(Un)Fated Scene [Part 1]

Annyeonggg ~  saya kali ini membawa salah satu titipan epep dari author baru *dia baru aja kali ini nitip epep ke saya. hehe XD*. Oke, tak lupa juga saya selalu mengingatkan untuk meninggalkan jejak kalian dan tetap hargai karya author yang satu ini. Happy Reading ~ ^^

(note : untuk yang berminat epepnya dititipin sama saya, bisa langsung klik disini. ada di bagian bawah intro saya. thankseuuu :* )

Title: [Un]Fated

Author: chandoras

Cast: Oh Sehun, Park Cheonsa

Genre: Romance, angst, sad, AU

Rating: PG-15

Poster: hyunji @cafeposterart.wordpress.com

Disclaimer: Originally slipped out of my mind. Plagiarize is strictly prohibited.

***

Ini kisah tentang diriku yang biasa-biasa saja. Tak ada yang spesial dari seorang Park Cheonsa. Tidak pintar, cantik, apalagi kaya. Aku, gadis normal yang sangat normal.

Jadi, bolehkah jika aku yang normal ini melakukan sesuatu yang abnormal sekali saja?

***

Hari kelulusan SMA. Hari dimana semua orang berpelukan dengan teman-teman terdekatnya, tertawa dan menangis bersamaan, serta berfoto ria bersama keluarga. Aku menatap kosong layar ponselku setelah menerima piagam kelulusan. Dua orang teman dekatku sedang berfoto bersama orangtuanya masing-masing. Dan aku, malah duduk sendirian di depan aula besar sekolah tanpa melakukan apapun.

Kulihat dua temanku berjalan menghampiriku saat sesi foto-foto itu telah selesai. Mereka menepuk bahuku, berusaha menghibur. Aku hanya tersenyum datar. Aku tak suka bila aku terlihat kasihan di mata mereka.

“Bersemangatlah, mungkin eomma mu memang sangat sibuk, Cheonsa-ya..” Junhi ikut duduk di sampingku, diikuti oleh Hana. Aku kini diapit oleh mereka berdua. Perasaan tak nyaman segera menyergap hatiku. Aku menggelengkan kepalaku dan tertawa pelan, “Ya, ia memang sibuk..sudahlah, untuk apa memusingkan hal itu? Lebih baik kita foto bertiga sekarang, bagaimana?”

Junhi dan Hana bertukar pandang sebelum akhirnya mengangguk. Kami bertiga berjalan menuju kelas kami. Foto terakhir untuk kenang-kenangan. Setelah ini, kami bertiga akan melanjutkan kuliah di tiga kampus yang berbeda. Junhi yang jenius diterima di SNU, Hana di Konkuk, dan aku di Sunkyungwan. Tingkat intelektual yang berbeda-beda di antara kami bertigalah yang membuat kami tak bisa memasuki kampus yang sama.

Suasana di koridor kelas cukup ramai. Tentu saja bukan hanya kami yang ingin foto di depan kelas. Banyak orang yang juga ingin mengabadikan momen terakhir memakai seragam sekolah di depan kelasnya masing-masing. Aku dan dua temanku meminta tolong pada seorang teman lain untuk mengambil foto kami bertiga. Berbagai pose dan gaya kami coba, hingga akhirnya waktu berpisah telah tiba. Hari sudah sangat senja saat kami keluar dari gedung sekolah.

“Junhi-ya, Cheonsa-ya..aku harus pulang sekarang..orang tuaku sudah menunggu..” Hana tersenyum sendu sambil menatap wajahku dan Junhi. Di gerbang, kedua orangtuanya melambaikan tangan, menyuruhnya untuk bergegas. Aku dan Junhi mengangguk. Memang sudah saatnya pulang.

Tak lama kemudian, ponsel Hana berdering. Kini giliran ia yang harus pulang. Aku menggeleng saat ia menawarkanku untuk pulang bersama. Arah rumah kami berlawanan, dan itu akan sangat merepotkan kurasa. Junhi menepuk bahuku dua kali sebelum akhirnya pergi menuju tempat parkir.

Aku menarik napasku panjang sembari berjalan menuju gerbang sekolah. Biasanya aku naik bis, tapi kali ini aku ingin sendirian. Jadi, kuputuskan untuk pulang memakai taksi saja. Sedikit mahal, memang.

