How To Steal A Kiss – 6th. Run Hyunjo Run

6

Title : How To Steal A Kiss – 6th. Run Hyunjo Run

Author : ohyeolliepop

Genre : Romance, School-life, (maybe) Comedy

Rating : T

Cast : Park Hyunjo (OC), All of EXO members, Choi Jinri [f(x)], Jung Soojung [f(x)], Park Cheonsa (OC)

Disclaimer : I own nothing but the storyline. Please be a good reader. Do not plagiarize.

  Previous :  1st  | 2nd  | 3rd | 4th A | 4th B | 5th A | 5th B | 6th

Park Hyunjo merasa sesuatu yang tidak beres sedang terjadi dalam hidupnya. Belakangan ini, ia sering mengalami hal-hal ganjil yang terasa aneh dan tidak biasa.

Pertama, orang yang dulu ia kira adalah teman baiknya –Cheonsa– sudah benar-benar berubah menjadi ibu tiri Cinderella. Gadis itu semakin menyebalkan dari hari ke hari, terhitung sejak ia memberi Hyunjo dare sialan yang membuat hidup Hyunjo tidak tenang.

Kalau saja meracuni orang itu bukan perbuatan keji dan melanggar hukum, mungkin Hyunjo sudah menjejali Cheonsa dengan obat pembunuh serangga yang baunya tidak enak itu.

Kedua, hidup Hyunjo terasa jauh lebih rumit dari sebelumnya. Tidak ada satupun hari yang terlewati tanpa setidaknya satu kekacauan. Entah itu kekacauan yang ia ciptakan sendiri atau kekacaukan yang dibuat orang lain karena dirinya.

Yang membuat Hyunjo heran, ramalan bintang di majalah selalu berkata yang baik-baik saja –sedangkan hidupnya tak pernah sesederhana itu–.

Ketiga, ia terlalu percaya diri bahwa dirinya bisa menjadi agen mata-mata. Kenyataannya Hyunjo tak lebih dari seorang amatir yang bisa dengan mudahnya ketahuan saat sedang bertugas. Ia takut itu semua akan mengacaukan rencana yang sedang disusunnya dengan rapi.

Kali ini otak Hyunjo yang malang dipaksa berpikir lebih keras lagi untuk menyelamatkan dirinya dari kemungkinan terburuk yang bisa diterimanya.

 

***

 

Suasana sekolah sudah sepi ketika Luhan selesai latihan dengan klub basketnya. Maklum saja, jarum jam sudah menunjukkan pukul empat sore dan seluruh kegiatan sekolah telah selesai dua jam yang lalu. Hanya ada murid-murid yang tergabung dalam klub basket dan beberapa penggemar setia Luhan saja yang tersisa di area sekolah ini, sisanya pasti sudah meringkuk di dorm mereka masing-masing.

Luhan menepi dari lapangan, bermaksud untuk mengambil ranselnya. Beberapa gadis dari tingkat satu dan tingkat dua yang sedari tadi menunggu di pinggir lapangan buru-buru menghalangi jalannya. Mereka menyodorkan berbagai macam minuman kaleng dingin yang memang mereka beli khusus untuk Luhan, namun laki-laki itu menepis dengan sopan. Ia tidak suka diperlakukan secara berlebihan seperti itu karena membuatnya benar-benar merasa risih.

“Hush, hush..” Chanyeol yang juga ingin mengambil ranselnya mengibas-ngibaskan tangannya dengan harapan gadis-gadis itu cepat menyingkir dan tidak lagi menghalangi jalannya. Sayangnya mereka tidak mau pergi dan tetap mengerubungi Luhan. Chanyeol mendengus kesal karena gadis-gadis itu tidak menganggapnya sama sekali, padahal ia juga anggota EXO dan tidak kalah tampan dari Luhan.

Tak berapa lama Tao dan Kris datang menghampiri Chanyeol. Mereka sudah mengenakan ransel mereka masing-masing, karena beruntungnya mereka menempatkan ransel mereka di tempat yang berbeda dengan Luhan. Kris mendelik melihat kerumunan di sekitar Luhan. “Ada apa dengan mereka?” tanya Kris heran. “Kenapa hanya Luhan yang dikerubungi? Apa mereka tidak lihat disini ada pria yang paling tampan se-galaksi andromeda?”

Tao memutar kedua bola matanya, sudah hapal luar kepala bagaimana rasa percaya diri Kris yang luar biasa tinggi itu. “Mana ranselmu?” tanya Tao melihat Chanyeol yang masih berdiri kebingungan. Chanyeol mengendikkan kepalanya ke arah Luhan dan para penggemarnya. “Mereka tidak membiarkanku lewat untuk mengambil ransel,” gerutu Chanyeol.

Tanpa dikomando, Tao segera mendekati kerumunan itu dan berdehem sedikit. Awalnya gadis-gadis itu tetap ribut, namun begitu menyadari kedatangan Tao pelan-pelan mereka semua menyingkir, sampai akhirnya benar-benar membubarkan diri. Rupanya aura menyeramkan Tao memang sangat kuat. Chanyeol tersenyum puas, harusnya ia tahu bahwa Tao selalu bisa diandalkan.

