Story Of My Love [Chapter 6A : Catching Feelings]

 

Previous :

Prolog – Chapter 1 – Chapter 2 – Chapter 3 – Chapter 4 – Chapter 5

story-of-my-love

Story Of My Love

— Chapter 6  [Part A]—

| Author: happyeol |

Cast: Kim Soyun, Xi Luhan, Byun Baekhyun, Oh Sehun, Kang Hyura, Lee Minjung, and EXO Members

Genre:  Romance, School Life, Family

Length: Chapter

Rating : PG-15

Disclaimer: Jalan cerita murni dari hasil imajinasi kami. Apabila ada kesamaan nama tokoh ataupun alur, itu ketidaksengajaan semata. Hargailah usaha author dengan memberikan komentar. Terimakasih 😀

© HappYeol’s

***

PLAK!

Apa aku begitu rendah di mata kalian? Sehingga kalian bisa seenaknya menjadikanku seperti boneka kalian dan mempermainkanku seperti ini?!

Apa kalian pikir karena aku hanya seorang pelayan disini, lantas aku tidak memiliki harga diri?!

Soyun, bukan begitu. Aku…

Kau sama saja sepertinya, Byun Baekhyun. Kau sama seperti mereka.

Dan aku sangat membencimu.

~ooo~

 

 

Soyun menatap sosok Baekhyun yang tengah berbaring dan memejamkan matanya rapat. Tampak begitu damai, dan tenang. Efek dari obat penghilang rasa sakit yang diberikan Dokter Shin, mungkin.

Mata Soyun tidak lepas menatap wajah pemuda Byun itu, seraya bertanya-tanya dalam hati. Tentang apa yang sebenarnya terjadi, penyakit apa yang diderita Baekhyun, dan yah…sejujurnya masih banyak lagi.

Tapi sayang, tidak banyak yang berhasil Soyun dengar dari percakapan antara Dokter Shin dengan Nyonya Byun dan Luhan—hanya seputar sakit kepala yang entah mengapa kembali hadir, setelah sekian lama absen.

Soyun melepaskan tatapan matanya dari wajah Baekhyun, lalu beralih menatap jemari pemuda Byun itu. Tangan Soyun berusaha meraihnya, kemudian bergerak meraba perban tipis yang membalut tangan Baekhyun.

Tadi, ialah yang memasangkannya pada Baekhyun. Itu inisiatifnya sendiri, karena tampaknya Nyonya Byun dan Luhan tidak terlalu memperhatikan robekan kecil di kulit tangan Baekhyun yang sepertinya diakibatkan oleh pecahan beling. Soyun sendiri baru menyadarinya ketika tanpa sadar matanya melirik ke arah tangan Baekhyun yang ternyata tertusuk pecahan beling, dan robek.

Nyonya Byun dan Luhan sendiri terlalu sibuk dan panik karena sakit di kepala Baekhyun yang ‘katanya’ baru kambuh lagi setelah enam tahun itu.

“Memang ada apa enam tahun yang lalu? Atau tahun-tahun sebelumnya?” Soyun mengelus lembut bagian tangan Baekhyun yang tidak tertutup perban. “Apa terjadi sesuatu yang buruk, Byun Baekhyun?”

Yah, Soyun tahu ia tampak bodoh sekarang. Berbicara dengan orang yang sedang tidak sadarkan diri, bahkan bertanya. Tapi Soyun tidak peduli dengan itu. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaan yang Soyun rasa ia harus tahu jawabannya.

Tapi mengingat ia sedang bertanya pada seseorang yang sedang tidak sadarkan diri begini membuat Soyun menertawakan dirinya sendiri, dan juga kebodohannya.

“Maafkan aku, aku bodoh bertanya padamu yang tentu saja tidak bisa menjawabku.” Soyun melanjutkan tawanya yang kini terdengar miris, dan khawatir.

“Apapun yang terjadi, aku berharap kau sanggup menghadapinya,” Soyun berhenti tertawa, kemudian tersenyum tipis. “Dan aku harap kau baik-baik saja, Byun Baekhyun.”

Sekali lagi, Soyun menatap wajah Baekhyun, kali ini tatapannya dalam dan penuh arti. “Cepatlah sembuh, dan kembalilah ke sekolah.”

Kemudian hening. Keheningan yang tercipta akibat tidak ada satu pun dari keduanya yang berbicara. Baekhyun jelas tidak mungkin berbicara, dan Soyun pun mulai kehabisan kata-kata. Jika detik demi detik yang bergulir dihabiskan Baekhyun untuk hidup di alam bawah sadarnya, maka berbeda dengan Soyun yang menghabiskan detik-detik hening itu untuk menyelami wajah pucat Baekhyun yang kini tampak lemah.

Sejujurnya, banyak yang ingin Soyun sampaikan, juga tanyakan pada Baekhyun. Hanya saja rasanya percuma, karena pemuda itu jelas tidak mendengarnya, juga menjawabnya.

Soyun menghela napasnya berat. Kemudian gadis itu melirik jam digital yang ada di atas meja belajar Baekhyun. Hampir tengah malam, dan Soyun masih disini. Sekali lagi, Soyun menghela napasnya berat, yang diikuti dengan bangkitnya gadis Kim itu dari posisi duduknya di pinggir ranjang Baekhyun.

Gadis itu berdiri dengan mata yang masih menatap lekat pada Baekhyun. Tidak ada satu pun kalimat yang keluar dari bibir Soyun. Tidak, tidak ada, selain sebuah senyuman tipis yang sengaja gadis Kim itu kembangkan di wajahnya.

“Tak terasa malam semakin tua, ya.” Soyun mulai agkat bicara, dan ia masih mempertahankan senyumannya. “Yah, sepertinya aku harus pamit. Tidak baik berada di rumah laki-laki hingga larut.”

Soyun melambaikan tangannya kecil. “Selamat malam, Baekhyun.”

***

Baekhyun membuka matanya perlahan, sedikit demi sedikit. Tapi begitu kedua matanya terbuka sempurna, kegelapan langsung datang menyergapnya. Pemuda Byun itu mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan indera pengelihatannya itu dengan suasana kamarnya yang gelap.

Baekhyun melirik ke arah meja belajarnya, ke arah jam digitalnya.

Jam lima pagi.

Ternyata memang belum saatnya matahari menampakkan diri. Pantas saja kalau keadaan sekitarnya masih gelap. Cukup gelap, Baekhyun rasa. Mengingat satu-satunya cahaya yang menembus masuk ke kamarnya hanyalah bias dari cahaya lampu dari luar jendelanya. Itu juga tidak terang sama sekali.

Baekhyun hendak memejamkan matanya kembali, namun kedua kelopak matanya menolak, enggan menutup kembali dan bertemu dengan kegelapan yang mungkin jauh lebih pekat.

Yang pada akhirnya memaksa Baekhyun untuk terjaga.

Selama beberapa menit Baekhyun habiskan untuk menatap kegelapan kamarnya dengan tatapan menerawang, entah apa yang ia pikirkan. Sampai akhirnya, Baekhyun jengah dengan pemandangan yang didominasi oleh warna hitam itu.

Pemuda Byun itu menggerakkan tangan kanannya. Namun sayang, rasa perih tiba-tiba menyerangnya. Baekhyun mengurungkan niatnya, dan berganti menggerakkan tangan kirinya, meraba dinding di samping kanannya untuk mencari tombol lampu.

Tidak sampai tiga detik, kamar Baekhyun kini kembali terang benderang. Seperti saat terakhir Baekhyun meninggalkannya, sebelum matanya terpejam, semalam.

Baekhyun mencoba bangkit dan duduk. Lalu dirasanya rasa sakit itu datang kembali. Yah, meskipun kadar sakitnya tidak sampai seperempat dari yang ia rasakan tadi malam. Tapi tetap saja, hal itu menyiksanya.

Baekhyun menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir rasa sakit itu dengan cara yang biasa ia lakukan. Yah, setidaknya ia merasa keadaan kepalanya lebih baik setelah itu.

Ketika sedang mengobati rasa sakit di kepalanya, tidak sengaja Baekhyun menolehkan kepalanya ke arah kiri. Dan apa yang ditangkap oleh manik cokelatnya pada detik berikutnya itu cukup membuat Baekhyun tertegun.

Di sampingnya, tampak sosok Luhan yang tengah berbaring dengan tenang, dan damai. Wajah pemuda itu tampak lelah. Dan kalau melihat kemeja serta celana jeans yang masih melekat pada tubuh pemuda itu, Baekhyun berani menebak kalau kakaknya itu belum menggantinya sejak ia pulang dari berpergian semalam.

Tanpa sadar, Baekhyun menarik sudut bibirnya naik, membentuk sebuah senyum yang tampak samar. Ia hanya merasa senang, karena mengetahui fakta bahwa kakaknya itu menjaganya semalaman.

“Terimakasih, hyung.” gumam Baekhyun lirih.

Dengan hati-hati, Baekhyun menyingkap selimut dan turun dari ranjang kesayangannya. Berusaha sebisa mungkin tidak menimbulkan bunyi atau pun gerakan yang dapat membuat Luhan terganggu dan bangun. Ia tidak ingin mengganggu istirahat kakaknya itu sama sekali.

Begitu Baekhyun menapakkan kakinya ke lantai, pemuda itu langsung berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya.

Berhasil, Baekhyun kini berhasil berdiri dengan tegak di sisi ranjang. Kemudian pemuda itu mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar. Ia kemudian melirik handuk yang tergantung di sudut ruangan dekat kamar mandi. Pemuda itu baru ingat, ia sama sekali tidak membersihkan dirinya kemarin. Tubuhnya kini terasa lengket dan tidak nyaman, membuat Baekhyun akhirnya memutuskan untuk tidak kembali berbaring di ranjang dan segera mandi.

.

Baekhyun baru saja melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi, dan tanpa sengaja ia mendengar suara dentingan—bunyi ponsel. Tapi itu bukan bunyi ponselnya, lalu ponsel siapa?

Pemuda Byun itu menajamkan pendengaran dan pengelihatannya, lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar, mencoba mencari keberadaan ponsel yang berbunyi itu lewat lampu ponsel yang berkedip dan kerasnya dering ponsel.

Tidak sampai lima menit, Baekhyun menemukan apa yang ia cari. Yang ternyata tergeletak tanpa nyawa di atas meja belajarnya.

Baekhyun bergerak mendekat.

Ponsel Luhan tengah berdering seru. Ada sebuah panggilan masuk. Baekhyun melirik pada Luhan yang masih tertidur pulas, kemudian kembali melirik ke arah ponsel Luhan yang masih berdering itu, tanpa memperhatikan nama kontak si penelepon.

Baekhyun ingin memberitahu Luhan tentang panggilan untuk kakaknya itu, tapi sayang, Baekhyun tidak tega membangunkan Luhan sekarang. Wajah kakaknya itu tampak sangat lelah, tampak sekali kalau pemuda itu butuh istirahat.

Dan dengan alasan itu, Baekhyun mengurungkan niatnya.

Ponsel Luhan berhenti berdering sekitar lima detik setelahnya, yang kemudian meninggalkan pesan untuk memberi tahu sang pemilik ponsel bahwa ada sebuah panggilan yang tidak terjawab.

Iseng, Baekhyun meraih ponsel Luhan dan membuka pesan tesebut.

Sebuah panggilan tak terjawab…dari Kim Soyun.

Kim Soyun?

Dan detik itu juga Baekhyun merasakan perasaan aneh itu kembali menyerangnya. Rasa sakit dan sesak di dadanya. Membuat pemuda Byun itu agak sulit bernapas. Perasaan aneh yang selalu ia sebut sebagai perasaan yang tidak seharusnya ia rasakan. Mungkin lebih mudah disebut cemburu, meskipun tidak sepenuhnya.

Intinya, Baekhyun terkejut, dan keterkejutannya itu membuahkan rasa sakit di dadanya.

Baekhyun menatap layar ponsel Luhan lama, tatapannya menerawang. Dan kemudian tanpa sadar ibu jarinya bergerak menekan tombol delete pada pesan yang menginformasikan tentang panggilan tidak terjawab itu. Entah apa motifnya, Baekhyun sendiri tidak tahu.

Yang ia tahu, hati kecilnya tidak ingin Luhan berinteraksi lebih banyak lagi dengan Soyun. Gadis yang beberapa hari ini cukup memenuhi pikirannya.

Baekhyun menghela napasnya panjang dan segera menekan tombol home di ponsel Luhan, berusaha mengembalikan keadaan ponsel itu seperti sedia kala, tanpa adanya jejak-jejak Soyun.

Tapi sayangnya, ketika Baekhyun hampir merasa sedikit tenang, sesuatu dari ponsel itu kembali menarik perhatiannya.

Kali ini wallpaper ponsel Luhan.

Foto sang pemilik ponsel, berdua dengan gadis berkuncir kuda yang tengah tersenyum dengan manisnya. Foto itu diambil menggunakan kamera depan, dengan latar pemandangan taman di malam hari.

Meskipun hasil fotonya tidak terlalu jernih, tapi bisa dilihat kalau di foto itu keduanya tampak akrab. Dengan senyum yang terukir tulus di wajah keduanya, membuktikan bahwa mereka berdua menikmati kebersamaan mereka. Menikmati detik demi detik yang mereka lalui bersama.

Rahang Baekhyun mengeras, begitu juga dengan raut wajahnya. Bayangan tentang kedua orang itu—sekitar dua hari yang lalu—kembali hadir dalam sekelebatan pikirannya. Memutar ulang rasa sakit yang ia rasakan, begitu juga rasa kecewanya.

Perasaan yang membuat Baekhyun melarikan dirinya kembali ke alkohol.

Baekhyun meremas benda berbentuk persegi panjang itu kuat-kuat dan kemudian melemparkannya ke ranjang, ke bagian kosong di samping Luhan—yang tadinya merupakan tempatnya tidur.

Pemuda Byun itu melirik ke arah Luhan dan menatap kakaknya itu geram.

“Sial, aku keduluan.”

Luhan melangkahkan kakinya ke halaman belakang. Seharian ini, entah berapa kali Luhan bolak-balik ke tempat itu. Tujuannya hanya satu, memastikan Baekhyun masih duduk manis di pinggir kolam renang, atau tidak.

Sejak ia bangun dari tidurnya dan mendapati Baekhyun yang sudah lebih dulu menghilang, Luhan langsung panik dan segera mencari adiknya itu ke seluruh bagian rumah. Betapa leganya pemuda itu, kala ia menemukan Baekhyun tengah duduk manis di pinggir kolam, menatap ke langit luas dengan tatapan menerawang.

