An Angel [Oneshoot]

Annyeongg ~ Saya membawa salah satu titipan epep baru lagi. Tak lupa juga saya selalu mengingatkan untuk meninggalkan jejak dan hargai karya author yang satu ini. Happy Reading ~ ^^

(note : untuk yg berminat epepnya dititipin sama saya bisa klik disini, ada dibagian bawah intro saya. tapi harus mau menunggu soalnya kesempatan kosong dimulai dari hari kamis. INGAT, DON’T PLAGIATOR! Thankseuuuuu :* )

An Angel

Author: Deer’s

Cast:

·         Lu Han (EXO-M)

·         Kim Nara (OC/You)

Genre: Romance and Fantasi

Lenght: Oneshot

Rating: PG – 15

 

20 April 2013

 

Nyanyianburungkecilmengalunindahmengiringipagi yang cerah.Senadadenganharumbunga yang bermekaransemenjaksebulan yang lalu.Cahayamatahari yang hangatmengeluswajahmumanjasetelahberhasilmelewatikacadantiraitransparan di jendelakamar.Membuatmuterbangun.

Pagi yang cerah di pertengahanmusim semi iniakanmengawalmupadaharipertama di universitas. Kaukiniberstatussebagaimahasiswabarujurusan Bahasa danSastra di Seoul National University.Kampus yang terkenalkarenamahasiswanya yang pintar.Pintar?Mungkinkauhanyaberuntungbisaditerimadisana.Kau yang sedarikecilmemangterdidikmenjadigadismandiriolehkedua orang tuamu, menganggapbahwa SNU merupakantantangan yang besar.Semenjak elementary school kauhanyainginseriusbelajar, kautakmaumembuangwaktuuntukhalremehtemeh.Semangatmuberkobarbesarsaatkeduaorangtukaumeninggaldalamsebuahkecelakaanmobil.Sempatdepresimemang, tapijanjimupadamerekamengalahkansegalanya.Kauharusberhasildanmembuatmerekabangga di surgasana. Eommasaranghae.Appasaranghae.

Kauberanjakuntukmenutupjendelakamarsebelumkauberangkatkuliah.Tiba-tibaanginberhembuskencang, memakskauuntukmenutupmata.Tak lama berselang, sekilaskaumelihatsepertiada meteor yang jatuhdarilangit.Membuatsuaragemuruhpanjang yang cukupbisakaudengarjelas.Kemudianterdengarjugadentumankeras yang sepertinyatakjauhdarirumahmu.Rumahkecilpeninggalan orang tuamuiniberada di pinggirkota Seoul. Berdampingandenganhutankecil di belakangsana. Menenangkan.

Kaupenasaranpadasuarameteor tadi. Kau berprediksi bahwa benda langit itu jatuh tak terlalu masuk ke hutan. Kau melangkahkan kaki perlahan memasuki bibir hutan yang selama ini belum pernah kau datangi. Pohon – pohon pinus tinggi menyambutmu seolah mereka adalah benteng hutan. Kau menerobos semak-semak liar yang tak terlalu tinggi. Kau meringis sesaat ketika duri kecil menggores punggung tanganmu yang tak tertutup apapun. Celana panjang, sepatu sneakers, dan sweater yang kau gunakan sedikit melindungi mu dari duri kecil yang lain.

Sekitar sepuluh menit berselang, kau dikejutkan dengan penampakan sebuah danau kecil berwarna biru kehijauan. Jernih seperti kaca. Bahkan pantulan alam sekitar pun bisa kau lihat jelas di permukaan airnya. Ini pertama kali kau melihatnya. Appa dan Eomma tak pernah bercerita tentang hutan ini, dan kau pun tak pernah tertarik untuk bereksplorasi. Satu hal lagi yang kau lihatdanini lebih mengejutkan. Kau merasakan dadamu sesak, paru-parumu tersumbat selama sepersekian detik. Tapi akhirnya kau berhasil memerintahkan organ pernafasanmu untuk bekerja kembali. Kini jantungmu berdetak sangat cepat, karena kau takut. Kau takut untuk mendekati benda (?) aneh yang kau lihat.