Chanyeol segera mengambil ranselnya, disusul oleh Luhan. Wajah Luhan kelihatan lelah sekali, mungkin kewalahan menghadapi penggemarnya yang semakin ganas dari hari ke hari. “Kau tidak menerima satu pun minuman pemberian mereka, Lu?” tanya Chanyeol tidak percaya saat Luhan mengeluarkan sebotol air mineral dari dalam ranselnya. Setelah menenggak habis minumannya Luhan menggeleng. “Aku biasa bawa minuman sendiri.”

Sembari menyejajarkan langkahnya dengan Luhan yang sudah berjalan lebih dulu untuk menghampiri Kris dan Tao laki-laki itu berkata, “Padahal kau enak sekali, setiap kali selesai latihan penggemarmu tidak pernah absen memberimu minuman. Sementara penggemar-penggemarku? Huh, mereka pemalas sekali, jarang menonton latihanku. Bagaimana jika kita bertukar penggemar saja? Kau mau, kan?”. Luhan tersenyum menahan geli mendengar gerutuan Chanyeol.

“Sebelum kembali ke dorm, bagaimana jika kita mampir ke kafetaria dulu? Perutku lapar sekali.” Kris mengusap-usap perutnya yang tak kunjung berbentuk kotak-kotak –padahal ia lebih rajin berlatih di gym daripada mengerjakan tugas sekolahnya–. “Boleh juga.” Chanyeol mengiyakan, mengingat sedari tadi perutnya juga sudah mengeluarkan suara-suara sumbang yang tidak enak didengar telinga. Hal itu bisa membuat harga dirinya sebagai anggota EXO yang ‘oh-keren-sekali’ merosot jatuh.

Luhan menimang-nimang selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan, “Ah, aku tidak bisa. Aku harus ke perpustakaan sekarang.”

Tao menyipitkan matanya dan menatap Luhan curiga. “Untuk apa ke perpustakaan? Jangan bilang kau ingin menemui Kim songsaenim,” tudingnya tidak beralasan. Sementara Luhan sendiri sudah sakit perut membayangkan guru petugas perpustakaan yang terkenal tidak ramah serta menyebalkan itu. Kalau tidak karena tugas untuk mencari artikel tentang sastra yang harus bersumber dari buku diktat, Luhan tidak akan mau repot-repot menyambangi perpustakaan.

“Sudahlah, kalian ke kafetaria dulu saja. Nanti setelah dari perpustakaan aku akan langsung kembali ke dorm,” kata Luhan.

Kris menaikkan sebelah alisnya seakan sedang berkata ‘apa-kau-yakin’ dan dibalas Luhan dengan anggukan mantap. “Kalau begitu oke, kita pergi dulu,” kata Tao sembari menepuk bahu Luhan sekilas. Tiga laki-laki jangkung itu kemudian bergegas meninggalkan lapangan. Sebelum terlalu jauh, Chanyeol menoleh sebentar dan berteriak kepada Luhan, “Hati-hati, kawan! Kudengar sekarang Kim songsaenim lebih berbahaya! Jangan sampai diterkam!”

Luhan mendengus kecil. Ia akan cepat-cepat mencari buku itu di perpustakaan dan menghindari komunikasi dengan Kim songsaenim sebisa mungkin.

 

***

Soojung menutup buku astronominya tanpa minat. Karena tidak membacanya dengan sungguh-sungguh, tidak ada materi yang berhasil menyelinap masuk ke dalam otaknya. Moodnya sedang kurang bagus untuk belajar, jadi ia pikir percuma saja memaksakan diri untuk memahami teori-teori memusingkan mengenai rasi bintang. Hal itu hanya akan menyiksanya saja.

Gadis itu memasukkan bukunya kembali ke dalam loker nakasnya, kemudian beralih mengambil majalah sekolah yang baru terbit tadi pagi. Mungkin tidak ada salahnya jika ia memberi otaknya sedikit penyegaran. Mata Soojung melebar memperhatikan sosok lelaki yang menghiasi sampul majalah tersebut –Kai. Lagi-lagi EXO, Soojung mendengus kecil. Bukannya ia tak suka pada sekumpulan laki-laki yang memang luar biasa tampan dan populer tersebut, ia hanya bosan melihat mereka dimana-mana. Belum lagi belakangan ini Hyunjo terlibat masalah yang menyeret EXO di dalamnya, mau tak mau kadar EXO dalam hidup Soojung semakin meningkat.

Saat pertama kali masuk ke sekolah asrama ini Soojung langsung tahu akan keberadaan EXO karena ‘radar pria tampan’nya yang terlampau kuat. Dan sosok pertama yang sanggup membuat Soojung tergila-gila adalah Kim Jongin –atau lebih terkenal dengan sebutan Kai. Gadis itu dapat mengingat dengan jelas bagaimana masa-masa memalukannya dulu saat ia ikut berkerumun di antara gadis-gadis penggemar Kai, berharap laki-laki itu mau sedikit saja melirik mereka. Namun lama kelamaan kehadiran sunbaenim tampan lainnya –Lee Taemin– membuat Soojung dapat melupakan Kai dan resmi mundur dari jajaran penggemarnya.