Luhan ingin sekali menghampiri adiknya itu, namun entah mengapa Luhan merasa Baekhyun sedang tidak ingin diganggu. Jadi yang bisa Luhan lakukan hanya memastikan kalau Baekhyun masih duduk di tempatnya, tidak nekat melompat—menenggelamkan diri—atau pun melakukan hal ekstrem lain yang mungkin saja tiba-tiba mampir di otak Baekhyun.

Selalu begini.

Baekhyun memang selalu begini setiap kali sakit kepalanya kambuh. Ia akan diam dan lebih banyak menyendiri. Yah, setidaknya sampai dua atau tiga hari.

Tapi Luhan merasa kali ini berbeda.

Sakit kepala yang diderita Baekhyun sudah berlangsung selama kurang lebih lima tahun—sejak Baekhyun berumur enam tahun. Kemudian sakit kepala itu hilang setelah Baekhyun berumur sebelas tahun. Benar-benar hilang, dan tidak kambuh lagi.

Selama lima tahun masa sakit adiknya, Luhan sudah hafal betul dengan apa yang akan terjadi, apa yang boleh dan tidak boleh Luhan lakukan, dan kebiasaan-kebiasaan Baekhyun yang harus Luhan perhatikan.

Salah satu yang tidak boleh Luhan lakukan adalah mengingatkan Baekhyun pada sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu Baekhyun, yang tentunya pernah diceritakan Tuan Byun padanya. Tentang Ibu kandung Baekhyun misalnya, dan lain-lain. Atau juga sesuatu yang berhubungan dengan ingatan Baekhyun.

Bila dalam masa sakitnya Baekhyun sempat mengalami keadaan dimana pemuda itu tidak sadarkan diri—seperti tadi malam, maka Baekhyun akan jauh lebih banyak diam dan berubah dingin. Seperti sekarang. Dan biasanya, jangka waktunya relatif lebih lama.

Tapi yang harus diperhatikan adalah: siapapun yang sedang mengawasi Baekhyun tidak boleh lengah, karena pemuda itu bisa saja melakukan hal-hal yang aneh dan berbahaya. Dan lucunya, pikiran untuk melakukan hal tersebut muncul begitu saja dalam otak Baekhyun.

Seperti yang sudah dibahas tadi, Baekhyun bisa saja menenggelamkan dirinya di kolam. Ya, bisa, kalau tiba-tiba saja ia terpikirkan untuk melakukan hal tersebut.

Yah, dan untung saja hal yang Luhan takutkan itu tidak terjadi.

Kembali lagi pada Luhan yang kini tengah menatap Baekhyun dalam diam. Lalu, dengan sebuah tarikan napas panjang, pemuda itu mulai melangkahkan kakinya mendekati Baekhyun. Seraya mengusahakan dirinya agar terlihat tenang.

Bohong kalau Baekhyun bilang ia tidak tahu Luhan datang. Pemuda itu tahu, pasti, tapi ia enggan untuk menoleh, apalagi menyapa Luhan. Baekhyun benar-benar merasa enggan melakukannya, entah mengapa.

Luhan tersenyum. Ia tahu bahwa Baekhyun tidak mengacuhkannya sekarang, tapi pemuda itu tetap mendekati Baekhyun, bahkan duduk di samping adiknya itu, meskipun sedikit ragu.

Keduanya larut dalam keheningan. Tidak ada satu pun yang ingin membuka mulutnya untuk sekedar berbasa-basi, apalagi memulai pembicaraan. Sampai akhirnya Luhan tidak tahan dan mengeluarkan suaranya—untuk pertama kalinya setelah sekitar setengah jam mereka lalui dalam diam.

Luhan berdeham. “Baekhyun, bagaimana perasaanmu…err…sekarang?” tanya Luhan hati-hati. Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang selalu Luhan ajukan setiap kali keduanya memulai pembicaraan. Setiap kali Baekhyun bangun dari keadaan tidak sadarkan diri.

Baekhyun tidak langsung menjawab. Ada jeda sekitar sepuluh detik sebelum Baekhyun menolehkan kepalanya pada Luhan dan berkata bahwa ia ‘baik-baik saja’.

Kemudian tidak ada lagi yang bersuara.

Semilir angin dingin menerbangkan anak rambut keduanya, membuat baik Luhan dan Baekhyun bergidik ketika tanpa sengaja angin dingin itu mampir di tengkuk mereka.

Luhan bangkit dari duduknya. Ia merasa angin yang lebih besar dan lebih dingin akan segera datang. Dan tidak baik jika mereka berdua masih bertahan disini.

Luhan mengajak Baekhyun untuk masuk ke dalam, namun Baekhyun menolaknya. Tanpa menyertakan alasan, yang tentunya membuat Luhan bertanya-tanya.

“Baekhyun, tolong dengarkan hyung kali ini. Sebentar lagi angin besar pasti datang, dan kalau kita masih disini, kita bisa mati kedinginan.” Luhan menghela napasnya. “Atau kau beri aku alasan, tentang mengapa kau menolak masuk ke dalam sekarang.”

Paksaan dari Luhan itu membuat Baekhyun menolehkan kepalanya dengan cepat dan menatap Luhan tajam. “Tunggu, kita?” Baekhyun menggelengkan kepalanya. “Aku tidak menyuruhmu untuk bertahan disini, Xi Luhan. Hanya aku yang tidak mau masuk ke dalam. Hanya aku, bukan kita.”

Baekhyun mengalihkan tatapannya kembali menatap langit. “Soal alasan? Bukan urusanmu, ‘kan?”

Luhan mengatupkan rahangnya. Jujur saja, emosinya sedikit tersulut mendengar perkataan Baekhyun barusan. Adiknya itu benar-benar melawan, bahkan pemuda itu menyebutkan nama lengkap Luhan, seolah mendeklarasikan dengan jelas bahwa mereka berbeda, dalam tubuh mereka tidak mengalir darah yang sama.

Luhan menghela napasnya berat. “Baik, terserah kau saja.” ujar pemuda itu menyerah, dan kemudian ia memutar tubuhnya dan melangkah menuju bagian dalam rumahnya.

Namun, baru sekitar tujuh langkah Luhan berjalan, pemuda itu harus menghentikannya dan berbalik, karena Baekhyun memanggilnya.

Hyung,” panggil Baekhyun lirih. “Ada yang ingin aku tanyakan padamu.”

Baekhyun memberi isyarat Luhan untuk mendekat dan kembali duduk di tempatnya. Luhan menurut dan kembali mendudukkan dirinya di samping Baekhyun.

“Ada apa?” tanya Luhan lembut. “Apa yang ingin kau tanyakan?”

Bukannya menjawab, Baekhyun malah mendongakkan wajahnya, menatap langit sore di atasnya dalam diam. Tatapannya masih sama, menerawang, dan kosong. Pemuda Byun itu tampak memikirkan sesuatu.

Luhan yang memperhatikan hal tersebut mendadak terenyuh hatinya. Luhan merasa di balik kambuhnya penyakit adiknya itu, pasti ada sesuatu yang berat. Sesuatu yang membuat Baekhyun berpikir keras dan menggunakan otaknya serta ingatannya secara berlebihan.

Tapi apa yang Baekhyun pikirkan?

Hyung,” panggil Baekhyun lagi. “Bagaimana perasaanmu…saat ini?”

Luhan mengerutkan keningnya, heran dengan pertanyaan yang Baekhyun ajukan padanya. Pertanyaan itu adalah jenis pertanyaan yang seharusnya Luhan ajukan pada Baekhyun, tapi mengapa sekarang Baekhyun mengembalikannya pada Luhan?

“Perasaanku? Baik, memangnya kena—”

“Bagaimana dengan hatimu?” Baekhyun menarik ujung bibir kirinya ke atas. “Maksudku, apa yang kau rasakan? Berbunga-bunga? Senang?”

Mendengar pertanyaan yang diajukan Baekhyun barusan membuat kerutan di kening Luhan semakin dalam. “Pertanyaan macam apa ini?”

Baekhyun mendengus. “Jawab saja.”

Luhan menatap Baekhyun penuh tanya, tapi kemudian pemuda itu menggelengkan kepalanya. “Entahlah. Mungkin senang.”

Napas Baekhyun tercekat, perasaan aneh itu hadir kembali. Namun Baekhyun berusaha menyembunyikannya dengan ber-ohh ria, seolah semuanya baik-baik saja.

Baekhyun memainkan kakinya yang tercelup sebagian di dalam air, memutar-mutar kakinya hingga terbentuk ombak kecil yang kemudian menyebar ke seluruh bagian kolam.

Baekhyun menolehkan kepalanya pada Luhan. “Oke, ini pertanyaan terakhir.” Ia menatap Luhan dengan tajam. “Apa kau punya pacar? Oh, maksudku, orang yang kau cintai?”

Baekhyun mengalihkan tatapannya kembali menatap langit luas.

“Seandainya iya, apa aku mengenalnya?”

Hari ini Soyun benar-benar menghabiskan hari Minggu-nya di rumah. Sejak Soyun membuka matanya tadi pagi hingga sekarang, gadis itu tidak beranjak barang semeter pun dari ranjangnya.

Entah mengapa Soyun merasa enggan untuk bergerak. Perasaannya masih tidak karuan tiap kali ia mengingat betapa lemahnya keadaan Baekhyun semalam.

Soyun meraih ponselnya lagi, mengecek apakah ada panggilan atau pesan masuk untuknya. Tapi nihil, tidak ada satu pun. Seharian ini, Soyun terus-menerus mengecek ponselnya, dan setiap kali Soyun tidak menemukan apapun di layar ponselnya, maka gadis Kim itu akan berteriak frustasi. Entah sudah keberapa kali hari ini.

Pagi tadi, sebenarnya Soyun sudah mencoba menghubungi Luhan untuk menanyakan kondisi Baekhyun. Tapi sayang, sunbae-nya itu tidak menjawab panggilannya, dan bahkan tidak memberinya kabar sama sekali.

Gadis itu sebenarnya cukup tahu diri untuk menyadari dia bukanlah siapa-siapa Baekhyun. Lantas mengapa ia begitu berharap Luhan akan memberinya kabar tentang kondisi Baekhyun? Ah, setidaknya Soyun menganggap dirinya masih masuk dalam daftar ‘teman’ Baekhyun, jadi tidak ada salahnya, ‘kan, apabila Soyun mengkhawatirkan keadaan ‘teman’-nya yang sakit itu?

Soyun menutup wajahnya dengan kedua tangan kemudian mendesah frustasi.

Sebenarnya kemarin Luhan berjanji bahwa hari ini pemuda itu akan mengajak Soyun jalan-jalan, menghabiskan hari Minggu ini di sepanjang jalur Tembok Batu Istana Deoksugung. Jalur itu dikenal juga sebagai jalan ‘Jeongdong-ril’. Deoksugung Doldam-gil sendiri adalah jalan sepanjang 900 meter di sisi dinding batu istana Deoksugung yang popular sebagai tempat kencan. Indahnya pemandangan daun gingko kuning saat musim gugur membuat suasana terasa semakin romantis. Dan itulah tujuan Luhan mengajaknya kesana.

Ada beberapa lokasi wisata populer yang terdapat di dekat jalan ini, seperti Seoul Museum of Art, National Museum of Modern and Contemporary Art Deoksugung, Gyeonghuigung Palace, dan juga Chongdong Theater. Di Chongdong Theater, pengunjung bisa menyaksikan pertunjukkan terkenal seperti Fanta-Stick, Kim Jin Kyu Original Drawing Show, dan Ballerina Who Loved a B-boy.

Soyun ingat betul bagaimana antusiasnya Luhan yang terus saja bercerita tentang seluk beluk dan betapa menakjubkannya tempat yang bahkan tidak Soyun ketahui itu. Tempat dimana pemuda itu berencana membawa Soyun jalan-jalan pada kencan mereka hari ini.

Tapi mengingat keadaan Baekhyun yang kurang baik—ditambah Luhan yang tidak menghubunginya sama sekali—Soyun hampir yakin seratus persen kalau memang acara jalan-jalan mereka dibatalkan. Secara sepihak.

Dan jujur saja Soyun tidak keberatan, meskipun tentunya ada perasaan kecewa.

Tapi yang mengganggu pikirannya saat ini adalah kondisi Baekhyun.

Bagaimana keadaannya? Apakah luka ditangannya itu sudah membaik? Penyakit apa yang diderita Baekhyun?’ dan berbagai pertanyaan lain yang sampai saat ini belum terjawab, karena minimnya informasi yang Soyun ketahui.

Ya, Soyun ingat, yang dapat Soyun tangkap semalam dari pembicaraan Dokter Shin dengan Luhan dan Nyonya Byun hanya bahwa penyakit ini sudah diderita Baekhyun sejak lama. Dimana penyakit ini sempat hilang selama kurang lebih enam tahun sebelum kambuh lagi kemarin, tanpa sebab yang jelas.

Soyun mengalihkan tatapannya ke arah kelambu tipis di jendelanya yang kini ikut terbang bersama dengan semilir angin, dengan tatapan menerawang.

Kemudian gadis itu menghela napasnya berat.

“Doaku selalu sama; semoga kau baik-baik saja, Byun Baekhyun.”

***

Suasana sarapan di hari Senin pagi ini terasa berbeda.

Baik Nyonya Byun maupun Tuan Byun merasakan ketegangan yang teramat sangat pada sarapan bersama mereka pagi ini. Dan ketegangan itu membuat mereka semua bungkam. Tidak ada satu pun dari anggota keluarga Byun yang berbicara, sepatah kata pun tidak.

Nyonya Byun beberapa kali hendak memecah ketegangan itu dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan basa basi, namun kemudian Tuan Byun melarangnya untuk berbicara lebih banyak. Memberi isyarat pada istrinya itu untuk tidak usah ikut campur.

Tuan Byun sadar betul ketegangan yang terjadi saat ini adalah antara Luhan dan Baekhyun. Yang tentu saja hanya mereka berdua yang tahu alasannya—oh, atau mungkin hanya Baekhyun yang tahu alasan sebenarnya.

Baekhyun yang tampak tidak nyaman kemudian menyelesaikan sarapannya dengan cepat, begitu juga Luhan. Keduanya menghabiskan susu yang tersaji untuk mereka pagi ini dan kemudian dengan segera menyambar tas serta jaket mereka, lalu berpamitan untuk pergi ke sekolah.

Baekhyun berjalan menuju ke arah Nyonya Byun dan memeluk Ibu tirinya itu sekilas serta mencium kedua pipinya. “Aku berangkat ya, Bu.” pamit pemuda Byun itu dengan senyum sekilas. Barulah setelah itu Baekhyun beralih ke Ayahnya dan berpamitan.

