Loverdose

LOVERDOSE

Author : Fai

Cast :

  • Lu Han | EXO’s Luhan
  • Wu Fan | EXO’s Kris

Genre : guess what?

Rating : T

Length : ficlet

Disclaimer : the plot is mine and Luhan is my brother! /slapped/

N.B. : haiiiii! Akhirnya bisa update lagi muhuhu UN UDAH LEWAT NIH HUAHAHAHA AKHIRNYA BISA BEBAS JUGA XDDD *senengnya kebangetan* maap ya bukannya ngepost exo daddy series atau serinya Sehun-Ahn Yong atau first love forever love tapi malah fanfic lain Q___Q oh iya, Fai lupa nambahin fotonya Kris di poster hahaha maaf ya, Fanfan! Dan satu lagi, Fai sarankan sebelum membaca fanfic ini, lebih baik kalian membaca fanfic ini terlebih dahulu.

.

…this is a dangerous addiction…

.

Love is sickness, a dangerous addiction, overdose.

Cinta itu seperti candu. Kau akan menikmatinya dan kau akan susah untuk meninggalkannya. Kau akan terus ketagihan dengan perasaan tersebut. Walaupun kenyataan yang harus dihadapi tidak sesuai dengan harapan yang diinginkan.

Itulah kenyataan yang harus Luhan terima saat ini.

Ia harus menerima kenyataan bahwa gadis yang ia cintai kini telah berada di dimensi yang berbeda—di alam yang berbeda.

Menyakitkan, memang. Rasa sakit yang tidak dapat dimengerti.

Luhan seperti orang yang mempunyai sindrom, ntah sindrom apa itu.

Overdosis?

Ya, bisa dibilang begitu.

Sekarang, Luhan terlihat seperti orang gila. Ia gila karena dirinya sendiri.

Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Wu Fan, Luhan tidak pernah kembali lagi ke rumah orangtuanya. Luhan kembali ke Busan. Kali ini ia bersama Wu Fan—Wu Fan benar-benar merasa bersalah kepada Luhan.

Seharusnya, Luhan tinggal dengan Wu Fan di sebuah apartemen. Tapi, ia tidak pernah pulang ke apartemen tersebut. Ia selalu bermalam di sebuah bar.

Di pagi harinya, Luhan selalu mendatangi makam ‘adik’nya. Siang sampai sore, ia selalu pergi tanpa tujuan. Pada malam harinya ia akan kembali ke bar dan tidur di sana setelah meminum wine.

Darimana ia mendapatkan uang?

Tentu saja dari Wu Fan.

Laki-laki China itulah yang selalu memberinya uang untuk membeli makan dan membeli wine. Terkadang, Wu Fan juga sering menemani Luhan di bar. Wu Fan selalu mengajak Luhan untuk berinteraksi dengan dunia luar dan menyuruhnya untuk pulang, tapi Luhan tidak pernah mendengarkannya dan selalu menghiraukannya.

Wu Fan melakukan hal tersebut karena ia benar-benar merasa bersalah pada Luhan. Ia merasa bahwa ialah yang telah membuat Luhan berubah seperti ini. Kalau saja ia tidak ‘terlambat’, mungkin sekarang Luhan sedang tersenyum bahagia.

Pagi ini, Luhan kembali mendatangi makam seorang gadis yang telah membuatnya hampir gila seperti sekarang ini. Ia selalu datang dengan sebotol wine dan setangkai bunga mawar di tangannya. Lagi-lagi, Luhan tidak membersihkan tubuhnya dan ia masih mengenakan baju yang sama seperti kemarin. Oh, bahkan hari ini kantung matanya terlihat semakin membesar dan menghitam.

“Selamat pagi, sayang,” ujarnya—menyapa batu nisan yang terdiam di depannya. Ia meletakkan bunga mawar yang dibawanya ke atas makam tersebut. “Bagaimana kabarmu, hmm?”

Tidak ada yang membalas pertanyaan tersebut.

Luhan membuka tutup botol wine-nya dan menenggak isinya dengan cepat. Oh, ia sudah terlalu banyak mengonsumsi wine.

“Aku merindukanmu,” bisik Luhan.

Luhan menatap tajam makam di depannya itu.

“Kautahu? Aku membencimu,” gumam Luhan—masih menatap gundukan tanah di depannya saat ini.

“Aku membenci pertemuan kita, aku membencimu karena kau pernah menjadi adikku, aku membencimu karena kau telah mengendalikan diriku, aku membencimu karena kau telah merasuki diriku, aku membenci kisah kita,” gumam Luhan lagi.