Kau melihat manusia? bukan, manusia tak bersayap putih seperti itu. Otakmu belum bisa bekerja dengan baik. Kakimu bekerja tanpa kau perintah. Mengeliminasi sedikit demi sedikit jarakmu dengannya. Semakin jelas kau lihat makhluk itu yang kini hanya berjarak 5 meter didepanmu. Tubuhnya sedikit tertelungkup. Rambutnya sedikit putih, atau mungkin perak? Entahlah. Kau kaget ketika dia tiba-tiba mendongak dan melihatmu. Raut wajahnya berubah, seperti terkejut. Kemudian secara tiba-tiba, sayap putih lebarnya menghilang. Seperti ada alat penyedot sayap dipunggungnya. Kau kembali terkejut untuk kesekian kali.

Dia mencoba duduk, menumpukan berat pada tangan kananya. Dia terlihat kesakitan. Kau sedikit berlari untuk bisa cepat mendekat padanya sebelum dia terjatuh. Tangan itu tak mampu menahan badannya. Kau melihat wajah makhluk itu. Tampan, sempurna, bercahaya. Kau menggelengkan kepalamu sesaat untuk menghilangkan pikiran yang tidak-tidak. Ini bukan saatnya untuk berpikir tentang itu. Kau membantunya berdiridenganmenaruh tangan kirinya dibahu kirimu. Kau memapahnya dan membantunya berjalan.

Kau menidurkannya di tempat tidurmu. Wajahnya terlihat pucat. Makhluk itu sepertinya tak sadarkan diri. Kau melihat darah di lengan jaketmu sebelah kanan. Kau terbelalak. Itu berarti punggungnya terluka. Kau memiringkan badannya dan benar saja, kau menemukan kemeja putihnya ternoda oleh darah merah segar. Kau segera mengambil kotak P3K kemudian dengan terpaksa, kau membuka bajunya. Kau tak sempat berpikir macam-macam, sekarang yang terpenting adalah kau harus merawat luka itu agar tak infeksi. Luka itu terlihat agak parah, berbentuk memanjang sekitar 15 cm dan agak melengkung.

Setelah selesai kau menutup kotak P3K mu dan melihat lagi ke arah luka itu. Apakah tadi benar yang aku lihat? Sayap putih itu? Apakah sayapmu terluka? Apakah sayapmu tadi kau selipkan di balik luka itu? Tunggu! Apakah kau seorang malaikat? Bukankah malaikat itu wanita? Tapi kau?Terlalu banyak pertanyaan di kepalamu. Kau baru sadar bahwa kau sudah menghabiskan satu jam mu dengan mengurus meteor atau malaikat jatuh itu. Kau terhenyak kemudian beranjak. Kau mengambil selimut untuk menutup tubuh lemah itu kemudian berangkat ke kampus.

 

-0-0-0-

 

Beruntunglah, pagi ini kau tak ada kelas. Hanya ada satu matakuliah yang harus kau hadiri siang ini. Dan ini berarti kau akan segera pulang. Kau sama sekali tak bisa berpikir jernih. Pikiranmu didominasi oleh keadaan rumahmu, oleh namja yang tadi kau tinggalkan tertidur dikamarmu. Kau masih tak bisa membedakan apakah pengalaman itu mimpi atau bukan. Semua terlihat nyata, hanya saja tidak realistis. Mungkin saja kau bermimpi dan hanya terpengaruh oleh buku cerita fantasi favoritmu. Tapi kau yakin kalau kau benar-benar mengalami kejadian super anehitu pagi tadi.

Kau kembali melamun, mengingat wajah itu. Ukiran paling sempurna yang pernah kau lihat. Wajahnya yang terlihat tampan dan cantik pada saat yang sama, dagu yang melengkung sempurnya, hidung yang mancung, bibirnya yang tipis dan sedikit terlihat kemerahan, dan yang paling membuatmu terpaku adalah matanya. Mata yang sempat terbelalak saat kaget itu beriris coklat gelap keemasan dan bercayaha. Seperti ada jutaan binatang yang terperangkap disana.

Setelah dosen menutup kuliah hari ini, kau bergegas untuk keluar kelas. Kau bahkan tak peduli dengan orang-orang disekitramu yang sibuk mencari teman baru. Yang ada dipikiranmu saat ini adalah kau harus cepat pulang.

Kau membuka pintu depan dengan cepat tapi kemudian berjalan ragu-ragu ke kamarmu. Kau melihat sosok itu nyata berdiri di dekat jendela, mengedarkan pandangannya keluar, keatas mungkin lebih tepatnya. Tubuh bagian atasnya yang tadi terbuka, sekarang tertutup oleh selimut yang tadi kaugunakan untuk menyelimutinya. Kau mendekatinya pelan.