Berbeda dengan Baekhyun, Luhan memilih untuk lebih dulu berpamitan dengan sang Ayah dibandingkan dengan sang Ibu.

“Ayah, aku berangkat.” pamit Luhan seraya mencium tangan Ayahnya dan kemudian berpamitan pada Ibunya, lalu menyusul Baekhyun yang sudah lebih dulu keluar dari rumah.

Luhan melihat Baekhyun yang sudah siap duduk di atas motornya, hendak memasang helmnya. Dengan langkah besar-besar, Luhan mendekati Baekhyun dan menepuk pundak adiknya itu lembut.

“Kau yakin bisa membawa ini?” tanya Luhan seraya menunjuk pada motor Baekhyun. “Bagaimana keadaan kepalamu? Sudah benar-benar baikan? Atau masih sakit? Taruh saja motormu kembali dan berangkatlah bersamaku, Baekhyun. Jangan memaksakan di—”

Hyung, aku baik-baik saja.” ujar Baekhyun memotong perkataan Luhan. Pemuda itu melanjutkan memakai helmnya yang sempat tertunda. “Jangan khawatirkan aku. Aku bukan anak kecil lagi.”

Setelah yakin helmnya terpasang dengan baik, Baekhyun mulai menyalakan mesin motor dan menstaternya beberapa kali untuk memanaskan mesin. Luhan hanya menatap pergerakan adiknya itu dalam diam. Nada bicara Baekhyun yang dingin dan tidak ingin dibantah itu membuat Luhan bungkam.

Baekhyun menstater motornya sekali lagi sebelum menolehkan kepalanya pada Luhan. “Hyung, aku duluan, ya.” Dan setelah pamit, tanpa menunggu jawaban Luhan, pemuda itu melajukan motornya keluar dari garasi. Kemudian bergabung bersama kendaraan lain menuju jalanan Seoul pagi hari.

Dari tempatnya berdiri, Luhan menatap kepergian Baekhyun dalam diam. Pemuda itu menghela napasnya berat.

“Apa aku berbuat kesalahan?” gumam Luhan seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam mobilnya. Sesampainya di dalam mobil, Luhan tidak langsung menyalakan mesin mobil, memanaskannya, apalagi melajukannya ke jalanan. Pemuda itu lebih memilih berdiam diri sejenak dan membiarkan pikirannya melayang entah kemana.

Memikirkan Baekhyun yang bersikap dingin padanya tanpa sebab itu membuat perasaan Luhan tidak enak. Karena apapun yang terjadi antara dirinya dan Baekhyun, pasti juga akan dirasakan oleh kedua orang tuanya. Yah, seperti ketegangan yang dirasakan keluarga mereka tadi pagi, saat acara sarapan bersama.

Dan Luhan tidak mau ketegangan semacam itu berlangsung seterusnya.

“Jadi, apa yang harus kulakukan?” tanya Luhan pada dirinya sendiri. Pemuda itu menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Apa aku harus meminta maaf pada Baekhyun? Barangkali aku melakukan kesalahan yang tidak aku sadari…”

Luhan tersenyum. “Ya, aku akan meminta maaf pada Baekhyun nanti.” putus Luhan.

Dengan wajah yang kembali bersemangat itu, Luhan menyalakan mesin mobilnya dan melajukan mobil berwarna silver itu ke jalanan.

“Semoga segalanya cepat selesai.”

Soyun menghela napasnya berat. Lagi-lagi ia harus berhadapan dengan keadaan lokernya yang begitu berantakan akibat ulah seseorang. Untung saja Soyun tidak meninggalkan apapun yang penting disana. Hanya tumpukan kertas pengumuman dan beberapa pamflet yang memang tadinya akan Soyun bereskan hari ini.

Jika pada kejadian sebelumnya loker Soyun penuh dengan lumpur, maka kali ini berbeda. Lokernya yang semula berwarna abu-abu, kini berubah warna menjadi merah. Awalnya Soyun sempat kaget karena mengira warna merah itu adalah darah. Tapi setelah meneliti kembali, ternyata warna merah itu bukanlah darah, melainkan cat dinding yang berwarna merah—seperti darah.

Soyun menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, hendak mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membersihkan lokernya. Tapi nihil, tidak ada satu pun barang atau pun kain yang bisa gadis itu gunakan.

Setelah beberapa kali menoleh ke kanan dan ke kiri, Soyun baru menyadari satu hal; bahwa dirinya tidak sendiri. Yah, bukan hanya lokernya yang disiram cat merah seperti itu, tapi loker Minjung juga.

Tak berapa lama, Soyun mendengar derap langkah seseorang yang bergerak mendekat, diikuti oleh suara Minjung yang menyapanya riang dari arah belakang. Dan seperti yang Soyun duga, sapaan itu langsung hilang begitu Minjung mengarahkan tatapannya pada hal yang juga tengah ditatap oleh Soyun sekarang.

Loker milik Minjung.

Gadis Lee itu bergerak maju mendekati lokernya yang kini telah berubah warna menjadi merah. Kemudian dengan hati-hati, gadis itu membuka pintu lokernya.

Mau tahu apa isinya?

Yang jumlahnya banyaaaak sekali.

Soyun terpaku di tempatnya, begitu juga Minjung. Gadis Lee itu baru bereaksi ketika beberapa cacing mulai bergerak ke mulut loker dan kemudian jatuh di atas sepatunya. Segera saja Minjung berlari sambil berteriak-teriak histeris.

Dari tempatnya, Soyun hanya dapat menatap Minjung yang berlari menjauh. Masih sambil berteriak, kali ini teriakan geram dan menyebut nama seseorang.

“BRENGSEK KAU KANG HYURAAAA!!!!”

Yah, kira-kira begitulah teriakan Minjung yang terakhir Soyun dengar, tepat sebelum gadis Lee itu hilang dari jarak pandangnya.

Soyun terkekeh geli melihat Minjung yang berteriak-teriak heboh itu. Tapi gadis itu segera merubah ekspresinya menjadi ngeri ketika membayangkan apa yang kira-kira terjadi di kelas sekarang.

Apakah kedua orang itu akan berkelahi lagi?

Membayangkan adegan tampar menampar yang Hyura dan Minjung lakukan kemarin saja sudah membuat Soyun bergidik ngeri. Bagaimana kira-kira mereka sekarang?

Soyun menggelengkan kepalanya. Tidak mau terlalu ambil pusing, Soyun melangkahkan kakinya menuju ke gudang belakang untuk mengambil alat-alat kebersihan.

Baekhyun mengerutkan keningnya heran melihat dua gadis kaya yang tengah meneriakkan sumpah serapah mereka sepagi ini. Bayangkan saja, bel masuk bahkan belum berbunyi dan kedua gadis itu sudah sibuk meneriakkan makian-makian itu dengan lantang, membuat keduanya menjadi pusat perhatian dari seisi kelas—bahkan dari kelas lain atau pun siswa yang tidak sengaja lewat.

“BAJINGAN KAU, KANG HYURA! BISAKAH KAU BERHENTI MENGGANGGU HIDUPKU?! SEBENARNYA, APA MASALAHMU?!” teriak Minjung marah seraya menarik kasar kerah kemeja Hyura, membuat wajah keduanya berhadapan dalam jarak kurang dari dua puluh sentimeter.

Mendapat perlakuan sekasar itu, Hyura yang tidak terima segera bangkit dari duduknya dan berdiri, menyentak tangan Minjung yang tadinya bertengger di kerah seragamnya. Lalu mendorong Minjung dengan sama kasarnya.

“TIDAKKAH KAU BERKACA?! SEPAGI INI KAU SUDAH MENYERANGKU DENGAN KASAR DAN MENGATAI AKU, APA…? BAJINGAN?” Hyura menunjuk jidat Minjung. “ BUKANKAH YANG BAJINGAN ITU, KAU?”

Tangan Minjung sudah begitu gatal untuk menampar wajah mulus Hyura, atau mencakarnya dan meninggalkan bekas di wajah Hyura, yah, mungkin itu akan menjadi alternatif yang baik. Tapi Minjung masih berusaha mengontrol emosinya, berusaha menahan pergerakan tangannya agar tidak hilang kendali.

Minjung menatap Hyura tajam. “Mau kuberi tahu sesuatu?” ujar gadis itu dengan nada yang berubah rendah. “Atau aku perlu mengumumkannya?”

Nada bicara Minjung yang mengancam membuat Hyura merasa gentar untuk sesaat. Namun gadis Kang itu segera menghalau kegentaran itu dengan memasang wajah yang menantang. “Katakan saja, biar semua tahu kalau semua perkataanmu itu bohong,” Hyura tersenyum licik. “Dan hanya omong kosong.”

Penekanan nada bicara di empat kata terakhir itu membuat Minjung tidak bisa menahan tawanya. Alhasil, gadis itu tertawa puas.

“Omong kosong, katamu?” ujar gadis itu di sela tawanya. Minjung terus tertawa selama beberapa detik tanpa melanjutkan kalimatnya. Sampai kemudian gadis Lee itu berhenti tertawa dan menyeringai. “Kita lihat seberapa ‘omong kosong’-nya aku, Kang Hyura.”

Mata Minjung berkilat-kilat penuh kengerian, dan seringaian di wajah gadis Lee itu membuat Hyura bergidik ngeri.

“Akui kesalahanmu, mintalah maaf padaku dan Soyun—sebelum aku membongkar rahasiamu.” bisik Minjung dengan nada penuh ancaman pada Hyura. “Berhati-hatilah, Kang Hyura.”

Dan setelah Minjung menyampaikan peringatannya, gadis itu segera berbalik pergi dan tersenyum penuh arti pada Hyura. “Pikirkan itu baik-baik, Nona Kang.”

Minjung melangkahkan kakinya keluar dari kelas. Di ambang pintu, ia sempat beradu pandang dengan Baekhyun yang juga ternyata sedang menatapnya dengan heran. Hanya sepersekian detik sebelum Minjung mengalihkan tatapannya ke arah lain dan berbalik pergi.

Ada sesuatu dari tatapan Minjung yang sulit untuk Baekhyun artikan. Tatapan yang seolah ingin memberti tahukan sesuatu, tapi juga tatapan yang diartikan Baekhyun sebagai tatapan peringatan. Entahlah, Baekhyun kurang paham.

Selepas kepergian Minjung, Baekhyun menolehkan kepalanya pada Jongdae yang tengah berdiri di sebelahnya, menatap ke arah yang sama dengannya.

“Yang tadi itu apa?” tanya Baekhyun pada Jongdae. “Ada sesuatu yang tidak aku tahu?”

Jongdae baru menolehkan kepalanya pada Baekhyun setelah pertanyaan kedua. Dan itu pun hanya dijawab Jongdae dengan mengendikkan bahunya. “Panjang ceritanya, kalau kau mau tahu.” Kemudian Jongdae melirik pada jam yang digantung di bagian depan kelas.

“Sebentar lagi bel masuk.” Pemuda Kim itu menarik Baekhyun untuk mengikutinya. “Aku sedang tidak ingin belajar. Cafeteria?”

Dan Baekhyun pun menganggukkan kepalanya setuju. “Jangan lupa ceritakan padaku semua yang aku lewatkan.”

.

Baekhyun dan Jongdae terpaku di tempatnya, menatap lurus ke arah yang sama.

Menatap pada seorang gadis yang tengah berkutat dengan alat-alat kebersihan sekolah, sibuk membersihkan sisa-sisa kekacauan dari cat berwarna merah yang disiramkan ke dua loker—yang bisa Baekhyun dan Jongdae tebak sebagai loker gadis itu, salah satunya.

Gadis itu tampak sangat sibuk, dan…mengenaskan, karena tidak ada satu pun siswa yang berniat membantu meringankan pekerjaannya. Ya, tidak ada, semua ia kerjakan sendiri. Dapat mereka lihat kini di tangan dan beberapa bagian seragam gadis itu terdapat noda warna merah.

Dan tentunya mereka sudah bisa menebak siapa yang tega melakukan itu.

Jongdae terketuk hatinya untuk membantu. Namun, ketika Jongdae hendak melangkahkan kakinya maju, Baekhyun buru-buru menahannya. Tindakan Baekhyun barusan, yang kemudian diikuti oleh raut wajahnya yang datar itu membuat alis Jongdae berkerut seru.

Jongdae melemparkan tatapan bertanya pada Baekhyun, yang kemudian dibalas pemuda Byun itu dengan gelengan kepala.

“Tidak usah membantunya, biarkan saja.” ujar Baekhyun dengan nada yang terdengar keras sekaligus berwibawa, mungkin. Nada bicara yang tidak bisa dibantah itu membuat Jongdae terdiam dan membungkam mulutnya rapat.

Dan mengurungkan niatnya untuk membantu gadis itu.

Jongdae menggelengkan kepalanya. “Oh, well, aku tidak tahu—atau mungkin memang baru tahu—kalau hatimu itu terbuat dari batu. Kau tidak…kasihan?”

Baekhyun menolehkan kepalanya, menatap Jongdae dengan alis yang terangkat tinggi. “Kasihan?” pemuda itu menggeleng. “Untuk apa? Itu tidak penting.”

Baekhyun mengucapkannya dengan cepat, kemudian berlalu begitu saja, membiarkan Jongdae menatapnya dengan alis yang berkerut seru.

“Ada apa dengan Baekhyun?”

Soyun  tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menghampiri Baekhyun dan mengajak pemuda itu berbicara. Pasalnya, hampir seharian ini Baekhyun tidak mengacuhkannya sama sekali. Setiap Soyun mendekat, Baekhyun akan segera pergi atau menjauh. Dan setiap Soyun berusaha mengajak Baekhyun berbicara, maka pemuda itu akan berpura-pura tidak mendengar—menganggap Soyun tidak ada.

Sekalipun Baekhyun memberikan perhatiannya pada Soyun, maka tatapan sinis khas Baekhyun lah yang Soyun dapat.

Sebenarnya, ada apa dengan Baekhyun?

Soyun tidak hentinya mengulang pertanyaan itu dalam hatinya. Benar, gadis Kim itu penasaran. Baekhyun yang ia kenal—akhir-akhir ini—adalah Baekhyun yang perhatian, meskipun suka mencampuri urusannya dan sering mengganggunya. Tapi tampaknya Baekhyun yang sedang Soyun hadapi sekarang adalah Baekhyun yang dulu, Baekhyun yang dingin, Baekhyun—sang Pangeran Es.

Tapi apa yang membuat Baekhyun kembali menjadi Pangeran Es? Apa aku berbuat salah?’ tanya Soyun dalam hati seraya melirikkan matanya pada Baekhyun yang sedang asyik mencoret-coret—atau menggambar sesuatu di kertasnya.