“Kenapa kau tidak bisa pergi dari pikiranku, hmm? Kauingin membuatku tersiksa? Atau, kauingin balas dendam padaku? Kauingin aku mati, begitu?” Luhan semakin frustasi.

“Kau harus tahu, selama ini aku selalu mencaritahu bagaimana cara untuk menghidupkanmu kembali.”

Sebuah kalimat yang benar-benar telah menggambarkan kegilaan Luhan pada saat ini. Ia pura-pura tidak tahu, atau memang tidak paham?

“Bagaimana kalau hari ini kita pulang? Aku akan membawamu kembali ke Haidian. Dan aku berjanji padamu, tidak akan ada lagi yang bisa menghalangi kita. Kau dan aku akan hidup bahagia, selamanya.”

Luhan kembali menenggak wine-nya yang kini masih bersisa seperempatnya.

Lama ia menunggu, tapi tentu saja tidak ada jawaban. Gadis itu sudah tidak bernyawa dan kini ia telah berada di dalam gundukan tanah tersebut, istirahat untuk selamanya. Sedangkan pikiran Luhan semakin kacau.

“Kau selalu mengabaikanku! Kau marah padaku, huh?!” bentak Luhan. Kedua matanya memerah.

Luhan yang malang. Ia tidak bisa menelan kenyataan pahit yang kini menyerangnya.

“Brengsek!” maki Luhan. Ia melempar botol wine-nya ke tanah dan botol beling tersebut pecah berkeping-keping. Sisa dari wine tersebut membasahi bagian ujung makam sang gadis.

“Aku pergi,” dalam keadaan seperti itupun, Luhan masih berpamitan kepada gadis yang berada di dalam gundukan tersebut.

Ia pergi dengan emosi yang tengah membakar dirinya.

 

+++

 

Luhan menyesali hidupnya. Ia menyesal karena telah terlahir sebagai dirinya. Ia lebih menyesal karena telah membunuh gadis yang sangat, sangat ia cintai. Ya, bisa dibilang begitu.

Luhan memang bodoh karena ia telah meracuni—bahkan membunuh—gadis yang tidak berdosa.

Kenapa aku sanggup membunuhnya?

Pikiran Luhan semakin kacau. Overdosislah yang kini ia rasakan.

Overdosis atas perasaan bersalah, overdosis atas kesedihan, dan overdosis atas cintanya. Cinta memang sebuah candu yang sangat berbahaya.

Luhan menarik salah seorang pria yang sedang berjalan di depannya dan ia bertanya, “Apakah kautahu bagaimana cara menghidupkan kembali orang yang sudah mati?”

Pria itu menatap kedua manik mata Luhan dengan intens dan dia tahu bahwa saat ini Luhan sedang mabuk berat.

“Apa kau gila? Pulanglah ke rumahmu, anak kecil,” ujar pria tersebut dan berlalu meninggalkan Luhan.

Luhan mendengus mendengar ucapan pria barusan. Dia panggil aku anak kecil?

Laki-laki berkewarganegaraan China tersebut akhirnya kembali ke bar. Dia masih duduk di kursi yang sama dengan penampilan yang berantakan.

Kantung matanya semakin besar dan menghitam, rambutnya tidak pernah disisir, ia juga jarang membersihkan wajahnya. Semakin hari, penampilannya semakin berantakan.

“Cinta itu memang menyakitkan,” dengusnya.

 

+++

 

Wu Fan hanya bisa memperhatikan Luhan dari kejauhan. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun. Walaupun kelakuan Luhan semakin aneh, ia masih tetap berada di samping Luhan—menemaninya dan membelikan makan untuknya.

Sama seperti Luhan dulu, Wu Fan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.

Semakin buruk kondisi Luhan, Wu Fan semakin sering menemani Luhan di bar. Ia membelikan wine untuk Luhan—sebanyak yang Luhan mau. Ia sering mendengar ocehan Luhan yang semakin aneh. Luhan bahkan acapkali mengajak Wu Fan untuk tinggal di makam—ntah apa maksudnya.

Wu Fan menyenderkan tubuhnya di tembok. Ia mengangkat kepalanya dan menatap langit-langit bar dengan tatapan kosongnya.

Wu Fan memang sedang memikirkan sesuatu, tapi ia selalu menyembunyikannya. Ia jarang berbicara pada Luhan, kecuali untuk menyuruhnya pulang atau mendatangi seorang psikolog—karena Luhan memang benar-benar membutuhkannya.

Beberapa menit kemudian, Wu Fan memutuskan untuk berjalan mendekati Luhan dan duduk di sampingnya. Ia melihat keadaan Luhan yang semakin parah. Penampilannya tidak pernah rapi.