“Kau sudah merasa baikan?” kau bertanya pelan. Membuatnya menoleh padamu. Dia tersenyum sesaat kemudian kembali melihat keluar.

“Kau lapar?” tanyamu lagi. Dia memandangmu lekat. Kau menepuk keningmu pelan. Kau bahkan berpikir bahwa makhluk aneh itu bisa bicara. Bodoh.

Tanpa banyak bicara, kau mengulurkan tanganmu. Dia melihat tanganmu sekilas, kemudian mengulurkan tangannya. Melakukan hal yang sama dengan apa yang kau lakukan. Kau menggenggam tangan besar itu kemudian menuntunnya ke ruang makan. Kau merasa ada yang tak beres dengan jantungmu. Organ penting itu berdetak terlau cepat sepertinya.

Kau menyuruhnya duduk di kursi sementara kau menyiapkan makan untuknya. Sederhana. Kau membuat sandwich dengan fried egg ditengahnya. Menambahkan beberapa sayuran, tak lupa juga saus mayonnaise dan sedikit saus pedas. Kau meletakkan piring itu dihadapannya. Tapi tatapannya tetap datar. Melihat ke piring itu, kemudian kembali menatapmu.

“Oh ayolah, kau makan juga kan?” Kau mengambil sandwich bagianmu kemudian menggigit ujungnya. “Begini caranya. Mengerti?” kau mencontohkan hal sesepele itu padanya. Kau melihat dia tersenyum. Namja itu mengulurkan tangannya dan mengambil roti tumpuk itu. Meniru caramu. Kau tertawa kecil melihat tingkahnya yang menurutmu lucu. Dia ikut tersenyum bersamamu walaupun kau tak yakin kalau dia tau apa yang membuatmu merasa lucu.

“Aku Kim Nara.” Kau memperkenalkan dirimu. Walaupun dia sepertinya tak mengerti apa yang kau katakan, tapi dia terlihat memperhatikan. Dan yang jelas, kau berbicara sendiri karena dia tak mengatakan sepatah katapun.

”Ehm, nama. Kau kuberi nama ya? Kau mau nama apa?” kau berpikir sesaat sebelum memutuskan nama yang sesuai dengannya. “Mikhael? Karena kau malaikat? Ah tidak, terlalu menjurus.” Kau menggelengkan kepalamu. Kau berpikir lagi, memilah memori otakmu tentang nama-nama indah yang pernah kau tau. “Aku tau.” Kau menjentikkan jarimu. “Lu Han. Bagaimana?” kau melihatnya tersenyum tanda setuju (menurutmu). “Lu Han itu bahasa China artinya rusa saatfajar. Kau membuatku terpesona dengan matamu. Bulat, gelap, bercahaya. Seperti mata rusa. Cantik.”

Senyummu merekah sempurnya  membayangkan banyak hal menggelitik yang akan terjadi nanti. Kau tak akan lagi kesepian dengan adanya Lu Han.

 

-0-0-0-

 

20 April 2014

 

Hari-harimu berlalu dengan cepat dan special tentu saja. Kau selalu menyukai akhir minggu karena itu berarti kau tak perlu meninggalkan rusa kecilmu. Kau mengajarinya banyak hal, termasuk berbicara. Tapi tetap saja dia tak mengucapkan apapun. Dia selalu memperhatikanmu saat kau bercerita. Tak ada hal yang kau sembunyikan darinya. Kau bercerita tentang kehidupan kampusmu, bahkan sampai segala luka yang kau pendam sendiri semenjak kepergian orang tuamu.

Hari ini tepat satu tahun semenjak dunia mu dimasuki oleh sosok misterius yang kau namai Lu Han itu. Kau menyiapkan sandwich favorit Lu Han dan segelas susu putih untuk sarapan. Kau juga sudah membeli cake kecil untuk merayakan hari ini. Tanggal ini kau pilih sebagai hari ulang tahun Lu Han. Sama dengan tanggal pertama kali kau bertemu dengannya.

“Lu…kemarilah.” Kau memanggil pria gagah itu yang sedari tadi terlihat agak mendung.