Kalau memang Baekhyun kembali menjadi dingin, kenapa dia hanya bersikap seperti itu padaku? Kenapa dia bersikap biasa saja pada yang lain?

Dan seiring dengan larutnya Soyun dalam pikirannya sendiri, bel tanda jam sekolah berakhir berbunyi dengan nyaring. Bunyi bel yang meraung tiga kali itu membuat Soyun tersentak kaget.

Soyun menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dilihatnya satu persatu siswa mulai membereskan buku dan alat tulis mereka, kemudian bergerak ke luar dari kelas. Bersiap-siap pulang.

Di pintu, beberapa siswa tampak berdesakan, berebut untuk keluar dari kelas. Melihat keramaian macam itu, Soyun mendadak malas.

Lebih baik aku menunggu antrian itu hilang barulah aku keluar,’ pikir Soyun sembari melanjutkan acara berberesnya.

Sambil menunggu, iseng Soyun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Deretan awal sudah benar-benar kosong, begitu pula dengan deret tengah. Dan ketika Soyun melirikkan matanya ke deret belakang—sejajaran bangkunya, tanpa sengaja manik matanya bertemu dengan manik kecokelatan milik seseorang.

Yang kini menatapnya tajam.

Dua detik.

Tiga detik.

Dan Soyun segera mengalihkan tatapannya ke arah lain, kemana pun selain ke pemuda tadi. Selain menatap Byun Baekhyun.

Soyun benar-benar lupa kalau tadi pagi pemuda Byun itu mengajak Jongdae untuk pindah bangku—yang semula tepat di depan bangku Soyun dan Minjung menjadi di bangku samping kiri yang sejajar dengan bangku Soyun. Dengan Baekhyun yang menempati bagian kosong dekat tembok, jauh dari Soyun.

Dari sudut matanya, Soyun dapat melihat Baekhyun yang berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikit pun. Rautnya masih sama, dingin dan datar.

Soyun menghela napasnya berat, kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Padahal aku begitu mengkhawatirkannya.”

Jongin melipat kedua tangannya di depan dada seraya bersandar pada pagar. Matanya sibuk mengawasi lalu lalang siswa dan siswi yang keluar-masuk sekolah. Pemuda Kim itu tampak sedang mencari seseorang.

Di sekitarnya, beberapa siswi tampak berhenti sejenak kemudian sibuk berbisik, mengagumi ketampanan Jongin dan betapa kerennya Jongin yang kala itu mengenakan jaket kulit dengan kualitas terbaik. Membuat penampilan Jongin tampak menawan meskipun masih menggunakan seragam sekolah di dalamnya.

Jongin menyipitkan matanya dan berusaha menajamkan pengelihatannya. Sekilas, ia merasa seseorang yang sejak tadi ia tunggu tertangkap oleh jarak pandangnya, dan ia sedang berusaha memastikan bahwa pengelihatannya tidak salah.

Dan ketika Jongin merasa mengenali jenis ikatan rambut yang gadis itu gunakan—kunciran ekor kuda—dan parasnya yang lumayan cantik, senyum di wajah pemuda itu pun merekah lebar. Lalu dengan langkah pasti yang penuh percaya diri, Jongin menghampiri gadis itu—menghalangi langkah gadis itu lebih tepatnya.

“Hai, sweetheart,” sapa Jongin dengan riang, dengan senyum memikat yang masih terukir manis di wajahnya. Tidak lupa pemuda Kim itu mengedipkan sebelah matanya genit, kebiasaannya kalau sedang menggoda para gadis.

Merasa langkahnya dihalangi, gadis itu mendongakkan kepalanya dan detik berikutnya dahi gadis itu berkerut dengan sempurna. “Kau….?” tanyanya sambil menunjuk pemuda berkulit gelap itu. Pemuda yang rasanya tidak asing sama sekali.

Seakan baru menyadari siapa pemuda yang berdiri di hadapannya itu dan dimana ia bertemu dengannya, Soyun menatap pemuda itu tajam. “Minggir, aku sedang sibuk.”

Jongin menaikkan kedua alisnya tinggi, tampak kaget dengan reaksi yang diberikan gadis itu. “Ya ampun, galak sekali kau, Kim Soyun.” ujar Jongin seraya menggelengkan kepalanya. Kemudian pemuda itu melangkahkan kakinya ke samping Soyun dan menggamit lengan gadis Kim itu.

“Ayo, kuantar kau pulang.” Jongin tersenyum. “Nanti kita bisa mampir ke banyak tempat. Anggap saja ini kencan.”

Soyun tersentak kaget, kemudian buru-buru melepaskan tangan Jongin yang menggamit lengannya dan mendorong pemuda itu pelan. “Hei, jangan kurang ajar kau, ya. Siapa kau? Belum saja kenal sudah seenaknya mengajakku kencan.” Soyun mendengus. “Memang kau pikir aku gadis murahan, hah?”

Jongin menggelengkan kepalanya lagi, kaget dengan reaksi Soyun yang diluar perkiraannya. Biasanya, hampir semua gadis akan dengan senang hati menerima ajakan kencan dari Jongin. Bahkan beberapa malah menawarkan diri dan berebut untuk bisa berkencan dengan pemuda kaya pewaris salah satu perusahaan entertainment terbesar di Korea itu.

Tapi apa yang Soyun katakan barusan membuat Jongin heran, cukup heran.

Gadis pelayan itu menolak ajakan kencan Jongin mentah-mentah.

Jongin menyeringai. “Oh, ayolah, jangan berpura-pura lupa padaku, sweetheart.” Pemuda itu mendekatkan wajahnya. “Bukankah aku terlalu menarik untuk dilupakan?”

Soyun sontak bergerak mundur, kemudian melirikkan matanya ke kanan dan ke kiri, memastikan tatapan para siswi—atau mungkin siswa juga—tidak tertuju padanya.

Namun ternyata Soyun salah. Semua mata, tertuju padanya, menatapnya dengan iri sekaligus heran. Dan penuh tanya.

Soyun mendorong Jongin, kali ini lebih keras. “Tolong jangan seperti ini, disini. Kau tidak lihat sekelilingmu? Kita jadi bahan tontonan gratis, kau tahu?”

Soyun mengedarkan pandangannya sekali lagi dan bergegas untuk pergi. “Permisi, aku sibuk. Aku harus pergi—”

Tapi Jongin tidak sebodoh itu untuk membiarkan Soyun pergi dan menyia-nyiakan kesempatannya untuk mendekati gadis Kim itu. Jadi dengan sigap Jongin menyusul Soyun dan meraih lengan gadis itu dengan jemarinya yang hangat.

“Tunggu dulu,” ujar Jongin seraya membalikkan tubuh Soyun agar menghadap ke arahnya. Kemudian Jongin melepaskan jaketnya dan menyampirkannya di pundak Soyun.

“Pakailah, udaranya dingin.” Pemuda itu membenarkan letak jaket kulitnya di pundak Soyun seraya tersenyum manis. Detik berikutnya pemuda itu mendekatkan bibirnya pada telinga Soyun dan berbisik. “Namaku Kim Jongin, ingat itu baik-baik.”

Soyun yang merasa malu karena menjadi pusat perhatian kini menunduk dan melanjutkan langkahnya tanpa mengucapkan terima kasih, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Hati-hati di jalan, Kim Soyun. Besok kau kujemput, ya.”

Soyun hanya menoleh sekilas dengan wajah sebalnya, lalu kembali merajut langkah pulang. Setengah berlari.

Di tempatnya, Jongin masih menatap punggung Soyun yang kini bergerak menjauh. Di wajahnya kini terukir sebuah senyuman penuh arti. Seolah segala macam perasaan tergambar di sana.

“Menarik,” simpulnya dengan seringaian lebar. “Ternyata memang gadis itu penuh tantangan. Benar-benar menarik.”

Ketika Jongin hendak melangkahkan kakinya keluar melewati pagar, Jongin mendengar seseorang meneriakkan namanya dari belakang. Sontak Jongin menoleh, dan didapatinya Jongdae yang sedang berjalan ke arahnya. Berdua dengan Baekhyun.

“Hai, hitam! Apa yang kau lakukan disini?” tanya Jongdae riang. “Sedang menjemput pacar barumu?” tanya pemuda Kim itu lagi seraya menyengir lebar.

Jongin tersenyum tipis untuk membalas pertanyaan Jongdae. “Sedang berusaha menarik seorang gadis agar lebih dekat padaku, lebih tepatnya.” Jongin melirik Baekhyun. “Gadis yang menarik, sayang untuk disia-siakan.”

Baekhyun yang menangkap lirikan mata Jongin sontak mendelik tajam pada pemuda Kim itu. Seolah memberi peringatan dan ancaman untuk Jongin. Dan Jongin hanya membalasnya dengan seringaian khas seorang Kim Jongin.

Jongdae yang tidak menangkap hal itu hanya bertepuk tangan, tampak senang. “Siapa gadis yang beruntung itu?” tanya Jongdae penasaran, kemudian mendesak Jongin untuk menjawab pertanyaannya.

Sekali lagi, Jongin melirik Baekhyun. Kemudian pemuda Kim itu memasang wajah penuh kemenangan kala melihat wajah Baekhyun yang tampak masam.

“Tentu saja Kim Soyun. Memangnya siapa lagi?”

“Kim….Soyun?” Jongdae menaikkan kedua alisnya, kemudian menatap Jongin dengan serius. “Astaga, Jongin….jangan katakan kalau kau serius dengan perkataanmu tempo hari.”

Jongin melipat tangannya. “Tentu saja aku serius.” Dan, yah, wajah Jongin benar-benar serius sekarang.

Jongdae menggelengkan kepalanya, tampak tidak percaya dengan keseriusan Jongin. “Aku kira kau hanya main-main dengan ucapamu, Jongin. Kupikir…kau bercanda.” Untuk sebuah taruhan yang memang hanya taruhan saja—tanpa hadiah yang berarti, tidak biasanya Jongin seserius ini. Biasanya pemuda Kim itu akan menganggap remeh dan membiarkan kawannya menang.

Tapi kali ini Jongin tampak serius. Ada apa dengan Jongin?

Jongin mendecakkan lidahnya. “Ck, oh ayolah, kapan seorang Kim Jongin bermain-main pada ucapannya?” Kemudian pemuda Kim itu menyeringai lebar. “Dan kau tahu, tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh Kim Jongin. Termasuk mencuri ciuman gadis itu dan membuatnya bertekuk lutut padaku.”

Mendengar ucapan penuh keyakinan dari Jongin barusan, Baekhyun tidak bisa menahan dirinya untuk tidak merasa geram dan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Meskipun pemuda Byun itu tidak mengatakan apapun.

Oh, well, perasaan Jongdae dan Baekhyun benar-benar tidak enak sekarang.

***

            Sudah dua hari ini Baekhyun mendiamkan Soyun. Sikap dinginnya, raut wajahnya, semua masih sama seperti dua hari yang lalu. Soyun sendiri masih bingung, tak hentinya gadis itu bertanya dalam hati tentang apa salahnya. Tak hentinya juga gadis itu mengajak Baekhyun berbicara—setidaknya Soyun mencoba. Meskipun sekali lagi, Baekhyun tidak menggubrisnya sama sekali.

Soyun sempat bertanya pada Jongdae, apakah Baekhyun sempat bercerita atau tidak. Tentang apapun, pokoknya yang berhubungan dengan diri pemuda Byun itu. Namun sayang, Jongdae tampak tidak tahu menahu soal itu. Jongdae bilang Baekhyun bersikap seperti biasa, tidak menceritakan apapun, atau pun menyinggung Soyun atau pun Luhan dalam pembicaraannya.

Jujur, sebenarnya Soyun sudah berusaha semampunya untuk tidak memikirkan sikap Baekhyun itu, tapi entah mengapa Soyun merasakan sesuatu yang aneh pada hatinya. Sesuatu yang membuat hatinya sakit karena Baekhyun terus-menerus bersikap seperti itu. Dingin, dan tidak peduli.

Soyun sempat menyinggung masalah ini dalam pembicaraannya dengan Minjung, dan gadis Lee itu pun menanyakan hal yang sama; tentang mengapa Baekhyun bersikap seperti itu pada Soyun, mengapa Baekhyun kembali menjadi sang Pangeran es yang kini bahkan lebih parah. Tidak ada yang bisa Soyun lakukan selain menggelengkan kepalanya, karena ia juga tidak mengerti.

“Mungkin kau mengatakan sesuatu yang menyinggung Baekhyun?” tanya Minjung. “Perkataan itu lebih berbahaya daripada perbuatan, Kim Soyun. Coba kau ingat-ingat lagi, mungkin kau melakukan atau mengatakan sesuatu yang membuat Baekhyun marah, mungkin?”

Soyun tampak berpikir, mencoba mengingat-ingat kembali apakah ia pernah menyinggung Baekhyun, atau membuat pemuda itu marah. Namun hasilnya nihil, Soyun tidak mengingat apapun—tidak merasa melakukan apapun yang membuat Baekhyun marah padanya.

Tiba-tiba pikiran Soyun melayang pada kejadian malam Jum’at lalu, ketika Baekhyun meneleponnya untuk segera keluar dari tempat kerjanya untuk menemui Baekhyun yang kala itu menunggu Soyun di depan café—pemuda Byun itu bilang kalau ia membawa makanan untuk Soyun.

Tapi Soyun menolaknya, dan secara tidak langsung mengusir pemuda Byun itu.

Apa itu yang membuat Baekhyun marah?

Suara Minjung yang memanggil namanya beberapa kali berhasil menyadarkan Soyun dari lamunannya, membuat Soyun kembali memberikan seluruh perhatiannya pada Minjung.

“Berhasil mengingat sesuatu?” tanya Minjung seraya menyeruput jus jeruk kesukaannya.

Soyun menggelengkan kepalanya. “Ada beberapa hal, tapi aku tidak yakin. Yah, kau tahu lah aku dan Baekhyun sering sekali berdebat.” Soyun menyendokkan pudding cokelat yang ia pesan ke mulutnya, dan buru-buru menelannya sebelum melanjutkan. “Tapi aku merasa tidak satu pun dari debat kami yang berbuah pertengkaran. Tidak, tidak ada.”

Minjung menganggukkan kepalanya mengerti. “Yah, kalau begitu yang bisa kau lakukan hanya menunggu si Baekhyun itu kembali bersikap baik padamu.”

Dan setelah itu tidak ada satu pun dari kedua gadis itu yang membuka mulutnya untuk berbicara. Keduanya larut dalam pikirannya masing-masing sembari menghabiskan makanan yang mereka pesan.

“Luhan sunbae…” gumam Minjung pelan, namun sayangnya tertangkap oleh pendengaran Soyun yang memang cukup tajam. Sontak gadis Kim itu menatap Minjung dan kemudian menoleh ke arah mata Minjung menatap.

