THE PORTAL [ Part 14 : The Real Story ]

The Portal 2 finals

New poster! do you like it?

Title :

The Portal

 

Author : Citra Pertiwi Putri ( @CitraTiwie )

 

Main Cast :

– A Pink’s Jung Eunji / Jung Hyerim as The Princess of Junghwa Kingdom

– INFINITE’s Lee Howon / Hoya as The Bodyguard

– A Pink’s Son Naeun / Son Yeoshin as the Good Witch

– INFINITE’s Kim Myungsoo / L as the Bad Witch

 

Genre : Fantasy, Romance, Friendship, and little bit Comedy

 

Other Casts :

– CNBlue’s Jung Yonghwa as The King / Eunji’s Father

– SNSD’s Seo Joohyun as The Queen / Eunji’s Mother

– BAP’s Jung Daehyun as The First Prince / Eunji’s brother

– F(x)’s Jung Soojung / Krystal as The Second Princess / Eunji’s sister

– BtoB’s Jung Ilhoon as The Second Prince / Eunji’s Brother

– SNSD’s Lee Soonkyu / Sunny as The Palace’s Witch

– B2ST’s Son Dongwoon as Naeun’s Brother

– B.E.G’s Son Gain as Naeun’s Sister

– SNSD’s Kim Hyoyeon as the most mysterious witch in Junghwa

– SNSD’s Kim Taeyeon as L’s Mother & Hyoyeon’s sister (good side : as Kim Haeyeon, Junghwa’s Headmaster)

– A Pink’s Kim Namjoo as Hyoyeon’s foster daughter

– EXO’s Byun Baekhyun as the Prince in another Kingdom

– EXO’s Kim Jongin / Kai as Myungsoo’s brother

– A Pink’s Yoon Bomi as Eunji’s foster sister

– EXO’s Do Kyungsoo / D.O as an ordinary boy

– Girl’s Day’s Bang Minah as Hoya’s partner

– B2ST’s Yoon Doojoon & 4Minute’s Heo Gayoon as Eunji’s foster parents

– INFINITE’s Nam Woohyun as Naeun’s foster brother

– A Pink’s Park Chorong as Myungsoo’s best friend & Woohyun’s Girlfriend

– INFINITE’s Lee Sungyeol as Myungsoo’s best friend

 

Rating : PG15 – NC17

Type : Chaptered

 

NB : Kyaaa.. halo readers semua? Apa kabar? Masih ingat dengan fanfic ini? semoga masih yaa ^^ author mohon maaf karena udah sebulan lebih tidak update. Seperti yang author katakan, Try Out dan UAS satu-satunya alasan author mengesampingkan tulisan ini untuk sementara. Dan author berterimakasih atas pengertian dan dukungan kalian, Try Out dan UAS author berjalan sangat lancar dengan hasil yang sangat baik berkat doa kalian. Terimakasih.

Dan.. akhirnya author bisa meluangkan waktu menulis setelah UAS bahkan menyempatkan waktu juga untuk membuat poster baru agar readers tidak bosan dengan ff ini, semoga part yang merupakan pre-final ini bisa menjawab rasa penasaran kalian 🙂

Selengkapnya :

Part 1 : I Hate My Life

Part 2 : Big Decision

Part 3A : I Will Find You | 3B : You Will Find Me

Part 4 : Another Me

Part 5 : Over Protective?

Part 6 : Faithfulness

Part 7 : Something New

Part 8 : The Hidden Truths

Part 9 : Unpredictable

Part 10 : The Scandals

Part 11 : Reality

Part 12 : True Love

Part 13 : It’s Time to..

 

Before Story :

Penyihir nomor satu, Kim Hyoyeon selama ini rupanya tak membiarkan kehidupan Hoya, L, Naeun, dan Eunji di dunia nyata berjalan baik. Masih dendam akan kematian Namjoo, sang penyihir muncul kembali sebagai Hong Yookyung dengan L sebagai target utamanya.

Usahanya menyamar menjadi mantan kekasih Lee Sungyeol rupanya tak sia-sia, dengan kemampuannya membuat portal sebesar lorong ia mampu membawa L dan Yeoshin bahkan Woohyun, Chorong, dan Sungyeol ke negeri Junghwa. Niatnya tak setengah-setengah, ia tak hanya ingin membuat L terkejut namun juga ingin membunuh penyihir tampan itu. Hal ini diketahui oleh Taeyeon dan membuat Taeyeon mendadak stress karena tak ingin L celaka.

Namun apa yang terjadi? Disaat Taeyeon melakukan segala cara demi menyusul anaknya ke negeri Junghwa dengan mengancam Eunji untuk meminta buku milik Hyoyeon, hal-hal tak terduga terjadi di negeri Junghwa. Mulai dari kenekatan L muncul di pasar negeri Junghwa dan tertangkap oleh kamera ponsel sang pengawal kerajaan baru –Kai-, disusul eksperimen ramuan pemberian Yookyung yang dilakukan Naeun dan membuatnya menemukan dua jenis ramuan baru, yakni ramuan penyembuh dan ramuan yang pembangkit kematian seperti yang diminta oleh Sungyeol. Namun saat ini mungkin kita harus berharap ramuan tersebut diberikan kepada Woohyun yang sepertinya mulai menyerah dengan penyakitnya disaat Chorong memberinya kesempatan.

Dan satu lagi hal tak terduga yang terjadi di negeri kerajaan dan penyihir itu, dimana L mau tak mau harus bertarung menghadapi Yookyung alias Hyoyeon tanpa sepengetahuan istrinya, Naeun. Dengan kekurangannya terhadap pengetahuan tentang ramuan, ia bertarung dengan Hyoyeon di dalam gudang ramuan dengan diikuti oleh Sungyeol yang ternyata membawa ‘jackpot’ baginya.

Bagaimana tidak? Disaat L hampir mati oleh satu rak cairan pembunuh, kemampuan ilusinya berhasil menipu Hyoyeon dan kesuksesan tipuannya disempurnakan oleh Sungyeol yang secara tak sengaja mendorong rak tersebut dan ‘membunuh’ sang penyihir nomor satu. Meski nasib nyawa Hyoyeon masih misteri, keyakinan L bahwa Hyoyeon sudah mati membuat penyihir jahat itu semakin di atas angin dan mengaku bahwa saat ini ialah yang menjadi penyihir nomor satu.

Apa yang akan terjadi setelah kejadian penting ini? akankah keadaan berubah drastis?

Jung Eunji masih belum tahu menahu, hidupnya akhir-akhir ini mulai dihantui oleh berita-berita tentang Hoya dan Minah yang membuatnya terkesan sama seperti Bomi. Tentu, terlebih Hoya bukanlah sekedar artis di matanya, tetapi juga seorang lelaki yang mulai berani menggeser posisi D.O dan Howon di hatinya.

Namun segala pemberitaan Hoya yang selalu berhubungan dengan Minah kadangkala membuat Eunji ragu untuk mengenal lelaki itu lebih jauh, dan keadaan hubungan mereka diperparah oleh masalah yang kembali ditimbulkan oleh Bomi hingga Hoya harus keracunan dan masuk rumah sakit. Yang membuatnya parah adalah dugaan Hoya bahwa Eunjilah yang mencelakainya.

Mengapa masalah semakin rumit? Bukankah saya selaku penulis mengatakan bahwa kita semakin dekat dengan final?

Selamat membaca.

 

****

 

Author POV

 

“ Bangunkan aku.. aku pasti bermimpi.”

“ Wow, betapa berharganyakah diriku sampai kau menganggap bertemu denganku hanya bisa terjadi di dalam mimpi? Oh, aku terharu.”

“ Kim Myungsoo sunbae..”

“ Dia tidak mendengarmu, bodoh. Lihat, dia sudah tidur dengan tenang bahkan sebelum kau mengenalnya.”

Naeun semakin memucat, rasa dingin menjalari seluruh tubuhnya. Ia masih saja berusaha meyakinkan dirinya bahwa yang ada didepannya saat ini bukanlah L. Namun nihil, penyihir tampan yang juga adalah suaminya itu memang sedang berdiri dengan wajah sadisnya sekarang. Kaki panjangnya bahkan mulai menaiki meja kaca tempat pembaringan Naeun bersama kedua mayat di kiri-kanannya, lelaki itu mulai berjalan menghampiri Naeun yang beringsut hingga dinding menghentikan pergerakannya.

“ B..bagaimana aku bisa disini?”tanya Naeun gemetar, membuat L tertawa setan setelahnya.

“ Penyihir bisa melakukan apapun. Jadi tidak sepantasnya pertanyaan itu ada di pembicaraan kita berdua, sayang..”

Naeun menggeleng, airmatanya mulai berjatuhan terlebih ketika ia menunduk dan menatap jasad Myungsoo.

 

“ Kau membunuh Myungsoo sunbae!?”

 

L semakin tertawa sembari menatap jasad sisi baiknya sejenak, “ Hahaha, jika saja sebelumnya dia memang masih hidup sudah pasti aku yang membunuhnya. Tapi pada kenyataannya ia sudah mati bahkan sebelum kau menginjak dunia ini, dia memudahkan jalanku untuk mendekatimu.”

“ Tidak mungkin..”Naeun masih mencoba menyangkal meski rasanya sia-sia, sekarang ia hanya bisa merasakan sesal yang teramat dalam karena sosok lelaki berhati malaikat bernama Kim Myungsoo hanya ada dalam sandiwaranya dengan L.

Betapa bencinya Naeun pada lelaki didepannya ini sekarang. Tetapi tetap saja, rasa takutnya jauh lebih besar dari rasa bencinya.

L mencoba santai dengan membakar dan menghisap rokoknya lalu menyandarkan kedua tangannya di dinding, mengunci tubuh Naeun dengan kedua lengannya setelah itu menyunggingkan senyum jahatnya.

“ Menangislah lagi, aku muak melihatmu bahagia selama ini.”

Lelaki itu meniupkan asap rokoknya tepat di depan wajah cantik Naeun, membuat gadis itu batuk hebat ditengah tangisannya. L benar-benar menikmati pemandangan ini, karena setelah sekian lama ia bersikap manis kini ia bisa menjalankan kegemarannya lagi. Ya, menyiksa Naeun sebagai tanda rasa cintanya.

“ Hei..kenapa diam? Tidak rindu padaku?”

“ Untuk apa aku rindu padamu?”

“ Ah.. iya, aku lupa. Tidak seharusnya kau rindu padaku. Kita bertemu setiap hari, melakukan berbagai hal bersama-sama. Ck, tak kusangka kita bisa begitu romantis. Hubungan kita begitu bagus, kau bahkan semakin akrab dengan ibuku, yang sekarang sedang duduk manis di bangku kepala sekolah, hahahaha..”

Hati Naeun semakin sakit mengingat kebodohannya selama ini. bagaimana bisa ia begitu yakin tentang kehadiran Kim Myungsoo selama ini? yang jelas-jelas sudah dipastikan meninggal saat hiking karena tak satupun yang menemukan jasadnya –kecuali Lee Sungyeol, tentunya-. Ia menyesal tak menyadarinya sejak awal, ia menyesal menjadi gadis yang terlalu kesepian saat harus berada di dunia yang baru, ia menyesal tak mendengarkan peringatan Eunji.

L memutar sedikit pandangan Naeun menuju jasad Myungsoo yang ada di dekat kaki mereka, setelah itu tertawa mengejek.

“ Apa kau masih mencintai dia, Son Yeoshin? Ia bahkan tak kenal padamu, tapi kau sering menyebut namanya dengan penuh kasih sayang. Sebelum kau semakin bodoh, sekarang saatnya kau mengganti sebutan itu dengan… namaku.”

“ Tidak..”

“ Lalu? Ingin memanggilku dengan sebutan brengsek? Biadab? Penyihir jahat? Atau yang lain?”

“ Lebih buruk dari itu.”

“ Baiklah, kalau begitu aku juga akan memperlakukanmu lebih buruk dari sebelumnya.”

“ Aku tidak takut. Seperti apa memangnya?”

“ Seperti ini mungkin?”