“Saengil chukae” kau memeluknya erat. Dia membalas pelukanmu seperti biasa. Tapi ketika kau mencoba melepaskan diri, dia menolak, memilih untuk memelukmu lebih lama. Kau diam. Merasa aneh. Tapi kemudian tersenyum dan menikmati pelukanhangatnya. Menghirup lebih lama aroma tubuhnya yang entah bagaimana tercium seperti aroma mint dan air. Wangi yang menjadi favoritmu setahun belakangan. Dia melepas pelukannya padamu, menatap wajahmu lekat, kemudian mencium keningmu. Kau terhenyak sesaat. Selama ini kau yang selalu mencium keningnya sebelum dia tidur. Tapi sekarang dia yang melakukan itu. Dia tersenyum menatapmu, kemudian melirik cake kecil dimeja.

“Oh,,maaf.” Kau kembali pada kesadaranmu. “Duduklah, kita rayakan ulang tahunmu ya! Tapi tunggu sebentar.” Kau beranjak pergi setelah dia duduk di kursi.

Kau kembali dengan sayap putih mainan yang kau beli beberapa hari lalu, khusus untuk hari ini.

“Surprise! Kau melompat girang didepannya. “Hari ini aku yang akan jadi malaikatmu. Cantik kan?” kau melihatnya tersenyum, tapi tatapannya terlihat aneh. Entah apa yang dia rasakan, kau tak tau.

“baiklah lupakan! Make a wish dulu, baur tiup lilinya. Oke? 1…2…3” kau menutup matamu lekat dan membuat sebuah permohonan di hari spesial ini. Kau ingin terus bersama Luhan. Selamanya. Kau membuka matamu dan melihat Luhan masih lekat menatap mu.

“Oke, sekarang tiup lilinya. 1…2…3!” kau meniup lilin-lilin kecil itu. Membantunya tentu saja.

 

-0-0-0-

 

Senja sudah melau menggantikan siang ketika kau mulai merasa lelah. Seharian ini kau habiskan untuk bercanda dengan Lu Han. Menghibur pria itu yang sedari pagi terlihat agak berbeda. Lu Han bahkan sempat membuatmu berhenti bertingkah setelah dia menatapmu lekat dan menarikmu ke pelukannya. Sayap kecil di punggungmu memang sedikit merepotkan, tapi tak mengurangi kenyamananmu untuk bersembunyi di pelukannya. Menghabiskan waktu dalam pelukan seorang Lu Han memang terasa nyaman, tapi juga terasa aneh karena tak biasanya dia bersikap semanis ini padamu. Oh ayolah, dia memang selalu terlihat manis, tapi kini tingkahnya terlalu memenjakanmu.

“Lu, bisakah kau lepaskan pelukanmu? Aku harus menyiapkan makan malam untuk kita.” Kau menepuk dada bidang itu perlahan. Lu Han melepas pelukannya dan langsung berdiri dihadapanmu kemudian mengulurkan tangan besar dan halusnya ke arahmu. Kau tak tau apa yang dia inginkan. Dengan ragu, kau menggenggam tangannya.

Dia mengajakmu berjalan ke arah hutan, menerobos semak – semak berduri kecil yang dulu membuatmu meringis perih. Tangannya masih erat menggenggam tanganmu sampai kalian berada di tepi danau. Kau lihat matahari hampir menyentuh ujung cakrawala. Suasana senja disini sangat indah. Warna keemasan, ratusan burung yang kembali ke sarang, air yang jernih seperti kaca, dan Lu Han yang menggenggam tanganmu erat.

Lu Han membalikkan badannya, merapikan anak rambutmu yang beterbangan dibelai angin. Dia kemudian beralih ke sayap kecilmu. Merapikannya agar terpasang dengan tepat di punggungmu. Kemudian dua manik bercahaya miliknya beralih menatapmu lekat. Kau tersenyum. Tanganmu menelisik tiap jengkal ukiran sempurna itu dengan ujung jari telunjukmu dan berhenti dibibirnya. Entah kenapa kau ingin sekali mengekpresikan rasa cintamu padanya dengan sebuah ciuman. Tapi kau ragu. Kau tarik telunjukmu dari sana dan tanganmu kembali pada genggaman tangannya. Kau melihat Lu Han menunduk sesaat.

“Lu, kau kenapa? Tak bisakah kau bicara? Aku ingin tau apa yang kau rasakan.” Kau membuka pembicaraan yang tentu saja tak akan dijawab olehnya.

