katakanlah sesuatu… Kumohon…” pinta Luhan.

Tetapi Minha tetap diam. Dengan perasaan yang bercampur aduk, ia bingung harus marah atau malah berterimakasih karena Luhan telah datang menjenguknya.

“Bicaralah kumohon. Bentak aku! Marah padaku! Pukul aku! Atau lakukan apapun asal janga diami aku seperti ini…” Luhan sudah diambang akan menangis jika saja ia tak mendengar suara Minha memanggilnya.

Oppa… Oppa…” panggil Minha terus sambil terisak-isak. Tidak ada kata yang bisa ia keluarkan selain ‘Oppa‘. Yang ia inginkan sekarang hanyalah Luhan berada di sisinya walaupun hanya sebentar.

Ne sayang. Oppa di sini…” ucap Luhan sambil menggenggam tangan Minha yang bergetar.
Tangis Minha makin kencang. Rasanya sudah lama sekali ia tak mendengar Luhan memanggilnya ‘sayang’ dan sekarang saat ia mendengarnya, ia ingin menangis sepuasnya sebagai tanda bahwa ia bahagia ia masih bisa mendengar panggilan tersebut dari Luhan.

Di satu sisi harapannya semakin bertambah, namun di sisi yang lain ia sadar tidak seharusnya mereka seperti ini. Luhan sudah menikah. Luhan bukan miliknya lagi. Namun hatinya menolak untuk menurut pada pikirannya. Mungkin untuk saat ini saja ia ingin mengikuti hatinya.

Oppa. Luhan oppa,” panggilnya lagi sambil membalas genggaman tangan Luhan. Ia menggenggam erat tangan Luhan, berharap hal tersebut dapat membuat Luhan untuk tetap berada di sisinya. Namun ia sadar, cepat atau lambat Luhan akan pergi meninggalkannya. Luhan akan pulang, kembali ke rumahnya dan menemui istrinya.

Luhan tersenyum, mencoba memberi Minha senyum yang selalu Minha sukai. Namun senyumnya tidak mampu meraih matanya. Kentara sekali ia memaksakan diri untuk tersenyum. Ia ingin memberi Minha kekuatan melalui seyumnya namun ia sendiri sangat rapuh.

“Aku merindukanmu,” ujar Luhan singkat namun penuh dengan perasaan. Semua rindu yang ia pendam seolah ikut keluar bersamaan dengan ucapannya. Namun itu belum cukup membuat hatinya lega karena masih ada yang mengganjal di dalam hatinya.

Dengan tenaga minim, Minha mencoba bangkit dari posisi berbaringnya lalu memeluk Luhan. Melalui pelukan tersebut ia menunjukkan pada Luhan betapa ia merindukan Luhan karena kata-kata tak akan cukup menunjukkan rasa rindunya. Minha melingkarkan kedua tangannya di leher Luhan, tak peduli dengan selang infusnya yang agak tertarik, dan membenamkan wajahnya di pangkal leher Luhan, menghirup aroma tubuh Luhan yang sangat ia rindukan.

Luhan membalas pelukan Minha. Ia memeluk Minha erat, seolah-olah jika ia mengendurkan pelukannya sedikit saja ia akan kehilangan Minha untuk selamanya. Tangannya mengusap-usap punggung Minha sambil sesekali ia mengecup puncak kepala Minha, mencoba menenangkan Minha yang masih menangis di dalam dekapannya.

“Maaf. Aku membuatmu seperti ini. Maafkan aku,” ujar Luhan. Ia tahu kata maaf tak akan cukup, tetapi apalagi yang bisa ia perbuat selain mengucap kata maaf? Meninggalkan Hyemi lalu pergi bersama Minha? Ayahnya akan mengejar dan membunuhnya jika ia melakukan itu.
Minha melepas pelukannya lalu menatap Luhan. Ia tak terlalu memedulikan permintaan maaf Luhan karena ia sudah memaafkan Luhan. Mau seribu kali pun Luhan meminta maaf, ia pasti akan memaafkannya. Namun apa yang telah terjadi tak akan bisa ia lupakan. Mungkin selamanya kejadian yang menimpa mereka akan menjadi luka yang meninggalkan bekas di hatinya. Yang ia ingin sekarang adalah kesepakatan mereka dan kejelasan tentang hubungan mereka.

“Apa yang harus kita lakukan sekarang oppa?” tanyanya pada Luhan yang bahkan tak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaannya.

Minha sendiri sebenarnya sudah tahu jawabannya atas pertanyaannya sendiri. Ia sudah memikirkan hal tersebut berkali-kali sebelumnya. Tetapi saat ini ia ingin mendengar jawaban Luhan.

“Aku… tidak tahu,” jawab Luhan pelan dengan kepala menunduk.
“Aku mencintaimu. Aku hanya ingin bersamamu tapi…”
Tanpa Luhan lanjutkan Minha sudah tahu apa yang akan Luhan katakan.

“Ini terasa salah bagiku. Aku juga mencintaimu tapi… bersama seperti ini tidak terasa baik lagi untukku,” ujar Minha membuat Luhan menatapnya.
“Kau sudah menikah oppa. Suka tak suka, kenyataan bahwa orang akan melihat kebersamaan kita sebagai sesuatu yang salah harus kita terima. Dan itu… menyakitkan untukku.”
Luhan hanya dapat mengangguk setuju mendengar kata-kata Minha.
“Dua minggu ini aku berusaha merelakanmu bersama wanita itu. Tetapi aku tidak bisa… Bayangan dirimu bersamanya terus menghantuiku dan menambah perih dalam hatiku. Dan aku sadar… melepasmu bukanlah hal yang mudah.”