Wu Fan membuka tutup botol wine yang ada di atas meja kaca dan menuangkannya ke dalam sebuah gelas kaca. Ia segera meminumnya dan menaruh kembali gelas tersebut ke atas meja lalu merapikan rambutnya.

“Wu Fan,” panggil Luhan.

“Ya?”

Hening sejenak.

Luhan menolehkan kepalanya dan menatap Wu Fan dengan mata sayunya.

“Bagaimana cara menghidupkan kembali orang yang sudah mati?”

Wu Fan tidak menjawab. Ia baru saja ingin berteriak ‘bodoh!’, tapi ia harus sabar—karena ia masih merasa bersalah pada Luhan.

“Lu, gadis itu tidak akan kembali lagi.”

“Kaubohong, Wu Fan! Dia pasti akan kembali! Aku tahu itu!” bentak Luhan. “Dan saat ia kembali, aku tidak akan menyia-nyiakannya. Aku akan segera menikahinya.”

Wu Fan menatap Luhan dengan prihatin.

“Kalau saja ia masih hidup, saat ini aku pasti sudah menikah dengannya!” pekik Luhan sekali lagi.

Wu Fan semakin tidak tahan. Ia mengepalkan kedua telapak tangannya dengan sekuat tenaga dan kepalan tangannya itu menghantam meja kaca di depannya. Meja itu pecah seketika dan telapak tangan Wu Fan berdarah karena terkena pecahan belingnya.

“Sadarlah, Lu! Dia sudah meninggal dan itu karena ulahmu sendiri!” kali ini Wu Fan yang memekik.

Air mata Luhan perlahan menetes dengan sendirinya. Ia menatap intens kedua mata Wu Fan dan baru kali ini ia melihat Wu Fan semarah ini. Selama ini ia tidak pernah benar-benar marah seperti ini.

“Kalau bukan karenamu sendiri, ia pasti masih hidup!” bentak Wu Fan lagi.

Karena tidak sanggup membendung emosinya lagi, Wu Fan berdiri dan menendang kursi yang tadi ia duduki. Ia pergi dengan emosinya yang masih meluap-luap dan meninggalkan Luhan yang masih menangis dalam penyesalannya.

“Aku minta maaf, Wu Fan. Memang aku yang salah,” gumam Luhan—dan Wu Fan tidak akan pernah bisa mendengarnya.

 

+++

 

Wu Fan akhirnya kembali ke apartemen sendirian. Ia menyetir dengan emosi yang mengacaukan pikirannya. Ia tidak bisa berpikir jernih.

Ia membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi dan sudah beberapa kali ia hampir menabrak mobil yang melaju di depannya.

“Sial!” ujarnya.

Kedua bola matanya memerah dan tangannya menggenggam erat stir mobilnya. Ia menggertakkan giginya kuat-kuat.

“Brengsek!” teriak Wu Fan. “Kalau saja ia bukan temanku, aku tidak akan mungkin sepeduli dan sebaik ini padanya!”

Wu Fan hanya bisa memaki dirinya sendiri.

Ia memukul-mukul kepalanya sendiri dengan tangan kanannya. Ia terus memikirkan satu hal. Sesuatu yang telah dipikirkannya sejak pertemuannya dengan Luhan—setelah ia mendengar tentang kematian seorang gadis yang selama ini dicintai oleh Luhan.

Sesuatu yang dapat mengubah segalanya.

 

+++

 

Luhan yang tidak bersalah dimintai ganti rugi oleh sang pemilik bar. Ia mengeluarkan sisa-sisa uang pemberian dari Kris dan memberikannya kepada sang pemilik bar. Beruntung, uang itu cukup untuk menutupi kerugian.

Uangnya yang tersisa hanya bisa untuk membeli sebotol wine lagi. Tapi, Luhan tidak peduli dengan hal itu. Ia membeli sebotol wine dengan uangnya yang tersisa dan segera meminumnya sampai habis.

“Aku bisa semakin gila kalau begini terus,” gumam Luhan.

Setelah membuang botol wine-nya, Luhan keluar dari bar. Ia telah memutuskan untuk kembali ke apartemen dan meminta maaf dari Wu Fan.

Luhan berjalan seorang diri. Selain ia memang tidak punya uang, ia juga tidak ingin naik kendaraan umum atau apapun itu.

“Kaulihat, hmm? Karenamu, aku dan Wu Fan bertengkar. Kau senang?” gumam Luhan. Percuma saja ia menyalahkan gadis itu, karena ini semua memang kesalahan dirinya sendiri. Bukan kesalahan orang lain.