Di pintu masuk cafeteria, Soyun melihat Luhan tengah melangkahkan kakinya masuk bersama dengan Kris dan Minseok. Luhan sedang asyik dengan ponselnya, sedangkan Minseok tampak mengobrol dengan Kris.

Ketiganya menuju ke bagian sudut cafeteria yang lain dan duduk di sana. Minseok tampak sedang berbicara, yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh Kris dan Luhan.

Soyun dan Minjung masih menatap Luhan. Memperhatikan pemuda itu dengan seksama, sampai akhirnya Luhan meletakkan ponselnya di atas meja.

Tiba-tiba saja ponsel Soyun bergetar, menandakan ada sebuah pesan masuk. Getaran ponsel Soyun membuat sang pemilik dan juga Minjung tersentak kaget dan secara bersamaan menatap ke arah layar ponsel Soyun tersebut.

1 New messages

From Luhan

Minjung menatap lekat-lekat layar ponsel Soyun, kemudian mengalihkan tatapannya pada Soyun.

“Kim Soyun,” panggilnya dengan suara pelan. “Sedekat apa kau, dengan…Luhan sunbae…?”

Soyun harus kembali menghela napasnya pasrah karena lagi-lagi ia melihat pemuda itu di depan sekolahnya. Berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, bersandar pada pagar sekolahnya.

Sejak kejadian dua hari lalu, hampir semua orang tahu siapa yang ditunggu pemuda itu. Ya, siapa lagi kalau bukan dirinya, Kim Soyun.

Pemuda itu, Kim Jongin, adalah pemuda paling pemaksa dan yang paling gigih mengajaknya kencan, atau minimal pulang bersama. Meskipun Soyun sendiri sebenarnya tidak mengerti motif pemuda itu yang menurutnya ‘tiba-tiba’ saja mendekatinya. Ia pun sudah berkali-kali menolaknya—dengan berbagai alasan, tapi sayangnya tidak mempan. Karena toh hari ini Soyun masih melihat pemuda itu lagi, di depan sekolahnya.

Kalau bisa, Soyun ingin menjadi manusia tembus pandang untuk saat ini saja. Atau setidaknya ia memiliki jubah ajaib milik Harry Potter yang dapat membuatnya tidak terlihat. Kemudian ia akan berjalan melewati Jongin tanpa pemuda itu tahu. Jadi ia tidak perlu repot-repot menghadapi Jongin dan menolak setiap ajakan pemuda Kim itu.

Namun sayang, khayalan macam itu selamanya tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Soyun menghela napasnya berat. Mau tidak mau ia harus menghadapi Jongin dan menolak ajakan pemuda itu lagi. Ah, dan satu lagi. Mengembalikan jaket pemuda itu—meskipun ia sama sekali tidak pernah merasa meminjamnya.

Gadis berambut hitam itu melangkahkan kakinya masuk ke Coffeee Bean.

Hari ini hari Rabu. Dan hari ini adalah pertama kalinya setelah hampir empat hari ia tidak datang ke café ini. Karena selama empat hari itu ia harus mendekam di rumah, karena keluarganya melarangnya untuk keluar rumah. Entah mengapa belakangan ini keluarganya menjadi lebih overprotektif.

Hari ini pun ia tidak datang sendiri. Ia datang bersama sang kakak, yang bersedia menemani dan mengantarnya kemana pun ia mau.

Sang kakak, Kris, sebenarnya cukup heran ketika lagi-lagi adiknya itu memintanya untuk diantarkan kemari, ke Coffee Bean. Karena yang Kris tahu, adiknya itu kurang begitu suka dengan kopi. Bukan benci, hanya kurang suka.

Dan yang membuat Kris semakin heran adalah ketika melihat adiknya itu sibuk mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru café, menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah sedang mencari sesuatu—atau mungkin seseorang.

“Ada apa?” tanya Kris pada adiknya itu.

Gadis berambut hitam itu menoleh, kemudian memberi isyarat pada Kris untuk bertanya pada salah satu pelayan disini mengenai seseorang.

Gadis itu menggambarkan orang yang ia cari memiliki tinggi badan kurang lebih setinggi telinga Kris, berambut cokelat gelap dan memiliki kulit yang putih bersih. Gadis itu menunjuk ke bagian dekat kasir, memberi tahu Kris kalau disanalah biasanya ia melihat orang itu.

Meskipun sempat heran siapa pria itu dan mengapa adiknya menanyakannya, Kris tetap menganggukkan kepalanya mengerti. Kemudian ia bergegas melangkahkan kakinya menuju ke bagian kasir dan bertanya mengenai orang yang dimaksud oleh adiknya itu.

Dengan sabar, gadis berambut hitam itu menunggu Kris kembali dari bertanya. Dan ketika kakaknya itu kembali, gadis itu mengguncang tubuh Kris dengan tidak sabar.

Kris membalasnya dengan senyum tipis. “Kata dua orang yang disana itu, orang yang kau cari tidak ada disini hari ini. Ia bekerja disini hanya pada hari Kamis sampai dengan hari Minggu.” jelas Kris dengan sabar. Tidak lupa pemuda bertubuh jangkung itu tersenyum manis.

“Jadi…masih mau disini?” tanya Kris pada adiknya itu, yang kemudian dibalas oleh sang adik dengan gelengan kepala.

Kris tersenyum. “Baiklah, ayo kita pindah ke tempat lain.”

Kris tahu, dan Kris sadar. Mata pemuda Wu itu terlalu tajam untuk menangkap perubahan raut wajah adiknya. Gadis berambut hitam itu tadinya begitu semangat datang kemari, dan kini, setelah tahu apa yang ia cari tidak ada, raut wajah gadis itu berubah datar.

Ada sesuatu. Pasti. Dan rasanya Kris bisa menebaknya.

Tolong,  jangan jatuh cinta lagi.

Soyun mengerutkan alisnya heran karena melihat Luhan lagi-lagi muncul dengan tidak terduga di salah satu bangku pengunjung di Viva Polo—tempatnya bekerja hari ini—dengan masih menggunakan seragam sekolahnya.

Senyum di wajah pemuda itu merekah kala ia menangkap keberadaan Soyun di dekat meja kasir. Dan pemuda itu melambaikan tangannya untuk memanggil Soyun.

Cukup ragu, Soyun berjalan mendekat ke arah Luhan dengan beberapa pertanyaan yang terus berputar di dalam kepalanya. Pertanyaan yang merajuk pada satu hal; keberadaan pemuda itu disini, pada hari ini.

“Dari mana kau tahu aku ada disini?” Yah, itulah pertanyaan yang pertama kali Soyun lontarkan pada Luhan begitu keduanya sudah duduk berhadapan. Soyun meminta izin pada Ny. Park untuk beristirahat lebih awal guna menemui Luhan dan berbincang sedikit dengan pemuda itu.

Luhan tersenyum. “Rahasia.” balasnya dengan singkat, padat, dan tidak jelas.

Soyun memutar bola mataya bosan. “Seperti biasa, kau memang penuh dengan rahasia, Xi Luhan.” gerutu gadis Kim itu seraya memanyunkan bibirnya, seolah-olah tampak kesal.

Awalnya hanya Luhan yang menertawakan sikap Soyun itu. Namun kemudian Soyun ikut menertawakan Luhan, dan keduanya tertawa, bersama-sama.

Luhan dan Soyun sibuk mengobrol. Soyun menemani Luhan menghabiskan makanan yang Luhan pesan dan mengiringinya dengan menceritakan berbagai hal, dan juga berdiskusi.

Bagi sebagian orang yang memandang, mungkin keduanya terlihat kurang serasi dan cocok. Mengingat bagaimana posisi Soyun yang hanya seorang pelayan biasa, sedangkan Luhan adalah seorang pelanggan dengan ketampanan yang luar biasa. Meskipun begitu, kebersamaan mereka membuat beberapa pasang mata menatap dengan tatapan iri. Sedangkan yang ditatap sedang larut dalam dunianya sendiri, tanpa mempedulikan keberadaan orang-orang di sekitar mereka.

Tawa dan canda mereka terinterupsi dengan hadirnya Sehun yang memberi isyarat pada Soyun kalau waktu istirahatnya sudah habis. Dan dengan berat hati Soyun harus pamit pada Luhan untuk kembali bekerja.

“Tidak apa-apa, ‘kan, kalau aku tinggal? Aku masih harus bekerja.” ujar Soyun dengan nada yang terdengar sangat tidak enak hati.

Berbeda dengan Luhan yang justru memasang senyum manisnya. “Tidak apa. Sudah sana kau kembali bekerja. Akan kutunggu sampai kau selesai.” balas Luhan dengan enteng. “Jangan masam begitu wajahnya, kau jadi jelek kalau begitu.”

Dan setelah Luhan mengatakan hal tersebut, Soyun buru-buru menarik kedua ujung bibirnya naik dan mengembangkan senyum manis di wajahnya. “Aye, aye, siap kapten!”

Soyun kembali mengenakan celemeknya dan kemudian melangkahkan kakinya kembali masuk ke dapur—atau bagian belakang restoran yang lain dengan semangat.

Dari tempatnya, Luhan hanya menatap kepergian Soyun dengan senyum manis.

Pemuda itu menatap layar ponselnya dengan sayang. Lebih tepatnya, ia menatap foto dirinya dengan Soyun yang ia gunakan sebagai wallpaper, foto yang diambil saat kencannya hari Sabtu lalu.

“Beruntungnya aku,”

.

Soyun sudah duduk manis di dalam mobil Luhan sekarang. Tadi Sehun sempat mengantarnya sampai ke tempat dimana mobil Luhan di parkir, dan mengingatkan pada Luhan untuk tidak membawa Soyun pulang terlalu larut—karena besok Soyun masih harus sekolah.

Dan Luhan menyanggupinya.

Sekarang Sehun sudah kembali masuk ke dalam Viva Polo untuk membereskan barang-barangnya dan pulang. Karena jam kini telah menunjukkan pukul sepuluh malam.

“Mau kemana kita?” tanya Soyun pada Luhan yang tengah fokus pada jalanan. Soyun sendiri berbicara dengan kurang jelas karena ia sedang menggigit karet rambutnya—karena Soyun sedang memperbaiki ikatan rambutnya.

“Kau tanya apa?” tanya Luhan balik, tanpa menoleh. Soyun menyelesaikan memperbaiki ikatannya, kemudian menolehkan kepalanya pada Luhan.

“Aku tanya, kita mau kemana?”

Luhan tampak menganggukkan kepalanya mengerti, kemudian pemuda itu tersenyum manis dan menoleh pada Soyun sekilas. “Tadinya aku mau menanyakan itu padamu. Kau mau kemana?”

Bukannya menjawab pertanyaan Soyun, Luhan malah mengembalikan pertanyaan itu pada Soyun yang kini memanyunkan bibirnya kesal. “Kan aku yang bertanya, kenapa pertanyaanku dikembalikan?” Soyun melipat tangannya di depan dada. “Jangan bertanya padaku, tempat-tempat yang aku tahu jelas bukan levelmu, Xi Luhan.”

Luhan menangkap nada merendah dalam perkataan Soyun barusan, dan hal itu membuat alis Luhan terangkat tinggi. “Sejak kapan ada perbedaan level di antara kita?” Luhan menggelengkan kepalanya. “Jangan bilang kau menganggap level kita berbeda karena mobil ini, dan hadiah-hadiah yang aku berikan padamu…?”

Lampu kini berwarna merah, memerintahkan semua kendaraan dengan tegas untuk berhenti sejenak. Kesempatan itu dimanfaatkan Luhan untuk menatap gadis yang duduk di sampingnya itu. “Benar begitu?”

Soyun menganggukkan kepalanya dengan ragu, membenarkan ucapan Luhan. “Dan jangan lupa dengan posisimu sebagai anak direktur sekolah, Luhan.”

Lagi, Luhan menggeleng, kali ini bahkan pemuda itu mendecakkan lidahnya. “Hei, Kim Soyun, ingat peraturan yang pernah aku berikan dulu?”

Soyun mengangguk. “Kalau sedang bersamamu, aku tidak boleh memanggilmu dengan embel-embel sunbae, ‘kan?”

Luhan memberikan jempolnya sebagai tanda bahwa Soyun benar. “Yah, kurang lebih begitu. Dan tampaknya aku harus menambahkan aturan yang lain.”

“Aturan…yang lain?” alis Soyun terangkat tinggi. “Maksudnya?”

Luhan tersenyum. “Nanti saja kita bicarakan. Sekarang, kau mau kemana?”

.

Pilihan Soyun jatuh pada warung makan pinggir jalan—tempat ia dan Sehun beberapa kali mampir untuk membeli makan. Lokasinya tidak begitu jauh dari tempat kerja Soyun dan Sehun di Coffee Bean, dan ini merupakan salah satu tempat favorit keduanya.

Memang terkesan sederhana, tapi tempat ini ramai pengunjung.

“Tidak apa-apa kau makan di tempat seperti ini?” tanya Soyun sambil melirik Luhan yang masih sibuk merapikan jaketnya. Jujur, sebenarnya Soyun ragu mengajak Luhan kemari, karena tempat seperti ini benar-benar bukan level Luhan yang terbiasa makan di rumah makan mewah dan café.

Well, warung makan ini terletak di emperan jalan, sama sekali bukan dalam level yang sama dengan tempat-tempat makan yang biasa Luhan kunjungi.

Luhan menolehkan kepalanya pada Soyun. “Tidak masalah, selama makanan mereka enak.” balas pemuda itu sambil tersenyum manis dan kemudian mendahului Soyun untuk masuk ke dalam tenda warung tersebut.

Luhan dan Soyun memilih untuk duduk di pinggir, di dekat sekat pembatas warung yang terbuat dari plastik.

“Kau mau makan apa, Luhan?” tanya Soyun seraya menarik selembar tisu basah dari dalam tasnya dan mengelap tangannya untuk membersihkan kuman sebelum kedua tangan itu ia gunakan untuk makan.

Luhan menggelengkan kepalanya. “Entahlah. Menurutmu, apa yang enak?”

Soyun tersenyum lucu. “Kalau begitu, aku yang pilih. Aku berani jamin kau akan ketagihan, Lu.” Kemudian gadis itu bangkit dari duduknya. “Kau tunggu disini, ya.”

Gadis bernama lengkap Kim Soyun itu berjalan menghampiri pemilik warung dan mulai memesan. Keduanya tampak akrab, dan sesekali mereka tertawa. Tampak sekali kalau memang Soyun sering kemari dan mengenal dengan baik sang pemilik warung.

Tidak sampai bermenit-menit, gadis itu sudah kembali duduk di hadapan Luhan.