“Aku juga… Sekeras apapun aku berusaha menyingkirkanmu dari pikiranku, kau akan datang dengan sendirinya dan membuatku susah untuk melupakanmu. Cinta ini terlalu besar dan sulit untuk aku lupakan begitu saja.”
Minha meringis mendengar pengakuan Luhan. Tak bisa ia bayangkan jika nanti Luhan akan benar-benar melupakannya.

Minha menarik nafas lalu menghembuskannya, mencoba mengusir beban berat dalam hatinya saat akan menanyai Luhan hal tersulit baginya saat ini untuk ia lakukan,
“Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang? Melanjutkan hubungan ini atau menghentikannya?”

“Aku tidak tahu… Tetapi aku sangat ingin tetap bersamamu…” jawab Luhan. Keraguan sangat jelas terlukis di wajahnya. Saat ia ingin tetap bersama Minha, ia sadar pernikahannya membuat kebersamaan mereka tersebut tak akan direstui oleh siapapun terutama kedua orang tua mereka.

Menjalin hubungan dengan pria yang sudah menikah akan benar-benar melanggar norma yang ada. Minha sudah pasti akan dicap sebagai wanita tak baik dan hal tersebut akan mencoreng nama baik keluarganya. Ayahnya mungkin tak akan pernah memaafkannya atas perbuatannya tersebut.
“Mungkin kita harus mencoba…”

Luhan mengerti kemana arah pembicaraan Minha. Ia ingin mencoba lagi, tetapi akankah ia mampu setelah gagal melakukannya?

Oppa, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Ini sulit bagiku tapi aku harus melakukannya. Kau sudah menikah dan akan memiliki anak dengannya, dan aku tak ingin mengecewakan keluargaku. Mungkin… kita harus benar-benar berpisah. Kita harus mencoba menjalani hidup kita yang sekarang.” ujar Minha sambil menundukkan kepalanya. Ia tak mampu mengatakannya jika ia menatap Luhan. Karena menatap Luhan hanya membuatnya kehilangan sedikit keberanian yang ia miliki untuk mencoba.

Ia bohong jika ia mengatakan hatinya tak sakit setelah mengatakan hal tersebut pada Luhan. Tetapi ia tak ingin cinta membutakannya, membuatnya melanggar norma yang ada. Saat ini ia ingin menjadi wanita baik-baik yang tidak akan melakukan sesuatu yang ia sadari adalah sebuah kesalahan.

“Bagaimana jika kita gagal? Bagaimana jika kita telah mencoba namun kita masih saling mencintai?” tanya Luhan.

Itulah yang tak pernah Minha pikirkan. Bagaimana jika dirinya gagal? Bagaimana jika ia masih tetap mencintai Luhan? Akankah ia tetap kukuh pada keinginannya menjadi wanita baik-baik atau mengikuti keinginan hatinya untuk bersama Luhan?
“Aku tidak tahu oppa… Mungkin kita harus mencobanya terlebih dahulu,” jawabnya ragu.

“Berapa lama?” tanya Luhan.
Minha berpikir sejenak kemudian menjawab, “Dua bulan kurasa cukup.”
Luhan tidak setuju. Baginya dua bulan terlalu lama. Ia mungkin akan sangat tersiksa selama dua bulan tersebut. “Satu bulan?” tawarnya.
Minha mendesah, “Oppa… satu bulan tidak cukup. Aku yakin dalam satu bulan kita akan masih saling mencintai. Jika selama satu bulan kita mencoba namun kita telah tahu hasilnya akan sama saja seperti sekarang, itu sama saja dengan menyiksa diri. Dua bulan. Jika perasaan kita memudar walaupun hanya sedikit, itu tandanya kita berhasil. Kita hanya perlu melanjutkan usaha kita untuk melupakan satu sama lain.”

Luhan masih terlihat tak yakin dengan ide Minha. Mereka saling mencintai, mengapa harus berusaha keras untuk melupakan perasaan satu sama lain. Tetapi mengingat dirinya yang sudah berstatus menikah menyadarkannya bahwa ide Minha tak ada salahnya. Jika ia tetap memaksa Minha untuk melanjutkan hubungan mereka mungkin dampak buruknya akan Minha terima lebih banyak darinya. Karena dalam sebuah hubungan terlarang, biasanya wanita lah yang lebih sering disalahkan daripada pria.

Yang menjadi masalah bagi Luhan adalah Luhan sangat mencintai Minha. Ia tidak ingin melupakan perasaannya. Ia masih ingin hidup bersama Minha walaupun itu berarti ia harus menunggu beberapa bulan atau setahun lebih agar bisa menceraikan Hyemi.

Tiba-tiba ingatan akan anaknya yang belum lahir membuatnya mempertimbangkan lagi idenya untuk menceraikan Hyemi. Ia tidak terlalu yakin, tetapi kemungkinan itu selalu ada, beberapa bulan lagi, saat anaknya sudah lahir mungkin ada banyak hal yang berubah di antara dirinya dan Hyemi.

“Baiklah kalau memang begini yang kau mau…” menyerah Luhan pada akhirnya. Tetapi ia setuju bukan berarti tidak ada permintaan yang ingin ia ajukan.

“Aku sadar tidak seharusnya aku meminta ini tapi, jika kita gagal selama dua bulan ke depan, berjanjilah kau mau kembali padaku dan menungguku hingga aku menceraikan Hyemi,” pinta Luhan pada akhirnya. Meskipun ia telah memikirkan kemungkinan yang ada di antara dirinya dan Hyemi, untuk saat ini ia ingin menganggap bahwa sampai anaknya lahir nanti ia akan tetap mencintai Minha dan tak ada alasan untuk tidak menceraikan Hyemi.
Minha terlihat ragu dan tak yakin, namun tatapan yang Luhan berikan memaksanya untuk mengiyakan permintaan Luhan, “Baiklah…”
Luhan tersenyum lega mendengar jawaban Minha. Setidaknya jawaban tersebut memberinya jaminan bahwa mereka masih bisa bersama nantinya.

