[ONESHOT] The Letter

The Letter

—Storyline by AlinePark @angiiewijaya—

Main Cast

Park Chan Yeol [EXO] as Park Chan Yeol
Jung Hye Rim or Jung Eun Ji [A-Pink] as Jung Eun Ji

Other Cast
Find by Yourself

Genre
Sad, etc.

Length
Oneshot

Rating
Teenager

The Letter

Inspiration Came From
Davichi – The Letter

Happy Reading

Chan Yeol POV

August 25th, 2014

Seoul, Korea Selatan.

Setelah sekitar 4 tahun di Perancis, akhirnya aku kembali lagi ke tanah kelahiranku. Aku berada di negri Eropa itu untuk urusan pekerjaanku sebagai seorang desainer interior. Di sana, aku sangat sukses dan bisa membanggakan orang tuaku meski usiaku masih sangatlah muda untuk memulai usaha.

Aku kembali lagi ke sini adalah karena aku mendapat tawaran pekerjaan selama sebulan. Ya, memang aku hanya kembali untuk waktu yang singkat. Tapi, aku sangat bahagia bisa berada di sini lagi. Aku harap, waktu akan berjalan lebih lambat.

Sekarang, aku sedang beristirahat di apartemen yang kubeli dari hasilku membanting tulang. Aku memilih tidak tinggal bersama keluargaku, karena mereka pun jarang berada di sana. Mereka sering keluar negri untuk pekerjaan. Ya, daripada kesepian di sana, mending sekalian saja aku tinggal sendirian.

Sembari beristirahat dan duduk di meja kerjaku, aku membuka halaman-halaman buku sketsaku yang mungkin nyaris seratus persen adalah gambar untuk pekerjaanku. Tapi tiba-tiba, di halaman paling belakang ada foto seorang gadis yang kutempel dengan double tip. Aku mengerutkan keningku dan memperhatikan foto tersebut.

Di foto itu, seorang gadis berkemeja putih, celana panjang, plus rambut coklat panjangnya, sedang berdiri di depan sebuah kafe bernama “Jung’s Cafe” sambil memegang sebuah kertas putih bertuliskan “NOW OPEN! WELCOME! ^^”.

Aku menatap heran ke arah foto itu. Jujur saja, aku tidak tahu siapa gadis itu dan kenapa fotonya bisa berada di buku sketsaku. Apa karena aku tertarik dengan bangunan kafe tersebut? Ya, jika dilihat bangunan kafe itu sangatlah menarik.

Tapi, dibalik keherananku, aku tersenyum sendiri melihat foto tersebut. Senyuman manis gadis itu membuatku sangat nyaman. Rasanya, gadis itu seperti tersenyum padaku. Entah kenapa, ia benar-benar membuatku penasaran dan ingin melihatnya secara langsung.

Sedetik kemudian, aku langsung menggelengkan kepalaku. Astaga, apa yang aku pikirkan. Kenapa aku malah memikirkan gadis yang tidak kukenali sih? Ah, tidak penting!

Tapi nyatanya, nyaris setiap waktu wajah gadis itu muncul di benakku.

August 26th, 2014

Aku terbangun dari tidurku. Yang pertama kulakukan adalah menghela nafas dan mengingat kejadian di alam mimpiku. Apakah aku sangat penasaran dengan gadis itu hingga memimpikannya?

Aku bermimpi seakan-akan gadis itu berada di depan kamera. Aku tidak ingat kalimat-kalimat yang ia ucapkan. Senyuman dan ekspresi aegyo-nya tidak pernah hilang.

Ah, aku ingat satu kalimat! Di akhir sebelum aku terbangun, gadis itu mengatakan satu kalimat singkat yang benar-benar membuatku terbangun.

“Saranghaeyo, Park Chan Yeol.”

Astaga. Aku nyaris gila sekarang! Baiklah, daripada aku benar-benar gila, lebih baik aku menyikat gigi dan mencuci muka, setelah itu mendesain gambar untuk pekerjaanku.

Buku sketsa dan kotak pensil sudah berada di atas mejaku. Bukannya fokus menggambar, mataku melihat ke arah kotak pensilku yang seharusnya sudah tidak asing lagi. Tapi mendadak, aku merasa asing dengan itu.

Ah! Aku ingat, aku bahkan melihat kotak pensil ini di mimpiku! Gadis itu menunjukkan kotak pensil itu sambil mengatakan, “Ini spesial untukmu Park Chan Yeol~”.