Singkat cerita, Luhan akhirnya sampai di depan kamar Wu Fan. Ia mengetuk pintu itu dengan ragu-ragu dan tidak lama kemudian pintu itu dibuka. Dan Wu Fan sendirilah yang membukanya.

Umm.. hai?” sapa Luhan canggung.

Wu Fan tidak menjawab sama sekali.

“Aku minta maaf,” ujar Luhan akhirnya. “Aku mengakuinya, kuakui bahwa kejadian itu memang salahku. Aku bersalah karena aku telah meracuninya sampai pada akhirnya ia tidak bernyawa lagi.”

Wu Fan masih terdiam. Tatapannya kosong.

“Maafkan aku, ya?” pinta Luhan sekali lagi. Kedua matanya menunjukkan bahwa sang pemiliknya benar-benar memohon maaf dari lawan bicaranya.

“Ntahlah,” gumam Wu Fan. Ia sebenarnya sudah malas. Ia tidak tahu harus bagaimana.

“Aku benar-benar menyesal!” kali ini Luhan hampir berteriak. “Apa kautahu? Setelah kau pergi, pemilik bar meminta ganti rugi padaku atas meja yang kaupecahkan. Seharusnya kau yang menggantinya, bukan aku. Dan sekarang aku sudah tidak punya uang. Aku berjalan kaki dari bar sampai ke sini, karena aku tidak punya cukup uang untuk naik bis. Terima kasih banyak.”

Luhan mendengus kesal. Wu Fan akhirnya menghembuskan napasnya.

“Baiklah, aku memaafkanmu dan aku juga minta maaf atas kejadian yang tadi,” ujar Wu Fan. Luhan tersenyum—ini benar-benar pertama kalinya Luhan tersenyum setelah kematian sang gadis.

“Terima kasih,” ujarnya lemah. “Aku terlalu frustasi.”

Wu Fan mengangguk mengerti. “Masuklah. Aku baru saja membeli makanan.”

Tanpa pikir panjang, Luhan masuk ke dalam dan duduk di atas sofa. Wu Fan berjalan ke dapurnya dan membawakan semangkuk sup rumput laut yang masih hangat untuk Luhan.

“Makanlah,” ujar Wu Fan seraya memberikan sup tersebut kepada Luhan.

“Kau tidak makan?” tanya Luhan.

“Tidak usah. Kau saja yang makan,” elaknya. “Lagipula, kau lebih membutuhkan asupan makanan daripada aku. Aku juga tidak begitu lapar.”

“Sungguh?” tanya Luhan lagi. Wu Fan hanya mengangguk. Dan lagi, Luhan kembali tersenyum. “Terima kasih, Wu Fan.”

Wu Fan hanya memperhatikan Luhan dari samping. Luhan makan dengan lahap. Ia sudah berhari-hari tidak makan hanya karena memikirkan gadis yang telah dibunuhnya waktu itu.

“Lu,” panggil Wu Fan.

Hmm?” Luhan hanya menjawabnya dengan sebuah gumaman.

“Kau benar-benar tidak bisa melupakan gadis itu?” tanya Wu Fan dengan ragu.

Luhan terdiam sejenak.

“Tidak,” jawab Luhan singkat lalu memakan sup rumput lautnya lagi.

“Kau tidak ingin memikirkan masa depanmu, Lu? Kalau kau seperti ini terus, kau hanya akan menjadi mayat hidup, kautahu itu, ‘kan?”

“Dengar, Wu Fan. Cinta dan rasa sayang itu menyakitkan, juga berbahaya. Aku sanggup melakukan apa saja demi cinta dan rasa sayangku. Bahkan aku tidak menyangka bahwa aku sanggup membunuhnya. Mungkin, cinta itu sebuah candu untukku. Aku sangat bergantung pada gadis itu. Mungkin aku memang sudah overdosis akan cinta, juga overdosis akan dirinya. Ya, begitulah. Aku tidak bisa melupakannya begitu saja,” jelas Luhan.

“Aku seperti terjebak di dalam sebuah labirin. Aku benar-benar sudah terjebak di dalamnya dan tidak bisa menemukan jalan keluar,” lanjutnya. “Mungkin, suatu saat nanti kau juga akan merasakannya.”

Wu Fan hanya menggumam kecil.

“Kalau saja kautahu perasaanku, Lu.”

Luhan mengernyitkan dahinya. Ia tidak mengerti.

“Maksudmu?”

Wu Fan hanya tersenyum kecil. Senyuman yang tidak bisa diartikan.

“Kau akan segera mengetahuinya, Lu.”

Luhan hanya terdiam.

“Sekarang, habiskan supnya lalu kau harus tidur. Kesehatanmu semakin memburuk.”

