Jewel

J

J | fhayfransiska | Romance | PG-17

Zhang Yixing, Song Qian, Kim Jongdae, Kim Hyoyeon

J for Jewel

“Binar bak perhiasan yang bersinar di sepasang iris Hyoyeon sudah tidak lagi jadi miliknya.”

________

            Entah sudah yang keberapa kalinya pemuda berkulit porselen itu menghela napasnya keras, berupaya mengabaikan seruan kasar yang dilontarkan segerombolan remaja padanya baru saja. Salahkan Qian yang mengomelinya tadi pagi sehingga ia lupa membawa headphonenya—senjatanya. Setidaknya ia berharap dengan menggunakan ‘senjata’nya itu ia jadi hanya mendengar lagu-lagu klasik kesukaannya, bukan ejekan dan makian kasar yang dengan paksa menerobos masuk gendang telinganya seperti sekarang.

“Lihatlah si gay itu, caranya berjalan saja sungguh menjijikkan!”

“Dia hanya diam, lho! Berarti yang kita kira selama ini memang benar!”

“Dia benar seorang gay!”

Pemuda itu melangkah lebih cepat, sesegera mungkin menjauh dari tempat itu. Tak peduli kendati jalan yang kemudian harus ia pilih adalah sebuah gang tikus yang becek dan tidak jauh dari kesan kotor, pun bebauan yang menusuk langit-langit hidungnya. Asalkan tidak mendengar cercaan itu saja ia sudah merasa cukup.

Tak lama kemudian rajutan langkahnya terhenti tatkala sebaris kenangan menyelinap di selaput otaknya. Membuatnya lantas berpikir, memangnya bagaimana caranya berjalan hingga pemuda-pemuda itu mengatainya demikian? Memangnya apa yang selama ini mereka pikirkan soal dia? Memangnya ia terlihat benar-benar seperti seorang gay?

Lalu sebuah pertanyaan baru tercetus, memangnya siapa yang bisa menjawab semua pertanyaannya barusan?

Pemuda itu mendesah pasrah. Merasa bodoh.

_______

“Sudah pulang ?”

Pemuda itu berdehem mengiyakan, melemparkan tas punggungnya ke sembarang tempat tepat setelah sepasang sneakers terlepas dari dua kakinya. Ia melangkah menuju dapur dengan gontai, ruang di mana seorang gadis yang tengah mengenakan apron kuning memunggunginya, sibuk memasak.

“Terjadi sesuatu lagi ?” Si gadis mengangkat panci kecil berisi sup yang telah matang dengan asap yang mengepul, kemudian meletakkannya di atas meja tempat di mana si pemuda duduk termenung. Sibuk melamun hingga tak menyadari pertanyaan serta semangkuk sup yang disodorkan ke arahnya.

Barulah si pemuda kembali ke dunia setelah sebuah kecupan lembut mendarat di pipinya, ia terkejut dan menoleh ke arah seorang gadis yang menatapnya dengan alis berkerut dan mata menyipit. “Ada apa, Qian?”

“Harusnya aku yang bertanya begitu? Apa ada yang terjadi lagi? Ada yang mengganggu pikiranmu hingga kau terus melamun dan mengabaikanku seperti itu, Yixing?”

Sepasang mata milik pemuda bernama Yixing itu membulat, kemudian tersenyum salah tingkah hingga lesung pipinya nampak, baru menyadari apa yang menjadi alasan dari kerutan dalam di dahi Qian. “Yah seperti biasalah, masalah biasa.”

“Kau berkata seolah-olah itu adalah hal lumrah yang benar adanya.”

Yixing tersedak sup yang baru setengahnya ia makan, lalu dengan cepat berkata, “Itu tidak benar. Apa yang mereka bilang tidak benar. Aku bukan gay.”

Yixing melontarkan pernyataan terakhir penuh penekanan.

Qian memutar bola matanya pelan, terlihat jemu dengan jawaban si pemuda. “Well, I know. Tapi aku rasa itu memang kesalahanmu sendiri, Xing.”

Terdengar dentingan halus ketika Yixing meletakkan sendoknya di atas mangkuk. Entah mengapa, kalau Qian sudah mulai membicarakan masalah ini, ia jadi tidak berselera makan. Rasa laparnya menguap seketika dan pergi jauh bersamaan dengan asap yang mengepul dari sup yang hangat.

“Kau sendiri yang mengakui bahwa dirimu adalah seorang gay di hadapan Hyoyeon. Kalau saja kau tidak melakukannya, kau tidak akan mendapat masalah seperti sekarang.”