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Naeun hingga meninggalkan bekas telapak tangan yang lebar berwarna kemerahan disana. L menamparnya.

“ Ah, masih kurang buruk. Mungkin seperti ini?”

PLAK!

Kini sisi kanan pun ikut terkena tamparannya, Naeun tak dapat menahan tangisannya, gadis itu nyaris ambruk namun L menahan tubuhnya kuat-kuat.

 

“ Ini..inilah yang aku suka. Menangislah seperti itu, aku akan semakin mencintaimu.”

*******

 

“ Brengsek, kemana dia!?”

Sungyeol membuka satu per satu pintu yang ada di dalam villa Hyoyeon, mencari L dan Naeun yang menghilang begitu saja setelah L berhasil ‘memenangkan’ pertarungannya dengan sang penyihir nomor satu yang kini masih tak berdaya di gudang ramuan.

Hingga ketika lelaki itu tiba di teras, ia melihat secarik kertas menempel di meja, segera ia ambil dan baca tulisan yang ada di kertas tersebut. Tulisan Chorong.

 

Teman-teman, maaf.. aku pulang duluan. Woohyun mendadak kritis dan aku tidak bisa meminta bantuan kalian karena aku sudah berjanji bahwa hanya aku yang bertanggung jawab atas keselamatannya disini, aku juga tidak ingin merusak liburan kalian. Jadi, bersenang-senanglah tanpa kami, tolong doakan uri Woohyun, semoga ia baik-baik saja.

 

Park Chorong

 

Sungyeol semakin memucat, mengapa keadaan menjadi kacau begini? Apa artinya sekarang dia sendiri satu-satunya makhluk dunia nyata yang berada di tempat ini? ia benar-benar takut, ia takut Hyoyeon kembali bangun dan membantainya jika penyihir itu tahu bahwa ia yang tak sengaja membantu L saat bertarung beberapa saat yang lalu.

“ Harus kemana aku sekarang? Apa aku pergi saja?” Sungyeol melangkah dengan hati-hati menuju mobilnya yang masih terparkir di halaman, namun kembali berbalik ketika sadar bahwa kuncinya ada pada Yookyung.

“…sial, bagaimana ini?! mana mungkin aku memintanya. Kalau aku cari sendiri, aku harus masuk lagi kesana.”

Setelah berpikir keras beberapa saat, Sungyeol memberanikan diri untuk kembali masuk ke dalam villa, bahkan ia melangkah menuju gudang ramuan.

 

Lelaki itu menghampiri Hyoyeon yang masih terkapar di lantai, ditatapnya penyihir itu lekat-lekat.

“ Maafkan aku..aku sama sekali tidak sengaja, apa yang harus kulakukan?”

Tak terdengar jawaban, apa Hyoyeon benar-benar sudah mati? Sungyeol semakin merasa bersalah, ia takut L semakin berbuat kekacauan di dunia nyata. Hanya Hyoyeon yang bisa menghentikan L, namun Sungyeol justru mempersulit keadaan.

“…kalau begitu aku akan berusaha membunuh L, dengan cara apapun.”

Sungyeol terpaksa meluncurkan kata-kata itu dari mulutnya meski ia sendiri tahu mustahil melakukannya. Setelah itu ia berdiri, memutuskan untuk pergi jika lorong portal masih terbuka.

 

“ Jangan pergi..”

 

Sungyeol menghentikan langkahnya, suara siapa yang ia dengar barusan?

*****

 

“ Sama sekali tidak lucu, Nam Woohyun! Baru kali ini kita bersenang-senang dengan hati yang tulus tanpa iming-iming uangmu, tapi kau malah seperti ini. aku benci!”

Sepanjang jalan Chorong terus menangis karena Woohyun masih saja tak sadarkan diri, bahkan tubuh lelaki itu semakin dingin dan wajah tampannya semakin pucat. Chorong masih memungkiri bahwa lelaki itu sudah menghembuskan nafas terakhirnya, Chorong masih bisa merasakan denyut nadi Woohyun karena sepanjang jalan Chorong terus memegangi tangannya.

Dengan mengandalkan kemampuan mengemudinya, Chorong membawa mobil Woohyun dengan kecepatan tinggi dan sampai ke Seoul dalam waktu singkat karena sudah kepalang panik, ia tak sadar bahwa saking lajunya mobil yang ia bawa, ia berhasil melalui lorong portal yang nyaris tertutup.

*

 

“ Nona Park Chorong, pasien meminta Anda untuk masuk.”

“ Hah? Dia sadar?”

Sang perawat tersenyum seraya mengangguk, “ Sepertinya Anda terlalu panik tadi. Pasien memang sempat kritis tapi setelah kami memberitahu bahwa Anda yang mengantarnya kemari, ia merasa semakin baik.”

Chorong nampak bersemangat, ia segera berdiri dan membungkukkan badannya pada sang perawat, setelah itu berlari kecil menuju ruang perawatan Woohyun.

 

“ Ya~ Kau berisik sekali di mobil tadi.”dengan suara lemah Woohyun menggodanya, membuat gadis itu tertawa kecil dengan airmata yang masih saja menitik dari pelupuk matanya. Kali ini airmata haru, tentu karena tak menyangka Woohyun masih bisa membuka matanya.

“ Kau mendengar suaraku?”tanya Chorong pelan sembari menyentuh tangan dingin lelaki itu.

“ Tentu saja.”

“ Lalu kenapa kau tidak membuatku tenang?”

“ Aku tak bisa melakukan apapun tadi.”

“ Sudahlah, lupakan. Aku senang kau sadar..”Chorong mengeratkan pegangannya dan mendekat, menatap wajah pucat Woohyun dengan prihatin.

“…jangan lagi membuatku takut, aku akan lebih berisik kalau kau seperti ini lagi.”

Woohyun tertawa kecil dan membiarkan Chorong memeluknya, tangan dinginnya mengelus rambut berantakan gadis itu, merapikannya sedikit.

“ Jam berapa sekarang?”

“ Jam dua siang.”

“ Mwo? Aku masih ingat kita di lapangan basket jam dua belas. Bagaimana bisa jam dua kita sudah disini?”

Chorong tertawa kecil, “ Maaf, lamborghini-mu hampir kecelakaan beberapa kali.”

“ Ya! pantas saja aku mimpi naik roller coaster saat masih pingsan.”

“ Kau sih membuatku panik.”

“ Itu diluar dugaanku. Aku masih ingin main basket denganmu, aku tidak terima dikalahkan olehmu.”

“ Ya! Tidak ada waktu lagi untuk itu, kau harus istirahat sampai pulih.”

“ Penyakitku tidak mengenal kata pulih. Istirahat atau tidak, aku akan tetap mati. Lebih baik tidak istirahat daripada sisa waktuku sia-sia.”

“ Jangan bicara seperti itu.”

“ Kau harus tahu mulai sekarang agar tidak berisik lagi saat aku benar-benar pergi.”

Chorong menangis lagi, namun Woohyun buru-buru menghapus airmatanya.

“ Maaf, aku tak akan bicara soal itu. Yang jelas sekarang aku sedang dalam kondisi yang baik, karena ada kau disini. jadi jangan merusak suasana.”

Gadis itu mengangguk pelan, setelah itu melepas pelukannya dan mengecup kening Woohyun singkat.

“ Kau pasti tidak mau istirahat. Jadi kau mau apa sekarang?”

“ Ayo pulang, ke rumahku.”

“ Bagaimana dengan perawatanmu?”

“ Aku punya dokter pribadi, aku tidak suka di rumah sakit.”

“ Tapi..”

“ Jebal, aku ingin pulang sekarang. Aku ingin berdua saja denganmu, selagi kita masih punya waktu.”

***

 

“ Kau terlalu gegabah, Bang Minah. Seharusnya kau tidak usah bilang dulu pada wartawan tentang gadis berseragam itu.. apalagi menyebut nama Eunji. Apa yang akan terjadi padanya kalau ada artikel tidak jelas yang muncul tentangnya?”

“ Kau sendiri yang bilang padaku sebelum insiden tadi kau sudah melihatnya sebelumnya keluar dari kedai ramen. Siapa lagi siswi asrama yang keluar dari sekolahnya saat itu?”

“ Bisa saja ada lagi selain Eunji.”

“ Sudahlah, kau sudah terlanjur curiga juga kan dengan Eunji?” Minah merebut ponsel Hoya yang ada di atas meja dan menunjukkan pesan terkirimnya.

“ Ya! Itu…itu..”

“ Apa? Mau mengelak lagi? Aku sudah yakin hubunganmu dengan Eunji lebih jauh dari yang kubayangkan. Ternyata benar, kau bahkan punya nomornya.”

“…tapi itu tidak penting bagiku sekarang. Jika terbukti bahwa dia pelakunya, kau tak akan sudi menghubunginya lagi kan?”

Hoya mengacak-acak rambutnya gusar, menyadari ketololannya beberapa saat yang lalu sebelum operasi pembersihan racun di tubuhnya, sempat-sempatnya ia mengirim pesan berisi tuduhan pada Eunji hanya karena ia melihat gadis itu keluar dari kedai ramen saat hari masih pagi. Bagaimana mungkin ia menuduh Tuan Putrinya sendiri hanya karena kesamaan seragam sekolah dan dugaannya bahwa Eunji tak terima dengan pemberitaannya dengan Minah.

“ Tidak seharusnya aku mengirim sms seperti itu.”

“ Jadi kau menyesal sudah menuduhnya? Hei, racun itu awalnya diberikan padaku, jadi aku yang melihat dengan jelas siapa dia. Dia Eunj……”

“ Pemberi racun itu memakai masker, jadi jangan mengarang cerita.”potong Hoya, membuat Minah terdiam sejenak dan mendengus kesal.

“ Kau aneh. Saat baru masuk rumah sakit kau bilang yang memberi racun itu berseragam SMA Junghwa, dan kau mengatakan kau sempat melihat Eunji sebelumnya, lalu membuatku ikut curiga dan akhirnya melapor pada wartawan. Sekarang kau malah membela gadis itu, menyalahkan aku karena terlalu cepat memberi laporan pada wartawan.”

“ Kau memang terlalu cepat memberi laporan, seharusnya tunggu aku selesai operasi dulu.”

“ Hei, kalau begitu semua wartawan akan semakin gila di depan sana. Kau mau ganti rugi atas ketidaknyamanan pada pihak rumah sakit? Aku melakukan ini semata-mata agar mereka pergi.”

“ Tapi laporanmu salah, kau boleh menyebutkan gadis itu berseragam SMA Junghwa tapi seharusnya kau tidak menyebut nama Jung Eunji!”

Minah berdiri, melipat kedua tangannya dan mengelilingi tempat tidur Hoya sambil menatap lelaki itu dengan tatapan curiga.

“ Kelihatan sekali kau ingin melindunginya, kau benar-benar menyukainya? Jangan-jangan berita yang kemarin benar, kau menemuinya di lapangan bola dan…..”

“ Keluar, aku ingin istirahat. Kondisiku masih belum baik.” Hoya memotong dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Minah tertawa sinis, dengan langkah kaki yang sengaja dihentak-hentakkan gadis itupun keluar dari ruang perawatan Hoya.

 

“ Ini akan berjalan sempurna jika aku benar-benar meyakinkan semua orang bahwa Eunji pelakunya. Tapi bagaimana jika Eunji bukan pelakunya? Persetan dengan itu, aku hanya ingin membuat Hoya jauh darinya.”

*

 

“ Bagaimana dia sekarang? Kalau wartawan-wartawan itu pergi dari sini, pasti sekarang mereka mencari Hyerim..”

Hoya tak bisa istirahat meski kondisinya masih sangat lemah karena keracunan yang ia alami beberapa saat yang lalu, ditambah lagi belum lama ia baru saja selesai operasi. Namun ia terus memikirkan Eunji, ia juga ingin membuktikan apakah tuduhannya benar. Jika Eunji bukan pelakunya, tentu ia tak akan memaafkan dirinya sendiri.

“…jangan sampai wartawan-wartawan itu membuat Hyerim kebingungan dan panik. Apalagi Hyerim benci radiasi dan hal-hal yang berhubungan dengan elektronik, bagaimana jika wartawan memotretnya terus menerus?”

