[ONESHOT] Delicious

Delicious

—Storyline by AlinePark @angiiewijaya—

Main Cast

Nam Woo Hyun [Infinite] as Nam Woo Hyun
Kim Ki Bum or Key [SHINee] as Kim Ki Bum
Jung Ae Seok [OC’s]

Other Cast
Find by Yourself

Genre
Romance, School Life, Friendship

Length
Oneshot

Rating
PG-13/Teenager

Delicious

Inspiration Came From
Toheart – Delicious

Happy Reading

“Ae Seok-a!”

Seorang gadis membalikkan tubuhnya begitu mendengar suara seseorang memanggil. Seorang laki-laki datang menghampirinya sambil tersenyum.

“Mau pulang bersama?”

Gadis itu alias Ae Seok mengangguk sambil tersenyum.

Akhirnya, mereka Ae Seok dan laki-laki itu berjalan bersama melewati lorong sekolah yang ramai karena memang sekarang adalah jam pulang. Murid gadis yang berada di sekitar mereka langsung berbisik-bisik bahkan berteriak.

“YA! WOO HYUN OPPA ITU MILIKKU!”

“JANGAN MENTANG-MENTANG KAU CANTIK KAU BISA MENGAMBIL WOO HYUN OPPA YA!”

Ekspresi Ae Seok yang awalnya berpura-pura ‘baik-baik saja’ berubah menjadi terkejut ketika tiba-tiba ia merasakan earphone di telinganya. Ia menoleh ke arah laki-laki di sampingnya. Woo Hyun.

Woo Hyun melepaskan salah satu earphone Ae Seok. “Tidak usah dengarkan mereka.” ujarnya sambil memasangkan earphone itu lagi.

Ae Seok bisa melihat kabel earphone itu mengarah ke saku celana Woo Hyun. Dan sekilas, ia bisa melihat iPod hitamnya yang sedikit muncul keluar. Ae Seok hanya tersenyum melihat perlakuan laki-laki di sampingnya itu.

Saat sudah jauh dari sekolah, Ae Seok melepaskan earphone itu dan memberikannya kepada Woo Hyun.

“Aku rasa sudah tidak ada yang berteriak-teriak lagi. Lagipula, tidak enak mendengarkan lagu ketika bersama orang lain.” ujar Ae Seok sambil tersenyum.

Woo Hyun hanya tersenyum sambil mengambil earphone tersebut. Tidak lupa, ia mematikan lagu pada iPod-nya.

“Gomawo.” ujar Ae Seok lagi.

Woo Hyun mengangguk.

“Oh, iya, kenapa kau sangat dingin kepada para fans-mu?” tanya Ae Seok.

“Aku tidak dingin. Aku sering menerima hadiah dari mereka dan membalas sapaan mereka.” jawab Woo Hyun.

Ae Seok menggeleng. “Bukan itu, hanya saja, kenapa kau tidak mencoba berpacaran dengan salah satu dari mereka? Sikapmu itu sering membuat mereka salah paham, kau tidak mau dibilang sebagai pemberi harapan palsu kan?”

Woo Hyun tertawa pelan. “Aku kan ramah karena memang aku ramah, bukan karena aku menyukai mereka. Ah, ralat, aku menyukai mereka karena mereka fans-ku, apa ya bisa dibilang. Aku tidak bisa memberikan perasaanku ke mereka seperti perasaanku ke orang yang kutaksir.”

“Memangnya, siapa gadis yang kau taksir?”

“Eh?”

Woo Hyun salah tingkah. Ia menunduk sambil menggaruk kepalanya, tidak berani menatap Ae Seok.

“Sebenarnya aku…”

“Ah, sudah sampai depan rumahku. Aku harus duluan tampaknya,  aku harus menjaga adikku yang sakit. Lain kali kau harus memberitahuku ya. Lihatlah, wajahmu merah sekali!” goda Ae Seok sambil tertawa.

Woo Hyun hanya mencoba untuk tertawa sambil melihat Ae Seok yang meninggalkannya sambil melambaikan tangan ke arahnya.

“Cepat sembuh untuk Eun Jo ya!” teriak Woo Hyun sambil melambaikan tangannya. Ae Seok menjawabnya dengan seulas senyuman.

Setelah memastikan gadis itu masuk ke dalam rumah, Woo Hyun melanjutkan perjalanannya dengan raut wajah yang tidak terlalu senang.

Nam Woo Hyun. Laki-laki yang sekarang duduk di kelas 3-1 tingkat sekolah menengah atas, sangat kaya, tampan dan diidolakan oleh banyak gadis di sekolahnya. Tapi bukan berarti ia adalah laki-laki yang sering memainkan perasaan perempuan. Pada faktanya, sampai sekarang ia hanya pernah menyukai satu orang gadis. Jung Ae Seok. Sahabat sejak kecilnya itu.

Percaya atau tidak, Woo Hyun mulai menyukai gadis itu ketika berada di kelas tiga bangku sekolah dasar. Woo Hyun selalu menemani Ae Seok ketika Ki Bum—sahabat Woo Hyun dan Ae Seok—pergi ke Jepang. Ia sering menghibur gadis itu agar selalu tersenyum dan tertawa. Berlama-lama dengan gadis itu membuatnya merasa tertarik. Awalnya, ia pikir itu semua perasaan bodoh sementara yang dirasakan oleh murid sekolah dasar. Tapi, ia salah, ia menyukai gadis itu hingga saat ini.

Sedangkan Kim Ki Bum, ia sudah kembali ke Korea dan bahkan menjadi orang yang duduk di sampingnya di kelas. Tentu saja itu menjadi kabar yang sangat gembira bagi Ae Seok dan Woo Hyun sendiri. Tapi, ada satu hal yang sangat mengejutkan Woo Hyun.

Hari itu adalah hari pertama Ki Bum berada di sekolah yang sama bersama Woo Hyun dan juga hari pertama di tahun ajaran baru. Pada saat jam makan siang, Woo Hyun mengajaknya pergi ke kantin. Woo Hyun memilih untuk mencari tempat duduk dan menyuruh Ki Bum membeli makan siang agar ia tahu lingkungan kantin.

“Woo Hyun-a!”

Woo Hyun menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Ae Seok yang memanggilnya. Woo Hyun melambaikan tangannya dan Ae Seok datang menghampirinya.

“Ayo duduk.” ujar Woo Hyun.

“Ah, mianhae, temanku tiba-tiba mengajakku untuk kerja kelompok Biologi yang harus dikumpul besok. Memangnya, kelasmu tidak ada tugas Biologi?” tanya Ae Seok, yang memang berbeda kelas dengan Woo Hyun. Ia berada di kelas 3-4.

“Ada sih. Tapi kelompokku sudah selesai.” jawab Woo Hyun. “Ya, masa kau tidak bisa sebentar saja di sini? Kau kan sudah janji untuk makan siang bersamaku hari ini. Kau lupa aku ingin memberitahumu sesuatu?”

“Mianhae Woo Hyun-a, aku benar-benar sudah tidak ada waktu untuk mengerjakan tugas itu. Kita kan nanti masih bisa bertemu. Ya ya ya?” ujar Ae Seok dengan nada aegyo.

Woo Hyun menghela nafas sambil mengacak sedikit rambutnya. “Baiklah, kerjakan saja tugasmu.”

“Ahh, gomawo Woo Hyun-a! Kau memang sahabatku yang terbaik!” jawab Ae Seok sambil mengacungkan ibu jarinya. “Kalau begitu, aku duluan ya! Annyeong!”

“Ae Seok-a!”

Ae Seok yang sebelumnya sudah melangkah meninggalkan Woo Hyun, kembali membalikkan tubuhnya sambil menatap dengan arti ‘ada-apa-?’.

“Jangan lupa makan siang.” jawab Woo Hyun sambil tersenyum tipis.

Ae Seok mengangguk sambil tersenyum. Ia lalu melambaikan tangannya dan benar-benar pergi meninggalkan Woo Hyun.

“Siapa gadis itu?”

Woo Hyun menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Ki Bum yang sudah datang sambil membawa nampan makanan. Mendengar pertanyaan itu, Woo Hyun membulatkan matanya.

“Apa tadi yang kau tanyakan?”

Ki Bum duduk di depan Woo Hyun dan menatapnya santai. “Siapa gadis itu?”

Woo Hyun mengatur nafasnya. “Ya! Memangnya ia berubah drastis ya? Atau kau yang pikun? Dia Ae Seok, Jung Ae Seok!”

UHUK!

Ki Bum yang memang sebelumnya sedang minum langsung tersedak dan menatap Woo Hyun tak percaya. “Kau tidak bercanda kan?”

“Aniya. Untuk apa aku bercanda.”

Ki Bum mengerjapkan matanya sambil mengingat-ingat wajah gadis itu. “Kenapa ia cantik sekali?” tanya Ki Bum.

“Kau baru tahu?” jawab Woo Hyun sambil berusaha menahan senyumnya di tengah kegiatan mengunyahnya. Mengingat kalau Ae Seok adalah gadis yang ia taksir dan sahabatnya mengakui bahwa gadis itu cantik merupakan suatu kebanggaan tersendiri.

Ki Bum tiba-tiba tersenyum-senyum sendiri. “Apa aku jatuh cinta pada pandangan pertama setelah tidak lama bertemu?”

Kali ini Woo Hyun yang tersedak makanannya. Ia menatap tak percaya ke arah Ki Bum.

“Jatuh cinta? Pandangan pertama?” tanya Woo Hyun, memastikan pendengarannya.