Lu Han mengalihkan tatapannya padamu lagi. Tangan kanannya melepas genggaman pada tangan kirimu kemudian mengusap puncak kepalamu. Kupu-kupu diperutmu mulai bertingkah dan membuatmu geli. Tangan kanan Lu Han beralih ke dagumu. Kau masih fokus memperhatikan dua mata miliknya. Kau tiba-tiba kaget karena Lu Han menutup matanya. Dan tak berapa lama kau rasakan bahwa ada sesuatu menempel dibibirmu yang ternyata itu adalah bibir Lu Han. Kau mulai terjatuh dalam perangkap indahnya, membuat matamu terpejam. Tangan kiri mu yang bebas, kini terangkat dan berpegangan pada ujung kemeja putih Lu Han. Ciumannya terasa sangat lembut, tenang, dan tak sembrono.

Waktu terasa berhenti sesaat sampai dia menjauhkan wajahnya darimu. Kau membuka mata dan terkejut melihat sepasang sayap putih mengembang sempurna di punggungnya.

“Tunggu. Lu, seharian ini kau bersikap manis, bukan karena kau akan pergi meninggalkanku kan?” Kau gugup. Pandangan matamu mulai terasa kabur dengan adanya kaca-kaca kecil yang pecah disana.

Lu Han tersenyum getir menatapmu. Kau bisa bilang bahwa ini memang sudah saatnya dia pergi. Ini bukan tempatnya.

Kau memeluknya lagi. “Lu, jaga diri ya. Jangan sakit. Oh, malaikat tak mungkin sakit ya.” Kau tersenyum miris mendengar ucapan bodohmu. Kau melepas pelukan protektifmu padanya.

Kau tak sanggup lagi menahan air mata yang kini sudah menciptakan anak sungai dipipi. Tangan besarnya mengusap air matamu. Sayapnya mulai mengepak perlahan.

“Saranghae.”

Kau tak percaya pada hal yang baru saja kau dengar dan kau lihat. Bibirnya bergerak dan memproduksi sebuah kata. Lu Han bicara. Walaupun hanya satu kata, tapi itu sangat bermakna untukmu. Tangismu terhenti, berganti senyuman.

“Pergilah, aku tau ini bukan rumahmu. Tunggu aku disurga ya! Titip salam untuk eomma dan appa.” Tangan kecilmu membingkai wajah tampannya.

Dia menatapmu lekat. Tangannya begerak dan menurunkan tanganmu dari kedua sisi pipinya. Dia mengecup bibirmu singkat. Membuatmu semakin sulit melepasnya.

“Hati-hati.” Kau melambaikan tanganmu setelah berhasil membebaskan keduanya dari genggaman tangan hangat itu.

Dia mengambil satu langkah mundur, menjauh. Menjejakkan satu kakinya ke tanah dan melayang perlahan menjauh dari tanah. Tatapannya masih fokus padamu. Kau lihat matanya berkaca-kaca dan tak lama, setetes air jatuh dari sana. Lu Han mu menangis.

“Saranghae”

-0-0-0-

 

Kau terhenyak dan membuka matamu. Kau berada di kamar hangatmu dan bukan di danau. Kau memutar kembali memori yang terpatri jelas di tiap nanometer otakmu. Lu Han. Dia meninggalkanmu. Pergi kembali ke surga.

Kau merasakan sakit dan sesak didadamu dan kau kembali menangis.

Kim Nara, kau bukan gadis lemah. Bangun. Tersenyumlah. Kau harus kemali ke kampus dan mewujudkan semua mimpimu.

Otak dan hatimu bekerja sama dan membuatmu tersugesti untuk segera bangkit dan melanjutkan hidup. Kau mengusap sisa air di matamu, kemudian beranjak turun dari ranjang.

Kau bersiap-siap berangkat ke kampus.

 

-0-0-0-

 

Suasana kampus terlihat agak aneh. Kau melihat jadwal kuliahmu dan itu hanya ada satu untuk kelas siang. Kau memperhatikan sekitar kemudian waktu terasa berputar ulang. Kau kembali ke satu tahun yang lalu dimana kau adalah seorang mahasiswa baru. Kau melihat tanggal di ponsel dan, benar saja, dilayar tertulis 20 April 2013. Kau juga barusadar bahwa baju yang kau pakai sama dengan yang kau pakai dulu. Cenala panjang, kaos berkerah,sepatu sneakers, dan sweater. Satu-satunya kesimpulan adalah : berarti kemarin kau sepenuhnya bermimpi. Tapi kenapa terasasangat sakit?

