TARGET II – 2

TARGET II 2

 

 

 Target II

|| hgks11’s storyline ©2014 ||

|| Lu Han, Hanna Park, L Kim || Supernatural, Fantasy ||

 || PG  || Series ||

 

IntroPart 1Part 2

 

 

Author’s POV

 

 

“HANNAAA!!”

L menolehkan kepalanya ke sumber suara yang memanggil nama Hanna. Kedua bola mata L mengikuti seorang gadis cantik dengan kulit putih pucat dan rambut panjang. Gadis itu menghampiri sebuah meja di mana terdapat seorang gadis dengan rambut ikal coklatnya tengah duduk dengan tangan termangu.

 

Hanna..

 

Tanpa sadar bibir L membentuk sebuah senyum melihat sosok Hanna pagi itu. Cahaya pagi matahari yang menerpa rambut coklat milik Hanna membuat rambut gadis itu terlihat semakin berkilau, membuatnya terlihat sangat cantik. L lagi-lagi tak dapat mengalihkan pandangannya dari Hanna. L merasa seperti terhipnotis dengan kecantikan Hanna. Melihat dahi Hanna yang sedikit mengkerut membuat L tertawa kecil. Lelaki itu menggelengkan kepalanya pelan, lalu melangkahkan kakinya mendekati Hanna dan seorang gadis yang memanggil Hanna tadi.

 

 

 

“Yah, Krystal. Bisakah kau tidak meneriakkan namaku seperti tadi?” tanya Hanna sedikit kesal ketika sahabatnya itu menarik kursi di sebelahnya. Krystal mengangkat kedua bahunya acuh, matanya mengerling jahil.

“Sepertinya tidak bisa?” Hanna menghela nafas mendengar jawaban Krystal itu. Krystal tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya, namun alis vampir cantik itu saling mengait ketika seorang laki-laki menarik kursi di depannya.

Nugu?” tanya Hanna dengan alis terangkat pada lelaki yang kini duduk di sampingnya.

“Kau lupa padaku? Tsk” L mendecakkan lidahnya sambil menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan Hanna.

“Mungkin” jawab Hanna acuh tak acuh.

Kim Myungsoo. Kau ingat?”

Belum sempat Hanna mengingat namja di depannya, sepasang lengan melingkar di leher gadis itu.

“Hey, bukankah kau memiliki jam pagi?” pheromones milik Luhan memenuhi rongga dada Hanna begitu Luhan berbisik di telinganya. Ujung bibir Hanna tertarik ke atas mendengar suara Luhan, membuat jantungnya berdetak kencang. Vampir cantik itu menganggukkan kepalanya pelan, “Kau juga bukan?” tanyanya pada Luhan. Luhan menggumam pelan, mengiyakan ucapan Hanna sementara kedua bola matanya menatap tajam ke arah L yang menatapnya dengan alis terangkat.

“Sebaiknya kau pergi ke kelasmu sekarang. Kau tak ingin terlambar bukan, sweety?” Luhan sengaja membesarkan suaranya saat ia mengatakan sweety, membuat Hanna menggelengkan kepalanya pelan. Hanna melepas tangan Luhan yang masih melingkar di lehernya dan mengambil tasnya yang tergeletak di atas meja. Gadis itu menarik lengan Krystal, bergegas menuju kelasnya.

Bye, Luhan” Hanna mengecup sekilas pipi Luhan sebelum ia dan Krystal pergi meninggalkan Luhan dan L di sana. L merasa ada yang retak di dalam dirinya melihat Hanna yang mencium pipi Luhan. Sedangkan Luhan kini tersenyum penuh kemenangan pada L, seakan-akan mengatakan Hanna-hanya-milikku. Namun L tak mau kalah dengan Luhan, elf tampan itu menyeringai balik pada Luhan, membuat putra mahkota vampir itu membulatkan matanya kaget. Masih dengan seringai di wajahnya, L  bangkit dari tempat duduknya dan berjalan melewati Luhan.

Shit. Sepertinya aku punya rival sekarang” rutuk Luhan pelan sebelum ia berjalan menuju kelasnya.

 

 

 

 

“Hanna-ya, tadi itu siapa?” Krystal memiringkan kepalanya, menatap sahabatnya yang berjalan di sampingnya.

“Kau ingat saat aku terkena bola?” Krystal menganggukkan kepalanya.

“Dia yang melemparnya”

Mwo?! Jadi dia yang melempar bola itu? Aish, kenapa kau tak bilang Hanna? Seharusnya kau bilang pada Luhan tadi”

Hanna menggelengkan kepalanya pelan, “Aniya, tidak usah. Lagipula dia sudah minta maaf” ujar Hanna mengedikkan kedua bahunya acuh. Krystal menghela nafas pelan, sebelum matanya mengerling jahil.