Hoya benar-benar berpikir jauh sekarang, ia yakin kini awak media memburu Eunji karena Minah sudah terlanjur mengatakan gadis itu adalah pelakunya pada mereka. Hoya tak bisa tinggal diam, ini adalah kesalahannya dan ia harus bertanggung jawab karena sudah menuduh tanpa berpikir dulu.

Dengan lemas, lelaki itu melepas infus di tangannya dan bangkit dari tempat tidurnya, menghampiri tasnya yang ada di lantai. Entah apa yang ingin ia lakukan.

***

 

“ Si brengsek itu, kenapa dia menuduhku!?”

Eunji merasa tak tenang setelah menerima pesan dari Hoya, merasa dunia tak adil karena Bomi yang jelas-jelas pelakunya saat ini malah bisa makan dengan lahap didepannya karena merasa tenang sebab Eunji sudah berjanji akan merahasiakan perilaku kriminalnya.

“ Ya! Kau kenapa? Sup kimchimu sudah dingin.”Bomi sedikit mendorong mangkuk sup kimchi Eunji yang belum disentuh sama sekali, “…kajja, makan. Kita harus cepat kembali ke sekolah.”

“ Kau saja, aku harus mengurus sesuatu.”Eunji tiba-tiba berdiri dan menyerahkan mangkuk ramennya pada pelayan yang kebetulan lewat.

“…ahjumma, tolong dibungkus.”

“ Sudah berapa makanan yang kau bungkus hari ini? ramenmu saja dari pagi belum dimakan! Kau mau apa sih?” Bomi heran, “…jangan bilang ini ada hubungannya dengan….”

“ Ada! ada hubungannya dengan kelakuanmu. Kau mau apa?”jawab Eunji emosi karena semakin gelisah, ia takut tuduhan Hoya menjalar ke media, tahu saja setiap perkataan artis tampan itu adalah konsumsi publik.

“ Hah? Kau.. m-mau..mau apa? Jangan bilang kau mau melaporkan aku ke pol…..”

“ Aku sudah berjanji apa padamu tadi? Jadi tenang saja, sana ke sekolah.”

Tanpa pamit, Eunji pun keluar dari tempat makannya dengan Bomi. Namun apa yang terjadi?

Gadis itu sangat terkejut dan akhirnya tertahan di depan pintu masuk ketika melihat puluhan wartawan, reporter, dan kameramen berlari dari berbagai penjuru kearahnya. Yang membuatnya terganggu, para awak media tersebut berseru dengan seenaknya.

“ Dia Jung Eunji!!”

“ YA! Dia yang meracuni Hoya!”

“ Ciri-cirinya persis seperti yang dijelaskan Minah!”

Seisi rumah makan terkejut karena tempat mereka mendadak ramai, terutama Bomi. Gadis itu tak menyangka justru Eunji yang tertuduh, bukan dirinya.

“ Hei! Apa-apaan ini!? bukan.. bukan aku..” Eunji begitu panik dan akhirnya memutuskan dalam hati untuk mengungkapkan identitas Bomi saja, gadis itu buru-buru berbalik, bermaksud menarik Bomi ke tengah awak media yang menjebaknya sekarang.

“…YA!!! YOON BOMI!!!!” Eunji berteriak karena Bomi berlari dan kabur dari rumah makan lewat pintu yang lain. ternyata ia tak mau menyerahkan diri dan dengan tega membiarkan Eunji kewalahan menghadapi tuduhan yang datang tiba-tiba.

“ Jangan mengalihkan kami, nona Jung. Kau sama persis dengan gadis di foto ini, sudah pasti Anda yang memberi minuman beracun itu pada Minah, iya kan?” beberapa wartawan mulai main hakim sendiri dengan menunjukkan beberapa foto saat kejadian yang mereka punya.

“ Ya! Sudah pasti dia pelakunya, bahkan sampai sekarang dia masih memakai seragam sekolahnya!”timpal wartawan yang lain.

“ Ya, lagipula Minah sudah mengatakannya.”sahut yang lain lagi.

“ Kalau begitu apa motif Anda meracuni Minah?”

“ Apa Anda menyesal karena akhirnya yang meminum racun Anda adalah Hoya!?”

“ Anda berponi, apa jangan-jangan Anda adalah gadis berponi yang diberitakan dengan Hoya kemarin!?”

“ YA! Bisa jadi Andalah gadis berponi yang belakangan ini digosipkan sebagai pengganggu Hoya dan Minah. Apa karena itu Anda berniat meracuni Minah?”

“ AAAAAAAAAAAAA~!!!” Eunji menjerit dan menangis karena tak tahan dihujani pertanyaan dan tuduhan tak masuk akal. Namun sebelum ia semakin depresi, seseorang tiba-tiba menarik tangannya dan membawanya keluar dari kerumunan wartawan.

“ Jangan serang temanku! Dia tidak tahu apa-apa!!”orang itu berteriak tegas dengan suara perutnya, membuat Eunji sudah tahu siapa dia tanpa melihat wajahnya terlebih dahulu.

 

“ Jiwon?”

***

 

“ Kali ini kau keterlaluan. Aku tak menyangka reaksinya sampai seperti ini. bagaimana jika ia tahu kenyataan-kenyataan yang lain? seperti kau yang katanya sudah mengalahkan Hyoyeon, atau tentang kenyataan bahwa sekarang ia benar-benar mengandung anakmu? Mungkin dia akan mati. Terlebih dia mengandung anak penyihir, yang kita tidak tahu apakah akan menjadi jahat atau baik setelah lahir.”

L mencoba untuk tidak merenungi perkataan Taeyeon karena selama hidupnya ia selalu menuruti egonya, matanya terus mengarah ke arah jendela kamar 210, tempat istrinya ‘dikurung’ beberapa saat yang lalu.

Gadis itu masih terbaring di atas tempat tidur setelah disuntik obat penenang beberapa saat yang lalu. L memang sudah menyangka reaksinya akan luar biasa setelah ia mengungkapkan identitasnya, tapi ia tak menyangka Naeun sampai harus dimasukkan paksa ke rumah sakit jiwa oleh Taeyeon karena gadis itu terus menangis dan meraung. Sebenarnya L suka hal itu, tetapi Taeyeon rupanya tak tahan dan tak ingin Naeun mengacaukan sekolah dan asrama nantinya, mengingat Taeyeon bertanggung jawab sebagai kepala sekolah.

Taeyeon juga sudah mendengar semuanya, tentang apa yang terjadi di negeri Junghwa, tentang Woohyun dan Chorong yang pergi duluan, tentang Sungyeol yang masih terjebak disana. Bahkan ia ingin sekali ke negeri Junghwa untuk memastikan semuanya, tetapi ia masih berpikir ribuan kali karena masih ragu dengan kematian Hyoyeon. Bagaimana tidak, Hyoyeon adalah penyihir terhebat dan sepertinya tak semudah itu ia mati di tangan L dengan sedikit kebodohan Sungyeol.

“ Aku bisa merasakan betapa terguncangnya dia. Dan entah, saat ini aku sama sekali tidak berpihak padamu.”Taeyeon berbicara jujur, tetapi L justru tertawa sinis.

“ Jadi kau kasihan pada Naeun? Kau rupanya bukan penyihir jahat sejati.”

“ Aku kasihan pada diriku sendiri jika suatu saat harus kehilangan menantu dan calon cucuku. Sejahat apapun diriku, aku menyayangi Naeun karena dia adalah orang yang kau cintai. Tapi kau memperlakukan dia dengan tidak seharusnya, dengan caramu yang aneh dan merugikan..” mata bening Taeyeon mulai berkaca-kaca, dan baru kali ini L melihat ibunya seperti itu.

“ Kau benar-benar yakin Naeun akan mati?”

“ Tentu saja. Penyihir baik adalah penyihir yang paling rapuh. Terlebih Naeun adalah satu-satunya, bagaimana jika setelah ini ia putus asa? Aku bertaruh dia pasti lebih memilih mati daripada harus hidup denganmu.”

L mendadak gusar mendengar perkataan ibunya.

“ Aku tak menyangka kata-kata seperti ini meluncur dari mulutmu. Kukira selama ini kau mendukung caraku mencintai Naeun.”

“ Aku memang mendukungmu sebelumnya. Tapi selama aku menjadi kepala sekolah, aku belajar memahami orang lain, memahami siswa-siswaku. hingga aku sadar bukan hanya kau yang punya cara mencintai Naeun, Naeun juga pasti punya cara sendiri untuk menghindarimu, salah satunya adalah merelakan nyawanya.”

“ Ia tak sebodoh itu bunuh diri hanya karena aku.”

“ Hei, apa kau tidak sadar sudah sejauh apa kau berbuat? Ia mengalami tekanan yang luar biasa, kau tidak lihat?” Taeyeon sedikit meninggikan suaranya sembari menunjuk pintu ruang perawatan Naeun, “…saat ia menggila setelah tahu kau bukan Myungsoo, dalam keadaan tidak sadar masih bisa terdengar ia menjerit dalam hatinya. Ia takut padamu, ia merasa ingin mati mendengar suaramu lagi.”

“ Stop! Stop! Kim Taeyeon, hari ini kau bukan ibuku!” L geram dan memutuskan untuk pergi karena tak ingin semakin merasa bersalah.

“…silahkan jaga dia malam ini, sayangi dia seperti yang kau katakan barusan. Tapi besok aku akan datang mengganggunya!”

Setelah itu ia menghilang, meninggalkan asap di koridor rumah sakit jiwa tempat Naeun dirawat saat ini, meninggalkan ibunya yang menangis diam-diam…

***

 

“ Janji padaku untuk menghabiskan itu. Jangan dibungkus lagi.”

Eunji mengangguk pelan kemudian mencoba menyantap sup ayamnya karena sebenarnya sejak pagi ia kelaparan, hanya saja hal-hal tak terduga yang terjadi membuatnya gagal mengisi perutnya.

“ Bagaimana kau bisa datang kemari? Kau sudah lama hilang dan… aku tidak bisa berpikir. Lee Jiwon, jelaskan!”tanya gadis itu dengan mulut penuh sayuran.

“ Kau bahkan tidak mengucapkan terimakasih dulu..”

Eunji menepuk keningnya, ia lantas memeluk Jiwon erat-erat, membuat ‘gadis’ itu mendadak berdebar.

“ Terimakasih sudah menolongku.. aku tidak tahu bagaimana menghadapi wartawan-wartawan itu, untung kau datang.. terimakasih..” Eunji hampir menangis lagi, tetapi Jiwon buru-buru merangkulnya.

“ Memang sudah seharusnya aku bertanggung jawab.” batinnya, ia tak tahu apa yang sedang terjadi di rumah sakitnya saat ini, pasti semua orang heboh karena artis yang baru saja menjalani operasi mendadak hilang dari ruang perawatannya. Mungkin mereka akan lebih terkejut lagi jika mengetahui sang artis kabur untuk menjadi seorang perempuan. Ah, sudahlah. Hoya memang berpikiran pendek. Salah atau benar yang ia lakukan, jika itu membuat Eunji aman ia akan tetap melaksanakannya.

“ Oke, aku akan cerita kenapa aku tiba-tiba muncul..”ucap Jiwon pelan, Eunji buru-buru pasang telinga.

“ Kenapa? Kenapa kau muncul?”

“ Aku..merindukanmu.”

“ YA! Lee Jiwon, berhenti bergurau!”

“ Aku jujur, Jung Eunji. Kau kira aku merindukan sekolah? Merindukan guru-guru? Tidak sama sekali. Aku hanya ingin melihatmu lagi karena… kau.. teman.. yang.. baik.”

“ Kedengarannya kau ragu mengatakannya.”

“ Ani..aniyo. aku serius!”

Lee Howon bodoh, hanya ini satu-satunya alasan? Ah sudahlah, ia tak bisa berpikir jernih jika Hyerim menatapnya seperti itu.

“ Geurae, anggap saja kau memang rindu padaku. Lalu selama ini kau ada dimana?”