Luhan meraih kedua tangan Minha lalu menggenggamnya, “Akankah kau baik-baik saja nantinya?” tanya Luhan lembut. Dua minggu seperti ini saja sudah membuatnya masuk rumah sakit, apa kabar dua bulan? Luhan khawatir ia akan mendapati Minha dalam kondisi yang jauh lebih mengenaskan dari ini setelah dua bulan.
“Aku tidak bisa menjanjikanmu aku akan baik-baik saja, tapi aku kan mencoba. Aku akan mencoba menjalani hidupku dengan baik, mencari hal-hal positif yang bisa mengalihkan pikiranku darimu, dan mungkin… mencoba mencari pria lain yang bisa membuatku melupakan perasaanku padamu,” ucap Minha. Dengan mata berkaca-kaca ia menatap Luhan sambil tersenyum memaksa. Memikirkan untuk melupakan perasaannya pada Luhan saja sudah cukup menambah pedih luka di dalam hati mereka, apalagi mencoba mencari pria lain untuk menggantikan Luhan.

Oppa,” panggil Minha.
Luhan mengangkat wajahnya dan menatap Minha yang tersenyum padanya dengan mata berkaca-kaca.
“Kau juga harus mencoba. Cobalah sayangi dia seperti kau menyayangi aku. Berikan dia perhatian, apalagi sekarang ia sedang mengandung. Wanita yang sedang hamil biasanya menjadi lebih manja dari biasanya, jadi beri dia perhatian dan manjakan dia.”
Dengan hati yang rasanya seperti tercabik-cabik lalu ditusuk oleh ribuan jarum, Minha memberi saran pada Luhan. Ia bahkan menyebut wanita tersebut, Hyemi, dalam sarannya dan itu cukup menjadi garam bagi luka hatinya.

“Cobalah jalani pernikahan kalian dan belajarlah mencintainya sebagai istrimu.”
Minha dapat mendengar suara hatinya yang dicincang-cincang lalu diblender setelah mengucapkan hal tersebut. Rasanya sakit sekali. Saking sakitnya ia sampai tak menyadari tetesan-tetesan air mata yang jatuh dari pelupuk matanya.

Luhan melepaskan tangannya dari genggaman tangan Minha lalu menangkup wajah Minha dengan kedua tangannya. Kedua ibu jarinya menghapus air mata yang jatuh dari pelupuk mata Minha. “Mengapa kau begitu memaksakan dirimu saat kau tahu itu menyakitimu, hm?” tanya Luhan.
“Aku hanya ingin mencoba melakukan apa yang memang seharusnya aku lakukan, oppa. Kau sendiri sadar bukan kalau memang ini yang sebenarnya terbaik untuk kita?”
Sebenarnya Luhan tidak ingin mengakuinya, tetapi apa yang Minha katakan memang benar. Dan itu menyakitinya mengetahui apa yang benar adalah hal yang tidak ia inginkan.

“Bagaimana aku bisa melupakan perasaanku padamu saat kau terus membuatku jatuh cinta padamu dengan segala tindakanmu?”
Hyemi hanya mampu tersenyum sedih mendengar ucapan Luhan. Dalam hatinya ia juga mengatakan hal yang sama.

***

Hyemi membolak-balik majalah di pangkuannya. Di sebelahnya ada ibu mertuanya yang sedang menonton episode terakhir dari drama yang dibintangi oleh aktor favorit ibu mertuanya, Choi Siwon.

“Hyemi-ya, ini unnie belikan apel. Kasihan kau menunggu Luhan terlalu lama,” ujar Hara yang baru saja tiba di rumah dengan Kris.
“Eh? Unnie… kau seharusnya tak perlu repot-repot membelikanku. Luhan pasti tiba sebentar lagi,” ucap Hyemi merasa tak enak. Ia sebenarnya tak begitu yakin dengan ucapannya barusan mengingat sudah hampir dua jam sejak ia menghubungi Luhan, namun Luhan tak kunjung menunjukkan batang hidungnya di rumah.
“Tidak apa-apa. Lagipula sudah dua jam tapi Luhan belum pulang, kasihan anak kalian pasti sudah tidak sabar ingin menyantap apel yang ia inginkan,” balas Hara lalu terkekeh.
Hyemi menggaruk leher belakangnya yang tak gatal, “Aku jadi tak enak pada kalian. Tapi, terimakasih unnie, oppa,” ucapnya kemudian sembari menundukkan kepalanya sebentar pada Hara dan Kris.
Kris tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pelan, “Sama-sama. Lain kali kalau ada sesuatu yang kau inginkan dan Luhan tidak ada, jangan sungkan-sungkan mengatakannya pada kami jika kami ada,” ucap Kris.
Hyemi menganggukkan kepalanya lalu tersenyum, “Ne oppa.”