Kriet.

Suara pintu dorm yang dibuka membuyarkan lamunan Soojung tentang masa lalunya. Gadis itu menjenjangkan lehernya untuk melihat siapa yang datang. Ia harap bukan Cheonsa, karena ia tak sudi terjebak berdua di dorm bersama nenek lampir itu. Untung saja tak lama kemudian sosok Jinri yang muncul, jadi Soojung bisa menarik napas lega. Meskipun belakangan gadis itu menyebalkan juga, tapi setidaknya gadis itu bukan Cheonsa. Hal itu sudah lebih dari cukup bagi Soojung.

Memutuskan untuk berpura-pura tidak menyadari kehadiran Jinri, Soojung meneruskan kegiatan membacanya. Kai jago basket. Soojung sudah tahu. Kai pemain bisbol yang baik. Gadis itu juga sudah tahu. Kai memiliki banyak penggemar. Huh, apalagi yang ini. Kenapa majalah ini menuliskan hal-hal yang sudah menjadi rahasia umum? Tapi Soojung rasa masih ada satu fakta mengenai Kai yang lupa dicantumkan dalam artikel ini; Kai adalah seorang playboy. Teman kencannya berganti-ganti, mulai dari murid tingkat satu sampai murid tingkat tiga. Dan semuanya adalah gadis-gadis populer, tentu saja. Lucifer bisa berubah jadi muda kembali kalau sampai Kai berkencan dengan gadis tidak populer seperti dirinya.

“Soojung?”

Gadis itu berhenti membaca. Barusan itu hanya halusinasinya saja atau Jinri memang benar-benar memanggilnya?

“Soojung-ah, kau mendengarku?” Jinri mengulangi pertanyaannya karena Soojung tak kunjung melihatnya.

Soojung menurunkan majalah yang sedang dibacanya dan menatap Jinri sebal. “Tentu saja, aku tidak tuli.”

Nyali Jinri menciut mendengar kata-kata sinis Soojung. Kelihatannya gadis itu masih kesal terhadapnya. Apa yang dilakukannya memang sudah keterlaluan, jadi bukan salah Soojung juga jika gadis itu tidak bersikap biasa padanya.

“Jika tak ada yang ingin kau bicarakan, sebaiknya kau membiarkanku membaca dengan tenang,” kata Soojung tak sabar. Jika dulu ia mau menunggu bermenit-menit untuk mendengarkan Jinri yang labil bicara, sekarang jangan harap.

“Tidak, tidak. Ada yang ingin kubicarakan.” Jinri gelagapan –antara bingung dan takut menghadapi Soojung yang sedang galak-galaknya–. Hati gadis itu sedikit lega melihat Soojung menutup majalahnya seakan bersiap untuk mendengar apa yang akan dikatakannya.

“Jadi, begini..” Jantung Jinri berdegup semakin kencang. “Aku ingin minta maaf.”

Soojung menyibak rambut yang menutupi telinganya, mengira dirinya salah dengar atau apa. “Minta maaf? Untuk apa?”

“Untuk semua kesalahanku,” kata Jinri mantap.

Soojung memicingkan matanya dan menatap Jinri peduh selidik. “Kesalahan? Kesalahan seperti?”. Tentu saja itu adalah pertanyaan jebakan. Soojung ingin tahu seberapa kuat niat gadis itu untuk meminta maaf.

Jinri yang tidak mengira akan mendapat pertanyaan seperti itu menatap Soojung kebingungan. “Kesalahan.. Kesalahan seperti..” gadis itu menggantungkan kalimatnya. Kegugupan pasti sudah menyesakinya sampai ke ubun-ubun. Sebenarnya Soojung kasihan melihatnya, tapi ia juga ingin melihat keseriusan teman baiknya ini untuk mengakui kesalahannya.

“Kesalahan seperti menjauhi kau dan Hyunjo. Tidak mau mendengarkan apa yang kalian katakan. Menuruti semua perintah Cheonsa sampai mau mengubah diriku sendiri. Itu semua. Itu semua kesalahanku.” Jinri mengatur napasnya yang tidak beraturan setelah mengakui kesalahannya dengan tempo yang relatif cepat. Kesalahan-kesalahan itu seperti bom yang sudah disimpannya cukup lama dan sekarang adalah saat yang tepat untuk meledakkannya.

Soojung tersenyum puas, itu memang jawaban yang ingin didengarnya. Hal itu sekaligus membuktikan bahwa Jinri memang serius dan tulus untuk meminta maaf. Mendadak Soojung menyesal karena tadi membuat teman baiknya itu ketakutan setengah mati. “Kumaafkan,” kata Soojung pada akhirnya. Ia juga tak ingin berlama-lama terjebak dalam perang dingin dengan Jinri.