“Tapi dia cukup tampan, Hanna” Hanna memicingkan matanya pada Krystal, “Apa maksudmu Krystal? Kau ingin kuadukan pada Sehun?”

A-ani-y-ya! Bukan seperti itu maksudku!” Krystal melambaikan tangannya di depan wajah Hanna, panik mendengar asumsi kawannya itu. Namun Hanna masih memicingkan matanya pada Krystal, menatap curiga gadis yang sudah berstatus nyonya Oh itu.

Yah, Hanna-ya! Kau tahu aku hanya bercanda! Jangan kau katakan pada Sehun, please? Ia bisa marah padaku nanti” bibir Krystal menekuk ke bawah, membayangkan Sehun yang marah padanya. Gadis itu menatap ke arah Hanna dengan tatapan memelas dan puppy eyes terbaik miliknya. Hanna mengangkat kedua bahunya, matanya mengerling jahil.

“Aku tak janji, kita lihat saja nanti. Bye Krystal!” Hanna berbelok di ujung koridor, meninggalkan Krystal yang masih menekuk bibirnya.

Yah Hanna Paaarrkk!!” Hanna tertawa kecil mendengar suara Krystal yang menggema di sepanjang koridor memanggil namanya. Namun gadis itu tetap meneruskan langkahnya, mengacuhkan suara Krystal.

 

 

Sebuah senyum masih tercetak dengan jelas di bibir Hanna saat ia sudah dekat dengan kelasnya, membuat orang-orang yang melewatinya melongo karena senyuman Hanna. Hanna mengacuhkan tatapan terpesona orang-orang di sekitar dan duduk di bangku dekat jendela. Gadis itu menghela nafas pelan ketika matanya berkeliling melihat sekitarnya. Tak ada Krystal, tak ada Luhan, dan juga tak ada D.O, Kai, maupun Sehun dan Lay. Di saat-saat seperti ini, penyesalan selalu datang menghantui Hanna. Jika saja ia tidak pergi ke Paris 2 tahun lalu, pasti sekarang ia masih bisa memiliki beberapa kelas bersama Luhan dan yang lainnya. Kini Luhan, Krystal, D.O, Kai, Sehun dan Lay tengah mempersiapkan skripsi mereka, siap lulus dari kampus membosankan ini dalam hitungan bulan. Sedangkan Hanna masih harus menunggu setahun lagi karena ia mengambil cuti kuliah yang cukup lama. Hanna menggelengkan kepalanya pelan, mengusir rasa menyesal yang menghampirinya.

 

Gadis cantik itu terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga ia tidak menyadari tempat duduk di sekitarnya yang telah dipenuhi oleh namja, atau mungkin lebih jelasnya elf.

“Hey, kita bertemu lagi, Hanna Park” Hanna menolehkan kepalanya ke samping, hanya untuk mendapati L yang sudah duduk di sampingnya dengan sebuah seringai di wajah elf itu.

“Hai Hanna-ya!” Hanna mengalihkan pandangannya ke depan bangkunya, di mana beberapa namja sudah mendudukinya. Mata Hanna melebar begitu melihat sebuah sosok yang familiar, seorang namja dengan mata sipit dan senyum manis.

“Sunggyu oppa?” tanya Hanna ragu. Lelaki bermata sipit itu tersenyum, menganggukkan kepalanya. “Lama tak berjumpa, saengie

 

 

 

Flashback

 

“Hanna-ya! Palli, kau tak ingin kita tertinggal rombongan bukan?” Krystal menggembungkan pipinya melihat Hanna yang masih tenggelam dalam pikirannya, terpesona dengan keindahan hutan Jacheon itu. Krystal menggelengkan kepalanya pelan, sebelum ia menghampiri Hanna.

“Hanna Park” Kedua bola mata Hanna melebar begitu Krystal menyenggol lengannya, membuatnya tersadar dari lamunannya. Hanna tersenyum meminta maaf pada Krystal yang berdiri di depannya dengan wajah tertekuk.

Mianhae, Krystal-ah. Aku tak bisa menolak pesona hutan ini” ujar Hanna dengan sebuah cengiran di wajahnya. Krystal menghela nafas pelan, “Kajja, aku tak mau ssaem panik mencari kita nanti”. Hanna menganggukkan kepalanya pelan, berjalan di samping Krystal. Kedua gadis tersebut berjalan beriringan, mencoba mencari rombongan kelas mereka. Namun sudah 3 jam mereka berjalan, kedua vampir itu tersesat di dalam hutan. Matahari sudah mulai bersiap-siap kembali ke persembunyiannya, membuat warna langit semakin gelap.