Di dalam taksi, aku kembali membuka pesan dari eomma.

Cheonsa-ya..setelah acara selesai, kau harus langsung menyusul kemari. Gaunmu sudah disiapkan di atas kasur, untuk make-up nanti saja. Maaf eomma tak bisa memilih waktu yang lebih baik untuk pernikahan ini..

Aku menarik napasku panjang-panjang untuk kedua kalinya. Hidup ini memang tak mudah.

***

Orang tuaku sudah lama bercerai. Kalau tak salah ingat, mungkin saat aku berumur 10 tahun. Alasannya? Entahlah. Jika ditanya, eomma akan menjawab dengan kalimat-kalimat panjang yang ujung-ujungnya tak berhubungan dengan apa yang kutanya. Intinya: hanya nasihat-nasihat saja. Namun bila kutebak, kurasa itu karena Appa terlalu tinggi temperamennya. Hal-hal kecil saja bisa didebatkan hingga keesokan harinya. Karena itulah, eomma menyerah dan memutuskan untuk bercerai.

Eomma bekerja sebagai salah satu staff di sebuah perkantoran. Meski telah bercerai, eomma tak khawatir akan biaya untuk menghdupi kami berdua. Ia wanita dengan banyak rencana. Aku sudah diasuransikan sejak TK, begitu juga dengan dirinya sendiri. Setiap tahun, uang asuransi akan cair dan itu cukup untuk memenuhi biaya awal tahun sekolah. Jika kami sakit pun, ada jaminan asuransi kesehatan. Itu sebabnya, aku tak perlu bekerja part-time atau sejenisnya. Selain memang tak perlu, juga karena tak diizinkan.

Orang yang menjadi ayah tiriku kelak merupakan teman dari teman eomma. Mereka berdua dikenalkan dan memutuskan untuk menikah setelah merasa cocok satu sama lain. Kudengar, ia duda dengan seorang anak. Laki-laki. Aku tak pernah bertemu dengannya, katanya ia tinggal bersama pamannya di Daegu. Dan aku tak pernah tertarik untuk menanyakannya.

Taksi yang kukendarai akhirnya berhenti di depan sebuah wedding hall. Aku yang telah memakai gaun serta sepatu high heels melangkah keluar dari taksi dengan hati-hati. Setelah membayar ongkos taksi, aku buru-buru menuju ruang persiapan. Disana ada bibiku yang segera menyambut kehadiranku. Ia adik bungsu eomma, baru saja lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan. Aku cukup dekat dengannya karena umur kami yang tak tak terlalu jauh. Aku bahkan memanggilnya ‘eonni’

“Cheonsa-ya! Ppali ppali! Kau belum memakai make-up sama sekali bukan?” Bibiku—Yoojin—menarik tanganku dan memaksaku duduk di hadapan meja rias. Ia memanggil seorang penata rias yang sedang berdiri tak jauh dari kami berdua untuk segera mendandaniku.

“Eommamu itu memang terlalu! Padahal hari ini anaknya baru saja lulus SMA! Tapi ia malah menjadi orang yang terakhir menyelamatimu, ckckck..” Yoojin eonni mendecak beberapa kali dengan wajah tak habis pikirnya.

Aku yang sedang dirias hanya bisa tersenyum kecut meski dalam hati membenarkan kalimatnya barusan.

“Ah ya, kau sudah bertemu dengannya? Oppa-mu?” Yoojin eonni menatap mataku lewat cermin. Aku menaikkan sebelah alisku tak mengerti.

“Anak dari pria yang menikahi eommamu Cheonsa-ya~ kudengar ia setahun lebih tua darimu, jadi tentu saja ia akan menjadi ‘oppa’, benar begitu?”

Aku menggelengkan kepalaku malas. Bertemu saja belum, bagaimana aku bisa mengetahui usianya?

Yoojin eonni tampaknya menangkap raut wajahku yang tampak lesu dan tak bersemangat. Ia tersenyum maklum dan mengacak rambutku pelan, “Ia akan menjadi appa yang baik, percayalah pada eommamu yang telah memilihnya, eo?”

Aku ikut tersenyum, meski sedikit terpaksa. Soal ia akan menjadi appa yang baik, aku tahu itu. Wajahnya tak memiliki kesan jahat sama sekali. Lagipula, aku tahu bahwa eomma tak akan seenaknya memilih suami, karena ia sudah pernah mengambil pelajaran dari pernikahan pertamanya.