Ki Bum mengangguk pasti. “Kenapa aku baru menyadari kalau gadis itu cantik ya? Apa mungkin karena dulu kita masih kecil dan ia sering menangis?”

Woo Hyun langsung memukul meja kantin hingga membuat beberapa murid di sekitarnya menoleh ke arahnya.

“Ya! Kim Ki Bum! Kau pikir kau bisa mengambil Ae Seok begitu saja, huh?!” ujar Woo Hyun dengan suara pelan agar tidak didengar oleh murid yang lain. Tetapi meski begitu, nadanya terdengar sangat tajam dan matanya begitu membara.

“Ahh, jadi kau juga suka dengan Ae Seok ya?” tanya Ki Bum. “Kita ini memang bersahabat tapi selalu bersaing ya. Kau masih ingat tidak waktu itu kita paling sering bertengkar untuk mendapatkan buku cerita di sekolah pada saat taman kanak-kanak? Dan ah, pada saat di awal sekolah dasar kita kan berbeda tim dalam futsal. Tapi setelah itu aku pindah ke Jepang. Kalau sekolah menengah pertama, aku kan masih di Jepang. Dan sekarang, ketika kita sudah di sekolah menengah atas, kita mengincar gadis yang sama?”

Woo Hyun menghela nafas berat tak percaya dengan sahabatnya yang satu ini. Dari dulu, mereka memang tidak bisa lepas dari ‘barang rebutan’. Dan lebih parahnya, sekarang mereka sedang mengincar gadis yang sama.

Woo Hyun kembali menatap tajam ke arah Ki Bum. “Baiklah, mari kita lihat siapa yang akan mendapatkan Ae Seok nantinya!”

“Kalau kau kalah, kau harus menari di tengah lapangan, dan begitu juga sebaliknya, ok?” tantang Ki Bum.

“Baiklah, kita lihat hingga kelulusan nanti, Kim Ki Bum!”

Ya. Hingga sekarang mereka berdua masih meneruskan pertarungan mereka mendapatkan Ae Seok. Meski begitu, mereka bertiga masih sering bersama seperti dulu. Seperti sekedar makan siang atau pulang bersama. Tapi, tentunya Woo Hyun dan Ki Bum sering bertengkar ketika pulang bersama Ae Seok. Kebetulan saja kali ini Ki Bum ada tugas piket, sehingga Woo Hyun bisa dengan bebas berduaan dengan Ae Seok.

Pada suatu hari, Woo Hyun, Ki Bum, dan Ae Seok pulang bersama dengan berjalan kaki. Ae Seok berjalan di tengah-tengah, sedangkan Woo Hyun-Ki Bum berada di kiri dan kanannya. Mereka berdua tidak pernah berhenti bertengkar selama perjalanan.

“Hey, kau ada tugas tidak hari ini?” tanya Woo Hyun.

“Ada tugas matematika, kenapa?”

Woo Hyun langsung merangkul Ae Seok sambil menunjukkan deretan gigi putihnya. “Ah, bagaimana kalau aku membantumu? Kebetulan kelasku sedang tidak ada tugas.”

Ki Bum tertawa sambil menampar tangan Woo Hyun agar melepas rangkulannya dan tangannya yang kali ini merangkul gadis itu. “Tidak usah belajar dengan Woo Hyun. Dia itu sangat payah di matematika. Dia saja sering tidur di kelasnya.”

Woo Hyun menatap tajam ke arah Ki Bum, kemudian tersenyum manis ke arah Ae Seok. “Ya, Ae Seok-a, aku ini memang sering tidur, tapi aku masih bisa menjawab soal dengan baik.” ujarnya sambil menampar tangan Key tanpa menghilangkan senyumannya ke arah Ae Seok.

Ki Bum kali ini berjalan mundur di depan Ae Seok agar gadis itu bisa melihatnya. “Sudahlah, bersamaku saja, ok? Kau ingin mengerjakan tugasnya di mana? Di restoran? Kafe? Jika iya, aku akan mentraktirmu dan tentunya mengajarimu. Kau tidak akan mendapat traktiran dari Woo Hyun, dia itu sangat pelit.”

Woo Hyun menatap kesal ke arah Ki Bum dan melakukan posisi yang sama sepertinya. Tidak lupa ia juga mendorong Ki Bum menjauh. “Ae Seok-a, aku ini tidak pelit kok. Ki Bum mengejekku pelit karena waktu itu ia memaksaku untuk meminjamkan uangku, padahal waktu itu dompetku ketinggalan. Tapi, dia tetap mengejekku pelit. Dia ini memang jahat sekali.” ujarnya sambil menunjukkan wajah aegyo.

“Ya! Kapan aku memaksamu meminjamkan uangmu kepadaku?!” teriak Ki Bum tidak terima.

Ae Seok tertawa pelan kemudian mendorong punggung kedua laki-laki itu agar kembali melihat ke arah jalan dan berada di kiri-kanannya kembali. Ia menggandeng kedua lengan laki-laki itu.

“Sudahlah, bagaimana kalau kita mengerjakannya bersama-sama?” tanya Ae Seok sambil menunjukkan senyum manisnya.

Woo Hyun dan Ki Bum saling menatap satu sama lain dengan tatapan tidak mau kalah. Mereka berdua kemudian menatap Ae Seok.

“Ayo!” jawab mereka berdua serempak sambil menarik Ae Seok yang langsung terkejut dengan kelakuan mereka berdua.

Woo Hyun terduduk-bersandar di sofa sambil mengunyah keripik kentang entah untuk keberapa kalinya. Satu keripik kentang sedaritadi tidak habis ia lahap. Matanya sendiri melihat ke arah langit-langit rumahnya. Di sekitarnya, ada tiga orang yang sedang duduk di lantai sambil terfokus pada playstation sambil menikmati cemilan.

Yang pertama adalah Kim Mi Jung. Satu-satunya yang berbeda jenis kelamin di antara mereka semua. Mi Jung berada di sekolah yang sama dengan Woo Hyun. Ia berada di kelas 3-3. Selain itu, ia adalah ketua OSIS di sekolah.

Kedua, Kim Myung Soo. Ia merupakan adik Mi Jung dan juga berada di sekolah yang sama. Sekarang, ia berada di kelas 2-1. Wajahnya yang sangat tampan membuatnya terkenal di sekolah.

Dan yang terakhir adalah Kim Sung Gyu. Ia juga sudah berada di bangku kelas tiga sekolah menengah atas. Hanya saja, ia berbeda sekolah dengan yang lainnya.

Kembali ke Woo Hyun.

Ada apa dengan laki-laki itu?

“Ya! Kau kenapa sih?! Sedaritadi hanya bengong, bahkan keripik kentangmu tidak habis-habis. Kau tidak lihat Sung Gyu sudah menghabiskan tiga bungkus. Dan playstation-mu juga sedaritadi hanya dikuasai oleh dua manusia ini.” ujar Mi Jung, kesal sendiri melihat Woo Hyun yang bertingkah aneh.

Sung Gyu yang baru saja mengganti kaset playstation melihat ke arah Woo Hyun. “Kau sedang ada masalah?”

“Aniya.” jawab Woo Hyun dengan ekspresi datar.

“Ah, jangan-jangan masalah Ae Seok lagi ya?” tanya Myung Soo sambil menunjuk Woo Hyun.

“Hey, ayolah cerita. Aku, Mi Jung, dan Myung Soo kan juga sahabatmu. Setidaknya kita sudah bertahun-tahun menjadi tetanggamu.” ujar Sung Gyu.

Mereka bertiga melihat ke arah Woo Hyun dengan tatapan penasaran yang sangat mendalam. Bahkan, playstation dibiarkan menyala begitu saja. Woo Hyun yang awalnya tak acuh dan berpura-pura melihat ke arah yang lain langsung menghela nafas berat dan turun dari sofa.

“Kalian benar-benar penasaran ya?” tanya Woo Hyun menatap mereka satu-satu.

Mereka bertiga mengangguk serempak.

“Sebentar lagi kan valentine. Aku takut tidak mendapatkan coklat.”

“MWO?!”

“Ya! Kau ini kan terkenal di sekolah, pasti kau akan mendapat coklat yang banyak!” ujar Mi Jung.

“Aku belum selesai bicara!” protes Woo Hyun. “Maksudku dari Ae Seok. Ki Bum kan sekarang sudah kembali ke Korea.”

Mereka semua terdiam. Kebetulan, mereka semua sudah mendengar seluruh cerita Woo Hyun. Tentang perasaan laki-laki itu kepada Ae Seok, tentang Ki Bum, dan semuanya.

“Kau kenapa pesimis begitu. Kan kalian bertiga bersahabat, pasti Ae Seok akan memberikan coklat.” hibur Mi Jung.

“Aku tidak yakin.”

Mereka bertiga langsung melihat ke arah satu sama lain dan kembali melihat Woo Hyun yang sudah bersiap membuka mulut.

Jam makan siang tiba. Woo Hyun pergi ke kantin sendirian. Awalnya, ia berpikir Ki Bum dan Ae Seok akan menyusulnya. Tapi ternyata salah. Dari saat ia membeli makanan hingga ia menghabiskan makanannya, ia hanya sendirian dan tidak melihat kedua sahabatnya itu.

Akhirnya, ia pergi untuk mencari keduanya. Pada awalnya, ia mencoba untuk mencari ke kelas, tapi hasilnya nihil. Dan pada saat di kelas Ae Seok, baru saja ia akan keluar dari sana, tiba-tiba seorang murid perempuan memanggilnya. Ia pun membalikkan tubuhnya.