 

“Auuuuuu”

Kedua bola mata Hanna dan Krystal melebar begitu mendengar suara aungan yang ntah datang darimana, membuat semua rambut-rambut kecil di seluruh tubuh kedua gadis itu berdiri.

“H-Han-na.. A-Apakah kau-u mendengar s-suara au-uung-an i-itu?” tanya Krystal tergagap sambil menarik lengan baju Hanna. Hanna menganggukkan kepalanya pelan, sambil menelan ludahnya.

“A-ayo k-kita p-pergi Kr-ys-s” ujar Hanna susah payah, berusaha menggerakkan kedua kakinya yang tiba-tiba terasa kaku.

“Auuuuuu~” suara aungan serigala terdengar semakin jelas di kedua telinga vampir muda itu, membuat mereka benar-benar takut. Bagaimana jika itu werewolf? batin mereka. Mereka terlalu muda dan tak berdaya jika mereka bertemu dengan werewolf sekarang, dan mereka juga belum ingin mati. Apalagi mati di tangan werewolf.

 

Sreeeekk

Suara ranting pohon yang terseret membuat kedua gadis itu menghentikan langkah mereka, “Krys.. firasatku tak enak” bisik Hanna.

“Aku juga, Han. A-apa kau ingin m-menengok ke b-belakang?” Hanna menelan ludah, menganggukkan pelan kepalanya.

“Dalam hitungan ke 3, oke? 1..”

“2..”

“3..—kyaaa!!”

 

Sepasang mata berwarna kuning emas menatap balik pada kedua vampir itu, menyeringai, menunjukkan deretan gigi-giginya yang tajam. Di belakangnya, terdapat 5 pasang mata lain yang tak kalah terlihat menyeramkan di banding sepasang mata berwarna kuning emas itu, membuat Hanna dan Krystal berteriak panik.

 

werewolves. werewolves. werewolves.

otteokhae? Hanna menjerit panik di dalam pikirannya, sedangkan Krystal memegang erat lengan Hanna.

“J-jangan me-nde-kkat!” seru Hanna mengacungkan ranting yang berada tak jauh darinya. Suara tawa terbahak-bahak tiba-tiba terdengar dari salah satu pohon di dekat Hanna, membuat gadis itu dan werewolves di depannya sedikit terlonjak kaget.

Pabo” tiba-tiba seorang laki-laki dengan mata sipit sudah berada di sebelah Hanna dan Krystal, diikuti dengan seorang Dryad yang muncul dari dalam pohon.

“Aku Sunggyu, elf. Senang dapat membantu anda, nona-nona vampir” ujar Sunggyu sambil tertawa kecil, lalu mengerlingkan sebelah matanya pada Hanna sebelum alunan sihir terselip keluar dari bibirnya, membuat Hanna terpaku dan terdiam.

 

Flashback END

 

 

***

 

 

Hyung.” Sehun menatap tajam Luhan yang tengah mengerlingkan sebelah matanya pada seorang gadis bergolongan darah AB. Luhan mengangkat kedua bahunya acuh, membuat Sehun memutar kedua bola matanya malas. Lelaki dengan kulit pucat itu menyikut pelan Kai yang berada di sebelahnya, membuat vampir berkulit lebih gelap di sebelahnya menoleh padanya dengan alis terangkat.

“Ada apa, Hun?” Sehun mengedikkan dagunya ke arah Luhan yang tengah mencari-cari mangsa. Kai menggelengkan kepalanya pelan, sebelum sebuah seringai jahil muncul di wajahnya yang tampan.

Yah, Lu ge. Kau ingin kuadukan pada Hanna?” dalam hitungan detik, Luhan sudah menoleh ke arah Kai dengan tatapan laser yang seakan-akan keluar dari ujung matanya. Kedua bibir Kai membentuk senyum tipis, berusaha menahan tawanya. “Jangan kau berani, Kim Jongin.” erang Luhan pelan.

“Pfffhahahaha” sebuah suara tawa pecah begitu kedua bibir Kai terbuka, membuat Sehun, Lay dan D.O juga ikut tertawa kecil. Luhan mengerang pelan melihat kawan-kawannya yang tertawa.

“Apa yang lucu?” tanya Luhan merasa terganggu dengan suara tawa Kai yang begitu keras.

“Seharusnya kau melihat bagaimana ekspresimu tadi saat Kai mengancammu, hyung. Hahaha” jelas Lay dengan sebuah tawa yang terselip keluar dari mulutnya. Suara decakkan lidah dapat terdengar dari dalam mulut Luhan, membuat tawa D.O juga ikut pecah, melihat ekspresi sebal milik Luhan.

 

Tiba-tiba Sehun berdiri dari tempat duduknya, setelah melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.

“Kau mau kemana, Sehun?” tanya Lay dengan sebuah alis terangkat.