“ Ng..anu..aku..aku..bekerja di toko bunga, seperti biasa.”

“ Jinjja? Mianhae, Jiwon. Tapi selama ini aku tidak bisa percaya karena kau sering menghilang tiba-tiba dengan alasan kerja disana, apakah bosmu sangat galak dan mengharuskanmu bekerja setiap hari? Kalau begitu ajak aku ke toko bunga itu! Aku ingin bicara dengan bosmu agar tidak mengganggu jam sekolahmu!”

Aish, jinjja. Jung Hyerim, gadis ini sedang punya masalah besar tapi masih bisa-bisanya ingin mengurusi Jiwon.

“ A..ah tidak usah, kau malah akan membuatku dipecat nantinya.”

“ Ya sudah, setidaknya ajak saja aku kesana. Aku ingin tahu seperti apa tempat kerjamu.”

Mampus..”  keringat dingin mulai mengucur dari pelipis Jiwon, Eunji benar-benar menyebalkan kalau sudah seperti ini. tidak bisakah ia memikirkan urusannya sendiri dulu? Urusannya bahkan lebih serius daripada karangan Jiwon bahwa ia bekerja di toko bunga.

“ Kajja..! aku malas kembali ke sekolah sekarang, nanti saja kalau jam pelajaran berakhir kita ke asrama bersama-sama. Otte?”

“ A..anu.. Eunji-ssi, bagaimana kalau kau ceritakan dulu kenapa tadi kau sampai dikerumuni wartawan? Aku benar-benar ingin tahu.”Jiwon masih berusaha agar Eunji tak perlu mengunjungi toko bunganya yang memang sebenarnya tak ada.

“ Lho? Kukira kau sudah tahu. Kudengar kau bicara pada wartawan ‘jangan serang temanku! Dia tidak tahu apa-apa..’

“ O..oh iya!” Jiwon menepuk keningnya, “…bodoh, padahal baru beberapa menit yang lalu aku mengatakan itu.”

“ Jadi apa lagi yang mau kau tanyakan? Kau pasti sudah tahu aku yang dituduh meracuni artis sialan itu.”

“ Heh! A..artis sialan???”

“ Iya! Artis sialan, sok tampan, menyebalkan, bajingan..”

“ Jung Hyerim.. kau baru saja mengutuk cinta pertamamu sendiri.” Jiwon hanya bisa memijat kepalanya mendengar semua hujatan Eunji, lagipula ini salahnya sudah menuduh sembarangan.

“…kalau aku jadi buruan media terus-terusan, aku tak akan mengampuninya.” ucap Eunji lagi, “…bagaimana bisa dia menuduhku sembarangan dan melaporkannya pada media tanpa mencari buktinya dulu?!”

“ Mungkin.. dia melihatmu memakai seragam sebelumnya..”ucap Jiwon pelan, mengungkapkan alasan lemahnya menuduh Eunji.

“ Mwo!!?? Jinjja!? Ya! Kalau hanya itu alasannya dia menuduhku, dia tolol sekali. Dia kira aku satu-satunya anak yang memakai seragam seperti ini?! dia kira aku saja yang keluar dari lingkungan sekolah jam segini?! Dia kira aku begitu bersemangat dan sangat niat meracuninya sampai-sampai harus keluar dari lingkungan sekolah!? Sungguh artis yang percaya diri! Asal dia tahu, aku sama sekali tidak peduli padanya! Lagipula apa untungnya aku meracuninya? Meracuni Minah!? Karena pemberitaan gadis berponi itu!? Memang, memang aku marah! Tapi aku tak akan menggunakan cara keji seperti itu!”

“ Ara..arasseo.. cukup Jung Hyerim.. kata-katamu begitu menusuk.” Jiwon hanya bisa tersenyum tipis dengan wajah pucat karena jawaban Eunji begitu panjang dan penuh emosi. Tetapi ini membuktikan bahwa Eunji memang bukanlah pelakunya, pantas saja ia marah besar karena dituduh sembarangan.

“…tapi..tapi yang kulihat, eh.. maksudku yang aku baca di berita baru saja katanya yang memberi minuman beracun itu berseragam SMA Junghwa. Jadi.. apa kau tahu siapa lagi yang keluar dari lingkungan sekolah selain kau hari ini? mungkinkah.. dia pelakunya?”

“ Tentu saja aku tahu! Siapa lagi kalau bukan fans gila bernama Yoon Bom…. Ah, eh..” Eunji buru-buru menutup mulutnya karena sudah ingkar janji, namun Jiwon sudah terlanjur mendengarnya.

“ BOMI!? Jadi dia!!??” Jiwon terkejut, “…perempuan gila. Lihat saja, kalau aku pulang ke asrama akan kusiksa dia di kamar.”

“ A.. ah sudahlah, jangan bicarakan soal itu lagi. Kajja, aku ingin jalan-jalan.” Eunji mengalihkan pembicaraan dan berdiri dari duduknya, menghampiri pelayan yang ada di depan seraya membawa mangkuk sup ayamnya.

“…ahjumma, tolong dibungkus saja.”

Jiwon memutar bola matanya dengan malas.

“ Dibungkus lagi!?”

**********

 

“ Apa!? Jadi kau dan pengawal Kai melihat L di pasar negeri Junghwa?”

Ilhoon mengangguk berkali-kali agar Raja dan Ratu serta Daehyun dan madame Sunny percaya.

“ Dia.. hanya datang sebentar untuk mencari seekor ayam, dia bilang pada semua pedagang bahwa.. Yeoshin sudah hamil sekarang, tapi aku tidak yakin apakah mereka hidup bahagia di dunia nyata.”jelas Ilhoon.

“ Sulit dipercaya.”ucap ratu Seohyun, dibarengi anggukan suaminya.

“ Memang masih rahasia di kalangan rakyat, tapi seisi istana tahu bahwa L bukan penyihir yang bisa membuat ramuan. Jadi bagaimana caranya dia kesini tanpa ramuan portal? Apa mungkin Yeoshin yang membuatnya? Tapi rasanya tidak mungkin, untuk apa mereka jauh-jauh ke negeri ini hanya untuk mencari seekor ayam? Apa di dunia nyata tidak ada ayam?”pikir raja Yonghwa. Sementara ia memikirkan ayam, madame Sunny memikirkan hal lain.

“ Apa kau dan Kai mengikutinya saat keluar dari pasar?”tanya Madame Sunny.

Ilhoon menggeleng, “ L menghilang.”

“ Ck, dia selalu memamerkan kekuatannya.”

“ Apa kau punya bukti?”tanya Daehyun.

Ilhoon mengangguk cepat, “ Ada.. ada di benda menyala punya Kai!”

“ Benda menyala?” semua bingung.

“ I..iya. tadi namanya.. hand..handphone.. ya, kalau tidak salah handphone. Benda yang sangat luar biasa! Dia bisa menangkap gambar hanya dengan satu kali tekan. Aku bingung bagaimana cara kerjanya..”

“ Kai..manusia modern itu, ckckck. Mana dia sekarang? Panggil dia!” titah raja Yonghwa.

*

“ Kau yakin ini gambar asli?”

“ Tentu saja, ini kan ditangkap oleh kamera. Kamera mengambil gambar saat kejadian terjadi. Kau masih belum paham?”

“ Ooh.. kamera, kamera..handphone?”

Kai mengangguk seraya mengacak-acak rambut Krystal dengan gemas, “ Sudah ada kemajuan rupanya.”

“ Apanya? Kemampuanku menyebut benda-benda elektronik?”

Lelaki itu menggeleng, “ Bukan.”

“ Lantas?”

“ Akalmu, akal sehatmu.”

Krystal tertawa kecil, “ Ini berkatmu juga, Kai. Lagipula sebenarnya aku tidak gila.”

“ Bukan berkat madame Sunny?”

“ Aniyo.. jika berkat madame Sunny, sebelum kau kesini pun pasti aku sudah sembuh.”

“ Benar juga..”

Krystal tersenyum, gadis itupun semakin manja bersandar di dada bidang Kai, membuat lelaki itu berdebar. Bukan berdebar karena perasaannya, tapi karena khawatir ada yang melihat mereka di lorong penjara bawah tanah ini. Krystal mengotot ingin bertemu, dan Kai menerima saja karena kebetulan ia ditugaskan untuk berjaga di tempat paling terpencil di istana itu.

“ Kai, terimakasih sudah memberitahuku dan memperlihatkanku gambar itu. Aku jadi tahu L sempat ke negeri ini. tapi.. aku tidak ingin memikirkannya lagi. Sudah seharusnya aku melupakan dia..”ucap Krystal pelan, Kai mengangguk.

“ Sekarang fokus saja pada identitas palsumu sebagai Hyerim di depan pangeran Baekhyun. Jangan sampai kumat saat bicara dengannya, arasseo?”

Krystal menggeleng, “ Justru aku ingin segera mengakhiri kebodohan ini. raja mengambil keputusan yang salah. Aku tidak mungkin terus-terusan membohonginya. Aku Krystal, bukan Hyerim unnie. Kami berbeda..”

“ Aku tahu.. lalu apa yang akan kau lakukan? Bukankah ini salah satu cara menyelamatkan kerajaan ini dari kemiskinan?”

“ Aku masih berharap semoga ada cara lain. Mengapa mereka harus mengorbankan aku? Aku tidak suka berbohong dan aku tidak akan mau menikah dengan orang yang bukan pilihanku. Meski Baekhyun sangat baik, aku tetap memandangnya sebagai orang asing.”

“ Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“ Ada dua pilihan. Pilih yang mana yang menurutmu paling pantas kulakukan.”

“ Baiklah, apa saja?”

“ Pertama, aku akan bicara baik-baik pada pangeran Baekhyun, menjelaskan tentang kepergian Hyerim unnie, lalu mengatakan bahwa aku adalah Krystal. Setelah itu menyerahkan keputusan padanya, apakah ia akan tetap melanjutkan hubungan atau tidak..”

“ Hmm..lalu yang kedua?”

“ Aku langsung berpura-pura atau mendadak gila di depannya agar ia langsung tahu aku adalah Krystal, agar aku tidak usah bicara panjang lebar.”

“ YA! Cara macam apa itu? Tentu saja aku menyarankan yang pertama!”

Krystal tertawa kecil, “ Nde, aku hanya bercanda kok. Lagipula aku malu menjadi orang gila. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana pandanganku terhadapku saat kita pertama kali bertemu.”

Kai menahan tawanya, ingat dengan pertemuan pertamanya dengan Krystal yang kemudian menjadi petaka baginya di hari-hari berikutnya. Mulai dari dipaksa naik ke menara, diintip saat sedang mandi, sampai kebingungan saat gadis itu kehilangan kembang api.

“…ya! Kenapa tertawa?! Apa aku sebegitu memalukan?!”Krystal merajuk dan memajukan bibirnya.

“ Aku bisa memakluminya, jadi santai saja. Lagipula aku memandang hal itu sebagai kesan yang mendalam. Meski kau merepotkan, aku tidak berniat menjauhimu karena aku tahu tak selamanya kau begitu. Ternyata aku benar, kan? Tuan Putri Krystal sudah menjadi gadis yang lebih baik.”

Krystal pun menegakkan duduknya, menghadapi wajah tampan Kai.

“ Tapi ada sedikit yang kusesali. Karena aku sudah sedikit sehat, kita jadi sulit untuk bertemu.”

“ Bukan karena kau sudah sehat, tapi karena statusku sekarang sebagai pengawal disini.”

Krystal terdiam sejenak, seperti mengingat sesuatu.

“ Hmm.apakah ini kutukan?”ucap Krystal tiba-tiba.

“ Mwoya? Kutukan apa?”

“ Kutukan.. anak perempuan raja selalu berhubungan dengan pengawal.”

“ Mwo?”Kai masih tak mengerti.

“ Kau tidak tahu? Hyerim unnie juga berhubungan dengan pengawal di kerajaan ini, namanya Lee Howon. Pengawal termuda dan tertampan di istana ini, pengawal yang kau gantikan.”