“Biasanya Ae Seok berada di ruang musik. Ia sering bermain piano di sana.”

“Ah, gomawo.” jawab Woo Hyun yang kemudian benar-benar meninggalkan kelas Ae Seok.

Sesampainya di depan ruang musik, Woo Hyun ingin mengejutkan Ae Seok. Tapi ketika ia membuka pintu, sebuah pemandangan membuatnya terhenti.

“Kau sudah bisa kan?” tanya gadis yang sedang dicari oleh Woo Hyun. Ae Seok.

Seorang laki-laki di sampingnya mengangguk. Ia pun kemudian mencoba memainkan piano yang berada di depannya.

Woo Hyun masih tertegun di depan pintu. Bukan, bukan karena permainan laki-laki itu sangat bagus, malah laki-laki itu masih baru belajar memainkannya. Tapi karena melihat ekspresi Ae Seok kepada laki-laki itu. Tatapannya sangat dalam dan sangat penuh ketertarikkan. Bahkan jika Woo Hyun bisa katakan, Ae Seok tidak berkedip sama sekali sama seperti senyumannya yang tidak pernah pudar.

Tidak. Woo Hyun sudah yakin bahwa tatapan Ae Seok kepada laki-laki itu memang sangat berbeda. Sudah cukup belasan tahun untuk mengenali gadis itu sedalam-dalamnya.

Ia ingat, ia pernah meminta Ae Seok untuk mengajarinya piano di tempat yang sama. Tapi, gadis itu hanya terus melihati tangannya dan sering memberhentikan permainannya karena ia selalu salah dan salah.

Woo Hyun mengecangkan pegangannya pada gagang pintu. Ia masih susah untuk percaya pemandangan di depannya.

Dan, JLEB.

Tiba-tiba kepala Ae Kyeong menyandar pada pundak laki-laki itu.

“Ae Seok-a.” ujar laki-laki itu terkejut.

“Sekali saja. Aku senang mendengarmu memainkannya. Meski kau belum belajar, tapi terdengar di telingaku, Ki Bum-a.”

Woo Hyun menutup pintu ruang musik dan pergi dari sana.

Mereka bertiga tertegun. Mereka tidak bisa membayangkan menjadi seorang Woo Hyun yang menyukai seorang gadis untuk bertahun-tahun dan berakhir seperti ini?

“Gwenchana, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku.” ujar Woo Hyun tiba-tiba. Ia menatap ke arah mereka bertiga. “Mungkin memang aku hanya bisa menjadi sahabat yang baik untuknya. Cinta bertahun-tahun, kalah dengan cinta pandangan pertama.”

“Ya, Woo Hyun-a, kenapa kau—“

“Tadi aku nyaris saja mengungkapkan perasaanku ketika ia bertanya siapa orang yang kusuka. Perasaanku rasanya sakit lagi pada saat itu. Tapi, pada saat aku dan Ae Seok hanya berjalan berdua bercanda ria, aku lupa dengan rasa sakit itu.” Woo Hyun memotong kalimat Mi Jung. “Aku sudah menjaga Ae Seok untuk waktu yang sangat lama. Besok akan menjadi hari terakhirku menjaganya dan menyerahkannya kepada siapa yang seharusnya menjaganya.” tambah Woo Hyun. Laki-laki itu berusaha tersenyum. “Ah, Mi Jung-a.”

“Ne?” tanya Mi Jung terkejut mendengar Woo Hyun memanggilnya tiba-tiba.

“Ajari aku bermain piano, malam ini juga.”

Ae Seok keluar dari kelas begitu bel jam makan siang berbunyi. Baru saja berada di depan pintu, seseorang menariknya dan membawanya dengan cepat. Ae Seok sendiri tidak sempat melihat siapa orang itu karena terfokus kepada langkahnya agar tidak jatuh.

BLAM!

Ae Seok baru tersadar ia sekarang berada di ruang musik ketika langkahnya terhenti. Matanya kemudian melihat ke arah orang yang berada di depannya.

“Woo Hyun-a?”

Woo Hyun membalikkan tubuhnya. “Kau mau menemaniku di sini kan?”

Ae Seok mengangguk sambil tersenyum.

Woo Hyun duduk di tempat piano dan Ae Seok mengambil sebuah bangku agar bisa duduk di samping laki-laki itu.

“Kau mau minta kuajari main piano lagi?” tanya Ae Seok.

Woo Hyun menggeleng. “Hanya ingin mengobrol. Aku…, ingin menanyakan sesuatu.”

Ae Seok memiringkan kepalanya. “Menanyakan apa?”

Woo Hyun menghela nafas berat kemudian menatap dalam ke arah Ae Seok. “Siapa laki-laki yang kau sukai?”

“Ne?”

Woo Hyun tersenyum. “Aku ini kan sahabatmu. Aku hanya ingin tahu dan barangkali membantumu untuk mendapatkan orang itu. Tiba-tiba saja, aku terpikirkan masalah itu. Selama ini kan, kita tidak pernah membahas masalah seperti ini.”

Mata Ae Seok melihat sekeliling tampak berpikir. “Kau benar-benar ingin tahu?”

“Sebenarnya iya, tapi aku tidak bisa memaksamu juga kan? Aku hanya ingin mencoba untuk mendekatkanmu dengan laki-laki itu. Ya jika aku bisa.”

Ae Seok menundukkan kepalanya. “Sebenarnya selama ini aku menyukai Ki Bum,”

GOTCHA!

“aku berkenalan dengan kalian di waktu yang sama. Tapi, aku pernah bertemu dengan Ki Bum sebelumnya. Saat di taman kanak-kanak, ia menolongku karena aku jatuh dari sepeda. Aku senang dengannya dan berharap bisa bertemu dengannya. Ternyata, malah lebih. Aku bersahabat dengannya dan denganmu.”

“Aku pikir, itu hanya cinta kanak-kanak, yang polos dan tidak ada artinya. Tapi aku salah. Rasanya tertekan sekali ketika mendengar ia akan pergi ke Jepang. Dan kebahagiaan tersendiri ketika bisa melihatnya lagi ketika kita berada di bangku kelas tiga hingga sekarang.”

Ae Seok menoleh ke arah Woo Hyun. “Kau terkejut?”

Hanya seulas senyuman muncul dari wajah Woo Hyun.

Ae Seok kemudian tampak berpikir sambil bergumam ‘mmm’ yang muncul dari mulutnya. “Kalau kau? Kau suka dengan siapa? Barangkali juga aku bisa membantumu.”

Woo Hyun tertawa terpaksa. “Kau tidak akan bisa.”

“Kenapa tidak bisa? Aku ini kan sahabatmu. Ah, atau aku tidak mengenali gadis itu?”

“Kau mengenali gadis itu kok. Sangat mengenalinya.”

“Benarkah? Nah, beritahu aku, aku akan membantumu jika aku bisa.”

Woo Hyun mendengus pelan. “Kau tidak akan bisa.”

“Ayolah, kumohon, aku saja sudah memberitahu rahasiaku.”

Woo Hyun menoleh ke arah Ae Seok sambil menaikkan salah satu alisnya. “Kau benar-benar ingin tahu?”

Ae Seok mengangguk sambil mengeluarkan ekspresi aegyo nya.

“Baguslah, kalau begitu aku tidak perlu memintamu untuk mendengar curahan hatiku karena kau yang memintanya.” ujar Woo Hyun sambil tersenyum.

Ae Seok baru saja bersiap untuk mendengarkan Woo Hyun. Tapi laki-laki itu bukannya membuka mulut, tetapi tangannya malah memegang piano tersebut. Dan sedetik kemudian, tangannya memainkan melodi yang sangat indah.

I pray for all your love,
Girl our love is so unreal,
I just wanna reach and touch you,
squeeze you, somebody pinch me

Ae Seok tercengang mendengar permainan dan nyanyian yang dilakukan oleh Woo Hyun. Seingatnya Woo Hyun sama sekali tidak bisa bermain piano dan ia tidak pernah tahu bahwa laki-laki itu memiliki suara yang bisa dikatakan ‘suara emas’. Di samping itu, ia masih berusaha untuk mencerna arti lagu itu. Ah, bukan, apa maksud Woo Hyun menyanyikan lagu itu.

This is something like a movie,
And I don’t know how it ends girl,
But I fell in love with my bestfriend

Karena hanya ada mereka berdua di sana, Ae Seok bisa merasakan aura Woo Hyun yang sangat mencengkram. Suara dan permainannya yang sangat tidak bisa dibayangkan oleh siapapun. Gadis itu sendiri sama sekali tidak memotongnya dan hanya mendengarkannya.

I fell in love with my bestfriend,
I remember when I said I’d always be there,
Ever since we were ten, baby

(Best Friend, by Jason Chen)

“Kau sudah bisa menangkap yang kumaksud?” tanya Woo Hyun setelah menyelesaikan permainannya.

Ae Seok terdiam. Ia mengerti apa semua maksud Woo Hyun. Jatuh cinta kepada sahabatnya. Ya, gadis itulah yang Woo Hyun cintai.

“Aku tidak memaksamu. Aku hanya ingin menyatakannya sebelum kau benar-benar menjadi milik orang lain. Aku akan membantumu untuk mendapatkan Ki Bum. Aku bisa menjaminnya.”

“Mianhae Woo H—“

“Kau tidak perlu meminta maaf. Kemarin, aku melihat semuanya. Bagaimana kau menatapnya dan rasa nyaman yang kau rasakan saat bersamanya. Aku tidak keberatan. Asal kau bahagia, itu sudah membuatku juga bahagia. Aku ini kan sahabatmu. Aku akan selalu melindungi dan membantumu.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Woo Hyun bangkit berdiri dan pergi meninggalkan Ae Seok sendirian. Gadis itu sendiri hanya terdiam dan berusaha menahan air mata yang tergenang pada matanya.