“Aku pulang duluan, hyungdeul. Lagipula aku sudah tak ada kelas. Bye!” Sehun menyampirkan tas ransel miliknya di bahu kanannya, lalu berjalan meninggalkan ke-empat hyungnya yang menganggukkan kepalanya. Vampir berkulit pucat itu berjalan menyusuri koridor kampus, menuju ke tempat parkiran, di mana Krystal sudah menunggunya. Ujung bibir Sehun tertarik ke atas, begitu ia melihat Krystal yang sudah menyandar di sisi mobil Bugatti Veyron Super Sports berwarna merah miliknya.

Krystal sedikit terlonjak kaget begitu mobil yang menjadi sandarannya berbunyi, menandakan mobil itu sudah tak terkunci lagi. Krystal mendongakkan kepalanya, mencari sosok Sehun—pemilik mobil mewah itu.

“Mencariku, Krystal? kkk” suara kekehan terdengar di telinga kanan Krystal, beriringan dengan sepasang lengan yang melingkar di pinggang kecilnya.

Yah, Sehun!” wajah Krystal memerah ketika Sehun mengecup sekilas pipi vampir cantik itu. Sehun tertawa kecil melihat reaksi Krystal yang tak pernah berubah semenjak dua tahun lalu.

Kajja, kita pulang” ujar Sehun membukakan pintu untuk Krystal. Krystal menganggukkan kepalanya pelan, berjalan mendekati pintu penumpang yang sudah terbuka. Namun Krystal tampak berhenti sebentar, gadis itu menatap Sehun dengan tatapan bertanya.

“Ada apa?”

“Bolehkah kita menjenguk Baekhyun hari ini?”

“……”

“Sehun?”

Sebuah senyum lembut muncul di wajah Sehun, kedua mata lelaki itu membentuk bulan sabit. “Tentu, Krystal. Sebaiknya kita membawanya berjalan-jalan sebentar. Aku yakin hyung pasti sudah bosan selalu berada di ruang tengah rumah kita setiap hari”

Krystal ikut tersenyum mendengar jawaban Sehun. Perasaan hangat menyelimuti hati Krystal.

“Terima kasih, Sehun”

 

 

***

 

 

“Baiklah, kumpulkan tugas kalian besok pagi di atas meja saya”

Hanna menghela nafas lega begitu lelaki tua yang mengajarnya sudah keluar dari kelas. Gadis cantik itu segera mengepaki buku-buku miliknya yang berserakan, memasukkan sebagian bukunya ke dalam tas selempang yang di bawanya.

“Hey, Hanna. Butuh bantuan?” gerakan Hanna terhenti begitu Sunggyu sudah berada di hadapannya, dengan sebuah senyum ramah yang tercetak di wajahnya. Hanna mengendikkan bahunya sekilas, ‘Tak ada salahnya bukan?’ batinnya.

“Tentu tidak ada salahnya, Hanna” Sunggyu mengerlingkan sebelah matanya pada Hanna sebelum lelaki itu mengambil tumpukan buku yang hendak diangkat Hanna.

“Yah, oppa! Kau membaca pikiranku lagi!” protes Hanna, memutar kedua bola matanya malas. Namun sebuah senyum kecil terbentuk di bibirnya saat Sunggyu berkata, “Jangan salahkan kemampuanku sebagai seorang elf, nona vampire

Hanna menggelengkan kepalanya pelan, sebelum menyusul Sunggyu yang sudah beberapa langkah di depannya. Gadis dengan rambut kecoklatan itu mengambil sebuah lolipop yang berada di dalam sakunya, “Oppa, kau mau?” tanyanya sambil menyodorkan lolipop yang sudah berada di tangannya. Sunggyu menggelengkan kepalanya pelan.

“Tidak perlu, aku sudah punya” alis Hanna bertaut mendengar ucapan Sunggyu, namun lelaki itu hanya menyengir pada Hanna.

“Lihat ini. појавио лизалицу” kedua mata Hanna yang melebar melihat sebuah lollipop yang tiba-tiba sudah berada di mulut Sunggyu membuat lelaki bermata sipit itu tertawa kecil.

“Ekspresimu berlebihan, Hanna-ya. Kau sudah pernah melihat yang lebih hebat dari ini bukan? haha”

“Tetap saja, oppa. Hhh~ terkadang aku iri dengan kemampuan kalian yang begitu hebat” ujar Hanna sambil mengendikkan kedua bahunya. Sunggyu hanya menggelengkan kepalanya pelan dna tertawa kecil mendengar ucapan Hanna.

 

 

 

Gomawo, oppa” ucap Hanna begitu Sunggyu menaruh buku-buku miliknya ke dalam loker milik Hanna.