Setelah Kris dan Hara meninggalkannya ke kamar, ibu mertuanya pun memanggilnya.
“Hyemi-ya.”
Hyemi menolehkan kepalanya ke sebelahnya, menatap ibu mertuanya yang baru saja mengganti channel di TV, “Ne eomma?”
“Kapan terakhir kali kau check up?”
Hyemi mengingat-ingat kapan terakhir kali ia ke dokter kandungan. Seingatnya kalau tidak sebulan yang lalu ya tiga minggu yang lalu. “Aku tidak terlalu ingat eomma, tapi kalau tidak salah sekitar sebulan yang lalu atau tiga minggu yang lalu,” jawabnya.
Ibu mertuanya menganggukkan kepala lalu bertanya kapan ia libur, “Kapan kau libur kerja? Eomma akan mengajakmu ke dokter kandungan dan mengatur jadwal check up-mu.”
“Um… Lusa. Tapi eomma, eomma tidak perlu repot-repot mengantarku, biar Luhan saja. Aku akan melakukan check up rutinku di dokter yang sebelumnya saja,” ujar Hyemi.
“Baiklah… Pastikan kau tidak melewatkan check up-mu sekalipun, arra?”
Hyemi tersenyum dan menganggukkan kepalanya.

‘Betapa menyenangkannya memiliki keluarga, memiliki orang-orang yang menyayangi kita di sekitar kita,’ batin Hyemi.

***

Oppa, pulanglah…” ucap Minha pada Luhan yang berbaring di sebelahnya sambil memeluk dirinya.
Minha sebenarnya tak ingin menyuruh Luhan pulang, tetapi jika ia membiarkan Luhan berada lebih lama lagi bersamanya, ia takut ia tak akan mampu membiarkan Luhan pergi lagi.

“Tidak bisakah aku diam di sini lebih lama? Aku masih ingin bersamamu,” pinta Luhan.
Dengan terpaksa Minha menggelengkan kepalanya. “Pulanglah,” suruhnya lembut.
Luhan mengeratkan pelukannya pada tubuh Minha, enggan berpisah dengan Minha.
“Kumohon,” mohon Luhan.

Minha memejamkan matanya sejenak, “Pulanglah oppa. Aku takut orang tuaku datang sebentar lagi. Mereka pasti tak akan senang melihatmu di sini.”

Jleb

Rasanya seperti mendapat tamparan keras di pipi mendengar ‘mantan’ calon mertuanya tak akan senang dengan keberadaannya di sini.
Luhan menghela nafas berat dan akhirnya melepaskan kedua tangannya dari Minha lalu turun dari ranjang Minha.

Jujur ia belum siap meninggalkan Minha, karena saat ia melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat inap Minha adalah saat ‘percobaan perpisahan’ mereka dimulai.

“Sebelum aku pergi, bisakah aku menciummu? Untuk yang terakhir kalinya,” pinta Luhan sebelum ia meninggalkan Minha.
Minha ragu harus mengabulkan permintaan Luhan atau tidak. Tetapi akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya. Mungkin satu ciuman terakhir tak akan menjadi masalah.

Luhan membungkukkan tubuhnya lalu mengecup lembut bibir Minha.
“Aku mencintaimu…” bisiknya di sela-sela ciuman mereka.
Minha memejamkan matanya, menahan air mata yang lagi-lagi ingin keluar.

‘Aku juga,’ balas Minha dalam hati.

Setelah beberapa detik, Luhan melepas ciumannya dan menatap Minha lembut bercampur sendu. “Saat aku keluar dari kamar ini, maka hubungan kita kali ini berakhir. Aku hanya ingin kau tahu aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, dua bulan lagi kita pasti bersama kembali dengan cinta yang masih sama atau bahkan bertambah besar,” ucapnya sambil mengusap-usap kepala Minha.

“Aku pulang sekarang. Jaga dirimu baik-baik!” pamitnya lalu mengecup kening Minha lembut.

Rasanya berat saat membalik badan, tetapi Luhan berhasil melakukannya. Dengan hati yang koyak ia melangkahkan kakinya meninggalkan Minha. Ingin sekali rasanya ia melihat Minha sekali lagi, namun ia takut jika ia membalik badannya, ia akan berlari ke pelukan Minha lagi.

Minha tak mampu lagi membendung air matanya. Ia menangis tanpa suara sambil menatap punggung Luhan yang perlahan menghilang di balik pintu ruang rawatnya.

“Selamat tinggal oppa…” gumamnya pelan dengan hati yang telah hancur.

Minha berkata pada dirinya sendiri ia akan mencoba menahan tangisnya mulai besok. Tetapi untuk hari ini saja, ia ingin membiarkan dirinya menangis sepuasnya. Menangis hingga tak ada air mata yang bisa keluar lagi. Menangis hingga ia tak bisa merasakan apapun dalam hatinya. Menangis hingga ia tertidur dan terlarut dalam mimpinya.

Perpisahan memang hal tersulit apalagi saat dua pihak masih sama-sama saling mencintai. Minha dengan hati yang rapuh memberanikan diri untuk mencoba perpisahan tersebut. Meskipun sakit yang ia rasakan sangat menyiksa dirinya, ia memaksakan diri untuk mencoba demi keluarganya, anak yang Hyemi kandung, Luhan, dan dirinya. Ini adalah keputusan terbesar dan tersulit yang pernah ia ambil, tetapi ia tahu dan ia percaya ini adalah keputusan yang tepat dan yang terbaik bagi mereka.

***

Luhan tiba di kamarnya dengan sekantung apel fuji yang ia beli sepulang dari rumah sakit.

“Aku bertemu Minha…” ujar Luhan tak ada angin tak ada hujan setelah ia duduk di atas ranjang dan meletakkan sekantung apel tersebut di ranjang, membuat Hyemi mengangkat sebelah alisnya.
Luhan menghela nafasnya, berharap bebannya akan terasa berkurang jika ia melakukan hal tersebut, “Ia menyuruhku untuk mencoba menjalani pernikahan ini…”

“…dan mencoba mencintaimu sebagai istriku,” lanjutnya kemudian

Hyemi tidak tahu harus menanggapi ucapan Luhan dengan apa. Yang ada dipikirannya sekarang adalah, ‘Terbuat dari apa hati Minha hingga ia dengan relanya menyuruh kekasihnya untuk belajar mencintai wanita lain?’