Aku kembali memperhatikan kotak pensil itu lagi. Memang kotak pensil itu sangatlah untuk. Namaku terajut di sana. Pas sekali gadis itu mengatakan spesial untukku. Tapi, tiba-tiba aku terpikirkan, darimana kotak pensil ini? Aku tidak ingat kapan aku memiliki kotak pensil ini.

Baiklah, daripada aku pusing memikirkan hal yang tidak penting, lebih baik aku mengerjakan pekerjaanku agar cepat selesai dan bisa menggunakan sisa waktu untuk liburan di Seoul.

Aku membuka kotak pensilku dan berusaha mencari pensil. Aku mendadak panik karena pensil yang sering kupakai mendadak tidak terlihat. Aku pun mengobrak-ngabriknya. Setelah tak berapa lama, akupun menemukannya. Tapi, perhatianku teralihkan dengan sebuah lipatan kertas tebal putih yang terlihat kumel. Aku rasa, itu sampah yang kubuang di sana. Akupun mengambilnya dan membukanya.

Ternyata, dugaanku salah. Itu bukanlah sampah melainkan kartu nama. Aku terkejut sendiri melihat kartu nama tersebut.

JUNG’s CAFE

ADDRESS
XXXXXXX ROAD NUMBER 27

CONTACT
JUNG EUN JI
+82XXXXXXXXXXX

Yaampun! Bagaimana bisa aku memiliki alamat kafe yang berada di foto buku sketsaku?! Gadis yang membuatku memikirkannya sepanjang hari, masuk ke dalam mimpiku, dan sekarang aku mempunyai alamat kafe tersebut.

Baiklah, aku menyimpulkan. Mungkinkah aku mempunyai hubungan dengan kafe itu? Ya, sekedar membuat interior atau yang lainnya. Lalu gadis itu adalah pemilik kafe tersebut dan bernama Jung Eun Ji?

Rasa penasaranku benar-benar sudah memuncak. Akupun membuka halaman belakang buku sketsaku dan mengambil foto gadis itu. Aku berniat untuk mencari gadis itu hari ini. Aku memutuskan untuk mandi secepatnya. Tetapi tiba-tiba, aku teringat sesuatu dan membuka kalendar ponselku.

Today : Meeting at XXXXX Tower 10 AM

Sial! Ternyata ada meeting pukul sepuluh! Dan sekarang…, sudah pukul sembilan!

Ok, mungkin nanti malam aku akan pergi ke kafe tersebut. Semoga, kafe itu belum tutup.

August 27th, 2014

Sekitar pukul setengah sepuluh siang, aku sampai di depan Jung’s Cafe. Kemarin, para klien mengajakku untuk makan malam, padahal mereka sudah mengajak untuk makan siang. Tampaknya, mereka sangat senang denganku. Dan demi kepuasan klien, aku memutuskan untuk menyingkirkan masalah yang satu ini dulu.

Firasatku mendadak tidak enak ketika melihat kafe itu sangat sepi. Aku keluar dari mobil dan menaikki beberapa tangga kecil yang membawaku ke pintu kafe tersebut.

“TUTUP”

Tunggu, hari apa ini? Aku nyaris berpikir hari ini adalah hari Minggu—mungkin mereka tutup pada hari Minggu. Tapi setelah kuingat-ingat, hari ini adalah hari Rabu. Jarang-jarang ada restoran atau kafe yang tutup di hari Rabu.

“Permisi.”

Aku membalikkan tubuhku ketika mendengar suara seorang gadis. Aku nyaris berharap bahwa itu adalah gadis yang kucari. Tapi, yang kudapati adalah gadis lain.

“Ah, apa kafe ini tutup?” tanyaku.

“Oh, anda belum tahu ya? Pada tanggal delapan belas Agustus kita tutup dan tanggal dua puluh tujuh Agustus kami buka pukul sepuluh siang.”

Aku mulai mengingat tanggal hari ini. Ah, benar saja hari ini tanggal dua puluh tujuh. Dan sekarang baru menjelang pukul sepuluh.

“Kau ingin masuk? Aku ingin membuka kafe ini.” ujar gadis itu.

“Ah, boleh.” jawabku bersemangat.

Akupun menyingkir sedikit dan membiarkan gadis itu membuka pintu kafe. Setelah pintu terbuka, aku mengikuti gadis itu masuk ke dalam.

Aku melihat gadis itu menuruni bangku-bangku yang diletakkan di atas meja. Akupun membantunya menuruninya. Ketika gadis itu melihat apa yang kulakukan, ia terkejut.