 

+++

 

Beberapa jam kemudian, Luhan sudah terlelap di atas kasur—tentunya setelah ia mandi dan mengganti bajunya.

Sedangkan Wu Fan, ia masih duduk di sofa seraya memikirkan sesuatu. Sesuatu yang semakin membuatnya gelisah.

“Kalau saja ia bukan temanku, aku tidak akan mungkin mau menampungnya. Aku tidak akan mungkin sebaik ini padanya.”

Wu Fan meremas-remas jarinya dengan kuat. Walaupun suhu di dalam ruangannya cukup dingin, tapi sekujur tubuhnya berkeringat. Pikirannya semakin kacau.

“Luhan benar. Rasa sayang itu memang menyakitkan dan berbahaya.”

 

+++

 

Luhan akhirnya bangun setelah dua hari ia tertidur. Ia benar-benar kelelahan dan tidur selama dua hari sangat berpengaruh baik untuknya.

“Aku benar-benar tertidur selama dua hari?” tanya Luhan tidak percaya.

“Aku bersumpah,” jawab Wu Fan.

Luhan melirik keluar jendela dan langit sudah gelap. Ini sudah malam dan ia teringat akan sesuatu.

“Aku harus mengunjungi gadisku,” ujar Luhan.

“Ini sudah malam, Lu.”

“Tidak! Aku harus mengunjunginya. Dia pasti marah padaku karena kemarin aku tidak mengunjunginya. Hari ini aku harus minta maaf padanya.”

Wu Fan mendesah kecil. “Kau sedang bercanda, ‘kan?”

“Aku bersungguh-sungguh.”

“Kalau begitu, aku akan mengantarmu,” ujar Wu Fan. “Tunggu sebentar, aku harus bersiap-siap dulu.”

Luhan menurut. Ia berdiri di depan pintu seraya menunggu Wu Fan. Walaupun fisiknya sudah membaik, tapi pikirannya masih terganggu. Bahkan semakin parah.

Dia pasti marah besar.

Luhan meremas-remas jemari tangannya yang berkeringat. Ia bahkan tidak sempat makan atau mengganti bajunya. Ya, ia sudah tidak memikirkan dirinya sendiri lagi.

Tidak lama kemudian, Wu Fan sudah mengganti bajunya dengan dua botol wine di tangan kanannya dan kunci mobil di tangan kirinya.

“Ayo,” ujarnya. Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil dan mobil Wu Fan melaju dengan kecepatan tinggi.

Sekarang memang sudah jam sebelas malam—lebih tepatnya jam sebelas kurang seperempat. Tapi, Luhan tidak peduli. Ia tetap ingin datang ke makam gadis kesayangannya itu. Rindu, mungkin?

Sedangkan Wu Fan masih bimbang. Ia masih memikirkan sesuatu. Sesuatu yang selama beberapa hari ini telah mengganggu jiwanya. Sangat sulit baginya untuk melupakan hal tersebut.

“Wu Fan, apakah kau juga berpikir bahwa aku bodoh?”

Luhan tiba-tiba saja menanyakan hal seperti itu. Dan pertanyaan tersebut benar-benar membuat Wu Fan bingung.

“Mungkin?” ujar Wu Fan ragu. “Kau tidak bodoh, kau hanya gila.”

Luhan mendengus kecil. “Mungkin ucapanmu itu benar.”

“Kau juga benar, Lu. Cinta itu membahayakan,” gumam Kris. Luhan tidak menjawab.

Setelahnya, mereka berdua sama-sama terdiam sampai pada akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.

Mengerikan, memang. Datang ke makam di tengah malam seperti ini memang mengerikan—ralat, sangat mengerikan. Tapi, inilah Luhan. Ia yang sudah terganggu jiwanya tidak memperdulikan hal tersebut.

Luhan segera turun dari mobil dan berjongkok di depan makam gadisnya.

“Hei, apa kabar?” tanya Luhan—ia seperti sedang berbincang-bincang dengan seseorang yang masih hidup. Wu Fan berdiri di samping Luhan dalam diam. Pikirannya itu masih kacau.

“Aku sangat merindukanmu, sayang. Kau juga merindukanku, ‘kan?” laki-laki China itu mulai cengengesan. “Maaf karena kemarin aku tidak bisa mengunjungimu.”

“Lu,” Kris menepuk pundak Luhan. Laki-laki itu hanya menoleh. Wu Fan memberikan sebotol wine pada Luhan. “Ini, ambillah.”

“Oh, terima kasih,” Luhan mengambilnya dan ternyata Wu Fan sudah membuka tutup segelnya. “Oh, kau juga sudah membukakan tutup segelnya.”