“Lalu?”
Satu kata. Hanya itu yang mampu Hyemi lontarkan dan itu sudah cukup jelas bagi Luhan.
Luhan mengedikkan bahunya. “Aku sudah mencobanya. Meskipun terlihat berhasil tetapi sebenarnya tidak. Aku tidak bisa mencintaimu seperti aku mencintai Minha. Itu… sulit,” ujarnya.

Hyemi mengerti perasaan Luhan. Pasti sangat sulit mencintai orang yang bisa dikatakan telah menjadi salah satu penyebab kehancuran hubungannya dengan orang yang ia cintai.
“Kau tidak perlu memaksakan dirimu. Aku menikah denganmu bukan untuk kau cintai. Aku hanya ingin kau mengakui dan menyayangi anak ini saja. Jadi cukup cintai dia,” ucap Hyemi sambil mengelus perutnya.

Satu hal yang tidak Hyemi sadari, ia baru saja membuat pernyataan yang terdengar seperti, ‘Aku tidak membutuhkan cintamu!’

Dan mungkin di kemudian hari ia akan menyesali apa yang telah ia ucapkan sekarang.

“Hmm… Kita jalani saja dulu pernikahan ini. Biarkan semuanya mengalir seperti air,” ujar Luhan lalu menghela nafas untuk yang kesekian kalinya.
Hyemi menganggukkan kepalanya. “Mandilah. Aku akan membuatkanmu makan malam,” suruhnya pada Luhan lalu turun dari ranjang, bergegas ke dapur untuk membuatkan suaminya makan malam. Tak lupa ia membawa apel-apel yang Luhan beli untuknya. Meskipun Kris dan Hara sudah membelikan dia apel sebelumnya, tetapi apel dari Luhan adalah yang sangat ia tunggu-tunggu dan ia inginkan. Ia sendiri tak tahu mengapa bisa begitu.

Luhan melihat sosok Hyemi yang berjalan meninggalkannya.
‘Mungkin tak ada salahnya mencoba…’ pikirnya.

Seusai mandi, Luhan langsung menuju ke dapur untuk menyantap makan malamnya. Di sana masih ada Hyemi yang sibuk memelut kulit apel yang ia belikan. Hyemi terlihat sangat berkonsentrasi sampai tak menyadari kehadirannya.

“BIBI!!”
“Ah!”

Seru Naomi yang tiba-tiba datang diikuti dengan ringisan Hyemi yang jarinya teriris pisau karena terkejut mendengar seruan Naomi.

“Bibi berdarah!” seru Naomi lagi membuat Luhan sadar ada darah yang mengalir dari jari Hyemi. Dengan sigap Luhan menghampiri Hyemi lalu menarik tangannya dan menghisap jarinya yang berdarah. Hyemi meringis lagi merasakan jarinya agak berdenyut di dalam mulut Luhan.

Tak sengaja Hyemi menatap wajah Luhan yang terlihat khawatir saat menghisap jarinya. Ini bukan kali pertama ia melihat raut wajah Luhan yang khawatir karenanya dan ia masih merasa ‘WOW’ tiap kali melihatnya. Mengingat Luhan yang nampak sangat membencinya sebelum pernikahan membuat ia agak tak percaya melihat sosok Luhan yang mengkhawatirkan dirinya sekarang.
“Darahnya sudah tidak mengalir lagi,” ucap Luhan setelah mengeluarkan jari Hyemi dari mulutnya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Luhan.
Hyemi menggelengkan kepalanya pelan, “Aku baik-baik saja. Hanya sedikit kaget,” jawabnya.
Luhan memutar badannya sedikit agar bisa melihat Naomi yang masih berdiri di belakangnya dengan kepala tertunduk.
“Naomi. Sudah berapa kali paman katakan padamu jangan teriak-teriak di dalam rumah,” ucap Luhan menasihati dengan suara tegas.
Melihat Naomi yang makin menundukkan kepalanya membuat Hyemi tak tega.
“Lihat Bibi Hyemi jadi kaget karenamu dan tangannya-”
Hyemi menarik-narik tangan Luhan yang masih menggenggam tangannya, membuat Luhan menggantung ucapannya dan menoleh.
“Jangan marahi dia. Aku kan tidak apa-apa,” ucap Hyemi sambil tersenyum simpul membuat Luhan sedikit rileks.
Ia melepas tangannya dari genggaman Luhan lalu memberi Luhan kode untuk pergi makan. Luhan menghela nafas lalu menganggukkan kepalanya.

Hyemi pun menghampiri Naomi yang masih berdiri di tempatnya dengan kepala tertunduk. Ia berlutut di hadapan Naomi lalu memegang kedua lengan kecil Naomi.
“Ada apa Naomi? Kenapa mencari bibi?” tanya Hyemi lembut. Namun Naomi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, enggan menjawab pertanyaan Hyemi.
Hyemi mengerti, Naomi pasti sedih karena Luhan memarahinya. “Naomi… Paman Luhan tadi tidak marah kok. Naomi jangan sedih ya. Paman Luhan hanya ingin memberitahu Naomi hal yang baik saja,” ucap Hyemi mencoba menghibur Naomi. Naomi pun mengangkat wajahnya sedikit, menatap Hyemi dengan mata berkaca-kaca.
“Gara-gara Naomi mengagetkan Bibi, jari Bibi jadi berdarah. Maafkan Naomi ya, Bi,” ujar Naomi dengan suara bergetar.
Hyemu tersenyum lalu mengusap rambut Naomi, “Iya sayang. Naomi jangan sedih lagi ya, Bibi kan sudah tidak apa-apa. Lihat! Jari Bibi sudah disembuhkan oleh Paman Luhan!” ucap Hyemi sambil menunjukkan jarinya yang tadi terluka pada Naomi.