Entahlah. Kau berjalan menuju kelasmu dan duduk di bangku yang sama seperti biasa. Di dekat jendela agar kau bisa melihat kondisi di luar.

Tiba-tiba angin berhembus kencang. Deg. Kau memaksa matamu untuk tetap terbuka dan melihat ke arah langit. Mungkinkah semua itu terulang? Kau terjatuh dari duniamu,Lu?  Kau meneliti segala penjuru langit. Tapi nihil, kosong.

“Permisi, apa bangku sebelahmu kosong?”

“Kosong. Duduklah.” kau menoleh setelah menjawab. Matamu melebar, jantungmu terpompa lebih cepat.

“Lu Han?” kau menyakinkan dirimu sendiri bahwa itu bukan mimpi. Manusia dihadapanmu ini sangat mirip dengan rusa kecilmu.

Dia tersenyum manis sebelum dia duduk disampingmu. Dia mengulurkan tangannya yang langsung disambut dengan uluran tanganmu.

“Nice to meet you, again, Kim Nara.” Dia mengedipkan sebelah matanya nakal. Membuatmu terhenyak sekali lagi.

“Kau? Lu Han?” kau mencoba mencari jawaban darinya. Dia hanya tersenyum dan mengangguk singkat.

 

-0-0-0-

 

Selama kelas berlangsung, kau tak sempat mengingat apapun yang diucapkan oleh dosen. Matamu selalu mencuri pandang ke manusia yang duduk disampingmu. Dia terlihat sangat Lu Han. Dan lagi, kau tak merasa canggung didekatnya. Ini bukan perasaan tak nyaman, tapi hatimu berdebar.

Kelas akhirnya berakhir, membuatmu bebas untuk menatap manusia disampingmu. Kau duduk mengahadapnya.

“Lu, kau berhutang banyak cerita padaku.” Matamu terlihat sedikit menindasnya.

“Cerita? This is our first meeting I guest, isn’t it?” Lu Han terlihat sangat manis dengan smirk nya.

“Really. But it’s not!” Kau tak setuju dengana apa yang dia ucapkan.

“So, why don’t you go with me now? I’ll answer all of your questions.” Lu Han mengulurkan tangannya kearahmu. Dengan mantab kau menggenggam tangannya dan kalian beranjak pergi.

-0-0-0-

Kini kalian sudah berada di danau di dalam hutan dekat rumahmu. Tempat pertama kali kau bertemu dengannya ‘dulu’. Oh maaf, bukan dulu yang sebenarnya. Tapi hanya terasa seperti ‘dulu’. Dia melepas genggamannya dari tanganmu dan kemudian merebahkan diri di rumput. Dia menepuk tempat kosong disamping kanannya. Menyuruhmu untuk berbaring disampingnya. Kau hanya bisa menurut.

“Oke, pertanyaan pertama?” Kau menoleh kearahnya. “Kenapa semua ini bisa terjadi padaku?”

Kau melihat matanya masih tertutup, tangan kirinya menjadi pembatas antara kepalanya dan tanah. Tangan kanannya dia biarkan berada di atas perutnya yang datar. Dia tersenyum kemudian menatapmu.

“Bisakah kau mulai dengan pertanyaan yang wajar? Namaku misalnya. Atau asalku?” dia mengedipkan sebelah matanya. Membuat kupu-kupu diperutmu semakin liar.

“Oke, nama?” katamu kemudian.

“Lu Han.” Jawabnya singkat.

“Asal?” kau bertanya sesuai dengan apa yang dia inginkan.

“China, kau tau kan, namaku adalah bahasa China yang berarti rusa saatfajar? Kata seseorang mataku gelap dan bercayaha, seperti mata rusa.” Jawabnanya membuatmu tersentak sesaat.

“Oke Lu. Cukup kan? Aku ingin tau kenapa semua ini bisa terjadi. Bisakah kau jelaskan?” kau merubah posisimu menjadi duduk. Memeluk kakimu yang tertekuk.

Lu Han kini juga duduk disampingmu, bersandar pada kedua tangannya yang terulur ke belakang. “Entahlah, aku juga tak mengerti apa rencana Tuhan. Aku hanya mengatakan apa yang aku mau, dan kemudian…semuanya menjadi seperti ini.” Katanya jujur dan terdengar serius.