I fell in love with my bestfriend

Semua murid sudah keluar dari kelas. Hanya tersisa Woo Hyun dan Ki Bum di dalam kelas.

“Ada yang mau kau bicarakan?” tanya Ki Bum santai seperti biasa. Mereka berdua memang akur ketika tidak sedang bertengkar masalah Ae Seok.

Woo Hyun mengeluarkan iPhone-nya dan tampak mengotak-atik layarnya. Ki Bum sendiri hanya melihatinya bingung. Tak berapa lama, suara sebuah rekaman keluar dari alat itu. Ki Bum mendengarnya dan hingga pada suatu bagian yang membuatnya diam membeku.

“Sebenarnya selama ini aku menyukai Ki Bum,”

“aku berkenalan dengan kalian di waktu yang sama. Tapi, aku pernah bertemu dengan Ki Bum sebelumnya. Saat di taman kanak-kanak, ia menolongku karena aku jatuh dari sepeda. Aku senang dengannya dan berharap bisa bertemu dengannya. Ternyata, malah lebih. Aku bersahabat dengannya dan denganmu.”

“Aku pikir, itu hanya cinta kanak-kanak, yang polos dan tidak ada artinya. Tapi aku salah. Rasanya tertekan sekali ketika mendengar ia akan pergi ke Jepang. Dan kebahagiaan tersendiri ketika bisa melihatnya lagi ketika kita berada di bangku kelas tiga hingga sekarang.”

Rekaman itu berlanjut terus hingga berakhir.

“Kau menang. Congrats.” ujar Woo Hyun sambil tersenyum.

“Ya, kau bercanda ya? Aku tidak pan—“

“Bagaimana aku bisa bercanda? Ini rekaman asli! Kau pasti sudah mengenali suara Ae Seok kan? Ini benar-benar Ae Seok!” protes Woo Hyun.

Ki Bum tersenyum tipis. “Meski aku percaya diri bertanding denganmu. Tapi aku sempat berpikir untuk menyerah.”

Woo Hyun menaikkan alisnya.

“Ya, aku rasa aku tidak tahu banyak tentangnya. Kau tidak ingat ketika kita pergi ke mall waktu itu?”

Woo Hyun tampak berpikir. “Ah, itu, aku ingat itu.” ujarnya. “Ya itu kan karena aku lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya, makanya aku tahu banyak apa yang ia sukai.”

Ki Bum terdiam. Ia menghela nafas sambil menundukkan kepalanya.

Tawa pelan keluar dari mulut Woo Hyun. “Ya! Aku akan membantumu, tenang saja. Lusa sudah valentine. Bagaimana kalau lusa kau menyatakan perasaanmu?”

“Woo Hyun-a. Aku memang menyukainya, tapi bagaimana dengan ka—“

“Kau tidak usah memikirkanku. Kita kan memang sedang berkompetisi. Tentu harus ada yang menang bukan? Dan kaulah pemenangnya. Ya, sekalipun memang sakit rasanya. Tapi aku menerimanya dengan lapang dada.”

Lagi-lagi Ki Bum hanya bisa terdiam. Ketika membayangkan akan menang terasa sangat menyenangkan. Tapi pada kenyataannya, sangat berat untuk menang dari seorang sahabat.

Woo Hyun tersenyum melihat sahabatnya itu. “Baiklah, kuberi kau syarat untuk menjadikannya kekasihmu.”

Ki Bum menoleh ke arah Woo Hyun. “Apapun akan kulakukan.”

“Jaga ia. Sudah cukup aku menjaganya. Kali ini giliranmu.”

Kali ini, tawa pelan keluar dari mulut Ki Bum. “Kau pikir bodyguard apa? Kita berdua kan memang dari dulu menjaganya.”

“Berdua? Bukannya hanya aku? Kau saja tidak tahu apa yang ia sukai.”

“Ya! Nam Woo Hyun! Itu kan—“

Woo Hyun tertawa. “Aku hanya bercanda.” jawabnya sambil bangkit berdiri, menghampiri Ki Bum yang duduk di atas meja guru. Ia memegang kedua pundak sahabatnya itu.

“Kau harus lebih baik dariku, mengerti? Aku akan membantumu untuk lusa.”

Ki Bum tersenyum sambil mengangguk. “Gomawo, Woo Hyun-a.”

Sekitar beberapa bulan yang lalu, Woo Hyun, Ae Seok, dan Ki Bum pergi ke mall untuk menonton bioskop. Tentunya, Woo Hyun dan Ki Bum bertengkar untuk masalah tempat duduk. Akhirnya, Ae Seok pun duduk di tengah yang berkonsekuensi akan mendapatkan rangkulan atau segala aksi modus dari kedua laki-laki itu.

Setelah menonton, mereka bertiga pergi berjalan-jalan. Woo Hyun tampak asik membelikan Ae Seok ini dan itu. Ya, inilah insiden ‘di mall’ yang Ki Bum katakan sebelumnya.

Ae Seok dan Ki Bum duduk di sebuah kursi mall karena menunggu Woo Hyun yang entah pergi ke mana.

“Ke mana sih Woo Hyun?” eluh Ae Seok.

“Entahlah.” jawab Ki Bum pasrah.

Di saat-saat yang membosankan itu, tiba-tiba seseorang datang dan berlutut di depan Ae Seok. Wajah dan tubuhnya tidak terlihat jelas karena orang itu memegang sebuah teddy bear yang sangat besar. Awalnya, Ae Seok dan Ki Bum keheranan. Tapi, tiba-tiba orang itu menggeserkan teddy bear nya ke samping dan menunjukkan wajahnya.

“Untukmu, putri Ae Seok.” kata orang itu sambil memberikan teddy bear nya.

“Aigoo, Woo Hyun-a! Gomawoyo!” jawab Ae Seok sambil tersenyum manis dan menerima teddy bear tersebut. “Astaga, ini lucu sekali! Kau tahu saja aku suka teddy bear!”

Woo Hyun hanya nyengir dan menunjukkan senyum kemenangan ke arah Ki Bum.

Akhirnya, mereka bertiga pergi berjalan-jalan lagi. Tangan Ae Seok tetap memeluk boneka pemberian Woo Hyun dan Woo Hyun merangkul gadis itu. Ki Bum hanya menatap mereka berdua dengan tatapan kesal dan iri.

Ki Bum sendiri berusaha mencari ide untuk menyenangkan hati Ae Seok. Ia melihat ke sekeliling mall. Dan hingga pada akhirnya, ia melihat tempat minuman yang memang cukup terkenal dan diminati banyak orang.

“Ah, apa kalian tidak haus? Ayo kita ke sana saja! Aku akan mentraktir kalian!” ajak Ki Bum.

Ae Seok dan Woo Hyun melihat ke arah yang ditunjuk oleh Ki Bum.

“Ah boleh juga. Bagaimana denganmu Woo Hyun?”

“Aku sih ayo saja.”

Mereka bertiga menuju tempat itu dan membiarkan Ki Bum yang mengantri untuk membeli minuman tanpa menanyakan apa yang mereka mau. Selama menunggu, Ae Seok tidak berhenti-hentinya memainkan teddy bear yang dibelikan oleh Woo Hyun. Diam-diam, Ki Bum melihatinya dengan tatapan cemburu. Sedaritadi, emosinya masih memuncak.

Sekitar beberapa menit kemudian, Ki Bum kembali dengan membawa tiga buah minuman.

“Mango untukku, bubble milk tea untuk Woo Hyun, dan strawberry yogurt untuk Ae Seok!” ujar Ki Bum sambil meletakkan ketiga minuman tersebut.

Wajah Ae Seok mendadak menjadi tidak enak ketika melihat minuman tersebut. Woo Hyun pun menyadari akan hal itu.

“Ah, Ae Seok-a, kau tidak suka strawberry yogurt kan? Tukar saja denganku. Kau kan suka bubble milk tea, dan kebetulan aku tahan dengan rasa asam!” ujar Woo Hyun sambil menukar minumannya dengan minuman Ae Seok.

Ae Seok sebenarnya tidak enak dengan Ki Bum. Tapi, ia benar-benar tidak suka dengan strawberry yogurt.

“Ah, mianhae Ae Seok-a, aku tidak tahu kalau kau tidak suka strawberry yogurt. Biasanya, banyak gadis yang menyukainya. Harusnya, tadi aku bertanya dulu kepadamu.”

Ae Seok tersenyum sambil menggeleng. “Gwenchana, aku seharusnya yang tidak enak denganmu.”

Ki Bum hanya menghela nafas dan meminum minumannya tanpa ‘hasrat’ sedikit pun. Ia hanya melihati Woo Hyun yang benar-benar mengenali Ae Seok.

Setelah mereka meminum minuman mereka, mereka memilih untuk duduk sebentar di sana.

“Ah, Ae Seok-a!” tiba-tiba Woo Hyun memanggil gadis itu.

“Ne?”

Tiba-tiba Woo Hyun membuka sebuah bag yang memang daritadi ia bawa. Isinya adalah sebuah dus dan ia membukanya juga. Terlihat sebuah flat shoes berwarna pink berada di dalamnya. Woo Hyun mengambil satu pasang, kemudian berlutut di depan Ae Seok untuk kedua kalinya.