Wu Fan hanya mengangguk kecil seraya menenggak wine miliknya.

“Kalau saja kau tidak ada di dalam tanah ini, saat ini pasti aku akan berbagi wine denganmu,” ujar Luhan—ia terdengar sangat sedih.

“Aku sangat merindukanmu, kautahu, ‘kan?” lanjut Luhan seraya menenggak wine-nya. Air matanya perlahan membasahi wajahnya. “Aku merindukan pelukanmu, aku merindukan tatapanmu, aku merindukan suaramu, aku merindukan ciumanmu. Aku juga ingin kembali merasakan napasmu di leherku.”

Ia benar-benar sudah teroverdosis. Luhan terdiam sejenak. Cukup lama, mungkin pikirannya semakin kacau. Benar-benar kacau.

“Bisakah kau kembali sekarang juga?” lagi-lagi ia seperti sedang mengigau. Luhan menenggak wine-nya lagi dan menyisakan setengahnya.

“Lu, jangan berlebihan seperti itu,” pinta Wu Fan—dan Luhan mengabaikannya.

“Orang-orang bilang kalau aku tidak waras. Ini semua karenamu, ‘kan, sayang?” ujar Luhan. Masih tidak ada jawaban. Luhan menghabiskan wine-nya dalam sekali tenggak lalu membuang botolnya dengan asal.

“Ini semua karenamu, Lu,” bisik Wu Fan.

Luhan memegangi kepalanya.

“Aku mengantuk,” ujar Luhan tiba-tiba.

“Apa?” tanya Wu Fan. Luhan menatap Wu Fan sejenak. “Aku mengantuk.”

Wu Fan terdiam. Pikiran itu kembali mengganggunya.

“Kepalaku pusing,” lanjut Luhan. Wu Fan terperangah mendengarnya.

“Ternyata racun itu bekerja lebih cepat dari yang kukira.”

Luhan membelalakkan kedua mata. “Apa kaubilang?!”

“Racun itu bekerja lebih cepat dari yang kukira,” ulang Wu Fan. Luhan menatap Wu Fan dengan bingung. Ia tidak mengerti dengan semua ini. Sangat tidak mengerti.

“Ucapanmu benar, Lu. Aku sanggup melakukan apa saja demi rasa sayangku,” jawab Wu Fan. Ia menyeringai. “Termasuk membunuhmu.”

Luhan berdiri dengan spontan—walaupun ia semakin merasa pusing—dan mencengkram kerah kemeja milik Wu Fan. “Apa maksudmu?!”

Wu Fan tersenyum sinis. “Masih belum sadar juga, Lu? Kau benar-benar tidak mengingatnya?”

Luhan terdiam.

“Sebenarnya, kau adalah penderita penyakit skizofrenia.”

Jantung Luhan seolah berhenti berdetak. Ia melepaskan cengkramannya dari kerah kemeja milik Wu Fan. “A—apa? Apa kaubilang? Aku? Aku mengidap penyakit skizofrenia? Kaubohong, ‘kan?!”

“Kau memang benar-benar mempunyai gangguan jiwa,” ujar Wu Fan tenang. “Gadis yang selama ini kaupikir adikmu itu adalah adik kandungku, bodoh.”

Luhan kembali terkejut. “Apa-apaan, sih?!”

“Kau sudah mengidap penyakit skizofrenia sejak kau masih berumur 10 tahun, Lu,” jawab Wu Fan—masih terdengar tenang. Ia menenggak wine-nya lagi.

“Dulu, aku tidak tahu apa itu skizofrenia. Aku selalu mendengarkan ucapan-ucapan bodohmu itu. Aku selalu mempercayai khayalan-khayalanmu yang sebenarnya tidak pernah ada. Sampai pada akhirnya aku mengerti,” jelas Wu Fan. “Skizofrenia itu adalah penyakit yang menyerang cara berpikirmu sehingga kau banyak berhalusinasi.”

Luhan tidak sanggup menjawab. Kepalanya semakin terasa sakit.

“Sampai pada akhirnya, kau bertemu dengan adikku,” lanjut Wu Fan. Ia kembali menenggak wine-nya.

“Kaubilang bahwa kau mencintainya. Kaubilang bahwa kau menyayanginya. Tapi, ternyata adikku tidak bisa menerima keadaanmu yang seperti ini. Adikku tidak pernah membalas cintamu, kau harus mengetahuinya,” sambung Wu Fan.

“Bohong! Ia juga mencintaiku, bodoh! Dan ia bukanlah adikmu!” elak Luhan.