“Kau sering makan disini?” tanya Luhan sambil memangkukan kepalanya pada telapak tangan yang ia gunakan sebagai penyangga.

Soyun tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya. “Cukup sering. Kau sendiri?” Soyun ikut menggunakan tangannya sebagai penyangga kepala. “Kutebak, kau belum pernah. Benar, ‘kan, Lu?”

Luhan terkekeh mendengar tebakan Soyun. Kemudian pemuda itu mencubit pipi Soyun gemas. “Ya, kau benar. Aku baru kali ini datang kemari.” balas Luhan dengan senyum manis.

Soyun tertawa mendengar jawaban Luhan. “Kalau begitu, berterima kasihlah padaku, Lu. Kalau kau tidak pergi denganku, kau tidak akan pernah merasakan hal-hal seperti ini.” Gadis itu kembali tertawa setelah ia menyelesaikan kalimatnya.

Luhan hanya terkekeh kecil melihat wajah lucu Soyun ketika gadis itu tertawa. Kemudian Luhan mengangguk, membenarkan apa yang Soyun katakan.

“Kau mau aku berterima kasih?” goda Luhan.

Keduanya kini kembali tertawa. Mereka berdua sibuk melempar candaan dan godaan satu sama lain. Tepat saat gadis itu ingin membalas godaan Luhan, pesanan mereka datang.

Soyun mengetukkan sumpitnya di meja, meratakannya sebelum menunjuk ke sebuah mangkuk. “Lebih baik kau coba bibimbab-nya dulu, cita rasa disini luar biasa enak.” Soyun menunjuk bibimbab yang ada di hadapan Luhan dengan sumpitnya.

Luhan memang pernah beberapa kali memakan bibimbab, tapi entah kenapa di matanya makanan itu terasa asing sekarang.

“Yang ini?” tunjuk Luhan pada mangkuk bibimbab-nya, tampak tidak yakin. Pemuda itu mendekatkan wajahnya ke dalam mangkuk bibimbab, guna mencium aroma masakan tersebut dan meyakinkannya bahwa makanan itu benar-benar enak dan layak dimakan.

Soyun  tertawa geli melihat Luhan yang mencium terlebih dulu makanan di hadapannya sebelum ia masukkan ke mulutnya, seolah makanan itu beracun.

“Jangan dibaui begitu, makanan itu tidak beracun, Luhan.” dan Soyun kembali tertawa.

Luhan tersenyum kikuk, kemudian ia mengambil sumpit dan mulai menyuapkan bibimbab itu ke dalam mulutnya.

Rasanya?

Ternyata benar, makanan itu benar-benar enak. Entah karena Luhan yang sudah lama tidak memakan makanan itu, atau memang rasa yang warung itu tawarkan benar-benar enak, entahlah.

Dengan tersenyum, Luhan kembali menyuapkan makanan enak itu ke mulutnya dengan semangat.

“Bagaimana? Enak?” tanya Soyun seraya memasukkan kimbap ke mulut kecilnya.

Luhan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Soyun balas tersenyum, kemudian gadis itu mengalihkan perhatiannya pada tumpukan kimbap yang ada di sebelah kanannya—yang salah satunya berhasil ia comot barusan. Gadis itu menyumpit satu dan menyodorkannya pada Luhan.

“Coba ini.”

Luhan menatap kimbap di ujung sumpit yang Soyun sodorkan, dan wajah gadis itu secara bergantian. Luhan memanyunkan bibirnya, kemudian ikut menyumpit satu kimbap juga, dan menyodorkannya pada Soyun.

“Aku mau coba kalau kau mencobanya duluan.” ancam Luhan seraya mendekatkan kimbap yang ada pada ujung sumpitnya ke bibir Soyun. “Ini, makan.”

Soyun menatap kimbap yang hendak Luhan suapkan padanya dengan ragu. Bukan karena ia ragu pada makanan yang pemuda itu minta Soyun untuk makan, tapi…

Kalau begini, berarti Luhan menyuapiku, ‘kan?

“Kenapa diam saja? Ayo makan. Kau mau tanganku kram karena berdiam dengan posisi begini dalam waktu yang lama?” protes Luhan. “Atau jangan-jangan makanan ini tidak enak, ya?”

Dengan segera Soyun tersadar dari lamunannya. Gadis itu melirik kimbap tersebut, dan kembali melirik Luhan. Pemuda itu memberi isyarat agar Soyun membuka mulutnya dan memakannya.

Dengan ragu, Soyun membuka mulut kecilnya dan membiarkan pemuda itu menyuapinya. Dan setelah makanan itu masuk, Luhan tersenyum manis.

Detak jantung Soyun mendadak cepat, dan tidak karuan.

Rona merah itu muncul kembali, sedikit demi sedikit.

Dan pemuda bernama Xi Luhan-lah penyebabnya.

.

“Kau tinggal di toko roti ini?” tanya Luhan begitu ia menghentikan mobilnya di depan sebuah toko roti, tempat dimana Soyun minta diturunkan.

Soyun yang tengah memakai jaketnya buru-buru menggeleng. “Bukan, rumahku masih cukup jauh dari sini.” Soyun tersenyum tipis. “Tapi harus masuk ke dalam gang sempit, dan mobilmu ini pasti tidak akan muat.” ujar Soyun beralasan.

Luhan menganggukkan kepalanya mengerti. Kemudian pemuda itu melepaskan tangannya dari setir dan menggenggam tangan Soyun erat.

“Hati-hati, ya. Eratkan jaketmu, udara di luar cukup menusuk.” Pesan Luhan dengan senyuman tulus, senyuman kesukaan Soyun.

Soyun tersenyum, kemudian melirik tangan besar Luhan yang menggenggam jemarinya dengan erat. “Pasti. Kau juga, ya. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut, jalanan sedikit licin.” Soyun mengelus tangan Luhan lembut. “Terima kasih sudah mengajakku keluar, aku senang.”

Dan saat itulah Soyun merasakan sesuatu yang dingin menyentuh kulit tangannya. Dengan penerangan seadanya, Soyun mencoba memfokuskan matanya pada tangan Luhan—lebih tepatnya pada jari tengah Luhan.

Sesuatu yang tampak tidak asing tertangkap oleh matanya. Sebuah benda yang selama belasan tahun menjadi satu-satunya benda yang harus ia rawat baik-baik—selain foto kedua orang tuanya. Sebuah benda yang menyimpan kenangan manis antara dirinya dengan cinta pertamanya. Sebuah benda yang…

Cincin itu…’

Benda itu melingkar manis di jari tengah Luhan, mengingatkannya pada benda serupa yang kini ia kalungkan di lehernya. Cincin kenangan yang hampir tidak pernah lepas darinya.

Soyun menatap Luhan dalam. ‘Kenapa cincin ini ada pada Luhan…?

“Soyun?” Luhan melambaikan tangannya di depan wajah Soyun, berusaha mengembalikan gadis Kim itu dari lamunannya. “Kau melamun? Ada apa?” Luhan menyentuh pipi dan kening Soyun. “Ada apa? Kau sakit? Atau kau pusing?”

Soyun menatap Luhan dengan tatapan menerawang, kemudian menggeleng lemah. “Ti…tidak, aku baik-baik saja.” Kemudian gadis Kim itu tersenyum tipis. “Sudah malam. Kau, cepatlah pulang. Hati-hati di jalan.”

Tangan Soyun bergerak membuka pintu mobil. Namun, ketika ia hendak keluar dari mobil, Luhan justru menahannya dengan menarik tangan Soyun, membuat gadis Kim itu kembali terduduk.

Entah mendapatkan keberanian dari mana, Luhan mendekatkan wajahnya pada Soyun, dan secara tiba-tiba mendaratkan sebuah ciuman lembut di pipi gadis itu.

“Selamat malam, Nona Kim.” bisik pemuda itu lembut di telinga Soyun, seraya tersenyum manis. Luhan menggerakkan tangannya untuk mengelus lembut kepala Soyun. “Tidur yang nyenyak. Sampai bertemu besok.”

Dan Soyun yang terlalu kaget dengan tidakan spontan Luhan, ia tidak tahu harus bagaimana, jadi yang bisa gadis itu lakukan hanya menatap pemuda itu tidak percaya. Kemudian menyunggingkan senyum tipisnya—yang sejujurnya agak ia paksakan sebelum keluar dari mobil.

“Se…selamat malam, Luhan.” ujar gadis itu pelan dan terdengar agak canggung. Kalau boleh jujur, saat ini jantung gadis itu rasanya sudah ingin meloncat keluar dari dadanya dan berdebar-debar tidak karuan. Tetapi entah mengapa bukan debaran bahagia yang ia rasakan.

Ada apa ini?

Sebelum pergi, tidak lupa Soyun melirik cincin yang Luhan kenakan sekali lagi.

Cincin itu……mungkinkah?

***

Wajah Soyun yang tampak pucat dan kurang bersemangat membuat Minjung berkali-kali harus menanyakan hal yang sama; apakah Soyun baik-baik saja?

Dan Soyun selalu menjawabnya dengan menganggukkan kepalanya, dan berusaha meyakinkan Minjung bahwa ia baik-baik saja. Tapi ayolah, Minjung tentu tidak sebodoh itu untuk mempercayai perkataan Soyun. Wajah pucat itu tidak bisa menipu. Dan lagi, Soyun yang biasanya selalu mengajak Minjung berbicara, yang selalu membuka percakapan di antara mereka, kini justru lebih banyak diam dan melamun.

“Ada yang mengganggu pikiranmu, Soyun?” tanya Minjung sekali lagi. Dan seperti sebelum-sebelumnya, Soyun hanya membalas dengan mengatakan bahwa ia baik-baik saja.

Minjung memutar bola matanya bosan. “Oh, baiklah, aku tidak akan bertanya lagi.”

Dan suasana kembali hening sekarang. Minjung kembali memperhatikan pelajaran, sedangkan Soyun kembali melanjutkan lamunannya. Kembali memikirkan Luhan, kejadian semalam, dan….cincin itu.

.

Soyun menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Hampir semua siswa kelas XI-1 kini mulai beranjak dari tempatnya dengan menenteng buku kimia mereka, mulai berpindah ke laboratorium untuk praktik kimia.

Semua, termasuk Baekhyun.

Soyun mengerjapkan matanya beberapa kali, kemudian mengerutkan alisnya heran. ‘Sejak kapan Baekhyun suka kelas kimia?’ tanya gadis Kim itu dalam hati. Dan ia terus bertanya-tanya dalam hati sampai akhirnya Baekhyun hilang dari jarak pandangnya, berbelok ke kiri, menuju ke laboratorium.

.

Pelajaran kimia sudah berjalan hampir setengahnya, namun Soyun tak juga mendengar Baekhyun mengeluarkan suaranya, melontarkan barang satu kata pun tidak. Soyun kini sedang berusaha mengenyampingkan masalah Luhan, dan gadis itu sudah kembali mencoba mengajak Baekhyun berbicara. Namun hasilnya nihil, tak satu pun perkataannya yang disahut oleh Baekhyun.

“Baekhyun…” panggil Soyun. Tak ada respon.

“Byun Baekhyun, jawab aku. Kau kenapa, sih?”

Masih tak ada respon.

“Baekhyun, ayolah jawab a—”

“Nona Kim Soyun. Sepertinya kau sibuk sekali berbicara, ya? Mau menggantikan saya berbicara di depan kelas?” tegur Ny. Goo dengan sedikit keras, membuat Soyun tersentak kaget.

“Ma-maaf, Ny. Goo. Maafkan saya. Saya akan lebih tenang.” ujar Soyun seraya bangkit dari duduknya dan membungkukkan badannya berkali-kali. Soyun menundukkan wajahnya dalam-dalam, berusaha menyembunyikan wajahnya karena menahan malu.

Dari tempatnya—di samping Soyun, Baekhyun hanya melirik tanpa memasang ekspresi apapun.

Tiba saat yang paling dibenci Baekhyun dari pelajaran kimia. Praktik. Baekhyun tidak masalah dengan menghafal dan menghitung rumus kimia dari suatu senyawa, atau apapun lah yang bisa dihitung. Tapi jujur, Baekhyun benci yang satu ini.

Alasannya simpel, ia tidak bisa membedakan cairan kimia yang satu dengan yang lainnya. Karena di mata Baekhyun, semua tampak sama saja.

Kejadian yang membuat Baekhyun trauma terhadap praktik kimia adalah…ia pernah hampir membakar laboratorium ketika secara tidak sengaja ia meletakkan cairan kental aerosol di dekat api pada saat percobaan bahan-bahan kimia berbahaya yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Ya, benar, ketika itu Baekhyun benar-benar hampir membakar laboratorium.

Ya, peristiwa itu cukup membuat Baekhyun trauma dan lebih memilih untuk tidak dekat-dekat dengan bahan-bahan kimia.

Karena itu Baekhyun lebih memilih untuk diam dan tidak banyak bicara agar tidak ditunjuk oleh Ny. Goo untuk memberi contoh cara mencampurkan bahan-bahan kimia dengan benar.

Baekhyun melirik gadis yang duduk di sampingnya. Gadis itu baru saja mendapat teguran dari Ny. Goo karena gadis itu ketahuan sedang ribut dan tampak sibuk berbicara sendiri. Dalam hati Baekhyun merasa sedikit iba, karena gadis itu ditegur salah satunya karenanya. Gadis itu mencoba berkali-kali berbicara padanya dan Baekhyun sama sekali tidak menggubrisnya. Melirikkan matanya pun tidak.

Alasannya jelas, karena kejadian Jum’at lalu. Dan lagi, semenjak ia bangun dari keadaan tidak sadarnya, Baekhyun memang merasa sedikit malas untuk berbicara.

Dan sialnya, ia malah disatukan dalam kelompok yang sama dengan gadis itu—juga Jongdae dan Lee Minjung.

Di depan kelas, Ny. Goo memberi arahan pada siswanya untuk mencampurkan beberapa cairan dengan kadar asam tinggi, asam lemah, basa tinggi, dan basa lemah untuk mengecek cairan atau larutan mana yang merupakan larutan penyangga.

Ny. Goo meminta para siswanya untuk berhati-hati pada larutan asam klorida karena panas dan dapat membuat kulit terbakar.

Soyun dan Jongdae kini sudah mulai bekerja dan mencampurkan cairan-cairan itu satu persatu. Sementara Lee Minjung, gadis itu baru saja meminta ijin kepada Ny. Goo untuk pergi ke toilet.

Baekhyun hanya diam, tidak berniat membantu sama sekali. Alasannya sudah jelas, ia trauma. Dan karena traumanya itu, Baekhyun benar-benar tidak ingin berhubungan dengan cairan-cairan berbahaya itu, sama sekali.