“Kau tidak perlu membantuku! Kau kan pelanggan!” protes gadis itu.

“Tidak apa-apa. Aku kan menunggu kafe ini buka, jadi sekalian saja aku membantumu.” jawabku sambil tersenyum.

Aku melihat gadis itu ingin protes kembali. Tapi, gadis itu terlihat lemas dan hanya tersenyum singkat sambil melanjutkan pekerjaannya. Baru kusadari, wajah gadis itu pucat. Matanya sembab dan terdapat lingkaran hitam.

Baru saja aku ingin bertanya padanya, beberapa orang masuk ke dalam kafe. Ketika melihatnya, aku mulai menebak bahwa mereka adalah pegawai dari kafe itu. Dan benar saja, mereka mulai merapikan kafe.

Setelah waktu berjalan tanpa terasa, kafe sudah rapi dan siap untuk dibuka. Gadis yang kulihat sebelumnya pergi menuju pintu. Ia membalikkan papan kecil di sana yang sebelumnya bertuliskan “tutup” menjadi “buka”.

Seorang pelayan menghampiriku—yang sudah duduk di tempat dekat pintu—sambil membawa sebuah menu.

“Anda mau pesan apa?” tanyanya ramah.

Aku melihati menu itu. Tidak butuh waktu lama, aku sudah membuat keputusan. “Aku ingin teh panas dan pancake saja.”

“Baiklah, tunggu sebentar.”

Pelayan itu meninggalkanku ketika kulihat gadis yang sebelumnya berjalan melewatiku.

“Hey, kau mau menemaniku?” tanyaku. Sebenarnya bukan karena aku ingin ditemani, tetapi aku ingin menanyakan tentang apa yang aku cari.

Gadis itu menoleh ke arahku. Lagi-lagi, ia hanya mengangguk dengan senyuman singkat. Tidak langsung menghampiriku, gadis itu pergi ke sebuah ruangan di balik kasir. Aku rasa, itu dapur.

Beberapa menit kemudian, gadis itu muncul dengan membawa dua buah cangkir di atas nampan. Ia berjalan ke arahku. Ia meletakkan nampan itu di atas meja kemudian duduk di depanku.

“Pesananmu.” ujarnya.

“Ah, gomawo.” jawabku sambil mengambil cangkir tehku.

“Kau…, tidak suka minum kopi?” tanya gadis itu.

Aku menoleh ke arahnya dan menggeleng. “Tidak, aku punya masalah lambung. Kenapa?”

Gadis itu tampak terkejut. Tapi kemudian ia menutupinya dengan senyuman. “Gwenchana, biasanya banyak laki-laki pada pagi hari memesan kopi.”

Aku hanya mengangguk-ngangguk. “Ah, aku ingin bertanya sesuatu.”

Gadis itu menatapku. “Bertanya apa?”

“Apa…, kau pemilik kafe ini?” tanyaku.

Gadis itu mengangguk. “Iya, ada apa?”

“Ah, siapa namamu?”

“Krystal Jung.”

Akupun mulai keheranan. “Lalu…, siapa Jung Eun Ji?”

Krystal membelakakkan matanya. Ia menatapku tanpa berkedip dan seakan-akan tidak percaya dengan pertanyaanku.

“Ke-ke-kenapa kau menanyakannya?” tanyanya.

Aku menunjukkan foto dan kartu nama yang kupunya. “Aku bingung kenapa aku menyimpan ini. Makanya aku penasaran dengan gadis ini. Aku bahkan memimpikannya. Ya, aku rasa gadis ini bernama Jung Eun Ji. Jadi aku bertanya seperti itu.”

Aku melihat Krystal menjadi lemas. Ia menunduk sebentar tetapi setelah itu menatapku dengan tatapan tajam. Meski begitu, air mata menggenang pada matanya.

“Kau mau tahu kenapa aku membuka kafe ini pukul sepuluh setiap tanggal dua puluh tujuh Agustus dan libur pada tanggal dua puluh tujuh Agustus?” tanyanya.

Aku menatapnya heran tanpa menjawab apapun.

Gadis itu terlihat menarik nafas. “Jung Eun Ji. Gadis itu adalah kakakku sekaligus pemilik asli kafe ini. Delapan belas Agustus adalah ulang tahunnya. Aku ingat sekali ia menutup kafe ini untuk merayakan ulang tahunnya, maka dari itu kafe ini libur. Dua puluh tujuh Agustus tepat hari jadinya bersama pacarnya, tapi pada saat itulah ia meninggal. Aku membaca sebuah surat bahwa kakakku memberikan kafe ini untukku tepat puluh sepuluh siang. Maka dari itu aku membuka kafe ini pukul sepuluh siang.”