“Benarkah?” Mata Jinri membulat, seperti bibirnya yang juga membentuk huruf ‘O’.

“Tentu saja.” Soojung mengerling. “Kenapa kau diam saja disitu? Kau tidak ingin memelukku?”

Detik kemudian Jinri langsung menghambur ke arah Soojung. Mereka berdua berpelukan seperti Tinky Winky dan Dipsy yang sudah lama tidak bertemu. Bedanya Jinri tidak berwarna ungu serta membawa tas dan Soojung juga tidak berwarna hijau.

“Ada yang ingin kuperlihatkan padamu!” seru Jinri setelah Soojung melepaskan pelukan mereka. Gadis itu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya dan mengangkat benda itu tinggi-tinggi. “LIHAT INI!”

Soojung memperhatikan benda itu dengan seksama sampai ia dapat menarik sebuah kesimpulan; benda itu adalah sapu tangan. Hanya sebuah sapu tangan. “Err.. Ada apa dengan sapu tangan itu?” tanya Soojung.

“Ini adalah sapu tangan yang sangat berharga, sapu tangan yang sudah menyelamatkan hidupku,” celoteh Jinri dengan antusias.

“Menyelamatkan hidupmu?” Soojung tampak tak yakin. “Bagaimana ceritanya?”

“Ceritanya panjang, nanti saja kuceritakan padamu. Tapi kau harus tahu dulu siapa yang meminjamiku sapu tangan ini,” kata Jinri –masih dengan semangatnya yang menggebu–.

“Memangnya siapa?” tanya Soojung.

“Lay sunbaenim!” pekik Jinri. Gadis itu hampir melompat karena tidak bisa menutupi rasa bahagianya yang meluap-luap.

“Oh.” Soojung mengangguk singkat, sebelum akhirnya ia tersadar.. “SI-SIAPA KAU BILANG TADI? LAY SUNBAENIM?! AKU TAK SALAH DENGAR, KAN?!”

Bukannya menjawab Soojung yang seperti kesetanan, Jinri justru berlari kabur sembari melambai-lambaikan sapu tangan pinjamannya yang berharga itu.

Soojung yang sudah terlanjur penasaran mengejar teman baiknya itu sebisa mungkin. “TUNGGU, JINRI-YA! KAU HARUS MENCERITAKANNYA PADAKUUU!”

 

 

***

 

Suara derap langkah Luhan yang berpadu dengan dentuman bola basket yang sesekali ia dribble memenuhi seisi koridor. Untung saja sekolah sudah bisa dibilang kosong, jika tidak aksi Luhan tak akan selamat dari guru piket yang rutin berkeliling. Lelaki itu bersiul kecil, menyibukkan dirinya sendiri yang memang tidak menyukai suasana sepi.

Kalau boleh jujur, sebenarnya Luhan malas sekali harus ke perpustakaan saat ini. Ia bisa saja langsung kembali ke dorm atau bergabung dengan teman-temannya di kafetaria, tapi bayangan Jung songsaenim yang sedang mengamuk memenuhi pikirannya. Meskipun tidak segalak Lucifer, tapi tidak ada murid yang mau mendengar omelannya selama satu jam penuh. Guru sastra yang satu itu memang terkenal suka mengoceh dan sasarannya yang paling empuk adalah murid-murid yang tidak mengerjakan tugas. Luhan tidak mau menjadi korban.

Perpustakaan terlihat sangat sepi ketika Luhan menapakkan kakinya di tempat itu. Tidak terlihat tanda-tanda keberadaan Kim songsaenim yang biasanya duduk di meja petugas. Tapi jika perpustakaan ini belum dikunci, itu tandanya masih ada orang lain disini. Mungkin murid yang dititipi kunci oleh Kim songsaenim? Bisa jadi.

Akhirnya Luhan segera masuk ke dalam perpustakaan dan mencari buku sastra yang menjadi tujuannya datang ke tempat ini. Ia memicingkan matanya dan dengan jeli meneliti satu persatu buku yang tertata rapi dalam rak sastra. Seingatnya perpustakaan ini punya banyak koleksi buku seperti yang diperintahkan oleh Jung songsaenim, tapi kenapa sekarang buku-buku itu lenyap? Luhan sibuk mengumpat dalam hati sambil tetap mencari.

Srek.

Konsentrasi Luhan mulai terpecah begitu ia mendengar sebuah suara. Mungkin tikus, pikir Luhan. Ia memutuskan untuk mengabaikan binatang pengerat itu dan kembali mencari buku.

Srek.

Suara itu terdengar lagi. Konsentrasi Luhan buyar sudah, ia jadi seutuhnya memikirkan darimana suara aneh itu berasal. Mengikuti rasa penasarannya, Luhan mengendap-endap. Ia menelusuri koridor demi koridor perpustakaan yang dibatasi oleh rak-rak buku yang menjulang sampai ke langit-langit. Laki-laki itu menajamkan pendengarannya dan mempergunakan instingnya –siapa tahu akan berguna–.