“Tidak masalah kan aku memasangkannya untukmu?” tanya Woo Hyun. Tanpa jawaban dari Ae Seok, ia membuka salah satu flat shoes yang dipakai gadis itu dan memakaikannya flat shoes berwarna pink itu.

“Kau suka tidak? Aku juga membelikan ini untukmu. Kau suka warna pink kan?” tanya Woo Hyun.

“Ya, kau seharusnya tidak usah membelikanku ini semua.” Jawab Ae Seok sambil tertawa pelan.

“Ya, sekali-kali aku membelikan hadiah untukmu, aku tidak masalah.” Ujar Woo Hyun sambil tersenyum manis ke arah Ae Seok. Tetapi, ketika ia menoleh ke arah Ki Bum, ia lagi-lagi menunjukkan senyuman kemenangan.

Ki Bum benar-benar dilanda emosi. Ia meremukkan gelas minuman yang terbuat dari plastik itu dan nyaris saja ingin membantingnya jika tidak ada Ae Seok. Gadis itu pasti sangat kebingungan dan suasana akan kacau.

Woo Hyun benar-benar mengenali gadis itu. Pikir Ki Bum pada saat itu.

Malam valentine pun tiba. Sekolah pun ramai karena merayakan valentine. Ki Bum pun sudah mempersiapkan seluruh yang ia butuhkan untuk menyatakan perasaannya malam itu. Ia akan membuat hari itu menjadi hari yang paling indah baginya dan Ae Seok, ditambah tanda terimakasihnya kepada seseorang yang menjadi konsultannya untuk hari ini. Konsultan yang sudah merelakan perasaannya untuk sahabatnya.

Nam Woo Hyun.

Pada malam itu, Ae Seok pergi ke taman dekat sekolah. Tepat tadi pagi ia mendapat pesan dari Ki Bum untuk menghampirinya tepat pukul sembilan malam. Perasaannya heran dicampur dengan tegang.

Dari jauh, ia melihat taman itu sangat gelap. Tapi, ketika ia memasukki taman itu, tiba-tiba lampu menyala. Sebuah jalur yang dipagari dan dipenuhi tumbuhan merambat menuntunnya berjalan. Ia pun mengikutinya sambil menikmati pemandangan indah di sekitarnya.

Hingga pada akhirnya, ia sampai di sebuah bundaran kecil dan di sana ia bisa melihat Ki Bum duduk di sebuah bangku dan di sampingnya ada sebuah boneka teddy bear besar berbaju berwarna pink.

Annyeong nae sarang oneul ttara yeppeune
Eodireul gadeun siseondeuri jipjung dwae

You Are My lady How beautiful You Are
Gotta go gotta go mami ganeun daero
Baby I Want To Know

Setelah menyanyi bagian tersebut, Ki Bum menarik lengan Ae Seok dengan halus untuk duduk di bangku yang baru saja ia duduki. Ia berdiri dan melanjutkan nyanyiannya. Tidak lupa, di dekat mereka ada seorang gitaris yang mengindahkan nyanyian Ki Bum.

I’m Ready! 1, 2, 3 And Feel The groove
(baby) jigeumbuteon My Show Time
Meoributeo bal kkeutkkaji nan
Make You Perfect

My lady! Jenteul han deut teopeu hage
(ne mam) Up And down ppajyeodeulge
Meoributeo bal kkeutkkaji neon
My Kind Of lady

Kali ini ia melanjutkannya dengan sedikit tarian.

Maekkeunhan dari summakhige seksihae
Barameul tago nallineun neoui Perfume

You Are My lady How beautiful You Are
Gotta go gotta go mami ganeun daero
Baby I want to know

Lagi-lagi Ae Seok dibuat terkejut dengan munculnya Woo Hyun yang menyanyikan dua bait dari lagu itu. Tapi setelah itu, laki-laki itu melakukan high five singkat dengan Ki Bum dan pergi meninggalkan mereka berdua.

Annyeong nae sarang

1, 2, 3 And Feel The groove

1, 2, 3 And Feel The groove
(baby) jigeumbuteonMy Show Time
Meoributeo bal kkeutkkaji nan
Make You Perfect

Jenteul han deut teopeu hage
(ne mam) Up And down ppajyeodeulge
Meoributeo bal kkeutkkaji neon
My Kind Of lady

Make You Perfect

My Kind Of lady

1, 2, 3 And Feel The groove
Jigeumbuteon My Show Time

(You’re My Lady, by Toheart)

Setelah Ki Bum menyeselaikan lagu itu. Tiba-tiba ia berlutut di depan Ae Seok sambil memberikan sebuah bunga mawar merah. Ae Seok sendiri terkejut dan menutup mulutnya.

Ki Bum berusaha memantapkan dirinya. Ia berdeham pelan.

“Aku Kim Ki Bum. Malam ini, aku membuat pengakuan di depan seorang gadis. Gadis yang sudah mencintaiku sejak kecil. Yang merasa tersakiti ketika aku pergi ke Jepang.”

Ae Seok membulatkan matanya. Ia merasa malu dengan kalimat Ki Bum.

“Aku sangat meminta maaf atas semua itu. Aku sama sekali tidak peka dengan perasaan gadis itu pada saat dulu. Perasaan seorang gadis yang dianggap hanya perasaan kekanak-kanakkan, tetapi ternyata bertahan hingga sekarang.”

“Tapi, tenang saja. Kali ini, gadis itu tidak perlu menahannya. Karena akhirnya Kim Ki Bum sudah membuka pintunya sejak pertama kali bertemu kembali dengan gadis itu. Kim Ki Bum pun mengaku pada gadis itu sekarang. Kim Ki Bum sangat mencintai gadis itu dan tidak akan membiarkan gadis itu pergi darinya. Malam ini, Kim Ki Bum akan membuatnya menjadi miliknya.”

“Kali ini, giliran Kim Ki Bum yang menjaga gadis itu. Membahagiakan gadis itu. Meski ia sama sekali tidak tahu bahwa gadis itu tidak suka strawberry yogurt.”

Ae Seok tertawa di sela-sela rasa malunya.

“Dan gadis itu adalah Jung Ae Seok.”

Ae Seok tertawa karena malu sambil menutup mulutnya saking terkejutnya. Wajah gadis itu benar-benar merah dan matanya berair. Tetapi perlahan, tangannya mulai mengambil bunga mawar merah itu.

“Aku tidak salah membeli bunga kan?” tanya Ki Bum.

Ae Seok menggeleng. “Aniya. Kau benar.”

“Jadi, apa jawabanmu tuan putri?”

“Jawaban apa?” tanya Ae Seok menunduk malu. Tetapi senyum dan ekspresi harunya tidak hilang.

“Ah, benar, sang Kim Ki Bum lupa menanyakannya.” Ujar Ki Bum. “Apakah tuan putri Jung Ae Seok menerima Kim Ki Bum yang tidak sempurna untuk menjadi kekasihnya?”

Ae Seok berusaha menghapus air matanya yang sudah mengalir dan melihat ke arah sekitar. “Sekalipun sang Kim Ki Bum tidak tahu bahwa tuan putri tidak suka strawberry yogurt dan meminta bantuan kepada Nam Woo Hyun, tuan putri Jung Ae Seok menerimanya menjadi kekasih, karena cinta itu tidak membutuhkan kesempurnaan.”

Ki Bum tersenyum sambil tertawa pelan. Ae Seok sendiri tertawa. Tapi tiba-tiba, ekspresi Ki Bum menjadi bingung. Ia menatap Ae Seok serius.

“Kau kenapa tahu aku meminta bantuan Woo Hyun?”

“Kau pasti mencari apa yang kusuka dari Woo Hyun kan? Kau tahu aku suka teddy bear dan hijau karena Woo Hyun membelikannya untukku kan? Itu kan secara tidak langsung merupakan bantuan Woo Hyun. Dan bunga mawar merah ini, pasti kau berkonsultasi kepada Woo Hyun. Laki-laki itu juga menyanyi tadi.”

“Ya! Kalau masalah menyanyi itu karena kita membuat lagu itu berdua! Aku tidak mau lagu ini diketahui oleh orang lain jika hanya satu orang yang menyanyikannya. Aku memaksanya, ya meski akhirnya bagian Woo Hyun dirubah.”

Ae Seok tertawa. “Duduklah di sampingku. Jangan berlutut terus, memangnya kau tidak pegal apa?”

“Ah, benar juga. Sekarang kan Kim Ki Bum sudah milik sang tuan putri.” Goda Ki Bum sambil duduk di samping Ae Seok. Ae Seok pun kembali tertawa.

Tiba-tiba, Ae Seok memeluk Ki Bum dengan erat.

“Gomawoyo Bummie~”

“Oh, jadi kau sudah ada panggilan sayang untukku?” lagi-lagi Ki Bum menggodanya.

Ae Seok mengangguk. “Kau akan memanggilku apa?”

Ki Bum tampak berpikir membuat Ae Seok penasaran. “Ah, namamu aneh sekali jika dijadikan panggilan sayang. Aku lebih suka memanggilmu ‘chagi’ atau ‘honey’~”

Ae Seok lagi-lagi tertawa. “Ya terserah padamu, yang penting panggilan itu hanya kau yang menyebutkannya.” Jawabnya sambil meletakkan kepalanya di pundak Ki Bum. “Coba panggil aku dengan panggilan itu. Nadamu harus manja ya.”

“Ah, aku malu!” jawab Ki Bum.

“Ayolah, kau kan seterusnya harus memanggilku dengan panggilan itu.” Pinta Ae Seok dengan mengeluarkan puppy eyes nya.

“Aku malu. Aku belum siap malam ini.”