Dari meja makan, Luhan melihat bagaimana Hyemi menghadapi Naomi dengan sikapnya yang keibuan dan itu merupakan poin plus untuk Hyemi di matanya. Di dalam hatinya ia yakin Hyemi akan menjadi sosok ibu yang baik untuk anak mereka nantinya. Tanpa ia sadari dirinya tersenyum simpul saat membayangkan sosok Hyemi yang sedang menghibur anak mereka. Bayangan tentang anak mereka tak pernah gagal membawa kupu-kupu ke dalam perut Luhan. Luhan jadi semakin tak sabar ingin melihat malaikat kecilnya lahir ke dunia.

***

“Jongin-ah, aku ke toilet sebentar!” ujar Saera. Jongin hanya menganggukkan kepalanya, tidak mengalihkan matanya sedikit pun dari kertas-kertas di hadapannya.
Saat ini mereka sedang berada di sebuah kafe Bubble Tea di kawasan Hongdae, mengerjakan tugas akhir semester mereka. Seharusnya Jongdae dan Baekhyun datang membantu mereka, tetapi tiba-tiba Jongdae dan Baekhyun mendapat telepon dari Joonmyun untuk lembur malam ini.

Saera keluar dari toilet wanita dan berjalan menuju mejanya dengan Jongin. Tiba-tiba saja ada seseorang yang menabraknya dari sisi kanan. Bubble Tea yang dipegang orang tersebut tumpah dan membasahi lengan baju bagian kanan hingga ke bagian dada Saera.
“Ah!” jerit Saera.
Omo! Mianhae! Mianhae!” seru orang tersebut sambil mengambil tisu di atas meja terdekat lalu mengusap-usap baju Saera.
Ya! Mesum!” seru Saera sambil menepis kasar tangan orang tersebut, yang ternyata seorang pria, saat tangan pria tersebut mengusap bagian dada Saera.
A-aigoo! Aku tidak sengaja! Aku tidak bermaksud menyentuh ‘itu’mu- aish!”
Saera mengangkat wajahnya untuk melihat pria kurang ajar yang telah menabraknya.
“KAU?!” mata Saera membelalak saat melihat siapa yang menabraknya.
Sehun, yang ternyata merupakan pria yang menabrak Saera, membulatkan matanya.

Jongin yang mendengar suara sahabatnya langsung menghentikan kegiatan menulisnya untuk mengecek Saera. Ia pun menghampiri Saera yang sedang berdiri di hadapan seorang pria tinggi berambut hitam. Baru ia sadari pria tersebut ternyata adik Luhan, Sehun.
“Saera? Ada apa?” tanya Jongin begitu ia tiba di sebelah Saera.
“Dia menumpahkan Bubble Tea ke bajuku dan dia… dia… dia menyentuh dadaku!!!” jawab Saera setengah menjerit saat mengatakan Sehun menyentuh dadanya.
Mwoya?! Ya! Aku tidak menyentuh dadamu! Lagipula itu tidak sengaja!” protes Sehun tidak terima dengan tuduhan Saera.
“Dada rata seperti itu apanya yang bisa kusentuh,” gumam Sehun pelan namun Jongin dan Saera dapat mendengarnya. Jongin tertawa terbahak-bahak mendengar gumaman Sehun sementara Saera mendengus kesal.
YA!! Aku mendengarmu! Dasar pria kurang ajar! Berani-beraninya kau berkomentar tentang dadaku! Sialan!” seru Saera dengan tangan mengepal dan wajah memerah.

“Hey kalian bertiga! Jangan membuat keributan di sini!” seru salah seorang pegawai kafe.
Jongin dan Sehun pun langsung kompak membungkukkan badan mereka, meminta maaf.

“Sudahlah Sae! Ayo kita kembali!” ajak Jongin.
“Tapi Jongin! Dia bahkan belum meminta maaf padaku!” ucap Saera, menahan Jongin yang sudah menarik tangannya.
“Aku minta maaf oke!” sela Sehun membuat Saera meliriknya sinis.
Saera mendengus lalu meninggalkan Jongin dan Sehun begitu saja.
“Ada apa dengannya?” heran Sehun. Jongin hanya mengedikkan bahunya lalu menyusul Saera ke meja mereka, meninggalkan Sehun yang berdiri kikuk di posisinya.

“Aku mau pulang. Kita lanjutkan tugas ini besok saja,” ujar Saera ketus. Moodnya sudah hancur karena Sehun.
Jongin yang mengerti hanya mampu menganggukkan kepalanya dan menghela nafas.
“Aku duluan, Jongin!” pamit Saera.
Ne! Hati-hati di jalan!” pesan Jongin.

Di luar kafe, Saera bertemu Sehun lagi yang memang sengaja menunggu Saera keluar.
“Hey,” panggil Sehun namun Saera mengacuhkannya.
Karena Saera tak kunjung menyahuti panggilannya, ia pun meraih tangan Saera, membuat Saera berhenti dan membalik badannya, menatap Sehun dengan tatapan tak suka.
“Aku minta maaf oke?”
Saera diam, enggan membalas permintaan maaf Sehun.
“Sebagai gantinya aku akan mengantarmu pulang dan akan aku laundry bajumu itu,” tawar Sehun.
Saera mendengus lalu membuang muka, “Tidak usah!” ketusnya.
“Hey, ayolah jangan marah seperti ini. Hyemi noona pasti tak akan suka mengetahui dua dongsaengnya berselisih begini,” ujar Sehun.
“Jangan bawa-bawa unnie dalam masalah kita!”
Sehun meringis mendengar suara cempreng Saera di telinganya. Sedari tadi Saera seperti tak bosan berteriak-teriak padanya.
“Kau ini berlebihan sekali! Aku kan hanya menumpahkan minuman saja! Mengapa kau membuatku seolah-olah aku memperkosamu?!” protes Sehun.
Saera yang makin kesal pun menghempaskan tangan Sehun yang masih mencengkram tangannya lalu meninggalkan Sehun begitu saja.