“Waktu itu, kau berpikir kalau ia tidak mau mencintaimu karena kau adalah kakak kandungnya. Tapi, pikiranmu semakin kacau. Halusinasimu semakin menjadi-jadi dan akhirnya kau nekad membawa kabur adikku ke Busan. Adikku yang tidak mengerti apa-apa hanya bisa menurut padamu agar kau tidak berbuat macam-macam padanya. Kau tidak tahu ‘kan, kalau sebenarnya ia selalu menghubungiku pada setiap malam harinya?”

Luhan hanya menggeleng seraya memegangi kepalanya yang semakin terasa sakit.

“Ia selalu menangis. Ia tidak berani menelpon Ayah dan Ibu, makanya ia selalu menelponku. Ia bilang kalau ia ingin pulang, tapi kau tidak pernah mengizinkannya untuk keluar rumah. Ia bilang kalau ia takut. Ia bilang kalau tingkahmu sangat aneh. Ia bilang kalau pikiranmu semakin kacau dan kau semakin gila,” jelas Wu Fan—masih dengan nada yang datar. “Beruntung kau tidak merenggut keperawanannya.”

“Tapi kau terlalu bodoh. Pikiranmu terlalu terganggu. Kau selalu mengganggap bahwa ia adalah adik kandungmu, dan ia juga berpura-pura bertingkah sebagai adikmu agar kau tidak berbuat macam-macam dengannya. Ia pikir, dengan berpura-pura seperti itu akan menghilangkan rasa cintamu padanya. Tapi, ternyata cintamu padanya justru semakin dalam.”

Luhan tidak tahu harus menjawab apa.

“Kau bercanda, ‘kan?”

Wu Fan menggeleng. “Aku bersumpah.”

Luhan meringis kesakitan. “Agh, kepalaku sakit sekali. Ini semua karenamu, brengsek!”

“Racun itu sebagai balas dendam dari adikku, Lu,” ujar Wu Fan tenang. “Setelah kau mati di sini, aku akan kembali ke Haidian dan meninggalkan jasadmu di sini.”

Luhan tercengang mendengarnya. “Kau gila!”

Wu Fan menyeringai—benar-benar seringaian yang menyeramkan. “Aku memang gila, rasa sayang itu memang membahayakan dan hal itu telah membuatku gila.”

“Setelah aku tahu bahwa kaulah yang membunuh adikku, aku sangat membencimu. Aku ingin sekali langsung membunuhmu. Tapi, kau adalah teman dekatku. Aku sudah mengenalmu sejak kita masih berumur 3 tahun. Kau pasti sudah melupakan hal itu, ‘kan? Kalau saja kau bukan temanku, mungkin aku sudah mencabik-cabik tubuhmu. Kalau bukan karena rasa kasihanku padamu, aku pasti sudah membakarmu. Selain itu, aku juga merasa bersalah karena seharusnya dari awal aku tidak perlu menyuruh adikku untuk membohongimu. Kalau ia tidak berbohong, kau pasti tidak akan membunuhnya.”

Luhan mengerang. “Kenapa kau tidak langsung membunuhku saja, huh?! Kau tidak perlu berpura-pura baik padaku. Kau terlalu naif untuk melakukannya, ‘kan? Aku tahu itu.”

Wu Fan kembali tersenyum sinis. “Aku ingin melihatmu menderita terlebih dahulu. Aku ingin membunuhmu secara perlahan, Lu.”

“Kau gila.”

“Kau memang benar, Lu. Rasa sayangku pada adikku telah membuatku gila. Dan kalau kau tidak pernah hadir ke dalam kehidupanku dan adikku, semua ini tidak perlu terjadi. Adikku pasti masih bisa menikmati hidupnya. Ia gadis yang cantik, baik dan periang. Tapi, semenjak ia mengenalmu, hidupnya dipenuhi oleh perasaan tidak tenang. Jadi, siapa yang brengsek, Lu?”

Luhan mengerang dengan kuat. Rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Dan kali ini ia merasakan sakit di bagian dadanya. Air mata Luhan semakin membasahi wajahnya sendiri.

“Perlu kauketahui bahwa racun itu akan memiliki akumulasi cairan serebrospinal yang tidak normal dan selanjutnya akan menekan jaringan otak di sekitarnya, khususnya bagian-bagian yang vital. Lalu, cepat atau lambat, kau akan mati. Dan aku tidak akan menyesal karena aku telah membunuhmu.”

Luhan membelalakkan kedua matanya—kedua matanya memancarkan kebencian yang sangat mendalam.

“Kautahu? Aku sangat membencimu,” ujar Luhan. “Sampai mati.”

Wu Fan tertawa.