“ Ah, jadi dia yang dengan Eunji..”batin Kai, ia jadi semakin penasaran seperti apa sosok Howon sebenarnya, meski sebenarnya ia sudah pernah bertemu lelaki itu dalam bentuk Lee Jiwon.

“ Mungkin hanya aku yang tahu hal itu. Hyerim dan Howon, mereka sering bertemu di tempat ini, di penjara bawah tanah, entah untuk sekedar mengobrol atau untuk melihat bintang jika mereka mengadakan pertemuan di malam hari. Meski tahu mereka akan sulit untuk bersama, tapi mereka begitu optimis dan juga romantis, padahal mereka menjalin hubungan beberapa jam setelah mereka pertama kali bertemu. Hubungan mereka yang membuatku percaya dengan cinta pada pandangan pertama..”

“ Lalu apa yang kau maksud dengan..kutukan?”

“ Aku menyebut kutukan karena sepertinya apa yang mereka lakukan akan terjadi lagi. Pada…kita.”

“ Benar kata Madame Sunny, Krystal menyukaiku. Ahaha..~ apa aku bermimpi? Seorang putri menyukaiku! Rasanya aku ingin pamer pada semua orang yang sudah mengataiku si hitam dekil yang tak akan dapat pasangan.”

Kai mencoba untuk bersikap sewajarnya.

“ Aku akan suka kutukan itu terjadi pada kita jika ending Hyerim dan Howon bahagia.”

“ Itulah yang masih menjadi misteri. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada mereka di dunia nyata.. apakah bahagia atau sebaliknya..”

“ Jadi kita belum bisa memutuskan untuk melanjutkan ‘kutukan’ ini atau tidak?”

Mendengar pertanyaan Kai, Krystal semakin menegakkan duduknya, mencoba untuk berbicara serius dengan menatap mata lelaki itu tanpa berkedip.

“ Kai..”

“ Hm?”

“ Aku menyukaimu. Apa kau menyukaiku?”

“ Hah!? A.. aku…”

“ Pengawal Kai!!! Kau dipanggil raja!”

Kai buru-buru berdiri dan mendorong Krystal ke belakang tembok untuk bersembunyi.

“ Terimakasih, aku akan segera kesana.”sahut Kai, membuat Krystal kecewa karena pertemuan mereka berakhir.

Lelaki itu berbalik sejenak secara sembunyi-sembunyi, menatap Krystal yang nampak muram.

“ Apa kau—“

Kai menciumnya sekilas karena waktu mereka tidak lama,tetapi cukup membuat gadis itu gemetaran setelahnya karena ini ciuman pertama mereka.

 

“ Aku lebih menyukaimu, Krystal…”

******

 

“ Apa ini nomor telepon dokter Hong?”

Chorong menunjuk sebuah nomor yang ada di buku telepon rumah Woohyun, setelah itu menekan-nekan tombol angka telepon mewah didepannya.

“ Ya! Kau mau menghubunginya? Aku baik-baik saja.. lagipula dia masih di Amerika.”Woohyun memutuskan sambungannya, “…kajja, aku ingin main basket di depan.”

“ Ck, kau ini bandel sekali!”

“ Bukankah sudah kubilang istirahat tidak istirahat ujungnya akan sama saja?”

“ Arasseo, tapi terlalu sering tidak istirahat akan mempercepat kematianmu. Aku tidak ingin kau pergi terlalu cepat, jadi menurutlah sesekali.”dengan wajah memelas Chorong memohon, Woohyun terpaksa menurut dan kembali ke tempat tidurnya.

Kring…kring~

“ Mwo? Siapa?” Woohyun ingin bangkit, namun Chorong menahannya.

“ Biar aku saja.”gadis itupun beringsut mendekati telepon rumahnya dan mengangkat telepon tersebut.

“…yoboseyo? Oh.. presdir Nam..” Chorong sedikit gugup karena yang menelpon rupanya adalah orangtua Woohyun yang saat ini masih di luar negeri.

“ Park Chorong? Bagaimana kabarmu?”

“ Ne, ini saya, presdir. Kabar baik..”

“ Kau pasti sedang bersama Woohyun sekarang, itu artinya kau sudah tahu penyakitnya. Benar?”

“ Ne, saya sudah tahu. Saat ini.. dia sedang beristirahat dan saya yang menjaganya.”

“ Terimakasih banyak. Ini membuatku lega, pasalnya hari ini saya bertemu dengan dokter Hong, kami di Amerika. Saya sedang menghadiri pemakaman anaknya.”

“ M..mwo? anak dokter Hong?”

“ Ya. Namanya Hong Yookyung, mungkin kalian saling kenal. Apa kau dan Woohyun belum mendengar beritanya? Yookyung ditemukan meninggal di apartemennya tiga hari yang lalu, hari ini baru mau dimakamkan.”

Chorong terkejut dan langsung memucat, mulai sadar bahwa ada yang tidak beres.

“ Ya..Ya Tuhan, kami turut berduka..”ucap gadis itu gugup.

“ Ada yang aneh sebenarnya, saat ini dokter Hong sedang ditenangkan oleh psikiater karena dia mengotot anaknya sempat ikut dengannya ke Korea beberapa hari yang lalu. Jelas-jelas anaknya tidak kemana-mana, Yookyung meninggal secara misterius dan pintu apartemennya terkunci berhari-hari.”

“ A..apa?”

“ Ng.. mungkinkah.. kau melihat Yookyung di Korea?”

“ I..iya! benar.. aku..Woohyun, bahkan yang lainnya.. kami melihat Yookyung, kami bertemu Yookyung dan kami menghabiskan waktu dengannya. Jadi..bagaimana mungkin..”

“ Aih, kenapa aneh begini? Kalau begitu akan kusampaikan pada psikiaternya, agar dokter Hong tidak dikira berbohong lagi.”

“ N..ne, presdir. Saya tutup teleponnya.”

 

“…GILA! Tidak..tidak mungkin.. lalu siapa Hong Yookyung yang datang itu? Siapa yang mengajak kami ke villa? Siapa..” Chorong mendadak pusing, Woohyun yang ternyata bangkit dan tempat tidur dan berdiri di belakangnya sejak tadi langsung menahannya.

“ Aku juga dengar tadi. Apa ayahku tidak salah? Yookyung ada disini dan..” Woohyun juga ikut heran, ia pun mengajak Chorong untuk duduk dan berpikir bersama.

“ Coba aku hubungi Yookyung.”dengan gemetaran Chorong mencari kontak Yookyung di ponselnya.

“ Di villa sana tidak ada sinyal, percuma menghubunginya.”

“ Oh iya.. lalu bagaimana? Ini benar-benar tidak beres. Bagaimana mungkin Yookyung ada dua? Bagaimana mungkin dia datang kesini kalau meninggalnya saja sudah tiga hari yang lalu!?”

“ Apa kita harus ke villa itu lagi?”

“ A..andwae. perasaanku tidak enak.”

“ Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“ Kurasa.. kita tunggu mereka pulang saja.”

Woohyun mengangguk, “ Ck, aku masih tidak habis pikir. Lalu bagaimana nasib Myungsoo, Naeun, dan Sungyeol? Aih..”

“ Aku merinding..”Chorong semakin memucat dan ketakutan, “…sudahlah, untuk saat ini jangan dipikirkan dulu. Terutama kau, jangan begitu dipikirkan, aku takut beban pikiran akan mempercepat kematianmu. Kembalilah ke tempat tidur.”

Woohyun menurut saja daripada ribut lagi, namun ia tak ingin sendiri, dengan paksa ia menarik Chorong untuk tidur dengannya, sekalian menenangkan gadis itu karena mendadak ketakutan dengan Yookyung.

“ Aku tidak bisa tidur..” Chorong menangis, “…baru kali ini aku mengalami hal seperti ini, aku takut..”

Woohyun menariknya, menyandarkan gadis itu di dadanya dan memeluknya.

“ Aku juga, tapi apa yang bisa kita lakukan? Setidaknya kita beruntung karena sudah pergi dari villa misterius itu.”

“ Kau benar..”

“ Jadi sekarang tidurlah, aku khawatir padamu. Kekhawatiranku padamu bisa mempercepat kematianku.”

Chorong tertawa pahit, ia pun membalas pelukan Woohyun dengan erat.

“ Lakukan sesuatu agar aku bisa tidur.”

“ Mau kubacakan..buku?”

“ Buku apa?”

Woohyun mengangkat bahunya, ia menarik sebuah buku yang masih dibungkus pita dari atas mejanya.

“ Naeun bilang ini dari Yookyung, Yookyung meminta Naeun untuk membacakannya untukku. Tapi karena Naeun sedang tidak ada.. aku saja yang membacakannya untukmu.”

“ Mwo? Dari ‘Yookyung’?” Chorong menatap bukunya dengan curiga, perasaannya semakin tak enak.

“ Ya. Yookyung juga berpesan untuk tidak melihat ending bukunya dulu, kita harus membacanya sampai habis.”

“ Buku apa ini? kajja, kita baca..” Chorong buru-buru membukanya dan membaca bersama Woohyun.

 

REKAMAN PERJALANAN HIDUP DI DUNIA NYATA, DIPERANKAN OLEH SEORANG PUTRI RAJA, SEORANG PENGAWAL, SEORANG PENYIHIR BAIK, DAN SEORANG PENYIHIR JAHAT

 

“ Apa ini dongeng sebelum tidur?”

“ Entahlah, kita baca lagi.”Woohyun membuka halaman berikutnya.

 

Hari yang mendung di tengah hutan negeri Junghwa, aku menulis di depan sungai tempat anakku dihanyutkan… aku tak butuh inspirasi untuk buku ini, aku menulis buku ini agar siapapun yang belum tahu kedatangan mereka segera tahu dan tidak lagi memperlakukan mereka layaknya manusia biasa.

Oh, ya. Namaku Kim Hyoyeon, jika yang saat ini membaca adalah makhluk dunia nyata, makhluk modern, kau pasti mengerutkan kening karena sama sekali tak kenal padaku. Tetapi ketahuilah, aku sangat terkenal di negeriku. Aku adalah penyihir nomor satu disini, aku bisa melakukan apapun yang aku mau, termasuk datang ke duniamu menggunakan wajah orang lain. wajah seorang gadis cantik bernama Hong Yookyung yang terpaksa kubunuh demi misi rahasiaku ini.

Terkejut?

 

Woohyun dan Chorong memucat, apa-apaan ini?

“ Jadi.. jadi..” Chorong nyaris pingsan, namun Woohyun menguatkannya.

“ Tenang.. kita baca lagi.”

 

Sekali lagi kukatakan, aku terpaksa melakukannya. Hanya ini satu-satunya cara untuk mencoba mengembalikan keadaan, untuk mencoba menyusul dan mengawasi keempat pemeran yang kutulis dalam judul buku ini karena mereka telah menggunakan portal penghubung dunia kita yang berbeda.

Yang pertama, namanya Jung Hyerim. Dia seorang putri yang sangat cantik. Rakyat negeri ini sangat mencintanya. Baiklah.. mungkin kau tidak mengenalnya. Tapi apa kalian kenal dengan seorang gadis berponi bernama Jung Eunji? Mereka sama saja, putri Hyerim tentu tidak menggunakan nama aslinya. jadi jika kau pernah berbuat kesalahan padanya, segeralah meminta maaf atau raja akan menguburmu hidup-hidup.

 

“ Eunji!??? Dia seorang putri raja!? Dan..namanya Jung Hyerim?”

Woohyun dan Chorong masih belum bisa percaya, namun saat mereka melihat gambaran Eunji dengan gaun dan mahkota yang dilukis dengan tinta hitam ada dalam buku tersebut, mereka tak dapat memungkirinya.

“ Kita buka halaman berikutnya.”

 

Yang kedua, seorang pengawal kerajaan. Namanya Lee Howon. Mungkin terdengar biasa dan kau akan menduga nasibnya di dunia kalian saat ini biasa-biasa saja. Tapi kau salah, pengawal kerajaan ini adalah sosok yang luar biasa.