Wajah dan rambutku akhirnya selesai ditata. Aku mengecek penampilanku untuk terakhir kalinya sebelum menuju main hall. Yoojin eonni menngandengku dan kami berdua berjalan bersama. Kulihat eomma dan suami barunya sibuk menyalami orang-orang di sekitarnya. Saat mata eomma melihat sosokku, ia buru-buru menarik tangan suaminya untuk keluar dari kerumunan orang-orang.

“Wasseo? Maaf, eomma tak bisa menghadiri upacara kelulusanmu..”ujarnya sembari mengelus kepalaku.

Aku lagi-lagi hanya tersenyum. Rasanya hari ini adalah hari tersulit untuk berkata-kata. Kutatap eomma dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gaun pengantin yang cantik. Tentu saja eomma juga cantik. Ia tampak lebih muda dan wajahnya tampak cerah. Ia jelas sangat gembira hari ini. Aku mulai berpikir, apakah dulu wajah eomma juga secerah ini saat ia menikah dengan appa?

“Selamat Cheonsa-ya..kau sudah lulus SMA..”

Aku mengalihkan pandanganku pada pria yang berdiri di samping eomma. Ia memakai tuxedo putih dengan dasi berwarna senada. Aku buru-buru menunduk sopan begitu menyadari keberadaannya. Ia tergelak saat melihat tingkahku barusan.

“Tak usah segan begitu, Cheonsa-ya..kita sudah menjadi keluarga, bukan?”

Aku menengadahkan kepalaku kembali dan mengangguk.  ‘Keluarga’ ya? Keluarga baru.

“Ah, hampir lupa..kemana anak itu sekarang?” Ayah tiriku mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Matanya kemudian berhenti di satu titik dan bisa kulihat bahwa ia sedang menatap seorang pria yang sedang duduk sendirian sembari memainkan ponselnya. Kutebak ia adalah anak laki-lakinya yang belum pernah kutemui itu.

“Namanya Oh Sehun, ia akan menjadi oppa-mu..”bisik eomma di telingaku saat ia melihatku sedang menatap pria itu. Aku menggumam pelan, sekedar merespon.

Pria yang katanya bernama Oh Sehun itu akhirnya menatap ke arah kami. Ia segera berdiri saat ayahnya memberikan isyarat dengan tangannya untuk segera bergabung kemari. Sosoknya yang tegap dan semampai memberikan kesan ‘manly’ saat aku pertama melihatnya.

“Cheonsa-ya..ini jackpot! Bukankah ia sangat tampan?” Yoojin eonni berbisik di telingaku dengan semangat. “Kalau saja ia lebih tua dariku, tentu akan langsung kuculik!” Lanjutnya lagi yang membuatku terkekeh pelan.

Pria itu akhirnya berdiri di hadapanku. Ia membungkuk sopan sebelum akhirnya memperkenalkan dirinya. Oh Sehun. 20 tahun. Tinggal bersama paman dan bibinya sejak SMP di Daegu.

Aku turut memperkenalkan diriku juga, dibantu oleh eomma tentunya. Kami berdua tersenyum canggung satu sama lain. Namun untuk Sehun, pria itu lebih tepat dikatakan tersenyum datar daripada canggung. Dari yang kulihat, ia tipe pria yang tak banyak bicara. Buktinya, ia hanya membalas pertanyaan dari Seori eonni dengan ‘Ya’, ‘Tidak’, dan senyum datarnya itu. Yoojin eonni akhirnya menghela napasnya putus asa karena Sehun tak menanggapinya seperti yang ia harapkan.

“Ah, kami berdua harus kembali. Ada banyak tamu yang harus kami salami. Kalian berdua bisa lanjut mengobrol tanpa kami,” ujar eomma padaku dan Sehun setelah beberapa menit berlalu.

Tidak, terima kasih, jawabku dalam hati.

Sepasang pengantin itu akhirnya pergi meninggalkan kami berdua. Yoojin eonni juga pergi karena ia ingin mengobrol dengan teman-temannya. Aku melirik Sehun yang masih berdiri di tempatnya. Kurasa ia juga tak berminat mengobrol denganku. Kami berdua akhirnya ikut berpencar tanpa mengucapkan sepatah kata kepada satu sama lain. What a ‘warm’ family.