No prob, saengie” Sunggyu mengacak pelan rambut Hanna.

“Ahem” Hanna dan Sunggyu sedikit terlonjak kaget begitu mendengar suara dehaman yang berasal dari Luhan. Kedua bola mata Luhan melirik tajam ke arah Sunggyu, menyatakan ketidak sukaannya pada Sunggyu. Hanna menggelengkan kepalanya pelan, sebuah helaan nafas terselip keluar dari bibirnya.

“Luhan, hentikan” ujar Hanna malas, melihat Luhan yang tidak berhenti menatap tajam ke arah Sunggyu. Sebelah alis Sunggyu terangkat, ia mengatup rapat bibirnya berusaha menahan tawanya ketika ia membaca pikiran Luhan. Dengan sengaja Sunggyu meletakkan tangannya di pundak kanan Hanna, membuat Hanna mau tak mau mendekat ke arah Sunggyu.

“Oh, hai Luhan!” sapa Sunggyu dengan sebuah cengiran di wajahnya. Luhan melengos kesal melihat tangan Sunggyu yang melingkar di bahu Hanna, membuat vampire tampan itu ingin mematahkan tangan Sunggyu.

Eoh, hai hyung” balas Luhan singkat.

“Ah, sepertinya aku harus pergi sekarang. Hanna, apakah kau ada waktu luang nanti sore?” pertanyaan Sunggyu pada Hanna membuat sebelah alis Luhan terangkat. ‘Yah, apa yang ia coba lakukan?’ batin Luhan. Sunggyu menyeringai jahil mendengar isi pikiran Luhan.

“Ya, sepertiya aku memiliki waktu  luang nanti sore. Ada apa oppa?”

“Kalau begitu temui aku di cafe sebelah kampus nanti sore, oke?” ujar Sunggyu menghadap ke arah Hanna, membelakangi Luhan. Sunggyu mengerlingkan sebelah matanya pada Hanna, mengirimkan sebuah telepati pada Hanna.

‘Let’s pissed him off, shall we?’  Hanna memutar kedua bola matanya malas, namun pikirannya berubah begitu ia melihat wajah Luhan yang tampak merasa kesal.

“Tentu, oppa. Bila perlu ajak oppadeul yang lainnya”

“Okay, bye saengie!”

Bye, oppa!”

 

 

BRAAAK!

 

Ouch!” Hanna menggeram pelan ketika punggungnya menyentuh pintu loker.   Sepasang lengan berada di sisi kanan dan kiri kepala Hanna, membuat gadis itu tak dapat menghindari tatapan Luhan yang seperti ingin mencabik-cabiknya dengan sadis.

Park Hanna.” rambut-rambut kecil di seluruh tubuh Hanna tiba-tiba berdiri mendengar nada suara Luhan yang penuh dengan kekuasaan, membuat Hanna mau tak mau menatap ke kedua bola mata Luhan yang berada di hadapannya. Hati vampir cantik itu berdenyut miris, saat ia dapat melihat sakit dan rindu sekilas mengkilat dari dua bola mata di hadapannya itu.

“Apakah kau ingin membuatku gila? Apa yang ingin kau lakukan bersama elf tua itu?!” erang Luhan pelan, kening laki-laki itu kini bersandar di pundak kiri Hanna, membuatnya dapat dengan leluasa menghirup pheromones milik Hanna. Sebuah tawa kecil yang terselip keluar dari bibir Hanna membuat kedua alis Luhan saling bertautan.

Elf tua? kkk~  Sunggyu oppa tidak setua itu, Luhan!” Luhan memutar kedua bola matanya kesal mendengar ucapan Hanna.

“Kau tahu bukan, aku tidak suka dengan elf-elf itu, terutama yang bernama L atau Kim atau siapalah namanya. Ia ingin merebutmu dariku, Hanna” ujar Luhan serius. Hanna menggelengkan kepalanya pelan, helaan nafas keluar dari bibirnya. Tangan gadis itu terangkat, memegang lembut kedua sisi wajah Luhan.

“Mereka baik, Luhan. Kau tidak perlu berperilaku seperti ini. Dan kau tahu bukan? Mereka temanku. Bukankah seharusnya kau senang aku memiliki teman selain lingkar pertemanan vampir kita?”

Okay.. Tapi kau harus berhati-hati dengan L, Hanna. Ntah kenapa firasatku buruk” ujar Luhan mengecup lembut kening Hanna.

Tsk, kau tak perlu secemas itu, Crown Prince” ucap Hanna mendecakkan lidahnya.

Aye ay my queen. Wanna grab lunch together?” telapak tangan Luhan mencari-cari telapak tangan Hanna. Jari-jari mereka saling bertautan, bagaikan puzzle yang menyatu.