Kau kini duduk menghadapnya. “Bukankah lebih nyaman berada di surga bersama Tuhan? Kenapa kau meminta kau malah kesini?”

Lu Han menoleh padamu. “Kim Nara, wherever it is, as long as you are here, next to me, it will be heaven.” Dia tersenyum tulus.

Matamu berkaca-kaca mendengar jawaban manis itu. Benarkah apa yang dia ucapkan?

Lu Han beranjak dari duduknya kemudian mengajakmu berdiri dengannya. Dia memegang kedua bahumu dan memaksamu untuk mengahadapnya. “Nara-ya, dengarkan aku.” Matanya lekat menatap matamu, menghujam dalam. “Aku memilih untuk berada disampingmu, merasakan apa itu bahagia, menjadi tua bersamamu, dengan menjadi manusia sepertimu. Kau tau bahwa hanya ada satu alasan kenapa aku melakukannya kan?”

Wajahnya mendekat, bibirnya menyatu dengan milikmu. Sebuah kecupan singkat yang manis.

“Saranghae.”

 

_The End_

Setelahmelewati proses editing, akhirnyainiffsiaptayangjuga. Maafkalomasihada typo.Maafkaloceritanyaterlalumanisdancumasedikitkonfliknya.

Ceritainidisadapdarilagu EXO yang Angel (into the new world) denganinspirasiceritadari MV SM the ballad vol 1 yang I Miss You.

Makasih buat yang mau nyempetin baca FF ini. Lebih makasih lagi kalau mau kasih komen…hehehehe. Komen dan saran bisa juga dikirim lewat fb (Arintia dita) atau twitter (personal: @ditaarintia, kpop : @luloverdose)

Thx a lot lagibuat Evilliey Kim yang uda mau dititipin FF ku. . .J

18 responses to “An Angel [Oneshoot]

  1. untunglah g jd sad end kyk d mvnya..
    ak suka ceritanya,tp spasinya pada ilang2 bikin susah bacanya..
    hehhehe

    • Iya…aku g seneng kalo eningnya soalnya..hehehe.
      Maaf bgt…itu mgkn karena pas buka file nya di beda ms.word jd gitu…bsk aku perhatiin lg…
      Makasih komennya… 🙂

  2. Asoswit ;-;
    Aku merinding loh bbacanya OuO manis banget ceritanya rasa tobeli :’B
    Oh iya itu di yg bagian pertamanya tulisannya jd pada bersatu satu, jd rada susah juga bacanya hehe

    • Maaf bgt…itu mgkn karena pas buka file nya di beda ms.word jd gitu…bsk aku perhatiin lg…
      Iya dong…tobeli coklat gitu..hehhe. makasih komennya.. 🙂

  3. Mungkin yaa, gatau aku ngerasa gimana. Ini agak kecepatan gitu ceritanya, i felt like that.
    Tapi overall , bagus kok inti ceritanya
    Hehehe, mungkin typonya musti bener-bener di perhatiin ya buat next ff 😀 hehehe
    Fighting!

    • Maaf ya…typonya pasti ganggu..bdk aku perhatiin lg deh..
      Iya.. emang cepet dan ga detail. Soalnya ngejar predikat ‘oneshoot’. Heehehee.
      Makasih uda komen… 🙂

  4. Feelnya dapetttt tapi di paragraf pertama gak ada spasi antar kalimat. Jdinya nyatu gitu dri satu kalimat dgn yg lain, susah deh bacanya. Tp inti cerita sih top bgt!

    • Maaf bgt…itu mgkn karena pas buka file nya di beda ms.word jd gitu…bsk aku perhatiin lg…
      Makasih udah komen >.<

  5. aigoo neomu joha
    neomu dalkomhan

    ahhh authornya hebat banget walaupun awalnya gak pake spasi

    u.u romance nya bkin terharu

    ah jadi kebayang huahahahaha

  6. great kok ceritanya, tapi masih cukup banyak typo dan deretan kata yang tersambung gitu, kayak ga ke-space. tapi alurnya gampang dimengerti^^

    • Maaf bgt…itu mgkn karena pas buka file nya di beda ms.word jd gitu…bsk aku perhatiin lg…
      Makasih uda komen ya. .. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s