“Aku mencintainya sebagai adik perempuanku, Lu. Tidak lebih. Dan aku benar-benar telah teroverdosis akan rasa cinta itu. Rasa cintaku pada adik perempuanku itu jauh lebih besar dari persahabatan kita,” sambung Wu Fan. “Dan kau memang benar. Cinta itu memang sebuah candu yang sangat berbahaya.”

“Brengsek! Aku sangat membencimu, sampai mati.”

Wu Fan kembali tertawa. Ia merogoh saku celananya dan mengambil sebuah pistol dari dalamnya. Wu Fan menarik pelatuknya dan mengarahkannya ke bagian dada kiri milik Luhan.

“Dan peluru ini sebagai balas dendam dariku.”

DOR!

Dalam hitungan detik, peluru itu mengenai jantung milik Luhan dan bersarang di dalamnya. Darah mengucur dengan cepat.

Luhan yang malang, ia hanya bisa membelalakkan kedua matanya dan tubuhnya tersungkur di atas tanah.

Wu Fan menghabiskan wine-nya dan membuang botolnya dengan asal. Ia kembali menyimpan pistol hitamnya ke dalam saku celananya.

Wu Fan berjalan mendekati tubuh Luhan dan mengambil dompet milik Luhan yang ada di dalam saku celananya. Dompet tersebut berisi kartu identitas milik Luhan dan beberapa lembar uang.

“Dan dengan ini, tidak akan ada yang bisa melacak identitasmu,” gumam Wu Fan lalu masuk ke dalam mobilnya. Seperti yang telah ia katakan, setelah ini ia akan kembali ke Haidian. Ia meninggalkan jasad Luhan sendirian di Busan—tepatnya di depan makam adik perempuannya.

“Cinta memang menyakitkan dan sangat berbahaya.”

.

-FIN-

.

HAIHAIHAIIIIIIIIIIIIIIII! /ganyante/

Okeoke jadi ini adalah lanjutan dari ‘A Confession, Wine and Us’ dengan Kris sebagai pelaku utamanya—juga! /maaf ya mas Fanfan, Fai lupa nambahin foto mas Fanfan di posternya ;;A;;/

Wakakak ceritanya makin ribet ya? Jadi sebenernya si cewek itu adeknya siapa……… pusing-pusing deh tuh mikirinnya WAKAKAKAK.

Kalo masih ada yang ngga ngerti, nantikan cerita dari sudut pandangnya Kris, The Untold Truth! Only at here.

Ya kalo ngga minggu depan ya berarti minggu depannya lagi mwahahah pokoknya stalkerin aja terus blognya Fai :p

Anyway, HAPPY BIRTHDAY, LUHAN SAYANGGGG! Love you so much! May God always bless you. Please stay health and handsome, Exotics love you ❤ akhirnya fanfic ini bisa selesai sesuai deadlinenya ya hahahah ;v;

(maaf ya Luhan, tahun ini fanfic birthday projectnya malah cerita tragis kayak gini >.< /abisnya kamu ngga ngebales cintaku sih, jadinya kan aku sakit hati/ /mulai ngelantur/ /calon2 korban skizofrenia/ /AMIT AMIT/ /digeplak/)

Komen dan review sangat ditunggu!

P.S. : maafin typo-nyaaa, yang salah keyboard-nya, suer deh:((( OVERDOSE RACUN BENERAN OIIII!

Advertisements

74 responses to “Loverdose

  1. Kyknya ku harus baca cerita sebelumnya deh awalnya cz dah terjebak ma alur yg di buat melalui kisah Luhannya ehh ternyata…
    Keren banget ni cerita buatku melongo diakhir ,, tragis bget nasib loe Lu..
    Karakternya cocok kok menurutku wlo hampir gue bosan pas pertengahan cerita kirain tiap harinya aktivitas Luhan itu” aja tapi yup akhirnya kau buat aku tertipu thor.. Salut buat karyamu thor ini Daebak !!

  2. ternyata yang ff yang wine itu ini lanjutannya …
    ternyata luhan ,ya tuhannnnn …..
    tapi thor,yang ffnya the untold story,sudut pandang nya kris itu blm ada ya?

  3. Aduh, pusing bacanya >.< jadi yang bener itu yang manaaa?? *teriak frustasi kaya luhan* /ditabok/
    Engga deng, aku ngerti kok sama ceritanya ;D tadi cuma pura-pura aja /lama-lama ketularan luhan ini mah/ /jangan sampe Ya Allah/
    Udah ah, yang jelas ff nya dae to the bak, KEREN!! *ga nyambung-_-* wkwk
    Lope lope lah thor w<

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s