Aku memilih untuk keluar gedung. Duduk di atas kursi yang berada di taman. Merenungi nasib. Dear world, hari ini aku memiliki keluarga baru. Bagaimana kelanjutan hidupku aku tak tahu. Apakah semuanya akan senormal dulu?

Aku seorang gadis normal. Aku telah terbuai dengan segala kenormalan. Jadi kuharap, semua hal yang normal tak akan berubah setelah ini. Karena seperti yang telah kukatakan tadi: “Aku gadis yang normal.”

***

Malam ini adalah malam kedua semenjak kami tinggal berempat di rumahku. Abeoji—kurasa aku harus mulai membiasakan diriku memanggilnya seperti itu—dan Sehun pindah ke sini karena sebelumnya mereka tak memiliki tempat tinggal tetap. Abeoji selalu berpindah-pindah kerja setelah bercerai dengan istri pertamanya, sedangkan Sehun tinggal di Daegu. Aku tak masalah dengan itu. Lagipula memang ada satu kamar kosong yang tak pernah dipakai.

Sehun dan aku tak pernah benar-benar berbicara satu sama lain. Aku merasa segan, juga tak mau terkesan sok akrab. Biarlah kami berjalan di jalan kami masing-masing. Tak perlu ada yang berubah dari hidupku.

Setelah makan malam, kedua orang tuaku akan memulai bulan madu mereka. Aku dan Sehun ditinggalkan berdua saja di rumah. Sedikit risih, memang. Tidakkah seminggu kedepan akan menjadi minggu paling canggung di antara kami berdua?

“Sehun, Cheonsa, bantu masukkan koper kami ke bagasi mobil! Kami sedang mengurus tiket pesawat, ppali ppali!” teriak eomma dari dalam kamarnya. Aku yang sedang mencuci piring-piring kotor bekas makan malam menghela napas pelan sebelum mengiyakan permintaannya. Kutinggalkan piring-piring yang masih berbusa untuk segera mengangkut koper yang tergeletak di ruang tamu.

Aku meringis pelan saat mengangkat koper yang ternyata sangat berat itu. Masih ada satu koper lagi yang tersisa. Aku melirik ke arah tangga, menantikan sosok Sehun yang belum muncul juga untuk membantuku. Sambil merutuk dalam hati, akhirnya aku memutuskan untuk mengangkatnya sendiri. Mungkin ia tak mendengar teriakan eomma tadi.

“Aish..” aku mendesis pelan saat menyadari bahwa aku harus mengangkat koper itu ke bagasi mobil yang sedikit tinggi dari permukaan tanah. Diseret saja sudah sangat berat, bagaimana diangkat? Aku mulai mengutuk diriku yang memiliki tubuh kecil sehingga membuatku tak mampu melakukan hal ini.

“Biar aku yang mengangkatnya,” sebuah suara terdengar tepat saat aku mengambil ancang-ancang untuk mengangkat koper tersebut. Aku menolehkan kepalaku. Sehun tampak sedang berjalan ke arahku dengan menyeret koper yang lainnya.

“Ah, ya..maaf, aku tak kuat mengangkatnya,” ujarku jujur. Ia mengangguk dan mengangkat kedua koper tersebut tanpa banyak bicara.

Aku menatap wajah Sehun dari samping. Hidung mancungnya serta mata sipitnya yang nampak tajam. Rambutnya dicat dengan warna coklat tua. Aku merasa seperti liliput jika berdiri di dekatnya. Tinggiku hanya sebahunya, ditambah lagi dengan tubuh kurusku, the perfect dwarf, huh?

Setelah menaikkan koper, kami berdua kembali memasuki rumah dan aku dikejutkan oleh tempat cuci piring yang sudah bersih. Tak ada piring-piring berbusa yang tadi kutinggalkan sama sekali. Aku melirik Sehun yang berjalan menuju kulkas. Kuperhatikan lengannya yang sedikit basah. Mungkinkah..ia yang melakukannya?

“Sehun-ssi,” panggilku pelan.

Ia berhenti meneguk air mineral yang sedang diminumnya dan menoleh padaku. Ia menatapku, menantikan kalimatku selanjutnya.

“Piring-piring itu, kau yang..?”