Ia lelaki beruntung dengan segala keluguannya. Selain berhasil mencuri hati putri Hyerim, keberaniannya menyusul Hyerim ke duniamu merubah nasibnya seratus delapan puluh derajat. Di duniamu, ia menjadi lelaki yang dicintai oleh hampir semua wanita.

Masih belum bisa menebak?

Sekarang nyalakan benda modernmu seperti televisi dan internet, maka wajah yang pertama kali kalian lihat adalah wajah pengawal tampan ini. sampai detik ini, ia masih menjadi orang yang paling tenar di negaramu dengan bakat dan skandalnya.

 

“ Siapa artis yang sedang tenar sekarang?”tanya Woohyun.

“ Apa mungkin..”Chorong sudah memikirkan satu orang.

“ Siapa? Aku juga sudah memikirkan satu orang, tapi.. kau dulu. Menurutmu siapa?”

“ Menurutmu dulu.”

“ Kita sebut bersama-sama saja.”

“ Baiklah.. Ho..”

“ Hoya!?”

“ YA! Hoya! Benar..”

Woohyun menunjuk lukisan Howon dengan pakaian pengawal dalam buku itu, “ Memang benar, ini si artis itu. Jadi dia berhubungan dengan Eunji?”

“ Mengejutkan..”Chorong masih syok, ia pun membaca lagi tulisan yang masih tersisa di bawah lukisan Howon.

 

Kau sudah tahu dia siapa? Ya, dia seorang artis. Tapi jangan berpikir kau tidak pernah bertemu dengannya. Setidaknya satu atau dua kali, kau pasti pernah bertemu dengannya dan memandangnya sebagai gadis manis yang mengaku bernama Lee Jiwon.

Apa aku benar?

 

“ JIWON!?? LEE JIWON!?”sepasang kekasih itu semakin terkejut saja. Mengapa kenyataan ini harus mereka ketahui bertubi-tubi seperti ini? penyihir Hyoyeon memang pintar mengungkapkan kenyataan melalui buku seperti ini, terlebih bukunya jatuh ke tangan yang tepat, ke tangan Woohyun dan Chorong yang memang tak tahu apapun sebelumnya.

“ Ini gila..”Woohyun memijat kepalanya yang mendadak pening.

“ Buka lagi halaman berikutnya! Apa lagi yang dibahas?”Chorong nampak tak sabar.

“ Pemeran berikutnya, seorang penyihir baik dan penyihir jahat. Baca sekarang?”

“ Eh.. sebentar, aku masih belum kuat… apalagi penyihir, apa itu artinya selama ini di lingkungan kita ada orang seperti itu?”

“ Tentu saja.”jawab Woohyun seraya iseng mengintip halaman berikutnya, dan betapa terkejutnya lelaki itu, untung saja ia tak langsung kumat dan mati mendadak.

 “…a..a..apa ini?”

“ Apa lagi yang kau lihat?”

Woohyun menunjuknya dengan gemetaran, lukisan Myungsoo dan Naeun dengan pakaian pengantin berwarna hitam.

“ L dan Son Yeoshin??”

***

 

“ Apa rencanamu sekarang? Kapan mau kembali ke asrama?”

Eunji menggeleng saja karena tak tahu, dan Jiwon mengikuti saja kemana kaki gadis itu melangkah. Hari sudah mulai gelap dan Eunji membatalkan niatnya untuk kembali ke sekolah cepat-cepat. Ia takut wartawan atau mungkin polisi berkumpul disana.

“…kalau memang Bomi yang melakukannya kenapa kau tidak langsung bilang saja pada mereka? Kenapa.. kau tidak balas sms tuduhan artis itu kalau memang benar yang kau katakan dia sempat menuduhmu lewat sms?”

“ Ini bukan karena aku kasihan dengan Bomi. Tapi aku juga sadar, aku sudah diangkat menjadi anggota keluarganya, dengan ayah dan ibunya yang baik, aku tak ingin mereka sedih kalau aku mengadukan ini.”jelas Eunji pelan, “…soal sms itu.. aku sengaja tidak balas.”

“ Kenapa sengaja tidak kau balas?”

“ Aku ingin menemuinya langsung! Aku ingin mencekik lehernya sampai patah!” jawab gadis itu tiba-tiba dengan emosi membara, membuat Jiwon tersentak.

“ A..eh.. apa itu tidak terlalu…”

“ Apa!? Aku sudah terlanjur marah! Aku tidak main-main.. sekarang kita sedang berjalan menuju rumah sakitnya, jadi ikuti aku! Lihat bagaimana aku mencekik artis sialan itu.”

“ Ya! Yaaa!!” Jiwon buru-buru menahan langkah Eunji, “…kau..kau terlalu gegabah. Sudahlah.. lupakan dia dulu, lagipula mungkin saja dia baru saja selesai operasi dan sedang beristirahat.”

“ Tapi..”

“ Ssshh.. ayo kita jalan-jalan saja kalau kau memang tidak mau pulang ke asrama. Kajja!”

Dengan terpaksa Eunji menurut saja ketika Jiwon menyeretnya.

***

 

“ Hahahaha..hahahahaha..hahahaha!!!”

“ Yeoshin.. Son Yeoshin! Hentikan.. simpan tongkatmu, simpan!”

Naeun menggeleng dan terus tertawa sembari mengayunkan tongkatnya kesana kemari, membuat kekacauan di dalam kamarnya sendiri, semua barang sudah pecah dibuatnya. Taeyeon nyaris putus asa sekaligus menyesal karena Naeun seperti ini akibat perkataannya beberapa menit yang lalu.

“ Kau bilang aku hamil!? Hahahaha… hahahaha!!!! Kau bercanda.. tidak mungkin.. tidak… hahahaha! Hahahaha!!! Ha.. ha.. hiks.. hiks..tidak.. tidak mungkin!! Aku dan L pernah.. hiks.. hiks..” setelah tertawa keras Naeun melempar tongkatnya hingga patah, setelah itu menangis sejadi-jadinya sambil memukuli perutnya.

“ Yeoshin.. hentikan itu!” Taeyeon langsung memeluknya, mencoba menenangkannya, membiarkan Naeun menjerit-jerit hingga membuat telinganya sakit.

“ Maafkan aku, Taeyeon..tapi aku membenci anakmu, aku membencinya.. dosa apa yang sudah kau perbuat sampai-sampai melahirkan anak seperti dia? Hah!?”

Taeyeon tak bisa marah, ia yakin semua orang yang pernah dirugikan L pun pasti mengutuknya seperti ini. ia merasa bersalah karena dulu ialah yang membentuk kepribadian anak semata wayangnya itu untuk menjadi picik hanya karena iri hatinya pada Hyoyeon. Tetapi ia tak tahu L akan sejauh ini, ia tak tahu L akan tumbuh lebih jahat dari yang ia kira.

“…aku ingin mati saja, kau bisa cari gadis lain untuk anakmu.. aku tidak bisa.. ini terlalu sakit..” lirih Naeun putus asa sembari tangannya meraih sebilah pisau buah yang ada di meja tepat disampingnya. Taeyeon mendadak panik.

“ Andwae! Kau tidak boleh melakukannya! Andwae Son Yeoshin, andwae! Ah!” Taeyeon terlalu panik hingga pisau di tangan Naeun melukai pergelangan tangannya.

“ Jangan larang aku!”Naeun mencoba mempertahankan pisau yang ia pegang sambil terus menangis, ia bahkan tak sadar sudah melukai ibu mertuanya itu.

“…kau tidak tahu betapa sakitnya.. selama ini aku bahagia, tapi ternyata semuanya palsu.. anakmu begitu pandai bersandiwara, sampai-sampai aku tak sanggup menghadapinya.. seandainya saja selamanya ia berbohong padaku,  kurasa itu lebih baik.. setidaknya aku tidak akan pernah merasakan sakit hati karena terlanjur mencintainya..”

“ Tolong.. tolong beri L kesempatan, aku akan merubahnya.. tolong jangan menyerah dulu. Dia hanya akan semakin gila jika kau meninggalkannya. Seandainya kau ingin mati, dia pasti akan tetap mencarimu di kehidupan berikutnya.. kau mengerti?”Taeyeon mencoba membujuk sekaligus mengancam, ia tahu L pasti akan semakin tak karuan jika Naeun meninggalkannya, ia tak mau L ikut-ikutan mengakhiri hidupnya hanya karena Naeun.

“ Kesempatan apa? Merubah apa? Dia bukan orang yang bisa dikendalikan..” tangis Naeun pedih, “…pahami aku, Taeyeon.. aku tidak bisa hidup begini.. aku juga ingin bahagia, aku ingin pendamping hidup yang mencintaiku seperti seharusnya, yang lebih senang melihatku tersenyum, bukan yang lebih senang melihatku menangis dan menderita..”

“ Aku tahu, semua orang menginginkannya.. L hanya terlalu egois, aku akan mencari cara untuk membuatnya berubah. Aku janji..”Taeyeon ikut menangis dan membuang pisau di tangan Naeun dengan sihirnya.

“…jangan akhiri hidupmu dengan anak yang kau kandung sekarang. Aku menyayangimu… maafkan L, ini semua salahku..”

Dibalik kata-katanya, Taeyeon mengucap mantra dalam hatinya, mantra untuk membuat Naeun tenang.

Berhasil, gadis itu diam dan melamun dengan wajah pucat dalam pelukannya meski airmatanya belum berhenti menetes.

“ Kau mau apa sekarang, hm?”tanya Taeyeon lembut seraya mengelus rambut indah menantunya itu.

 

“ Aku ingin bertemu Hyerim.. kemana sahabatku itu? Apa ia sudah tahu apa yang terjadi padaku?”

***

 

“ Cih, spanduk apa itu!? Tidak bisa diganti dengan yang lebih bagus!?”

Lagi-lagi Eunji mengeluarkan hujatan saat ia dan Jiwon berjalan menyusuri trotoar jalan dan melihat spanduk raksasa babak final Seoul Dance Competition.

“ Apa yang lebih bagus? Itu pentas yang paling ditunggu-tunggu..”Jiwon membela.

“ Oh ya? Tapi aku tidak menunggunya. Aku juga tidak berniat menontonnya.” Eunji mengeluarkan selembar tiket dari saku seragamnya, membuat Jiwon berfirasat buruk karena tiket itu adalah tiket yang ia berikan pada Eunji saat di lapangan sepakbola itu.

“…ini, kau lihat ini? kertas ini mahal kan?”Eunji menunjukkan tiketnya. Jiwon mengangguk cepat karena memang tiketnya mahal sebab ia yang membelinya.

“ Lalu…?”

“ Artis sialan itu memberi ini padaku. Setelah apa yang terjadi, apa menurutmu aku masih mau menggunakan tiket ini?”

“ Jadi..maksudmuuuu..”

“ Ya, aku ingin membuangnya.” Eunji pun meremas tiket tersebut dan melemparnya ke tengah jalan, membiarkan kertas tersebut digilas dan terbang kesana-kemari.

“ Y..YA! itu.. itu VVIP.. harganya delapan ratus ribu won……kursi nomor satu…” Jiwon melemas karena uangnya terbuang begitu saja. Semarah inikah Eunji pada Hoya? Tapi sebenarnya yang menjadi persoalan bukanlah tiketnya, tetapi kehadiran Eunji yang jelas batal.

“ Bagaimana kau bisa tahu detil tiketnya?”

“ Ah..ng.. anu.. menebak saja, kalau artisnya yang langsung memberikan itu padamu, tentu ia memilihkan tempat duduk yang paling bagus, kan?”

“ Ah sudahlah, tidak usah dibahas, lagipula dia juga yang rugi.”Eunji pun melanjutkan langkahnya, hingga tak lama kemudian ia berlari kecil menghampiri seorang wanita tua di pinggir jalan, Jiwon ikut menyusulnya.

“…wah! Jiwon, ada peramal!” bisik Eunji.

“ Oh? Ne..kau mau diramal?”bisik Jiwon.

Eunji mengangguk dan duduk di depan wanita tua yang sibuk dengan kartu-kartu tertutup yang ia susun di atas tikarnya, Jiwon pun duduk di sampingnya.