Nama yang barusaja disebut oleh Qian membuat Yixing ingin menulikan telinganya saat itu juga. Well, apa yang dikatakan Qian barusaja memang benar. Jadi ia seharusnya tidak boleh sakit hati kalau orang sudah mencapnya demikian, bukan? Harusnya.

Tapi …

Lagipula, Hyoyeon sudah tidak mempedulikannya lagi sekarang. Perhiasan hati miliknya yang berharga itu sudah pergi, tidak ingin kembali padanya lagi. Binar bak perhiasan yang bersinar di sepasang iris Hyoyeon sudah tidak lagi jadi miliknya.

Soalnya Hyoyeon …

Qian bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Yixing ketika pemuda itu sekali lagi larut dalam bayang-bayang masa lalunya. Qian menarik pelan tengkuk Yixing lalu menempelkan dahinya di dahi si pemuda. Keduanya saling bertatapan dalam diam selama beberapa waktu, “Aku tidak peduli pada semua yang orang katakan soal dirimu, Xing. Aku akan selalu ada di dekatmu apapun yang terjadi. Meskipun hatimu tidak ada untukku, meskipun jiwamu tidak ada di sini bersamaku. Tolong tetaplah percaya, bahwa aku tulus mencintaimu.” Qian tampak menelan ludah, terlihat ragu sejenak pada apa yang ingin ia lakukan. Namun kemudian ia menempelkan bibirnya pada milik Yixing. Agak lama.

Tidak ada yang bisa Yixing lakukan selain membalas kecupan itu, sama hangatnya.

Kendati sesuatu yang berbeda berdentum keras di hatinya sekarang.

_________

            “Dengar-dengar, Hyoyeon tidak pernah nyaman berada di dekat pria.”

            Yixing terbelalak mendengar pernyataan yang baru saja diucapkan Jongdae. Dengan cepat ia menarik kedua bahu pemuda yang sedari tadi berjalan di sampingnya itu, menghadapkannya pada Yixing. “Kau yakin dengan kata-katamu?”

            Jongdae berdecak dan menepis cengkeraman Yixing di bahunya, “Memangnya ada untungnya aku berbohong? Kau tahu, Xing. Hyoyeon punya latar belakang yang gelap,” pemuda mungil itu terlihat berpikir sebentar, mungkin bingung bagaimana harus menceritakannya pada Yixing. “Seseorang merenggut paksa keperawanannya dua tahun yang lalu. Jadi … aku rasa hal itulah yang membuatnya selalu menghindari pria manapun, siapapun itu. Mungkin traumanya masih membekas sampai sekarang,”lanjut Jongdae.

            Kedua lengan Yixing sontak melemas, jatuh begitu saja. Kenyataan yang baru ia dengar sanggup mematikan sel-sel di otaknya untuk bekerja sebagaimana mestinya. Ia diam, membisu seketika. Bahkan ketika Jongdae mulai mengoceh lagi, ia hanya bisa melihat bibir pemuda itu yang bergerak, tidak terdengar suaranya. Sama sekali.

Kadang orang lupa, informasi yang kelewat mengejutkan dapat membuat seseorang lumpuh.

            Yixing kembali berfungsi tatkala Jongdae memukul pelan lengannya dan bergumam, “Hei, kau tidak benar-benar menyukai Hyoyeon seperti yang aku kira selama ini kan, Xing? Kalau kau benar menyukai dan ingin mendekatinya, kurasa kau harus mengaku sebagai seorang gay di hadapannya!” Jongdae kemudian tertawa, benar-benar bercanda dengan kata-katanya barusan. Sayangnya ia tidak melihat betapa Yixing menanggapinya dengan terlampau serius.

            Apa? Menjadi gay di hadapan Hyoyeon?Di hadapan perhiasan hatinya?

            Mungkin, cara itu bisa ia lakukan sebagai langkah awal. Siapa tahu.

 

___FIN___

Please Also Read :

Purgation | fhayfransiska | Life, Moral Value

Bae Sooji, Park Chanyeol

“Percayalah, jangan pernah ragu akan kekuatan doa ..”

________

8 responses to “Jewel

  1. Oh author disini mainin alur mundur ya? Ehtp kyknya tiap epep ygalphbet selalumundur wkwk
    Yg purgation dpt bgt pesnnya thx thor, ada jg author yg ingetin pesan ini

  2. Yuhuu~~~
    Akhirnyaa muncul lagi ceritamu hehe.
    Hah…kenapa peran Lay yg km tulis selalu ngena sm aku?

    Wkwkwk okee ini lebay dan melankolis…
    But, overall I like it. Btw keep writing yah!! Karya selanjutnya ditungguu ehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s