“Ayolah Bummie~”

“Aku tidak mau. Besok saja. Aku pasti akan menepati janjiku.”

“Aku maunya hari ini!”

“Aku malu. Aku belum siap.”

“Memangnya kau masih belajar bicara ya?”

“Kalau aku masih belajar, aku tidak mungkin menyatakan perasaanku sepanjang itu!”

“Kalau begitu seharusnya kau bisa memanggilku ‘chagi’ kan?”

“Aish, aku malu!”

“Ayolah Bummie~ Kumohon~”

“Tidak!”

“Kau tidak mau mendengarkan tuan putrimu?”

“Bukannya begitu!”

“Kim Ki Bum jahat sekali!”

“Ah, baiklah! Aku akan mencobanya!”

Ae Seok menatap Ki Bum berbinar-binar. Akhirnya, setelah debat yang panjang, Ki Bum mengalah.

“Cha—“

“PANGGILAN UNTUK KIM KI BUM HARAP SEGERA KE LAPANGAN! AKU TAHU KAU SEDANG BERMESRAAN DENGAN JUNG AE SEOK! TAPI AKU HARUS MENUNJUKKANMU SESUATU! AH, NGOMONG-NGOMONG SELAMAT YA! KAU PASTI DITERIMA KAN? NAH, SEKARANG KAU HARUS MENGURUSI SAHABATMU INI! CEPAT KAU KE SINI ATAU KUREBUT LAGI AE SEOK DARIMU!”

Ae Seok mengerjapkan matanya berkali-kali. “Itu Woo Hyun? Menggunakan toa?”

“Aish, apa sih mau anak itu! Mengganggu saja! Pakai mengancam segala lagi!”

“Kau takut ya Bummie-a?” goda Ae Seok.

“Takut? Untuk apa? Kan kau hanya mencintaiku seorang chagiya~ Sudahlah, ayo kita ke lapangan sebelum anak itu melakukan hal yang lebih aneh lagi.”

Ki Bum pun berjalan duluan. Ae Seok mengerjapkan matanya dan segera mengejar Ki Bum sambil membawa teddy bear plus bunga yang diberikan ‘namjachingu’nya itu.

“Ya! Kau panggil aku apa tadi? ‘Chagi’? Yayy! Akhirnya kau melakukannya!”

Setelah bernyanyi bersama Ki Bum. Woo Hyun pergi menuju lapangan. Ia mengeluarkan iPod-nya dari saku celana beserta sebuah kabel. Ia sekarang mendekati speaker lapangan yang memang sengaja dipasang untuk pengumuman atau ketika ada sebuah acara. Setelah sudah pasti terpasang, ia menyalakan toa yang sedaritadi ia pegang dan didekatkan dengan mulutnya. Ia berdeham pelan.

“PANGGILAN UNTUK KIM KI BUM HARAP SEGERA KE LAPANGAN! AKU TAHU KAU SEDANG BERMESRAAN DENGAN JUNG AE SEOK! TAPI AKU HARUS MENUNJUKKANMU SESUATU! AH, NGOMONG-NGOMONG SELAMAT YA! KAU PASTI DITERIMA KAN? NAH, SEKARANG KAU HARUS MENGURUSI SAHABATMU INI! CEPAT KAU KE SINI ATAU KUREBUT LAGI AE SEOK DARIMU!”

“Woahh, itu suara Woo Hyun oppa kan?!”

“Di lapangan ya?! Ayo kita lihat ke sana!”

“OMONA, untung Woo Hyun oppa tidak diambil oleh Ae Seok!”

“Ayo kita ke lapangan!”

“Kyaa! Woo Hyun oppa!”

Woo Hyun meletakkan toa tersebut di bawah dan kembali mengotak-atik iPod-nya lagi. Murid-murid pun banyak yang sudah memenuhi lapangan untuk melihat laki-laki tampan itu.

Sedetik kemudian, sebuah lagu terdengar.

This Love, This Love,
I Swear That It’s Delicious
I Swear That It’s Delicious
I Swear That It’s Delicious

Come On Girl, Love Is So Nutritious
Come On Girl, Love Is So Delicious

Semua murid gadis di sana berjerit sangat kencang ketika melihat Woo Hyun mulai menari. Ki Bum dan Ae Seok yang sudah sampai di sana hanya tercengang melihat kelakuan sahabatnya itu.

Hingga satu bait ke depan, ia masih terus menari. Hingga pada akhirnya, ia mengangkat sebuah mic di tangannya mendekati mulutnya.

Jonjae jacherodo seolleige hae
Naneun jasin isseo neoreul anikka

“Ya! Ki Bum-a! Sudah kubuktikan janjiku?! Sekarang kau cepat ke sini! Ini kan lagu kita, kau harus ikut bernyanyi di sini!” teriak Woo Hyun melalui mic sambil membiarkan lagu berjalan.

Ki Bum mendengus pelan sambil tersenyum. Ia langsung berlari menuju lapangan dan mengambil mic yang lain—kebetulan Woo Hyun sudah menyiapkannya.

Sweet Girl neol wonhae Dream Girl
Nae ipsul wiro nogadeul
Mankeum dalkomhage haejulge

Kali ini, Woo Hyun kembali menyanyi.

So Sweet Girl
(Come On Girl, Love Is So Delicious)
Come On Girl
(Come On Girl, Love Is So Delicious)
Geu nugudo an bureoul
Mankeum sarang batge haejulge

Ja naya
No naya jebal

Mereka pun meneruskan nyanyian mereka yang tetap dipenuhi oleh teriakkan para murid gadis yang sangat terbius oleh penampilan mereka berdua.

Come On Girl, Love Is So Delicious

(Delicious, by Toheart)

“WOAHHHH!”

“WOO HYUN OPPA DAEBAK!”

“DELICIOUS!”

“OPPA DAEBAK!”

“NAM WOO HYUN SARANGHAE!”

“WOO HYUN OPPA! KYAAAAA!”

Woo Hyun melihat ke arah Ki Bum. “Aku sudah menepati janjiku untuk menari kan? Tantanganmu terlalu ringan. Aku sama sekali tidak malu, para murid gadis sudah pasti terbius denganku.”

Ki Bum mendecakkan lidahnya. “Itu karena kau menggunakan lagu yang kita buat. Coba kau menari dengan lagu girlband!”

Woo Hyun tersenyum menantang. “Kau pikir aku takut apa? Akan kutunjukkan!”

Woo Hyun pun maju ke depan. Ia mengangkat mic nya lagi.

“Ya! Apa kalian mau encore?!” teriak Woo Hyun.

“NEEEE!”

“WOO HYUN OPPA! WOO HYUN OPPA! ENCORE! ENCORE!”

Geuraeyo nan neol saranghae eonjena mideo
Kkumdo yeoljeongdo da jugo sipeo
Nan geudae sowoneul irwojugo sipeun (sipeun) haengunui yeosin

“KYAA! WOO HYUN OPPA NEOMU KYEOPTA!”

“OMO! WOO HYUN OPPA LUCU SEKALI!”

“KYAA!”

Ki Bum lagi-lagi tercengang oleh Woo Hyun. Woo Hyun benar-benar menari dan menyanyikan lagu girlband dan respon para murid gadis benar-benar sangat diluar dugaan.

Sowoneul malhaebwa! (I’m Genie for you, girl!)
Sowoneul malhaebwa! (I’m Genie for your wish)
Sowoneul malhaebwa! (I’m Genie for your dream)
Naegeman malhaebwa! (I’m Genie for your world)

(Tell Me Your Wish (Genie), by SNSD)

*nb : Bagian ‘boy’ sengaja Author ganti girl. Biar sesuai Woo Hyun nyanyinya (:

“KYAA! WOO HYUN OPPA DAEBAKKK!”

“OMONA, SO CUTE!”

“KYAA WOO HYUN OPPA!”

Woo Hyun membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat kemudian menghampiri Ki Bum lagi.

“Lihatlah, fansku memang akan senang dengan apa saja yang kulakukan. Kau kalah untuk masalah ini, Kim Ki Bum.”

Ki Bum tersenyum meremehkan. “Tapi kau kalah mendapatkan satu gadis, Nam Woo Hyun.”

Woo Hyun tertawa meremehkan. “Aku tidak merasa kalah, karena aku masih lebih banyak mengetahui tentang gadis itu, sahabatku.”

Setelah mengatakan kalimat itu, Woo Hyun pergi membereskan iPod dan toanya. Pada saat itulah, ia melihat Ae Seok. Mata mereka berdua bertemu. Woo Hyun pun hanya menunjukkan senyumannya dan setelah itu pergi.

Tapi, tiba-tiba…

“ITU WOO HYUN OPPA! KYAA!”

Woo Hyun menoleh ke belakang dan banyak sekali kerumunan murid gadis yang menatapnya dengan tatapan seakan-akan ingin memakannya lahap-lahap. Mulai firasat buruk muncul, Woo Hyun langsung berlari kencang. Para murid gadis pun mengejarnya meski mereka menggunakan high heels. Syukurnya, berlari bukanlah hal yang sulit bagi Woo Hyun karena ia adalah kapten sepak bola di sekolah.

Setelah cukup jauh, ternyata para murid gadis tidaklah menyerah.

“Aigoo, mereka ini makan apa sih?” gumam Woo Hyun yang mulai lelah juga karena tenaganya sudah terkuras untuk menyanyi dan menari.

Ia pun berusaha mencari tempat persembunyian. Dan entah keberuntungan sedang berpihaknya atau apa, ia melihat toilet tidak jauh darinya. Ia pun masuk ke sana. Sudah pasti para murid gadis tidak akan masuk ke dalam.