“ Ehm.. ahjumma, kami ingin diramal..”ucap Eunji pelan.

“ Ne. silahkan ambil kartu pilihan kalian masing-masing, dan satu kartu pilihan kalian berdua.”jawab sang peramal dengan mata tertutup.

Eunji dan Jiwon menurut. Dengan cepat mereka memilih kartu yang ada di hadapan mereka lalu menyerahkannya pada si peramal.

“ Baiklah, pertama..kau dulu.”peramal itu mengamati kartu yang dipilih Eunji.

“…nona, saat ini kau sedang mengalami masa-masa sulit. Apa benar?”

“ Ne! benar sekali!”sahut Eunji, “…lalu..apa lagi?”

“ Hmm..aku melihat sudut pandang kehidupan asmaramu, aku membaca…… kau masih belum bisa melupakan cinta pertamamu, apa benar?”

Jiwon sontak menoleh, menatap Eunji yang mengangguk tanpa ragu. Rasa bahagia kembali timbul dalam benaknya, ternyata Hyerim masih belum melupakan Howon.

“ Jangankan cintanya, janji kami pun masih aku ingat dan masih kujaga setelah satu kali melanggarnya..”ucap Eunji pelan, “…hanya saja.. saat ini cinta pertamaku berada sangat jauh dariku, hingga kemungkinan kami untuk kembali bersama sangatlah kecil.”

“ Mwo? Tapi dari kartu yang kau pilih, aku membaca bahwa cinta pertamamu selalu menempel padamu, ia tidak jauh darimu..”

“ Hah? Apa tidak salah?”

“ Aku peramal jitu, aku memberi jaminan kalau ramalanku salah.”si peramal tiba-tiba mengeluarkan sejumlah uang dan menyerahkannya pada Eunji.

“ Eh.. k..kalau begitu bisa beritahu aku dimana cinta pertamaku itu sekarang?”

Sang peramal nampak berkonsentrasi, hingga tak lama kemudian matanya menatap Jiwon lekat-lekat.

“ Gila.. apa radarku salah?”gumam si peramal, ia kembali menatap Eunji. “…hei nona, kau bukan seorang lesbian kan?”

“ Mwoya?? Ani! Cinta pertamaku seorang lelaki!”

“ Tapi..kenapa..radarku berkata kalau..dia..orangnya?” meski masih sangat ragu si peramal menunjuk Jiwon, Eunji keheranan.

“ Ya! Peramal apa kau ini? kau salah besar, aku ini perempuan, mana mungkin aku cinta pertamanya!” Jiwon langsung mengelak sebelum penyamarannya terbongkar, Eunji mengangguk-ngangguk setuju.

“ Benar. Mengapa ramalanmu melenceng sekali? Penipu!” sahut Eunji, membuat si peramal panik dan tentu saja tak terima.

“ Kita pergi saja.”ajak Jiwon, Eunji mengangguk.

“ Sebentar! Sebentar!!” sang peramal mencoba menahan mereka, “…ada yang tidak beres di antara kalian, terutama kau.. kau memilih kartu ini! ini kartu yang paling sering dipilih laki-laki!”si peramal menunjukkan kartu yang dipilih Jiwon.

“ Ya! Kartunya kan tertutup, jadi aku sembarangan saja memilih yang mana!” sahut Jiwon.

“ Ani.. kartu ini punya aura yang hanya bisa ditangkap oleh laki-laki.. meskipun tertutup tak pernah ada perempuan yang memilih kartu ini. aku bersungguh-sungguh!”

“ Kurasa dia sudah gila.”Jiwon mencoba memojokkan agar mereka cepat-cepat meninggalkan peramal yang bisa mengancam identitasnya itu.

“ Bacakan isi kartunya!”pinta Eunji tiba-tiba, “…meski aku tidak percaya dan akan tetap membawa uang jaminanmu karena ramalan pertamamu saja sudah salah.”

Dengan emosi yang meletup-letup si peramal membaca kartunya dengan lantang.

“ Kartu yang menunjukkan kejantanan dan pengorbanan serta keberanian. Kau, yang mengaku perempuan, aku tahu kau tak akan mau mengaku, tapi aku yakin kau bukan perempuan.”

Jiwon tersentak, namun tetap pada usaha berkilahnya.

“ Ck! Apa-apaan kau ini!? mengapa tiba-tiba meragukan genderku!? Ini penghinaan!”

“ Ne. kau kira isi kartumu itu sepenuhnya benar? Jangan mengarang cerita, temanku ini perempuan! Arasseo?”timpal Eunji, ia pun menarik tangan Jiwon. “…kajja, kita pergi!”

“ Kartu! Kartu yang kalian pilih berdua.. menunjukkan bahwa ada rahasia besar di antara kalian, ada ketidaktahuan yang cukup fatal jika ketahuan.”si peramal masih saja membaca kartunya, dan kali ini Eunji cukup terkejut karena teringat oleh perkataan Taeyeon sebelum ia pergi mencari Jiwon.

“ Ooh.. jadi kau ingin memberiku berkas Lee Jiwon? Hahaha, aku tahu rahasia besar tentangnya. Apa kau ingin tahu?”

“ Rahasia besarnya, rahasia yang hanya diketahui oleh aku dan L. apa kau tidak penasaran?”

Bahkan L saja tahu rahasia itu. Apa sebegitu besarnya? Eunji mulai penasaran.

“ Geurae, sekarang apa kau bisa beritahu aku apa rahasia dan ketidaktahuan yang kau maksud!?”tanya Eunji, membuat Jiwon semakin gugup dan panik.

“ Bukankah aku sudah mengatakan salah satunya? Ramalan yang kau anggap salah, kau harus mengembalikan uang jaminanku sepuluh kali lipat jika ramalanku terbukti benar!”

Setelah itu si peramal membereskan kartunya dan melipat tikarnya kemudian pergi ditelan kegelapan ruas jalan lain, rupanya ia benar-benar marah karena kedua anak muda telah meragukan ramalannya.

“ Peramal gila.”sungut Jiwon, tapi setidaknya ia bisa bernafas lega karena wanita tua itu memilih untuk menyerah.

“ Tapi.. mengapa aku merasa dia tidak sepenuhnya salah?”ucap Eunji pelan, membuat detak jantung Jiwon yang tadinya sudah normal kini kembali tak karuan karena takut Eunji berpikir kritis.

“ A..apa..maksudmu?”

“ Saat ia mengatakan ada rahasia di antara kita.. aku langsung berpikir pasti kau yang menyimpan rahasia itu, karena aku merasa tidak pernah menyembunyikan apapun darimu.”

“ Hah, kau percaya pada peramal itu?”

“ Aku percaya karena sudah ada yang mengatakan hal ini sebelumnya.”

“ N..nugu?”

“ Kepala sekolah.”

“ Hah? Bagaimana bisa..” Jiwon terkejut, “…sialan, ada dendam apa Taeyeon padaku? Mengapa ia menyalakan api di antara aku dan Hyerim?”

“ Baiklah, aku jujur saja. Sebenarnya aku pergi dari sekolah hari ini untuk mencarimu, karena kau terancam dikeluarkan dari sekolah. Sebelum aku pergi mencarimu, aku bertemu kepala sekolah untuk menyerahkan berkas-berkasmu dari guru Shim.  Dan.. kepala sekolah bilang kau punya rahasia besar yang ada hubungannya denganku.”

“ Ck! L.. mengapa ibumu tiba-tiba mencampuri urusanku?” Jiwon semakin kesal dalam hatinya, tentu karena ia panik sebab ia harus pintar-pintar mengelak.

“ Apa..itu benar?”tanya Eunji pelan karena tak mau terkesan menginterogasi.

“ H..hah? hahaha.. kepala sekolah bercanda, rahasia apa? Kita hanya teman biasa, untuk apa aku menyimpan rahasia tentangmu?”jawab Jiwon namun dengan nada gemetar yang membuat Eunji semakin curiga.

“ Kepala sekolah bilang, kalau kau kelihatan gugup artinya kau berbohong.”

“ M..mwo? ah..ahaha..apa..aku kelihatan gugup?”

“ Wajahmu bahkan pucat sekarang.”

“ Jinjja? Ng..ini..ini karena aku baru saja selesai operasi. Eh..”

“ Operasi!??”

“ A..ah sudahlah, kau mau ke rumah sakit kan? sekarang? Aku ingin melihatmu mencekik Hoya, kajja!”

Jiwon menarik tangan Eunji dan terpaksa mengajaknya ke rumah sakit karena hanya ini jalan satu-satunya menghindari pertanyaan gadis itu.

***

 

“ Masih belum ketemu?? Kalian yakin sudah mencarinya ke seluruh lantai?”

“ Ne, kami bahkan sudah berkeliling dua kali.”

“ Dua kali belum cukup, lakukan lagi!”

 

“ Cih, mengapa dia panik sekali? Memangnya dia pikir dia siapa? Pacar sungguhan Hoya saja bukan..”Eunji mencibir dari tempat persembunyiannya ketika melihat Minah yang begitu sibuk memarahi para kru yang bertugas mencari Hoya yang mendadak hilang dari ruang perawatan. Eunji tentu tak jadi ‘mencekik’ Hoya seperti yang ia inginkan setelah tahu artis itu menambah skandal lagi dengan menghilang dari rumah sakit.

Jiwon hanya bersandar di tembok dan berdoa semoga tak seorangpun bisa menemukannya apalagi membongkar identitasnya. Peramal yang ditemuinya di jalan saja sudah hampir membuat jantungnya sobek. Apalagi saat ini kondisinya mulai buruk karena bekas operasinya masih terasa.

“…sebenarnya artis sialan itu kemana? Kenapa dia senang sekali membuat masalah?!”Eunji merasa heran, “…ck, padahal aku sudah capek-capek jalan kesini untuk mencekiknya! Mianhae Jiwon, kau juga pasti capek mengikuti aku. Iya k.. eh, J..Jiwon?”

Eunji baru sadar dan melihat kondisi Jiwon sekarang, temannya itu nampak pucat pasi dan memegangi perut serta kepalanya menahan sakit.

“ Jiwon?? Kau..kenapa!?”

“ Gwenchana..”jawabnya lemah, tentu saja Eunji tak percaya.

“ Apa aku harus membawamu ke dokter? Mumpung kita ada di rumah sakit!”

“ Andwae! Andwae!”Jiwon menolak habis-habisan karena resikonya tentu sangat tinggi.

“ Lalu bagaimana? Ya sudah, kita cari minuman hangat. Kajja.. kau tidak boleh pingsan disini.” Eunji langsung meletakkan lengan Jiwon di bahunya kemudian menuntunnya menuju kantin rumah sakit terdekat.

*****

 

“ Mereka tidak pulang, menghubungi saja tidak..”

Chorong masih mondar-mandir di dalam kamar sembari sesekali menatap khawatir ke arah Woohyun yang terbaring dengan wajah pucat dan tetap mengotot tak ingin ke rumah sakit karena ingin menunggu Naeun pulang untuk mengkonfirmasi isi buku yang baru saja mereka baca. Karena terlalu syok dengan cerita tentang L dan Yeoshin dalam buku tersebut, penyakit Woohyun kembali kumat.

“…kau kira kau saja yang syok? Aku juga tidak menyangka, aku tidak tahu saat ini kita masih bisa berhubungan dengan penyihir atau apalah itu..” ucap Chorong sembari membolak-balik bukunya untuk membaca ulang dan belajar menerima kenyataan. Terutama kenyataan bahwa Myungsoo yang selama ini ada di hadapannya adalah seorang penyihir jahat yang memiliki wajah sama dengan sahabat berhati malaikatnya yang sudah tiada.

“ Yang membuatku lebih terkejut, Naeun.. si Yeoshin itu.. dia sudah menikah dengan Myungsoo? Maksudku.. L..”sahut Woohyun lemah, “..lalu Myungsoo kemana? Itu artinya dia tidak pernah terbangun kan?”

Chorong mengangguk dengan airmata berjatuhan, “ Kenyataan macam apa ini, kita tertipu oleh orang-orang yang berasal dari dunia lain.”