Sampai di koridor terakhir, Luhan belum menemukan apapun padahal suara aneh tadi masih tertangkap oleh telinganya beberapa kali. Laki-laki itu hampir menyerah, namun saat ia baru ingin keluar ia melihat seseorang duduk di antara bangku-bangku komputer. Gadis itu sedang mengetik sesuatu dan kelihatan sangat sibuk –sampai tidak menyadari jika sedari tadi Luhan memperhatikannya.

Luhan melongokkan kepalanya sedikit untuk melihat gadis itu lebih jelas, sayangnya yang bisa ia lihat hanya punggungnya saja. Terdorong oleh rasa penasarannya yang luar biasa, Luhan berjingkat menghampiri gadis itu. Ia menahan napasnya agar tidak menimbulkan bunyi sekecil apapun. Ketika akhirnya Luhan sampai di belakang gadis itu..

“Kau.. Menguntit profilku?” Luhan ternganga. Di layar komputer yang sedang digunakan gadis itu terpampang informasi mengenai dirinya yang ia sendiri tak tahu berasal dari situs apa. Seingat Luhan ia tidak pernah menulis data selengkap itu –warna favorit, hobi, dan lain sebagainya– di internet. Mungkin situs itu dibuat oleh kumpulan penggemarnya. Luhan bergidik.

Gadis itu –Park Hyunjo– refleks menoleh. Ia membekap mulutnya sendiri begitu menyadari ia baru saja tertangkap basah oleh Luhan. Punggung tangan Hyunjo mulai mendingin sebagai reaksi akan kegugupannya yang luar biasa. Lidahnya terasa kelu sampai ia tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun, jadi yang ia lakukan hanya menatap Luhan dengan takut dan frustasi.

Luhan sendiri terkejut begitu mengenali gadis yang berdiri di depannya saat ini. “Park Hyunjo..?” Luhan menuding gadis itu dengan mata terbelalak tidak percaya. “Kau Park Hyunjo, kan?”

Susah payah Hyunjo menelan ludahnya, berusaha menenangkan dirinya sendiri. “Ne,” cicitnya pelan. Luhan memergokinya saja sudah membuatnya kalang kabut, apalagi sekarang Luhan mengenalinya. Rencananya untuk mendekati Luhan bisa gagal bahkan sebelum sempat terlaksana. Ia harap lantai perpustakaan tiba-tiba terbelah dua dan menelannya hidup-hidup.

Luhan melipat tangannya di dada dan menatap Hyunjo heran. Untuk apa gadis ini menguntit profilnya? Atau mungkin ada hubungannya dengan Sehun –mengingat Sehun menjadi aneh setelah bertaruh untuk mendekati gadis ini–. Tapi kan, gadis ini tidak tahu jika Sehun bertaruh seperti itu. Memutuskan untuk membuang semua pemikiran kacaunya jauh-jauh, Luhan mengalihkan pandangannya ke layar komputer Hyunjo. “Err, Park Hyunjo, bisa kau jelaskan tentang ini?”

Matilah aku.

Hyunjo menghentak-hentakkan kakinya pelan dengan harapan lantai perpustakaan akan terbelah seperti harapannya, namun sia-sia. Siapa saja tahu bahwa harapan Hyunjo tidak masuk akal dan tidak akan terwujud. Gadis itu menahan napasnya selama beberapa detik, kemudian menghembuskannya nelangsa. Berpikir, Park Hyunjo, berpikir. Carilah alasan yang masuk akal, sugesti Hyunjo dalam hati. Sebenarnya kemungkinan Hyunjo untuk mendapatkan alasan yang masuk akal sangat kecil. Terakhir kali ia menyugesti diri untuk menemukan alasan yang masuk akal, ia gagal dan justru mengatakan hal yang tidak bisa diterima oleh logika siapapun.

Luhan mengetukkan jemarinya di atas meja komputer, masih menunggu sampai gadis itu menjawab. “Itu..” Hyunjo meniup poninya panik. “Aku sedang mencari orang yang tepat untuk menjadi sampul majalah sekolah bulan depan, jadi aku melakukan survey pada profil murid-murid yang populer di sekolah ini. Yah, seperti sunbaenim.”

Ck, kau berbohong,” decak Luhan. “Aku sudah pernah menjadi sampul majalah itu dan aku sudah mengatakan pada tim redaksi aku tidak mau jadi sampul majalah mereka lagi..”

Tunggu dulu.

“..dan kau bahkan bukan tim redaksi majalah sekolah,” desis Luhan. Hyunjo mendadak mual. Padahal alasan tadi tergolong normal dan masuk akal –jika dibandingkan dengan alasan-alasan gadis itu sebelumnya–, tapi seharusnya ia tahu kalau Luhan mengenal tim redaksi majalah sekolah dengan baik.