Woo Hyun duduk dia tas meja westafel dengan nafas yang ngos-ngosan. Keringat pun banyak mengucur darinya. Ia pun memilih untuk beristirahat dan mengeluarkan iPhone-nya.

Ternyata, ada satu pesan masuk ke nomornya. Ia pun membukanya.

From : Kim Mi Jung

Ya! Temui aku di aula pukul sepuluh!

Woo Hyun mengerjapkan matanya lalu melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Ia membulatkan matanya. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang tiga. Ia pun berusaha untuk memastikan dengan telinganya apakah para murid gadis masih ada atau tidak di luar. Tapi, telinganya sama sekali tidak mendengar keributan apapun. Akhirnya, ia mencoba untuk keluar dari toilet perlahan.

Ia menoleh ke samping kiri dan kanan ketika kepalanya sudah keluar dari pintu. Ternyata, keadaan sepi. Ia pun benar-benar keluar dan segera berjalan menuju aula. Aneh sekali tiba-tiba Mi Jung memintanya untuk bertemu seperti ini.

Tak membutuhkan waktu lama, ia sudah sampai di aula yang tampaknya sudah dibersihkan setelah dipakai untuk valentine.

Tapi, bukan keadaan sekeliling yang menjadi perhatiannya. Sekarang matanya tertuju dengan seorang gadis yang duduk di kursi membelakanginya. Rambut coklat sebahunya itu membuatnya terlihat indah.

Tiba-tiba, gadis itu menoleh ke belakang dan mendapati Woo Hyun sedang memperhatikannya. Woo Hyun pun sedikit salah tingkah. Ia pun menghampiri gadis itu.

“Ada apa kau mencariku?” tanya Woo Hyun sambil duduk di samping gadis itu. Ya, gadis itu adalah Mi Jung.

Tangan Mi Jung memberikan sebuah bag kecil kepada Woo Hyun. “Untukmu.”

Woo Hyun mengambilnya dengan perasaan bingung. Ia kemudian membuka dan mengintip apa isi bag itu. Ternyata, sebuah coklat. Ia menatap bingung ke arah Mi Jung.

Mi Jung tersenyum. “Saat aku mendengar kau merelakan Ae Seok untuk Ki Bum, aku menyempatkan diriku untuk membelikanmu coklat.”

Woo Hyun melihat coklat itu kemudian terkekeh pelan. “Gomawo.” ujarnya sambil menatap wajah Mi Jung. Ia kemudian diam membeku melihat gadis itu. Entah kenapa, ketika ia melihat wajah gadis ini, jantungnya berdetak sangat kencang. Ia baru menyadari bahwa wajah gadis itu sangat cantik. Ia bisa melihat makeup tipis menghiasi wajah itu dan rambut sebahu ratanya itu sangat pas untuknya.

Mi Jung menunduk malu tapi berusaha tersenyum, menyembunyikan ekspresinya. “Ah, sudah ya, aku mau pulang. Aku hanya ingin memberikan itu kok.”

Baru saja Mi Jung akan berjalan, Woo Hyun kembali menarik tangan gadis itu.

“Ayo kita ambil foto bersama.”

Mi Jung menoleh ke arah Woo Hyun. “Ne?”

“Selca. Ayo kita selca. Kau cantik malam ini. Masa kau tidak mau mengambil momen ini?”

Mi Jung mendengus pelan. “Kau memujiku cantik karena aku memberimu coklat?”

Tawa pelan keluar dari mulut Woo Hyun. “Aniya, kau memang cantik. Ayolah cepat duduk.”

Akhirnya Mi Jung pun menurut dan duduk kembali. Woo Hyun mengambil iPhone-nya dan langsung mengarahkan ke depan. Mereka berdua tersenyum ke arah layar iPhone tersebut. Dan…

CLICK!

Sebuah selca pun tersave.

“Eh, tunggu dulu! Tanganku bergetar!” ujar Woo Hyun setelah mengecek hasil selca itu.

“Ya! Dasar pabo!”

Woo Hyun terkekeh pelan. “Ayo, sekali lagi!”

Mereka berdua pun kembali melakukan selca kembali. Awalnya, mereka berdua hanya tersenyum seperti sebelumnya. Tapi, tiba-tiba Woo Hyun mencium pipi Mi Jung dan…

CLICK!

Mi Jung terbengong dengan apa yang ia rasakan sebelumnya. Ia memegang pipinya dan menatap ke arah Woo Hyun. Laki-laki itu hanya nyengir.

“Habisnya, malam ini kau sangat menggemaskan, makanya aku menciummu.”

“Ya! Kau ini playboy atau apa sih?! Kau belum sampai sehari meninggalkan Ae Seok!”

“Ya, mungkin aku jatuh cinta pada pandangan pertama setelah patah hati.”

“Ne?”

“Aniya, kau mau pulang kan tadi? Ayo aku antar, aku membawa mobil!”

“Eh, tidak usah!”

“Ayo, ikut denganku!”

Woo Hyun menarik tangan Mi Jung hingga keluar dari aula. Mi Jung pun hanya mengikut dan melihat punggung laki-laki itu. Tapi, dibalik punggung itu, Woo Hyun sedang tersenyum sambil terus menarik gadis itu.

Setelah Mi Jung turun dari mobil Woo Hyun. Laki-laki itu kembali membuka iPhone-nya karena sedaritadi terus-terusan berbunyi.Ternyata, berasal dari kakaotalk. Ia pun hanya tersenyum. Ia sudah tahu apa yang akan mereka bicarakan.

Kim Sung Gyu : Ya! Nam Woo Hyun! Apa hubunganmu dengan Mi Jung?!

Kim Myung Soo : Hyeong! Kau sekarang bersama noona ku?!

XXXXX : Woah, Nam Woo Hyun, itu kau bersama si ketua OSIS?!

Jung Ae Seok : Omona, jadi sahabatku sudah mendapatkan gadis lain? Kkkk~ 😛

Kim Ki Bum : YAAA! JADI SEMUDAH ITU KAU BERPINDAH HATI KE GADIS LAIN?! AIGOO, BAHKAN DISPLAY PICTURE MU MENCIUM GADIS ITU! ASTAGA! KAU INI SETIA BERTAHUN-TAHUN TAPI DALAM SEMALAM SUDAH BISA BERPINDAH KE LAIN HATI?! Oh, tapi, congrats.

Sisa pesan yang lain adalah berasal dari murid-murid gadis yang ia rasa tidak perlu dibaca sekarang. Baru saja ia akan menglock iPhone-nya dan memarkirkan mobilnya di rumah—Woo Hyun dan Mi Jung bertetangga, sehingga rumahnya dekat—sebuah pesan baru kakao talk masuk kembali.

Kim Mi Jung : YA! Kenapa kau memasang selca kita menjadi display picture di kakao talk sih?! Lihatlah, banyak sekali yang menerorku! Astaga, aku tidak tahu akan jadi apa oleh fans-fansmu itu. Dan bahkan sekarang Myung Soo ribut menanyakan hal ini!

Woo Hyun terkekeh pelan dan mulai mengetik.

Tidak usah khawatir~ Aku akan melindungimu dari fans-fansku, arraseo? ^^

Woo Hyun mengklik tanda send sambil terus tersenyum melihat display picture nya itu. Matanya kemudian melihat ke arah coklat yang berada di sampingnya. Senyuman benar-benar tidak bisa menghilang dari wajahnya.

Satu bulan kemudian, semuanya pun tetap lancar-lancar saja. Dan kalian tahu hari ini hari apa? Ingat, tepat satu bulan setelah valentine.

White Day!

Tentunya banyak laki-laki yang membalas atau memberikan coklat, permen, dan hadiah lainnya kepada gadis lain. Ki Bum tentu memberikannya kepada Ae Seok. Laki-laki itu, makin lama semakin mengenali pacarnya itu.

Pada saat white day, sekolah masih berjalan melakukan kegiatan belajar mengajar. Pada saat jam istirahat makan siang, Mi Jung pergi menuju lokernya. Saat ia membukanya, ia tidak bisa menahan rasa terkejutnya.

Ada apa dengan loker Mi Jung?

Mi Jung mengambil sebuah bunga—yang entah apa jenisnya yang penting warnanya adalah putih—dan sebuah coklat besar dari dalam lokernya. Di sana, juga ada sebuah kartu ucapan berbentuk persegi berwarna putih. Ia pun kembali meletakkan bunga dan coklat itu ke dalam lemari dan membuka kartu ucapan tersebut.

Ya! Sesuai janjiku kan aku akan selalu melindungimu? Kkk~
Tanpa kau sadari, selama sebulan ini aku sering datang pagi untuk membersihkan lokermu dari surat-surat teroran fansku. Tapi, semakin hari semakin berkurang. Aku rasa mereka sudah capek menerormu.
Dan, ah, ya,  Happy White Day~ Itu semua balasan hadiahmu dariku!
Aku harap kau suka dengan bunga dan coklat itu. Ya, seingatku kau bukan gadis yang pemilih. Iya kan? Hahaha~ ^^
Saranghae, Kim Mi Jung

—Nam Woo Hyun

“Apa ia benar-benar serius? Aigoo, aku kan memberikan coklat itu karena hanya ingin menghiburnya! Aishh!” gerutu Mi Jung.

Meski menggerutu, tiba-tiba seulas senyuman muncul dari bibir tipis Mi Jung. Ia melihati kartu ucapan itu dengan penuh arti. Ia membaca kembali kalimat terakhir dari pesan tersebut.