Ya! Kau mau kemana?!” seru Sehun namun Saera mengabaikannya.

***

Luhan sudah terlelap saat ia merasakan seseorang menggoyang-goyangkan tubuhnya, membuatnya mengerang kesal karena tidurnya terganggu.
Ia membuka matanya lalu menatap Hyemi dengan tatapan penuh tanya.

“Aku ingin sesuatu,” ucap Hyemi pelan lalu menggigit bibir bawahnya.
Mwo? Ini sudah larut malam, tidak bisakah kau memintanya besok pagi?” tanya Luhan. Ini pertama kalinya Hyemi membangunkannya tengah malam karena ngidam. Selama dua minggu ini Hyemi tak pernah ngidam tengah malam. Mungkin pernah, tetapi ia tak tahu karena Hyemi tak pernah menyampaikannya.
“Aku ingin sekarang…” gumam Hyemi dengan nada agak sedih, membuat Luhan menjadi tak enak dan merasa bersalah.
Luhan mengacak-acak rambutnya sendiri, frustasi. Ia mengantuk sekali dan sekarang istrinya membangunkannya tengah malam, bukan tengah malam lagi tetapi pagi-pagi buta karena jam di kamar mereka telah menunjukkan pukul 01.25.
“Kau ingin apa?” tanya Luhan, berusaha bicara selembut mungkin mengingat Hyemi sedang hamil dan di dalam buku yang diberikan Jongdae Baekhyun mengatakan wanita hamil sangat sensitif.
Hyemi memainkan jarinya lalu menjawab, “Es krim.”
Luhan membelalakkan matanya mendengar jawaban Hyemi. Musim dingin belum berakhir dan Hyemi menginginkan es krim. “Hyemi, kau tahu cuaca sekarang sangat dingin. Kau bisa sakit kalau makan es krim sepagi ini dan dengan cuaca seekstrim ini,” ujar Luhan.
Hyemi mendesah, “Aku sebenarnya tak mau, tapi aku sendiri tak tahu mengapa aku sangat menginginkannya.”
Dan Luhan kembali sadar, Hyemi sedang mengidam.

‘Ah iya… itu kemauan si kecil. Ckckck. Masih di dalam perut saja sudah menyusahkan Baba dan Mama,’ batin Luhan. Ada perasaan geli yang menggelitik hatinya saat ia menyebut dirinya dan Hyemi ‘Baba dan Mama‘. Tetapi entah mengapa Luhan menyukainya.

Luhan menyingkap selimutnya lalu turun dari ranjang, “Tunggu sebentar,” ucapnya pada Hyemi.
Ia berjalan menuju dapur lalu mengecek kulkas, tepatnya freezer.

‘Jadi begini rasanya menghadapi istri yang sedang ngidam? Lucu. Dan seru juga,’ pikirnya.

Luhan harus menelan kekecewaan saat tak menemukan es krim di dalam freezer. Ia pun kembali ke kamar.

“Tak ada es krim di kulkas. Nanti saja ya aku belikan. Ayo tidur lagi!” ajak Luhan.
Tanpa sepengetahuan Luhan, Hyemi mengerucutkan bibirnya. “Tapi aku menginginkannya sekarang,” ucap Hyemi.
“Nanti oke?” tawar Luhan dengan mata terpejam.
Hyemi mendengus, “Lupakan saja. Aku tidak menginginkannya lagi!” ucapnya kesal lalu memunggungi Luhan, membuat Luhan membuka matanya kembali.
Ia menatap punggung Hyemi dan perasaan bersalah muncul di dalam hatinya. Ia berpikir anaknya pasti sangat menginginkannya sampai-sampai Hyemi bertingkah seperti itu.
“Aish… Baiklah aku akan keluar membelikannya untukmu,” putus Luhan pada akhirnya.
Hyemi membalik badannya dan melihat Luhan yang sekarang sedang mengenakan kaos dan celana panjang lalu jaket tebal.
“Tunggu sebentar. Aku tidak akan lama,” pesan Luhan pada Hyemi sebelum pergi.

Sekitar dua puluh menit kemudian, Luhan tiba di rumah. Ia pun bergegas ke kamarnya.
“Hey, ini es krimnya,” ucapnya pada Hyemi. Namun ternyata Hyemi sudah tertidur pulas.

Luhan agak kesal, namun melihat wajah Hyemi yang begitu tenang saat tertidur membuat Luhan tak tega membangunkannya hanya untuk mengomelinya yang telah tertidur padahal ia sudah bersusah payah mencari mini market atau toko yang buka 24 jam hanya untuk mencari es krim untuknya.

Luhan pun pergi ke dapur untuk meletakkan es krim yang ia beli di dalam freezer lalu kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya.

Sebelum ia memejamkan matanya, ia menatap Hyemi yang tertidur menghadapnya. Pandangan matanya jatuh ke perut Hyemi yang terlihat mulai membuncit. Masih sangat kecil memang sehingga tidak terlalu terlihat. Tetapi hebatnya Luhan dapat menyadarinya.