“Oh, bukan bukan, maksudku bukan begitu.” Hyunjo kemudian duduk dan menepuk-nepuk lututnya, membuat Luhan berpikir jika otak gadis itu benar-benar ada di lutut. “Tadi aku hanya bercanda saja. Ya, sunbaenim tahu kan, hanya basa-basi..”

Luhan semakin tidak mengerti kemana arah pembicaraan gadis polos dan aneh ini, jadi ia hanya diam dan menunggu Hyunjo menyelesaikan kalimatnya. Sementara itu Hyunjo sudah hampir pingsan di tempat, namun ia berusaha untuk mempertahankan kesadarannya karena pingsan di depan Luhan sangat-sangat tidak lucu.

“Sebenarnya tadi begitu aku menggunakan komputer ini dan membuka browser, halaman situs ini tiba-tiba muncul. Mungkin orang lain yang membukanya,” cetus Hyunjo. Ia mengangguk-anggukkan kepalanya mantap, berharap Luhan akan langsung percaya dan tidak menambah penderitaannya lagi.

Luhan mendengus kecil. “Semua murid tahu bahwa komputer di perpustakaan ini di program agar menghapus setiap data pencarian setelah dimatikan. Tidak mungkin halaman situs yang dibuka oleh orang lain masih terbuka saat kau menggunakannya.”

“Oh, begitu.” Hati Hyunjo mencelos mendengarnya. Kalau sudah begini ia tidak bisa berkutik lagi. “Mungkin komputer ini sedikit berbeda, ia memiliki prinsipnya sendiri untuk tidak menghapus riwayat pencarian karena komputer ini tidak ingin begitu saja melupakan masa lalunya. Kita harusnya bisa menghargai komputer ini, sunbaenim. Tidak semua komputer bisa move on dengan cepat, kan?”

“Kau bicara apa, sih?” Luhan mengacak rambutnya karena omongan Hyunjo semakin melantur kemana-mana. Lagipula, sejak kapan komputer move on?

Hyunjo menarik napasnya dalam-dalam, “Aku ingin ke toilet.” Gadis itu mengeluarkan pertahanan terakhirnya. Namun sebelum ia sempat berbalik dan kabur, Luhan sudah lebih dulu menahan tangannya. Adegan berpegangan tangan ini bisa jadi romantis kalau saja situasinya tidak menegangkan seperti sekarang. “Kumohon, sunbaenim! Aku benar-benar harus ke toilet. ATAU SUNBAENIM LEBIH MEMILIH UNTUK MELIHATKU MENGOMPOL?!”

Luhan terpaksa melepaskan tangan Hyunjo karena gadis itu begitu histeris. Ia tidak mau jika ada orang yang lewat dan menuduhnya bertindak yang aneh-aneh. Ia bukan tipikal lelaki yang akan melakukan hal seperti itu, apalagi terhadap hoobae ingusan macam Hyunjo.

Memanfaatkan kelengahan Luhan, Hyunjo berlari secepat yang ia bisa. Bahkan lari Hyunjo lebih fantastis daripada saat ia lari karena dikejar anjing galak yang sedang menyalak.

Tidak mau melepaskan Hyunjo begitu saja, Luhan segera berlari menyusul gadis itu. “Aku harus menyelidiki gadis itu hari ini juga,” gumam Luhan, setengah kesal dan setengahnya lagi penasaran.

 

 

***

 

“Bagaimana ini? Hyunjo tidak muncul-muncul juga.” Jinri menggigiti kukunya dengan panik. Sudah tiga jam ia dan Soojung menunggu Hyunjo, namun gadis polos itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Jika Hyunjo hanya ada sedikit urusan di perpustakaan, seharusnya gadis itu tidak perlu pergi selama ini.

“Ah, ponselnya masih mati!” gerutu Soojung sambil memukuli bagian belakang ponselnya yang tidak bersalah itu. “Ini kan sudah malam, Hyunjo kemana saja?”

Cheonsa yang sedang berbaring di tempat tidurnya melirik Soojung dan Jinri acuh tak acuh. Bukannya ia tak tahu jika Hyunjo belum pulang juga, ia hanya tidak peduli. Bahkan andai saja Hyunjo tak kembali ke dorm semalaman, Cheonsa tak akan mau repot-repot mencarinya. Biarkan saja, begitu pikirnya.

“Apa kita harus melapor ke guru piket?” tanya Jinri. Soojung langsung berteriak, “Jangan! Nanti bisa-bisa Hyunjo diberi hukuman oleh guru piket. Padahal hukuman yang lain saja belum bisa diselesaikannya.”. Cheonsa mendengus sinis mendengar sindiran Soojung. Siapa yang peduli?

“Ah, begini saja. Lebih baik kita mencarinya di perpustakaan, bagaimana?” usul Soojung. Jinri mengangguk setuju, sejurus kemudian ia mengaduk-aduk isi loker nakasnya untuk mencari senter sementara Soojung menyambar jaket di atas tempat tidurnya.