Hanna menganggukkan kepalanya pelan, sebuah senyum menis terlihat di wajah cantiknya.

“Tentu, Luhan”

 

 

BAAAM!

“Tak bisakah.. kau melihatku, Hanna?” lirih L pelan melihat Hanna dan Luhan yang semakin menghilang dari pandangannya. Tangan elf itu memerah, akibat ia memukul loker miliknya begitu keras.

“Seandainya aku bisa membuatmu jatuh hati padaku dengan sihirku..”

 

***

 

 

Hari demi hari berlalu, berganti dengan minggu dan bulan. Luhan, Krystal, D.O, Kai dan Sehun juga Lay semakin sibuk mempersiapkan sidang kelulusan mereka, sedangkan Hanna semakin dekat dengan Infinite. Ya, semenjak hari di mana Hanna bertemu Sunggyu—lagi—mereka semua menjadi dekat. Kini Hanna tahu kalau semua namja di dekatnya itu adalah elf, sama seperti Sunggyu.

 

“Hanna! Oper bolanya!” Hanna menoleh ke arah Sungjong yang melambaikan tangannya pada Hanna. Sunggyu yang membaca pikiran Hanna, tersenyum jahil. Ia menyikut L yang berada di sisi kanannya.

“Hey, Myungsoo-ya. Bagaimana ka—“ “Tentu, hyung” sebuah seringai muncul di wajah L begitu ia membaca pikiran hyungnya itu. Sunggyu mengangguk puas sebelum ia mulai menghitung aba-aba .

“1.. 2..”

“Sungjong!”/ ”3!”

Sunggyu memblokir Hanna yang akan mengoper bola ke Sungjong, membuat kedua bola mata gadis itu melebar.

“Sunggyu oppa!” pekik Hanna begitu bola yang berada di kakinya kini berpindah ke kaki Sunggyu. Sunggyu tak menghiraukan pekikan Hanna dan mengoper bola di kakinya ke arah L. Sebuah seringai muncul di wajah L begitu bola sepak berwarna hitam dan putih itu sudah berada dalam kekuasaannya. Dengan lincah, L menembus dinding pertahan Sungyeol dan menendang keras bola di kakinya ke arah gawang yang dijaga oleh Hoya.

 

GOOAAALL!!

 

L dan Sunggyu saling ber-high five ria dengan sebuah senyum penuh kemenangan di wajah mereka. Hanna mencibir melihat Sunggyu yang bertepuk tangan dengan L, “Oppa! Kau curang!”

“Curang? Aku tidak curang, Hanna-ya. Haha, mianhae saengie” ujar Sunggyu yang tiba-tiba sudah berada di sebelah Hanna, dengan sebuah senyum manis di wajahnya. Membuat kedua mata lelaki itu seperti garis lurus.

 

“Hanna?”  Hanna menolehkan kepalanya ke belakang, hanya untuk menemukan sosok Luhan yang tengah berlari ke arahnya, dan Lay, Sehun, D.O, juga Kai yang berjalan di belakang Luhan. Kedua ujung bibir vampir cantik itu tertarik ke atas melihat Luhan yang kini sudah berdiri di hadapannya, dengan rambut yang sedikit berantakan karena berlari. Seluruh otot di tubuh Hanna seperti mendadak berhenti saat gadis itu melihat Luhan yang tengah berusaha merapihkan rambut pirangnya yang berantakan. Pheromones milik Luhan dengan cepat memenuhi rongga dada Hanna, membuatnya merasa sesak. Salah satu ujung bibir Luhan terangkat ke atas, saat ia melihat ekspresi wajah Hanna. Sebuah tawa kecil terselip dari bibirnya, membuat Hanna sadar dari pengaruh pheromones Luhan.

May I borrow MY girlfriend for awhile?” Luhan menekankan kata-kata MY sambil melirik ke arah L yang berada di belakang Hanna. Sebuah seringai penuh kemenangan muncul di wajah Luhan ketika Sunggyu mengangkat kedua bahunya acuh, “No problem, I guess

 

“Tunggu! Bolehkah aku berbicara sebentar dengan Hanna? Kumohon, aku.. tidak akan lama” sahut L tiba-tiba. Sebelah alis Luhan terangkat, ‘Ada perlu apa dia dengan Hanna?

Hanna menarik pelan lengan baju Luhan, membuat lelaki itu menolehkan kepalanya ke arah Hanna. Seakan-akan bisa membaca pikiran Hanna, Luhan menghela nafas pelan sambil menganggukkan kepalanya lemah. “Pergilah”

“Aku tidak akan lama” balas Hanna dengan sebuah senyum manis di wajahnya.