Soyun dan Jongdae sudah berhasil dalam mencampur beberapa larutan. Dan jujur saja Baekhyun tampak lega, karena berarti ia tidak harus ikut turun tangan lagi.

Namun sayang, baru saja ia merasa lega, tiba-tiba Soyun memintanya untuk menggeser beaker glass berisi air. Pasalnya, di depan Baekhyun ada dua beaker glass yang berisi cairan berwarna bening. Baekhyun tahu kalau salah satu dari kedua gelas itu berisi asam klorida, tapi sayangnya Baekhyun tidak tahu yang mana. Sebelumnya, Ny. Goo memperingatkan siswanya untuk minimal membaui lebih dulu untuk membedakan yang mana asam klorida, dan yang mana air.

Tapi karena rasa traumanya, Baekhyun dengan asal menggeser gelas yang paling dekat dengannya pada Soyun, yang kemudian disambut dengan ucapan terima kasih dan senyuman  dari sang gadis.

Baekhyun berdoa dalam hati, semoga ia tidak salah memberikan cairan.

Dan jeritan yang terdengar sekitar sepuluh detik setelahnya membuat Baekhyun mengutuk kebodohannya dalam hati. Kini, Ny. Goo dan seisi kelas—tidak terkecuali dengan dirinya—segera menolehkan kepalanya ke arah sumber suara, Kim Soyun.

Baekhyun hanya diam, dan menatap gadis yang terus merintih kesakitan itu, tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Sementara Ny. Goo kini dengan setengah berlari menghampiri gadis yang terus memegangi tangannya itu.

Jongdae melirik Baekhyun yang tampak diam, tidak melakukan apapun, seolah menandakan bahwa pemuda itu memang tidak peduli pada insiden yang baru saja dialami Soyun itu.

Dengan geram Jongdae segera mengambil gelas yang berisi air dan memerintahkan Soyun untuk memasukkan tangannya ke dalam situ, guna membersihkan cairan asam itu dari kulit tangan Soyun.

Melihat wajah Soyun yang tampak menahan sakit, membuat Jongdae merasa iba. Ia mengetahui cairan asam itu memberikan efek yang luar biasa sakit apabila terkena kulit manusia. Dan tidak lama lagi mungkin di tangan gadis itu akan tercipta sebuah luka bakar dan melepuh.

Tanpa basa-basi Jongdae menarik Soyun keluar dari laboratorium. “Ayo, kita ke ruang kesehatan sekarang. Lukamu harus segera diobati, Kim Soyun.” perintah pemuda Kim itu.

Seakan baru mengingat bahwa Ny. Goo masih disana, Jongdae membalikkan tubuhnya dan meminta ijin kepada guru kimianya itu untuk ke ruang kesehatan, seraya membungkukkan badannya sopan.

Dalam perjalanannya keluar dari laboratorium, Jongdae menyempatkan dirinya menatap Baekhyun dengan tajam dan geram. Menunjukkan bahwa Jongdae yang pada dasarnya baik hati kini murka pada Baekhyun.

Tidak terima, Baekhyun berlari menyusul Jongdae keluar laboratorium dan menahan pemuda Kim itu. “Hei, Kim Jongdae. Biarkan saja dia, kau tidak perlu membantunya.” ujar Baekhyun dengan nada yang terdengar tenang dan dingin, berbeda sekali dengan keadaan hatinya yang kini tidak karuan. Antara menahan emosi, merasa bersalah, dan…entahlah. Intinya perasaan Baekhyun campur aduk sekarang, seratus delapan puluh derajat berbeda dengan nada bicaranya yang terdengar tenang.

Jongdae menyentak tangan Baekhyun yang menahan lengannya, kemudian menatap Baekhyun dengan marah. “Kau taruh dimana otakmu, Byun Baekhyun?! Semua ini salahmu, dan kau bahkan tidak melakukan apapun pada luka di tangan Soyun.” Jongdae menarik kerah kemeja Baekhyun. “Dan kau seenaknya memintaku membiarkannya mengobati lukanya sendiri, begitu?!”

Jongdae sudah hampir melayangkan tinjunya pada Baekhyun kalau saja Soyun tidak berusaha melerai keduanya.

“Hentikan!” teriak Soyun dengan cukup keras. Dengan tangan yang belum terobati dan terasa perih, Soyun berusaha memisahkan keduanya. “Kalian berdua jangan bertindak bodoh dengan berkelahi disini!” teriak Soyun lagi, membuat Baekhyun dan Jongdae menurunkan tangan mereka dan kemudian memberikan perhatiannya pada Soyun.

Jongdae menggelengkan kepalanya, lantas kembali menarik Soyun menuju ke ruang kesehatan. Namun, bukannya mengikuti Jongdae, Soyun malah berusaha melepaskan tangan Jongdae yang menariknya. Hal itu tentu saja membuat Jongdae kembali menatap Soyun, kali ini dengan tatapan heran.

Soyun memaksakan sebuah senyum. “Kau, kembalilah, aku bisa melakukannya sendiri.”

Soyun menoleh sekilas pada Baekhyun sebelum akhirnya berlari menuju ke ruang kesehatan, sendirian.

Satu hal yang dapat Jongdae tangkap, gadis itu menahan tangis. Terlihat jelas genangan air di sudut maatanya dan suaranya yang bergetar saat berbicara. Entah menahan tangis karena tangannya yang sakit—karena insiden tadi—atau karena hatinya yang sakit melihat perilaku Baekhyun barusan.

Jongdae menatap punggung Soyun yang bergerak menjauh dengan tangan terkepal. Kemudian dengan langkah besar-besar, Jongdae kembali menghampiri Baekhyun.

Pemuda Kim itu benar-benar ingin menghantam Baekhyun saat ini juga. Namun ia mengerti, melakukan itu sama saja dengan menambah masalah dan memperburuk segalanya. Dengan berat hati, Jongdae mengubur keinginannya dalam-dalam dan hanya mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Menahan emosi.

Tidak lama Jongade mampu menahan emosinya itu, karena kemudian ia menarik kerah kemeja Baekhyun dan kembali membuat wajah mereka berhadapan dalam jarak cukup dekat. “Kenapa kau begini, Baekhyun?! Ada apa, denganmu?!”

“Sadar, Byun Baekhyun! Apa yang sudah gadis itu lakukan padamu sampai kau sejahat itu padanya? Tidak lihatkah kau usahanya untuk mengajakmu berbicara, hah?!” Jongdae berteriak, marah.

Jongdae melepas cengkramannya pada kerah kemeja Baekhyun, kemudian mendorong pemuda Byun itu dengan keras hingga membentur tembok.

Baekhyun mengerang. Punggungnya yang membentur tembok terasa sakit, walau sedikit. Pemuda Byun itu menatap Jongdae dengan tatapan geram. Ia hendak membalas, tapi tidak jadi begitu ia mendengar penuturan Jongdae berikutnya.

“Kau tahu, Baekhyun? Dia adalah satu-satunya orang yang menanyakanmu saat kau tidak masuk, satu-satunya orang yang peduli dan mengkhawatirkanmu.”

“Ngomong-ngomong gadis itu mana, ya?” tanya Jongin seraya menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan gadis yang disebut-sebut oleh pemuda Kim itu. Gadis yang kita semua kenal dengan nama Kim Soyun.

Baekhyun dan ketiga kawannya—tanpa Jongdae—kini sedang duduk santai di Coffee Bean. Tentu saja Jongdae tidak ikut, mengingat bagaimana pemuda itu masih marah besar pada Baekhyun dan tidak mau bicara padanya seharian sejak pelajaran kimia berakhir. Dengan kata lain, mereka bertengkar.

Mata Kyungsoo dan Jongin tampak sibuk mengedar untuk mencari sosok gadis Kim itu. Sedangkan Baekhyun kini sedang berkutat dengan ponselnya, seolah tampak sibuk. Dan Tao hanya menatap ketiganya dengan tatapan heran tanpa pernah sekali pun bertanya.

“Sejak tadi, aku bahkan tidak melihat sehelai pun rambutnya.” keluh Jongin dengan tangan yang ia lipat di depan dada. Sejak keempat pemuda itu melangkahkan kakinya masuk kemari, memang Jongin lah yang paling semangat mencari gadis itu.

Untuk tujuan yang jelas, menjalankan misinya—menggantikan hukuman Baekhyun.

Baekhyun mengalihkan perhatiannya sejenak pada Jongin dan melirik pemuda itu tajam. ‘Oh, semoga saja Soyun tidak masuk kerja hari ini…’ harapnya dalam hati. Tidak melihat batang hidung Soyun di café ini saat ini justru membuat Baekhyun merasa lega. Karena berarti, Jongin tidak bisa menjalankan misi gilanya dan Kyungsoo itu.

Oh, dua orang sialan.

Itulah makian yang terus Baekhyun ulang-ulang dalam benaknya sejak mereka datang ke café ini. Melihat Jongin tampak begitu bersemangat membuat Baekhyun ragu dan khawatir pada keselamatan Soyun.

Kalau bukan tentang keselamatan dirinya, minimal keselamatan ‘harga’ diri-nya.

Baekhyun yang sejak tadi berusaha tidak mempedulikan keseriusan Jongin kini mulai geram. Pasalnya, semakin Jongin tampak bersemangat, semakin berbahayalah keadaan sang gadis nantinya.

Tunggu, kenapa ia begitu mengkhawatirkan Soyun?

Baekhyun mematikan ponselnya lalu meletakkannya dengan kasar ke atas meja, hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras—dengan maksud menarik perhatian kawan-kawannya. Baekhyun menatap Jongin tajam. “Hei Jongin, kenapa kau sepertinya semangat sekali, hah? Padahal ini, ‘kan, hukumanku.”

Tao terkekeh. “Kalau bagi Jongin sih ini bukan hukuman, tapi keberuntungan. Aku benar, ‘kan?” pemuda yang sejak tadi hanya diam itu kini mulai angkat bicara, dan dari apa yang ia katakan barusan, tampak kalau pemuda itu mendukung Jongin. Bukan menjatuhkan Jongin, seperti yang Baekhyun harapkan.

Baekhyun mendengus kesal dan menatap ketiga kawannya secara bergatian. “Ya, brengsek. Sudahlah, tidak usah kalian lanjutkan permainan ini.” ujarnya dengan nada yang terdengar sedikit memohon. Terdengar aneh memang, tapi kalau boleh memohon, Baekhyun memang akan memohonkan hal yang satu itu.

Taruhan yang dibatalkan, demi keselamatan ‘harga diri’ Soyun, dan menjauhkan gadis Kim itu dari marabahaya. (re: Jongin)

Kyungsoo menoleh pada Baekhyun yang duduk tepat di samping kanannya. “Kenapa? Ah, Baekhyun, kau ini tidak seru sekali.” protes Kyungsoo dengan nada merajuk. “Aku hanya ingin melihat reaksi gadis polos sepertinya, saat dicium oleh Jongin di depan umum seperti ini. Oh ayolah, ini akan menarik. Kau pasti juga ingin melihatnya, ‘kan, Baekhyun?”

Baekhyun melotot. “Aku? Ingin melihatnya?” Baekhyun menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Tidak. Gila kau, Do Kyungsoo. Sudahlah, henti—hmmp!”

Belum selesai Baekhyun berbicara, Kyungsoo sengaja memotongnya dengan membekap mulut Baekhyun dengan tangan kanannya. Kemudian pemuda Do itu menolehkan kepalanya pada Tao dan tersenyum manis. “Oh iya, Tao. Nanti kita—ah maksudku kau, jangan lupa memotretnya, ya.”

.

Baekhyun terus berharap Soyun absen hari ini. Entah gadis itu sakit atau apa, Baekhyun tidak peduli. Pokoknya gadis itu absen, titik.

Selama hampir satu jam mereka menunggu, Baekhyun merasa harapannya tampaknya dikabulkan oleh Tuhan. Ia hampir saja memuji Tuhannya itu dengan segenap jiwa sampai pada akhirnya Baekhyun harus—dengan sangat terpaksa—menundanya, karena sejurus kemudian sosok Soyun tampak di sekitaran meja kasir.

Dengan gayanya yang biasanya, kunciran ekor kuda, ciri khas gadis Kim itu.

Baekhyun mengutuk gadis itu dalam hati karena tidak mengubah gaya rambutnya, karena jika penampilannya mencolok begitu, makan Jongin dan Kyungsoo akan mengenalinya dengan mudah.

Dalam hitungan menit, Baekhyun harus menelan ludahnya dengan susah payah ketika melihat Soyun mulai mengedar untuk mengantarkan pesanan pelanggan. Terlebih lagi ketika sosok mungil itu harus berkeliaran di sekitaran mejanya dan ketiga kawannya. Baekhyun benar-benar berharap Kyungsoo dan Jongin tidak menyadarinya.

Tapi sayang, sungguh sangat disayangkan karena kedua kawan brengseknya itu mengenalinya. Dan kedua makhluk itu kini tampak sibuk berbisik, menyusun rencana tentang bagaimana cara menjalankan hukuman Baekhyun yang digantikan oleh Jongin dengan senang hati.

“Hei brengsek, kubilang henti—”

“Ssshh,” Kyungsoo meletakkan satu jarinya di depan bibirnya yang berbentuk hati itu. “Jangan bawel, Baekhyun. Toh bukan kau yang menjalaninya, ‘kan?”

Baekhyun membuang napasnya cepat. “Tapi aku—”

“Hei, kau, Nona! Kemarilah!” teriak Jongin yang duduk berseberangan dengan Baekhyun. Dengan ragu, Baekhyun menoleh ke arah belakang, ke arah mata Jongin menatap—yang dengan sangat Baekhyun yakini adanya sosok gadis Kim itu disana.

Dan memang Baekhyun tidak salah, sedikit pun.

Di belakang sana, tampak Soyun yang menoleh ke arah meja mereka dengan tatapan bertanya, meminta untuk diyakinkan kalau memang yang dipanggil itu adalah dirinya—atau bukan.

Kyungsoo dan Jongin mengangguk dengan penuh semangat, berusaha meyakinkan Soyun kalau memang ialah yang mereka maksud.

Soyun melangkahkan kakinya dengan ragu menuju ke meja keempat pemuda yang kehadirannya cukup mengganggu bagi Soyun. Jujur saja, sebenarnya Soyun enggan melangkahkan kakinya ke meja itu, dan menyesali dirinya sendiri yang dengan bodoh muncul di dekat meja para pemuda brengsek itu. Tapi berhubung sang manajer mengawasinya dari sudut ruangan, mau tidak mau ia harus menahan seluruh perasaannya dan tidak menolak panggilan itu.