“Hm.” Ia mengangguk kecil. Aku tersenyum kaku dan mengucapkan terima kasih padanya. Ia mengangguk lagi dan akhirnya pergi menuju ruang tamu.

Sepuluh menit kemudian orang tuaku telah berangkat meninggalkan rumah menuju bandara untuk berbulan madu di Jeju-do. Aku dan Sehun melangkah menuju kamar kami masing-masing di lantai dua. Kamar kami berdua tepat berhadapan satu sama lain.

Aku segera menghempaskan badanku di atas kasur. Menatap langit-langit putih sembari memikirkan sesosok pria yang menempati kamar di depanku. Oh Sehun, kakak tiri yang cukup misterius. Aku mulai mengira-ngira bagaimana hubungan kami kedepannya. Apakah kami akan tetap segan, ataukah kami akan menjadi saudara tiri yang dekat, atau kami tak peduli satu sama lain, atau malah saling membenci.

Aku menggelengkan kepalaku dan menutupi wajahku dengan bantal. Apapun itu yang akan terjadi, kuharap itu bukan hal yang buruk..

***

Aku menggeliat di atas kasurku sebelum akhirnya bangun. Sinar matahari yang masuk melewati celah tirai menyilaukan mataku. Aku menyambar ponsel di atas mejaku dan menemukan satu pesan baru yang belum kubaca.

Cheonsa-ya..aku lupa mengatakan padamu bahwa Sehun juga akan berkuliah di Sungkyunwan bersamamu. Ia memang setahun lebih tua, tapi ia seangkatan denganmu di sekolah.. kau bisa melakukan daftar ulang bersamanya, eo? Jangan khawatir, ia anak baik-baik..akurlah selama kami berdua tidak ada di rumah, ok?

Aku cukup terkejut begitu mengetahui bahwa Sehun dan aku memasuki kampus yang sama, bahkan seangkatan. Setelah mengecek penampilanku di kaca, aku keluar dari kamarku. Tak ada suara sama sekali yang terdengar dari kamar Sehun. Kutebak ia masih tidur. Lagipula, ini memang masih libur.

Aku menuruni tangga dan dikejutkan oleh pemandangan di depanku. Ternyata Sehun sudah bangun. Ia menggunakan trainingnya dan sedang menonton televisi. Sepertinya ia habis jogging pagi ini. Tak hanya itu, ia bahkan sudah menyiapkan sarapan di meja makan. Walaupun hanya roti bakar.

Ia menoleh begitu menyadari keberadaanku dan aku melemparkan senyum tipis. “Selamat pagi,” ujarku sedikit ragu.

“Pagi,” balasnya singkat. Seperti biasa, wajahnya datar sekali.

Aku mengedikkan sebelah bahuku dan duduk di atas salah satu kursi di ruang makan. Ruang makan kami berada dekat dengan ruang keluarga. Eomma sengaja mendesain seperti itu agar kami bisa menonton sembari makan. Dan aku mau tak mau ikut menonton acara teve yang dipilih Sehun pagi itu. Berita pagi.

Sarapan pertama hanya bersama ‘Oppa’ku, rasanya tak begitu buruk. Terima kasih Tuhan, ternyata ia memang pria baik-baik.

***

Tiga hari kemudian, kami berdua berangkat menuju kampus untuk mengurus registrasi awal tahun pelajaran. Meski berangkat bersama, tetap saja kami tak banyak bercakap-cakap. Sehun menutup telinganya dengan earphone sejak berada di bis dan aku memilih untuk chatting dengan kedua temanku. Sama sepertiku, mereka berdua juga sedang sibuk mengurusi hal-hal yang berkaitan dengan perkuliahan.

Saat registrasi telah selesai, kulihat Sehun sedang mengobrol dengan seorang pria yang kutebak adalah temannya. Aku menatap mereka berdua dari kejauhan. Kami memang tak janji untuk pulang bersama, namun aku tak enak bila harus pulang lebih dulu. Ragu, akhirnya kukirimkan pesan singkat padanya.

                To: Oh Sehun

Maaf, aku pulang duluan. Tak usah membeli makanan, aku akan memasak untuk makan       malam.