Aku tidak mengerti apa yang dikatakan gadis itu. Apa maksudnya?

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau tidak ingat itu, Chan Yeol oppa, kakak iparku?”

Aku membulatkan mataku. Kakak ipar? Tiba-tiba memori-memori aneh muncul dari otakku.

August 26th, 2010

Tepat sekitar pukul sebelas, aku pergi ke sebuah taman. Aku mendekati bangku panjang, di mana aku dan Eun Ji sering duduk di sana. Kami tertawa, bercanda, dan hal-hal yang bahagia kami lakukan di sana.

Tapi, tidak kali ini.

Aku sendirian. Air mataku menggenang. Tanganku memegang sepucuk surat yang kemudian kuletakkan di atas bangku tersebut.

Suratku sebagai tanda perpisahan dengan gadis itu.

Sebenarnya, semua kalimatku hanya kalimat palsu. Aku tidak bisa merelakan gadis itu. Hanya saja, aku ingin ia membenciku dan melupakanku. Aku tidak mau ia tersakiti dengan kepergianku ke Perancis. Karena aku tahu, percuma kami melanjutkan hubungan kami jika aku dalam setahun saja bisa tidak kembali ke Korea.

Setelah surat itu kuletakkan. Aku mengirimkan pesan singkat kepada Eun Ji agar ia datang ke tempat ini. Aku yakin pasti ia akan pergi ke bangku ini.

Akhirnya, tangisan pun pecah ketika aku menekan tombol ‘send’. Aku tahu aku memang tidak akan pernah sanggup meninggalkannya. Tapi, mungkin ini adalah yang terbaik untuknya.

Akupun pergi ke bandara untuk penerbanganku. Sialnya, aku terlambat akibat jam check in yang dipercepat! Akhirnya, aku mendapatkan tiket pengganti di waktu yang berbeda.

Perasaanku yang kacau pun disusul dengan kejadian yang mengacaukan perjalananku.

Pesawatku terjatuh. Aku benar-benar masih bisa merasakan bagaimana pesawat itu bergerak ke bawah meski terasa sangat cepat. Entah kenapa pesawat ini bisa terjatuh, padahal kami sudah akan mendarat.

Ketakutan menjalar padaku. Wajah Eun Ji bahkan muncul dalam benakku. Terlalu mengerikan semuanya. Ada dengan hari ini?

BRAKK!

Tepat pukul sepuluh, 27 Agustus, pesawat berada di daratan dan aku tidak sadarkan diri.

Tapi aku selamat.

Tapi karena kejadian saat itulah, aku tidak ingat siapa itu Jung Eun Ji.

Chan Yeol POV END

Author POV

August 26th, 2010

Jung Eun Ji. Gadis yang sedang berbaring di atas kasurnya itu tidak bisa menyembunyikan senyumnya sambil terus melihat ke arah jam dinding. Tangannya pun selalu memegang ponselnya.

Menjelang dua puluh tujuh Agustus. Ya, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Dan setengah jam lagi adalah menuju hari jadinya ke tiga bersama pasangannya. Park Chan Yeol.

Meski baru tiga tahun, tapi ia benar-benar mencintai laki-laki itu. Mereka awalnya sudah bersahabat dari kecil. Perasaan pun makin lama makin bertumbuh. Dan akhirnya mereka menjadi sepasang kekasih.

Drrt .. Drrt ..

Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ia membukanya dan mendapati sebuah pesan.

From : Nae Chan Yeol

Datang ke taman XXXX sekarang juga.

Eun Ji menatap pesan itu bingung. Tapi ia pun hanya menuruti apa perkataan kekasihnya itu. Setelah mengganti pakaiannya, ia pun pergi menuju taman itu.

“Eonnie mau ke mana?” tanya Krystal.

Eun Ji menoleh. “Oh, aku ingin bertemu Chan Yeol.”

Setelah sekitar dua puluh lima menit, ia sampai di taman tersebut. Tapi, ia tidak melihat bayang-bayang Chan Yeol sama sekali. Ia kemudian pergi ke bangku taman yang sering ia tempati bersama laki-laki itu. Ia menemukan sepucuk surat.