Dan lagi, di meja itu ada seorang Byun Baekhyun.

Baekhyun melirik Soyun ragu. Kalau boleh jujur, Baekhyun sebenarnya masih gengsi untuk bertemu dengan Soyun—apalagi bertemu dengan gadis Kim itu diluar jam sekolah seperti ini. Mengingat kejadian di laboratorium beberapa jam yang lalu; bagaimana ia berlaku jahat pada Soyun dan justru setelah itu dia mengetahui fakta bahwa Soyun-lah yang paling mengkhawatirkannya membuat hati Baekhyun luluh seketika.

Dan ia merasa malu, dan juga gengsi.

Karena rasa gengsinya kini sangat besar, Baekhyun buru-buru mengalihkan perhatiannya dari Soyun dan kini menatap kosong pada lantai.

Semakin dekat langkah Soyun ke mejanya, semakin kencanglah debaran di hati Baekhyun. Semua itu karena perasaan khawatir. Yah, begitulah, Baekhyun harap sebatas perasaan itu saja.

Pemuda Byun itu menutup kedua matanya rapat dan berusaha tidak memperdulikan percakapan singkat yang berisi basa-basi penuh godaan dari Jongin yang kini tengah mengalun di udara. Selain menutup matanya, Baekhyun pun berusaha menulikan telinganya.

Namun gagal, karena Baekhyun masih bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.

Soyun menanyakan alasan mengapa pemuda-pemuda itu memanggilnya kemari. Dan Jongin membalasnya dengan “Aku merindukanmu.”

Oh Tuhan. Kalau Baekhyun bisa memotong mulut Jongin saat itu juga, pasti Baekhyun sudah melakukannya sejak tadi, bahkan tidak menyisakan barang potongan kecil rahang pemuda Kim itu. Dua kata itu terdengar begitu menjijikkan di telinga Baekhyun, apalagi kalau sebagai pendengar, kau tahu maksud yang sebenarnya.

Tidak seperti gadis pada umumnya, digoda seperti itu bukannya membuat Soyun senang, justru gadis itu tampak geram.

Wajar, mengingat betapa bosan dan kesalnya Soyun karena selama empat hari melihat pemuda berkulit tan itu di tempat yang sama, wajah menggoda yang sama, dan tawaran yang sama; pulang bersama atau pun kencan berdua.

Meskipun Soyun tahu sikapnya tidak sopan, mengingat keempat pemuda ini juga termasuk pelanggannya—meskipun Soyun tidak pernah menganggap mereka begitu, tapi Soyun tidak segan-segan mengeluarkan makiannya atau pun menunjukkan rasa sebalnya secara gamblang.

Bisa diambil contoh: saat ini gadis Kim itu tengah melipat kedua tangannya di depan dada dan menatap Jongin dengan tajam dan kesal. Napasnya yang tidak teratur menunjukkan bahwa gadis Kim itu tengah menahan emosinya. Dan matanya yang menyorot tajam pada Jongin menunjukkan dengan pasti siapa yang menjadi objek utama kemarahannya.

“Bisakah kau tutup mulut besarmu itu, Tuan?” sindir Soyun dengan nada yang benar-benar tidak mengenakkan. “Aku bukan gadis di luar sana yang bisa kau rayu, kau dekati seolah kau benar-benar peduli lalu nanti kau injak-injak harga dirinya.” Soyun menggeleng keras. “Tidak, aku tidak begitu. Pergilah dari sini, dan cari gadis macam itu diluar sana. Tentu masih banyak yang berkeliaran.”

Perkataan bernada amat-sangat-tajam itu terlontar dengan mulus dari bibir Soyun. Dan yah, benar-benar mengalir begitu saja tanpa sempat dicegah. Seolah itulah isi hati gadis Kim itu selama empat hari ini.

“Aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku.” Soyun tersenyum sinis. “Yeah, aku tidak segan-segan mengadu pada manajer bahwa kalian mengganggu pekerjaanku. Dan tentu saja manajer akan membe—”

Perkataan Soyun terputus karena secara tiba-tiba Jongin menarik tangan Soyun agar lebih dekat dengannya. Kemudian dengan tangan Jongin yang masih menggenggam tangan Soyun erat, Jongin berdiri. Tinggi pemuda Kim itu, yang kurang lebih sepantaran dengan Sehun, membuat Soyun mau tidak mau harus sedikit mengangkat kepalanya untuk dapat melihat wajah Jongin.

Dan Soyun baru menyesali perbuatannya itu—menatap wajah Jongin—beberapa detik setelahnya. Ekspresi wajah Jongin seketika membuat nyali Soyun sedikit menciut.

Dari raut wajahnya, pemuda Kim itu tampak siap menerkam Soyun kapan pun. Dengan warna kulitnya yang terbilang cukup eksotis dan wajah yang tidak bisa dibilang jelek, Jongin sengaja memasang smirk andalannya yang memang biasa ia gunakan untuk menggoda para gadis. Untuk menggetarkan hati mereka yang lemah terhadap pesona seorang pria macam Kim Jongin ini.

Dengan sedikit bergetar dan langkah yang ragu-ragu, Soyun bergerak mundur. Keberanian untuk menentang Jongin luruh sedikit demi sedikit. Berganti dengan perasaan takut yang menderanya.

“Ma-mau apa kau?!” tanya Soyun sedikit menantang. Yah, meskipun ia sadar nada suaranya kini sedikit bergetar akibat rasa takut itu.

Jongin tidak menjawab pertanyaan Soyun. Malahan, pemuda Kim itu semakin mendekatkan tubuh pada Soyun. Tangan kanannya bahkan ia letakkan di belakang kepala gadis itu. Seakan siap dengan posisinya untuk mencium bibir gadis itu tanpa ampun.

Perlahan Jongin menghapus jarak diantara wajahnya dan wajah gadis itu.

Harusnya Soyun berontak. Harusnya ia mendorong Jongin. Atau kalau lebih ekstrim, harusnya ia menghajar pemuda itu dan menghabisinya sekarang juga. Tapi apa?

Tubuh Soyun mendadak kaku seketika, kala hidungnya—yang notabenenya tidak terlalu mancung—mulai bersentuhan dengan hidung milik pemuda bernama Kim Jongin itu. Gadis itu menahan napasnya di saat napas Jongin mulai mengusap lembut permukaan kulit wajahnya. Sedikit lagi, sampai bibir pemuda itu menyentuh bibir tipisnya dan menghancurkan semuanya. Pertahanannya, harga dirinya, dan segalanya.

Meskipun tidak melihat secara langsung—karena Baekhyun memang tidak mau menyaksikannya, Baekhyun dapat melihat adegan itu lewat sudut matanya. Wajah Baekhyun mengeras, dan tangannya kini terkepal kuat. Baekhyun geram, sangat geram.

Dan ketika bibir Jongin hampir menyentuh bibir Soyun, secara tiba-tiba Baekhyun bangkit dari kursinya. Pemuda Byun itu mendekat ke arah Jongin dan Soyun, lalu dengan sekuat yang ia bisa, ia mendorong bahu Jongin, dan menarik kerah pemuda Kim itu.

“Sudah kubilang, Kim Jongin. Hentikan permainan ini!” teriak Baekhyun dengan marah. Wajah pemuda itu merah padam, tampak sekali kalau sahabatnya itu berusaha menahan amarahnya—meskipun akhirnya pertahannya tampak runtuh sedikit demi sedikit.

Jongin menyentak tangan Baekhyun dari kerah kemejanya dan balik menarik kerah Baekhyun kasar. “Hei, Byun Baekhyun! Ada apa, denganmu? Bukankah aku sudah berbaik hati menggantikan hukumanmu?” Jongin tertawa mengejek. “Harusnya kau berterima kasih padaku, kawan.”

Sungguh, kalimat Jongin barusan membuat Baekhyun kini sampai di puncak kemarahannya. Jongin bilang Baekhyun seharusnya berterima kasih? Untuk apa? Karena menggantikannya mencium Soyun?

Baekhyun menyingkirkan tangan Jongin dari kerah kemejanya dan mendorong pemuda Kim itu kasar. “Hei, brengsek, apa aku pernah berkata bahwa aku setuju?” Baekhyun menggeleng seraya tersenyum miring. “Tidak, sama sekali aku tidak mengatakan bahwa aku setuju.”

Baekhyun melempar tatapan peringatannya pada Jongin. “Jangan dekati dia lagi, Kim Jongin. Semuanya sudah selesai.”

Pemuda Byun itu menarik napasnya dalam, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Soyun. Meskipun ragu, Baekhyun tetap melangkahkan kakinya mendekat ke arah Soyun yang kini tengah menunduk dalam sambil menggigiti bibirnya. Tangan gadis itu gemetar.

Gadis Kim itu masih syok, dan Baekhyun jadi merasa sangat bersalah karenanya.

“Soyun…” panggil Baekhyun lirih. Pemuda Byun itu mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Soyun, hendak mengelusnya lembut. Setidaknya untuk menenangkannya dan memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.

Namun sayangnya, belum sempat Baekhyun melaksanakan hal tersebut, sebuah tamparan keras ditelakkan ke pipi sebelah kiri Baekhyun. Membuat wajah pemuda itu kini menghadap ke arah kanan.

Semua pasang mata di tempat itu sontak menoleh ke titik yang sama, memandang mereka—Soyun dan Baekhyun dengan pandangan kaget dan tidak percaya. Alasannya cukup jelas, pemandangan seorang pelayan yang menampar pelanggannya sama sekali bukan sesuatu yang pantas. Namun nampaknya sebagian orang kini malah menganggap insiden barusan seperti sedang menonton drama percintaan remaja yang sering ditayangkan di televisi. Dan membuat membuat keduanya—Soyun juga Baekhyun—menjadi pusat tontonan gratis di tempat itu.

Baekhyun menatap Soyun tidak percaya. Barusan ia ditampar?

“Apa aku begitu rendah?” tanya Soyun dengan wajah yang tampak menyedihkan. Gadis Kim itu terlihat sekali menahan emosinya dan juga air mata yang kini menggenang hebat di sudut matanya, siap jatuh kapan saja.

“Aku tanya sekali lagi, apa aku begitu rendah di mata kalian? Sehingga kalian bisa seenaknya menjadikanku seperti boneka kalian dan mempermainkanku seperti ini?!”

Baekhyun dan Jongin terdiam membisu. Begitu pula dengan Tao dan Kyungsoo—si penyebab utama semua masalah ini.

Suara Soyun bergetar dan genangan air mata di pelupuk mata Soyun kini perlahan mengalir membasahi pipi mulusnya, membuat hati Baekhyun serasa teriris melihatnya. Tapi Baekhyun justru tidak bisa mengatakan apapun, tidak bisa mengelak tuduhan Soyun sedikit pun, karena kini ia merasa lidahnya kelu.

Dengan mata dan pipinya yang sudah basah, dengan sorot mata yang tajam, Soyun menatap Baekhyun. Dalam, dan menghujam. “Apa kalian pikir karena aku hanya seorang pelayan disini, lantas aku tidak memiliki harga diri?!”

Yah, semua ini memang menyangkut harga diri. Dan memang harga diri Soyun ini lah yang sejak tadi ingin Baekhyun lindungi. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur dan Baekhyun bukanlah seorang pengendali waktu, yang bisa seenaknya mengambalikan waktu dan memperbaiki segalanya. Yang perlu Baekhyun lakukan saat ini adalah menenangkan Soyun, dan meluruskan kesalahpahaman ini.

“Soyun, bukan begitu. Aku…” Baekhyun berusaha membuka mulutnya dan mulai menjelaskan. Sekali lagi, tangannya hendak bergerak meraih gadis itu—mengusap air matanya, bahkan merengkuh gadis itu kedalam pelukannya. Baekhyun ingin melakukannya saat ini juga.

Tapi sayang, jangankan meraih gadis itu, bicaranya saja mendadak gagu dan entah mengapa tidak ada satu pun penjelasan masuk akal yang hinggap di otaknya saat ini. Dan tangannya seakan terserang kram mendadak dan sulit sekali digerakkan. Entah mengapa.

Baekhyun terus berusaha, namun usahanya itu dihentikan oleh Soyun yang secara tiba-tiba mengambil salah satu gelas di meja Baekhyun dan menumpahkan isinya pada Baekhyun. Membuat pemuda itu semakin kacau dan terlihat seperti bajingan yang seringkali menyakiti hati perempuan.

“Kau sama saja sepertinya, Byun Baekhyun. Kau sama seperti mereka.”

“Dan aku sangat membencimu.”

 

___TBC___

 

Hai hai hai 😀

Fyuhhhh gimana dengan chapter ini? Wah rasanya makin kesini makin panjang aja ya chapternya hehe-_- semoga kalian nggak bosen deh bacanya meskipun kepanjangan._.

Ngomong-ngomong ini sebenernya puanjaaaaaaaaaaangggg banget loh kalo nggak aku bagi jadi Part A dan Part B. Aslinya bisa sekitar 60 atau 70 halaman lebih X_X woh bayangin aja FF panjangnya segitu /udah kayak mau nulis novel jadinya/ sementara aku baca ff normal yang lain, itu perkiraanku sekitar 20-30 halaman mungkin. Jadi FF ini rada terlalu berlebihan halamannya-_-

Part B nya bakalan aku post sesegera mungkin, Insya Allah minggu depan deh ya 😀 

Tapi mohon maaf, sepertinya part B akan aku PROTECT 🙂

Aku mengucapkan terima kasih yang sangat teramat banyak pada Kak Dita yang sudah sangat berbaik hati mau direpotkan dan mengijinkan aku memposting FF ini disini. Aku padamu kak ❤ Wo ai ni. Saranghae. I love you. Je t’aime. Ik hou van je. Pokoknya aku sayang Kak Dita pake banget deh :’D ❤

Aku dan kakakku udah banyak nyuri-nyuri waktu luang buat ngetik sepanjang ini disela-sela sibuknya pemantapan dan kegiatan sekolah, jadi kami berharap kalian bisa ngehargain usaha kami untuk nulis ini dengan TIDAK menjadi SILENT READERS 😀 karena kadang aku merasa yang meninggalkan komentar semakin sedikit. :’

Ditunggu ya kritik, saran, serta support dari kalian semua buat author supaya semangat dan nggak bosen ngelanjutin FF ini. Jangan lupa untuk meninggalkan jejak berupa komentar serta like dari kalian ya. Itu sangat berharga. Terimakasih banyak 😀 ❤

Dan silahkan mampir ke WP aku ya disini http://12miracles.wordpress.com/ 😀

 

XOXO

@pitalokaaa_ & @hppyyyy

572 responses to “Story Of My Love [Chapter 6A : Catching Feelings]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s