Kajja, Myungsoo” ujar Hanna menghampiri L dan berjalan menjauhi lapangan berumput hijau tersebut, meninggalkan Luhan dan kawan-kawannya juga anggota Infinite yang lainnya. Raut wajah Sunggyu semakin mengecut begitu ia melihat punggung Hanna dan L yang sudah mulai tidak terlihat lagi.

“Aku hanya berharap, kau tidak akan melakukan hal yang akan kau sesali kelak, Kim Myungsoo.” lirih Sunggyu pelan.

 

 

 

“Ada apa, Myung?” Kini Hanna dan L tengah berada di taman Seoul National University, tempat di mana pertama kalinya Hanna berbicara dengan L setelah kejadian bola waktu itu. L melempar kerikil yang berada di tangannya ke air mancur yang berada di depannya, sebuah helaan nafas terselip keluar dari bibir elf tampan itu. Hanna menyenggol pelan lengan L, membuat lelaki itu menolehkan kepalanya pada Hanna.

“Hanna?”

“Hmm?”

“Aku menyukai seseorang..”

Jincayo?! Siapa?” tanya Hanna dengan mata berbinar. Hanna sangat penasaran dengan siapa yang disukai oleh L, karena Sunggyu dan yang lainnya sering menyinggung mengenai hal itu. Saat Hanna bertanya pada Sunggyu, elf dengan kedua mata sipit itu hanya tersenyum penuh makna pada Hanna.

 

Sebuah tawa kecil terselip keluar dari bibir L, “Kau benar-benar ingin tahu, Hanna Park?”

Hanna menganggukkan kepalanya semangat, membuat L lagi-lagi tertawa kecil.

“Ia wanita yang sangat cantik. Tidak hanya wajahnya yang cantik, namun hatinya juga. Aku ingin memberitahu semua orang yang berkata bahwa ia adalah orang yang dingin dan tidak mempunyai hati, bahwa mereka semua salah. Ia seperti malaikat yang kehilangan sayapnya, sehingga ia harus tinggal di bumi. Kulit putih pucatnya yang terkena sinar matahari pagi terlihat begitu indah dan mempesona. Aku sangat ingin menggapainya dan menjadikannya milikku. Tapi.. Aku tidak bisa Hanna”

“Kenapa? Apakah kau takut ditolak Myung?” L menggelengkan kepalanya pelan.

“Lalu?”

“Hh.. Ntahlah Hanna. Ia.. sudah memiliki kekasih. Menurutmu, apakah masih ada kesempatan untukku?”

Hanna sedikit tertegun mendengar ucapan L, namun tak lama kemudian sebuah senyum pengertian muncul di wajah Hanna.

“Kau tak boleh menyerah begitu saja, Myungsoo! Di mana L Kim yang kukenal?” tantang Hanna. Tiba-tiba L meraih tangan Hanna, menggenggam kedua telapak tangan vampir cantik itu.

I.. love you

 

**

At the same time

 

Luhan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Kakinya mengetuk-ketuk tanah dengan tak sabar, menunggu Hanna yang belum juga kembali bersama L. Berbagai prasangka buruk memenuhi otaknya, namun vampir muda itu menggelengkan kepalanya pelan berusaha mengusir prasangka buruknya. ‘Aku percaya pada Hanna’ batinnya.

Getaran yang berasal dari sakunya membuat lamunan Luhan bubar. Ia merogoh kantong celananya, mengeluarkan sebuah benda persegi dari dalam sakunya.

Shit.” umpat Luhan begitu melihat pesan yang masuk.

“Lay! Sehun! D.O! Kalian ikut aku ke rumahku! Dan Kai! Cepat kau cari Hanna dan bawa ia ke rumahku! Arasseo?!” seru Luhan tiba-tiba, membuat vampir-vampir yang disebutnya sedikit berlonjak kaget mendengar nada suaranya. Mereka dapat melihat rasa panik dan khawatir di wajah Luhan, membuat firasat mereka tiba-tiba menjadi tidak enak.

“Ada apa Luhan?” tanya D.O menyuarakan pikiran vampir lainnya.

“Rumahku dibantai, werewolves.”

 

 

Kai berlari mencari Hanna di segala penjuru Seoul University. Bulir-bulir keringat memenuhi pelipis dan dahi lelaki itu. Namun Kai tak peduli, ia harus segera mencari Hanna. Karena tak ada yang dapat menjamin keselamatan Hanna jika Mansion milik keluarga Lu sudah diserang. Nyawa Hanna pasti akan berada dalam bahaya, karena Hanna sekarang merupakan soulmate Luhan, The Crown Prince.

“Hanna!” seru Kai begitu ia melihat sosok Hanna yang tengah duduk di depan taman Seoul University. Tangan Kai mengepal begitu ia melihat tangan L yang menggenggam tangan Hanna. Dengan langkah lebar, Kai mendekati Hanna dan L. Ia menatap tajam ke arah L yang tampak menyeringai begitu Hanna menolehkan wajahnya pada Kai.