Eun Ji-a,

Aku rasa kita perlu putus. Aku tidak memiliki perasaan apapun padamu. Lagipula, aku ingin fokus kepada pekerjaanku. Kau tahu kan desain interior sangat berarti bagiku? Aku akan ke Perancis. Jika aku terus bersamamu, itu semua hanya menggangguku.

Aku akan berangkat tepat pukul dua belas malam.

Jangan pernah mengingatku lagi ya. Karena mungkin aku tidak pernah mengingatmu lagi.

—Park Chan Yeol

Tepat pada saat itu, pikiran Eun Ji mulai kacau dan matanya mulai digenangi oleh air mata. Tidak, apa-apaan ini? Apa ia bermimpi? Tidak, ini semua pasti palsu. Ia ingat sekali Chan Yeol baik-baik saja bahkan beberapa jam yang lalu.

Eun Ji juga melihat sebuah cincin yang ia pakai bersama Chan Yeol. Cincin itu bahkan terbuat dari emas putih asli. Mereka berdua bisa dibilang bertunangan secara tidak langsung.

Eun Ji membawa dua barang itu dan berlari sekencang mungkin. Ia harus pergi ke bandara secepatnya. Meski ia tahu ia sudah pasti telat—atau bahkan jika tidak telat pasti Chan Yeol sudah check in, ia tetap akan pergi.

Pikirannya benar-benar pendek dan buntu. Ia berlari, bahkan lupa dengan high heels yang dipakainya.

PRAK!

Tiba-tiba high heels-nya patah di tengah jalan. Ia pun terjatuh ke aspal. Ia tidak kuat bangun dan menangis sejadi-jadinya. Dan pada saat ia akan memaksakan dirinya untuk bangun, sebuah truk besar melaju kencang di hadapannya.

BRAKKK!

Tepat pukul dua belas malam, Eun Ji tertabrak truk itu.

Sekitar tepat pukul sepuluh pagi, 27 Agustus, Eun Ji dinyatakan meninggal. Dan di saat itulah Krystal menemukan sebuah surat di samping meja ranjang kakaknya itu.

Untuk adikku, Krystal Jung.

Entah kenapa, saat aku sadar tadi pagi, aku memiliki firasat kalau aku harus pergi. Karena, aku tahu jika aku tidak bisa melupakan Chan Yeol dan lebih baik pergi daripada hatiku sakit. Aku pasti akan tenang dan nyaman di sana.

Aku hanya ingin bilang, jika aku benar sudah tiada, tolong lanjutkan usaha kafe-ku. Dan titip salamku untuk Chan Yeol jika kau bertemu dengannya.

—Jung Eun Ji,
kakakmu yang sangat mencintaimu

Author POV END

Chan Yeol POV

Krystal menghela nafas setelah menceritakan Chan Yeol—yang sudah ingat akan semuanya—kemudian memberikan sebuah kertas terlipat kepadaku dan sebuah cincin yang terlihat tidak asing. Aku mengambilnya dengan tangan bergetar.

“Itu surat eonnie kepadaku. Aku membawanya jika aku melayat ke kuburannya. Dan baru saja kau dari sana.”

Perkataan Krystal membuatku menyadari jika gadis itu menangis dan belakangan ini tidak bisa tertidur karena memikirkan eonnie-nya. Dan pantas saja gadis ini menggunakan pakaian serba hitam. Tapi, bukan itulah yang kupikirkan sekarang.

Aku diam. Aku tidak tahu harus bicara apa. Kenapa aku tidak mati saja pada saat itu? Biar rasa bersalahku tertebus dan bisa bersamanya di sana.

Hanya dari surat bodoh, bisa terjadi hal seperti ini. Pikirku.

“Kau seharusnya bilang baik-baik padanya.” ujar Krystal, seakan-akan bisa membaca pikiranku.

Tanganku perlahan membuka lipatan kertas itu. Surat singkat itu, yang tidak sampai dengan sepuluh kalimat sudah cukup membuatku terpukul.

…Dan titip salamku untuk Chan Yeol…

Eun Ji-a, aku baru tahu salammu sekarang. Apa…, kau bertahun-tahun menunggu salammu tersampaikan?

Setelah pergi melayat ‘pacarku’, aku kembali ke apartemenku. Aku bahkan menolak tawaran klien yang lagi-lagi mengajakku pergi makan siang. Saat berada di kuburan, tiba-tiba aku teringat suatu barang. Aku mengobrak-abrik kotak pensilku dan menemukan sebuah USB.