“ Kita harus segera menemui mereka dan membereskan ini.”

“ Tapi mereka tidak kembali juga..”

“ Aku mengkhawatirkan Sungyeol, dia satu-satunya makhluk dunia ini yang masih ada disana. sesuatu yang buruk pasti terjadi padanya..” Chorong begitu risau dan meraih ponselnya, mencoba menghubungi Sungyeol meski berkali-kali gagal.

“ Dia cenayang, kan? Tapi aku tidak tahu apakah dia bisa mengatasinya jika sudah berhadapan dengan yang namanya penyihir.”timpal Woohyun, “…aku berpikir apakah kita perlu kembali ke villa itu, tapi aku memikirkan keselamatan kita juga. Diam seperti ini lebih aman.”

“ Tapi Sungyeol..” Chorong masih tak bisa diam, “…bagaimanapun juga dia satu-satunya sahabat yang kumiliki. Satu-satunya, karena Myungsoo yang selama ini ada di antara kita bukanlah Myungsoo yang sebenarnya, dia bahkan orang yang sangat berbeda..”

“ Hah, aku begitu marah dengan kenyataan ini, bahkan Naeun yang sudah kusayangi pun menipuku.”

“ Haruskah kita melabrak mereka nanti?”

“ Itu gila. Kita hanya manusia biasa, mereka penyihir, bahkan ada seorang putri dan seorang pengawal yang bisa saja menyimpan pedang. Dan apa kau lupa penjelasan dalam buku itu? L adalah orang berbahaya yang gemar membunuh siapapun, bahkan di negerinya ada pemakaman khusus orang-orang yang dibunuhnya.”

“ Ck, aku bisa gila!”

Chorong mengacak-acak rambutnya dan melempar bukunya ke sembarang arah dengan kesal.

BUK!

“ Ahh..! begini caramu menyambutku?”

Woohyun dan Chorong terkejut ketika melihat Sungyeol berdiri di ambang pintu kamar mereka dan memungut buku yang dilempar oleh Chorong karena sempat mendarat di kepalanya.

“ S..Sungyeol?? kapan kau muncul!?” tanya mereka gugup.

Sungyeol mendekat dan menatap mereka dalam-dalam.

 

“ Sulit kujelaskan. Yang jelas aku hanya datang sebentar. Jadi dengarkan aku baik-baik..”

******

 

“ Apa kau sudah merasa baikan?”

Jiwon mengangguk saja sambil menyeruput teh hangatnya, sementara Eunji melihat sekeliling takut-takut ada wartawan yang masuk kesana dan menangkapnya lalu menjebaknya lagi dengan pertanyaan-pertanyaan tak masuk akal yang ia benci.

“ Tuan putri?”

Eunji terkejut saat melihat Taeyeon muncul dan melihatnya, membuatnya bertanya-tanya sedang apa ibu L itu di rumah sakit malam-malam begini.

“ Madame Taeyeon?”ucap Eunji pelan, namun Jiwon mendengarnya. Ia ikut melihat dan nyaris tersedak.

“ Untung kau disini! ikut aku!” tanpa basa-basi Taeyeon langsung menarik tangan Eunji hingga membuat gadis itu panik.

“ M..mau apa? Kau mau aku memberikan buku resep portal itu? Aku tidak…”

“ Bukan, aku tidak butuh itu lagi. L sudah kembali.”

“ Hah!? Lalu..? kenapa kau menarikku..?”

“ Naeun membutuhkanmu, sekarang!”

“ Mwo!? Naeun!? Ada ap…..”

“ Nanti kujelaskan setelah kau melihat keadaannya!”

“ Apa dia sedang dirawat disini? dimana dia sekarang??”

“ Ya.. di.. di rumah sakit jiwa lantai atas..”

“ APA!? APA YANG TERJADI!?” Eunji semakin panik dan langsung keluar dari kantin untuk menuju kesana, “…Jiwon, kau bisa tunggu aku jika kau mau!”

Jiwon mengangguk saja dengan wajah bingung karena ikut terkejut.

“ Apa yang terjadi?”tanya Jiwon pada Taeyeon sebelum ibu L itu ikut pergi.

“ Kau bisa tanya L.”

“ Dimana dia sekarang?”

“ Entah, dia menghilang.”

********

 

“ Penyihir gila itu, apa yang terjadi? Mengapa Naeun sampai dirawat di rumah sakit jiwa? Mengapa aku begitu ketinggalan berita..”

Howon tetap mempertahankan wignya dan keluar dari kantin rumah sakit untuk mencari L karena ia yakin penyihir itu tak mungkin pergi jauh. Meski tubuhnya masih lemas, ia tetap mencari L karena ia merasa kejadian semacam ini perlu ia ketahui.

 

“ L? kau disini?”

Beruntung Howon berpikir untuk mencari ke halaman belakang rumah sakit. Ia menemukan sosok tinggi dan tampan L tengah duduk di depan kolam ikan yang ada di halaman, di tengah kegelapan.

“ Kau diburu semua orang. Kembalilah ke ruang perawatanmu.”ucap L sebelum Howon berbicara duluan.

“ Kau sudah tahu tentang..aku?”

“ Media massa dimana-mana, bagaimana mungkin aku tidak tahu?”

“ Geurae. Kau sudah tahu apa yang terjadi padaku, kan? Sekarang gantian. Ceritakan juga padaku apa yang terjadi padamu. Sepertinya sesuatu yang besar telah terjadi.”

L tertawa pahit, ia pun mengetukkan tongkat sihirnya di pinggir kolam hingga terlihat gambar sebuah ruang perawatan dengan dua orang gadis yang sedang menangis disana. seorang gadis berseragam yang tak lain adalah Eunji, dan seorang gadis dengan pakaian rumah sakit serta borgol di tangannya.

“ Kau gila, L.”Howon paham hanya dengan melihat apa yang sedang terjadi di ruang perawatan itu.

“ Hahaha, sudah bisa kau tebak rupanya.”

“ Kapan kau melakukannya? Dan dimana?”

L menghela nafas, setelah itu menceritakan semuanya pada Howon mulai dari jebakan Yookyung hingga keputusannya mengungkapkan identitas di ruang penyimpanan mayat Myungsoo agar Naeun merasakan sakit yang tidak tanggung-tanggung. Lelaki itu menjelaskannya dengan santai hingga membuat Howon nyaris menghajar wajah tampannya karena sepertinya penyihir ini tak merasa bersalah sama sekali.

 

“ Pantas saja Taeyeon mengataimu keterlaluan, kau…..”

“ Kalau kau tidak mau berada di pihakku lebih baik kau pergi sekarang sebelum aku yang menyerahkanmu pada wartawan.”potong L sembari memalingkan wajahnya, namun Howon memegang bahunya keras-keras tanpa rasa takut.

“ Hei, dengar.. aku tahu kau bajingan, tapi sadarlah sedikit kalau Yeoshin juga punya batasan sampai mana ia bisa bertahan dengan caramu mencintainya.”

“ Diam.”

“ Kalau kau percaya kau bisa bahagia dengan melukai Yeoshin sepanjang hidupmu, kau salah besar. Kau hanya akan merasakan sakit jika dia pergi meninggalkanmu.”

“ Diam.”

“ Aku tidak jadi memberimu ucapan selamat karena sudah mengalahkan Hyoyeon. Kau terlalu jahat, kau hanya akan semakin membuat kekacauan jika ada yang memberimu dukungan.”

“ Terserah.”

“ Bukan hanya Yeoshin yang tidak bisa hidup seperti ini. sebenarnya kau juga tidak bisa hidup seperti ini, karena segala sesuatu yang kau lakukan selalu dipaksakan, terutama tentang Yeoshin, kau yang memaksa menikah dengannya, kau yang memaksa memiliki anak darinya, kau yang…”

“ Terserah.”

“ YA! Kau tidak tahu siapa yang sedang menasihatimu!? Artis papan atas!” Howon jengkel dan akhirnya berdiri karena menyerah.

L masih membalikkan badannya, tak peduli. Namun ia merasakan tangan keras Howon memukul bahunya lagi.

“ Sahabatku yang brengsek, aku tahu kau bukan orang yang bisa dikendalikan, tapi jika kau memang tak suka melihat orang lain bahagia, setidaknya buatlah pengecualian terhadap orang yang kau cintai.”

“ Terse…rah.“

Setelah itu sang artis benar-benar pergi karena melihat wajah beberapa orang kru yang tak asing baginya berkeliaran tak jauh darinya.

L masih tak mau membalikkan badannya meski Howon sudah pergi melepas wignya dan menyerahkan diri pada wartawan hingga membuat keributan di rumah sakit. Penyihir itu menggigit bibir bawahnya.

Menahan tangis.

 

“ Apa aku harus mengatakan kau benar? Ck, aku benci membenarkan perkataan orang lain.”

**************

 

Aku akan kesini lagi jam 10, aku harus ke sekolah untuk bertanggung jawab karena seharian kemarin aku bolos. Aku pergi dengan madame Taeyeon, jaga dirimu baik-baik. Jangan menangis sendirian dan jangan lupa habiskan sarapan pagimu. Berdoalah semoga L tidak datang ke tempatmu.

 

Sahabatmu, Hyerim

 

“ Yaa.. kenapa tidak tunggu aku bangun dulu.”dengan lemas Naeun meletakkan surat yang ditinggalkan Eunji kemudian berdiri dan mencari-cari tongkat sihirnya untuk membuka borgol yang masih terpasang di kedua tangannya.

“…mana tongkatku!? Ah iya, aku mematahkannya kemarin..”

Dengan sangat menyesal, Naeun membuka pintu ruang perawatannya untuk mencari udara segar, hingga pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah kerumunan pasien rumah sakit jiwa yang berkumpul di koridor sedang dihibur oleh seseorang di tengah-tengah mereka. Berpikir bahwa itu adalah dokter yang sedang melakukan terapi pada pasiennya, Naeun pun memutuskan untuk ikut bergabung.

Namun apa yang ia lihat?

Seorang lelaki tampan sedang bermain-main dengan tongkat sihirnya dan membuat penontonnya –yang semuanya orang gila- terhibur dan bertanya-tanya. Bagaimana bisa ia menghilang kan benda ini? bagaimana bisa ia menghilangkan benda itu? Bagaimana bisa ia menggerakkan benda tanpa menyentuhnya?

Lelaki itu menyadari kehadirannya dan menatapnya beberapa lama, namun matanya terlihat tak bermaksud untuk menakutinya. Senyum tipis justru terlihat di wajahnya, mungkin tahu istrinya merasa heran dengan apa yang dilakukannya pagi ini.

Naeun masih diam, hingga lelaki itu menariknya ke tengah-tengah kemudian mengelus lembut rambut dan wajahnya, membuat pasien lain yang mengelilingi mereka merasa iri.

 

“ Selamat pagi, sayang…”

 

To be Continued

 

Yeah, part yang terbilang agak pendek dari part sebelumnya akhirnya kelar juga.. tetapi semoga kalian puas dengan pre-final ini. bersiaplah karena part final kemungkinan akan sangat panjang! ^^

Tetapi masih sama seperti kemarin-kemarin, author tidak menjanjikan update yang cepat karena author semakin dekat dengan Ujian Nasional. Jadi harap maklum ya. Author sangat mengharapkan dukungan kalian baik dalam menghadapi UN maupun dalam pengerjaan ff ini.

Okay, LIKE & KOMENTAR sangat sangat dibutuhkan demi kelancaran pengerjaan part final. Don’t be silent reader, hargai author yang mengerjakan ff ini 🙂

Sampai jumpa di final part !!! Bersiaplah untuk ‘strong ending’ yang sudah author persiapkan!

 

Next >> Part 15 [FINAL] : Open or Close the Portal?

207 responses to “THE PORTAL [ Part 14 : The Real Story ]

  1. bener2 dehh… L keterlaulan banget sama naeun…
    dia gila atau apa /ehhh
    sadis banget…
    jadi kasihan sama naeun T.T

  2. Pingback: THE PORTAL 2 [Part 9 : The Real Ending] [FINAL] – FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s