Saranghae, Kim Mi Jung

Kali ini, ia terkekeh pelan di tengah-tengah wajahnya yang memerah.

Hubungan Woo Hyun dan Ki Bum pun juga masih seperti biasa. Mereka berdua tetap sering bersama, plus Ae Seok.

Bahkan, percaya atau tidak, salah satu agensi ingin merekrut mereka karena mendengar lagu ciptaan mereka. Toheart. Itulah nama mereka sekarang. Tapi, mereka akan debut beberapa bulan setelah kelulusan.

Pada saat jam makan siang, Woo Hyun dan Ki Bum sedang berjalan menuju kantin.

“Ya, Ki Bum-a.”

“Wae?”

“Aku merasakan, lagu kita itu benar-benar adalah hal yang nyata.” ujar Woo Hyun sambil menatap ke atas.

Ki Bum mengerutkan keningnya. “Apa maksudmu?”

“Love Is So Delicious. Benar kan? Cinta itu sangat enak. Ia punya banyak rasa. Ketika kau senang, ketika kau berjuang, ketika kau berkorban.”

Ki Bum memutarkan bola matanya mendengar ‘kepuitisan’ sahabatnya itu. “Kau jadi seperti ini karena jatuh cinta dengan si ketua OSIS itu kan.”

Woo Hyun terkekeh pelan. “Memangnya salah aku jatuh cinta? Tapi, aku memilih untuk tidak menjadikannya pacarku dulu. Aku tidak ingin ia semakin terganggu ketika aku debut. Kau tahu kan, para fans itu sangat menyeramkan?”

“Ya, aku tahu itu.” jawab Ki Bum.

Tiba-tiba Woo Hyun merangkul Ki Bum. “Berarti, kau harus menjaga Ae Seok lebih lagi. Jangan sampai ia tersakiti, ok?”

“Tanpa kau beritahu, aku akan melakukannya.” jawab Ki Bum. “Ah, iya, kau sekarang sudah kalah denganku. Aku tahu lebih banyak apa yang Ae Seok sukai.”

“Memangnya apa yang kurang?”

“Dia suka dengan permainan piano amatirku.”

“Ah, itu aku sudah tahu.”

“Apa?”

Woo Hyun tertawa pelan. “Aku sudah melihat kejadian ketika kau memintanya diajarkan main piano. Aish, sudah kubilang aku ini tahu semuanya tentang Ae Seok.”

Ki Bum hanya terdiam. Sedikit kesal dengan sahabatnya itu. Tapi, kemudian perhatiannya teralihkan kepada sebuah majalah yang dipegang Woo Hyun.

“Apa itu?” tanya Ki Bum.

Woo Hyun mengangkat majalah yang ada di tangannya. “Ini?”

Ki Bum mengangguk.

“Ini majalah sekolah yang terbaru. Lihatlah, covernya kita berdua.” ujar Woo Hyun bangga sambil menunjukkan cover majalah itu kepada Ki Bum. “Oh, ya, di sini ada nominasi untuk graduation nanti. Sebentar aku lihat dulu.”

Mereka berdua berhenti berjalan. Woo Hyun membuka halaman majalah satu persatu. Ki Bum pun melihatnya dengan penasaran.

“Woah, ini artikel tentang kita!”

“Ya! Cepat buka saja bagian graduation! Kita bisa membacanya nanti!” protes Ki Bum.

“Ah, ne, ne.” ujar Woo Hyun sambil melanjutkan membuka halaman majalah tersebut.

Dan ya. Akhirnya sampai di halaman graduation. Dalam rangka memperingati kelulusan, OSIS membuat voting setiap kategori untuk murid. Dan voting pun sudah berjalan mulai sekarang.

“The Best Face Male Student. Harusnya aku masuk.” ujar Ki Bum kecewa ketika tidak ada namanya.

Woo Hyun mendengus pelan. “Ya, sekalipun kau masuk, kau akan kalah. Mana ada yang bisa mengalahkan si Kim Myung Soo. Kecuali jika laki-laki itu keluar dari sekolah ini.” ujarnya sambil menunjuk foto Myung Soo di majalah tersebut. “Lagipula, dia kan memang tampan seperti kakak iparnya ini.” tambah Woo Hyun sambil menunjuk dirinya sendiri. Ki Bum hanya menghela nafas tanda tak peduli.

“Oh, tunggu! The Best Idol?” ujar Woo Hyun heboh. Ia pun melihat ke arah dua foto laki-laki yang berukuran lebih besar dari semua foto yang lain. Title nominasinya pun dibuat sangat spesial.

“Hey! Itu kita berdua! Jadi, ini nominasi khusus untuk kita berdua?!” Ki Bum ikut tertarik dengan nominasi tersebut.

Mereka berdua tiba-tiba menyadari akan satu hal. Sedetik kemudian, mereka berdua diam di tempat sambil menatap satu sama lain.

“Jadi? Kita bersaing lagi?” tanya Ki Bum sambil menunjukkan senyuman menantang.

“Kan kita memang tidak bisa tidak memiliki ‘rebutan’.” jawab Woo Hyun dengan ekspresi menantang juga. “Lagipula, untuk apa aku takut. Sebelumnya juga aku sudah memiliki banyak fans.”

Ki Bum mendengus pelan. “Kau menyombongkan diri?”

“Aniya. Aku mengatakan fakta. Ke-be-na-ran.”

Emosi Ki Bum naik ke puncak. “Aigoo. Baiklah, mari kita lihat nanti siapa yang akan menang.”

“Jika kau kalah, aku akan mengencani Ae Seok selama sehari, ok?” tantang Woo Hyun.

“MWO?!”

Woo Hyun tertawa. “Aniya, aku bercanda. Lagipula aku sudah punya Kim Mi Jung~ Ya, yang penting kita bersaing, ok?”

“OK!”

Cinta itu adalah hal yang menyenangkan, hal yang bisa membuat orang lain tersenyum, hal yang bisa membuat seseorang lupa segalanya.

Tapi, terkadang cinta itu menyakitkan. Cinta bisa membuat kita menangis. Cinta bisa saja tidak terbalaskan. Terkadang cinta banyak harus berkorban dan merelakan. Seperti Woo Hyun yang akhirnya meninggalkan Ae Seok yang sudah ia cintai sejak lama.

Lalu, kenapa orang ingin merasakan cinta?

Because, Love Is So Delicious

THE END

HAI HAII READERSS~ Ya, akhirnya Author tidak kembali dengan lanjutan FF tapi malah FF baru -____- Ya tapi cincailah ya, oneshot kok, oneshot. Ini gara-gara ngeliatin Toheart dan kepikiran bikin FF ini. Dan, apa sudah cukup panjang kah? 28 halaman loh di Word XD

Yaa, Author minta maaf lah atas kesalahan, dan BELUM melanjutkan FF Author dengan aktor si Lee Byung Hun *pelukcium* aka Family Battle T______T Rasanya bener-bener mentok 😐

Oh, iya, kalo ada apa-apa silahkan lapor ke Author ya ^^ Silahkan liat uname Twitternya di bawah poster 😀 Kalo mau kenalan juga boleh *plakk

JANGAN JADI SILENT READERS, COMMENT AND LIKE KALO UDAH BACA. JIKA ADA KESALAHAN, SILAHKAN LAPOR!

Thanks for Reading ^^

Advertisements

30 responses to “[ONESHOT] Delicious

  1. pengen tau lanjutan woohyun sama minjung nya dong :3 pengen tau banget kisah mrreka berduaaa… ffnya bagus, konflik nya simpel tapi pembawaannya xD bahasanya juga enak dibaca xD ditunggu ff yang lainnya 😀 keep writing!! fighting!

    • Semoga kepikiran sequelnya ya kkkk~ Hehe, ya biar asik gitu simple” tapi diribet”in /? Sipp, janji ya tunggu FF Author?! kkk~ ^^v Makasih banget buat semangat, udah baca, dan pastinya sumbangan komen kkk, saranghae lah yaa ❤ ^^~

  2. hahahahahahaha
    ceritanya asik thor

    friendshipnya kerasa banged
    romancenya juga

    akhirnya happy ending
    padahal saya pikir ceritanya akan sama, salah satu cast menderita
    eh malah ada kejutan si Minjung
    kakakakakaka

    daebak dah

    keep writing ne thor :3

    • Ahh, berarti Author sukses membawa FF ini *sedot ingus* Kkk, pertama emang harusnya ada yang menderita satu, tapi seiring proses FF nya, akhirnya kepikiran deh, kkk. Sipp, makasih banget ya udah baca dan memberi waktu untuk komen, kkk ^^~ ❤

  3. Aahhh, ff nya keren banget thorrr>.<
    aku kira woohyun nya gak sama siapa", eh ternyata sama mijung😄
    Oke deh, lanjutkan menulis fanfic thor!
    Fighting!!👍
    Jo naya~~ no nayaaa~~ jeballl~~ #jogetdelicious🎶🎵

  4. Huaah happy ending,,
    suka banget sama ceritanya…

    Thor kapan2 bikin ff cast nya woohyun lagi ya,,

  5. Omo~ bagus banget :3
    tapi menurutku ya thor, woohyunnya kecepetan pindah hati ahhaha..
    mau lebih angst dikir hehe
    tapi overall bagus banget thor aku jatuh cinta 😍
    author ditunggu karya2 lainnya~
    HWAITING!

  6. suka banget sama fanficnya!! ^_^
    dan menurutku cerita ini seperti nyata! atau mungkin aku pernah mengalaminya? haha.. entahlah, yg penting… aku sangat suka fanfic ini!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s