***

Aku hampir tak mempercayai telingaku saat Sehun tiba-tiba berkata, ‘Terima kasih. Masakanmu enak’ sesaat setelah makan malam usai. Entah apa pasalnya aku merasakan pipiku memanas. Belum pernah masakanku dipuji oleh siapapun, bahkan oleh eomma sekalipun. Aku jarang berinteraksi dengan pria selama 19 tahun hidupku dan hal itu membuatku merasa aneh saat seorang pria memberikan perhatian kecilnya terhadapku, termasuk Sehun.

Pria itu bahkan membantuku mencuci piring lagi. Kami berdua memang jarang berbicara, tapi kurasa kami berdua lebih sering berinteraksi dengan melakukan sebuah aktifitas bersamaan. Meski baru beberapa hari mengenalnya, ia sudah sering membantu dan mengantarku kemana-mana. Ini sedikit aneh, tapi aku merasa nyaman bersamanya. Jadi..beginikah rasanya memiliki seorang ‘oppa’?

***

Ini malam terakhir orangtuaku berbulan madu. Besok sore mungkin mereka sudah sampai di rumah. Aku merasakan sebuah perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar di hatiku. Mengapa rasanya begitu tak nyaman?

Aku menghela napas dan memandang jam dinding keroppi yang menunjukkan pukul 01.50 malam. Oh, mungkin bukan malam, tetapi pagi. Tiba-tiba perutku terasa mual. Aku buru-buru keluar dari kamar dan menuju kamar mandi yang berada tepat di sebelah kamar Sehun. Kamar mandi di dalam kamarku rusak sejak sehari sebelum hari kelulusanku. Karena banyak kegiatan selama seminggu ini, eomma lupa untuk mengurusnya. Itu sebabnya selama seminggu Sehun mulai tinggal bersama kami, ia masih harus berbagi kamar mandinya denganku.

“Hoeek..hoeek..uhuk..” Aku mengeluarkan isi perutku spontan begitu tiba di wastafel. Belum cukup dengan muntahan pertama, perutku kembali memompa keluar isinya untuk kedua kalinya. Napasku terengah-engah dan tanganku sedikit gemetar. Rasanya lelah sekali. Aku bergegas mencuci mulutku dan membersihkan sisa-sisa muntahanku. Sambil keluar dari kamar mandi, aku mengira-ngira makanan apa yang membuat perutku tiba-tiba memberontak seperti ini.

“Gwaenchana?”

“Kkamjagiya!” desisku kaget saat melihat Sehun yang tiba-tiba muncul keluar dari kamarnya. Kantung matanya sedikit menghitam. Aku buru-buru menggelengkan kepalaku, “Gwaenchana..aku hanya sedikit mual..maaf sudah membangunkanmu. Kau bisa kembali melanjutkan tidurmu,”ujarku padanya.

Ia tersenyum tipis dan ikut menggelengkan kepalanya, “Aku memang tak bisa tidur.”

Kita sama.

Aku tiba-tiba merasakan sentuhan lembut di tanganku. Sehun menarik tanganku dan menuntunku untuk turun ke bawah. Aku memandangi punggungnya yang berada di depanku. Kakiku dengan mudahnya menurut dan mengikuti langkah kakinya. Lagi, perasaan nyaman itu datang. Rasa yang selalu muncul saat ia bersamaku. Kurasa aku mulai menerimanya sebagai seorang oppa di mataku.

Sehun mendudukkanku di sofa ruang keluarga sementara ia pergi ke dapur. Terdengar bunyi denting beling dan sendok yang saling beradu. Saat aku menoleh ke arahnya, ia sudah membawa secangkir teh untukku.

“Minumlah. Ini akan membuatmu merasa lebih baik,”ujarnya sembari menyodorkan cangkir tersebut padaku.

Aku mengangguk kecil dan menerimanya. Wangi teh tersebut sangat harum. Seiris buah lemon tampak mengambang di atas permukaannya. Aku meneguk teh tersebut dan merasakan kehangatan menyebar di setiap lintasan yang dilewatinya.

“Aku tak menyangka kau begitu ahli meracik teh..ini teh terenak yang pernah kucoba, terima kasih..”ujarku setelah teh itu habis.

Kuperhatikan wajah Sehun yang berubah sedikit memerah setelah aku mengatakan kalimatku tadi. Eh? Apa ia merasa malu karena pujianku barusan? Atau ia marah?