“Aku tidak ikut, ya. Aku ingin tidur saja.” Cheonsa sedang menjalankan aksinya sebagai drama queen, ia berpura-pura menguap supaya terlihat mengantuk. “Silahkan, lagipula tidak ada yang mengajakmu untuk ikut.” Soojung mencibir sebelum akhirnya membanting pintu dorm dan menyusul Jinri yang sudah keluar terlebih dahulu.

Langkah Soojung dan Jinri yang tergesa mendadak berhenti begitu mereka melihat sesuatu yang janggal. Di dekat pintu dorm perempuan, seseorang sedang mengendap-endap dengan mencurigakan. Jinri memicingkan matanya dan berusaha mengenali sosok itu, namun ia tidak berhasil karena sosok itu mengenakan hoodie dan topi yang menutupi wajahnya. “Soojung-ah, apa kau lihat orang di depan itu?” bisik Jinri. Soojung yang juga sama penasarannya dengan gadis itu menggelengkan kepalanya pelan. “Kurasa tidak,” balasnya.

“Tapi yang jelas, orang itu laki-laki..” gumam Soojung, tanpa menyadari ucapannya langsung mengundang reaksi histeris dari Jinri. “LAKI-LAKI? ADA LAKI-LAKI DI DORM PEREMPUAN?! TIDAK BISA DIBIARKAN!”. Sejurus kemudian Jinri berlari ke arah orang itu dengan mengangkat tangan kanannya, menyerupai power rangers yang akan menyerang musuhnya. Soojung menepuk jidatnya.

“KAU!” bentak Jinri sembari mengayunkan senternya dan memukul bahu orang itu. “KAU LAKI-LAKI, KAN?! APA YANG KAU LAKUKAN DISINI?!”. Orang itu mengaduh kesakitan menerima pukulan dari Jinri yang tidak bisa dibilang ringan.

“Hentikan!” seru orang itu. Ia melepas topi dan tudung hoodienya sehingga wajahnya kini dapat terlihat jelas. Soojung dan Jinri sama-sama dibuat melongo, karena ternyata orang itu tidak lain tidak bukan adalah Kim Jongin. Kai.

“Kai sunbaenim?!” Jinri menyorot wajah Kai dengan senternya, membuat Kai menutupi matanya yang silau. “Apa benar kau Kai sunbaenim?!”

“Tentu saja! Memangnya kau pikir aku siapa? Hantu?” geram Kai.

“Kupikir tadi pencuri,” ucap Jinri jujur. Sementara itu Soojung berdecak, tak habis pikir ternyata penyelundup ini adalah anggota EXO yang dipuja gadis-gadis satu sekolah. “Setahuku di sekolah ini ada larangan untuk masuk ke dorm lawan jenis, apa sunbaenim tidak tahu?” tuding Soojung.

Kai terlihat gugup, ia mengusap tengkuknya canggung. “Aku tahu,” sahutnya pelan.

“Lalu sedang apa sunbaenim disini? Jika ketahuan guru piket yang sedang berkeliling riwayat sunbaenim bisa langsung tamat.” Soojung terkekeh. Sebenarnya ia sudah tahu untuk apa Kai berada di dorm ini; tentu saja untuk menemui teman kencannya. Ia hanya ingin memancing laki-laki itu.

“Guru piket?” tanya Jinri. “Yang seperti itu?” Jemari gadis itu menunjuk arah yang berseberangan, dimana siluet seseorang bersepatu hak tinggi terlihat sedang berjalan mendekati mereka. Refleks Soojung menggamit lengan Kai dan menarik laki-laki itu menuju rimbunan semak terdekat. Gadis itu tidak tahu dorongan apa yang membuatnya melakukan hal itu, ia melakukan semuanya secara tak sadar. Dengan bahasa tubuh seadanya ia meminta Kai agar tetap tenang dan tidak menimbulkan suara apapun. Kai menurut saja, ia diam sembari sesekali melirik Soojung. Gadis yang menarik, kenapa aku tak pernah melihat ia sebelumnya? pikir Kai.

Lama-kelamaan siluet itu semakin jelas, sampai pada akhirnya Shin songsaenim muncul di hadapan Jinri. Mati-matian Jinri berusaha agar tidak terlihat mencurigakan. “Choi Jinri? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Shin songsaenim penuh selidik. Jinri memainkan senternya sebentar sebelum akhirnya menjawab, “Saya sedang berburu gajah –oh tidak, maksud saya berburu kupu-kupu, Shin songsaenim.”

Kerutan di kening guru piket itu bertambah seiring ketidakpercayaannya. “Malam-malam begini?”

Ne,” sahut Jinri. “Menurut pengalaman saya selama tujuh belas tahun berburu kupu-kupu, malam hari adalah waktu yang sangat amat tepat untuk berburu hewan cantik itu. Shin songsaenim mau ikut berburu?”

Shin songsaenim menggeleng ragu. “Tidak, tidak. Terima kasih. Saya masih harus berkeliling untuk memeriksa dorm.” Meskipun kelihatan tak yakin, akhirnya ia memutuskan untuk tidak memperdebatkan masalah ‘berburu kupu-kupu’ itu. “Setelah kau berhasil berburu kupu-kupu, pastikan kau segera kembali ke dorm.” Setelah itu Shin songsaenim melenggang masuk ke dalam dorm sehingga Jinri bisa menarik napas lega.