Aku menyalakan laptopku dan menghubungkan USB itu kepada alat tersebut. USB pun terbaca. Hanya terdapat satu data di sana. Data video. Aku mengkliknya dua kali.

“CHAN YEOL-A!”

Aku terkejut sendiri. Eun Ji. Ya, Jung Eun Ji yang ada di dalam video itu.

“Bulan depan kita akan anniversary! Tapi, entah kenapa firasatku untuk memberimu video ini adalah tepat satu bulan sebelum anniversary kita. Aku sendiri bingung harus bicara apa. Pokoknya, aku berharap kita terus bersama hingga tua nanti.”

Aku terdiam dan tetap melihat ke arah video itu.

“Dan, jengjeng! Ini spesial untukmu Park Chan Yeol~”

Gadis itu menunjukkan kotak pensil yang sedang kupegang sekarang. Ya, ini adalah hadiah darinya untukku dan ini persis seperti dalam mimpiku.

“Susah sekali untuk mencari orang untuk membuat kotak pensil ini. Kau kan sering menyimpan alat gambar untuk hobimu, jadi aku membuatkanmu kotak pensil ini. Aku harap kau suka itu!”

Aku memegang kotak pensilku semakin kuat.

“Mmm, aku rasa sudah cukup.”

Aku bisa melihat ia tersenyum dan membuka mulutnya.

“Saranghaeyo, Park Chan Yeol.”

July 27th, 2010

Video singkat itu membuat air mata Chan Yeol jatuh membasahi pipinya.

Bodoh. Ia benar-benar bodoh.

Kenapa firasat Eun Ji begitu tajam? Kenapa ia tahu ia harus membuat video itu dan memberi hadiah untuk Chan Yeol satu bulan sebelum hari jadi mereka? Jadi, inikah rencana Tuhan?

Chan Yeol langsung menutup layar laptopnya tanpa mematikannya. Ia kemudian mengeluarkan seluruh isi kotak pensilnya dengan kasar. Ia juga mencabut USB pada laptop tersebut. Setelah itu, ia berjalan menuju balkon apartemennya.

Balkon apartemennya memang sangat dekat dan menghadap ke laut. Ia tersenyum bodoh di tengah-tengah tangisannya. Tangannya baru saja akan melempar kotak pensil dan USB itu, tiba-tiba ia melihat cincin yang melingkar pada jari manisnya.

Ia menurunkan tangannya dan memperhatikan cincin itu lagi. Ia melepaskannya, kemudian memegangnya bersama kotak pensil plus USB yang sebelumnya ia pegang. Ia kemudian melemparnya ke laut tanpa berpikir panjang lagi.

Eun Ji-a, barang-barang itu sudah tidak pantas kusimpan lagi. Mereka sudah berada di sana, di laut yang luas. Aku tidak pantas lagi menyimpannya. Aku terlalu bodoh dan kekanak-kanakkan waktu itu, mungkin kau tidak akan pergi dan aku tidak akan pernah melupakanmu. Kalau aku tidak ke taman, aku tidak akan naik pesawat yang salah.

Dan semuanya salahku hingga keadaan seperti ini, karena aku

membuat surat bodoh itu.

THE END

ONESHOT LAGI!! *bletakk* Kali ini castnya adalah dari bias yeoja saya alis Jung Eun Ji~ Ya meski dia kayak ga berperan sih-_-” Ini ide FF udah lama, dan cast aslinya adalah Jung Kook harusnya, tapi malah jauh ke Chan Yeol ding, h3h3/? Dan ya, doakan Author cepat-cepat lanjutin FF Family Battle ya -____-v Jujur aja moodnya lagi ke oneshot yang langsung jadi gitu, lol. Mungkin kalo ada ide oneshot lagi ya bakal oneshot lagi *dibakar*

Oh, iya, untuk FF ini bahasanya emang ambrul adul, maklum ini abis kerjain langsung dipost. Udah malem, mata udah berat banget tapi maksain, h3h3/? Ya, pokoknya FF ini ga serapi Delicious deh, padahal Delicious dua hari 28 halaman, ini dua hari 11 halaman *digampol*. Maaf ya-___-v

Author bingung ngomong apalagi, hehe.

JANGAN JADI SILENT READERS, COMMENT AND LIKE KALO UDAH BACA. JIKA ADA KESALAHAN, SILAHKAN LAPOR!

Thanks for Reading ^^

25 responses to “[ONESHOT] The Letter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s