Luhan menjulurkan tangannya ke perut Hyemi. Ini adalah kali pertama ia menyentuh perut Hyemi dan ia merasa agak gugup saat jari-jarinya akan menyentuh perut Hyemi. Perasaan hangat langsung menjalar ke seluruh tubuhnya saat jari-jarinya menyentuh perut Hyemi. Ia pun mengusap lembut perut Hyemi seolah-olah ia sedang mengusap kepala anaknya.

“Selamat tidur malaikat kecil Baba,” bisik Luhan, berharap anaknya bisa mendengar suaranya dari dalam rahim Hyemi.
Luhan menarik tangannya kembali. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka lalu memejamkan matanya dan tertidur dengan senyum di bibirnya.

***

Pagi hari saat sarapan, Luhan menyelesaikan sarapan lebih dulu daripada Hyemi dan yang lainnya. Ia menjadi sangat semangat setelah apa yang ia lakukan beberapa jam sebelumnya. Tanpa Hyemi dan yang lainnya ketahui, ia membuatkan Hyemi segelas susu. Kemarin saat membeli apel, ia tak lupa membeli susu juga untuk Hyemi.

Anaknya benar-benar memberi pengaruh besar dalam hidup Luhan sekarang. Baru kemarin ia berbagi kesedihan dengan Minha, namun pagi ini ia merasa begitu senang. Ia bahkan jadi ingin lebih memperhatikan Hyemi, memastikan Hyemi sehat-sehat saja agar anaknya ikut sehat juga.

Luhan meletakkan susu yang ia buat di sebelah piring Hyemi, membuat Hyemi menatapnya heran. Bukan hanya Hyemi, semua pasang mata, kecuali si kembar, juga ikut menatapnya. Bagi mereka, Luhan memperhatikan Hyemi seperti ini benar-benar merupakan kemajuan yang sangat besar, mengingat beberapa hari sebelumnya mereka masih kaku terhadap satu sama lain.

“Minumlah selagi masih hangat,” suruh Luhan pada Hyemi.

Tuan Lu yang melihatnya diam-diam tersenyum bangga. Ia senang melihat bagaimana putranya memperlakukan Hyemi dengan baik. Semua kekhawatirannya tentang tingkah Luhan terhadap Hyemi menghilang begitu saja. Nyonya Lu juga tersenyum senang melihat Luhan sudah mulai menunjukkan perhatiannya pada Hyemi di hadapan mereka. Kris, meskipun ia tidak tersenyum, tetapi dalam hatinya ia bangga pada Luhan. Luhan benar-benar mengikuti sarannya untuk mencoba menjadi suami yang baik untuk Hyemi. Hara pun ikut senang melihat Luhan dan Hyemi. Sehun? Dia hanya ternganga melihat kakaknya. Ia tahu kakaknya memang baik, tetapi ia tak menyangka Luhan bisa secepat itu mengubah sikapnya pada Hyemi. Ia tak melihat keterpaksaan dalam wajah Luhan saat Luhan meletakkan susu buatannya di sebelah piring Hyemi. Ia kira Luhan akan terus bersikap kaku terhadap Hyemi sampai dia bisa melupakan Minha.

Hyemi yang masih agak kaget, menganggukkan kepalanya pelan, “Ne. Terimakasih,” ucapnya pada Luhan sembari meraih gelas susu tersebut.

Bukan hanya tangan, bibir, lidah, dan tenggorokannya saja yang terasa hangat. Tetapi kehangatan susu tersebut bisa ia rasakan juga sampai ke hatinya.

Aneh. Tetapi ia menyukai rasanya.

-TBC-

Hello! Sebelumnya maaf minggu lalu nggak update. Sibuk bgt sm acara kampus. Tiap hari latian pulang malem soalnya. Jadi kalo pny waktu senggang aku pake istirahat, bner2 males ngetik hehe ._.v
Berhubung telat post, spesial chapter yg ini aku buat 25 halaman n_n biasanya ngetik nggak pernah lebih dari 18 halaman u_u
Buat yg request Sehun-Saera-Jongin, udah aku selipin tuh.
Yg kmrn2 minta skinship, itu Luhan bnyk skinshipnya. Sama Minha tapi wkwk. Yang penting sama Hyeminya ada walaupun dikit.
Chapter ini membuat misteri tentang pacar Hyemi semakin jelas loh. Bbrp reader kmrn udh menebak dg benar. Selamat! Klu di chapter kmrn emg udh paling jelas bgt.
Dan seharusnya pacar Hyemi muncul di ending chapter ini tapi aku cut 😦 soalnya terlalu dini buat dia muncul sementara blm ada ‘something strong’ di antara tokoh utama. Jadi mungkin dia muncul di next chap atau 2 chapter lagi.
Segitu aja deh dari aku. Semoga chapter yg ini nggak terlalu mengecewakan. Makasih masih mau nunggu, baca dan masih suka sama ff ini. See ya di next chapter! (Aku nggak janji ya bisa post minggu dpn. Midtest di dpn mata soalnya hehe)

320 responses to “Beautiful Sin (Chapter 6)

  1. wawwwwww..
    semoga sikap luhan bisa terus seperti itu yaa sampai anak mereka lahirr.
    dan jangan sampai luhan dan minha bersatu lagi, ngga relaaa..
    next dh ke chapter selanjutnya..

  2. Minha baik banget, jadi makin kasian. Tapi seneng liat Luhan udah mulai perhatian sama Hyemi. Yeyy ~ lanjut baca chap 7 nya ya Eonn.. Gomawoo :-*

  3. Akhirnyaaaa…. akhirnyaaaaa!!
    Hmm biar aku tebak, aku kira nanti sehun bakal ada rasa deh sama saera mm.. bahkan rebutan dengan kai(?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s