Rupanya Soojung dan Kai belum menyadari kepergian Shin songsaenim, jadi keduanya masih bertahan di persembunyian mereka. Jantung Soojung mulai berdegup tak beraturan dan membuat gadis itu sedikit salah tingkah. Ia belum pernah berada di dekat Kai dengan jarak sedekat ini sebelumnya.

“Sampai kapan kalian sembunyi disitu? Memangnya tidak ada nyamuk?” Kehadiran Jinri yang tiba-tiba membuat Soojung dan Kai nyaris terjungkal karena kaget. Pelan-pelan mereka berdiri sambil celingak-celinguk untuk memastikan situasinya sudah benar-benar aman. “Ah, untung saja guru piket itu sudah pergi,” desah Kai lega. Jika sampai ketahuan, Kai bisa-bisa diberi setumpuk hukuman yang salah satunya adalah membersihkan toilet siswa. Sebagai orang paling anti-kuman nomer satu di Korea Selatan, Kai tidak akan mau melakukannya.

“Terima kasih bantuannya..” Kai menggantung kalimatnya.

“Soojung.” Soojung menambahkan dengan cepat, tidak lupa sambil tersenyum. “Oh, iya, terima kasih bantuannya, Soojung.” Kai mengulangi kalimatnya dengan manis. Tidak heran jika gadis-gadis bisa dengan mudah jatuh ke pelukannya.

“Bagaimana denganku, huh?” sungut Jinri tidak terima. “Aku kan juga berjasa dalam upaya penyelamatan ini, kenapa ucapan terima kasihnya hanya untuk Soojung?”

Kai tertawa kecil mendengar protes Jinri. Ia hampir lupa bahwa gadis itu juga membantunya tadi. “Oke, oke, terima kasih juga karena bantuan dan pukulannya.”. Jinri tertunduk malu karena Kai mengungkit masalah pukulan tadi.

Soojung melirik arlojinya kemudian tersentak, “Ayo, Jinri! Kita harus segera ke sekolah sebelum terlalu larut.”. Kening Kai berkerut samar. “Kalian mau ke sekolah malam-malam begini? Memangnya ada apa?” tanya laki-laki itu.

“Kami harus mencari teman kami yang hilang,” jawab Jinri.

Mata Kai melebar. “Teman kalian hilang? Siapa?”

“Park Hyunjo..” Jinri menyahut lirih.

“Park Hyunjo..?” Kai terlihat berpikir keras. Rasanya ia pernah mendengar nama itu..

Tunggu.

“APA?! PARK HYUNJO?! PARK HYUNJO HILANG?!”

 

Annyeong^^

Aku mau bilang makasih buat kalian semua, komentarnya panjang-panjang udah mirip ficlet aja 😀 maaf karena aku nggak bisa bales komentarnya satu-satu, tapi udah aku baca semuanya kok dan aku terharu :’) *lempar bias satu-satu*

Oh iya, aku nggak bisa janjiin update yang cepet soalnya aku mulai masuk hari-hari sibuk lagi nih. Semoga kalian ngerti yaa._. Udah deh ngomongnya, nggak tau mau ngomong apa lagi hehe ntar kalo kebanyakan ngomong dibilang berisik, tapi kalo nggak ngomong kok krik-krik banget habis bersambung terus langsung kosong *apa ini*

Eh. Satu lagi deh. Daripada manggil ‘thor’ atau ‘min’ (aku bukan admin T^T) kalian bisa panggil aku Sunny ‘syad’ aja. Buat yang 97liner ke bawah bisa panggil ‘eonnie’ atau apa soalnya aku 96liner hehe.

Udah segitu aja. Beneran udah kok ngomongnya._.v

Thank you for reading. Readers saranghaja!<3

Regards,

 

ohyeolliepop

287 responses to “How To Steal A Kiss – 6th. Run Hyunjo Run

  1. Mau dong deket sama Tao biar ngerasain auranya Tao 😀 Tapi kocak ya auranya keras tapi ke kamar mandi minta ditemenin:’) Pengen sedih atau ngakak jadi bingung:’)

    Pengen nanti si Soojung sama Kai :’) secara aku Kaistal shipper garis keras 😀 Tapi ga menutup kemungkinan aku Kaisoo shipper juga :p

    Nahloh ayo Hyunjo jelaskan pada Luhan. Lagian itu kenapa bisa pas gitu ya tbtb Luhan dateng 😀

    Keren Soojung nyindir si nenek lampir a.ka Cheonsa-_-Aaaa itu Soojung megang tangan Kai? OMG TERASA BANGET KAISTAL FEELS NYAAAAA>,< Btw aku baru tau ya Jinri berburu gajah eh kupu-kupu :')

    TERAKHIRNYA BIKIN PENASARAN OYYYY!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s