“Kau harus ikut aku sekarang, Hanna” erang Kai pelan. Hanna menatap Kai bingung, belum bisa mencerna otaknya sepenuhnya karena ia masih kaget dengan pengakuan L sebelumnya.

Kajja, Hanna” Kai menarik pergelangan tangan Hanna kasar, membuat genggaman tangan L lepas dari Hanna.

“T-tunggu K-kai! Ada apa kau menarikku seperti ini?!” pekik Hanna kesal.

“Luhan. Luhan dalam bahaya, Hanna.” lirih Kai pelan, membuat Hanna tak mampu berkata-kata,  sebelum ia meneleportasikan dirinya dan Hanna ke Mansion Lu.

Tanpa kedua vampir itu sadari, sebuah seringai muncul di wajah L begitu elf berperawakan tinggi itu tak sengaja mendengar perkataan Kai. Lalu bagai hilang tertelan bumi, lelaki itu menghilang bersama hembusan angin.

 

 

***

Lu Mansion

 

BRAAAK!!

Suara hentakan pintu terdengar dengan keras dari pintu utama rumah besar itu. Mata Luhan melebar begitu melihat rumahnya yang sudah porak poranda, dengan bekas cakar yang berada di mana-mana.

“Luhan..” D.O memanggil lirih nama Luhan begitu ia menemuka dua jasad vampir tergeletak di ruang tengah rumah besar itu. Luhan yang memiliki pendengaran yang tajam, segera berlari ke arah D.O begitu namanya terselip keluar dari bibir D.O.

Aboeji.. Eomma..” kedua lutut Luhan terasa lemas dan tak bertenaga begitu ia melihat wajah dari pemilik tubuh yang tergeletak itu. Sebulir air mata jatuh dari pelupuk matanya, mengalir ke pipi dan dagunya. Di hadapan Luhan, tergeletak jasad dua orang yang sangat ia hormati dan ia jaga. Terdapat bekas cakar di seluruh tubuh mereka, darah bercipratan di mana-mana. Kulit mereka yang tadinya berwarna putih pucat kini ternodai oleh warna darah dan bau werewolf.

Kedua bola mata Luhan mengerling merah, tangannya terkepal hingga urat-urat nadinya dapat terlihat dengan jelas.  Bulu kuduk D.O, Lay, dan Sehun berdiri saat merasakan aura yang keluar dari Luhan. Auranya begitu pekat dan hitam, membuat mereka mengatup erat-erat bibir mereka.

Mata Sehun melebar begitu gambar demi gambar muncul di otaknya. Gambar di mana Luhan akan mengamuk, menyebabkan kehancuran dan peperangan karena ulah werewolf. Sehun dapat melihat, kemampuan tersembunyi yang dimiliki Luhan kini mulai bangkit. Kemampuan terkutuk, yang tak pernah terlihat lagi setelah beribu-ribu tahun. Kemampuan yang sangat dahsyat dan ditakuti.

Oh, fuck” lirih Sehun begitu ia melihat kedua bola mata Luhan yang sudah berubah menjadi merah darah.

 

 

Di tempat lain..

 

Kris menyeringai melihat Luhan yang tampak kacau dari kejauhan. Di sampingnya berdiri seorang laki-laki berambut pirang, dengan wajah yang tampan. Sebuah senyum kemenangan muncul di wajah lelaki itu, sembari kedua lengannya melipat di depan dadanya.

Now we just have to find an elf..”

Yeah, to get me out of this shit called forced blood bond” umpat Kris. Lelaki yang berdiri di sebelahnya hanya menganggukkan kepalanya, sebelum ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.

C’mon, Kris. Kita tidak punya banyak waktu” ujar lelaki berambut pirang itu. Kris menganggukkan kepalanya, lalu ia melirik sekilas ke arah Luhan.

Time for revenge, Luhan

 

 

 

—————————————————————————–

A.N.: huwaaaaa mianhaeee >< kalian boleh protes semau kalian sama aku deh, serius ini aku ngalor banget ngepost nya ;____; maaaaf :”””

Semoga ga mengecewakan deh ya :’) *amiiin

Aku.. ga bisa ngomong apa2 lagi :’)

57 responses to “TARGET II – 2

  1. Author-nim…. finally… update jg…. tiap kali buka main inet… selalu cek FF ini ada update gk….

    anyway,,,,thanks for update ny ya…^^^

  2. yah!! itu kenapa lagi coba.. siapa werewolf yang mbunuh orang tua luhan?? pasti kris juga jadi biang nya di sini u,u

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s