“Maaf, apa kata-kataku tadi membuatmu tak nyaman?” tanyaku hati-hati. Ia menggeleng dan tertawa kecil. Aku hampir tak mempercayai mataku sendiri saat melihat tawanya itu. Ini pertama kalinya aku melihat ia tertawa. Meski hanya sebentar, pemandangan itu tersimpan dengan cepat di kepalaku.

“Sama sekali tidak. Terima kasih juga, aku senang mendengar pujianmu. Sudah lama aku tak dipuji seperti itu,” jawabnya pelan. Ia tampak mencoba menyembunyikan raut wajah malunya.

Aku ikut tertawa melihat wajahnya. “Sama denganku. Aku juga senang saat kau memuji masakanku. Kau tahu, eomma sekalipun tak pernah memuji masakanku. Jadi, kutebak skor kita satu sama?”

Sehun mendengus dan tersenyum. Kali ini senyumnya lebih lebar dari biasanya. Matanya melengkung seperti bulan sabit. Aku merasakan sesuatu meletup di hatiku. Seperti confetti. Tuhan, kenapa aku begitu senang melihat wajah bahagianya seperti ini?

Selang beberapa menit, obrolan-obrolan singkat mulai mengalir di antara kami. Akhirnya, setelah seminggu berlalu, kami bisa mengobrol juga. Kami saling bertukar cerita, meskipun tak banyak.

“Jadi, berhentilah menggunakan bahasa formal denganku. Bagaimanapun kau lebih tua dariku, Sehun-ssi..” ujarku di akhir obrolan kami.

“Aku belum terbiasa, maaf..” jawabnya jujur. Aku mengangguk paham. Tentu, aku sendiri belum berani untuk memanggilnya ‘oppa’.

Suasana menjadi hening sejenak sampai tiba-tiba Sehun membuka mulutnya. “Kau tidur disini saja. Akan kubawakan selimutmu dari atas nanti.”

Aku mengernyitkan dahiku tak mengerti. Disini? Di atas sofa? “Wae?”

“Kondisimu masih tak stabil. Aku tak mungkin menungguimu di kamarmu kan?”

Belum sempat kujawab, Sehun sudah menaiki tangga dan menuju kamarku. Aku memegang pipiku yang kembali memanas. Perhatiannya ini membuatku melambung tinggi. Aku paham maksudnya. Ia ingin menungguiku tapi kami tak mungkin berada di dalam kamar yang sama, begitu bukan?

Sehun kembali dengan membawa selimutku dan selimutnya sendiri. Aku membaringkan tubuhku di atas sofa yang lebih panjang, sementara ia memilih untuk tidur dengan posisi duduk di sofa yang ukurannya lebih kecil.

Mataku tanpa sadar terus menatap wajah Sehun yang sudah memejamkan matanya. Aku masih tak bisa tidur. Dan keberadaan Sehun di dekatku kini malah membuatku semakin tak mengantuk. Ada sesuatu pada dirinya yang membuatku tak bisa melepaskan pandanganku darinya.

Aku akhirnya bangun dari posisiku dan beranjak untuk mematikan lampu. Saat itulah selimut yang Sehun kenakan tiba-tiba jatuh ke lantai. Aku berhenti sejenak untuk mengambil selimut tersebut. Kupasangkan kembali selimut itu padanya dan akhirnya kumatikan lampu.

Sebelum menutup mata, kusempatkan untuk memandang wajah Sehun sekali lagi.

“Terima kasih,”

“..Sehun-ssi.”

***

Ohohohoho~ gimana part 1 nya? Ini ff aku yang pertama di publish di ffindo, jadi mohon kasih kritik sarannya yaa~

Makasih juga buat Evilliey Kim yang udah berkenan dititipin cerita yang dibuat saat sedang mabok Sehun ini~

Advertisements

144 responses to “(Un)Fated Scene [Part 1]

  1. Kalo di tempatku sih saudara tiri yg saling suka itu gak masalah dan kalo misalnya sampe kejenjang pernikahan juga gpp tapi sebelum menikah ada syarat yg harus di penuhi. Yahh smacam upacara adat gitu.
    So, lanjutkan perasaan kaliaan.

  2. Hai aku new reader mau baca fanfic kamu boleh kan? Tadi aku sedang bosen dan pengen baca fanfic lagi dan aku carilah fanfic sehun dan fanfic ini salah satunya yg muncul. Baru part satu udah keren apalagi selanjutnya aku bakalan rajin baca kok. Semangat ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s